GADAI
Dosen Pengampu:
Saifuddin, [Link]., [Link].
Disusun Oleh:
Salwa Nabila Hafidhah
240102084
PRODI HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAJULTAS EKONOMI SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI AR-RANIRY
BANDA ACEH
2026
1. Pengertian Gadai
Kata "gadai"1 berasal dari beberapa istilah dalam bahasa asing. Dalam
bahasa Belanda, kata pand digunakan untuk merujuk pada barang yang
dijaminkan sebagai jaminan atas pinjaman. Sedangkan dalam bahasa Inggris,
terdapat istilah pledge dan pawn yang memiliki makna serupa, yaitu memberikan
barang sebagai jaminan dalam suatu transaksi pinjaman2. Menurut Pasal 1150
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), gadai adalah hak yang
diberikan kepada kreditur atas barang bergerak yang diserahkan oleh debitur atau
wakilnya sebagai jaminan atas utang. Hak ini memberikan kreditur prioritas dalam
penyelesaian piutang melalui hasil penjualan barang yang digadaikan, kecuali
untuk biaya yang timbul akibat putusan hukum terkait kepemilikan atau
penguasaan barang, serta biaya pemeliharaan barang setelah dijadikan jaminan.
Menurut pendapat Purwahid Patrik dan Kashadi, gadai merupakan bentuk
jaminan di mana kreditur memiliki hak untuk menguasai barang yang dijadikan
agunan. Dengan adanya penguasaan ini, kreditur mendapatkan perlindungan lebih
karena barang bergerak mudah dialihkan kepemilikannya, baik dengan cara dijual
maupun dilelang, terutama jika debitur gagal memenuhi kewajibannya. Namun,
nilai barang tersebut dapat berubah seiring waktu3.
Dalam pelaksanaannya, jaminan kerap dipergunakan dalam perjanjian
kredit pada praktik perbankan. Hal tersebut dikarenakan dalam perjanjian kredit
diperlukan suatu keamanan yang dimulai sejak perencanaan pemberian kredit
untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi di masa depan. Apabila demikian,
jaminan umum tidak cukup dalam memberikan rasa aman bagi kreditur atas
terjaminnya pemenuhan piutang kreditur. Oleh sebab itu, kreditur memerlukan
suatu jaminan yang diberikan dalam bentuk khusus sebagai jaminan piutangnya
dan hanya berlaku bagi kreditur tersebut. Dalam praktik perbankan, digunakannya
jaminan khusus dapat memberikan rasa aman bagi kreditur dalam memberikan
1
Hanna Masawayh Qatrunnada, Lailatul Choiriyah, and Nurul Fitriani, ‘Gadai Dalam
Perspektif KUHPerdata Dan Hukum Islam’, Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam, 8.2 (2018), pp.
175–97, doi:10.15642/maliyah.2018.8.2.27-49
2
Faizah, ‘Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) , Diterjemahkan
Oleh Subekti Dan Tjitrosudibio, Cet. 39, Jakarta: Pradnya Paramita, 2008, Pasal1150’, 2015, pp.
10–73.
3
Joni Oktavianto, ‘Tanggung Jawab Pt. Pegadaian (Persero) Atas Kerusakan Dan
Kehilangan Barang Gadai Di Pt. Pegadaian (Persero) Kota Semarang’, Diponegoro Law Journal,
5.03 (2016), pp. 1–15.
fasilitas kredit. Oleh sebab itu, jaminan timbul karena kreditur membutuhkan
keamanan atas kredit yang diberikan kepada debitur disertai dengan tujuan
memperkecil risiko yang mungkin terjadi kedepannya4.
Istilah lembaga hakum jaminan "gadai" berasal dari terjemahan kata pand
atau vuispand dalam bahasa Jerman. Dalam hukum adat, konsep ini dikenal
dengan sebutan "cekelan." Hingga sekarang, sistem jaminan gadai masih sering
digunakan dalam praktik. Kedudukan pihak yang memegang jaminan dalam
sistem ini lebih kuat jika dibandingkan dengan pemegang fidusia, karena barang
yang dijadikan jaminan berada langsung dalam penguasaan langsung kreditur.
Berdasarkan aturan yang sudah di ada, dapat disimpulkan bahwa objek
dalam perjanjian gadai berupa barang bergerak. Barang yang dijadikan jaminan
harus diberikan kepada kreditur sebagai penerima gadai. Istilah pandrecht
merujuk pada hak atas barang bergerak milik pihak lain, yang diberikan dengan
tujuan utama sebagai jaminan pembayaran utang. Hak ini memungkinkan kreditur
mendapatkan pelunasan terlebih dahulu dari hasil penjualan barang tersebut
sebelum kreditur lainnya.
Menurut R. Wiyono Prodjodikoro5, gadai merupakan hak yang diberikan
kepada kreditur atas barang bergerak yang diserahkan oleh debitur atau pihak lain
atas namanya guna menjamin pembayaran utang. Hak ini memberi kreditur
keistimewaan dalam menerima pelunasan utang dari hasil penjualan barang
tersebut sebelum kreditur lain memperoleh haknya.
Dalam praktik perbankan, konsep gadai terhadap barang bergerak telah
berkembang lebih luas, tidak hanya mencakup benda berwujud tetapi juga benda
tidak berwujud seperti saham. Hal ini diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia Nomor: 24/32/Kep/Dir, tanggal 12 Agustus 1991, yang membahas
tentang pemberian kredit kepada perusahaan sekuritas serta kredit dengan agunan
berupa saham.
4
Maria Audy and Vania Putri, ‘Lex Patrimonium Analisis Efektivitas Jaminan
Perorangan Sebagai Pemenuhan Hak Kreditur Dalam Penyelesaian Kredit Yang Wanprestasi Pada
Bank X’, 3.1 (2024
5
Sewa Menyewa and others, ‘Bab Ii Sewa Menyewa, Perjanjian Jasa Dan Gadai Dalam
Kuh Perdata’, pp. 8–28
2. Syarat Gadai
Syarat-syarat bagi sahihnya suatu akad gadai adalah sebagai berikut:
a. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh dua orang yang berakad adalah
faham dengan akad yang dilaksanakan, yang berarti sudah baligh, berakal
dan tidak gila.
b. Syarat bagi barang jaminan adalah hendaknya barang tersebut ada ketika
akad berlangsung, namun boleh juga dengan menunjukan bukti
kepemilikannya seperti surat-surat tanah, kendaraan dll. Dan barang gadai
tersebut dapat dipegang / dikuasai oleh murtahin atau wakilnya6. Selain
itu, barang gadai tersebut hendaknya adalah barang yang bernilai harta
dalam pandangan Islam, karena itu tidak sah menggadaikan barang-barang
haram semisal khamr (Minuman keras)7. Demikian juga hendaknya barnag
tersebut harus utuh, bukan hutang, barang tersebut adalah barang yang
didagangkan atau dipinjamkan, barang warisan dan barang tersebut
hendaknya bukan barang yang cepat rusak.
c. Syarat pada sighat (lafadz), hendaknya lafadz dalam ijab qabul itu jelas
dan dapat dipahami oleh pihak yang berakad, Ulama Hanafiyah
mensyaratkan bahwa sighat gadai hendaknya tidak terkait dengan sesuatu
syarat dan tidak dilakukan di waktu yang akan datang. Hal ini karena akad
gadai mirip dengan akad jual beli8. Adapun lafadz gadai dapat berupa
ucapan "aku gadaikan harta bendaku" dll. Boleh juga tanpa lafadz tertentu
namun tetap mengindikasikan akad gadai.
d. Syarat Marhun Bih, marhun bih adalah hak yang diberikan oleh murtahin
kepada rahin ketika terjadi akad gadai, para ulama selain Hanafiyah
mensyaratkan bahwa marhun bih hendaknya adalah berupa hutang baik
hutang ataupun barang, dan dapat dibayarkan (dikembalikan) serta benda
tersebut milik murtahin9.
3. Dasar Hukum Gadai
6
Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah Jilid III, hal. 132
7
Abdurrahman Al-Jazairi, Fiqh 'Ala Madzhahib Al-Arba'ah Juz II, hal. 326
8
Wahbah Zuhaili, Fiqh Al-Islam Wa Adilatuhu, hal. 4218
9
Rahmat Syafe'i, Fiqh Muamalah, hal. 164.
Dasar hukum mengenai gadai diatur dalam beberapa peratura perundang-
undangan, antara lain: Pasal 1150 hingga Pasal 1160 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (KUHPerdata), Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969
tentang Perusahaan Jawatan Pegadaian, serta Peraturan Pemerintah Nomor 10
Tahun 1970 yang mengubah ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7
Tahun 1969. Selain itu, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000
yang mengatur perusahaan pegadaian umum, yang kemudian berubah menjadi
perusahaan pers, dan gadai adalah sebagai berikut:10
Dalam praktiknya, gadai dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Untuk
benda bergerak berwujud, gadai terjadi dengan adanya perjanjian gadai dan
penyerahan barang jaminan. Sementara itu, gadai atas piutang yang memiliki
bukti kepemilikan (aantoonder) terjadi melalui perjanjian gadai serta penyerahan
surat bukti kredit. Sedangkan gadai pada piutang atas tunjuk (aanorder) dilakukan
melalui perjanjian gadai yang disertai dengan endosemen serta penyerahan surat
terkait.
Lembaga pegadaian di Indonesia adalah organisasi yang diizinkan untuk
menerima dan memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. Pengertian gadai
mencakup hal-hal berikut:
1. Adanya subjek gadai, yaitu kreditur (penerima gadai) dan debitur (pemberi
gadai).
2. Adanya objek gadai, yaitu barang bergerak, baik berwujud maupun tidak
berwujud
3. Adanya kewenangan kreditur.
Jika debitur tidak melakukan tindakan sesuai dengan perjanjian yang
dibuat antara kreditur dan debitur, meskipun debitur telah diberikan somasi oleh
kreditur, kreditur memiliki kewenangan untuk melakukan pelelangan terhadap
barang debitur.
4. Berakhirnya Akad Gadai
10
Oktavianto, ‘Tanggung Jawab Pt. Pegadaian (Persero) Atas Kerusakan Dan Kehilangan
Barang Gadai Di Pt. Pegadaian (Persero) Kota Semarang’.
Ada beberapa sebab yang menjadikan akad gadai akan berakhir di
antaranya adalah :
[Link] diserahkan kepada pemiliknya. Ketika barang gadaian dikembalikan
kepada pemiliknya maka berakhirlah akad gadai tersebut.
[Link] dibayarkan semuanya. Dengan dibayarkannya hutang maka rahin berhak
mengambil kembali barang gadaiannya. Sayid Sabiq menukil perkataan Ibnu
Mundzir mengatakan bahwa para ahli ilmu telah sepakat jika seseorang
menggadaikan sesuatu lalu membayar hutangnya sebagian, dan ingin
mengambil sebagian barang gadaiannya maka hal ini tidak berhak atasnya
sampai dia melunasi seluruh hutangnya11.
[Link] rahn secara paksa oleh hakim. Hakim berhak mengambil harta rahn
dari murtahin untuk pembayaran hutang rahin, walaupun rahin menolak hal
itu.
[Link] hutang oleh murtahin. Ketika murtahin membebaskan hutang rahin
maka berakhirlah akad gadai tersebut.
[Link] hutang dari pihak murtahin. Murtahin berhak untuk membatalkan
hutang kepada pihak rahin, ketika hal ini terjadi maka batalah akad gadai.
[Link] meninggal dunia. Menurut pendapat ulama Malikiyah bahwa rahn itu
batal jika rahin meninggal dunia sebelum menyerahkan harta gadai kepada
murtahin, bangkrut, tidak mampu untuk membayar hutangnya, sakit atau gila
yang membawa pada kematian12.
[Link] rusak atau sirna. Dengan rusak atau sirnanya harta gadai maka berakhirlah
akad gadai tersebut.
[Link] rahn kepada pihak lain baik berupa hadiah, hibah atau shadaqah.
11
Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah Jilid III, hal. 131.
12
Wahbah Zuhaili, Fiqh Al-Islam Wa Adilatuhu, hal. 4326
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Al-Jazairi, Fiqh ‘Ala Madzahibul Arba’ah Juz II, Darul Ihya At-
Turats Al-Arabi, Beirut, Libanon, tahun 1993.
Audy, Maria, And Vania Putri, ‘Lex Patrimonium Analisis Efektivitas Jaminan
Perorangan Sebagai Pemenuhan Hak Kreditur Dalam Penyelesaian Kredit
Yang Wanprestasi Pada Bank X’, 3.1 (2024).
Faizah, ‘Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) ,
Diterjemahkan Oleh Subekti Dan Tjitrosudibio, Cet. 39, Jakarta: Pradnya
Paramita, 2008, Pasal1150’, 2015, Pp. 10–73.
Menyewa, Sewa, And Others, ‘Bab Ii Sewa Menyewa, Perjanjian Jasa Dan Gadai
Dalam Kuh Perdata’, Pp. 8– Nisp, Redaksi Ocbc, ‘No Title’,
Https://[Link]/Id/Article/2022/03/09/Gadai-Adalah.
Oktavianto, Joni, ‘Tanggung Jawab Pt. Pegadaian (Persero) Atas Kerusakan Dan
Kehilangan Barang Gadai Di Pt. Pegadaian (Persero) Kota Semarang’,
Diponegoro Law Journal, 5.03 (2016), Pp. 1–15.
Qatrunnada, Hanna Masawayh, Lailatul Choiriyah, And Nurul Fitriani, ‘Gadai
Dalam Perspektif Kuhperdata Dan Hukum Islam’, Maliyah : Jurnal
Hukum Bisnis Islam, 8.2 (2018), Pp. 175–97,
Doi:10.15642/Maliyah.2018.8.2.27-49
Rahmat Syafe'i, Fiqh Muamalah, Pustaka Setia : Bandung, tahun 2004.
Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah Jilid III, Darul Fath, Kairo : Mesir, tahun 2000.
Wahbah Zuhaili, Fiqh Al-Islam Wa Adilatuhu , Darul Al-fikr : Damaskus, Suriah,
tahun 2002 / 1422 H