right to copy© [Link]
com
ANALISIS FIKIH KONTEMPORER:
TINJAUAN HUKUM MEROKOK MENURUT
PENDAPAT PARA ULAMA DAN FATWA
LEMBAGA KEAGAMAAN
BAB I: PENDAHULUAN DAN METODOLOGI IJTIHAD
KONTEMPORER
Hukum merokok dalam syariat Islam menempati posisi yang sangat unik sekaligus kompleks dalam
khazanah fikih kontemporer. Sebagai persoalan baru (masail waqi'iyyah) yang tidak pernah eksis
secara fisik pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, masa para sahabat, maupun masa kodifikasi
mazhab-mazhab fikih klasik (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), rokok tidak memiliki dalil teks
hukum yang bersifat eksplisit (sharih) di dalam Al-Qur'an maupun kitab-kitab hadis primer.
Komoditas tembakau baru mulai masuk ke belahan dunia Islam, termasuk ke wilayah Timur Tengah
dan Nusantara, sekitar akhir abad ke-10 atau awal abad ke-11 Hijriah melalui jaringan perdagangan
global kolonial Eropa.
Ketiadaan dalil langsung ini menuntut para ulama di setiap generasi untuk mengerahkan seluruh
kemampuan intelektualnya melalui perangkat ijtihad guna menetapkan status hukum rokok.
Metodologi yang digunakan tidak lagi berfokus pada pencarian lafal kata 'rokok' atau 'tembakau'
dalam teks suci, melainkan beralih pada analisis dampak intrinsik (tahqiqul manath) serta
penelusuran illat (sebab hukum) substantif yang terkandung di dalam aktivitas merokok tersebut.
Ulama fikih menggunakan berbagai instrumen metodologis seperti qiyas (analogi hukum terhadap
perkara klasik yang serupa), istishlah (pertimbangan kemaslahatan umum), dan pemanfaatan
kaidah-kaidah hukum universal (al-qawa'id al-fiqhiyyah).
Dalam dinamika perkembangannya, perdebatan mengenai hukum merokok senantiasa mengalami
pergeseran yang sangat linier dengan perkembangan sains dan penemuan medis. Pada masa awal
kemunculannya, keterbatasan data empiris mengenai dampak buruk tembakau membuat mayoritas
ulama cenderung berhati-hati dan menetapkan hukum dalam koridor mubah atau makruh. Namun,
di era modern, ketika konfirmasi medis secara ilmiah berhasil membuktikan secara mutlak bahwa
rokok mengandung ribuan zat beracun, karsinogenik, dan menjadi pemicu utama berbagai penyakit
mematikan, lanskap hukum fikih mengalami rekonstruksi radikal menuju penetapan hukum haram.
BAB II: ARGUMENTASI ULAMA YANG MENETAPKAN
HUKUM HARAM (MUTHLAQ)
2.1 Dalil Al-Qur'an dan Aspek Kebinasaan Diri (Adh-Dharar)
Arus utama (mainstream) pendapat ulama kontemporer di dunia Islam saat ini menetapkan bahwa
aktivitas merokok, baik konvensional maupun elektrik (vape), hukumnya adalah Haram secara
mutlak. Di antara tokoh-tokoh besar yang memelopori dan memperkuat pendapat ini adalah Syekh
right to copy© [Link]
Muhammad bin Ibrahim Al-Asy-Syekh, Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih al-
Utsaimin, serta fatwa kolektif dari Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi (Lajnah Daimah)
serta para ulama Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir.
Argumentasi pertama didasarkan pada teks-teks Al-Qur'an yang melarang manusia menjatuhkan diri
dalam kehancuran fisik. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 195: 'Dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.' Secara epidemiologi medis, merokok merupakan
tindakan merusak organ vital tubuh seperti paru-paru dan jantung secara bertahap. Tindakan ini
dipandang oleh ulama sebagai bentuk intisari dari perbuatan merusak diri sendiri secara sengaja
(slow suicide), yang bertentangan dengan prinsip dasar syariat dalam menjaga jiwa (hifzhun nafs).
2.2 Larangan Menimbulkan Mudarat bagi Diri Sendiri dan Orang
Lain
Dasar hukum kedua yang digunakan oleh kelompok ulama ini adalah hadis Nabi SAW yang menjadi
pilar dasar kaidah fikih universal: 'Tidak boleh memberikan mudarat (bahaya) pada diri sendiri dan
tidak boleh memberikan mudarat pada orang lain' (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Rokok memiliki
karakteristik unik di mana bahaya yang ditimbulkan tidak hanya menginfeksi si pelaku (perokok
aktif), melainkan juga secara aktif menularkan racun kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak
merokok (perokok pasif).
KAIDAH UTAMA: Kaidah fikih menetapkan bahwa segala sesuatu yang menimbulkan kemudaratan
bagi kesehatan fisik, akal, maupun harta benda wajib dicegah dan hukumnya adalah haram.
Berdasarkan data medis terpercaya, perokok pasif justru memiliki risiko kesehatan yang tidak kalah
mengerikan dibandingkan perokok aktif. Dalam timbangan hukum Islam, menyebarkan zat beracun
ke udara yang dihirup oleh orang lain, terutama anak-anak dan wanita hamil, merupakan bentuk
kezaliman nyata yang memperkuat status keharaman rokok.
2.3 Aspek Pemborosan Harta (Tabdzir) dan Konsumsi Zat
Khabaits
Ulama juga menyoroti aspek ekonomi dan kepemilikan harta dalam Islam. Harta merupakan amanah
yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak mengenai dari mana diperoleh dan untuk apa
dibelanjakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 27: 'Sesungguhnya orang-orang yang
pemboros itu adalah saudara-saudara setan.' Membelanjakan uang secara konsisten untuk membeli
rokok dikategorikan sebagai tindakan tabdzir (pemborosan) karena harta tersebut dibakar tanpa
menghasilkan manfaat gizi, kalori, atau kebaikan apa pun bagi tubuh, melainkan justru
mendatangkan penyakit.
Selain itu, rokok diklasifikasikan ke dalam kategori al-khabaits (sesuatu yang buruk/menjijikkan),
yang bertentangan dengan sifat makanan yang dihalalkan dalam Islam, yaitu ath-thayyibat (sesuatu
yang baik dan suci), sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A'raf ayat 157: 'Dan Allah
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.'
right to copy© [Link]
BAB III: ARGUMENTASI ULAMA YANG MENETAPKAN
HUKUM MAKRUH
3.1 Analogi Bau Tidak Sedap (Qiyas terhadap Bawang dan
Jengkol)
Pendapat kedua, yang dipegang oleh sebagian ulama klasik abad pertengahan dan masih diadopsi
oleh sebagian ulama tradisional di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, menyatakan bahwa
merokok hukumnya adalah Makruh (dibenci oleh Allah namun tidak berdosa jika dilakukan).
Kelompok ini menggunakan metode qiyas (analogi) dengan menyamakan asap dan bau rokok
dengan makanan yang memiliki aroma menyengat dan mengganggu orang lain, seperti bawang
putih mentah, bawang merah, jengkol, atau petai.
Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis sahih menegaskan: 'Barangsiapa yang memakan bawang
merah atau bawang putih, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia salat di
rumahnya, karena sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa yang mengganggu manusia' (HR.
Bukhari dan Muslim). Asap rokok menghasilkan aroma tak sedap yang melekat pada pakaian,
rambut, dan napas perokok, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman yang luar biasa bagi jamaah
lain di tempat ibadah maupun ruang publik. Oleh karena itu, tindakan merokok dihukumi makruh
karena merusak keharmonisan interaksi sosial dan mengganggu kekhusyukan ibadah.
3.2 Prinsip Kehati-hatian dalam Menetapkan Hukum (Al-Ashlu fil
Asyya'il Ibahah)
Ulama yang bertahan pada hukum makruh juga menggunakan argumen bahwa teks Al-Qur'an dan
Hadis tidak menyebutkan larangan rokok secara tekstual. Mereka menerapkan kaidah fikih
fundamental: 'Asal hukum dari segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan ibadah ritual adalah
mubah (boleh)'. Menurut pandangan mereka, untuk menaikkan status hukum dari mubah menjadi
haram diperlukan dalil yang bersifat qath'i (pasti dan tidak terbantahkan secara tekstual).
Oleh karena itu, karena sifat racun dari rokok bekerja secara akumulatif dalam jangka panjang (tidak
seperti racun sianida yang langsung membunuh seketika), mereka menilai hukumnya belum sampai
pada derajat haram mutlak, melainkan berada di zona makruh, di mana meninggalkannya akan
mendapatkan pahala yang besar, namun melakukannya tidak mendatangkan dosa siksa neraka.
BAB IV: PENDAPAT ULAMA MENURUT HUKUM
KONDISIONAL (MUBAH DAN TAFSHIL)
4.1 Konsep Hukum Fikih Kondisional (*Tafshil*) dan Faktor
Eksternal
Pendapat ketiga merupakan pandangan yang bersifat elastis dan kondisional (*tafshil*). Ulama
dalam kelompok ini berpendapat bahwa rokok pada zat asalnya (*li dzatihi*) adalah mubah karena
termasuk produk nabati (tumbuhan tembakau) yang suci, bukan najis. Namun, hukum rokok dapat
bergeser secara dinamis menjadi wajib, makruh, atau haram tergantung pada kondisi subjektif dari
individu perokok serta dampak eksternal yang mengelilinginya (*li ghairihi*).
right to copy© [Link]
Dalam konstruksi hukum ini, aktivitas merokok tidak dipukul rata dengan satu keputusan tunggal
untuk seluruh umat manusia. Ulama melihat aspek sosiologis, ekonomi, dan fisik dari masing-masing
individu guna menentukan hukum yang paling tepat dan adil secara personal.
4.2 Matriks Perubahan Hukum Berdasarkan Kondisi Individu
Berdasarkan pendekatan kondisional ini, hukum merokok dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
kondisi riil sebagai berikut:
• A. Menjadi Haram: Jika seseorang merokok menggunakan uang yang merupakan satu-satunya
anggaran untuk membeli nafkah wajib (makan, susu, pakaian) bagi anak dan istrinya, sehingga
keluarganya kelaparan. Hukumnya juga haram bagi individu yang telah divonis oleh dokter ahli
bahwa jika ia mengonsumsi rokok satu batang saja, maka penyakit kronisnya akan kambuh dan
dapat merenggut nyawanya seketika.
• B. Menjadi Mubah: Bagi individu yang secara fisik sangat sehat, memiliki kekayaan melimpah
sehingga kebutuhan keluarga terpenuhi sempurna, dan ia merokok dalam jumlah yang sangat
terbatas di ruang tertutup yang tidak diakses oleh orang lain, serta rokok tersebut membantunya
secara psikologis untuk berkonsentrasi dalam bekerja mencari nafkah.
• C. Menjadi Wajib (Kasus Sangat Langka): Dalam kitab fikih kontemporer disebutkan secara teoretis,
jika ada seorang pekerja ahli yang sedang menjalankan tugas vital kenegaraan dan ia mengalami
kantuk luar biasa yang jika ia tertidur akan memicu kecelakaan industri besar, dan satu-satunya zat
stimulant yang tersedia saat itu untuk menahan kantuknya adalah rokok, maka merokok dalam
kadar minimal hukumnya bisa menjadi wajib demi mencegah kerusakan yang lebih besar (*dar'ul
mafasid*).
BAB V: ANALISIS FATWA RESMI LEMBAGA
KEAGAMAAN ISLAM DI INDONESIA
5.1 Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI): Hukum Haram Selektif
Sebagai wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim di Indonesia, Majelis
Ulama Indonesia (MUI) menetapkan fatwa mengenai rokok melalui Keputusan Ijtima Ulama Komisi
Fatwa se-Indonesia III yang diselenggarakan di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada tahun 2009.
MUI mengambil jalan tengah yang sangat akomodatif namun tetap tegas dengan menetapkan
hukum haram secara selektif dan kondisional.
MUI memutuskan bahwa merokok hukumnya adalah **Haram** jika dilakukan dalam tiga situasi
spesifik:
1. Di Tempat Umum / Publik: Merokok di tempat-tempat umum yang diakses oleh masyarakat luas,
termasuk fasilitas pelayanan kesehatan, tempat ibadah, moda transportasi umum, dan tempat
proses belajar mengajar (sekolah).
2. Dilakukan oleh Wanita Hamil: Mengingat janin dalam kandungan sangat rentan terhadap
keguguran dan cacat fisik akibat paparan zat nikotin.
right to copy© [Link]
3. Dilakukan oleh Anak-Anak: Sebagai upaya preventif negara untuk melindungi generasi muda dari
ketergantungan zat adiktif sejak dini.
Di luar tiga kondisi protektif di atas, MUI menetapkan hukum merokok berada pada derajat
**Makruh**. Fatwa ini didesain untuk menjaga stabilitas sosial ekonomi nasional mengingat industri
tembakau melibatkan jutaan petani dan buruh pabrik di Indonesia.
5.2 Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah: Haram
Mutlak
Organisasi kemasyarakatan Islam Muhammadiyah mengambil langkah keagamaan yang sangat
progresif dan radikal melalui Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 6/SM/MTT/III/2010 tentang
Hukum Merokok. Melalui fatwa ini, Muhammadiyah secara resmi mengubah sikap hukumnya yang
semula makruh menjadi **Haram Mutlak**. Keputusan ini diambil setelah melakukan kajian
mendalam dari berbagai aspek medis, ekonomi, dan sosial.
Muhammadiyah berargumen bahwa merokok bertentangan dengan lima prinsip dasar syariat (*al-
kulliyat al-khams*), khususnya dalam hal menjaga jiwa (*hifzhun nafs*) dan menjaga harta (*hifzhul
maal*). Dalam pandangan Muhammadiyah, rokok adalah zat adiktif beracun yang secara perlahan
merusak kesehatan manusia, dan membelanjakan uang untuk rokok merupakan bentuk perbuatan
sia-sia yang dilarang agama. Fatwa ini berlaku mengikat bagi seluruh warga Muhammadiyah dan
amal usaha Muhammadiyah (seperti sekolah, universitas, dan rumah sakit) wajib steril dari asap
rokok.
5.3 Pandangan Keagamaan Nahdlatul Ulama (NU): Hukum
Makruh Disipliner
Nahdlatul Ulama (NU) melalui forum Bahtsul Masail di berbagai tingkatan struktur kepengurusannya
secara konsisten mempertahankan hukum asal merokok pada derajat **Makruh**. NU memandang
bahwa rokok tidak dapat disamakan secara langsung dengan khamar (minuman keras) karena tidak
memabukkan atau menghilangkan kesadaran akal sehat seketika.
Namun, NU memberikan catatan kritis bahwa hukum makruh ini dapat bergeser menjadi **Haram**
secara kasuistik apabila terpenuhi beberapa syarat mutlak. Di antaranya adalah jika perokok
mengalami sakit parah yang menurut keterangan medis wajib menghentikan konsumsi rokok, atau
jika uang yang digunakan untuk membeli rokok bersumber dari hak nafkah primer anak dan istri
yang berakibat pada penelantaran hak-hak dasar keluarga.
BAB VI: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI SIKAP BAGI
UMAT
6.1 Sintesis Hukum Fikih
Dari seluruh pemaparan analisis fikih dan komparasi fatwa keagamaan di atas, dapat ditarik
beberapa kesimpulan penting sebagai berikut:
1. Pertama, hukum merokok dalam Islam berada dalam ranah ijtihadiah kontemporer karena tidak
adanya dalil sharih di dalam Al-Qur'an dan Hadis. Perbedaan pendapat di kalangan ulama (Haram,
right to copy© [Link]
Makruh, Mubah) terjadi akibat perbedaan dalam sudut pandang penentuan illat hukum dan analisis
dampak.
2. Kedua, terjadi pergeseran tren hukum Islam secara global dan nasional dari yang semula
mayoritas makruh menjadi haram, seiring dengan semakin terbukanya fakta ilmiah medis mengenai
bahaya laten rokok terhadap kelangsungan hidup manusia dan hak perokok pasif.
3. Ketiga, lembaga keagamaan di Indonesia mencerminkan kekayaan khazanah fikih tersebut; di
mana Muhammadiyah menerapkan haram mutlak, NU konsisten pada hukum makruh dengan
catatan, dan MUI mengambil jalan tengah haram kondisional demi kemaslahatan umat.
6.2 Rekomendasi Sikap Bagi Umat Muslim
Sebagai panduan etis dan hukum dalam kehidupan sehari-hari, umat muslim direkomendasikan
untuk:
A. Prioritas Meninggalkan Rokok: Mengedepankan sikap wara' (berhati-hati dalam agama) dengan
berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan aktivitas merokok, mengingat seluruh pendapat ulama
sepakat bahwa tidak merokok jauh lebih dicintai oleh Allah SWT daripada merokok.
B. Penghormatan Terhadap Hak Orang Lain: Bagi individu yang belum mampu berhenti merokok
secara total, wajib hukumnya secara syariat untuk menghormati Kawasan Tanpa Rokok (KTR), tidak
merokok di dekat anak-anak, wanita hamil, tempat ibadah, dan fasilitas publik agar tidak terjerat
dosa kezaliman sosial terhadap sesama manusia (*hablum minannas*).
C. Edukasi Keteladanan Pendidik: Mendorong para tokoh agama, dai, dan pendidik untuk menjadi
teladan terbaik dengan tidak merokok di hadapan publik, serta aktif mengedukasi generasi muda
mengenai bahaya rokok dari sudut pandang kesehatan fisik dan spiritual.
Dengan memahami dinamika hukum fikih ini secara objektif, umat muslim diharapkan dapat
mengambil keputusan yang paling maslahat bagi kesehatan diri, keselamatan keluarga, dan
kesucian lingkungan sekitar.