0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Icra Program

Dokumen ini adalah panduan Infection Control Risk Assessment (ICRA) di RSUD Dr. Muhammad Zein Painan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi terkait pelayanan kesehatan. ICRA bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengontrol, dan memonitor risiko infeksi melalui pendekatan multidisiplin. Panduan ini juga mencakup prosedur, ruang lingkup, dan dokumentasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Diunggah oleh

nani pias
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Icra Program

Dokumen ini adalah panduan Infection Control Risk Assessment (ICRA) di RSUD Dr. Muhammad Zein Painan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi terkait pelayanan kesehatan. ICRA bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengontrol, dan memonitor risiko infeksi melalui pendekatan multidisiplin. Panduan ini juga mencakup prosedur, ruang lingkup, dan dokumentasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Diunggah oleh

nani pias
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RevisiIPanduan ICRA

Program (Infection Control Risk


Assesment)

Komite Pencegahan dan


Pengendalian Infeksi Rumah Sakit
Tahun 2022

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Muhammad Zein Painan


Jl. Dr. A. Rivai, Painan 25611
Phone : (0756) 21428-21518, Fax.0756-21398
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit infeksi terkait pelayanan kesehatan atau Healthcare Associated
Infection (HAIs) merupakan salah satu masalah kesehatan diberbagai negara
di dunia, termasuk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa HAIs yang
ditimbulkan berdampak secara langsung terhadap pelayanan di rumah sakit
terutama dapat menyebabkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan
meningkat selain itu juga mempunyai dampak terhadap citra dan mutu rumah
sakit.
Secara prinsip, kejadian HAIs sebenarnya dapat dicegah bila fasilitas
pelayanan kesehatan secara konsisten melaksanakan Program Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi merupakan
upaya untuk memastikan perlindungan kepada setiap orang terhadap
kemungkinan tertular infeksi dari sumber masyarakat umum dan disaat
menerima pelayanan kesehatan pada berbagai fasilitas kesehatan.
Dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di RSUD Dr [Link]
Painan maka perlu melakukan pengkajian resiko infeksi (ICRA). ICRA adalah
proses multidisiplin yang berfokus pada pengurangan infeksi,
pendokumentasian bahwa dengan mempertimbangkan populasi pasien,
fasilitas dan program:
1. Fokus pada pengurangan resiko dari infeksi,
2. Pengetahuan tentang infeksi, agen infeksi, dan lingkungan perawatan,
yang memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi dampak potensial.
3. ICRA merupakan pengkajian yang di lakukan secara kualitatif dan
kuantitatif terhadap resiko infeksi terkait aktifitas pengendalian infeksi di
fasilitas pelayanan kesehatan serta mengenali ancaman/bahaya dari
aktifitas tersebut.

Berdasarkan hal tersebut diatas perlu disusun panduan ICRA di Rumah


Sakit agar terwujud pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat menjadi
acuan bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pencegahan dan
pengendalian infeksi di dalam fasilitas pelayanan kesehatan serta dapat
melindungi masyarakat dan mewujudkan patient safety yang pada akhirnya
juga akan berdampak pada efisiensi pada manajemen fasilitas pelayanan
kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan.
B. DEFENISI
ICRA adalah Proses multidisiplin yang berfocus pada pengurangan
infeksi, pendokumentasian dengan mempertimbangkan populasi pasien,
fasilitas dan program yang berfokus pada pengurangan risiko infeksi melalui
tahapan perencanaan fasilitas, desain kontruksi, renovasi, pemeliharaan
fasilitas, dan disertai dengan pengetahuan tentang infeksi, agen infeksi, dan
lingkungan perawatan, yang memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi
dampak potensial.
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Upaya mencegah dan mengurangi resiko terjadinya HAIs pada pasien,
petugas dan pengunjung di rumah sakit
2. Tujuan Khusus
a) Mencegah dan mengontrol frekuensi dan dampak resiko terhadap
paparan kuman patogen melalui petugas, pasien dan pengunjung
b) Penularan melalui tindakan/prosedur invasif yang
dilakukan baik melalui peralatan,teknik
pemasangan, ataupun perawatan terhadap HAIs.
c) Melakukan penilaian terhadap masalah yang ada agar dapat ditindak
lanjuti berdasarkan hasil penilaian skala prioritas
BAB II
RUANG
LINGKUP

Panduan ini memberikan petunjuk pelaksanaan bagi petugas di RSUD.


[Link] Zein Painan dalam mengidentifikasi resiko infeksi yang didapat
pada pasien saat dirawat di rumah sakit yaitu Associated Pneumonia Ventilator
(VAP) dan serta faktor-faktor risiko lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya
infeksi, Hospital Acquired Pneumonia (HAP), Infeksi Aliran Darah Primer (IADP),
Infeksi Daerah Operasi (IDO), Infeksi Saluran kemih (ISK), Infeksi Aliran Darah
Perifer / Plebitis dan resiko infeksi yang terjadi karna adanya renovasi bangunan
rumah sakit.
Pengkajian risiko pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan
kesehatan didapatkan melalui masukan dari lintas unit yaitu :
a. Pimpinan h. Instalasi Laboratorium
b. Anggota Komite PPIRS, i. Instalasi Farmasi
IPCN / IPCN-link j. Koordinator lain yang diperlukan
c. Staf medik k. Komite Mutu
d. Perawat l. Petugas kesehatan lain
e. Laboratorium m. Bidang Keperawatan
f. Unit RawatJalan
g. Instalasi CSSD
BAB III
TATA
LAKSANA

A. Pengkajian Risiko Infeksi (Infection Control Risk Assesment/ICRA) HAIs terdiri


dari 4 (empat) langkah, yaitu :

1. Identifikasi resiko
Proses manajemen resiko bermula dari identifikasi resiko dan melibatkan:
a) Penghitungan beratnya dampak potensial dan kemungkinan frekuensi
munculnya resiko.
b) Identifikasi aktivitas-aktivitas dan pekerjaan yang menempatkan
pasien, tenaga kesehatan dan pengunjung pada resiko.
c) Identifikasi agen infeksius yang terlibat,dan
d) Identifikasi cara transmisi.
2. Analisa resiko
a) Mengapa hal ini terjadi?
b) Berapa sering hal ini terjadi?
c) Siapa saja yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut?
d) Dimana kejadian tersebut terjadi?
e) Apa dampak yang paling mungkin terjadi jika tindakan yang sesuai tidak
dilakukan?
f) Berapa besar biaya untuk mencegah kejadian tersebut?
3. Kontrol resiko
a) Mencari strategi untuk mengurangi resiko yang akan mengeliminasi atau
mengurangi resiko atau mengurangi kemungkinan resiko yang ada
menjadi masalah.
b) Menempatkan rencana pengurangan resiko yang sudah disetujui
padamasalah.
4. Monitoring resiko
a) Memastikan rencana pengurangan resiko dilaksanakan.
b) Hal ini dapat dilakukan dengan audit dan atau surveilans dan
memberikan umpan balik kepada staf dan manajer terkait.

Dalam bentuk skema langka-langkah ICRA digambarkan sebagai berikut:

Sumber: Basic Consepts of Infection Control, IFEC, 2011


Dibawah ini ada tabel yang menerangkan cara membuat perkiraan
resiko, derajat keparahan dan frekuensi terjadinya masalah:

Tabel Derajat Keparahan

Peringkat Peluang Uraian


4 1 : 10 Hampir pasti atau sangat mungkin untuk terjadi
3 1 : 100 Tinggi kemungkinannya terjadi
2 1 : 1.000 Mungkin hal tersebut akan terjadi pada suatu waktu
1 ≥ 1 : 10.000 Jarang terjadi dan tidak diharapkan untuk terjadi

Tabel Keparahan dan Frekuensi TerjadinyaMasalah

Peringkat Deskripsi Uraian Komentar


20-30 Tinggi atau Dampak yang besar bagi pasien yang Tindakan
segera
mayor dapat mengarah kepada kematian
sangat
atau dampak jangka panjang
dibutuhkan
10-19 Menengah Dampak yang dapat menyebabkan Dibutuhkan
efek
penanganan
jangka pendek
1-9 Rendah atau Dampak minimal dengan/ tanpa efek Dinilai ulang
minor
minor secara berkala
Tabel Keparahan dan Frekuensi TerjadinyaMasalah
Keparahan 2 – Keparahan tinggi 1 – Keparahan tinggi
tinggi Frekuensi rendah (infeksi aliran Frekuensi tinggi (infeksi dalam
darah
darah disebabkan oleh
akibat penggunaan alat dan jarum
kontaminasi akses intravena)
suntik ulangi)
Keparahan 4 – Keparahan rendah (infeksi 3 – Keparahan rendah
rendah dari linen rumah sakit) Frekuensi tinggi (infeksi saluran
kemih)
Frekuensi rendah Frekuensi tinggi

Jenis resiko dan tingkat resiko berbeda di setiap unit fasilitas pelayanan
kesehatan. Seperti di IGD, ICU, instalasi bedah, rawat inap, laboratorium,
renovasi/pembangunan, dan lainnya. Pencatatan resiko adalah pencatatan semua
resiko yang sudah diidentifikasi, untuk kemudian dilakukan pemeringkatan
(grading) untuk menentukan matriks resiko dengan kategori merah, kuning dan
hijau. Pemeringkatan (grading) dalam bentuk table sebagai berikut:
Penilaian tingkat risiko berdasarkan Probalitas/frekuensi
TINGKAT
DESKRIPSI FREKUENSI KEJADIAN
RISK
0 Never Tidak pernah
1 Rare Jarang (Frekuensi 1-2 x/tahun)
2 Maybe Kadang (Frekuensi 3-4 x/ tahun)
3 Likely Agak sering (Frekuensi 4-6 x/tahun)
4 Expect it Sering (Frekuensi >12 x/tahun)

Tabel Penilaian Dampak Resiko


TINGKAT
DESKRIPSI DAMPAK
RISK
1 Minimal clinical Tidak ada cedera
2 Moderate  Cedera ringan, misal lukalecet
clinical
 Dapat diatasi dengan P3K
3 Prolonged  Cedera sedang, misal: lukarobek
length of stay  Berkurangnya fungsi motoric/sensorik/psikologis
atau interlektal (reversible)
 Tidak berhubungan dengan penyakit
 Setiap kasus yang memperpanjang perawatan
4 Tempporer  Cedera luas/berat, misal: cacat,lumpuh
 Kehilangan fungsi
loss offunction motoric/sensorik/psikologisatau
intelektual (irreversible), tidak berhubungan
dengan perjalanan penyakit
5 Katatropik Kematian yang tidak berhubungan dengan
perjalanan
penyakit
Menentukan Skore Risiko:Nilai Probabilitas x Nilai Risiko/Dampak
Hal ini akan menentukan evaluasi dan tatalaksana selanjutnya.
Untuk risiko/insiden dengan kategori biru dan hijau maka evaluasi cukup
dengan investigasi sederhana, sedangkan untuk kategori kuning dan
merah perlu dilakukan evaluasi lebih mendalam dengan metode RCA (Root
Cause Analysis –Reaktif/Responsive) atau FMEA.

RISK GRADING MATRIX

Tingkat Risiko Berdasarkan Dampak

Probabilita Prolonged Temporer


Minim Moderate
s/ Lenght of Loss of Katatropik
al Clinical
Frekuensi Stay Function
Clinica
l
1 2 3 4 5
Serimg
(Frekuensi >6- Moderate Moderate High Extreme Extreme
12
x/tahun)
Agak sering
(Frekuensi Moderate Moderate High Extreme Extreme
4-6 x/tahun)
Kadang
(Frekuensi Low Moderate High Extreme Extreme
3-4
x/tahun)
Jarang
(Frekuensi Low Low High Extreme
1-2 x/tahun)
Tidak pernah
Low Low High Extreme
Untuk Kasus yang Membutuhkan Penanganan Segera
Tindakan sesuai Tingkat dan Band Resiko

LEVEL/ BANDS TINDAKAN


EKSTREM Risiko ekstrem dilakukan RCA paling lama 45 hari,
membutuhkan
tindakan segera, perhatian sampai ke Direktur RS: perlu
(SANGAT TINGGI)
pengkajian yang sangat dalam
HIGH (TINGGI) Risiko tinggi dilakukan RCA paling lama 45 hari, kaji dengan
detail dan perlu tindakan segera, serta membutuhkan
tindakan top
manajemen: perlu penanganan segera
MODERATE Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana paling lama
(SEDANG) 2 minggu. Manajer/ pimpinan klinis sebaiknya menilai
dampak terhadap bahaya dan kelola risiko : menggunakan
monitoring/ audit
spesifik.
LOW (RENDAH) Risiko rendah, dilakukan investigasi sederhana paling lama
1
minggu diselesaikan dengan prosedur rutin

SKOR RISIKO = DAMPAK X PROBABILITAS


Cara menghitung skor risiko digunakan matriks grading risiko:
a. Tetapkan frekuensi pada kolom kiri
b. Tetapkan dampak pada baris ke arah kanan
c. Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara frekuensi
dan dampak Skor risiko akan menentukan prioritas risiko. Jika pada asesmen
risiko ditemukan dua insiden dengan hasil skor yang nilainya sama, maka
untuk memilih prioritasnya, dapat menggunakan warna bands risiko.

Skala prioritas risiko:


Bands Biru : Rendah
Bands Hijau:

Sedang/moderate Bands Kuning:


Tinggi/High
Bands Merah : Sangat tinggi/Extreme

Derajat Risiko yang digambarkan dalam empat warna yaitu: Biru, Hijau, Kuning
dan Merah. Warna bands akan menentukan investigasi yang dilakukan, yaitu:
Warna Biru dan Hijau : Investigasi sederhana
Warna Kuning dan Merah : Investigasi Komprehensif/RCA
BAB IV
DOKUMENTASI

Dokumentasi yang diperlukan antara lain berupa:


d) Undangan pertemuan Infection Control Risk Assesment (ICRA)HAIs
e) Hasil rapat rutin
f) Hasil data surveilans
g) Hasil pengkajian risiko
h) Hasil Grading risiko HAIs
i) Rencana tindak lanjut dari Grading risiko HAIs
j) Laporan ke Direktur
k) Laporan ke unit terkait
BAB V
PENUTUP

Hasil pelaksanaan surveilans merupakan dasar untuk


melakukan perencanaan lebih lanjut. Jika terjadi
peningkatan infeksi yang signifikan yang dapat
dikatagorikan kejadian luar biasa, maka perlu dilakukan
upaya penanggulangan kejadian luar biasa.

Ditetapkan : Painan
Pada Tanggal : 3 Oktober
2022

HAREFA

Anda mungkin juga menyukai