0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan11 halaman

Chapter 1

Diunggah oleh

Ayu Kemaladewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan11 halaman

Chapter 1

Diunggah oleh

Ayu Kemaladewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gizi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung tingkat

kesehatan dan kesejateraan manusia. Beragam permasalahan gizi yang

terjadi berkaitan dengan asupan makanan yang dikonsumsi oleh seseorang.

Ketidakseimbangan asupan makanan yang dikonsumsi dapat menimbulkan

berbagai masalah gizi. Secara garis besar, masalah gizi dibagi menjadi dua

kelompok yaitu : masalah gizi kurang (under nutrition) dan gizi lebih (over

nutrition). Masalah gizi tersebut berdampak pada status gizi seseorang yang

dibagi menjadi : status gizi buruk, gizi kurang dan gizi lebih/obesitas.

(PERMENKES NO 2 , 2020)

Permasalahan gizi dapat terjadi di semua kalangan usia mulai dari

Ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, bahkan lansia. Remaja menjadi

salah satu kelompok usia yang rentan gizi, terutama masalah gizi lebih. Gizi

lebih pada remaja ditandai dengan perubahan berat badan yang relatif

berlebihan dibandingkan dengan usia dan tinggi badan remaja seusianya.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kejadian kelebihan berat

badan pada remaja diantaranya, remaja memerlukan zat gizi yang lebih

banyak untuk mendukung pertumbuhan fisik, adanya perubahan gaya hidup

dan kebiasaan makan. rendahnya aktivitas fisik, faktor genetik, pengaruh

iklan, faktor psikologis, status sosial ekonomi, dsb. (Kurdanti, 2015)

1
2

Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula perubahan pola

konsumsi. Seseorang akan cenderung untuk memilih mengkonsumsi

makanan cepat saji (fast food) karena lebih praktis dalam penyajiannya

dengan cita rasa cenderung lebih gurih dan manis. Rasa yang lebih manis

dan gurih ini berkaitan dengan tingginya kandungan lemak dan gula yang

terdapat pada makanan cepat saji. Kelebihan asupan gula Sugar sweetened

beverages (SSBs) juga menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi

terjadinya kasus kelebihan berat badan yang berkaitan dengan kepadatan

energi yang tinggi dan frekuensi konsumsi yang berlebih. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh (Fatmawati, 2019 ) pada siswi SMP di Kota

Tangerang Selatan, diperoleh hasil tingginya asupan gula memberikan

kontribusi 5,7 kali terjadinya obesitas. Kandungan kalori yang terdapat pada

gula bebas terutama dalam minuman tidak memberikan rasa kenyang dan

tidak mengurangi asupan makan setelah mengkonsumsinya. Hal ini yang

menjadikan kalori yang dikonsumsi menjadi berlebihan (Deren et al., 2010).

Selain kebiasaan konsumsi makanan cepat saji (fast food).

Konsumsi minuman tinggi gula juga menjadi trend yang mempengaruhi

tingginya angka kelebihan berat badan (overweight). Beragam minuman

kemasan yang memiliki cita rasa manis dengan penjualan tertinggi di

Indonesia terdiri atas : jenis teh (teh botol sosro, tekita, the gelas, frestea,

teh kotak, teh rio), sari buah (buavita), minuman isotonic (mizone, pocary

sweat, vitazone), minuman karbonasi (coca cola, sprite, fanta, kopi, susu),

dsb. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jae et al., (2017)
3

dalam (Veronica, 2020) menyebutkan dalam satu porsi minuman kekinian

terdapat jenis karbohidrat sederhana dengan kandungan 38-96 gram gula

dan 299-515 kkal energi. Jenis karbohidrat sederhana ini akan menyediakan

glukosa bagi sel tubuh yang kemudian di ubah menjadi energi. Konsumsi

glukosa berlebih akan disimpan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Jika

dikonsumsi secara berlebihan akan diubah menjadi lemak sehingga

menyebabkan berat badan berlebih. (Zakaria, 2015).

Kelebihan berat badan (overweight) merupakan suatu kondisi yang

disebabkan karena penumpukan jaringan lemak yang berlebih. Overweight

ini merupakan kondisi yang hampir mendekati obesitas. Seseorang dapat

dikatakan overweight jika memiliki IMT antara 23 – 24,99. Pengelompokan

overweight dibagi atas dua macam yaitu individu dengan IMT 23 – 24,99

dan kelompok dengan IMT 27,50 – 29,99 (WHO, 2000)

Kasus kelebihan berat badan ini jika tidak ditangani akan menjadi

obesitas dan menimbulkan dampak yang lebih serius. Bukan hanya

perdampak pada perubahan status gizi seseorang, obesitas ini menjadi faktor

risiko meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti

penyakit arteri koroner, stroke, penyakit jantung koroner, hipertensi,

kolesterol tinggi, diabetes melitus, penyakit pernafasan (asma), dan

beberapa jenis kanker sehingga meningkatkan angka kematian secara

progresif (OECD World Health Organization, 2020).

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh (Puskesmas Ranomut Manado,

2017) dalam (Masi, 2017) mengenai status gizi penderita diabetes yang
4

dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ranomut Kota Manado pada Tahun

2017 menunjukan status gizi obesitas pada penderita diabetes melitus pada

bulan Juli mencapai 64 orang, angka tersebut kemudian mengalami

kenaikan pada bulan Agustus dengan jumlah penderita mencapai 104 orang,

dan mengalami penurunan kembali pada bulan September pada angka 59

orang. (Puskesmas Ranomut Manado, 2017). Dari hasil tersebut dapat

Diketahui bahwa obesitas memiliki pengaruh terhadap meningkatnya angka

kejadian diabetes melitus.

Berdasarkan hasil RISKESDAS Tahun 2018 menunjukan prevalensi

berat badan lebih dan obesitas pada remaja usia > 18 tahun mengalami

peningkatan. Prevalensi remaja dengan berat badan berlebih sejumlah

13,6% dan remaja obesitas sejumlah 21,8%. Sementara itu, prevalensi

remaja usia ≥ 15 tahun yang mengalami obesitas juga mengalami

peningkatan menjadi 31%. Data Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia pada Tahun 2019 menunjukann Provinsi D.I Yogyakarta memiliki

angka kelebihan berat badan pada penduduk usia > 18 tahun sebanyak

13,7% pada pria dan 21,4% pada wanita.

Penelitian yang diakukan oleh (Muthaharah, 2022) mengenai

gambaran asupan gula murni dalam minuman manis pada penduduk di

Kabupaten Sleman menunjukan asupan gula murni memberikan pengaruh

terhadap status gizi penduduk yaitu pada status gizi gemuk berat (17,66%),

gemuk ringan (15,12%), normal (11,90%), kurus ringan (6,91%) dan kurus

berat (12,64%). Sementara pengaruh asupan gula murni terhadap


5

pemenuhan kebutuhan karbohidrat yaitu status gizi kurus berat (9,59%),

kurus ringan (15,32%), normal (15,47%), gemuk ringan (26,40%) dan

gemuk berat (23,51%). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa

asupan gula dapat memberikan dampak pada terjadinya kasus kelebihan

berat badan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengetahui faktor

penyebab yang berdampak pada meningkatnya angka kelebihan berat badan

dan perlu dilakukan upaya untuk mencegah menigkatnya angka kelebihan

berat badan di kalangan remaja SMA Negeri 1 Godean

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti merumuskan

masalah penelitian yaitu :

(1) Bagaimana tingkat pengetahuan remaja di SMA Negeri 1 Godean

mengenai konsumsi minuman tinggi gula?

(2) Berapa kebiasaan konsumsi minuman tinggi gula (asupan gula) pada

remaja di SMA Negeri 1 Godean?

(3) Berapa prevalensi kejadian kelebihan berat badan pada remaja di SMA

Negeri 1 Godean?

(4) Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai konsumsi

minuman tinggi gula dan kejadian kelebihan berat badan remaja di SMA

Negeri 1 Godean?

(5) Apakah ada hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman tinggi gula

dan kejadian kelebihan berat badan remaja di SMA Negeri 1 Godean?


6

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kebiasaan remaja

dalam mengkonsumsi minuman tinggi gula pada kejadian kelebihan

berat badan remaja di SMA Negeri 1 Godean.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahui tingkat pengetahuan remaja di SMA Negeri 1 Godean

mengenai konsumsi minuman tinggi gula

b. Diketahui kebiasaan konsumsi minuman tinggi gula (asupan gula)

pada remaja di SMA Negeri 1 Godean

c. Diketahui prevalensi kejadian kelebihan berat badan pada remaja

di SMA Negeri 1 Godean

d. Diketahui hubungan antara pengetahuan mengenai konsumsi

minuman tinggi gula dan kejadian kelebihan berat badan remaja di

SMA Negeri 1 Godean

e. Diketahui hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman tinggi

gula dan kejadian kelebihan berat badan remaja di SMA Negeri 1

Godean

D. Ruang Lingkup

1. Lingkup Kompetensi

Ruang lingkup kompetensi dalam penelitian ini sesuai dengan

Keputusan Menteri Kesehatan KMK atau Kepmenkes Nomor


7

HK.01.07/MENKES/342/2020 tentang Standar Profesi Nutrisionis.

Penelitian ini termasuk penelitian di bidang gizi masyarakat dengan

kompetensi:

(1) Penilaian status gizi

(2) Survey konsumsi pangan

(3) Pendidikan gizi

2. Lingkup Sasaran

Ruang lingkup penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 dan 11 di

SMA Negeri 1 Godean

3. Lingkup tempat

Ruang lingkup tempat dalam penelitian ini yaitu di SMA Negeri 1

Godean

4. Lingkup waktu

Ruang lingkup waktu dalam penelitian ini akan berlangsung pada bulan

Desember 2023 sampai dengan bulan Februari 2024.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan

merubah kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi minuman tinggi gula.


8

2. Manfaat Praktis

a. Bagi sasaran

Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai batasan

asupan gula yang dapat dikonsumsi terutama yang berasal dari

minuman manis untuk mencegah kejadian kelebihan berat badan

khususnya bagi remaja di SMA Negeri 1 Godean.

b. Bagi Institusi Pendidikan Tinggi Vokasi Gizi

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pustaka

mengenai penelitian bidang gizi tentang Pengetahuan dan

Kebiasaan Konsumsi Minuman Tinggi Gula di Perpustakaan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan dapat

dijadikan rederensi bagi penelitian Selanjutnya mengenai

Gambaran Pengetahuan dan Kebiasaan Konsumsi Minuman

Tinggi Gula pada Remaja.

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai gambaran

pengetahuan dan kebiasaan konsumsi minuman tinggi gula dan

kejadian kelebihan berat badan pada remaja di SMA Negeri 1

Godean
9

(6) Keaslian Penelitian

Judul / Topik / Sumber Persamaan penelitian Perbedaan penelitian

1. Veronica, M. Ilmi, I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan

Octaria, Y. (2020). konsumsi minuman kekinian pada mahasiswa Depok dan saya lakukan adalah, pada penelitian saya mengetahui tingkat

Minuman Manis di Jakarta meliputi preferensi, jenis atau rasa, penggunaan pengetahuan remaja mengenai bahaya konsumsi minuman

Kalangan Mahasiswa dan jenis topping serta ukuran minuman. Penelitian ini tinggi gula secara berlebihan, selain itu pada penelitian ini

Depok dan Jakarta merupakan penelitian deskriptif observasional dengan juga menunjukan tingkat asupan gula yang berasal dari

sampel penelitian adalah jenis minuman yang terpilih minuman yang dikonsumsi remaja putri dan kaitannya pada

berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah dilakukan kejadian remaja putri kegemukan dan obesitas di SMA

kepada Mahasiswa dari Universitas di wilayah Depok Negeri 1 Godean.

dan Jakarta. Total mahasiswa yang mengikuti penelitian

ini sejumlah 618 responden dan yang berhasil memenuhi

kriteria inklusi sebanyak 540 responden. Hasil penelitian

pendahuluan menunjukan bahwa jenis minuman yang


10

paling banyak dipilih oleh mahasiswa adalah jenis

minuman teh susu rasa cokelat hazelnut dengan topping

boba berukuran besar. Dari hasil analisis menunjukan

dalam 100 ml minuman teh susu rasa cokelat hazelnut

mengandung energi sebesar 69,8 kkal, protein 0,44 g,

lemak 1,77 g, kerbohidrat 13,04 g, gula 6,49 g (fruktosa

(2,42 g, glukosa 1,32 g, sukrosa 2,75 g). selain itu dalam

100 gram topping boba mengandung energi sebesar 155,

34 kkal, protein 0,23 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 37,95 g,

gula 1,48 g (0,33 g fruktosa dan 1,55 g sukrosa)

2. Zakaria. Hikmawati, HJ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan

Rauf, Suriani. Salama, gambaran pola makan berisiko dan asupan zat gizi saya lakukan adalah, pada penelitian saya mengetahui tingkat

Mira. (2015). Gambaran (karbohidrat, protein, lemak) pada remaja gemuk di pengetahuan remaja putri mengenai bahaya konsumsi

Pola Makan dan Asupan Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Gizi. Peenelitian minuman tinggi gula secara berlebihan selain itu pada

Zat Gizi Makro Pada ini merupakan jenis penelitian deskriptif menggunakan penelitian ini juga menunjukan tingkat asupan gula yang
11

Remaja Gemuk di metode survey dengan sampel semua mahasiswa yang berasal dari minuman yang dikonsumsi remaja putri dan

Politeknik Kesehatan gemuk di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Makassar kaitannya pada kejadian remaja kegemukan dan obesitas di

Kemenkes Makasar sebanyak 37 orang. Kriteria sampel merupakan SMA Negeri 1 Godean

Jurusan Gizi mahasiswa yang mempunyai IMT > 23 kg/m.

Anda mungkin juga menyukai