PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA,
MANAJEMEN RISIKO DAN PENCEGAHAN INFEKSI
LABORATORIUM
TAHUN 2019
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA MATARAM
0
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 2
BAB II LATAR BELAKANG ......................................................................................... 3
BAB III TUJUAN ....................................................................................................... 4
1. Tujuan Umum ..................................................................................................... 4
2. Tujuan Khusus ..................................................................................................... 4
BAB IV KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN ................................................ 5
BAB V CARA PELAKSANAAN KEGIATAN....................................................................
6
BAB VI SASARAN .....................................................................................................
8
BAB VII JADWAL PELAKSANAAN .............................................................................
9
BAB VIII MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN.........................................................
10
BAB IX PENCATATAN DANPELAPORAN KEGIATAN.........................................................
11
1
BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan Kerja menurut WHO/ILO (1995) bertujuan untuk peningkatan derajat
kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis
pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan, perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang
merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan
kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologis dan psikologis. Secara ringkas merupakan
penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan/jabatan.
Kesehatan Keselamatan Kerja merupakan upaya untuk memberikan jaminan kesehatan
dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh, dengan cara pencegahan kecelakaan
dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, pemeriksaan kesehatan,
pengobatan dan rehabilitasi.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) laboratorium merupakan bagian dari
pengelolaan laboratorium secara keseluruhan. Laboratorium melakukan berbagai tindakan
dan kegiatan terutama berhubungan dengan spesimen yang berasal dari manusia.
Petugas laboratorium yang selalu kontak dengan specimen,berpotensi terinfeksi kuman
patogen. Potensi infeksi dapat juga terjadi pada petugas-petugas lainnya, atau keluarganya
dan masyarakat. Untuk mengurangi bahaya yang terjadi, perlu adanya kebijakan yang ketat.
Petugas harus memahami keamanan laboratorium dan tingkatannya, mempunyai sikap dan
kemampuan untuk melakukan pengamanan sehubungan dengan pekerjaannya sesuai SPO,
serta mengontrol bahan/specimen secara baik menurut pedoman laboratorium yang benar.
2
BAB II.
LATAR BELAKANG
Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh
masyarakat maka tuntutan pengelolaan program Kesehatan dan Keselamatan kerja di
Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit,
pengunjung/pengantar pasien, pasien dan Masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin
mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik
sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan meupun karena kondisi sarana
dan prasarana yang ada di Rumah Sakit yang tidak memenuhi standar.
Di dunia Internasional, program K3 telah lama diterapkan di berbagai sektor
industri, kecuali di sektor kesehatan. Perkembangan K3RS tertinggal dikarenakan
fokus pada kegiatan kuratif, bukan preventif. Fokus pada kualitas pelayanan bagi
pasien, tenaga profesi di bidang K3 masih terbatas, organisasi kesehatan yang
dianggap pasti telah melindungi diri dalam bekerja.
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pelayanan
yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya. Selain dituntut mampu memberikan pelayanan dan
pengobatan yang bermutu, Rumah Sakit juga dituntut harus melaksanakan dan
mengembangkan program K3 di Rumah Sakit (K3RS) seperti yang tercantum dalam
buku Standan Pelayanan Rumah Sakit dan terdapat dalam instrumen akreditasi
Rumah Sakit.
K3RS merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan
Rumah Sakit, khususnya dalam hal kesehatan dan keselamatan Rumah Sakit, pasien,
pengunjung/pengantar pasien, masyarakat sekitar Rumah Sakit. Hal ini secara tegas
dinyatakan di dalam Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pasal
40 ayat 1 yakni “Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib
dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali”. K3 termasuk
3
sebagai salah satu standar pelayanan yang dinilai di dalam akreditasi Rumah Sakit,
disamping standar pelayanan lainnya.
BAB III
TUJUAN
TujuanUmum :
Memberikan jaminan keselamatan, kesehatan, keamanan dan kenyamanan bagi semua
petugas laboratorium
Tujuan Khusus :
a. Mencegah terjadinya kontaminasi/infeksi akibat kecelakaan kerja akibat kerja
terhadap petugas laboratorium
b. Menjamin kesehatan petugas laboratorium melalui program pemeliharaan
kesehatan.
c. Mengidentifikasi risiko keselamatan kerja dan pemakaian peralatan untuk
mengurangi risiko kecelakaan kerja
d. Pengenalan bahan berbahaya dan peralatan baru kepada petugas laboratorium
4
BAB IV
KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
1. Pencegahan terhadap terjadinya kontaminasi/infeksi akibat kecelakaan akibat kerja
terhadap petugas laboratorium, dilakukan sebagai berikut :
a. Diklat /in house training tentang K3 dan PPIRS.
b. Sosialisasi tentang pencegahan paska pajanan dan penanganannya
c. Sosialisasi SPO laboratorium baru dan atau yang sudah direvisi
d. Pemantauan pelaksanaan SPO laboratorium
e. Pemantauan pemakaian APD
2. Kesehatan petugas laboratorium dipantau melalui program pemeliharaan kesehatan.
3. Identifikasi risiko keselamatan dan tersedianya alat pelindung diri yang cukup untuk
bekerja di laboratorium.
4. Pemberian label Bahan Berbahaya (B3) untuk setiap reagen yang berbahaya.
5. Pengenalan bahan berbahaya dan peralatan baru kepada petugas laboratorium.
5
BAB V
CARA PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Pencegahan terhadap terjadinya kontaminasi/infeksi akibat kecelakaan akibat kerja
terhadap petugas laboratorium, dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Diklat /in house training tentang K3 dan PPIRS. Dilakukan oleh Bagian Diklat
RSUD Kota Mataram secara menyeluruh untuk seluruh karyawan RS
termasuk petugas laboratorium.
b. Sosialisasi tentang pencegahan paska pajanan dan penanganannya, pada rapat
rutin bulanan.
c. Sosialisasi SPO laboratorium baru dan atau yang sudah direvisi
Sosialisasi SPO dilakukan setiap rapat rutin bulanan atau apabila ada SPO
baru, mulai dari pengertian, tujuan, kebijakan, prosedur, dan unit yang terkait.
Semua petugas analis diharapkan paham dan dapat menjalankannya dalam
tugasnya sehari-hari. Dengan memahami dan menjalankan SPO dengan benar
diharapkan tidak terjadi kecelakaan kerja karena kecerobohan atau
penyimpangan pelaksanaan dari SPO yang telah ditentukan.
d. Pemantauan pelaksanaan SPO laboratorium
Pemantauan pelaksanaan SPO dilakukan setiap saat oleh katim masing masing
shift jaga. Bila ada penyimpangan atau kendala, maka dilakukan pembinaan
kepada petugas, dan bila terdapat kendala dalam pelaksanaan SPO dilakukan
pencatatan oleh Ka Ruangan Laboratorium untuk selanjutnya disampaikan
kepada Ka Instalasi Laboratorium guna dilakukan pembahasan terkait
permasalahannya
e. Pemantauan pemakaian APD
Pemakaian APD harus sesuai dengan standar. Pemakaiannya sesuai pedoman
penggunaan APD. Dengan memakai APD diharapkan dapat tercegah infeksi
pathogen dari pasien atau specimen pasien infeksius. Kegiatan ini dipantau
setiap saat oleh petugas ketua tim jaga shift. Bila terdapat penyimpangan atau
tidak dipakainya APD saat bekerja, petugas tersebut secara langung ditegur
6
oleh Ka Ruangan atau Ketua tim jaga. Bila petugas masih sering melakukan
ketidak patuhan penggunaan APD, akan dilakukan pencatatan oleh Ka
Ruangan Laboratorium dan dilaporkan kepada Ka Instalasi Laboratorium
untuk dilakukan pembinaan.
2. Kesehatan petugas laboratorium dipantau melalui program pemeliharaan kesehatan.
Kegiatan ini dilaksanakan setiap 1 tahun sekali sesuai jadwal berupa pemeriksaan
DL, HBsAg, HBsAb, dan sputum BTA. Bila terdapat keluhan dan gejala penyakit
akan segera dikonsultasikan kepada dokter Poli khusus RSUD Kota Mataram. Dan
dilakukan imunisasi hepatitis B secara berkala.
3. Identifikasi risiko keselamatan dan tersedianya alat pelindung diri yang cukup untuk
bekerja di laboratorium.
Setiap kemungkinan resiko yang mengancam keselamatan kerja di laboratorium
diidentifikasi dan dilakukan scoring untuk menentukan grading resiko keselamatan.
Dari identifikasi risiko tersebut dilalukan upaya untuk mengantisipasi, mencegah atau
meminimalkan resiko baik dengan substitusi bahan, ataupun pemakaian peralatan
proteksi dan alat perlindungan diri, dan vaksinasi bila diperlukan.
4. Pemberian label Bahan Berbahaya (B3) untuk setiap reagen yang berbahaya. Label ini
dimintakan kepada Tim K3RS
5. Pengenalan bahan berbahaya dan peralatan baru kepada petugas laboratorium. Setiap
petugas laboratorium yang terkait dengan pemakaian alat dan bahan pemeriksaan baru
wajib mendapatkan pelatihan. Untuk bahan berbahaya baru perlu dijelaskan
penggunaannya, sifat-sifat fisika dan kimia berbahaya dari bahan tersebut, cara
penyimpanan, dan efeknya terhadap kesehatan petugas. Untuk peralatan baru perlu
dijelaskan cara mengoperasionalkan alat, pemeliharaan, kalibrasi, trouble
shooting,bahaya yang dapat ditimbulkan dari alat tersebut beserta penangannnya.
6. Laporan paska pajanan.
7
BAB VI
SASARAN
Terlaksananya kegiatan kesehatan keselamatan, keamanan laboratorium berupa :
1. Seluruh petugas laboratorium mematuhi SPO prosedur pemeriksaan dan pemakaian
APD
2. Seluruh petugas laboratorium terpelihara kesehatannya
3. Teridentifikasinya risiko keselamatan dan tersedianya alat pelindung diri untuk
bekerja di laboratorium
4. Seluruh petugas laboratorium mendapatkan kesempatan pelatihan pengenalan bahan
berbahaya baru dan peralatan baru
8
BAB VII
JADWAL PELAKSANAAN
No Kegiatan Bulan (2019)
1 Kegiatan K3 : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
0 1 2
a. Diklat /in house training tentang K3 dan PPIRS Mengikuti jadwal diklat RS
b. Sosialisasi pencegahan tertusuk jarum dan
penanganannya
c. Sosialisasi SPO laboratorium baru/revisi
d. Pemantauan pembuangan sampah infeksius, non
infeksius dan benda tajam
e. Pemantauan pemakaian APD
f. Pemantauan pembuangan limbah cair
infeksius,darah dan komponen darah
2 General Check up petugas laboratorium (1x1th)
3 Identifikasi risiko keselamatan dan tersedianya alat
pelindung diri untuk bekerja dilaboratorium
4 Pemberian label B3 pada kemasan reagen berbahaya
5 Pengenalan bahan berbahaya dan peralatan baru situasional
kepada petugas laboratorium (situasional bila ada
alat dan bahan baru)
6 Laporan paska pajanan
9
BAB VIII
MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN
Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan secara terus-menerus agar tujuan program
bisa tercapai sesuai target yang diharapkan.
10
BAB IX
PENCATATAN DAN PELAPORAN KEGIATAN
Pencatatan dan pelaporan kegiatan dilaksanakan setiap bulan .
Laporan kegiatan program ke direktur menjadi bagian dari laporan bulanan instalasi
laboratorium.
Mataram, 5 Desember 2018
Kepala Instalasi Laboratorium
RSUD Kota Mataram
dr. Sri Kartika Sari, SpPK
NIP: 197403142002122003
11