0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan48 halaman

Tps 2025 Rifky

Diunggah oleh

Rifky Satya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan48 halaman

Tps 2025 Rifky

Diunggah oleh

Rifky Satya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKNIK PENULISAN SKRIPSI

PENGARUH HOPE DAN PEER PRESSURE DENGAN QUARTER


LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL

MUHAMMAD RIFKY DWISATYA


200701502094

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
MAKASSAR
2025
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1


A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 10
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 10
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 13
A. Quarter life crisis............................................................................................ 13
1. Definisi quarter life crisis ........................................................................... 13
2. Faktor-Faktor Quarter life crisis ................................................................. 15
3. Aspek-aspek quarter life crisis ................................................................... 19
B. Hope................................................................................................................ 21
1. Pengertian Hope .......................................................................................... 21
2. Aspek-aspek hope ....................................................................................... 23
C. Peer Pressure ................................................................................................. 25
1. Pengertian peer pressure ............................................................................. 25
2. Bentuk-bentuk peer pressure ...................................................................... 26
3. Aspek-Aspek Peer Pressure ...................................................................... 27
D. Hubungan hope dan peer pressure dengan quarter life crisis ................... 28
E. Kerangka pikir .............................................................................................. 31
F. Hipotesis ......................................................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 33
A. Identifikasi Variabel ...................................................................................... 33
B. Definisi Operasional Variabel ...................................................................... 33
C. Populasi dan Sampel ..................................................................................... 35
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 36
E. Teknik Analisis Data ..................................................................................... 40
F. Jadwal Perencanaan Penelitian ................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 44

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tahap dewasa awal adalah tahap perkembangan manusia di mana seseorang

telah melewati masa transisi remaja ke dewasa. Masa remaja sendiri adalah

periode penuh dinamika dalam pencarian identitas diri (Sunarti, 2017).

Emerging adulthood adalah masa peralihan remaja ke dewasa, biasanya terjadi

pada individu berusia 18-25 tahun. Namun, peralihan ini tidak selalu berhenti

di usia tersebut, karena beberapa individu masih dapat mengalami krisis

peralihan hingga akhir usia 20-an. Oleh karena itu, rentang usia 18-29 tahun

sering dianggap sebagai periode peralihan (Artiningsih & Savira, 2021).

Selama prosesnya, masa peralihan memberikan dampak yang berbeda bagi

setiap individu. Banyak individu yang merasa bersemangat saat memasuki

tahap kehidupan baru (Nash & Murray, 2010).

Masa dewasa awal merupakan periode penuh kemungkinan, di mana

individu memiliki peluang untuk mengubah arah hidup mereka secara

signifikan. Pada tahap ini, terdapat dua pendekatan dalam menyikapi

kedewasaan: sebagian individu menyambut masa depan dengan penuh harapan,

sementara yang lain harus berjuang keras untuk mewujudkannya. Individu pada

tahap ini lebih rawan menghadapi krisis, karena dihadapkan pada berbagai

1
2

tuntutan yang harus diwujudkan, seperti ekspektasi dari lingkungan sosial

maupun harapan yang mereka tetapkan bagi diri sendiri. Masa dewasa awal

juga ditandai dengan dimulainya pemenuhan harapan dari orang-orang

terdekat, seperti menyelesaikan pendidikan tepat waktu, memperoleh

pekerjaan, membangun hubungan yang stabil, serta mencapai kemandirian

secara emosional dan finansial (Hasyim, Setyowibowo & Purba, 2024).

Pada fase dewasa awal, individu dihadapkan pada tuntutan untuk

mengurangi ketergantungannya pada orang tua dan berusaha mencapai

kemandirian, baik dalam aspek mental, finansial, maupun karir (Jahja, 2011).

Pada masa dewasa awal, individu mulai diharapkan untuk bertanggung jawab

atas diri mereka sendiri. Saat individu mencapai usia dewasa, individu melewati

fase eksplorasi identitas yang sering kali membawa serta masalah, emosi,

penyendiri, dan pergeseran nilai yang harus sesuaikan. Pada masa dewasa,

seseorang mengalami perubahan yang mencakup perubahan fisik, kognitif,

psikososial, dan emosional (Syifa’ussurur et al., 2021). Individu yang

sepenuhnya menerima perubahan ini merasa siap dan mampu menghadapinya.

Sebaliknya, mereka merasa cemas dan kesulitan dalam menghadapi tantangan

serta perubahan tersebut berisiko mengalami quarter life crisis (Afnan et al.,

2020).

Alexander Robbins dan Willner adalah orang pertama yang menggunakan

istilah "quarter life crisis", yang didasarkan pada teori perkembangan dewasa
3

Jeffrey Arnett. Istilah ini dicetuskan oleh Robbins dan Willner untuk merujuk

pada individu muda yang bertransisi dari remaja menuju dewasa. Menurut

Robbins dan Wilner (Lestari et al., 2022), quarter life crisis adalah masa ketika

perubahan hidup yang signifikan membuat seseorang merasa cemas, tidak

menentu, dan gugup. Kecemasan, serangan panik, keputusasaan, kebingungan

identitas, ketidakstabilan, dan rasa kehilangan diri hanyalah beberapa indikasi

yang mungkin di rasakan.

Quarter life crisis terjadi saat seseorang berada di fase dewasa awal, ragu

akan masa depan, dan terjebak dengan pilihan yang dijalani. Menurut Sujudi &

Ginting (2020), quarter life crisis merupakan reaksi intens yang terjjadi saat

orang berusia diatas 20 tahun dihadapkan pada kenyataan hidup dan perubahan

konstan yang menyertainya. Quarter life crisis menunjukkan gejala-gejala

seperti perasaan tidak berdaya, isolasi, keraguan terhadap dirinya, serta takut

menjadi kegagalan di masa akan datang seperti karir, hubungan, kebidupan

sosial dan lain-lain.

Bagi kalangan Gen Z, fenomena quarter life crisis di Indonensia

mencerminkan fase penuh tantangan emosional dan eksistensial yang umum

dialami oleh individu. Menurut artikel Kompas berjudul "Quarter life crisis,

Badai Pasti Berlalu", krisis ini sering kali dipicu oleh tekanan sosial, seperti

membandingkan pencapaian orang lain di media sosial dengan diri sendiri, serta

desakan untuk memenuhi standar kesuksesan yang ditetapkan masyarakat,


4

seperti lulus tepat waktu, memiliki pekerjaan mapan, dan menikah di usia

muda. Kondisi ini dapat menyebabkan perasaan cemas, kehilangan arah, dan

meragukan nilai diri sendiri (Gandhawangi, 2020). Sebuah survei yang

dilakukan di Indonesia oleh media daring GenSINDO terhadap responden

berusia 18 hingga 25 tahun yang terdiri atas 95% mahasiswa dan sisanya

merupakan pekerja, ditemukan bahwa mayoritas responden mengalami quarter

life crisis. Krisis tersebut dipicu oleh kecemasan terkait masa yang akan datang,

khususnya dalam aspek karir, pendidikan, dan pasangan hidup. Selain itu,

perasaan cemas tersebut turut dipengaruhi oleh kecenderungan

membandingkan diri dengan teman sebaya atau individu di lingkungan sekitar

yang dianggap lebih berhasil (Nurdifa, 2020).

Quarter life crisis merupakan krisis kehidupan hampir pasti dialami setiap

orang saat mereka dewasa. Dalam fase ini, seseorang sering merasa tidak yakin

pada diri sendiri, kehilangan kepercayaan diri, stress, takut gagal, serta cemas

berlebihan terhadap masa depan yang tidak sejalan dengan harapan. Jika

berhasil melewatinya, individu akan menjadi lebih stabil dan Tangguh dalam

menghadapi masalah hidup, serta mampu melihat bahwa perubahan yang tidak

menyenangkan kadang diperlukan untuk meraih tujuan (Fazira et al., 2023;

Permatasari, 2021).

Fenomena quarter life crisis kini menjadi isu yang semakin relevan di

kalangan generasi muda Indonesia. Perubahan sosial ekonomi dan


5

perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat telah menimbulkan

tekanan psikologis yang kompleks bagi individu usia dewasa awal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), tingkat pengangguran pada usia

20-29 tahun yaitu sebesar 22,48% dari 7,2 juta orang. Angka ini mencerminkan

tantangan signifikan yang dihadapi oleh dewasa awal dalam memasuki dunia

kerja. Ketidakstabilan dalam aspek karier adalah satu contoh pemicu

munculnya quarter life crisis.

Hasil survei First Direct tahun 2017 terhadap 2.000 orang milenial di

Inggris memperlihatkan bahwa 56% dari mereka mengalami quarter-life crisis,

dan sekitar 60% mengaku mulai mengevaluasi kehidupan mereka akibat

tekanan dari lingkungan (Putri, 2020). Sujudi & Ginting (2020) melakukan

wawancara terhadap 30 responden, dan sebagian besar merasa cemas akan

masa depan, mengalami stres akademik, serta membandingkan diri dengan

pencapaian orang lain. Penelitian Artiningsih (2021) terhadap individu dewasa

awal di Surabaya, laki-laki memiliki tingkat quarter life crisis lebih rendah

dibandingkan perempuan, meskipun kedua kelompok tersebut berada pada

rentang sedang. Perempuan cenderung lebih sering mengalami kecemasan,

tekanan akibat tuntutan dari lingkungan sekitar, serta kekhawatiran terkait

status hubungan yang mereka miliki.

Berdasarkan data awal yang diperoleh dari 34 responden melalui Google

Form, data awal tersebut menunjukkan ada banyak responden yang mengalami
6

kecemasan dan kebingungan terkait masa depan mereka. Sebanyak 61% merasa

bingung dalam menentukan tujuan hidup mereka. Terkait perbandingan dengan

teman sebaya, 52% responden merasakan adanya tekanan dari teman untuk

mencapai hal-hal tertentu dalam hidup mereka. Selain itu, 57% responden

merasa bahwa pekerjaan atau kehidupan yang dijalani saat ini tidak sesuai

harapan.

Secara keseluruhan, temuan dari data awal ini menggambarkan bahwa

kecemasan, kebingungan, dan ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan saat

ini adalah masalah bagi sebagian besar responden. Faktor-faktor seperti

perbandingan dengan teman sebaya, tekanan sosial, ketidakpastian karir,

hubungan, dan keuangan turut memperburuk kondisi emosional mereka. Stress

yang timbul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, khususnya

dalam aspek pekerjaan dan hubungan interpersonal, seringkali menjadi

penymbang terhadap munculnya quarter life crisis (Artiningsih 2021).

Menurut Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023), quarter life crisis dapat

dipicu oleh faktor internal, salah satunya the age of possibilities atau usia

kemungkinan yaitu masa ketika individu memiliki beragam pilihan hidup dan

penuh harapan akan masa depan, namun juga mulai meragukan impian jika

tidak sejalan dengan rencana sebelumnya.

Menurut Sumartha (2020) harapan merupakan kondisi kognitif dan

emosional positif pada individu. Harapan mencerminkan seberapa jauh


7

individu menilai kemampuannya dalam merumuskan tujuan yang ingin diraih,

dengan mempertimbangkan strategi untuk mencapainya dan kemampuan untuk

mempertahankan motivasi dalam melaksanakan strategi tersebut. Hope

(harapan) adalah kemampuan seseorang untuk mempersiapkan solusi dalam

upaya meraih tujuan meskipun ada halangan atau hambatan, serta memiliki

motivasi untuk mencapai tujuan tersebut (Snyder, 2002). Menurut Carr (2004)

menyatakan bahwa hope adalah kondisi intelektual positif yang ditandai dengan

keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya adalah mencapai tujuan yang

ingin diraih di masa depan

Individu pada usia remaja akhir hingga dewasa awal kerap mengalami

tekanan psikologis akibat tuntutan dan ketidakpastian hidup. Masa ini ditandai

oleh pencarian jati diri, pilihan karier, dan upaya meraih kemandirian yang

berisiko memicu quarter life crisis. Salah satu pemicu yang mampu membantu

menghadapi kondisi ini adalah hope atau harapan, yakni kekuatan psikologis

yang menjaga fokus pada tujuan, mendorong pencarian solusi, dan

mempertahankan motivasi di tengah kesulitan (Hedo & Simarmata, 2023).

Harapan memiliki hubungan negatif dengan kecemasan, keputusasaan, dan

depresi (Magaletta & Oliver, 1999). Hope juga berkaitan dengan quarter life

crisis, dimana individu menghadapi berbagai tantangan hidup, dan respons

yang muncul adalah kebingungan, kecemasan, keputusasaan, serta kehilangan


8

harapan, maka kemungkinan besar orang tersebut mungkin mengalami periode

emosi yang besar dan berujung pada masalah quarter life crisis (Murphy, 2011).

Menurut penelitian Adharina (2022) hope dan quarter life crisis pada

dewasa awal berkolerasi negatif secara signifikan. Semakin tinggi harapan,

semakin rendah tingkat quarter life crisis. Penemuan serupa juga diungkapkan

oleh Setiawan dan Milati (2022), menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif

yang signifikan antara hope dan quarter life crisis. Penelitian Sumartha (2020)

menjelaskan bahwa hope (harapan) dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi

quarter life crisis. Penelitian Harapan membantu individu untuk semakin

disiplin dalam memecahkan masalah dan dapat mengurangi kemungkinan

terjadinya quarter life crisis. Ini menunjukkan harapan merupakan salah satu

cara individu mengatasi krisis kehidupan, seperti quarter life crisis.

Selain faktor internal, Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023)

mengungkapkan beberapa faktor eksternal, salah satu faktor eksternalnya

adalah hubungan teman, keluarga dan asmara. Hubungan sosial yang terkait

dengan quarter life crisis adalah peer pressure.

Menurut brown (Lailatuzzahro, 2024) peer pressure adalah pengaruh atau

tekanan yang datang dari pergaulan sebaya untuk mengikuti perilaku atau

tindakan tertentu yang dianggap penting atau diinginkan dalam kelompok sosial

tersebut. Salah satunya berupa tekanan, baik tekanann sosial maupun tekanan

psikologis. Menurut Santrock, peer pressure adalah Tekanan dari organisasi dan
9

tuntutan agar individu berperilaku dan berpikir dengan cara tertentu agar

diterima (Santrock, 2011). Peer pressure adalah suatu kondisi ketika seseorang

merasa dipaksa oleh teman-temannya untuk melakukan sesuatu yang

sebenarnya tidak diinginkan atau diantisipasi. Tujuan dari tekanan ini adalah

untuk membantu seseorang beradaptasi dan diterima oleh kelompok sosial

tertentu (Cakrawardana, 2019).

Penelitian Lailatuzzahro (2024) mengungkapkan bahwa quarter life crisis

memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan tekanan teman sebaya.

Sebaliknya, Riyanti (2024) menemukan bahwa tekanan teman sebaya

berkorelasi negatif terhadap quarter life crisis.

Dari uraian dan fenomena yang telah dipaparkan, Penelitian mengenai

fenomena quarter life crisis telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.

Namun, berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya hanya mengaitkan

satu variabel dan beberapa menggunakan subjek mahasiswa akhir, penelitian

ini menggunakan variabel yaitu hope dan peer pressure dengan subjek berusia

23–29 tahun. Rentang usia tersebut dipilih karena individu pada tahap ini

umumnya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, mulai memasuki dunia kerja,

menghadapi tuntutan finansial, serta mempertimbangkan kehidupan

pernikahan dan keluarga. Kondisi yang sangat erat dengan gejala quarter life

crisis. Hope merepresentasikan harapan dan motivasi individu dalam meraih

tujuan hidup, sedangkan peer pressure mencerminkan tekanan dari lingkungan


10

sebaya yang dapat memengaruhi kestabilan emosi dan arah hidup. Dengan

demikian, penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih jauh bagaimana kedua

faktor tersebut terhadap quarter life crisis pada dewasa awal.

B. Rumusan Masalah

Merujuk pada uraian masalah yang telah disampaikan, maka permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirangkum dalam pertanyaan berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh antara hope dengan quarter life crisis pada

dewasa awal?

2. Apakah terdapat pengaruh antara peer pressure dengan quarter life crisis

pada dewasa awal?

3. Apakah terdapat pengaruh antara Hope dan peer pressure dengan quarter

life crisis pada dewasa awal?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan jawaban atas

permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya. Adapun tujuan dari

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh antara hope dengan quarter life crisis pada

dewasa awal

2. Untuk mengetahui pengaruh antara peer pressure dengan quarter life crisis

pada dewasa awal


11

3. Untuk mengetahui pengaruh antara hope dan peer pressure dengan quarter

life crisis pada dewasa awal

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis

maupun praktis, yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data dan sumber baru,

terutama di bidang psikologi sosial dan perkembangan. Selain itu,

penelitian ini juga akan membantu pembaca dan akademisi memahami

pengaruh hope dan peer pressure dengan quarter life crisis pada dewasa

awal.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi mahasiswa

Pada penelitian ini diharap menjadi pedoman dan membantu mahasiwa

memahami pentingnya memiliki sikap keyakinan serta dorongan untuk

terus memperbaiki kualitas hidup disertai motivasi dalam menghadapi

setiap permasalahan yang dialami terlebih pada mahasiswa akhir

b. Bagi individu dewasa awal

Melalui penelitian ini, diharapkan individu dalam fase dewasa awal

memperoleh wawasan mengenai pentingnya menjaga harapan hidup


12

yang positif serta membangun kemampuan untuk mengelola tekanan

sosial dari lingkungan sekitar.

c. Bagi Peneliti

Temuan dari studi ini diharapkan berguna sebagai landasan ilmiah bagi

pihak-pihak yang tertarik menelusuri lebih lanjut keterkaitan antara

hope, peer pressure dengan quarter life crisis pada dewasa awal.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Quarter life crisis

1. Definisi quarter life crisis

Menurut Robbins dan Wilner (Lestari et al., 2022), quarter life crisis

adalah satu periode yang ditandai oleh ketidakpastian, ketidakstabilan, serta

kecemasan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan besar dalm

kehidupan. Pada tahap ini, individu dapat mengalami berbagai gejala seperti

kecemasan, serangan panik, depresi, kebingungan identitas, ketidakstabilan

emosional, hingga kehilangan jati diri. Menurut Nicole dan Carolyn (2011)

quarter life crisis adalah keadaan ketika seseorang mengalami

ketidakstabilan yang disebabkan oleh situasi stagnan, disertai dengan

berbagai perubahan besar, yang menyebabkan mereka merasa cemas dan

tidak berdaya.

Fischer (Anggraeni & Hijrianti, 2023) menyatakan bahwa quarter life

crisis ialah perasaan resah akan kejadian di masa yang akan datang,

biasanya dirasakan pada usia sekitar 20-an, yang meliputi ketidakpastian

dalam relasi, karier, dan kehidupan sosial, serta kebingungan dan

kekecewaan identitas. Blake (Murphy, 2011) mengatakan quarter life crisis

adalah periode gejolak emosi dan ketidakpastian yang sering terjadi ketika

seseorang beralih dari masa remaja ke masa dewasa. Krisis ini ditandai

13
14

dengan perasaan bingung, cemas, dan tidak puas dengan kemajuan hidup

seseorang, serta mempertanyakan identitas, tujuan, dan masa depan

seseorang.

Menurut Agustin (2012) menjelaskan bahwa quarter life crisis

merupakan reaksi psikologis yang berlangsung antara usia 18-29 tahun

sebagai akibat dari ketidakstabilan hidup, perubahan yang konstan, dan

banyaknya keputusan yang perlu diambil. Kondisi ini umumnya datang

setelah individu menyelesaikan jenjang kuliah, dengan ditandai oleh gejala

seperti perasaan panik, frustrasi, kekhawatiran, kehilangan arah, serta rasa

tidak berdaya (sense of helplessness), depresi atau gangguan psikologis

lainnya. Olson-Madden (2007) menjelaskan bahwa individu kerap

menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah fase yang dikenal

sebagai quarter life crisis. Fase ini ditandai oleh keinginan untuk

mewujudkan harapan dan impian orang tua, membangun karir,

mengembangkan karakter diri yang diingkan, pasangan hidup, serta

membangun kestabilan emosi.

Berdasarkan beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa quarter life

crisis merupakan perubahan hidup yang signifikan, termasuk dalam

hubungan, pekerjaan, dan identitas diri, menyebabkan ketidakpastian,

ketidakstabilan emosi, dan kecemasan selama masa transisi remaja menuju

dewasa. Gejala psikologis seperti kecemasan, keputusasaan, disorientasi,

dan ketidakberdayaan sering kali disebabkan ketika seseorang mulai


15

mempertanyakan tujuan dan arah hidup. Kondisi ini biasanya dialami

setelah individu menyelesaikan pendidikan dan mulai menghadapi tuntutan

serta tanggung jawab kehidupan dewasa secara nyata.

2. Faktor-Faktor Quarter life crisis

Menurut Arnett (Anggraeni & Hijrianti, 2023) faktor yang

memengaruhi terjadinya quarter life crisis diklasifikasi kedalam dua

kategori, yakni internal dan eksternal. Faktor Internal terdiri atas lima

faktor, yaitu:

1) Instability

Instability artinya individu pada titik ini akan terus mengalami

transformasi. Beberapa faktor, termasuk perubahan gaya hidup. Seorang

anak berusia 21 tahun pada tahun 1970 telah menikah, disibukkan

dengan memulai sebuah keluarga, pendidikan, bekerja, dan sebagainya.

Individu mulai memiliki prioritas lebih terutam pada akademik, mencari

pekerjaan, masalah kemandirian, dan hal-hal lain sekitar usia 21 tahun.

Hasil dari penyesuaian ini adalah individu tersebut menjadi selalu siap

untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak berjalan sesuai

keinginan.

2) Being self-focuse

Being self-focused artinya individu mulai berusaha tanpa bantuan dari

orang lain. Dimulai dengan belajar bertanggung jawab dan membuat


16

keputusan sendiri, serta kesiapan berkembang menuju kedewasaan.

Memilih perguruan tinggi, karier, menyeimbangkan pekerjaan dan

kuliah, melanjutkan pendidikan atau putus sekolah lebih awal,

menentukan apakah jurusan yang dipilih sesuai dengan keinginan, dan

keputusan sulit lainnya, semuanya akan memengaruhi masa depan

seseorang. Individu yang membuat pilihan tetap memiliki keputusan

akhir, meskipun orang lain terlibat dalam proses tersebut.

3) Identity exploration

Identity exploration adalah momen ketika seseorang secara resmi

memulai perjalanan menuju kedewasaannya. Orang-orang akan fokus

mempersiapkan masa depan, seperti menemukan cinta dan karier,

sambil mencari dan mengeksplorasi jati diri ideal mereka. Individu akan

mulai mempertimbangkan topik-topik yang sebelumnya tidak terlalu

mereka pikirkan.. Karena, seseorang pada akhirnya akan menjadi lebih

sadar akan pilihan hidupnya berkat pencarian identitas dirinya, tindakan

melakukan hal tersebut sering membuat seseorang merasa tidak nyaman

dan minder.

4) The age of possibilities

The age of possibilities artinya setiap individu memiliki pilihan berbeda

dalam hal karier, pasangan hidup, dan ideologi kehidupan. Adanya

harapan untuk mencapai keberhasilan pada masa depan,menjadikan

individu akan benar-benar optimis, terlebih tentang masa depannya.


17

Salah satu aspek terpenting dari kehidupan seseorang adalah impian dan

harapan mereka. Individu tersebut kemudian akan mulai meragukan

tujuan dan keinginannya untuk masa depan karena ia takut itu tidak akan

menjadi kenyataan karena rencana sebelumnya belum sesuai dengan

yang diinginkan.

5) Feeling in between.

Feeling in between artinya individu berada ditahap antara remaja dan

dewasa. pada masa ini, di mana untuk menjadi dewasa diperlukan

sejumlah persyaratan. Terkadang individu percaya bahwa mereka bukan

lagi remaja, tetapi di sisi lain, mereka percaya bahwa mereka belum

mencapai tingkat kedewasaan untuk bertanggung jawab sepenuhnya

terhadap diri mereka sendiri, membuat keputusan, dan mandiri secara

finansial.

Adapun faktor eksternal terdiri dari tiga bagian, yaitu

1) Tantangan dalam bidang akademik,

Individu mungkin merasa bidang yang mereka minati selama masa

sekolah tidak cocok. Mereka akan mulai mengajukan pertanyaan yang

"menantang" selama periode quarter life, yang dapat menyebabkan

mereka mengubah program studi mereka. Selama karier akademis

mereka, seseorang mungkin merasa bahwa bidang yang mereka minati

selama sekolah tidak cocok untuk mereka. Oleh karena itu, mereka akan

mulai bertanya lebih banyak, yang dapat menyebabkan mereka


18

mengubah arah studi akademis mereka. Selain itu, karena ada banyak

individu yang bingung untuk melanjutkan pendidikan tinggi

mempunyai beberapa alasan, seperti tuntutan sosial, kebutuhan

keluarga, keuangan, dan lainnya.

2) Hubungan dengan keluarga, teman, dan asmara

Tahap ini, individu mempertanyakan kesiapan dalam membangun

hubungan jangka panjang, seperti pernikahan, serta munculnya

keinginan untuk menjalin relasi dengan lawan jenis. Rasa tanggung

jawab juga berkembang seiring kesadaran untuk tidak terus bergantung

pada orang tua, meskipun kemandirian finansial belum sepenuhnya

tercapai. Di sisi lain, individu mulai mencari keseimbangan antara

menjadi diri sendiri dan membentuk hubungan sosial yang bermakna.

3) Kehidupan pekerjaan dan karier.

Dalam Kehidupan pekerjaan dan karir, beberapa individu meyakini

bahwa pendidikan di jenjang perguruan tinggi belum sepenuhnya

mempersiapkan mereka secara emosional untuk menghadapi dunia

kerja. Dinamika lingkungan kerja yang menuntut dan kompetitif

menyebabkan stres bagi banyak orang. Selain itu, orang-orang

seringkali kesulitan memutuskan apakah akan mengejar karier yang

sesuai potensi dan minat mereka atau karier yang dituntut oleh

lingkungan sekitar.
19

3. Aspek-aspek quarter life crisis

Terdapat tujuh kompononn dalam quarter life crisis sebagaimana

dijelaskan oleh Robbins dan Wilner (sumartha, 2020), yakni:

1) Kebimbangan dalam mengambil Keputusan

Beragam pilihan hidup muncul pada usia dewasa turut membentuk

berbagai harapan mengenai masa depan. Namun, dalam beberapa kasus,

harapan tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan bahkan

ketakutan yang berlebihan. Tingkat kecemasan ini sering kali

dipengaruhi oleh keterbatasan pengalaman yang dimiliki serta

kekhawatiran dalam pengambilan keputusan yang dianggap berpotensi

menimbulkan konsekuensi.

2) Khawatir terhadap hubungan interpersonal

Salah satu unsur penting dalam tahap dewasa adalah kemampuan

individu salam membina hubungan dengan lawan jenis. Di Indonesia,

menikah sebelum usia tiga puluh merupakan tradisi yang sangat umum

dan seringkali membuat orang merasa gugup dan cemas. Mereka mulai

mempertanyakan kesiapan untuk menikah, termasuk apakah pasangan

saat ini mendampingi ialah sosok yang pasti sebagai teman hidup, atau

perlu mencari pasangan yang sesuai. Selain itu, individu juga

dihadapkan pada kekhawatiran lain, yaitu bagaimana menyeimbangkan

hubungan dengan teman, keluarga, pasangan, serta tuntutan karier

secara bersamaan.
20

3) Rasa cemas

Individu mengalami kecemasan dan kekhawatiran karena takut tidak

mampu memenuhi harapan dan mencapai impian yang diinginkan.

Ketakutan akan kegagalan yang belum tentu terjadi ini menimbulkan

perasaan tidak aman dan kecemasan yang berlebihan.

4) Perasaan tertekan

Tekanan yang dirasakan individu membuat permasalahan yang dihadapi

terasa semakin berat, sehingga mengganggu aktivitasnya karena merasa

terbebani. Kegagalan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup pun

menimbulkan penderitaan batin yang mendalam.

5) Penilaian diri negatif

Penilaian diri negatif dapat memicu munculnya rasa takut akan

kegagalan dan kecemasan. Individu dengan pandangan tersebut

terhadap dirinya cenderung meragukan kemampuan pribadi dan terus

mempertanyakan kapasitasnya dalam menghadapi tantangan hidup.

Selain itu, mereka sering merasa seolah-olah hanya dirinya yang

kesulitan yang kemudian menimbulkan perasaan kesepian dan

membuatnya memandang diri lebih rendah dibandingkan orang lain

khususnya ketika belum mencapai pencapaian seperti yang diraih oleh

teman-temannya.

6) Perasaan terjebak dalam situasi sulit


21

Lingkungan memiliki peran penting sebagai pondasi dalam membentuk

cara berpikir dan berperilaku individu, serta turut mempengaruhi proses

pengambilan keputusan. Dalam menghadapi pilihan yang kompleks

individu kerap mengalami keseimbangan, saya merasa sulit untuk

memilih satu keputusan, namun juga enggan mengabaikan alternatif

lain. Dalam kondisi yang menantang ini, individu seringkali menyadari

apa yang seharusnya dilakukan, namun mengalami kesulitan dalam

menentukan langkah awal untuk menghadapinya.

7) Perasaan putus asa

Ketidakpuasan terhadap hasil yang dicapai dapat memunculkan

perasaan putus asa dan kegagalan terutama ketika individu merasa tidak

mampu mewujudkan harapan serta impian yang telah direncanakan.

Kondisi ini dapat menyebabkan individu mengabaikan tujuannya

sebelumnya ingin terus dikembangkan, akibat munculnya perasaan

tidak berdaya dan kehilangan keyakinan terhadap kemampuannya

sendiri.

B. Hope

1. Pengertian Hope

Hope atau harapan merupakan keadaan kognitif dan emosional positif

yang mencerminkan sejauh mana individu yakin dapat meraih tujuan

tertentu melalui strategi dan motivasi yang dimiliki (Snyder, 2002). Secara
22

umum hope adalah kondisi intelektual positif yang ditandai dengan

keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya adalah mencapai tujuan

yang ingin diraih di masa depan (Carr, 2004). Menurut Sumartha (2020)

Harapan merupakan kondisi kognitif dan emosional yang bersifat positif.

Harapan mencerminkan sejauh mana individu menilai kemampuannya

dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, dengan memperhitungkan

strategi yang diperlukan untuk mencapainya serta kemampuan untuk

mempertahankan motivasi dalam menjalankan strategi tersebut.

Julianto, Cahayani, Sukmawati dan Aji (2020) mengatakan harapan

dapat dipahami sebagai aktivitas kognitif yang melibatkan penguatan tekad

dan perencanaan langkah yang disiapkan untuk mencapai tujuan yang

diinginkan titik selain itu, harapan memiliki pengaruh signifikan terhadap

tingkat kebahagiaan individu. Urrahmah (2024) berpendapat bahwa hope

merupakan kecenderungan atau keyakinan emosional positif seseorang

bahwa tujuan-tujuan yang diinginkan dapat dicapai dan bahwa peristiwa-

peristiwa di masa depan akan memiliki hasil yang baik. Linley & Joseph

(2004) berpendapat harapan menunjukkan bagaimana seseorang melihat

kemampuan mereka untuk merumuskan tujuan (goal), yang jelas,

mengembangkan strategi untuk mencapainya (pathways), dan

mempertahankan keinginan untuk menerapkan strategi tersebut (agency

thinking).
23

Berdasarkan berbagai pendapat para ahli, disimpulkan bahwa harapan

(hope) adalah suatu kondisi kognitif dan emosional positif yang

mencerminkan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam

menetapkan tujuan, merancang strategi pencapaian, serta mempertahankan

motivasi untuk mewujudkannya. Harapan bukan hanya berperan sebagai

dorongan dalam menghadapi tantangan, tetapi juga berfungsi sebagai

mekanisme kontrol diri, pemecahan masalah, dan penopang kesehatan

mental. Dengan adanya harapan, individu dapat tetap fokus pada tujuan dan

memiliki pandangan optimis terhadap masa depan, sehingga harapan turut

berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis.

2. Aspek-aspek hope

Snyder (2002) mengemukakan bahwa harapan memiliki tiga aspek yakni

goal, pathway thinking, dan agency thinking.

1) Goal

hasil yang diharapkan yang dicapai melalui serangkaian proses mental

yang menghasilkan elemen kognitif yang dibutuhkan untuk mencapai

tujuan tersebut disebut goal. Goal berfungsi objek dari rangkaian proses

mental yang dilakukan individu untuk mencapainya. Goal dapat

memiliki beberapa rentang waktu, dari jangka pendek hingga jangka

panjang, dan dapat diungkapkan secara verbal maupun visual. Selain

itu, tujuan dapat bervariasi dalam tingkat kejelasannya, dengan tujuan


24

yang kurang spesifik cenderung lebih sulit tercapai dalam pola pikir

individu yang memiliki harapan tinggi. tujuan juga harus memiliki nilai

cukup besar untuk mendasari pemikiran sadar yang berkelanjutan

mengenai pencapaiannya.

2) Pathways Thinking

Pathway Thinking menunjukkan bahwa seseorang dapat mengetahui

cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pathway thinking

merujuk pada perencanaan dan strategi yang digunakan individu untuk

mencapai tujuan. Ini melibatkan kemampuan individu untuk

mengidentifikasi dan mengevaluasi berbagai pilihan dan tindakan yang

dapat mereka ambil untuk mencapai tujuan mereka. Ketika menghadapi

rintangan dan mencari solusi yang luar biasa, orang dengan tingkat jalan

yang tinggi lebih suka berpikir secara fleksibel, kreatif, dan adaptif.

3) Agency Thinking

Proses untuk mencapai tujuan ini dikenal sebagai Agency thinking dan

ini memerlukan pertimbangan terhadap diri sendiri sebagai individu

yang memiliki kapasitas untuk merancang atau membangun metode

(jalur) yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Agensi

yaitu merujuk pada energi yang diarahkan pada tujuan. Ini melibatkan

keyakinan individu bahwa mereka memiliki memiliki kapasitas dan

wewenang untuk mencapai hasil yang diinginkan. Orang yang memiliki

tingkat agensi tinggi cenderung memiliki motivasi kuat, yakin bahwa


25

mereka memiliki kendali atas tindakan mereka, dan yakin bahwa

mereka dapat mengatasi rintangan yang mungkin timbul dalam

mencapai tujuan mereka.

C. Peer Pressure

1. Pengertian peer pressure

Menurut Clasen & Brown (1987) menjelaskan bahwa peer pressure

adalah tekanan yang diberikan oleh teman sebaya yang dapat menimbulkan

dorongan untuk mengikuti kehendak orang lain yang berada dalam

kelompok umur yang sama. Tekanan teman sebaya adalah tekanan sosial

yang dihadapi anggota suatu kelompok untuk berperilaku dan berpikir

dengan cara tertentu agar mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari

teman sebayanya. (Khadafi, 2014). Menurut Lailatuzzahro (2024) peer

pressure adalah tekanan sosial dari teman sebaya yang akan menimbilkan

perasaan tertekan karena paksaan dari orang lain untuk melakukan kegiatan

atau aktivitas yang sama dan memenuhi harapan dari orang lain

Peer pressure adalah Tekanan dari teman untuk melakukan sesuatu

yang tidak sesuai atau tidak diinginkan dengan harapan individu. Tekanan

ini muncul sebagai bentuk dorongan agar individu dapat menyesuaikan diri

dengan kelompok tertentu dan diterima sebagai bagian dari kelompok

tersebut (Rihtarić & Kamenov, 2013). Menurut Santrock, tekanan dari

organisasi dan tuntutan agar individu berperilaku dan berpikir dengan cara
26

tertentu agar diterima disebut peer pressure (Santrock, 2011). Menurut

Riyanti (2024) peer pressure merupakan Penilaian individu terhadap

tekanan yang diberikan suatu kelompok. Kesan ini menunjukkan seberapa

besar tekanan yang dihadapi orang lain dan seberapa besar dampak tekanan

tersebut terhadap mereka.

Berdasarkan berbagai definisi dari para ahli disimpulkan bahwa peer

pressure adalah bentuk tekanan yang berasal dari teman atau individu

dengan usia relatif sama, yang menyebabkan individu merasa terdorong

atau terpaksa untuk menyesuaikan diri baik dalam pola pikir maupun

perilaku, agar dapat diterima oleh kelompok tersebut. Tekanan ini dapat

menimbulkan perasaan tertekan, tidak nyaman, hingga konflik batin,

tergantung pada sejauh mana individu merasa harus memenuhi tuntutan dari

lingkungan sosial sebaya.

2. Bentuk-bentuk peer pressure

Menurut Santrock (2016) menjelaskan bahwa tekanan dari teman

sebaya dapat terbagi menjadi dua bentuk, yakni tekanan yag bersifat positif

dan tekanan yang bersifat negatif.

1) Peer pressure positif mengacu pada tekanan atau dorongan dari

teman sebaya untuk berperilaku dengan cara yang menguntungkan

kedua belah pihak. Tekanan semacam ini dapat memotivasi

seseorang untuk mencapai potensi penuhnya, memperluas


27

pengetahuan dan pengalaman, menerapkan nilai-nilai keadilan dan

kesetaraan, menerima perbedaan pendapat, serta meningkatkan

keterampilan sosial dan kesadaran mereka terhadap situasi teman

sebaya.

2) Peer pressure negatif mengacu pada tekanan atau dorongan teman

untuk bertindak dengan cara yang merugikan diri sendiri atau orang

lain. Akibat tekanan ini, seseorang dapat melakukan perilaku

maladaptif termasuk penyalahgunaan zat, alkoholisme, menyontek,

mencuri, membolos, dan pelanggaran norma serta peraturan

masyarakat lainnya.

3. Aspek-Aspek Peer Pressure

Brown & Clasen (Maulidya, 2023) menyebutkan aspek peer pressure

sebagai berikut:

a) Peer Involvement yaitu dorongan untuk bergabung dengan

kelompok teman sebaya.

b) School Involvement yang mengacu pada tekanan untuk terlibat

dalam hubungan atau berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan

ekstrakurikuler di sekolah.

c) Family Involvement yaitu tekanan untuk mengambil bagian dalam

aktivitas atau kegiatan bersama keluarga.


28

d) Conformity to Peer Norms yang mengacu pada tekanan untuk

berperilaku, terlibat dalam kegiatan, atau menjalani gaya hidup yang

sesuai dengan norma teman sebaya.

e) Misconduct yang mengacu pada tekanan untuk melanggar norma

dan hukum sosial.

D. Hubungan hope dan peer pressure dengan quarter life crisis

Masa dewasa awal atau emerging adulthood merupakan fase rentan

terhadap krisis, karena individu pada tahap ini sering kali belum merasa

sepenuhnya dewasa. Ketidakpastian dalam menjalani tugas perkembangan

dapat memunculkan perasaan negatif, seperti putus asa dan kebingungan arah

hidup, yang berujung pada quarter life crisis (Atwood & Scholtz, 2008).

Alexander Robbins dan Abby Wilner memperkenalkan Istilah “quarter life

crisis” berdasarkan teori perkembangan dewasa yang dikemukakan oleh

Jeffrey Arnett. Konsep ini merujuk pada fase transisi yang dialami oleh individu

setelah menyelesaikan masa remaja dan memulai tahap awal kehidupan

dewasa. Menurut Robbins dan Wilner dalam (Lestari et al., 2022), quarter life

crisis merupakan periode ketidakpastian, ketidakstabilan, dan kecemasan yang

muncul sebagai respons terhadap perubahan besar dalam kehidupan, seperti

pilihan karier, relasi, dan arah hidup. Individu yang mengalami fase ini dapat

menunjukkan berbagai gejala, termasuk kecemasan, serangan panik, depresi,

kebingungan identitas, ketidakstabilan emosional, serta perasaan kehilangan


29

jati diri. Oleh karena itu, penting memahami quarter life crisis sebagai bagian

dari perjalanan psikologis individu dalam konteks perkembangan dewasa awal.

Quarter life crisis yang dirasakan seseorang dipengaruhi sejumlah hal,

Seperti hope individu terhadap masa depan dan peer pressure yang dapat

memengaruhi keputusan dan arah hidup individu selama masa transisi menuju

kedewasaan (Anggraeni & Hijrianti, 2023). Salah satu yang faktor yang

berpotensi memicu munculnya quarter life crisis adalah hope (harapan).

Menurut Magaletta dan Oliver (1999), hope merupakan sekumpulan proses

kognitif yang mencerminkan kemampuan individu dalam mengontrol diri,

menghargai diri sendiri, memecahkan masalah, serta mengelola stres.

Komponen-komponen ini menjadikan hope sebagai faktor penting dalam

menjaga kesehatan mental individu.

Murphy (2011) menambahkan bahwa rendahnya tingkat harapan pada

individu memiliki kaitan erat dengan pengalaman quarter life crisis karena

cenderung merespons tantangan hidup dengan kebingungan, kecemasan,

keputusasaan, hingga kehilangan arah, yang dapat mengarah pada gangguan

emosional dan psikologis yang khas dari quarter life crisis. Oleh karena itu,

hope berperan sebagai pelindung (protective factor) dalam membantu individu

menghadapi masa transisi kehidupan dewasa awal secara lebih adaptif.

Urrahmah (2024) melakukan penelitian yang mengungkapkan adanya

korelasi negatif antara hope dan quarter life crisis, di mana individu dengan
30

tingkat harapan yang tinggi cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk

mengalami quarter life crisis. Hasil ini diperkuat dengan penemuan Adhrina

(2022) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi harapan seseorang maka

semakin rendah potensi mereka mengalami quarter life crisis.

Selain hope, salah faktor yang juga berpotensi mempengaruhi timbulnya

quarter life crisis adalah peer pressure. Pada dewasa awal, individu cenderung

menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap ekspektasi sosial dan

perbandingan diri dengan pencapaian orang lain. Menurut Santrock, peer

pressure adalah Tekanan dari organisasi dan tuntutan agar individu berperilaku

dan berpikir dengan cara tertentu agar diterima (Santrock, 2011). Menurut

Riyanti (2024) peer pressure merupakan Penilaian individu terhadap tekanan

yang diberikan suatu kelompok. Kesan ini menunjukkan seberapa besar

tekanan yang dihadapi orang lain dan seberapa besar dampak tekanan tersebut

terhadap mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Lailatuzzahro (2024) menunjukkan adanya

hubungan positif yang signifikan antara quarter life crisis dan peer pressure, di

mana semakin tinggi tekanan dari teman sebaya, semakin tinggi juga quarter

life crisis yang dialami oleh individu. Hasil penelitian ini selaras dengan

penelitian Maslakha (2022), yang mengidentifikasi hubungan yang signifikan

secara positif antara peer pressure dan quarter life crisis. Hasil dari kedua

penelitian tersebut mengindikasikan bahwa tekanan dari lingkungan sebaya


31

dapat menjadi faktor risiko dalam meningkatnya krisis identitas dan

kebingungan hidup pada dewasa awal, sehingga individu menjadi rentan

berdampak quarter life crisis.

E. Kerangka pikir

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disusun suatu

konsep yang akan menjadi acuan dalam penelitian ini. berlandaskan pada

kerangka teori yang telah dijelaskan di atas, berikut bangan untuk kerangka

piker sebagai berikut:


32

Dewasa Awal

Peer Pressure (X2) aspek aspek


Hope (X1) aspek-aspek
peer pressure menurut Brown
hope menurut snyder (2002) dan Clasen (Maulidya, 2023)
yaitu : yaitu :

a. Goal a. Peer involvement


b. Pathway thinking b. School involvement
c. Agency thinking c. Family involvement
d. Conformity to peer
norms
e. misconduct

Quarter life crisis (Y) aspek-aspek quarter life crisis


menurut robbins dan wilner (sumartha, 2020) yaitu :

a. Kebimbangan dalam mengambil


keputusan
b. Khawatir terhadap hubungan
interpersonal
c. Rasa cemas
d. Perasaan tertekan
e. Penilaian diri yang negatif
f. Perasaan terjabak dalam situasi sulit
g. Perasaan putus asa

F. Hipotesis

H1: Ada pengaruh hope dan peer pressure dengan quarter life crisis pada

dewasa awal.

H0: Tidak ada pengaruh hope dan peer pressure terhadap quarter life crisis

pada dewasa awal.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel

Penelitian ini melibatkan dua jenis variabel, yakni variabel independent (X),

dan variabel dependen (Y). Adapun variabel berikut yang dikaji dalam studi ini

meliputi:

1. Variabel Indipenden (X1) : hope

2. Variabel Indipenden (X2) : peer pressure

3. Variabel Dependen (Y) : quarter life crisis

B. Definisi Operasional Variabel

Definisi variabel penelitian akan membatasi lingkup masalah yang akan

diteliti dalam penelitian ini. Definisi dari masing-masing variabel tersebut

adalah:

1. Quarter life crisis

Quarter life crisis adalah perubahan hidup yang signifikan, termasuk

dalam hubungan, pekerjaan, dan identitas diri, menyebabkan

ketidakpastian, ketidakstabilan emosi, dan kecemasan selama masa transisi

remaja menuju dewasa. Gejala psikologis seperti kecemasan, keputusasaan,

disorientasi, dan ketidakberdayaan sering kali disebabkan ketika seseorang

mulai mempertanyakan tujuan dan arah hidup. Dalam penelitian ini, quarter

33
34

life crisis diukur dengan berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh

Robbins dan Wilner (sumartha, 2020), yaitu kebimbangan dalam

mengambil Keputusan, khawatir terhadap hubungan interpersonal, rasa

cemas, perasaan tertekan, penilaian diri yang negatif, perasaan terjebak

dalam situasi sulit, dan perasaan putus asa.

2. Hope

Hope (harapan) merupakan suatu kondisi kognitif dan emosional positif

yang mencerminkan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam

menetapkan tujuan (goal), merancang strategi pencapaian (pathways

thinking), serta mempertahankan motivasi untuk mewujudkannya (Agency

thinking). Dalam penelitian ini, Hope diukur berdasarkan aspek-aspek teori

Hope yang dikemukakan oleh Snyder (2002) yaitu goal, pathway thinking,

dan agency thinking.

3. Peer pressure

Peer pressure adalah bentuk tekanan yang berasal dari teman atau

individu dengan usia relatif sama, yang menyebabkan individu merasa

terdorong atau terpaksa untuk menyesuaikan diri baik dalam pola pikir

maupun perilaku, agar dapat diterima oleh kelompok tersebut. Dalam

penelitian ini, peer pressure diukur berdasarkan aspek-aspek yang

dikemukakan oleh Brown & Clasen (1985) yaitu peer involvement, school

involvement, family involvement, comformity to peer norms dan

misconduct.
35

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi diartikan sebagai keseluruhan subjek apa pun yang memenuhi

kriteria dan kualitas tertentu yang telah diidentifikasi oleh peneliti sebagai

sesuatu yang layak untuk diteliti dan digunakan dasar dalam penarikan

kesimpulan (Sugiyono, 2022). Populasi yang memiliki jumlah individu

tertentu dan dapat dihitung secara pastidikategorikan sebagai populasi finit.

Sebaliknya, apabila jumlah individu dalam populasi tidak tetap dan tidak

dapat diketahi secara pasti, maka populasi tersebut dikategorikan sebaagai

populasi infinit (Nazir, 2013). Populasi infinit dipilih mengingat jumlah

individu pada tahap dewasa awal yang berdomisili di Kota Makassar tidak

diketahui secara pasti dan tidak ada data akurat mengenai jumlah tersebut.

2. Sampel

Sugiyono (2022) menyatakan sampel mencerminkan populasi yang

memiliki jumlah dan karakteristik tertentu. Teknik pendekatan yang

digunakan untuk menentukan sampel adalah pendekatan non probability

sampling. Teknik ini adalah teknik penentuan dimana setiap komponen atau

anggota populasi memiliki kesempatan menjadi sampel (sugiyono, 2022).

Teknik accidental sampling merupakan pendekatan non probability

sampling. Dalam teknik accidental sampling, sampel dipilih secara tidak


36

sengaja berdasarkan individu yang kebetulan ditemui oleh peneliti dan

sesuai dengan kebutuhan studi (sugiyono, 2022).

Untuk membantu peneliti dalam menghitung ukuran sampel, digunakan

tabel penentuan sampel yang dikemukakan oleh Isaac dan Michael. Peneliti

menggunakan populasi infinit karena jumlah orang dewasa awal di

Makassar tidak diketahui secara pasti dan akurat dalam penelitian ini.

jumlah sampel representatif yang diperlukan adalah 349 responden, dengan

toleransi kesalahan 5% dan tingkat kepercayaan 95%. Beberapa kriteria

umum sampel penelitian adalah sebagai berikut:

1) Laki-laki/Perempuan

2) Berusia 23-29 tahun

3) Berdomisili di Makassar

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kuisioner atau angket

dengan metode skala likert. Menurut Sugiyono (2022), skala Likert digunakan

untuk menunjukkan apakah seseorang atau kelompok setuju atau tidak setuju

dengan peristiwa sosial tertentu serta sikap, perspektif, dan persepsi mereka

terhadap peristiwa tersebut. Selanjutnya, variabel penelitian yang akan

dianalisis dianggap sebagai setuju atau tidak setuju.

Penilaian dilakukan dengan mengacu pada distribusi jawaban responden

dan skor dengan pemberian skor dengan pilihan respons berikut: Sangat Setuju
37

(5), Setuju (4), Netral (3), Tidak Setuju (2), dan Sangat Tidak Setuju (1).

Pernyataan dalam angket dibagi menjadi dua jenis, yaitu pernyataan yang

mendukung (favorable) dan pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable).

Ada tiga jenis pengukuran yang berbeda digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Quarter life crisis

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada skala

yang diadaptasi dari Sumartha (2022), dengan berlandaskan teori yang

dikemukakan oleh Robinson dan Wilner, yang mencakup tujuh aspek, yakni

kebimbangan dalam pengambilan keputusan, rasa putus asa, penilaian diri

yang negatif, terjebak dalam situasi sulit, kecemasan, tekanan, dan

kekhawatiran terhadap hubungan interpersonal.

Tabel 1. Blueprint skala quarter life crisis

aspek indikator No. Aitem Total


Favo Unfavo
Kebimbangan Merasa bimbang dalam
7 27 2
dalam menentukan pilihan
pengambilan
keputusan Mempertanyakan kembali
24 3 2
keputusan yang telah diambil
Merasa yang dilakukan sia-sia 17 6 2
Putus asa Merasa gagal dalam hidup 23 28 2
Penilaian diri Menganalisis diri secara
22 5 2
yang negatif berlebihan
Merasa hidup tidak memuaskan 18 21 2
38

Terjebak Merasa berada pada situasi yang


26 1 2
dalam situasi berat
negatif
Merasa kesulitan dalam
15 13 2
menentukan tujuan
Cemas Merasa takut gagal 2 11 2
Merasa khawatir yang
8 16 2
berlebihan
Tertekan Merasa tekanan hidup yang
4, 20 19,25 4
semakin berat
Khawatir Memikirkan hubungan dengan
terhadap teman, keluarga, pasangan, dan
10,12 9,14 4
hubungan karier
interpersonal
Total 14 14 28

2. Hope

Peneliti menggunakan skala hope yang akan diadaptasi oleh Urrahmah

(2024), yang didasarkan pada aspek-aspek hope menurut Synder, yaitu

goal, pathway thinking, dan agency thinking.

Tabel 2. Blueprint skala Hope

No. Aitem
aspek indikator Total
Favo Unfavo
Goal Tujuan dapat berupa gambaran
1, 3, 4 2,5
visual atau deskripsi verbal
Memiliki kerangka waktu yang 18
bervariasi pada tujuan
6, 8 7, 9
berjangka pendek hingga
jangka panjang
39

Memiliki tujuan yang variasi


10, 12 11, 13
dalam tingkat spesifikasinya
Memiliki nilai yang cukup
dalam membenarkan pikiran
14, 16, 18 15, 17
sadar yang berkelanjutan
tentang tujuan hidup
Pathway Mampu mencari cara agar
19, 20 21, 22
thinking mencapai yang diinginkan
Memiliki perencanaan dan
strategi yang digunakan
23, 24 25,26
individu untuk mencapai
12
tujuan
Memiliki pemikiran yang
fleksibel, kreatif, dan adaptif
29, 30 27, 28
dalam menghadapi tantangan
dan mencari solusi yang efektif
Agency Keyakinan individu bahwa
thinking mereka memiliki kemampuan
31, 32 33, 34
dan kekuatan untuk mencapai
tujuan yang diinginkan
Memiliki motivasi yang kuat 35, 36, 38,
37, 40 18
39
Percaya bahwa individu
memiliki kontrol atas Tindakan 41, 43 42, 44
mereka
Mampu menghadapi hambatan 45,46 47, 48
Total 26 22 48

3. Peer pressure

Peneliti menggunakan skala peer pressure yang dikembangkan oleh

Riyanti (2024) berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Brown &


40

Clasen yaitu peer involvement, school involvement, family involvement,

comformitu to peer norms dan misconduct. Skala ini terdiri dari 30 aitem.

Tabel 3. Blueprint skala Peer Pressure

No. Aitem
aspek Total
Favo Unfavo
Peer involvement 1, 3, 5, 6, 8 2, 4, 7, 9, 13 10
School Involvement 10, 11, 12, 14 17, 19, 20,22 8
Family involvement 15, 16, 18, 21 6
conformity to peer norms 23, 24 26, 27 4
Misconduct 25, 29 28, 30 4

E. Teknik Analisis Data

1. Analisis Deskriptif

Aswar (2018) menyatakan bahwa, tanpa berfokus pada pengujian

hipotesis, analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran umum

tentang subjek penelitian berdasarkan data yang dikumpulkan dari

kelompok. Biasanya, analisis deskriptif melibatkan presentasi data dengan

menggunakan teknik seperti frekuensi dan persentase, tabulasi silang, serta

berbagai format grafik dan diagram untuk data kategorikal. Selain itu,

analisis deskriptif juga mencakup statistik kelompok, seperti rata-rata dan

variasi, untuk data yang bersifat non-kategorikal. Aswar (2018)

menekankan norma kategorisasi yang dapat digunakan, yaitu:


41

Tabel 3. Kategorisasi Deskripsi


Interval Kriteria
X< (μ-1,0σ)/1 Rendah
(μ-1,0σ) ≤X< (μ+1,0σ)/1 Sedang
μ+1,0σ) ≤X /1 Tinggi
Keterangan:
μ = Mean
σ = StandarDeviasi

2. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk memastikan apakah data dari setiap

variabel berdistribusi normal. Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan

dalam penelitian ini. Penelitian dapat dikatakan baik, ketika data

terdistribusi normal (Sugiyono, 2022). Uji normalitas bergantung pada

nilai signifikansi. apabila nilai sig. ≥ 0,05 data terdistribusi normal

sedangkan nilai sig. ≤ 0,05 data tidak terdistribusi normal.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menilai ada

atau tidaknya hubungan linear antar variabel (Sugiyono, 2022). Adapun

kriteria uji linearitas dilakukan yakni, jika nilai sig. ≥ 0,05 hubungan

antar variabel linear dan ketika nilai sig. ≤ 0,05 hubungan antar variabel

tidak linear.

c. Uji Multikolinearitas

Ghozali (2018) menyatakan bahwa uji multikolinearitas digunakan

untuk memastikan apakah variabel independen dengan pendekatan


42

regresi saling terkait. Keberadaan korelasi seharusnya tidak ditunjukkan

oleh model regresi yang baik. Nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan

tolerance digunakan untuk menguji multikolinearitas. Nilai cutoff yang

digunakan untuk mengindikasikan adanya multikolinearitas adalah nilai

tolerance ≥ 0,01 atau yang ekuivalen dengan nilai VIF ≤10

3. Uji Hipotesis

Aswar (2018) mengemukakan bahwa hipotesis berfungsi sebagai dasar

dari setiap pernyataan yang diajukan dalam penelitian. Untuk mengetahui

hubungan antar variabel dalam penelitian ini, digunakan analisis statistik

dengan pendekatan regresi berganda. Teknik ini bertujuan untuk menguji

hipotesis mengenai pengaruh dua variabel independen terhadap satu

variabel dependen secara simultan (sugiyono, 2022).


43

F. Jadwal Perencanaan Penelitian

No Kegiatan Januari Februari Maret April Mei

1 Pengajuan

proposal

skripsi

Mengajukan

usulan

proposal ke

KAPRODI

Melengkapi

berkas: bukti

UKT, KSM,

dan Transkpi

nilai

Proses

Bimbingan

2 Ujian

Proposal
DAFTAR PUSTAKA
Afnan, A., Fauzia, R., & Tanau, M. U. (2020). HUBUNGAN EFIKASI DIRI
DENGAN STRESS PADA MAHASISWA YANG BERADA DALAM FASE
QUARTER LIFE CRISIS. Jurnal Kognisia, 3(1), 23.
[Link]
Agustin, I. (2012). Terapi dengan pendekatan solution focused pada individu yang
mengalami quarter life crisis. Doctoral Dissertation, 140.
[Link] [Link]
Anggraeni, A. S., & Hijrianti, U. R. (2023). Peran dukungan sosial dalam menghadapi
fase quarter life crisis dewasa awal penyandang disabilitas fisik. Cognicia, 11(1),
15–23. [Link]
Artiningsih, R. A., & Savira, S. I. (2021). Hubungan Loneliness Dan Quarter life crisis
Pada Dewasa Awal. Charater: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(5).
Atwood, J. D., & Scholtz, C. (2008). The quarter-life time period: An age of
indulgence, crisis or both? Contemporary Family Therapy, 30(4), 233–250.
[Link]
Cakrawardana, M. A. (2019). PENGARUH SIKAP, NORMA SUBJEKTIF,
PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL, PEER PRESSURE, MORAL
OBLIGATION DAN FAKTOR DEMOGRAFIS TERHADAP INTENSI
KETIDAKJUJURAN AKADEMIK. 1–92.
Carr, A. (2004). Positive Psychology: The Science of Happiness and Human Strengths.
Brunner-Routledge. [Link]
Clasen, D. R., & Brown, B. B. (1987). Understanding Peer Pressure in Middle School.
Middle School Research Selected Studies, 12(1), 65–75.
[Link]
Fazira, S. H., Handayani, A., & Lestari, F. W. (2023). Faktor Penyebab Quarter life
crisis Pada Dewasa Awal. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 5(2), 2227–2234.
[Link]
Hasyim, F. F., Setyowibowo, H., & Purba, F. D. (2024). Factors Contributing to
Quarter life crisis on Early Adulthood: A Systematic Literature Review. In
Psychology Research and Behavior Management (Vol. 17, pp. 1–12). Dove
Medical Press Ltd. [Link]
Hedo, D. J. P. K., & Simarmata, N. (2023). Harapan Sebagai Kekuatan Psikologis
Remaja Dalam Surviving The Adversity. Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah
Nusantara, 9(7).
[Link]

44
45

an_Psikologis_Remaja_Dalam_Surviving_The_Adversity
Julianto, V., Cahayani, R. A., Sukmawati, S., & Aji, E. S. R. (2020). Hubungan antara
Harapan dan Harga Diri Terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami
Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis. Jurnal Psikologi Integratif,
8(1), 103–115. [Link]
Lailatuzzahro, R. (2024). QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL
DITINJAU DARI LONELINESS DAN PEER PRESSURE SKRIPSI. In Αγαη
(Vol. 15, Issue 1).
Lestari, U., Masluchah, L., & Mufidah, W. (2022). Konsep Diri Dalam Menghadapi
Quarter life crisis. IDEA: Jurnal Psikologi, 6(1), 14–28.
[Link]
Linley, P. A., & Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. Wiley.
[Link]
Magaletta, P. R., & Oliver, J. M. (1999). The hope construct, will, and ways: Their
relations with self-efficacy, optimism, and general well-being. Journal of Clinical
Psychology, 55(5), 539–551. [Link]
4679(199905)55:5<539::AID-JCLP2>[Link];2-G
Maslakha, A. Q. (2022). Hubungan Antara Hope Dan Peer Pressure Dengan Quarter
life crisis Pada Dewasa Awal. Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya.
Maulidya, I. N. (2023). HUBUNGAN TEKANAN TEMAN SEBAYA DAN EFIKASI
DIRI DENGAN KRISIS SEPEREMPAT ABAD PADA MAHASISWA DI
[Link].
Murphy, M. (2011). Emerging Adulthood in Ireland: Is the Quarter-Life Crisis a
Common Experience? Thesis of Family and Community Studies, 1–44.
[Link]
[Link]
Nash, R. J., & Murray, M. C. (2010). Helping College Students Find Purpose: The
Campus Guide to Meaning-Making.
Nazir, M. (2013). Metode penelitian. Ghalia Indonesia.
Olsen-Madden, J. (2007). Correlates And Predictors of Life Satisfication Among 18 To
35 Years olds: An Exploration of Quarterlife Crisis Phenomenon.
Permatasari, I. (2021). Hubungan Kematangan Emosi Dengan Quarter life crisis Pada
Dewasa Awal. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang, 15.
Putri, A. R. (2020). Transisi Dewasa Awal, Fenomena dan Perkembangan Diri dari
46

Awal Pendewasaan Diri menuju Karir. 1–116.


Rihtarić, M. L., & Kamenov, Ž. (2013). Susceptibility to peer pressure and attachment
to friends. Psihologija, 46(2), 111–126. [Link]
Riyanti, S. (2024). Strategies for Facing Quarter life crisis: The Combination of
Religiosity and Peer Pressure in Fresh Graduates. 7(2), 186–198.
[Link]
Rossi, N. E., & Mebert, C. J. (2011). Does a quarterlife crisis exist? Journal of Genetic
Psychology, 172(2), 141–161. [Link]
Santrock, J. W. (2011). LIFE-SPAN Development Thirteenth Edition. 805.
Santrock, J. W. (2016). Adolescence Sixteenth Edition. In McGraw-Hill.
Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry,
13(4), 249–275. [Link]
Sujudi, M. A., & Ginting, B. (2020). Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi
Quarterlife Crisis di Masa Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Semester Akhir
Universitas Sumatera Utara. Buddayah: Jurnal Pendidikan Antropologi, 1(2),
105–112. [Link]
Sunarti, E., Islamia, I., Rochimah, N., & Ulfa, M. (2017). PENGARUH FAKTOR
EKOLOGI TERHADAP RESILIENSI REMAJA. Jurnal Ilmu Keluarga Dan
Konsumen, 10(2), 107–119. [Link]
Syifa’ussurur, M., Husna, N., Mustaqim, M., & Fahmi, L. (2021). MENEMUKENALI
BERBAGAI ALTERNATIF INTERVENSI DALAM MENGHADAPI
QUARTER LIFE CRISIS: SEBUAH KAJIAN LITERATUR [DISCOVERING
VARIOUS ALTERNATIVE INTERVENTION TOWARDS QUARTER LIFE
CRISIS: A LITERATURE STUDY]. Journal of Contemporary Islamic
Counselling, 1(1), 53–64. [Link]
Urrahmah, A. (2024). HOPE DAN QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL
DI ACEH. In PSISULA : Prosiding Berkala Psikologi (Vol. 6).

Anda mungkin juga menyukai