0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan17 halaman

Sap DM

Dokumen ini adalah rencana penyuluhan tentang Diabetes Melitus yang disusun oleh Indah Budiana, S.Gz. di Poliklinik RSUD Genteng, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga mengenai penyakit ini, termasuk pengertian, klasifikasi, penyebab, tanda, gejala, dan penatalaksanaan diabetes. Kegiatan penyuluhan direncanakan berlangsung selama 30 menit dengan metode diskusi dan tanya jawab, serta melibatkan evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta.

Diunggah oleh

himayadata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan17 halaman

Sap DM

Dokumen ini adalah rencana penyuluhan tentang Diabetes Melitus yang disusun oleh Indah Budiana, S.Gz. di Poliklinik RSUD Genteng, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga mengenai penyakit ini, termasuk pengertian, klasifikasi, penyebab, tanda, gejala, dan penatalaksanaan diabetes. Kegiatan penyuluhan direncanakan berlangsung selama 30 menit dengan metode diskusi dan tanya jawab, serta melibatkan evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta.

Diunggah oleh

himayadata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DIABETES MILITUS
DI POLIKLINIK RSUD GENTENG

Pembuat : INDAH BUDIANA, [Link].


SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Diabetes Melitus


Tempat : POLIKLINIK
RSUD GENTENG
Sasaran : Penderita dan Keluarga penderita diabetes melitus
Hari, Tanggal : 12 Agustus 2023
Waktu : 30 Menit
Pemberi materi : Indah Budiana, [Link].

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang
menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional maupun
lokal. Salah satu jenis penyakit metabolik yang selalu mengalami peningkatan
penderita setiap tahun di negara-negara seluruh dunia. Diabetes merupakan
serangkaian gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup
insulin, sehingga menyebabkan kekurangan insulin baik absolut maupun relatif,
akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (Infodatin, 2014;
Sarwono, dkk, 2007).
Menurut WHO (2013) sebanyak 80% penderita DM di dunia berasal dari negara
berkembang salah satunya adalah Indonesia. Indonesia menempati peringkat ke-7 di
dunia sebesar 10,0 juta jiwa, dimana peringkat pertama diduduki oleh China dengan
jumlah penderita DM 109,6 juta jiwa (IDF, 2015). Menurut Laporan Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) prevalensi penderita DM pada tahun 2013 (2,1%) mengalami
peningkatan dibandingkan pada tahun 2007 (1,1%). Angka kejadian DM di Jawa
Tengah sebesar 1,6 % dan menempati urutan kelima dari seluruh provinsi yang ada di
Indonesia.
Diabetes mellitus dapat menjadi serius dan menyebabkan kondisi kronik yang
membahayakan apabila tidak diobati. Akibat dari hiperglikemia dapat terjadi
komplikasi metabolik akut seperti ketoasidosis diabetik (KAD) dan keadaan
hiperglikemi dalam jangka waktu yang lama berkontribusi terhadap komplikasi
neuropatik. Diabetes mellitus juga berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit
makrovaskular seperti MCI dan stroke (Smeltzer & Bare, 2013). Menurut WHO,
penderita diabetes beresiko mengalami kerusakan mikrovaskuler seperti retinopati,
nefropati dan neuropati. Hal ini akan memberikan efek terhadap kondisi psikologis
pasien.

Upaya pemerintah dalam menangani penyakit DM lebih memprioritaskan upaya


preventif dan promotif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif, serta dilaksanakan
secara integrasi dan menyeluruh antara pemerintah, masyarakat dan swasta. (Depkes,
2010). Pengelolaan penyakit DM dikenal dengan empat pilar utama yaitu penyuluhan
atau edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani atau aktivitas fisik dan intervensi
farmakologis. Keempat pilar pengelolaan tersebut dapat diterapkan pada semua jenis
tipe DM termasuk DM tipe II. Untuk mencapai fokus pengelolaan DM yang optimal
maka perlu adanya keteraturan terhadap keempat pilar utama tersebut (PERKENI,
2015).

B. Tujuan

1. Tujuan Intruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan dapat menambah


pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit diabetes melitus (DM).
2. Tujuan Intruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan klien dan keluarga mampu :

a. Mengerti dan memahami pengertian diabetes melitus

b. Mengetahui klasifikasi diabetes melitus

c. Mengerti dan memahami penyebab diabetes melitus

d. Memahami tanda dan gejala diabetes melitus

e. Mengetahui tentang komplikasi diabetes melitus

f. Mengetahui penatalaksanaan diabetes melitus

C. Pelaksanaan Kegiatan

a. Metode

 Diskusi
 Tanya jawab
b. Media dan alat

Leaflet
c. Materi

Terlampir
d. Waktu dan tempat

Hari/tanggal :

Waktu :

Tempat : Poliklinik RSUD GENTENG

e. Kegiatan penyuluhan

No Kegiatan Penyuluh Kegiatan Sasaran Waktu

Pendahuluan
a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri b. Menanggapi dan
memberi respon yang
c. Menjelaskan baik
1 2 menit
tujuan c. Menyimak
pembelajaran penjelasan yang
diberikan
d. Kontrak waktu d. Mengungkapkan
pengetahuan yang
dimiliki
Kegiatan Inti a. Mendengarkan dan
a. Menjelaskan dan menyimak materi yang
menyebutkan tentang diit diberikan
pada penderita DM yaitu
2. :
15 menit
1) Menjelaskan
pengertian diabetes
melitus
2) Menjelaskan
klasifikasi diabetes
melitus
3) Menjelaskan penyebab
diabetes melitus
4) Menjelaskan tanda dan
gejala diabetes melitus
5) Menjelaskan tentang
komplikasi diabetes
melitus
6) Menjelaskan
penatalaksanaan
diabetes melitus
b. Memberi kesempatan b. Bertanya
kepada klien dan
keluarga untuk
menanyakan hal- hal
yang belum jelas. c. Memperhatikan
c. Menjelaskan pertanyaan
yang diberikan oleh
keluarga
Penutup
a. Bertanya sebagai a. Menjawab dengan
bahan evaluasi benar
3. b. Menyimpulkan materi 5 menit
yang telah b. Mendengarkan
disampaikan dan menyimak
c. Mengucapkan salam
c. Menjawab salam

D. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Semua peserta hadir dalam kegiatan

b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan oleh mahasiswa

c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya

d. SAP sudah disiapkan 2 hari sebelum dimulai acara

e. Materi dan media yang akan digunakan sudah disiapkan 2 hari sebelum
dimulai acara
f. Kontrak waktu dengan sasaran sudah dilakukan

2. Evaluasi proses

a. Acara dimulai tepat waktu dan sasaran sesuai target.

b. Peserta antusias terhadap materi yang diberikan

c. Peserta tidak meninggalkan tempat penyuluhan


d. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar

3. Evaluasi hasil

a. Jumlah peserta yang datang 100% hadir dari target yang diharapkan

b. Setelah diberikan penyuluhan diharapkan 75% dari peserta mampu:

- Menyebutkan pengertian diabetes mellitus

- Menyebutkan penyebab diabetes melitus

- Menyebutkan tanda dan gejala diabetes melitus

- Menyebutkan penatalaksanaan diabetes melitus


E. Sumber Bahan
Terlampir
LAMPIRAN MATERI DIABETES MELLITUS

A. Pengertian

Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai


berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai
lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron
(Mansjoer dkk, 2007)
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetes
merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan karakterristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan
defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddart,
2002).

B. Klasifikasi Diabetes Melitus

Dokumen konsesus tahun 1997 oleh American Diabetes Association’s


Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus,
menjabarkan 4 kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009)
1. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes Melitus
tergantung insulin (DMTI)
Lima persen sampai sepuluh persen penderita diabetik adalah tipe I. Sel-sel beta
dari pankreas yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan oleh proses
autoimun. Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah.
Awitannya mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30 tahun.
2. Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/ Diabetes Mellitus
tak tergantung insulin (DMTTI)
Sembilan puluh persen sampai 95% penderita diabetik adalah tipe [Link] ini
diakibatkan oleh penurunan sensitivitas terhadap insulin (resisten insulin) atau
akibat penurunan jumlah pembentukan insulin. Pengobatan pertama adalah
dengan diit dan olah raga, jika kenaikan kadar glukosa darah menetap, suplemen
dengan preparat hipoglikemik (suntikan insulin dibutuhkan, jika preparat oral
tidak dapat mengontrol hiperglikemia). Terjadi paling sering pada mereka yang
berusia lebih dari 30 tahun dan pada mereka yang obesitas.
3. DM tipe lain

Karena kelainan genetik, penyakit pankreas (trauma pankreatik), obat, infeksi,


antibodi, sindroma penyakit lain, dan penyakit dengan karakteristik gangguan
endokrin.
4. Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM)

Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap
diabetes.

C. Etiologi / Penyebab Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus dapat disebabkan oleh banyak faktor Noer (1996)


menyebutkan bahwa ada 4 penyebab terjadinya Diabetes Mellitus, yaitu faktor
keturunan, fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang, kegemukan atau
obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin.
Faktor keturunan dapat menjadi penyebab yang mengambil peranan paling penting
dalam terjadinya Diabetes Mellitus karena pola familial yang kuat (keturunan)
mengakibatkan terjadinya kerusakan sel-sel beta pankreas yang memproduksi
insulin. Sehingga terjadi kelainan dalam sekresi insulin maupun kerja insulin
(Long, 1996). Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang dapat terjadi
karena insulin diperlukan untuk transport glukosa, asam amino, kalium dan fosfat
yang melintasi membran sel untuk metabolisme intraseluler. Jika terjadi
kekurangan insulin akibat kerusakan fungsi sel pankreas akan menyebabkan
gangguan dalam metabolisme karbohidrat, asam amino, kalium dan fosfat (Long,
1996).
Kegemukan atau obesitas dapat sebagai pencetus terjadinya DM karena
insiden DM menurun pada populasi dengan suplai yang rendah dan meningkat pada
mereka yang mengalami perubahan makanaan secara berlebihan. Obesitas
merupakan faktor resiko tinggi DM karena jumlah reseptor insulin menurun pada
obesitas mengakibatkan intoleransi glukosa dan hiperglikemia (Price dan Wilson,
1995).
Perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin dapat
mendukung terjadinya DM karena toleransi glukosa secara berangsurangsur akan
menurun bersamaan dengan berjalannya usia seseorang mengakibatkan kadar
glukosa darah yang lebih tinggi dan lebih lamanya keadaan hiperglikemi pada usia
lanjut. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya pelepasan insulin dari sel–sel beta,
lambatnya pelepasan insulin dan penurunan sensitifitas perifer terhadap insulin
(Long, 1996).
Etiologi pada DM telah dijabarkan oleh para ahli, yaitu berkaitan dengan
fungsi organ dan berbagai faktor resiko yang mendahului. Mansjoer (1996 : 588)
menyatakan bahwa Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM), atau DM yang
tergantung pada insulin (tipe I) disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans
akibat proses autoimmune. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus
(NIDDM) atau tipe II disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin.
Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang
pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi
glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini
sepenuhnya (terjadi defisiensi relatif insulin).
Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya DM, diantaranya :
1. Faktor genetik (herediter) Resiko terkena DM meningkat apabila ada anggota
yang terkena atau menderita DM, yaitu kesesuaian pada kembar monozigote
dan autosomonal dominan. Insulin Dependen Diabetes Melitus : <50 % dan Non
Insulin Dependent Diabetes Melitus : 90–100% (Long, 1996).
2. Faktor ras dan etnik tertentu NIDDM biasanya dialami oleh non kulit putih,
pada masyarakat Amerika angka kejadian NIDDM adalah 1:3, sedangkan pada
populasi umum adalah 1:200 (Long, 1996)
3. Faktor autoimmune Sel – sel beta pankreas dihancurkan oleh proses
autoimmune.
4. Proses radang atau infeksi Pada kasus pankreatitis akan terjadi hambatan
sekresi insulin
5. Faktor obesitas, Jumlah reseptor insulin menurun pada orang yang kegemukan
(Long, 1996).

6. Pada keadaan tertentu Misalnya pada wanita dalam masa kehamilan atau
karena efek dari obat– obatan tertentu (Long, 1996).

D. Patofisiologi

Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu


memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Insulin
adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas. Bila insulin
tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap
berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat.
Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan
predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu
oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin
itu sendiri.
Pada diabetes melitus tipe 2 yang sering terjadi pada lansia, jumlah insulin
normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang
kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah
menjadi meningkat

E. Tanda dan gejala


Menurut Newsroom (2009) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Melitus
apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu:
a. Keluhan TRIAS: Kencing yang berlebihan ( Poliuri ), Rasa haus yang berlebihan
( Polidipsi ), Rasa lapar berlebihan ( Polifagia ) dan Penurunan berat badan.
b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl.

c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl.

Gejala diabetes mellitus type 1 muncul secara tiba–tiba pada usia anak–anak
sebagai akibat dari kelainan genetika sehingga tubuh tidak memproduksi insulin
dengan baik. Gejala–gejalanya antara lain adalah sering buang air kecil, terus
menerus lapar dan haus, berat badan turun, kelelahan, penglihatan kabur, infeksi
pada kulit yang berulang, meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni,
cenderung terjadi pada mereka yang berusia dibawah 20 tahun.
Sedangkan diabetes mellitus tipe II muncul secara perlahan–lahan sampai
menjadi gangguan kulit yang jelas, dan pada tahap permulaannya seperti gejala
pada diabetes mellitus type I, yaitu cepat lemah, kehilangan tenaga, dan merasa
tidak fit, sering buang air kecil, terus menerus lapar dan haus, kelelahan yang
berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya, mudah sakit yang berkepanjangan,
biasanya terjadi pada mereka yang berusia diatas 40 tahun tetapi prevalensinya
kini semakin tinggi pada golongan anak–anak dan remaja.
Gejala–gejala tersebut sering terabaikan karena dianggap sebagai keletihan
akibat kerja. Jika glukosa darah sudah tumpah ke saluran urine sehingga bila
urine tersebut tidak disiram akan dikerubungi oleh semut adalah tanda adanya
gula. Gejala lain yang biasa muncul adalah penglihatan kabur, luka yang lama
sembuh, kaki terasa keras, infeksi jamur pada saluran reproduksi wanita,
impotensi pada pria.

F. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang dilakukan sebagai penunjang diagnostik medis antara lain:

1. Pemeriksaan gula darah


Orang dengan metabolisme yang normal mampu mempertahankan kadar gula
darah antara 70-110 mg/dl (engliglikemi) dalam kondisi asupan makanan yang
berbeda-beda. Test dilakukan sebelum dan sesudah makan serta pada waktu tidur.
a) Gula darah puasa : glukosa lebih dari 120 mg/dl pada 2x tes

b) Gula darah 2 jam pp : 200 mg / dl

c) Gula darah sewaktu : lebih dari 200 mg / dl

2. Tes Toleransi Glukosa

Nilai darah diagnostik : kurang dari 140 mg/dl dan hasil 2 jam serta satu nilai
lain lebih dari 200 mg/ dlsetelah beban glukosa 75 gr

3. HbA1C

> 8% mengindikasikan DM yang tidak terkontrol

4. Pemeriksaan dengan Hb

Dilakukan untuk pengontrolan DM jangka lama yang merupakan Hb minor


sebagai hasil dari glikolisis normal.
5. Pemeriksaan Urine

Pemeriksaan urine dikombinasikan dengan pemeriksaan glukosa darah untuk


memantau kadar glukosa darah pada periode waktu diantara pemeriksaan darah.

G. Penatalaksanaan

Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktifitas insulin


dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadi komplikasi vaskuler serta
[Link] terapetik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa
darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktifitas
pasien. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan DM yaitu diet, latihan,
pemantauan, terapi dan pendidikan kesehatan.
1. Penatalaksanaan diet
Prinsip umum :diet dan pengndalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan DM.
Tujuan penatalaksanaan nutrisi :

a. Memberikan semua unsur makanan esensial missal vitamin, mineral

b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai

c. Memenuhi kebutuhan energi

d. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap haridengan mengupayakan


kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara- cara yang aman dan
praktis.
e. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat

2. Latihan fisik

Latihan penting dalam penatalaksanaan DM karena dapat menurunkan kadar


glikosa darah dan mengurangi factor resiko kardiovaskuler. Latihan akan
menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa
oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot
juga diperbaiki dengan olahraga.
3. Pemantauan

Pemantauan glukosa dan keton secara mandiri untuk deteksi dan pencegahan
hipoglikemi serta hiperglikemia.
4. Terapi

a. Insulin

Dosis yang diperlukan ditentukan oleh kadar glukosa darah

b. Obat oral anti diabetik

o Sulfonaria

 Asetoheksamid ( 250 mg, 500 mg )

 Clorpopamid(100 mg, 250 mg )


 Glipizid ( 5 mg, 10 mg )

 Glyburid ( 1,25 mg ; 2,5 mg ; 5 mg )

 Totazamid ( 100 mg ; 250 mg; 500 mg )

 Tolbutamid (250 mg, 500 mg )


 Biguanid Metformin 500 mg
5. Pendidikan kesehatan

Informasi yang harus diajarkan pada pasien antara lain :

a. Patofisiologi DM sederhana, cara terapi termasuk efek samping obat,


pengenalan dan pencegahan hipoglikemi / hiperglikemi
b. Tindakan preventif(perawatan kaki, perawatan mata , hygiene umum )

c. Meningkatkan kepatuhan program diet dan obat (Smeltzer and Bare,1996


Price and Wilson, 1992 )

H. Komplikasi

Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan


komplikasi kronik (Carpenito, 2001).
1. Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting dan
berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek,
ketiga komplikasi tersebut adalah (Smeltzer, 2002 : 1258)
a) Diabetik Ketoasedosis (DKA)

Ketoasedosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu
perjalanan penyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh
tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata
( Smeltzer, 2002 : 1258 )
b) Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN)

Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh


hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran.
Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya
ketosis dan asidosis pada KHHN (Smetzer, 2002 : 1262)
c) Hypoglikemia

Hypoglikemia (Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi kalau
kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. Keadaan ini
dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang
berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit (Smeltzer, 2002 : 1256)
2. Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua
pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati
Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu (Long 1996) :
a. Mikrovaskuler

1) Penyakit Ginjal

Salah satu akibat utama dari perubahan–perubahan mikrovaskuler adalah


perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa darah
meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang
menyebabkan kebocoran protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002 : 1272)
2) Penyakit Mata (Katarak)

Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai


kebutaan. Keluhan penglihatan kabur tidak selalui disebabkan retinopati
(Sjaifoellah, 1996 : 588). Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang
berkepanjangan yang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan
lensa (Long, 1996 : !6)
3) Neuropati

Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom,


Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan
perubahan–perubahan metabolik lain dalam sintesa atau fungsi myelin
yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan
kondisi saraf (Long, 1996 : 17)
b. Makrovaskuler

1) Penyakit Jantung Koroner

Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi
penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh
sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang
menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri
(arteriosclerosis), dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau
stroke
2) Pembuluh darah kaki

Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf – saraf sensorik, keadaan ini
berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi
yang menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celah–celah kulit yang
mengalami hipertropi, pada sel–sel kuku yang tertanam pada bagian kaki,
bagia kulit kaki yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah–
daerah yang tekena trauma (Long, 1996 : 17)
3) Pembuluh darah otak

Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai


darah ke otak menurun (Long, 1996 : 17).
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2002). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC.


Jakarta.

Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care


plans. Guidelines for planing and documenting patient care. Alih
bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.

Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter


Anugrah EGC. Jakarta.

Carpenito, L.J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Sjaifoellah, N. (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Smeltzer, S. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Long, B.C. (1996). Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan. Alih Bahasa, Yayasan Ikatan Alumni pendidikan
Keperawatan Padjadjaran. Bandung: YPKAI.

Anda mungkin juga menyukai