0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

2.7. RKK

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) untuk proyek penanganan longsoran di Kota Subulussalam, yang disusun oleh PT. Garot Jaya Utama. RKK mencakup kepemimpinan, perencanaan, dukungan, operasi, dan evaluasi keselamatan konstruksi dengan fokus pada komitmen terhadap keselamatan kerja. Proyek ini direncanakan berlangsung selama 240 hari kalender pada tahun anggaran 2026.

Diunggah oleh

heriadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

2.7. RKK

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) untuk proyek penanganan longsoran di Kota Subulussalam, yang disusun oleh PT. Garot Jaya Utama. RKK mencakup kepemimpinan, perencanaan, dukungan, operasi, dan evaluasi keselamatan konstruksi dengan fokus pada komitmen terhadap keselamatan kerja. Proyek ini direncanakan berlangsung selama 240 hari kalender pada tahun anggaran 2026.

Diunggah oleh

heriadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KESELAMATAN

KONSTRUKSI
( RKK )

PEKERJAAN :
PENANGANAN LONGSORAN BAKONGAN - KOTA
SUBULUSSALAM

Pemberi Tugas : PPK 2.5 Provinsi Aceh

Lokasi Pekerjaan : Bts. Aceh


Selatan/Subulussalam -
Krueng Luas (Km 560)
Tahun Angaran : 2026

Waktu Pelaksanaan : 240 Hari Kalender

DISUSUN OLEH :
BENTUK RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI

RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI


(RKK)

USULAN PENAWARAN PENANGANAN LONGSORAN BAKONGAN -


KOTA SUBULUSSALAM

DAFTAR ISI

A. Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi


A.1. Kepedulian pimpinan terhadap Isu eksternal dan internal
A.2. Komitmen Keselamatan Konstruksi

B. Perencanaan keselamatan konstruksi


B.1. Identifikasi bahaya, Penilaian risiko, Pengendalian dan Peluang.
B.2. Rencana tindakan (sasaran & program)
B.3. Standar dan peraturan perundangan

C. Dukungan Keselamatan Konstruksi


C.1. Sumber Daya
C.2. Kompetensi
C.3. Kepedulian
C.4. Komunikasi
C.5. Informasi Terdokumentasi

D. Operasi Keselamatan Konstruksi


D.1. Perencanaan dan Pengendalian Operasi
D.2. Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat

E. Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi


E.1. Pemantauan dan evaluasi
E.2. Tinjauan manajemen
E.3. Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi
A. Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi
Kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleks dimana seorang mempengaruhi orang‐orang lain untuk mencapai
suatu misi, tugas, atau suatu sasaran, dan mengarahkan organisasi yang membuatnya lebih kohesif dan lebih masuk akal.
Artinya pemimpin membuat orang memiliki kemauan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi, sedangkan
seorang kepala menyuruh orang untuk mencapai suatu tugas atau sasaran (Wirjana‐2006). Kepemimpinan itu adalah
aktivitas untuk mempengaruhi orang‐orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi, Thoha (2007).
Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Artinya bahwa semakin tinggi atau baik pemimpin,
maka akan semakin tinggi pula kinerja karyawan. Kepemimpinan dimulai dari pemberian peri ntah atau teguran yang
tepat dan efektif, merupakan salah satu kunci kesuksesan memimpin sebuah organisasi. Partisipasi pekerja dalam
keselamatan konstruksi sangat dipengaruhi oleh seorang pemimpin suatu pekerjaan, yang mana dalam hal ini penerapan
aturan‐aturan terhadap keselamatan kerja pada para pekerja, dengan memberi contoh dan teguran.

Ada Hal‐hal yang Penting yang harus dilakukan untuk kepemimpinan dalam K3 (Safety Ledership) :
1. Pemimpin harus menunjukkan komitmen dan fokus pada keselamatan. Komitmen dan focus dalam K3 bisa
ditunjukan diantara dengan, membuat, memahami, menerapkan kebi jakan K3 dalam organisasi atau perusahaan.
Selalu mengkampanyekan pentingnya K3 , dan akibat apabila karyawan tidak mematuhi hal-hal terkait K3.

2. Pemimpin harus menetapkan contoh keselamatan. Banyak teori atau nasehat kepada anak buah tidak akan membuat
mereka mau menjalankan apa yang kit a inginkan, tauladan atau contoh lah yang akan memberikan dampak yang
besar bagi implementasi K3 di dalam organisasi atau perusahaan.

3. Pemimpin harus menciptakan harapan keselamatan yang tinggi. Seberapapun kondisi di organisasi, pemimpin harus
tetap mendukung hal terkait dengan keselamatan kerja, pemimpin harus selalu memberikan harapan bagi karyawan,
bahwa dengan menerapkan keselamatn kerja maka itu adalah hal yang benar seberapa sulit hal itu untuk dilakukan,
pemimpin harus tetap memberikan supportnya.

4. Nilai tinggi dan standar kinerja yang mendetil harus digunakan. Dalam keselamatan Kerja segala hal harus bisa
ditetapkan dengan detil dan jelas, apalagi yang terkait dengan angka/ ukuran, hal ini tentu saja demi menjaga
standard Kesehatan dan keselamatan kerja. Pemimpi n harus memastikan bahwa segala terkait aturan/ ukuran sudah
dibuat dengan detil dengan standard yang tinggi.
5. Pemimpin harus mendengarkan dan melibatkan tenaga kerja. Pemimpin harus selalu melibatkan tenaga kerja,
Komunikasi dan partisipasi tenaga kerja harus selalu dijaga, karena mereka yang akan menjadi pelaku utama dalam
implementasi K3, jadi ide masukan dari mereka sangat diperlukan.

6. Pemimpin harus melakukan apa yang mereka katakan. Pemimpin akan melakukan apa yang mereka katakan, apalagi
terkait dengan K3, apabila dia meminta anak buah untuk selalu memakai APD, maka dia pun akan melakukan hal
yang sama dengan demikian tenaga kerja juga akan menghormatinya.

7. Pemimpin harus menghargai tujuan keselamatan. Tujuan dan sasaran K3 dibuat sebagai guide dalam
mengimplementasikan K3 dengan baik, seorang pemimpin harus menghargai dan terus menerus berusaha untuk
dapat mencapai tujuan dari K3 yang dibangun.

8. Karyawan harus dibuat merasa mereka adalah bagian dari sesuatu yang penting dalam implementasi K3
Implementasi SMK3 tidak akan berhasil tanpa keterlibatan semua pihak, untuk lebih meningkatkan keterlibatan itu
maka pemimpin harus bisa membuat karyawan adalah bagian penting dari implementasi K3 ini .

9. Pemimpin harus memperkuat, memberi penghargaan dan merayakan kesuksesan. Pemimpin dalam K3 tentu saja
harus bisa memperkuat, implementasi k3, sekaligus bisa memberi pengha rgaan bagi tenaga kerja yang menjalankan
K3 dengan sungguh sungguh. tanggung jawab terhadap K3, bukan Cuma pada pelaksana atau tenaga kerja termasuk
pemimpinnya, par a pemimpin harus bisa memahami dan menjalankan K3 dengan baik dan benar.
A.1. Kepedulian pimpinan terhadap Isu eksternal dan internal
Manager Proyek
- Menyetujui konsep Instruksi Safety yang akan dilaksanakan diproyek;
- Memimipin penerapan program K3 di proyek yang menjadi tanggung jawabnya;
- Memimpin rapat tinjauan manajemen atau rapat koordinasi tentang pelaksanaan program K3;
- Memimpin upaya peningkatan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan program K3.

Penanggung Jawab Quality Assurance


Menyusun konsep Instruksi tentang Safety yang sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan dan membahasnya
-
bersama bagian-bagian yang terkait;
- Merekomendasikan Konsep yang telah dibahas kepada Manajer proyek;
- Memeriksa, memonitor, mengevaluasi pelaksanaan K3 ditingkat proyek;
- Melaporkan penerapan dan pelaksanaan K3 ditingkat proyek kepada Manajer
- Membuat resume tentang pelaksanaan K3.

Pelaksana
- Bertanggung jawab akan keselamatan karyawan yang berada dibawah pengawasannya;
- Terjadi keadaan yang kurang aman, tidak aman atau darurat;
- Keselamatan kerja adalah tanggung jawab moril baik karyawan maupun pimpinan perusahaan;
Penanggung jawab dalam pelaksanaan K3 di proyek adalah Kasie QA (Quality Assurance), dengan
-
memastikan melakukan inspeksi secara berkala;

Direktur PT. GAROT JAYA UTAMA memberikan bukti perlibatannya pada pengembangan dan penerapan sistem
-
manajemen mutu dan K3 dan terus menerus memperbaiki keefektifannya dengan jalan :

Mengadakan rapat pengarahan secara berkala, dan menekankan pentingnya memenuhi persyaratan
-
pelanggan, K3, undang-undang dan peraturan yang berlaku.
- Menetapkan dan mengesahkan kebijakan mutu dan K3;
Menetapkan dan mengesahkan sasaran mutu dan K3 (MK3) perusahaan hingga sasaran mutu dan K3 unit-unit
-
kerja yang mendukungnya.
Melaksanakan dan bertindak sebagai ketua rapat tinjauan manajemen, yang pelaksanaannya diatur dalam Prosedur
-
Rapat Tinjauan Manajemen (RTM).

Fungsi manajemen puncak untuk memastikan bahwa SMK3 telah berjalan dengan kebijakan dan strategi serta
untuk mengetahui kendala yang dapat mempengaruhi pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kuat
antara dukungan manajemen puncak & berkurangnya pekerja yang cidera. Bentuk dukungan : kehadiran dalam
pertemuan-pertemuan tentang urgensi keselamatan kerja, mengagendakan rapat dengan dewan direksi tentang
pentingnya K3. Seperti yang dijelaskan pada OHSAS 18001 (Occupancy Healthy and Safety Assurance System)
pertama kali dikeluarkan pada tahun 1999 dan diperbarui pada tahun 2007. Standar penerapan SMK3 dari OHSAS
18001 ini berdasarkan metodologi Plan-Do-Check-Action(PDCA), atau perencanaan-latihan-tindakan-monitor-
peningkatan- review, dapat diartikan sebagai berikut:

a. Plan : Membentuk tujuan dan proses yang mengacu pada hasil yang berhubungan dengan kebijakan K3
perusahaan.
b. Do : Melaksanakan dan mengimplementasikan proses.
c. Check : Memonitor dan mengukur pencapaian proses terhadap kebijakan dan tujuan K3 perusahaan serta
peraturan pemerintah yang menyangkut tentang K3.
d. Action : Mengambil tindakan untuk peningkatan berkelanjutan terhadap kinerja K3.
A.2. Komitmen Keselamatan Konstruksi
Pemenuhan terhadap peraturan dan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) menjadi prioritas bagi
perusahaan kami untuk melindungi segenap karyawan, aset, data, properti perusahaan serta lingkungan.

- Mengutamakan keselamatan kerja dengan menyediakan perlengkapan RK3 dan BPJS ketenagakerjan.
- Menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi karyawan/ pekerja, subkontraktor dan pengunjung.

- Mengeliminir pekerjaan yang bisa berakibat kecelakaan kerja. Untuk mencapai hal tersebut kita inginkan.
- Membangun dan menjaga Kesehatan Kerja dan Sistem Manajemen Keselamatan sesuai dengan Peraturan
Perundangan yang berlaku.
- Memberikan induksi dan pelatihan bagi karyawan dan pekerja.
- Menetapkan dan memantau tujuan keselamatan di lokasi dan melaksanakan tindakan korektif untuk meningkatkan
kinerja.
- Mematuhi Keselamatan dan Kesehatan Perundang‐undangan yang relevan, Standar dan Kode Praktek.
- Memacu perilaku karyawan dan pekerja bahwa mereka bertanggung jawab untuk kesehatan dan keselamatan
mereka sendiri.
- Mempromosikan kebugaran untuk bekerja.
- Menyediakan program efektif untuk rehabilitasi yang terluka Upaya-upaya keselamatan kerja yang dilaksanakan
pada suatu lingkungan kerja merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan beserta seluruh karyawan.
Karyawan pada konteks ini tidak hanya terbatas pada personil dari perusahaan yang bersangkutan namun juga
personil dari luar perusahaan seperti halnya tamu, karyawan kontraktor, pekerja/ tukang atau pun pemasok.
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, PENETAPAN PENGENDALIAN RISIKO K3

NAMA PERUSAHAAN : PT. GAROT JAYA UTAMA


PEKERJAAN : Penanganan Longsoran Bakongan - Kota Subulussalam
LOKASI : Bts. Aceh Selatan/Subulussalam - Krueng Luas (Km 560)
TANGGAL DIBUAT : 24 Oktober 2025

B. PERENCANAAN KESELAMATAN KONSTRUKSI


B.1. INDIKASI BAHAYA, PENILAIAN RESIKO, PENGENDALIAN DAN PELUANG

DESKRIPSI RESIKO PENILAIAN TINGKAT RESIKO PENILAIAN SISA RESIKO

Resiko PENGENDALIAN RESIKO AWAL


PENGENDALIAN
NO [Link] Perundangan atau Persyaratan [Link] 2. Subtitusi 3. Rekayasa Teknik 4. KETERANGAN
NILAI TINGKAT NILAI TINGKAT AWAL
IDENTIFIKASI BAHAYA 2. Peralatan KEMUNG KEPARAH Administrasi 5. APD KEMUNG KEPARAH
URAIAN PEKERJAAN RESIKO RESIKO RESIKO RESIKO
[Link] 2. Peralatan 3. Material 4. Lingkungan/Publik 3. Material KINAN (F) AN (A)
(FxA) (TR)
KINAN (F) AN (A)
(FxA) (TR)
4. Lingkungan/
Publik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
DIVISI 1, UMUM
1.2 Mobilisasi - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi PERATURAN MENTERI PEKERJAAN 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan saat perjalananpengiriman alat berat Terluka REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN diperkirakan akan terjadi
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN
KONSTRUKSI
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)
2 Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Memasang rambu-rambu peringatan
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Terhimpit peralatan SMKK pada saat dibawa ke lokasi pekerjaan
diperkirakan akan terjadi

DIVISI 2. DRAINASE
2.4.(4) Pipa Berlubang Banyak (Perforated Pipe) untuk Pekerjaan Drainase - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Bawah Permukaan, diameter 6 inch - Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimbun Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK PERATURAN MENTERI PEKERJAAN 1 2 2 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Menggunakan APD yang benar
UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
3.1.(1) Galian Biasa - Tertimbun Material Tertimbun 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terkena alat berat Terluka TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN 1 2 2 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN
- Kecelakaan Terjatuh pada lubang galian Patah Tulang diperkirakan akan terjadi
KONSTRUKSI

3.1.(4) Galian Struktur dengan kedalaman 0 - 2 meter - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan Terjatuh pada lubang galian Terkilir 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

3.1.(5) Galian Struktur dengan kedalaman 2 - 4 meter - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Memasang rambu-rambu peringatan
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Pencegahan dampak yang tidak diinginkan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang
- Kecelakaan Terjatuh pada lubang galian Terkilir 1 2 2 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

3.2.(2a) Timbunan Pilihan dari sumber galian - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimbun Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Memasang rambu-rambu peringatan
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
3.2.(2a) TiTimbunan Pilihan (berbutir) dari sumber galian - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil diperkirakan akan terjadi tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimbun Terluka 1 2 2 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

3.3.(1) Penyiapan Badan Jalan - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan akibat terkena pecahan material dan akibat operasional alat Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
berat /Kecelakaan lalu lintas karena berada diperlintasan umum
diperkirakan akan terjadi
DESKRIPSI RESIKO PENILAIAN TINGKAT RESIKO PENILAIAN SISA RESIKO

Resiko PENGENDALIAN RESIKO AWAL


PENGENDALIAN
NO [Link] Perundangan atau Persyaratan [Link] 2. Subtitusi 3. Rekayasa Teknik 4. KETERANGAN
NILAI TINGKAT NILAI TINGKAT AWAL
IDENTIFIKASI BAHAYA 2. Peralatan KEMUNG KEPARAH Administrasi 5. APD KEMUNG KEPARAH
URAIAN PEKERJAAN RESIKO RESIKO RESIKO RESIKO
[Link] 2. Peralatan 3. Material 4. Lingkungan/Publik 3. Material KINAN (F) AN (A)
(FxA) (TR)
KINAN (F) AN (A)
(FxA) (TR)
4. Lingkungan/
Publik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

3.5.(2a) Geotekstil Separator Kelas 1 - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan akibat terkena pecahan material dan akibat operasional alat Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
berat /Kecelakaan lalu lintas karena berada diperlintasan umum
diperkirakan akan terjadi

DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON SEMEN


5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan akibat terkena pecahan material dan akibat operasional alat Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
berat /Kecelakaan lalu lintas karena berada diperlintasan umum
diperkirakan akan terjadi

5.1.(2) Lapis Pondasi Agregat Kelas B - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Kecelakaan akibat terkena pecahan material dan akibat operasional alat Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
berat /Kecelakaan lalu lintas karena berada diperlintasan umum
diperkirakan akan terjadi

DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL


6.1 (1) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair/Emulsi - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka akibat percikan aspal panas Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

6.1 (2a) Lapis Perekat - Aspal Cair/Emulsi - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka akibat percikan aspal panas Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

6.3(5a) Laston Lapis Aus (AC-WC) - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka akibat percikan aspal panas Terluka 1 2 4 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

6.3(6a) Bahan anti pengelupasan - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena debu agregat yang kering Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka akibat percikan aspal panas Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

DIVISI 7. STUKTUR
7.1 (5a) Beton struktur, fc’30 Mpa - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimpa batu Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

7.1 (7a) Beton struktur, fc’20 Mpa - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimpa batu Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN
7.1 (7a).v4 Beton strukur, fc’20 MPa (Bahu Jalan) - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 Memasang rambu-rambu peringatan
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
TAHUN 2021 TENTANG PEDOMAN Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimpa batu Terluka SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
KONSTRUKSI diperkirakan akan terjadi

7.1 (10) Beton, fc’10 Mpa - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terjadi Insiden Berupa Pekerja Tertimpa batu Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi

7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280 - Terluka akibat penggunaan peralatan kurang baik Terluka 1 2 2 Kecil Menggunakan APD yang benar tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
- Gangguan Pernapasan terhirup/terkena serbuk besi (Iritasi) Iritasi 1 1 1 Kecil Memasang rambu-rambu peringatan tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
Pencegahan dampak yang tidak diinginkan
- Terluka akibat terjepit bahan material Besi Terluka 1 2 2 Kecil Penanggulangan dampak yang terjadi atau yang tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
diperkirakan akan terjadi
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
Setiap personil yang bertugas pada pelaksanaan pekerjaan, untuk paket pekerjaan yang berisiko tinggi terutama yang
dilapangan wajib menggunakan Peralatan Pelindung Diri Yang sesuai dengan Standar yaitu :
1. Helm Proyek, disarankan dipakai setiap kelapangan dan diwajibkan dipakai pada tempat-tempat yang
berisiko tinggi terhadap kejatuhan / benturan material;
2. Sepatu Proyek, Dipakai setiap hari dilapangan / site;
3. Pakaian Seragam, dan identitas pengenal diri;
4. Masker, jika bekerja didaerah yang beracun / berbau yang bisa mengakibatkan terganggunya kesehatan;

a. Helm Pengaman
b. Sepatu Proyek
c. Kaca Mata Pelindung
d. Jacket Pengaman
5. Body Protector (pelindung Badan), apabila hal tersebut diperlukan (untuk tukang Las Diwajibkan);

6. Life Jacket (Pelampung), untuk bekerja diatas air dipakai setiap menggunakan transportasi air
7. P3K, disediakan ditempat-tempat yang memerlukan
8. Perlengkapan P3K harus diperiksa kembali kelengkapannya setelah dipergunakan
9. Setiap Pembantu Pelaksana, pelaksana, koordinator pengukuran harus dilengkapi dengan sarana
komunikasi;
10. Memastikan sarana komunikasi berfungsi dengan baik
11. Disediakan layout ruangan ditempat-tempat strategis

C.1. Sumber Daya


Pengelolaan sumber daya yang baik dan benar pada suatu pelaksanaan proyek konstruksi, sangat mendukung dalam
pelaksanaan sistem K3. Olehnya itu perusahaan harus memperhatikan beberapa hal yang berkaitan sumber daya di
lapangan, yaitu:
a. Manusia; Karyawan yang sehat jasmani dan rohani merupakan asset yang berharga. Untuk itu diperlukan
berbagai macam fasilitas pendukung kesehatan karyawan. Dalam upaya menyediakan fasilitas kesehatan di
perusahaan, pimpinan perusahaan haruslah menentukan sistem kesehatan perusahaannya terlebih dahulu.
Sistem ini merupakan tatanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan individu guna
mencapai derajat kesehatan optimal. Sistem kesehatan yang dirancang perusahaan diharapkan dapat
memuaskan pegawainya. Manajemen perlu memperhatikan adanya pergeseran paradigma dalam pengelolaan
pelayanan kesehatan. Pergeseran paradigma ini akibat perubahan lingkungan dan norma-norma. Sistem
kesehatan harus memenuhi persyaratan berikut:

- Adanya pengorganisasian pelayanan kesehatan yang jelas tentang jenis, bentuk, jumlah, dan
pendistribusiannya.
- Adanya pengorganisasian pembiayaan kesehatan yang juga harus jelasdan jumlah, pendistribusian,
pemanfaatan dan mekanisme pembiayaannya.
- Mutu pelayanan dan manfaat pembiayaan, apakah sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat,
serta apakah pembiayaan ini tidak mubazir
b. Peralatan; Tersedianya alat-alat mekanis untuk penanganan [Link] yang berbahaya harus
ditempatkan sejauh mungkin. Tempat kerja harus bersih, diterangi dengan baik, diberi ventilasi. Prosedur
kerja & peraturan kerja untuk cegah tingkat keselahan (human error). Kondisi peralatan yang digunakan di
lapangan untuk pekerjaan konstruksi, sangat menentukan kesuksesan atau keberhasilan dari penyelesaian dari
suatu proyek. Tentunya pihak perusahaan harus memahami dan memperhatikan akan penggunaan dan
pemeliharaan rutin (maintenance) dari setiap alat yang digunakan di lapangan. Hal ini sangat menentukan
dalam kelaikan pemakaian dari setiap peralatan, khususnya terhadap alat-alat berat yang digunakan. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan peralatan, yaitu:

- Jenis peralatan yang digunakan, menyangkut tipe, kapasitas dan sifat-sifat pemakaiannya.
- Umur peralatan, sangat menentukan dalam pengoperasian di lapangan karena alat yang sudah umurnya
tua atau sudah tidak laik dioperasikan, kemungkinan bisa menimbulkan masalah keselamatan kerja di
lapangan yang menghambat produktifitas kerja.
- Perawatan rutin (maintenance); sangat penting dilakukan pemeriksaan berkala dari setiap peralatan yang
digunakan, agar bisa diketahui akan adanya gangguan dari peralatan itu, sehingga bisa diperbaiki di awal
kegiatan karena pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap produktifitas dan keselamatan kerja
dilapangan
c. Bahan dan Material; Penggunaan bahan atau material di lapangan juga sangat berpengaruh terhadap
produktifitas dan keselamatan kerja. Olehnya itu selalu dianjurkan untuk menggunakan bahan atau material
yang sesuai dengan petunjuk spesifikasi teknis yang dipersyaratkan.

d. Finansial; Pimpinan perusahaan harus menyadari bahwa biaya kesehatantidak kecil. Nilai biaya kesehatan
setiapk tahun biasanya selalu naik dan kenaikannya sering melebihi tingkat inflasi. Jumlah dana pembiayaan
harus cukup untuk membiayai upaya kesehatan yang telah direncanankan. Bila biaya tidak mencukupi maka
jenis dan bentuk pelayanan kesehatannya harus diubah sehingga sesuai dengan biaya yang disediakan.
Kemampuan finansial dari setiap pengelola pekerjaan di lapangan, sudah barang tentu merupakan faktor
utama dari keberhasilan penyelesaian dan keselamatan, kesehatan kerja di lapangan. Tentunya jika pengelola
proyek mempunyai kemampuan finansial yang cukup, maka akan berdampak postif terhadap proses
pelaksanaan sistem manajemen K3 di lapangan. Biaya kesehatan adalah sejumlah dana yang disediakan ntuk
memyelenggarakan upaya kesehatan. Biaya ini diperoleh bealth provider untuk investasi, biaya operasional,
dan bealth consumer untuk imbal jasa pelayanan.

e. Waktu; Pemanfaatan waktu dengan sebaik mungkin dalam mengerjakan proyek konstruksi akan memberikan
hasil yang maksimal, serta menjamin terlaksananya sistem pelaksaaan K3 di lapangan terkhusus pada waktu-
waktu lembur (overtime).
C.2. Kompetensi
a. Kompetensi
- Mempunyai persyaratan kompetensi terkait K3 pada setiap level dalam organisasi,
- Kompetensi terkait K3 ditetapkan berdasarkan pendidikan atau pelatihan atau pengalaman
b. Kesadaran (awareness) dan Pelatihan
- Analisa kebutuhan pelatihan terkait K3,
- Program pelatihan terkait K3 untuk setiap level
- Daftar jenis pelatihan,
- Menyelenggarakan pelatihan, dengan bukti kerja berupa catatan hasil pelatihan, seperti : jadwal, daftar
hadir, evaluasi hasil pelatihan,

C.3. Kepedulian

Perusahaan kami mempunyai tanggung jawab untuk menjamin kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan karyawan
dan melindungi harta benda dan lingkungan melalui program promosi, pencegahan, perlindungan, partisipasi
karyawan dan pelatihan‐pelatihan secara terus menerus dan dalam bentuk peningkatan yang berkelanjutan.

Dalam aspek kesehatan kerja, Perusahaan kami memandang bahwa perlindungan kesehatan menjadi poin penting
dalam melindungi karyawan agar terbebas dari gangguan kesehatan serta dampak buruk yang diakibatkan oleh
pekerjaan yang terkait dengan proyek konstruksi. Untuk melaksanakan hal tersebut senantiasa menjaga dan
menciptakan lingkungan kerja yang sehat, di antaranya dengan melakukan pengukuran dampak suatu
kegiatan/proyek terhadap manusia serta lingkungan sekitar.
Dalam rangka mengembangkan implementasi K3, kebijakan yang ditetapkan Perusahaan meliputi :
• Meningkatkan jumlah pelatihan K3 baik sertifikasi staff maupun craft training untuk pekerja termasuk
subkontraktor;
• Membuat safety campaign guna menaikkan kepedulian K3;
• Melakukan Safety Morning
• Memberikan “penghargaan” bagi karyawan/ staff/ pekerja, yang selalu mematuhi aturan
• K3, dengan memakai APD lengkap setiap bekerja
C.4. Komunikasi
Komunikasi dan Konsultasi
• Manajemen dengan pekerja (melalui forum P2K3) didokumentasikan,
• Hasilnya diinformasikan
• Ada keterlibatan pekerja dalam manajemen risiko
• Ada media, pekerja dapat berikan umpan balik, (box)
• Ada wakil pekerja di organisasi K3, sarana konsultasi, Partisipasi dan Promosi
• Do : Melaksanakan dan mengimplementasikan proses.
• Check : Memonitor dan mengukur pencapaian proses terhadap kebijakan dan tujuan K3 perusahaan serta
• peraturan pemerintah
Tersedia media yang menyangkut
komunikasi K3, berupa :tentang
buletin K3.
K3 internal, pengumuman, poster‐poster K3, spanduk K3

Dalam kaitannya dengan bahaya K3, perusahaan/penyedia jasa akan membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk komunikasi internal antara berbagai tingkat dan fungsi penyedia jasa melalui forum P2K3, maupun
komunikasi dengan pemasok, subkontraktor dan pengunjung/tamu lainnya yang datang keproyek. Selain itu sebagai
sarana komunikasi lainnya, perusahaan/penyedia jasa akan membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk
menerima, mendokumentasikan da nmenanggapi kritik dan saran dari pihak luar yang terkait.

TABEL JADWAL PROGRAM KOMUNIKASI

WAKTU
NO JENIS KOMUNIKASI P.I.C
PELAKSANAAN

Setiap Hari Sebelum Pekerjaan


Induksi Keselamatan Konstruksi Petugas K3/ Ahli K3 Dimulai Selama Waktu
1
(Safety Induction) Pekerja Baru, Visitor Pelaksanaan Pekerjaan
(08.00 sd Selesai)

Setiap Hari Sebelum Pekerjaan


Petugas K3/ Ahli K3
Pertemuan Pagi Hari Dimulai Selama Waktu
2 & Manager Proyek, Tenaga Teknis,
(Safety Morning) Pelaksanaan Pekerjaan
Pekerja Proyek, Operator Peralatan
(08.00 sd Selesai)

Petugas K3/ Ahli K3


Pertemuan Kelompok Kerja Seminggu Sekali Selama Waktu
3 & Manager Proyek, Tenaga Teknis,
(Toolbox Meeting) Pelaksanaan Pekerjaan
Pekerja Proyek, Operator Peralatan

Rapat Keselamatan Konstruksi Petugas K3/ Ahli K3 Seminggu Sekali Selama Waktu
4
(Construction Safety Meeting) & Manager Proyek, Tenaga Teknis Pelaksanaan Pekerjaan
C.5. Informasi Terdokumentasi
PT. GAROT JAYA UTAMA harus mempunyai “Dokumen yang memadai dan Sistem Pengelolaannya” sebagai
bagian dari administrasi sebuah sistem manajemen Dokumen‐dokumen dimaksud berupa :
• Manual
• Prosedur
• Instruksi Kerja
• Daftar lengkap dokumen (master list)
i. Dokumen rujukan lain Dokumen yang diperlukan untuk memastikan efektifitas perencanaan, operasi
dan pengendalian atas proses‐proses tersebut
ii. Rekaman K3 (bukti pelaksanaan SMK3) berupa rekaman mutu yang dipersyaratkan
D. Operasi Keselamatan Konstruksi

D.1. Perencanaan Operasional


Dalam menjalankan aktivitas perusahaan, struktur organisasi telah ditetapkan untuk menjamin peran, tanggung
jawab, akuntabilitas dan mendelegasikan wewenang untuk memfasilitasi SMMK3 yang efektif.
Direksi menetapkan dan mengesahkan struktur organisasi seperti yang terlampir pada Manual MK3 ini. Tugas dan
wewenang setiap Personil baik yang terkait dengan mutu maupun K3 ataupun terkait dengan struktur organisasi, untuk
tingkat Kepala Divisi/ Bagian dibuat oleh Kepala Divisi / Bagian bersama dengan Direksi / Pimpinan Cabang
kemudian disahkan oleh Direksi / Pimpinan Cabang. Untuk tingkat dibawah Kepala Divisi / Bagian sampai tingkat
terbawah, dibuat oleh Kepala Divisi / Bagian bersama dengan Divisi / Bagian SDM direview oleh Direksi /
Pimpinan Cabang dan disahkan oleh Kepala Unit Kerja masing-masing. Sedangkan untuk Proyek dibuat oleh Kepala
Proyek bersama dengan Kepala Divisi / Bagian Teknik, direview Direksi / Pimpinan Cabang dan disahkan oleh
D.2. Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat
Sasaran :
- Mengetahui kesiapan yang dilakukan di dalam menghadapi kondisi darurat
- Melaksanakan program tanggap darurat
- Latihan‐latihan yang perlu dilakukan
- Evaluasi untuk perbaikan
Tujuan :
Menyelamatkan sebagian atau seluruh harta‐benda (investasi vital) Perusahaan, penyelamatan tenaga kerja yang berkerja di
plant, kantor, dan tempat‐tempat kerja, dll., akibat dari tumpahan dan kebocoran bahan kimia, kebakaran dari bahan kimia,
dan mencegah pencemaran lingkungan. Oleh karenanya harus diatasi dalam waktu sesingkat‐singkatnya dengan cara
terpadu dan hanya diberlakukan pada saat terjadi keadaan darurat.

ANALISIS KESELAMATAN PEKERJAAN (Job Safety Analysis)


Dalam menjalankan aktivitas perusahaan, struktur organisasi telah ditetapkan untuk menjamin peran, tanggung jawab,
akuntabilitas dan mendelegasikan wewenang untuk memfasilitasi SMMK3 yang efektif.
Direksi menetapkan dan mengesahkan struktur organisasi seperti yang terlampir pada Manual MK3 ini. Tugas dan
wewenang setiap Personil baik yang terkait dengan mutu maupun K3 ataupun terkait dengan struktur organisasi, untuk
tingkat Kepala Divisi/ Bagian dibuat oleh Kepala Divisi / Bagian bersama dengan Direksi / Pimpinan Cabang kemudian
disahkan oleh Direksi / Pimpinan Cabang. Untuk tingkat dibawah Kepala Divisi / Bagian sampai tingkat terbawah, dibuat
oleh Kepala Divisi / Bagian bersama dengan Divisi / Bagian SDM direview oleh Direksi / Pimpinan Cabang dan disahkan
oleh Kepala Unit Kerja masing-masing. Sedangkan untuk Proyek dibuat oleh Kepala Proyek bersama dengan Kepala
Divisi / Bagian Teknik, direview Direksi / Pimpinan Cabang dan disahkan oleh Kepala Divisi / Bagian Teknik.
TABEL ANALISIS KESELAMATAN PEKERJAAN (Job Safety Analysis)

Nama Pekerja : [nama pekerja]

Nama Paket Pekerjaan : Penanganan Longsoran Bakongan - Kota Subulussalam

Tanggal Pekerjaan : …… s/d …… (240 (Dua Ratus Empat Puluh) hari kalender sejak SPMK)

Alat Pelindung Diri yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan :

1 Helm/ Safety Helmet √ 4 Rompi Keselamatan/ Safety Vest √


2 Sepatu/ Safety Shoes √ 5 Masker Pernafasan/ Respiratory √
3 Sarung Tangan/ Safety Gloves √ 6 …. Dst.

URUTAN LANGKAH IDENTIFIKASI PENANGGUNG


NO PENGENDALIAN
PEKERJAAN BAHAYA JAWAB

1 (Sesuai Kolom Tabel 2 (Sesuai Kolom Tabel 3 Menggunakan APD yang benar Petugas
IBPRP) IBPRP) Memasang rambu-rambu peringatan Keselamatan
- Mengajukan Izin Pekerjaan Pencegahan dampak yang tidak Konstruksi
- Mempersiapkan tenaga kerja diinginkan
- Mengajukan team K3 Penanggulangan dampak yang terjadi
- Memakai tenaga ahli K3 atau yang diperkirakan akan terjadi
yang berpengalaman
- Mempersiapkan semua
fasilitas safety
- Membuat Laporan/ Prosedur
K3
Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja;

Potensi Darurat Cara Penanganan Prasarana Yang Diperlukan

Lakukan P3K, untuk


Kotak P3
Kecelakaan pertolongan pertama
-Terkena alat manual.
-Jatuh dari ketinggian. Bawa ke dokter / Puskesmas /
-Kejatuhan Benda. Poliklinik dengan kendaraan Ambulan/ Kendaraan, Tandu
-Tersandung. proyek
-Tergelincir
-Terjepit antara benda Hub. RS terdekat dan
-Terpotong datangkan ambulance apabila Daftar Nomor Telepon Penting
-Terkilir diperlukan
-Terbakar akibat/berhubungan
dengan suhu tinggi/ korosif/ Petugas TTD proyek buat
radiasi laporan ke atasan dan instansi
yang terkait

Bagi Karyawan dan para


pekerja yang mengetahui APAR Instruksi Kerja Operasional dan
adanya kebakaran segera Maintenance APAR
Padamkan api dengan APAR;

jika APAR tidak berfungsi


segera hubungi petugas TTD Daftar Nomor Telepon Penting
proyek
selamatkan Dokumen, asset,
dll;
Kebakaran
segera evakuasi secepatnya
Lay out/site plan (tentukan titik kumpul) dan
bagi karyawan / pekerja yang
jalur evakuasi
tidak berkepentingan

Bagi Petugas TTD Proyek


segera Padamkan api dengan
APAR, jika masih
memungkinkan;

Memerintahkan Satpam untuk


mensterilisasi area.

Segera Lakukan tindakan P3K


Check : Memonitor dan mengukur pencapaian proses terhadap kebijakan dan tujuan K3 perusahaan serta peratur
Bawa segera ke rumah
Tandu, Kendaraan/ Ambulances
sakit/Klinik
E. Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi
E.1 Pemantauan dan Evaluasi
1. Pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja Evaluasi kinerja keselamatan konstruksi
meliputi kegiatan pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja. Penyedia jasa harus
menetapkan :
a. Hal‐hal yang perlu dipantau dan diukur yang meliputi:
- Tingkat kepatuhan pemenuhan terhadap peraturan perundang‐undangan dan peraturan lain;

- Penanganan terkait dengan bahaya, risiko, dan peluang yang teridentifikasi;


- Pencapaian tujuan keselamatan konstruksi; dan
- Tingkat hasil guna pengendalian dan pelaksanaan.
b. Metode pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja;
c. Kriteria yang akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja keselamatan konstruksi;
d. Waktu pemantauan, pengukuran, analisis, dan evaluasi, serta pelaporan;
e. Prosedur pengukuran kinerja Keselamatan Konstruksi.
2. Evaluasi kepatuhan Evaluasi kepatuhan dilakukan dengan cara :
a. Menentukan frekuensi dan metode evaluasi kepatuhan;
b. Mengevaluasi kepatuhan dan mengambil tindakan jika diperlukan;
c. Menjaga pengetahuan dan pemahaman tentang status kepatuhannya; dan
d. Menyimpan informasi terdokumentasi hasil evaluasi kepatuhan.
3. Audit Internal Penyedia Jasa harus melakukan audit internal untuk memberikan informasi apakah
SMKK telah diterapkan sesuai dengan persyaratan, kebijakan dan tujuan keselamatan konstruksi,
dan telah ditetapkan serta dipelihara secara efektif. Audit internal wajib dilakukan
sekurang‐kurangnya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 1 (satu) siklus pekerjaan konstruksi. Kegiatan
dalam pelaksanaan audit internal, meliputi :
a. Merencanakan, menetapkan, menerapkan dan memelihara program audit, termasuk frekuensi,
metode, tanggung jawab, konsultasi, persyaratan perencanaan dan pelaporan, serta hasil audit
internal sebelumnya;
b. Menentukan kriteria dan ruang lingkup audit untuk setiap kali pelaksanaan audit;
c. Memilih dan menetapkan auditor yang kompeten, objektif dan tidak memihak;
d. Memastikan bahwa hasil audit dilaporkan kepada pimpinan yang berwenang; pekerja, dan
perwakilan pekerja (jika ada), serta pihak terkait lainnya;
e. Mengambil tindakan untuk mengatasi ketidaksesuaian guna meningkatkan kinerja keselamatan
konstruksi;
f. Menyimpan informasi terdokumentasi sebagai bukti pelaksanaan program audit dan hasil audit.
Rencana Jadwal pelaksanaan Inspeksi Keselamatan Konstruksi, Patroli Keselamatan Konstruksi dan
Audit internal disajikan dalam tabel selanjutnya.

TABEL JADWAL INSPEKSI DAN AUDIT

Bulan Ke-
No. Kegiatan PIC
1 2 3 4

Inspeksi keselamatan Pelaksana & Petugas


1
konstruksi Keselamatan Konstruksi
Patroli Keselamatan Petugas Keselamatan
2
Konstruksi Konstruksi
Pelaksana & Petugas
3 Audit Internal
Keselamatan Konstruksi

E.2 Tinjauan Manajemen


Kinerja K3 sebuah perusahaan harus diukur pada setiap tingkat manajemen, dimulai dengan
manajemen yang paling senior. Selain itu, perusahaan akan perlu memutuskanbagaimana
mengalokasikan tanggung jawab untuk pemantauan kinerja baik secara aktif ataupun reaktif pada
tingkat yang berbeda dalam rantai manajemen. Oleh karena itu, untuk pengukuran efektif, perlu ada
standar kinerja di tempat-misalnya siapa melakukan apa dan kapan, dan apaefeknya.

Hasil pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 pada bagian E. Diklasifikasikan dengan kategori sesuai dan
tidak sesuai tolok ukur sebagaimana ditetapkan pada table 2. Sasaran dan Program K3.

Hal-hal yang tidak sesuai, termasuk bilamana terjadi kecelakaan kerja dilakukan peninjauan ulang
untuk di ambil tindakan perbaikan.

E.3 Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi


Tangani segera apabila ada kecelakaan Kerja dan utamakan keselamatan Jiwa Manusia. Apabila
perlu, segera dibawa ke Puskesmas/dokter/ rumah sakit yang telah dirujuk pada alamat yang
ditentukan
Hubungi kepolisian Babinsa setempat apabila kecelakaan tersebut memerlukan pertolongan yang serius.

Metode pengukuran kinerja K3 secara proaktif dan reaktif di tempat kerja memiliki prioritas dan tujuan
untuk mendorong adanya peningkatan kinerja K3 serta mengurangi kejadian kecelakaan (accident) dan
peristiwa (incident) kerja di tempat kerja.
Beberapa hal yang bisa kita masukkan (kategorikan) ke dalam pengukuran proaktif kinerja K3 adalah:
a. Penilaian kesesuaian dengan perundang-undangan dan peraturan lainnya yang berkaitan dengan
penerapan K3 di tempat kerja.
b. Efektivitas hasil inspeksi dan pemantauan kondisi bahaya di tempat kerja.
c. Efektivitas pastisipasi tenaga kerja terhadap penerapan K3 di tempat kerja.
d. Survey tingkat kepuasan tenaga kerja terhadap penerapan K3 di tempat kerja.
e. Penilaian efektivitas pelatihan K3.
f. Penilaian aktivitas kerja yang berhubungan dengan resiko K3 perusahaan.
g. Efektivitas hasil audit internal dan audit eksternal Sistem Manajemen K3 (SMK3).
h. Pemantauan budaya K3 seluruh personil K3 di bawah kontrol perusahaan.
i. Penerapan beberapa program K3.
j. Schedule penyelesaian rekomendasi penerapan K3 di tempat kerja.
k. Schedule pemeriksaan kesehatan tenaga kerja berkala di tempat kerja.
Sedangkan yang termasuk dalam pengukuran reaktif kinerja K3, ada beberapa hal yang bisa kita ukur,
adalah :
a. Tuntutan tindakan pemenuhan dari pemerintah.
b. Tuntutan tindakan pemenuhan dari pihak ke tiga yang berhubungan dengan perusahaan.
c. Tingkat hilangnya jam kerja (lost time) akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).

d. Tingkat keseringan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).
e. Pemantauan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).

Adapun Kewajiban dari setiap Perusahaan dalam Pemantauan dan Pengukuran kinerja dalam
pelaksanaan pekerjaan konstruksi di lapangan, adalah :
Perusahaan wajib menyediakan peralatan yang digunakan untuk pelaksanaan pemantauan dan
pengukuran kinerja K3. Seperti ; alat pengukur tingkat kebisingan, alat tes gas beracun, pencahayaan,
serta alat lainnya sesuai dengan aktivitas operasional perusahaan.
- Perusahaan wajib menganalisa hasil pemantauan dan pengukuran kinerja K3 di tempat kerja secara
komputerisasi.
- Perusahaan wajib menggunakan alat-alat yang sudah dikalibrasi secara tepat, berkala dan teratur.
- Perusahaan wajib mengganti alat-alat yang sudah tidak layak menurut standar kinerja K3.
- Perusahaan wajib melaksanakan kalibrasi dan perawatan alat ukur pemantauan dan pengukuran
kinerja K3 oleh personil ahli pelaksanaan kalibrasi.
- Perusahaan wajib melakukan kalibrasi secara berkala seluruh alat-alat pemantauan dan pengukuran
kinerja K3, sesuai dengan pengaturan nilai besaran satuan secara standar nilai yang berlaku baik
lokal dan Internasional.

Anda mungkin juga menyukai