0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Contoh Dongeng Fabel Flik Tupai Di Musim Kenari

Dongeng 'Flik Tupai di Musim Kenari' menceritakan tentang Flik, tupai kecil yang lebih suka berakrobat daripada mengumpulkan makanan untuk musim dingin, sementara kakak-kakaknya bekerja keras. Ketika musim dingin tiba, Flik menyadari pentingnya persediaan makanan, tetapi ia berhasil menghibur keluarganya dengan dongeng dan musik. Akhirnya, Flik berjanji untuk membantu mengumpulkan makanan di musim gugur berikutnya setelah merasakan dinginnya salju.

Diunggah oleh

anggrainiririn2024
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Contoh Dongeng Fabel Flik Tupai Di Musim Kenari

Dongeng 'Flik Tupai di Musim Kenari' menceritakan tentang Flik, tupai kecil yang lebih suka berakrobat daripada mengumpulkan makanan untuk musim dingin, sementara kakak-kakaknya bekerja keras. Ketika musim dingin tiba, Flik menyadari pentingnya persediaan makanan, tetapi ia berhasil menghibur keluarganya dengan dongeng dan musik. Akhirnya, Flik berjanji untuk membantu mengumpulkan makanan di musim gugur berikutnya setelah merasakan dinginnya salju.

Diunggah oleh

anggrainiririn2024
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

4.

Contoh Dongeng Fabel

Flik Tupai di Musim Kenari

Di sebuah pohon oak besar, di tepi sungai, tinggallah keluarga tupai. Pada musim gugur, ibu tupai berkata
pada keempat anaknya, “Ini waktunya untuk mengumpulkan persediaan makanan musim dingin!”

“Kami akan pergi,” teriak anak tupai terbesar.

“Flik, ayo ikut! Lebih baik kamu menolong kami, daripada cuma bermain akrobat di dahan pohon!” seru
anak tupai nomor dua pada adiknya.

“Tapi aku ini pemain akrobat hebat!” teriak Flik, si tupai paling kecil.

Beberapa kelinci dan burung-burung di dekat situ memberi semangat, “Flik hebat! Ayo, akrobat di pohon
lagi!”

Flik semakin bersemangat. Ia kembali bersalto dan melompat dari dahan ke dahan. Ketiga kakaknya
hanya menggeleng kepala dan pergi mencari kenari.

Sorenya, ketiga kakaknya pulang membawa kantong kenari. Mereka bergotong royong menaikkan
kantong kenari ke atas pohon. Disitu ada lubang tempat penyimpanan makanan keluarga mereka.

“Flik tidak pernah membawa persediaan makanan apapun,” keluh ketiga kakaknya setiap pulang mencari
kenari.

Flik memang lebih suka berakrobat, atau mendengarkan dongeng dari burung hantu. Atau
mendengarkan lagu para jangkrik menyanyi.

“Kalian mengumpulkan kenari. Aku mengumpulkan lagu dan dongeng,” kata Flik santai. Ia memang
belum pernah merasakan musim dingin. Ia tak percaya, kalau ada salju yang sangat dingin turun dari
langit di musim salju.

Akhirnya, musim salju pun datang. Flik hampir tak percaya melihat salju putih dan sangat dingin turun
dari langit. Ia bergelung di sarang sambil melahap buah-buah kenari.

“Saljunya berkilau sangat indah. Sayang, dingin sekali. Aku jadi malas keluar rumah,” kata Flik.

“Itu sebabnya, kau harus mengumpulkan persediaan makanan selama musim gugur. Supaya tidak perlu
keluar rumah saat musim dingin tiba!” marah ketiga kakaknya.

“Sudah, jangan bertengkar. Flik kan baru kali ini merasakan musim salju,” kata ibu mereka menenangkan.

“Maafkan, aku Kak! Aku memang tidak ikut mengumpulkan kenari. Tapi, ayo, duduklah! Aku akan
ceritakan dongeng yang aku kumpulan dari burung hantu tua!” kata Flik.

Malam itu, bulan tampak bulat. Cahayanya masuk ke dalam pohon tempat keluarga tupai itu tinggal.
Semua tupai asyik mendengarkan dongeng Flik. Setelah selesai mendongeng, Flik berkata,

“Akan ku panggilkan teman-temanku untuk menghibur kalian,” kata Flik lagi. Tak lama kemudian,
datanglah Pak Jangkrik membawa gitar, dan Pak Belalang membawa akordion.

Flik membaca puisi diiringi musik gitar dan akordion. Para kelinci menari mengikuti irama musik.
“Oo, ini seperti pesta yang indah, Flik!” puji ibunya. Ketiga kakaknya juga merasa sangat senang.

Flik gembira bisa membawa kebahagiaan di pohon tempat tinggalnya. Flik membuat mereka semua bisa
melalui musim dingin dengan hati yang hangat.

Ketiga kakak Flik memaafkannya walau ia tidak ikut mengumpulkan kenari di musim itu. Namun di
musim gugur berikutnya, tentu saja Flik berjanji akan ikut mencari kenari. Ia kini sudah tahu, seperti apa
musim salju itu. Musim yang indah, tetapi sangat dingin.

(Sumber: [Link] flik-tupai-di-musim-kenari?page=2)

Baca Juga: Contoh Cerita Fabel Bahasa Indonesia & Inggris Singkat

5. Contoh Dongeng Legenda

Legenda Batu Menangis

Di sebuah desa terpencil di perbukitan Kalimantan, hiduplah seorang janda tua bersama anak gadisnya
yang bernama Darmi. Darmi memiliki paras yang sangat cantik jelita, namun sayangnya, kecantikannya
tidak sejalan dengan sifatnya. Ia sangat manja dan enggan membantu ibunya yang setiap hari bekerja
keras di sawah.

“Ibu, jangan dekat-dekat aku, nanti baju baruku kotor terkena debu dari pakaianmu yang kumal itu!”
seru Darmi sambil asyik bercermin, sementara ibunya hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan
putrinya.

Suatu hari, sang ibu mengajak Darmi turun ke pasar di kaki bukit untuk membeli kebutuhan pokok.
Darmi setuju ikut, namun dengan syarat ibunya harus berjalan di belakangnya agar tidak memalukan.
Sepanjang jalan, Darmi tampil sangat anggun dengan gaun indahnya, sedangkan sang ibu berjalan
tertatih-tatih di belakang sambil menggendong keranjang yang berat. Orang-orang di pasar terpana
melihat kecantikan Darmi dan mulai bertanya-tanya siapa wanita tua yang mengikutinya.

“Hai gadis cantik, apakah wanita dibelakangmu itu ibumu?” tanya seorang pedagang dengan ramah.

Darmi langsung membuang muka dan menjawab dengan nada ketus, “Tentu saja bukan! Dia hanyalah
pembantuku yang aku bawa untuk membawakan barang-barang.”

Sang ibu terdiam, matanya berkaca-kaca menahan perih di hati. Ia masih mencoba bersabar dan
menganggap itu mungkin hanya candaan anaknya agar tidak malu di depan orang banyak.

Namun, pertanyaan serupa muncul berkali-kali dari warga lain, dan jawaban Darmi tetap sama, bahkan
semakin menyakitkan. “Dia itu budak yang aku pungut dari desa tetangga,” ucap Darmi dengan sombong
saat ditanya lagi oleh seorang pemuda. Hati sang ibu akhirnya hancur berkeping-keping. Ia berhenti
melangkah, menjatuhkan keranjangnya, dan bersimpuh di atas tanah sambil menengadah ke langit. “Ya
Tuhan, hamba sudah tidak kuat lagi. Berikanlah pelajaran kepada anak hamba yang sudah melampaui
batas ini,” doanya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, langit yang cerah berubah menjadi gelap gulita dan petir menyambar-nyambar dengan
hebatnya. Darmi merasa kakinya menjadi sangat kaku dan tidak bisa digerakkan. Pelan tapi pasti, dari
ujung jari kakinya berubah menjadi batu kelabu.

“Ibu! Apa yang terjadi dengan kakiku? Ibu, tolong aku! Maafkan aku, Ibu!” teriak Darmi histeris sambil
menangis tersedu-sedu. Ia mencoba meraih tangan ibunya, namun proses perubahan itu terus
merambat naik ke pinggang hingga ke dadanya.

Meskipun Darmi terus memohon ampun dengan deru air mata yang mengalir deras, semuanya sudah
terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya membeku menjadi sebuah batu besar. Keajaiban terjadi;
meskipun sudah menjadi batu, orang-orang masih bisa melihat tetesan air mata yang terus mengalir dari
kedua mata batu tersebut. Hingga kini, penduduk sekitar menyebutnya sebagai Batu Menangis, sebuah
pengingat abadi bahwa doa seorang ibu adalah keramat dan kasih sayang orang tua tidak boleh dibalas
dengan kedurhakaan.

(Sumber: [Link] barat-legenda-batu-


menangis/)

Anda mungkin juga menyukai