Chapter 11 oleh: Banu Witono
Tujuan Pembelajaran
1. Pahami tujuan dan alasan menggunakan sampling audit
2. Jelaskan konsep sampling representatif.
3. Bedakan antara metode audit sampling statistik dan
nonstatistik dan antara pemilihan sampel probabilistik dan
nonprobabilistik.
4. Jelaskan audit sampling dalam pengujian pengendalian dan
attribute sampling
5. Jelaskan audit sampling dalam pengujian substantif dan
variable sampling
Definisi-Definisi
Standar audit mendefinisikan sampling audit sebagai:
Pemilihan dan evaluasi kurang dari 100 persen dari populasi relevansi audit
sedemikian rupa sehingga auditor mengharapkan item yang dipilih untuk mewakili
populasi dan, dengan demikian, mungkin memberikan dasar yang masuk akal untuk
kesimpulan tentang populasi.
Penerapan prosedur audit terhadap kurang dari 100 persen pos-pos dalam populasi
saldo akun atau golongan transaksi untuk tujuan mengevaluasi beberapa karakteristik
saldo atau golongan.
Populasi: Himpunan semua elemen yang membentuk saldo akun atau kelas transaksi.
Satuan populasi: Setiap elemen dalam populasi.
Unit pengambilan sampel: Unit populasi yang dipilih dalam sampel audit. Ini mungkin akun
pelanggan, item inventaris, masalah hutang, tanda terima kas, atau cek yang dibatalkan.
Sampel: Satu set unit sampling.
Tujuan Audit Sampling
Pengambilan sampel dapat digunakan baik untuk
pengujian pengendalian maupun program audit saldo.
Untuk
pengujian pengendalian, pengambilan sampel
digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan tujuan
pengendalian.
◼ Sampel diambil dari kelas transaksi.
Untukprogram audit saldo, pengambilan sampel digunakan
untuk mengevaluasi asersi manajemen.
◼ Sampel diambil dari populasi saldo akun
Alasan Dilakukan Audit Sampling
Pengambilan sampel menggunakan kurang dari seluruh populasi
untuk mencapai kesimpulan tentang seluruh populasi. Pekerjaan
tidak dianggap sebagai sampling audit:
ketika seluruh populasi diaudit atau
di mana tujuannya adalah pengenalan umum
Auditor menggunakan sampling audit ketika:
sifat dan materialitas saldo atau transaksi tidak menuntut audit 100%,
keputusan harus dibuat tentang saldo atau transaksi, dan
waktu dan biaya untuk mengaudit 100% populasi akan terlalu besar.
Sampel Representatif & Resiko Sampling
Sampel representatif adalah sampel yang ciri-cirinya kira-kira sama dengan
populasinya. Artinya item yang dijadikan sampel sama dengan item yang tidak
dijadikan sampel. Sampling ditentukan berdasarkan % yg ditetapkan auditor
Risiko pengambilan sampel adalah risiko auditor mencapai kesimpulan yang salah
karena sampel tidak mewakili populasi. Dalam arti: probabilitas bahwa kesimpulan
auditor berdasarkan sampel mungkin berbeda dari kesimpulan berdasarkan audit
terhadap seluruh populasi.
Auditor memiliki dua cara untuk mengendalikan risiko sampling:
◼ Sesuaikan ukuran sampel
◼ Gunakan metode yang tepat untuk memilih item sampel dari populasi
Risiko nonsampling adalah risiko bahwa auditor mencapai kesimpulan yang salah
karena alasan apa pun yang tidak terkait dengan risiko sampling. Penyebab risiko
nonsampling adalah kegagalan auditor untuk mengenali pengecualian, prosedur
audit yang tidak tepat atau tidak efektif atau salah interpretasi hasil sampel
Metode Audit Sampling
Metode sampling audit dapat dibagi menjadi dua kategori besar:
sampling statistik dan sampling nonstatistik. Kategori-kategori ini
serupa karena keduanya melibatkan tiga fase:
1. Rencanakan sampel. Tujuan perencanaan sampel adalah untuk
memastikan bahwa pengujian audit dilakukan dengan cara yang
memberikan risiko pengambilan sampel yang diinginkan dan
meminimalkan kemungkinan kesalahan nonsampling.
2. Pilih sampel dan lakukan tes. Memilih sampel melibatkan memutuskan
bagaimana sampel dipilih dari populasi. Auditor dapat melakukan
pengujian audit hanya setelah item sampel dipilih.
3. Evaluasi hasilnya. Mengevaluasi hasil adalah penarikan kesimpulan
berdasarkan tes audit.
Contoh 3 fase:
Pengambilan sampel statistik berbeda dari pengambilan sampel nonstatistik. Dalam
hal ini dengan menerapkan aturan matematika, auditor dapat mengukur (mengukur)
risiko pengambilan sampel dalam merencanakan sampel (langkah 1) dan dalam
mengevaluasi hasil (langkah 3). (Anda mungkin ingat menghitung hasil statistik pada
tingkat kepercayaan 95 persen dalam kursus statistik. Tingkat kepercayaan 95
persen memberikan risiko pengambilan sampel 5 persen.)
Sampling Statistik
Auditor mendefinisikan sampling statistik sebagai sampling audit yang menggunakan
hukum probabilitas untuk memilih dan mengevaluasi sampel untuk tujuan mencapai
kesimpulan tentang populasi.
Metode pemilihan sampel probabilistik dapat menggunakan:
1. Pemilihan sampel acak sederhana. Setiap item populasi memiliki kemungkinan yang sama
untuk dipilih dalam sampel.
2. Pemilihan sampel yang sistematis. Auditor menghitung interval dan kemudian memilih
item untuk sampel berdasarkan ukuran interval. Interval ditentukan dengan membagi
ukuran populasi dengan ukuran sampel yang diinginkan.
3. Probabilitas sebanding dengan pemilihan ukuran sampel dengan Stratified Sample
Selection. Ada 2 cara: 1) Ambil sampel di mana probabilitas memilih setiap item populasi
individu sebanding dengan jumlah yang tercatat, 2) Bagilah populasi menjadi subpopulasi,
dan ambil sampel yang lebih besar dari subpopulasi dengan ukuran yang lebih besar.
Keuntungan menggunakan sampling statistik:
Perancangan sampel menjadi lebih efisien
Pengukuran kecukupan bukti yang dihimpun
Pengevaluasian hasil sampel
Teknik sampling statistik:
1. Attribute sampling: teknik ini digunakan dalam pengujian pengendalian.
Kegunaannya adalah untuk memperkirakan tingkat deviasi/penyimpangan dari
pengendalian yang ditentukan dalam populasi
2. Variables sampling: teknik ini digunakan dalam pengujian substantif.
Kegunaannya adalah untuk memperkirakan jumlah rupiah total dari populasi atau
jumlah rupiah kesalahan dalam populasi.
Sampling Nonstatistik
Sampling nonstatistik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan berdasar
kriteria subyektif.
Dalam pengambilan sampel nonstatistik, auditor tidak mengukur risiko pengambilan
sampel.
Sampel nonstatistik yang dirancang dengan baik dapat memberikan hasil yang sama
efektifnya dengan sampel statistik yang dirancang dengan benar.
Metode pemilihan sampel nonprobabilistik meliputi:
1. Pemilihan sampel yang serampangan (Haphazard sample), adalah pemilihan item
tanpa bias yang disadari oleh auditor. Dalam kasus tersebut, auditor memilih item populasi
tanpa memperhatikan ukuran, sumber, atau karakteristik pembeda lainnya.
2. Pemilihan blok sampel, auditor memilih item pertama dalam satu blok, dan sisa blok
dipilih secara berurutan
Kemungkinan yang terjadi saat menggunakan sampling
nonstatistik:
Terlalu banyak sampel yang digunakan melebihi yang diperlukan.
Hal ini mengakibatkan terjadi pemborosan waktu dan biaya
Terlalu sedikit sampel yang digunakan sehingga mengakibatkan
ketidakefektifan pengambilan sampel
Terlalu banyak kecukupan bukti audit yang berdasarkan sampel
Kurangnya kecukupan bukti audit berdasarkan sampel, sehingga
kemungkinan menyebabkan kesalahan auditor dalam pengambilan
kesimpulan
Sampling Dalam Pengujian Pengendalian
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan auditor dalam perencanaan sampel atas
pengujian pengendalian:
Hubungan antara sampel dengan tujuan pengendalian tertentu
Tingkat penyimpangan maksimum dari prosedur/kebijakan pengendalian intern yang
ditetapkan kaitan dengan tingkat resiko pengendalian yang direncanakan
Tingkat resiko yang dapat diterima atas penentuan resiko pengendalian yang terlalu
rendah
Karakteristik populasi
Resiko sampling dalam pengujian pengendalian:
a. Penilaian tingkat resiko pengendalian terlalu rendah (Risk of overreliance): akibat kurang
efektifnya audit dalam pendeteksian terhadap ada/tidaknya penyimpangan dalam
pengendalian intern
b. Penilaian tingkat resiko pengendalian terlalu tinggi (Risk of underreliance): akibat kurang
efisiennya audit meskipun dipandang efektif
Attribute Sampling
Tahapannya:
1. Menentukan tujuan pengujian audit
2. Menspesifikasikan atribut yang akan diperiksa dan kondisi penyimpangan
3. Mendefisikan populasi dan unit sampling
4. Menspesifikasikan tingkat penyimpangan yang dapat diterima
5. Menspesifikasikan resiko atas penilaian resiko pengendalian yang terlalu rendah yang
dapat diterima (acceptable risk of overreliance)
6. Mengestimasi tingkat penyimpangan populasi
7. Menentukan ukuran sampel
8. Menentukan metode pemilihan sampel
9. Melaksanakan prosedur audit
10. Mengevaluasi hasil audit
Sampling Dalam Pengujian Substantif
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan auditor dalam perencanaan sampel atas
pengujian substantif:
Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan haris dicapai
Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas
Tingkat resiko yang diterima auditor
Karakteristik populasi
Pemilihan sampel
Pelaksanaan evaluasi atas hasil sampel
Tujuan rencana sampling pengujian substantif:
Memperoleh bukti bahwa saldo akun tidak mengandung salah saji yang material
Membuat estimasi independen atas jumlah tertentu seperti menilai sejumlah persediaan
yang tidak mempunyai nilai buku
Variable Sampling
Variable Sampling digunakan auditor
apabila: Tiga teknik dalam
Klien tidak dapat menyajikan suatu jumlah
yang dapat dianggap benar variable sampling:
Suatu saldo akun ditentukan dengan sampling
Estimasi Mean-per-unit
statistik
Variable sampling digunakan auditor antara (MPU)
lain pada:
Observasi dan penilaian persediaan Estimasi Perbedaan
Konfirmasi piutang dagang
Cadangan untuk piutang tak tertagih Estimasi rasio
Menilai persediaan dalam proses
Cadangan persediaan yang rusak
Penilaian umur piutang
Estimasi Mean-Per-Unit
Langkah-langkahnya:
1. Menentukan tujuan rencana sampling:
a. Menghimpun bukti bahwa saldo akun tercatat tidak mengandung salah saji yang material
b. Mengembangkan estimasi independen atas suatu jumlah akun apabila tidak ada nilai buku
yang tersedia
2. Mendefinisikan kondisi kesalahan
3. Mendefinisikan populasi dan unit sampling
4. Menentukan ukuran sampel
5. Menentukan metode pemilihan sampel
6. Melaksanakan rencana sampling
7. Mengevaluasi hasil sampel
Estimasi Perbedaan & Estimasi Rasio
Persamaannya pada 4 hal yang harus dipenuhi untuk
menggunakan teknik-teknik ini:
1. Nilai buku setiap item populasi harus dapat diketahui auditor
2. Total nilai buku populasi diketahui auditor jumlah keseluruhan
dari nilai buku item populasi harus sama dengan total nilai
buku populasi
3. Harus ada perbedaan antara nilai audit dan nilai buku yang
diharapkan
Perbedaannya pada tahap pelaksanaan dan evaluasi:
▪ Estimasi Perbedaan:
▪ Perbedaan dihitung untuk setiap item sampel yang sama dengan niali
audit item dikurangi nilai bukunya. Auditor menggunakan rata-rata
perbedaan untuk menghimpun estimasi nilai populasi total. Variabilitas
perbedaan tersebut digunakan untuk menentukan presisi yang dapat
dicapai dan cadangan yang dapat diterima untuk resiko sampling
▪ Estimasi Rasio
▪ Menentukan nilai audit untuk setiap item. Rasio dihitung dengan
menghitung nilai pembagian jumlah nilai audit dibagi jumlah nilai buku
item sampel. Rasio tersebut dikalikan dengan nilai buku total untuk
menghasilkan nilai populasi total yang diestimasikan
Pendalaman Materi
Jawablah Pertanyaan di bawah ini:
1. Jelaskan mengapa auditor menggunakan audit sampling dalam
melakukan pemeriksaan atas laporan keuanga!
2. Apa yang dimaksud dengan sampling representative, jelaskan !
3. Apa perbedaan antara metode audit sampling statistik dan
nonstatistik, jelaskan!
4. Apa perbedaan antara sampel probabilistik dan nonprobabilistik,
jelaskan!
5. Apa perbedaan antara attribute sampling dan variable sampling,
jelaskan!