Bab Ii Landasan Teori
Bab Ii Landasan Teori
LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan pengirim kepada penerima,
sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat
peserta didik untuk belajar.1 Ada beberapa konsep atau defenisi media
pembelajaran. Rossi dan Breidle mengemukakan bahwa media
pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk
mencapai tujuan pendidikan. Daratjat dalam buku Ramayulis
menyebutkan bahwa media pendidikan adalah sumber belajar dan
dapat juga diartikan dengan manusia dan benda atau peristiwa yang
membuat kondisi siswa mungkin memperoleh pengetahuan,
keterampilan, atau sikap.2
Menurut penulis, media adalah semua alat atau bahan dalam
proses pembelajaran yang sangat penting dan harus ada saat proses
pembelajaran. Karena dengan adanya media, maka suatu pembelajaran
akan lebih menarik dan membuat anak-anak lebih memahami apa yang
kita sampaikan mengenai pembelajaran tersebut. Jadi kita sebagai
seorang guru harus sekreatif mungkin saat memberikan materi
pelajaran kepada siswa. Jangan sampai apa yang kita sampaikan tidak
dicerna dan tidak dipahami oleh mereka. Itu artinya kita sebagai
seorang guru gagal dalam memberikan materi tersebut. Namun
1
Talizaro Tafonao, „Peranan Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Minat
Belajar Mahasiswa‟, Jurnal Komunikasi Pendidikan, 2018
2
Ramayulis, Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan
(Jakarta: Radar Jaya Offset, 2015).
8
demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi
hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh
pengetahuan.
Para ahli telah mengklasifikasikan alat/media pendidikan
kepada dua bagian, yaitu alat pendidikan yang bersifat benda
(material) dan alat pendidikan yang bukan benda (non material).
Yang termasuk alat pendidikan material menurut versi Sadiman
adalah media grafis, dengan cara menuangkan pesan pengajaran
ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Yang termasuk ke
dalam media grafis adalah gambar, foto, sketsa, bagan, chart,
diagram, papan, poster, dan kartun.3
Dengan demikian peranan media sangat penting dalam
pembelajaran, sebab dalam pembelajaran terjadi interaksi antara
guru dan siswa. Penggunaan media dalam proses belajar dapat
membangkitkan rasa ingin tahu dan minat, membangkitkan
motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta
dapat mempengaruhi psikologi siswa.4
b. Tujuan Media Pembelajaran
Tujuan penggunaan media pembelajaran secara umum
adalah agar dapat membantu guru dalam menyampaikan pesan-
pesan atau materi pelajaran kepada peserta didik agar pesan lebih
mudah dimengerti, lebih menarik dan lebih menyenangkan bagi
peserta didik. Tujuan penggunaan media pembelajaran secara
khusus yakni:
3
Arif S. Sadiman, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan Dan
Pemanfaatan), 6th edn (Jakarta: Pustekom dikbud dan PT raja grafindo persada, 2003).
4
Lemi Indriyani, „Pemanfaatan Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar
Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kognitif Siswa‟, In Prosiding Seminar
Nasional Pendidikan FKIP, 2.1 (2019)
<[Link]
9
1. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan
bervariasi sehingga merangsang minat peserta didik untuk
belajar.
2. Menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam bidang
teknologi.
3. Untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif.
4. Untuk memberikan motivasi belajar kepada peserta didik.5
c. Peran Media Pembelajaran
Peran penggunaan media sangat berpengaruh dalam
menunjang proses pembelajaran, peran media pembelajaran yang
bersifat sebagai bahan ajar antara lain:
1. Mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan
peserta didik, antara peserta didik dengan peserta didik dalam
kegiatan belajar mengajar.
2. Merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta
didik agar dapat mendorong kegiatan belajar, sehingga
pengalaman belajar yang diperoleh akan lebih bermakna.
3. Membangkitkan keinginan dan minat belajar peserta didik
sehingga perhatian peserta didik dapat terpusat pada bahan
pelajaran yang diberikan guru.
4. Meletakan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan
belajar, sehingga membuatpelajaran lebih lama diingat.
5. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan
kegiatan mandiri dikalangan peserta didik. Peran media
pembelajaran yang bersifat alat bantu adalah media yang
5
Slamet Suyanto Miftahul Khairani, Sutisna Sutisna, „Studi Meta-Analisis
Pengaruh Video Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik‟, Jurnal Biolokus:
Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Dan Biologi, 2.1 (2019)
10
hanya sebagai alat bantu untuk memperlancar proses
pembelajaran.
d. Fungsi Media Pembelajaran
Rowntree dalam bukunya mengemukakan enam fungsi
media pembelajaran, sebagai berikut:
1. membangkitkan motivasi belajar
2. mengulang apa yang telah dipelajari
3. menyediakan stimulus belajar
4. mengaktifkan respon siswa
5. berikan umpan balik dengan segera dan
6. menggalakkan latihan yang serasi.6
e. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Secara umum media terbagi menjadi 2 macam yaitu:
1. Media auditif adalah media pengajaran yang hanya
menggunakan kemampuan dalam bentuk suara. Media ini
sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contoh media
auditif seperti radio, tape recorder, piringan audio.
2. Media visual adalah media pengajaran yang hanya
menggunakan gambar diam, seperti film strip (film rangkai),
slides (film bingkai), foto, gambar, lukisan dan cetakan.
Ada juga media visual yang menampilkan gambar atau
simbol yang bergerak seperti film bisu dan film kartun. Media
visual terbagi menjadi dua yaitu Media visual diam dan media
visual gerak.
6
[Link], „Fungsi Dan Peran Media Pembelajaran Sebagai Upaya
Peningkatan Kemampuan Belajar Siswa‟, Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan,
1.2 (2013)
<[Link]
11
a. Media visual diam contohnya foto, ilustrasi, flashcard,gambar
pilihan dan potongan gambar, film bingkai, film rngkai,OHP,
grafik, bagan, diagram, poster, peta, dan lain- lain.
b. Media visual gerak contohnya gambar-gambar proyeksi
bergerak seperti film bisu dan sebagainya.7
Media audio visual adalah media yang mempunyai dua
unsur yaitu suara dan gambar. Jenis media ini memiliki
kemampuan yang lebih baik dari pada media yang lain karena
media ini meliputi suara dan gambar seperti film bingkai, ada
suaranya dan ada pula gambar yang ditampilkannya. Media
audio visual juga terbagi menjadi dua macam yaitu media audio
visual diam dan bergerak.
a. Media audiovisual diam diantaranya TV diam, film rangkai
bersuara, halaman bersuara, buku.
b. Media audio visual gerak diantaranya film TV, TV, film
bersuara, gambar bersuara, dan lain-lain
f. Manfaat Media Pembelajaran
Secara keseluruhan, manfaat media pembelajaran dalam
proses pendidikan adalah untuk memudahkan interaksi antara
guru dan siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih efisien dan
efektif. Namun lebih khusus lagi, Kemp dan Dayton
menunjukkan banyak manfaat mengenai media pemebelajaran.
Menurutnya, manfaat media pembelajaran dalam proses
pengajaran sebagai berikut:
7
Muhammad Yaumi, Media Dan Teknologi Pembelajaran (Jakarta: Prenanda
Group, 2018).
12
1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan
informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan
proses dan hasil belajar.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan
perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi
belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan
lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar
sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera,
ruang dan waktu.
4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan
pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di
lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi
langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya.8
10
A. Widiyatmoko and S. D. Pamelasari, „Pembelajaran Berbasis Proyek
Untuk Mengembangkan ALAT Peraga IPA Dengan Memanfaatkan Bahan Bekas
Pakai‟, Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 2012 <[Link]
11
Widiyatmoko & Artikel Apriliyanti, Haryani, „Pengembangan Alat Peraga
IPA Terpadu Pada Tema Pemisahan.‟, Unnes Science Education Journa, 4.2 (2015)
<[Link]
12
Widiyaningrum Anidityas, Utami and Artikel, „Penggunaan Alat Peraga
Sistem Pernafasan Manusia Pada Kualitas Belajar Siswa SMP Kelas VIII.‟,
/[Link]/Sju/[Link]/Usej, 1.2 (2012)
13
Mahfud and Mahfud Nahrowi, „Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan
Menggunakan Alat Peraga IPA Kelas III MI Islamiyah Kudus‟, Indonesian Journal of
Mathematics and Natural Science Education, 2019
<[Link]
14
dimengerti oleh peserta didik dan menjadi alat bantu dalam
kegiatan belajar mengajar peserta didik dari bahan sederhana.
Alat peraga ini berfungsi untuk membantu mempermudah dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Alat peraga yang akan digunakan
pada SMP 7 Kota Bengkulu ialah alat peraga yang dirakit dari
barang bekas menyerupai struktur atom. Adapun alat peraga
tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :
15
2. Penggunaaan alat peraga merupakan bagian yang integral
dengan tujuan dan isi pelajaran.
3. Alat peraga dalam pembelajaran bukan semata-mata alat
hiburan/ alat pelengkap.
4. Alat peraga dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk
mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa
dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.14
c. Jenis-Jenis Alat Peraga
Berikutnya adalah contoh bahan ajar yang dapat
digunakan untuk pelatihan:
1. Gambar: suatu bentuk alat peraga yang nampaknya saling
dikenal dan saling dipakai, karena gambar disenangi oleh
anak berbagai unur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan
tidak mengita waktu persiapan.
2. Peta: bisa menolong mereka mempelajari bentuk dan letak
negara- negara serta kota-kota yang disebut Al-kitab. Salah
satu yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat
peraga hanya cocok bagi anak besar atau kelas besar.
3. Papan tulis: Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya
sebagai sarana mengajar. Papan tulis dapat dirima dimana-
mana sebagai alat peraga yang efektif. Tidak perlu menjadi
seorang seniman untuk memakai papan tulis. Kalimat yang
pendek, beberapa gambaran orang yang sederhana sekali,
sebuah diagram, atau empat persegi panjang dapat
menggambarkan orang, kota atau kejadian.
d. Manfaat Alat Peraga
14
Juwairiah, „Alat Peraga Dan Media Pembelajaran Kimia‟, Visipena Journal,
2013 <[Link]
16
Alat peraga sangat membantu untuk mencapai tujuan
dalam proses pembelajaran. Terdapat beberapa manfaat alat
peraga dalam proses pembelajaran, diantaranya yaitu sebagai
berikut :
1. membantu dalam meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan.
2. mengilustrasikan dan meningkatkan pesan atau informasi.
3. menghilangkan kendala, dan kemalasan. Dengan demikian
alat peraga dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam
pembelajaran.15
3. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi
pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Menurut
Nawawi hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan
siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang
dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal
sejumlah materi pelajaran tertentu.16
Belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam
mewujudkan tujuan pendidikan khususnya untuk mencapai hasil
belajar. Melalui proses belajar dapat diperoleh pengetahuan dan
pengalaman yang sangat diperlukan bagi seseorang untuk
mencapai cita-citanya. Suatu proses belajar mengajar dikatakan
baik, apabila proses belajar mengajar dapat menumbuhkan
15
Margareta Gena, „Penggunaan Alat Peraga Dalam Upaya Meningkatan
Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Dimensi Tiga‟, Asimtot : Jurnal
Kependidikan Matematika, 2021 <[Link]
16
Ahmad Susanto, Teori Belajar Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar,
(Jakarta: PT Fajar Interpratama, 2013).
17
kegiatan belajar yang efektif yang akan mempengaruhi hasil
belajar siswa.17
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami tentang
makna hasil belajar, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian tentang
hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas dipertegas lagi oleh
nawawi dalam K. Brahim yang menyatakan bahwa hasil belajar
dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam
skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi
pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil
belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah
melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan
suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh
suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.18
Hasil belajar akan menumbuhkan minat belajar. Minat
belajar anak harus dapat ditumbuhkan dalam setiap proses belajar
mengajar. Minat belajar yang tinggi akan sangat berpengaruh
terhadap peran serta atau aktifitas anak dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Proses membangkitkan minat belajar,
mempertahankan minat belajar dan mengontrol minat belajar
menjadi bagian yang sangat penting dalam proses belajar
mengajar. Jadi tanpa hasil belajar yang memadai, sangat sulit
17
Dini Alwiyah and Nani Imaniyati, „Keterampilan Mengajar Guru Dan
Kesiapan Belajar Siswa Sebagai Determinan Terhadap Hasil Belajar Siswa‟, Jurnal
Manajerial, 2018 <[Link]
18
Ahmad Susanto, Teori Belajar Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar
(Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013).
18
bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran untuk dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.
b. Macam-Macam Hasil Belajar
Hasil belajar sebenarnya meliputi hasil dari tiga aspek
yang dimiliki siswa yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek
psikomotorik. Perwujudan hasil belajar yang baik berupa
perubahan ranah psikologis sebagai hasil pengalaman dan proses
pembelajaran. Menurut Bloom yang dikutip oleh Kompri,
menggolongkan hasil belajar pada tiga ranah19, yaitu:
1. Ranah kognitif, meliputi:
a. Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang hal-
hal yang telah dipelajari dan disimpan dalam ingatan.
b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap sari dan
makna hal-hal yang dipelajari.
c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode,
kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan
ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan
dapat dipahami dengan baik.
e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola
baru.
f. Evaluasi, mencakup kemampuan mendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
2. Ranah afektif, meliputi:
a. Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu
dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
19
Kompri, Belajar, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar (Yogyakarta:
Media Akademi, 2017).
19
b. Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan
memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c. Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup
penerimaan suatu nilai, menghargai, mengakui, dan
membentuk sikap.
d. Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk
suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
e. Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan
menghayati nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai
kehidupan pribadi.
3. Ranah psikomotorik meliputi kemampuan motorik berupa
persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa,
gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan
kreativitas.20
c. Ciri-Ciri Hasil Belajar
Ciri-ciri hasil belajar dapat dilihat dari beberapa hal
berikut antara lain:
1. Perubahan yang secara sadar, ini berarti bahwa individu yang
belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau
sekurang- kurangnya individu merasakan telah terjadinya
suatu perubahan dalam dirinya.
2. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Dalam
perbuatan belajar perubahan-perubahan itu selalu bertambah
dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya semakin banyak usaha belajarnya dilakukan
makasemakin banyak dan baik perubahan yang diperoleh.
20
Ramlan Efendi, „Konsep Revisi Taksonomi Bloom Dan Implementasinya
Pada Pelajaran Matematika SMP‟, Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 2.1 (2017),
73–74.
20
3. Perubahan dalam belajar bertujuan dan bertujuan atau terarah
perubahan tingkah itu terjadi karena ada tujuan yang akan
dicapai.
4. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku jika
seseorang belajar sesuatu sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap
kebiasaanketerampilan pengetahuan dan sebagainya.21
d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal
a) Faktor Fisiologis
Kondisi fisiologis seperti, kondisi kesehatan yang
prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam
keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat
jasmani, dan sebagainya.
b) Faktor Psikologis
Setiap individu dalam hal ini siswa pada dasarnya
memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya
hal ini turut mempengaruhui hasil belajarnya. Beberapa
faktor psikologis, meliputi intelegensi (IQ), perhatian,
minat, bakat, motif, motivasi, kognitif, dan daya nalar
siswa.
2. Faktor Eksternal
a) Faktor Lingkungan
21
Uswatun Hasanah, „Pengaruh Media Pop Up Book Terhadap Hasil Belajar
Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SD Negeri 99 Kota Bengkulu‟ (UINFAS
Bengkulu, 2019)
<[Link]
21
Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. lingkungan alam misalnya suhu, dan
kelembapan udara.
3. Faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang
keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil
belajar yang diharapkan. Faktor-faktor intrumental yaitu:
1. Kurikulum adalah unsur penting dalam pendidikan.
2. Program
3. Sarana dan fasilitas
4. Guru22
22
Ahmad Susanto, Teori Belajar Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar
(Jakarta: Prenadamedia Group, 2013).
23
Sabarni Sabarni, „Struktur Atom Berdasarkan Ilmu Kimia Dan Perspektif
Al-Quran‟‟, Lantanida Journal, 2019 <[Link]
22
dengan lambang Z, untuk menyebutkan jumlah muatan positif
dalam inti atom yaitu jumlah proton. Contoh nomor atom Na
= 11, berarti tiap atom natrium mengandung 11 proton.24
2) Konfigurasi Elektron
Susunan elektron pada masing-masing kulit disebut
konfigurasi elektron. Dalam menuliskan konfigurasi elektron,
data yang pertama sekali diperlukan adalah nomor atom suatu
unsur yang menyatakan jumlah elektron dari atom unsur
tersebut. Ada beberapa patokan yang harus selalu diingat,
yaitu:
a. Jumlah elektron maksimum paling banyak yang dapat
menempati masing-masing kulit adalah 2n2 .
b. Kulit yang paling luar hanya boleh mengandung
maksimum 8 elektron.
3) Elektron Valensi
Jika suatu atom membentuk ikatan dengan atom lain,
maka yang terlibat dalam pembentukan ikatan itu adalah
elektron-elektron yang terletak di kulit terluar dari pada atom
tersebut, dan disebut elektron-elektron valensi. Susunan
elektron valensi sangat menentukan sifat-sifat kimia suatu
atom, oleh sebab itu, unsur-unsur yang memiliki struktur
elektron valensi yang sama akan memiliki sifat-sifat yang
sama.25
b. Partikel Dasar Atom
24
Irfan Anshory, Acuan Pelajaran Kimia SMU Jilid 1 (Jakarta: Erlangga,
1997).
25
Irfan Anshory, Acuan Pelajaran Kimia SMU Jilid 1 (Jakarta: Erlangga,
1997).
23
Suatu atom tersusun atas tiga partikel dasar, yaitu proton,
elektron, dan neutron. Proton dan neutron terdapat dalam inti
sedangkan elektron terdapat dalam kulit atom.26
c. Susunan Atom
Susunan suatu atom, yaitu jumlah partikel dasar yang
menyusunsuatu atom, dinyatakan dengan notasi sebagai berikut.
𝐴
𝑍
X. = Lambang atom/lambang unsur
Z. = Nomor atom = Jumlah proton = Jumlah elektron
A. = Nomor massa = Jumlah proton + Jumlah neutron = p + n
Oleh karena A = p + n, sedangkan p = Z, maka A = Z + n
atau n = A – Z. Jadi, jumlah neutron dalam suatu atom sama
dengan selisih nomor massa dengan nomor atomnya. Jumlah
neutron (n) = Nomor massa – Nomor atom.
d. Susunan Ion
Suatu atom dapat kehilangan elektron atau mendapat
elektron tambahan. Atom yang kehilangan elektron akan menjadi
ion positif, sedangkan atom yang mendapat tambahan elektron
akan menjadi ion negatif.
Jika jumlah elektronnya berkurang satu, maka atom
natrium bertambah menjadi Na+. Sebaliknya, jika atom natrium
mendapat tambahan 1 elektron, maka atom natrium berubah
menjadi ion Na-.
e. Isotop, Isoton, Isobar
26
Zulfatus Saadah Dkk, Strategi Cerdas Bank Soal Kimia SMA/MA (Jakarta:
PT Grasindo, 2017).
24
Isotop adalah atom-atom yang mempunyai nomor atom
yang sama tetapi berbeda nomor massanya disebut isotop. Isoton
adalah atom dari unsur yang berbeda mempunyai nomor atom
berbeda, tetapi mempunyai neutron sama disebut isoton. Isobar
adalah atom dari unsur yang berbeda mempunyai nomor atom
berbeda, tetapi mempunyai nomor massa sama disebut isobar.
f. Perkembangan Teori Atom
1. Teori Atom Dalton
Pada tahun 1803 seorang guru dan ilmuwan Inggris
yang bernama John Dalton mengemukakan teorinya yang
disebut teori atom Dalton yang dapat dikemukakan dalam
postulat berikut ini :
a) Zat terdiri dari partikel kecil yang tidak dapat dibagi lagi.
b) Atom suatu unsur dapat bergabung dengan atom unsur
lain membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan
bulat dan sederhana.
c) Senyawa kimia dibentuk oleh atom-atom unsurnya dalam
suatu perbandingan yang tetap.
2. Model Atom Thomson
Menurut Thomson, atom terdiri atas materi
bermuatan positif dan elektron-elektron tersebar diantara
muatan tersebut, bagaikan kismis dalam roti kismis.
Kelemahannya Tidak dapat menerangkan dinamika reaksi
yang terjadi antar atom.
3. Model Atom Rutherford
Rutherford merupakan penemu inti atom (1910).
Menurutnya atom terdiri dari inti yang bermuatan positif yang
25
merupakan terpusatnya massa. Di sekitar inti terdapat elektron
yang bergerak mengelilinginya dalam ruang hampa.
4. Model Atom Bohr
Elektron beredar mengelilingi inti pada lintasan
stationer dengan tingkat energi tertentu tanpa disertai
penyerapan atau pemancaran energi. Elektron dapat berpindah
dari lintasan stasioner yang lebih rendah ke yang lebih tinggi
jika menyerap energi. Dan sebaliknya jika electron berpindah
dari lintasan stasioner yang tinggi ke yang rendah terjadi
pembebasan energi.
B. Kajian Pustaka
1. Jurnal skripsi yang dilakukan oleh Yuni Sarawati yang berjudul
“Pengembangan Alat Peraga Roda-Roda Atom (R2A) Berbasis
Discovery Learning Pada Materi Struktur Atom Untuk Smp Dan
Mts”.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui langkah- langkah
pengembangan alat peraga Roda-Roda Atom (R2A), kelayakan alat
peraga Roda-Roda Atom (R2A), dan kepraktisan alat peraga Roda-
Roda Atom (R2A) bagi siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas IX
dengan jumlah orang 30 siswa SMPN 12 Kota Bengkulu. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa didapatkan skor 96 % untuk hasil uji
validasi materi dan hasil validasi media didapatkan skor 86 %, lalu
dilanjutkan dengan hasil uji kepraktisan alat peraga adalah 93 %,
serta hasil respon kepraktisan siswa adalah 84% dengan kategori alat
peraga tersebut sangat layak digunakan pada materi struktur atom.27
27
Yuni Sarawati, „Pengembangan Alat Peraga Roda-Roda Atom (R2A)
Berbasis Discovery Learning Pada Materi Struktur Atom Untuk Smp Dan Mts‟
(Universitas Fatmawati Sukarno Bengkulu, 2022)
<[Link] YUNI [Link]>.
26
2. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Ernawati yang berjudul
“Efektivitas Penggunaan Media Gambar Tiga Dimensi Terhadap
Hasil Belajar Matmatika Pada Siswa Kelas III”. penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hasil belajar dengan menggunaka alat
peraga pada murid kelas III SD Negeri 178 Tanalle Kecamatan
Marioriwawo Kabupaten Soppeng. penelitian ini adalah penelitian
Pre-Eksperimental yang melibatkan satu kelas. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Pembelajaran dengan menggunakan metode
konvensional dari 28 murid terdapat 24 orang murid yang berada
pada kategori tidak tuntas dengan presentase 85%, dan 4 orang murid
yang berada pada kategori tuntas dengan presentase 15%. Secara
klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar
38,75 sedangkan pada pembelajaran dengan menggunakan alat
peraga terdapat 7 orang murid yang berada pada kategori tidak tuntas
dengan presentase 25%, dan 21 orang murid yang berada pada
kategori tuntas dengan presentase 75%. Dapat disimpulkan
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga tersebut mengalami
peningkatan selama pembelajaran.28
3. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Suliyati Mujassam, Irfan
Yusuf, dan Sri Widyaningsih pada tahun 2017 dengan judul
“Penerapan Model PBL Menggunakan Alat Peraga Sederhana
Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengukur signifikan antara hasil belajar sebelum dan setelah
diterapkan model PBL menggunakan alat peraga sederhana.
Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan Time Series Design.
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling
28
Ernawati Ernawati, „Efektivitas Penggunaan Media Gambar Tiga Dimensi
Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas III‟, JKPD (Jurnal Kajian
Pendidikan Dasar), 2018 <[Link]
27
dengan melibatkan kelas X TKJ B sebanyak 16 siswa. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pre-test sebesar 23,72 ± SD
22,11 kategori sangat kurang sedangkan post-test sebesar 43,91 ± SD
24,14 kategori cukup. Sejalan dengan hasil pengolahan data
menggunakan Paired sample t-test, dengan taraf signifikan α = 5%
diperoleh thitung = 4,778. Nilai ttabel diketahui 1,697 sehingga thitung >
ttabel yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar
peserta didik antara sesudah dan sebelum diterapkan model PBL.29
4. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Galuh Ayu Riyanti tahun 2015
dengan judul “Penerapan Alat Peraga Seri-Paralel DC Untuk
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Materi Hukum Ohm” di
SMK Nusantara Comal 1 di Kabupaten Pemalang dengan populasi
kelas XI SMK Nusantara Comal 1, sampel siswa kelas XI pemesinan
1 dengan jumlah siswa 44 orang yang diambil secara acak melaui
teknik Purposive Sampling. Penelitian yang dilakukan adalah Pre-
Experimental desain penelitian yang digunakan adalah one-group
pretest posttest design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penerapan alat peraga Seri-paralel DC dapat meningkatkan
pemahaman siswa pada materi hukum ohm. Rata-rata skor pre-test
siswa 44,91 dan rata-rata skor pre-test siswa adalah 78,73.
Peningkatan pemahaman konsep fisika siswa sebesar 0,614.30
5. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Wahyuning Widiyastuti pada
bulan januari 2020 dengan judul “Efektivitas Penggunaan Alat
Peraga Lidi Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari
29
Suliyati Suliyati and others, „Penerapan Model PBL Menggunakan Alat
Peraga Sederhana Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik‟, Curricula, 2018
30
Masturi Galuh Ayu Riyanti, Sutikno, „Penerapan Alat Peraga Seri-Pararel
Dc Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Materi Hukum Ohm‟, Prosiding
Seminar Nasional Fisika, [Link] (2015), 129 <[Link]
prosiding/snf2015/>.
28
Motivasi Belajar Siswa pada Materi Menggambar Vektor” Penelitian
ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk menguji
keefektifan penggunaan alat peraga lidi dan motivasi siswa terhadap
pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan hasil belajar
matematika. Metode penelitian yang digunakan adalah counter
balance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tanpa
menggunakan alat peraga lidi dengan nilai F = 12,434 untuk 𝛼 = 5 %.
Kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan alat peraga lidi
mempunyai hasil belajar sebesar 57,917. Dapat disimpulkan bahwa
bahwa penggunaan alat peraga lidi terbukti efektif meningkatkan
hasil belajar matematika siswa pada materi menggambar vektor
dimensi tiga.31
6. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Zaenudin, J Maknun dan
Muslim dengan judul “Description of Self-efficacy and Initial
Cognitive Abilities on the Students‟ Physics Learning of the Direct
Current Electrical Circuits”. Dari hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai referensi untuk memberikan langkahlangkah yang tepat
untuk kemajuan belajar siswa. Penelitian ini dilakukan kelas 10
dengan jumlah siswa 35 siswa MAN 1 Bandung. Hasil analisis data
menunjukkan bahwa persentase siswa yang memiliki self-efficacy
moderat sebesar 67,05%, dan kemampuan kognitif 50%.32
7. Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Iwan, Agus
Suyatna dan Warsito dengan judul “Development Of Static Fluid
31
Wahyuning Widiyastuti, „Efektivitas Penggunaan Alat Peraga Lidi
Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Pada Materi
Menggambar Vektor‟, Jurnal Pendidikan Matematika (Kudus), 2020
32
Zaenudin, J. Maknun, and Muslim, „Description Of Self-Efficacy And
Initial Cognitive Abilities On The Students‟ Physics Learning Of The Direct Current
Electrical Circuits‟, in Iop Conference Series: Materials Science and Engineering,
2017 <[Link]
29
Learning Props To Improve Students' Argumentation Skills”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga bahan
fluida statis dalam upaya meningkatkan keterampilan argumentasi
siswa. Pengembangan desain menggunakan model 4-D. Subjek tes
dari penelitian ini adalah 5 guru fisika dan 75 siswa dari tiga sekolah
menengah di Bandar Lampung. Hasil n-gain pada sekolah A dan B
sebesar 0.4 yang artinya efektif, sekolah B sebesar 0.4 berarti cukup
efektif, dan sekolah D sebesar 0.6 yang berarti efektif. Hal ini
didukung oleh hasil analisis SPSS, diperoleh nilai signifikansi (nilai
sig < 0,05).33
1 Yuni Sarawati, Nim Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
1811260024, Program adalah alat peraganya roda- adalah jenis penelitiannya
Studi Ilmu roda atom (r2a) yang pengembangan (Research
Pengetahuan Alam, digunakan sebagai and Development) yang
Fakultas Tarbiyah Dan penelitian di jenjang SMP dilakukan di SMP 12
Tadris Uin Fatmawati pada materi Struktur Atom. Kota Bengkulu
Sukarno Bengkulu.
2 Ernawati. Program Studi Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
Pendidikan Guru adalah jenis penelitiannya adalah lokasi
Sekolah Dasar, kuantitatif dengan penelitiannya dilakukan
Fakultas Keguruan menggunakan metode di SDN 178 Tanalle
Dan Ilmu Pendidikan, Quasi Ekperimen yang Kecamatan Marioriwawo
Universitas tertunjuk pada tinjauan yang berpusat pada
Muhammadiyah hasil belajar siswa dengan pelajaran matematika
33
Muhammad Iwan, Agus Suyatna, and Warsito, „Development Of Static
Fluid Learning Props To Improve Students‟ Argumentation Skills‟, International
Journal of Research -Granthaalayah, 2018
<[Link]
30
Makassar Indonesia. media alat peraga, dan
instrumen yang digunakan
adalah tes.
3 Suliyati Mujassam, Irfan Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
Yusuf, dan Sri adalah jenis penelitiannya adalah lokasi
Widyaningsih. FKIP, kuantitatif dengan penelitiannya dilakukan
UNIPA, Manokwari menggunakan metode di SMKN Manokwari
Papua Barat Quasi Ekperimen yang yang berpusat pada
Indonesia. tertunjuk pada tinjauan pelajaran Fisika
hasil belajar siswa dengan
media alat peraga dan
instrumen yang digunakan
adalah tes.
4 Galuh Ayu Riyanti. Prodi Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
S2 Pendidikan Fisika, adalah jenis penelitiannya adalah metode yang
Universitas Negeri kuantitatif eksperimen, digunakan Pre-
Semarang Indonesia. instrumen yang digunakan Eksperimental Desain
adalah tes yang tertunjuk One-Group Pre-Test-
pada tinjauan pemahaman Posttest Desaign. lokasi
konsep siswa dengan media penelitiannya dilakukan
alat peraga. di SMK Nusantara 1
Cornal yang berpusat
pada pelajaran Fisika
5 Wahyuning Widiyastuti. Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
Institut Agama Islam adalah jenis penelitiannya adalah metode yang
Negeri Kudus kuantitatif eksperimen, digunakan Counter
Indonesia. instrumen yang digunakan Blanced. lokasi
adalah tes yang tertunjuk penelitiannya dilakukan
pada tinjauan hasil belajar di SMAN 2 Kudus
siswa dengan media alat Ganesha yang berpusat
31
peraga. pada pelajaran
Matematika
6 Zaenudin. Jurusan Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
Pendidikan Fisika, adalah instrumen tes yang adalah metode yang
Universitas Bandung digunakan untuk sebagai digunakan Studi Kasus.
Indonesia. penelitian, serta lokasi penelitiannya
menggunakan teknik dilakukan di MAN 1
pengumpulan data yang Bandung yang berpusat
sama. pada pelajaran Fisika.
7 Agus Suyatna. Program Persamaan dari penelitian ini perbedaan dari penelitian ini
Pascasarjana adalah sama-sama adalah metode yang
Pendidikan Fisika, menggunakan media alat digunakan pengembangan
Universitas Lampung peraga yang digunakan (Research and
Indonesia. sebagai untuk penelitian Development) dengan
yang tertunjuk pada model 4D. penelitiannya
tinjauan hasil belajar siswa, dilakukan di SMA yang
instrumen yang digunakan berpusat pada pelajaran
adalah tes, serta Fisika
menggunakan teknik
pengumpulan data yang
sama.
32
C. Kerangka Berpikir
Untuk memudahkan dalam mencapai tujuan penelitian
diperlukan kerangka berpikir, maka kerangka berpikir ini sebagai berikut.
33
Inovasi penggunaan media pembelajaran
D. Hipotesis Penelitian
Sugiyono menyatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.34
Adapun hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :
Ha : terdapat pengaruh penggunaan alat peraga roda-roda atom
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IX
materi partikel penyusun benda di SMPN 7 Kota Bengkulu
34
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2016).
34
H0 : tidak terdapat pengaruh penggunaan alat peraga roda-roda atom
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IX
materi partikel penyusun benda di SMPN 7 Kota Bengkulu
35