0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan45 halaman

Proposal Rizal

Dokumen ini membahas perancangan jembatan pelengkung Arjuna yang menghubungkan dua bagian jalan dengan menggunakan material kayu kempas dan sistem rangka yang efisien. Jembatan ini direncanakan memiliki panjang 1,2 m, berat 1,5 kg, dan lendutan maksimum 2,46907 mm, serta total biaya pembangunan sebesar Rp.575.000. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk memenuhi syarat kekuatan, efisiensi biaya, dan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal.

Diunggah oleh

M RIZAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan45 halaman

Proposal Rizal

Dokumen ini membahas perancangan jembatan pelengkung Arjuna yang menghubungkan dua bagian jalan dengan menggunakan material kayu kempas dan sistem rangka yang efisien. Jembatan ini direncanakan memiliki panjang 1,2 m, berat 1,5 kg, dan lendutan maksimum 2,46907 mm, serta total biaya pembangunan sebesar Rp.575.000. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk memenuhi syarat kekuatan, efisiensi biaya, dan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal.

Diunggah oleh

M RIZAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS WAJIB

PERANCANGAN JEMBATAN

“JEMBATAN PELENGKUNG BALE SONGKET”

Dosen Pengampu: Ahmad Zarkasi, ST.,MT.

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 KELAS 6C :

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

2026
RINGKASAN EKSEKUTIF

Jembatan adalah konstruksi bangunan yang berfungsi untuk


menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh rintangan-rintangan seperti
lembah, sungai jalan kereta api, danau, rawa, atau jalan raya.

Perencanaan jembatan pelengkung Arjuna dalam proposal ini diawali


dengan membuat konfigurasi tipe rangka, tipe rangka yang digunakan dimodelkan
pada software SAP2000 kemudian dilakukan analisis struktur dengan pembebanan
sebesar 45 Kg terpusat di tengah bentang. Tipe rangka yang digunakan adalah yang
memiliki berat struktur yang ringan, lendutan yang mendekati lendutan target dan
tipe rangka yang sesuai dengan konsep kearifan lokal.

Jembatan pelengkung Arjuna dengan panjang 1,2 m m, lebar 0,15 m, dan


tinggi 0,20 m tersusun atas material kayu kempas, jenis material kayu kempas
berbentuk balok dan dimensi sebesar 10 mm x 20 mm x 120 mm dan 10 mm x 10
mm x 150 mm setiap batangnya. Pada konfigurasi rangka batang adalah dengan
hanger terbuat dari cable element menggunakan kabel sling dimensi 1,10 mm
dengan panjang 4000 mm serta pengunci kabel sling. Jenis dan bahan sambungan
menggunakan sambungan pasak diameter 8 cm dengan plat sambung tebal 10 mm
pada setiap joinnya. Berdasarkan design pemodelan dan analisis struktur, maka
didapatkan berat struktur jembatan sebesar 1,5 kg dan lendutan maksimum sebesar
2,46907 mm pada tengah bentang jembatan. Lendutan yang didapatkan mendekati
lendutan target dan masih dibawah lendutan izin.

Perakitan jembatan direncakan selama 1.4 jam (82 menit) dengan sistem
kantilever. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangun jembatan pelengkung
adalah Rp.575.000.

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan jembatan di Indonesia memiliki peran vital dalam
menghubungkan wilayah yang terpisah oleh rintangan alam seperti sungai dan
lembah. Dalam menghadapi tantangan kondisi geografis yang beragam,
pembangunan jembatan tidak hanya harus efisien dalam teknologi konstruksi,
tetapi juga harus memperhatikan kearifan lokal untuk menjaga harmoni dengan
lingkungan sekitar.
Saat ini teknologi pembangunan jembatan telah berkembang pesat, baik itu
dari material atau bahan ataupun pelaksanaan konstruksi. Dalam hal ini
pembangunan jembatan khususnya jembatan pelengkung dituntut untuk
memiliki durabilitas tinggi dan awet. Selain itu jembatan pelengkung telah
mengarah pada material yang dirasa ringan, kokoh, dan tahan terhadap kondisi
iklim yang dinamis. Sehingga pembangunan jembatan pelengkung harus
dibersamai dengan perencanaan yang baik. Baik itu perencanaan material
maupun perencanaan strukturnya.
Praje dalam istilah masyarakat sasak adalah “suatu alat atau media yang
digunakan dalam kegiatan pawai arak- arakan yang biasanya dilakukan pada
bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Yang dimana dalam kegiatan Tradisi
praje sasak ini mengusung anak-anak yang akan dikhitan secara keliling
kampung menggunakan alat musik tradisional khas sasak yakni “gendang
beleq”. Tradisi praje sasak ini merupakan suatu tradisi dalam bentuk wujud rasa
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang biasa sudah dikatakan wajib
diadakan secara rutinitas yang tumbuh berkembang di dalam masyarakat sasak
khususnya di masyarakat Kelurahan Dasan Agung Kecamatan Selaparang Kota
Mataram. Ketika Sebagian masyarakat Dasan Agung melaksanakan pengajian
dimasjid, maka Sebagian anggota masyarakat lainnya
“m e r a y a k a n d e n g a n m e n g u s u n g p r a j e s a s a k” .

1
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam proposal ini antara lain:
a. Menentukan material dan profil dengan dimensi yang efisien untuk
mendapatkan berat struktur dan lendutan yang optimal.
b. Menentukan metode perakitan jembatan serta rancangan anggaran biaya
dengan waktu dan harga yang efisien.
c. Penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam perancangan jembatan.
1.3. Tujuan

a. Memenuhi syarat kekuatan/kokoh untuk mencapai umur rencana.


b. Optimum dalam aspek kinerja, keandalan, dan efiseinsi biaya.
c. Memberikan estetika yang menerapkan nilai-nilai kearifan lokal.

2
BAB II. DESAIN JEMBATAN UKURAN SEBENARNYA
2.1 Dasar Teori Perancangan
2.1.1 Jembatan Baja (Steel Bridge)
Jembatan pelengkung merupakan konstruksi jembatan yang menggunakan
elemen struktur berbahan baja yang dirangkai membentuk sistem lengkung (arch
system) sebagai elemen utama penahan beban. Sistem lengkung bekerja dominan
menahan gaya tekan dan mendistribusikan beban secara efisien menuju tumpuan,
sehingga mampu memberikan kekakuan, stabilitas, serta efisiensi struktur pada
bentang menengah hingga panjang. Pada jembatan pelengkung baja, elemen-
elemen struktur umumnya dihubungkan melalui sambungan baut atau las sehingga
membentuk sistem struktur yang terintegrasi dan mampu menahan beban vertikal
maupun lateral (Akbari dkk 2025)
2.1.2 Jembatan Bentang Sedang (Medium Span)
Bentang jembatan merupakan salah satu parameter utama dalam perancangan
karena berpengaruh terhadap pemilihan tipe struktur, dimensi elemen, serta biaya
konstruksi. Secara umum, jembatan bentang sedang berada pada panjang 50–100
meter dan sering digunakan untuk melintasi sungai atau lembah dengan lebar
sedang. Sesuai dengan Pedoman Tugas wajib Jembatan 2026, Jembatan Arjuna
termasuk jenis jembatan bentang sedang. Rangka batang baja merupakan rangka
yang paling umum digunakan dalam bentang sedang dan memiliki nilai ekonomis
yang lebih efesien.
2.1.3 Jembatan Pelengkung (Tied Arch Bridge)
Jenis jembatan yang dirancang adalah jembatan pelengkung baja tipe Tied Arch,
yaitu struktur jembatan yang memanfaatkan elemen pelengkung (arch rib) sebagai
komponen utama dalam menahan gaya tekan, sedangkan elemen pengikat bawah
(tie beam atau tie girder) berfungsi menahan gaya tarik akibat gaya horizontal yang
dihasilkan oleh sistem pelengkung. Pada tipe ini, lantai kendaraan umumnya berada
di bagian bawah struktur pelengkung dan dihubungkan dengan elemen pelengkung
melalui batang penggantung (hanger) atau kabel vertikal.
Jembatan Tied Arch banyak digunakan untuk bentang menengah hingga panjang
karena memiliki efisiensi struktural yang tinggi, kemampuan distribusi beban yang

3
baik, serta memberikan nilai estetika yang tinggi pada konstruksi jembatan. Selain
itu, sistem pengikat pada bagian bawah memungkinkan gaya horizontal dari
pelengkung tidak sepenuhnya diteruskan ke tumpuan, sehingga tipe jembatan ini
sangat sesuai digunakan pada kondisi pondasi atau abutment dengan keterbatasan
dalam menahan gaya lateral.
2.1.4 Jembatan Jalan Raya (Highway Bridge)
Jembatan jalan raya merupakan bagian dari infrastruktur transportasi darat yang
berfungsi menghubungkan satu jalan dengan jalan lainnya termasuk antardesa.
Jembatan dirancang untuk menahan beban lalu lintas, baik kendaraan berat seperti
truk dan bus maupun kendaraan ringan seperti sepeda motor. Fungsinya
memungkinkan kendaraan melintasi rintangan seperti sungai, jurang, lembah, rel
kereta, atau jalan lainnya. Sebagai elemen penting dalam jaringan transportasi,
jembatan menunjang konektivitas dan pembangunan wilayah. Oleh karena itu,
perencanaannya perlu dilakukan secara efektif agar aman, nyaman, dan bermanfaat
bagi masyarakat (Rossalina, 2023.)
2.1.5 Konsep Utama Perancangan
Berdasarkan Surat Edaran Kementerian PUPR No. 7/SE/M/2015, perancangan
Jembatan ARJUNA bertujuan untuk memberikan kemudahan serta manfaat bagi
para pengguna lalu lintas. Perencanaan ini meliputi beberapa aspek penting, yaitu
sebagai berikut.
a. Kekuatan dan stabilitas struktur, material dan desain yang digunakan harus
mampu menahan beban yang bekerja secara stabil serta mencegah kegagalan
struktur.
b. Fungsionalitas (kelayanan), jembatan dirancang sebagai struktur permanen
dengan umur rencana hingga 50 tahun.
c. Daya tahan dan kelayakan jangka panjang, perlindungan terhadap karat
dilakukan melalui pengecatan, serta dilengkapi dengan inspeksi rutin untuk
menjaga kondisi jembatan tetap layak.
d. Efisiensi biaya dengan jumlah elemen yang minim dan bobot material yang
ringan, struktur ini menjadi lebih ekonomis dalam segi pembangunan.
e. Estetika, jembatan yang menampilkan desain arsitektural indah, mengangkat

4
nilai kearifan lokal, desain railing jembatan yang tepat.
2.2 Kriteria perancangan
2.2.1 Material
Karatekteristik mekanik material baja yang digunakan dalam simulasi desain dan
analisis struktur dirangkum dalam Tabel 3.1 berikut
Tabel 3.1 Spesifikasi Material dan Properti Penampang
No Jenis Properti Nilai Properti Satuan
1 Berat per Unit Volume, γ 7850 kg/m3
2 Modulus Elastisitas, E 200.000 MPa
3 Modulus Geser, G 76903 MPa
5 Poisson Ration, υ 0,3 -
6 Tegangan Leleh, fy 290 MPa
7 Tegangan Ultimit, fu 500 MPa
8 Batang Memanjang Atas (Top Chord) mm
9 Batang Memanjang Bawah (Bottom Chord) HB [Link] mm
10 Batang Stringer mm
11 Brasing atas IWF [Link] mm
12 Batang Melintang Bawah (Cross Girder) IWF [Link] mm
13 Batang Ikatan angin atas IWF [Link] mm
14 Batang Ikatan angin atas IWF [Link] mm
15 Hanger Ø15 mm
16 Kuat tarik Ultimate 1860 N/mm2
17 Modulus elastisitas 197000 N/mm2
18 Rentang Tegangan 300 Mpa
Sumber: (Hidayat, 2023)
2.2.2 Alat Sambung
Dalam merencanakan jembatan Arjuna, sambungan yang digunakan adalah pelat
buhul dengan tebal 20 mm dan baut tipe A325 Grade 8.8 M22x2,5 L:100 mm
seperti yang ditunjukan pada Gambar 3.1.

a) b)
Gambar 3.1 Komponen Sambungan Jembatan
a.) Pelat Buhul b.) Baut Tipe A325
Sumber: [Link]

5
2.2.3 Beban Uji
SNI 1725-2016 mengatur ketentuan beban-beban yang harus diperhitungkan
dalam perencanaan jembatan.
Secara garis besar, pembebanan pada jembatan terdiri dari :

1. Beban mati terdiri dari beban berat sendiri (berat struktur), beban pelat,
beban aspal dan beban trotoar.
2. Beban mati tambahan terdiri dari beban pengaspalan Kembali (Overlay) dan
beban air hujan
3. Beban hidup terdiri dari beban truk “T”, beban Lajur “D” yang terbagi jadi
dua yaitu beban garis terpusat (BGT) dan beban terbagi rata (BTR), beban
dinamik, beban akibat gaya rem, gaya sentrifugal (khusus jembatan yang
ada tikungannya) dan beban pejalan kaki.
4. Beban lingkungan terdiri dari beban penurunan, beban angin, gaya aliran
sungai, hanyutan, tumbukan batang kayu, kaya apung, gaya akibat suhu dan
gaya gempa.

2.2.4 Peraturan yang digunakan


Peraturan yang digunakan sebagai rujukan untuk pendesainan jembatan
sebenarnya adalah sebagai berikut.
a. SNI 1725:2016– Tentang pembebanan untuk jembatan, sebagai dasar dalam
menentukan kombinasi beban kerja jembatan.
b. RSNI T-03-2005– Tentang perencanaan struktur baja untuk jembatan,
digunakan sebagai acuan perencanaan elemen baja struktur rangka.
c. RSNI T-12-2004– Tentang Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan,
sebagai acuan pada bagian elemen struktur beton yang digunakan dalam
abutment atau tumpuan.
d. Panduan No. 02/M/BM/2021– Tentang Panduan Praktis Perencanaan
Teknis Jembatan oleh Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan–
Kementerian PUPR.

6
e. AASHTO LRFD Bridge Design Specifications (2024)– Sebagai referensi
tambahan dari standar internasional dalam perencanaan struktur jembatan
berbasis Load and Resistance Factor Design (LRFD).
2.2.5 Metodologi Perancangan
Tahapan metodologi perancangan jembatan sebenarnya dapat dilihat pada
Gambar 3.2 berikut.

Gambar 3.2 Flow Chart Metodologi Perancangan


2.3 Sistem Struktur
Struktur utama yang digunakan pada jembatan ini adalah rangka batang baja tipe
Through Truss yaitu sistem rangka yang terdiri atas batang-batang lurus yang saling
terhubung membentuk pola segitiga dan menyalurkan beban dalam bentuk gaya
tarik dan tekan. Sistem ini dipilih karena memiliki efisiensi struktural yang tinggi
dan stabilitas geometri yang baik, terutama dalam menahan beban vertikal di tengah
bentang.
Pada struktur Through truss, deck jembatan (lantai kendaraan) terletak di
bagian bawah atau di antara rangka utama kiri dan kanan, sementara batang-
batang rangka atas dan bawah berfungsi menyalurkan gaya utama. Pengaku

7
diagonal dan vertikal berfungsi menjaga kestabilan dan distribusi beban antar
simpul. Komponen utama sistem struktur:
a. batang atas (top chord) umumnya mengalami gaya tekan harus dirancang
agar stabil terhadap tekuk;
b. batang bawah (bottom chord) umumnya mengalami gaya tarik. harus cukup
kuat terhadap gaya tarik maksimum;
c. batang diagonal menyalurkan gaya tarik atau tekan secara bergantian
tergantung arah beban;
d. lantai jembatan (deck) menjadi tempat peletakan beban uji, sekaligus
mendistribusikan beban ke simpul-simpul rangka;
e. pelat sambung dan baut menghubungkan batang satu dengan yang lain,
dirancang untuk menyalurkan gaya geser dan mencegah lepasnya elemen
struktur;
f. sistem perletakan jembatan dirancang dengan menggunakan tumpuan sendi
dan roll berfungsi untuk mengakomodasi pergerakan horizontal akibat muai
susut termal.
2.4 Permodelan Struktur
Pemodelan struktur dan analisis struktur jembatan Arjuna menggunakan
program SAP2000 v23. Gambar DED dan visualisasi 3D menggunakan program
autocad dan sketchup.

Gambar 3.3 Permodelan Jembatan


2.5 Analisis Struktur
Pada tahap ini dilakukan analisis struktur menggunakan aplikasi SAP2000
dengan rincian data sebagai berikut.

8
1) Data Pembebanan
1) Data Pembebanan
a. Beban Mati Sendiri (MS)
a) Berat sendiri struktur yang di dapatkan di Sap 2000 sebesar
3935,476 KN
b) Beban pelat Tebal 300 mm dengan bentang 50 meter dan berat
jenis beton bertulang (yc) =2400 kg/m3
Qms plat lantai = Yc x b x h
= 23,535 x 50 x 0,3
= 353,025 kN/m
b. Beban Mati Tambahan (MA)
a) Beban Trotoar dengan Lebar 100cm,tebal 30 cm dengan panjang
sebagai berikut:
Qma Trotoar = Yc x b x h x L
1) 5 Meter = 35,3025 Kn/ Titik buhul
2) 10 Meter = 70,605/ Titik buhul
b) Berat Jenis Aspal (yc) 0.22 ton/m2, tebal aspal = 0,05, overlay
aspal = 2 kali
Qma aspal = Yc x t x n
c) Genangan Air Hujan (h) = 0,05 meter
Berat Jenis air = 9,806 kN/m3
Qma Genangan Air hujan = Yw x h
= 9,806 x 0,05
= 4903 kN/m2
d) Steel deck
Tebal Steel deck (h) = 0,8 mm
Berat jenis steel deck (y) = 0,106 kN/m3
Qma steel deck (y) = 0,106 x (0,8/1000)
= 0,00848 kN/m2

9
e) Railling

Railling menggunakan Pipa dia 3 ”dipasang 2 buah setiap sisi”

Diameter ralling (D) = 76,3 Mm

Berat jenis pipa dia 3” (Yc) = 0,0847 kn/m3

Bentang Jembatan (L) = 11 Buhul

Jumlah Joint = 11

Qma railling = (D x Yc x L x n) / Jumlah joint

= ((76,3/1000) x 0,0847 x 50)/11)

= 0,06 kN

c. Beban Lalu Lintas


a. Beban Lajur ”TD” Terbagi Menjadi 2 :
1) Beban Terbagi Rata (BTR) sebesar 7.2 Kpa
15
q = 9,0 x (0,5 + ) > 30m
𝐿

2) Beban Garis Terpusat (BGT) sebesar 68.6 KN/m


DLA = 0,4 untuk L ≤ 50 m
Intensitas (P) = 49 kN/m

b. Menurut SNI 1725:2016 Beban Truk :


Beban roda gandar truk (T) = 500 kN
Faktor Beban Dinamis (FBD) = 30%
Panjang truk = 13 meter

10
Bentang Jembatan (L) = 50 meter
Roda depan = 25 + (0,3 x 25)
= 32,5kN
Roda Tengah = 112,5 + (0,3 x 112,5)
= 146,25 kN
Roda Belakang = 112,5 + (0,3 x 112,5)
= 146,25 kN
c. Beban Pejalan Kaki Sebesar 5 Kpa
d. Gaya Rem
Gaya Rem Diambil yang terbear dari 25% dari berat gandar truk
atau 5% dari berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi
Rata BTR
- 25% berat gandar = 25% x (2x112,5)
= 56,25 kN
- 5% Beban truk dan BTR = 5% + (0,5 Lebar perkerasan
x bentang jembatan x BTR)
= 5% x (500 x +( 0,5 x 11 x 50
x 7,2 )
= 124 kN

Diambil nilai terbesar = 124 kN

- Jumlah gelagar (n) = 9 buah


- Jarak gelagar (s) = 1,625 meter
- Jumlah Joint = 11 joint

Jadi Gaya Rem yang Bekerja pada joint gelagar = gaya rem / jumlah join

= 13,78/11 = 1,253

d. Beban Lingkungan
1. Beban angin
1) Angin Tekan :

11
𝑉𝑑𝑧
Pd = Pb ( 𝑉𝑏 )

103,46 2
= 0,0024 ( ) = 0,003 kN/mm
100

Pd = 0,003 x 1000 = 2,569 kN/m

𝐿
Ews = Pd (𝑛)

67,50
= 2,569 ( ) = 8,257 kN
21

2) Angin Hisab sebesar 8,257/2 = 4,129 kN


2. Perubahan Suhu (EUN)
α Baja = 0,000012 per ◦C
Bentang Jembatan (L) = 50 meter
Tmax = 40 ◦C
Tmin = 15 ◦C

Simpangan akibat beban temperature =

△r = al (Tmax design – Tmix design)

= 12 x 10-6 x 50000 mm x (40 – 15)

= 15 ◦C

e. Beban gempa (EQ)

Lokasi Proyek = Kota Mataram

Jenis Tanah = Lunak (SE)

- Parameter percepatan gempa :


a. Parameter puncak batuan dasar (PGA) = 0,2 – 0,25 g (peta D.7) diambil = 0,23 g
b. Respon Spectra percepatan 0,2 detik dibatuan dasar (Ss) = 0,5 – 0,6 g (peta D.8)
diambil = 0,55 g
c. Respon Spectra percepatan 1 detik di batuan dasar (S1) = 0,15 – 0,2 g (Peta D.9)
diambil = 0,2 g

12
- Menentukan Faktor situs
a. Faktor amplifikasi untuk PGA dan periode 0,2 detik
0,23−0,2
FPGA = 1,7 + ({1,2 x 1,7} x )
0,3−0,2

FPGA = 1,55
0,55−0,5
Fa = 1,7 + ({1,2 – 1,7} x 0,75−0,5)

Fa = 1,6

b. Faktor amplifikasi untuk PGA dan periode 1 detik


Fv = 3,2

- Perhitungan Gempa statik ekivalen - Waktu getar alami struktur (T)


As = FPGA x PGA Ts = SD1/SDS
= 1,55 x 0,23 = 0,64/0,88
= 0,36 g = 0,73 s
SDS = Fa x Ss T0 = 0,2 x Ts
= 1,6 x 0,55 = 0,2 x 0,73
= 0,88 g = 0,146 s
SD1 = Fv x S1

Kemudian digunakan kombinasi pembebanan sesuai SNI 1725-2016 dapat


dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.2 Kombinasi Pembebanan dan Faktor Beban

13
Dalam perancangan jembatan sebenarnya untuk Tugas wajib perancangan
jembatan digunakan semua kombinasi pembebanan dan Faktor Beban. Perhitungan
rinci reaksi tumpuan pada cross beam disajikan pada Lampiran, sedangkan input
pembebanan ditampilkan pada Gambar 3.4 hingga Gambar 3.7.

Gambar 3.4 Input Pembebanan Akibat Beban Pelat


Setiap Joint pada Rangka Utama

Gambar 3. 5 Input Pembebanan Akibat Beban Angin yang Tegak Lurus


pada Setiap Batang Joint Rangka Utama

Gambar 3. 6 Input Pembebanan Akibat Beban Mati Tambahan (MA) pada


Setiap Joint Atas pada Rangka Utama

14
Gambar 3. 7 Input Pembebanan Akibat Beban Lajur (BTR Dan BGT) pada
Setiap Joint Atas pada Rangka Utama
2.5.1 Analisis Lendutan
𝐿
Berdasarkan RSNI T-03-2005 lendutan maksimal yang diijinkan yaitu: 𝛿 = 800

dan dapat dijelaskan sebagai berikut.


keterangan:
𝛿 : lendutan jembatan (mm)
L : panjang jembatan (mm)
Berdasarkan ketentuan RSNI T-03-2005 dengan panjang jembatan (L) adalah 50
meter, diperoleh lendutan Ijin sebesar 𝛿 = 62,10 mm. dari hasil analisis
menggunakan software SAP2000 diperoleh nilai lendutan yang terjadi pada
Kombinasi Daya layan 1 yaitu sebesar 54,48 mm < 62,10 mm dengan lendutan sisa
sebesar 7,7 mm. maka struktur jembatan tersebut mampu memberikan
serviceability yang baik. Selanjutnya nilai lendutan pada masing-masing kombinasi
pembebanan disajikan pada Tabel 3.3.
NO Kombinasi Beban Lendutan Aktual (mm)
1 Kuat 1 75,86
2 Kuat 2 50,74
3 Kuat 3 48,25
4 Kuat 4 43,32
5 Layan 1 54,48
6 Layan 2 50,74
7 Layan 3 40,52
8 Layan 4 37,22
9 Ekstrem 1 23,9
10 Ekstrem 2 21,8

3.5.2 Analisis Kekuatan Batang

15
1) Analisis Batang Tarik
Analisis struktur batang tarik berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
6.8.4. Detail perhitungan analisis batang tarik dengan hasil analisis gaya batang
tarik maksimum dapat dilihat pada Tabel 3.4.
1. Analisis Struktur Batang Tarik

Cek Batas Kelangsingan dan Panjang Maksimum

r = 7,73 mm, Syarat λ ≤ 300 λ = L/r


L = r x 300 = 7,73 x 300 = 2319 mm

a) Batas Leleh

Pn = Ag x Fy = 83,16 x 240 = 19958,4 N

ØPn = 0,9 x Pn = 17962,58 N

b) Batas Keruntuhan

Menghitung Luas Neto

An = Ag - (n x d x t) = 83,16 - (2 10 x 1,1)

= 61,16 mm2

Tabel 7 Nilai Batas Keruntuhan


Menghitung Faktor Lag Geser Menghitung Luas Efektif
𝐵² 40²
X = 4(𝐵+𝐻) = 4(40+40) = 5 Ae = An x U = 164 x 0,975 = 159,90

L = 150
𝑋
X = 1 - = 0,975
𝑙

Nilai Kuat Tarik Batas Keruntuhan


Pn = Ae x Fu = 59,631 x 370 = 22063
N ØPn = 0,75 x Pn = 16547,60 N
Analisis Kekuatan Geser Balok
Rn = 0,6 x Fu x Anv + Ubs x Fu x Ant = 35640,49 N

16
∅Rn = 0,75 x 106936,2 = 26730,74 N
Tabel 3. 4 Kontrol Kapasitas Tarik Ultimate
Gaya Tarik
Profil Kapasitas Tarik (kN) Ultimate (kN) Syarat Kombinasi
Pembebanan
WF [Link] 118044 4341,37 AMAN KUAT I
WF [Link] 108044 4341,37 AMAN KUAT II
WF [Link] 98044 4341,37 AMAN KUAT III
WF [Link] 88044 4341,37 AMAN KUAT IV

2) Analisis Batang Tekan


Analisis struktur batang tekan berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
[Link].1. Detail perhitungan analisis batang tekan dengan hasil analisis gaya
batang tekan maksimum dapat dilihat pada Tabel 3.5.
- Analisis Struktur Batang Tekan

𝐸 200
λr = 1,40√ = 1,40√ = 40,41
𝐹𝑦 240

Syarat = λ < λr
= 18,18 < 40,41….. Nonlangsing
- Tabel 8 Nilai Kelangingan Penampang Batang Tekan
Rasio Kelangsingan Panjang Efektif Menghitung Analisis Tekuk
Maksimum Lentur Pasal E3
𝜋2
K = 1, Lc = L x K = 200 mm Fe = 𝜆2 = 271,63 Mpa
Menghitung Analisis Tekuk
Rasio Kelangsingan Panjang Efektif Maksimum
Lentur Pasal E3
𝐿𝑐 𝐸
R = 10,78 mm, syarat = λ ≤ 200 ≤ 4,71√𝐹𝑦 → 89,253 ≤ 133,219
𝑟
λ = Lc/r Fcr = (0,658 𝑓𝑦/𝑓𝑒 ) Fy = 170,075
Nilai Kuat Tekan
Pn = Fcr x Ag = 194 x 83,16 = 16133,04 N
∅Pn= 0,9 x 16133,04 = 14519,74

Tabel 3.5 Kontrol Kapasitas Tekan Ultimate


Gaya tekan
Profil Kapasitas Tekan (kN) SyaratKombinasi
Ultimate (kN)
Pembebanan
WF [Link] 9158,56 8695,44 AMAN KUAT I
WF [Link] 8124,76 8695,44 AMAN KUAT II

17
WF [Link] 7239,98 8695,44 AMAN KUAT III
WF [Link] 4983,6 8695,44 AMAN KUAT IV

3) Analisis Batang Lentur


Analisis struktur batang lentur berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
[Link]. Detail perhitungan analisis batang lentur disajikan dengan hasil
analisis gaya batang lentur maksimum dapat dilihat pada Tabel 3.6.
- Analisis Struktur Batang Lentur
Pelat Sayap Atass Pelat Sayap Bawah
1 1
𝑓bu1 + f1 ≤ Øf . fnc 𝑓bu2 + 3 f1 ≤ Øf . fyt
3

115,74 MPa ≤ 239,53 MPa…Oke 115,74 MPa ≤ 261 MPa…Oke


Akibat Badan (web)
𝑓𝑏𝑢3 ≤ ∅f . 𝐹𝑐rw | 115,74 MPa ≤ 261 MPa …Oke
1. Akibat Geser
𝑉𝑢 ≤ ∅v. 𝑉𝑛
660,8 kN ≤ 2724,84 kN…. Oke
1) Kondisi Batas Layan
Pelat Sayap Atas Akibat Bada (web)
1
𝑓bu4 + 2 f1 ≤ 0,8 . Rh. Fyt 𝑓bu_web ≤ fcrwb

189,16 MPa ≤ 232 MPa…Oke 239,78 MPa ≤ 290 MPa…Oke


2) Kondisi Batass Fatik
γ∆F ≤ ∆FTH
163,41 MPa ≤ 165 MPa
3) Kondisi batas ultimit
a) Lentur HB [Link] b) Lentur WF [Link]
1 1
Mu_ultimit + 3 f1 . Sxc ≤ Øf . Mnc Mu_ultimit + 3 f1. Sxc ≤ Øf . Mnc

1542,07kNm ≤ 1896,439 540,359 kNm ≤ 1533,019kNm…Oke


Tabel 3.6 Kontrol Kapasitas Momen Ultimate
Kapasitas Momen Momen Ultimate
Profil Syarat Kombinasi
(kNm) (kNm)
Pembebanan
HB [Link] 1896,44 1542,07 AMAN
WF [Link] 1533,02 540,539 AMAN KUAT I
HB [Link] 1552,09 1542,07 AMAN KUAT II
WF [Link] 1231,31 540,539 AMAN

18
HB [Link] 1323,9 1542,07 TIDAK KUAT III
AMAN
WF [Link] 1112,90 540,539 AMAN
HB [Link] 1219,18 1542,07 TIDAK KUAT IV
AMAN
WF [Link] 9898,8 540,539 AMAN
4) Analisis Batang Geser
Analisis struktur batang geser berdasarkan pada AASHTO LRFD 2024 Pasal
6.10.9. Detail perhitungan analisis batang geser maksimum disajikan dengan
hasil analisis dilihat pada Tabel 3.7.
a) Akibat lentur
Pelat sayap atas Pelat sayap bawah
1 1
𝑓bu1 + 3 f1 ≤ Øf . fnc 𝑓bu2 + 3 f1 ≤ Øf . fyt

4,37 MPa ≤ 239,53 MPa…Oke 4,37 MPa ≤ 261 MPa…Oke


Pelat badan (web)
𝑓bu3 ≤ Øf . fcrw
4,37 MPa ≤ 261 MPa…Oke
b) Akibat geser
Vu ≤ Ø[Link]
57,275kN ≤ 1967,94 kN …Oke
1) Kondisi batas layan
Pelat sayap Atas Akibat Badan (web)
1
𝑓bu4 + 2 f1 ≤ 0,8 . [Link] 𝑓bu_web ≤ fcrwb

170,3 MPa ≤ 232 MPa…Oke 170,3MPa ≤ 290 MPa…Oke


2) Kondisi batas fatik
γ∆F ≤ ∆FTH
111,27 MPa ≤ 125 MPa
3) Kondisi batas ultimit
a) Geser Hb [Link] : Vu ≤ Øv . Vn =145,824kN ≤ 1892,25kN..Oke
b) Geser Wf [Link] :Vu ≤ Øv . Vcr = 559,448 ≤ 2518,963
Tabel 3.7 Kontrol Kapasitas Geser Ultimate
Kapasitas Geser (kN) Geser Ultimate
Profil Syarat Kombinasi
(kN)
Pembebanan
HB [Link] 1892,25 145,824 AMAN

19
WF [Link] 2518,963 559,448 AMAN KUAT I
HB [Link] 1732,32 145,824 AMAN KUAT II
WF [Link] 2213,78 559,448 AMAN
HB [Link] 1323 145,824 AMAN KUAT III
WF [Link] 1981,3 559,448 AMAN
HB [Link] 897,98 145,824 AMAN KUAT IV
WF [Link] 1891 559,448 AMAN

3.5.3 Analisa Sambungan dan Pelat


Sambungan yang digunakan untuk struktur jembatan ukuran sebenarnya adalah
sambungan baut. Oleh karena itu, untuk semua jenis sambungan pada sistem
struktur jembatan Sebenarnya ini digunakan baut dan plat buhul (gusete plate).
Berdasarkan RSNI T-03-2005 jumlah pasangan baut minimum adalah 2 buah.
Tarik pada batang (kombinasi kuat I), Tu1 = 11762,94 kN
Tegangan Tarik putus baut, fub = 825 MPa
Jumlah bidang geser (kondisi sambungan ganda), m = 2
Faktor reduksi kekuatan geser baut, Φf = 0,75
Faktor pengaruh ulir pada bidang geser, r1 = 0,4
Diameter baut (A325), d = 22 mm
Luas penampang baut, Ab = π / 4 * d2 = 380,13 mm2
Tahanan geser nominal baut, Vn = r1 * m * Ab * fub = 250885,8 N
Tu1
Tahanan geser baut, < R n1
∅V

11593,92 < 75668,9


T
Rasio 1 , ( ∅u1) / Rn1 = 0,15…Oke
V

TS
Tahanan slip kritis baut, < R n2
∅S

6229,716 < 6534


T
Rasio 2, ( ∅S) / Rn2 = 0,95…Oke
S

Jumlah baut yang diperlukan pada penampang kritis badan terhadap gaya
geser, nmin =Tu1 / (Φf * Vn) = 1176294 / 188164,35 = 6,50 → diambil 8
(jumlah baut).
2.6 Desain Komponen dan Sambungan

20
Komponen dan sambungan penyusun pada struktur jembatan sebenarnya dapat
diliat pada Gambar 2.8 dan 2.9 di bawah ini.

Joint 1 Joint 2 Joint 3

Joint 4 Joint 5 Joint 6

Gambar 2.8 Joint 1, 2, 3, 4, 5, dan 6

Gambar 2.9 Sambungan Joint 2

21
BAB III
DESAIN JEMBATAN MODEL PELENGKUNG

3.1 Dasar Teori Perancangan


3.1.1 Pengertian jembatan

Jembatan merupakan salah satu prasarana transportasi yang berfungsi


menghubungkan dua wilayah yang terpisah oleh hambatan alami maupun buatan,
seperti sungai, lembah, rawa, dan jalur transportasi lainnya. Keberadaan jembatan
sangat penting dalam menunjang mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta
meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah (Prayogo et al.,
2024).

Selain sebagai sarana penghubung, jembatan juga dirancang untuk mampu


menahan berbagai jenis pembebanan, seperti beban mati, beban hidup kendaraan,
angin, dan gempa sehingga diperlukan perencanaan struktur yang aman, kuat, dan
sesuai dengan standar teknik sipil yang berlaku (Walujodjati & Al Qurthubi, 2023).

3.1.2 Jenis – jenis jembatan sebenarnya

Jenis jembatan berdasarkan fungsi, lokasi, bahan konstruksi dan tipe


struktur sekarang ini telah mengalami perkembangan pesat sesuai dengan kemajuan
jaman dan teknologi, mulai dari yang sederhana sampai pada konstruksi yang
mutakhir.

1. Berdasarkan material, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut


a) Jembatan beton
b) Jembatan baja
c) Jembatan kayu
2. Berdasarkan strukturnya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut
a) Jembatan gantung
b) Jembatan gantung kabel
c) Jembatan pelengkung
d) Jembatan busur

22
3. Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat debedakan sebagai berikut
a) Jembatan jalan raya
b) Jembatan kereta api
c) Jembatan pejalan kaki

3.2 Kriteria Perancangan


3.2.1 Spesifikasi Material

Material yang digunakan pada perencanaan jembatan pelengkung


Arjuna dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 3. 2 Material jembatan

No Komponen Material Dimensi

10 mm x 20 mm x
1 Batang pelengkung Kayu Kempas
120 mm

10 mm x 20 mm x
2 Bresing atas Kayu Kempas
150 mm

10 mm x 20 mm x
3 Bresing bawah Kayu Kempas
150 mm

4 Lantai jembatan Triplek ±6 mm

1,10 mm x 4000
5 Cable element Kawat Seling mm

Mutu dan diameter Kawat seling 8 mm/24,3 Mpa

M2
6 Sambungan Pasak Beragam dengan d
= 8 cm, L = 10 cm

23
Alat sambung yang digunakan pada sambungan jembatan pelengkung
Arjuna adalah sambungan pasak kayu yang dialasi dengan plat sambung tebal 10
mm dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3. 1 Sambungan Pasak


(sumber : [Link])
Spesifikasi material yang terdapat pada jembatan pelengkung ini dapat
dilihat di Tabel 3.2.

Tabel 3. 3 Spesifikasi material baja jembatan

Jenis Properti Nilai Properti


Berat per Unit Volume,𝛾 880 kg/𝑚3
Modulus Elastisitas, E 12000 Mpa
Poisson Ratio, 𝜐 0,3

24
3.3.2 Metodologi perancangan

Untuk metodologi perancangan dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

Gambar 3. 2 Diagram alir metodologi perancangan

25
3.3 Sistem Struktur
Dalam perencanaan struktur, jembatan dibagi kedalam dua sistem struktur,
yaitu sistem struktur atas (superstructure) dan sistem struktur bawah
(substructure).

3.3.1 Sistem struktur atas

a. Sistem plat dan balok jembatan

1) Sistem plat jembatan berupa triplek yang memiliki


ketebalan ±6 mm dengan panjang 1 meter dan lebar 0,6
meter.

2) Sistem balok jembatan terdiri dari tiga puluh tujuh (50)


kayu Kempas ukuran 10 x 20 mm dan 10 x 20 mm
b. Sistem struktur rangka dan tumpuan
1) Sistem struktur rangka memiliki panjang 1,2 meter
dengan tinggi 0,20 meter. Sistem rangka terdiri dari kayu
Kempas ukuran 10 x 20 mm, 10 x 20 mm, dan cable
element berupa kawat seling
2) Sistem tumpuan jembatan ini adalah tumpuan sendi dan
rol.
c. Sistem sambungan
1) Sambungan antara batang melintang dan memanjang
pada dek. Sambungan yang digunakan pada jembatan
untuk menyambung batang melintang dan memanjang
pada dek adalah sambungan pasak dan Plat sambung
kayu
3.4 Pemodelan Struktur
3.4.1 Modelisasi desain

Pemodelan desain struktur jembatan dimulai dari


mempertimbangkan beberapa konfigurasi atau tipe rangka jembatan,
kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis struktur pada setiap

26
tipe rangka sehingga didapatkan nilai berat struktur dan lendutan
seperti yang disajikan pada Tabel 3.3 dibawah ini
Tabel 3. 4 Modelisasi rangka jembatan

Tipe
Berat Lendutan
Rangka Visualisasi
(Kg) (mm)
Jembatan

1 1,5 2,46907

Berdasarkan design pemodelan dan analisis struktur tipe


rangka 1, maka didapatkan berat struktur jembatan sebesar 1,5 kg dan
lendutan maksimum sebesar 2,46907 mm pada tengah bentang
jembatan. Lendutan yang didapatkan mendekati lendutan target dan
masih dibawah lendutan izin.
1) Material member
Material yang digunakan yaitu kayu Kempas yang dapat dilihat
pada Gambar 3.3.

Gambar 3. 3 Kayu Kempas

27
3.4.2 Modelisasi Konseptual

1) Konsep filosofi jembatan


Jembatan pelengkung praje merupakan jembatan busur yang rangkanya terinspirasi
dari motif kuda dan papan sebagai perancah jembatan berbentuk motif sasak. Praje
dalam istilah masyarakat sasak adalah “suatu alat atau media yang digunakan
dalam kegiatan pawai arak- arakan yang biasanya dilakukan pada bulan Maulid
Nabi Muhammad SAW. Yang dimana dalam kegiatan Tradisi praje sasak ini
mengusung anak-anak yang akan dikhitan secara keliling kampung menggunakan
alat musik tradisional khas sasak yakni “gendang beleq”. Tradisi praje sasak ini
merupakan suatu tradisi dalam bentuk wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang biasa sudah dikatakan wajib diadakan secara rutinitas yang tumbuh
berkembang di dalam masyarakat sasak khususnya di masyarakat Kelurahan Dasan
Agung Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Ketika Sebagian masyarakat Dasan
Agung melaksanakan pengajian dimasjid, maka Sebagian anggota masyarakat
lainnya merayakan dengan mengusung praje sasak. Gambar 3.4

Gambar 3. 4 Praje

Gambar 3.5 Motif Praja

28
3.5 Analisis Struktur
Dari hasil analisa yang sudah dilakukan menggunakan sofware SAP 2000
didapatkan hasil yang dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3. 5 Gaya dalam yang bekerja pada jembatan pelengkung Bale Songket
dengan beban 45 Kg pada tengah bentang

AKSIAL (Kg) GESER MOMEN


BAGIAN
Tekan (-) Tarik (+) (Kg) (Kg.m)

Gelagar Memanjang - 32,16 2,5 29,96

Gelagar Melintang (Bresing Bawah) - - 0,0001522 0,000568

Busur Jembatan -56,55 - 5,08 33,04

Bresing Atas - - 0,000954 0,00007190

3.5.1 Perhitungan berat jembatan

Dari data yang diketahui tentang komponen yang digunakan pada jembatan
pelengkung Bale Songket ini didapatkan:

Panjang bressing atas = 0,15 m

Panjang bressing bawah = 0,15 m

Panjang lengkungan = 1,39 m

berat kayu Kempas = 880 kg/m3

berat kabel elemen kawat seling diameter 1,10 mm, 15 g/m

Dari data yang sudah diketahui, selanjutnya akan dimasukkan pada SAP2000. Dari
analisa SAP2000 didapatkan berat sebesar 1,5 kg seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 3.6.

29
Gambar 3. 5 Berat jembatan

3.6 Desain Komponen


Dari hasil analisa perhitungan lendutan pada tengah bentang didapatkan
nilai lendutan maksimum yang terdapat pada pada tengah bentang yaitu sebesar
0,00246907 m atau 2,46907 mm.

Adapun hasil perhitungan yang lain yang berkaitan dengan komponen


jembatan yaitu berat struktur jembatan sebesar 1,5 kg, kekuatan sambungan
terhadap gesar sebesar 800 N, kekuatan sambungan per Pasak dibatasi oleh
kekuatan tekan lokal kayu sebesar 450 N, Beban maksumim yang akan
ditanggung sebesar 554,7555 N. Untuk analisa perhitungan baut dan plat dapat
dilihat pada Lampiran 1.1.

Untuk komponen-komponen jembatan yang dimodelkan pada


SAP2000 dapat dilihat pada Gambar 3.7 sampai dengan Gambar 3.11.

Gambar 3. 6 konfigurasi rangka jembatan

30
Gambar 3. 7 Galagar dan bresing bawah jembatan

Gambar 3. 8 Bresing atas jembatan


Bentuk jembatan model pelengkung sebelum terjadinya lendutan
dapat dilihat pada Gambar 3.10.

Gambar 3. 9 Bentuk jembatan sebelum menerima beban


Bentuk lendutan yang terjadi pada jembatan model pelengkung
dapat dilihat pada Gambar 3.11.

31
Gambar 3. 10 Bentuk lendutan yang terjadi pada jembatan

32
BAB VI
METODE PERAKITAN JEMBATAN MODEL PELENGKUNG

4.1. Tahap Persiapan Konstruksi Model Jembatan


Proses persiapan konstruksi jembatan diawali dengan perakitan model
jembatan per segmen, di mana model tersebut terdiri atas lima (5) langkah
pengerjaan. Pembagian segmen model jembatan bisa dilihat pada Gambar 4.1.

Segmen 1 Segmen 2

Segmen 3 Segmen 4

Segmen 5
Gambar 4. 1 Pembagian segmen

33
Adapun model jembatan setelah digabungkan tiap segmen dapat dilihat pada
gambar 4.2 dibawah ini :

Gambar 4. 2 Model jembatan setelah digabungkan tiap segmen


4.2. Metode Pelaksanaan
Dalam perancangan metode konstruksi jembatan pelengkung, terdapat
beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain: pemasangan

dengan perancah, sistem kantilever, bentang tunggal, metode peluncuran,


atau kombinasi dari metode-metode tersebut. Pemilihan metode konstruksi
jembatan dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti karakteristik sungai yang
akan dilintasi, ketersediaan alat bantu, serta jumlah tenaga kerja yang tersedia.

Metode konstruksi yang dipilih untuk perakitan model jembatan


pelengkung dalam pelaksanaan ini adalah metode kantilever, yaitu perakitan
dilakukan dari satu sisi secara bertahap. Tahapan metode pelaksanaan
konstruksi model jembatan pelengkung secara lengkap dapat dilihat di time
schedule.

Berdasarkan tahapan yang telah direncanakan, total waktu yang dibutuhkan


untuk menyelesaikan perakitan model jembatan pelengkung adalah 82 menit.
Rincian tahapan dan estimasi waktu perakitan jembatan pelengkung dapat
dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini.

34
Tabel 4. 1 Estimasi Waktu Perakitan Jembatan

Waktu ( Menit )
NO PEKERJAAN Keterangan
0 - 6 7--11 12--18 19--25 26--32 33--42 43--50 51--50 61--67 68--82
1 Pemasangan alat bantu untuk konstruksi model jembatan
2 Menempatkan segmen-1 pada meja bantuan
3 Menempatkan segmen-2 dan menempelkan dengan segmen-1
4 Menempatkan segmen-3 dan menempelkan dengan segmen-2
5 Menempatkan segmen-4 dan menempelkan dengan segmen-3
6 Menggeser meja bantuan & penggabungan lanjutan
7 Mengecek apakah model terpasang dengan baik
8 Pemasangan plat lantai
9 Memastikan plat lantai terpasang dengan baik
10 Pemeriksaan akhir: kestabilan dan posisi perletakan
6 5 7 7 7 10 8 10 7 15 Waktu / Tahap
Total
82 Selesai

1
BAB V
METODE PERAWATAN DAN PERBAIKAN JEMBATAN SEBENARNYA

5.1 Perbaikan Jembatan


Perawatan jembatan pelengkung dengan material kayu Kempas harus
dilakukan dengan rutin agar performa dan umur dari jembatan tersebut bisa
terjaga dengan baik. Aplikasi jembatan satu ini ternyata semakin banyak dipilih
karena menawarkan konstruksi kokoh dan kuat. Bahkan umur dari jembatan
dari kayu Kempas tergolong awet. Walaupun demikian, tetap dibutuhkan
perawatan secara berkala untuk mempertahankan kinerja dari jembatan tersebut
agar tetap awet. Jika tidak dirawat dengan rutin, maka bukan tidak mungkin
jembatan akan cepat mengalami kerusakan. Sehingga akan berersiko
mengancam keamanan sekaligus keselamatan dari para penggunanya. Beberapa
hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan perawatan dan perbaikan jembatan
pelengkung dengan material baja panas, antara lain:

1. Pemeliharaan Rutin
Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

a. Pelaksanaan pembersihan
b. Pengecatan sederhana
c. Penanganan kerusakan ringan, yang termasuk seperti penanganan lubang-
lubang dan kerusakan pada permukaan lantai kendaraan serta jalan
pendekat
d. Pengencangan baut
2. Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan berkala dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

a. Pengecatan ulang, dilakukan dengan maksud untuk melindungi bagian-


bagian kayu terhadap pelapukan
b. Pembersihan jembatan secara keseluruhan
c. Pemeliharaan peletakan
d. Penambahan atau penggantian baut pada sambungan jembatan

1
5.2 Perbaikan Jembatan
4.3.1 Perbaikan Ringan

a. Penggantian elemen-elemen kecil, dilaksanakan apabila diperlukan agar


bagian-bagian kecil atau sekunder tersebut dapat kembali berfungsi
sebagaimana mestinya.
b. Perawatan bagian yang bergerak, agar bagian tersebut tetap dapat
berfungsi dengan baik biasanya diberi pelumasan yang teratur dengan
jenis gemuk berat setelah dibersihkan terlebih dahulu.
4.3.2 Perbaikan Elemen baja

Perbaikan elemen baja pada jembatan dapat dilihat pada Tabel … dibawah
ini.

Tabel 4. 1 Perbaikan Elemen kayu


No. Jenis kerusakan Perbaikan

1 Penurunan mutu lapisan Dilakukan pengecatan


pelindung terhadap karat

3 Deformasi pada elemen Perkuatan atau penggantian tergantung mana yang


kayu lebih ekonomis

4 Retak pada Elemen kayu Memperbaiki dengan membuat plat penutup.

5 Rusak atau hilangnya Penggantian atau perbaikan elemen kayu


elemen kayu

6 Kabel jembatan yang aus - Jika kurang dari 5% dari strands yang rusak,
mulai lepas ikatan jepitlah dengan klem pada kedua sisi kabel
tersebut untuk menahan beban.
- Jika lebih dari 5% dari strands yang rusak
maka kabel harus diganti.

7 Ikatan atau sambungan yang - Apabila elemen longgar maka harus


longsor dikencangkan

2
BAB VI
RENCANA ANGGARAN BIAYA

6.1 Material dan Pelaksanaan Konstruksi

Rencana Anggaran Biaya (RAB) model jembatan pelengkung dapat dilihat


pada Tabel 5.1.

Tabel 5. 1 Rincian Biaya Pembuatan Jembatan


RENCANA ANGGARAN BIAYA
(RAB)
MAKET JEMBATAN

Pekerjaan : Pembangunan Jembatan "BALE SONGKET"


Lokasi : LOMBOK TENGAH DESA PENGGA
Tahun : 2025

No KETERANGAN VOLUME SATUAN HARGA SATUAN JUMLAH


A Material Jembatan
Kayu Kempas 5 x 20 700.00 cm Rp 6.500 Rp 45.500
Kayu Kempas 5 x 10 200.00 cm Rp 4.500 Rp 9.000
Kayu Uling 5 x 20 900.00 cm Rp 10.000 Rp 70.000
Kawat Sling 400.00 cm Rp 4.000 Rp 16.000
Baut Pengunci Sling 4.00 bh Rp 10.000 Rp 40.000
Baut M2 100.00 bh Rp 0.375 Rp 37.500
Triplek t=6 mm 1.00 Lbr Rp 65.000 Rp 65.000
SUBTOTAL Rp 283.000
B Alat
Kunci Set 2.00 bh Rp 80.000 Rp 160.000
Gergaji 1.00 bh Rp 70.000 Rp 70.000
Gerinda 1.00 bh Rp 200.000 Rp 200.000
Mata Gergaji Potong 3.00 bh Rp 4.000 Rp 12.000
Mata Gergaji Besi 1.00 bh Rp 20.000 Rp 20.000
Mata Bor 1.00 bh Rp 22.500 Rp 22.500
Meteran 1.00 bh Rp 35.000 Rp 35.000
Bor 1.00 bh Rp 250.000 Rp 250.000
Kuas 1.00 bh Rp 4.000 Rp 4.000
SUBTOTAL Rp 773.500
C Finising
Cat 1.00 kg Rp 25.000 Rp 25.000
Tiner 1.00 btl Rp 10.000 Rp 10.000
Amplas Halus 1.00 Lbr Rp 5.000 Rp 5.000
Amplas Kasar 1.00 Lbr Rp 7.000 Rp 7.000
Ornamen Pendukung 1.00 set Rp 140.000 Rp 140.000
SUBTOTAL Rp 187.000
D K3
Helm Safety 4.00 bh Rp 37.500 Rp 150.000
Sarung Tangan 4.00 bh Rp 18.500 Rp 74.000
Sepatu Boot 4.00 bh Rp 136.000 Rp 544.000
Wearpack 4.00 bh Rp 83.000 Rp 332.000
Kacamata Safety 4.00 bh Rp 14.900 Rp 59.600
SUBTOTAL Rp 1,159.600
E Material Tambahan
Lem Cina 4.00 bh Rp 10.000 Rp 40.000
Double Tip 2.00 bh Rp 3.500 Rp 7.000
SUBTOTAL Rp 47.000
GRAND TOTAL Rp 2,450.100
SUBTOTAL WAJIB PEMBELIAN Rp 575.500

3
BAB VII
PENUTUP

7.1 KESIMPULAN
Berikut kesimpulan dari proposal yang kami ajukan kepada dosen pengampu mata
kuliah perancangan jembatan :

1. Jembatan Pelengkung dengan nama Arjuna memperkenalkan kearifan


Lokal Praje kota Mataram.
2. Pada jembatan pelengkung pembebanan yang di berikan sebesar 45 kg
sebagai beban terpusat di tengah bentang.
3. Jembatan pelengkung memiliki dimensi panjang 1,2 m, lebar 0,15 m, dan
tinggi 0,20 m. Dihasilkan massa jembatan pelengkung sebesar 1,5 kg dan
lendutan sebesar 2,46907 mm.
4. Penentuan tipe struktur jembatan pelengkung menghitung aspek
kekakuatan, kekakuan, kepraktisan, dan estetika/keindahan sesuai dengan
kearifan lokal.
5. Moetde perakitan adalah kantilever. Diperkirakan waktu perakitan yaitu
selama 1,4 jam (82 menit).
6. Total biaya yang di butuhkan untuk membangun jembatan berskala adalah
Rp. 575.500,-

4
LAMPIRAN 1

Perhitungan Detail Struktur

5
Perhitungan Kapasitas Sambungan Baut pada Kayu Kempas
Data Material dan Geometri:
- Jenis kayu: Kayu Kempas
- Kekuatan tekan sejajar serat (f_c): 45 MPa
- Modulus elastisitas (E): ~120000 MPa
- Tebal kayu (t): 10 mm
- Lebar kayu: 20 mm
- Diameter baut (d): 2 mm (M2)
- Jenis sambungan: Kayu ke pelat.
- Kelas baut: 4.6
1. Kapasitas Tekan Lokal Kayu (Bearing Capacity)
Rumus:
f_bearing = f_c × d × t
f_bearing = 45 MPa × 2 mm × 10 mm = 450 N
Sehingga kapasitas sambungan satu baut terhadap gaya tarik sejajar serat adalah 450 N.

2. Mode Kegagalan
Karena kapasitas tekan lokal kayu (450 N) < kapasitas geser baut (800 N), maka
kegagalan terjadi pada kayu.
Kapasitas sambungan per baut dibatasi oleh kekuatan tekan lokal kayu:
Fbaut = 450 N

3. Beban Maksimal yang di tanggung


Kapasitas Beban maksimal yang akan ditanggung adalah 56,22Kg ~554,7555N.

6
LAMPIRAN 2
Gambar Detail Engineering Design (DED)

7
LAMPIRAN 3
Gambar Metode Perakitan

Anda mungkin juga menyukai