Oleh :
YULIA ERNA, [Link]
KONSEP BERMAIN
By : Yulia Erna, [Link]
Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak selalu membutuhkan
kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas
bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak. Sekarang
banyak dijual macam - macam alat permainan, jika orang tua tidak selektif dan
kurang memahami fungsinya maka alat permainan yang dibelinya tidak akan
berfungsi, efektif Alat permainan hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin
dan kondisi anak sehingga dapat merangsang perkembangan anak dapat optimal
dalam kondisi sakitpun aktifitas bermain tetap perlu dilaksanakan namun harus
disesuaikan dengan kondisi anak.
A. PENGERTIAN
Stimulasi
Merupakan perangsangan yang datangnya dari lingkungan di luar
anak (Soetjininsih, 1995). Anak yang lebih banyak mendapatkan stimulasi
cenderung lebih cepat berkembang.
Menurut Moersintowarti (2002), stimulasi adalah perangsangan dan latihan-
latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan di luar
anak, Stimulasi ini dapat diakukan oleh orang tua, saudara atau orang dewasa
yang ada disekitar anak.
Stimulasi bagian dari kebutuhan dasar anak yaitu asah. Dengan
mengasah kemampuan anak secara terus menerus maka kemampuan anak
akan semakin meningkat. Stimulasi dapat dilakukan dengan bermain dan
latihan.
Bermain
Foster dan Paerden mendefenisikan bermain sebagai suatu aktivitas
yang dilakukan oleh seorang anak secara sungguh - sungguh sesuai dengan
keinginannya sendiri tanpa paksaan dari orang tua maupun lingkungan
dimana tujuannya hanya untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan.
Melalui bermain anak dapat mengekpresikan pikiran, perasaan, fantasi
serta daya kreasi dengan tetap mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi
lebih efektif terhadap berbagai sumber stress, dengan bermain anak dapat
mengungkapkan isi hati melalui kata-kata, anak belajar dan mampu untuk
menyesualkan diri dengan lingkungannya, obyek bermain, waktu, ruang dan
orang.
Aktivitas bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi
anak. Anak bebas mengekspresikan. Perasaan takut, cemas, gembira atau
perasaaa lainnya, sehingga dengan memberikan kebebasan bermain, orang tua
bisa mengetahui situasi hati anak.
Bermain merupakan bentuk infantile dari kemampuan orang dewasa untuk
menghadapi berbagai macam pengalaman dengan cara menciptakan model
situasi tertentu dan berusaha menguasai melalui eksperimen dan penemuan,
Fx. Anak bermain peran sebagai ayah, ibu dan anak.
Banyak ditemukan anak pada masa pertumbuhan mengalami
perlambatan disebabkan kurangnya kebutuhan bermain yang seharusnya masa
tersebut merupakan masa bermain yang diharapkan menumbuhkan
kematangan dalam pertumbuhan dan perkembangan karena masa tersebut
tidak digunakan dengan baik akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang
dari anak.
B. FUNGSI BERMAIN
Dengan bermain diharapkan anak akan mendapatkan stimulasi yang
mencukupi agar dapat berkembang dengan optimal. Wong (1995)
menjelaskan bahwa bermain pada anak hendaknya mempunyai fungsi-fungsi
sebagai berikut :
1. Perkembangan sensorik dan motorik
Permainan akan membantu perkembangan gerak halus dan
pergerakan kasar anak dengan cara memainkan suatu objek yang sekiranya
anak sening. Misal, orang tua memainkan bola didepan anak. Pada
awalnya anak hanya memperhatikan benda yang ada didepannya, jika anak
tertarik maka anak akan berespon dan berusaha mengambil bola yang
dimainkan oleh orang tuannya.
Perkembangan sensorik motorik ini di dukung oteh stimulasi
visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan), dan stimulasi
kinetik. Stimulasi sensorik akan direspon dengan memperlihatkan aktivitas
motoriknya.
Stimulasi Visual : Anak akan memperlihatkan perhatiannya pada
lingkungan sekitar melalui penglihatannya. Orang
tua disarankan untuk memberikan mainan warna -
warni diusia 3 bulan pertama.
Stimulasi Auditif : Sangat penting untuk perkembangan bahasanya
Stimulasi Taktil : Memberikan perhatian dan kasih sayang yang
diperlukan oleh anak, hal ini akan menimbulkan
perasaan aman dan percaya diri.
Stimulasi Kinetic : Akan membantu untuk mengenal lingkungan yang
berbeda
2. Perkembangan kognitif (intelektual)
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan.
Bermain bisa membantu anak mengenalkan benda - benda yang ada
disekitarnya. Pada saat anak bermain anak akan berkomunikasi dengan
bahasa anak mampu memahami objek permainan, mampu belajar warna,
bentuk, tekstur dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam
permainan. Misalnya, mengenalkan anak dengan warna (merah, biru, hijau
dan sebagainya), bentuk (bulat, kubus, Ionjong, gepeng dan sebagainya).
dengan begitu orang tua secara tidak sadar sudah memacu perkembangan
Bahasa anak.
3. Meningkatkan sosialisasi
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui bermain. Anak belajar
berinteraksi dengan orang lain. Ex : pada usia bayi, anak akan merasakan
kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasa ada teman. Pada
usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya, kemudian
bermain peran menjadi seorang guru, jadi seorang anak, bapak, ibu dan
lain - lain. Pada usia pra sekolah, anak mulai menyadari akan keberadaan
teman sebaya sehingga harapan anak dapat melakukan sosialisasi dengan
teman dan orang lain.
4. Meningkatkan kreativitas
Anak belajar menciptakan sesuatu dari alat pemainannya sehingga
anak lebih kreatif melalui model permaman. Ex : Berikan anak balok yang
banyak dan biarkan dia menyusun balok-balok itu untuk dibuat bentuk apa
saja. sesuai dengan keinginan anak, kemudian tanyakan pada anak benda
apa yang telah dia buat.
5. Meningkatkan kesadaran diri
Dengan aktivitas bermain anak, anak akan menyadari dirinya
berbeda dengan yang lain dan memahami dirinya sendiri. Anak belajar
memahami kelemahan dan kemampuan dibandingkan, dengan anak yang
lain. Ex : jika anak berperan sebagai seorang pemimpin dan dia merasa
tidak mampu untuk memimpin, maka dia dengan senang hati akan
memberikan peran pada pemimpin tadi pada teman yang lainnya.
6. Nilai terapeutik
Bermain dapat mengurangi tekanan atau stress dari lingkungan
karena bermain dapat menghibur anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral
Anak belajar mengenal perilaku yang benar dan yang salah dari
lingkungan rumah dan sekolahnya. Fungsi ini dapat diperoleh dari orang
tua atau orang lain yang ada disekitar anak. Interaksi dengan kelompok
akan memberikan makna moral mereka. Jika masuk kedalam suatu
kelompok, amnak harus jujur mentaati peraturan, Ex : kejujuran.
8. Komunikasi
Bermain merupakan alat komanikasi terutama bagi anak yang
belum bisa mengungkapkan perasaanya secara verbal. Misal, pada saat
makan, anak melempar sendok dan garpu mungkin anak tidak suka
dengan lauk pauk yang dimakannya.
C. PRINSIP-PRINSIP BERMAIN
Soetjiningsih (1995) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan agar aktivitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif, antara
lain :
1. Perlu ekstra energi
Bermain memerlukan energi yang cakup, sehingga anak
memerlukan nutrisi yang memadai. Asupan yang kurang dapat
menurunkan gairah bermain anak. Anak yang sehat memerlukan variasi
bermain, baik bermain aktif maupun, bermain pasif untuk menghindari
rasa bosan dan jenuh.
Pada anak sakit, keinginan untuk bermain menurun karena energy
digunakan untuk mengatasi penyakitnya. Aktivitas bermain pada anak
sakit adalah bermain pasif.
2. Waktu yang cukup
Anak harus punya waktu bermain yang cukup sehingga stimulus
yang diberikan bisa optimal. Selain itu anak bisa lebih mengenal alat-alat
permainnya.
3. Alat Permainan
Alat permainan yang harus sesuai dengan usia dan tahap
perkembangan anak. Alat permainan harus aman dan mempunyai unsur
edukatif bagi anak.
4. Ruang untuk bermain
Aktivitas bermain dapat dilakukan dimana saja, diruang tamu,
halaman bahkan ditempat Tidur. Diperlukan ruang bermain khusus bila
memungkinkan kerena sekaligus bisa sebagai tempat penyimpanan alat
permainan.
5. Pengetahuan bermain
Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri meniru teman -
temannya atau diberi tahu orang tuanya. Tapi dengan diberitahu orang
tuanya anak lebih terarah dan lebih. berkembang pengetahuannya.
6. Teman bermain
Dalam bermain, anak membutuhkan teman. Bisa teman sebaya,
saudara, atau orang tua. Bermain yang dilakukan dengan orang tuanya
akan mengakrapkan hubungan dan sekaligus memberikan kesempatan
kepada orang tuany untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh
anak.
D. MACAM - MACAM PERMAINAN
Beberapa sifat bermain pada anak akan memberikan jenis permainan
yang berbeda. Dikatakan aktif jika anak berperan secara aktif dalam
permainan, dan dikatakan pasif jika anak memberikan respon secara pasif dan
orang lain yang memberikan respon secara aktif.
Berdasarkan isi permainannya, bermain dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Bermain afektif social (social effective play)
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang
menyenangkan antara anak dan orang lain. Ex : Sifat dari permainan ini
orang lain yang berperan aktif dan anak hanya berespon terhadap stimuli
sehingga akan menimbulkan kesenangan dan kepuasan pada anak.
Ex. Orang tua memeluk anaknya sambil berbicara dan bersenandung
kemudian anak berespon, seperti tertawa, tersenyum dan bergembira.
Contoh lain “Cilukba”
2. Bermain bersenang - senang (sense pleasure play)
Bermain yang hanya memberikan kesenangan pada anak melalui
objek yang ada sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa
kehadiran orang lain. Sifat bermain ini semakin lama anak akan semakin
asyik bersentuhan dengan alat permainan. Ex. Bermain pasir yang
dibentuk gunung, memindahkan air dari botol satu ke botol yang lain.
3. Bermain ketrampilan (skill play)
Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan
ketrampilan anak yan diharapkan anak akan kreatif dan terampil dalam
segala hal. Sifat permaian ini bersifat aktif dimana anak selalu ingin
mencoba kemampuan dan ketramplian tertentu. Semakin sering melakukan
latihan, anak akan semakin terampil. Ex. Bayi memegang benda kecil,
anak bermain sepeda.
Ex. Bermain bongkar pasang gambar.
4. Bermain drama (dramatic play)
Bermain dapat dilakukan anak dengan mencoba memainkan peran
sebagai orang lain melalui permainan, seperti anak memerankan sebagai
orang dewasa, sebagai ibu, sebagai guru dalam kehidupan sehari-hari. Sifat
permainan ini adalah anak dituntut aktif dalam memerankan sesuatu.
5. Bermain Menyelidiki
Bermain ini memberikan sentuhan kepada anak untuk berperan
dalam menyelidiki sesuatu atau memeriksa dari alat permainan seperti
mengocok untuk mengetahui isinya. Sifat permainan ini aktif yang dapat
mengembangkan kemampuan kecerdasan anak.
6. Bermain kontruksi
Bermain ini bertujuan untuk menyusun objek agar menjadi sebuah
kontruksi yang benar seperti menyusun balok. Sifat permainan ini aktif
dimana anak selalu ingin menyelesaikan tugasnya yang ada dalam
permainannya.
7. Games (permainan)
Permainan ini dapat dilakukan secara sendiri atau bersama
temanya. dengan Menggunakan beberapa peraturan, Sifatnya adalah aktif,
anak akan memberikan respon kepada temannya sesuai dengan jenis
permainan.
Ex. Bermain ular tangga
Berdasarkan karakteristik Sosial, bermain dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Onlooker play
Jenis permainan ini adalah dengan melihat apa yang dilakukan
anak yang sedang bermain tetapi tidak berusaha untuk bermain. Sifatnya
pasif akan tetapi akan memberikan kesenangan dan kepuasan tersendiri
dengan melihatnya.
2. Solitary play
Anak tampak berada dalam kelompok permainan tapi anak bermain
sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya dan alat permainan
tersebut berbeda dengan yang digunakan temannya. Sifatnya aktif tetapi
stimulasinya kurang karena dilakukan sendiri. Dapat membantu
menciptakan kemandiran anak.
3. Pararel play
Anak dapat menggunakan alat permainan yang sama tetapi antara
satu anak dengan anak yang lain tidak terjadi kontak satu sama lain
sehingga anak satu dengan yang lain tidak ada sosialisasi satu sama lain.
Sifatnya adalah aktif secara mandiri tapi masih dalam satu kelompok
diharapkan melatih anak dalam menyelesaikan tugas mandiri dalam
kelompok tersebut terlatih dengan baik.
4. Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara anak yang satu
dengan yang lain, tetapi tidak terorganisasi. Tidak ada pemimpin atau yang
memimpin permainan, dan tujuan permainan tidak jelas. Ex. Bermain
boneka-bonekaan, hujan-hujanan dan masak-masakan.
5. Cooperative play
Bermain secara bersama dengan adanya aturan yang jelas sehingga
adanya perasaan dalam kebersamaan. sehingga terbentuk hubungan
pemimpin dan pengikut. Sifatnya aktif melatih anak pada peraturan
kelompok sehingga anak dituntut untuk selalu mengikuti peraturan.
Ex. Bermain sepak bola
E. JENIS ALAT PERMAINAN SESUAI UMUR
Dalam menggunakan alat permainan pada anak tidaklah selalu sama
setiap usia tumbuh kembang, dikarenakan setiap tahap anak selalu
mempunyai tugas-tugas perkembangan yang berbeda sehingga dalam
penggunakan alat selalu memperhatikan tugas massing-masing umur tumbuh
kembang.
Disesuaikan dengan tumbuh kembang anak :
1. Masa Bayi (0 – 1 tahun)
Setelah lahir stimulus langsung diberikan pada bayi Pada tahun
pertama kehidupan, stimulus diberikan untuk perkembangan sensorik
motorik, meskipun pada tahun-tahun berikutnya stimulus ini tetap harus
diberikan. Tujuan stimulus ini antara :
- Melatih dan mengevaluasi reflek-reflek fisiologis
- Melatih koordinasi antara mata dan tangan serta mata dan telinga
- Melatih untuk mencari objek yang tidak kelihatan
- Melatih sumber asal suara
- Melatih kepekaan perabaan
Macam stimulus yang diperlukan pada anak berusia kurang dari 1 tahun
Usia Stimulasi visual Stimulasi Auditif Stimulasi Taktik Stimulasi Kinetik
0 – 3 bulan Objek warna Mengajak bicara Membelai, Berjalan-jalan
terang di atas Mendengarkan menyisir,
tempat tidur lonceng, musik menyelimuti
4 – 6 bulan Menonton TV, Mengajak bicara Bermain air Berdiri pada
mainan warna Panggil namanya paha orang tua
terang yang Membantu
dapat tengkurap,
dipegang duduk
7 – 9 bulan Menonton TV, Panggil namanya Mengenal Membantu
mainan warna Ajari memanggil berbagai tekstur Tengkurap
terang yang Orang tuanya Bermain air dilantai
dapat Memberitahu Latihan berdiri
dipegang yang sedang Permainan tarik
dilakukan dorong
10 – 12 Bermain Suara binatang Merasakan Permainan tarik
bulan cilukba bagian tubuh hangat / dingin dorong
Ajak ke Menyebutkan Memegang Bersepeda
tempat yang bagian tubuh makanan
ramai sendiri
Kenalkan
gambar
Contoh alat permainan yang dianjurkan adalah benda yang aman
untuk dimasukkan ke mulut, boneka orang / binatang yang lunak, mainan
yang bersuara, bola dan lain – lain.
2. Masa Balita (2 – 3 tahun)
Pada masa ini anak cenderung melekat pada satu macam mainan
yang dapat diperlakukan sesuka anak.
Tujuan bermain pada massa balita antara lain :
- Mengembangkan ketrampilan bahasa
- Melatih motorik halus dan kasar
- Mengembangkan kecerdasan (mengenal warna, berhitung)
- Melatih daya imajinasi
- Menyalurkan perasaan anak
Alat permainan yang dianjurkan pada masa ini misalnya lilin yang
dibentuk alat untuk menggambar, puzzle sederhana, manik –manik dan
alat tumah tangga. Pada masa ini kelakuan anak sangat menonjol
(egosentris) dan anak belum memahami makna memiliki, sehingga anak
sering berebut mainan karena masing-masing menganggap bahwa mainan
itu miliknya.
Pada masa ini anak kelihatan ingin berteman tetapi kemampuan
sosialnya belum memadai. Anak bermain secara spontan dan bebas serta
dapat berhenti sesukanya. Koordinator motorik masih kurang, sehingga
sering merusak mainannva
3. Masa Prasekolah Akhir (4 – 5 Tahun)
Pada masa ini inisiatif anak mulai berkembang, dan anak tidak
Ingin tahu hal yang lebih banyak lagi mengenai hal disekitarnya. Anak
mulai berfantasi dan mempelajari model keluarga atau bermain peran
seperti peran guru, ibu dan lain-lain. Isi bermain anak lebih menggunakan
simbol – simbol dalam peemainan atau yang disebut dengan permainan
peran.
Alat permainan yang disebut dengan permainan peran. Alat yang
dianjurkan misalkan buku, majalah, alat tulis/krayon, balok dan aktivitas
berenang Pada masa ini bermain bertujuan :
- Mengembangkan kemampuan berbahasa, berhitung serta menyamakan
den membedakan
- Merangsang daya imajinasi
- Menumbuhkan sportivitas, kreativitas dan kepercayaan diri
- Memperkenalkan ilmu pengetahuan, suasana gotong royong dan
kompetisi
- Mengembangkan koordinasi motorik, sosialisasi dan kemampuan untuk
mengendalikan emosi.
F. ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)
Alat permainan edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat
Mengoptimalkan perkembangan anak sesuai usia dan tingkat
perkembangannya dan yang berguna untuk pengembangan aspek fisik,
bahasa, kognitif dan sosial anak (Soetjiningsih, 1995)
Beberapa contoh jenis permainan yang dapat mengembangkan secara
edukatif :
- Pendidikan dalam pertumbuban fisik motorik kasar : permainan sepeda
roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik dan didorong
- Mengembangkan motorik halus : alat permainan penting, pensil, bola,
balok, film
- Mengembangkan kemampuan kognitif / kecerdasan anak : Buku
bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, dan lain-lain.
- Mengembangkan kemampuan bahasa : buku gambar, buku cerita, majalah,
radio dan TV
- Mengembangkan kemampuan diri sendiri:gelas plastik, sendok, baju,
sepatu, kaos kaki
Untuk memberikan stimulus untuk berbagai aspek perkembangan,
maka diharapkan ada keseimbangan antara bermain aktif dan bermain pasif.
Bermain aktif merupakan aktivitas bermain yang membuat anak memperoleh
kesenangan dan yang dilakukan sendiri, misalkan :
1. Mengamati atau menyelidiki (eksploratory play), Ex : memeriksa,
memperhatikan, mencium dan kadang - kadang berusaha membongkar
alat permainan
2. Membangun (contruction play), Ex : berusaha untuk menyusun balok -
balok menjadi bentuk rumah, mobil dan lain - lain
3. Bermain peran (dramatic play) Ex: bermain sandiwara, rumah-rumahan
dan boneka.
Bermain pasif merupakan suatu hiburan atau kesenangan yang
diperoleh dari orang lain. Dalam hal ini anak berperan pasif, Ex : melihat
gambar, mendengarkan cerita, menonton TV, dan lain – lain.
Agar orang tua dapat memberikan alat permainan yang edukatif pada
anaknya, syarat -syaratnya sebagai berikut :
1. Keamanan
Alat permainan untuk anak dibawah usia 1 tahun hendaknya tidak terlalu
kecil. Catnya tidak beracun, tidak ada bagian yang tajam dan tidak mudah
pecah karena pada masa ini anak kadang - kadang suka memasukkan
benda kemulutnya.
2. Ukuran dan berat
Prinsipnya, mainan tidak membahayakan dan sesuai dengan sesuai usia.
Apabila mainan terlalu besar atau berat, anak akan sukar menjangkau atau
memindahkannya. Sebaliknya jangn terlalu kecil mainan akan mudah
tertelan.
3. Desain
APE sebaiknya mempunyai desain yang sederhana, ukuran, susunan dan
warna serta, tujuannya. Selain itu hendaknya tidak terlalu rumit untuk
menghindari kebingungan anak.
4. Fungsi yang jelas
APE sebaiknya mempunvai fungsi yang jelas untuk menstimuli
perkembangan anak.
5. Variasi APE
APE sebaiknya bervariasi (dapat dibongkar dan dipasang), namun tidak
terlalu sulit agar anak tidak stress dan tidak terlalu sulit agar anak tidak
bosan.
6. Universal
APE sebaiknya dapat dikenali oleh semua budaya dan bangsa, jadi
prinsipnya APE bisa dimengerti oleh semua orang
7. Tidak mudah rusak,mudah didapat, mudah dijangkau oleh masyarakat
luas.
G. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS BERMAIN
Ada lima faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak,
antara lain :
1. Tahap Perkembangan Anak
Akfivitas bermain yang tepat dilakukankan anak yaitu sesuai
dengan tahan tumbuh kembang anak. Permainan anak usia bayi tidak lagi
efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah,
demikian juga sebaliknya. Karena pada dasarnya permainan adalah alat
stimulus pertumibuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu orang
harus mengetahui jenis permainan yang sesuai dengan tahapan tumbuh
kembang anak.
2. Status Kesehatan Anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi, tapi bukan
berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. karena kebutuhan
bermain pada anak Sama dengan bekerja pada orang dewasa. Yang
penting pada kondisi anak sedang menurun atau terkena sakit, bahkan di
rawat di rumah sakit, orang tua dan perawat harus jeli memilih permainan
yang sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang dirawat di rumah sakit
3. Jenis Kelamin Anak
Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis
kelamin. Semua alat permainan dapat digunakan untuk anak laki - laki.
dan perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas.
Pendapat lain menyakini bahwa permainan adalah salah satu alat untuk
membantu mengenal identitas diri sehingga alat permainan anak
perempuan tidak dianjurkan oleh anal laki - laki.
4. Lingkungan yang mendukung
Aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan lingkungan fisik rumah.
Lingkungan fisik sekitar rumah lebih banyak mempengaruhl ruang gerak
anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. Lingkungan rumah
yang luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang
gerak- untuk bermain, berjalan, mondar - mandir, berlari, melompat dan
bermain dengan kelompoknya.
5. Alat dan Jenis Permainan yang cocok
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk
anak. Pilih yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak Alat permain
ini tidak selalu harus dibeli ditoko atau mainan jadi, tetapi lebih
diutamakan yang dapat menstimulasi imajinasi dan kreativitas anak.
H. BERMAIN DI RUMAH SAKIT
Masa bergaul anak merupakan aktivitas Yang sangat diperlukan untuk
stimulus tumbuh kembangnya. Bagaimana dengan anak yang berada di rumah
sakit? Tujuan bermain dirumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat
melanjutkan fase tumbuh kembang secara optimal. Mengembangkan
kreativitas anak dan anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress.
Sering terjadi, anak setelah dirawat dirumah sakit, aspek tumbuh kembangnya
diabaikan. Petugas hanya memfokuskan pada bagaimana agar penyakitnya
sembuh. Sepulang dari rumah orang tua mengeluh anaknya menjadi regresi,
padahal sebelum sakit anak lebih mandiri.
Prinsip anak bermain dirumah sakit :
1. Anak tidak banyak menggunakan energi, waktu bermain lebih singkat
untuk menghindari kelelahan, dan alat permainan lebih sederhana. Ex.
menyusun balok, menonton TV
2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang
Orang tua boleh membawa mainan dari rumah tapi mainan harus dalam
kondisi bersih
3. Sesuai dengan kelompok usia
Waktu bermain hendaknya dijadwalkan dan dikelompokkan sesuai dengan
usia, karena kebutuhan bermain berbeda antara anak yang usia lebih
rendah dengan anak usia yang lebih tinggi
4. Tidak bertentangan dengan terapi
Apabila program terapi mengharuskan anak untuk beristirahat maka anak
bisa bermain ditempat tidur
5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga
Anak yang dirawat dirumah sakit sebaiknya jangan dibiarkan sendiri.
Keterlibatan orang tua dan perawat diharapkan dapat mengurangi dampak
dari hospitalisasi.
Upaya Petugas Kesehatan dalam Pelaksanaan aktifitas bermain anak
1. Menyediakan alat bermainan
Dalam menyediakan alat permainan, syarat-syarat permainan yang
edukatif tetap perlu diperhatikan, bila perlu orang tua bisa membawa
mainan dari rumah.
2. Menyediakan tempat bermain
Karena anak berada diruang rumah sakit, hendaknya diperlukan ruangan
khusus untuk bermain. Apabila tidak memungkinkan maka bermain bisa
dilaksanakan ditempat tidur Hal ini diperlukan untuk menghindari infeksi
nosokomial.
3. Mengelompokkan alat permainan
Bahan yang beresiko menimbulkan trauma jangan dicampurkan dengan
bahan yang tidak berbahaya.