ANALISIS ARTIKEL
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan untuk Meningkatkan
Kompetensi Prosefional Guru
di Raudlotul Athfal
Jurnal 1
Judul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Melalui
Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Meningkatkan
Kompetensi Profesional Guru Raudlotul Athfal
Penulis Deni Surya Permadi, Sutaryat Tarmansyah, dan Yosal Iriantara
(Permadi, 2020).
Pendahuluan Menjadi guru tidaklah mudah, karena menjadi seorang guru
harus memiliki empat kompetensi agar dapat menjadi guru
yang bermutu. Adapun kompetensi tersebut adalah
kompetensi pedagogik, professional, kepribadian, dan sosial.
Semua kompetensi tersebut haruslah dimiliki dan dikuasai
oleh seorang guru, agar dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Pada kenyataannya hasil uji kompetensi guru (UKG) tahun
2015 pada guru di Indonesia masih jauh dari memuaskan.
Hasil UKG yang dijadikan potret kompetensi guru di
Indonesia
belum mencapai target nilai rata-rata pemerintah. Rata-rata
nilai UKG nasional masih di bawah standar. Rata-rata UKG
nasional 53.02. Adapun rinciannya yaitu, rata-rata nilai
kompetensi profesional 54.77, sedangkan nilai rata-rata
kompetensi pedagogik 48.94. Kemungkinan penyebab dari
rendahnya hasil UKG pada kompetensi professional guru di
atas adalah ketidak sesuaian disiplin ilmu dengan bidang ajar
dari guru, kualifikasi guru yang belum setara Sarjana,
rekrutmen guru yang tidak efektif, lulusan Lembaga
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) banyak
menciptakan lulusan tidak bermutu atau kalah saing dengan
lulusan non kependidikan, dan panggilan menjadi seorang
guru merupakan pilihan akhir karena sulit mendapat
pekerjaan. Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk
mendapatkan gambaran tentang Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) dalam meningkatkan kompetensi
profesional guru SD.
Sedangkan tujuan khusus terdiri dari:
(1) Mendapatkan gambaran tentang perencanaan
pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) melalui
Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam meningkatkan
kompetensi profesional guru Sekolah Dasar, (2) Mendapatkan
gambaran tentang pengorganisasian pengembangan
keprofesian berkelanjutan (PKB) melalui Pendidikan dan
Pelatihan Guru dalam meningkatkan kompetensi profesional
guru Sekolah Dasar, (3) Mendapatkan gambaran tentang
pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)
melalui Pendidikan dan Pelatihan Guru dalam meningkatkan
kompetensi professional guru Sekolah Dasar, (4)
Mendapatkan gambaran tentang evaluasi pengembangan
keprofesian berkelanjutan (PKB) melalui Pendidikan dan
Pelatihan Guru dalam meningkatkan kompetensi professional
guru Sekolah Dasar.
Metode Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Melalui
penelitian kualitatif dapat mendeskripsikan pengalaman,
pemikiran, dan hal-hal yang tidak dapat diwakili oleh angka.
Hal-hal tersebut seperti rasa, harapan, hambatan, dan
solusisolusi dari para obyek yang diteliti mengenai masalah
yang peneliti jadikan dasar penelitian.
Hasil dan Hasil dari penelitian tentang pengembangan keprofesian
Pembahasan berkelanjutan adalah Sebagai Berikut:
• Perencanaan Implementasi
Berdasarkan data dan perencanaan yang dilakukan oleh tim
pengembang melalui diklat guru secara umum hal ini
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam
melaksanakan kompetensi baik pedagogic, kepribadian,
professional dan sosial serta guru dapat memiliki performa
sebagai pendidik dan pemimpin bagi peserta didiknya.
• Perorganisasian Implementasi
Menurut hasil penelitian dengan wawancara terhadap para
guru terdapat beberapa kendala yang tidak bisa di hindari,
seperto dalam pemberian tugas terhadap peserta. Beberapa
peserta pun kesulitan mengerjakan tugas karena keterbatasan
dalam bidang IT.
• Pelaksanaan PKB melalui Diklat Guru
Beberapa standar pelaksanaan penyelenggaraan yang
dijelaskan dalam buku panduan diwujudkan dalam
pelaksanaan dilapangan. Adapun standar yang dimaksud
antara lain: Standar Fasilitator, standar kurikulum, standar
sarana, standar penilaian dan standar soal.
• Evaluasi implementasi
Evaluasi dalam implementasi program PKB melalui Diklat
Guru di Kecamatan Paseh terbagi dalam tiga hal, yakni
evaluasi proses, evaluasi program, dan evaluasi dampak.
Adapun
evaluasi proses dan program terdiri dari hambatan yang
dialami dalam penyelenggaraan program dan solusi yang
dilakukan. Hambatan yang dihadapi dalam implementasi
program PKB melalui Diklat Guru diantaranya adalah
pembiayaan penyelenggaraan yang dibebankan kepada
peserta, keterbatasan keterampilan peserta dalam
menggunakan teknologi komputer dan ketidaksesuaian materi
Diklat dengan terbatasnya waktu penyelenggaraan Diklat.
5. Strategi pelaksanaan
Metode-metode dan strategi baru dalam sistem belajar
mengajar di Sekolah yang terintegrasi dengan pengembangan
pendidikan karakter, gerakan literasi, dan pembelajaran HOTS
(High Order Thingking Skill).
Kesimpulan Program PKB melalui Pendidikan dan Pelatihan Guru secara
umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam
melaksanakan tugasnya melalui peningkatan kompetensi baik
pedagogik maupun profesional, serta memiliki performa
sebagai pendidik dan pemimpin bagi peserta didiknya.
Pengorganisasian dalam implementasi program PKB melalui
Diklat Guru dalam meningkatkan kompetensi profesional guru
Sekolah Dasar dilaksanakan sesuai petunjuk pelaksanaan,
walaupun belum optimal.
Jurnal 2
Judul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru Sekolah
Dasar
Nama Jurnal Pendidikan
Volume 5
Tahun 2020
No/ ISSN/e- ISSN 5/
Penulis Cahyaningtyas Tri Wijiutami, Wahjoedi Wahjoedi, Ery Try
Djatmika R. W. W (Wijiutami dkk., 2020).
Pendahuluan Fakta guru di Indonesia belum profesional. Peningkatan
profesional harus dilakukan secara teratur oleh guru-guru agar
pemikiran, pemahaman, serta kematangan yang dimiliki
terus berkembang. Pemerintah terus melakukan upaya
untuk memperbaiki berbagai masalah yang terjadi.
Program PKB adalah solusi dari pemerintah untuk
peningkatan profesi pendidik. Platform guru menjadi sebuah
profesi adalah langkah menuju perubahan jabatan guru
sebagai profesi agar peningkatan mutu pendidik dengan
tersistem serta berlanjut. Terdapat Sembilan model dalam
PKB,meliputi pelatihan, penghargaan, defisit, kaskade,
berbasis standar, pembinaan atau pendampingan, komunitas
praktik, penelitian tindakan, serta transformative.
Kendala dalam PKB juga diungkapkan oleh Nasution (2015)
bahwa pada proses pelaksanaan PKB mengalami hambatan.
Karena hal tersebut, guru perlu dibekali supaya dapat
mengatasi hambatan yang terjadi. Guru juga harus diberikan
soaialisasi lebih sering dalam pembuatan karya ilmiah PTK
agar dapat melakukan sendiri Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dengan baik. Membuat PTK termasuk dalam publikasi
ilmiah pada Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
(PKB). Seharusnya PKB yang dilakukan oleh profesi guru
tidak hanya sebatas diklat, tetapi guru dapat membuat
publikasi ilmiah. Beberapa permasalahan tersebut perlu dikaji
secara mendalam untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan
program PKB guru SD Berdasarkan masalah tersebut
penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan, (1)
Bagaimanakah pelaksanaan program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan di gugus Ki Hajar Dewantara
Kecamatan Cilongok Kabupaten
Banyumas Provinsi Jawa Tengah, (2) Bagaimanakah
efektivitas program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan di gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan
Cilongok Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah untuk
guru SD dengan adanya program tersebut
Metode Penelitian Penelitian yang dilaksanakan menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus untuk membahas
secara mendalam tentang program PKB.
Hasil dan Hasil menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan program
Pembahasan PKB di Sekolah Dasar berupa kegiatan evaluasi diri (KKG
serta diklat fungsional) yaitu sudah dilakukan dengan baik.
Namun, semangat serta produktivitas guru harus ditingkatkan
lagi dalam pelaksanaan program PKB.
1. Pelaksanaan Program PKB
Berdasarkan wawancara dengan para guru tentang
pelaksanaan program PKB di tiga SD berupa kegiatan
evaluasi diri (KKG serta diklat fungsional) yaitu sudah
dilakukan dengan baik. 2. Efektivitas Pelaksanaan PKB
(Pengembangan Diri)
Terdapat dua kegiatan dalam pengembangan diri yaitu KKG
dan diklat fungsional. Ditinjau dari manfaat KKG yaitu utuk
peningkatan profesionalitas guru, dan keterampilan guru yang
sangat penting serta dibutuhkan oleh guru. KKG sebagai
wahana dan sarana yang saling sharing berbagi info agar dapat
mengatasi permasalahan di dalam pembelajaran serta
peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik.
3. Efektivitas Publikasi Ilmiah
Kebanyakan guru kurang memahami pembuatan penulisan
karya ilmiah, sehingga masih mengalami kendala. Selain itu,
guru yang membuat publikasi ilmiah berupa PTK yaitu untuk
syarat naik golongan bukan atas dasar program PKB. Hal ini
dapat dilihat dari kegiatan publikasi yang belum efektif
karena kegiatannya dilakukan untuk minat serta keinginan
tertentu.
Guru profesional harus berkomitmen tinggi sesuai profesinya,
ikut dalam kegiatan karya ilmiah dan seminar, melakuka
pengembangang diri secara teratur melalui organisasi-
organisasi profesi. Oleh karena itu, guru harus selalu belajar
secara teratur dan terus menerus ikut serta dalam membuat
tukisan karya ilmiah sebagai wujud dalam mengembangkan
keprofesionalitasannya. Guru perlu berupaya untuk
mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh kawan
sejawat yang telah lulus dalam PKB, agar dapat terus
memperbaiki dan meningkat kualitas sebagai seorang
pendidik. Hasil dari kegiatan publikasi ilmiah di Sekolah
Dasar masih kurang terlaksana. Bisa dilihat dari belum ada
data dokumen yang dihasilkan oleh guru. 4. Efektifitas Karya
Inovatif
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kefektifan
kegiatan karya inovatif dengan para guru-guru dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan karya inovatif dalam
PKB sangat berperan bagi guru dalam mengembangkan
profesi serta untuk peningkatan kualitasnya memberikan
pelayanan pembelajaran yang bermutu untuk peserta didik.
Hasil dari karya inovatif yang telah dilakukan oleh guru
Sekolah dasar sudah dilaksanakan dengan baik. Pembuatan
karya inovtif yaitu dalam wujud alat peraga yang di
modifikasi dan langsung dipajang didalam kelas.
Kesimpulan Hasil dari penelitian menunjukan bahwa efektivitas
pelaksanaan program PKB di Sekolah Dasar berjalan dengan
efektif karena kegiatan publikasi ilmiah belum dilaksanakan
berdasarkan atas program PKB, melainkan atas dasar
kenaikan pangkat. Koordinator PKB di masing-masing
sekolah belum aktif sehingga hal tersebut juga menjadi
penyebab belum efektifnya pelaksanaan program PKB.
Perlunya kegiatan evaluasi atau ekspansi serta peningkatan
kesadaran guru untuk
mengikuti program PKB, supaya pendidikan yang diberikan
berkualitas dan memiliki mutu.
Jurnal 3
Judul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru untuk
Meningkatkan Mutu Pendidikan
Nama Jurnal Manajemen Pendidikan
Volume 6
Tahun 2019
No/ ISSN/e- ISSN 2/ 2443-0544/ 2549-9661
Penulis Nurkolis Siri Kastawi, Yovitha Yuliejantiningsih (Kastawi &
Yuliejantiningsih, 2019).
Pendahuluan Guna meningkatkan kompetensi guru di Indonesia, maka arah
kebijakan dan strategi pembangunan sub bidang pendidikan
diprioritaskan salah satunya adalah pelaksanaan
pengembangan profesional berkelanjutan (PPB) bagi guru
dalam jabatan melalui latihan berkala dan merata. Juga
dilakukan penguatan kelompok kerja guru (KKG) dan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Selain itu juga
diprogramkan pembinaan karir dan pengembangan profesi
kepala sekolah serta pengawas sekolah. Pengembangan
profesional berkelajutan (PPB) bagi guru lebih dikenal dengan
sebutan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) bagi
guru.
Di Indonesia, pengembangan keprofesian guru telah secara
serius dimulai pada tahun 2010 sehingga masih perlu
dilakukan banyak kajian guna mendapatkan gambaran yang
komprehensif.
Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif
sedangkan jenisnya adalah fenomenologis.
Hasil dan Berdasarkan sumber data dari informasi wawancara,
Pembahasan observasi, dan dokumentasi maka telah diperoleh
langkahlangkah pengembangan keprofesian berkelanjutan
telah mengikuti teori yang telah banyak berkembang
yaitu diawali dengan pengukuran kebutuhan guru yang
perlu dikembangkan, kemudian pelaksanaan
pengembangankeprofesian guru, dan evaluasi.
Metode & teknik pengembangan keprofesian
berkelanjutan [Link] atau teknik yang diterapkan
dalam PKB di Kabupaten Demak sudah banyak yang
menggunakan saran-saran dari para ahli manajemen
SDM bidang kependidikan. Diantaranya adalah penugasan
seperti kuliah, menirukan peran sesuai karakter tertentu,
pemodelan perilaku dengan menggunakan video, diskusi
untuk memecahkan kasus tertentu, simulasi, on the job
learningatau on the job training, dan mengikuti pendidikan
dan pelatihan. Pembiayaan pengembangan keprofesian
berkelanjutan guru. sumber pembiayan dalam PKB ini dari
pribadi guru, iuran sekolah yang bersumber dari Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) dan sumber lain yang diterima
sekolah, pemerintah dan pemerintah daerah, serta
masyarakat.
Model pengembangan keprofesian berkelanjutan guru.
Model-model PKB yang diterapkan yaitu dengan cara
membentuk kelompok belajar profesional, mentoring,
penelitian tindakan kolaboratif, peer-coaching, menulis, ikut
dalam tim pengembangan keprofesian kritis, dan
menghadiri konferensi [Link] yang paling
sedikit diterapkan adalah peer coahing atau magang.
Karena untuk melakukan magang di kelas lain atau di
sekolahlain, seorang guru harus meninggalkan tugas
mengajar di kelas. Sedangkan di sekolah tidak ada
guru pengganti. dengan kolaborasi antara guru.
Model yang paling banyak digunakan adalah kelompok
belajar profesional dalam bentuk KKG dan [Link]
kebanyakan guru yang menjadi responden penelitian
mengatakan bahwa kegiatan KKG atau MGMP tidak
dilaksanakan secara rutin karena hanya dilaksanakan jikaada
kebutuhan yang mendesak.
Pembiayaan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru.
Di Indonesia hanya 5% guru yang memiliki peluang
mengembangkan keprofesiannya jika mengandalkan
pemerintah atau pemerintah [Link] para guru di
Kabupaten Demak sudah tumbuh untukmengembangkan
profesionalismenya tidak terlepas dari Peraturan Bupati No.
53 tahun 2005 tentang Pembinaandan
PengembanganKeprofesian Berkelanjutan Bagi Guru.
Namun belum ada mekanisme yang jelas bagaimana
proses pengumpulan dana 4% dari setiap guru, siapa yang
bertanggungjawab untuk mengelola, dan bagaimana
mekanisme penggunaannya. Sehingga Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan perlu membuat Prosedur Operasional Standar
(POS) agar implementasi Peraturan Bupati ini dapat
dilaksanakan secara efektif.
Kendala-Kendala implementasi pengembangan keprofesian
berkelanjutan guru.
Kendala yang paling banyak adalah dari diri guru sendiri atau
kendala internal. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian
sebelumnya bahwa kendala PKB ada yang berasal dari diri
guru seperti kurangnya waktu dan kemauan. Juga ada
hambatan dari lembaga seperti kurangnya sarana dan
prasarana pendukung. Kendala lain implementasi PKB adalah
kurangnya narasumber dan padatnya kegiatan guru di sekolah.
Kesimpulan Kesimpulan dari pembahasan ini adalah metode Teknik PKB
yang paling banyak digunakan adalah diklat, kuliah,
simulasi, diskusi dan pemodelan perilaku. Sementara itu
yang paling jarang digunakan adalah bermain peran dan on
the job [Link] PKB yang paling banyak
digunakan adalah kelompok belajar profesional dalam
bentuk KKG dan [Link] itu model peer
coahing atau magang adalah yang paling sedikit
digunakan. Hal ini dikarenakan waktu yang diperlukan
lebih lama dan menggunakan sumber daya yang lebih
[Link] terbesar dalam PKB adalah dari pribadi
guru yang rata-rata menyisihkan Rp. 300.000, hal ini
mengikuti anjuranPeraturan Bupati bahwa setiap guru yang
sudah sertifikasi mengalokasikan 4% dari tunjangan
profesinya untuk mengembangkan keprofesiannya.
Pemerintah Daerah Kabupaten Demak telah mengalokasikan
bantuan pendidikan untuk PNS yang akan melanjutkan
pendidikan S2 sebesar Rp. 15 juta selama 4 semester.
Kendala utama implementasi PKB adalah kurangnya
narasumber, padatnya kegiatan guru di sekolah, tidak adanya
program dari pemerintah daerah, kurangnya dana, tidak
adanyadukungan dari teman sejawat, tidak adannya
tuntutan berubah setelah selesai pelatihan, dan tidak
adanya pendampingan dari pengawas ke sekolah. Kendala dari
sisi guru adalah rendahnya kemampuan teknologi informasi
pada guru, setelah pelatihan guru tidak bersedia menularkan
kepada guru lain, kurangnya minat atau motivasi guru untuk
mengembangkan diri, dan keterbatasan fasilitas sekolah,
serta guru hanya mengejar [Link] dari sisi
pemerintah daerah adalah pelatihan yang diberikan tidak
merata, jarang memprogramkan pelatihan, waktu
pelatihan terlalu singkat, tidak adanya penugasan
kepada pengawas sekolah untuk mendampingi guru
Hasil Analisis Pendahuluan
Berdasarkan hasil analisis jurnal yang telah dilakukan menyatakan bahwa Fakta guru di
Indonesia belum profesional. Peningkatan profesional harus dilakukan secara teratur oleh
guru agar pemikiran, pemahaman, serta kematangan yang dimiliki terus
berkembang(Wijiutami dkk., 2020) Melalui kualitas pendidikan yang baik, maka akan
dapat mendukung kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang juga baik. Namun
demikian, menciptakan pendidikan yang berkualitas pada satuan pendidikan bukan
merupakan pekerjaan yang sederhana karena satuan pendidikan harus memenuhi standar
minimal (Rusmiati Aliyyah, 2019) kualifikasi pendidikan yang sudah diformulasikan
dalam bentuk standar nasional pendidikankompetensi professional guru terlihat dari hasil
uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 pada guru di Indonesia masih jauh dari
memuaskan. Hasil UKG yang dijadikan potret kompetensi guru di Indonesia belum
mencapai target nilai rata-rata pemerintah. Rata-rata nilai UKG nasional masih di bawah
standar. Rata-rata UKG nasional 53.02. Adapun rinciannya yaitu, rata-rata nilai
kompetensi profesional 54.77, sedangkan nilai rata-rata kompetensi pedagogik 48.94.
Kemungkinan penyebab dari rendahnya hasil UKG pada kompetensi professional guru di
atas adalah ketidak sesuaian disiplin ilmu dengan bidang ajar dari guru, kualifikasi guru
yang belum setara Sarjana, rekrutmen guru yang tidak efektif, lulusan Lembaga
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pemerintah terus mengupayakan untuk
memperbaiki berbagai masalah yang terjadi salah satunya adalah Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah solusi dari pemerintah untuk peningkatan
profesi pendidik (Permadi, 2020).
Hasil Analisis Metode
Berdasarkan hasil analisis Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
Melalui Pendidikan dan Pelatihan untuk Meningkatkan Kompetensi Prosefional dan
Mutu Pendidikan Bagi Guru Sekolah Dasar menggunakan jenis penelitian kualitatif.
Melalui penelitian kualitatif dapat mendeskripsikan pengalaman, pemikiran, dan hal-hal
yang tidak dapat diwakili oleh angka. Hal-hal tersebut seperti rasa, harapan, hambatan,
dan solusi-solusi dari para obyek yang diteliti mengenai masalah yang peneliti jadikan
dasar penelitian. Model pendekatan yang digunkana adalah studi kasus, yaitu satu kasus
khusus ataupun pada sebagian kasus secara terperinci dengan penggalian data secara
mendalam. Beragam sumber informasi yang kaya akan konteks dilakukan untuk
penggalian data (Sudaryono, 2016).
Analisisa Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis akan di bahas tentang Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan Melalui Pendidikan dan Pelatihan untuk Meningkatkan
Kompetensi Prosefional dan Mutu Pendidikan Bagi Guru Raudlotul Athfal sebagai
berikut:
• Pelaksanaan Program PKB bagi Guru Raudlotul Athfal
Program pengembangan keprofesian ber-kelanjutan (PKB) bagi guru adalah
suatu proses kegiatan guru secara sistematis dengan memeriksa dan menilai atau
refleksi guru setelah berlangsungnya kegiatan belajar mengajar untuk membenahi
segala keku-rangan yang berfungsi untuk meningkatkan keprofesionalannya
(Wijiutami dkk., 2020) Program PKB berisi peningkatan kompetensi guru yaitu
program penguasaan materi pem-belajaran, struktur, konsep dan pola pikir
keilmuan yang dapat mendukung mata pelaja-ran yang diampu melalui kegiatan
pengem-bangan diri yang dilaksanakan secara mandiri atau diklat fungsional guru
secara kolektif melalui kegiatan kelompok guru sejenis atau MGMP. Sedangkan
program publikasi ilmiah dan karya inovatif merupakan kegiatan keprofesian
berkelanjutan dari komponen mengembangkan keprofesian melalui tinda-kan
reflektif (Sari dkk., 2020)
• Efektivitas Pelaksanaan PKB (Pengembangan Diri) Melalui Pendidikan dan Pelatihan
untuk Meningkatkan Kompetensi Prosefional dan Mutu Pendidikan
Pengembangan keprofesian sangat berpengaruh dalam mutu pendidikan di
sekolah, sesuai hasil penelitian terdahulu oleh (Bustami, t.t.) yaitu pengaruh
Pengembangan Profesionalisme Guru terhadap mutu pendidikan di Kabupaten Aceh
Timur, dengan demikian pengembangan keprofesian harus berkaitan dengan
pembelajaran atau di refleksikan berbagai kompenen kegiatan yang berhubungan
dengan peningkatan kinerja guru atau berdampak pada guru dan peserta didik,
dalam penelitian ini dijelaskan pengem-bangan keprofesian berkelanjutan yang
direfleksikan ke kegiatan pembelajaran dapat berdampak pada siswa atau
peserta didik, yaitu:
• Siswa dapat lebih memahami konsep materi yang sesuai standar
kompetensi dan standar kompetensi dasar yang dikembangkan guru
dalam perencanaan pembelajaran dan pengembangan silabus.
• Siswa dapat belajar secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan sesuai
dengan konsep rancangan pembelajaran guru yang akan dilaksanakan di kelas.
• Siswa dapat terarah dalam kegiatan pembelajaran karena guru
melaksanakan kegiatn sesuai rancangan pembelajaran hasil refleksi
pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Pengembangan keprofesian keberlanjutan (PKB) merupakan kewajiban guru
untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya yang dilaksanakan secara mandiri
atau kegiatan guru dengan kegiatan, yaitu: Pengembangan diri, kegiatan publikasi
ilmiah, dan karya inovatif (Wijiutami dkk., 2020) Peningkatan profesional guru harus
dikembangkan untuk mengahadapi tantangan tugas yang berat dalam pem
belajarann peserta didik. Berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian Tindakan
kelas dan berbagai kegiatan atau tindakan yang mendukung kinerja guru (Wulandari
dkk., 2020) Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan guru untuk
meningkatkan kompetensi dan keprofesiannya melalui pendidikan dan pelatihan
(diklat) dan kegiatan fungsional guru baik secara mandiri atau melalui kegiatan
kolektif dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. Kegiatan tersebutberupa kursus, pelatihan
penataran, maupun berbagai bentuk diklat yang lain. Kegiatan kolektif guru dapat
dilakukan melalui musyawarah guru serumpun mata pelajaran di sekolah atau bekerja
sama dengan sekolah lain (MGMP, KKG) macam kegiatan berupa lokakarya,
seminar, koloqium, diskusi panelatau bentuk pertemu-an ilmiah lainnya.
• Kendala-Kendala implementasi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Hasil dari analisis yang telah dilakukan hambatan-hambatan yang ditemukan untuk
pelaksanaan program pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) melalui
pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi prosefional dan mutu
pendidikan adalah Kendala yang paling banyak adalah dari diri guru sendiri atau kendala
internal. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa kendala PKB ada yang
berasal dari diri guru seperti kurangnya waktu dan kemauan. Juga ada hambatan dari
lembaga seperti kurangnya sarana dan prasarana pendukung. Kendala lain implementasi
PKB adalah kurangnya narasumber dan padatnya kegiatan guru di sekolah (Permadi,
2020). Selama mengimplementasikan PKB terdapat beberapa kendala baik dari sisi guru,
pengurus KKG dan MGMP, sekolah, pemerintah daerah, dan kendala dari sisi
pembiayaan. Dari semua kendala tersebut kemudian disarikan apa yang menjadi kendala
utama. Kendala yang paling banyak adalah dari diri guru sendiri atau kendala internal,
kendala dari sisi pemerintah daerah, dan hambatan dari lembaga seperti kurangnya sarana
dan prasarana pendukung (Anitasari, 2018).
Pendidikan yang bermutu dan berkualitas merupakan pendidikan yang lebih
memprioritaskan perkembangan peserta didik dalam proses pembelajarannya. guru
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan.
Seorang guru dapat dikatakan profesional apabila mampu mengantarkan siswa dalam
belajar untuk menemukan, mengelola dan memecahkan persoalan yang berkaitan dengan
pengetahuan sikap dan nilai hidupnya. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang
berkualitas yakni membutuhkan tanggung jawab tenaga pendidikan yang profesional di
sekolah. Maka dari itu meningkatkan kualitas guru merupakan salah satu upaya dalam
meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan (Rusmiati Aliyyah & Hardiyanti, 2021)
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil pemaparan analis pada Program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan Melalui Pendidikan dan Pelatihan untuk Meningkatkan Kompetensi
Prosefional dan Mutu Pendidikan dapat disimpulkan bahwa program penge-mbangan
keprofesian berkelanjutanyang dilaksanakan berdasar dokumen evaluasi diri guru
dan penilaian kinerja guru pada kompo-nen kom-petensi penguasaan materi,
struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yangmendukungmata pelajaran dan
mengembangkan kepr-ofesian melalui tindakan penge-mbangan diri untuk
meningkatkan kompe-tensi yang berhu-bungan dengan tugas pokok guru, atau
kegiatan publikasi ilmiah maupun karya inovatif dengan direfleksikan kedalam
pembe-lajaran atau tindakan yang mendukung peningkatan kinerja sebagai
guru yang profesional sehingga layak memiliki sebutan guru yang bermartabat di
tengah-tengah masyarakat sebagai guru bersertifikasi. Pengembangan keprofesian
berkelanjutan merupakan wahana pembinaan keprofesian bagi guru-guru yang
dapat meningkatkan harkat dan martabat di masyarakat sebagai guru yang
profesional sehingga perlu adanya tindakan secara bertahap, berkesinambungan
dan kepedulian pemangku kepentingan, PKB dapat memberikan dampak positif
berbagai pihak guru, siswa dan sekolah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan,
agar kegiatan PKB yang dilaksanakan guru dapat berhasil dengan baik dan lancar.
Daftar Pustaka
Anitasari, E. (2018). Motivasi, Kendala, dan Strategi Pelaksanaan Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru Matematika SMA di Kabupaten Bantul
[Tesis, UNY]. [Link]
Bustami. (t.t.). Pengaruh Pengembangan Profesionalisme Guru SMP Terhadap
Peningkatan Mutu Pendidikan Di Kabupaten Aceh Timur.
Kastawi, N. S., & Yuliejantiningsih, Y. (2019). Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan Guru untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Kelola: Jurnal
Manajemen Pendidikan, 6(2), 157–168.
[Link]
Permadi, D. S. (2020). Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Melalui
Pendidikan Dan Pelatihan Guru Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional
Guru Sekolah Dasar. Nusantara Education Review, 3(1), 23–34.
Rusmiati Aliyyah, R. (2019). PROFESIONALISME GURU SEBAGAI ASET
PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN DI JAWA BARAT.
Rusmiati Aliyyah, R., & Hardiyanti, L. Y. (2021). PROFESIONALISME GURU
SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI PROVINSI
RIAU.
Sari, K. P., Marsidin, S., & Sabandi, A. (2020). Kebijakan Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) Guru. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 2(2),
113–120. [Link]
Sudaryono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan. Prenada Media.
Wijiutami, C. T., Wahjoedi, W., & W, E. T. D. R. W. (2020). Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan: Teori,
Penelitian, dan Pengembangan, 5(5), 666–670.
[Link]
Wulandari, S., Suratman, B., & Nugraha, J. (2020). Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) pada Guru SMK Bidang Keahlian Administrasi Perkantoran
di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Pendidikan Edutama, 7, 31.
[Link]
View publication stats