0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan49 halaman

Senam Lansia

Diunggah oleh

Muh Mustafiddin Mnr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan49 halaman

Senam Lansia

Diunggah oleh

Muh Mustafiddin Mnr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN SENAM HIPERTENSI PADA LANSIA UNTUK

MENURUNKAN TEKANAN DARAH TINGGI PADA


PENDERITA HIPERTENSI

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Untuk Mencapaigelar Ahli


Madya Keperawatan Pada Program Studi Diploma III Keperawatan

Disusun Oleh :
Devita Dwi Putri Fatmasari
NPM : 22.0601.0039

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2025

i
Universitas Muhammadiyah Magelang
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari >160 mmHg dan diastolik lebih dari >90 mmHg
setelah dua kali pengukuran terpisah (Abdul et al., 2022). Penyakit hipertensi dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya dan hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit lain yang diderita,
seperti penyakit ginjal, endokrin, dan penyakit jantung. Penyakit hipertensi dapat
juga disebabkan karena pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik
(Noviati et al., 2021). Bertambahnya usia dapat meningkatkan resiko terjadinya
penyakit hipertensi yang disebabkan oleh adanya perubahan alami pada jantung,
pembuluh darah, dan hormon (Oktavian et al., 2020).

Hipertensi merupakan salah satu masalah besar kesehatan di dunia yang harus
segera diatasi, menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar
80% kenaikan kasus di tahun 2000 menjadi 1,15 milyar di tahun 2025. Hipertensi
juga menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Angka kejadian hipertensi di
Indonesia mencapai 36%. Dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia, prevelensi
kejadian hipertensi sebesar 34,1% (Kemenkes RI, 2023).

Menurut World Health Organization (WHO, 2024), prevalensi hipertensi di dunia


sebesar 26,4% atau 972 juta orang terkena penyakit hipertensi, angka ini mengalami
peningkatan di tahun 2021 menjadi 29,2%. World Health Organization (WHO,
2018) memperkirakan terdapat 9,4 juta orang meninggal disetiap tahunnya akibat
dari komplikasi hipertensi. Di negara maju ditemukan kasus hipertensi sebanyak
333 juta dari 972 juta penderita hipertensi dan 639 juta lainnya ditemukan di negara
berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi dapat berkontribusi sebagai penyebab
kematian ketiga sesudah stroke dan tuberkulosis sebesar 6,8% dari populasi
kematian pada semua kategori umur di Indonesia. Presentase kematian akibat stroke

1
Universitas Muhammadiyah Magelang
2

sendiri sebesar 15,4% dan penyakit tuberkulosis sebesar 7,5% (Casmuti et al.,
2023).

Dinas Kesehatan Kota Magelang mengatakan prevalensi kasus Hipertensi pada


tahun 2020 mengalami peningkatan kasus sebesar 192.318 kasus yang tersebar di
semua wilayah Kabupaten Magelang, dan dari data laporan penyakit tidak menular
pada tahun 2021 terjadi peningkatan sebesar 8.607 kasus. Dengan masing masing
pembagian kasus di setiap wilayah Magelang Utara 1.992 kasus, Magelang Tengah
2.456 kasus, dan terakhir di wilayah Magelang Selatan dengan total kasus 4.159,
jumlah orang > 15 tahun yang diperkirakan menderita hipertensi di tahun 2021 di
Kota Magelang adalah 39.444 orang. Sedangkan yang mendapatkan pelayanan
kesehatan adalah sebanyak 8.607 atau sebesar 21,82% (Dinas Kesehatan Kota
Magelang, 2022).

Penyebab terjadinya penyakit Hipertensi meliputi usia, jenis kelamin, genetik,


obesitas, merokok, strees, asupan garam dan aktifitas fisik. Kejadian penyakit
Hipertensi akan bertambah dengan bertambahnya umur sesorang. Pada usia 23-44
tahun penyakit Hipertensi mencapai 29%, pada usia 45-64 tahun mencapai 51%,
dan pada usia lebih dari 65 tahun mencapai 65%. Meningkatnya kejadian penyakit
darah tinggi mengakibatkan angka kematian serta terjadinya risiko komplikasi akan
semakin bertambah setiap tahunya. Penyebab keadaan ini karena Hipertensi angka
kejadiannya masih sangat tinggi di wilayah yang berpenghasilan rendah dan terjadi
pada usia lanjut. Diperlukan solusi terbaik untuk mengatasi Hipertensi, diharapkan
dapat menurunkan angka kejadian Hipertensi, menurunkan risiko terjadinya
komplikasi, dan mengurangi risiko terhadap penyakit bagian kardiovaskuler
(Hitiyaut et al., 2022).

Ditinjau dari aspek kesehatan, kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat
kesehatan baik secara alamiah maupun akibat penyakit. Lebih dari separuh populasi
lansia mempunyai tekanan darah yang lebih dari normal. Tekanan darah yang lebih
dari normal akan mudah mengalami risiko penyakit kardiovaskuler (Kesehatan et
al., 2021). Peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan akan merusak

Universitas Muhammadiyah Magelang


3

pembuluh darah yang ada di sebagian besar tubuh. Gagal jantung, infark miokard,
gagal ginjal, stroke, dan gangguan penglihatan, merupakan komplikasi akibat
hipertensi yang tidak terkontrol. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk
menurunkan tekanan darah pada lansia, bisa dilakukan secara farmakologis dan non
farmakologis (Mahesa et al., 2023)

Penatalaksanaan penyakit Hipertensi dibagi menjadi dua yaitu secara farmakologis


dan non farmakologis. Secara farmakologis atau yang sering disebut dengan terapi
obat adalah pengobatan yeng dilakukan dengan pemberian obat antiHipertensi.
Sedangkan non farmakologis yaitu penanganan hipertensi diluar menggunakan obat
obatan seperti pengaturan pola makan dan aktivitas fisik. Terapi non farmakologis
dapat dilakukan dengan cara hidup sehat, makan makanan bergizi, hindari stres,
monitoring tekanan darah, dan olahraga teratur seperti melakukan olahraga senam
hipertensi. Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga senam hipertensi yang teratur
merupakan pencegahan dan pengobatan hipertensi yang lebih mudah untuk
dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan biaya yang tidak mahal. Olahraga
dapat berupa latihan fisik seperti berjalan jalan, bersepeda, berenang, dan senam
hipertensi (Ernawati et al., 2022).

Senam hipertensi dapat dikategorikan kedalam latihan fisik atau senam sehingga
akan berdampak kepada pengoptimalan kekuatan pompa jantung bertambah
sehingga dapat menurunkan tekanan darah (Moonti et al., 2022). Senam hipertensi
dapat dilakukan dengan gerakan-gerakan yang ringan dan terukur yang dapat
meningkatkan fisik lansia tanpa perlu menggunakan banyak energi karena senam
lansia memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental, senam
juga dapat meningkatkan kekuatan otot dan kelenturan sendi, oleh karena itu senam
merupakan suatu bentuk olahraga yang sangat mudah dan ringan dilakukan bagi
para lanjut usia. Senam hipertensi merupakan senam aktifitas fisik yang dapat
dilakukan dimana gerakan senam khusus penderita hipertensi yang dilakukan
selama 20 menit dengan tahap 5 menit latihan pemanasan, 10 menit gerakan
peralihan, 5 menit gerakan pendinginan. Dengan gerakan dan tahapan waktu
tersebut akan membuat jalan pembuluh darah melebar sehingga bisa untuk

Universitas Muhammadiyah Magelang


4

menurunkan lemak ditubuh, jadi selain dapat manfaat untuk menurunkan tensi juga
dapat menurunkan lemak ditubuh yang mana jika dilakukan secara rutin dan tidak
berlebihan makan tubuh akan semakin ideal dan sehat. Selain itu seseorang yang
ingin menurunkan tensinya tidak hanya mengandalkan senam saja, tetapi harus
memperhatikan pola makan dan menghindari rasa stress yang dapat memicu
tingginya tensi darah serta memerlukan istirahat yang cukup juga (Mutia et al.,
2022). Maka dari itu penulis memilih untuk melakukan penerapan senam hipertensi
yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pada lansia yang aman dan mudah
dilakukan sesuai dengan tingkat kebugaran serta kondisi kesehatan pada masing-
masing individu.

1.2 Rumusan Masalah


Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg
setelah dua kali pengukuran terpisah. Penyakit hipertensi dapat diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya dan
hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit lain yang diderita.

Prevalensi hipertensi di dunia sebesar 26,4% atau 972 juta orang terkena penyakit
hipertensi, angka ini mengalami peningkatan di tahun 2021 menjadi 29,2%. Di
negara maju ditemukan kasus hipertensi sebanyak 333 juta dari 972 juta penderita
hipertensi dan 639 juta lainnya ditemukan di negara berkembang termasuk
Indonesia. Hipertensi dapat berkontribusi sebagai penyebab kematian ketiga
sesudah stroke dan tuberkulosis sebesar 6,8% dari populasi kematian pada semua
kategori umur di Indonesia.

Senam hipertensi merupakan senam aktifitas fisik yang dapat dilakukan dimana
saja dengan gerakan senam khusus penderita hipertensi yang dilakukan selama 20
menit dengan tahap 5 menit latihan pemanasan, 10 menit gerakan peralihan, 5 menit
gerakan pendinginan. Dengan gerakan dan tahapan waktu tersebut akan membuat
jalan pembuluh darah melebar sehingga bisa untuk menurunkan lemak ditubuh, jadi

Universitas Muhammadiyah Magelang


5

selain dapat manfaat untuk menurunkan tensi juga dapat menurunkan lemak
ditubuh. Selain itu seseorang yang ingin menurunkan tensinya tidak hanya
mengandalkan senam saja, tetapi harus memperhatikan pola makan dan
menghindari rasa stres.

Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan, maka rumusan masalah dalam


study kasus ini adalah sejauh mana efektifitas senam hipertensi berkontribusi
terhadap kesehatan fisik dan mental lansia yang bertujuan untuk menurunkan
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi ?

1.3 Tujuan Karya Tulis Ilmiah


1.3.1 Tujuan Umum
Setelah penyusunan KTI ini diharapkan adanya pengaruh senam hipertensi pada
lansia untuk menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita hipertensi.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah penyusunan KTI ini diharapkan peneliti mampu :
[Link] Mampu melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada klien Hipertensi.
[Link] Mampu menganalisis data sesuai dengan data subjektif dan objektif klien
Hipertensi.
[Link] Mampu merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan klien
Hipertensi.
[Link] Mampu merumuskan intervensi keperawatan pada klien Hipertensi dengan
penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah tinggi
pada penderita Hipertensi.
[Link] Mampu melakukankan implementasi keperawatan pada klien Hipertensi
dengan penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah
tinggi pada penderita Hipertensi.
[Link] Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada klien Hipertensi dengan
penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah tinggi
pada penderita Hipertensi.

Universitas Muhammadiyah Magelang


6

[Link] Mampu melakukan pendokumentasian keperawatan pada klien Hipertensi


dengan penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah
tinggi pada penderita Hipertensi.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah


1.4.1 Bagi Klien dan Keluarga
Diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada klien dan
keluarga dalam mengenai penerapan senam hipertensi pada lansia untuk
menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi. Sehingga klien dan
keluarga mampu menerapkan senam hipertensi secara mandiri. Senam hipertensi
dapat dilakukan dengan konsisten selama seminggu 5 kali dalam 2 minggu dengan
waktu 20 menit, 5 menit latihan pemanasan, 10 menit gerakan senam hipertensi, 5
menit gerakan pendinginan supaya bisa menurunkan tekanan darah.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat
mengenai penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah
tinggi pada penderita Hipertensi. Sehingga masyarakat mampu menerapkan senam
hipertensi secara mandiri.
1.4.3 Bagi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, inofasi dan keterampilan
mengenai penerapan senam hipertensi pada lansia untuk menurunkan tekanan darah
tinggi pada penderita Hipertensi. Sehingga pelayanan kesehatan masyarakat
mampu memberikan Pendidikan Kesehatan dan penerapan senam hipertensi ini
untuk mengatasi penyakit Hipertensi pada masyarakat.
1.4.4 Bagi Pendidikan
Diharapkan mampu menambah wawasan ilmu dibidang keperawatan dalam
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan menggunakan senam
hipertensi dan menjadikan dasar penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
senam hipertensi.

Universitas Muhammadiyah Magelang


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Hipertensi


2.1.1 Definisi Lansia
Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas yang
mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Usia 60 tahun ke atas merupakan tahap akhir dari proses penuaan yang
memiliki dampak terhadap tiga aspek, yaitu biologis, ekonomi, dan sosial. Word
Health Organization (WHO) telah memperhitungkan bahwa di tahun 2025,
Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah warga lansia sebesar 41,4% yang
merupakan sebuah peningkatan tertinggi di dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa
Bangsa memperkirakan di tahun 2050 jumlah warga lansia di Indonesia sebesar 60
juta jiwa. Hal ini menyebabkan Indonesia berada pada peringkat ke-41 (Akbar et
al., 2023).

2.1.2 Definisi Hipertensi


Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah yang meningkat secara tidak
normal dan terjadi terus menerus pada saat beberapa kali pemeriksaan tekanan
darah yang disebabkan oleh satu faktor resiko yang lain berjalan tidak sebagaimana
mestinya untuk mempertahankan tekanan darah secara normal (Aryantiningsih et
al., 2021). Hipertensi ini terjadi jika tekanan darah sistol dan diastol secara tidak
konsisten di atas 160/90 mmHg. Hipertensi juga merupakan gangguan sistem
peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal
sehingga memiliki resiko penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal (Utaminingsih
et al., 2020).

2.1.3 Definisi Senam Lansia


Senam lansia merupakan olahraga ringan dan mudah dilakukan, tidak memberatkan
yang diterapkan pada lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu tubuh agar tetap
bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja
optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran didalam
tubuh (Nurtika et al., 2020).

7
Universitas Muhammadiyah Magelang
8

2.2 Etiologi
Etiologi Hipertensi menurut Asbahani et al., (2023), yaitu :
1. Umur
Pravelensi Hipertensi semakin meningkat seiring bertambahnya umur. Pada umur
25-44 tahun pravelensi Hipertensi sebesar 29%, pada umur 45-64 tahun sebesar
51%, dan pada umur 64 tahun ke atas sebesar 65%. Hal ini disebabkan karena
dinding arteri pada usia lanjut akan mengalami penebalan yang mengakibatkan
penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan
berangsur-angsur menyempit.
2. Jenis Kelamin
Pada perempuan cenderung mengalami peningkatan tekanan darah setelah
menopause yaitu setelah umur 45 tahun ke atas, tetapi tingkat kejadian Hipertensi
akan lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita yang berusia dibawah 55
tahun.
3. Genetik atau Keturunan
Hipertensi cenderung penyakit keturunan. Jika salah satu orang tua memiliki
riwayat Hipertensi maka kita sebagai keturunannya memiliki 25% kemungkinan
menderita Hipertensi juga.
4. Asupan garam atau natrium berlebih
Asupan garam dan natrium yang melebihi takaran normal dapat mengakibatkan
kondisi yang dapat merusak ginjal, arteri, jantung dan otak. Penggunaan garam dan
natrium yeng berlebihan akan menyebabkan tubuh meretensi cairan kemudian
dapat meningkatkan volume darah, mengecilkan diameter arteri, dan menyebabkan
jantung akan memompa darah lebih keras sehingga mengakibatkan tekanan darah
lebih tinggi.
5. Obesitas
Obesitas dapat mengakibatkan terjadinya tekanan darah meningkat karena semakin
besar massa tubuh, maka akan semakin besar pula darah yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Sehingga volume
darah yang beredar ke pembuluh darah akan meningkat dan memberikan tekanan
yang lebih besar ke arteri.

Universitas Muhammadiyah Magelang


9

6. Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol


Merokok dan konsumsi alkohol sering dikaitkan dengan berkembangnya Hipertensi
karena reaksi bahan atau zat yang terkandung didalamnya.
7. Stress
Ketika seseorang mengalami stress, maka akan terjadi pelepasan hormon adrenalin,
kartisol, dan norepinephrine yang menyebabkan meningkatnya denyut nadi dan
kontraksi otot jantung. Sehingga pembuluh darah yang mengalirkan darah ke
jantung akan melebar dan meningkatkan jumlah darah yang di pompa.

2.3 Klasifikasi
Klasifikasi Hipertensi menurut Najib et al., (2021), dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Hipertensi primer (Esensial)
Hipertensi ini terjadi sekitar 95% kasus. Belom diketahui penyembab pastinya,
namun dikaitkan dengan faktor pola hidup seperti kurang berolahraga, pola makan,
dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti, obesitas, alkohol, serta
merokok.
2. Hipertensi sekunder (Renal)
Hipertensi sekunder jarang terjadi hanya sekitar 5% kasus. Hipertensi ini
disebabkan oleh adanya komplikasi lain seperti penyakit ginjal atau mengkonsumsi
obat-obatan seperti pil KB.
Hipertensi juga diklasifikasikan menjadi Hipertensi normal, pra-Hipertensi,
Hipertensi stadium 1, Hipertensi stadium 2 (Silaen et al., 2021).

Tabel 2. 1 Klasifikasi Hipertensi


Tekanan Darah Sistolik Diastolik
Normal <120 mmHg Dan <80 mmHg
Pra-Hipertensi 120-139 mmHg Atau 80-89mmHg
Hipertensi Stadium 1 140-159 mmHg Atau 90-99 mmHg
Hipertensi Stadium 2 =160 mmHg Atau =100 mmHg
Sumber : Chyono et al., (2023)

Universitas Muhammadiyah Magelang


10

2.4 Anatomi Fisiologi

Gambar 2. 1 Anatomi Fisiologi Jantung


Sumber : Smelizer, (2020)

System kardiovaskuler merupakan system transport tubuh yang membawa gas-gas


pernafasan, nutrisi, hormon-hormon dan zat-zat lain dan dari jaringan tubuh (Najib
et al., 2021).
System kardiovaskuler dibangun oleh :
1. Darah, jaringan cair kompleks yang mengandung sel-sel khusus dalam cairan
plasma.
2. Jantung, pompa ganda yang terdiri atas empat ruang yang bekerja memompa
darah ke pembuluh-pembuluh darah.
3. Pembuluh-pembuluh darah.
4. Arteri, yang membawa darah dari jantung ke jaringan.
5. Vena, yang mengembalikan darah dari jantung ke jantung.
6. Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat halus yang ada pada seluruh
jaringan tubuh kita. Kapiler menghubungkan arteri kecil ke vena kecil.
Pertukaran gas-gas pernafasan dan zat nutrisi di jaringan terjadi melewati dinding
kapiler (Yesi et al., 2022).

Universitas Muhammadiyah Magelang


11

2.5 Manifestasi Klinis


Menurut Grace et al., (2024) penderita hipertensi akan mengalami tanda dan gejala
sebagai berikut :
1. Sakit kepala parah
2. Penglihat kabur
3. Telinga berdenging
4. Kebingungan
5. Detak jantung tidak teratur
6. Nyeri dada
7. Pusing
8. Lemas
9. Kelelahan
10. Sulit bernapas
11. Gelisah
12. Mual dan muntah
13. Epistaksis
14. Hematuria
15. Peningkatan vena jugularis
16. Penurunan kesadaran

2.6 Patofisiologi
Mekanisme yang bertugas untuk mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terdapat pada pusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor
ini berawal dari safat simpatis, yang kemudian berlanjut kebawah menuju ke
kordaspinalis dan akan keluar dari kolumna, medulla spinalis ganglia simpatis
ditoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor akan diantarkan dalam bentuk
inplus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Sebagai pertimbangan dari aspek gerontologis dimana akan terjadi perubahan
fungsional dan struktural pada sistem pembuluh darah perifer yang akan
mempengaruhi perubahan tekanan darah yang terjadi pada lansia. Perubahan yang
terjadi tersebut meliputi atrosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan

Universitas Muhammadiyah Magelang


12

penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang akan menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah (Adiputra et al., 2021).

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Trisnadewi et al., (2021) penderita hipertensi dilakukan pemeriksaan
penunjang sebagai berikut :
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hemoglobin (HB) / hematokrit : digunakan untuk mengetahui hubungan
sel-sel pada volum cairan dan bisa menunjukkan faktor resiko seperti
hipokoagulabilitas dan anemia.
b. BUN / Kreatinin : untuk memberi infotmasi mengenai perfusi / fungsi
ginjal.
c. Glukosa : hiperglikemi (DM sebagai faktor terjadinya Hipertensi) dapat
disebabkan oleh pengeluaran kadar katekolamin.
d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan ada
DM.
2. CT Scan : untuk mengidentifikasi adanya tumor cerebral (otak), encelopati.
3. EKG : dapat menunjukkan pola regangan, dimana ruas, peninggian gelombang
P.
4. IU : mengidentifikasi faktor pemicu Hipertensi misalnya batu ginjal dan
perbaikan ginjal.
5. Rongen thorax : menunjukkan adanya kerusakan klasifikasi di area katup,
pembesaran jantung.

2.8 Konsep Asuhan Keperawatan


2.8.1 Pengkajian
Menurut buku ajar keperawatan keluarga, (2023) Pengkajian adalah tahap awal dari
proses keperawatan. Pengkajian merupakan proses pengumpulan data, pengaturan,
validasi, dan dokumentasi. Pengkajian juga mencakup pengumpulan informasi
subjektif, objektif dan peninjauan informasi riwayat yang dialami oleh

Universitas Muhammadiyah Magelang


13

pasien/keluarga atau ditemukan dalam rekam medik. Pengkajian 32 item friedman


sebagai berikut :
a. Data umum
a) Nama kepala keluarga
b) Alamat dan nomor telepon
c) Komposisi keluarga
1) Jenis kelamin : Pada umumnya wanita akan memiliki resiko tinggi
terhadap hipertensi yaitu 56% ketika perempuan yang telah mengalami
menopause karena penurunan kadar estrogen yang dapat mempengaruhi
tekanan darah (Budiana et al., 2022).
2) Umur : laki-laki yang berusia 35-50 tahun dan wanita pasca menopause
akan beresiko lebih tinggi mengalami hipertensi.
3) Status sosial ekonomi keluarga : sangat mempengaruhi asupan nutrisi
(garam dapur) tergantung pendapatan keluarga.
4) Jumlah anggota keluarga : semakin sedikit anggota keluarga dalam
suatu rumah tangga maka akan sering muncul masalah yang mengarah
pada lima tugas keluarga karena minimnya komunikasi dalam
pengambilan keputusan.
5) Pekerjaan : orang yang memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi
fasilitas kesehatan akan semakin sedikit juga ketersediaan waktu dan
kesempatan untuk melakukan pengobatan.
6) Pendidikan : seseorang yang semakin tinggi maka akan semakin rendah
angka ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu dikarenakan ilmu yang
telah didapatkan akan dijadikan acuan.

Universitas Muhammadiyah Magelang


14

d) Genogram

Ny. Tn.
e)

An. An.
: laki – laki

: perempuan

: meninggal

: Klien
f) Tipe keluarga
Menjelaskan adanya dua tipe / jenis keluarga beserta kendala atau masalah
yang terjadi pada keluarga tersebut. Tipe keluarga pertama yaitu tipe
keluarga tradisional yang terdiri dari 11 jenis keluarga dan yang kedua tipe
keluarga non tradisional atau non modern yang terdiri dari 8 tipe keluarga.
Pada setiap tipe keluarga dalam rumah tangga akan mengalami kesulitan
berkomunikasi sehingga untuk memutuskan solusi akan sangat sulit (Sari et
al., 2025)
g) Suku
Mengkaji asal usul suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya
suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.
h) Agama
Mengkaji agama oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat
mempengaruhi kesehatan.

Universitas Muhammadiyah Magelang


15

i) Status sosial ekonomi keluarga


Faktor status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapat baik dari
kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu sosial
ekonomi keluarga ditentukan oleh kebutuhan yang dikeluarkan keluarga
serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
j) Aktivitas rekreasi
Keluarga rekreasi adalah keluarga yang tidak haya dilihat dari kapan saja
keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu,
namun dilihat dengan menonton televisi dan mendengarkan radio juga
merupakan aktivitas rekreasi.
b. Riwayat Keluarga dan Tahap Perkembangan Keluarga
a) Tahap perkembangan keluarga saat ini : Tahap ini ditentukan pada anak
yang paling tua.
b) Tahap Perkembangan yang belom terpenuhi yaitu tentang tugas keluarga
yang belom terpenuhi dan kendala yang dihadapi oleh keluarga, pada saat
perkembangan belum terpenuhi akan mengakibatkan kondisi pasien
mengalami stres dan dapat meningkatkan tekanan darah tinggi (Hipertensi).
c. Riwayat Kesehatan keluarga inti
Riwayat kesehatan ini menjelaskan tentang kesehatan masing-masing anggota
keluarga, perhatian kepada upaya pencegahan penyakit, upaya dan pengalaman
keluarga terhadap pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
kesehatan (Rizqiya et al., 2023)
d. Riwayat Kesehatan keluarga sebelumnya
Riwayat kesehatan ini menjelaskan tentang riwayat penyakit keturunan dan
penyakit menular pada keluarga serta riwayat kebiasaan gaya hidup yang
mempengaruhi kesehatan (Ardiansyah et al., 2024)
e. Riwayat Kesehatan masing-masing anggota keluarga
Berisi tentang data kesehatan anggota keluarga. Data ini dimulai dari nama
keluarga, jenis kelamin, keadaan kesehatan, imunisasi (BCG/Polio/DPT/HB/
Campak), masalah kesehatan, tindakan yang telah dilakukan kemudian disusun
dalam tabel (Setiandari et al., 2020).

Universitas Muhammadiyah Magelang


16

a) Sumber Kesehatan yang dimanfaatkan


Menjelaskan tentang dari mana informasi kesehatan yang mereka perboleh.
f. Lingkungan
Menurut Subekti et al., (2023) :
a) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah di identifikasi dengan melihat faktor seperti luas
rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan,
peletakan perabotan rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank
dengan sumber air minum yang digunakan serta denah rumah. Semakin
besar rumah dan semakin sedikit penghuninya makan akan semakin besar
rasio terjadinya stres. Dan sebaliknya, semakin kecil rumah dan semakin
banyak penghuninya maka akan semakin kecil rasio terjadinya stres yang
dapat menyebabkan Hipertensi.
b) Karakteristik komunitas RW
Karakter tetangga dan komunitas RW menjelaskan mengenai karakteristik
dari tetangga dan komunitas setempat, yang meliputi kebiasaan seperti
lingkungan fisik, aturan / kesepakatan penduduk setempat, budaya setempat
yang mempengaruhi kesehatan khususnya ketidak patuhan terapi
Hipertensi, sehingga peningkatan tekanan darah sering terjadi.
c) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografi keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan keluarga
berpindah tempat.
d) Perkumpulan Keluarga dan interaksi dalam masyarakat
Perkumpulan ini menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga
untuk berkumpul serta perkupulan keluarga yang ada dan sejauh mana
interaksi keluarga dengan masyarakat.
e) Sistem pendukung keluarga
Jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki
keluarga untuk menunjang kesehatan mencakup fasilitas fisik, fasilitas
psikologis atau pendukung dari anggota keluarga dan fasilitas sosial serta
dukungan dari masyarakat setempat.

Universitas Muhammadiyah Magelang


17

g. Struktur Keluarga
a) Pola komunikasi menjelaskan tentang cara berkomunikasi antar anggota
keluarga.
b) Struktur kekuatan keluarga kemampuan anggota keluarga untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku.
c) Struktur peran menjelaskan mengenai peran dari masing-masing anggota
keluarga baik secara formal maupun informal.
d) Nilai dan norma budaya menjelaskan tentang nilai dan norma yang dianut
oleh keluarga atau yang berhubungan dengan kesehatan.
h. Fungsi keluarga
Menurut Ramadhani et al., (2024) :
a) Fungsi Afektif
Hal yang perlu ditinjau adalah gambaran diri anggota keluarga, perasaan
memiliki dan dimiliki dalam keluarga dan dukungan keluarga terhadap
anggota keluarga lainnya.
b) Fungsi sosialisasi
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana
anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya serta perilaku.
c) Fungsi perawatan
Keluarga menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan,
pakaian, perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Kesiapan
kepada anggota keluarga dalam melaksanakan perawatan kesehatan dapat
dilihat dari kemampuan keluarga menjalani 5 tugas kesehatan keluarga,
yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan
untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota
keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan serta keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang
terdapat dilingkungan setempat.
d) Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga, sebagai berikut:
1) Berapa jumlah anak?

Universitas Muhammadiyah Magelang


18

2) Apakah rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga?


3) Metode yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah
anggota keluarga?
e) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga sebagai berikut :
1) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan
papan.
2) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada dimasyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
i. Stressor dan koping keluarga
Menurut Febriana et al., (2021) :
a) Stressor jangka pendek adalah stressor yang dialami keluarga dan
penyelesaian dalam waktu kurang dari enam bulan.
b) Stressor jangka panjang adalah stressor yang dialami keluarga dan
memperlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari enam bulan.
c) Kemampuan keluarga merespon terhadap masalah stressor dikaji sejauh
mana keluarga berespon terhadap stressor.
d) Strategi koping yang digunakan keluarga apabila menghadapi permasalahan
atau stres.
e) Strategi adaptasi disfungsional menjelaskan tentang strategi adaptasi
disfungsional yang digunakan keluarga apabila menghadapi permasalahan/
stres.
j. Pemeriksaan Fisik
Menurut Casmuti et al., (2023) :
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga, metode yang
digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik head to toe meliputi inspeksi,
auskultasi, palpasi, perkusi.
a) Keluhan utama, akan sering menjadi keluhan penderita Hipertensi untuk
meminta pertolongan kesehatan yakni penderita merasa pusing pada kepala
bagian belakang.

Universitas Muhammadiyah Magelang


19

b) Riwayat penyakit sekarang, Hipertensi sering kali berlangsung sangat


mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas, biasanya terjadi
nyeri kepala atau pusing, pandangan kabur, sampai terjadi epistaksis.
c) Riwayat penyakit dahulu adalah adanya riwayat penyakit Hipertensi, dan
obat-obatan. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan
penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung
pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk
mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
d) Riwayat penyakit keluarga, yaitu riwayat penyakit pada keluarga yang
menderita hipertensi, stroke, dan generasi sebelumnya.
e) Pemeriksaan TTV, hasil tekanan darah lebih dari 160/90 mmHg.
f) Pemeriksaan head to toe
1) Kepala, terdapat nyeri tekan pada kepala bagian belakang, ada tidaknya
oedema dan lesi, serta ada tidaknya kelainan bentuk kepala.
2) Mata, terdapat conjungtiva anemis.
3) Hidung, ada tidaknya epistaksis jika sampai terjadi kelainan vaskuler
akibat dari Hipertensi.
4) Mulut, ada tidaknya pendarahan pada gusi dan mulut.
5) Leher, apakah ada pembesaran kelenjar limfe/tonsil
6) Dada, sering dijumpai tidak ditemukan kelainan, inpeksi bentuk dada
simetris atau tidak serta ictus cordis nampak atau tidak. Palpasi
didapatkan vocal fremitus hasilnya positif disemua kuadrat. Perkusi
hasilnya sonor, dan auskultasi tidak terdengar suara nafas tambahan.
7) Perut, inspeksi meliputi bentuk perut. Palpasi didapatkan teraba kenyal
atau supel, tidak terdapat distensi. Perkusi hasilnya tympani, dan
auskultasi terdengar bising usus normal.
8) Ekstremitas atas dan bawah, pada pasien dengan Hipertensi tidak terjadi
kelainan tonus otot, terkecuali jika sudah terjadi komplikasi dari
Hipertensi itu sendiri seperti stroke, maka akan terjadi penurunan tonus.

Universitas Muhammadiyah Magelang


20

2.8.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon klien


terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respon klien individu, keluarga, komunitas, terhadap situasi yang
berkaitan dengan Kesehatan Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018).
Berikut Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien Hipertensi :
a. Nyeri akut (D.0077)
Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat
dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Gejala tanda mayor : tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi
nadi meningkat, sulit tidur.
Gejala tanda minor : tekanan darah meningkat, pola nafas barubah, nafsu makan
berubah, menarik diri.
b. Gangguan pola tidur (D.0055)
Definisi : gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal.
Penyebabnya : hambatan lingkungan, kurang control tidur, kurang privasi,
restrain fisik, ketidakadaan teman tidur, tidak familiar dengan peralatan tidur.
Gejala tanda mayor : Mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, tidak puas
tidur, pola tidur berubah, istirahat tidak cukup.
Gejala tanda minor : Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun.
c. Penurunan curah jantung (D.0008)
Definisi : Ketidak kekuatan jantung memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme tubuh.
Penyebabnya : Perubahan irama jantung, perubahan frekuensi jantung,
perubahan kontraktilitas, perubahan preload, dan perubahan afterload.
Gejala tanda mayor : Perubahan irama jantung, perubahan preload, perubahan
afterload, perubahan kontraktilitas.
Gejala tanya minor : Perubahan preload, perubahan afterload, perubahan
kontraktilitas, perilaku emosional.

Universitas Muhammadiyah Magelang


21

d. Intoleransi aktivitas (D.0056)


Definisi : Intolerasi aktivitas merupakan ketidak cukupan energi untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab : Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, tirah
baring, kelemahan, imobilitas, gaya hidup monoton.
Gejala tanda mayor : frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi sehat,
gambaran EKG menunjukkan aritmia saat atau setelah aktivitas sianosis.
Gejala tanda minor : Dispnea, merasa tidak nyaman setelah beraktivitas dan
merasa lemas.
e. Resiko perfusi serebral tidak efektif (D.0017)
Definisi : Beresiko mengalami penurunan sirkulas darah ke otak.
Penyebab : Stroke, peningkatan tekanan darah (Hipertesi), infark miokard akut
dan kurangnya aktivitas fisik.
f. Defisit Pengetahuan (D.0111)
Definisi : Kondisi ketika pasien tidak memiliki informasi atau tidak mampu
memahami informasi yang diperlukan untuk mengelola perawatan hipertensi.
Penyebab : Keterbatasan kognitif, gangguan kognitif, kurang terpapar
informasi, kurang minat dalam belajar, ketidaktahuan menemukan sumber
informasi.

2.8.3 Penentuan Prioritas

Perawatan dapat menemukan lebih dari satu diagnosis keperawatan keluarga dalam
satu keluarga. Diagnosis terdapat empat kriteria yang akan menentukan prioritas
diagnosa, setiap kriteria memiliki bobotnya masing-masing. Kriteria tersebut terdiri
dari sifat masalah, kemungkinan masalah untuk diubah dan potensial masalah
dicegah dan dan menonjolkan masalah. Setiap kriteria mempunyai skor yang
berbeda.

Universitas Muhammadiyah Magelang


22

Tabel 2. 2 Proses Skoring


No. Kriteria Nilai Bobot
Sifat Masalah
1. Skala : Aktual 3
Resiko 2 1
Keadaan sejahtera 1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala : Mudah 2
Sebagian 1 2
Tidak dapat 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
Skala : Tinggi 3
Cukup 2 1
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah
Skala : Masalah berat, harus segera ditangani 2
Ada masalah tetapi tidak ditangani 1 1
Masalah tidak dirasakan 0

Skoring :
Skor
Angka tertingi × Bobot

Nilai bobot pada skoring (1-2-1-1) merupakan suatu ketetapan yang tidak bisa
diganti dengan angka berapapun. Nilai maksimal skoring yaitu 5 (bobot maksimal
1+2+1+1=5)

Universitas Muhammadiyah Magelang


23

a. Kriteria 1
Pada kriteria 1 bobot yang lebih besar diberikan pada keadaan yang kurang
sehat karena yang pertama akan memerlukan tindakan segera yang biasanya
disadari dan dirasakan oleh keluarga.
b. Kriteri 2
Pada kriteria 2 ini terdapat kemungkinan untuk mengubah masalah. Hal ini
dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa faktor seperti berikut :
1) Pengetahuan dan teknologi yang ada untuk menangani masalah.
2) Sumber daya fisik, tantangan keuangan yang ada di dalam keluarga.
3) Sumber daya perawat yang berbentuk pengetahuan, keterampilan dan juga
waktu.
4) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas serta organisasi dalam
masyarakat.
c. Kriteria 3
Potensi masalah dapat dicegah dalam memperhatikan beberapa faktor yaitu :
1) Kerumitan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit.
2) Jangka waktu adanya masalah tersebut.
3) Tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki masalah.
4) Adanya kelompok yang memiliki kesadaran tinggi untuk mencegah
masalah.
d. Kriteria 4
Menonjolnya suatu masalah mengharuskan seorang perawat untuk menilai
persepsi mengenai bagaimana cara keluarga melihat masalah kesehatan yang
terjadi.

2.8.4 Rencana Keperawatan

1. Nyeri akut (D.0077)


a. Intervensi manajemen nyeri (I.08238)
1) Observasi
a) Identifikasi lokasi, karakteristik, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
b) Identifikasi skala nyeri

Universitas Muhammadiyah Magelang


24

c) Identifikasi respon nyeri nonverbal


d) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
e) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
f) Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
g) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
h) Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
i) Monitor efek samping penggunaan analgetik
2) Terapeutik
a) Berikan teknik nonfarmakologis untuk menurunkan rasa nyeri
(misal, TENS, hipnosis, akupresure, terapi music, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres
hangat / dingin, terapi bermain)
b) Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (misal, suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
c) Perhatikan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
3) Edukasi
a) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
b) Jelaskan strategi meredakan nyeri
c) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
d) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
e) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
4) Kolaborasi
Kolaborasikan pemberian analgetik, jika perlu
2. Gangguan pola tidur (D.0055)
a. Intervensi dukungan tidur (I.05174)
1) Observasi
a) Identifikasi pola aktivitas tidur
b) Identifikasi faktor pengganggu tidur
c) Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur
d) Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi

Universitas Muhammadiyah Magelang


25

2) Terapeutik
a) Modifikasi lingkungan
b) Batasi waktu tidur siang, jika perlu
c) Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur
d) Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan
3) Edukasi
a) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
b) Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
c) Anjurkan hindari makan dan minum yang mengganggu tidur
d) Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresor
terhadap tidur.
3. Penurunan curah jantung (D.0008)
a. Intervensi perawatan jantung (I.02075)
1) Observasi
a) Identifikasi tanda / gejala primer penurunan curah jantung
b) Identifikasi tanda / gejala sekunder penurunan curah jantung
c) Monitor tekanan darah
d) Monitor intake dan output cairan
e) Monitor saturasi oksigen
f) Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan sesudah
aktivitas
2) Terapeutik
a) Posisikan pasien semi-Flower dengan kaki kebawah atau posis
aktivitas
b) Berikan diet jantung yang sesuai
c) Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
d) Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres
e) Berikan dukungan emosional dan spiritual
3) Edukasi
a) Anjurkan beraktifitas fisik sesuai yang dianjurkan
b) Anjurkan aktifitas fisik secara bertahap

Universitas Muhammadiyah Magelang


26

c) Anjurkan berhenti merokok


d) Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan
harian
4) Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
b) Rujuk ke program rehabilitasi jantung
4. Intoleransi aktivitas (D.0056)
a. Intervensi manajemen energi (I.05178)
1) Observasi
a) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang menyebabkan kelelahan
b) Monitor kelelahan fisik dan emosional
c) Monitor pola dan jam tidur
d) Monitor lokasi dan ketidak nyamanan selama melakukan aktivitas
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis.
Cahaya, suara kunjungan)
b) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
c) Berikan aktifitas distraksi yang menyenangkan
d) Fasilitas duduk ditempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau
berjalan
3) Edukasi
a) Anjurkan tirah baring
b) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
c) Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan
tidak berkurang
d) Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
4) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
5. Resiko perfusi serebral tidak efektif (D.0017)
a. Intervensi tekanan darah (I.06198)

Universitas Muhammadiyah Magelang


27

1) Observasi
a) Identifikasi penyebab peningkatan TIK (misal, lesi, gangguan
metabolisme, edema serebral)
b) Monitor tanda dan gejala peningkatan TIK (tekanan darah
meningkat, tekanan nadi melebar, bradikardi, pola nafas irreguler,
kesadaran menurun)
c) Monitor MAP (Mean Arterial Pressure)
d) Monitor CVP (Central Venous Pressure), jika perlu
e) Monitor PA WP, jika perlu
f) Monitor PAP, jika perlu
g) Monitor ICP (Intra Cranial Pressure), jika perlu
h) Monitor CPP (Cerebral Perfusion Pressure)
i) Monitor gelombang ICP
j) Monitor status pernafasan
k) Monitor intake dan output
l) Monitor caira serebro-spinalis (misal, warna dan konsistensi)
2) Terapeutik
a) Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang
b) Hindari posisi semi fowler
c) Hindari manuver valsava
d) Cegah terjadinya kejang
e) Hindari penggunaan PEEP
f) Hindari pemberian cairan IV hipotonik
g) Atur ventilator agar PaCO2 optimal
h) Pertahankan suhu tubuh normal
3) Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian sedasi dan ati konvulsan, jika perlu
b) Kolaborasi pemberian diuretik osmosis, jika perlu
c) Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu
6. Defisit Pengetahuan (D.0111)
a. Intervensi edukasi kesehatan (I.12383)

Universitas Muhammadiyah Magelang


28

1) Observasi
a) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
b) Identifikasi faktor–faktor yang dapat meningkatkan dan
menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
2) Terapeutik
a) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
b) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
c) Berikan kesempatan untuk bertanya
3) Edukasi
a) Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
b) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
c) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat

2.9 Konsep Senam Hipertensi


2.9.1 Pengertian Senam
Senam hipertensi merupakan salah satu olahraga yang bertujuan untuk
meningkatkan aliran darah dan oksigen kedalam otot dan rangka yang aktif
khususnya otot jantung. Senam atau olahraga dapat menyuplai kebutuhan oksigen
di dalam sel yang akan meningkat menjadi energi, sehingga dapat meningkatkan
denyut jantung, curah jantung dan akan meningkatkan tekanan darah (Angkasa et
al., 2022). Senam hipertensi juga mampu mendorong jantung bekerja secara
optimal, dimana dapat meningkatkan aliran balik vena sehingga volume sekuncup
yang akan langsung meningkatkan curah jantung sehingga dapat menyebabkan
tekanan darah arteri meningkat, setelah tekanan darah arteri meningkat terlebih
dahulu, dampak dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan otot
rangka yang menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup
menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena penurunan ini mengakibatkan
penurunan curah jantung dan penurunan resistensi perifer total, sehingga terjadinya
penurunan tekanan darah (Sherwood et al., 2021).

Universitas Muhammadiyah Magelang


29

2.9.2 Manfaat
Adapun manfaat dari senam hipertensi yaitu :
1. Meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru
2. Membakar lemak yang berlebih
3. Menguatkan otot, terutama di pinggang, paha, pinggul, dan perut
4. Meningkatkan kelenturan, keseimbangan, koordinasi, dan kelincahan
5. Meningkatkan aliran darah dan suplai oksigen ke jantung
6. Merelaksasi pembuluh darah
7. Membantu menurunkan berat badan
Senam hipertensi dapat dilakukan sebagai terapi non farmakologi yang murah dan
bisa dilakukan dirumah secara mandiri (Loga et al., 2022).

2.9.3 SOP (Standar Operasional Prosedur)


Pengertian senam hipertensi yaitu :
Senam hiperteni merupakan senam ringan yang dapat dilakukan sembari bersantai
tanpa gerakan yang menguras banyak tenaga. Gerakannya banyak dilakukan pada
bagian anggota tubuh seperti tangan, kaki, dan pinggang. Selain sebagai bentuk
aktivitas fisik, senam ini bermanfaat untuk meningkatkan aliran darah suplai
oksigen ke jantung, merelaksasikan pembuluh darah, melebarkan pembuluh darah,
dan menurunkan berat badan (Wahdah et al., 2021).

Universitas Muhammadiyah Magelang


30

Tabel 2. 3 SOP (Standar Operasional Prosedur) Senam Hipertensi


Fase Orientasi 1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menyampaikan tujuan
4. Menyampaikan prosedur
5. Menanyakan kesiapan dan kontrak waktu
Tahap Kerja 1. Membaca Basmalah
2. Mencuci tangan
3. Mengukur tekanan darah pre senam hipertensi
4. Tepuk tangan 2 x 8

Sumber ; Dokumen pribad


5. Silang ibu jari 2 x 8

Sumber ; Dokumen pribadi

Universitas Muhammadiyah Magelang


31

6. Adu sisi kelingking 2 x 8

Sumber ; Dokumen pribadi

7. Adu sisi telunjuk 2 x 8

Sumber ; Dokumen priba

8. Menepuk punggung tangan 2 x 8

Sumber ; Dokumen pribadi

Universitas Muhammadiyah Magelang


32

9. Menepuk lengan dan bahu 2 x 8

Sumber ; Dokumen pribadi


10. Mengukur tekanan darah post senam hipertensi
11. Mencuci tangan setelah tindakan
Fase Terminasi 1. Melakukan evaluasi
2. Menyampaikan rencana tindakan selanjutnya
3. Mendoakan pasien
Sumber : (Ramadhani, 2020)

Universitas Muhammadiyah Magelang


33

2.10 Pathway Hipertensi

Umur Jenis Kelamin Keturunan Asupan garam Obesitas

Hipertensi

Kerusakan vaskular pembuluh darah

Naiknya tekanan darah


Perubahan struktur pembuluh darah
pada seseorang atau
anggota keluarga yang
Penyumbatan pembuluh darah
memiliki riwayat hipertensi

Makanan tidak terkontrol Vasokontriksi

Gangguan sirkulasi
Defisit pengetahuan
(D.0111)

Otak Pembuluh darah

Sistemik
Resistensi pembuluh
Pingsan vasokontriks
darah otak meningkat

Peningkatan Afterload
Resiko perfusi
serebral tidak efektif
(D.0017)
Gangguan
pola tidur Nyeri akut Penurunan Curah
Intoleransi aktivitas
(D.0055) (D.0077) Jantung (D.0008)
(D.0056)

Sumber : (Utaminingsih, 2020)

Universitas Muhammadiyah Magelang


BAB 3
METODE STUDI KASUS

3.1 Jenis Studi Kasus


Metode studi kasus ini bersifat deskriptis dalam bentuk studi kasus. Studi kasus ini
merupakan suatu pengkajian yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara
mendetail mengenai latar belakang, sifat maupun karakter yang ada dalam suatu
kasus, dengan kata lain bahwa studi kasus memberikan suatu perhatian kasus secara
intensif dan secara rinci. Studi kasus dalam metode ini dilakukan secara mendalam
terhadap suatu keadaan dan kondisi dengan cara sistematis mulai dari melakukan
pengamatan, pengumpulan data, analisasi informasi dan pelaporan hasil
(Nurfajriani et al., 2024). Tujuan dari studi kasus ini dalam keperawatan keluarga
yaitu untuk mengetahui keefektifan dari senam hipertensi untuk menurunkan tekana
darah pada penderita hipertensi.

3.2 Subyek Studi Kasus


Subyek studi kasus ini yaitu menggunakan dua klien yang sudah berusia diatas 60
tahun secara umum dengan penderita hipertensi dimana terjadi peningkatan tekanan
darah secara abnormal dan terus menerus dimana tekanan sistolik lebih dari 160
mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Penerapan senam hipertensi yang
bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pada klian penderita hipertensi.

3.3 Fokus Studi


Fokus studi kasus ini yaitu untuk memberikan asuhan keperawatan dengan
hipertensi yang tekanan sistolik dan diastolik secara konsisten di atas 160/90 mmHg
dengan pemberian asuhan keluarga terkait hipertensi ringan sampai berat pada
lansia yang akan diterapkan melalui senam hipertensi yang bertujuan untuk
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

3.4 Definisi Operasional Fokus Studi


Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran
dalam penelitian. Sedangkan cara pengukuran merupakan arah dimana variable
dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya (Untoro et al., 2023). Batasan istilah

34
Universitas Muhammadiyah Magelang
35

atau definisi operasional pada penerapan senam hipertensi untuk menurunkan


tekanan darah pada penderita hipertensi ini yaitu sebagai berikut :
3.4.1 Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan oleh darah pada dinding pembuluh
darah ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh. Tekanan darah biasanya
diukur dalam satuan milimeter merkuri (mmHg). Tekanan darah terdiri dari dua
komponen yaitu tekanan darah sistolik (atas) yang berkontraksi dan memompa
darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan darah diastolik (bawah) pada saat
jantung berelaksasi dan mengisi darah. Kondisi dimana tekanan darah di dalam
pembuluh darah terlalu tinggi, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah, jantung, ginjal, dan organ-organ lainnya, sehingga tekanan darah
sering dikaitkan dengan berbagai mekanisme penyakit salah satunya adalah
hipertensi (Iqbal et al., 2024).

3.4.2 Hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular, dimana tekanan darah yang
meningkat secara tidak normal yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih
dari 160/90 mmHg dan terjadi secara terus menerus pada saat beberapa kali
melakukan pemeriksaan. Hipertensi disebut sebagai “silent killer” karena
gejalanya sangat jarang terlihat pada tahap awal, sampai terjadi krisis medis yang
parah seperti jantung, stroke, atau penyakit ginjal kronis. Hipertensi dibagi menjadi
2 kelompok yaitu hipertensi primer (esensial) yang penyebabnya tidak diketahui,
sedangkan hipertensi sekunder yang disebabkan karena kondisi medis atau
pengobatan yang mendasari (Rizqiya et al., 2023).

3.4.3 Senam Hipertensi


Senam hipertensi adalah suatu program latihan fisik yang dirancang khusus untuk
membantu mengontrol tekanan darah dan meningkatkan kualitas hidup pada
penderita hipertensi. Senam hipertensi juga merupakan salah satu olahraga yang
bertujuan untuk meningkatkan aliran darah dan oksigen kedalam otot dan rangka
yang aktif khususnya otot jantung. Senam atau olahraga yang dilakukan seminggu

Universitas Muhammadiyah Magelang


36

selama 5 kali dalam 2 seminggu dengan waktu 20 menit, 5 menit latihan, 10 menit
gerakan latihan senam hipertensi, 5 menit gerakan pendinginan supaya bisa
menurunkan tekana darah dan dapat menyuplai kebutuhan oksigen di dalam sel
yang akan meningkat menjadi energi, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung,
curah jantung dan akan meningkatkan tekanan darah (Angkasa et al., 2022).

3.5 Instrumen Studi Kasus


Instrumen pengumpulan data yang digunakan oleh penulis yaitu :
3.5.1 Format Pengkajian
Format pengkajian keperawatan keluarga untuk mendapatakan validasi pada salah
satu masalah klien yang dialami untuk dilakukan tindakan keperawatan.
3.5.2 Format Observasi
Format observasi digunakan untuk mencatat tekanan darah klien sebelum dan
sesudah dilakukannya tindakan.
3.5.3 Lembar Persetujuan Tindakan
Lembar persetujuan tindakan yang digunakan oleh penulis dalam meminta
persetujuan dari pasien terhadap tindakan yang akan dilakukan yaitu melakukan
penerapan senam hipertensi untuk menurunkan tekanan darah.
3.5.4 Stetoskop dan Sphygmomanometer untuk pemeriksaan fisik secara
manual
Stetoskop dan sphygmomanometer ini digunakan untuk pemeriksaan fisik berupa
pemeriksaan tekanan darah sebelum dan setelah melakukan penerapan senam
hipertensi. Stetoskop juga merupakan alat bantu pemeriksaan yang umum
digunakan oleh dokter. Alat ini berfungsi untuk mendengarkan suara dari dalam
tubuh, salah satunya untuk mendengar suara detak jantung dan mendeteksi
kelainannya. Selain mendengar suara detak jantung, stetoskop juga bisa digunakan
untuk mendengarkan suara-suara lain dari dalam tubuh, misalnya bunyi pernapasan
atau bunyi usus (bising usus). Jenis dan intensitas suara-suara ini dapat membantu
dokter dalam menentukan diagnosis serta menilai kondisi pasien. Sedangkan
sphygmomanometer merupakan alat medis yang berfungsi untuk mengukur tekanan
darah dengan cara membaca sistolik dan diastolik. Untuk mengetahui tekanan darah

Universitas Muhammadiyah Magelang


37

sistolik dan diastolik perlu mendengar bunyi yang disebut korotkoff dari stetoskop
saat jarum tensimeter mulai bergerak. Angka tekanan sistolik adalah denyut
pertama yang didengar setelah jam sphygmomanometer bergerak turun. Sedangkan
tekanan diastolik adalah tekanan darah saat jantung relaksasi atau ketika menerima
darah dari tubuh.

Gambar 3. 1 Stetoskop

Gambar 3. 2 Sphygmomanometer

3.5.5 Kamera untuk mendokumentasikan


Kamera untuk pendokumentasian yang dilakukan saat kegiatan penerapan senam
hipertensi sebagai bukti bahwa penulis benar-benar telah melakukan tindakan
asuhan keperawatan.

3.6 Metode Pengumpulan Data


Menurut Yusra et al., (2021) metode pengumpulan data yaitu :
3.6.1 Wawancara
Penulis menggunakan metode ini untuk mendapatkan infomasi yang dilakukan
dengan tanya jawab secara langsung pada klien.

Universitas Muhammadiyah Magelang


38

3.6.2 Observasi dan Pemeriksaan Fisik


Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
melakukan pengamatan secara langsung. Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu
dengan cara pemeriksaan fisik head to toe untuk mengetahui masalah yang terjadi
pada klien.
3.6.3 Studi Dokumentasi
Dokumentasi dalam pengumpulan data penulis menggunakan kamera handphone
untuk melakukan dokumentasi.
3.6.4 Kegiatan Studi Kasus
Tabel 3. 1 Kegiatan Studi Kasus
No. KEGIATAN Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5
1. Melakukan wawancara dan observasi
2. 1. Melakukan pengkajian
2. Memprioritaskan diagnosa
3. Menyusun intervensi keperawatan
3. Melakukan observasi dan melakukan
implementasi
4. Mengukur tekanan darah setelah
dilakukan tindakan
5. Melakukan evaluasi
6. Dokumentasi laporan askep

3.7 Lokasi dan Waktu Studi Kasus


Lokasi kasus ini yang dilakukan pada dua orang individu atau klien di rumah
keluarga klien dengan penderita hipertensi yang dilakukan di Kabupaten Magelang
dengan penyakit hipertensi di keluarga.

3.8 Analisis Data dan Penyajian Data


Analisis data diambil dengan pengelompokan data dengan melakukan pengkajian
yang akurat terhadap pasien dan menyajikan data tiap variable yang telat diteliti
(Adi et al., 2021). Urutan dalam analisis tersebut sebagai berikut :

Universitas Muhammadiyah Magelang


39

3.8.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan
gabungan keempatnya. Hasil data yang didapat dan dikumpulkan ditulis dalam
buku catatan lapangan, disalin dalam bentuk transkip atau dicatat secara terstruktur.
Data yang dikumpulkan merupakan data pengkajian, diagnosis, perencanaan
keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi.
3.8.2 Mereduksi data
Dari hasil pengumpulan data yang telah didapat dalam bentuk catatan lapangan
dijadikan satu dalam bentuk transkrips serta dikelompokkan menjadi data subjektif
dan objektif.
3.8.3 Kesimpulan
Data dalam studi kasus yang telah dilakukan dan senam yang telah diterapkan yaitu
dengan penerapan senam hipertensi untuk menurunkan tekanan darah pada
penderita hipertensi terhadap hasil perbandingan dari sebelum dilakukan tindakan
dan sesudah dilakukan tindakan asuhan keperawatan.

3.9 Etika Studi Kasus


Etika yang mendasari penyusunan studi kasus yang terdiri dari :
3.9.1 Informed consent
Merupakan lembar persetujuan yang diberikan sebelum menjadi responden untuk
dilakukan “Penerapan Senam Hipertensi Pada Lansia Untuk Menurunkan Tekanan
Darah Tinggi Pada Penderita Hipertensi” antara peneliti dan responden dengan cara
meberikan lembar persetujuan dengan menjadi pasien agar subjek mengerti maksud
dan tujuan penelitian.
3.9.2 Anonimity
Masalah dalam etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan
hak/jaminan dalam penggunaan subjek studi kasus dengan cara tidak
mencantumkan nama partisipasi pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode
pada lembar hasil studi kasus yang disajikan.

Universitas Muhammadiyah Magelang


40

3.9.3 Confidentiality
Pada studi kasus yang dilakukan oleh petugas medis, penulis wajib merahasiakan
data yang sudah terkumpul. Penulis menjaga kerahasiaan informasi, data
dokumentasi maupun hasil serta hanya mempublikasikan data tertentu saja pada
hasil studi kasus sesuai kebutuhan dengan pemperhatikan etika studi kasus
keperawatan.
3.9.4 Non maleficence
Prinsip ini memiliki arti sebagaimana tindakan yang dilakukan pada klien tidak
menimbulkan bahaya baik secara fisik maupun psikologis. Penulis menjaga
keamanan dan berhati hati saat melakukan tindakan untuk meminimalkan bahaya
pada klien.
3.9.5 Veracity
Kejujuran merupakan sebuah nilai yang diperlukan oleh semua pemberian
intervensi untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pasien, data dan hasil yang
didapatkan setelah pemberian intervensi yang diperoleh dari setiap responden
disampaikan kebenarannya pada setiap klien seperti memberikan hasil yang di
observasikan yaitu tekanan dara dengan jujur.
3.9.6 Fidelity
Ketaatan merupakan kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya dan juga melaksanakan ketentuan pelaksanaan asuhan keperawatan
dengan tepat waktu. Penulis melaksanakan dengan tepat waktu yaitu dengan datang
langsung ke rumah pasien setiap pagi dan sore.
3.9.7 Justice
Klien berhak mendapatkan terapi yang sama dan adil, orang lain yang menjunjung
prinsip-prinsip moral, legal, dan kemanusiaan. Penulis melakukan tindakan dengan
klien secara sama dan adil tanpa membeda bedakan satu sama lain.
3.9.8 Etical clearance
Kelayakan etika yang digunakan untuk menyatakan suatu karya tulis ilmiah yang
sudah layak dilakukan dengan memenuhi syarat tertentu yang diberikan oleh komisi
etika penelitian FIKES UNIMMA.

Universitas Muhammadiyah Magelang


BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan asuhan keperawatan pada 2 klien yang telah
diuraikan diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Pengkajian
Pengkajian pada kedua klien tersebut pada tanggal 5 Mei 2025 sampai dengan 18
Mei 2025 dengan hipertensi. Data yang telah penulis kumpulkan meliputi, identitas
klien, data umum, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan sekarang, dalam
pendokumentasian penulis secara umum dapat dilaksanakan dan tidak ada
keterbatasan.
5.1.2 Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang ditegakkan pada kedua klien yaitu untuk diagnosa
yang sesuai dengan prioritas masalah Ny. S dan Tn. S yaitu resiko perfusi jaringan
serebral tidak efektif.
5.1.3 Intervensi
Intervensi yang dibuat oleh penulis untuk mengatasi tekanan darah yaitu dengan
melakukan penerapan senam hipertensi.
5.1.4 Implementasi
Penulis melakukan implementasi dengan kedua pasien yaitu penerapan senam
hipertensi yang dilakukan selama 5 hari 1 hari 1 kali pertemuan pada pagi hari
dengan waktu 20 menit.
5.1.5 Evaluasi
Evaluasi yang telah dicapai penulis pada kedua klien menunjukkan bahwa terjadi
penurunan tekanan darah klien secara stabil, hal ini terlihat dari tekanan darah klien
1 dari 175/90 menjadi 140/85 mmHg dan klien 2 dari tekanan darah 165/90 menjadi
140/85 mmHg.
Penulis mampu melakukan seluruh proses tindakan asuhan keperwatan pada kedua
klien dan didokumentasikan dalam laporan asuhan keperawatan.

70
Universitas Muhammadiyah Magelang
71

5.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan hasil karya tulis ilmiah penerapan
senam hipertensi yaitu perlu adanya dukungan keluarga dalam melakukan senam
hipertensi serta perlu dilakukan secara rutin pada klien dengan hipertensi. Adapun
saran yang penulis dapat berikan dalam berbagai pihak sebagai berikut :
5.2.1 Bagi klien dan keluarga
Diharapkan mampu mengaplikasikan manfaat dari penerapan senam hipertensi dan
keluarga dapat meningkatkan perhatian, dukungan pada klien dalam pengobatan
dan peran sebagai keluarga.
5.2.2 Bagi Masyarakat
Diharapkan mampu menambah pengetahuan dan memberikan informasi kepada
masyarakat terutama pada anggota keluarga tentang upaya menurunkan tekanan
darah pada penderita hipertensi dengan penerapan senam hipertensi secara mandiri.
5.2.3 Bagi Pelayanan Kesehatan
Diharapakan mampu memahami standar operasional prosedur penerapan senam
hipertensi dan meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan
keluarga untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
5.2.4 Bagi Pendidikan
Diharapkan mampu menambah wawasan ilmu dibidang keperawatan dalam
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan menggunakan senam
hipertensi dan menjadikan dasar penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
senam hipertensi.

Universitas Muhammadiyah Magelang


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Y., Pujiana, D., Kesehatan Prodi Ilmu Keperawatan IKesT
Muhammadiyah Palembang, F., & Kesehatan Prodi Ilmu Keperawatan IKesT
Muhammadiyah Palembang Korespondensi, F. (2023). PENGARUH SENAM
HIPERTENSI TERHADAP TEKANAN DARAH LANSIA PENDERITA
HIPERTENSI THE INFLUENCE OF GYMNASTICS HYPERTENSION ON
BLOOD PRESSURE FOR ELDERLY PEOPLE WITH HYPERTENSION (Vol. 1,
Issue 1).
Adiputra, I. M. S., Sunariati, N. L. G. I., Trisnadewi, N. W., & Oktaviani, N. P. W.
(2021). Pengaruh Senam Bugar Terhadap Tekanan Darah Lansia dengan
Hipertensi : Studi Quasi Eksperimental. Jurnal Kesehatan Vokasional, 6(4), 241.
[Link]
Akbar, F., Darmiati, D., Arfan, F., & Putri, A. A. Z. (2023). Pelatihan dan Pendampingan
Kader Posyandu Lansia di Kecamatan Wonomulyo. Jurnal Abdidas, 2(2), 392–397.
[Link]
Anggara Dwi, F. H. P. N. (2023). GAMBARAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA
LANSIA DI DESA ADISARA KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN
BANYUMAS TAHUN 2022 Khusnul Khotimah. In Jurnal Kesehatan Dan
Science: Vol. XIX (Issue 1).
Ardiansyah, M. Z., & Widowati, E. (2024). Hubungan Kebisingan dan Karakteristik
Individu dengan Kejadian Hipertensi pada Pekerja Rigid Packaging. HIGEIA
(Journal of Public Health Research and Development), 8(1), 141–151.
[Link]
Ari Loga, & Prianahatin. (2022). PENERAPAN SENAM HIPERTENSI PADA
PENDERITA HIPERTENSI.
Arisandi, Y., Medika, A., Studi DIII Keperawatan, P., & Siti Khadijah Palembang, S.
(2022). PENGARUH SENAM HIPERTENSI TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH PADA LANSIA (Vol. 7, Issue 1). [Link]
Ayu Oktaviani, G., Purwono, J., & Keperawatan Dharma Wacana Metro, A. (2023).
IMPLEMENTATION OF HYPERTENSION EXERCISE ON BLOOD

72
Universitas Muhammadiyah Magelang
73

PRESSURE PATIENTS WITH HYPERTENSION IN THE WORK AREA


PUSKESMAS PURWOSARI KEC. NORTH METRO IN 2021. Jurnal Cendikia
Muda, 2(2).
Budiman, A. A., Prastiwi, F., Rosida, N. A., & Rahmad, M. N. (2023). Upaya
Peningkatan Pengetahuan Lansia dengan Hipertensi dalam Menangani Kecemasan
dengan Relaksasi Nafas Dalam. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 6(8), 3268–3275. [Link]
Casmuti, C., & Fibriana, A. I. (2023a). Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedungmundu Kota Semarang. HIGEIA (Journal of Public Health Research and
Development), 7(1), 123–134. [Link]
Casmuti, C., & Fibriana, A. I. (2023b). Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedungmundu Kota Semarang. HIGEIA (Journal of Public Health Research and
Development), 7(1), 123–134. [Link]
Dinas Kesehatan Kota Magelang. (2022). Profil Kesehatan Kota Magelang Tahun 2021.
Dwi Sapta Aryantiningsih, Silaen, Bachrudin, & Najib. (2021). LAPORAN KARYA
ILMIAH AKHIR NERS.
Dwi Untoro, Swarjana, Notoatmodjo, & Nursalam. (2023). 5. Dwi
Untoro_202206054_KIAN_Pendidikan Profesi Ners_2023.
Dyah Fatmawaty. (2022). Penerapan Senam Hipertensi Pada Lansia Untuk
Menurunkan Tekanan Darah Di Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah Kota
Makassar Tahun 2022.
Eko Agus Chyono. (n.d.). JURNAL PENGEMBANGAN ILMU DAN PRAKTIK
KESEHATAN.
Erlianti, F., Novikasari, L., & Tri Wahyudi, W. (2022). Pengabdian Kepada Masyarakat
Terapi Komplementer Senam Hipertensi di Dusun 02 Desa Aryojipang Lempasing
Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran. Jurnal Kreativitas Pengabdian
Kepada Masyarakat (PKM), 5(12), 4558–4563.
[Link]
Ernawati, & Rumakey. (2022). Upaya Peningkatan Kesehatan Lansia Melalui Senam
Anti Hipertensi di Dusun Wanat Kecamatan Leihitu. Jurnal Abdi Masyarakat
Indonesia, 1(2), 483–490. [Link]

Universitas Muhammadiyah Magelang


74

Ertin Istiansyah Rachmawati, A. S., & Brahmantia. (2020). Pengaruh Senam Hipertensi
Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Peserta Prolanis di Wilayah Kerja
Puskemas Cidolog Kabupaten Ciamis. [Link]
Febriawati, H., Angraini, W., Fredrika, L., Fatmawati, T., Kesehatan, F. I.,
Muhammadiyah Bengkulu, U., & Al-Su’aibah Palembang, S. (2023). EDUKASI
HIPERTENSI PADA PRALANSIA DAN LANSIA DI WILAYAH KERJA UPTD
PUSKESMAS LINGKAR BARAT KOTA BENGKULU. In JPM Jurnal
Pengabdian Mandiri (Vol. 2, Issue 2). [Link]
Hitiyaut, M. (2022). Upaya Peningkatan Kesehatan Lansia Melalui Senam Anti
Hipertensi di Dusun Wanat Kecamatan Leihitu. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia,
1(2), 483–490. [Link]
Ilhami, M. W., Vera Nurfajriani, W., Mahendra, A., Sirodj, R. A., & Afgani, W. (2024).
Penerapan Metode Studi Kasus Dalam Penelitian Kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana
Pendidikan, 10(9), 462–469. [Link]
Jenderal Achmad Yani Cimahi, U., Akbar Budiana, T., & Margaretta Fakultas Ilmu dan
Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Yani, A. A. (2022). HUBUNGAN
JENIS KELAMIN DAN RIWAYAT KELUARGA DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI PADA PRA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
LEUWIGAJAH 2021. Jurnal Kesehatan Kartika, 17(1).
Juartika, W., Afrelia, D., Keperawatan Lubuklinggau Poltekkes Kemenkes Palembang,
P., & Selatan, S. (2023). PENERAPAN SENAM KEBUGARAN LANSIA
UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS LANSIA DENGAN HIPERTENSI. In
Jurnal Keperawatan Merdeka (JKM) (Vol. 3, Issue 2).
Kesehatan, J., Fakultas, M., & Kesehatan, I. (2021). EFEKTIFITAS SENAM LANSIA
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS BULU KABUPATEN SUKOHARJO NASKAH
PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program
Studi Strata I pada.
L.O, E. S., Widyarni, A., & Azizah, A. (2020). Analisis Hubungan Riwayat Keluarga
dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi di Kelurahan Indrasari Kabupaten

Universitas Muhammadiyah Magelang


75

Banjar. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(3), 1043.


[Link]
Mersada Tarigan, G. (2024). PENGARUH SENAM HIPERTENSI TERHADAP
PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI DESA BARUS JULU.
Journal of Andalas Medica JAM 2024 Journal of Andalas Medica, 2.
[Link]
M Iqbal F, M Romadinu, & Fitri. (2024). Keperawatan (D3)_40902100041_fullpdf.
Moonti, M. A., Rusmianingsih, N., Puspanegara, A., Heryanto, M. L., & Nugraha, M.
D. (2022). SENAM HIPERTENSI UNTUK PENDERITA HIPERTENSI. Jurnal
Pemberdayaan Dan Pendidikan Kesehatan (JPPK), 2(01), 44–50.
[Link]
Noviati, E., Herawati, T., Sunarni, N., Stikes, D., Ciamis, M., & Stikes, M. (2021).
PENGARUH SENAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA
LANSIA YANG MENGALAMI HIPERTENSI DI DUSUN CINTASARI
KECAMATAN PARIGI KABUPATEN PANGANDARAN.
Nur Istiqomah, A., Wahyudiantoro Syahputra, G., Yuliastuti, I., Sinta Yuliana, N.,
Laksono, R., Wulandari, T., Setiawan, C., Studi Fisioterapi, P., & Ilmu Kesehatan,
F. (2023). EDUKASI SENAM HIPERTENSI TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH TINGGI PADA LANSIA DI KANTOR PIMPINAN DAERAH
AISYIYAH BANJARSARI KOTA SURAKARTA. [Link]
[Link]/[Link]/Empowerment
Nurtika, A., Akademi, S. (, Dharma, K., & Kediri, H. (2020). HUBUNGAN
PENGETAHUAN LANSIA TENTANG SENAM LANSIA DENGAN PRAKTIK
SENAM LANSIA DI POSYANDU LANSIA. Jurnal Sehat Mandiri, 15.
[Link]
Penelitian, A., Febriana, A., Setya Ningsih, D., Studi Sarjana Keperawatan, P., Tinggi
Ilmu Kesehatan Intan Martapura, S., & Program Studi Diploma Tiga Keperawatan,
M. (2021). KOPING KELUARGA TERHADAP KEPARAHAN HIPERTENSI.
Penulis, T. (2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN KELUARGA.
[Link]

Universitas Muhammadiyah Magelang


76

Putri, H., Suryarinilsih, Y., Roza, D., Keperawatan, J., Kesehatan, P., & Padang, K.
(2024). Efektivitas Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi.
JHCN Journal of Health and Cardiovascular Nursing.
[Link]
Ramadhani. (2020). Penerapan senam Hipertensi untuk Menurukan Tekanan Darah
Pada Lansia di Wilayaha Kerja Puskemas Rejosari.
Ramadhani, A. I., Noviana, U., & Subekti, H. (2024). Hubungan antara Fungsi Keluarga
dengan Manajemen Diri Penderita Hipertensi. Jurnal Keperawatan Klinis Dan
Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal), 8(3), 191.
[Link]
Rizka Ruriyanty, N., Basit, M., Tasalim, R., Elva Nadya, H., Sakinatus, W. K., Studi
Profesi Ners, P., & Kesehatan Universitas Sari Mulia Banjarmasin, F. (2023).
EDUKASI DAN PEMBERIAN TERAPI KOMPLEMENTER JUS MENTIMUN
SELEDRI DAN MADU UNTUK MENGENDALIKAN HIPERTENSI. In JSIM)
(Vol. 5, Issue 2).
Rizqiya, M., Nur, D., & Ningrum, A. (2023). Indonesian Journal of Public Health and
Nutrition Trend Kejadian Hipertensi dan Pola Distribusi Kejadian Hipertensi
dengan Penyakit Penyerta secara Epidemiologi di Indonesia. IJPHN, 3(3), 367–
375. [Link]
Romas Adi, & Nugroho. (2021). ROMAS ADI NUGROHO (A32020092)_compressed.
Sherwood, Roni, Guyton, Stanley & Beare, & Wahdah. (2021). BAB 2 STUDI
LITERATUR 2.1 Konsep Senam Hipertensi 2.1.1 Pengertian Senam Hipertensi.
Smelizer, S. (2020). LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA HIPERTENSI.
Untuk, D., Satu, S., Dalam, S., Pendidikan, M., Sekolah, K., Ilmu, T., Karsa, K., Garut,
H., Oleh, D., & Subekti, M. (2023). ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KELUARGA Ny. I DENGAN HIPERTENSI PADA Ny. I DI KAMPUNG BULEUD
KULON RT02 RW04 DESA JATI KECAMATAN TAROGONG KALER
KABUPATEN GARUT KARYA TULIS ILMIAH SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN KARSA HUSADA GARUT PROGRAM STUDI DIPLOMA III
KEPERAWATAN 2023.

Universitas Muhammadiyah Magelang


77

Utaminingsih, Doengoes, & Brunner & Suddarth. (2020). askep2018.


Watung, G. I. V. (2024). Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Di Desa Modayag. In
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat MAPALUS Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Gunung Maria Tomohon (Vol. 3, Issue 1).
Widiya Sari, I., Kurniawati, E., Rosiana Ulfah, H., Sudono Dwi Saputro, B., Program
Studi Pendidikan Profesi Ners, D., Estu Utomo, S., & Program Studi Sarjana
Keperawatan, D. (2025). PENGARUH SUPPORT GROUP THERAPY
TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN HIPERTENSI PADA LANSIA.
Jurnal Cakrawala Keperawatan, 02(01), 1–7. [Link]
Win Martani, R., Kurniasari, G., Projo Angkasa, M., Studi Keperawatan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Pekalongan, P., & Studi Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kementrian Kesehatan Semarang Abstrak, P. (2022). PENGARUH SENAM
HIPERTENSI TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA : STUDI
LITERATURE. In Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (Vol. 13, Issue 1).
Yusra, Z., & Zulkarnain, R. (2021). JOLL 4 (1) (2021) Journal Of Lifelong Learning.
Zhara Yusra / Journal Lifelog Learning, 4(1), 15–22.

Universitas Muhammadiyah Magelang

Anda mungkin juga menyukai