BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Burung merupakan bagian terpenting dari suatu ekosistem yang bisa
bermanfaat untuk membantu penyerbukan bunga dan menyebarkan benih-benih
dari berbagai banyak tanaman untuk manusia secara ekonomis ataupun ekologi
serta membantu dalam mengendalikan hama, sehingga perlu adanya pelestarian
yang baik pada spesies tersebut. (Tisar Adi Saputra, 2019). Burung merupakan
suatu komponen ekosistem yang memiliki hubungan timbal balik yang memiliki
ketergantungan satu sama lain dengan lingkungannya. Bagi manusia, burung juga
termasuk jenis satwa yang memiliki banyak fungsi serta manfaat secara ekologi,
ekonomis, budaya, estetika dan ilmu pengetahuan. (Arumsari, 1989). Untuk saat ini
diperkirakan terdapat sekitar 8.800-10.200 spesies burung di seluruh dunia dan
sekitar 1.500 jenis di antaranya ditemukan di Indonesia serta 465 jenis terdapat di
Pulau Sumatera. (Kuswanda, 2010).
Burung (Aves) merupakan suatu komponen ekosistem yang memiliki
peranan penting untuk berlangsungnya suatu siklus kehidupan organisme dan
sebagai sumber utama yang memberikan warna tersendiri bagi kekayaan fauna
yang ada di Indonesia. (Kuswanda, 2010). Burung (Aves) yaitu salah satu hewan
yang bisa dilihat dan dinikmati dari berbagai seni baik keindahan corak maupun
warna-warna yang terdapat pada bulu nya atau keindahan dari suaranya. Banyak
jenis burung yang dicari untuk ditangkap, dijual, serta dipelihara. kegiatan tersebut
sangat berpengaruh terhadap kondisi penurunan jumlah jenis dan populasi burung
yang ada di Alam. (Ezi, 2014). Burung (Aves) di Indonesia seringkali dikaitkan
dengan kondisi lingkungan, karena semakin tinggi keanekaragaman jenis burung
(Aves) maka semakin seimbang suatu ekosistem di wilayah tempat hidup burung
tersebut. (Iwan Setia Kurniawan, 2019). Hutan merupakan penghasil oksigen yang
cukup besar peranannya untuk bumi, hutan memiliki fungsi yang tidak hanya untuk
menyimpan sumberdaya alam berupa tumbuhan-tumbuhan seperti kayu, tetapi
masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat
melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. (Lazuardi, 2016). Air
merupakan sumber daya alam yang salah satunya berasal dari hutan. Sebagai fungsi
1
2
penyedia air bagi kehidupan, hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat
penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat tumbuhnya berbagai macam
tumbuh-tumbuhan. (Tahnur, 2018). Namun, ancaman perburuan liar yang terus
meningkat menyebabkan beragam jenis burung harus dilindungi karena
populasinya sudah dalam kondisi hampir terancam punah. (Kuswanda, 2010).
Ancaman perburuan liar semakin hari semakin terus meningkat, peningkatan
pemburuan liar ini mengakibatkan banyak spesies dari burung hampir terancam
punah dan harus dilindungi (Kuswanda, 2010). Selain dari pemburuan liar yang
mengakibatkan populasi burung menurun ada berbagai macam faktor seperti,
pembukaan lahan yang menyababkan habitat burung menjadi terancam, selain itu
kegiatan perburuan yang dilakukan juga mengancam populasi burung di habitatnya,
serta faktor-faktor lain yang berpotensi mengganggu keberadaannya di alam yang
mengakibatkan jenis dan jumlah burung seiring berkembangnya waktu semakin
hari semakin berkurang. Maka dari itu penelitian tentang burung ini sangat
diperlukan, karena telah terjadi penurunan yang disebabkan oleh beberapa faktor
seperti pembukaan lahan yang menyebabkan habitat burung menjadi terancam
selain itu ada pula kegiatan perburuan liar. (Ezi, 2014). Selain karena pemburuan
terhadap burung, ada faktor lain yang dapat mempengaruhi populasi burung
tersebut punah, misalnya : karena adanya penebangan pohon-pohon yang ada di
hutan untuk pembangunan gedung-gedung, lapisan ozon menipis yang
mengakibatkan kebakaran hutan, atau bisa jadi karena semakin banyaknya aktivitas
manusia yang ada di sekitar lingkungannya. (Iwan Setia Kurniawan, 2019).
Kawasan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu
yang mempunyai fungsi pokok utama untuk pengawetan keanekaragaman berbagai
macam tumbuhan dan satwa serta ekosistem yang ada didalamnya. (Risnandar,
2020). berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya. kawasan
konservasi ataupun kawasan yang dilindungi ditetapkan oleh pemerintah
(Perhutanan, 2013). Setiap negara memiliki kategori nya sendiri dalam hal
penetapan kawasan yang akan dilindungi, dimana masing-masing Negara nya
mempunyai tujuan dan perlakuan yang mungkin berbeda-beda. Namun di tingkat
internasional, WCPA (World Commission on Protected Areas) yang merupakan
komisi di bawah IUCN (The World Conservation Union) memiliki tanggung jawab
3
untuk menjaga lingkungan konservasi di dunia, baik untuk wilayah darat maupun
perairan, yaitu CNPPA. (Komisi Taman Nasional. (Lazuardi, 2016).
Semakin banyak pemburuan liar yang terjadi di Imdonesia mengakibatkan
hilangnya jenis-jenis burung misalnya yang ada di Pulau Jawa. Kelangkaan atau
hilangnya jenis-jenis burung (Aves), bisa dilihat dari jumlah maupun
keanekaragamannya. (MacKinnon, 2010, p. hlm 23). Burung (aves) memiliki nilai
ekonomis yang sangat tinggi, maka tidak heran semakin hari semakin banyak
pemburuan liar. Misalnya burung Rangkong gading,yang bisa dijual paruhnya
kepada seniman untuk diukir menjadi patung. (MacKinnon, 2010, p. hlm 12).
Semakin banyak jenis-jenis burung yang diburu maka semakin menurun populasi
kanekaragamannya, makadari itu burung (aves) memerlukan perhatian yang sangat
serius untuk mempertahankan jenis-jenisnya agar tidak punah. (MacKinnon, 2010,
p. hlm 13).
Salah satu situs konservasi yang berperan penting dalam perlindungan berbagai
spesies adalah Cagar Alam. Cagar Alam berfungsi sebagai perlindungan bagi
banyak spesies dan upaya konservasi keanekaragaman hayati. Fakta menunjukkan
bahwa banyak permasalahan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia,
antara lain kurang efektifnya pengelolaan kawasan untuk memenuhi kebutuhan
lahan akibat pemekaran wilayah. (Iwan Setia Kurniawan, 2019). Cagar Alam
adalah salah satu situs konservasi penting yang membantu untuk melindungi
berbagai spesies. Cagar Alam melindungi berbagai spesies sekaligus
mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati. Fakta membuktikan bahwa
pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia memiliki berbagai tantangan, antara
lain kurang efektifnya pengelolaan kawasan untuk memenuhi kebutuhan lahan
akibat pemekaran wilayah. (Perhutanan, 2013). Cagar Alam adalah salah satu situs
konservasi penting yang membantu untuk melindungi berbagai spesies. Cagar
Alam melindungi berbagai spesies sekaligus mempromosikan konservasi
keanekaragaman hayati. Fakta membuktikan bahwa pengelolaan kawasan
konservasi di Indonesia memiliki berbagai tantangan, antara lain kurang efektifnya
pengelolaan kawasan untuk memenuhi kebutuhan lahan akibat pemekaran wilayah.
(Arumsari, 1989).
4
Pemerintah Indonesia telah meningkatkan kawasan konservasi untuk menjaga
habitat burung, baik berupa kawasan konservasi alam, cagar alam, maupun hutan
lindung. (Kuswanda, 2010). Seperti yang terjadi di kawasan Gunung Burangrang
Kabupaten Bandung Barat. Akibatnya, penurunan jumlah burung berdampak tidak
langsung pada keseimbangan dan konservasi ekologi, sehingga perlu dilakukan
konservasi. SK Menteri Pertanian 479/Kpts/Um/8/1979 tanggal 2 Agustus 1979
menetapkan kawasan hutan Burangrang sebagai cagar alam seluas 2.700 hektar. Ini
adalah daerah pegunungan yang tinggi. (Supiandi, 2021). Pada umumnya kondisi
lapangan berbukit-bukit, dengan kemiringan lereng berkisar antara 15% sampai
50% bergelombang dan 35% bentuk bebatuan terjal. pada ketinggian 1000-1500
meter di atas permukaan laut Curah hujan di wilayah CA Burangrang dan
sekitarnya tercatat sebesar 5.200 mm/tahun, menurut data dari Stasiun Pengamatan
Curah Hujan Wanayasa. Ini sesuai dengan kategori B klasifikasi iklim Schmidt dan
Ferguson, dengan nilai Q 20-33 persen. Musim hujan berlangsung dari bulan
Oktober sampai Juni, sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan Juli
sampai September. (Supiandi, 2021).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Bendika Ilman Nur (2018),
yang berjudul “Identifikasi Hewan Kelas Aves Di Kawasan Hutan Gunung
Tangkuban Parahu Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat”. Pada penelitian ini
berhasil teridentifikasi aves dari ordo Passeriformes sebanyak 15 jenis,
Columbiformes sebanyak 2 jenis, Apodiformes sebanyak 1 jenis, Cuculiformes
sebanyak 2 jenis. Falconiformes sebanyak 1 jenis, Acciptriformes sebanyak 1
jenis,dengan total 22 spesies aves.
Adapun penelitian lainnya yang telah dilakukan oleh Selli Yudini (2016),
yang berjudul “Keanekaragaman Burung Pada Berbagai Tipe Habitat Di
Kecamatan Singkil Sebagai Referensi Pendukung Pembelajaran Materi
Keanekaragaman Hayati Di Sekolah Menengah Atas”. Pada penelitian ini berhasil
teridentifikasi spesies burung yang diperoleh yaitu 33 spesies dari 18 famili. Indeks
keanekaragaman pada masing-masing tipe habitat, yaitu habitat pemukiman dengan
Ĥ= 2,050, habitat rawa dengan Ĥ= 2,166, habitat hutan dengan Ĥ= 2,572, habitat
perkebunan dengan Ĥ= 1,940, dan habitat pantai dengan Ĥ= 1,349.
5
Berdasarkan hasil survey yang berlokasi di Gunung burangrang bagian Utara
Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 17 Februari 2021 dihasilkan bahwa survey
pertama dilakukan pada pukul 10.00-12.00 WIB disana saya mengamati keadaan
sekitar bahwa telah ditemukan belum adanya konservasi hutan. Lalu, survei kedua
dilakukan pada pukul 15.00-17.00 WIB pada survei yang kedua saya berjalan ke
arah Utara, untuk mencari lokasi yang pas untuk dijadikan tempat penelitian serta
tidak lupa untuk menandai area lokasi dengan membuat plot yang sesuai dengan
batasan masalah. Selain melihat keadaan disana dan membuat plot untuk
menentukan lokasi penelitian, untuk mengenai cuaca di Gunung Burangrang bagian
Utara Kabupaten Bandung Barat pada saat itu sedang tidak menentu seperti tiba-
tiba turun hujan dan terjadi angin kencang. Maka untuk mengamati aves yang ada
di sekitar Gunung Burangrang pada Bagian Utara pada saat itu agak sulit, hanya
beberapa burung yang terlihat bahkan tidak jarang saya hanya mendengar suaranya
dikarenakan kondisi cuaca yang tidak menentu.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dapat diidentifikasikan masalahnya yaitu
sebagai berikut :
1. Belum adanya konservasi hutan di lokasi penelitian yaitu lebih tepatnya di
Gunung Burangrang bagian Utara Kabupaten Bandung Barat.
2. Jenis burung (Aves) yang ada di Gunung Burangrang Kabupaten Bandung
Barat belum teridentifikasi kelas nya.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang di dapat seperti
berikut : “Bagaimana Identifikasi kelas Aves di Gunung Burangrang bagian Utara
Kabupaten Bandung barat?”
1. Mengidentifikasi kelas Aves di Gunung Burangrang bagian Utara Kabupaten
Bandung Barat.
2. Populasi kelas Aves yang ada di Gunung Burangrang bagian Utara Kabupaten
Bandung Barat.
6
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengidentifikasi kelas Aves di Gunung Burangrang bagian Utara
Kabupaten Bandung Barat.
2. Untuk mengetahui populasi kelas Aves yang ada di Gunung Burangrang bagian
Utara Kabupaten Bandung Barat.
E. Batasan Masalah
Agar penelitian ini dilakukan sesuai dengan pokok permasalahan dan tidak meluas
dari rumusan masalah, maka dibuat batasan masalah seperti berikut :
a. Identifikasi hanya sampai pada kelas aves yang terlihat pada lokasi
pengamatan.
b. Penelitian ini hanya dilakukan di Gunung Burangrang bagian Utara Kabupaten
Bandung Barat.
c. Metode yang digunakan Deskriptif dengan metode Point Count.
d. Waktu penelitian ini dilakukan dua kali dalam sehari. Pengamatan pertama
dimulai pada pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB, dan pada sore hari pukul 16.00-
18.00 WIB dalam cuaca cerah atau pun hujan, dengan jalur pengamatan yang
sudah ditentukan. Dalam satu titik pengamatan waktu yang harus dibutuhkan
yaitu selama 20 menit dan untuk pengambilan data peneliti akan melakukan
pengamatan selama sepuluh hari.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terhadap ilmu pengetahuan adalah, untuk :
1. Manfaat Teoritis :
Membantu pengelola konservasi dalam mengatasi masalah yang terkait burung
di Gunung Burangrang bagian Utara Kabupaten Bandung Barat Bandung.
2. Manfaat dari segi kehidupan :
Memberikan informasi ilmiah bagi masyarakat mengenai jenis Aves di Gunung
Burangrang bagian Utara Kabupaten Bandung Barat.
7
3. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah : Bisa digunakan sebagai bentuk pengayaan pada Mata
Pelajaran Biologi.
b. Bagi peserta didik : Dapat menambah pengetahuan tentang jenis-jenis
burung beserta ciri-cirinya.
c. Bagi Guru : Bisa digunakan sebagai bahan ajar (modul) untuk guru.
d. Bagi Peneliti : Bisa menambah wawasan tentang data kelas aves yang ada
di kaki Gunung Desa Burangrang Kabupaten Bandung Barat dan data hasil
penelitian juga dapat di pergunakan sebagai data untuk penelitian
selanjutnya mengenai aves maupun yang dilakukan di Gunung
Burangrang bagian Utara Kabupaten Bandung Barat.
G. Definisi Operasional
Landasan pokok penelitian pada Definisi Operasional yaitu :
a. Identifikasi
Identifikasi menurut Hawadi (2002:107) adalah teknik yang dipilih, sesuai
dengan karakteristik yang akan dicari, dan konsisten dengan program yang akan
ditetapkan. Menurut Hansen dan Linden (2002:107), pendekatan identifikasi yang
digunakan harus bergantung pada tujuan yang ingin dicapai.
b. Aves
Aves adalah makhluk berbulu, bersayap, bipedal, endotermik (berdarah panas)
yang menghasilkan telur. (Nurwatha, 2013). Burung menurut Widyasari (2013)
adalah sekelompok makhluk yang termasuk dalam kelas Aves dan memiliki ciri-
ciri yang membedakannya dengan hewan lainnya. Meskipun beberapa burung aktif
di malam hari, sebagian besar burung diurnal. Burung merupakan salah satu
komponen ekosistem yang berperan vital dalam mendukung keberlangsungan
siklus kehidupan suatu organisme, menurut Hadinotodkk., (2012). Burung
termasuk dalam kelas Aves, yang dibagi menjadi subfilum Vertebrata dan filum
Chordata. Burung adalah hewan berdarah panas atau homoitermal, yang berarti
mereka memiliki kemampuan untuk mengatur suhu tubuhnya agar dapat
beradaptasi dengan lingkungannya. Burung merupakan hewan endotermik yang
8
menggunakan panas metabolismenya sendiri untuk mempertahankan suhu
tubuhnya, menurut Campbell et al., (2003).
c. Habitat
Habitat adalah suatu daerah di mana makhluk hidup dapat hidup untuk
makanan, perlindungan dari predator, dan reproduksi. Habitat adalah lingkungan
fisik yang terdiri dari berbagai populasi dan spesies yang dapat mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh spesies lain. Habitat menurut Clements dan Shelford (1939),
adalah lingkungan fisik di mana suatu spesies, populasi spesies, kelompok spesies,
atau komunitas berada.
H. Sistematika Skripsi
Dalam penyusunan skripsi terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian pembuka, isi
dan penutup pada bagian akhir
1. Bagian pembuka skripsi
Pada bagian pembuka skripsi terdiri atas halaman sampul, halaman moto dan
pembahasan, halaman penyataan keaslian skripsi, kata pengantar, ucapan
terimakasih, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar serta daftar lampiran.
2. Bagian isi skripsi
Bagian isi skripsi merupakan bagian terpenting yang memiliki lima bab, yang
terdiri dari :
a. BAB I Pendahuluan
BAB I berisi tentang pernyataan masalah yang melatar belakangi masalah
dalam penelitian agar dapat memudahkan pembaca dalam memahami pokok-
pokok isi skripsi.
b. BAB II Kajian Teori dan Kerangka Pemikiran
BAB II berisi dari kajian teori-teori dan hasil penelitian terdahulu yang akan
menunjang kegiatan pada penelitian yang dilaksanakan. Pada BAB II kurang
lebihnya akan membahas tentang Identifikasi kelas aves, lokasi penelitian, ciri-
ciri aves, peranan, serta morfologi dari aves.
9
c. BAB III Metode Penelitian
BAB III berisi tentang kegiatan pelaksanaan penelitian serta metode
penelitian yang dipilih. Pada BAB III metode penelitian ini meliputi metode
penelitian, subjek dan objek penelitian, pengumpulan data dan instrumen
penelitian, teknik analisis data serta prosedur penelitian.
d. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
BAB IV berisi mengenai hasil temuan pada saat penelitian yang
berdasarkan data yang telah diolah dan pembahasan mengenai temuan penelitian
untuk menjawab pertanyaan penelitian yang dikaitkan dan diperkuat oleh teori
yang telah ada.
e. BAB V Kesimpulan dan Saran
BAB V berisi tentang rangkuman dari hasil analisis yang diperoleh dari
kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan. Saran yang berisi mengenai
rekomendasi bagi pembaca maupun peneliti yang ingin melakukan penelitian
serupa.
3. Bagian Akhir Skripsi
Pada bagian akhir skripsi ini biasanya memuat daftar pustaka beserta lampiran-
lampiran lainnya untuk memperkuat adanya pembuatan skripsi ini.