Tugas Individu
“LP Resiko Bunuh Diri dan Kasus SP1”
LAPORAN PENDAHULUAN RISIKO BUNUH DIRI
I. Kasus (masalah utama)
Pasien mengurung diri dikamar, tidak makan dan minum serta selalu menangis.
Pasien mengatakan merasa sangat sedih, selalu membebani orang lain dan tidak
ingin hidup lagi. Pasien mengatakan selalu mengingat keadian saat SMP sering di
bully dan orangtua mengabaikan pasien sehingga selalu terfikirkan “lebih baik mati
saja”. Pasien tampak menunduk, suara pelan dan kontak mata kurang.
II. Proses Terjadinya Masalah
a) Faktor Predisposisi
Mengapa individu terdorong untuk melakukan bunuh diri? Banyak
pendapat tentang penyebab dan atau alasan termasuk hal-hal berikut.
1. Kegagalan atau adaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan
hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
5. Tangisan minta tolong.
Lima domain faktor risiko menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif diri sepanjang siklus kehidupan, yaitu sebagai berikut.
1. Diagnosis psikiatri : lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri
hidupnya dengan bunuh diri mempunyai hubungan dengan penyakit
jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
bunuh diri yaitu gangguan afektif, skizofrenia, dan penyalahgunaan
zat.
2. Sifat kepribadian : Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan
besarnya risiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan
depresi.
3. Lingkungan psikososial : baru mengalami kehilangan, perpisahan atau
perceraian, kehilangan yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial
merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga : riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh
diri merupakan faktor risiko penting untuk perilaku destruktif.
5. Faktor biokimia: data menunjukkan bahwa secara serotonegik,
opiatergik, dan dopaminergik menjadi media proses yang dapat
menimbulkan perilaku merusak diri.
b) Faktor Presipitasi
1. Psikososial dan klinik
a. Keputusasaan
b. Ras kulit putih
c. Jenis kelamin laki-laki
d. Usia lebih tua
e. Hidup sendiri
2. Riwayat
a. Pernah mencoba bunuh diri.
b. Riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri.
c. Riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zat.
3. Diagnostis
a. Penyakit medis umum
b. Psikosis
c. Penyalahgunaan zat
c) Jenis
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini
disebabkan oleh kondisikebudayaan atau karena masyarakat yang
menjadikan individu itu seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalan
integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa merekatidak
menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri
dibandingkan merekayang menikah.
2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung
untuk bunuh diri karenaindentifikasi terlalu kuat dengan suatu
kelompok, ia merasa kelompok tersebut sangatmengharapkannya.
3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dan masyarakat,sehingga individu tersebut meninggalkan
norma-norma kelakuan yang biasa. Individukehilangan pegangan dan
tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan
kepuasan padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan
terhadap kebutuhan-kebutuhannya.
d) Fase-fase
1. Suicidal Ideation
Sebuah metode yang digunakan tanpa melakukan aksi atau tindakan,
bahkan klien pada tahap ini tidak akan menungkapkan idenya apabila
tidak di tekan.
2. Suicidal Intent
Pada tahap ini klien mulai berfikir dan sudah melakukan perencanaan
yang konkrit untuk melakukan bunuh diri
3. Suicidal Threat
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat
yang dalam bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
4. Suicidal Gesture
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan
pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam
kehidupannya, tetapi sudah oada percobaan untuk melakukan bunuh
diri.
5. Suicidal Attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien mempunyai indikasi individu
yang ingin mati dan tidak mau diselamatkan. Misalnya, minum ibat
yang mematikan.
e) Rentang Respon
Adaptif Maladaptif
Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencideraan Bunuh
Diri Peningkatan destruktif diri diri
Berisiko diri tak
langsung
Keterangan :
a. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan,
yakin, dan kesadaran diri meningkat.
b. Pertumbuhan-peningkatan beresiko, yaitu merupakan posisi pada rentang
yang masih normal dialami individu yang mengalami perkembangan
perilaku.
c. Perilaku destruktif tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti
perilaku merusak, merebut, berjudi, tindakan kriminal, penyalahgunaan
zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan perilaku yang
menimbulkan stress.
d. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri
yang dilakukan dengan sengaja.
e. Bunuh diri, yaitu tindakan angresif yang langsung terhadap diri sendiri
untuk mengakhiri kehidupan.
f) Mekanisme Koping
1. Merusak diri secara tidak langsung:
a) Denial : yaitu menghindari realita yang tidak
mengabaikan atau menolak untuk mengakuinya.
Contohnya pasien tidak mengakui mengompol di
celana karena malu dihadapan teman-temannya.
b) Rasionalisasi : yaitu memberikan alasan atau
penjelasan yang masuk akal agar perilaku, pikiran
atau perasaan yang tidak dapat diterima atau
dibenarkan oleh orang lain. Contohnya seorang anak
menolak bermain bulu tangkis dengan temannya
karena “kurang enak badan” atau “besok ada
ulangan” (padahal takut kalah).
c) Intelektualisasi : yaitu Jika seorang individu memakai
mekanisme pertahanan diri intelektualisasi, maka
nantinya indivdu tersebut akan menghadapi sebuah
situasi yang semestinya bisa menimbulkan perasaan
sangat tertekan dengan cara analitik, intelektual dan
juga agar menjauh dari sebuah persoalan.
d) Regresi : yaitu upaya untuk mengatasi masalah
dengan cara menghilangkan pikiran masa lalu yang
buruk dengan melupakannya atau menahan kepada
alam tidak sadar atau sengaja dilupakan. Contohnya
seorang anak yang sudah tidak ngompol, mendadak
ngompol lagi karena cemas mau masuk sekolah atau
mulai menghisap jempol lagi setelah ia memiliki
[Link] merasa perhatian ibunya terhadap
dirinya berkurang.
2. Bunuh diri: telah gagal menggunakan mekanisme pertahan diri →
bunuh diri sebagai jalan keluar. Gagal mekanisme pertahan diri yaitu :
gagal dalam strategi psikologis yang digunakan oleh individu untuk
mengatasi stres, konflik, atau situasi sulit. Mekanisme ini membantu
individu mengurangi ketidaknyamanan emosional yang dapat timbul
dari situasi-situasi tersebut.
III. A. Pohon Masalah
Perilaku Kekerasan (Resiko mencederai diri sendiri)
Resiko Bunuh Diri
Gangguan Interaksi Sosial (Menarik Diri)
Gangguan Konsep Diri (Harga Diri Rendah)
B. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji
Masalah Keperawatan
Risiko bunuh diri
Keputus asaan
Ketidakberdayaan
Gangguan konsep diri
Kecemasan
Berduka fungsional
Koping individu tidak efektif
Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
Koping keluarga tidak efektif
Data yang perlu dikaji
Data subjektif:
Mengungkapkan keinginan bunuh diri.
Mengungkapkan keinginan untuk mati.
Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari
keluarga.
Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat
yang
Mematikan.
Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.
Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan
saat kecil
Data objektif:
Impulsif
Mennjukkan perilaku yang mencurigakan(biasaya menjadi
sangat
patuh)
Ada riwayat penyakit mental (depresi, psikosis, dan
penyalahgunaan
alkohol)
Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit
terminal)
Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau
kegagalan
dalam karier)
IV. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis Keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan bunuh
diri:
1. Resiko bunuh diri.
2. Harga diri rendah.
3. Koping yang tak efektif.
V. Rencana Tindakan Keperawatan
Tindakan Keperawatan untuk Pasien
1. Tujuan : Pasien tetap aman dan selamat.
2. Tindakan : Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh
diri, maka Anda dapat melakukan tindakan berikut.
a. Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ke tempat
yang aman.
b. Menjauhkan semua benda yang berbahaya, misalnya pisau, silet, gelas,
tali pinggang.
c. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika
pasien mendapatkan obat.
d. Menjelaskan dengan lembut pada pasien bahwa Anda akan melindungi
pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri.
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
1. Tujuan : Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang
mengancam atau mencoba bunuh diri.
2. Tindakan
a. Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah
meninggalkan pasien sendirian.
b. Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-
barang berbahaya di sekitar pasien.
c. Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering melamun sendiri.
d. Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara
teratur.
Sumber Pustaka
Stuart, Gail W. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa. Singapura:
Elsevier.
Sutejo. 2017. Keperawatan Jiwa Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan
Kesehatan Jiwa Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta : Pustaka Baru
Press.
Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang Nihayati. 2015. Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
SP 1 BUNUH DIRI
KASUS PASIEN RISIKO BUNUH DIRI
Nn.X, 21 tahun, masuk RS Jiwa sejak 6 hari yang lalu dengan alasan mengurung diri
dikamar, tidak makan dan minum serta selalu menangis. Saat pengkajian pasien
mengatakan merasa sangat sedih, selalu membebani orang lain dan tidak ingin hidup
lagi. Pasien mengatakan selalu mengingat kejadian saat SMP sering di bully dan
orangtua mengabaikan pasien sehingga selalu terfikirkan “lebih baik mati saja”. Pasien
tampak menunduk, suara pelan dan kontak mata kurang.
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Data Subjektif
- Pasien mengatakan merasa sangat sedih.
- Selalu membebani orang lain dan tidak ingin hidup lagi.
- Pasien mengatakan selalu mengingat keadian saat SMP sering di bully.
- Pasien mengatakan orangtua mengabaikan pasien sehingga selalu
terfikirkan “lebih baik mati saja”.
- Keluarga pasien mengatakan pasien mengurung diri dikamar, tidak
makan dan minum serta selalu menangis.
b. Data Objektif
- Pasien tampak menunduk.
- Nada suara pelan.
- Kontak mata kurang.
2. Diagnosa Keperawatan
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat meningkatkan harga dirinya
b. Klien dapat melakukan kegiatan sehari-hari
c. Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya.
Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
4. Tindakan Keperawatan
Tindakan yang dilakukan perawat saat melindungi pasien
dengan risiko bunuh diri ialah:
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang
disukai klien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
f. Perawat harus menemani pasien terus-menerus sampai
pasien dapat dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
g. Perawat menjauhkan semua benda berbahaya (misalnya
gnting, garpu, pisau, silet, tali pinggang, dan gelas)
h. Perawat memastikan pasien telah meminum obatnya.
i. Perawat menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan
melindungi pasien sampai tidak ada keinginan untuk bunuh
diri.
B. Orientasi
1. Salam Terapeutik
“Selamat pagi Mbak, perkenalkan saya adalah perawat Sirli Rara Amelia
yang bertugas jaga pagi hari ini. Panggil saya Rara. Saya yang akan dinas
dari jam 7 pagi sampai jam 3 siang nanti.”
2. Evaluasi/Validasi
“ Bagaimana perasaan Mbak X hari ini?”
3. Kontrak : Topik
“Bagaimana kalau hari ini kita cerita-cerita mengenai apa yang Mbak
rasakan selama ini?
4. Waktu
“Kita ceritanya selama 15-20 menit saja, Bagaimana menurut mbak?”
5. Tempat
“Bagaimana kalua kita bercerita di taman mbak?
6. Tujuan
“Tujuan dari pertemuan ini agar Mbak bisa menyampaikan apa yang mbak
rasakan.”
C. Kerja
1. “Bagaimana perasaan mbak setelah dibully ini terjadi? ”
2. “Apakah dengan kejadian itu mbak merasa paling menderita didunia ini?”
3. “ Apakah mbak kehilangan kepercayaan diri?”
4. “Apakah mbak merasa tidak berharga atau bahkan lebih rendah dari orang
lain?”
5. “ Apakah mbak merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri?”
6. “Apakah mbak merasa sering mengalami kesulitan berkonsentrasi?”
7. “Apakah mbak berniat untuk menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau
berharap bahwa mbak mati?”
8. “Apakah mbak pernah mencoba untuk bunuh diri?” Apa sebabnya dan
bagaimana caranya?”
9. “Apa yang mbak rasakan saat melakukan tindakan tersebut?”
10. “ Baiklah, tampaknya mbak membutuhkan pertolongan segera karena ada
keinginan untuk mengakhiri hidup”.
11. “Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar mbak ya untuk memastikan tidak
ada benda-benda yang dapat membahayakn mbak”.
12. “Nah, karena mbak tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk
mengakhiri hidup mbak, maka saya tidak akan membiarkan mbak sendiri”.
13. “Apa yang mbak akan lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul?”
14. “Kalau keinginan itu muncul, maka untuk mengatasinya mbak harus
langsung minta bantuan kepada perawat diruangan ini dan juga keluarga atau
teman yang sedang besuk.”
15. “Jadi mbak jangan sendirian ya, katakan kepada perawat, keluarga atau
teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan.”
D. Terminasi
1. Evaluasi Respon
“Bagaimana perasaan mbak sekarang setelah mengetahui cara mengatasi
perasaan ingin bunuh diri?”
Evaluasi perawat
“Coba mbak sebutkan kembali cara mengatasi perasaan ingin bunuh diri?
“Iya benar sekali ya mbak”.
“Apakah keinginan mengakhiri kehidupan mbak sudah berkurang?”
2. Rencana Tindak Lanjut
“Nah untuk selanjutnya bagaimana saya akan tetap menemani mbak sampai
keinginan bunuh diri mbak hilang ya. (tidak meninggalkan pasien).”
3. Kontrak Waktu yang akan dating
a. Topik
“Mbak, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan
tentang meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh
diri.”
b. Waktu
“Jam berapa Mbak bersedia bercakap-cakap lagi? mau
berapa lama?”
c. Tempat
“Mbak, mau dimana tempatnya? Atau di tempat ini lagi?”
--selesai---
Sirli Rara Amelia