Proposal Rizal
Proposal Rizal
PERANCANGAN JEMBATAN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
FAKULTAS TEKNIK
2026
RINGKASAN EKSEKUTIF
Perakitan jembatan direncakan selama 1.4 jam (82 menit) dengan sistem
kantilever. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangun jembatan pelengkung
adalah Rp.575.000.
i
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam proposal ini antara lain:
a. Menentukan material dan profil dengan dimensi yang efisien untuk
mendapatkan berat struktur dan lendutan yang optimal.
b. Menentukan metode perakitan jembatan serta rancangan anggaran biaya
dengan waktu dan harga yang efisien.
c. Penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam perancangan jembatan.
1.3. Tujuan
2
BAB II. DESAIN JEMBATAN UKURAN SEBENARNYA
2.1 Dasar Teori Perancangan
2.1.1 Jembatan Baja (Steel Bridge)
Jembatan pelengkung merupakan konstruksi jembatan yang menggunakan
elemen struktur berbahan baja yang dirangkai membentuk sistem lengkung (arch
system) sebagai elemen utama penahan beban. Sistem lengkung bekerja dominan
menahan gaya tekan dan mendistribusikan beban secara efisien menuju tumpuan,
sehingga mampu memberikan kekakuan, stabilitas, serta efisiensi struktur pada
bentang menengah hingga panjang. Pada jembatan pelengkung baja, elemen-
elemen struktur umumnya dihubungkan melalui sambungan baut atau las sehingga
membentuk sistem struktur yang terintegrasi dan mampu menahan beban vertikal
maupun lateral (Akbari dkk 2025)
2.1.2 Jembatan Bentang Sedang (Medium Span)
Bentang jembatan merupakan salah satu parameter utama dalam perancangan
karena berpengaruh terhadap pemilihan tipe struktur, dimensi elemen, serta biaya
konstruksi. Secara umum, jembatan bentang sedang berada pada panjang 50–100
meter dan sering digunakan untuk melintasi sungai atau lembah dengan lebar
sedang. Sesuai dengan Pedoman Tugas wajib Jembatan 2026, Jembatan Arjuna
termasuk jenis jembatan bentang sedang. Rangka batang baja merupakan rangka
yang paling umum digunakan dalam bentang sedang dan memiliki nilai ekonomis
yang lebih efesien.
2.1.3 Jembatan Pelengkung (Tied Arch Bridge)
Jenis jembatan yang dirancang adalah jembatan pelengkung baja tipe Tied Arch,
yaitu struktur jembatan yang memanfaatkan elemen pelengkung (arch rib) sebagai
komponen utama dalam menahan gaya tekan, sedangkan elemen pengikat bawah
(tie beam atau tie girder) berfungsi menahan gaya tarik akibat gaya horizontal yang
dihasilkan oleh sistem pelengkung. Pada tipe ini, lantai kendaraan umumnya berada
di bagian bawah struktur pelengkung dan dihubungkan dengan elemen pelengkung
melalui batang penggantung (hanger) atau kabel vertikal.
Jembatan Tied Arch banyak digunakan untuk bentang menengah hingga panjang
karena memiliki efisiensi struktural yang tinggi, kemampuan distribusi beban yang
3
baik, serta memberikan nilai estetika yang tinggi pada konstruksi jembatan. Selain
itu, sistem pengikat pada bagian bawah memungkinkan gaya horizontal dari
pelengkung tidak sepenuhnya diteruskan ke tumpuan, sehingga tipe jembatan ini
sangat sesuai digunakan pada kondisi pondasi atau abutment dengan keterbatasan
dalam menahan gaya lateral.
2.1.4 Jembatan Jalan Raya (Highway Bridge)
Jembatan jalan raya merupakan bagian dari infrastruktur transportasi darat yang
berfungsi menghubungkan satu jalan dengan jalan lainnya termasuk antardesa.
Jembatan dirancang untuk menahan beban lalu lintas, baik kendaraan berat seperti
truk dan bus maupun kendaraan ringan seperti sepeda motor. Fungsinya
memungkinkan kendaraan melintasi rintangan seperti sungai, jurang, lembah, rel
kereta, atau jalan lainnya. Sebagai elemen penting dalam jaringan transportasi,
jembatan menunjang konektivitas dan pembangunan wilayah. Oleh karena itu,
perencanaannya perlu dilakukan secara efektif agar aman, nyaman, dan bermanfaat
bagi masyarakat (Rossalina, 2023.)
2.1.5 Konsep Utama Perancangan
Berdasarkan Surat Edaran Kementerian PUPR No. 7/SE/M/2015, perancangan
Jembatan ARJUNA bertujuan untuk memberikan kemudahan serta manfaat bagi
para pengguna lalu lintas. Perencanaan ini meliputi beberapa aspek penting, yaitu
sebagai berikut.
a. Kekuatan dan stabilitas struktur, material dan desain yang digunakan harus
mampu menahan beban yang bekerja secara stabil serta mencegah kegagalan
struktur.
b. Fungsionalitas (kelayanan), jembatan dirancang sebagai struktur permanen
dengan umur rencana hingga 50 tahun.
c. Daya tahan dan kelayakan jangka panjang, perlindungan terhadap karat
dilakukan melalui pengecatan, serta dilengkapi dengan inspeksi rutin untuk
menjaga kondisi jembatan tetap layak.
d. Efisiensi biaya dengan jumlah elemen yang minim dan bobot material yang
ringan, struktur ini menjadi lebih ekonomis dalam segi pembangunan.
e. Estetika, jembatan yang menampilkan desain arsitektural indah, mengangkat
4
nilai kearifan lokal, desain railing jembatan yang tepat.
2.2 Kriteria perancangan
2.2.1 Material
Karatekteristik mekanik material baja yang digunakan dalam simulasi desain dan
analisis struktur dirangkum dalam Tabel 3.1 berikut
Tabel 3.1 Spesifikasi Material dan Properti Penampang
No Jenis Properti Nilai Properti Satuan
1 Berat per Unit Volume, γ 7850 kg/m3
2 Modulus Elastisitas, E 200.000 MPa
3 Modulus Geser, G 76903 MPa
5 Poisson Ration, υ 0,3 -
6 Tegangan Leleh, fy 290 MPa
7 Tegangan Ultimit, fu 500 MPa
8 Batang Memanjang Atas (Top Chord) mm
9 Batang Memanjang Bawah (Bottom Chord) HB [Link] mm
10 Batang Stringer mm
11 Brasing atas IWF [Link] mm
12 Batang Melintang Bawah (Cross Girder) IWF [Link] mm
13 Batang Ikatan angin atas IWF [Link] mm
14 Batang Ikatan angin atas IWF [Link] mm
15 Hanger Ø15 mm
16 Kuat tarik Ultimate 1860 N/mm2
17 Modulus elastisitas 197000 N/mm2
18 Rentang Tegangan 300 Mpa
Sumber: (Hidayat, 2023)
2.2.2 Alat Sambung
Dalam merencanakan jembatan Arjuna, sambungan yang digunakan adalah pelat
buhul dengan tebal 20 mm dan baut tipe A325 Grade 8.8 M22x2,5 L:100 mm
seperti yang ditunjukan pada Gambar 3.1.
a) b)
Gambar 3.1 Komponen Sambungan Jembatan
a.) Pelat Buhul b.) Baut Tipe A325
Sumber: [Link]
5
2.2.3 Beban Uji
SNI 1725-2016 mengatur ketentuan beban-beban yang harus diperhitungkan
dalam perencanaan jembatan.
Secara garis besar, pembebanan pada jembatan terdiri dari :
1. Beban mati terdiri dari beban berat sendiri (berat struktur), beban pelat,
beban aspal dan beban trotoar.
2. Beban mati tambahan terdiri dari beban pengaspalan Kembali (Overlay) dan
beban air hujan
3. Beban hidup terdiri dari beban truk “T”, beban Lajur “D” yang terbagi jadi
dua yaitu beban garis terpusat (BGT) dan beban terbagi rata (BTR), beban
dinamik, beban akibat gaya rem, gaya sentrifugal (khusus jembatan yang
ada tikungannya) dan beban pejalan kaki.
4. Beban lingkungan terdiri dari beban penurunan, beban angin, gaya aliran
sungai, hanyutan, tumbukan batang kayu, kaya apung, gaya akibat suhu dan
gaya gempa.
6
e. AASHTO LRFD Bridge Design Specifications (2024)– Sebagai referensi
tambahan dari standar internasional dalam perencanaan struktur jembatan
berbasis Load and Resistance Factor Design (LRFD).
2.2.5 Metodologi Perancangan
Tahapan metodologi perancangan jembatan sebenarnya dapat dilihat pada
Gambar 3.2 berikut.
7
diagonal dan vertikal berfungsi menjaga kestabilan dan distribusi beban antar
simpul. Komponen utama sistem struktur:
a. batang atas (top chord) umumnya mengalami gaya tekan harus dirancang
agar stabil terhadap tekuk;
b. batang bawah (bottom chord) umumnya mengalami gaya tarik. harus cukup
kuat terhadap gaya tarik maksimum;
c. batang diagonal menyalurkan gaya tarik atau tekan secara bergantian
tergantung arah beban;
d. lantai jembatan (deck) menjadi tempat peletakan beban uji, sekaligus
mendistribusikan beban ke simpul-simpul rangka;
e. pelat sambung dan baut menghubungkan batang satu dengan yang lain,
dirancang untuk menyalurkan gaya geser dan mencegah lepasnya elemen
struktur;
f. sistem perletakan jembatan dirancang dengan menggunakan tumpuan sendi
dan roll berfungsi untuk mengakomodasi pergerakan horizontal akibat muai
susut termal.
2.4 Permodelan Struktur
Pemodelan struktur dan analisis struktur jembatan Arjuna menggunakan
program SAP2000 v23. Gambar DED dan visualisasi 3D menggunakan program
autocad dan sketchup.
8
1) Data Pembebanan
1) Data Pembebanan
a. Beban Mati Sendiri (MS)
a) Berat sendiri struktur yang di dapatkan di Sap 2000 sebesar
3935,476 KN
b) Beban pelat Tebal 300 mm dengan bentang 50 meter dan berat
jenis beton bertulang (yc) =2400 kg/m3
Qms plat lantai = Yc x b x h
= 23,535 x 50 x 0,3
= 353,025 kN/m
b. Beban Mati Tambahan (MA)
a) Beban Trotoar dengan Lebar 100cm,tebal 30 cm dengan panjang
sebagai berikut:
Qma Trotoar = Yc x b x h x L
1) 5 Meter = 35,3025 Kn/ Titik buhul
2) 10 Meter = 70,605/ Titik buhul
b) Berat Jenis Aspal (yc) 0.22 ton/m2, tebal aspal = 0,05, overlay
aspal = 2 kali
Qma aspal = Yc x t x n
c) Genangan Air Hujan (h) = 0,05 meter
Berat Jenis air = 9,806 kN/m3
Qma Genangan Air hujan = Yw x h
= 9,806 x 0,05
= 4903 kN/m2
d) Steel deck
Tebal Steel deck (h) = 0,8 mm
Berat jenis steel deck (y) = 0,106 kN/m3
Qma steel deck (y) = 0,106 x (0,8/1000)
= 0,00848 kN/m2
9
e) Railling
Jumlah Joint = 11
= 0,06 kN
10
Bentang Jembatan (L) = 50 meter
Roda depan = 25 + (0,3 x 25)
= 32,5kN
Roda Tengah = 112,5 + (0,3 x 112,5)
= 146,25 kN
Roda Belakang = 112,5 + (0,3 x 112,5)
= 146,25 kN
c. Beban Pejalan Kaki Sebesar 5 Kpa
d. Gaya Rem
Gaya Rem Diambil yang terbear dari 25% dari berat gandar truk
atau 5% dari berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi
Rata BTR
- 25% berat gandar = 25% x (2x112,5)
= 56,25 kN
- 5% Beban truk dan BTR = 5% + (0,5 Lebar perkerasan
x bentang jembatan x BTR)
= 5% x (500 x +( 0,5 x 11 x 50
x 7,2 )
= 124 kN
Jadi Gaya Rem yang Bekerja pada joint gelagar = gaya rem / jumlah join
= 13,78/11 = 1,253
d. Beban Lingkungan
1. Beban angin
1) Angin Tekan :
11
𝑉𝑑𝑧
Pd = Pb ( 𝑉𝑏 )
103,46 2
= 0,0024 ( ) = 0,003 kN/mm
100
𝐿
Ews = Pd (𝑛)
67,50
= 2,569 ( ) = 8,257 kN
21
= 15 ◦C
12
- Menentukan Faktor situs
a. Faktor amplifikasi untuk PGA dan periode 0,2 detik
0,23−0,2
FPGA = 1,7 + ({1,2 x 1,7} x )
0,3−0,2
FPGA = 1,55
0,55−0,5
Fa = 1,7 + ({1,2 – 1,7} x 0,75−0,5)
Fa = 1,6
13
Dalam perancangan jembatan sebenarnya untuk Tugas wajib perancangan
jembatan digunakan semua kombinasi pembebanan dan Faktor Beban. Perhitungan
rinci reaksi tumpuan pada cross beam disajikan pada Lampiran, sedangkan input
pembebanan ditampilkan pada Gambar 3.4 hingga Gambar 3.7.
14
Gambar 3. 7 Input Pembebanan Akibat Beban Lajur (BTR Dan BGT) pada
Setiap Joint Atas pada Rangka Utama
2.5.1 Analisis Lendutan
𝐿
Berdasarkan RSNI T-03-2005 lendutan maksimal yang diijinkan yaitu: 𝛿 = 800
15
1) Analisis Batang Tarik
Analisis struktur batang tarik berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
6.8.4. Detail perhitungan analisis batang tarik dengan hasil analisis gaya batang
tarik maksimum dapat dilihat pada Tabel 3.4.
1. Analisis Struktur Batang Tarik
a) Batas Leleh
b) Batas Keruntuhan
An = Ag - (n x d x t) = 83,16 - (2 10 x 1,1)
= 61,16 mm2
L = 150
𝑋
X = 1 - = 0,975
𝑙
16
∅Rn = 0,75 x 106936,2 = 26730,74 N
Tabel 3. 4 Kontrol Kapasitas Tarik Ultimate
Gaya Tarik
Profil Kapasitas Tarik (kN) Ultimate (kN) Syarat Kombinasi
Pembebanan
WF [Link] 118044 4341,37 AMAN KUAT I
WF [Link] 108044 4341,37 AMAN KUAT II
WF [Link] 98044 4341,37 AMAN KUAT III
WF [Link] 88044 4341,37 AMAN KUAT IV
𝐸 200
λr = 1,40√ = 1,40√ = 40,41
𝐹𝑦 240
Syarat = λ < λr
= 18,18 < 40,41….. Nonlangsing
- Tabel 8 Nilai Kelangingan Penampang Batang Tekan
Rasio Kelangsingan Panjang Efektif Menghitung Analisis Tekuk
Maksimum Lentur Pasal E3
𝜋2
K = 1, Lc = L x K = 200 mm Fe = 𝜆2 = 271,63 Mpa
Menghitung Analisis Tekuk
Rasio Kelangsingan Panjang Efektif Maksimum
Lentur Pasal E3
𝐿𝑐 𝐸
R = 10,78 mm, syarat = λ ≤ 200 ≤ 4,71√𝐹𝑦 → 89,253 ≤ 133,219
𝑟
λ = Lc/r Fcr = (0,658 𝑓𝑦/𝑓𝑒 ) Fy = 170,075
Nilai Kuat Tekan
Pn = Fcr x Ag = 194 x 83,16 = 16133,04 N
∅Pn= 0,9 x 16133,04 = 14519,74
17
WF [Link] 7239,98 8695,44 AMAN KUAT III
WF [Link] 4983,6 8695,44 AMAN KUAT IV
18
HB [Link] 1323,9 1542,07 TIDAK KUAT III
AMAN
WF [Link] 1112,90 540,539 AMAN
HB [Link] 1219,18 1542,07 TIDAK KUAT IV
AMAN
WF [Link] 9898,8 540,539 AMAN
4) Analisis Batang Geser
Analisis struktur batang geser berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
6.10.9. Detail perhitungan analisis batang geser maksimum disajikan dengan
hasil analisis dilihat pada Tabel 3.7.
a) Akibat lentur
Pelat sayap atas Pelat sayap bawah
1 1
𝑓bu1 + 3 f1 ≤ Øf . fnc 𝑓bu2 + 3 f1 ≤ Øf . fyt
19
WF [Link] 2518,963 559,448 AMAN KUAT I
HB [Link] 1732,32 145,824 AMAN KUAT II
WF [Link] 2213,78 559,448 AMAN
HB [Link] 1323 145,824 AMAN KUAT III
WF [Link] 1981,3 559,448 AMAN
HB [Link] 897,98 145,824 AMAN KUAT IV
WF [Link] 1891 559,448 AMAN
TS
Tahanan slip kritis baut, < R n2
∅S
Jumlah baut yang diperlukan pada penampang kritis badan terhadap gaya
geser, nmin =Tu1 / (Φf * Vn) = 1176294 / 188164,35 = 6,50 → diambil 8
(jumlah baut).
2.6 Desain Komponen dan Sambungan
20
Komponen dan sambungan penyusun pada struktur jembatan sebenarnya dapat
diliat pada Gambar 2.8 dan 2.9 di bawah ini.
21
BAB III
DESAIN JEMBATAN MODEL PELENGKUNG
22
3. Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat debedakan sebagai berikut
a) Jembatan jalan raya
b) Jembatan kereta api
c) Jembatan pejalan kaki
10 mm x 20 mm x
1 Batang pelengkung Kayu Kempas
120 mm
10 mm x 20 mm x
2 Bresing atas Kayu Kempas
150 mm
10 mm x 20 mm x
3 Bresing bawah Kayu Kempas
150 mm
1,10 mm x 4000
5 Cable element Kawat Seling mm
M2
6 Sambungan Pasak Beragam dengan d
= 8 cm, L = 10 cm
23
Alat sambung yang digunakan pada sambungan jembatan pelengkung
Arjuna adalah sambungan pasak kayu yang dialasi dengan plat sambung tebal 10
mm dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.
24
3.3.2 Metodologi perancangan
25
3.3 Sistem Struktur
Dalam perencanaan struktur, jembatan dibagi kedalam dua sistem struktur,
yaitu sistem struktur atas (superstructure) dan sistem struktur bawah
(substructure).
26
tipe rangka sehingga didapatkan nilai berat struktur dan lendutan
seperti yang disajikan pada Tabel 3.3 dibawah ini
Tabel 3. 4 Modelisasi rangka jembatan
Tipe
Berat Lendutan
Rangka Visualisasi
(Kg) (mm)
Jembatan
1 1,5 2,46907
27
3.4.2 Modelisasi Konseptual
Gambar 3. 4 Praje
28
3.5 Analisis Struktur
Dari hasil analisa yang sudah dilakukan menggunakan sofware SAP 2000
didapatkan hasil yang dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3. 5 Gaya dalam yang bekerja pada jembatan pelengkung Bale Songket
dengan beban 45 Kg pada tengah bentang
Dari data yang diketahui tentang komponen yang digunakan pada jembatan
pelengkung Bale Songket ini didapatkan:
Dari data yang sudah diketahui, selanjutnya akan dimasukkan pada SAP2000. Dari
analisa SAP2000 didapatkan berat sebesar 1,5 kg seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 3.6.
29
Gambar 3. 5 Berat jembatan
30
Gambar 3. 7 Galagar dan bresing bawah jembatan
31
Gambar 3. 10 Bentuk lendutan yang terjadi pada jembatan
32
BAB VI
METODE PERAKITAN JEMBATAN MODEL PELENGKUNG
Segmen 1 Segmen 2
Segmen 3 Segmen 4
Segmen 5
Gambar 4. 1 Pembagian segmen
33
Adapun model jembatan setelah digabungkan tiap segmen dapat dilihat pada
gambar 4.2 dibawah ini :
34
Tabel 4. 1 Estimasi Waktu Perakitan Jembatan
Waktu ( Menit )
NO PEKERJAAN Keterangan
0 - 6 7--11 12--18 19--25 26--32 33--42 43--50 51--50 61--67 68--82
1 Pemasangan alat bantu untuk konstruksi model jembatan
2 Menempatkan segmen-1 pada meja bantuan
3 Menempatkan segmen-2 dan menempelkan dengan segmen-1
4 Menempatkan segmen-3 dan menempelkan dengan segmen-2
5 Menempatkan segmen-4 dan menempelkan dengan segmen-3
6 Menggeser meja bantuan & penggabungan lanjutan
7 Mengecek apakah model terpasang dengan baik
8 Pemasangan plat lantai
9 Memastikan plat lantai terpasang dengan baik
10 Pemeriksaan akhir: kestabilan dan posisi perletakan
6 5 7 7 7 10 8 10 7 15 Waktu / Tahap
Total
82 Selesai
1
BAB V
METODE PERAWATAN DAN PERBAIKAN JEMBATAN SEBENARNYA
1. Pemeliharaan Rutin
Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a. Pelaksanaan pembersihan
b. Pengecatan sederhana
c. Penanganan kerusakan ringan, yang termasuk seperti penanganan lubang-
lubang dan kerusakan pada permukaan lantai kendaraan serta jalan
pendekat
d. Pengencangan baut
2. Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan berkala dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1
5.2 Perbaikan Jembatan
4.3.1 Perbaikan Ringan
Perbaikan elemen baja pada jembatan dapat dilihat pada Tabel … dibawah
ini.
6 Kabel jembatan yang aus - Jika kurang dari 5% dari strands yang rusak,
mulai lepas ikatan jepitlah dengan klem pada kedua sisi kabel
tersebut untuk menahan beban.
- Jika lebih dari 5% dari strands yang rusak
maka kabel harus diganti.
2
BAB VI
RENCANA ANGGARAN BIAYA
3
BAB VII
PENUTUP
7.1 KESIMPULAN
Berikut kesimpulan dari proposal yang kami ajukan kepada dosen pengampu mata
kuliah perancangan jembatan :
4
LAMPIRAN 1
5
Perhitungan Kapasitas Sambungan Baut pada Kayu Kempas
Data Material dan Geometri:
- Jenis kayu: Kayu Kempas
- Kekuatan tekan sejajar serat (f_c): 45 MPa
- Modulus elastisitas (E): ~120000 MPa
- Tebal kayu (t): 10 mm
- Lebar kayu: 20 mm
- Diameter baut (d): 2 mm (M2)
- Jenis sambungan: Kayu ke pelat.
- Kelas baut: 4.6
1. Kapasitas Tekan Lokal Kayu (Bearing Capacity)
Rumus:
f_bearing = f_c × d × t
f_bearing = 45 MPa × 2 mm × 10 mm = 450 N
Sehingga kapasitas sambungan satu baut terhadap gaya tarik sejajar serat adalah 450 N.
2. Mode Kegagalan
Karena kapasitas tekan lokal kayu (450 N) < kapasitas geser baut (800 N), maka
kegagalan terjadi pada kayu.
Kapasitas sambungan per baut dibatasi oleh kekuatan tekan lokal kayu:
Fbaut = 450 N
6
LAMPIRAN 2
Gambar Detail Engineering Design (DED)
7
LAMPIRAN 3
Gambar Metode Perakitan