1.
Seorang wirausahawan bernama Agus baru saja membuka usaha toko online dan mendapatkan
penghasilan tahunan sebesar Rp 150.000.000. Agus ingin tahu apakah ia wajib mendaftar untuk
memperoleh NPWP.
Jelaskan bagaimana Anda mengidentifikasi kebutuhan pendaftaran NPWP untuk Agus
berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Agus wajib mendaftar untuk memperoleh NPWP karena penghasilan tahunannya sebesar
Rp150.000.000 telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang ditetapkan pemerintah
sebesar Rp54.000.000 per tahun untuk wajib pajak orang pribadi lajang.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 7 Tahun 2021 (UU HPP), setiap orang pribadi yang
menerima atau memperoleh penghasilan di atas PTKP wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai identitas dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakan.
2. Siti adalah seorang karyawan yang tinggal di Jakarta dan baru saja mendapatkan pekerjaan
baru dengan penghasilan tahunan lebih dari Rp 60.000.000. Ia berniat untuk mendaftar NPWP.
Di mana sebaiknya Siti melakukan pendaftaran NPWP, dan apa saja dokumen yang perlu
dibawa?
Siti sebaiknya melakukan pendaftaran NPWP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau domisilinya, yaitu di Jakarta, atau dapat juga
mendaftar secara online melalui situs resmi Direktorat Jenderal Pajak
([Link]
Dokumen yang perlu dibawa/dilampirkan adalah:
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi WNI.
2. Surat keterangan kerja atau surat pengangkatan sebagai karyawan dari tempat kerja.
3. Formulir pendaftaran NPWP yang telah diisi dengan lengkap dan benar.
Setelah dokumen diterima, petugas pajak akan melakukan verifikasi dan menerbitkan NPWP
serta Surat Keterangan Terdaftar (SKT) sebagai bukti bahwa Siti telah resmi menjadi wajib
pajak.
3. Dalam proses pendaftaran NPWP, ada beberapa dokumen yang diperlukan. Jika seorang WNI
yang bekerja sebagai wiraswasta ingin mendaftar NPWP, dokumen apa saja yang perlu
disiapkan?
Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai wiraswasta wajib
menyiapkan beberapa dokumen pendukung saat mendaftar Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP), yaitu:
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai bukti identitas diri.
2. Surat Keterangan Usaha (SKU) dari kelurahan atau Nomor Induk Berusaha (NIB)
sebagai bukti kegiatan usaha yang dijalankan.
3. Formulir pendaftaran NPWP yang telah diisi lengkap dan benar.
Dokumen tersebut digunakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk verifikasi data dan
keabsahan usaha, sebelum menerbitkan NPWP dan Surat Keterangan Terdaftar (SKT)
sebagai bukti bahwa WNI tersebut telah resmi menjadi wajib pajak.
1. Seorang wajib pajak mendatangi kantor pajak untuk melaporkan perubahan data yang berkaitan dengan
statusnya. Untuk memastikan bahwa orang tersebut memang seorang wajib pajak yang sah, petugas pajak
perlu mengidentifikasi tanda bukti yang dimiliki oleh wajib pajak tersebut. Apa saja tanda bukti yang sah
yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi seorang wajib pajak?
Tanda bukti yang sah untuk mengidentifikasi seorang wajib pajak adalah:
1. Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) — sebagai identitas resmi wajib pajak
yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
2. Surat Keterangan Terdaftar (SKT) — sebagai bukti bahwa wajib pajak telah terdaftar
secara resmi di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan memiliki hak serta kewajiban
perpajakan.
3. Surat-surat resmi lain dari DJP, seperti Surat Pemberitahuan (SPT) atau Surat
Setoran Pajak (SSP), juga dapat menjadi bukti tambahan bahwa seseorang merupakan
wajib pajak aktif.
Dengan dokumen-dokumen tersebut, petugas pajak dapat memverifikasi keabsahan status wajib
pajak dan memastikan data yang terdaftar sesuai dengan identitas di sistem DJP.
2. Seorang wajib pajak mengalami perubahan status, dari yang semula berstatus sebagai wajib pajak
orang pribadi menjadi wajib pajak badan usaha. Sebagai petugas pajak, Anda perlu memastikan bahwa
perubahan data wajib pajak tersebut tercatat dengan benar. Apa yang harus Anda identifikasi terlebih
dahulu dalam perubahan data ini?
Dalam menangani perubahan status wajib pajak dari orang pribadi menjadi badan usaha,
petugas pajak harus terlebih dahulu mengidentifikasi dan memverifikasi data dasar wajib
pajak yang mengalami perubahan, meliputi:
1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) lama atas nama pribadi yang akan dialihkan atau
dinonaktifkan.
2. Akta pendirian badan usaha beserta pengesahan dari Kementerian Hukum dan
HAM.
3. Data identitas pemilik/pengurus badan, termasuk KTP, NPWP pribadi, dan alamat
usaha.
4. Jenis usaha dan kegiatan operasional yang dijalankan badan usaha.
Setelah data diverifikasi, petugas pajak akan melakukan pembaruan data dalam sistem DJP
dan menerbitkan NPWP baru atas nama badan usaha, serta menonaktifkan NPWP pribadi jika
sudah tidak digunakan untuk kegiatan usaha.
3. Seorang wajib pajak ingin menutup usahanya dan menghentikan kewajiban pajaknya. Apa langkah
pertama yang harus dilakukan oleh petugas pajak untuk memastikan bahwa penutupan NPWP dilakukan
dengan tepat?
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh petugas pajak dalam memastikan penutupan
NPWP dilakukan dengan tepat adalah melakukan verifikasi terhadap seluruh kewajiban
perpajakan wajib pajak.
Verifikasi ini meliputi:
1. Memastikan bahwa seluruh Surat Pemberitahuan (SPT), baik SPT Masa maupun SPT
Tahunan, telah disampaikan hingga masa terakhir kegiatan usaha.
2. Memeriksa apakah tidak ada tunggakan pajak atau sanksi administrasi yang belum
diselesaikan.
3. Memastikan tidak ada kegiatan usaha aktif berdasarkan data administrasi maupun hasil
konfirmasi lapangan.
Jika semua kewajiban perpajakan telah dipenuhi dan kegiatan usaha telah benar-benar berhenti,
maka petugas dapat memproses permohonan penghapusan atau pencabutan NPWP sesuai
ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-04/PJ/2020