0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan119 halaman

Corporate Social Responsibility

Skripsi ini membahas pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Penelitian menggunakan metode analisis regresi berganda dengan sampel 45 perusahaan dari tahun 2014-2018, dan menemukan bahwa CSR, Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, dan Keputusan Pendanaan tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas, sementara Keputusan Investasi berpengaruh positif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai hubungan antara variabel-variabel tersebut dan Profitabilitas.

Diunggah oleh

silviasusmita30
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan119 halaman

Corporate Social Responsibility

Skripsi ini membahas pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Penelitian menggunakan metode analisis regresi berganda dengan sampel 45 perusahaan dari tahun 2014-2018, dan menemukan bahwa CSR, Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, dan Keputusan Pendanaan tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas, sementara Keputusan Investasi berpengaruh positif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai hubungan antara variabel-variabel tersebut dan Profitabilitas.

Diunggah oleh

silviasusmita30
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR),

KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS INDEPENDEN,


KEPUTUSAN PENDANAAN, DAN KEPUTUSAN INVESTASI
TERHADAP PROFITABILITAS

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi


Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Akuntansi

Oleh:

Azizah Serunting

11160820000098

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H / 2020
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR),
KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS INDEPENDEN,
KEPUTUSAN PENDANAAN, DAN KEPUTUSAN INVESTASI
TERHADAP PROFITABILITAS

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Akuntansi

Oleh:

Azizah Serunting
NIM: 11160820000098

Di Bawah Bimbingan:

Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM., CA.


NIP. 197205162009011006

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H / 2020

ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Selasa, 13 Oktober 2020 telah dilakukan Ujian Komprehensif atas
mahasiswa:

1. Nama : Azizah Serunting

2. NIM : 11160820000098

3. Jurusan : Akuntansi/Keuangan

4. Judul Skripsi : Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR),

Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen,


Keputusan Pendanaan dan Keputusan Investasi terhadap
Profitabilitas.

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang


bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa
mahasiswa tersebut di atas dinyatakan lulus dan diberi kesempatan untuk
melanjutkan ke tahap ujian skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 13 Oktober 2020

1. Ismawati Haribowo, SE., [Link] ( )


NIP. 198009092014112003 Penguji I

2. Yusro Rahma, SE., [Link] ( )


NIP. 198005062008012016 Penguji II

iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Hari ini Tanggal 23 Bulan November Tahun Dua Ribu Dua Puluh telah
dilakukan Ujian Skripsi atas Mahasiswa:
1. Nama : Azizah Serunting
2. NIM : 11160820000098
3. Jurusan : Akuntansi
4. Judul Skripsi : Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR),
Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen,
Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi terhadap
Profitabilitas.
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut di
atas dinyatakan lulus dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Akuntansi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 23 November 2020

1. Fitri Damayanti ( )
NIP. 198107312006042003 Ketua

2. Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM., CA. ( )


NIP. 197205162009011006 Pembimbing

3. Reskino ( )
NIP. 197409282008012004 Penguji Ahli

iv
LEMBAR PENGESAHAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Azizah Serunting

NIM : 11160820000098

Jurusan : Akuntansi

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penelitian skripsi ini saya:

1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan


dan mempertanggungjawabkan.
2. Tidak melakukan plagiat atas naskah orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber
asli atau tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini.
Jika dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan
melalui pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya melanggar pernyataan di atas, maka saya siap
dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, 22 Oktober 2020

(Azizah Serunting)

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS DIRI
1. Nama : Azizah Serunting
2. Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 18 Desember 1998
3. Alamat : Jalan Suka Makmur Rt 005 Rw 002
No. 56 Ciputat, Serua Indah, Tangerang
selatan.
4. Telepon :-
5. Email : azizah.serunting16@[Link]
6. Ayah : Mukdin
7. Ibu : Miliarti
8. Anak ke-, dari : 3 dari 3

II. PENDIDIKAN
1. Tahun 2004-2010 : SDN Serua Indah 3
2. Tahun 2010-2013 : SMPN 5 Kota Tangerang Selatan
3. Tahun 2013-2016 : SMAN 4 Kota Tangerang Selatan
4. Tahun 2016-sekarang : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi
THE IMPACT OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR),
INSTITUTIONAL OWNERSHIP, INDEPENDENT COMMISSIONER,
FUNDING DECISIONS, AND INVESTMENT DECISIONS ON
PROFITABILITY

ABSTRACT

This study aims to find empirical evidence regarding the effect of Corporate
Social Responsibility (CSR), Institutional Ownership, Independent Commissioner,
Funding Decisions, and Investment Decisions on Profitability. The sample used in
this study is all manufacturing companies which includes the basic and chemical
sectors in 2014-2018. The number of samples in this study amounted to 45
samples. This study used a purposive sampling method. This test used the multiple
regression analysis using the SPSS 24.0 program.
The results showed that Corporate Social Responsibility (CSR), Institutional
Ownership, Independent Commisoner, Funding Decisions does not affect the
profitability. Whereas Investment Decisions influences Profitability.
Keywords: Corporate Social Responsibility (CSR), Institutional Ownership,
Independent Commissioner, Investment Decisions, Profitability

vii
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR),
KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS INDEPENDEN,
KEPUTUSAN PENDANAAN, DAN KEPUTUSAN INVESTASI
TERHADAP PROFITABILITAS

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris mengenai pengaruh


Corporate Social Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris
Independen, Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi terhadap
Profitabilitas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan seluruh
perusahaan manufaktur sektor dasar dan kimia yang terdaftar di BEI pada tahun
2014-2018. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 sampel. Penelitian
ini menggunakan metode purposive sampling. Pengujian ini menggunakan
metode analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS 24.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility
(CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, dan Keputusan
Pendanaan tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas. Sedangkan Keputusan
Investasi berpengaruh terhadap Profitabilitas.
Kata Kunci: Corporate Social Responsiblity (CSR), Kepemilikan Institusional,
Komisaris Independen, Keputusan Investasi, Profitabilitas

viii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh,


Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan karunia-Nya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam
tak lupa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membimbing umatnya
menuju jalan kebenaran. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih atas dukungan
dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1. Kedua orang tua yang saya cintai yaitu Bapak dan Ibu yang selalu
memberikan dukungan, semangat, nasihat, serta perhatian dengan penuh
kasih sayang kepada penulis.
2. Kakak-kakak saya yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Prof. Dr. Amilin, SE., Ak., [Link]., CA., QIA., BKP., CRMP. selaku
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Yessi Fitri, SE., [Link]., Ak., CA. selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
5. Bapak Hepi Prayudiawan selaku Dosen Pembimbing yang telah
mengarahkan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

ix
6. Seluruh Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberi ilmu kepada penulis.
7. Pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan skripsi ini yang tidak
dapat saya sebutkan satu per satu.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

Jakarta, 22 Oktober 2020

(Azizah Serunting)

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii


LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ..........................................................iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF.............................iv
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ..............................................v
LEMBAR PENGESAHAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ....................vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ....................................................................vii
ABSTRACT ..................................................................................................viii
ABSTRAK .....................................................................................................ix
KATA PENGANTAR ...................................................................................x
DAFTAR ISI ................................................................................................ xi
DAFTAR TABEL ...................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 10
C. Tujuan Penelitian ............................................................................11
D. Manfaat Penelitian ..........................................................................11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................13
A. Tinjauan Literatur ...........................................................................13
1. Teori Legitimasi (Legitimacy Theory) ....................................13
2. Teori Keagenan (Agency Theory) ...........................................14
3. Teori Persinyalan (Signaling Theory) .....................................15
4. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social
Responsibility (CSR)) .............................................................16

xi
5. Kepemilikan Institusional .......................................................26
6. Komisaris Independen ............................................................27
7. Keputusan Pendanaan .............................................................29
8. Keputusan Investasi ................................................................31
9. Profitabilitas ............................................................................33
B. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ...................................................35
C. Keterkaitan Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis ..................42
1. Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap
Profitabilitas ............................................................................42
2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Profitabilitas ...43
3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Profitabilitas ........44
4. Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Profitabilitas .........45
5. Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas ............45
D. Kerangka Pemikiran .......................................................................47
BAB III METODE PENELITIAN ..............................................................48
A. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................. 48
B. Metode Penentuan Sampel ............................................................ 48
C. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 49
D. Metode Analisis Data .....................................................................49
1. Uji Statistik Deskriptif ............................................................50
2. Uji Asumsi Klasik ...................................................................50
3. Uji Hipotesis ............................................................................53
E. Operasional Variabel Penelitian .....................................................55
1. Corporate Social Responsibility (CSR) (X1) ..........................55
2. Kepemilikan Institusional (X2) ...............................................56
3. Komisaris Independen (X3) ....................................................57
4. Keputusan Pendanaan (X4) .....................................................57
5. Keputusan Investasi (X5) ........................................................57
6. Profitabilitas (Y) .....................................................................58

xii
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ................................................59
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ...................................59
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian ........................................................61
1. Uji Statistik Deskriptif .............................................................61
2. Uji Asumsi Klasik ...................................................................63
3. Pengujian Hipotesis .................................................................68
C. Pembahasan ....................................................................................72
1. Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap
Profitabilitas ............................................................................72
2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Profitabilitas ...75
3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Profitabilitas ........77
4. Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Profitabilitas .........79
5. Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas ............82
BAB V PENUTUP .........................................................................................85
A. Kesimpulan .....................................................................................85
B. Saran ...............................................................................................86
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................88
LAMPIRAN

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Kasus terkait Good Corporate Governance .................................... 3

Tabel 2.1. Daftar Indikator Pengungkapan Corporate


Social Responsibility (CSR) Berdasarkan GRI G4..........................19
Tabel 2.2. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ....................................................35
Tabel 3.1. Pengukuran Operasional Variabel ..................................................58
Tabel 4.1. Rincian Perolehan Sampel Penelitian .............................................60
Tabel 4.2. Statistik Deskriptif ..........................................................................61
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas dengan Uji Kolmogorov-Smirnov ................64
Tabel 4.4. Colinearity Statistics .......................................................................65
Tabel 4.5. Hasil Uji Autokorelasi.....................................................................66
Tabel 4.6. Hasil Uji Koefisien Determinasi .....................................................69
Tabel 4.7. Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ..........................................70
Tabel 4.8. Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ...............................................71

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran .................................................................47

Gambar 4.1. Hasil Uji Normalitas dengan Grafik Normal Plot ....................63

Gambar 4.2. Hasil Uji Heteroskedastisitas Menggunakan

Grafik Scatterplot .....................................................................67

xv
xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan setiap perusahaan biasanya untuk memperoleh profitabilitas

yang relatif tinggi. Profitabilitas termasuk ke dalam bagian aspek keuangan

yang sangat diperhatikan, namun dunia usaha semakin menyadari untuk

memperhatikan juga aspek sosial dan aspek lingkungan. Hal tersebut terjadi

karena tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan perusahaan di tengah

lingkungan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap lingkungan

eksternal. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen

perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan

ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial

perusahaan (Rosdwianti, Dzulkirom, & Zahroh, 2016). Di samping itu,

tujuan-tujuan tersebut pun harus dicapai dengan memperhatikan dan

menerapkan Good Corporate Governance (GCG), diantaranya terkait

kepemilikan institusional, komisaris independen, keputusan pendanaan,

maupun keputusan investasi demi menjaga kelangsungan hidup suatu

perusahaan.

Good Corporate Governance (GCG) merupakan proses yang

mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk meningkatkan usaha dengan

tetap memperhatikan kepentingan stakeholders dalam mencapai tujuan

perusahaan. Tujuan Good Corporate Governance (GCG) adalah

meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kemakmuran, serta diharapkan

1
berdampak positif pada kinerja keuangan dan kontrol perusahaan.

Kepemilikan institusional dianggap mampu mempengaruhi profitabilitas

perusahaan. Institusi menjadi pemegang saham mayoritas karena memiliki

sumber daya yang besar. Pihak institusi memilih berinvestasi pada

perusahaan yang menerapkan kontrol kuat. Suatu perusahaan harus

memiliki dewan komisaris dan dibantu oleh komisaris independen untuk

melindungi pemegang saham. Di samping itu, Pemegang saham atau pihak

luar perusahaan lainnya memerlukan informasi lengkap terkait suatu

perusahaan sebagai bahan pertimbangan untuk menanamkan saham atau

menyalurkan dana ke suatu perusahaan. Sehingga dibutuhkan mekanisme

tersistem untuk memantau kebijakan yang diterapkan (Rimardhani, H.,

Hidayat, R. R., & Dwiatmanto, 2016).

Mekanisme pemantauan kebijakan terhadap pelaksanaan Good

Corporate Governance (GCG) tidak selalu diterapkan optimal. Terlihat dari

salah satu kasus terkait corporate governance yaitu kasus PT. Pertamina.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan bahwa akan

meningkatkan tata kelola perusahaan (corporate governance) pelat merah

sebagai evaluasi pemerintah pascakasus korupsi investasi blok BMG

Australia yang menjerat mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero),

Karen Agustiawan. Fajar mengungkapkan bahwa Kementerian BUMN terus

melakukan evaluasi tata kelola perusahaan untuk menjadikan BUMN besar,

kuat, dan lincah. Misalnya, harus dibedakan Standard Operating Procedure

(SOP) antara pengadaan dan mencari mitra. Fajar mengungkapkan bahwa

2
rencana investasi di Pertamina tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran

Perusahaan (RKAP) dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS). Pelaksanaan investasi, termasuk akuisisi, dilakukan oleh anggota

direksi dengan diawasi oleh komisaris. Bahkan, untuk nilai akuisisi tertentu

memerlukan persetujuan komisaris ([Link]). Selain kasus yang

menjerat PT. Pertamina, berikut adalah beberapa daftar kasus lain yang

terjadi di Indonesia.

Tabel. 1.1.

Kasus terkait Good Corporate Governance di Indonesia

Tahun Perusahaan Keterangan

2018 PT. Golden Saham Golden Energy Mines sudah dihentikan


sementara sejak 30 Januari 2018 karena tidak
Energy
memenuhi jumlah minimum saham beredar di
Mines Tbk.
publik. (Sumber:
[Link]
7074541-17-205036/net-tv-digugat-pkpu-linkaja-
anak-usaha-jasa-marga-mau-ipo).
2020 BUMN Erick Thohir sudah merombak jajaran direksi dan
komisaris di 10 BUMN. Menurutnya selain
menindak tegas direksi BUMN yang tak tegas,
Erick juga akan memberikan apresiasi kepada
direksi BUMN yang berprestasi. (Sumber:
[Link]
4084854-17-134975/ini-alasan-erick-thohir-
rombak-direksi-komisaris-di-10-bumn).
2020 PT. Asuransi Kerugian Rp 10,4 triliun dianggap akibat
pengambilan keputusan investasi yang buruk.

3
Jiwasraya Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun meyakini
ada kerjasama antara perseroan, manajer
investasi, dan pihak terkait lainnya. (Sumber:
[Link]
04/kasus-jiwasraya-akibat-buruknya-keputusan-
investasi).
Dengan demikian, pengawasan terhadap kegiatan perusahaan tersebut

baik dari komisaris maupun institusi diharapkan mampu menjaga stabilitas

dan equilibirum. Untuk mencapai keseimbangan, manajer harus selalu

merubah apa yang biasa dikerjakan atau merubah standar yang digunakan

untuk mengukur pelaksanaan. Selain itu, juga perlu memperhatikan terkait

keputusan pendanaan yaitu keputusan keuangan mengenai dari mana dana

untuk membeli aktiva berasal serta memperhatikan juga terkait keputusan

investasi yaitu keputusan keuangan mengenai aktiva mana yang harus dibeli

perusahaan guna menghasilkan laba sehingga mampu meningkatkan

proftabilitas.

Di sisi lain, fenomena mengenai pandemi corona dapat menjadi

momentum perusahaan optimalkan kegiatan Corporate Social

Responsibility (CSR). Pandemi corona dengan segala protokol

penanganannya semakin berdampak pada masyarakat Indonesia, terutama

dari sektor ekonomi. Kementerian Tenaga Kerja per 16 April 2020 yang

menunjukkan bahwa ada 229.789 orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja

(PHK) di sektor formal, serta jumlah pekerja yang dirumahkan mencapai

1.270.367 orang. Dengan kata lain, total pekerja terdampak di sektor formal

ada 1.500.156 orang di 83.546 perusahaan. Selain itu, sektor informal juga

4
terdampak. Sebanyak 443.760 orang dari 30.794 perusahaan terkena

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kenyataan angka-angka di atas pada

sisi lain menjadi peluang bagi perusahaan untuk ikut serta mengambil

bagian meringankan beban warga masyarakat. Cara yang bisa dilakukan

adalah melalui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social

Responsibility (CSR). Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR)

sudah tertera dalam perundang-undangan maupun peraturan-peraturan

pemerintah. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan tersebut mendapatkan

jaminan dan payung hukum, khususnya bagi perusahaan. Sedikitnya dua

peraturan yakni Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2012

tentang Tanggung Jawab Sosial atau Corporate Social responsibility (CSR)

dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Presiden Direktur PT. Tower Bersama

Infrastructure Tbk. (TBIG), Herman Setya, mengatakan bahwa perusahaan

salam kondisi pandemi corona mendapat tantangan memanfaatkan kegiatan

Corporate Social Responsibility (CSR). Secara garis besar, Corporate

Social Responsibility (CSR) yang dilakukan PT. Tower Bersama

Infrastructure Tbk. (TBIG) memasukkan sisi edukasi selain bagian paket-

paket bantuan mulai dari sembako hingga alat medis. Tercatat ada 22.600

paket sembako dan 40.000 masker kain dibagikan kepada masyarakat yang

tinggal di sekitar lokasi menara telekomunikasi PT. Tower Bersama

Infrastructure Tbk. (TBIG) di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, juga

memberikan bantuan berupa 11 mesin ventilator, 7.425 pakaian hazmat,

5
8.625 sarung tangan medis, 20 forehead thermometer, dan 58.000 masker

medis yang diserahkan kepada rumah sakit dan tenaga kesehatan yang

bertugas menangani pasien Covid-19 di berbagai kota di Indonesia

([Link]). Dengan demikian, melalui corporate social responsibility

(CSR) perusahaan tidak hanya terlihat peduli terhadap masyarakat sekitar

namun terbentuk pula citra di mata investor bahwa perusahaan memiliki

tanggung jawab.

Di sisi lain, corporate social responsibility (CSR) sering dipakai untuk

hal-hal yang tidak bertanggung jawab. Banyak pihak membidik dana

corporate social responsibility (CSR). Orang-orang di sekitar perusahaan,

mulai dari lurah dan perangkatnya, organisasi pemuda kampung, sampai ke

orang-orang yang mengaku pegiat LSM sering menodong perusahaan untuk

meminta dana corporate social responsibility (CSR). Sebagian disalurkan

ke masyarakat. Sebagian lagi mereka ambil untuk mereka sendiri.

Perusahaan tidak selalu jadi korban penodongan. Tak jarang perusahaan

mengeluarkan dana corporate social responsibility (CSR) dalam rangka

membungkam orang-orang sekitar atas praktik kotor yang mereka lakukan.

Dalam hal ini corporate social responsibility (CSR) tidak lagi merupakan

bentuk tanggung jawab perusahaan, melainkan sebaliknya, jadi alat untuk

tidak bertanggung jawab. Konsep corporate social responsibility (CSR)

yang sahih ini belum dituangkan dalam bentuk UU di negeri ini ([Link]).

Salah satu kasus corporate social responsibility (CSR) yaitu kasus

korupsi dana corporate social responsibility (CSR) Rp 2,6 Miliar. Dugaan

6
korupsi yang dilakukan berdasarkan hasil penyidikan, terjadi sektar tahun

2014 saat PT Sang Hyang Seri (SHS) menyalurkan dana untuk sejumlah

kelompok tani di Kabupaten Majalengka, tiga kelompok di antaranya berada

di bawah gabungan kelompok tani Ras. Ketiga kelompok ini menerima dana

dari PT. Sang Hyang Seri, masing-masing sekitar Rp 800 juta. Dana

tersebut harusnya dibagikan kepada para petani untuk dibelikan pupuk,

bibit, obat-obatan, dan biaya pengelolaan. Namun, setelah dana ditransfer

pihak PT. SHS melalui rekening kelompok tani, ternyata dana hanya

terparkir sebentar karena anggotanya sebenarnya diduga tidak ada, dana

corporate social responsibility (CSR) tersebut kemudian dipindahbukukan

ke rekening tabungan atas nama Ras ([Link]).

Berdasarkan uraian di atas, terdapat kesenjangan antara kegiatan

corporate social responsibility (CSR) yang telah direncanakan dengan

realita dalam penerapan corporate social responsibility (CSR) itu sendiri.

Kegiatan corporate social responsibility (CSR) diharapkan dapat diterapkan

secara optimal guna menghasilkan manfaat bagi masyarakat sekitar hingga

terbentuk citra di mata masyarakat dan investor sehingga mampu

meningkatkan profitabilitas perusahaan. Namun, terhalangi dengan adanya

tindakan menyimpang oleh pihak tak bertanggung jawab. Sehingga perlu

adanya pengendalian perusahaan seperti melalui good corporate

governance, di antaranya dengan memperhatikan kepemilikan institusional,

komisaris independen, keputusan pendanaan, dan keputusan investasi.

7
Namun, justru masih terdapat perusahaan yang belum menerapkan

pengendalian tersebut secara optimal sehingga mengalami kerugian.

Kasus-kasus yang sering terjadi dalam banyak organisasi adalah tidak

diselesaikannya suatu penugasan, tidak ditepatinya waktu penyelesaian

(deadline), suatu anggaran yang berlebihan, dan kegiatan-kegiatan lain yang

menyimpang dari rencana. Proses pengawasan manajerial, melalui mana

manajemen berusaha memperoleh jaminan bahwa kegiatan-kegiatan yang

dilakukan sesuai dengan yang direncanakan. Ada banyak sebutan bagi

fungsi pengawasan (controlling), antara lain evaluating, appraising, atau

correcting. Sebutan controlling lebih banyak digunakan karena lebih

mengandung konotasi yang mencakup penetapan standar, pengukuran

kegiatan, dan pengambilan tindakan korektif (Handoko, 2009).

Peneliti memodifikasi penelitian yang dilakukan Rimardhani, Hidayat,

dan Dwiatmanto (2016) serta penelitian dari Rosdwianti, Dzulkirom, dan

Zahroh (2016). Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terdapat pada:

1. Penelitian dari Rosdwianti, dkk. (2016) hanya menggunakan satu

variabel independen, yakni Corporate Social Responsibility (CSR). Di

sisi lain, penelitian dari Rimardhani, dkk. (2016) menggunakan

variabel independen, di antaranya yaitu kepemilikan institusional,

dewan komisaris independen, dewan direksi, dan komite audit.

2. Sedangkan peneliti menggunakan variabel independen berupa

Corporate Social Responsibility (CSR), kepemilikan institusional, dan

dewan komisaris independen. Selain itu, peneliti menambahkan

8
variabel independen lain, yakni keputusan pendanaan, dan keputusan

investasi.

3. Periode penelitian berbeda. Periode penelitian sebelumnya masing-

masing yaitu sejak tahun 2012–2014 dan tahun 2013-2014. Dengan

kata lain, penelitian sebelumnya selama tiga tahun dan dua tahun.

Sedangkan peneliti melakukan penelitian selama lima tahun yaitu

mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018.

4. Terdapat perbedaan populasi penelitian. Peneliti menggunakan

populasi penelitian yaitu perusahaan manufaktur khususnya sektor

dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI),

sedangkan populasi penelitian dari Rosdwianti, dkk. (2016) yaitu

perusahaan manufaktur khususnya pada industri barang konsumsi

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di samping itu, populasi

penelitian dari Rimardhani, dkk. (2016) yaitu perusahaan Badan

Usaha Milik Negara (BUMN) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI).

Penelitian-penelitian yang dilakukan (Rimardhani, dkk., 2016)

mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap

profitabilitas, serta komisaris independen berpengaruh terhadap

profitabilitas. Di sisi lain, hasil berbeda dijelaskan oleh Putra & Nuzula

(2017) yang mendapatkan bukti bahwa komisaris independen tidak

berpengaruh terhadap profitabilitas. Selain itu, Rantung, Murni, & Maramis

(2019) menjelaskan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh

9
terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai pengaruh corporate social responsibility

(CSR), kepemilikan institusional, komisaris independen, keputusan

pendanaan, dan keputusan investasi terhadap profitabilitas. Peneliti berharap

dengan adanya penelitian ini, perusahaan manufaktur sektor dasar dan kimia

dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan memperhatikan dan

menerapkan kegiatan corporate social responsibility (CSR), kepemilikan

institusional, komisaris independen, keputusan pendanaan, dan keputusan

investasi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang

hendak diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah corporate social responsibility (CSR) berpengaruh terhadap

profitabilitas?

2. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas?

3. Apakah komisaris independen berpengaruh terhadap profitabilitas?

4. Apakah keputusan pendanaan berpengaruh terhadap profitabilitas?

5. Apakah keputusan investasi berpengaruh terhadap profitabilitas?

10
C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk

menemukan bukti empiris atas hal-hal sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh corporate social responsibility (CSR) terhadap

profitabilitas.

2. Menganalisis pengaruh kepemilikan institusional terhadap

profitabilitas.

3. Menganalisis pengaruh komisaris independen terhadap profitabilitas.

4. Menganalisis pengaruh keputusan pendanaan terhadap profitabilitas.

5. Menganalisis pengaruh keputusan investasi terhadap profitabilitas.

D. Manfaat Penelitian

1. Kontribusi Teoritis

a. Sebagai sarana memperluas wawasan atau pemikiran mengenai

aspek keuangan. Adapun terkait dengan pengaruh corporate

social responsibility (CSR), kepemilikan institusional, komisaris

independen, keputusan pendanaan, dan keputusan investasi

terhadap profitabilitas, sehingga diharapkan dapat memberikan

manfaat kepada penulis di masa yang akan datang.

b. Menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan meneliti

masalah terkait pengaruh Corporate Social Responsibility

(CSR), kepemilikan institusional, komisaris independen,

keputusan pendanaan, dan keputusan investasi terhadap

profitabilitas.

11
2. Kontribusi Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai gambaran

mengenai kualitas perusahaan yang bermanfaat untuk evaluasi

suatu perusahaan sehingga pelaksanaan perusahaan menjadi

lebih baik di masa yang akan datang.

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi manajer

dalam mengambil keputusan dan menghasilkan laporan

keuangan yang berkualitas.

12
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Literatur

1. Teori Legitimasi (Legitimacy Theory)

Teori legitimasi didasarkan pada adanya fenomena kontak sosial

antara sebuah organisasi dengan masyarakat, di mana diperlukan sebuah

tujuan organisasi tersebut seharusnya kongruen dengan nilai-nilai yang

ada di dalam sebuah masyarakat. Menurut teori ini, tindakan organisasi

haruslah mempunyai aktivitas dan kinerja yang dapat diterima oleh

masyarakat. Menurut Gay (1995), legitimasi diperoleh organisasi ketika

dalam kondisi atau status ketika sistem nilai sebuah entitas kongruen

dengan sistem nilai sosial yang lebih besar di mana entitas merupakan

salah satu bagian darinya. Ketika terjadi sebuah disparitas

(ketidaksesuaian) antara kedua sistem tersebut maka terjadi sebuah

ancaman pada legitimasi masyarakat (Ratmono & Sagala, 2015). Teori

ini mencerminkan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)

sebagai bentuk tanggung jawab suatu perusahaan atas pengaruh langsung

maupun tidak langsung terhadap lingkungan eksternal.

13
2. Teori Keagenan (Agency Theory)

Menurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam Aljana dan

Purwanto (2017), konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak

antara prinsipal dan agen. Prinsipal mempekerjakan agen untuk

melakukan tugas untuk kepentingan prinsipal, termasuk pendelegasian

otorisasi pengambilan keputusan dari prinsipal kepada agen. Jika agen

tidak berbuat sesuai kepentingan principal, maka akan terjadi konflik

keagenan (agency conflict), sehingga memicu biaya keagenan (agency

cost). Salah satu kendala yang akan muncul antara agen dan principal

adalah adanya asimetris informasi. Asimetris informasi merupakan suatu

keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas prospek

perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan (Rahmawati,

dkk, 2006).

Menurut Ali (2002), sebagai agen, manajer secara moral

bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik dan

sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan

kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda dalam

perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau

mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki.

14
Alasan penulis menggunakan teori ini untuk menjelaskan bahwa

corporate governance dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan

keyakinan pada para investor bahwa mereka akan menerima return atas

dana yang telah mereka investasikan. Selain itu, corporate governance

juga berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer.

Dengan kata lain, Corporate governance digunakan untuk menekan

biaya keagenan. Teori ini terkait dengan peran komisaris independen

yang bertugas mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan.

Selain itu, juga terdapat keterkaitan antara teori keagenan dengan

kepemilikan institusional. Dalam suatu hubungan antara manajemen dan

pemegang saham, juga perlu adanya aktivisme institusi untuk ikut serta

menekankan para manajer agar tidak melakukan tindakan penyimpangan

yang merugikan pemegang saham.

3. Teori Persinyalan (Signaling Theory)

Menurut Brigham dan Houston (2001) dalam Amaliyah dan

Herwiyanti (2019) menjelaskan bahwa menurut teori persinyalan, isyarat

atau sinyal adalah sebuah tindakan yang dilakukan manajemen

perusahaan dengan cara memberikan petunjuk kepada investor tentang

bagaimana cara manajemen memandang prospek yang menguntungkan

untuk menghindari penjualan saham serta mengusahakan setiap modal

baru dengan cara yang lain. Sementara menurut Habbash (2016), teori

persinyalan menekankan bahwa suatu informasi sangat penting yang

dijadikan sebagai dasar oleh pihak luar dalam melakukan investasi, maka

15
bagi perusahaan yang mengungkapkan informasi lebih lengkap memiliki

nilai lebih menurut investor. Berdasarkan teori ini, perusahaan yang baik

akan secara sengaja memberikan informasi selengkap-lengkapnya

sebagai sinyal positif kepada calon investor. Informasi yang relevan

dapat mencerminkan kualitas perusahaan, sehingga akan dapat

meningkatkan pula nilai perusahaan.

Alasan penulis menggunakan teori ini yaitu adanya keterkaitan

antara teori persinyalan dan keputusan investasi atau keputusan

pendanaan. Teori ini menekankan pentingnya informasi yang didapatkan

dari perusahaan untuk menghasilkan keputusan investasi bagi pihak dari

luar perusahaan.

4. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)

a. Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)

Menurut Putra (2015), Corporate Social Responsibility (CSR)

merupakan praktik komitmen dari kepedulian komunitas bisnis

terhadap lingkungan, baik itu lingkungan di luar perusahaan yakni

masyarakat berdampak maupun pihak yang terlibat dalam perusahaan

tersebut, yakni berkaitan dengan pekerja dan yang berhubungan

dengan itu. Corporate Social Responsibility (CSR) lebih pada sebuah

kewajiban yang tersusun dalam regulasi, sehingga termanajemen

dengan sempurna. Korporasi bisnis harus memperhatikan lingkungan

di mana ia berdiri, harus memberdayakan segala hal yang ada di

sekitar, memperhatikan kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk

16
kesadaran moral usaha. Serta tidak melupakan siapa saja yang turut

berada di dalamnya, karyawan, keluarga karyawan dan para kolega.

Corporate Social Responsibility (CSR) diartikan sebagai komitmen

perusahaan atau organisasi untuk terus-menerus bertindak secara etis,

beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi,

bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan

keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan

masyarakat secara lebih luas.

b. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)

Perusahaan harus mengungkapkan informasi secara akurat,

memadai, dan tepat waktu yang memungkinkan investor untuk

memperoleh informasi secara jelas dan apa adanya. Informasi ini

diharapkan akan berguna bagi para investor terutama sebagai bahan

pertimbangan dalam melakukan sebuah pengambilan keputusan

bisnis/ekonomi yang tepat (Hery, 2013).

Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan satu

langkah yang sesuai dengan fungsi public relations. Menurut Rosadi

Ruslan, fungsi dari public relations menunjukkan suatu tahap

pekerjaan yang jelas dan dapat dibedakan bahkan terpisah dari

tahapan pekerjaan lain. Oleh karena itu, public relations dikatakan

fungsi dalam suatu organisasi atau perusahaan apabila public relations

tersebut telah menunjukkan suatu kegiatan yang jelas dan dapat

17
dibedakan dari kegiatan lainnya. Pada pokoknya kegiatan public

relations bertujuan untuk memengaruhi pendapat, sikap, sifat, dan

tingkah laku publik. Sebagai abdi masyarakat, public relations harus

selalu mengutamakan kepentingan publik atau masyarakat umumnya,

menggunakan moral atau kebiasaan yang baik, guna terpeliharanya

komunikasi yang menyenangkan di dalam masyarakat. Komunikasi

yang didasarkan atas strategi dan teknik berinteraksi yang mengarah

pada terciptanya suatu keadaan yang harmonis antara badan

perusahaan dan publiknya (Putra, 2015).

Saat ini untuk menilai kinerja Corporate Social Responsibility

(CSR) masih menggunakan metode content analysis, yaitu metode

dengan mengubah informasi kualitatif menjadi kuantitatif agar dapat

diolah secara statistik (Rikumahu, dkk., 2017). Pengungkapan

Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diukur dengan

menggunakan indeks Global Reporting Initiative (GRI) generasi ke 4

(G4) yang berjumlah 91 indikator kinerja dalam 3 kategori (ekonomi,

lingkungan dan sosial). Semakin besar indeks pengungkapan

Corporate Social Responsibility (CSR) pada suatu perusahaan, maka

semakin tinggi pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)

yang dilakukan perusahaan. Perhitungan indeks Corporate Social

Responsibility (CSR), dapat dihitung berdasarkan deskripsi

pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada laporan

tahunan maupun laporan keberlanjutan pada masing-masing

18
perusahaan yang terdaftar, dengan memberikan nilai ada berapa

indikator yang diungkapkan dari 91 indikator pengungkapan

Corporate Social Responsibility (CSR) (Heryanto & Juliarto, 2017).

Berikut indikator-indikator pengungkapan Corporate Social

Responsibility (CSR) berdasarkan standar GRI G4 yang berjumlah 91

indikator.

Tabel 2.1.

Daftar Indikator Pengungkapan Corporate Social

Responsibility (CSR) Berdasarkan GRI G4

KATEGORI EKONOMI
Kinerja ekonomi EC1 Nilai ekonomi langsung yang
dihasilkan.
EC2 Implikasi finansial dan risiko serta
peluang.
EC3 Cakupan kewajiban organisasi atas
program.
EC4 Bantuan finansial yang diterima.

Keberadaan pasar EC5 Rasio upah standar pegawai pemula


(entry level) menurut gender
dibandingkan dengan upah minimum
regional di lokasi-lokasi operasional
yang signifikan.
EC6 Perbandingan manajemen senior
yang dipekerjakan dari masyarakat
lokal di lokasi operasi signifikan.
Dampak ekonomi EC7 Pembangunan dan dampak dari
tidak langsung investasi infrastruktur dan jasa yang
diberikan.
EC8 Dampak ekonomi tidak langsung
yang signifikan, termasuk besarnya
dampak.
Praktek pengadaan EC9 Perbandingan dari pembelian

19
pemasok lokal di operasional yang
signifikan.
KATEGORI LINGKUNGAN
Bahan EN1 Bahan yang digunakan berdasarkan
berat atau volume.
EN2 Persentase bahan yang digunakan
yang merupakan bahan input daur
ulang.
Energi EN3 Konsumsi energi dalam organisasi.
EN4 Konsumsi energi di luar organisasi.
EN5 Intensitas energi.
EN6 Pengurangan konsumsi energi.
Air EN7 Konsumsi air di luar organisasi.
EN8 Total pengambilan air berdasarkan
sumber.
EN9 Sumber air yang secara signifikan
dipengaruhi oleh pengambilan air.
EN10 Persentase dan total volume air yang
didaur ulang dan digunakan kembali.
Keanekaragaman EN11 Lokasi-lokasi operasional yang
hayati dimiliki, disewa, dikelola di dalam
atau yang berdekatan dengan
kawasan lindung dan kawasan
dengan nilai keanekaragaman hayati
tinggi di luar kawasan lindung.
EN12 Uraian dampak signifikan kegiatan,
produk, dan jasa terhadap
keanekaragaman hayati di kawasan
lindung dan kawasan dengan nilai
keanekaragaman hayati tinggi di luar
kawasan lindung.
EN13 Habitat yang dilindungi dan
dipulihkan.
EN14 Jumlah total spesies dalam iucn red
list dan spesies dalam daftar spesies
yang dilindungi nasional dengan
habitat di tempat yang dipengaruhi
operasional, berdasarkan tingkat
risiko kepunahan.
Emisi EN15 Emisi gas rumah kaca (GRK)
langsung (Cakupan 1).
EN16 Emisi gas rumah kaca (GRK) energi
tidak langsung (Cakupan 2).
EN17 Emisi gas rumah kaca (GRK) tidak
langsung lainnya (Cakupan 3).

20
EN18 Intensitas emisi gas rumah kaca
(GRK).
EN19 Pengurangan emisi gas rumah kaca
(GRK).
EN20 Emisi bahan perusak ozon (BPO).
EN21 NOX, SOX, dan emisi udara
signifikan lainnya.
Efluen dan limbah EN22 Total air yang dibuang berdasarkan
kualitas dan tujuan.
EN23 Bobot total limbah berdasarkan jenis
dan metode pembuangan.
EN24 Jumlah dan volume total tambahan
signifikan.
EN25 Bobot limbah yang dianggap
berbahaya menurut ketentuan
konvensi basel 2 lamiran I, II, III,
dan VIII yang diangkut, diimpor,
diekspor, atau diolah, dan persentase
limbah yang diangkut untuk
pengiriman internasional.
EN26 Identitas, ukuran, status lindung, dan
nilai keanekaragaman hayati dari
badan air dan habitat terkait yang
secara signifikan terkait dampak dari
pembuangan dan air limpasan dari
organisasi.
Produk dan jasa EN27 Tingkat mitigasi dampak terhadap
lingkungan produk dan jasa.
EN28 Persentase produk yang terjual dan
kemasannya yang direklamasi
menurut kategori.
Kepatuhan EN29 Nilai moneter denda signifikan dan
jumlah total sanksi non-moneter atas
ketidakpastian terhadap UU dan
peraturan lingkungan.
Transportasi EN30 Dampak lingkungan signifikan dari
pengangkutan produk dan barang
lain serta bahan untuk operasional
organisasi dan pengangkutan tenaga
kerja.
Lain-lain EN31 Total pengeluaran dan investasi
perlindungan lingkungan
berdasarkan jenis.
Asesmen pemasok EN32 Persentase penapisan pemasok baru
atas lingkungan menggunakan kriteria lingkungan.
EN33 Dampak lingkungan negatif

21
signifikan aktual dan potensial dalam
rantai pasokan dan tindakan yang
diambil.
Mekanisme EN34 Jumlah pengaduan tentang dampak
pengaduan masalah lingkungan yang diajukan, ditangani,
lingkungan dan diselesaikan melalui mekanisme
pengaduan resmi.
KATEGORI SOSIAL
SUB-KATEGORI : PRAKTEK KETENAGAKERJAAN DAN
KENYAMANAN BEKERJA
Kepegawaian LA1 Jumlah total dan tingkat perekrutan
karyawan baru dan turnover
karyawan menurut kelompok umur,
gender, dan wilayah.
LA2 Tunjangan yang diberikan bagi
karyawan purnawaktu yang tidak
diberikan bagi karyawan sementara
atau paru waktu, berdasarkan lokasi
operasi yang signifikan.
LA3 Tingkat kembali bekerja dan tingkat
retensi setelah cuti melahirkan,
menurut gender.
Hubungan industrial LA4 Jangka waktu minimum
pemberitahuan mengenai perubahan
operasional, termasuk apakah hal
tersebut tercantum dalam perjanjian
bersama.
Kesehatan dan LA5 Persentase total tenaga kerja yang
keselamatan kerja diwakili dalam komite bersama
VV formal manajemen pekerja yang
membantu mengawasi dan
memberikan saran program
kesehatan dan keselamatan kerja.
LA6 Jenis dan tingkat cedera, penyakit
akibat kerja, hari hilang, dan
kemangkiran, serta jumlah total
kematian akibat kerja, menurut
daerah dan gender.
LA7 Pekerja yang sering terkena atau
berisiko tinggi terkena penyakit yang
terkait dengan pekerjaan mereka.
LA8 Topik kesehatan dan keselamatan
yang tercakup dalam perjanjian
formal dengan serikat pekerja.
Pelatihan dan LA9 Jam pelatihan rata-rata per tahun per
pendidikan karyawan menurut gender dan

22
menurut kategori karyawan.
LA10 Program untuk manajemen
keterampilan dan pembelajaran
seumur hidup yang mendukung
keberlanjutan kerja karyawan dan
membantu mereka mengelola purna
bakti.
LA11 Persentase karyawan yang menerima
review kinerja dan pengembangan
karier secara reguler, menurut gender
dan kategori karyawan.
Keberagaman dan LA12 Komposisi badan tata kelola dan
kesetaraan peluang pembagian karyawan per kategori
karyawan menurut gender, kelompok
usia, keanggotaan kelompok
minoritas, dan indikator
keberagaman lainnya.
Kesetaraan LA13 Rasio gaji pokok dan remunerasi
remunerasi bagi perempuan terhadap laki-laki
perempuan dan laki- menurut kategori karyawan,
laki berdasarkan lokasi operasional yang
signifikan.
Asesmen pemasok LA14 Persentase penapisan pemasok baru
terkait praktik menggunakan kriteria praktik
ketenagakerjaan ketenagakerjaan.
LA15 Dampak negatif aktual dan potensial
yang signifikan terhadap praktik
ketenagakerjaan dalam rantai
pemasok dan tindakan yang diambil.
LA16 Jumlah pengaduan tentang praktik
ketenagakerjaan yang diajukan,
ditangani, dan diselesaikan melalui
pengaduan resmi.
SUB-KATEGORI : HAK ASASI MANUSIA
Investasi HR1 Jumlah total dan persentase
perjanjian dan kontrak investasi yang
signifikan yang menyertakan klausul
terkait hak asasi manusia atau
penapisan berdasarkan hak asasi
manusia.
HR2 Jumlah waktu pelatihan karyawan
tentang kebijakan atau prosedur hak
asasi manusia terkait dengan aspek
hak asasi manusia yang relevan
dengan operasi, termasuk persentase
karyawan yang dilatih.

23
Non-diskriminasi HR3 Jumlah total insiden diskriminasi dan
tindakan korektif yang diambil.
Kebebasan berserikat HR4 Operasi pemasok teridentifikasi yang
dan perjanjian kerja mungkin melanggar atau beresiko
bersama tinggi melanggar hak untuk
melaksanakan kebebasan berserikat
dan perjanjian kerja sama, dan
tindakan yang diambil untuk
mendukung hak-hak tersebut.
Pekerja anak HR5 Operasi dan pemasok yang
diidentifikasi beresiko tinggi
melakukan eksploitasi pekerja anak
dan tindakan yang diambil untuk
berkontribusi dalam penghapusan
pekerja anak yang efektif.
Pekerja paksa atau HR6 Operasi dan pemasok yang
wajib kerja diidentifikasi beresiko tinggi
melakukan pekerja paksa atau wajib
kerja dan tindakan untuk
berkontribusi dalam penghapusan
segala bentuk pekerja paksa atau
wajib kerja.
Praktik pengamanan HR7 Persentase petugas pengamanan
yang dilatih dalam kebijakan atau
prosedur hak asasi manusia
diorganisasi yang relevan dengan
operasi.
Hak adat HR8 Jumlah total insiden pelanggaran
yang melibatkan hak-hak masyarakat
adat dan tindakan yang diambil.
Asesmen HR9 Jumlah total dan persentase operasi
yang telah melakukan review atau
atau asesmen dampak hak asasi
manusia.
Asesmen pemasok HR10 Persentase penapisan pemasok baru
atas hak asasi menggunakan kriteria hak asasi
manusia manusia.
HR11 Dampak negatif aktual dan potensial
yang signifikan terhadap hak asasi
manusia dalam rantai pemasok dan
tindakan yang diambil.
Mekanisme HR12 Jumlah pengaduan tentang dampak
pengaduan atas hak terhadap hak asasi manusia yang
asasi manusia diajukan, ditangani, dan diselesaikan
melalui mekanisme pangaduan
formal.

24
SUB-KATEGORI : MASYARAKAT
Masyarakat lokal SO1 Persentase operasi dengan pelibatan
masyarakat lokal, asesmen dampak,
dan program pengembangan yang
diterapkan.
SO2 Operasi dengan dampak negatif
aktual dan potensial yang signifikan
terhadap masyarakat lokal.
Anti korupsi SO3 Jumlah total dan persentase operasi
yang dinilai terhadap risiko terkait
dengan korupsi dan risiko signifikan
yang teridentifikasi.
SO4 Komunikasi dan pelatihan mengenai
kebijakan dan prosedur anti-korupsi.
SO5 Insiden korupsi yang terbukti dan
tindakan yang diambil.
Kebijakan publik SO6 Nilai total kontribusi politik
berdasarkan negara dan penerima
manfaat.
Anti persaingan SO7 Jumlah total tindakan hukum terkait
anti-persaingan, anti-trust, serta
praktik monopoli dan hasilnya.
Kepatuhan SO8 Nilai moneter denda yang signifikan
dan jumlah total sanksi non-moneter
atas ketidakpatuhan terhadap
undang-undang.
Asesmen pemasok SO9 Persentase penapisan pemasok baru
atas dampak terhadap menggunakan kriteria untuk dampak
masyarakat terhadap masyarakat.
SO10 Dampak negatif aktual dan potensial
yang signifikan teradap masyarakat
dalam rantai pasokan dan tindakan
yang diambil.
Mekanisme SO11 Jumlah pengaduan tentang dampak
pengaduan dampak terhadap masyarakat yang diajukan,
terhadap masyarakat ditangani, dan diselesaikan melalui
mekanisme pengaduan resmi.
SUB-KATEGORI : TANGGUNGJAWAB ATAS PRODUK
Kesehatan PR1 Persentase kategori produk dan jasa
keselamatan yang signifikan dampaknya terhadap
pelanggan kesehatan dan keselamatan yang
dinilai untuk peningkatan.
PR2 Total jumlah insiden ketidakpatuhan
terhadap peraturan dan koda sukarela
terkait dampak kesehatan dan
keselamatan dari produk dan jasa

25
sepanjang daur hidup menurut jenis.
Pelabelan produk dan PR3 Jenis informasi produk dan jasa yang
jasa diharuskan oleh prosedur organisasi
terkait dengan informasi dan
pelabelan produk dan jasa, serta
persentase kategori produk dan jasa
yang signifikan harus mengikuti
persyaratan informasi sejenis.
PR4 Jumlah total insiden ketidakpatuhan
terhadap peraturan dan koda sukarela
terkait dengan informasi dan
pelabelan produk dan jasa menurut
jenis hasil.
PR5 Hasil survei untuk mengukur
kepuasan pelanggan.
Komunikasi PR6 Penjualan produk yang dilarang atau
pemasaran disengketakan.
PR7 Jumlah total insiden ketidakpatuhan
terhadap peraturan dan koda sukarela
tentang komunikasi pemasaran,
termasuk iklan, promosi, dan
sponsor menurut jenis hasil.
Privasi pelanggan PR8 Jumlah total keluhan yang terbukti
terkait dengan pelanggaran privasi
pelanggan dan hilangnya data
pelanggan.
Kepatuhan PR9 Nilai moneter denda yang signifikan
atas ketidakpatuhan terhadap
undang-undang dan peraturan
terkait.
Sumber : GRI G4

5. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah suatu proporsi kepemilikan saham

institusi dalam hal ini yaitu institusi pendiri perusahaan, bukan merupakan

institusi pemegang saham publik yang diukur dengan persentase jumlah

saham yang dimiliki oleh investor institusi intern. Pengaruh kepemilikan

institusional dijadikan sebagai agen pengawas yang ditekan melalui

26
investasi yang cukup besar dalam pasar modal. Dengan kepemilikan

institusional yang tinggi maka juga dapat menimbulkan pengawasan yang

lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi

opportunistic manajer (Amaliyah & Herwiyanti, 2019).

6. Komisaris Independen

Dewan Komisaris adalah bagian inti dari corporate governance yang

diberi tugas untuk menjamin pelaksanaan strategi yang diterapkan oleh

perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta

mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Pada intinya, dewan komisaris

merupakan suatu mekanisme untuk mengawasi dan mekanisme untuk

memberikan petunjuk serta arahan bagi pengelola perusahaan. Dewan

Komisaris memegang peran yang sangat penting bagi perusahaan, terutama

dalam implementasi mekanisme corporate governance. Komisaris

independen mempunyai fungsi yaitu menjadi penyeimbang dalam

mengambil keputusan yang beranggotakan dewan komisaris yang berasal

dari luar perusahaan (Amaliyah & Herwiyanti, 2019).

Sistem pengawasan dapat dilakukan untuk memonitor fungsi-fungsi

atau proyek-proyek organisasional. Pengawasan terhadap suatu fungsi

dimaksudkan untuk menjamin bahwa kegiatan tertentu (seperti produksi

atau penjualan) dilaksanakan dengan tepat. Pengawasan terhadap suatu

proyek akan menjamin bahwa hasil akhir tertentu telah dicapai atau

diselesaikan (seperti pengembangan produk baru atau pembangunan

27
gedung). Anggaran dapat digunakan untuk kedua jenis sistem pengawasan

tersebut (Handoko, 2009).

Dewan komisaris adalah organ Perseroan yang bertugas melakukan

pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar

serta memberi nasihat kepada Direksi, demikian ditegaskan dalam pasal 1

ayat (6) Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT). Pembahasan tentang

komisaris ini, ada beberapa hal yang pembahasannya sama dengan

pembahasan direksi di atas. Penyempurnaan substansi aturan Undang-

Undang Perseroan Terbatas (UUPT) dalam menegakkan taat asas prinsip

kolektivitas anggota Dewan Komisaris, dan hal ini tidak diatur dalan

Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) nomor 1 tahun 1995 yaitu

Dewan Komisaris tidak boleh bertindak sendiri-sendiri, akan tetapi harus

berdasarkan keputusan Dewan Komisaris, hal ini tercantum dalam Pasal 108

ayat (4) Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) sebagai berikut:

“Dewan Komisaris yang terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang anggota

merupakan majelis dan setiap anggota Dewan Komisaris tidak dapat

bertindak sendiri-sendiri melainkan berdasarkan keputusan Dewan

Komisaris”.

Dewan komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan,

jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun

usaha perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi. pengawasan dan

pemberian nasihat yang dilakukan oleh dewan komisaris tidak untuk

kepentingan pihak atau golongan tertentu, tetapi untuk kepentingan

28
perseroan secara menyeluruh dan sesuai maksud dan tujuan perseroan.

(Hasnati, 2014)

Tujuan operasional perusahaan adalah memberikan hasil investasi

yang optimal bagi para pemegang saham. Pertimbangan-pertimbangan lain

yang akan mempengaruhi tujuan operasional perusahaan harus secara jelas

dinyatakan dan diungkapkan. Perusahaan harus berupaya menjamin

kesinambungan usahanya dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan

secara efektif membina hubungan yang baik dengan para pemegang saham

(Hery, 2013).

Pemegang saham memberikan kewenangan kepada manajemen untuk

mengelola suatu perusahaan. Perusahaan adalah lembaga ekonomi yang

didirikan oleh pemilik untuk mendapat keuntungan. Perusahaan memberi

kontribusi besar kepada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang

akan mengarah kepada perbaikan standar hidup dan turunnya angka

kemiskinan. (Hasnati, 2014)

7. Keputusan Pendanaan

Menurut Chaniago (2017), secara umum pengambilan keputusan

dapat diartikan yaitu pemilihan di antara berbagai alternatif pilihan yang

ada, dengan berdasar dan tepat sasaran yang sesuai dengan harapan pembuat

keputusan. Pengertian tersebut mencakup:

29
 Pembuatan pemilihan (Choice Making)

Sebelum mengambil keputusan diharapkan seorang pengambil

keputusan terlebih dahulu melakukan inventarisasi berbagai alternatif –

alternatif yang akan menjadi pilihan keputusan. Pilihan keputusan harus

berlandaskan pertimbangan disiplin ilmu.

 Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Tindakan dalam hal ini adalah suatu tindakan pengambilan

keputusan untuk merumuskan permasalahan. Rumusan permasalahan

harus mempertimbangkan dua sisi positif dan negatif atau kelebihan dan

kekurangan sebagai landasan atau pedomn dalam pengambilan keputusan

yang terbaik.

Faktor-faktor yang dianggap penting dipertimbangkan dalam

pengambilan keputusan pendanaan. Faktor-faktor yang dibahas terutama

dalam kaitannya dengan keputusan pemilihan sumber dana jangka panjang

yaitu apakah kebutuhan dana tertentu sebaiknya dipenuhi dari sumber dana

utang dalam hal ini utang jangka panjang atau dari modal sendiri (ekuitas).

Ada beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan oleh manajemen dalam

mengambil keputusan pendanaan antara lain: kontribusi terhadap (Earning

per Share) EPS; kemampuan cash flow memenuhi kewajiban utang; biaya

modal; rasio utang; peringkat efek; keuntungan pajak; sinyal keuangan;

problem keagenan; dan kontrol terhadap perusahaan (Sugeng, 2017).

30
8. Keputusan Investasi

Investasi lazim disebut juga dengan istilah penanaman modal atau

pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat

pengeluaran agregat. Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau

pengeluaran penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-

barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah

kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam

perekonomian. Pertambahan jumlah barang modal ini memungkinkan

perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak barang dan jasa di masa

yang akan datang. Adakalanya penanaman modal dilakukan untuk

menggantikan barang-barang modal yang lama yang telah haus dan perlu

didepresiasikan (Sukirno, S., 2017)

Kegiatan perusahaan untuk mendirikan industri dan memasang

peralatan pabrik yang baru adalah kegiatan yang memakan waktu. Di

perusahaan-perusahaan yang sangat besar kegiatan investasi dapat memakan

waktu beberapa tahun. Dan apabila investasi itu sudah selesai dilaksanakan,

yaitu pada waktu industri atau perusahaan yang didirikan itu sudah mulai

menghasilkan barang atau jasa, maka ia akan terus melakukan kegiatannya

selama beberapa tahun. Di dalam investasi-investasi yang seperti itu

biasanya modal baru diperoleh kembali apabila kegiatan memproduksi

sudah berjalan selama beberapa tahun. Oleh sebab itu, dalam menentukan

apakah kegiatan-kegiatan yang akan dikembangkan itu akan memperoleh

31
untung atau akan menimbulkan kerugian, para pengusaha haruslah membuat

ramalan-ramalan mengenai keadaan masa depan (Sukirno, S., 2017).

Menurut Sudrajat & Suwaji (2018), keputusan investasi mempunyai

dimensi waktu jangka panjang, sehingga keputusan yang akan diambil harus

dipertimbangkan dengan baik, karena mempunyai konsekuensi berjangka

panjang pula. Keputusan investasi sering disebut sebagai capital budgeting

yakni keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan

mengenai pengeluaran dana yang jangka waktu kembalinya dana tersebut

melebihi satu tahun. Perencanaan terhadap keputusan investasi ini sangat

penting karena beberapa hal :

 Dana yang dikeluarkan untuk keperluan investasi sangat besar, dan

jumlah dana yang besar tersebut tidak bisa diperoleh kembali dalam

jangka pendek atau diperoleh sekaligus;

 Dana yang dikelyarkan akan terikat dalam jangka panjang, sehingga

perusahaan harus menunggu selama jangka cukup lama untuk

memperoleh dana tersebut;

 Keputusan investasi menyangkut harapan terhadap hasil keuntungan di

masa yang akan datang. Kesalahan dalam mengadakan peramalan akan

dapat mengakibatkan terjadinya over atau under investment, yang

akhirnya akan merugikan perusahaan;

32
 Keputusan investasi berjangka panjang, sehingga kesalahan dalam

pengambilan keputusan akan mempunyai akibat yang panjang dan berat,

serta kesalahan dalam keputusan ini tidak dapat diperbaiki tanpa adanya

kerugian yang besar.

9. Profitabilitas

Setiap perusahaan selalu berusaha menghasilkan profitabilitas.

Menurut Winarno, Hidayati, & Darmawati (2015) profitabilitas sangat

ditentukan oleh faktor internal dan eksternal perusahaan. Faktor internal

meliputi kemampuan manajemen, kompetensi karyawan, sistem reward dan

punishment, asset yang digunakan, utang, penjualan serta kompetensi

perusahaan menurut pendekatan resources based views. Profitabilitas adalah

kemampuan perusahaan memperoleh laba.

Laba merupakan unsur penting dalam dunia usaha. Tanpa laba tidak

ada orang yang tertarik untuk melakukan suatu usaha. Demikian pula tidak

ada orang yang mau membeli saham perusahaan bila perusahaan itu tidak

menghasilkan laba. Bahkan apabila perusahaan menderita rugi para pemilik

saham cenderung menjual saham yang sudah dimilikinya. Laba seringkali

mencerminkan nilai suatu perusahaan. Bahkan nilai perusahaan diartikan

sebagai seluruh aliran laba yang diharapkan sepanjang umur perusahaan dan

dinyatakan dalam nilai sekarang (present value). Pada prinsipnya laba

adalah perbedaan antara penerimaan total dan biaya total (Suparmoko,

2011).

33
Menurut Winarno, dkk. (2015), ada berbagai ukuran dari

profitabilitas, yaitu Return on Equity (ROE) yang merupakan rasio atau

perbandingan antara Earnings After Taxes (EAT) dengan Equity dan Return

on Asset (ROA) yang merupakan perbandingan antara Earnings After Taxes

(EAT) dengan Total Asset. Profitabilitas merupakan ukuran kinerja dari

suatu organisasi yang profit oriented. Untuk melihat kinerjanya perusahaan

dapat melakukan benchmark internal dengan kinerja tahun sebelumnya atau

dengan benchmark eksternal dengan rasio industri.

34
B. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

Adapun hasil-hasil sebelumnya dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian

ini dapat dilihat dalam tabel 2.1.

Tabel 2.2.

Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

No. Peneliti (Tahun) Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil penelitian


Persamaan Perbedaan
1. Khojastehpour & Corporate Meneliti corporate Meneliti corporate Environmental CSR has a
Johns (2014) governance, social responsibility social positive effect on
corporate terhadap responsibility corporate/brand reputation and
profitability profitabilitas. terhadap corporate profitability.
toward corporate corporate/brand
social reputation.
responsibility
disclosure and
corporate value
(comparative
study in
Indonesia, China,
and India stock
exchange in 2013-

35
2016)
2. Rosdwianti, Pengaruh Meneliti pengaruh Periode penelitian Corporate social responsibility
Dzulkirom, & Corporate Social corporate social dan populasi berpengaruh terhadap
Zahroh (2016) Responsibility responsibility penelitian berbeda. profitabilitas.
(CSR) terhadap terhadap
Profitabilitas profitabilitas.
Perusahaan (Studi
pada Sektor
Industri Barang
Konsumsi yang
Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia
Periode 2013-
2014).
3. Indrawati, Suci, Pengaruh Meneliti pengaruh Populasi penelitian Corporate social responsibility
& Andiani (2020) Kepemilikan kepemilikan berbeda. berpengaruh terhadap
Institusional dan institusional dan profitabilitas.
Corporate Social corporate social
Responsibility responsibility Kepemilikan institusional
terhadap terhadap berpengaruh terhadap
Profitabilitas pada profitabilitas. profitabilitas.
Perusahaan
Pertambangan.
4. Celvin & Gaol Pengaruh Meneliti pengaruh Populasi dan Corporate social responsibility
(2015) Pengungkapan pengungkapan periode penelitian tidak berpengaruh terhadap
Corporate Social corporate sosial berbeda. profitabilitas.
Responsibility responsibility (CSR)
(CSR) terhadap terhadap

36
Profitabilitas profitabilitas.
Perusahaan
Pertambangan
yang Terdaftar di
Bursa Efek
Indonesia.
5. Rimardhani, Pengaruh Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Kepemilikan institusional
Hidayat, & Mekanisme Good mekanisme GCG dewan direksi dan berpengaruh terhadap
Dwiatmanto Corporate (kepemilikan komite audit profitabilitas.
(2016) Governance institusional dan terhadap
terhadap komisaris profitabilitas. Komisaris independen
Profitabilitas independen) berpengaruh terhadap
Perusahaan (Studi terhadap profitabilitas.
pada Perusahaan profitabilitas
BUMN yang (ROA).
terdaftar di BEI
Tahun 2012-2014)
6. Rantung, Murni, Pengaruh Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Kepemilikan institusional tidak
& Maramis Kepemilikan kepemilikan market share dan berpengaruh terhadap
(2019) Institusional, institusional GCG (Ukuran profitabilitas.
Market Share, terhadap Dewan Direksi)
Corporate profitabilitas. terhadap
Governance profitabilitas.
terhadap
Profitabilitas
Perusahaan
Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa

37
Efek Indonesia
Periode 2013-
2017.
7. Islami (2018) Pengaruh Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Komisaris independen
Corporate GCG (komisaris board size dan berpengaruh terhadap
Governance independen) komite audit profitabilitas.
terhadap terhadap terhadap
Profitabilitas profitabilitas. profitabilitas.
Perusahaan.
8. Putra & Nuzula Pengaruh Meneliti Pengaruh Meneliti pengaruh Komisaris independen tidak
(2017) Corporate komisaris komite audit dan berpengaruh terhadap
Governance independen terhadap kepemilikan profitabilitas.
terhadap ROA. manajerial terhadap
Profitabilitas ROE.
(Studi pada
Perusahaan
Perbankan yang
Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia
Periode 2013-
2015)
9. Suzan & Pengaruh Biaya Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Keputusan pendanaan
Ramadita (2019) Produksi, Debt to keputusan biaya produksi dan berpengaruh terhadap
Equity Ratio, dan pendanaan (DER) perputaran profitabilitas.
Perputaran terhadap persediaan terhadap
Persediaan Profitabilitas. profitabilitas.
terhadap
Profitabilitas.

38
10. Chabachib & Analisis Pengaruh Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Keputusan pendanaan
Prakoso (2016) Current Ratio, keputusan current ratio, size, berpengaruh terhadap
Size, Debt to pendanaan Debt to dan total aset profitabilitas.
Equity Ratio, dan Equity Ratio (DER) turnover terhadap
Total Asset terhadap dividend yield.
Turnover terhadap profitabilitas.
Dividend Yield
dengan Return on
Asset sebagai
Variabel
Intervening.
11. Pangestuti & Hutang dan Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Tidak adanya pengaruh positif
Laksono (2018) Profitabilitas keputusan Long-term debt dan dari keputusan pendanaan
Perusahaan (Studi pendanaan Debt to short-term debt terhadap profitabilitas.
pada Perusahaan Equity Ratio (DER) terhadap
Real Estate dan terhadap profitabilitas.
Property yang profitabilitas.
Listing di Bursa
Efek Indonesia)
12. Esana & Pengaruh Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Keputusan investasi berpengaruh
Darmawan (2017) Kebijakan keputusan investasi kebijakan dividen terhadap profitabilitas.
Dividen dan terhadap dan keputusan
Keputusan profitabilitas. investasi terhadap
Investasi terhadap nilai perusahaan.
Nilai Perusahaan
serta Dampaknya
terhadap
Profitabilitas t+1

39
(Studi pada Sub
Sektor Industri
Barang Konsumsi
yang Terdaftar di
BEI Periode
2006-2016).
13. Pratiska (2012) Pengaruh IOS, Meneliti pengaruh Meneliti pengaruh Keputusan investasi tidak
Leverage, dan keputusan investasi leverage dan berpengaruh secara signifikan
Dividend Yield terhadap dividend yield terhadap profitabilitas.
terhadap profitabilitas. terhadap
Profitabilitas dan profitabilitas dan
Nilai Perusahaan nilai perusahaan.
Sektor
Manufaktur di
BEI.
14. Agmas, W. F. Impact of Capital Meneliti the capital Meneliti the capital The capital structure measured
(2020) Structure: structure terhadap structure terhadap by debt to equity and long-term
Profitability of Return on Asset Return on Equity debt to total asset has a
Contruction (ROA) (ROE) significant positive correlation
Companies in with Return on Equity (ROE) and
Ethiopia. Return on Assets (ROA) of
sampled contruction companies.
However, the capital structure
measured by debt to assets has a
significant negative correlation
with ROE and ROA of sampled
contruction companies in
Ethiopia.

40
15. Chandra, dkk. The Effect of Meneliti capital Meneliti firm size, Variable capital structure have
(2019) Capital Structure structure growth opportunity, no significant effect.
on Profitability tangibility, and
and Stock liquidity.
Returns:
Empirical
Analysis of Firms
listed in Kompas
100.

41
C. Keterkaitan Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis

1. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Profitabilitas

Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang meliputi

pengurangan kemiskinan, pelestarian lingkungan, dan pembangunan

ekonomi berkelanjutan adalah bagian dari upaya pengembangan

perusahaan secara berkelanjutan. Hal ini berguna untuk membantu

perusahaan dalam memperbaiki financial performance dan akses pada

modal, meningkatkan corporate image dan penjualan atau layanan jasa,

memelihara kualitas kerja, memperbaiki keputusan pada isu-isu kritis,

serta menangani resiko secara lebih efisien dan mengurangi biaya jangka

panjang. Beberapa pihak mungkin tidak setuju dengan pernyataan bahwa

tanggung jawab sosial dikaitkan dengan profit perusahaan. Akan tetapi,

tidak ada salahnya jika Corporate Social Responsibility (CSR) bisa juga

ditafsirkan sebagai investasi, yang berarti bahwa dalam melakukan

investasi, perusahaan akan menilai return yang didapatkan. Dengan

demikian, Corporate Social Responsibility (CSR) bisa ditafsirkan sebagai

sebuah tanggung jawab perusahaan (entitas bisnis) kepada stakeholder

dan shareholder (Rachman, dkk., 2011). Dengan demikian, maka

terbentuk citra bahwa perusahaan tersebut bertanggung jawab hingga

menarik kepercayaan investor untuk berinvestasi pada perusahaan

tersebut sehingga dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.

42
Penelitian oleh Rosdwianti, Dzulkirom, & Zahroh (2016)

membuktikan bahwa Corporate Rocial Responsibility (CSR)

berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini serupa juga terjadi pada

penelitian yang dilakukan oleh Indrawati, Suci, & Andiani (2020) yang

membuktikan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh

terhadap profitabilitas.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut:

Ha1 : Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap

profitabilitas.

2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Profitabilitas

Penelitian oleh Indrawati, Suci, & Andiani (2020) membuktikan

bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal

ini serupa juga terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Rimardhani,

Hidayat, & Dwiatmanto (2016) yang membuktikan bahwa kepemilikan

institusional berpengaruh terhadap profitabilitas.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut:

Ha2 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas.

43
3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Profitabilitas

Penelitian tentang peran komisaris independen dan komite audi

dalam mewujudkan Good Corporate Governance (GCG) pernah

dilakukan oleh Rifai dan Santoso. Peran komisaris independen

dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang lebih objektif, independen

dan untuk menjaga fairness serta memberikan kesimbangan antara

kepentingan pemegang saham mayoritas dan perlindungan terhadap

kepentingan pemegang saham minoritas, bahkan kepentingan stakeholder

lainnya. Komisaris independen sangat dibutuhkan oleh perusahaan-

perusahaan yang ada di Indonesia terutama bagi perusahaan publik.

Dengan adanya komisaris independen semua pihak yang berkepentingan

mendapatkan manfaat yang besar, terutama terbentuknya situasi yang

sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG), yang dalam

hal ini komisaris dapat memberikan pandangan dengan tingkat

independensi dan akuntabilitas yang lebih tinggi (Hasnati, 2014).

Penelitian oleh Rimardhani, Hidayat, & Dwiatmanto (2016)

membuktikan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap

profitabilitas. Hal ini serupa juga terjadi pada penelitian yang dilakukan

oleh Islami (2018) yang membuktikan bahwa komisaris independen

berpengaruh terhadap profitabilitas.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut:

Ha3 : Komisaris independen berpengaruh terhadap profitabilitas.

44
4. Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Profitabilitas

Pengambil keputusan adalah sumber daya manusia yang

bertanggung jawab pada suatu usaha, biasanya adalah para manajer

(pimpinan). Menurut Leon et al., (1997:3-4) Pengambilan keputusan

adalah kegiatan pokok para manajer (Sularso, dkk., 2017).

Penelitian oleh Suzan & Ramadita (2019) membuktikan bahwa

keputusan pendanaan berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini serupa

juga terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Pangestuti & Laksono

(2018) yang membuktikan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh

terhadap profitabilitas.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut:

Ha4 : Keputusan pendanaan berpengaruh terhadap profitabilitas.

5. Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas

Di dalam badan usaha kegiatannya banyak yang terlibat. Sumarni

dan Soeprihanto (2003:5-7) menyatakan bahwa pemilik, manajer, pekerja

dan konsumen adalah faktor utama yang menjalankan bisnis. Pemilik

adalah orang, sekelompok orang, perusahaan, atau pemerintah yang

memiliki usaha tersebut. Mereka itu telah menginvestasikan

(menanamkan) uangnya (modal, dana) kepada perusahaan tersebut

dengan maksud untuk memperoleh keuntungan, sehingga uangnya

berlipat-ganda pada suatu saat tertentu (Sularso, dkk., 2017).

45
Penelitian oleh Ginting (2019) membuktikan bahwa keputusan

investasi berpengaruh terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian

tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha5 : Keputusan investasi berpengaruh terhadap profitabilitas.

46
D. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1.

Kerangka Pemikiran

Dibutuhkan penerapan CSR secara Adanya penyimpangan atas dana


optimal dan perusahaan juga perlu CSR dan kurang optimalnya
memperhatikan terkait kepemilikan perhatian dan penerapan atas peran
institusional, komisaris independen, kepemilikan institusional, komisaris
keputusan pendanaan, dan keputusan independen, keputusan pendanaan
investasi guna meningkatkan dan keputusan investasi dalam
profitabilitas. meningkatkan profitabilitas.

GAP

Pengaruh Corporate Social Responsibility, Kepemilikan Institusional,


Komisaris Independen, Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi
terhadap Profitabilitas

Basis Teori: Legitimacy Theory, Agency Theory, dan Signaling Theory

Corporate Social Responsibility (CSR) H1

Kepemilikan Institusional H2

Komisaris Independen H3 Profitabilitas


H4
Keputusan Pendanaan
H5
Keputusan Institusional

Metode Analisis Regresi Berganda

Hasil dan Pembahasan

Simpulan dan saran

47
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini

bertujuan untuk menganalisa pengaruh variabel independen, yaitu

Corporate Social Responsibility (CSR), kepemilikan institusional, komisaris

independen, keputusan pendanaan dan keputusan investasi terhadap variabel

dependen, yaitu profitabilitas. Jenis penelitian ini merupakan penelitian

kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menekankan pada

pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan

menganalisis data sekunder sesuai prosedur statistik. Data sekunder tersebut

berasal dari website Bursa Efek Indonesia, yaitu [Link].

B. Metode Penentuan Sampel

Peneliti selanjutnya menentukan populasi yang akan diuji. Populasi

adalah sebuah kumpulan dari semua kemungkinan orang-orang, benda-

benda, dan ukuran lain dari objek yang menjadi perhatian. Sedangkan

sampel adalah suatu bagian dari populasi tertentu yang menjadi perhatian

(Suharyadi Purwanto, 2016). Populasi dalam penelitian ini adalah

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam

periode waktu tahun 2014-2018. Sampel yang digunakan adalah perusahaan

manufaktur yang termasuk sektor dasar dan kimia di Bursa Efek Indonesia

48
(BEI). Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive

sampling method yaitu penarikan sampel dengan pertimbangan tertentu

(Purwanto, 2016). Pertimbangan tersebut biasa disebut dengan kriteria.

Adapun kriteria-kriteria yang digunakan, antara lain:

1. Seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) tahun 2014-2018.

2. Perusahaan manufaktur yang termasuk sektor dasar dan kimia.

3. Perusahaan yang tidak mengalami delisting.

4. Perusahaan yang tidak menggunakan mata uang asing.

5. Perusahaan yang mengungkapkan atau menyediakan data-data terkait

variabel penelitian secara lengkap.

6. Perusahaan yang tidak mengalami kerugian selama periode penelitian.

C. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui metode arsip (dokumentasi)

dan studi pustaka. Data tersebut diperoleh dari website resmi perusahaan

dan Bursa efek Indonesia (BEI), yaitu [Link]. Sedangkan data lain

yang mendukung penelitian ini diperoleh melalui jurnal, buku, internet, dan

lain-lain.

D. Metode Analisis Data

Berdasarkan tujuan penelitian, maka metode analisis data

menggunakan statistik deskriptif, uji kualitas data, dan uji hipotesis.

49
1. Uji Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data

yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,

maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan

distribusi) (Ghozali, 2018). Penelitian ini hanya menggambarkan sum,

rata-rata (mean), maksimum, minimum, dan standar deviasi. Dengan

menggunakan pengujian statistik berbantuan software Statistical Product

and Service Solutioan (SPSS) versi 24.0 akan diketahui sum, rata-rata

(mean), maksimum, minimum, dan standar deviasi dari setiap variabel.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.

Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai

residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka

uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua

cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak

yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik (Ghozali, 2018).

Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat

penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan

melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan

(Ghozali, 2018) :

50
 Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah

garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola

distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi

normalitas.

 Jika data menyebar jauh dari diagonal dam/atau tidak mengikuti

arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola

distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi

normalitas.

Peneliti menggunakan uji normalitas normal P-P Plot dan One-

sample Kolmogorov-Smirnov Test.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara

variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi,

maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah

variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel

independen sama dengan nol. Nilai cutoff yang umum dipakai untuk

menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance 0,10

atau sama dengan nilai VIF 10 (Ghozali, 2018).

51
c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t

dengan kesalahan pengganggu pada peroide t-1 (sebelumnya). Jika

terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang

waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual

(kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi

lainnya. Peneliti menggunakan run test sebagai bagian dari statistik

non-parametrik dapat pula digunakan untuk menguji apakah antar

residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat

hubungan korelasi maka dikatakan bahwa residual adalah acak atau

random. Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi

secara random atau tidak sistematis (Ghozali, 2018).

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regesi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan

ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan

ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika

berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah

yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Melihat

dari grafik scatterplot terlihat bahwa menyebar secara acak serta

52
tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y

(Ghozali, 2018).

3. Uji Hipotesis

a. Pengujian dengan Analisis Regresi Berganda

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda untuk

menguji pengaruh antara variabel dependen ke semua variabel

independen. Menurut (Gujarat, 2003) analisis regresi pada dasarnya

adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat)

dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas/bebas),

dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau memprediksi rata-rata

populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai

variabel independen yang diketahui (Ghozali, 2018). Persamaan

regresi berganda dirumuskan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e

Di mana:

Y = Profitabilitas

a = Konstanta

b = Koefisien Regresi

X1 = Corporate Social Responsibility

X2 = Kepemilikan Institusional

X3 = Komisaris Independen

53
X4 = Keputusan Pendanaan

X5 = Keputusan Investasi

e = Error

b. Uji Simultan (Uji F)

Menurut Ghozali (2018), uji F menguji joint hipotesia bahwa b1,

b2, dan b3 secara bersama-sama sama dengan nol. Untuk menguji

hipotesis ini digunakan statistik F dengan kriteria pengambilan

keputusan sebagai berikut:

 Quick look: bila nilai F lebih besar daripada 4 maka Ho dapat ditolak

pada derajat kepercayaan 5 %. Dengan kata lain kita menerima

hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel

independen secara serentak dan signifikan memengaruhi variabel

dependen.

 Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut

tabel. Bila nilai F hitung lebih besar daripada niai F tabel, maka Ho

ditolak dan menerima HA.

c. Uji Parsial (Uji t)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh

pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam

menerangkan variasi variabel dependen. Cara melakukan uji t adalah

sebagai berikut (Ghozali, 2018):

54
 Quick look: bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih

dan derajat kepercayaan sebesar 5 % maka Ho yang menyatakan bi =

0 dapat ditolak bila nilai t lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut).

Dengan kata lain kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan

bahwa suatu variabel independen secara individual memengaruhi

variabel dependen.

 Membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis menurut tabel.

Apabila nilai statistik t hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan

nilai t tabel, kita menerima hipotesis alternatif yang menyatakan

bahwa suatu variabel independen secara individual memengaruhi

variabel dependen.

E. Operasional Variabel Penelitian

1. Corporate Social Responsibility (X1)

Penelitian ini diungkapkan menurut Global Reporting Initiative

(GRI). Saat ini untuk menilai kinerja CSR masih menggunakan metode

content analysis, yaitu metode dengan mengubah informasi kualitatif

menjadi kuantitatif agar dapat diolah secara statistik. Caranya adalah

dengan memberi skor “1” untuk setiap item yang diungkapkan dan skor

“0” untuk item yang tidak diungkapkan. Cara penelitian ini dikenal

dengan dichotomous (angka 1 untuk menandai “ya” dan angka 0 untuk

menandai “tidak”). Sesuai dengan standar yang berlaku maka rumus

perhitungan CSR adalah sebagai berikut (Rikumahu, dkk., 2017) :

55

CSRIj =

Keterangan:

CSRIj : Corporate Social Responsibility (CSR) Disclosure Index

Perusahaan

Nj : Jumlah item pengungkapan, nj: 91 item

∑ : 1 = jika item diungkapkan; 0 = jika item tidak

diungkapkan.

2. Kepemilikan Institusional (X2)

Tarjo (2008) menerangkan kepemilikan institusional adalah

kepemilikan saham suatu perusahaan oleh institusi atau lembaga seperti

perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi

lainnya. Rasio kepemilikan institusional dalam penelitian ini dinyatakan

dengan perbandingan antara saham yang dimiliki oleh suatu institusi dengan

total saham beredar (Fadillah, 2017).

Kep. Institusional = X 100 %

56
3. Dewan Komisaris Independen (X3)

Juwita (2008) mengatakan bahwa salah satu bentuk pengawasan adalah

dengan adanya mekanisme good corporate governance yang dibagi menjadi

dua kelompok yaitu mekanisme internal dan mekanisme eksternal.

Mekanisme internal dalam perusahaan antara lain pengendalian yang

dilakukan oleh dewan komisaris. Rasio dewan komisaris independen dalam

penelitian ini dinyatakan dengan perbandingan jumlah anggota dewan

komisaris independen dengan total dewan komisaris (Fadillah, 2017).

DKI = x 100 %

4. Keputusan Pendanaan (X4)

Keputusan pendanaan dalam penelitian ini diproksikan dengan Debit

to Equity Ratio (DER). Rasio ini menunjukkan perbandingan antara

pendanaan melalui hutang dengan pendanaan melalui ekuitas (Dananjaya &

Mustanda, 2016)

Debt to Equity (DER) =

5. Keputusan Investasi (X5)

Hasil keputusan investasi perusahaan dapat dilihat dari pertumbuhan

aset atau Total Asset Growth (TAG) perusahaan yaitu dengan

membandingkan total aset tahun sekarang dengan total aset tahun

sebelumnya (Patrisia, dkk., 2019).

57
KI =

6. Profitabilitas (Y)

Return On Assets (ROA) menggambarkan sejauh mana kemampuan

aset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba. Return on Assets

(ROA) dapat dihitung dengan rumus (Kalesaran, dkk., 2020) :

ROA = X 100%

Tabel 3.1

Pengukuran Operasional Variabel

No. Variabel Pengukuran Skala


1. Corporate Social Menggunakan item Rasio
Responsibility (CSR) pengungkapan terdapat pada
Rikumahu, dkk., laporan tahunan perusahaan,
(2017) dengan skala indeks
CSR = V / M
2. Kepemilikan KIN = Saham yang Dimiliki Rasio
Institusional Institusi / Total Saham yang
Bernandhi & Muid Beredar
(2014)
3. Komisaris KIND = Total Komisaris Rasio
Independen Independen / Total Dewan
Istighfarin & Komisaris
Rahmawati (2015)
4. Keputusan Debt to Equity Ratio (DER) Rasio
Pendanaan = Total Hutang / Ekuitas
Dananjaya &
Mustanda (2016)
5. Keputusan Investasi KI = (Total Asset tahun Rasio
Patrisia (2019) sekarang – Total Asset
tahun sebelumnya) / Total
Asset tahun sebelumnya
6. Profitabilitas ROA = Laba Bersih setelah Rasio
Kalesaran, dkk. Pajak / Total Asset x 100%
(2020)

58
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber-sumber

yang telah ada. Data sekunder disebut juga data tersedia bersumber dari

laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun

2014 sampai dengan tahun 2018 yang diperoleh melalui situs resmi Bursa

Efek Indonesia pada alamat [Link]. Pengambilan data dari artikel,

jurnal, penelitian terdahulu, serta sumber-sumber lain yang relevan untuk

menggambarkan atau mendeskripsikan data yang telah dikumpulkan

menjadi informasi penelitian yaitu terkait dengan Corporate social

responsibility (CSR), kepemilikan institusional, komisaris independen,

keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan profitabilitas. Penelitian ini

menggunakan purposive sampling untuk menentukan sampel. Metode

analisis yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif dengan

menggunakan bantuan perangkat lunak Miscrosoft Exel 2010 dan Statistical

Package for Social Sciences (SPSS) versi 24.0 sebagai alat untuk menguji

data.

59
Tujuan dari analisis ini adalah untuk mendapatkan informasi yang

relevan yang terkandung dalam sata tersebut dan menggunakan hasilnya

untuk memecahkan suatu masalah. Berikut tabel 4.1. yang menyajikan

perolehan sampel berdasarkan kriteria yang ditentukan sesuai dengan

kebutuhan penelitian:

Tabel 4.1.

Rincian Perolehan Sampel Penelitian

No. Kriteria Jumlah


1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 145
2014 s.d. 2018.
2. Perusahaan manufaktur yang termasuk sektor dasar dan 67
kimia.
3. Peneliti menemukan informasi terkait perusahaan yang 8
mengalami delisting.
4. Peneliti menemukan informasi terkait perusahaan yang 16
menggunakan mata uang asing dalam laporan
keuangan.
5. Peneliti menemukan informasi terkait perusahaan yang 7
tidak mengungkapkan atau menyediakan secara
lengkap atas data terkait variabel penelitian yang
diperlukan.
6. Peneliti menemukan informasi terkait perusahaan yang 27
mengalami kerugian selama periode penelitian.
7. Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria 9
Jumlah tahun penelitian 5
Total sampel data selama 5 tahun penelitian dari tahun 2014 45
s.d. 2018.
Sumber: Data sekunder yang diolah

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa sampel yang

digunakan dalam penelitian ini berjumlah 45 sampel. Sampel tersebut

dipilih karena telah memenuhi rincian kriteria yang ditentukan.

60
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian

1. Uji Statistik Deskriptif

Menurut Ghozali (2018), statistik deskriptif memberikan gambaran

atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar

deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan

skewness (kemencengan distribusi).

Tabel 4.2.

Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

Std.
Deviati
N Minimum Maximum Mean on
P_Y 45 ,011 ,336 ,09543 ,070503
CSR_X1 45 ,143 ,549 ,30598 ,130926
KEPl_X2 45 ,021 1,000 ,66199 ,293183
KOMI_X3 45 ,000 ,667 ,36582 ,133567
KP_X4 45 ,077 2,196 ,58042 ,509176
KI_X5 45 ,001 ,589 ,11655 ,098942
Valid N (listwise) 45
Sumber : Output SPSS yang diolah

Output tampilan SPSS menunjukkan jumlah sampel (N) ada 45 untuk

semua variabel :

Untuk variabel Profitabilitas dari 45 sampel, nilai variabel

Profitabilitas terkecil (Minimum) adalah 0,011 dan nilai variabel

Profitabilitas terbesar adalah 0,336. Rata-rata nilai variabel Profitabilitas

adalah 0,09543 dengan standar deviasi varibel Profitabilitas sebesar

0,070503.

61
Untuk variabel CSR dari 45 sampel, nilai variabel CSR terkecil

(Minimum) adalah 0,143 dan nilai variabel CSR terbesar adalah 0,549.

Rata-rata nilai variabel CSR adalah 0,30598 dengan standar deviasi variabel

CSR sebesar 0,130926.

Untuk variabel Kepemilikan Institusional dari 45 sampel, nilai

variabel Kepemilikan Institusional terkecil (Minimum) adalah 0,021 dan

nilai variabel Kepemilikan Institusional terbesar adalah 1,000. Rata-rata

nilai variabel Kepemilikan Institusional adalah 0,66199 dengan standar

deviasi variabel Kepemilikan Institusional sebesar 0,293183.

Untuk variabel Komisaris Independen dari 45 sampel, nilai variabel

Komisaris Independen terkecil (Minimum) adalah 0,000 dan nilai variabel

Komisaris Independen terbesar adalah 0,667. Rata-rata nilai variabel

Komisaris Independen adalah 0,36582 dengan standar deviasi variabel

Komisaris Independen sebesar 0, 133567.

Untuk variabel Keputusan Pendanaan dari 45 sampel, nilai variabel

Keputusan Pendanaan terkecil (Minimum) adalah 0,077 dan nilai variabel

Keputusan Pendanaan terbesar adalah 2,196. Rata-rata nilai variabel

Keputusan Pendanaan adalah 0,58042 dengan standar deviasi variabel

Keputusan Pendanaan sebesar 0,509176.

Untuk variabel Keputusan Investasi dari 45 sampel, nilai variabel

Keputusan Investasi terkecil (Minimum) adalah 0,001 dan nilai variabel

Keputusan Investasi terbesar adalah 0,589. Rata-rata nilai variabel

62
Keputusan Investasi adalah 0,11655 dengan standar deviasi variabel

Keputusan Investasi sebesar 0,098942.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.

Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual

mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik

menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2018).

Gambar 4.1.

Hasil Uji Normalitas

Sumber : Output SPSS yang diolah

63
Dasar pengambilan keputusan yaitu jika data menyebar di sekitar

garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik

histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi

memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2018). Melihat hasil dari output

SPSS Normal P-Plot, memperlihatkan bahwa distribusi dari titik-titik

data menyebar di sekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data

searah dengan garis diagonal. Jadi data pada variabel penelitian dapat

dikatakan normal.

Tabel 4.3.

Hasil Uji Normalitas dengan Uji Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardiz
ed Residual
N 45
a,b
Normal Parameters Mean ,0000000
Std. ,05328224
Deviation
Most Extreme Absolute ,085
Differences Positive ,085
Negative -,067
Test Statistic ,085
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber: Output SPSS yang diolah

Uji Kolmogorov Smirnov bertujuan untuk membantu peneliti

dalam menentukan distribusi normal dengan jumlah data yang sedikit.

Uji Kolmogorov Smirnov sangat membantu peneliti untuk mengetahui

64
apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal

(Ghozali, 2018). Berdasarkan hasil Outpot SPSS Kolmogorov Smirnov

menunjukkan nilai Asymp. Sig (2-tailed) 0,200 > 0,05 berarti data

residual berdistribusi normal.

b. Hasil Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara

variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka

variabel-variabel ini tidak ortogonal (Ghozali, 2018).

Tabel 4.4.

Colinearity Statistics

Coefficientsa
Collinearity Statistics
Toleran
Model ce VIF
1 CSR_X1 ,923 1,084
KEPl_X2 ,882 1,133
KOMI_X3 ,936 1,069
KP_X4 ,930 1,076
KI_X5 ,883 1,132
a. Dependent Variable: P_Y
Sumber: Output SPSS yang diolah

Hasil perhitungan nilai Tolerance juga menunjukkan tidak ada

variabel independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang

berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih

dari 95%. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga

65
menunjukkan hal yang sama tidak ada satu variabel independen yang

memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih dari 10. Jadi dapat

disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas antar variabel independen

dalam model regresi.

c. Hasil Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi

korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali, 2018).

Tabel 4.5.

Hasil Uji Autokorelasi

Runs Test
Unstandardized
Residual
Test Valuea -,00667
Cases < Test Value 22
Cases >= Test Value 23
Total Cases 45
Number of Runs 17
Z -1,807
Asymp. Sig. (2-tailed) ,071
a. Median
Sumber : Output SPSS yang diolah

Hasil output SPSS menunjukkan bahwa nilai test adalah -0,00667

dengan probabilitas 0,071 signifikan pada 0,05 yang berarti hipotesis nol

diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa residual random atau tidak

terjadi aotukorelasi antar nilai residual. Berarti memiliki tingkat

66
signifikansi di atas > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak

mengandung gejala autokorelasi.

d. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain (Ghozali, 2018).

Gambar 4.2.

Hasil Uji Heteroskedastisitas Menggunakan Grafik Scatterplot

Sumber: Output SPSS yang diolah

Berdasarkan pada grafik scatterplots terlihat bahwa titik-titik

menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka nol pada

sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas pada

model regresi.

67
3. Pengujian Hipotesis

a. Pengujian Analisis Regresi Berganda

Penelitian ini menggunakan pengujian analisis regresi berganda

untuk menguji pengaruh antara variabel dependen ke semua variabel

independen. Menurut Ghozali (2018), tujuan analisis regresi berganda

untuk melakukan peramalan. Sebuah model yang baik adalah model

dengan kesalahan peramalan yang seminimal mungkin. Dalam penelitian

ini, pengujian hipotesis dilakukan dengan melakukan uji koefisien

determinasi (R2), Uji signifikasi simultan (uji F), dan uji signifikasi

parsial (uji t).

1) Hasil Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kamampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang

kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam

menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang

mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan

hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi

variabel dependen (Ghozali, 2018).

68
Tabel 4.6.

Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summary
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
a
1 ,655 ,429 ,356 ,056595
a. Predictors: (Constant), X5_KI, X3_KOMI, X1_CSR, X4_KP,
X2_KEPI
Sumber : Output SPSS yang diolah

Dari tampilan output SPSS model summary besarnya adjusted

R2 adalah 0,356. Hal ini berarti 35,6% nilai variabel Profitabilitas

dapat dijelaskan oleh variasi dari ke lima variabel independen yaitu

Corporate Social Responsibility (CSR), kepemilikan institusional,

komisaris independen, keputusan pendanaan, dan keputusan investasi.

Sedangkan sisanya (100% -35,6% = 64,4%) dijelaskan oleh sebab-

sebab yang lain diluar model. Misalkan komite audit, kebijakan

dividen, kepemilikan manajerial, dan lain-lain.

2) Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F dengan

kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut: Pertama, perhatikan

Quick look : bila nilai F lebih besar daripada 4 maka Ho dapat ditolak

pada derajat kepercayaan 5 %. Dengan kata lain kita menerima

hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel

independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel

dependen. Kedua, bandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F

69
menurut tabel. Bila nilai F hitung lebih besar daripada nilai F tabel,

maka Ho ditolak dan menerima HA (Ghozali, 2018).

Tabel 4.7.

Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

ANOVAa
Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.
1 Regression ,094 5 ,019 5,857 ,000b
Residual ,125 39 ,003
Total ,219 44
a. Dependent Variable: Y_P
b. Predictors: (Constant), X5_KI, X3_KOMI, X1_CSR, X4_KP,
X2_KEPI
Sumber : Output SPSS yang diolah

Dari uji Anova atau F test didapat nilai F hitung sebesar 5,857

dengan probabilitas 0,000. Karena probabilitas jauh lebih kecil dari

0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi

variabel independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi

variabel dependen atau dapat dikatakan bahwa corporate social

responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris

Independen, Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi secara

bersama-sama berpengaruh terhadap variabel Profitabilitas. Sesuai

dengan kriteria pengambilan keputusan yang telah dijelaskan diatas.

3) Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Cara melakukan uji t adalah dengan memperhatikan Quick look.

Apabila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih dan

derajat kepercayaan sebesar 5% maka Ho yang menyatakan bi = 0

70
dapat ditolak bila nilai t lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut).

Dengan kata lain kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan

bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi

variabel dependen. Selain itu, membandingkan nilai statistik t dengan

titik kritis menurut tabel. Apabila nilai statistik t hasil perhitungan

lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, kita menerima hipotesis

alternatif yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara

individual memengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2018).

Tabel 4.8.

Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta T Sig.
1 (Constant) ,051 ,037 1,371 ,178
X1_CSR -,107 ,068 -,199 -1,582 ,122
X2_KEPI ,028 ,031 ,115 ,891 ,379
X3_KOMI ,074 ,066 ,140 1,118 ,270
X4_KP -,028 ,017 -,202 -1,611 ,115
X5_KI ,412 ,092 ,578 4,489 ,000
a. Dependent Variable: Y_P
Sumber: Output SPSS yang diolah

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa nilai t hitung untuk

konstanta adalah sebesar 1,371 < dari t tabel 2,02108 (5%,45,5) dan

nilai sig 0,178 > 0,05 hal tersebut berarti, konstanta tidak

mempengaruhi variabel Profitabilitas.

71
Untuk nilai t hitung CSR adalah sebesar -,1,582 < dari t tabel

2,02108 (5%,45,5) dan nilai sig 0,122 > 0,05 hal tersebut berarti, CSR

tidak mempengaruhi variabel Profitabilitas.

Untuk nilai t hitung Kepemilikan Institusional adalah sebesar

0,891 < dari t tabel 2,02108 (5%,45,5) dan nilai sig 0,379 > 0,05 hal

tersebut berarti, Kepemilikan Institusional tidak mempengaruhi

variabel Profitabilitas.

Untuk nilai t hitung Komisaris Independen adalah sebesar 1,118

< dari t tabel 2,02108 (5%,45,5) dan nilai sig 0,270 > 0,05 hal tersebut

berarti, Komisaris Independen tidak mempengaruhi variabel

Profitabilitas.

Untuk nilai t hitung Keputusan Pendanaan adalah sebesar -1,611

< dari t tabel 2,02108 (5%,45,5) dan nilai sig 0,115 > 0,05 hal tersebut

berarti, Keputusaan Pendanaan tidak mempengaruhi vriabel

Profitabilitas.

Untuk nilai t hitung Keputusan Investasi adalah sebesar 4,489 >

dari t tabel 2,02108 (5%,45,5) dan nilai sig 0,000 < 0,05 hal tersebut

berarti, Keputusan Investasi mempengaruhi variabel Profitabilitas.

C. Pembahasan

1. Pengaruh Corporate Social Responsibiity terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji t menunjukkan

bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap profitabilitas

pada tabel 4.8. di atas menunjukan bahwa variabel corporate social

72
responsibility (CSR) mempunyai nilai t hitung negatif sebesar -1,582

dengan tingkat signifikansi 0,122. Hal tersebut menunjukan bahwa

tingkat signifikansi > 0,05. Hal ini menujukan bahwa hipotesis Ha1

ditolak. Dengan demikian membuktikan variabel Corporate Social

Responsibility (CSR) tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa setidaknya ada dua

kelemahan implementasi CSR. Pertama, perusahaan melaksanakan CSR

dengan program yang sangat beragam dan didorong atas permintaan

masyarakat. Semestinya program CSR dirancang dan terkait dengan

strategi bisnis perusahaan. Konsekuensinya, CSR ini menjadi biaya yang

dianggarkan oleh manajemen perusahaan. Dengan demikian, karena

terkait strategi bisnis maka CSR akan bermanfaat bagi perusahaan dan

masyarakat. CSR sudah seharusnya ditempatkan sebagai upaya

memperkuat kinerja perusahaan. CSR yang hanya diposisikan sebagai

upaya pencitraan semata, tentu tidak akan menjamin keberlanjutan

perusahaan, apalagi pembangunan masyarakat sekitar. Kedua, umumnya

CSR yang dilakukan tidak tuntas, tidak dapat menyelesaikan masalah,

bahkan CSR memperbesar ketergantungan masyarakat kepada

perusahaan. CSR selama ini hanya memenuhi permintaan masyarakat

atau hanya memenuhi aturan. Dengan pola ini, sering kali program CSR

tidak dapat memberikan jalan keluar bagi persoalan masyarakat.

(Rachman, dkk., 2011)

73
Menurut Putra (2015), prosesi citra yang dibangun dapat

disimpulkan bahwa bisa saja citra merupakan rekayasa realitas yang

sengaja untuk membangun resepsi baru di benak khalayak. Pada

pokoknya kegiatan public relations bertujuan untuk memengaruhi

pendapat, sikap, sifat, dan tingkah laku publik. Oleh karena itu, public

relations dikatakan fungsi dalam suatu organisasi atau perusahaan

apabila public relations tersebut telah menunjukkan suatu kegiatan yang

jelas dan dapat dibedakan dari kegiatan lainnya. Apabila perusahaan

telah membentuk citra di masyarakat sekitar maka akan meningkatkan

keyakinan para investor bahwa perusahaan tersebut bertanggung jawab.

Hasil penelitian ini pun sesuai dengan legitimacy theory yang

menjelaskan tentang kontak sosial antara sebuah organisasi dengan

masyarakat. Namun menurut Fauzi et. Al. (2007), dengan adanya

kegiatan corporate social responsibility (CSR) menjadi biaya bagi

perusahaan yang dapat mengurangi atau tidak dapat meningkatkan laba

bersih perusahaan tersebut secara signifikan. Peningkatan aset apabila

tidak diimbangi dengan peningkatan laba akan berakibat pada rasio

return on asset (ROA) yang rendah.

Hasil hipotesis ini mendukung penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Celvin & Gaol (2015) menemukan bahwa corporate

social responsibility (CSR) tidak memiliki pengaruh terhadap

profitabilitas, pengungkapan CSR oleh perusahaan belum sepenuhnya

menjamin profitabilitas perusahaan naik. Di sisi lain, hasil penelitian ini

74
tidak didukung oleh penelitian Indrawati, Suci, & Andiani (2020) bahwa

corporate social responsibility (CSR) berpengaruh terhadap

profitabilitas, semakin perusahaan sering mengungkapkan kegiatan

sosialnya maka citra perusahaan akan baik dan tentunya akan berdampak

pada peningkatan profitabilitas perusahaan.

2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji t menunjukkan

bahwa kepemilikan institusional terhadap profitabilitas pada tabel 4.8. di

atas menunjukan bahwa variabel Kepemilikan Institusional mempunyai

nilai t hitung positif sebesar 0,891 dengan tingkat signifikansi 0,379. Hal

tersebut menunjukan bahwa tingkat signifikansi > 0,05. Hal ini

menunjukan bahwa hipotesis Ha2 ditolak. Dengan demikian

membuktikan variabel Kepemilikan Institusional tidak berpengaruh

terhadap Profitabilitas.

Hasil penelitian ini menjelaskan proporsi kepemilikan institusional

yang besar tidak menjamin meningkatkan usaha pengawasan oleh pihak

institusi dikarenakan adanya perilaku oportunistik manajer. Hipotesis-

hipotesis dalam Teori Akuntansi Positif merupakan dasar dalam

memahami fenomena adanya manajemen laba perusahaan. Political cost

hypothesis atau hipotesis biaya politis menyatakan semakin besar

kemungkinakan manajer memilih prosedur akuntansi yang menunda

pelaporan laba saat ini ke periode masa datang. (Rahayu, dkk.,2018)

75
Menurut Hariyani & Serfianto (2010), investor membeli produk

keuangan di pasar modal karena ingin mendapatkan keuntungan lebih

besar daripada yang didapatkan dari tabungan atau deposito. Meskipun

investasi saham, obligasi, atau reksadana menjanjikan keuntungan lebih

besar, kita tetap perlu berhati-hati. Investasi di pasar modal tidak dijamin

pemerintah sehingga investor dapat merugi bahkan rugi total karena

sahamnya tidak bernilai sama sekali. Di samping itu, meskipun bunga

kecil, tabungan dan deposito cukup aman karena dijamin pemerintah.

Semakin besar risiko investasi, semakin besar pula potensi

keuntungannya. Untuk meminimalkan risiko investasi, kita harus

memahami investasi tersebut dengan benar. Untuk itu, teruslah asah

intuisi dan tambah pengalaman tentang investasi.

Hasil penelitian ini pun sesuai dengan agency theory yang

menjelaskan tentang hubungan antara prinsipal dan agen. Menurut

Zardkoohi et al. (2017) ada tiga kemungkinan kondisi hubungan antara

prinsipal dan agen. Pertama, agen berlaku oportunistik terhadap prinsipal.

Kedua, prinsipal yang berperilaku oportunistik terhadap agen. Ketiga,

agen dan prinsipal memiliki kesamaan kepentingan, tetapi tindakan

tersebut berpengaruh terhadap stakeholder perusahaan. Almadi (2016)

menyatakan bahwa perilaku oportunistik seperti manajemen laba ini

sesungguhnya dapat diminimalkan melalui mekanisme corporate

governance dalam perusahaan (Rahayu, dkk., 2018).

76
Hasil hipotesis ini mendukung penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Rantung, Murni, & Maramis (2019) menemukan bahwa

tidak ada pengaruh yang signifikan dari kepemilikan institusional

terhadap profitabilitas, artinya komposisi kepemilikan saham institusi

tidak mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba

dengan memanfaatkan aktiva. Di sisi lain, hasil hipotesis ini tidak

didukung oleh penelitian Rimardhani, Hidayat, & Dwiatmanto (2016)

bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan dalam

meningkatkan profitabilitas, kepemilikan intitusional yang semakin

tinggi akan mampu memonitor perusahaan untuk lebih meningkatkan

profitabilitas perusahaan.

3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji t menunjukkan

bahwa komisaris independen terhadap profitabilitas pada tebel 4.8. di

atas menunjukan bahwa variabel Komisaris Independen mempunyai nilai

t hitung positif sebesar 1,118 dengan tingkat signifikansi 0,270. Hal

tersebut menunjukan bahwa tingkat signifikansi > 0,05. Hal ini

menunjukan bahwa hipotesis Ha3 ditolak. Dengan demikian

membuktikan variabel Komisaris Independen tidak berpengaruh terhadap

Profitabilitas.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa konsentrasi kepemilikan

perusahaan memungkinkan timbulnya campur tangan pemilik secara

berlebihan dalam pengurusan dan pengelolaan perusahaan. Hal ini antara

77
lain mengakibatkan fungsi pengawasan internal menjadi kurang

berfungsi. Misalnya, komisaris yang fungsinya sebagai pengawas

perusahaan. menjadi tidak efektif, padahal komisaris memiliki peran

strategis dalam pengawasan jalannya suatu perusahaan. Inefisiensi dan

ketidaksehatan suatu perusahaan antara lain disebabkan oleh dominasi

pemilik sehingga komisaris bersikap pasif dalam melakukan pengawasan

terhadap kegiatan perusahaan. (Hasnati, 2014)

Menurut Handoko (2009), ada banyak alasan untuk menentukan

penyebab kegagalan suatu organisasi atau keberhasilan organisasi

lainnya. Tetapi masalah yang selalu berulang dalam semua organisasi

yang gagal adalah tidak atau kurang adanya pengawasan yang memadai.

Pengawasan sebenarnya mengandung arti penjagaan stabilitas dan

equilibirum. Untuk mencapai keseimbangan, bagaimanapun juga,

manajer harus selalu merubah apa yang dikerjakannya atau merubah

standar yang digunakan sekarang untuk mengukur pelaksanaan. Dan

teknik-teknik serta metode-metode pengawasan hendaknya digunakan

secara simultan, tidak berdiri sendiri-sendiri.

Hasil penelitian tersebut pun sesuai dengan agency theory yang

menjelaskan tentang hubungan antara prinsipal dan agen. Menurut

Rimardhani, dkk. (2016), semakin besar proporsi dewan komisaris yang

berasal dari luar perusahaan dengan keahlian dan pengalaman yang

beragam akan memungkinkan menyebabkan penurunan kemampuan

dewan komisaris dalam melakukan pengawasan karena muncul masalah

78
koordinasi, komunikasi dan pembuat keputusan. Selain itu, peran dari

dewan komisaris independen yang seharusnya bersikap independen

dengan mengesampingkan kepentingan pribadi atau manajemen dan

bertindak hanya untuk kepentinggan perusahaan belum terlaksana dengan

baik.

Hasil hipotesis ini mendukung penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Putra dan Nuzula (2017) bahwa tidak ada pengaruh

signifikan antara proporsi dewan komisaris independen dengan

profitabilitas, keberadaan komisaris independen dalam suatu perusahaan

tidak menjamin perusahaan melakukan prinsip-prinsip good corporate

governace yang nantinya berdampak positif pada ROA. Di sisi lain, hasil

hipotesis ini tidak didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Rimardhani,

Hidayat, & Dwiatmanto (2016) bahwa dewan komisaris independen

secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas,

dikarenakan pembentukan dewan komisaris independen diharapkan akan

melindungi pemegang saham.

4. Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji t menunjukkan

bahwa keputusan pendanaan terhadap profitabilitas pada tabel 4.8. di atas

menunjukan bahwa variabel Keputusan Pendanaan mempunyai nilai t

hitung negatif sebesar -1,611 dengan tingkat signifikansi 0,115. Hal

tersebut menunjukan bahwa tingkat signifikansi > 0,05. Hal ini

menunjukan bahwa hipotesis Ha4 ditolak. Dengan demikian

79
membuktikan variabel Keputusan Pendanaan tidak berpengaruh terhadap

profitabilitas.

Hasil penelitian ini menjelaskan tiga fungsi & peran pokok dalam

perusahaan, yaitu mencari sumber-sumber pendanaan perusahaan,

mengalokasikan dana pada berbagai pos investasi, dan membagikan

bagian dari keuntungan atau dividen ke pemegang saham. Tetapi pada

praktiknya, manajer bekerja untuk kepentingannya sendiri dengan

menerapkan kompensasi yang tinggi, jaminan kelanggengan pekerjaan

dan lain-lain sehingga terdapat agency problem (masalah keagenan)

(Anwar, 2019).

Hal ini terlihat dari perusahaan telah menetapkan struktur modal

yang tepat, perusahaan masih memiliki masalah dengan waktu penerbitan

sekuritas. Ketika pendanaan eksternal dibutuhkan, perusahaan sering kali

menghadapi pertanyaan tentang bagaimana cara mengatur waktu yang

tepat bagi suatu masalah dan apakah akan menggunakan utang atau

saham biasa. Oleh karena pendanaan bersifat tidak rutin, merupakan hal

yang sulit bagi perusahaan untuk mempertahankan proporsi yang tegas

dalam struktur modalnya. Sering kali, perusahaan harus memutuskan

apakah akan mengumpulkan dana melalui emisi saham sekarang dan

nantinya melalui utang, atau sebaliknya. Jadi, perusahaan dipaksa untuk

mengevaluasi berbagai metode alternatif dalam pendanaan sehubungan

dengan kondisi dan harapan pasar secara umum untuk perusahaan itu

sendiri (Horne & Wachowicz, 2007).

80
Hasil penelitian ini pun sesuai dengan signaling theory yang

menjelaskan tentang sinyal sebagai tindakan manajemen dengan

memberikan petunjuk kepada investor. Di samping itu, hal yang dekat

hubungannya dengan biaya pengawasan dan hubungan agensi adalah

istilah pemberian sinyal/isyarat/tanda-tanda (signaling). Oleh karena

kontrak manajerial yang tegas sulit untuk ditegakkan, manajer dapat

menggunakan berbagai perubahan struktur modal untuk mengungkapkan

informasi mengenai profitabilitas dan risiko perusahaan. Implikasinya

adalah pihak dalam perusahaan (para manajer) mengetahui sesuatu

mengenai perusahaan yang tidak diketahui oleh pihak luar (pemegang

sekuritas). Sebagai seorang manajer, gaji dan tunjangan dapat tergantung

pada nilai pasar perusahaan, yang akan memberi insentif untuk membuat

investor mengetahui kapan perusahaan dinilai terlalu rendah

(undervalued) (Horne & Wachowicz, 2007).

Hasil hipotesis ini tidak mendukung penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Pangestuti & Laksono (2018) bahwa adanya pengaruh

dari keputusan pendanaan terhadap profitabilitas. Hasil hipotesis ini juga

tidak mendukung penelitian sebelumnya oleh Suzan & Ramadita (2019)

bahwa keputusan pendanaan berpengaruh terhadap profitabilitas, artinya

perusahaan harus mampu menjalankan usahanya sebaik mungkin dengan

mengatur pengeluaran secara ekonomis dan menghasilkan laba sebesar-

besarnya. Peningkatan hutang akan meningkatkan kemampuan

perusahaan dalam melakukan ekspansi perusahaan dan meningkatkan

81
sumber daya perusahaan sehingga produktifitas perusahaan meningkat

yang akhirnya keuntungan meningkat pula. Jika perusahaan mampu

mengelola hutang dengan baik maka perusahaan akan mendapat

keuntungan dari peningkatan hutang. Sedangkan, hasil hipotesis ini

mendukung penelitian sebelumnya oleh Astuti, dkk. (2017) bahwa

keputusan pendanaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Artinya

perusahaan belum mampu mengelola hutang dengan baik. Seharusnya

penggunaan jumlah utang tertentu pada kondisi ekonomi normal akan

dapat meningkatkan profitabilitas. Hal ini dapat dikarenakan adanya

kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan ekspansi perusahaan,

meningkatkan sumber daya perusahaan, dan lain sebagainya.

5. Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji t menunjukkan

bahwa keputusan investasi terhadap profitabilitas pada tabel 4.8 di atas

menunjukan bahwa variabel Keputusan Investasi mempunyai nilai t hitung

positif sebesar 4,489 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal tersebut

menunjukan bahwa tingkat signifikansi < 0,05. Hal ini menunjukan

bahwa hipotesis Ha5 diterima. Dengan demikian membuktikan variabel

keputusan investasi tidak berpengaruh terhadap profitabilitas.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa perusahaan emiten yang

ingin menambah modal usaha bisa melakukan penawaran umum (go

public) dan menjual sahamnya melalui bursa efek dengan bantuan

perusahaan efek. Di sisi lain, masyarakat investor yang memiliki

82
kelebihan dana bisa berinvestasi di bursa efek dengan membeli saham,

obligasi, produk derivatif, ataupun reksadana. Produk-produk jasa

keuangan yang diperdagangkan di bursa efek memiliki potensi

keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan produk jasa

perbankan seperti tabungan dan deposito (Hariyani & Serfianto, 2010).

Aktivitas investasi perusahaan dapat dilihat pada sisi kiri dari

neraca. Komposisi alokasi investasi ini akan sangat menetukan kinerja

perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya

dan profitabilitasnya atau kemampuan perusahaan dalam menghasilkan

keuntungan (Anwar, 2019).

Hasil penelitian ini pun sesuai dengan signaling theory yang

menjelaskan tentang sinyal sebagai tindakan manajemen dengan

memberikan petunjuk kepada investor. Salah satu pertimbangan untuk

mengembangkan rencana investasi adalah kemampuan mengelola dan

menjalankan rencana tersebut. Investor harus menentukan kemampuan

untuk mengalokasikan waktu dan upaya secara khusus untuk mengelola

sekumpulan aset investasi dan mengambil keputusan yang tepat. Di pasar

saham, seberapa besar kemampuan seseorang dapat menentukan apakah

ia lebih sesuai menjadi trader harian atau mengambil strategi jangka

panjang (Nuzula & Nurlaily, 2020).

Hasil hipotesis ini tidak mendukung penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Esana & Darmawan (2017) bahwa keputusan investasi

tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Serta tidak mendukung

83
penelitian sebelumnya oleh Pratiska (2012) Hasil bahwa keputusan

investasi tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, dana yang dimiliki

perusahaan digunakan untuk reinvestasi sehingga modal untuk

operasional berkurang dan mengakibatkan berkurangnya kemampuan

perusahaan untuk memperoleh laba. Reinvestasi akan meningkatkan

profitabiltas perusahaan dimasa yang akan datang, bukan pada saat

investasi dilakukan. Sedangkan, hasil penelitian ini mendukung

penelitian sebelumnya oleh Ginting (2019) bahwa keputusan investasi

memiliki pengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas perusahaan,

peningkatan asset akan meningkatkan produktivitas perusahaan sehingga

penjualan juga meningkat yang akhirnya akan meningkatkan keuntungan

perusahaan.

84
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini meneliti tentang Pengaruh Corporate Social

Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen,

Keputusan Pendanaan, dan Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI) yang tidak delisting selama periode penelitian yaitu

tahun 2014-2018. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 45 sampel

penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Variabel Corporate Social Responsibility (CSR) tidak berpengaruh

terhadap Profitabilitas. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan

penelitian yang dilakukan oleh Indrawati, Suci, & Andiani (2020) Namun

penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Celvin & Gaol

(2015).

2. Variabel Kepemilikan Institusional tidak berpengaruh terhadap

Profitabilitas. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang

dilakukan oleh Rimardhani, Hidayat, & Dwiatmanto (2016). Namun

penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Rantung,

Murni, Maramis (2019).

85
3. Variabel Komisaris Independen tidak berpengaruh teradap Profitabilitas.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan

oleh Rimardhani, Hidayat, & Dwiatmanto (2016). Namun penelitian ini

mendukung hasil penelitian yang dilakukan Putra & Nuzula (2017).

4. Variabel Keputusan Pendanaan tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan

oleh Suzan & Ramadita (2019). Namun penelitian ini mendukung hasil

penelitian yang dilakukan Astuti, dkk. (2017).

5. Variabel Keputusan Investasi berpengaruh terhadap Profitabilitas.

Penelitian ini tidak mendukung penelitian sebelumnya dilakukan oleh

Esana & Darmawan (2017). Namun penelitian ini mendukung hasil

penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2019).

B. Saran

Penelitian mengenai Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR),

Kepemilikan Manajerian, Komisaris Independen, Keputusan Pendanaan,

dan Keputusan Investasi terhadap Profitabilitas di masa yang akan datang

diharapkan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih berkualitas dengan

mempertimbangkan saran-saran berikut.

1. Penelitian selanjutnya dapat menambah variabel independen lain yang

berkaitan dengan penelitian ini, seperti komite audit, dewan direksi,

kebijakan dividen, kepemilikan manajerial, dan lain-lain.

86
2. Penelitian selanjutnya dapat lebih memfokuskan ruang lingkup

penelitian, seperti perusahaan manufaktur sektor otomotif yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia.

3. Penelitian selanjutnya dapat mengubah proksi pengukuran variabel yang

terdapat dalam penelitian ini, seperti profitabilitas diukur melalui Return

on Equity (ROE). Selain itu, juga bisa mengubah pengukuran Corporate

Social Responsibility (CSR) melalui Global Reporting Initiative (GRI)

dengan jumlah item atau indikator pengungkapan yang berbeda dengan

yang terdapat pada penelitian ini, seperti Global Reporting Initiative

(GRI) dengan 78 item, 84 item, 121 item, dan lain-lain.

87
DAFTAR PUSTAKA

Abdurakhman, H. (2020). Salah Kaprah Berkepanjangan Soal CSR. Diakses dari:


[Link]
soal-csr pada tanggal 28 November 2020 pukul 03.50 WIB.

Anonim. (2019). Kejaksanaan Tetapkan Ras sebagai Tersangka Korupsi Dana


CSR Rp 2,6 Miliar. Diakses dari:
[Link]
tetapkan-ras-sebagai-tersangka-korupsi-dana-csr-rp-26-miliar pada tanggal
28 November 2020 pukul 05.50 WIB.

Agmas, W. F. (2020). “ Impact of Capital Structure: Profitability of Contruction


Companies in Ethiopia”. Journal of Financial Management of Property and
Contruction.

Aljana, B. T. & Purwanto, A. (2017). Pengaruh Profitabilitas, Struktur


Kepemilikan dan Kualitas Audit terhadap Manajemen Laba. Diponegoro
Journal of Accounting, 6 (3), 2.

Amaliyah, F. & Herwiyanti, E. (2019). Pengaruh Kepemilikan Institusional,


Dewan Komisaris Independen, dan Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan
Sektor Pertambangan. Jurnal Akuntansi, 9 (3), 189-190.

Anwar, M. (2019). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta:


Kencana.

Astuti, E., Swastika, R., dan Isharijadi. (2017). Pengaruh Struntur Modal dan
Pertumbuhan Perusahaan terhadap Profitabilitas. Forum Ilmiah Pendidikan
Akuntansi, 5 (1), 493.

Bernandhi, R. & Muid, A. (2014). Pengaruh Kepemilikan Manajerial,


Kepemilikan Institusional, Kebijakan Dividen, Leverage, dan Ukuran

88
Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan. Diponegoro Journal of Accounting, 3
(1), 7.

Budi, K. (2020). Pandemi Corona, Momentum Perusahaan Optimalkan CSR.


Diakses dari:
[Link]
momentum-perusahaan-optimalkan-csr?page=all pada tanggal 22 Oktober
2020 pukul 17.00 WIB

Chabachib, M. & Prakoso, P. G. R. (2016). Analisis Pengaruh Current Ratio,


Siza, Debt to Equity Ratio, dan Total Asset Turnover terhadap Dividend
Yield dengan Return on Asset sebagai Variabel Intervening. Diponegoro
Journal of Marketing, 5 (2).

Chandra, dkk. (2019). “The Effect of Capital Structure on Profitability and Stock
Returns: Empirical Analysis of Firms Listed in Kompas 100”, Journal of
Chinese Economic and Foreign Trade Studies, 12 (2), pp. 74-89.

Chaniago, A. (2017). Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: Lentera Ilmu


Cendekia.
Celvin, H. & Gaol, R. L. (2015). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social
responsibility (CSR) terhadap Profitabilitas Perusahaan Pertambangan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. JRAK, 1 (2), 164.

Dananjaya, P. M. & Mustanda, I K. (2016). Pengaruh Keputusan Investasi,


Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan
pada Perusahaan Manufaktur. E-Jurnal Manajemen Unud, 5 (10), 6623.

Esana, R. & Darmawan, A. (2017). Pengaruh Kebijakan Dividen dan Keputusan


Investasi terhadap Nilai Perusahaan serta Dampaknya terhadap Profitabilitas
t+1. Jurnal Administrasi Bisnis, 50 (6), 209.

89
Fadillah, A. R. (2017). Analisis Pengaruh Dewan Komisaris Independen,
Kepemilikan Manajerial dan kepemilikan Institusional terhadap Kinerja
Perusahaan yang terdaftar di LQ45. Jurnal Akuntansi, 12 (1), 43.

Fauzia, Mutia. (2018). Industri Farmasi Nasional Mengalami Perlambatan


Pertumbuhan Bisnis. Diakses dari [Link]
[Link]/v/s/[Link]/ekonomi/read/2018/04/09/21
4000426/industri-farmasi-nasional-mengalami-perlambatan-pertumbuhan-
bisnis?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQHKAFQrABIA%3D#re
ferrer=[Link] pada tanggal
15 Oktober 2020 Pukul 11.30 WIB

Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25.
Semarang: Badan Penerbit – Undip.

Ginting, G. (2019). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan,


Keputusan Investasi, dan Struktur Modal terhadap Profitabilitas Perusahaan
Property, Konstruksi, Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2007-2017. TEDC, 13 (2), 125.

Gumilar, P. (2020). Kasus Jiwasraya Akibat Buruknya Keputusan Investasi.


Diakses dari:
[Link]
akibat-buruknya-keputusan-investasi pada tanggal 28 November 2020 pukul
07.40 WIB.

Handoko, T. H. (2009). Manajemen. Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.

Hariyani, I. & Serfianto, R. (2010). Buku Pintar Hukum Bisnis Pasar Modal.
Jakarta: Transmedia Pustaka

Hasnati. (2014). Komisaris Independen dan Komite Audit: Organ Perusahaan


yang Berperan untuk Mewujudkan Good Corporate Governance di
Indonesia. Yogyakarta: Absolute Media.

90
Hery. (2013). Rahasia Pembagian Dividen dan Tata Kelola Perusahaan.
Yogyakarta: GAVA MEDIA.

Heryanto, R. & Juliarto, A. (2017). Pengaruh Corporate Social Responsibility


terhadap Profitabilitas Perusahaan. Dionegoro Journal of Accounting, 6 (4),
2.

Horne, J. C. V., & Wachowicz, J. (2007). Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan.


Jakarta: Salemba Empat.

Indrawati, l., Suci, M., & Andiani, N.D. (2020). Pengaruh Kepemilikan
Institusional dan Corporate Social Responsibility terhadap Profitabilitas
pada Perusahaan Pertambangan. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 2 (1), 46.

Isighfarin, D. & Wirawati, N. G. P. (2015). Pengaruh Good Corporate


Governance terhadap profitabilitas pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). E-Jurnal akuntansi Universitas Udayana, 13 (2), 570.

Islami, N. W. (2018). Pengaruh Corporate Governance terhadap Profitabilitas


Perusahaan. Jurnal JIBEKA, 12 (1), 57

Kalesaran, D., Mangantar, M., & Tulung, J. E. (2020). Pengaruh Pertumbuhan


Perusahaan, Kebijakan Dividen dan Struktur Modal terhadap Profitabilitas
pada Industri Perbankan yang Terdaftar di BEI (Periode 2014-2017). Jurnal
EMBA, 8 (3), 186.

Khojastehpour, M. & Johns, R. (2014). “The effect of environmental CSR issues


on corporate/brand reputation and corporate profitability”. European
Business Review, 26 (4), pp. 330-339.

Nuzula, N. F. & Nurlaily, F. (2020). Dasar-Dasar Manajemen Investasi. Malang:


UB Press

91
Pangestuti, I. R. D. & Laksono, E. D. P. (2018). Hutang dan Profitabilitas
Perusahaan. Diponegoro Jurnal of Management, 7 (4).

Patrisia, D., Linda, M. R., & Yulianti, U. (2019). Pengaruh Keputusan Investasi,
Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Kajian Manajemen Bisnis, 8
(2), 77.

Pratiska, S. (2012). Pengaruh IOS, Leverage, dan Dividend Yield terhadap


Profitabilitas dan Nilai Perusahaan Sektor Manufaktur di BEI.

Pratiwi, H. R. 2019. Buntut Kasus Karen, Pemerintah akan Benahi Tata Kelola
BUMN. Diakses dari
[Link]
kasus-karen-pemerintah-akan-benahi-tata-kelola-bumn pada tanggal 15
Oktober 2020 Pukul 05.00 WIB

Putra, D. K. S. (2015). Komunikasi CSR Politik. Jakarta: Prenadamedia Group.


Hal. 9.

Putri, C. A. (2020). Ini Alasan Erick Thohir Rombak Direksi & Komisaris di 10
BUMN. Diakses dari:
[Link]
alasan-erick-thohir-rombak-direksi-komisaris-di-10-bumn pada tanggal 28
November 2020 pukul 09.00 WIB.

Purwanto, Suharyadi. (2016). Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern.


Jakarta: Salemba Empat. Hal. 13.

Putra, A. S. (2015). Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap


Profitabilitas Perusahaan. Jurnal Nominal, 4 (2), 94-95.

92
Putra, A. S. & Nuzula, N. F. (2017). Pengaruh Corporate Governance terhadap
Profitabilitas. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 47 (1), 110.

Rachman, N. M., Efendi, A., & Wicaksana, E. (2011). Panduan Lengkap


Perencanaan CSR. Jakarta: Penebar Swadaya.

Rahayu, S. M., Ramadhanti, W., & Widodo, T. M. (2018). Analisis Pengaruh


Gender Direksi dan Komisaris, Manajemen Laba, serta Kinerja
Perusahaan terhadap Kompensasi Manajemen Puncak di ASEAN.
YogyakartaL: Depublisher.

Rantung, Y., Murni, S., & Maramis, J. B. (2019). Pengaruh Kepemilikan


Institusional, Market Share, Corporate Governance terhadap Profitabilitas
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2013-2017.
Jurnal EMBA, 7 (3), 2687.

Ratmono, D., & Sagala, W. M. (2015). Pengungkapan Corporate Social


Responsibility (CSR) sebagai Sarana Legitimasi: Dampaknya terhadap
Tingkat Agresivitas Pajak. Jurnal Nominal, 4 (2), 19.

Rikumahu, B., Rahmawati, I., A., & Dillak, V., J. (2017). Pengaruh Dewan
Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, dan Corporate Social
Responsibility terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Jurnal Akuntansi &
Ekonomi FE. UN PGRI Kediri, 2 (2), 59-60.

Rimardhani, H., Hidayat, R. R., & Dwiatmanto. (2016). Pengaruh Mekanisme


Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas Perusahaan. Jurnal
Administrasi Bisnis (JAB), 31 (1), 168-174.

Rosdwianti, M. K., Dzulkirom, M., & Zahroh (2016). Pengaruh Corporate Social
Responsibility (CSR) terhadap Profitabilitas Perusahaan. Jurnal
Administrasi Bisnis, 38 (2), 17-20.

93
Seni, N. N. A. & Ratnadi, N. M. D. (2017). Theory of Planned Behavior untuk
Memprediksi Niat Berinvestasi. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana, 6 (12), 4046-4047.

Sidik, S. (2020). Kali Ditegur, Emiten Batu Bara Sinarmas Terancam Delisting.
Diakses dari:
[Link]
tv-digugat-pkpu-linkaja-anak-usaha-jasa-marga-mau-ipo pada 28 November
2020 pukul 09.52 WIB.

Sudrajat, U. & Suwaji. (2018). Buku Ajar Ekonomi Manajerial. Yogyakarta: CV


BUDI UTAMA.

Sugeng, B. (2017). Manajemen Keuangan Fundamental. Yogyakarta: CV BUDI


UTAMA.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta. Hal. 85.

Sukirno, S. (2017). Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sularso, R. A., Purbangkoro, M., & Chairina, R. R. L. (2017). Aplikasi dalam


Ekonomi Manajerial. Sidoarjo: Zifatama Jawara.

Suparmoko, M. R., & Suparmoko, M. (2011). Ekonomika untuk Manajer.


Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA

Suzan, L. & Ramadita, E. S. (2019). Pengaruh Biaya Produksi, Debt to Equity


Ratio, dan Perputaran Persediaan terhadap Profitabilitas. Jurnal
ASET(Akuntansi Riset), 11 (1).

94
Winarno, Hidayati, L. N., & Darmawati, A. (2015). Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Profitabilitas Perusahaan Manufaktur yang Listed di Bursa
Efek Indonesia. Jurnal Economia, 11 (2), 143-144.

95
LAMPIRAN

Tabel Sampel Data Penelitian

No. Kode Perusahaan


1. SMBR Semen Baturaja Persero Tbk.
2. SMGR Semen Indonesia Tbk.
3. ARNA Arwana Citra Mulia Tbk.
4. TOTO Surya Toto Indonesia Tbk.
5. ISSP Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk.
6. DPNS Duta Pertiwi Nusantara.
7. INCI Intan Wijaya Internasional Tbk.
8. IGAR Champion Pasific Indonesia Tbk.
9. JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Tabulasi Data Sampel Penelitian

Y X1 X2 X3 X4 X5
No. Perusahaan Tahun P CSR KINS KIND KP KI
1. SMBR 2014 0,112 0,407 1,000 0,600 0,077 0,079
2. SMGR 2014 0,164 0,538 0,610 0,286 0,372 0,115
3. ARNA 2014 0,208 0,209 0,548 0,667 0,385 0,110
4. TOTO 2014 0,262 0,187 0,962 0,400 0,647 0,161
5. ISSP 2014 0,075 0,264 0,559 0,167 1,340 0,239
6. DPNS 2014 0,057 0,209 0,596 0,333 0,139 0,049
7. INCI 2014 0,070 0,341 0,691 0,000 0,083 0,087
8. IGAR 2014 0,157 0,143 0,848 0,333 0,328 0,112
9. JPFA 2014 0,022 0,231 0,576 0,333 2,196 0,056
10. SMBR 2015 0,107 0,407 0,901 0,600 0,108 0,117
11. SMGR 2015 0,122 0,538 0,985 0,286 0,390 0,111
12. ARNA 2015 0,050 0,209 0,481 0,333 0,599 0,136
13. TOTO 2015 0,234 0,187 0,924 0,400 0,636 0,203
14. ISSP 2015 0,049 0,264 0,559 0,200 1,133 0,001
15. DPNS 2015 0,037 0,209 0,599 0,333 0,138 0,021
16. INCI 2015 0,104 0,341 0,021 0,000 0,101 0,147
17. IGAR 2015 0,137 0,143 0,848 0,500 0,237 0,097
18. JPFA 2015 0,027 0,286 0,581 0,500 1,969 0,089
19. SMBR 2016 0,063 0,407 0,988 0,600 0,400 0,337
20. SMGR 2016 0,099 0,538 0,980 0,286 0,447 0,159
21. ARNA 2016 0,059 0,209 0,140 0,333 0,380 0,079
22. TOTO 2016 0,172 0,187 0,924 0,400 0,694 0,058
23. ISSP 2016 0,021 0,264 0,559 0,400 1,284 0,109
24. DPNS 2016 0,035 0,209 0,599 0,333 0,125 0,079
25. INCI 2016 0,336 0,341 0,021 0,333 0,109 0,589
26. IGAR 2016 0,168 0,143 0,848 0,333 0,176 0,145
27. JPFA 2016 0,122 0,505 0,631 0,4OO 1,117 0,064
28. SMBR 2017 0,027 0,418 0,982 0,200 0,483 0,158
29. SMGR 2017 0,027 0,549 0,985 0,286 0,633 0,109
30. ARNA 2017 0,076 0,220 0,140 0,500 0,556 0,038
31. TOTO 2017 0,089 0,209 0,924 0,400 0,694 0,095
32. ISSP 2017 0,033 0,286 0,559 0,400 1,207 0,038
33. DPNS 2017 0,021 0,220 0,599 0,333 0,152 0,042
34. INCI 2017 0,078 0,363 0,022 0,333 0,132 0,128
35. IGAR 2017 0,141 0,154 0,848 0,333 0,161 0,167
36. JPFA 2017 0,052 0,505 0,631 0,500 1,226 0,094
37. SMBR 2018 0,013 0,429 0,980 0,400 0,594 0,094
38. SMGR 2018 0,069 0,549 0,985 0,286 0,563 0,043
39. ARNA 2018 0,096 0,220 0,547 0,500 0,507 0,032
40. TOTO 2018 0,145 0,209 0,924 0,400 0,502 0,025
41. ISSP 2018 0,011 0,286 0,559 0,400 1,227 0,036

97
42. DPNS 2018 0,034 0,220 0,599 0,333 0,160 0,044
43. INCI 2018 0,135 0,363 0,021 0,333 0,223 0,288
44. IGAR 2018 0,080 0,154 0,848 0,333 0,181 0,111
45. JPFA 2018 0,098 0,505 0,641 0,500 1,335 0,154

98
Uji Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

Minimu Maximu Std.


N m m Mean Deviation
P_Y 45 ,011 ,336 ,09543 ,070503
CSR_X1 45 ,143 ,549 ,30598 ,130926
KEPl_X2 45 ,021 1,000 ,66199 ,293183
KOMI_X3 45 ,000 ,667 ,36582 ,133567
KP_X4 45 ,077 2,196 ,58042 ,509176
KI_X5 45 ,001 ,589 ,11655 ,098942
Valid N (listwise) 45

99
Uji Asumsi Klasik

1. Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov)

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardiz
ed Residual
N 45
a,b
Normal Parameters Mean ,0000000
Std. ,05328224
Deviation
Most Extreme Absolute ,085
Differences Positive ,085
Negative -,067
Test Statistic ,085
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.

2. Uji Normalitas (Grafik Normal Plot)

100
3. Uji Multikolinearitas

Coefficientsa
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 CSR_X1 ,923 1,084
KEPl_X2 ,882 1,133
KOMI_X3 ,936 1,069
KP_X4 ,930 1,076
KI_X5 ,883 1,132
a. Dependent Variable: P_Y

4. Uji Autokorelasi (Run Test)

Runs Test
Unstandardized
Residual
Test Valuea -,00667
Cases < Test Value 22
Cases >= Test Value 23
Total Cases 45
Number of Runs 17
Z -1,807
Asymp. Sig. (2-tailed) ,071
a. Median

101
5. Uji Heteroskedastisitas (Grafik Scatterplot)

102
Uji Hipotesis

1. Uji Analisis Regresi Berganda

Model Summary
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
a
1 ,655 ,429 ,356 ,056595
a. Predictors: (Constant), X5_KI, X3_KOMI, X1_CSR, X4_KP,
X2_KEPI

ANOVAa
Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.
1 Regression ,094 5 ,019 5,857 ,000b
Residual ,125 39 ,003
Total ,219 44
a. Dependent Variable: Y_P
b. Predictors: (Constant), X5_KI, X3_KOMI, X1_CSR, X4_KP,
X2_KEPI

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) ,051 ,037 1,371 ,178
X1_CSR -,107 ,068 -,199 -1,582 ,122
X2_KEPI ,028 ,031 ,115 ,891 ,379
X3_KOMI ,074 ,066 ,140 1,118 ,270
X4_KP -,028 ,017 -,202 -1,611 ,115
X5_KI ,412 ,092 ,578 4,489 ,000
a. Dependent Variable: Y_P

103

Anda mungkin juga menyukai