TEKNIK PENULISAN SKRIPSI
PENGARUH HOPE DAN PEER PRESSURE DENGAN QUARTER
LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL
MUHAMMAD RIFKY DWISATYA
200701502094
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
MAKASSAR
2025
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 10
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 10
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 13
A. Quarter life crisis............................................................................................ 13
1. Definisi quarter life crisis ........................................................................... 13
2. Faktor-Faktor Quarter life crisis ................................................................. 15
3. Aspek-aspek quarter life crisis ................................................................... 19
B. Hope................................................................................................................ 21
1. Pengertian Hope .......................................................................................... 21
2. Aspek-aspek hope ....................................................................................... 23
C. Peer Pressure ................................................................................................. 25
1. Pengertian peer pressure ............................................................................. 25
2. Bentuk-bentuk peer pressure ...................................................................... 26
3. Aspek-Aspek Peer Pressure ...................................................................... 27
D. Hubungan hope dan peer pressure dengan quarter life crisis ................... 28
E. Kerangka pikir .............................................................................................. 31
F. Hipotesis ......................................................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 33
A. Identifikasi Variabel ...................................................................................... 33
B. Definisi Operasional Variabel ...................................................................... 33
C. Populasi dan Sampel ..................................................................................... 35
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 36
E. Teknik Analisis Data ..................................................................................... 40
F. Jadwal Perencanaan Penelitian ................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 44
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahap dewasa awal adalah tahap perkembangan manusia di mana seseorang
telah melewati masa transisi remaja ke dewasa. Masa remaja sendiri adalah
periode penuh dinamika dalam pencarian identitas diri (Sunarti, 2017).
Emerging adulthood adalah masa peralihan remaja ke dewasa, biasanya terjadi
pada individu berusia 18-25 tahun. Namun, peralihan ini tidak selalu berhenti
di usia tersebut, karena beberapa individu masih dapat mengalami krisis
peralihan hingga akhir usia 20-an. Oleh karena itu, rentang usia 18-29 tahun
sering dianggap sebagai periode peralihan (Artiningsih & Savira, 2021).
Selama prosesnya, masa peralihan memberikan dampak yang berbeda bagi
setiap individu. Banyak individu yang merasa bersemangat saat memasuki
tahap kehidupan baru (Nash & Murray, 2010).
Masa dewasa awal merupakan periode penuh kemungkinan, di mana
individu memiliki peluang untuk mengubah arah hidup mereka secara
signifikan. Pada tahap ini, terdapat dua pendekatan dalam menyikapi
kedewasaan: sebagian individu menyambut masa depan dengan penuh harapan,
sementara yang lain harus berjuang keras untuk mewujudkannya. Individu pada
tahap ini lebih rawan menghadapi krisis, karena dihadapkan pada berbagai
1
2
tuntutan yang harus diwujudkan, seperti ekspektasi dari lingkungan sosial
maupun harapan yang mereka tetapkan bagi diri sendiri. Masa dewasa awal
juga ditandai dengan dimulainya pemenuhan harapan dari orang-orang
terdekat, seperti menyelesaikan pendidikan tepat waktu, memperoleh
pekerjaan, membangun hubungan yang stabil, serta mencapai kemandirian
secara emosional dan finansial (Hasyim, Setyowibowo & Purba, 2024).
Pada fase dewasa awal, individu dihadapkan pada tuntutan untuk
mengurangi ketergantungannya pada orang tua dan berusaha mencapai
kemandirian, baik dalam aspek mental, finansial, maupun karir (Jahja, 2011).
Pada masa dewasa awal, individu mulai diharapkan untuk bertanggung jawab
atas diri mereka sendiri. Saat individu mencapai usia dewasa, individu melewati
fase eksplorasi identitas yang sering kali membawa serta masalah, emosi,
penyendiri, dan pergeseran nilai yang harus sesuaikan. Pada masa dewasa,
seseorang mengalami perubahan yang mencakup perubahan fisik, kognitif,
psikososial, dan emosional (Syifa’ussurur et al., 2021). Individu yang
sepenuhnya menerima perubahan ini merasa siap dan mampu menghadapinya.
Sebaliknya, mereka merasa cemas dan kesulitan dalam menghadapi tantangan
serta perubahan tersebut berisiko mengalami quarter life crisis (Afnan et al.,
2020).
Alexander Robbins dan Willner adalah orang pertama yang menggunakan
istilah "quarter life crisis", yang didasarkan pada teori perkembangan dewasa
3
Jeffrey Arnett. Istilah ini dicetuskan oleh Robbins dan Willner untuk merujuk
pada individu muda yang bertransisi dari remaja menuju dewasa. Menurut
Robbins dan Wilner (Lestari et al., 2022), quarter life crisis adalah masa ketika
perubahan hidup yang signifikan membuat seseorang merasa cemas, tidak
menentu, dan gugup. Kecemasan, serangan panik, keputusasaan, kebingungan
identitas, ketidakstabilan, dan rasa kehilangan diri hanyalah beberapa indikasi
yang mungkin di rasakan.
Quarter life crisis terjadi saat seseorang berada di fase dewasa awal, ragu
akan masa depan, dan terjebak dengan pilihan yang dijalani. Menurut Sujudi &
Ginting (2020), quarter life crisis merupakan reaksi intens yang terjjadi saat
orang berusia diatas 20 tahun dihadapkan pada kenyataan hidup dan perubahan
konstan yang menyertainya. Quarter life crisis menunjukkan gejala-gejala
seperti perasaan tidak berdaya, isolasi, keraguan terhadap dirinya, serta takut
menjadi kegagalan di masa akan datang seperti karir, hubungan, kebidupan
sosial dan lain-lain.
Bagi kalangan Gen Z, fenomena quarter life crisis di Indonensia
mencerminkan fase penuh tantangan emosional dan eksistensial yang umum
dialami oleh individu. Menurut artikel Kompas berjudul "Quarter life crisis,
Badai Pasti Berlalu", krisis ini sering kali dipicu oleh tekanan sosial, seperti
membandingkan pencapaian orang lain di media sosial dengan diri sendiri, serta
desakan untuk memenuhi standar kesuksesan yang ditetapkan masyarakat,
4
seperti lulus tepat waktu, memiliki pekerjaan mapan, dan menikah di usia
muda. Kondisi ini dapat menyebabkan perasaan cemas, kehilangan arah, dan
meragukan nilai diri sendiri (Gandhawangi, 2020). Sebuah survei yang
dilakukan di Indonesia oleh media daring GenSINDO terhadap responden
berusia 18 hingga 25 tahun yang terdiri atas 95% mahasiswa dan sisanya
merupakan pekerja, ditemukan bahwa mayoritas responden mengalami quarter
life crisis. Krisis tersebut dipicu oleh kecemasan terkait masa yang akan datang,
khususnya dalam aspek karir, pendidikan, dan pasangan hidup. Selain itu,
perasaan cemas tersebut turut dipengaruhi oleh kecenderungan
membandingkan diri dengan teman sebaya atau individu di lingkungan sekitar
yang dianggap lebih berhasil (Nurdifa, 2020).
Quarter life crisis merupakan krisis kehidupan hampir pasti dialami setiap
orang saat mereka dewasa. Dalam fase ini, seseorang sering merasa tidak yakin
pada diri sendiri, kehilangan kepercayaan diri, stress, takut gagal, serta cemas
berlebihan terhadap masa depan yang tidak sejalan dengan harapan. Jika
berhasil melewatinya, individu akan menjadi lebih stabil dan Tangguh dalam
menghadapi masalah hidup, serta mampu melihat bahwa perubahan yang tidak
menyenangkan kadang diperlukan untuk meraih tujuan (Fazira et al., 2023;
Permatasari, 2021).
Fenomena quarter life crisis kini menjadi isu yang semakin relevan di
kalangan generasi muda Indonesia. Perubahan sosial ekonomi dan
5
perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat telah menimbulkan
tekanan psikologis yang kompleks bagi individu usia dewasa awal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), tingkat pengangguran pada usia
20-29 tahun yaitu sebesar 22,48% dari 7,2 juta orang. Angka ini mencerminkan
tantangan signifikan yang dihadapi oleh dewasa awal dalam memasuki dunia
kerja. Ketidakstabilan dalam aspek karier adalah satu contoh pemicu
munculnya quarter life crisis.
Hasil survei First Direct tahun 2017 terhadap 2.000 orang milenial di
Inggris memperlihatkan bahwa 56% dari mereka mengalami quarter-life crisis,
dan sekitar 60% mengaku mulai mengevaluasi kehidupan mereka akibat
tekanan dari lingkungan (Putri, 2020). Sujudi & Ginting (2020) melakukan
wawancara terhadap 30 responden, dan sebagian besar merasa cemas akan
masa depan, mengalami stres akademik, serta membandingkan diri dengan
pencapaian orang lain. Penelitian Artiningsih (2021) terhadap individu dewasa
awal di Surabaya, laki-laki memiliki tingkat quarter life crisis lebih rendah
dibandingkan perempuan, meskipun kedua kelompok tersebut berada pada
rentang sedang. Perempuan cenderung lebih sering mengalami kecemasan,
tekanan akibat tuntutan dari lingkungan sekitar, serta kekhawatiran terkait
status hubungan yang mereka miliki.
Berdasarkan data awal yang diperoleh dari 34 responden melalui Google
Form, data awal tersebut menunjukkan ada banyak responden yang mengalami
6
kecemasan dan kebingungan terkait masa depan mereka. Sebanyak 61% merasa
bingung dalam menentukan tujuan hidup mereka. Terkait perbandingan dengan
teman sebaya, 52% responden merasakan adanya tekanan dari teman untuk
mencapai hal-hal tertentu dalam hidup mereka. Selain itu, 57% responden
merasa bahwa pekerjaan atau kehidupan yang dijalani saat ini tidak sesuai
harapan.
Secara keseluruhan, temuan dari data awal ini menggambarkan bahwa
kecemasan, kebingungan, dan ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan saat
ini adalah masalah bagi sebagian besar responden. Faktor-faktor seperti
perbandingan dengan teman sebaya, tekanan sosial, ketidakpastian karir,
hubungan, dan keuangan turut memperburuk kondisi emosional mereka. Stress
yang timbul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, khususnya
dalam aspek pekerjaan dan hubungan interpersonal, seringkali menjadi
penymbang terhadap munculnya quarter life crisis (Artiningsih 2021).
Menurut Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023), quarter life crisis dapat
dipicu oleh faktor internal, salah satunya the age of possibilities atau usia
kemungkinan yaitu masa ketika individu memiliki beragam pilihan hidup dan
penuh harapan akan masa depan, namun juga mulai meragukan impian jika
tidak sejalan dengan rencana sebelumnya.
Menurut Sumartha (2020) harapan merupakan kondisi kognitif dan
emosional positif pada individu. Harapan mencerminkan seberapa jauh
7
individu menilai kemampuannya dalam merumuskan tujuan yang ingin diraih,
dengan mempertimbangkan strategi untuk mencapainya dan kemampuan untuk
mempertahankan motivasi dalam melaksanakan strategi tersebut. Hope
(harapan) adalah kemampuan seseorang untuk mempersiapkan solusi dalam
upaya meraih tujuan meskipun ada halangan atau hambatan, serta memiliki
motivasi untuk mencapai tujuan tersebut (Snyder, 2002). Menurut Carr (2004)
menyatakan bahwa hope adalah kondisi intelektual positif yang ditandai dengan
keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya adalah mencapai tujuan yang
ingin diraih di masa depan
Individu pada usia remaja akhir hingga dewasa awal kerap mengalami
tekanan psikologis akibat tuntutan dan ketidakpastian hidup. Masa ini ditandai
oleh pencarian jati diri, pilihan karier, dan upaya meraih kemandirian yang
berisiko memicu quarter life crisis. Salah satu pemicu yang mampu membantu
menghadapi kondisi ini adalah hope atau harapan, yakni kekuatan psikologis
yang menjaga fokus pada tujuan, mendorong pencarian solusi, dan
mempertahankan motivasi di tengah kesulitan (Hedo & Simarmata, 2023).
Harapan memiliki hubungan negatif dengan kecemasan, keputusasaan, dan
depresi (Magaletta & Oliver, 1999). Hope juga berkaitan dengan quarter life
crisis, dimana individu menghadapi berbagai tantangan hidup, dan respons
yang muncul adalah kebingungan, kecemasan, keputusasaan, serta kehilangan
8
harapan, maka kemungkinan besar orang tersebut mungkin mengalami periode
emosi yang besar dan berujung pada masalah quarter life crisis (Murphy, 2011).
Menurut penelitian Adharina (2022) hope dan quarter life crisis pada
dewasa awal berkolerasi negatif secara signifikan. Semakin tinggi harapan,
semakin rendah tingkat quarter life crisis. Penemuan serupa juga diungkapkan
oleh Setiawan dan Milati (2022), menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif
yang signifikan antara hope dan quarter life crisis. Penelitian Sumartha (2020)
menjelaskan bahwa hope (harapan) dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi
quarter life crisis. Penelitian Harapan membantu individu untuk semakin
disiplin dalam memecahkan masalah dan dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya quarter life crisis. Ini menunjukkan harapan merupakan salah satu
cara individu mengatasi krisis kehidupan, seperti quarter life crisis.
Selain faktor internal, Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023)
mengungkapkan beberapa faktor eksternal, salah satu faktor eksternalnya
adalah hubungan teman, keluarga dan asmara. Hubungan sosial yang terkait
dengan quarter life crisis adalah peer pressure.
Menurut brown (Lailatuzzahro, 2024) peer pressure adalah pengaruh atau
tekanan yang datang dari pergaulan sebaya untuk mengikuti perilaku atau
tindakan tertentu yang dianggap penting atau diinginkan dalam kelompok sosial
tersebut. Salah satunya berupa tekanan, baik tekanann sosial maupun tekanan
psikologis. Menurut Santrock, peer pressure adalah Tekanan dari organisasi dan
9
tuntutan agar individu berperilaku dan berpikir dengan cara tertentu agar
diterima (Santrock, 2011). Peer pressure adalah suatu kondisi ketika seseorang
merasa dipaksa oleh teman-temannya untuk melakukan sesuatu yang
sebenarnya tidak diinginkan atau diantisipasi. Tujuan dari tekanan ini adalah
untuk membantu seseorang beradaptasi dan diterima oleh kelompok sosial
tertentu (Cakrawardana, 2019).
Penelitian Lailatuzzahro (2024) mengungkapkan bahwa quarter life crisis
memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan tekanan teman sebaya.
Sebaliknya, Riyanti (2024) menemukan bahwa tekanan teman sebaya
berkorelasi negatif terhadap quarter life crisis.
Dari uraian dan fenomena yang telah dipaparkan, Penelitian mengenai
fenomena quarter life crisis telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Namun, berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya hanya mengaitkan
satu variabel dan beberapa menggunakan subjek mahasiswa akhir, penelitian
ini menggunakan variabel yaitu hope dan peer pressure dengan subjek berusia
23–29 tahun. Rentang usia tersebut dipilih karena individu pada tahap ini
umumnya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, mulai memasuki dunia kerja,
menghadapi tuntutan finansial, serta mempertimbangkan kehidupan
pernikahan dan keluarga. Kondisi yang sangat erat dengan gejala quarter life
crisis. Hope merepresentasikan harapan dan motivasi individu dalam meraih
tujuan hidup, sedangkan peer pressure mencerminkan tekanan dari lingkungan
10
sebaya yang dapat memengaruhi kestabilan emosi dan arah hidup. Dengan
demikian, penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih jauh bagaimana kedua
faktor tersebut terhadap quarter life crisis pada dewasa awal.
B. Rumusan Masalah
Merujuk pada uraian masalah yang telah disampaikan, maka permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirangkum dalam pertanyaan berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh antara hope dengan quarter life crisis pada
dewasa awal?
2. Apakah terdapat pengaruh antara peer pressure dengan quarter life crisis
pada dewasa awal?
3. Apakah terdapat pengaruh antara Hope dan peer pressure dengan quarter
life crisis pada dewasa awal?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan jawaban atas
permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya. Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh antara hope dengan quarter life crisis pada
dewasa awal
2. Untuk mengetahui pengaruh antara peer pressure dengan quarter life crisis
pada dewasa awal
11
3. Untuk mengetahui pengaruh antara hope dan peer pressure dengan quarter
life crisis pada dewasa awal
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis
maupun praktis, yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data dan sumber baru,
terutama di bidang psikologi sosial dan perkembangan. Selain itu,
penelitian ini juga akan membantu pembaca dan akademisi memahami
pengaruh hope dan peer pressure dengan quarter life crisis pada dewasa
awal.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi mahasiswa
Pada penelitian ini diharap menjadi pedoman dan membantu mahasiwa
memahami pentingnya memiliki sikap keyakinan serta dorongan untuk
terus memperbaiki kualitas hidup disertai motivasi dalam menghadapi
setiap permasalahan yang dialami terlebih pada mahasiswa akhir
b. Bagi individu dewasa awal
Melalui penelitian ini, diharapkan individu dalam fase dewasa awal
memperoleh wawasan mengenai pentingnya menjaga harapan hidup
12
yang positif serta membangun kemampuan untuk mengelola tekanan
sosial dari lingkungan sekitar.
c. Bagi Peneliti
Temuan dari studi ini diharapkan berguna sebagai landasan ilmiah bagi
pihak-pihak yang tertarik menelusuri lebih lanjut keterkaitan antara
hope, peer pressure dengan quarter life crisis pada dewasa awal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Quarter life crisis
1. Definisi quarter life crisis
Menurut Robbins dan Wilner (Lestari et al., 2022), quarter life crisis
adalah satu periode yang ditandai oleh ketidakpastian, ketidakstabilan, serta
kecemasan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan besar dalm
kehidupan. Pada tahap ini, individu dapat mengalami berbagai gejala seperti
kecemasan, serangan panik, depresi, kebingungan identitas, ketidakstabilan
emosional, hingga kehilangan jati diri. Menurut Nicole dan Carolyn (2011)
quarter life crisis adalah keadaan ketika seseorang mengalami
ketidakstabilan yang disebabkan oleh situasi stagnan, disertai dengan
berbagai perubahan besar, yang menyebabkan mereka merasa cemas dan
tidak berdaya.
Fischer (Anggraeni & Hijrianti, 2023) menyatakan bahwa quarter life
crisis ialah perasaan resah akan kejadian di masa yang akan datang,
biasanya dirasakan pada usia sekitar 20-an, yang meliputi ketidakpastian
dalam relasi, karier, dan kehidupan sosial, serta kebingungan dan
kekecewaan identitas. Blake (Murphy, 2011) mengatakan quarter life crisis
adalah periode gejolak emosi dan ketidakpastian yang sering terjadi ketika
seseorang beralih dari masa remaja ke masa dewasa. Krisis ini ditandai
13
14
dengan perasaan bingung, cemas, dan tidak puas dengan kemajuan hidup
seseorang, serta mempertanyakan identitas, tujuan, dan masa depan
seseorang.
Menurut Agustin (2012) menjelaskan bahwa quarter life crisis
merupakan reaksi psikologis yang berlangsung antara usia 18-29 tahun
sebagai akibat dari ketidakstabilan hidup, perubahan yang konstan, dan
banyaknya keputusan yang perlu diambil. Kondisi ini umumnya datang
setelah individu menyelesaikan jenjang kuliah, dengan ditandai oleh gejala
seperti perasaan panik, frustrasi, kekhawatiran, kehilangan arah, serta rasa
tidak berdaya (sense of helplessness), depresi atau gangguan psikologis
lainnya. Olson-Madden (2007) menjelaskan bahwa individu kerap
menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah fase yang dikenal
sebagai quarter life crisis. Fase ini ditandai oleh keinginan untuk
mewujudkan harapan dan impian orang tua, membangun karir,
mengembangkan karakter diri yang diingkan, pasangan hidup, serta
membangun kestabilan emosi.
Berdasarkan beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa quarter life
crisis merupakan perubahan hidup yang signifikan, termasuk dalam
hubungan, pekerjaan, dan identitas diri, menyebabkan ketidakpastian,
ketidakstabilan emosi, dan kecemasan selama masa transisi remaja menuju
dewasa. Gejala psikologis seperti kecemasan, keputusasaan, disorientasi,
dan ketidakberdayaan sering kali disebabkan ketika seseorang mulai
15
mempertanyakan tujuan dan arah hidup. Kondisi ini biasanya dialami
setelah individu menyelesaikan pendidikan dan mulai menghadapi tuntutan
serta tanggung jawab kehidupan dewasa secara nyata.
2. Faktor-Faktor Quarter life crisis
Menurut Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023) faktor yang
memengaruhi terjadinya quarter life crisis diklasifikasi kedalam dua
kategori, yakni internal dan eksternal. Faktor Internal terdiri atas lima
faktor, yaitu:
1) Instability
Instability artinya individu pada titik ini akan terus mengalami
transformasi. Beberapa faktor, termasuk perubahan gaya hidup. Seorang
anak berusia 21 tahun pada tahun 1970 telah menikah, disibukkan
dengan memulai sebuah keluarga, pendidikan, bekerja, dan sebagainya.
Individu mulai memiliki prioritas lebih terutam pada akademik, mencari
pekerjaan, masalah kemandirian, dan hal-hal lain sekitar usia 21 tahun.
Hasil dari penyesuaian ini adalah individu tersebut menjadi selalu siap
untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak berjalan sesuai
keinginan.
2) Being self-focuse
Being self-focused artinya individu mulai berusaha tanpa bantuan dari
orang lain. Dimulai dengan belajar bertanggung jawab dan membuat
16
keputusan sendiri, serta kesiapan berkembang menuju kedewasaan.
Memilih perguruan tinggi, karier, menyeimbangkan pekerjaan dan
kuliah, melanjutkan pendidikan atau putus sekolah lebih awal,
menentukan apakah jurusan yang dipilih sesuai dengan keinginan, dan
keputusan sulit lainnya, semuanya akan memengaruhi masa depan
seseorang. Individu yang membuat pilihan tetap memiliki keputusan
akhir, meskipun orang lain terlibat dalam proses tersebut.
3) Identity exploration
Identity exploration adalah momen ketika seseorang secara resmi
memulai perjalanan menuju kedewasaannya. Orang-orang akan fokus
mempersiapkan masa depan, seperti menemukan cinta dan karier,
sambil mencari dan mengeksplorasi jati diri ideal mereka. Individu akan
mulai mempertimbangkan topik-topik yang sebelumnya tidak terlalu
mereka pikirkan.. Karena, seseorang pada akhirnya akan menjadi lebih
sadar akan pilihan hidupnya berkat pencarian identitas dirinya, tindakan
melakukan hal tersebut sering membuat seseorang merasa tidak nyaman
dan minder.
4) The age of possibilities
The age of possibilities artinya setiap individu memiliki pilihan berbeda
dalam hal karier, pasangan hidup, dan ideologi kehidupan. Adanya
harapan untuk mencapai keberhasilan pada masa depan,menjadikan
individu akan benar-benar optimis, terlebih tentang masa depannya.
17
Salah satu aspek terpenting dari kehidupan seseorang adalah impian dan
harapan mereka. Individu tersebut kemudian akan mulai meragukan
tujuan dan keinginannya untuk masa depan karena ia takut itu tidak akan
menjadi kenyataan karena rencana sebelumnya belum sesuai dengan
yang diinginkan.
5) Feeling in between.
Feeling in between artinya individu berada ditahap antara remaja dan
dewasa. pada masa ini, di mana untuk menjadi dewasa diperlukan
sejumlah persyaratan. Terkadang individu percaya bahwa mereka bukan
lagi remaja, tetapi di sisi lain, mereka percaya bahwa mereka belum
mencapai tingkat kedewasaan untuk bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap diri mereka sendiri, membuat keputusan, dan mandiri secara
finansial.
Adapun faktor eksternal terdiri dari tiga bagian, yaitu
1) Tantangan dalam bidang akademik,
Individu mungkin merasa bidang yang mereka minati selama masa
sekolah tidak cocok. Mereka akan mulai mengajukan pertanyaan yang
"menantang" selama periode quarter life, yang dapat menyebabkan
mereka mengubah program studi mereka. Selama karier akademis
mereka, seseorang mungkin merasa bahwa bidang yang mereka minati
selama sekolah tidak cocok untuk mereka. Oleh karena itu, mereka akan
mulai bertanya lebih banyak, yang dapat menyebabkan mereka
18
mengubah arah studi akademis mereka. Selain itu, karena ada banyak
individu yang bingung untuk melanjutkan pendidikan tinggi
mempunyai beberapa alasan, seperti tuntutan sosial, kebutuhan
keluarga, keuangan, dan lainnya.
2) Hubungan dengan keluarga, teman, dan asmara
Tahap ini, individu mempertanyakan kesiapan dalam membangun
hubungan jangka panjang, seperti pernikahan, serta munculnya
keinginan untuk menjalin relasi dengan lawan jenis. Rasa tanggung
jawab juga berkembang seiring kesadaran untuk tidak terus bergantung
pada orang tua, meskipun kemandirian finansial belum sepenuhnya
tercapai. Di sisi lain, individu mulai mencari keseimbangan antara
menjadi diri sendiri dan membentuk hubungan sosial yang bermakna.
3) Kehidupan pekerjaan dan karier.
Dalam Kehidupan pekerjaan dan karir, beberapa individu meyakini
bahwa pendidikan di jenjang perguruan tinggi belum sepenuhnya
mempersiapkan mereka secara emosional untuk menghadapi dunia
kerja. Dinamika lingkungan kerja yang menuntut dan kompetitif
menyebabkan stres bagi banyak orang. Selain itu, orang-orang
seringkali kesulitan memutuskan apakah akan mengejar karier yang
sesuai potensi dan minat mereka atau karier yang dituntut oleh
lingkungan sekitar.
19
3. Aspek-aspek quarter life crisis
Terdapat tujuh kompononn dalam quarter life crisis sebagaimana
dijelaskan oleh Robbins dan Wilner (sumartha, 2020), yakni:
1) Kebimbangan dalam mengambil Keputusan
Beragam pilihan hidup muncul pada usia dewasa turut membentuk
berbagai harapan mengenai masa depan. Namun, dalam beberapa kasus,
harapan tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan bahkan
ketakutan yang berlebihan. Tingkat kecemasan ini sering kali
dipengaruhi oleh keterbatasan pengalaman yang dimiliki serta
kekhawatiran dalam pengambilan keputusan yang dianggap berpotensi
menimbulkan konsekuensi.
2) Khawatir terhadap hubungan interpersonal
Salah satu unsur penting dalam tahap dewasa adalah kemampuan
individu salam membina hubungan dengan lawan jenis. Di Indonesia,
menikah sebelum usia tiga puluh merupakan tradisi yang sangat umum
dan seringkali membuat orang merasa gugup dan cemas. Mereka mulai
mempertanyakan kesiapan untuk menikah, termasuk apakah pasangan
saat ini mendampingi ialah sosok yang pasti sebagai teman hidup, atau
perlu mencari pasangan yang sesuai. Selain itu, individu juga
dihadapkan pada kekhawatiran lain, yaitu bagaimana menyeimbangkan
hubungan dengan teman, keluarga, pasangan, serta tuntutan karier
secara bersamaan.
20
3) Rasa cemas
Individu mengalami kecemasan dan kekhawatiran karena takut tidak
mampu memenuhi harapan dan mencapai impian yang diinginkan.
Ketakutan akan kegagalan yang belum tentu terjadi ini menimbulkan
perasaan tidak aman dan kecemasan yang berlebihan.
4) Perasaan tertekan
Tekanan yang dirasakan individu membuat permasalahan yang dihadapi
terasa semakin berat, sehingga mengganggu aktivitasnya karena merasa
terbebani. Kegagalan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup pun
menimbulkan penderitaan batin yang mendalam.
5) Penilaian diri negatif
Penilaian diri negatif dapat memicu munculnya rasa takut akan
kegagalan dan kecemasan. Individu dengan pandangan tersebut
terhadap dirinya cenderung meragukan kemampuan pribadi dan terus
mempertanyakan kapasitasnya dalam menghadapi tantangan hidup.
Selain itu, mereka sering merasa seolah-olah hanya dirinya yang
kesulitan yang kemudian menimbulkan perasaan kesepian dan
membuatnya memandang diri lebih rendah dibandingkan orang lain
khususnya ketika belum mencapai pencapaian seperti yang diraih oleh
teman-temannya.
6) Perasaan terjebak dalam situasi sulit
21
Lingkungan memiliki peran penting sebagai pondasi dalam membentuk
cara berpikir dan berperilaku individu, serta turut mempengaruhi proses
pengambilan keputusan. Dalam menghadapi pilihan yang kompleks
individu kerap mengalami keseimbangan, saya merasa sulit untuk
memilih satu keputusan, namun juga enggan mengabaikan alternatif
lain. Dalam kondisi yang menantang ini, individu seringkali menyadari
apa yang seharusnya dilakukan, namun mengalami kesulitan dalam
menentukan langkah awal untuk menghadapinya.
7) Perasaan putus asa
Ketidakpuasan terhadap hasil yang dicapai dapat memunculkan
perasaan putus asa dan kegagalan terutama ketika individu merasa tidak
mampu mewujudkan harapan serta impian yang telah direncanakan.
Kondisi ini dapat menyebabkan individu mengabaikan tujuannya
sebelumnya ingin terus dikembangkan, akibat munculnya perasaan
tidak berdaya dan kehilangan keyakinan terhadap kemampuannya
sendiri.
B. Hope
1. Pengertian Hope
Hope atau harapan merupakan keadaan kognitif dan emosional positif
yang mencerminkan sejauh mana individu yakin dapat meraih tujuan
tertentu melalui strategi dan motivasi yang dimiliki (Snyder, 2002). Secara
22
umum hope adalah kondisi intelektual positif yang ditandai dengan
keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya adalah mencapai tujuan
yang ingin diraih di masa depan (Carr, 2004). Menurut Sumartha (2020)
Harapan merupakan kondisi kognitif dan emosional yang bersifat positif.
Harapan mencerminkan sejauh mana individu menilai kemampuannya
dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, dengan memperhitungkan
strategi yang diperlukan untuk mencapainya serta kemampuan untuk
mempertahankan motivasi dalam menjalankan strategi tersebut.
Julianto, Cahayani, Sukmawati dan Aji (2020) mengatakan harapan
dapat dipahami sebagai aktivitas kognitif yang melibatkan penguatan tekad
dan perencanaan langkah yang disiapkan untuk mencapai tujuan yang
diinginkan titik selain itu, harapan memiliki pengaruh signifikan terhadap
tingkat kebahagiaan individu. Urrahmah (2024) berpendapat bahwa hope
merupakan kecenderungan atau keyakinan emosional positif seseorang
bahwa tujuan-tujuan yang diinginkan dapat dicapai dan bahwa peristiwa-
peristiwa di masa depan akan memiliki hasil yang baik. Linley & Joseph
(2004) berpendapat harapan menunjukkan bagaimana seseorang melihat
kemampuan mereka untuk merumuskan tujuan (goal), yang jelas,
mengembangkan strategi untuk mencapainya (pathways), dan
mempertahankan keinginan untuk menerapkan strategi tersebut (agency
thinking).
23
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli, disimpulkan bahwa harapan
(hope) adalah suatu kondisi kognitif dan emosional positif yang
mencerminkan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam
menetapkan tujuan, merancang strategi pencapaian, serta mempertahankan
motivasi untuk mewujudkannya. Harapan bukan hanya berperan sebagai
dorongan dalam menghadapi tantangan, tetapi juga berfungsi sebagai
mekanisme kontrol diri, pemecahan masalah, dan penopang kesehatan
mental. Dengan adanya harapan, individu dapat tetap fokus pada tujuan dan
memiliki pandangan optimis terhadap masa depan, sehingga harapan turut
berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis.
2. Aspek-aspek hope
Snyder (2002) mengemukakan bahwa harapan memiliki tiga aspek yakni
goal, pathway thinking, dan agency thinking.
1) Goal
hasil yang diharapkan yang dicapai melalui serangkaian proses mental
yang menghasilkan elemen kognitif yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan tersebut disebut goal. Goal berfungsi objek dari rangkaian proses
mental yang dilakukan individu untuk mencapainya. Goal dapat
memiliki beberapa rentang waktu, dari jangka pendek hingga jangka
panjang, dan dapat diungkapkan secara verbal maupun visual. Selain
itu, tujuan dapat bervariasi dalam tingkat kejelasannya, dengan tujuan
24
yang kurang spesifik cenderung lebih sulit tercapai dalam pola pikir
individu yang memiliki harapan tinggi. tujuan juga harus memiliki nilai
cukup besar untuk mendasari pemikiran sadar yang berkelanjutan
mengenai pencapaiannya.
2) Pathways Thinking
Pathway Thinking menunjukkan bahwa seseorang dapat mengetahui
cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pathway thinking
merujuk pada perencanaan dan strategi yang digunakan individu untuk
mencapai tujuan. Ini melibatkan kemampuan individu untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi berbagai pilihan dan tindakan yang
dapat mereka ambil untuk mencapai tujuan mereka. Ketika menghadapi
rintangan dan mencari solusi yang luar biasa, orang dengan tingkat jalan
yang tinggi lebih suka berpikir secara fleksibel, kreatif, dan adaptif.
3) Agency Thinking
Proses untuk mencapai tujuan ini dikenal sebagai Agency thinking dan
ini memerlukan pertimbangan terhadap diri sendiri sebagai individu
yang memiliki kapasitas untuk merancang atau membangun metode
(jalur) yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Agensi
yaitu merujuk pada energi yang diarahkan pada tujuan. Ini melibatkan
keyakinan individu bahwa mereka memiliki memiliki kapasitas dan
wewenang untuk mencapai hasil yang diinginkan. Orang yang memiliki
tingkat agensi tinggi cenderung memiliki motivasi kuat, yakin bahwa
25
mereka memiliki kendali atas tindakan mereka, dan yakin bahwa
mereka dapat mengatasi rintangan yang mungkin timbul dalam
mencapai tujuan mereka.
C. Peer Pressure
1. Pengertian peer pressure
Menurut Clasen & Brown (1987) menjelaskan bahwa peer pressure
adalah tekanan yang diberikan oleh teman sebaya yang dapat menimbulkan
dorongan untuk mengikuti kehendak orang lain yang berada dalam
kelompok umur yang sama. Tekanan teman sebaya adalah tekanan sosial
yang dihadapi anggota suatu kelompok untuk berperilaku dan berpikir
dengan cara tertentu agar mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari
teman sebayanya. (Khadafi, 2014). Menurut Lailatuzzahro (2024) peer
pressure adalah tekanan sosial dari teman sebaya yang akan menimbilkan
perasaan tertekan karena paksaan dari orang lain untuk melakukan kegiatan
atau aktivitas yang sama dan memenuhi harapan dari orang lain
Peer pressure adalah Tekanan dari teman untuk melakukan sesuatu
yang tidak sesuai atau tidak diinginkan dengan harapan individu. Tekanan
ini muncul sebagai bentuk dorongan agar individu dapat menyesuaikan diri
dengan kelompok tertentu dan diterima sebagai bagian dari kelompok
tersebut (Rihtarić & Kamenov, 2013). Menurut Santrock, tekanan dari
organisasi dan tuntutan agar individu berperilaku dan berpikir dengan cara
26
tertentu agar diterima disebut peer pressure (Santrock, 2011). Menurut
Riyanti (2024) peer pressure merupakan Penilaian individu terhadap
tekanan yang diberikan suatu kelompok. Kesan ini menunjukkan seberapa
besar tekanan yang dihadapi orang lain dan seberapa besar dampak tekanan
tersebut terhadap mereka.
Berdasarkan berbagai definisi dari para ahli disimpulkan bahwa peer
pressure adalah bentuk tekanan yang berasal dari teman atau individu
dengan usia relatif sama, yang menyebabkan individu merasa terdorong
atau terpaksa untuk menyesuaikan diri baik dalam pola pikir maupun
perilaku, agar dapat diterima oleh kelompok tersebut. Tekanan ini dapat
menimbulkan perasaan tertekan, tidak nyaman, hingga konflik batin,
tergantung pada sejauh mana individu merasa harus memenuhi tuntutan dari
lingkungan sosial sebaya.
2. Bentuk-bentuk peer pressure
Menurut Santrock (2016) menjelaskan bahwa tekanan dari teman
sebaya dapat terbagi menjadi dua bentuk, yakni tekanan yag bersifat positif
dan tekanan yang bersifat negatif.
1) Peer pressure positif mengacu pada tekanan atau dorongan dari
teman sebaya untuk berperilaku dengan cara yang menguntungkan
kedua belah pihak. Tekanan semacam ini dapat memotivasi
seseorang untuk mencapai potensi penuhnya, memperluas
27
pengetahuan dan pengalaman, menerapkan nilai-nilai keadilan dan
kesetaraan, menerima perbedaan pendapat, serta meningkatkan
keterampilan sosial dan kesadaran mereka terhadap situasi teman
sebaya.
2) Peer pressure negatif mengacu pada tekanan atau dorongan teman
untuk bertindak dengan cara yang merugikan diri sendiri atau orang
lain. Akibat tekanan ini, seseorang dapat melakukan perilaku
maladaptif termasuk penyalahgunaan zat, alkoholisme, menyontek,
mencuri, membolos, dan pelanggaran norma serta peraturan
masyarakat lainnya.
3. Aspek-Aspek Peer Pressure
Brown & Clasen (Maulidya, 2023) menyebutkan aspek peer pressure
sebagai berikut:
a) Peer Involvement yaitu dorongan untuk bergabung dengan
kelompok teman sebaya.
b) School Involvement yang mengacu pada tekanan untuk terlibat
dalam hubungan atau berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan
ekstrakurikuler di sekolah.
c) Family Involvement yaitu tekanan untuk mengambil bagian dalam
aktivitas atau kegiatan bersama keluarga.
28
d) Conformity to Peer Norms yang mengacu pada tekanan untuk
berperilaku, terlibat dalam kegiatan, atau menjalani gaya hidup yang
sesuai dengan norma teman sebaya.
e) Misconduct yang mengacu pada tekanan untuk melanggar norma
dan hukum sosial.
D. Hubungan hope dan peer pressure dengan quarter life crisis
Masa dewasa awal atau emerging adulthood merupakan fase rentan
terhadap krisis, karena individu pada tahap ini sering kali belum merasa
sepenuhnya dewasa. Ketidakpastian dalam menjalani tugas perkembangan
dapat memunculkan perasaan negatif, seperti putus asa dan kebingungan arah
hidup, yang berujung pada quarter life crisis (Atwood & Scholtz, 2008).
Alexander Robbins dan Abby Wilner memperkenalkan Istilah “quarter life
crisis” berdasarkan teori perkembangan dewasa yang dikemukakan oleh
Jeffrey Arnett. Konsep ini merujuk pada fase transisi yang dialami oleh individu
setelah menyelesaikan masa remaja dan memulai tahap awal kehidupan
dewasa. Menurut Robbins dan Wilner dalam (Lestari et al., 2022), quarter life
crisis merupakan periode ketidakpastian, ketidakstabilan, dan kecemasan yang
muncul sebagai respons terhadap perubahan besar dalam kehidupan, seperti
pilihan karier, relasi, dan arah hidup. Individu yang mengalami fase ini dapat
menunjukkan berbagai gejala, termasuk kecemasan, serangan panik, depresi,
kebingungan identitas, ketidakstabilan emosional, serta perasaan kehilangan
29
jati diri. Oleh karena itu, penting memahami quarter life crisis sebagai bagian
dari perjalanan psikologis individu dalam konteks perkembangan dewasa awal.
Quarter life crisis yang dirasakan seseorang dipengaruhi sejumlah hal,
Seperti hope individu terhadap masa depan dan peer pressure yang dapat
memengaruhi keputusan dan arah hidup individu selama masa transisi menuju
kedewasaan (Anggraeni & Hijrianti, 2023). Salah satu yang faktor yang
berpotensi memicu munculnya quarter life crisis adalah hope (harapan).
Menurut Magaletta dan Oliver (1999), hope merupakan sekumpulan proses
kognitif yang mencerminkan kemampuan individu dalam mengontrol diri,
menghargai diri sendiri, memecahkan masalah, serta mengelola stres.
Komponen-komponen ini menjadikan hope sebagai faktor penting dalam
menjaga kesehatan mental individu.
Murphy (2011) menambahkan bahwa rendahnya tingkat harapan pada
individu memiliki kaitan erat dengan pengalaman quarter life crisis karena
cenderung merespons tantangan hidup dengan kebingungan, kecemasan,
keputusasaan, hingga kehilangan arah, yang dapat mengarah pada gangguan
emosional dan psikologis yang khas dari quarter life crisis. Oleh karena itu,
hope berperan sebagai pelindung (protective factor) dalam membantu individu
menghadapi masa transisi kehidupan dewasa awal secara lebih adaptif.
Urrahmah (2024) melakukan penelitian yang mengungkapkan adanya
korelasi negatif antara hope dan quarter life crisis, di mana individu dengan
30
tingkat harapan yang tinggi cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk
mengalami quarter life crisis. Hasil ini diperkuat dengan penemuan Adhrina
(2022) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi harapan seseorang maka
semakin rendah potensi mereka mengalami quarter life crisis.
Selain hope, salah faktor yang juga berpotensi mempengaruhi timbulnya
quarter life crisis adalah peer pressure. Pada dewasa awal, individu cenderung
menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap ekspektasi sosial dan
perbandingan diri dengan pencapaian orang lain. Menurut Santrock, peer
pressure adalah Tekanan dari organisasi dan tuntutan agar individu berperilaku
dan berpikir dengan cara tertentu agar diterima (Santrock, 2011). Menurut
Riyanti (2024) peer pressure merupakan Penilaian individu terhadap tekanan
yang diberikan suatu kelompok. Kesan ini menunjukkan seberapa besar
tekanan yang dihadapi orang lain dan seberapa besar dampak tekanan tersebut
terhadap mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Lailatuzzahro (2024) menunjukkan adanya
hubungan positif yang signifikan antara quarter life crisis dan peer pressure, di
mana semakin tinggi tekanan dari teman sebaya, semakin tinggi juga quarter
life crisis yang dialami oleh individu. Hasil penelitian ini selaras dengan
penelitian Maslakha (2022), yang mengidentifikasi hubungan yang signifikan
secara positif antara peer pressure dan quarter life crisis. Hasil dari kedua
penelitian tersebut mengindikasikan bahwa tekanan dari lingkungan sebaya
31
dapat menjadi faktor risiko dalam meningkatnya krisis identitas dan
kebingungan hidup pada dewasa awal, sehingga individu menjadi rentan
berdampak quarter life crisis.
E. Kerangka pikir
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disusun suatu
konsep yang akan menjadi acuan dalam penelitian ini. berlandaskan pada
kerangka teori yang telah dijelaskan di atas, berikut bangan untuk kerangka
piker sebagai berikut:
32
Dewasa Awal
Peer Pressure (X2) aspek aspek
Hope (X1) aspek-aspek
peer pressure menurut Brown
hope menurut snyder (2002) dan Clasen (Maulidya, 2023)
yaitu : yaitu :
a. Goal a. Peer involvement
b. Pathway thinking b. School involvement
c. Agency thinking c. Family involvement
d. Conformity to peer
norms
e. misconduct
Quarter life crisis (Y) aspek-aspek quarter life crisis
menurut robbins dan wilner (sumartha, 2020) yaitu :
a. Kebimbangan dalam mengambil
keputusan
b. Khawatir terhadap hubungan
interpersonal
c. Rasa cemas
d. Perasaan tertekan
e. Penilaian diri yang negatif
f. Perasaan terjabak dalam situasi sulit
g. Perasaan putus asa
F. Hipotesis
H1: Ada pengaruh hope dan peer pressure dengan quarter life crisis pada
dewasa awal.
H0: Tidak ada pengaruh hope dan peer pressure terhadap quarter life crisis
pada dewasa awal.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel
Penelitian ini melibatkan dua jenis variabel, yakni variabel independent (X),
dan variabel dependen (Y). Adapun variabel berikut yang dikaji dalam studi ini
meliputi:
1. Variabel Indipenden (X1) : hope
2. Variabel Indipenden (X2) : peer pressure
3. Variabel Dependen (Y) : quarter life crisis
B. Definisi Operasional Variabel
Definisi variabel penelitian akan membatasi lingkup masalah yang akan
diteliti dalam penelitian ini. Definisi dari masing-masing variabel tersebut
adalah:
1. Quarter life crisis
Quarter life crisis adalah perubahan hidup yang signifikan, termasuk
dalam hubungan, pekerjaan, dan identitas diri, menyebabkan
ketidakpastian, ketidakstabilan emosi, dan kecemasan selama masa transisi
remaja menuju dewasa. Gejala psikologis seperti kecemasan, keputusasaan,
disorientasi, dan ketidakberdayaan sering kali disebabkan ketika seseorang
mulai mempertanyakan tujuan dan arah hidup. Dalam penelitian ini, quarter
33
34
life crisis diukur dengan berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh
Robbins dan Wilner (sumartha, 2020), yaitu kebimbangan dalam
mengambil Keputusan, khawatir terhadap hubungan interpersonal, rasa
cemas, perasaan tertekan, penilaian diri yang negatif, perasaan terjebak
dalam situasi sulit, dan perasaan putus asa.
2. Hope
Hope (harapan) merupakan suatu kondisi kognitif dan emosional positif
yang mencerminkan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam
menetapkan tujuan (goal), merancang strategi pencapaian (pathways
thinking), serta mempertahankan motivasi untuk mewujudkannya (Agency
thinking). Dalam penelitian ini, Hope diukur berdasarkan aspek-aspek teori
Hope yang dikemukakan oleh Snyder (2002) yaitu goal, pathway thinking,
dan agency thinking.
3. Peer pressure
Peer pressure adalah bentuk tekanan yang berasal dari teman atau
individu dengan usia relatif sama, yang menyebabkan individu merasa
terdorong atau terpaksa untuk menyesuaikan diri baik dalam pola pikir
maupun perilaku, agar dapat diterima oleh kelompok tersebut. Dalam
penelitian ini, peer pressure diukur berdasarkan aspek-aspek yang
dikemukakan oleh Brown & Clasen (1985) yaitu peer involvement, school
involvement, family involvement, comformity to peer norms dan
misconduct.
35
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi diartikan sebagai keseluruhan subjek apa pun yang memenuhi
kriteria dan kualitas tertentu yang telah diidentifikasi oleh peneliti sebagai
sesuatu yang layak untuk diteliti dan digunakan dasar dalam penarikan
kesimpulan (Sugiyono, 2022). Populasi yang memiliki jumlah individu
tertentu dan dapat dihitung secara pastidikategorikan sebagai populasi finit.
Sebaliknya, apabila jumlah individu dalam populasi tidak tetap dan tidak
dapat diketahi secara pasti, maka populasi tersebut dikategorikan sebaagai
populasi infinit (Nazir, 2013). Populasi infinit dipilih mengingat jumlah
individu pada tahap dewasa awal yang berdomisili di Kota Makassar tidak
diketahui secara pasti dan tidak ada data akurat mengenai jumlah tersebut.
2. Sampel
Sugiyono (2022) menyatakan sampel mencerminkan populasi yang
memiliki jumlah dan karakteristik tertentu. Teknik pendekatan yang
digunakan untuk menentukan sampel adalah pendekatan non probability
sampling. Teknik ini adalah teknik penentuan dimana setiap komponen atau
anggota populasi memiliki kesempatan menjadi sampel (sugiyono, 2022).
Teknik accidental sampling merupakan pendekatan non probability
sampling. Dalam teknik accidental sampling, sampel dipilih secara tidak
36
sengaja berdasarkan individu yang kebetulan ditemui oleh peneliti dan
sesuai dengan kebutuhan studi (sugiyono, 2022).
Untuk membantu peneliti dalam menghitung ukuran sampel, digunakan
tabel penentuan sampel yang dikemukakan oleh Isaac dan Michael. Peneliti
menggunakan populasi infinit karena jumlah orang dewasa awal di
Makassar tidak diketahui secara pasti dan akurat dalam penelitian ini.
jumlah sampel representatif yang diperlukan adalah 349 responden, dengan
toleransi kesalahan 5% dan tingkat kepercayaan 95%. Beberapa kriteria
umum sampel penelitian adalah sebagai berikut:
1) Laki-laki/Perempuan
2) Berusia 23-29 tahun
3) Berdomisili di Makassar
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kuisioner atau angket
dengan metode skala likert. Menurut Sugiyono (2022), skala Likert digunakan
untuk menunjukkan apakah seseorang atau kelompok setuju atau tidak setuju
dengan peristiwa sosial tertentu serta sikap, perspektif, dan persepsi mereka
terhadap peristiwa tersebut. Selanjutnya, variabel penelitian yang akan
dianalisis dianggap sebagai setuju atau tidak setuju.
Penilaian dilakukan dengan mengacu pada distribusi jawaban responden
dan skor dengan pemberian skor dengan pilihan respons berikut: Sangat Setuju
37
(5), Setuju (4), Netral (3), Tidak Setuju (2), dan Sangat Tidak Setuju (1).
Pernyataan dalam angket dibagi menjadi dua jenis, yaitu pernyataan yang
mendukung (favorable) dan pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable).
Ada tiga jenis pengukuran yang berbeda digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Quarter life crisis
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada skala
yang diadaptasi dari Sumartha (2022), dengan berlandaskan teori yang
dikemukakan oleh Robinson dan Wilner, yang mencakup tujuh aspek, yakni
kebimbangan dalam pengambilan keputusan, rasa putus asa, penilaian diri
yang negatif, terjebak dalam situasi sulit, kecemasan, tekanan, dan
kekhawatiran terhadap hubungan interpersonal.
Tabel 1. Blueprint skala quarter life crisis
aspek indikator No. Aitem Total
Favo Unfavo
Kebimbangan Merasa bimbang dalam
7 27 2
dalam menentukan pilihan
pengambilan
keputusan Mempertanyakan kembali
24 3 2
keputusan yang telah diambil
Merasa yang dilakukan sia-sia 17 6 2
Putus asa Merasa gagal dalam hidup 23 28 2
Penilaian diri Menganalisis diri secara
22 5 2
yang negatif berlebihan
Merasa hidup tidak memuaskan 18 21 2
38
Terjebak Merasa berada pada situasi yang
26 1 2
dalam situasi berat
negatif
Merasa kesulitan dalam
15 13 2
menentukan tujuan
Cemas Merasa takut gagal 2 11 2
Merasa khawatir yang
8 16 2
berlebihan
Tertekan Merasa tekanan hidup yang
4, 20 19,25 4
semakin berat
Khawatir Memikirkan hubungan dengan
terhadap teman, keluarga, pasangan, dan
10,12 9,14 4
hubungan karier
interpersonal
Total 14 14 28
2. Hope
Peneliti menggunakan skala hope yang akan diadaptasi oleh Urrahmah
(2024), yang didasarkan pada aspek-aspek hope menurut Synder, yaitu
goal, pathway thinking, dan agency thinking.
Tabel 2. Blueprint skala Hope
No. Aitem
aspek indikator Total
Favo Unfavo
Goal Tujuan dapat berupa gambaran
1, 3, 4 2,5
visual atau deskripsi verbal
Memiliki kerangka waktu yang 18
bervariasi pada tujuan
6, 8 7, 9
berjangka pendek hingga
jangka panjang
39
Memiliki tujuan yang variasi
10, 12 11, 13
dalam tingkat spesifikasinya
Memiliki nilai yang cukup
dalam membenarkan pikiran
14, 16, 18 15, 17
sadar yang berkelanjutan
tentang tujuan hidup
Pathway Mampu mencari cara agar
19, 20 21, 22
thinking mencapai yang diinginkan
Memiliki perencanaan dan
strategi yang digunakan
23, 24 25,26
individu untuk mencapai
12
tujuan
Memiliki pemikiran yang
fleksibel, kreatif, dan adaptif
29, 30 27, 28
dalam menghadapi tantangan
dan mencari solusi yang efektif
Agency Keyakinan individu bahwa
thinking mereka memiliki kemampuan
31, 32 33, 34
dan kekuatan untuk mencapai
tujuan yang diinginkan
Memiliki motivasi yang kuat 35, 36, 38,
37, 40 18
39
Percaya bahwa individu
memiliki kontrol atas Tindakan 41, 43 42, 44
mereka
Mampu menghadapi hambatan 45,46 47, 48
Total 26 22 48
3. Peer pressure
Peneliti menggunakan skala peer pressure yang dikembangkan oleh
Riyanti (2024) berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Brown &
40
Clasen yaitu peer involvement, school involvement, family involvement,
comformitu to peer norms dan misconduct. Skala ini terdiri dari 30 aitem.
Tabel 3. Blueprint skala Peer Pressure
No. Aitem
aspek Total
Favo Unfavo
Peer involvement 1, 3, 5, 6, 8 2, 4, 7, 9, 13 10
School Involvement 10, 11, 12, 14 17, 19, 20,22 8
Family involvement 15, 16, 18, 21 6
conformity to peer norms 23, 24 26, 27 4
Misconduct 25, 29 28, 30 4
E. Teknik Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
Aswar (2018) menyatakan bahwa, tanpa berfokus pada pengujian
hipotesis, analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran umum
tentang subjek penelitian berdasarkan data yang dikumpulkan dari
kelompok. Biasanya, analisis deskriptif melibatkan presentasi data dengan
menggunakan teknik seperti frekuensi dan persentase, tabulasi silang, serta
berbagai format grafik dan diagram untuk data kategorikal. Selain itu,
analisis deskriptif juga mencakup statistik kelompok, seperti rata-rata dan
variasi, untuk data yang bersifat non-kategorikal. Aswar (2018)
menekankan norma kategorisasi yang dapat digunakan, yaitu:
41
Tabel 3. Kategorisasi Deskripsi
Interval Kriteria
X< (μ-1,0σ)/1 Rendah
(μ-1,0σ) ≤X< (μ+1,0σ)/1 Sedang
μ+1,0σ) ≤X /1 Tinggi
Keterangan:
μ = Mean
σ = StandarDeviasi
2. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk memastikan apakah data dari setiap
variabel berdistribusi normal. Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan
dalam penelitian ini. Penelitian dapat dikatakan baik, ketika data
terdistribusi normal (Sugiyono, 2022). Uji normalitas bergantung pada
nilai signifikansi. apabila nilai sig. ≥ 0,05 data terdistribusi normal
sedangkan nilai sig. ≤ 0,05 data tidak terdistribusi normal.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menilai ada
atau tidaknya hubungan linear antar variabel (Sugiyono, 2022). Adapun
kriteria uji linearitas dilakukan yakni, jika nilai sig. ≥ 0,05 hubungan
antar variabel linear dan ketika nilai sig. ≤ 0,05 hubungan antar variabel
tidak linear.
c. Uji Multikolinearitas
Ghozali (2018) menyatakan bahwa uji multikolinearitas digunakan
untuk memastikan apakah variabel independen dengan pendekatan
42
regresi saling terkait. Keberadaan korelasi seharusnya tidak ditunjukkan
oleh model regresi yang baik. Nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan
tolerance digunakan untuk menguji multikolinearitas. Nilai cutoff yang
digunakan untuk mengindikasikan adanya multikolinearitas adalah nilai
tolerance ≥ 0,01 atau yang ekuivalen dengan nilai VIF ≤10
3. Uji Hipotesis
Aswar (2018) mengemukakan bahwa hipotesis berfungsi sebagai dasar
dari setiap pernyataan yang diajukan dalam penelitian. Untuk mengetahui
hubungan antar variabel dalam penelitian ini, digunakan analisis statistik
dengan pendekatan regresi berganda. Teknik ini bertujuan untuk menguji
hipotesis mengenai pengaruh dua variabel independen terhadap satu
variabel dependen secara simultan (sugiyono, 2022).
43
F. Jadwal Perencanaan Penelitian
No Kegiatan Januari Februari Maret April Mei
1 Pengajuan
proposal
skripsi
Mengajukan
usulan
proposal ke
KAPRODI
Melengkapi
berkas: bukti
UKT, KSM,
dan Transkpi
nilai
Proses
Bimbingan
2 Ujian
Proposal
DAFTAR PUSTAKA
Afnan, A., Fauzia, R., & Tanau, M. U. (2020). HUBUNGAN EFIKASI DIRI
DENGAN STRESS PADA MAHASISWA YANG BERADA DALAM FASE
QUARTER LIFE CRISIS. Jurnal Kognisia, 3(1), 23.
[Link]
Agustin, I. (2012). Terapi dengan pendekatan solution focused pada individu yang
mengalami quarter life crisis. Doctoral Dissertation, 140.
[Link] [Link]
Anggraeni, A. S., & Hijrianti, U. R. (2023). Peran dukungan sosial dalam menghadapi
fase quarter life crisis dewasa awal penyandang disabilitas fisik. Cognicia, 11(1),
15–23. [Link]
Artiningsih, R. A., & Savira, S. I. (2021). Hubungan Loneliness Dan Quarter life crisis
Pada Dewasa Awal. Charater: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(5).
Atwood, J. D., & Scholtz, C. (2008). The quarter-life time period: An age of
indulgence, crisis or both? Contemporary Family Therapy, 30(4), 233–250.
[Link]
Cakrawardana, M. A. (2019). PENGARUH SIKAP, NORMA SUBJEKTIF,
PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL, PEER PRESSURE, MORAL
OBLIGATION DAN FAKTOR DEMOGRAFIS TERHADAP INTENSI
KETIDAKJUJURAN AKADEMIK. 1–92.
Carr, A. (2004). Positive Psychology: The Science of Happiness and Human Strengths.
Brunner-Routledge. [Link]
Clasen, D. R., & Brown, B. B. (1987). Understanding Peer Pressure in Middle School.
Middle School Research Selected Studies, 12(1), 65–75.
[Link]
Fazira, S. H., Handayani, A., & Lestari, F. W. (2023). Faktor Penyebab Quarter life
crisis Pada Dewasa Awal. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 5(2), 2227–2234.
[Link]
Hasyim, F. F., Setyowibowo, H., & Purba, F. D. (2024). Factors Contributing to
Quarter life crisis on Early Adulthood: A Systematic Literature Review. In
Psychology Research and Behavior Management (Vol. 17, pp. 1–12). Dove
Medical Press Ltd. [Link]
Hedo, D. J. P. K., & Simarmata, N. (2023). Harapan Sebagai Kekuatan Psikologis
Remaja Dalam Surviving The Adversity. Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah
Nusantara, 9(7).
[Link]
44
45
an_Psikologis_Remaja_Dalam_Surviving_The_Adversity
Julianto, V., Cahayani, R. A., Sukmawati, S., & Aji, E. S. R. (2020). Hubungan antara
Harapan dan Harga Diri Terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami
Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis. Jurnal Psikologi Integratif,
8(1), 103–115. [Link]
Lailatuzzahro, R. (2024). QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL
DITINJAU DARI LONELINESS DAN PEER PRESSURE SKRIPSI. In Αγαη
(Vol. 15, Issue 1).
Lestari, U., Masluchah, L., & Mufidah, W. (2022). Konsep Diri Dalam Menghadapi
Quarter life crisis. IDEA: Jurnal Psikologi, 6(1), 14–28.
[Link]
Linley, P. A., & Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. Wiley.
[Link]
Magaletta, P. R., & Oliver, J. M. (1999). The hope construct, will, and ways: Their
relations with self-efficacy, optimism, and general well-being. Journal of Clinical
Psychology, 55(5), 539–551. [Link]
4679(199905)55:5<539::AID-JCLP2>[Link];2-G
Maslakha, A. Q. (2022). Hubungan Antara Hope Dan Peer Pressure Dengan Quarter
life crisis Pada Dewasa Awal. Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya.
Maulidya, I. N. (2023). HUBUNGAN TEKANAN TEMAN SEBAYA DAN EFIKASI
DIRI DENGAN KRISIS SEPEREMPAT ABAD PADA MAHASISWA DI
[Link].
Murphy, M. (2011). Emerging Adulthood in Ireland: Is the Quarter-Life Crisis a
Common Experience? Thesis of Family and Community Studies, 1–44.
[Link]
[Link]
Nash, R. J., & Murray, M. C. (2010). Helping College Students Find Purpose: The
Campus Guide to Meaning-Making.
Nazir, M. (2013). Metode penelitian. Ghalia Indonesia.
Olsen-Madden, J. (2007). Correlates And Predictors of Life Satisfication Among 18 To
35 Years olds: An Exploration of Quarterlife Crisis Phenomenon.
Permatasari, I. (2021). Hubungan Kematangan Emosi Dengan Quarter life crisis Pada
Dewasa Awal. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang, 15.
Putri, A. R. (2020). Transisi Dewasa Awal, Fenomena dan Perkembangan Diri dari
46
Awal Pendewasaan Diri menuju Karir. 1–116.
Rihtarić, M. L., & Kamenov, Ž. (2013). Susceptibility to peer pressure and attachment
to friends. Psihologija, 46(2), 111–126. [Link]
Riyanti, S. (2024). Strategies for Facing Quarter life crisis: The Combination of
Religiosity and Peer Pressure in Fresh Graduates. 7(2), 186–198.
[Link]
Rossi, N. E., & Mebert, C. J. (2011). Does a quarterlife crisis exist? Journal of Genetic
Psychology, 172(2), 141–161. [Link]
Santrock, J. W. (2011). LIFE-SPAN Development Thirteenth Edition. 805.
Santrock, J. W. (2016). Adolescence Sixteenth Edition. In McGraw-Hill.
Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry,
13(4), 249–275. [Link]
Sujudi, M. A., & Ginting, B. (2020). Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi
Quarterlife Crisis di Masa Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Semester Akhir
Universitas Sumatera Utara. Buddayah: Jurnal Pendidikan Antropologi, 1(2),
105–112. [Link]
Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. (2017). PENGARUH FAKTOR
EKOLOGI TERHADAP RESILIENSI REMAJA. Jurnal Ilmu Keluarga Dan
Konsumen, 10(2), 107–119. [Link]
Syifa’ussurur, M., Husna, N., Mustaqim, M., & Fahmi, L. (2021). MENEMUKENALI
BERBAGAI ALTERNATIF INTERVENSI DALAM MENGHADAPI
QUARTER LIFE CRISIS: SEBUAH KAJIAN LITERATUR [DISCOVERING
VARIOUS ALTERNATIVE INTERVENTION TOWARDS QUARTER LIFE
CRISIS: A LITERATURE STUDY]. Journal of Contemporary Islamic
Counselling, 1(1), 53–64. [Link]
Urrahmah, A. (2024). HOPE DAN QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL
DI ACEH. In PSISULA : Prosiding Berkala Psikologi (Vol. 6).