0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan53 halaman

ISII

Diunggah oleh

Lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan53 halaman

ISII

Diunggah oleh

Lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan terhadap suatu wilayah dapat memicu pertumbuhan ekonomi di

wilayah tersebut. Salah satu faktor yang memicu perkembangan wilayah adalah transportasi,

dengan adanya transportasi suatu wilyah akan mudah untuk berinteraksi dengan wilayah

tersebut maupun antar wilayah. Adanya transportasi ini memerlukan dukungan dari

infrastruktur yang ada berupa jalan. Karena pentingnya infrastruktur jalan dalam

mempengaruhi perkembangan wilayah inilah yang menjadi salah satu alasan bagi pemerintah

untuk membangun akses jalan di daerah-daerah yang belum bisa dikatakan memiliki

kemajuan pembangunan.

Pemerintah akhiranya membuat sebuah mega proyek pembangunan Jalur Lintas

Selatan yang membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Proyek pembangunan JLS ini

diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ada diwilayah selatan pantai

Jawa. Sejauh ini proyek JLS di wilayah Serang Kabupatn Blitar masih dalam proses

pembangunan.

Proyek yang dijadikan tempat Praktik Kerja Lapangan adalah Proyek Pembangunan

Jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malag (Lot 7), alasan menjadikan proyek

ini sebagai tempat Praktik Kerja Lapangan dikarenakan proyek tersebut dikerjakan oleh

perusahaan milik BUMN, pembiayaan proyek masuk dalam salah satu syarat dari Program

Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jember, dan ilmu yang kami dapatkan bisa

lebih banyak lagi.


Proyek pembangunan ini dilatar belakangi karena masalah umum yang terjadi, yaitu

peningkatan pertumbuhan volume kendaraan yang sangat tinggi. Dengan maksud yang tertera

diatas, maka penulis dengan referensi buku yang ada dan dibantu dari pembimbing dari PT.

PP (Persero) Tbk. ingin membahas pekerjaan box culvert.

Pada proyek JLS ini box culvert berfungsi sebagai media saluran drainase system

yanah yang serupa dengan gorong-gorong. Pekerjaan box culvert ini dilakukan secara manual

sehingga lebih membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pengerjaannya. Oleh

karena itu pada laporan ini akan dibahas mengenai proses pekerjaan box culvert secara

manual dengan harapan dapat di gunakan dan bermanfaat bagi penulis dan orang yang

membaca laporan ini.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang perlu dikaji pada Praktik Kerja Lapangan bagi

mahasiswa sebagai berikut:

1. Bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan box culvert pada proyek pembangunan

jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7)?

2. Apa saja material yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan box culvert pada

proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot

7)?

3. Apa saja alat yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan box culvert pada proyek

pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7)?

4. Bagaimana untuk pengendalian sumber daya (alat, material, manusia), pengendalian

mutu proyek dan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada pelaksanaan

pekerjaan box culvert pada proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung –

Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7)?


1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai aplikasi langsung dari ilmu

yang diperoleh di bangku kuliah dengan pekerjaan yang terjadi di lapangan sehingga

mahasiswa dapat memahami dan memadukan ilmu dalam lingkup kerja dengan ilmu yang

didapat dalam lembaga pendidikan.

Adapun tujuan dari Praktik Kerja Lapangan ini sesuai dengan rumusan masalah

adalah:

1. Memperoleh metode pelaksanaan pekerjaan box culvert pada proyek pembangunan

jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7)

2. Memperoleh apa saja material yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan box

culvert pada proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab.

Malang (Lot 7)

3. Memperoleh apa saja alat yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan box culvert

pada proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang

(Lot 7)

4. Memperoleh cara untuk pengendalian sumber daya (alat, material, manusia),

pengendalian mutu proyek dan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

pada pelaksanaan pekerjaan box culvert pada proyek pembangunan jalan bts. Kab.

Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7).

Tujuan Praktik Kerja Lapangan secara akademis adalah:

1. Mahasiswa diharapkan dapat berinteraksi langsung dengan dunia kerja

2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah dan

mengetahui perbandingan antara ilmu pengetahuan di perkuliahan dengan dunia kerja


3. Mahasiswa dapat menyerap ilmu yang belum didapat di kampus tetapi terdapat

dilapangan

4. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pelaksanaan pekerjaan proyek secara

langsung

5. Dapat menguji kemampuan pribadi baik dari segi disiplin ilmu maupun sosialisasi

hidup masyarakat

6. Mahasiswa dapat mengetahui dan menganilisa permasalahan yang tejadi dilapangan

serta mampu memberikan solusi berdasarkan teori atau teknologi yang di dapat dari

sumber-sumber terpercaya

7. Mahasiswa dapat mengolah data-data serta informasi yang didapatnya untuk dijadikan

bahan kajian

8. Mahasiswa dapat mempersipkan diri secaara mental maupun fisik juga kualitas dalam

rangka menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif

9. Untuk memenuhi mata kuliah Praktik Kerja Lapangan yang berada pada semester 7

10. Sebagai salah satu kewajiban yang harus di tempuh mahasiswa sebelum menempuh

Tugas Akhir.

1.4 Batasan Masalah

Agar dalam ini masalah tidak meluas dan dapat terarah sesuai dengan tujuan dari

pembuatan laporan ini maka, permasalahan dibatasi pada:

1. Membahas pekerjaan yang dapat diamati selama proses Praktik Kerja Lapangan

berlangsung

2. Tidak membahas RAB karena keterbatasan data yang menjadi rahasia perusahaan.
BAB II

URAIAN UMUM PROYEK

4.1 Lokasi Proyek

Lokasi proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab.

Malang (Lot7) terletak di ujung selatan pesisir pantai lebih tepatnya di Desa Tambakrejo

Kabupaten Blitar. Berikut peta lokasi proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung –

Serang – bts. Kab. Malang (Lot7) yang terletak pada koordinat 8º18’01.48”S -

112º12’20.24”E.

(Sumber: google earth 2021)


Gambar 2.1 Peta proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab.
Malang (Lot7)

4.2 Data Umum Proyek

Proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot

7) memiliki data-data umum proyek yaitu Pemberi Tugas adalah Kementrian Pekerjaan

Umum Dan Perumahan Rakyat (Pupr) Direktorat Jendral Bina Marga, Konsultan Perencana

adalah PT. Krida Pratama Adhicipta (Main Road) PT. Mono Heksa Associate dengan PT.

Bikonar Perdana, Konsultan Pengawas adalah PT. Perentjana Djaja In Association with PT.
Aria Jasa Reksatama, PT. Global Profex Synergy PT. Sarana Multi Daya, PT. Delta Tama

Waja Corpor, Kontraktor Utama adalah PT. PP (Persero) Tbk, Mandor adalah Bp. Rusdiana,

yang berlokasi di Blitar merupakan enis proyek pembangunan jalan.

4.3 Lingkup Kerja

Adapun lingkup kerja pada metode pekerjaan box culvert ini adalah area main road:

1. Galian Saluran

Pekerjaan galian ini dilaksanakan setelah mendapatkan ukuran-ukuran yang

tepat dan pasti dari hasil pegukuran, hasil galian ditimbun tidak telalu dekat dengan

lubang galian supaya tanah galian tidak longsor kembali ke lubang galian. Pekerjaan

ini dilakukan menggunakan excavator dan alat bantu lainnya sesuai dengan gambar

rencana.

2. Lantai Kerja Box Culvert

Metode ini menjelaskan pekerjaan secara umum tentang pekerjaan lantai kerja

untuk elemen struktur Box Culvert. Fungsi dari lantai kerja ini adalah untuk

memudahkan pekerja/alat berdiri diatas lahan datar, merupakan dudukan besi lapis

bawah, dan menahan gaya angkat (up-lift force) tanah di bawahnya.

3. Pembesian

Pada metode kerja ini adalah mengenai siklus pemasangan besi dan

meminimalisir sisa waste / material besi yang tidak dapat digunakan kembali pada

pelaksanaan pekerjaan Box Culvert. Pekerjaan pembesian dilaksanakan menurut

gambar shopdrawing yang sudah di setujui dan di jadikan dasar sebagai bahan untuk

membuat bestat / BBS (Bar Bending Schedule).

4. Pengecoran
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan on site berdasarkan gambar serta Job Mix yang

sudah disepakati bersama antara Owner dan Konsultan Pengawas.

5. Penimbunan Box Culvert

Pekerjaan timbunan dilaksanakan menurut kelandaian, garis, dan elevasi yang

ditentukan dalam gambar atau petunjuk Konsultan Pengawas dan mencakup

pembuangan semua bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah dan

perkerasan lama yang tidak digunakan untuk pekerjaan permanen.


BAB III

STRUKTURAL ORGANISASI PROYEK

2.1 Sistem Organisasi Proyek

Dalam proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab.

Malang (Lot 7) [Link] (Persero) Tbk, selaku kontraktor utama dalam pelaksanaan proyek ini.

Adapun struktur organisasi pekerja yang ditunjukkan dengan bagan seperti yang diuraikan

dibawah ini:

Mandor Cor dan Pembesian Bp. Rusdiana


Suppliyer Beton PT. Merak Jaya Beton

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Pekerja


2.2 Tugas dan Tanggung Jawab

Berikut merupakan tugas dan tanggung jawab setiap pekerja [Link] (Perseo) Tbk.

pada proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7)

sebagai berikut:

1. Project Manager

Yang bertanggung jawab sebagai Project Manager adalah Dwi Sutarto, berikut

merupakan tugas dan tanggung jawabnya:

a. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan proyek

b. Mendefinisikan ruang lingkup proyek, tujuan dan penyampaiannya

c. Menyusun dan mengkoordinasikan staff proyek

d. Perencanaan dan penjadwalan proyek

e. Memberikan arahan dan dukungan untuk tim proyek

f. Terus menerus memantau dan melaporkan kemajuan proyek kepada seluruh

stakeholders

g. Membuat laporan yang memuat kemajuan proyek, masalah dan solusi

h. Melaksanakan dan mengelola perubahan proyek dan melakukan intervensi untuk

mencapai hasil proyek

i. Melakukan evaluasi dan penilaian hasil.

2. Quality Control Officer

Yang bertanggung jawab sebagai Quality Control Officer adalah Reza Aulia, berikut

merupakan tugas dan tanggung jawabnya:

a. Memastikan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan Metode Pelaksanaan dengan

melakukan control terhadap proses pelaksanaannya


b. Melaksanakan pemeriksaan hasil kerja sesuai dengan tahap-tahap yang tersebut

dalam ITP dan memastikan hasil pekerjaan dibuat dan disimpan dengan baik

c. Membuat laporan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi (NCR) dan

menindak lanjutinya.

3. Supervisor

Yang bertanggung jawab sebagai Supervisor adalah Andre Pranata, berikut

merupakan tugas dan tanggung jawabnya:

a. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja, metode kerja, gambar kerja

dan spesifikasi pekerjaan

b. Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil kerja di lapangan

c. Mengusulkan perubahan rencana pelaksanaan karena kondisi pelaksanaan yang

tidak memungkinkan untuk melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan rencana

d. Menjaga kebersihan dan ketertiban di lapangan

e. Mengontrol setiap kebutuhan proyek untuk dilaporkan kepada manajer proyek.

4. Site Engineer Manager

Yang bertanggung jawab sebagai Site Engineer Manager adalah Bandi Ismono,

berikut merupakan tugas dan tanggung jawabnya:

a. Bertanggung jawab atas urusan teknik yang ada di lapangan

b. Memberikan cara-cara penyelesaian atas usul-usul perubahan desain dari lapangan

berdasarkan persetujuan pihak pemberi peritah kerja, sedemikian rupa sehingga

tidak menghambat kemajuan pelaksanaan di lapangan

c. Melakukan pengawasan terhadap hasil kerja apakah sesuai dengan dokumen

kontrak.
5. Site Operation Manager

SOM akan menjelaskan kepada timnya jenis pekerjaan dan urutan pekerjaan

utama dari aspek keselamatan dan keamanan kerja. SOM harus memastikan bahwa

rencana pemasangan meliputi:

a. Mengidentifikasi jenis pekerjaan yang akan dilakukan

b. Mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan

c. Melaksanakan penilaian resiko (risk assessment)

d. Mengidentifikasi tindakan pengendalian

e. Mengembangkan metode yang akan digunakan bersama engineer

f. Mengkomunikasikan rencana kepada semua orang yang terlibat

g. Meninjau rencana sebelum memulai pelaksanaan dan menginformasikan data

lapangan atau perubahan yang terjadi

h. Mengarahkan pekerja agar mengetahui pekerjaan dan resiko

i. Melaporkan bila ada penyimpangan dan kendala yang terjadi di lapangan selama

pelaksanaan

j. Memberikan solusi pelaksanaan pekerjaan jika terhadap penyimpangan dan

kendala yang terjadi

k. Koordinasi dengan Superintendent untuk masalah-masalah yang ada dilapangan

l. Melakukan tool-box meeting sebelum melaksanakan pekerjaan

m. Membuat JSA yang terkait pekerjaan.

6. Pengawas Operasional Pertama

Yang bertanggung jawab sebagai POP 1 adalah Tedjo Yodyanto sedangkan POP 2

adalah Geri Gusbi, berikut merupakan tugas dan tanggung jawabnya:


a. bertanggung jawab kepada KTT/PTL untuk keselamatan dan kesehatan semua

pekerja tambang yang menjadi bawahannya

b. melaksanakan inspeksi, pemeriksaan, dan pengujian

c. bertanggung jawab kepada KTT/PTL atas keselamatan, kesehatan, dan

kesejahteraan dari semua orang yang ditugaskan kepadanya dan

d. membuat dan menandatangani laporan pemeriksaan, inspeksi, dan pengujian.

7. Metode

Yang bertanggung jawab dalam hal metode ini adalah Rizki Hari Yudo, berikut tugas

dan tanggung jawabnya:

a. Menyiapkan metode kerja yang digunakan sebagai acuan di lapangan berupa alat,

dan material

b. Membuat request pekerjaan

c. Memeriksa tahapan pekerjaan di lapangan

d. Melakukan koordinasi teknis dengan pihak sub kontraktor terkait.

8. Drafter

Yang bertanggung jawab sebagai Drafter adalah Dodi Maulana, berikut tugas dan

tanggung jawabnya:

a. Mempersiapkan gambar kerja

b. Brekoordinasi dengan Surveyor terkait lokasi yang dikerjakan.

9. Quantity Surveyor

Yang bertanggung jawab sebagai Quantity Surveyor adalah Fikri Amirullah, berikut

tugas dan tanggung jawabnya:


a. Menghitung volume pada pekerjaan yang akan dikerjakan

b. Menghitung volume pada pekerjaan yang sudah dikerjakan.

10. Logistik

Yang bertanggung jawab sebagai Logistik adalah Surya Handoko, berikut tugas dan

tanggung jawabnya:

a. Bekerjasama dengan supervisor dalam pengadaan material

b. Mencatat kedatangan material

c. Mengatur keluar masuk material

d. Mengelola persediaan material proyek

11. Laborat

Yang bertanggung jawab sebagai Laborat adalah Arief dan Benny, berikut tugas dan

tanggung jawabnya:

a. Melakukan kegiatan pengetesan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut di

lapangan

b. Berkoordinasi dengan pihak konsultan terkait pengetesan di lapangan

c. Berkoordinasi dengan QCO terkait hasil pengujian

d. Melakukan pengawasan terkait kualitas pekerjaan yang dikerjakan

12. BIM Engineer / BIM Manager

Yang bertanggung jawab sebagai BIM Engineer / BIM Manager adalah Rizky Wahyu,

berikut tugas dan tanggung jawabnya:

a. Sebagai perantara antara desainer, klien dan arsitek agar proyek tetap efisien dan

efektif.
b. Mengelola produksi gambar dan file digital.

c. Bekerjasama dengan ahli BIM yang bertanggung jawab untuk memproduksi

model.

d. Bertanggung jawab untuk melatih dan meningkatkan keterampilan kolega atau

rekan kerja dalam menangani dan menguasai program perangkat lunak tertentu.

e. Memastikan para staf memiliki akses kepada alat dan perlengkapan yang mereka

butuhkan.

f. Mengawasi pembelian dan pengadaan workstation, sehingga perangkat keras

tersebut memiliki kemampuan yang cukup dan efektif untuk berbagai sistem dan

program yang dipasang.

g. Menghasilkan konten untuk digunakan oleh perusahaan.

h. Harus selalu memperbaharui pengetahuan dan wawasan terhadap perkembangan

serta kemajuan teknologi konstruksi.

i. Memimpin rapat untuk mengidentifikasi tugas pada proyek dan juga memecahkan

permasalahan yang muncul.

j. Mengawasi anggaran perencanaan.

13. Pelaksana

Yang bertanggung jawab sebagai Pelaksana adalah Herry dan Eko, berikut tugas dan

tanggung jawabnya:
a. Pelaksana proyek harus bisa membaca gambar shopdrawing ataupun gambar

rencana yang akan di laksanakan dilapangan

b. Bisa mengendalikan pekerjaan sesuai dengan jadwal pekerjaan atau schedule yang

sudah di rencanakan

c. Memberikan teguran serta mengawasi mandor yang bekerja dilapangan

d. Membuat rincian laporan harian sesuai dengan pekerjaan dilapangan

e. Koordinasi dengan engineer jika terjadi ketidaksesuaian gambar atau spesifikasi

mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan dilapangan

f. Memonitoring setiap pekerjaan yang dilaksanakan dilapangan

g. Memaksimalkan proses pekerjaan lapangan dengan megkoordinir tenaga kerja

h. Menjaga dan menerapkan kebersihan dan keselamatan kerja dilapangan.

14. Surveyor

Yang bertanggung jawab sebagai Surveyor adalah Basuni, berikut tugas dan tanggung

jawabnya:

a. Memastikan pekerjaan dilakukan dalam batas-batas yang ditentukan

b. Melakukan monitoring sebelum dan selama pelaksanaan

c. Berkoordinasi dengan pihak drafter untuk lokasi yang dikerjakan

d. Melakukan opname pekerjaan

e. Membersihkan batasan lokasi maupun elevasi pada lokasi yang dikerjakan.

15. HSE

a. HSE bersama team engineer akan membantu dan memastikan pekerjaan

mengikuti ketentuan dan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja

b. Memberikan safety induksi kepada semua pekerja


c. Mengontrol dan mengadakan Pre start meeting / tool-box meeting secara rutin

yang dipimpin oleh supervisor

d. Menciptakan dan memonitor ligkungan kerja yang sehat dan aman

e. Memastikan semua peralatan layak dan aman digunakan

f. Memastikan semua pekerja mematuhi persyaratan safety untuk bekerja

g. Memastikan material tidak terpakai dibuang pada tempat yang tepat

16. General Superintendent

a. Mengatur dan mengawasi pekerjaan agar sesuai dengan metode pelaksanaan dan

urutan pekerjaan yang telah ditentukan

b. Mempersiapkan pekerjaan agar dilaksanakan dalam kondisi yang aman sesuai

standard dan prosedur keselamatan kerja

c. Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan Engineer Manager maupun

Project Manager sehubungan dengan pekerjaan tersebut

d. Memonitor pelaksanaan system keselamatan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan

e. Membuat rencana kerja harian

f. Mengatur pembagian kerja antar supervisor

g. Melakukan koordinasi dengan pihak subkontraktor.

17. Mandor

a. Bekerjasama dengan supervisor konntraktor dalam pelaksanaan pekerjaan

b. Memimpin pekerja dengan garis kerjasama

c. Mematuhi dan mengarahkan semua pekerja mengikuti ketentuan K3 kontraktor

utama

d. Melakukan evaluasi dan laporan atas hassil pekerjaan


e. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar kerja yang sudah diberikan.

18. Suppliyer Beton adalah PT. Merak Jaya Beton

a. Bekerjasama dengan suopervisor kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan

b. Mematuhi dan mengarahkan semua pekerjaan mengikuti ketentuan K3 kontraktor

utama

c. Mensuply kebutuhan beton sesuai dengan permintaan dengan mengikuti standart

mutu yang sudah ditetapkan.

2.3 Profil PT. PP (Persero) tbk

Gambar 3.2 Logo PT. PP (Persero) tbk

PT PP berdiri pada tanggal 26 Agustus 1953 dengan nama NV Pembangunan

Perumahan. Namanya lalu diganti menjadi PN Pembangunan Perumahan melalui PP no. 63

tahun 1960. Terakhir, berdasarkan PP no. 39 tahun 1971, statusnya berubah kembali

menjadi PT Pembangunan Perumahan (Persero).


Pada tahun 1991, PT PP (Persero) Tbk. melakukan diversifikasi kegiatan usaha

dengan membentuk cabang UNK (Usaha Non Konstruksi) yang terdiri dari unit developer

dan unit properti. Diantaranya penyewaan gedung Plaza PP, Perumahan Otorita Jatiluhur dan

pengembangan kawasan di Cibubur (Perumahan Permata Puri 1). Kemudian pada

tahun 1995, PT PP (Persero) mengubah cabang UNK menjadi Unit UNK. Proyek-proyek

yang dikerjakan saat itu antara lain:

 Permata Puri Laguna

 Bukit Permata Puri I Semarang

 Laguna Sport Center

 Permata Puri II

Pada tahun 2004, PT PP (Persero) mengalami restrukturisasi organisasi sehingga

membuat unit UNK dibawah Divisi Pengembangan Usaha (DVB). Kemudian pada

tahun 2010, Unit UNK dikembangkan divisi properti yang menjalankan kegiatan usaha

pengembangan properti dan realti dengan fokus pada tiga segmen (Hospitality, Residential,

dan Commercial). Pada tahun 2012, statusnya berubah menjadi Divisi Property dan pada 12

Desember 2013 kembali dilakukan perubahan status menjadi PT PP Properti sebagai anak

perusahaan dari PT PP (Persero) Tbk.

PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk. (nama dagang PP Construction &

Investment) adalah salah satu BUMN yang bergerak di bidang perencanaan dan konstruksi

bangunan. Sebagai BUMN, mayoritas (51%) kepemilikan saham PT PP dipegang oleh

Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya (49%) dipegang karyawan dan manajemen PT

PP. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia, mayoritas (51%) saham dipegang pemerintah,

45,36% saham publik dan 3,64% saham dipegang karyawan dan manajemen PT PP.
Berikut merupakan anak perusahaan diantaranya:

1. PT. PP Properti Tbk

PT. PP Properti Tbk didirikan Tahun 2013 sesuai Akta Pendirian Perseroan

Terbatas No.18 tanggal 12 Desember 2013 dibuat dihadapan Ir. Nanette Cahyanie

Handari Adi Warsito, S.H. yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan

Hak Asasi Manusia Nomor [Link] 2014 tanggal 5 Februari 2014

("PP Properti") yang merupakan pemisahan divisi properti dari PT PP (Persero) Tbk

yang telah ada sejak tahun 1991. PP Properti resmi melantai di Bursa Efek

Indonesia pada bulan Mei 2015. PP Properti juga mengakuisisi Limasland Realty dan

Grahaprima Realtindo pada bulan November 2018 untuk merealisasikan rencananya

mengembangkan apartemen di Cilegon dan Yogyakarta. PT PP Properti Tbk memiliki 3

(tiga) unit Bisnis, yaitu Komersial, Residensial dan Hotel.

- Hospitality

PP Hospitality, salah satu unit bisnis PT PP Properti Tbk, adalah

manajemen Hospitality dengan beragam keahlian yang menyediakan manajemen

dan konsultasi dengan pengembalian berkelanjutan dan nilai tambah, serta

menciptakan produk inovatif untuk hotel di indonesia. Didirikan pada tahun 2012,

PP Hospitality saat ini mengelola 4 Hotel yaitu Prime Park Hotel Bandung, Hotel

bintang 4 yang beroperasi pada tahun 2014, Prime Park Hotel Pekanbaru, Hotel

bintang 4 yang resmi dibuka pada April 2019, Prime Park Cawang - Jakarta, Hotel

bintang 3 plus yang beroperasi pada tahun 20019, dan Prime Park Hotel Surabaya,

Hotel bintang 3 yang resmi dibuka pada April 2019. PP Hospitality juga

merupakan owner representative untuk Swiss-Belhotel & Residences di

Balikpapan Ocean Square.


PP Hospitality terus mengembangkan bisnis untuk meningkatkan pendapatan

berulang perusahaan dan berencana memperluas jaringan ke daerah lain di seluruh

indonesia. Saat ini PP Hospitality sedang mengembangkan Prime Park Hotel

& Convention Lombok, Hotel bintang 4 yang rencananya dibuka pada tahun 2020.

Selanjutnya akan merambah ke Mandalika, Padang, Semarang, Medan dan

Bengkulu. PP Hospitality didukung oleh tim profesional berpengalaman yang

menyediakan berbagai layanan untuk investor atau pemilik Hotel lainnya,

termasuk pengembangan dan pengawasan Hotel, e-commerce dan manajemen

pendapatan.

Lokasi : PP Hospitality mengelola Hotel di sumatera,Jawa dan Lombok

2. PT PP Urban

PT PP Urban adalah anak perusahaan PT PP (Persero) Tbk yang bergerak di

bidang urban development, konstruksi, dan pracetak. Perusahaan ini memulai

sejarahnya pada tahun 1989 dengan nama PT Prakarsa Dirga Aneka yang dimiliki

oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT PP (Persero). Perseroan ini mula-mula

bergerak di bidang perdagangan untuk mendukung perusahaan induknya. Seiring

waktu, perseroan kemudian berhasil mengembangkan diri di industri pracetak dan

konstruksi.

Pada tahun 2008, perseroan berganti nama menjadi PT PP Dirganeka. Fokus

bisnis PT PP Dirganeka adalah di bidang konstruksi dan manajemen gedung. Setelah

diakusisi oleh PT PP (Persero) pada 2013, perseroan berganti nama menjadi PT PP

Pracetak dengan fokus bisnis di bidang konstruksi, manajemen gedung, dan beton

precast. Untuk memenuhi visi bisnisnya, PT PP Pracetak melakukan transformasi

menjadi PT PP Urban pada 2017. Dengan menjadi entitas baru, perseroan mulai
merambah bisnis pengembangan kota, terutama pengembangan perumahan untuk

masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).sulit dikoordinasikan

3. PT PP Presisi Tbk.

PT PP Presisi Tbk adalah perusahaan jasa konstruksi yang berbasis pada

diferensiasi produk yaitu: jasa konstruksi sipil dan gedung sehingga terbentuk 6 lini

bisnis utama yaitu pekerjaan sipil, ready mix, pekerjaan pondasi, erector, formwork,

dan rental alat berat. Perusahaan ini memulai sejarahnya dengan nama PT Prima Jasa

Aldodua (PT PJA) pada 6 Mei 2004 berdasarkan Akta Notaris Muhammad Chotib SH

No.02 tanggal 26 Mei 2004 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Ham tanggal 1

Juli 2005. Selama 2004 hingga 2012, fokus bisnis utama PT PJA yaitu jasa sewa

peralatan konstruksi skala kecil dengan berfokus pada pengembangan alat ringan,

perancah, dan mengelola alat berat milik PT PP (Persero) Tbk.

Pada tahun 2014, PT Prima Jasa Aldodua resmi diakuisisi oleh PT PP

(Persero) Tbk dan berganti nama menjadi PT PP Alat Konstruksi (PP Alkon) pada

Juni 2014, kemudian PT PP Alat Konstruksi berganti nama menjadi PT PP Peralatan

Konstruksi pada Juli 2014. Pada Maret 2017, PT PP Peralatan Konstruksi berganti

nama menjadi PT PP Presisi. Pada bulan Juli 2017, PP Presisi resmi mengakuisisi

51% saham Lancarjaya Mandiri Abadi, untuk memperkuat bisnis peralatan

konstruksinya. Pada bulan November 2017, PP Presisi resmi melantai di Bursa Efek

Indonesia.
BAB IV

TINJAUAN KHUSUS PROYEK

4.1 Gambaran Umum Proyek

Kabupaten Blitar merupakan daerah yang dilalui mega proyek Jawa Timur yaitu Jalur

Lintas Selatan (JLS). Jalur Lintas Selatan ini direncanakan menghubungkan Kabupaten

Pacitan hingga Kabupaten Banyuwangi sepanjang sekitar 680.13 kilometer (KM) membujur

di selatan Pulau Jawa. Proyek Jalur Lintas Selatan ini sudah mulai dikerjakan sejak tahun

2002 lalu. Pada tahun 2019 lalu, proyek pembangunan JLS lot 7 dimulai yang meliputi Bts.

Kab. Tulungagung - Serang - Bts Kab. Malang dengan panjang 12.85 Km. yang ditargetkan

pada tahun 2023 proyek ini sudah selesai.

Pada proyek pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) terdapat beberapa proyek

pembangunan namun pembangunan box culvert ini yang akan menjadi tinjauan dalam

pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan dan akan diuraikan dalam laporan ini meliputi metode

pelaksanaan, sumber daya manusia, alat dan material serta alat dan material yang digunakan

dalam pelaksanan pekerjaan box culvert ini.

4.2 Metode Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan pekerjaan box culvert ini akan dibagi menjadi beberapa tahapan

diantaranya persiapan, galian struktur, pekerjaan lantai kerja, pembesian, pemasangan

bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting, dan timbunan. Berikut merupakan flowchart

pekerjaan box culvert:


Flowchart Pekerjaan Box Culvert

Gambar 4.1 Flowchart Pekerjaan Box Culvert

Fungsi dari flowchart ini adalah memberikan gambaran jalannya sebuah pekrjaan dari

satu proses ke proses lainnya. Sehingga, alur pekerjaan menjadi mudah dipahami.

4.2.1 Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan ini untuk menentukan pematokan rencana box dan patok referensi serta

sebagai pemeriksaan level dan kontur tanah eksiting. Dilakukan pengamatan kondisi

lapangan apakah sudah siap untuk dilakukan pekerjaan berikutnya.


(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.2 Pengukuran Titik Koordinat Oleh Surveyor

4.2.2 Galian Struktur

Setelah dipasang patok-patok koordinat oleh tim survey, maka dilakukan galian

mengunakan excavator. Dengan kedalaman dan lebar galian sesuai gambar rencana

shopdrawing. Lalu pasang patok untuk membentuk lereng dengan kemiringan 1:2. Buat

sudetan air atau menggunakan pompa air jika diperlukan agar kondisi galian tetap kering.
(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.3 Galian Struktur Box Culvert

4.2.3 Pekerjaan Lantai Kerja

Metode ini menjelaskan pekerjaan secara umum tentang pekerjaan lantai kerja untuk

elemen struktur Box Culvert. Fungsi dari lantai kerja ini adalah untuk memudahkan

pekerja/alat berdiri diatas lahan datar, merupakan dudukan besi lapis bawah, dan menahan

gaya angkat (up-lift force) tanah di bawahnya.

Gambar 4.4 Penampang Box


(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.4 Pekerjaan Lantai Kerja

Berikut merupakan urutan pekerjaan lantai kerja:

1. Pasang blinding stone diatas tanah galian dengan tebal 20 cm

2. Marking tepi samping kanan dan kiri box culvert

3. Pasang bekisting menggunakan profil canal C 100 tiap sisi kanan dan sisi kiri box

4. Cor lean concrete (LC) dengan mutu class E setebal 10 cm diatas blinding stone.

Ambil sample beton untuk pengetesan kuat tekan

5. Finishing permukaan LC dengan jidar agar permukaan rata

6. Cek elevasi dan kedataran.

4.2.4 Pembesian
Pada metode kerja ini adalah mengenai siklus pemasangan besi dan meminimalisir

sisa waste / material besi yang tidak dapat digunakan kembali pada pelaksanaan pekerjaan

Box Culvert. Pekerjaan pembesian dilaksanakan menurut gambar shopdrawing yang sudah di

setujui dan di jadikan dasar sebagai bahan untuk membuat bestat / BBS (Bar Bending

Schedule).

(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.6 Pekerjaan Pembesian


Gambar 4.7 Bestat Pembesian Box Culvert

Inspeksi:

1. Persiapkan beton decking yang berfungsi untuk memberi jarak dari besi ke LC dan

bekisting supaya tidak terjadi kontak langsung dengan LC

2. Toleransi dimensi panjang:

a. Jika panjang total s.d 6 m : 5 mm

b. Jika panjang total > 6 m : 15 mm

c. Balok, plat deck : 10 mm

d. Toleransi dimensi bentuk : 10 mm

3. Permukaan halus dan licin, tidak ada lubang atau luka, dan diberi minyak

4. Sambungan rapat, tidak ada pilin

5. Bersih, bebas dari kotoran, debu, dan beton sisa.

4.2.5 Pemasangan Bekisting


Pada proyek ini, formwork untuk Box Culvert menggunakan sistem Bekisting Knock

Down dengan pemakaian Plywood tebal 18 mm, type plywood yang dipakai adalah phenol

film atau phenolic 2 lapis. Sedang elemen horizontal lantai menggunakan bekisting yang

terbuat dari hollow disupport dengan tierod dengan ditopang support besi disampingnya.

Sedangkan untuk lantai atas dipakai bekisting hollow disupport dengan scaffolding

dibawahnya. Ada 2 tahap pemasangan bekisting:

1. Pemasangan Bekisting Plat Bawah Box Culvert

Pemasangan bekisting ini cukup cepat dikarenakan sudah difabrikasi terlebih

dahulu, sehingga dilokasi pekerjaan tinggal memasang perkuatan dari scaffolding disisi

luar plat yang dikerjakan.

2. Pemasangan Bekisting Pada Dinding dan Plat Atas Box Culert

Sistem bekisting pada dinding menggunakan sistem tierod disupport dengan

scaffolding. Tireod berfungsi agar ketebalan dinding tetap terjaga serta tidak terjadi

lendutan atau pemekaran dinding. Untuk plat atas sistem bekisting yang digunakan

menggunakan enol film system. Yaitu bekisting yang terbuat dari hollow dan phenol

film ditopang dengan scaffolding dibawahnya.


(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.8 Pemasangan Bekisting Box Culvert

Tahapan pekerjaan:

1. Sebelum bekisting dipasang oleskan permukaan plywood dengan minyak

bekisting yang berfungsi sebagai separator / pemisah permukaan beton dan

bekisting. Bila sewaktu bongkar bekisting permukaan beton tidak menempel kuat

pada permukaan bekisting

2. Setelah itu dilakukan pengecoran pada box culvert

3. Setelah umur beton sudah memungkinkan bongkar sebagian bekisting dan

scaffolding slab atas (Diberi Support).


Gambar 4.9 Ilustrasi Pemasangan Bekisting Box Culvert

4.2.6 Pekerjaan Pengecoran

Pekerjaan pengecoran dilaksanakan on site berdasarkan gambar serta Job Mix yang

sudah disepakati bersama antara Owner dan Konsultan Pengawas. Dalam pekerjaan

pengecoran ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Kebersihan lokasi pekerjaan

2. Dilakukan check list pekerjaan (bekisting, besi, dimensi struktur, kekuatan peancah)

3. Siapkan alat bantu pengecoran (vibrator, terpal antisipasi jika cuaca hujan)

4. Dll.

Untuk pekerjaan struktur sendiri di bagi menjadi 2, yaitu:


A. Pengecoran Box Culvert

Gambar 4.10 Tahapan Pengecoran Box Culvert

Keterangan:

1. Tahap 1 = Slab bawah dan Chamfer bawah

2. Tahap 2 = Dinding dan Slab Atas

3. Tahap 3 = Wingwall Inlet / Outlet

Inspeksi:

 Cek perkuatan bekisting sesuai perhitungan

 Cek kerapatan bekisting

 Pemasangan beton decking

 Cek slump beton

 Setelah beton diratakan, cek kerataan permukaan dengan menggunakan jidar

 Pemasangan stop cor (Kawat ayam/lis).

Quality:
 Permukaan LC rata sesuai elevasi shop drawing

 Mutu beton sesuai dengan desain

 Tidak keropos, tidak retak

 Tidak ada pin pada sambungan

 Tidak ada tulangan yang keluar

 Warna seragam

 Tidak ada sisa bendrat dan material bekisting dipermukaan beton

 Nut antar segmen pengecoran harus ada, seragam dan lurus

 Demoulding minimal 6 jam setelah pengecoran

 Tinggi jatuh maksimal 1.5 m untuk menghindari pemisahan material, jika lebih

memakai talang/tremi

 Beton di padatkan memakai vibrator.

(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.11 Proses Pengecoran Box Culvert

4.2.7 Pembongkaran Bekisting


Untuk pembongaran bekisting plat bawah bisa dilakukan sehari setelah pengecoran

berlangsung begitupula untuk bekisting dinding. Sedangkan untuk plat atas bisa di bongkar

setelah 7 hari atau saat presentase kuat tekan desain 70%.

Tabel 4.1 Timline Pembongkaran Bekisting

Umur beton
Aktivitas
(hari)( x 24 jam)

0 Pengecoran

1 Bekisting plat bawah dan bekisting dinding dibongkar

7 Bongkar bekisting plat atas

Flowchart Pembongkaran Bekisting dan Perancah:

I. Persiapam Pembongkaran
- Ijin pembongkaran secara tertulis dari yang
berwenang (Direksi pengawas, Site Manajer)
MULAI - Lokasi penempatan hasil bongkaran dan balo
tatakan
- Alat-alat bongkar: linggis, tambang, safety belt
- Tenaga bongkar minimal 2 orang.

II. Pelaksanaan Pembongkaran

III. Penumpukan material sisa


bongkaran

SELESAI
Gambar 4.12 Flowchart Pembongkaran Bekisting dan Perancah
(Sumber: Dokumentasi 2021)

Gambar 4.13 Proses Pembongkaran Bekisting

Tahapan Pelaksanaan Pembongkaraan:

1. Pembongkaran dimulai dari clam terlebih dahulu sehingga tidak terjadi goyang pada

beton yang masih muda / belum mengeras sepenuhnya

2. Setelah clam lepas semua barulah pipe supportnya dilepas satu persatu dengan hati-

hati

3. Selanjutnya baru dilepas panel bekisting satu persatu

4. Pembongkaran balok tatakan support

5. Susun sisa material bebas bongkaran bekisting dan perancah di lokasi yang telah

direncanakan sebelumnya.

4.2.8 Timbunan Granular Backfill


Pekerjaan granular dilaksanakan menurut kelandaian, garis, dan elevasi yang

ditentukan dalam gambar atau petunjuk Konsultan Pengawaas dan mencakup pembuangan

semua bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah dan perkerasan lama yang

tidak digunakan untuk pekerjaan permanen.

Gambar 4.14 Timbunan Granular Backfill

Tahapan Pekerjaan:

1. Tahap pertama dilakukan pekerjaan timbunan tanah terlebih dahulu setinggi ±30 cm

per 1 layer, setelah itu dilakukan pemadatan/compaction

2. Dilakukan pengetesan terhadap timbunan tanah

3. Apabila timbunan tanah sudah dipastikan masuk untuk hasil tes kepadatannya (sand

cone, speddy test). Dilanjutkan dengan pekerjaan granular backfill setinggi ±25 cm

per 1 layer dan dilakukan pemadatan/compaction

4. Dilakukan pengetesan (sandcone, speedy test) pada pekerjaan granular backfill

5. Metode tersebut dilakukan secara berulang s.d top elevasi granular backfill.

4.3 Sumber Daya (Resources)


Sumber daya merupakan sarana yang merupakan kebutuhan untuk menjalankan

proyek agar dapat mencapai tujuan dan sasaran proyek secara efektif dan efisien. Pada proyek

pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts. Kab. Malang (Lot 7) terdapat tiga

macam sumber daya yaitu sumber daya alat, sumber daya material dan sumber daya tenaga

kerja. Berikut merupakan rincian dari masing-masing sumber daya:

4.3.1 Alat

Peralatan yang akan digunakan dalam proyek harus diidentifikasi terlebih

dahulu agar sesuai dengan kondisi di lapangan. Tingkat kebutuhan pemakaian alat

dapat direncanakan secara efektif dan efisien. Berikut merupakan rincian kebutuhan

peralatan dalam pekerjaan box culvert:

Tabel 4.2 Resources Alat


Nama
No Quantyt
Alat/Baha Gambar Fungsi
. y
n
Pekerjaan Persiapan

untuk
menentukan
Alat tinggi tanah
Survey dengan
1 1 set
(Theodolite sudut
) mendatar
dan sudut
tegak.

untuk
memberi
Patok tanda
2 12 buah
Kayu setelah
dilakukan
survey

Galian Struktur
untuk
menggali
tanah sesuai
dengan
1 Excavator 1 unit
kedalaman
dan lebar
yang telah
ditentukan

untuk
memindahkan
2 Dump Truck 1 unit
tanah hasil
dari galian

untuk
menjaga agar
3 Pompa Air 1 unit
kondisi galian
tetap kering

Pekerjaan Lantai Kerja

mengangkut
beton dari
1 Truk Mixer bathing plant 1 Ls
ke lokasi
konstruksi

alat bantu
untuk
meratakan
pekerjaan
2 Jidar 1 buah
plesteran
agar
ketebalannya
sama rata
untuk
meratakan
beton dengan
cara
3 Palu 1 buah
memukulkan
palu di
bagian
bekisting

Pekerjaan Pembesian

alat untuk
1 Bar Cutter memotong 1 unit
besi tulangan

alat untuk
membengkok
kan besi
2 Bar Bender tulangan 1 unit
dalam
berbagai
sudut

Pekerjaan Bekisting

trafo
berfungsi
mengubah
1 Trafo Las tegangan 1 unit
arus listrik
pada mesin
las
alat bantu
Tape untuk
2 2 unit
Measurement mengukur
panjang

untuk
memotong
3 Gerinda atau 1 unit
mengasah
benda tajam

untuk
membantu
memotong
4 Gergaji Kayu 2 unit
atau
membelah
kayu

untuk
menyangga
Perancah/ manusia dan
5 1 Ls
Scaffolding material
dalam
konstruksi
alat bantu
Set Perkakas
untuk
7 (palu,,tang, 1 set
keperluan
dll)
lainnya

Pekerjaan Pengecoran

mengangkut
beton dari
1 Truk Mixer bathing plant 1 Ls
ke lokasi
konstruksi

alat yang
digunakan
untuk
mendorong
Concrete
2 hasil cairan 1 unit
Pump
beton yang
sudah diolah
dari mixer
truck

memadatkan
adonan beton
Vibrator dan yang
3 1 unit
Genset dimasukkan
kedalam
bekisting
Timbunan Granular Backfill

alat untuk
membantu
1 Excavator pengangkut 1 unit
an tanah ke
dump truk

untuk
megangkut
2 Dump Truck 1 unit
material
tanah

alat untuk
pemerataan
tanah yang
3 Bulldozer memiliki 1 unit
kemampuan
dorong yang
tinggi

alat untuk
pemadat
Vibrator tanah yang
4 1 unit
Roller dilengkapi
dengan
getaran
4.3.2 Material

Dalam hal manajemen sumber daya material, material harus dikelola dengan sebaik-

baiknya agar kebutuhannya mencukupi pada waktu dan tempat yang di inginkan. Oleh

karena itu, dikenal sebagai dengan istilah just in time dimana pemesanan, pengiriman, serta

ketersediaan material saat dilokasi sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Berikut

merupakan kebutuhan material dalam pekerjaan box culvert:

Tabel 4.3 Resources Material


No Nama Pekerjaan Pembesian
Gambar Fungsi
. Alat/Bahan
Pekerjaan Lantai Kerja

rangka utama
penyusun
1 Besi Beton
strukturbatu
pasangan
Blinding bangunan
1 kosong untuk
Stone
podasi struktur

untuk
penyambung
4 Joint Pin
antar mainframe
dengan jack base
Kawat sebagaipengikat
sebagai lantai
2 kerja tulangan
agar air
Bendrat
Lean antar
semen tidak
2 Concrete
meresap
Class E
kelapisan
bawahnya
Pekerjaan Bekisting sebagai
5 U-Head penyimpan balok-
balok

bagian
untuk utama
membuat
Bekisting Scaffolding
bentuk dan
Main frame
13 Hollow sebagai penyalur
dimensi pada
1.8 m
Profil C bebankonstruksi
suatu dari atas
ke jack
betonbase

sebagai kaki atau


6 Jack Base pondasi
scaffolding

sebagai pengaku
3 Cross Bracing dan pengikat
antar mainframe

sebagai tempat
Cat Walk/
7 berpijak antar
Platform
mainframe
sebagai
8 Tangga penyangga
peralatannya

untuk
mendapatkan
9 Phenol Film
permukaan hasil
cor yang halus

alat untuk
mengunci
10 Tie Rod
bekisting pada
kolom

4.3.3 Tenaga Kerja (Man Power)

Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang penting dan tidak

dapat dilepaskan dari sebuah struktur organisasi, baik institusi maupun peusahaan. Sumber
daya manusia juga merupakan penentu perkembangan perudahaan. Pada hakikatnya, sumber

daya manusia yang dipekerjakan dalam sebuah organisasi sebagai penggerak untuk mencapai

tujuannya.

Berikut merupakan tabel kebutuhan tenaga kerja dalam pekerjaan box culvert:

Tabel 4.4 Resources Man Power

Quantit
No. Jenis Personil (Jabatan)
y
1 Site Oprational Manager 1
2 General Superitendent 1
3 Superitendent 1
4 Pelaksana 1
5 ARK 1
6 Surveyor 3
7 Mandor 1

4.4 Manajemen Mutu Proyek

Manajemen mutu proyek (Project Quality Management) melibatkan proses yang

mensyaratkan dan menjamin bahwa proyek tersebut akan memenuhi kebutuhan yang

disyaratkan termasuk di dalamnya semua aktivitas yang melibatkan fungsi manajemen secara

keseluruhan, antara lain kebijakan mutu, obyektifitas dan tanggung jawab dan

implementasinya terhadap perencanaan mutu/kualitas, penjaminan mutu, control

mutu/kualitas, dan peningkatan mutu/kualitas (PMBOK dalam Dofir,2002). Berikut

merupakan manajemen proyek yang terdiri dari:

4.4.1 Penjaminan Mutu

Penjamin mutu (Quality Assurance) yaitu untuk mengevaluasi kinerja proyek

secara keseluruhan berdasarkan keyakinan bahwa produk/proyek akan memenuhi standar

yang relevan. Berikut cara untuk memenuhi standar penjaminan mutu yang relevan:
1. Memastikan metode kerja yang telah disetujui tersedia dan pekerjaan dilaksanakan

sesuai dengan metode kerja, dokumen kontrak dan vendor dokumen

2. Metode kerja harus diketahui oleh setiap orang yang telah terlibat dalam pekerjaan

3. Memberikan Inspection Test Plan (ITP) dan memastikan ceck list internal persiapan

pekerjaan telah dipenuhi sebelum pekerjaan dilaksankan

4. Melakukan identifikasi semua material, alat, prosedur, sumber daya dan manajemen

agar tercapai pekerjaan baik.

4.4.2 Kontrol Kualitas

Kontrol mutu/kualitas (Quality Control) yaitu untuk memonitor hasil-hasil

proyek yang spesifik untuk memeriksa apakah sudah memenuhi standar kualitas yang relevan

yang sudah disepakati dan mengidentifikasi cara untuk meningkatkan kualitas secara

menyeluruh. Berikut merupakan cara untuk memenuhi standar kualita yang relevan:

1. Ijin pekerjaan telah disetujui sesuai dengan metode, area, material dan peralatan

2. Melakukan kontrol pada ITP dan menjamin dapat terlaksana

3. Melakukan update ITP huna meningkatkan mutu hasil pekerjaan

4. Mempersiapkan rencana, prosedur dan dokumen terkait pekerjaan

5. Urutan setiap pekerjaan mengikuti metode kerja termasuk pengakhiran

6. Melakukan kontrol mutu terhadap hasil pekerjaan sesuai dengan ITP dan memastikan

rekam-mutu disimpan dengan baik.

4.4.3 Sasaran Mutu

Sasaran mutu (Quality Target) adalah goal atau target dari suatu perusahaan

dalam melakukan suatu proses yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Setiap
perusahaan mempunyai target dalam setiap pekerjaannya. Berikut taebel target pada setiap

metode pekerjaan dalam pembuatan box culvert:

Tabel 4.5 Quality Target Metode Pekerjaan

Item
No. Kriteria Penilaian Satuan
Pekerjaan
1 Pengecoran 1. Campuran beton telah di trial mix unit
2. Mutu beton sesuai spesifikasi teknik unit
3. Beton tidak boleh di tambah air unit
4. Elevasi sesuai shop drawing unit
5. Stop cor direncanakan sesuai spesifikasi teknik dan shop
unit
drawing
6. Beton deking terpasang sesuai dengan shop drawing unit
7. Jumlah dan kondisi vibrator memenuhi unit
8. Lokasi pengecoran bersih dari sampah, serbuk, kawat, dll. unit
9. Cara pemadatann dilakukan dengan benar sesuai
spesifikasi teknik
2 Bekisting 1. Material sesuai dengan metode unit
2. Dimensi dan Pemasangan sesuai shop drawing unit
3. Dudukan bekisting kuat dan kokoh unit
4. Joint bekisting rata dan tidak plin unit
5. Pelumas/minyak bekisting telah dioles rata unit
6. Sambungan/joint rapat dan tidak berongga unit
7. Stop cor kuat/kokoh dan tidak berongga unit

4.5 Manajemen K3

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari sistem

manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi perencanaan, tanggung

jawab, pelaksanaan, prosedur proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan

pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam

rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat

kerja yang nyaman yaitu dengan cara sebagai berikut:


1. Pengenalan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diperkenalkan kepada setiap

orang yang terlibat di proyek sebelum pekerjaan konstruksi dimulai melalui induksi

K3

2. Urutan kerja, potensi-potensi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja baik

peralatan, material maupun metode kerja harus dijelaskan dalam tahap awal dan pada

tool box meeting/pre start meeting. Hal ini dituangkan secara detail dalam Job Safety

Analysis (JSA)

3. Semua orang yang terlibat dalam pekerjaan harus memakai alat pelindung diri selama

dalam area proyek. Pemberian rambu-rambu keamanan dan keselamatan kerja selalu

ditempatkan pada lokasi yang sesuai

4. Petugas mekanik bersama safety harus selalu memeriksa peralatan yang sedang

dipakai dan yang akan dipakai dalam proses konstruksi secara berkala

5. Hal-hal khusus yang memerlukan perhatian:

 Penempatan material

 Pemeriksaan akses transportasi

 Alat angkat tidak mengalami overload

 Gunakan sling dalam kondisi yang baik, panjang yang direncanakan, dan

sesuai dengan beban yang di angkat

 Perhatian ditujukan secara khusus pada material kimia (admixture), berikan

tempat khusus dengan tanda khusus

 Setiap material pendukung harus mempunyai MSDS.

6. Peralatan perlindungan kerja yang harus dipergunakan adalah:

 Helm

 Safety shoe

 Safety glove
 Safety vest

 Safety glasses

 Masker.

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dalam pelaksanaan

pekerjaan box culvert pada proyek pembangunan jalan bts. Kab. Tulungagung – Serang – bts.

Kab. Malang (Lot 7) yang dikerjakan oleh kontraktor utama PT. PP (Persero) Tbk, dapat

ditarik kesimpulan bahwa:

1. Metode pelaksanaan pekerjaan box culvert

Secara umum metode pelaksanaan pekerjaan box culvert yaitu di mulai

dengan pekerjaan persiapan, galian struktur, pekerjaan lantai kerja, pembesian,

pemasangan bekisting, pekerjaan pengecoran kemudian pembongkaran bekisting dan

yang terakhir yaitu timbunan granular backfill.

2. Material yang digunakan dalam pekerjaan box culvert

Pada pekerjaan lantai kerja material yang digunakan berupa blinding stone,

lean concrete class E, bekisting hollow profil C. Kemudian pada pekerjaan pembesian

material yang digunakan yaitu besi beton dan kawat bendrat. Pada pekerjaan bekisting

material yang dibutuhkan berupa main frame 1,8 m, frame 0,7-0,8 m, cross bracing,

joint pint, U-head, jack base, cat walk/platform, tangga, phenol pilm, besi hollow, besi

CNP, tierod dan multipleks phenol film. Selanjutnya pekerjaan pengecoran material
yang dibutuhkan berupa concrete class C dan terpal dan pada timbunan granular

backfill material yang digunakan adalah granular.

3. Alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan box culvert

Pada pekerjaan persiapan (alat survey dan patok kayu), galian struktur

(excavator , dump truck, pompa air), pekerjaan lantai kerja (truk mixer, jidar, palu

karet), pekerjaan pembesian (bar cutter dan bar bender), pekerjaan bekisting (trafo

las, tape measurement, gerinda, gergaji kayu, perancah/scaffolding, tangga akses),

pekerjaan pengecoran (truck mixer, concrete pump, vibrator, genset), timbunan

granular backfill (excavator, dump truck, bulldozer, vibrator roller)

4. Untuk memenuhi pengendalian manajemen kulalitas dibutuhkan penjaminan mutu,

kualitas control, dan kualitas target. Adapun manajemen K3 yang harus diterapkan

pada setiap proyek karena pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja untuk

menghindari potensi-potensi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja baik

peralatan,material maupun metode dalam kerja.

Saran

Dikarenakan waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) hanya 1,5 bulan,

maka sangatlah kurang untuk mahasiswa. Disamping itu, dengan keterbatasan waktu selama

dilapangan (terbentur dengan adanya perkuliahan), mahasiswa perlu mengatur waktu untuk

belajar aplikasi dilapangan dengan para pekerja proyek. Oleh karena itu mahasiswa benar-

benar memanfaatkan waktunya dengan baik selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

(PKL).
DAFTAR PUSTAKA

Adinta, R., & Wijaya, U. F. (2015). Manajemen Proyek Pembangunan Box Culvert Saluran

Drainase Primer Gunungsari Kota Surabaya P. 104+ 00-P. 108+ 35 (Doctoral

dissertation, Institut Technology Sepuluh Nopember).

Agustapraja, H. R., & Kartikasari, D. (2017). STUDI EVALUASI PEKERJAAN

STRUKTUR BOX CULVERT PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN

KUCING RUAS SUKODADI –SUMBERWUDI KABUPATEN

LAMONGAN. UKaRsT, 1(1), 50-59.

Bachtiar, E., Mahyuddin, M., Nur, N. K., Tumpu, M., Rosyidah, M., Setiawan, A. M., ... &

Rachim, F. (2021). Manajemen K3 Konstruksi. Yayasan Kita Menulis.

Endroyo, B. (2009). Peranan manajemen K3 dalam pencegahan kecelakaan kerja

konstruksi. Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata, 3(1), pp-8.

HA, A. H., & Abidin, D. (2016, October). MEMILIH ALTERNATIF METODE

PELAKSANAAN PLAT BAWAH SALURAN BOX CULVERT KALI TUTUP

GRESIK. In Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan (pp. 9-14).

Maghfiroh, L. (2021). Kajian produktivitas dan pelaksanaan pekerjaan box culvert pada

proyek pembangunan jalan tol Gempol-Pasuruan seksi III-C ruas Pasuruan-Grati

(STA 31+ 000-STA 34+ 153). SKRIPSI Mahasiswa UM.


OKTAVIO, R. A. (2018). PENERAPAN SISTEM DRAINASE BOX CULVERT PADA

PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL LAMPUNG KABUPATEN LAMPUNG

TENGAH RUAS GUNUNG SUGIH-METRO STA. 109+ 000 DAN 110+

000 (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Prakoso, D. A. (2018). PERBANDINGAN METODE PELAKSANAAN PADA PEKERJAAN

BOX CULVERT DENGAN METODE PRECAST DAN CAST IN SITU PADA

PROYEK JALAN TOL LAMPUNG PT WIKA (Doctoral dissertation, Universitas

Gadjah Mada).

Septiano, B. (2018). STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. PP

(PERSERO) TBK.

Tanjung, M. (2017). Fungsi organisasi Dalam Manajemen Proyek. Jurnal Mantik

Penusa, 1(1).

Anda mungkin juga menyukai