JB&P: Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya: Print Online
JB&P: Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya: Print Online
Research Article
Pengembangan Modul IPA Digital Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis
Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
Asep Yudi Supriatna1, Diana Hernawati1*, Liah Badriah1
1 Program Studi Pendidikan IPA, Program Pascasarjana, Uaniversitas Siliwangi
Author Korespondensi: hernawatibiologi@[Link].
Penerbit ABSTRACT
Program Studi Pendidikan Biologi This study was motivated by the need for science learning materials that
Universitas Nusantara PGRI Kediri connect scientific concepts with local cultural contexts to enhance learning
relevance. The aim of this research was to identify teacher and student needs
regarding the development of a Pancaniti-based ethnoscience digital science
module for junior high schools in Tasikmalaya. A quantitative descriptive
method was employed to portray the actual conditions of science learning,
digital learning experiences, infrastructure readiness, and the need for
integrating Sundanese cultural values. The findings revealed that schools
possess adequate digital infrastructure, yet interactive and contextual teaching
materials remain limited, indicating that digital modules grounded in
ethnoscience are essential for fostering problem- solving skills, environmental
literacy, and character development. The study concludes that developing a
digital science module integrated with Pancaniti values is a strategic necessity
for creating interactive, relevant, and culturally rooted science learning.
Kata kunci: modul digital, etnosains, pancaniti, materi IPA, kearifan lokal
jbp@[Link] 14
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
PENDAHULUAN
Pembelajaran sains memiliki peranan penting untuk memberdayakan kecakapan abad ke-21
(Badriah et al., 2024). Pembelajaran sains, dalam hal ini pembelajaran IPA, kualitasnya sangat
ditentukan oleh mampu atau tidaknya bahan ajar mengaitkan konsep ilmiah dengan konteks sosial dan
budaya di sekitar peserta didik (Fauziah et al., 2024; Hutasoit et al., 2025). Umumnya bahan ajar yang
digunakan di sekolah masih berorientasi pada teori tanpa mempertimbangkan realitas lokal, sehingga
pembelajaran menjadi kurang bermakna (Prayitno et al., 2024). Menurut S. A. Sari & Marbun (2025),
materi sians kontekstual yang diadaptasi dari kehidupan sehari-hari peserta didik, lebih mampu
meningkatkan pemahaman konseptual, serta memberdayakan keterampilan abad ke-21. Studi lainnya
menunjukkan bahwa pembelajaran sains yang mengintegrasikan konteks budaya dapat
memberdayakan peserta didik dalam memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian masalah,
melaksanakan apa yang telah direncanakan, serta mampu melihat kembali apa yang perlu diperbaiki
dari langkah penyelesaian masalah (Noviati & Widowati, 2025). Umutlu (2022), mempertegas bahwa
proses pembelajaran perlu dirancang tidak hanya berorientasi pada pemahaman materi, tetapi juga
pada pemberdayaan keterampilan abad ke-21 yang syarat pada penekanan transformasi teknologi.
Transformasi teknologi kedalam pendidikan, menuntut adanya inovasi bahan ajar yang relevan
dengan karakter generasi digital (Rezeki et al., 2024; Hasibuan et al., 2025). Modul digital menjadi
alternatif efektif, halini memungkinkan pembelajaran lebih interaktif dan fleksibel melalui integrasi teks,
gambar, serta multimedia (Herlinawati & Octavia, 2025). Mulhayatiah et al. (2019) menegaskan bahwa
modul digital mampu memberdayakan keterampilan pemecahan masalah peserta didik sebagai
kecakapan hidup abad ke 21. Merujuk pada konteks pembelajaran IPA, media digital tidak hanya
menyajikan konsep ilmiah, tetapi juga dapat mengaitkannya dengan fenomena lokal yang akrab bagi
peserta didik (Hasyim et al., 2024). Fenomena lokal yang dimaksud, yaitu pembelajaran sains dapat
diintegrasikan dengan kearifan lokal maupun nilai-nilai kebudayaan (Suastra & Wayan, 2017).
Salahsatu kearifan lokal yang memiliki banyak keterkaitan dengan konsep-konsep ilmiah, dan
kedekatan budaya pada hubungan yang erat antara manusia dengan alam, adalah kearifan lokal
masyarakat sunda (Toharudin & Kurniawan, 2017).
Masyarakat Sunda tersebar luas diwilayah Pulau Jawa bagian barat, dimana salahsatu daerah
yang melestarikan kearifan lokalnya adalah Tasikmalaya. Tasikmalaya sebagai wilayah dengan
mayoritas dari suku Sunda memiliki potensi besar dalam pengembangan pembelajaran berbasis
kearifan lokal (Ratnasari et al., 2023). Nilai-nilai budaya Sunda merefleksikan pengetahuan tradisional
yang berpotensi diintegrasikan dengan konsep sains modern (Hernawati et al., 2022). Pendekatan
etnosains menjembatani pengetahuan ilmiah dan tradisional, menjadikan pembelajaran lebih
kontekstual dan berakar pada lingkungan sosial peserta didik (Aikenhead, 1996). Pendekatan ini
memungkinkan peserta didik memahami konsep ilmiah secara mendalam dan menumbuhkan
kesadaran budaya dalam melihat fenomena di sekitarnya (Yuliana et al., 2021). Proses pembelajaran
yang terbentuk membantu mereka memberdayakan pemahaman konsep-konsep ilmiah yang
menghargai lingkungan, sekaligus menginternalisasi nilai-nilai kearifan lokal (Purwanto, 2025).
Salah satu kearifan lokal yang berasas pada prinsip transfer pengetahuan adalah nilai-nilai
Pancaniti (Hidayat, 2023). Pancaniti yang berakar pada kearifan lokal Sunda terdiri atas lima prinsip:
Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti, Niti Bakti, dan Niti Sajati (Rachman et al., 2022). Setiap aspek menuntun
peserta didik untuk memahami, mendalami, membuktikan, dan mengamalkan pengetahuan sebagai
bentuk aksi nyat serta pencarian kebenaran sejati melalui refleksi dan evaluasi (Rusmana et al., 2024).
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
15
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Pendekatan Pancaniti selaras dengan tujuan pembelajaran sains yang menumbuhkan keseimbangan
antara pengetahuan, nilai, dan karakter (Nuratilah, 2024). Integrasi prinsip Pancaniti sebagai kearifan
lokal Sunda dalam bahan ajar IPA digital berpotensi menciptakan pembelajaran IPA yang bermakna,
kontekstual, dan berkarakter (Supriatna et al., 2025).
Integrasi nilai-nilai kebudayaan kedalam sebuah pembelajaran sains, perlu melalui tahapan
penelitian dan pengembangan (Zidny & Eilks, 2020). Tahapan awal sebuah penelitian dan
pengembangan, perlu memperhatikan kesesuaian kurikulum yang berlaku, kesiapan sarana dan
prasaran, serta yang paling penting adalah analisis kebutuhan dari pengguna (Ranuharja et al., 2021).
Analisis kebutuhan menjadi tahap penting untuk memahami kondisi aktual pembelajaran, kesiapan
teknologi, dan kebutuhan pengguna sebelum modul dikembangkan, merujuk pada tahapan
pengembangan model ADDIE, tahapan ini berada pada tahapan Analyze (Branch, 2009). Weldami &
Yogica (2023) menegaskan bahwa pengembangan media dan bahan ajar pada model pengembangan
ADDIE dari Robert Maribe Branch tahun 2009, harus diawali dengan tahapan analisis, yang didalamnya
termasuk analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dalam halini dilakukan kepada guru IPA dan peserta
didik, serta konteks pembelajaran IPA agar produk yang dihasilkan tepat sasaran. Namun, penelitian
yang mengkaji secara spesifik kebutuhan pengembangan modul digital berbasis etnosains Pancaniti di
tingkat SMP khususnya di Tasikmalaya masih terbatas.
Sejalan dengan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan
pengembangan modul IPA digital berbasis etnosains nilai-nilai Kesundaan Pancaniti sebagai bahan ajar
IPA SMP di wilayah Tasikmalaya. Kajian ini diarahkan untuk mengidentifikasi kebutuhan guru dan
peserta didik, sarana dan prasarana pendukung pembelajaran digital, pengalaman pembelajaran digital,
kesulitan dalam belajar IPA pada materi berkaitan lingkungan, karakteristik kearifan lokal yang
dibutuhkan, dan potensi pemberdayaan keterampilan abad ke-21 yang perlu diberdayakan. Hasil
analisis diharapkan menjadi dasar pengembangan modul IPA digital yang mampu menjembatani sains,
teknologi, dan budaya dalam satu kesatuan pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan berkarakter.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif (Creswell &
Creswell, 2018). Metode dipilih untuk menggambarkan kondisi faktual kebutuhan pengembangan modul
IPA digital berbasis etnosains Pancaniti. Pendekatan yang digunakan, diperuntukan sebagai dasar
dalam mendeskripsikan persepsi guru dan peserta didik terhadap pembelajaran IPA, pemanfaatan
media digital, serta kebutuhan integrasi nilai-nilai kearifan lokal Sunda dalam konteks pembelajaran
abad ke-21 (Sugiyono, 2022). Penelitian ini, juga merupakan tahapan Analyze, salah satu tahapan dari
rangkaian penelitian dan pengembangan pada model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement,
dan Evaluate) sebagaimana dikemukakan Branch (2009). Fokus kajian diarahkan pada identifikasi
kondisi aktual pembelajaran IPA, kesiapan sumber daya digital, dan kebutuhan pengguna terhadap
modul IPA berbasis etnosains Pancaniti. Berikut disajikan Gambar 1 Fase Analyze konsep model
ADDIE menurut Robert Maribe Branch, sebagai berikut:
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
16
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Analyze Fase
Gambar 1. Fase Analyze Konsep Model ADDIE menurut Robert Maribe Branch
Sumber : Diadaptasi dari Branch (2009)
Sampel penelitian berjumlah 75 orang, terdiri atas 26 guru IPA dan 49 peserta didik SMP di
Tasikmalaya, Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket digital
menggunakan Google Form secara acak. Teknik ini dipilih untuk memperoleh tanggapan nyata yang
representatif dari guru dan peserta didik tanpa intervensi peneliti (Etikan, 2017). Berikut disajikan
Gambar 2, berkaitan dengan flowchart pengumpulan data analisis kebutuhan:
Instrumen penelitian berupa angket yang memuat butir pernyataan dan pertanyaan. Butir
pernyataan menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi guru dan peserta didik terhadap aspek
sumber daya, dan pengalaman pembelajaran IPA digital. Sedangkan, butir pertanyaan tertutup
majemuk digunakan untuk menggali kondisi faktual, seperti keterampilan abad ke-21 yang belum
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
17
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
diberdayakan, melalui pilihan jawaban sesuai kondisi guru dan peserta didik. Seluruh data hasil angket
diolah dalam bentuk persentase (%) untuk menggambarkan distribusi kecenderungan jawaban pada
setiap indikator. Pendekatan analisis deskriptif ini digunakan untuk menafsirkan tingkat kebutuhan,
kesiapan, serta persepsi pengguna terhadap pengembangan modul digital berbasis etnosains Pancaniti
(Fraenk & Wallen, 2012).
Kriteria interpretasi hasil analisis ditentukan berdasarkan rentang persentase sebagaimana
disajikan pada Tabel 1. Rentang ini digunakan untuk memberikan makna kuantitatif terhadap tingkat
respons responden pada setiap indikator penelitian.
Keterangan :
P = Presentase responden
f = Frekuensi jawaban setiap kategori
N = Jumlah total responden
Sumber : Dirujuk dari Sugiyono (2022)
Hasil analisis yang ditunjukan pada Gambar 3 mendekripsikan sebagian besar responden
memberikan penilaian positif pada hampir seluruh indikator yang mendukung pada arah kebutuhan
pengembangan modul IPA digital berbasis etnosains Pancaniti. Temuan ini menegaskan bahwa
sekolah menengah pertama di Tasikmalaya, telah memiliki infrastruktur dan perangkat digital yang
memadai. Temuan ini sebagaimana ditunjukkan oleh lebih dari 70% responden menyatakan bahwa
kesiapan sarana dan prasarana telah mendukung proses pembelajaran IPA. Selanjutnya lebih dari 85%
mengonfirmasi ketersediaan perangkat digital yang mampu mendukung pembelajaran IPA . Pola
respons tersebut mengindikasikan bahwa pemanfaatan teknologi sudah berada pada tingkat yang baik,
meskipun belum didukung oleh bahan ajar digital yang relevan dengan konteks budaya lokal. Data
pada aspek kebutuhan dan kondisi nyata pembelajaran memberi gambaran bahwa lebih dari 70%
responden memandang perlu adanya modul yang menstimulasi pemecahan masalah dan kesadaran
lingkungan. Temuan ini memperlihatkan adanya kebutuhan mendesak terhadap ketersediaan modul
digital yang tidak hanya menyajikan materi sains, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kearifan lokal serta
memperkuat pengalaman belajar kontekstual, yang memberdayakan keterampilan abad ke-21.
Kajian terdahulu memperlihatkan bahwa modul berbasis etnosains mampu meningkatkan
pemahaman konsep sekaligus mempertahankan nilai budaya yang hidup dalam masyarakat (Lubis et
al., 2022; Supriatna et al., 2025). Penelitian lain mengenai integrasi budaya lokal dalam pembelajaran
sains menunjukkan bahwa aktivitas seperti pengolahan gula aren atau praktik leuweung larangan
(Hutan Keramat/Hutan Adat), dan kearifan lokal lainnya dapat memperkaya konteks belajar sains dan
mendorong keterlibatan peserta didik secara lebih mendalam (Dinurrohmah et al., 2023; Fauziah et al.,
2024). Keselarasan pernyatan-pernyataan sebelumnya sejalan dengan bukti bahwa etnosains
berkontribusi dalam membangun kemampuan berpikir kritis serta keterampilan abad ke-21 yang
menjadi fokus pendidikan nasional, yang menegaskan bahwa kebutuhan pengembangan telah sesuai
dengan tujuan kurikulum (Juhariyani et al., 2025; S. P. Sari et al., 2021). Integrasi nilai-nilai Pancaniti
dalam modul IPA digital memberikan penguatan terhadap relevansi lokal serta menambah kedalaman
pemahaman peserta didik mengenai hubungan organisme dan lingkungan. Hasil interpretasi
keseluruhan menunjukkan bahwa pengembangan modul IPA digital terintegrasi etnosains digital
berbasis Pancaniti merupakan langkah strategis untuk mengatasi keterbatasan bahan ajar
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
19
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
konvensional sekaligus memperkuat kompetensi ilmiah, kepedulian lingkungan, dan identitas budaya
peserta didik.
Analisis Butir Pertanyaan Tertutup Pilihan Majemuk
Jenis angket kedua berupa butir pertanyan tertutup dengan pilihan majemuk, yang dapat dipilih
lebih dari satu pilihan, sesuai kehendak dan kondisi responden. Pertanyaan dan piliahan didasarkan
pada indikator sesuai keperluan dan tujuan analisis kebutuhan ini. Indikator untuk angket analisis
kebutuhan tipe kedua ini disusun atas kode-kode, sebagai langkah sederhana dalam membedakan
setiap karakteristik serta arah tujuan indikator pertanyan. Hasil analisi pada setiap indikator diulas
sebagai berikut :
Gambar 4 mendekripsikan temuan hasil analisis indikator A1(2) mengenai daya dukung sarana
prasarana dalam pembelajaran IPA SMP di Tasikmalaya. Hasil menunjukkan bahwa infrastruktur
sekolah telah berada pada kategori siap untuk implementasi modul IPA digital. Akses internet menjadi
komponen paling menonjol dengan ketersediaan mencapai 96% pada guru dan 100% pada peserta
didik, sehingga fondasi utama pembelajaran berbasis teknologi dapat dikatakan sangat kuat.
Laboratorium komputer juga menunjukkan tingkat kesiapan tinggi dengan rata-rata 89% respon positif,
menandakan bahwa dukungan perangkat keras di sekolah cukup memadai. Smart board masih
tergolong terbatas karena hanya diakui oleh sekitar separuh responden, sehingga pemanfaatan
perangkat interaktif modern belum berjalan optimal. Proyektor tercatat digunakan secara luas dengan
rata-rata pemanfaatan mencapai 93%, memperlihatkan bahwa media visual masih menjadi instrumen
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
20
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
utama dalam penyampaian materi. Temuan ini secara keseluruhan mengindikasikan bahwa
pengembangan Modul IPA Digital Terintegrasi Etnosains Nilai Filosofis Kesundaan Pancaniti sangat
relevan untuk mengoptimalkan fasilitas yang tersedia serta meningkatkan kualitas pembelajaran yang
kontekstual, interaktif, dan sesuai tuntutan keterampilan abad ke-21.
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
21
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Grafik pada Gambar 5 menunjukkan bahwa keterlibatan guru dan peserta didik dalam
pembelajaran berbasis digital berada pada tingkat yang beragam. Seluruh responden telah mengikuti
pembelajaran daring, menandakan adaptasi digital yang merata dan didukung infrastruktur memadai.
Pemanfaatan e-learning masih moderat pada angka 58%, sementara penggunaan modul digital dan e-
book jauh lebih tinggi, masing-masing mencapai 91% dan 86%. Pemanfaatan laboratorium virtual relatif
rendah, yaitu sekitar 46%, sehingga praktik simulasi digital belum berkembang optimal. Temuan ini
menegaskan perlunya pengembangan Modul IPA berbasis Digital yang mampu menghadirkan
pembelajaran kontekstual, interaktif, fleksibel dan mudah diakses dengan sarana dan prasarana yang
sudah ada di sekolah saat ini.
Sejalan dengan temuan sebelumnya, kemudahan pada akses perangkat digital tentunya harus di
imbangi dengan pemberdayaan keterampilan abad ke-21 yang semakin meningkat. Ulasan grafik pada
Gambar 6 menggali kondisi nyata dilapangan merujuk pada tanggapan guru dan peserta didik
mengenai dukungan pembelajaran berbasis digital terhadap pemberdayaan keterampilan abad ke-21.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sejumlah keterampilan abad ke-21 belum terfasilitasi secara optimal
dalam pembelajaran IPA berbasis digital. Keterampilan pemecahan masalah mendapat respon tertinggi
sebesar 94%, sebagai keterampilan yang belum terfasilitasi secara optimal, dalam pembelajaran sains.
Keterampilan metakognitif mencapai 84%, disusul keterampilan kreatif dan pengambilan keputusan
pada kisaran 51–54%, sehingga tampak bahwa peserta didik masih membutuhkan strategi
pembelajaran yang lebih mendorong refleksi, inovasi, dan kemandirian intelektual. Literasi sains, literasi
digital, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan keterampilan proses sains berada pada respon rendah
36–45%, yang menunjukkan bahwa pembelajaran digital sudah mengarah pada pemberdayaan
keterampilan abda ke-
21 tersebut, meskipun belum sepenuhnya guru dan peserta didik mengalami pemberdayaan-
pemberdayaan keterampilan ini. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan Modul IPA Digital
yang menfasilitasi pemberdayaan keterampilan abad ke-21, dalam halini dikususkan pada keterampilan
pemecahan masalah dan metakognisi sebagai langkah strategis tujuan pembelajaran.
Pengembangan modul IPA digital yang diarahkan untuk memberdayakan keterampilan abad ke-
21 memperoleh urgensi akademik yang kuat karena karakteristik pembelajaran IPA saat ini menuntut
hadirnya bahan ajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi
dan sensitif terhadap konteks budaya peserta didik (Faizin & Kusumawati, 2024; Irhasyuarna et al.,
2022). Pembelajaran sains pada abad ke-21 perlu menumbuhkan keterampilan pemecahan masalah,
kemampuan reflektif, dan literasi ilmiah melalui pengalaman belajar yang kontekstual serta
penumbuhan kesadaran seperti kesadaran lingkungan, sehingga modul IPA digital berbasis kearifan
lokal menjadi media strategis untuk menjawab tantangan gelobal, seperti isu-isu perubahan lingkungan
(Alpianti & Amelia, 2024; Gök & Boncukçu, 2023). Pemanfaatan multimedia memberikan ruang bagi
representasi praktik baik kearifan lokal Masyarakat adat Sunda yang secara ekstraktif memiliki konsep
konsep pemahaman ilmiah, untuk di sajikan ulang dalam bentuk visual, berupa gambar, maupun video
praktik tradisi, dan simulasi digital yang selaras dengan konteks pemebrajaran IPA peserta didik.
Pembelajaran IPA abad ke-21 menuntut hadirnya modul digital yang berorientasi pada proses
berpikir tingkat tinggi (Faizin & Kusumawati, 2024). Keterampilan pemecahan masalah dan kesadarann
lingkungan, merupakan kompetensi abad ke-21 yang perlu diberdayakan peserta didik (Prastiwi et al.,
2019). Winarto et al. (2025) menegaskan bahwa pemberdayaan keterampilan pemecahan masalah dan
menumbuhkan kesadaran lingkungan peserta didik, hanya tercapai apabila bahan ajar memfasilitasi
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
22
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
eksplorasi, kolaborasi, dan rekonstruksi konsep secara mandiri. Modul IPA digital berbasis etnosains
Pancaniti memiliki potensi besar untuk memberikan pengalaman tersebut melalui skenario berbasis
masalah, studi kasus berbasis kearifan lokal, serta aktivitas eksploratif lingkungan yang memadukan
aspek empiris dan praktik baik kebudaya Sunda yang selaras dengan isu-isu global terkini berkaitan
permasalah lingkungan.
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
23
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Temuan penelitian menunjukkan urgensi kuat untuk mengembangkan Modul IPA Digital yang
relevan dan kontekstual melalui integrasi etnosains sebagai pendekatan pembelajaran. Penguatan
etnosains terbukti meningkatkan pemahaman konsep, motivasi belajar, dan pemberdayaan
keterampilan abad ke-21 peserta didik, sehingga modul digital perlu dirancang selaras dengan
kebutuhan tersebut. Warliani et al. (2024) menegaskan bahwa etnosains mampu menjembatani
pengalaman sehari-hari dengan konsep ilmiah sehingga peserta didik memperoleh pemahaman yang
lebih bermakna. Integrasi etnosains dalam platform digital menjadi semakin signifikan karena teknologi
memungkinkan penyajian visual, interaktif, dan naratif budaya yang sulit dicapai melalui modul cetak
tradisional (Haspen et al., 2021). Berdasarkan analisis peneliti, keselarasan antara kebutuhan
pembelajaran IPA digital dan potensi etnosains menunjukkan bahwa pengembangan modul berbasis
budaya lokal bukan hanya opsional, tetapi menjadi kebutuhan strategis untuk memperkuat pemahaman
sais yang relevan dengan kehidupan peserta didik.
Etnosains juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kecintaan peserta didik pada
lingkungan dan budaya lokal, sehingga modul digital yang mengintegrasikannya dapat memperkuat
identitas ekologis dan kultural mereka. Rahayu et al. (2023) membuktikan bahwa pembelajaran sains
berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan literasi lingkungan sekaligus membangun kepedulian
terhadap keberlanjutan ekosistem. Rachman et al. (2022) menunjukkan bahwa nilai Pancaniti dapat
memperkuat pembelajaran sains yang interaktif, kontekstual, dan berakar pada identitas budaya
peserta didik. Selarat dengan penelitian-penelitian terdahulu tersebut menegaskan bahwa integrasi lima
nilai Pancaniti (Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti, Niti Bakti, dan Niti Sajati) yang diintegrasikan kedalam
modul IPA digital tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep ilmiah, tetapi juga memberdayakan
keterampilan pemecahan masalah, membangun karakter, serta menumbuhkan kesadaran lingkungan
secara berkelanjutan (Istiningsih et al., 2024). Pancaniti sebagai salah satu kearifan lokal yang
menekankan proses transfer pengetahuan pada tradisi masyarakat sunda, dapat menjadi pendekatan
strategis pada pembelajaran sains yang sering kali berfokus pada aspek konseptual semata.
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
24
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Hasil analisis jawaban pertanyaan B2(2) yang disajikan pada Gambar 8, menunjukkan bahwa
guru dan peserta didik telah memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran dengan kecenderungan
yang penting bagi pengembangan modul IPA digital. Praktik baik kearifan lokal menjadi sumber dengan
persentase tertinggi, yaitu 94%, yang menujukan guru dan peserta didik merasa lebih mudah dalam
menjelaskan konsep sains melalui contoh penerapan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan kearifan
lokal tersebut memberi ruang bagi guru untuk mengaitkan konsep ilmiah dengan pengalaman sehari-
hari peserta didik serta mendorong pembentukan kesadaran ekologis dan identitas budaya. Sumber
lain seperti buku paket, artikel ilmiah, dan e-book memiliki persentase penggunaan tinggi, yang
menunjukan literatur tersebut relatif mudah diakses meskipun belum bersifat interaktif. Penggunaan
modul digital mencapai 88%, mengindikasikan kesiapan guru dan peserta didik untuk beralih pada
pembelajaran yang lebih interaktif, fleksibel dan inovatif. Pemanfaatan media massa dan isu sosial
masih berada pada kategori rendah, sehingga potensi penguatan konteks lingkungan aktual belum
sepenuhnya dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA.
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
25
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Selanjutnya Gambar 9, merupakan hasil analisis jawaban B2(3) yang menunjukkan bahwa
sumber pembelajaran IPA yang dianggap paling relevan dipengaruhi oleh integrasi kearifan lokal dan
pemanfaatan teknologi digital, sebagaimana terlihat pada dominasi praktik baik kearifan lokal dengan
rata-rata 94% yang menjadi pilihan tertinggi. Data grafik juga memperlihatkan bahwa modul digital
(88%) dan pencarian online (85%) berada pada kategori penggunaan tinggi, sehingga pendekatan
berbasis teknologi dianggap efektif dalam memperluas akses belajar. Artikel ilmiah (70%), e-book
(82%), dan buku paket (53%) masih dimanfaatkan secara signifikan, menandakan perlunya penyajian
konten ilmiah dalam format yang lebih adaptif agar mudah dipahami peserta didik. Sebaliknya, media
massa (39%) dan isu sosial yang berkembang (43%) menunjukkan persentase terendah, sehingga
informasi lingkungan aktual belum menjadi rujukan utama dalam menumbuhkan kemampuan berpikir
kritis. Secara keseluruhan, kecenderungan kuat terhadap sumber berbasis kearifan lokal dan digital
menegaskan urgensi pengembangan modul IPA digital terintegrasi etnosains Pancaniti untuk
memperkuat pemahaman konsep, keterampilan pemecahan masalah, dan kesadaran lingkungan
peserta didik di Tasikmalaya.
Analisis jawaban pertanyaan B3(2) yang ditunjukan grafik pada gambar 10 tersebut menunjukkan
bahwa kebutuhan media pembelajaran IPA di tingkat SMP secara jelas berpusat pada modul IPA digital
yang menempati posisi tertinggi dengan rata-rata 90% (guru 88%, peserta didik 92%), sehingga media
ini dipandang paling praktis, fleksibel, dan sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21; minat
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
26
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
terhadap video pembelajaran (69%), lembar kerja peserta didik (75%), dan e-book (58%) turut
menguatkan pergeseran dari bahan ajar cetak menuju media interaktif, sementara platform daring
(54%) dan smart board (65%) menandakan keterbukaan terhadap inovasi digital, tetapi media
konvensional seperti papan tulis (17%) dan power point (39%) mulai ditinggalkan karena dinilai kurang
mendukung kebutuhan pembelajaran berbasis teknologi. Temuan ini menegaskan bahwa modul digital
menjadi prioritas utama dalam pengembangan pembelajaran IPA, dan integrasi nilai etnosains
Kesundaan Pancaniti di dalamnya akan memperkaya fungsi modul sehingga tidak hanya
menyampaikan materi, tetapi juga memperkuat pembelajaran kontekstual yang menumbuhkan
kesadaran budaya serta kepedulian lingkungan peserta didik. Merujuk konteks tersebut,
pengembangan Modul IPA Digital Terintegrasi Etnosains Nilai Filosofis Kesundaan Pancaniti menjadi
kebutuhan strategis yang mendesak karena mampu memberdayakan keterampilan pemecahan
masalah berbasis konteks lingkungan sekaligus menanamkan kearifan lokal yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari peserta didik.
Analisis pada respon pertanyaan B4(2) yang digambarkan melalui grafik pada Gambar 11,
menunjukkan kebutuhan kuat terhadap materi IPA berbasis lingkungan yang terintegrasi dengan
kearifan lokal, terlihat dari tingginya minat pada topik “Pengaruh lingkungan terhadap suatu organisme”
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
27
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
dengan rata-rata 93% (guru 90%, peserta didik 96%) sebagai tema paling relevan untuk pembelajaran
kontekstual, diikuti topik “Ekosistem” (94%) dan “Konservasi” (93%) yang menegaskan pentingnya
penanaman kesadaran ekologis sejak dini; sebaliknya, topik “Kerusakan lingkungan” (68%) dan
“Pemanasan global” (67%) berada pada kategori sedang, sedangkan pencemaran air (54%), tanah
(41%), dan udara (23%) menunjukkan minat lebih rendah, mencerminkan preferensi peserta didik
terhadap tema besar yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya dibanding isu
pencemaran yang lebih spesifik. Temuan ini menguatkan urgensi pengembangan Modul IPA Digital
Terintegrasi Etnosains Nilai Filosofis Kesundaan Pancaniti yang memadukan teknologi pembelajaran
dengan nilai harmoni dan keberlanjutan, sehingga tidak hanya memperkaya pemahaman konseptual
tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan keterampilan pemecahan masalah melalui konteks
nyata kehidupan sehari-hari, menjadikannya kebutuhan strategis dalam menghadirkan pembelajaran
IPA abad ke-21 yang kontekstual, kolaboratif, dan berkarakter.
Analisis yang ditunjukan grafik perbandingan tanggapan pertanyaan B5(2) pada Gambar 12,
menunjukkan bahwa keterampilan pemecahan masalah menjadi prioritas utama dalam pembelajaran
IPA pada materi Pengaruh Lingkungan terhadap Organisme yang perlu diberdayakan, dengan
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
28
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
persentase tertinggi rata-rata 84% (guru 81%, peserta didik 88%), sehingga kemampuan merancang
solusi terhadap persoalan lingkungan nyata dianggap paling mendesak untuk dikuatkan; keterampilan
pengambilan keputusan (71%), berpikir kritis (70%), dan kesadaran lingkungan (70%) juga menonjol,
menandakan bahwa pembelajaran IPA perlu mendorong kemampuan analitis sekaligus membentuk
sikap peduli ekologis peserta didik; sementara itu, literasi sains (54%), literasi digital (53%), proses
sains (48%), dan komunikasi (43%) menunjukkan capaian lebih rendah, tetapi tetap menjadi fondasi
penting untuk memahami sains secara kontekstual dan menyampaikan gagasan ilmiah secara efektif.
Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan Modul IPA Digital Terintegrasi Etnosains Nilai
Filosofis Kesundaan Pancaniti yang berorientasi pada penguatan keterampilan pemecahan masalah,
pengambilan keputusan, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran lingkungan, sehingga pembelajaran
menjadi lebih kontekstual, reflektif, dan relevan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 yang
menyeimbangkan pengetahuan ilmiah, teknologi digital, dan kearifan lokal.
Kajian pengembangan modul IPA berbasis etnosains memberikan bukti kuat bahwa pendekatan
ini mampu meningkatkan pemahaman sains peserta didik di tingkat SMP. Penelitian oleh Nihwan &
Widodo (2020), memperlihatkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan abad ke-21
ketika peserta didik belajar menggunakan modul etnosains pada materi tanah dan keberlangsungan
kehidupan. Interaksi peserta didik dengan konteks budaya setempat membantu mereka memahami
hubungan antara fenomena ilmiah dan realitas sehari-hari. Keterkaitan tersebut sangat relevan bagi
sekolah-sekolah di Tasikmalaya yang memiliki kekayaan kearifan lokal sebagai sumber belajar natural.
Urgensi pengembangan modul digital terintegrasi etnosains hadir dari kebutuhan menghadirkan materi
yang kontekstual, bermakna, dan dekat dengan pengalaman hidup peserta didik.
Pemanfaatan modul IPA digital berbasis web terbukti mampu meningkatkan literasi digital
sekaligus hasil belajar peserta didik. Studi yang dilakukan Ismail, Ismail et al. (2024) menunjukkan
bahwa modul daring yang dikembangkan memiliki tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitas tinggi
dalam pembelajaran IPA. Ketersediaan modul digital memberi peluang bagi peserta didik untuk belajar
secara fleksibel tanpa terbatas ruang atau ketersediaan buku fisik. Pengalaman belajar tersebut
memberi kemudahan bagi peserta didik di wilayah dengan keterbatasan sumber ajar cetak, termasuk
Tasikmalaya. Kebutuhan terhadap modul IPA digital menjadi semakin penting karena dapat mengatasi
kesenjangan akses dan menyediakan konten yang lebih adaptif.
Integrasi pendekatan STEM, etnosains, dan model pembelajaran berbasis masalah terbukti
efektif dalam meningkatkan keterampilan kognitif peserta didik. Temuan Noviati & Widowati (2025)
menunjukkan bahwa modul elektronik bertema etnosains seperti “red brick making” dapat memperkuat
keterampilan pemecahan masalah peserta didik. Penggunaan konteks budaya lokal memudahkan
peserta didik menghubungkan konsep IPA dengan aktivitas masyarakat di lingkungan mereka.
Pembelajaran seperti ini sangat potensial diterapkan di Tasikmalaya yang memiliki karakter lokal kuat
dan beragam. Pengembangan modul IPA digital terintegrasi etnosains menjadi kebutuhan strategis
untuk memperkaya pengalaman belajar yang lebih aplikasi-minded dan relevan.
Kehadiran e-modul interaktif dalam pembelajaran IPA terbukti memberi dampak positif terhadap
kreativitas dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Penelitian Herlina et al. (2025) menegaskan
bahwa modul interaktif berbasis digital mendorong munculnya gagasan baru dan meningkatkan
ketertarikan peserta didik terhadap materi. Tampilan visual, aktivitas interaktif, dan penyajian multimedia
membuat pembelajaran lebih hidup daripada bahan ajar konvensional. Peserta didik di Tasikmalaya
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
29
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
berpotensi mendapatkan manfaat serupa melalui modul digital yang menampilkan nilai lokal secara
naratif dan visual. Penguatan kemampuan abad ke-21 melalui modul digital menjadi alasan kuat untuk
percepatan pengembangannya.
Keterbatasan bahan ajar inovatif masih menjadi kendala yang cukup menonjol dalam
pembelajaran IPA di banyak sekolah. Hasil temuan Syafruddin & Noviati (2024) menunjukkan dominasi
penggunaan buku teks konvensional yang berdampak pada rendahnya kemandirian belajar peserta
didik serta minimnya inisiatif guru dalam mengembangkan media alternatif. Kesempatan untuk
mengakses modul elektronik memberi peluang menghadirkan materi yang lebih dinamis dan mudah
diperbarui. Ketersediaan modul digital terintegrasi etnosains dapat menjawab kebutuhan tersebut
dengan menyediakan konten yang sesuai dengan karakter lokal peserta didik di Tasikmalaya. Upaya
pengembangan modul IPA digital menjadi prioritas mengingat pentingnya menyediakan bahan ajar
inovatif yang relevan secara budaya dan responsif terhadap tuntutan zaman.
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan modul IPA digital terintegrasi nilai-nilai
Pancaniti merupakan kebutuhan mendesak dalam pembelajaran IPA SMP di Tasikmalaya, ditandai
dengan kesiapan sarana digital yang tinggi, pengalaman pembelajaran berbasis teknologi yang luas,
serta tingginya ketertarikan guru dan peserta didik terhadap sumber belajar yang kontekstual dan
berbasis kearifan lokal. Analisis kebutuhan mengungkap bahwa kemampuan pemecahan masalah,
metakognisi, kesadaran lingkungan, dan literasi sains masih belum optimal diberdayakan melalui
pembelajaran yang ada, sehingga modul digital berbasis etnosains dipandang mampu menjembatani
kekurangan tersebut. Integrasi nilai-nilai Pancaniti memberi landasan budaya yang kuat untuk
menghubungkan konsep ilmiah dengan pengalaman sehari-hari peserta didik, sehingga pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan berkarakter. Temuan ini menegaskan bahwa modul IPA digital yang
dikembangkan perlu dirancang interaktif, relevan dengan konteks lokal, serta mampu memfasilitasi
penguatan keterampilan abad ke-21. Secara keseluruhan, hasil penelitian memberikan dasar
konseptual yang kuat bahwa integrasi sains, teknologi, dan budaya melalui modul digital merupakan
langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA secara berkelanjutan.
RUJUKAN
Aikenhead, G. S. (1996). Science education: Border crossing into the subculture of science. Studies in
Science Education, 27(1), 1–52. [Link]
Alpianti, N. T. P., & Amelia, R. N. (2024). Infusing learners’ problem-solving skills through problem-
based learning model assisted socio-scientific issues (SSI) worksheet on environmental
pollution. JPPS (Jurnal Penelitian Pendidikan Sains), 13(2), 83–99.
[Link]
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
30
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Badriah, L., Mahanal, S., Lukiati, B., & Sari, M. S. (2024). Collaborative mind mapping in RICOSRE
learning model to improve students’ information literacy. International Journal of Evaluation and
Research in Education , 13(1), 559–569. [Link]
Branch, R. M. (2009). Instructional design : The ADDIE approach. In Journal of Chemical Information
and Modeling. Springer. [Link]
British Educational Research Association [BERA]. (2019). Ethical guidelines for educational research,
fourth edition (2018) | BERA. In Ethical Guidelines for Educational Research, fourth edit.
Creswell, J. W., & Creswell, J. David. (2018). Research design : Qualitative, quantitative, and mixed
methods approaches (H. Salmon, Ed.; 5th ed.). SAGE Publications, Inc.
Dinurrohmah, S., Sari, G. M. A., Wisutama, R. A., Sulaeman, N. F., & Nuryadin, A. (2023). Potensi
pembelajaran berbasis etnosains dalam buku ajar kurikulum merdeka IPA SMP kelas VII.
Kappa Journal, 7(2), 184–192. [Link]
Etikan, I. (2017). Sampling and sampling methods. Biometrics & Biostatistics International Journal, 5(6).
[Link]
Faizin, Muh. H., & Kusumawati, E. R. (2024). Development of e-modules containing Ethno-STREAM
integrated local wisdom in science learning to increase environmental literacy. International
Interdisciplinary Conference and Research Expo 2024, 01(01), 23–31.
[Link]
Fauziah, F., Suyanti, R. D., & Silaban, R. (2024). Pengembangan bahan ajar (E-Book) kimia berbasis
CTL-PBL untuk meningkatkan kemampuan literasi sains dan berpikir kritis siswa. Jurnal
Pendidikan Matematika dan Sains, 12(2), 162–171. [Link]
Fraenk, J. R., & Wallen, N. E. (2012). How to design and evaluate research in education (Eighth
edition). In H. H. Hyun (Ed.), Proceedings of the National Academy of Sciences (8th ed., Vol. 3,
Issue 1). McGraw-Hill.
Gök, G., & Boncukçu, G. (2023). The effect of problem-based learning on middle school students’
environmental literacy and problem-solving skills. Journal of Science Learning, 6(4).
[Link]
Hasibuan, A. A. U., Lubis, K., Sinambela, M., Sari, W. D. P., Ningsih, W., Siregar, K. J., Annisa, A.-M.,
Purba, S. K., & Lubis, G. D. U. (2025). Pengembangan monopoli berbantuan teknologi qr code
sebagai media pembelajaran IPA pada materi keanekaragaman hayati Indonesia di SMP
Negeri 27 Medan. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 12(1).
[Link]
Haspen, C. D. T., Syafriani, S., & Ramli, R. (2021). Validitas e-modul fisika SMA berbasis inkuiri
terbimbing terintegrasi etnosains untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik.
JEP : Jurnal Ekstrakta Pendidikan, 5(1), 95–101. [Link]
Hasyim, N. H., Lamangantjo, C. J., & Pikoli, M. (2024). Pengembangan modul pembelajaran IPA
berbasis etnosains pada materi zat aditif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Eduproxima: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA, 6(4), 1207–1217.
[Link]
Herlina, E., Hindriana, A. F., & Ismail, A. Y. (2025). Pengembangan e-modul interaktif IPA pada
pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan berpikir kreatif dan mengembangkan
kreativitas siswa. Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar, 9(1), 67–88.
[Link]
Herlinawati, N., & Octavia, B. (2025). Tempoyak as a biotechnology learning media: Innovation of
ethnoscience-based PjBL E-module to improve science literacy and creativity of phase e
students. Scientiae Educatia, 14(1), 1–16. [Link]
Hernawati, D., Putra, R. R., & Meylani, V. (2022). Indigenous vegetables consumed as lalapan by a
Sundanese ethnic group in West Java, Indonesia: Potential, traditions, local knowledge, and it’s
future. South African Journal of Botany, 151, 133–145.
[Link]
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
31
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Hidayat, A. (2023). Manajemen pendidikan karakter berbasis TDBA dalam meningkatkan mutu lulusan
yang kreatif dan inovatif. IMEIJI : Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 4(2).
[Link]
Hutasoit, D. P., Gultom, E. S., & Hafzari, R. (2025). Uji kelayakan buku saku digital berbasis socio-
scientific issues (SSI) pada materi dampak penerapan bioteknologi kelas ix SMPN 37 Medan.
Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 15(3). [Link]
Irhasyuarna, Y., Kusasi, M., Fahmi, F., Fajeriadi, H., Aulia, W. R., Nikmah, S., & Rahili, Z. (2022).
Integrated science teaching materials with local wisdom insights to improve students’ critical
thinking ability. BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan, 4(3), 328.
[Link]
Ismail, M. N. K., Supeno, S., & Rusdianto, R. (2024). Development of web-based modules to improve
digital literacy and learning outcomes in science learning. Jurnal Paedagogy, 11(3), 451.
[Link]
Istiningsih, G., Sukmarani, D., Sugiarti, I. Y., & Putri, N. U. (2024). The effectiveness of the Adiwiyata
program in enhancing environmental problem-solving skills. BIS Humanities and Social
Science, 1, V124001. [Link]
Juhariyani, R., Ragil, I., & Atmojo, W. (2025). Integrasi etnosains dalam model pembelajaran contextual
teaching and learning (CTL) pada pembelajaran IPAS untuk meningkatkan berpikir kritis siswa
SD. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2). [Link]
Lubis, S. P. W., Suryadarma, I. G. P., Paidi, P., & Jatmiko, J. (2022). Local wisdom-based science
learning model in Indonesia (Meta-analysis). Proceedings of the International Seminar on
Business, Education and Science, 1. [Link]
Makaborang, Y. (2023). Pengembangan media pembelajaran 3 dimensi sebagai sumber belajar IPA
biologi di sekolah dasar Kabupaten Sumba Timur. Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah
Ibtidaiyah, 7(3). [Link]
Mulhayatiah, D., Purwanti, P., Setya, W., Suhendi, H. Y., Kariadinata, R., & Hartini, S. (2019). The
impact of digital learning module in improving students' problem-solving skills. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Fisika Al-Biruni, 8(1). [Link]
Nihwan, M. T., & Widodo, W. (2020). Penerapan modul IPA berbasis etnosains untuk meningkatkan
kemampuan literasi sains siswa SMP. Pensa E-Jurnal : Pendidikan Sains, 8(3).
[Link]
Noviati, D. R., & Widowati, A. (2025). Development of an electronic module based on PBL-STEM in a
contextual ethnoscience learning “red brick making” to improve students’ problem-solving skills.
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 10(1), 2025. [Link]
Nuratilah, A. S. (2024). Penerapan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) berbasis
pancaniti untuk meningkatkan kesadaran ekologis siswa: Penelitian tindakan kelas pada sub
materi pemberdayaan barang bekas mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup siswa kelas iii
SeKo [Universitas Pendidikan Indonesia]. [Link]
Prastiwi, L., Sigit, D. V., & Ristanto, R. H. (2019). Ecological literacy, environmental awareness,
academic ability and environmental problem-solving skill at adiwiyata school. Indonesian
Journal of Science and Education, 3(2). [Link]
Prayitno, T. A., Hidayati, N., & Uma, N. U. R. (2024). Pengembangan buku ajar biologi berbasis STEM
education-PjBL pada materi plantae. Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya (JB&P), 11(1), 105–
119. [Link]
Purwanto, P. (2025). Menyemai karakter linuhung : Transformasi Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
(R. Fadhli & E. S. Hidayat, Eds.). Indonesia Emas Group.
Rachman, E. A., Sari, D. Y., Humaeroh, D., Wahidin, D., & Hanafiah, H. (2022). Model pembelajaran
pancaniti dalam pendidikan karakter. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 8(4), 1533–1546.
[Link]
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
32
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Rahayu, R., Sutikno, & Indriyanti, D. R. (2023). Ethnosains based project based learning model with
flipped classroom on creative thinking skills. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(8).
[Link]
Ranuharja, F., Ganefri, G., Fajri, B. R., Prasetya, F., & Samala, A. D. (2021). Development of interactive
learning media edugame using ADDIE model. Jurnal Teknologi Informasi dan Pendidikan,
14(1). [Link]
Ratnasari, D., Sidiq, F., & Saputra, J. (2023). Local wisdom, environmental management and
sustainable traditions in Naga Village, Tasikmalaya Regency. International Journal of Ethno-
Sciences and Education Research, 3(4). [Link]
Renita, A. (2020). Pengembangan ensiklopedia tumbuhan paku sebagai sumber belajar
keanekaragaman hayati. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 7(1).
[Link]
Rezeki, S., Marjanah, M., & Fitria, D. (2024). Penggunaan e-modul pembelajaran IPA terhadap hasil
belajar siswa SMP. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 11(2), 200–212.
[Link]
Rusmana, R., Muthi, I., & Baharuddin. (2024). Environmental education based on pancaniti local
wisdom in Purwakarta Regency. International Conference on Actual Islamic Studies, 3(1).
Sari, S. A., & Marbun, C. J. H. (2025). Development of contextual-based chemistry teaching materials
on the subject of buffer solution in senior high school. EDUPROXIMA : Jurnal Ilmiah Pendidikan
IPA, 7(1), 60–73. [Link]
Sari, S. P., Mapuah, S., & Sunaryo, I. (2021). Pembelajaran ilmu pengetahuan alam berbasis etnosains
untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar. EduBase : Journal of
Basic Education, 2(1), 9. [Link]
Suastra, & Wayan, I. (2017). Model pembelajaran sains berbasis budaya. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pendidikan, 5(3), 258–271. [Link]
Sugiyono, S. (2022). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. In @2022, Penerbit Alfabeta,
Bandung (2nd ed.). Penerbit Alfabeta.
Supriatna, A. Y., Hernawati, D., Badriah, L., & Ruganda, E. (2025). Profil pengembangan modul ajar
IPA terintegrasi etnosains sebagai upaya penguatan konsep ilmiah: Systematic literature
review. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 13(1), 157–171.
[Link]
Syafruddin, S., & Noviati, W. (2024). Modul elektronik IPA terpadu berbasis pendidikan karakter sebagai
inovasi bahan ajar untuk sekolah menengah pertama. Jurnal Esabi (Jurnal Edukasi Dan Sains
Biologi), 6(1), 8–18. [Link]
Toharudin, U., & Kurniawan, S. (2017). Sundanese cultural values of local wisdom: Integrated to
develop a model of learning biology. International Journal of Sciences: Basic and Applied
Research (IJSBAR) International Journal of Sciences: Basic and Applied Research, 32(1).
Warliani, R., Sriyati, S., & Liliawati, W. (2024). Analisis etnosains dalam tradisi ngawuwuh di Kabupaten
Garut untuk pembelajaran IPA. Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya (JIFP), 8(2), 73–79.
[Link]
Weldami, T. P., & Yogica, R. (2023). Model ADDIE Branch dalam pengembangan e-learning biologi.
Journal on Education, 06(01). [Link]
Widoyoko, E. P. (2016). Teknik teknik penyusunan instrumen penelitian. (Vol. 15, Issue April).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winarto, W., Putri, A. F., Fahrezy, M., Arti, Y., Krsityaningrum, D. H., Rahayu, R., Ariyatun, & Retnadi
Rias Hayu, W. (2025). How to improve students’ problem-solving skills and environmental
awareness: A study of the impact of worksheet problem-based learning on local potential of
landfills Bantul region. Multidisciplinary Science Journal, 7(12).
[Link]
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
33
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan
JB&P: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya
Vol. 13, No. 1 (2026), Hal. 14– 34
Yuliana, I., Cahyono, M. E., Widodo, W., & Irwanto, I. (2021). The effect of ethnoscience-themed picture
books embedded within contextbased learning on students’ scientific literacy. Eurasian Journal
of Educational Research, 2021(92), 317–334. [Link]
Zidny, R., & Eilks, I. (2020). Integrating perspectives from indigenous knowledge and Western science
in secondary and higher chemistry learning to contribute to sustainability education. Sustainable
Chemistry and Pharmacy, 16, 100229. [Link]
Asep Yudi Supriatna, Diana Hernawati, Liah Badriah – Pengembangan Modul IPA Digital
34
Terintegrasi Etnosains Pancaniti Berbasis Kearifan Lokal Sunda : Analisis Kebutuhan