0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan10 halaman

Samsurizal Arus Netral

Dokumen ini membahas pengaruh ketidakseimbangan beban pada transformator terhadap arus netral dan kerugian daya. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan beban menyebabkan rugi arus netral yang signifikan, yang dapat diminimalkan melalui metode pemerataan beban. Hasilnya, rugi arus netral berkurang dari 2,03 kW menjadi 0,003 kW, dan daya yang hilang juga berkurang secara substansial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan10 halaman

Samsurizal Arus Netral

Dokumen ini membahas pengaruh ketidakseimbangan beban pada transformator terhadap arus netral dan kerugian daya. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan beban menyebabkan rugi arus netral yang signifikan, yang dapat diminimalkan melalui metode pemerataan beban. Hasilnya, rugi arus netral berkurang dari 2,03 kW menjadi 0,003 kW, dan daya yang hilang juga berkurang secara substansial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh Ketidakseimbangan Beban

Terhadap Arus Netral Pada Transformator

The Effect of Load Imbalance On Neutral


Current in Transformers
Samsurizal1*, Rizka Afrita Sri Wulandari2, Miftahul Fikri3, Andi Makkulau4, Nurmiati Pasra5
1,2,4
Teknik Elektro/Institut Teknologi PLN; Jakarta
3,5
Teknologi Listrik/Institut Teknologi PLN; Jakarta
samsurizal@[Link].id1*, rizka1811116@[Link].id2, miftahul@[Link].id3, [Link]@[Link].id4,
nurmiati@[Link].id5

Abstrak – Ketidakseimbangan merupakan suatu keadaan yang disebabkan salah satu ataupun seluruh fasa
pada tarnsformator mengalami perbedaan, terjadi dikarenakan besarnya beban pada tiap fasa berbeda.
Hal tersebut mengakibatkan adanya arus yang mengalir pada penghantar netral yang menimbulkan
terjadinya rugi arus netral, serta kerugian berupa daya yang hilang dan dapat menyebabkan kerugian
secara ekonomi. Pada saat dilakukan pencatatan beban gardu distribusi XY, besarnya nilai beban pada
tiap-tiap fasanya berbeda, sehingga menyebabkan terjadinya rugi arus netral sebesar 2,03 kW dengan
besarnya daya yang hilang sebesar 240844,2367 kW. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dilakukan
pemerataan beban dengan memindahkan beban pada fasa yang tinggi ke fasa yang memiliki beban lebih
rendah menggunakan atau diistilahkan pecah beban. Hasil yang diperoleh besarnya rugi arus netral turun
menjadi 0,003 kW dengan besarnya daya yang hilang sebesar 45793,79 kW. Sedangkan pangaruhnya
terhadap keandalan diketahui bahwa ketidakseimbangan beban memberikan pengaruh terhadap besarnya
rugi arus netral berdasarkan perhitungan nilai koefisien korelasi yang didapatkan bernilai 0,24543558
meskipun termasuk dalam kategori rendah. Dari hasil kajian tersebut bahwa ketidakseimbangan beban
dengan menggunakan metode pecah beban dapat menurunkan nilai arus netral dan besarnya daya yang
hilang, yang berimplikasi rugi arus netralnya menjadi lebih rendah.

Kata Kunci: Ketidakseimbangan beban, transformator, rugi arus, daya hilang.

Abstract – Imbalance is a condition created by variances in one or more of the phases in the transformer,
which happens because the magnitude of the load on each phase is different. This causes current to flow in
the neutral conductor, resulting in neutral current losses, as well as power losses and economic losses. The
magnitude of the load value on each phase varies when the XY distribution substation load is recorded,
resulting in a neutral current loss of 2.03 kW and a power loss of 240844.2367 kW. To accomplish this, the
load must be equalized by shifting the burden from the high phase to the phase with a lower load, a process
known as load breaking. The magnitude of the neutral current loss was reduced to 0.003 kW, resulting in
a power loss of 45793.79 kW. While it is known that load imbalance influences the amount of the neutral
current loss, based on the calculation of the correlation coefficient value obtained is 0.24543558, despite
being in the low category. From the results of the study, the load imbalance using the load rupture method
can reduce the value of the neutral current and the amount of power lost, which has implications for lower
neutral current losses.

Keywords: Load imbalance, transformer, current loss, power loss.

1. Pendahuluan
Dalam hal penyaluran listrik kepada konsumen, Indonesia menggunakan sistem tegangan
tiga fasa dan arus bolak-balik (AC). Sistem tegangan tiga fasa merupakan sebuah sistem yang

TELKA, Vol.10, No.2, Juli 2024, pp. 134~143


ISSN (e): 2540-9123 ◼ 134
ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 135

terdiri dari 3 kabel fasa R, S, dan T serta 1 kabel netral, yang mana tegangan pada ketiga fasa
tersebut akan bernilai sama apabila beban yang disalurkan dalam keadaan seimbang tersebut [1].
Ketidakseimbangan ialah sesuatu keadaan yang terjadi dikarenakan apabila salah satu
ataupun seluruh fasa pada transformator berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat dari besarnya vektor
arus ataupun tegangan serta sudut dari tiap-tiap fasa [2]. Suatu beban dapat dikatakan seimbang
apabila ketiga vektor arus atau tegangan sama besar dan saling membentuk sudut 120o satu sama
lain [3]. Pada saat dilakukan pencatatan data beban pada gardu distribusi di wilayah Cilegon,
terdeteksi adanya ketidakseimbangan beban pada gardu distribusi XY, yang mana dapat
menyebabkan besarnya nilai beban pada fasa netral menjadi besar. Apabila ketidakseimbangan
beban dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindakan perbaikan, maka dapat menyebabkan
tranformator mengalami kondisi overload. Ketika transformator sudah mengalami kondisi
overload, maka dapat menyebabkan transformator menjadi cepat panas dan bahkan dapat
menyebabkan transformator tersebut meledak.
Dalam mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan penyeimbangan beban [4].
Penyeimbangan beban merupakan suatu upaya untuk mengoptimalkan gardu distribusi sehingga
arus yang mengalir dapat sepenuhnya terserap oleh pelanggan [5][6]. Metode yang akan
digunakan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan metode pecah beban, yaitu
dengan memindahkan fasa yang memiliki beban berlebih ke fasa yang memiliki beban yang lebih
rendah. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui pengaruh dari ketidakseimbangan beban
terhadap nilai rugi-rugi pada arus netral sebelum dan sesudah dilakukan pemerataan beban, serta
mengetahui pengaruh beban yang tidak seimbang terhadap kerugian berupa daya yang hilang dan
kerugian materi yang ditanggung oleh PLN.
Sistem tenaga listrik atau biasa disingkat dengan STL merupakan gabungan dari pusat-pusat
listrik yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, yang terdiri dari sistem pembangkit,
sistem transmisi, dan sistem distribusi yang akan menyalurkan tenaga listrik menuju konsumen
[4][7]. Pembangkit merupakan suatu peralatan atau mesin yang berfungsi untuk mengubah suatu
energi menjadi tenaga listrik, seperti energi air, energi angin, energi uap, dan lainnya. Tegangan
yang dihasilkan oleh pembangkit merupakan tegangan ekstra tinggi dan tegangan tingggi. Agar
energi yang dihasilkan dari pembangkit dapat disalurkan hingga konsumen, sehingga terdapat
jaringan transmisi [8]. Jaringan transmisi sendiri bekerja dengan menyalurkan tenaga listrik yang
dihasilkan dari pembangkit menggunakan saluran udara atau saluran bawah tanah, yang mana
tegangan tinggi yang berasal dari pembangkit diturunkan tegangannya menggunakan trafo step
down sehingga tegangan yang dihasilkan merupakan tegangan menengah [9]. Setelah melalui
jaringan transmisi, tenaga listrik diteruskan menuju jaringan distribusi agar dapat disalurkan
kepada konsumen. Tegangan yang dihasilkan sudah menjadi tegangan pakai atau tegangan rendah
sebesar 20 kV [10][11].
Jaringan distribusi merupakan jaringan yang menghubungkan sumber daya listrik besar
(gardu induk) kepada konsumen dengan bantuan saluran udara ataupun saluran bawah tanah.
Berdasarkan tegangannya, jaringan distribusi dapat dibedakan menjadi dua macam [12][13] yaitu:
a) Jaringan distribusi primer
Jaringan distribusi primer ialah sebuah jaringan distribusi yang berfungsi untuk
mendistribusikan energi listrik dari gardu induk sub transmisi ke gardu distribusi, dengan
tegangan menengah yang sudah diatur berdasarkan SPLN 1: 1995 [4].
b) Jaringan distribusi sekunder

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 136

Jaringan distribusi sekunder merupakan sebuah jaringan distribusi yang berfungsi untuk
mendistribusikan energi listrik dari gardu distribusi menuju konsumen, dengan tegangan
rendah yaitu 220 V atau 380 V [1][13].

Dalam sistem penyaluran, jaringan distribusi dapat disalurkan menggunakan saluran udara
ataupun saluran bawah tanah. Saluran udara atau overhead line ialah suatu sistem penyaluran
tenaga listrik dengan menggunakan kawat penghantar yang ditopang oleh tiang listrik. Sedangkan
saluran bawah tanah atau underground line, merupakan suatu sistem penyaluran tenaga listrik
dengan menggunakan kabel tanah yang dipasang di dalam tanah.

2. Metode Penelitian
Alur penilitian yang dilakukan disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram alir penelitian.

Penelitian dimulai dengan mengumpulkan data diantaranya; data teknik transformator


distribusi, data beban transformator distribusi, serta data penghantar netral. Metode pengumpulan
data ini dapat dilakukan dengan cara melakukan wawancara dengan pihak yang dianggap
menguasai informasi yang berhubungan dengan topik ini. Selain itu dapat melakukan obeservasi
ISSN (e): 2540-9123
ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 137

dengan pengambilan data dalam bentuk hardcopy ataupun softcopy secara langsung. Sedangkan
dalam metode analisis data, penulis menggunakan metode regresi linear berganda untuk melihat
bagaimana pengaruh dari variabel bebas X terhadap variabel terikat Y1 dan Y2, yang mana dalam
hal ini variabel X yaitu ketidakseimbangan beban, variabel Y1 yaitu rugi arus netral, dan Y2 yaitu
keandalan.

3.1 Rugi pada Arus Netral


Adanya ketidakseimbangan beban antar fasa satu dengan yang lainnya dapat menyebabkan
terjadinya rugi pada arus netral. Apabila tidak segera ditangani akan mengakibatkan kerugian
secara finansial ataupun secara produksi listrik itu sendiri. Untuk menghitung besarnya rugi pada
arus netral sebelum dan sesudah dilakukan pemerataan beban dapat dihitung menggunakan
persamaan:

𝑃N = IN2RN (1)

3.2 Pemerataan Beban


Ketika mengetahui besarnya nilai arus pada tiap-tiap fasa dalam keadaan tidak seimbang,
maka perlu dilakukan pemerataan beban dengan memindahkan beban pada fasa yang berlebih ke
fasa dengan beban yang lebih rendah. Adapun tahapan perhitungan yang dilakukan yaitu:
1. Menghitung besarnya faktor beban dengan menggunakan persamaan:
total daya terpakai
Faktor Beban = total daya terpasang (2)
2. Menghitung besarnya nilai arus rata-rata tiap jurusan, dengan menggunakan persamaan:
IR+IS+IT
Irata − rata = 3
(3)
3. Menghitung selisih nilai arus rata-rata tiap jurusan dengan nilai arus tiap fasa
4. Menghitung penyeimbangan fasa dengan menggunakan persamaan:
I
Fasa = xV (4)
FB
5. Menghitung beban setelah dilakukan penyeimbangan dengan persamaan:
penyeimbangan fasa
I setelah = V
+ I sebelum (5)

3.3 Ketidakseimbangan Beban setelah Pemerataan Beban


Setelah diketahui besarnya nilai arus pada tiap fasa setelah dilakukan pemerataan beban,
maka diharapkan dapat mengurangi nilai persentase ketidakseimbangan beban. Untuk melihat
berapa besarnya nilai persentase ketidakseimabngan beban setelah dilakukan pemerataan beban,
dapat dihitung dengan tahapan berikut:
1. Menghitung besarnya masing-masing nilai koefisien dengan menggunakan persamaan:

I sesudah pemerataan beban


Koefisien = I rata−rata
(6)

2. Menghitung besarnya persentase ketidakseimbangan beban dengan menggunakan persamaan:

|{a−1} + {b−1}+{𝑐−1}|
%= x 100% (7)
3

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 138

3.4 Keandalan Sistem Distribusi Listrik


Keandalan sistem distribusi listrik bukan hanya dilihat dari tingginya nilai dari indeks
keandalannya. Keandalan sistem dapat dilihat juga dari besarnya daya yang hilang akibat dari
timbulnya rugi pada arus netral dan besarnya kerugian berupa finansial yang ditanggung oleh
PLN. Untuk dapat menghitung besarnya daya yang hilang dapat menggunakan persamaan:

WN = PN x t (8)

Setelah dihitung besarnya daya yang hilang, selanjutnya besarnya rugi energi yang didapatkan
dapat dikonversikan ke rupiah dengan menggunakan persamaan:

Kerugian PLN = Wn x harga/kWh (9)

3.5 Koefisien Korelasi


Untuk melihat bagaimana pengaruh dari variabel bebas X terhadap variabel terikat Y 1 dan
Y2 dengan menggunakan statistika, dapat dilakukan dengan menghitung besarnya nilai koefisien
korelasi. Koefisien korelasi merupakan akar dari rasio antara jumlah kuadrat antara variabel X
dengan variabel Y. Untuk menghitung besarnya nilai koefisien korelasi dapat menggunakan
persamaan:

nXY−XY
r= (10)
√[(nX2 −(X)2 ) x (nY2 −(Y)2 )]

Setelah mengetahui besarnya nilai koefisien korelasi, dapat dilihat korelasi antara variabel X
terhadap variabel Y pada Tabel 1.

Tabel 1. Kategori korelasi.


Kategori Korelasi
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,00 Sangat Kuat

Dengan menggunakan Tabel 1, dapat diketahui bagaimana hubungan variabel X terhadap variabel
Y. Hal tersebut dapat dilihat sejauh mana korelasi serta bagaimana pengaruhnya antar variabel,
dari variabel X terhadap variabel Y.

3. Hasil dan Pembahasan


Data penelitian ini merupakan data pembebanan pada Gardu Distribusi yang terdapat pada
Penyulang Busi dari tahun kuran waktu 3 tahun Pencatatan beban pada gardu distribusi di wilayah
Cilegon sendiri dilakukan sebanyak 3 kali dalam setahun atau per-empat bulan. Pencatatan beban
ini dilakukan pada saat beban puncak siang (10:00 – 11:00) dan beban puncak malam (17:00 –
22:00). Data pembebanan pada gardu distribusi sebelum dilakukan pemerataan beban disajikan
pada Tabel 2.

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 139

Tabel 2. Data pembebanan.


Beban Terpasang (A) Ketidakseimbangan
No Jurusan
R S T N (%)
A 70 132 82 70 46,97
B 254 182 172 70 32,28
1
C 57 93 64 21 38,71
D 63 67 30 28 55,22
A 74 92 89 34 19,57
B 78 71 51 29 34,62
2
C 56 124 106 71 54,84
D 222 219 150 86 32,43
A 50 56 63 71 20,63
B 79 89 45 42 49,44
3
C 57 127 125 81 55,13
D 243 288 162 84 43,75
A 75 103 62 48 39,81
B 78 65 61 60 21,79
4
C 47 144 142 85 67,36
D 120 219 128 87 45,21
A 41 109 58 53 62,39
B 77 67 43 32 44,16
5
C 73 133 96 58 45,11
D 125 205 142 63 39,02
A 46 91 53 55 49,45
B 96 72 34 0 64,58
6
C 93 157 134 67 40,76
D 148 202 163 56 26,73
A 34 61 29 32 52,46
B 62 76 68 19 18,42
7
C 87 117 121 41 28,1
D 120 155 108 40 30,32
A 50 94 67 38 46,81
B 72 114 51 39 55,26
8
C 96 156 132 45 38,46
D 145 182 163 52 20,33
A 27 32,9 35,2 11,4 10
B 146,5 67 57 19,3 41,6
9
C 110,5 104,8 25,6 67
D 114 107,2 118 24,6 3,6

Berdasarkan health index transformator pada Surat Edaran Direksi PT PLN (Persero) No.
0017.E/DIR/2014, besarnya nilai ketidakseimbangan arus antar fasa yang baik adalah <10%
dengan nilai maksimal 20%. Dapat dilihat pada Tabel 2 data pembebanan gardu distribusi MJL
sebelum dilakukan pemerataan beban, besarnya nilai ketidakseimbangan arus antar fasa sudah
melebihi dari standar dan bahkan sudah dalam kondisi buruk secara keseluruhan sesuai ketentuan
pada Surat Edaran Direksi PT PLN (Persero) No. 0017.E/Dir/2004 sebesar <10% dan maksimal
20%, dimana kondisi awal hanya terdapat 3 jurusan memiliki ketidakseimbangan arus antar fasa
netral dibawah standar. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai beban pada masing-masing
fasanya berbeda. Selain itu, juga dapat dilihat selisih nilai beban antara salah satu fasa dengan
fasa lainnya sangat besar. Ketidakseimbangan beban dapat menyebabkan adanya arus yang
mengalir pada penghantar netral, yang mana hal ini dapat menyebabkan timbulnya rugi arus
netral. Untuk menghitung besarnya rugi arus netral sebelum dan sesudah dilakukan pemerataan
beban, dapat menggunakan persamaan 1.
- Sebelum pemerataan beban:
𝑃 N = IN2RN
= 712 A x 0,268 Ω

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 140

= 1350,99 Watt = 1,35099 kW

- Sesudah pemerataan beban:


𝑃 N = IN2RN
= 2,213592 A x 0,268 Ω
= 1,3132 Watt = 0,00131 kW

Dengan menggunakan persamaan yang sama, maka didapatkan nilai rugi arus netral sebelum
dan sesudah pemerataan beban yang disajikan pada gambar 2 dalam bentuk grafik.

Gambar 2. Grafik rugi arus netral sebelum dan sesudah pemerataan beban.

Berdasarkan Gambar 2, dapat dilihat ketika beban pada tiap fasa dalam keadaan tidak seimbang
menyebabkan adanya arus yang mengalir pada fasa netral dan terjadi rugi arus netral. Sebelum dilakukan
pemerataan beban, besarnya nilai rugi arus netral mencapai 2,0285 kW. Proses pemerataan beban pada
transformator merupakan langkah-langkah untuk memastikan bahwa beban listrik terdistribusi secara
merata di antara dua atau lebih transformator yang terhubung secara paralel dalam suatu sistem tenaga
listrik. Pemerataan beban ini penting untuk mencegah overload pada satu transformator sementara yang
lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Adapun langkah-langkah dalam proses pemerataan beban pada
transformator diantaranya identifikasi beban, menghitung kapasitas beban total dan menentukan besarnya
nilai arus netral. Setelah dilakukan pemerataan beban diperoleh, besarnya nilai arus netral hampir
mendekati 0, yang berarti nilai ketidakseimbangannya sudah menjadi lebih baik, serta menandakan
memenuhi ketentuan Surat Edaran Direksi PT PLN (Persero) No. 0017.E/Dir/2004 sebesar <10% dan
maksimal 20%.

3.1 Keandalan Sistem Distribusi Listrik


Keandalan sistem distribusi listrik bukan hanya dilihat dari tingginya nilai dari indeks keandalannya.
Keandalan sistem dapat dilihat juga dari besarnya daya yang hilang akibat dari timbulnya rugi pada arus
netral dan besarnya kerugian berupa finansial yang ditanggung oleh PLN. Untuk menghitung besarnya daya
yang hilang sebelum dan sesudah dilakukan pemerataan beban, dapat menggunakan persamaan 8.

- Sebelum pemerataan beban:


𝑊 N = PNt

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 141

= 2,9547 kW x 8766 jam


= 25900,9 kW

- Sesudah pemerataan beban:


𝑊 N= PNt
= 0,5699 kW x 8766 jam
= 4995,929 kW

Dengan menggunakan persamaan yang sama, maka didapatkan nilai besarnya daya yang
hilang yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Besar daya yang hilang dari tahun.


Daya yang hilang (kW)
No Tahun
Sebelum Pemerataan Beban Sesudah Pemerataan Beban
1 2017 25900,9 4995,929
2 2019 81886,8 6273,604
3 2020 99877,6 19783,32
4 2021 29037,2 6555,007
5 2022 4141,72 8186,13

Berdasarkan Tabel 3, terlihat setelah dilakukan pemerataan beban, besarnya daya yang hilang selama
kurun waktu 5 tahun mengalami penurunan. Sebelum dilakukan pemerataan beban, besarnya daya yang
hilang mencapai 240844,2 kW. Setelah dilakukan pemerataan beban, besarnya daya yang hilang mengalami
penurunan mencapai 45793,79 kW.

3.2 Pengaruh Ketidakseimbangan Beban terhadap Rugi Arus Netral dan Keandalan
Untuk melihat bagaimana pengaruh dari ketidakseimbangan beban terhadap rugi arus netral
dan keandalan, maka dapat dianalisa menggunakan regresi linear berganda dengan persamaan:

X = Y1 + Y2 + 

Untuk melihat bagaimana korelasi antara variabel X terhadap variabel Y, maka dapat
dilakukan perhitungan besarnya nilai koefisien korelasi dengan persamaan 10. Yang mana
variabel X merupakan ketidakseimbangan beban, variabel Y1 merupakan rugi arus netral, dan
variabel Y2 merupakan keandalan.

nXY−XY
r=
√[(nX2 −(X)2 ) x (nY2 −(Y)2 )]

3362616998−3181910954
r=
√(658265472−2080258,136) x (2396218,936−4866971623)

180706044
r=
1309840,92 x 562,103905

r = 0,24543558

Berdasarkan nilai koefisien korelasi yang didapatkan, maka dapat dilihat korelasi nya pada
tabel 1 yang mana 0,24543558 termasuk dalam kategori rendah.

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 142

Untuk melihat bagaimana hubungan antara variabel X terhadap variabel Y1 dan Y2, maka
dapat dilihat dari hasil uji T yang didapatkan melalui perhitungan menggunakan microsoft excel.
Hasil uji T disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil uji T.


Koefisien T T Signifikansi
Intercept 33,19185 6,254986 0,000000000456
Y1 1,631882 0,329486 0,74387
Y2 0,000918 1,104185 0,27749

Berdasarkan Tabel 4, didapatkan persamaan regresi:


X = 1,631882 Y1 + 0,000918 Y2 + 33,19185

Dari persamaan regresi yang didapatkan, variabel X (ketidakseimbangan beban) memberikan


pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y1 (rugi arus netral) dan Y2 (keandalan). Hal ini sesuai
dengan hasil yang didapatkan pada persamaan regresi, yang mana sebelum dilakukan pemerataan
beban, besarnya persentase ketidakseimbangan sangat tinggi yang mana mengakibatkan besarnya
nilai rugi arus netral juga naik yaitu sebesar 2,03 kW. Setelah dilakukan pemerataan beban,
besarnya persentase ketidakseimbangan beban mengalami penurunan, sehingga besarnya nilai
rugi arus netral pun juga ikut turun, bahkan mendekati nilai 0. Hasil persamaan regresi yang telah
diperoleh semakin besar nilai pada variabel Y1 dan Y2 maka nilai pada variabel X juga akan
semakin besar. Hal ini dikarenakan hubungan antara keduanya adalah berbanding lurus.

4. Kesimpulan
Berdasarkan dari kajian yang telah dilakukan, ketidakseimbangan beban memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap besarnya rugi arus netral dan keandalan berupa daya yang
hilang serta kerugian finansial yang diterima oleh PLN. Besarnya persentase ketidakseimbangan
sangat tinggi yang mengakibatkan besarnya nilai rugi arus netral juga naik yaitu sebesar 2,03 kW.
Setelah dilakukan pemerataan beban, besarnya persentase ketidakseimbangan beban mengalami
penurunan, sehingga besarnya nilai rugi arus netral pun juga ikut turun, bahkan mendekati nilai
0. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi yang didapatkan, yang mana hubungan antara
ketidakseimbangan beban terhadap rugi arus netral dan keandalan adalah berbanding lurus.
Semakin besar nilai persentase dari ketidakseimbangan beban, maka besarnya rugi arus netral dan
keandalan juga akan semakin besar, dan begitupun sebaliknya

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah mengijikan
pengambilan data, seluruh tim peneliti yang telah mengerjakan kegiatan penelitian ini serta
memberi dukungan terhadap penelitian ini sehingga bisa dapat dipublikasi dalam bentuk jurnal.

Referensi
[1] H. Tanamal, A. Herawati, N. Darath dan I. N. Anggraini, “Analisis Pengaruh Beban Tak
Seimbang terhadap Arus Netral pada Trafo IV GI Sukamerindu Bengkulu,” Jurnal
Amplifier, Vol. 9, No. 2, p. 7-13, November 2019.
[2] G. A. K. Sari, “Analisa Pengaruh Ketidakseimbangan Beban terhadap Arus Netral dan
Losses pada Trafo Distribusi Studi Kasus pada PT. PLN (Persero) Rayon Blora,” Skripsi,
Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta,
2018.

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982
TELKA: Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi, dan Kontrol ◼ 143

[3] M. D. T. Sogen, “Analisis Pengaruh Ketidakseimbangan Beban terhadap Arus Netral dan
Losses pada Transformator Distribusi di PT PLN (Persero) Area Sorong,” Jurnal Electro
Luceat, vol. 4, no. 1, 13 Jul. 2018, pp. 5-14, doi:10.32531/jelekn.v4i1.80., 2018.
[4] S. Hidayat, S. Legino and N. F. Mulyanti, “Penyeimbangan Beban pada Jaringan Tegangan
Rendah Gardu Distribusi CD 33 Penyulang Sawah di PT PLN (Persero) Area Bintaro,”
Jurnal Sutet Vol. 8 No. 1, p. 21-27, 2018.
[5] M. Ir. Wahyudi Sarimun N., Buku Saku Pelayanan Teknik, 2014.
[6] 017.E/DIR/2014, E. D. “Metode Pemeliharaan Trafo Distribusi Berbasis Kaidah
Manajemen Aset”, 2014.
[7] Dugan, R. C., McGranaghan, M. F., Santoso, S., & Beaty, H. W., “Electrical Power System
Quality”, McGraw-Hill, 2002.
[8] Khairunnisa Salsabila Irwan, R.B. Budi Kartika W, and Riyanto Saputro, “Analisis
Pembebanan Transformator Tenaga pada Gardu Listrik di Sekolah Tinggi Penerbangan
Indonesia”, Jurnal Ilmiah Aviasi, vol. 13, no. 01, pp. 29-40, Jul. 2020.
[9] Sarwono, P., Sofyan, Nadya, N. R., “Penyeimbangan Beban pada Trafo Distribusi
Penyulang Akkarena di Unit Layanan Pelanggan Mattoanging PT PLN (Persero)”,
Prosiding Seminar Nasional Teknik Elektro dan Informatika (SNTEI), p. 37-46, 2020.
[10] Nuryadi, Astuti, T. D., Utami, E. S., & M. Budiantara. “Dasar-Dasar Statistik Penelitian”,
Yogyakarta: Gramasurya, 2017.
[11] SPLN 41-1. [Link] (Persero) "Persyaratan Penghantar Tembaga dan Aluminium untuk
Kabel Listrik Berisolasi”, 1991.
[12] Islam, M. R., Lu, H., Hossain, M. J., & Li, L. (2019, December). Reducing neutral current
of a higher EV penetrated unbalanced distribution grid. In 2019 9th International
Conference on Power and Energy Systems (ICPES) (pp. 1-5). IEEE.
[13] Lee, Y. D., Jiang, J. L., Ho, Y. H., Lin, W. C., Chih, H. C., & Huang, W. T. “Neutral current
reduction in three-phase four-wire distribution feeders by optimal phase arrangement based
on a full-scale net load model derived from the ftu data,” Energies, 13(7), 1844.
[Link]

ISSN (e): 2540-9123


ISSN (p): 2502-1982

Anda mungkin juga menyukai