Di DPR, Gubernur Sherly Curhat Tak Bisa Gaji PPPK hingga Akhir Tahun
CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 11:35 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Gubernur Malut Sherly Tjoanda mengungkap keresahannya atas kondisi fiskal daerah yang tidak
mampu bayar gaji PPPK. Dia minta solusi dari pemerintah pusat. (Foto: CNN Indonesia/Taufiq
Hidayatullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengeluhkan kondisi fiskal di
daerahnya yang tidak mampu membayar gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)
hingga akhir tahun.
Keluhan itu disampaikan Sherly dalam rapat kerja Komisi II DPR bersama Menteri Dalam Negeri dan
sejumlah kepala daerah, Senin (8/6).
"Terkait relaksasi untuk itu kami memberikan apresiasi, tetapi tadi juga sudah mendengar semua
keluhan dari kepala daerah bahwa itu tidak menyelesaikan masalah kami di daerah, karena kami
sekarang tidak punya cash flow untuk membayar gaji PPPK sampai dengan akhir tahun. Sehingga
apakah masalah kami daerah selesai? Belum," kata Sherly.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, perlu ada rapat lanjutan dengan DPR sebab ada pertanyaan apakah di tahun 2027 akan
ada pemotongan anggaran lagi.
Sherly mengaku memahami kondisi APBN yang juga sulit, sehingga daerah harus melakukan inovasi.
Lihat Juga :
Tito Minta Kepala Daerah Setop Rekrut Honorer Baru karena Jadi Beban
"Tetapi permasalahan kita di daerah, ketika kita harus melakukan inovasi, banyak tools, banyak
otoritas dari kami itu yang sudah diambil oleh pusat, sehingga kami pun tidak memiliki ruang untuk
bisa berinovasi," ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi fiskal Maluku Utara saat ini, di mana, Dana Alokasi Umum (DAU) yang
diterima provinsi sekitar Rp960 miliar, sementara belanja pegawai mencapai Rp1,1 triliun. Artinya,
belanja pegawai sudah melebihi DAU.
"Bahwa kemudian kita berimprovisasi dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan DBH (Dana Bagi
Hasil) dan dana bagi hasil itu kan namanya juga dana bagi hasil dan kami ditahan 60 persen,"
katanya.
Sherly mengatakan daerah tidak meminta pemerintah pusat untuk membayar gaji PPPK. Ia hanya
meminta pengembalian sebagian DBH agar masalah gaji itu bisa diatasi.
"Jika itu dikembalikan, kita kan mengambil jalan tengah, maka kemudian itu sangat membantu,
karena pada akhirnya menurut pendapat kami, relaksasi yang diberikan ini adalah hal yang baik, tapi
akan mengorbankan belanja infrastruktur, dan infrastruktur itu diperlukan untuk fondasi percepatan
pertumbuhan ekonomi di daerah," katanya.
Dalam rapat yang sama, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap ada 39
pemda yang tak mampu bayar gaji PPPK lantaran porsi belanja pegawai di atas 50 persen.
Lihat Juga :
Alasan 39 Daerah Tak Mampu Bayar Gaji PPPK
Karena itu, Tito menilai 39 pemda tersebut perlu dibantu menggunakan penambahan anggaran
Transfer ke Daerah (TKD) yang ada di APBN.
"Kalau tidak salah kita itu 39 daerah. Ada 39 daerah yang perlu kita pikirkan. Mungkin mereka, kalau
di PAD juga akan berat, sehingga mungkin perlu di-top-up melalui TKD," ujarnya dalam Rapat Kerja
Komisi II DPR RI, Senin (8/6).
Tito menyebutkan beberapa daerah yang memerlukan bantuan adalah Sulawesi Tengah karena porsi
belanja pegawainya sebesar 56,65 persen. Begitu juga dengan Kabupaten Donggala yang belanja
pegawainya memakan porsi 53,1 persen dari APBD.
"Kemudian Sigi itu belanja pegawai 60 persen. Nah, ini yang perlu dikerjakan, carikan solusi,"
imbuhnya.
Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan untuk memaksimalkan belanja pegawai maksimal 30
persen dari total APBD. Hal ini sejalan dengan isi Undang-Undang Hubungan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD).
(yoa/wis)
Baca artikel CNN Indonesia "Di DPR, Gubernur Sherly Curhat Tak Bisa Gaji PPPK hingga Akhir Tahun"
selengkapnya di sini: [Link]
gubernur-sherly-curhat-tak-bisa-gaji-pppk-hingga-akhir-tahun.
Download Apps CNN Indonesia sekarang [Link]