The Jeblogs
Bersandarlah Hidup memang begitu Itu jadi batasnya
Babak belur kau indah Melingkari api yang
dihajar kenyataan Hanya itu yang kita berkobar
Darah segar menetes punya Terangi jalanmu yang
dari bibirmu Adakalanya menepi masih panjang
Dan waktu berlalu Menanti datangnya Hingga tiba
begitu cepat pagi Saat dimana kau
Mengalir di tanganmu Bersandarlah di terjaga
tak tergenggam pundakku bila kau Dari semua yang
Tak terkejar, tak lelah melelapkan
terhentikan Menangislah di Dan kau menang
Adakalanya menepi pelukku kalau kau Hingga tiba
Menanti datangnya mau Saat dimana kau
pagi Hidup memang begitu terjaga
Bersandarlah di indah Dari semua yang
pundakku bila kau Hanya itu yang kita melelapkan
lelah punya Cahaya terang yang
Menangislah di menuntun
pelukku kalau kau Atas nama Langkah kaki-kakimu
mau Atas nama masa menuju pulang
Hidup memang begitu muda Dan kau menang
indah Yang singkat namun Akan kucari walau
Hanya itu yang kita selamanya kemana
punya Menangis, tertawa Arah angin bertiup
Jungkir balik kau sepuasnya membawanya
dihantam kesepian Bagai peluru tanpa Akan kucari walau
Anjing hitam tuan kemana
menggelayuti kakimu Lompati pagar berduri Hati berkata, kaki
Dan waktu berlalu Jatuh dan bangun melangkah
begitu cepat berkali-kali Ku berlari senang
Mengalir di tanganmu Iye-e-e-e-e-eh Ku berlari pedang
tak tergenggam Hingga tiba Ku berlari perang
Tak terkejar, tak Saat dimana kau Ku berlari menang
terhentikan terjaga Ku berlari terang
Adakalanya menepi Dari semua yang Ku berlari tenang
Menanti datangnya melelapkan Ku berlari menang
pagi Dan kau menang
Bersandarlah di Atas nama masa
pundakku bila kau muda
lelah Yang singkat namun
Menangislah di selamanya
pelukku kalau kau Jadikan langit biru
mau Samudera lepas
Cakrawala jauh
The Jeblogs
Ode Para Sisifus Waktu-waktu Diam, sepakat
Siapa bilang aku bergerak meniadakan
kalah (Kita yang chorus
Kalah oleh kehidupan memberinya makna) Kilasan-kilasan
Merangkulnya meski Jika kesia-siaan Kilometer sembilan
tak sempurna adalah keniscayaan Selalu datang, terus
Aku memeluknya Bagaimana Sisifus menggonggong
meski akhirnya lepas bahagia? Terus merongrong
juga Seperti rokok terbakar
Benda-benda diam Track 8 (feat. Trigga Di sela-sela jari
(Kita yang Coca) Kau dan aku berjalan
memberinya nama) verse mundur
Waktu-waktu Menengadah ke Menuju akhir
bergerak tempat kau tinggal hook
(Kita yang Ditumbuhi rambut Aku, aku, aku
memberinya makna) awan sirus Aku, aku, aku
Jika kesia-siaan Gemuruh merah di Aku
adalah keniscayaan kepala Aku intip lebih dini ibu
Bagaimana Sisifus Melamun, dipeluk dari kitab-kitab
bahagia? bayang-bayang Untuk coba mencuri
Tak ada yang memiliki Ingin ku berkitar apa yang masih
Tak ada yang bersamamu belum tersingkap
kehilangan Terbang bebas di atas Berat, menekan
Matahari pun tak sana hingga berbusa,
benar-benar terbit Menanam padi di berantakan di
Lalu entah langit luas beranda
bagaimana kita Namun, sempitnya Mendesak dan
menamainya pikiran memenjara membentang, banyak
tenggelam Sesak dada, hitam rupanya, banyak
Benda-benda diam udara biasnya
(Kita yang Persis seperti baju Menengadah ke
memberinya nama) Batmanmu tempat kau tinggal
Waktu-waktu Nanar mata melihat Ditumbuhi rambut
bergerak belakang awan sirus
(Kita yang Apa yang harus aku Memecah kode di
memberinya makna) lakukan? atas papirus
Jika kesia-siaan Kita keliru seperti Masih, kukerap salah
adalah keniscayaan Rabu sangka
Bagaimana Sisifus Hari terakhir kau dan Hanya kira lelah,
bahagia? aku bahagianya Sisyphus
Benda-benda diam Duduk di antara kursi Harapan yang
(Kita yang kosong hangus, yang kadang
memberinya nama) terhapus
The Jeblogs
Virus atau vaksin, Yang jadi hantu dan Nikmati lembut
obat atau toxin jadi momok untuk hari hembusnya
Hampir tak kupercaya ini Selami tangis dan
cahaya di ujung hook tawa
terowongan Untuk hari ini, untuk Menarilah bahagia
Tak yakinkah ujung hari ini bridge
jalan atau kereta lain Untuk hari ini, untuk Yang t′lah pergi akan
yang datang? hari ini s'lalu terkenang
Dan kamu, kamu, verse Dan sambutlah yang
kamu, kamu, kamu Tak kusayat leherku akan datang
Bantah aku yang tak untuk hari ini Yang t′lah pergi akan
mampu mengukur Tak kuikat nafasku s'lalu terkenang
dengan tepat untuk hari ini Dan sambutlah yang
Kapan cepat dan Tak kulubangi dadaku akan datang
kapan lambat untuk hari ini chorus
Kapan prasangka dan Tak kuhamtam aspal Rasakan getar
kapan khurafat untuk hari ini sinarnya
Keragu-raguan jadi Tak kutenggak racun Nikmati lembut
ayat-ayat yang dirapal untuk hari ini hembusnya
sepanjang hayat Tak Selami tangis dan
Hingga tenang pun kutenggelamkanku tawa
tak sempat untuk hari ini Menarilah bahagia
Berjuta-juta sajak Aku rawat gelisahku
masih tak mampu usir untuk hari ini Sebat dulu
resah Aku rasa khawatirku Hehe
Berpura-pura anjak untuk hari ini Sebat dululah
hanya hasilkan Tangis menangisku Drama apa lagi yang
alkisah untuk hari ini kau suguhkan kali ini
Berbunga-bunga aku Tawa tertawaku untuk Lebih kocak dari Aldi
tebar hari ini Lebih payah dari seni
Di atas kubur Untuk aku, untuk Farid Stevy
mimpi-mimpi yang kamu, untuk hari ini Belum puaskah
masih basah chorus paduka
Khawatir datang lebih Sampai kapan kau mempermalukan diri
dini diam di kepala? sendiri?
Selalu begitu bila Sedang dunia begitu Hmm sepertinya
kepala dan hati luasnya memang belum
terpisah Jangan mati Jadi silakan
Oleh tebasan pedang membusuk di sana dilanjutkan
gelisah Biarkan kakimu sepuasnya
Oleh kaburnya jurang mengembara Sudah aku putuskan
pemisah Rasakan getar Sudah aku putuskan
Hari yang lalu dan sinarnya Tak akan terbuai janji
yang esok manismu
The Jeblogs
Sekalipun kau Atas nama masa Sekian, Terima Kasih
merayu muda Dan bintang tak lagi
Menggodaku Yang singkat namun jatuh
Kau janjikan suka tapi selamanya Harapan-harapan
yang datang malah Jadikan langit biru runtuh
duka Samudera lepas Napasku sisa
Kau janjikan mata air Cakrawala jauh separuh
tapi yang keluar Itu jadi batasnya Tenggak racunmu
malah air mata Melingkari api yang sendiri
Apa paduka tidak berkobar Cinta boleh saja mati
lelah beromong Terangi jalanmu yang Tapi Rangga punya
kosong? masih panjang jalan sendiri
Hmm sepertinya Hingga tiba Sepasang purnama
memang tidak Saat dimana kau sirna
Jadi silakan terjaga Enggan disumpah
dilanjutkan Dari semua yang bersama
sepuasnya melelapkan Selaras namun tak
Sudah aku putuskan Dan kau menang sempurna
Sudah aku putuskan Hingga tiba Kupilih sepi di sini
Tak akan terbuai janji Saat dimana kau Tenggak racunku
manismu terjaga sendiri
Sekalipun kau Dari semua yang Memudar dalam
merayu Menggodaku melelapkan remang sunyi
Cahaya terang yang Lepaskanlah
Atas nama menuntun lepaskanlah
Atas nama masa Langkah kaki-kakimu Cahaya menembus
muda menuju pulang hati yang retak
Yang singkat namun Dan kau menang Semua perlahan
selamanya Akan kucari walau terang benderang
Menangis, tertawa kemana Berjanji tak akan mati
sepuasnya Arah angin bertiup Langkah takkan henti
Bagai peluru tanpa membawanya di sini dan
tuan Akan kucari walau Kereta terakhirku
Lompati pagar berduri kemana telah datang
Jatuh dan bangun Hati berkata, kaki Lepaskan segala
berkali-kali melangkah sedu sedanmu
Iye-e-e-e-e-eh Ku berlari senang Sekian terima kasih
Hingga tiba Ku berlari pedang Sampai jumpa di lain
Saat dimana kau Ku berlari perang hari oh-ho
terjaga Ku berlari menang Akulah angin utara
Dari semua yang Ku berlari terang Nikmati saja
melelapkan Ku berlari tenang embusnya
Dan kau menang Ku berlari menang Upaya menggenggam
hanya percuma
The Jeblogs
Aku cukup jadi senja Bonjour Dan aku (hu-uh-uh,
Indah meski Aku, engkau uh-uh)
sementara Berjumpa di fajar Oh-oh, oh-oh-oh dan
Memudar seperti kemarau
seharusnya Sekian lama kau Lautan api
Lepaskanlah masih Apa salah kami
lepaskanlah Remang menyala Kau wariskan tanah
Cahaya menembus Enggan sirna dan mati
hati yang retak Kau lihat tanganmu Gelombang panas ini
Semua perlahan Seolah kau baru Mengubah surga
terang benderang Terlahir kembali menjadi
Berjanji tak akan mati Menjadi layaknya Lautan api
Langkah takkan henti manusia dan Hangus terbakar
di sini dan Aku, engkau Lautan api
Kereta terakhirku Dengarlah nyanyian Sukses tai kucing
telah datang angin Bahagia tai anjing
Lepaskan segala Lampu kota yang Tak ada arti lagi
sedu sedanmu remang Jika semua menjadi
Sekian terima kasih Sinarnya terangi Lautan api
Sampai jumpa di lain kesepian dan Hangus terbakar
hari oh-ho Kau kecup mataku Lautan api
Lepaskanlah Seolah kau baru Lautan api
lepaskanlah Terlahir kembali Hangus terbakar
Cahaya menembus Menjadi seorang Lautan api
hati yang retak pecinta dan Tumbang pohon
Semua perlahan Aku, engkau terakhir
terang benderang Berjumpa di fajar Berhenti sungai
Berjanji tak akan mati kemarau mengalir
Langkah takkan henti Sekian lama kau Baru kau sadar
di sini dan makin berpikir
Kereta terakhirku Terang menyala Surga yang indah
telah datang Takkan sirna dan berubah menjadi
Lepaskan segala Kau lihat tanganmu Lautan api
sedu sedanmu Seolah kau baru Hangus terbakar
Sekian terima kasih Terlahir kembali Lautan api
Sampai jumpa di lain Menjadi layaknya Lautan api
hari oh-ho manusia dan Hangus terbakar
Kau kecup mataku Lautan api
Seolah kau baru
Terlahir kembali
Menjadi seorang
pecinta dan
Kau takkkan berubah
(hu-uh-uh)
The Jeblogs
Sambutlah Membelah gelap Pulang
Sambutlah matahari Hangat merambat Tlah lama tak
Yang terbit di ufuk Membangunkan lelap berjumpa
timur Sampaikan salam Dan inilah saatnya
Membelah gelap kami Aku pulang
Hangat merambat Kepada bulan dan Membawa terang
Membangunkan lelap bintang Bernyanyi lantang
Sampaikan salam Oh tenang saja Dan
kami Generasi baru telah bersenang-senang
Kepada bulan dan tiba Dan tetaplah tenang
bintang Uuuu Ku pasti datang
Oh tenang saja Mungkin kita sampai Membawa terang
Generasi baru telah Mungkin saja tidak Aku pulang
tiba Tugas kita hanyalah Saatnya telah tiba
Uuuu berjalan Kita akan berjumpa
Malam yang Sambutlah matahari Aku pulang
memuakkan harus Yang terbit di ufuk Membawa terang
diakhiri timur Bernyanyi lantang
Gelapnya Membelah gelap Dan
membungkam suara Hangat merambat bersenang-senang
Jiwa baru yang putih Membangunkan lelap Dan tetaplah tenang
serupa lilin Sampaikan salam Ku pasti datang
Bakarlah kedua kami Membawa terang
sisinya Kepada bulan dan Aku pulang
Uuuu bintang Aku pulang
Benih-benih Oh tenang saja Membawa terang
bertumbuh di sela Generasi baru telah Bernyanyi lantang
puing Sambutlah matahari Dan
Harapan mencari Yang terbit di ufuk bersenang-senang
jalannya timur Dan tetaplah tenang
Orang-orang muda Membelah gelap Ku pasti datang
berkobar menjelma Hangat merambat Membawa terang
cahaya Membangunkan lelap Aku pulang
Lajunya tak Sampaikan salam
terbendung, jadi kami
bersiaplah, maka Kepada bulan dan
rayakanlah bintang
Tabuh genderangnya Oh tenang saja
Tiup terompetnya Generasi baru telah
Nyalakan api di tiba
dadanya
Sambutlah matahari
Yang terbit di ufuk
timur