Kpi HRD
Kpi HRD
PERFORMANCE
INDICATOR
Key Performance Indicator
1 2 3
4 5
Menjadi parameter penting bagi Subjektifitasan atasan bisa direduce dan
perusahaan untuk menerapkan sistem karyawan bisa merasakan budaya kerja yang
reward dan pubishment yang lebih pertumbuhannya memicu kinerja secara alami.
objektif.
Tahapan Menyusun KPI
• Persiapkan dokumen job description secara lengkap, review jobdesc tersebut
apakah telah update atau belum
• Tentukan area kinerja utama dari job description, dipilih yang utama atau
yang intinya saja
• Tentukan objective pada setiap aktivitas, objective ini berupa sasaran, target,
dan tujuan dari perusahaan yang harus dicapai oleh SDM nya
• Tentukan tolak ukur KPI
• Tentukan bobot, semakin tinggi prioritas semakin besar bobot yang diberikan
• Tentukan target, dengan kriteria SMART
• Penentuan skor, perhatikan KPI Maximize atau KPI minimize
• Nilai akhir KPI, skor dikali bobot
Kriteria SMART
• Specific, apakah indikator yang ada di dalam KPI sudah disusun sedemikian rupa dengan materi
yang detail dan spesifik, sehingga lebih dapat dipahami pimpinan di bidangnya masing-masing.
• Measurable, apakah indikator yang ada di dalam KPI sudah terukur benar dari sisi kualitatif dan
kuantitatif, sehingga tidak asal menyusun indikator-indikatornya saja.
• Achievable atau Attainable, apakah indikator yang ada di dalam KPI adalah hal yang bisa dicapai
dan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.
• Relevant atau Realistic, apakah indikator yang ada di dalam KPI adalah hal yang sudah sesuai
dengan bidangnya dan tidak mengada-ada dalam pencapaian yang berorientasi pada hasil,
sehingga tidak akan terjadi ketidak pahaman dengan apa yang dimaksudkan.
• Timely atau Time-Bound, apakah indikator yang ada di dalam KPI bisa tercapai dalam kurun
waktu tertentu.
Jenis KPI
1 2
1
Panduan Penerapan PeSkoran Kinerja Karyawan Berbasis KPI –
Key Performance Indicators
Pengantar
• Pengelolaan kinerja pegawai secara efektif merupakan salah satu faktor kunci
untuk meningkatkan kinerja organisasi.
• Dalam hal ini, pengelolaan kinerja yang efektif mencakup proses pengukuran hasil
kerja pegawai secara obyektif melalui serangkaian indikator kinerja yang tepat dan
terukur.
• Melalui metode KPI, diharapkan proses pembinaan kinerja pegawai dapat
dilakukan dengan optimal, obyektif dan memberikan kontribusi positif bagi kinerja
orgnisasi secara keseluruhan.
2
kinerjanya lebih bagus akan mendapat reward, sebaliknya yang kerjanya kurang
baik akan mendapat punishment.
3
Kolom Key Performance Indicator menguraikan sejumlah indikator kinerja kunci
yang terukur, dan menujukkan hasil kerja yang ingin dicapai oleh suatu
jabatan/posisi.
Setiap sasaran kinerja mesti memiliki minimal satu KPI.
Tidak ada aturan baku tentang berapa jumlah KPI. Namun sebaiknya jumlah KPI
bervariasi antara 5 s/d 8 buah, tergantung dengan area yang dicakup oleh suatu
jabatan.
Contoh KPI bisa Anda baca dalam Bonus Katalog KPI. Anda bisa memilih KPI yang
cocok dan relevan, dan kemudian Anda pasangkan KPI tersebut dalam kolom ini.
Contoh Tabel KPI Lengkap untuk 50 Posisi juga bisa Anda simak dalam file Excel
Tabel KPI 50 Posisi.
Ada kalanya antara atasan dan bahawah memiliki KPI yang sama (identik) sehingga
KPI ini disebut sebagai “shared KPI”. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian KPI
tersebut tergantung pada kerjasama yang erat antara berbagai atasand an
bawahan. Shared KPIs dikembangkan untuk mendorong sinergi, koordinasi dan
kerjasama yang baik diantara atasan dengan bawahan.
4
Kolom Bobot KPI
Bobot KPI menunjukkan bobot dari masing-masing KPI. Bobot setiap KPI tidak
harus sama, tergantung pada prioritas KPI tersebut. Sebaiknya KPI-KPI yang bersifat
lebih penting, kritikal bagi perusahaan, dan mendapatkan prioritas waktu yang
lebih banyak, harus mendapatkana bobot yang lebih tinggi.
Jumlah total bobot harus berjumlah 100. Setiap KPI minimal memiliki bobot 2.5
dan maksimal 40.
Kolom Target
Kolom target menunjukkan target angka spesifik yang ingin dicapai oleh pegawai.
Pengisian angka dalam kolom target bisa berupa persentase, rupiah, angka
nominal, lama jam, dll tergantung pada jenis KPI-nya.
5
Sebagai misal jika KPI-nya adalah persentase pertumbuhan pendapatan, maka
dalam kolom target ditulis angka persen. Kalau KPI-nya adalah jumlah keluhan
pelanggan, maka dalam kolom target ditulis angka nominal target yang
dikehendaki.
Contoh penulisan bobot dan target KPI adalah sbb.
Kolom Realisasi
Kolom ini menunjukkan angka realisasi atas pencapaian target yang telah
ditetapkan. Angka realisasi diisi pada akhir tahun berdasar pencapaian atau
realisasi target.
Angka realisasi harus benar-benar didasarkan pada fakta dan data yang nyata;
dan tidak boleh diisi berdasar karangan belaka. Untuk itu, penting kiranya
untuk disusun laporan internal yang memantau realisasi target KPI. Laporan
internal ini semacam Buku Catatan yang mendokumentasikan pencapaian KPI
setiap bulannya.
Angka realisasi KPI menggunakan format yang sesuai target. Jika target pada
format %, maka realisasi juga menggunakan format %. Jika angka target
menggunakan Rupiah, maka angka realisasi juga menggunakan Rupiah.
6
Contoh tabel KPI dengan angka realisasi adalah sbb.
Kolom Skor
Kolom Skor menunjukkan skor atau nilai yang diperoleh. Ada dua cara untuk
menghitung Skor KPI tergantung TIPE KPI.
Terdapat DUA TIPE KPI.
Tipe KPI yang pertama dalah KPI Maksimal. Artinya pencapaian semakin tinggi,
semakin bagus (higher is better). Misal angka % pertumbuhan penjuaalan, skor
kepuasan pelanggan, tingkkat penyelesaian program kerja, tingkat akurasi dan
ketepatan waktu penyajian laporan, dan sejenisnya.
o Untuk TIPE KPI MAKSIMAL seperti ini maka penghitungan skor adalah
dengan cara : angka realisasi dibagi angka target x 100.
7
o Sebagai misal target % penyelesaian penyusunan SOP adalah 100%,
sementara pencapaiannya adalah 95 %, maka SKOR adalah (100/95) x
100 = 95.
o Contoh lain. Misal target penjualan Rp 10 milyar. Realisasi Rp 12 milyar.
Maka SKOR adalah (12/10) x 100 = 120.
o Dalam KPI Maksimal ini, bisa terjadi kemungkinan skor diatas 100,
sebab pencapaian jauh diatas target.
Tipe KPI yang kedua KPI MINIMAL – artinya pencapaian target KPI semakin
rendah, semakin bagus (lower is better). Misal jumlah temuan audit, jumlah
kecelakaan kerja, atau jumlah produk cacat, dll.
o Untuk target minimal seperti ini, maka penghitungan skor adalah
dengan cara : angka target dibagi angka realisasi x 100.
o Sebagai misal target jumlah produk cacat = maks 2%/tahun;
sementara realisasi adalah 3 %/tahun; maka skor adalah = (2/3) x
100 = 75.
o Contoh lain. Target KPI Jumlah Kerusakaan Sistem Jaringan
Komputer maksimal 2 kali dalam setahun. Ternyata realisasi adalah
1, maka Skor KPI = Target/Realisasi x 100 atau 2/1 x 100 = 200.
o Seperti juga KPI Maksimal, dalam KPI Minimal ini juga dimungkinkan
skor diatas 100 jika realisasi KPI jauh dibawah target yang telah
ditetapkan.
o Namun demikian, untuk Tipe KPI Minimal ini, ada sejumlah
perusahaan yang menggunakan kebijakan : jika pencapaian dibawah
angka target, maka otomatis skor adalah 100. Misal Target Temuan
Audit ISO maksimal 5. Ternyata realisasi adalah 3. Maka otomatis
skor 100. Tidak dihitung berdasar rumus.
o Alasan kenapa dibuat kebijakan semacam itu adalah : KPI Minimal
merupakan KPI Negatif. Jika nilanya diatas 100 maka ini akan
8
terkesan seperti memberikan penghargaan berlebihan terhadap
kesalahan. Misal contoh Jumlah Temudan Audit diatas. Jika
menggunakan rumus, maka skor-nya adalah 5/3 x 100 = 166. Ini
tentu terasa agak kurang afdol, kenapa ada 3 temuan namun dinilai
166 (jauh diatas skor 100).
Selain Tipe KPI Maksimal dan KPI Minimal, ada juga rumus perhitungan Skor KPI
yang ketiga, yakni jika angka target KPI adalah 0. Misal : Jumlah kecelakaan
kerja target 0. Atau jumlah fraud = 0.
Untuk KPI dengan target 0 ini maka dibutuhkan cara khusus, dan tidak sama
dengan cara penghitungan skor KPI Maksimal ataupun KPI Minimal.
Sebab angka target 0 tidak bisa dihitung dengan rumus. Misal target angka
kecelakaan kerja = 0; lalu realisasinya ada 2. Maka rumusnya adalah 0/2 = tidak
terhitung (tidak terhingga).
Karena itu, jika ada KPI dimana angka targetnya adalah 0 maka cara
penghitungan skornya adalah dengan menyusun Norma Skala Skor terlebih
dahulu.
Misal susunan skala skor-nya adalah sbb :
o Jumlah kecelakaan kerja= 0, maka skor 100.
o Jumlah kecelakaan kerja = 1, maka skor 75.
o Jumlah kecelakaan kerja =2, skor 50.
o Jumlah kecelakaan kerja = 3, skor 25
o Jumlah kecelakaan kerja lebih dari 3, skor 0.
Misal susunan skala skor yang lainnya adalah sbb :
o Jumlah kesalahan input data = 0, maka skor 100.
o Jumlah kesalahan input data = 1 -5, maka skor 90.
o Jumlah kesalahan input data = 6 - 10, maka skor 80.
o Jumlah kesalahan input data = 11 - 15, maka skor 70.
o Jumlah kesalahan input data = 16 – 20, maka skor 60.
9
o Jumlah kesalahan input data diats 20, maka skor 50.
Seperti yang terlihat dalam contoh tabel diatas, maka terdapat 3 jenis KPI
Minimal (lower is better), yakni KPI No 1, 6 dan 7.
Untuk tiga KPI tersebut maka pencapaian makin rendah, makin baik. Dalam
kasus diatas, maka diambil kebijakan jika pencapaian dibawah target, maka
Skor langsung otomatis 100 (tidak dihitung berdasar rumus).
10
Kebetulan dalam contoh diatas, tiga KPI tersebut pencapaiannya semua
dibawah target yang ditetapkan (yang mana ini merupakan sebuah prestasi).
Dan karena dibawah angka target, maka semua KPI skornya adalah 100 (lihat
KPI no.1 , 6 dan 7).
Sementara KPI lainnya adalah Tipe KPI Maksimal (higher is better). Skornya
semua diperoleh dengan cara menerapkan rumus seperti yang telah diuraikan
diatas.
11
Skor Akhir (dalam contoh diatas skor akhir adalah 93) ini kemudian dijadikan
dasar oleh Bagian HRD untuk menentukan kenaikan gaji dan besarnya bonus
tahunan jika ada.
Misal Bagian HRD menyusun kebijakan sebagai berikut.
o Skor KPI > 100, maka kenaikan gaji 12%
o Skor KPI 90 – 99, maka kenaikan gaji 10%
o Skor KPI 80 – 89, maka kenaikan gaji 8%
o Skor KPI 70 – 79, maka kenaikan gaji 6%
o Skor KPI dibawah 70, maka kenaikan gaji 0%
Untuk besaran Bonus Tahunan maka isi kebijakan bisa sebagai berikut :
o Skor KPI > 100, maka bonus 3 kali gaji
o Skor KPI 90 – 99, maka bonu 1,5 x gaji
o Skor KPI 80 – 89, maka bonus 1 x gaji
o Skor KPI 70 – 79, maka bonus 0,5 x gaji
12
o Skor KPI dibawah 70, maka bonus 0 x gaji
13