LAPORAN PRAKTIKUM
PEMANENAN HASIL HUTAN
SEMESTER GENAP TA. 2024/2025
ACARA XI
PEMBUATAN RENCANA PEMANENAN HASIL HUTAN RAMAH LINGKUNGAN
OLEH
Nama Ela Mufidatul Laili
NIM 23/515195/SV/22499
Kelompok 1A
Nama CoAss Hesti Dwi Setya Rini
NIM 21/474941/SV/19077
HASIL PENILAIAN
Judul (2,5) Data & Perhitungan (20) NILAI AKHIR
Tujuan (2,5) Pembahasan (30)
Dasar Teori (10) Kesimpulan (15)
Alat dan Bahan
Daftar Pustaka (5)
(2,5)
Cara Kerja (2,5) Kesesuaian Format (10)
LABORATORIUM PENGELOLAAN HUTAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI HAYATI DAN VETERINER
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2025
ACARA XI
PEMBUATAN RENCANA PEMANENAN HASIL HUTAN RAMAH
LINGKUNGAN
I. TUJUAN
1. Mampu merencanakan kegiatan pemanenan hasil hutan ramah lingkungan.
2. Mampu mengetahui dan merencanakan jaringan jalan sarad.
3. Mampu merencanakan prosedur lokasi TPn.
4. Mampu merencanakan kebutuhan alat, operator, dan BBM.
5. Mampu merencanakan tata waktu kegiatan pemanenan hasil hutan ramah
lingkungan.
II. DASAR TEORI
Pemanenan hasil hutan merupakan rangkaian proses dalam pengelolaan
sumber daya hutan yang bertujuan mengubah pohon dan biomassa lain menjadi
produk bernilai ekonomi dan budaya. Proses ini mencakup berbagai tahapan,
mulai dari penebangan pohon, pemotongan batang, penyaradan, pemuatan, dan
pengangkutan hasil hutan ke lokasi yang lebih mudah dijangkau (Sudirman,
2020). Dengan penerapan sistem pemanenan yang terencana dan efisien,
sumber daya hutan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan
keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan harus menjadi
prioritas dalam setiap tahapan pemanenan agar kelestarian hutan tetap terjaga
untuk generasi mendatang.
Secara operasional, kegiatan pemanenan hasil hutan memiliki sejumlah
tujuan strategis, seperti memaksimalkan nilai ekonomi dari kayu,
meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan bahan baku industri, membuka
peluang kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah (Elias,
2008). Namun, di lapangan, aktivitas pemanenan ini kerap menjadi faktor
utama penyebab degradasi hutan dan kerusakan lingkungan, terutama jika
dilakukan tanpa kendali atau perencanaan yang memadai. Oleh karena itu,
penerapan metode pemanenan yang berwawasan lingkungan menjadi suatu
keharusan dalam rangka mendukung pengelolaan hutan produksi yang
berkelanjutan.
Prinsip dasar dalam pemanenan hasil hutan yang ramah lingkungan
meliputi tindakan untuk mengurangi kerusakan pada pohon yang tidak
ditebang, menjaga kondisi tanah dan aliran air tetap stabil, mengoptimalkan
pemanfaatan setiap pohon yang ditebang, serta menjamin keselamatan para
pekerja di lapangan (Sist et al., 2003). Pendekatan ini dikenal dengan istilah
Reduced Impact Logging (RIL), yaitu metode pemanenan yang dirancang
untuk meminimalkan dampak ekologis tanpa mengorbankan efisiensi produksi
kayu. Penerapan RIL telah terbukti secara signifikan mampu mengurangi
kerusakan hutan hingga 50% dibandingkan dengan metode konvensional, serta
berkontribusi pada peningkatan regenerasi alami dan produktivitas hutan
dalam jangka panjang (Pinard dan Putz, 1996).
Perencanaan yang matang dalam kegiatan pemanenan merupakan
faktor kunci untuk memastikan penerapan prinsip-prinsip ramah lingkungan
secara efektif. Proses perencanaan ini tidak hanya mencakup identifikasi pohon
yang akan ditebang, tetapi juga mencakup desain infrastruktur pendukung
seperti jaringan jalan sarad, penentuan lokasi tempat penimbunan sementara
(TPn), estimasi kebutuhan peralatan dan bahan bakar, serta penyusunan jadwal
kerja yang efisien dan disesuaikan dengan kondisi musim (Siswanto, 2010).
Tanpa perencanaan yang terstruktur, aktivitas pemanenan berisiko
menimbulkan pemborosan sumber daya, kerusakan lingkungan, bahkan
kegagalan dalam mencapai target produksi yang telah ditetapkan.
Pada tahap awal pelaksanaan kegiatan pemanenan, pembukaan wilayah
hutan (PWH) memegang peranan penting dalam menyediakan aksesibilitas,
lokasi operasional, serta jaringan transportasi untuk pengangkutan kayu. PWH
mencakup pembangunan jalan hutan, jembatan, dan tempat penimbunan
sementara (TPn), yang semuanya harus dirancang dengan memperhatikan
aspek teknis dan ekologis. Misalnya, jalan sarad perlu disesuaikan dengan
kondisi topografi, sistem drainase alami, serta arah aliran air agar tidak
menimbulkan erosi atau mengganggu keseimbangan lingkungan. Penempatan
TPn juga harus dipilih dengan cermat harus berada di lahan datar, mudah
dijangkau, bebas dari risiko longsor atau banjir, dan tidak menimbulkan
kerusakan tambahan pada kawasan hutan di sekitarnya.
Tahapan teknis dalam kegiatan pemanenan mencakup proses
penebangan, pemotongan batang, pengupasan kulit, penyaradan, pemuatan,
pengangkutan, hingga pembongkaran (Sukadaryati & Sukanda, 2008). Dalam
kerangka pemanenan ramah lingkungan, setiap tahapan tersebut harus
dilakukan dengan selektif, akurat, serta menggunakan peralatan yang sesuai
agar dapat meminimalkan limbah dan mempercepat pemulihan kondisi hutan.
Pemilihan alat berat yang efisien dan operator yang terlatih juga menjadi faktor
penting untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan mencegah kesalahan
teknis selama operasional.
Selain itu, pengaturan waktu atau penjadwalan pemanenan juga sangat
krusial, terutama terkait dengan musim dan kondisi cuaca. Aktivitas
penebangan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau untuk menghindari
kerusakan jalan akibat air tergenang atau tanah berlumpur. Penjadwalan yang
baik mendukung efisiensi rotasi alat berat, penempatan tenaga kerja yang
optimal, serta menghindari akumulasi kayu yang berisiko membusuk. Oleh
karena itu, perencanaan pemanenan yang berwawasan lingkungan merupakan
bagian penting dari strategi pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Praktikum
ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis lapangan, tetapi juga
menanamkan pemahaman tentang pentingnya perencanaan yang
mengedepankan aspek ekologi, efisiensi logistik, dan prinsip keberlanjutan.
Dengan perencanaan yang tepat, kegiatan pemanenan dapat menjadi solusi
dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian
fungsi hutan.
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain sebagai berikut:
1. Penggaris
2. Pensil Warna
3. Laptop
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain sebagai berikut:
1. Peta topografi dan potensi tegakan
2. Data ITSP petak tebangan
IV. CARA KERJA
a. Waktu Pelaksanaan : Rabu, 07 Mei-21 Mei 2025
b. Tempat : Ruang Soeparwi 216
c. Cara Kerja
Peta dan data potensi X115 disiapkan, selanjutnya diameter dan volume
pada data potensi dihitung.
Jalan sarad dibuat berdasarkan PermenLHK No. 21 Tahun 2020 dengan
jalan sarad dibuat dengan pensil warna merah. Selanjutnya pohon yang
masuk dalam cangkupan jalan sarad dicatat dan ditentukan arah rebahnya
dengan pensil warna hijau.
Potensi pohon yang sudah dicatat direkapitulasi di masing-masing jalan
sarad dan potensi pada masing-masing jalan sarad dikelompokkon.
Jumlah TPn ditentukan dengan menyesuaikan potensi yang diambil.
Selanjutnya, panjang, lebar dan tinggi TPn ditentukan dengan ketentuan
tidak lebih dari 900 m2 dan peletakkan TPn pada peta dengan ketentuan
lahan agak landai, berada di punggung bukit, dan berada di 50 meter dari
tepi sungai.
Ditentukan peletakkan TPn pada peta dengan ketentuan lahan agak landai,
berada di punggung bukit, dan berada di 50 meter dari tepi sungai.
Potensi yang telah dicatat di masing-masing jalan sarad difilter berdasarkan
diameter 50-59 dan 60 up. Selanjutnya, data filter dipivot untuk mengetahui
jumlah pohon dan volume masing-masing jenis.
Jenis pohon yang tercatat di kelompokkan berdasarkan kelompok meranti,
rimba campuran, dan kayu indah. Kemudian, data yang telah diolah dan
direkap dalam tabel Laporan Hasil Cruising (LHC)
Target tebangan tiap TPn ditentukan berdasarkan volume kapasitas TPn
yang telah dibuat. Selanjutnya, target volume per-hari tiap TPn ditentukan
pada kegiatan Felling, Yarding, Loading, Hauling, dan Unloading
Jumlah hari kerja tiap TPN per kegiatan ditentukan dengan
mempertimbangkan julah alat se-efektif mungkin. Selanjutnya, jumlah
operator dan mandor dihitung sesuai dengan jumlah alat yang dipakai.
Pehitungan kebutuhan BBM dilakukan berdasarkan jumlah hari kerja dan
jumlah alat yang dipakai. BBM alat/ hari dihitung dengan mengkalikan
BBM/unit dengan julah alat yang dibutuhkan
Total BBM dihitung dengan mengkalikan BBM alat/hari dengan jumlah
hari kerja. Selanjutnya, perhitungan kebutuhan alat dilkukan pada tiap
kegiatan pemanenan di setiap TPN
Pembuatan timeline dilakukan berdasarkan jumlah hari kerja yang telah
ditentukan di setiap kegiatan per TPN. Selanjutnya hari kerja disusun pada
timeline disesuaikan denagn kondisi yang ada (hari hujan, hari libur,
potensi, alat)
V. DATA & PERHITUNGAN
Tabel 11.1 Tabel Perencanaan TPn
Jalan Sarad Luas TPN
Jml
No Volu P
Segme Tebanga Jml P (cm) / L (cm) /
TPN cm m me P (m) (pembulat L (m) PxL Luas Kapasitas Vol
n n Batang skala skala
an) T (cm2) (m2) TPN (m3)
1 5,5 110 14 145
1A 7,5 150 12 82
2 9 180 27 163
10,
2A 210 16 133
5
2B 5,5 110 19 137
3 4 80 12 74
1 4 7 140 15 98 220 57,00 60,00 3,00 10,00 0,5 3 1,5 600 1800,00 1683,5
5 5 100 14 100
6 8,5 170 18 165
7 8 160 15 97
7A 12 240 25 179
7B 5 100 7 52
Jalan 26 258
25 3 60 6 28
26 4,8 96 4 31
27 5,7 114 8 56
28 5 100 8 43
2 29 5 100 10 120 207 95,00 100,00 5,00 5,00 0,3 3,00 1,25 500,00 1500,00 1415,37
30 6 120 20 169
9 20 400 45 294
9A 10 200 37 205
10 5 100 38 257
Jalan 31 213
8 11 220 35 249
8A 5 100 12 87
8B 5 100 12 65
11 3,5 70 9 74
12 3,5 70 14 133
3 208 51,00 60,00 3,00 10,00 0,5 3 1,5 600 1800 1523,18
13 5,2 104 0 0
14 8 160 28 233
15 8 160 36 242
31 6 120 21 126
Jalan 41 314
16 3,4 68 16 135
17 7,2 144 39 361
18 5 100 27 141
19 4 80 13 74
20 4,5 90 19 136
21 6,5 130 17 90
4 253 63,00 65,00 3,25 10,00 0,5 3 1,6 650 1950 1876,25
21A 5 100 12 80
21B 7 140 15 121
22 5 100 35 245
23 2,5 50 4 30
24 5 100 22 192
Jalan 34 272
Tabel 11.2 Rekapitulasi Produksi
Kelas Diameter
Nomor Jenis Pohon 50-59 60 Up Grand Total
N V N V N V
Meranti
1 Bengkirai 7 25 36 498 43 523
2 Keruing 38 152 79 691 117 844
3 Medang 10 39 9 64 19 103
4 Mersawa 4 15 10 78 14 93
5 Mrt. Batu 18 71 23 170 41 241
6 Mrt. Kuning 9 34 46 436 55 469
7 Mrt. Putih 5 19 22 269 27 288
8 Nyatoh 9 32 3 22 12 54
9 Pulai 2 6 2 6
10 Mrt. Merah 117 459 318 2809 435 3268
Rimba Campuran
1 Bintangur 3 12 2 13 5 25
2 Jabon 3 11 3 11
3 Jambu-Jam 20 76 26 155 46 230
4 Kedondong 2 8 2 15 4 23
5 Kempas 8 32 8 49 16 81
6 Mahawai 5 18 3 18 8 35
7 Pelawan 3 12 1 6 4 18
8 Pempaning 4 14 4 23 8 37
9 Terap 2 8 1 7 3 15
10 Kumpang 1 6 1 6
11 Binuang 1 6 1 6
12 Simpur 2 7 3 17 5 25
Kayu Indah
1 Rengas 5 18 5 18
2 Sindur 8 29 6 50 14 79
TOTAL 284 1097 604 5402 888 6498
Tabel 11.3 Hasil Timeline RIL
Timeline
1 2 3 4 5
Felling
TPN 1 Yarding
Pemuatan
Pengangkutan
Pembongkaran
Timeline
1 2 3 4 5
Felling
TPN 2 Yarding
Pemuatan
Pengangkutan
Pembongkaran
Timeline
1 2 3 4 5
TPN 3
Felling
Yarding
Pemuatan
Pengangkutan
Pembongkaran
Timeline
1 2 3 4 5
Felling
TPN 4 Yarding
Pemuatan
Pengangkutan
Pembongkaran
Tabel 11.4 Hasil Penentuan Alat dan Operator
Prestasi Jumlah Jumlah
Target Jumlah
Pekerjaan Jenis Kerja/Unit Target/Hari Jumlah Alat Operator Operator +
Tebangan Hari Kerja
(m3) dalam Tim Mandor
Felling Sthil 80 4 420,89 6 2 12
Yarding D7G 60 3 561,19 10 2 20
TPN 1
Loading Komatsu 350 4 420,89 2 1 2
Mercy 1684
Hauling 105 4 420,89 5 1 5
3836
Unloadin
Komatsu 350 4 420,89 2 1 2
g
Prestasi Jumlah Jumlah
Target Jumlah
Pekerjaan Jenis Kerja/Unit Target/Hari Jumlah Alat Operator Operator +
Tebangan Hari Kerja
TPN 2 (m3) dalam Tim Mandor
Felling Sthil 80 4 353,84 5 2 10
1415
Yarding D7G 60 2 707,68 12 2 24
Loading Komatsu 350 4 353,84 2 1 2
Mercy
Hauling 105 4 353,84 4 1 4
3836
Unloadin
Komatsu 350 4 353,84 2 1 2
g
Prestasi Jumlah Jumlah
Target Jumlah
Pekerjaan Jenis Kerja/Unit Target/Hari Jumlah Alat Operator Operator +
Tebangan Hari Kerja
(m3) dalam Tim Mandor
Felling Sthil 80 4 380,79 5 2 10
Yarding D7G 60 5 304,64 6 2 12
TPN 3
Loading Komatsu 350 6 253,86 1 1 1
Mercy 1523
Hauling 105 6 253,86 3 1 3
3836
Unloadin
Komatsu 350 6 253,86 1 1 1
g
Prestasi Jumlah Jumlah
Target Jumlah
Pekerjaan Jenis Kerja/Unit Target/Hari Jumlah Alat Operator Operator +
Tebangan Hari Kerja
(m3) dalam Tim Mandor
Felling Sthil 80 4 469,06 6 2 12
Yarding D7G 60 6 312,71 6 2 12
TPN 4
Loading Komatsu 350 7 268,04 1 1 1
Mercy 1876,25
Hauling 105 7 268,04 3 1 3
3836
Unloadin
Komatsu 350 7 268,04 1 1 1
g
Tabel 11.5 Hasil Penentuan BBM
Prestasi Jumlah
Pekerjaan Jenis BBM/Unit Jumlah Alat BBM/Hari Total BBM
Kerja/Unit Target Hari
Felling Stihll 80 m3 5 4 6 30 120
TPN 1 Yarding D7G 60 m3 250 3 10 2500 7500
Loading Komatsu 350 m3 300 4 2 600 2400
Hauling Mercy 3836 35 m3 350 4 5 1750 7000
Unloading Komatsu 350 m3 300 4 2 600 2400
Prestasi Jumlah
Pekerjaan Jenis BBM/Unit Jumlah Alat BBM/Hari Total BBM
Kerja/Unit Target Hari
Felling Stihll 80 m3 5 4 5 25 100
TPN 2 Yarding D7G 60 m3 250 2 12 3000 6000
Loading Komatsu 350 m3 300 4 2 600 2400
Hauling Mercy 3836 35 m3 350 4 4 1400 5600
Unloading Komatsu 350 m3 300 4 2 600 2400
Prestasi Jumlah
Pekerjaan Jenis BBM/Unit Jumlah Alat BBM/Hari Total BBM
Kerja/Unit Target Hari
Felling Stihll 80 m3 5 4 5 25 100
TPN 3 Yarding D7G 60 m3 250 5 6 1500 7500
Loading Komatsu 350 m3 300 6 1 300 1800
Hauling Mercy 3836 35 m3 350 6 3 1050 6300
Unloading Komatsu 350 m3 300 6 1 300 1800
Prestasi Jumlah
Pekerjaan Jenis BBM/Unit Jumlah Alat BBM/Hari Total BBM
Kerja/Unit Target Hari
TPN 4 Felling Stihll 80 m3 5 4 6 30 120
Yarding D7G 60 m3 250 6 6 1500 9000
Loading Komatsu 350 m3 300 7 1 300 2100
Hauling Mercy 3836 35 m3 350 7 3 1050 7350
Unloading Komatsu 350 m3 300 7 1 300 2100
VI. PEMBAHASAN
Reduced Impact Logging (RIL) adalah teknik penebangan kayu yang
bertujuan untuk mengurangi kerusakan pada tegakan tinggal, tanah, aliran air,
serta keanekaragaman hayati di sekitarnya. Metode ini mengedepankan
perencanaan yang cermat sebelum pelaksanaan kegiatan operasional, guna
meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan (Ruslim, 2011).
Penerapan RIL telah terbukti mampu mengurangi kerusakan hutan hingga 50%
dibandingkan metode penebangan konvensional, serta mendukung regenerasi
alami dan keberlanjutan produktivitas hutan dalam jangka panjang (Pinard dan
Putz, 1996).
Berdasarkan hasil rekapitulasi produksi yang diperoleh melalui
Laporan Hasil Cruising (LHC), volume kayu yang direncanakan untuk
ditebang mencapai 6.491 m³ dari total 887 pohon. Jenis yang paling dominan
dalam blok tebangan ini adalah Meranti Merah dan Meranti Putih, yang dikenal
memiliki nilai ekonomi tinggi serta merupakan spesies umum di hutan tropis
Indonesia (Sist et al., 2003). Jumlah produksi tersebut bahkan melebihi target
yang ditetapkan oleh pihak perusahaan, yaitu sebesar 6.974 m³, sehingga masih
tersedia ruang untuk melakukan seleksi pohon secara ketat guna menghindari
eksploitasi berlebihan.
Langkah awal dalam kegiatan ini melibatkan perencanaan jalan sarad,
yaitu jaringan jalan sementara yang berfungsi untuk menarik hasil tebangan
menuju TPn (Tempat Penimbunan Sementara). Desain jalan sarad mengikuti
kontur alami lahan dengan memperhatikan batasan kemiringan maksimal
sebesar 35% dan panjang maksimal 700 meter, agar tetap memenuhi standar
keselamatan dan efisiensi operasional. Jalan sarad dibangun menggunakan
pola tulang ikan (fishbone), di mana ruas-ruas jalan lateral diarahkan menuju
jalan utama atau cabang guna mempermudah proses penyaradan kayu (Junaedi
et al., 2015). Perencanaan ini tidak hanya difokuskan pada efisiensi logistik,
tetapi juga bertujuan untuk membatasi pembukaan lahan berlebih yang dapat
mempercepat proses degradasi tanah.
Selanjutnya, arah rebah pohon ditentukan berdasarkan arah condong
pohon dan posisi jalan sarad, agar ketika pohon ditebang, arah jatuhnya
mempermudah proses penyaradan dan tidak menyebabkan kerusakan pada
pohon lain yang tidak ditebang. Dalam praktik RIL, aspek ini sangat penting
karena salah satu kerusakan terbesar dalam pemanenan konvensional
disebabkan oleh pohon yang jatuh tanpa arah yang tepat (Putz et al, 2008).
Setelah itu, lokasi TPn ditentukan secara strategis, di mana faktor aksesibilitas,
kestabilan tanah, dan jarak dari sungai turut menjadi pertimbangan. Empat
lokasi TPn direncanakan: dua unit berkapasitas 1800 m³, satu unit berkapasitas
1.500 m³, dan satu unit berkapasitas 1950 m³ . Lokasi TPn ditempatkan di
punggung bukit atau lahan datar yang memungkinkan alat berat untuk
bermanuver dengan aman dan efisien. Kapasitas ini telah diperhitungkan
sesuai dengan potensi yang akan diambil di daerah tersebut dengan ukuran
panjang, lebar, dan tinggi yang dirancang supaya alat pemuatan dan
pembongkaran dapat bekerja semaksimal mungkin.
Proses perencanaan produksi diawali dengan penyaringan data pohon yang
memiliki diameter minimum 50 cm, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan
volume masing-masing individu pohon. Dari hasil analisis tersebut, diketahui
bahwa Meranti Merah dan Meranti Putih merupakan jenis yang menyumbang
volume terbesar dalam kelompok Meranti. Pendekatan ini diterapkan untuk
meningkatkan efisiensi kegiatan sortasi serta pemuatan kayu berdasarkan
klasifikasi jenis dan ukuran. Elias (2008) menyatakan bahwa perencanaan yang
mengacu pada jenis dan diameter pohon tidak hanya meningkatkan efisiensi
logistik, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan hasil hutan yang lebih
akurat dan transparan.
Timeline kegiatan pemanenan disusun dalam jangka waktu 4 minggu 2
hari (30 Hari), dengan memperhatikan hari kerja efektif dan mempertimbangkan
hari hujan sebagai faktor penghambat lapangan. Penjadwalan dilakukan dengan
sistem rotasi, dimana alat pemanenan di TPN 1 dan TPN 2 digunakan secara
bergantian untuk setiap kegiatan pemanenan. Sementara itu, di TPN 3 dan TPN
4, pergantian alat hanya terjadi saat penebangan. Untuk kegiatan lain seperti
penyaradan, pemuatan, pengangkutan, dan pembongkaran, semua dilakukan
secara bersamaan dengan membagi alat menjadi dua untuk digunakan di kedua
TPN tersebut. Mujetahid (2008) menyebutkan bahwa penjadwalan yang baik
sangat berperan dalam efisiensi kegiatan pemanenan serta pengelolaan tenaga
kerja dan alat berat.
Perencanaan kebutuhan alat dan operator dilakukan dengan menghitung
target volume harian dari masing-masing kegiatan, kemudian menentukan jenis
dan jumlah alat yang sesuai. Misalnya, untuk kegiatan penebangan digunakan
chainsaw sebanyak 6 unit, sedangkan kegiatan penyaradan menggunakan 12 unit
bulldozer D7G. Total operator termasuk mandor disesuaikan dengan jumlah alat,
sehingga proses kerja bisa berlangsung secara paralel dan terkoordinasi.
Ketidaksesuaian antara kapasitas alat dan beban kerja dapat menyebabkan
inefisiensi dan pemborosan bahan bakar, serta memperbesar risiko kecelakaan
kerja.
Aspek terakhir yang sangat penting adalah perencanaan kebutuhan bahan
bakar minyak (BBM). Total kebutuhan BBM untuk seluruh rangkaian kegiatan
mencapai 74.090 liter, dengan konsumsi terbesar berasal dari kegiatan yarding
dan hauling karena menggunakan alat berat bermesin besar dengan jam kerja
tinggi. Perencanaan BBM dilakukan dengan mengalikan kebutuhan harian per
unit alat dengan jumlah alat dan jumlah hari kerja. Perhitungan kebutuhan energi
dalam kegiatan pemanenan menjadi indikator penting dalam analisis efisiensi
sekaligus evaluasi emisi karbon yang dihasilkan sektor kehutanan.
Keseluruhan praktikum ini menunjukkan bahwa pemanenan hasil hutan
dapat dirancang dan dijalankan secara efisien serta bertanggung jawab terhadap
lingkungan jika perencanaan dilakukan secara menyeluruh dan berbasis data.
Dalam konteks pengelolaan hutan lestari, aspek teknis seperti desain jalan sarad,
kapasitas TPn, kebutuhan alat, dan jadwal kerja harus berpadu dengan prinsip
ekologi dan keberlanjutan sosial. Praktikum ini memberikan gambaran nyata
bahwa kegiatan eksploitasi hasil hutan tidak selalu identik dengan kerusakan,
selama dilakukan berdasarkan prinsip Reduced Impact Logging (RIL) yang
ilmiah dan terencana.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum lapangan yang telah dianalisis, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Praktikum menunjukkan bahwa penerapan Reduced Impact Logging (RIL)
secara konsisten dapat menurunkan tingkat kerusakan hutan hingga 50%
dibandingkan metode konvensional. Perencanaan berbasis data (LHC), seleksi
pohon berdasarkan diameter, dan pengaturan arah rebah pohon menjadi kunci
utama dalam menjaga tegakan tinggal, tanah, dan keanekaragaman hayati.
2. Jaringan jalan sarad dirancang mengikuti kontur alam dengan
mempertimbangkan kemiringan maksimal 35% dan panjang hingga 700 meter.
Pola tulang ikan (fishbone) diterapkan untuk memaksimalkan efisiensi
penyaradan serta meminimalkan pembukaan lahan yang tidak perlu.
3. Lokasi TPn dirancang strategis di punggung bukit atau lahan datar yang aman
bagi manuver alat berat. Penempatan mempertimbangkan kapasitas total 7.050
m³, aksesibilitas, stabilitas tanah, dan jarak dari sungai, guna mendukung
efisiensi pengumpulan dan pemuatan kayu serta menjaga kelestarian
lingkungan sekitar.
4. Kebutuhan alat dihitung berdasarkan target volume harian. Misalnya, chainsaw
sebanyak 6 unit dan bulldozer D7G sebanyak 12 unit disiapkan untuk kegiatan
penebangan dan penyaradan. Operator termasuk mandor disesuaikan dengan
jumlah alat, dan kebutuhan BBM diproyeksikan mencapai 74.090 liter, dengan
perhitungan akurat untuk tiap unit per hari kerja.
5. Jadwal kegiatan disusun selama 30 hari dengan memperhitungkan hari kerja
efektif dan hambatan cuaca. Sistem rotasi dan pembagian alat diterapkan antar
lokasi TPn untuk memastikan kegiatan berjalan paralel dan efisien.
Perencanaan waktu yang matang terbukti meningkatkan koordinasi
operasional dan efektivitas penggunaan sumber daya.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Elias. (2008). Pembukaan Wilayah Hutan. Edisi II. Bogor: IPB.
Junaedi, A., Rizal, M., & Malango, M. C. (2015). Keterbukaan tanah hutan
bersifat sementara dan permanen akibat kegiatan pemanenan kayu di
hutan alam produksi (Studi kasus di IUPHHK-HA PT Indexim Utama
Kalimantan Tengah)[Temporary and permanent forest clearing due to
timber harvesting ın natural production forests (Case Study at
IUPHHK-HA PT Indexim Utama Central Kalimantan)]. AGRIENVI J
Ilmu Pertan dan Lingkungan, 12(1), 39-45.
Mujetahid, A. (2009). Analisis biaya penebangan pada hutan jati rakyat di
Kabupaten Bone. Jurnal Parennial, 6(2), 108-115.
Pinard, M. A., & Putz, F. E. (1996). Retaining forest biomass by reducing
logging damage. Biotropica, 278-295.
Pinard, M. A., & Putz, F. E. (1996). Retaining forest biomass by reducing
logging damage. Biotropica, 278-295.
Putz, F. E., Sist, P., Fredericksen, T., & Dykstra, D. (2008). Reduced-impact
logging: challenges and opportunities. Forest ecology and
management, 256(7), 1427-1433.
Ruslim, Y. (2011). Penerapan reduced impact logging menggunakan
Monocable Winch. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 17(3), 103-110.
Sist, P., Fimbel, R., Sheil, D., Nasi, R., & Chevallier, M.H. (2003). Towards
sustainable timber harvesting in tropical rainforests. Ecology and
Society, 8(2).
Siswanto, H. (2010). Kajian Input Dan Output Penyaradan Pada Pengusahaan
Hutan Di Kalimantan Timur. Jurnal Eksis Riset, 6 (2), 1440-1605.
Sudirman, S. (2020). Peranan Prasarana Wilayah Terhadap Efisiensi
Penyaradan dan Pengangkutan Hasil Hutan Rakyat Di Dusun Arokke
dan Dusun Matanre Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi
Sulawesi Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
Sukadaryati, S., & Sukanda, S. (2008). Produktivitas biaya dan efisiensi muat
bongkar kayu di dua perusahaan HTI pulp. Jurnal Penelitian Hasil
Hutan, 26(3), 128795.