0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan1 halaman

Refleksi 5

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan1 halaman

Refleksi 5

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Tantangan Utama yang Dihadapi Yoga


Tantangan utama yang dihadapi Yoga adalah keterbatasan akses terhadap materi
pembelajaran yang bersifat visual.
Secara lebih spesifik, tantangan ini muncul karena beberapa hal:
 Metode Mengajar yang Visual-Sentris: Pak Reza menggunakan gambar diagram pada
layar LCD dan menjelaskan sambil menunjuk ("bagian ini", "ke sebelah sana"). Bagi
anak tuna netra total seperti Yoga, kata-kata penunjuk spasial ini tidak memiliki
makna tanpa deskripsi verbal yang konkret.
 Kurangnya Alat peraga : Materi siklus air yang abstrak disampaikan hanya dalam
bentuk dua dimensi (gambar di layar), tanpa adanya alternatif media yang bisa diindra
oleh Yoga, seperti media yang dapat diraba.
 Keterbatasan Aplikasi Pembaca Layar : Meskipun Yoga memiliki laptop dengan
screen reader, aplikasi tersebut tidak dapat membaca gambar atau diagram di layar
LCD kelas secara otomatis jika tidak dipersiapkan format digitalnya yang ramah
disabilitas.
2. Dampak Tantangan Tersebut dalam Pembelajaran
Jika tantangan aksesibilitas ini tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas ke
berbagai aspek kehidupan belajar Yoga:
 Hambatan Kognitif (Gagal Paham Materi): Yoga kesulitan membangun konsep atau
gambaran mental (mental image) yang akurat tentang proses siklus air. Ia tidak
memahami bagian-bagiannya karena ia tidak bisa "melihat" hubungan antar-proses
tersebut lewat penjelasan yang ada.
 Kehilangan Kesempatan Belajar mandiri: Yoga tidak mencatat apa pun selama
pelajaran. Artinya, ia kehilangan materi berharga yang bisa ia pelajari kembali di
rumah menggunakan laptopnya.
 Penurunan Motivasi dan Rasa Percaya Diri: Yoga yang biasanya cerdas, penuh
semangat, dan senang bercerita berubah menjadi murung. Kegagalan mengakses
pelajaran secara berulang dapat memicu perasaan frustrasi, merasa "berbeda" dalam
arti negatif, hingga merasa tidak mampu mengikuti pelajaran seperti teman-temannya.
 Keterasingan Akademik di Dalam Kelas: Meskipun secara fisik Yoga duduk di
bangku paling depan, secara akademis ia terisolasi dari aktivitas utama kelas karena
media yang digunakan tidak medukung.

Anda mungkin juga menyukai