EFEKTIVITAS BIMBINGAN PERKAWINAN DALAM MENGURANGI
ANGKA PERCERAIAN DI KOTA BENGKULU
Oleh :
Delfi Febrilya Mahmud
B1A020146
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS HUKUM
2024
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia memiliki sifat dasar yang alami sejak dahulu untuk hidup selalu berkelompok
dan memenuhi kebutuhan hidupnya karena itu manusia disebut sebagai zoon politicon. Manusia
sebagai individu selalu menginginkan kehadiran manusia lain didalam hidupnya sehingga pada
akhirnya manusia antara individu dan individu melakukan suatu perjanjian atau kesepatakan
untuk hidup bersama, hal ini dinamakan perkawinan. Perkawinan adalah hubungan permanen
antara dua orang yang diakui sah oleh masyarakat yang bersangkutan yang berdasarkan atas
peraturan perkawinan yang berlaku. Perkawinan menurut peraturan perundang-undangan No 1
tahun 1974 pada Pasal 1 menyebutkan perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Perkawinan merupakan sesuatu yang dijalani oleh dua orang individu sepanjang hidup
mereka akan terus bersama yang dimana dari perkawinan ini menimbulkan yang namanya hak
dan kewajiban baik itu hak dan kewajiban sebagai seorang suami serta sebaliknya suami kepada
istri. Merencakanan suatu perkawinan tidaklah mudah, banyak pertimbangan yang harus
diperhatikan dikarenakan perkawinan bukanlah hal yang main-main melainkan seumur hidup. Di
dalam hidup kita sering dihadapkan dengan yang namanya masalah, tidak di pungkiri nantinya
setelah melangsungkan perkawinan masalah tidak akan timbul.
Mencegah merupakan suatu tindakan pemecahan masalah yang baik dari segi manapun.
Maka dari itu hal-hal yang nantinya akan menimbulkan masalah di dalam perkawinan tersebut
baiknya dicegah terlebih dahulu, maka dengan cara apa seseorang dapat mencegah hal tersebut
terjadi? Pemerintah telah membuat aturan mengenai jika seseorang ingin melangsungkan
perkawinan maka harus mengikuti kursus pra nikah terlebih dahulu atau didalam peraturan yang
baru sekarang dikenal sebagai bimbingan perkawinan.
Kursus Pra-nikah adalah proses pembelajaran bagi calon pengantin untuk mendapatkan
pemahaman atau pengetahuan tentang bagaimana membangun keluarga yang sakinah. Di dalam
kursus Pra-nikah ini merupakan pendidikan yang singkat bagi calon pengantin sebelum
melangsungkan pernikahan. Pendidikan baik berupa pengetahuan agama maupun pengetahuan
tentang keluarga.
Kursus Pra-nikah ini memiliki dua tujuan, yaitu tujuan khusus dan tujuan umum. Tujuan
khususnya adalah untuk menyamakan persepsi badan/lembaga dan terwujudnya pedoman
penyelenggara kursus pra-nikah bagi remaja usia nikah dan calon pengantin. Sedangkan tujuan
umumnya adalah untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah melalui
pemberiaan bekal pengetahuan, peningkatan pemahaman dan keterampilan tentang kehidupan
rumah tangga dan keluarga. Intinya tujuan yang sebenarnya dari kursus pra-nikah ini adalah
mencegah perceraian. Meski baru populer setelah kemunculan Peraturan Dirjen [Link]/491 Tahun
2009, tetapi sebenarnya embrio bimbingan perkawinan sudah ada sejak BP4 dibentuk, yaitu
dengan program bernama pembekalan perkawinan. BP4 didirikan pada tanggal 3 Januari 1960.
Ia me- rupakan gabungan dari beberapa organisasi yaitu: Panitia Penasihat Perkawinan dan
Penyelesaian Perceraian (P-5) Jakarta, BP4 Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Badan
Kesejahteraan Rumah Tangga (BKRT) Yogyakarta.
Dalam peraturan Dirjen No. [Link]/491 Tahun 2009, disebutkan bahwa KUA merupakan
pelaksana teknis Dirjen Bimas Islam di kecamatan, sedangkan BP4 adalah organisasi profesional
sosial keagamaan yang berperan sebagai mitra kerja Departemen Agama (sekarang
Kementerian Agama) dalam mewujudkan keluarga sakinah. Di Kota Bengkulu dimana tempat
saya berdomisili disini saya akan mengkaji lebih dalam mengenai kursus yang harus dijalani
pasangan yang ingin menikah sebagai syarat dari pengurusan nikah itu sendiri secara hukum.
Pranikah yang dilakukan untuk menjadi bekal persiapan kehidupan setelah pernikahan menjadi
sangat penting untuk dilakukan dan nantinya saya juga akan melihat bagaimana pandangan
masyarakat terhadap bimbingan perkawinan ini apakah efektif ataukah menyulitkan salah satu
pihak yang akan melangsungkan pernikahan. Hal ini sangat menarik untuk saya dikarenakan
belum semua KUA menerapkan hal tersebut dan bagaimana nanti jika penerapan bimbingan
perkawinan ini akan dilakukan secara merata akan berhasil mengurangi angka perceraian di Kota
Bengkulu.
Pelaksanaan bimbingan perkawinan banyak menemui kendala, seperti problem finansial,
kebiasaan lama yang masih melekat, hingga kondisi-kondisi sosial yang tidak memungkinkan
dilaksanakannya bimbingan perkawinan serta Pada realisasinya, yang terjadi adalah Binwin atau
pembekalan perkawinan yang durasinya jauh lebih singkat dari bimbingan perkawinan. Ini terjadi
karena, selain pihak-pihak KUA memiliki pertimbangan logis, mereka juga dipengaruhi oleh
kondisi sosial dan keyakinan agama. Jadi tidak bisa kursus pra-nikah ini dianggap mulus dalam
realisasinya dalam kehidupan masyarakat terkhusus pasangan yang ingin melangsungkan
perkawinan.
Kursus pranikah ini harus dilakukan oleh calon pengantin sebagaimana yang diatur dalam
Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2009 Tentang Bimbingan Perkawinan. Pelaksanaan ini
dilewati oleh pasangan calon pengantin yang akan menikah dan dijalankan selama 16 jam atau 2
kali pertemuan. Pada pelaksanaanya nanti akan disajikan kurikulum khusus mengenai bimbingan
perkawinan yang dimana hal tersebut terdapat di dalam Lampiran Peraturan Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Nomor [Link]/542 Tahun 2013 tentang
Bimbingan Perkawinan. Jadi pelaksanaan program ini didasari oleh hukum yang jelas serta tidak
asal buat saja tetapi memiliki tingkatan di dalam pembelajarannya.
Pembelajaran yang akan di dapat oleh calon pengantin ini bervariasi, mulai dari menjelaskan
arti penting sebuah perkawinan hingga cara-cara memanajemen konflik dalam keluarga. Para
calon suami dan istri diharapkan mendapatkan cara untuk berfikir positif di setiap keadaan di
dalam pernikahan karena di dalam agama islam pernikahan adalah suatu hal yang dianggap
sebagai
ibadah yang dijalankan berdua seumur hidup pasangan tersebut. Jadi tidak ada lagi hal yang
disepelekan mengenai pernikahan ini nantinya. Akibat yang ditimbulkan seperti pertengkaran
terlebih lagi perceraian di dalam islam sangatlah di benci oleh Allah SWT walaupun pada
akhirnya perceraian merupakan jalan terakhir dan satu-satunya pasangan suami-istri dalam
menyelesaikan masalah berkepanjangan mereka.
Mengenai pranikah ini sangat menarik untuk dibahas dikarenakan apakah akan membawa
suatu dampak positif kepada calon pengantin ataukah program ini malah membuat beberapa
orang menjadi khawatir dengan pernikahan yang akan dilangsungkan karena program ini
menginformasikan serta mensimulasikan masalah-masalah yang akan terjadi di dalam pernikahan
itu nantinya.
Menjalani program pemerintah mengenai bimbingan perkawinan ini terdapat banyak sekali
manfaatnya untuk mencegah perceraian terjadi sehingga ada baiknya seluruh daerah tiap
kecamatan yang memiliki KUA sendiri harus diwajibkan menerapkan program ini untuk
kelangsungan, keharmonisan warga mereka. Lebih baik mencegah hal tersebut tidak terjadi
daripada minim pengetahuan mengenai hal-hal berbau pernikahan yang membuat masalah
semakin larut sehingga berujung pada perceraian. Tingkat perceraian yang ada di Bengkulu
akibat pertengkaran lebih banyak ketimbang faktor yang meninggalkan salah satu pihak, inilah
yang menjadi pendorong pentingnya bimbingan perkawinan diterapkan di berbagai daerah di
Provinsi Bengkulu.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah bimbingan perkawinan dapat mengatasi pengaruh media sosial mengenai trend standar
hubungan didalam rumah tangga?
2. Bagaimanakah efektivitas peran bimbingan perkawinan bagi pasangan di Kota Bengkulu
dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman pasangan tentang komunikasi dan
penyelesaian konflik dalam rumah tangga?