0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Home

Dokumen ini membahas tentang manajemen risiko, yang merupakan proses penting dalam organisasi untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat mengancam pencapaian tujuan. Manajemen risiko melibatkan berbagai strategi untuk mengurangi dampak negatif dan memanfaatkan peluang, serta harus diintegrasikan dalam budaya organisasi. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan berbagai jenis risiko dan pentingnya pemahaman terhadap risiko dalam pengambilan keputusan strategis.

Diunggah oleh

nirw56687
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Home

Dokumen ini membahas tentang manajemen risiko, yang merupakan proses penting dalam organisasi untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat mengancam pencapaian tujuan. Manajemen risiko melibatkan berbagai strategi untuk mengurangi dampak negatif dan memanfaatkan peluang, serta harus diintegrasikan dalam budaya organisasi. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan berbagai jenis risiko dan pentingnya pemahaman terhadap risiko dalam pengambilan keputusan strategis.

Diunggah oleh

nirw56687
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 Home

 About
 RSS

Search this

Gaharuchromeblogspot's Blog
Just another [Link] site

Hey there! Thanks for dropping by Gaharuchromeblogspot's Blog! Take a look around and grab
the RSS feed to stay updated. See you around!

 Uncategorized

Makalah Manajemen Resiko


Filed under: Uncategorized — Tinggalkan komentar
19/07/2010

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “Resiko” dan sudah biasa dipakai
dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Resiko merupakan bagian dari kehidupan
kerja individual maupun organisasi. Berbagai macam resiko, seperti resiko kebakaran, tertabrak
kendaraan lain di jalan, resiko terkena banjir di musim hujan dan sebagainya, dapat
menyebabkan kita menanggung kerugian jika resiko-resiko tersebut tidak kita antisipasi dari
awal. Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam
pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita pahami dan sepakati bersama bahwa
tujuan perusahaan adalah membangun dan memperluas keuntungan kompetitif organisasi.

Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya
cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat
berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang
menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity),
sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan istilah
resiko (risk). Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen resiko menjadi trend utama baik dalam
perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini secara konkret menunjukkan pentingnya
manajemen resiko dalam bisnis pada masa kini.

Secara umum resiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau
perusahaan di mana terdapat kemungkinan yang merugikan. Bagaimana jika kemungkinan yang
dihadapi dapat memberikan keuntungan yang sangat besar, dan walaupun mengalami kerugian
sangat kecil sekali. Misalnya membeli lotere. Jika beruntung maka akan mendapat hadiah yang
sangat besar, tetapi jika tidak beruntung uang yang digunakan membeli lotere relatif kecil.
Apakah ini juga tergolong resiko? Jawabannya adalah hal ini juga tergolong resiko. Selama
mengalami kerugian walau sekecil apapun hal itu dianggap resiko.

Mengapa resiko harus dikelola? Jawabannya tidak sulit ditebak, yaitu karena resiko
mengandung biaya yang tidak sedikit. Bayangkan suatu kejadian di mana suatu perusahaan
sepatu yang mengalami kebakaran. Kerugian langsung dari peristiwa tersebut adalah kerugian
finansial akibat asset yang terbakar (misalnya gedung, material, sepatu setengah jadi, maupun
sepatu yang siap untuk dijual). Namun juga dilihat kerugian tidak langsungnya, seperti tidak
bisa beroperasinya perusahaan selama beberapa bulan sehingga menghentikan arus kas. Akibat
lainnya adalah macetnya pembayaran hutang kepada supplier dan kreditor karena terhentinya
arus kas yang akhirnya akan menurunkan kredibilitas dan hubungan baik perusahaan dengan
partner bisnis tersebut.

Resiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen resiko. Peran dari
manajemen resiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah, mengembangkan
corporate governance, mengoptimalkan strategic management, mengamankan sumber daya dan
asset yang dimiliki organisasi, dan mengurangi reactive decision making dari manajemen
puncak.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Manajemen Resiko

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa manajemen resiko adalah suatu
pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan
ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: penilaian resiko, pengembangan strategi
untuk mengelolanya dan mitigasi resiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan
sumber daya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak
lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua
konsekuensi resiko tertentu. Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko- resiko yang
timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, dan
tuntutan hukum).

Menurut [Link], manajemen resiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur


resiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia.
Strategi yang dapat digunakan antara lain mentransfer resiko pada pihak lain, menghindari
resiko, mengurangi efek buruk dari resiko dan menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi
dari resiko tertentu.

Sedangkan menurut COSO, manajemen resiko (risk management) dapat diartikan sebagai “a
process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, applied in
strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the
entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance regarding the
achievement of entity objectives.

Manajemen resiko adalah bagian penting dari strategi manajemen semua perusahaan. Proses di
mana suatu organisasi yang sesuai metodenya dapat menunjukkan resiko yang terjadi pada suatu
aktivitas menuju keberhasilan di dalam masing-masing aktivitas dari semua aktivitas. Fokus dari
manajemen resiko yang baik adalah identifikasi dan cara mengatasi resiko. Sasarannya untuk
menambah nilai maksimum berkesinambungan (sustainable) organisasi. Tujuan utama untuk
memahami potensi upside dan downside dari semua faktor yang dapat memberikan dampak bagi
organisasi. Manajemen resiko meningkatkan kemungkinan sukses, mengurangi kemungkinan
kegagalan dan ketidakpastian dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi.

Manajemen resiko seharusnya bersifat berkelanjutan dan mengembangkan proses yang bekerja
dalam keseluruhan strategi organisasi dan strategi dalam mengimplementasikan. Manajemen
resiko seharusnya ditujukan untuk menanggulangi suatu permasalahan sesuai dengan metode
yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas dalam suatu organisasi di masa lalu, masa kini dan
masa depan.

Manajemen resiko harus diintegrasikan dalam budaya organisasi dengan kebijaksanaan yang
efektif dan diprogram untuk dipimpin beberapa manajemen senior. Manajemen resiko harus
diterjemahkan sebagai suatu strategi dalam teknis dan sasaran operasional, pemberian tugas dan
tanggung jawab serta kemampuan merespon secara menyeluruh pada suatu organisasi, di mana
setiap manajer dan pekerja memandang manajemen resiko sebagai bagian dari deskripsi kerja.
Manajemen resiko mendukung akuntabilitas (keterbukaan), kinerja pengukuran dan reward,
mempromosikan efisiensi operasional dari semua tingkatan.

Definisi manajemen resiko (risk management) di atas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan
kata kunci sebagai berikut:

1. 1. On going process

Manajemen resiko dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Manajemen
resiko bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali (one time event).

1. 2. Effected by people

Manajemen resiko ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan organisasi. Untuk
lingkungan instansi pemerintah, manajemen resiko dirumuskan oleh pimpinan dan pegawai
institusi/departemen yang bersangkutan.
1. 3. Applied in strategy setting

Manajemen resiko telah disusun sejak dari perumusan strategi organisasi oleh manajemen
puncak organisasi. Dengan penggunaan manajemen resiko, strategi yang disiapkan disesuaikan
dengan resiko yang dihadapi oleh masing-masing bagian/unit dari organisasi.

1. 4. Applied across the enterprised

Strategi yang telah dipilih berdasarkan manajemen resiko diaplikasikan dalam kegiatan
operasional, dan mencakup seluruh bagian/unit pada organisasi. Mengingat resiko masing-
masing bagian berbeda, maka penerapan manajemen resiko berdasarkan penentuan resiko oleh
masing-masing bagian.

1. 5. Designed to identify potential events

Manajemen resiko dirancang untuk mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial
menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan organisasi.

1. 6. Provide reasonable assurance

Resiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan
pelayanan oleh organisasi dapat berlangsung secara optimal.

1. 7. Geared to achieve objectives

Manajemen resiko diharapkan dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen resiko adalah untuk mengurangi resiko yang berbeda-beda
yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh
masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan,
teknologi, manusia, organisasi, dan politik. Di sisi lain, pelaksanaan manajemen resiko
melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya entitas manajemen resiko
(manusia, staff, organisasi).

Dalam perkembangannya resiko-resiko yang dibahas dalam manajemen resiko dapat


diklasifikasi menjadi:

1. Resiko Operasional
2. Resiko Hazard
3. Resiko Finansial
4. Resiko Strategis

Hal ini menimbulkan ide untuk menerapkan pelaksanaan manajemen resiko terintegrasi
korporasi (enterprise risk management). Manajemen resiko dimulai dari proses identifikasi
resiko, penilaian resiko, mitigasi, monitoring dan evaluasi.
a. Mengidentifikasi resiko

Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas usaha.
Identifikasi resiko secara akurat dan kompleks sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah
satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi
sebanyak mungkin. Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam identifikasi resiko antara lain:

1. Brainstorming

2. Survey

3. Wawancara

4. Informasi historis

5. Kelompok kerja

b. Menganalisa resiko

Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengukuran resiko dengan
cara melihat seberapa besar potensi terjadinya kerusakan (severity) dan probabilitas terjadinya
resiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu event sangatlah subjektif dan lebih
berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun
sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi.
Sehingga, pada tahap ini sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik supaya
nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen
resiko.

Kesulitan dalam pengukuran resiko adalah menentukan kemungkinan terjadi suatu resiko karena
informasi statistik tidak selalu tersedia untuk beberapa resiko tertentu. Selain itu, mengevaluasi
dampak kerusakan (severity) sering kali cukup sulit untuk asset immaterial.

3. Monitoring resiko

Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu resiko merupakan bagian penting dalam
perencanaan suatu proyek. Namun, manajemen resiko tidaklah berhenti sampai di sini saja.
Praktek, pengalaman, dan terjadinya kerugian akan membutuhkan suatu perubahan dalam
rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu resiko. Sangatlah penting untuk selalu
memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk
mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya resiko yang
baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu resiko terjadi maka respon yang dipilih akan
sesuai dan diimplementasikan secara efektif.

2.2 Konsep Resiko


Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya
cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat
berakibat menguntungkan atau merugikan. Istilah resiko memiliki beberapa definisi. Resiko
dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian
tujuan dan sasaran organisasi. Menurut Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi
resiko sebagai berikut:

Risk is the chance of loss (resiko adalah kans kerugian)

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan


kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas
akan munculnya situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti
sehingga resiko tidak ada.

– Risk is the possibility of loss (resiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di antara nol dan satu.
Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

– Risk is uncertainty (resiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian
individu terhadap situasi resiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang
bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi resiko berikut.

– Risk is the dispersion of actual from expected results (resiko merupakan penyebaran hasil
aktual dari hasil yang diharapkan).

Ahli statistik mendefinisikan resiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai di sekitar suatu
posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

– Risk is the probability of any outcome different from the one expected (resiko adalah
probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan)

Menurut definisi di atas, resiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilitas
dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan. Dari berbagai definisi di atas, resiko
dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan,
atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya
ketidakpastian.

Konsep lain yang berkaitan dengan resiko adalah peril dan hazard. Peril merupakan suatu
peristiwa yang dapat menimbulkan terjadinya suatu kerugian. Sedangkan hazard merupakan
keadaan dan kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril.

Hazard terdiri dari beberapa tipe, yaitu:


1. Physical hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari
objek yang dapat memperbesar terjadinya kerugian.

2. Moral hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber dari orang yang berkaitan dengan
sikap mental, pandangan hidup dan kebiasaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya
peril.

3. Morale hazard merupakan suatu kondisi dari orang yang merasa sudah memperoleh jaminan
dan menimbulkan kecerobohan sehingga memungkinkan timbulnya peril.

4. Legal hazard merupakan suatu kondisi pengabaian atas suatu peraturan atau perundang-
undangan yang bertujuan melindungi masyarakat sehingga memperbesar terjadinya peril.

Resiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari institusi yang bersangkutan.
Resiko yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kejadian alam, operasional,
manusia, politik, teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan manajemen dari organisasi.

Suatu resiko yang terjadi dapat berasal dari resiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh berbagai
faktor. Resiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari resiko rendahnya mutu pelayanan
kepada publik. Resiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang
dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatasan fasilitas kantor. Resiko yang terjadi
akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya
ketidakpercayaan dari publik.

Resiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor publik yang menuntut
transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, resiko yang dihadapi instansi
Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap
resiko menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan program dalam
pencapaian tujuan organisasi.

2.2.1 Kategori Resiko

Resiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk :

1. Resiko spekulatif

2. Resiko murni

Resiko spekulatif

Resiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan
keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Resiko spekulatif kadang-kadang dikenal
dengan istilah resiko bisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya di suatu
tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya menguntungkan atau
malah investasinya merugikan. Resiko yang dihadapi seperti ini adalah resiko spekulatif.
Resiko murni

Resiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi
apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila
perusahaan menderita kebakaran, maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian.
Kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian kebakaran hanya
menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan keuntungan kecuali ada kesengajaan untuk
membakar dengan maksud-maksud tertentu. Resiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat
berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu
cara menghindarkan resiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian besarnya kerugian
dapat diminimalkan. itu sebabnya resiko murni kadang dikenal dengan istilah resiko yang dapat
diasuransikan ( insurable risk ). Perbedaan utama antara resiko spekulatif dengan resiko murni
adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk resiko spekulatif masih terdapat kemungkinan
untung sedangkan untuk resiko murni tidak dapat kemungkinan untung.

Kejadian sesungguhnya terkadang menyimpang dari perkiraan. Artinya ada kemungkinan


penyimpangan yang menguntungkan maupun merugikan. Jika kedua kemungkinan itu ada,
maka dikatakan resiko itu bersifat spekulatif. Sebaliknya, lawan dari risiko spekulatif adalah
resiko murni, yaitu hanya ada kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan
keuntungan. Manajer resiko tugas utamanya menangani risiko murni dan tidak menangani risiko
spekulatif, kecuali jika adanya resiko spekulatif memaksanya untuk menghadapi resiko murni
tersebut.

Menentukan sumber resiko adalah penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Sumber
resiko dapat diklasifikasikan sebagai resiko sosial, resiko fisik, dan resiko ekonomi.

Biaya-biaya yang ditimbulkan karena menanggung resiko atau ketidakpastian dapat dibagi
sebagai berikut:

1. Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan

2. Biaya-biaya dari ketidakpastian itu sendiri

2.3 Mengidentifikasi resiko

Pengidentifikasian resiko merupakan proses analisa untuk menemukan secara sistematis dan
berkesinambungan atas resiko (kerugian yang potensial) yang dihadapi perusahaan. Oleh karena
itu, diperlukan checklist untuk pendekatan yang sistematis dalam menentukan kerugian potensial.
Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah; kerugian
hak milik (property losses), kewajiban mengganti kerugian orang lain (liability losses) dan
kerugian personalia (personnel losses). Checklist yang dibangun sebelumnya untuk menemukan
resiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian yang dihadapi oleh suatu perusahaan.

Perusahaan yang sifat operasinya kompleks, berdiversifikasi dan dinamis, maka diperlukan
metode yang lebih sistematis untuk mengeksplorasi semua segi. Metode yang dianjurkan adalah
sebagai berikut:
1. Questioner analisis resiko (risk analysis questionnaire)

2. Metode laporan Keuangan (financial statement method)

3. Metode peta aliran (flow-chart)

4. Inspeksi langsung pada objek

5. Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan

6. Catatan statistik dari kerugian masa lalu

7. Analisis lingkungan

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan kerja,
kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer resiko dapat mempelajari kemungkinan tentang
hazard. Oleh karena itu, keberhasilannya dalam mengidentifikasi resiko tergantung pada kerja
sama yang erat dengan bagian-bagian lain yang terkait dalam perusahaan.

Manajer resiko dapat menggunakan tenaga pihak luar untuk proses mengidentifikasikan resiko,
yaitu agen asuransi, broker, atau konsultan manajemen resiko. Hal ini tentunya memiliki
kelemahan, di mana mereka membatasi proses hanya pada resiko yang diasuransikan saja.
Dalam hal ini diperlukan strategi manajemen untuk menentukan metode atau kombinasi metode
yang cocok dengan situasi yang dihadapi.

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Kasus Manajemen Asset Berbasis Resiko pada Perusahaan Air Minum

Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Kajian global kondisi
air di dunia yang disampaikan pada World Water Forum II di Denhaag, Belanda tahun 2000,
memproyeksikan bahwa pada tahun 2025 akan terjadi krisis air di beberapa negara. Krisis air
dapat saja terjadi di Indonesia apabila pemerintah dan perusahaan air minum tidak dapat secara
maksimal mengelola asset utamanya.

Berbagai permasalahan yang dihadapi perusahaan air minum saat ini, seperti: tingginya tingkat
kebocoran air yang diproduksi, kapasitas produksi yang belum terpakai, biaya
operasional/pemeliharaan untuk menghasilkan air bersih setiap meter kubiknya masih lebih
tinggi atau sama dengan harga jual air setiap meter kubiknya, belum dapat terpenuhinya
kebutuhan masyarakat akan air minum bersih, baik secara kuantitas maupun kualitas, konflik
perebutan air baku yang melintasi dua atau lebih pemerintah daerah, adanya daerah yang tidak
menyediakan pengaturan air baku, adanya penggundulan hutan di kawasan daerah aliran sungai,
kesulitan keuangan, terbelit hutang yang cukup besar dan tidak mampu membayar hutang sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan, bahkan tidak sedikit dari perusahaan air minum yang ada,
jika ditinjau dari posisi keuangan perusahaan sudah dalam keadaan pailit mencerminkan belum
maksimalnya pengelolaan asset utama perusahaan air minum.

Bagi perusahaan air minum, infrastruktur air minum merupakan asset utama yang nilainya
signifikan. Oleh karena itu, harus dikelola secara baik mulai sejak perencanaan kebutuhan,
penyediaan dana, pengadaan asset, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pada pemusnahan asset.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, manajemen asset merupakan asset merupakan suatu
proses untuk menghasilkan nilai maksimal bagi semua stakeholder perusahaan dari pengelolaan
asset fisik yang dimiliki perusahaan, baik untuk kepentingan bisnis maupun kepentingan umum,
dengan menyeimbangkan kinerja operasional dari asset dengan biaya siklus hidup dan profil
resikonya. Manajemen berbasis resiko lebih menekankan pada proses mengelola asset fisik yang
sangat besar dan berhubungan dengan resiko-resiko yang melekat pada proses tersebut dengan
melibatkan penerapan proses manajemen resiko terhadap asset utama perusahaan untuk
mengidentifikasi dan mengelola penyebab utama kegagalan pencapaian sasaran perusahaan.
Penerapan proses manajemen resiko dapat dilakukan pada seluruh aktivitas bisnis perusahaan air
minum atau secara khusus lebih menekankan pada aktivitas manajemen asset perusahaan (setiap
aktivitas lifecycle asset management). Tujuan dari diterapkannya proses manajemen resiko
adalah tidak hanya untuk memberikan perlindungan dan kesinambungan aktivitas bisnis inti dan
jasa yang penting, tetapi juga memenuhi kewajiban hukum; menjaga kesehatan pekerja dan
masyarakat; perlindungan lingkungan; beroperasinya dan perlindungan asset pada biaya rendah;
dan rencana kontijensi untuk situasi darurat bila terjadi rencana alam.

Proses manajemen resiko meliputi tahapan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi resiko

Resiko merupakan peristiwa yang menghambat pencapaian tujuan perusahaan. Seluruh resiko
yang mungkin terjadi dan berdampak negative bagi perusahaan secara signifikan harus terlebih
dahulu diidentifikasi. Pada perusahaan air minum resiko yang mungkin terjadi adalah:

1. Ketidaktersediaan air di sumber air dapat terjadi karena kegagalan pada struktur sumber
air, kekeliruan dalam memperkirakan hasil/kapasitas penyimpanan, kualitas sumber air
yang tidak memenuhi syarat, dan kegiatan operasional yang tidak tepat.
2. Kehilangan air yang sebenarnya (real loss) dapat terjadi karena adanya penguapan air di
tempat penyimpanan (storage evaporation), dan kebocoran (leakage) seperti kebocoran
pada pipa jaringan distribusi, dan tempat penyimpanan air/reservoir.
3. Kehilangan air yang jelas terlihat (apparent loss) dapat terjadi karena adanya pengukuran
meteran yang tidak akurat (inaccurate metering) seperti alat kalibrasi meteran yang tidak
akurat, alat meteran yang sudah tua, alat meteran yang berputar rendah, dan adanya
pemakaian air yang tidak terukur dengan meteran (unmetered usage) seperti pemakaian
yang tidak dibenarkan (pemakaian untuk irigasi yang tidak illegal, pemakaian hidran
yang tidak illegal, sambungan pipa yang tidak illegal) dan pemakaian yang dibenarkan
(pemadam kebakaran, pekerjaan jalan, dan taman).
4. Pencemaran lingkungan dapat terjadi karena pembuangan air limbah yang tidak
terkendali dari kegiatan pemeliharaan atau kegagalan jaringan pipa.
5. Terganggunya keselamatan dan kesehatan masyarakat pengguna air minum dapat terjadi
karena kerusakan peralatan dan tercemarnya sumber air minum/produksi air minum
selama pembangunan, pemeliharaan, atau pengoperasian infrastruktur penyedia air.
6. Kenaikan harga asset infrastruktur penyedia air dapat terjadi karena kenaikan tingkat
inflasi, kenaikan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah, dan kenaikan harga bahan
bakar minyak.
7. Kenaikan tingkat suku bunga pinjaman dapat terjadi karena kondisi perekonomian
nasional yang tidak baik.

Sedangkan resiko pada tingkatan proses/aktivitas lifecycle asset management yang mungkin
terjadi dapat dilihat pada table 1.

b. Menganalisis Resiko

Setelah seluruh resiko diidentifikasi, maka dilakukan pengukuran tingkat kemungkinan dan
dampak resiko. Pengukuran resiko dilakukan setelah mempertimbangkan pengendalian resiko
yang ada. Pengukuran resiko dilakukan menggunakan criteria pengukuran resiko secara
kualitatif, semi kualitatif, atau kuantitatif tergantung pada ketersediaan data tingkat kejadian
peristiwa dan dampak kerugian yang ditimbulkannya.

1. Mengevaluasi Resiko

Setelah resiko diukur tingkat kemungkinan dan dampaknya, maka disusunlah urutan prioritas
resiko. Mulai dari resiko dengan tingkat resiko tertinggi, sampai dengan resiko terendah. Resiko
yang tidak termasuk dalam resiko yang dapat diterima/ditoleransi merupakan resiko yang
menjadi prioritas untuk segera ditangani. Setelah diketahui besarnya tingkat resiko dan prioritas
resiko, maka perlu disusun peta resiko.

d. Menangani Resiko

Resiko yang tidak dapat diterima/ditoleransi segera dibuatkan rencana tindakan untuk
meminimalisir kemungkinan dampak terjadinya resiko dan personel yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan rencana tindakan. Cara menangani resiko berupa memindahkan resiko
melalui asuransi dan kontrak kerja kepada pihak ketiga, mengurangi tingkat kemungkinan
terjadinya resiko dengan cara menambah/meningkatkan kecukupan pengendalian internal yang
ada pada proses bisnis perusahaan, dan mengeksploitasi resiko bila tingkat resiko dinilai lebih
rendah dibandingkan dengan peluang terjadinya peristiwa yang akan terjadi. Pemilihan cara
menangani resiko dilakukan dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk melaksanakan rencana tindakan lebih rendah daripada manfaat yang diperoleh
dari pengurangan dampak kerugian resiko.

Seluruh resiko yang diidentifikasi, dianalisis, dievaluasi, dan ditangani dimasukkan ke dalam
register resiko yang memuat informasi mengenai nama resiko, uraian mengenai indikator resiko,
faktor pencetus terjadinya peristiwa yang merugikan, dampak kerugian bila resiko terjadi,
pengendalian resiko yang ada, ukuran tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko setelah
mempertimbangkan pengendalian yang ada, dan rencana tindakan untuk meminimalisir tingkat
kemungkinan/dampak terjadinya resiko, serta personil yang bertanggung jawab melakukannya.

e. Memantau Resiko

Perubahan kondisi internal dan eksternal perusahaan menimbulkan resiko baru bagi perusahaan,
mengubah tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko, dan cara penanganan resikonya.
Sehingga setiap resiko yang teridentifikasi masuk dalam register resiko dan peta resiko perlu
dipantau perubahannya.

1. Mengkomunikasikan Resiko

Setiap tahapan kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan resiko


dikomunikasikan/dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas bisnis yang
dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa tujuan manajemen resiko dapat tercapai sesuai
dengan keinginan pihak yang berkepentingan. Pihak yang berkepentingan berasal dari internal
perusahaan (manajemen, karyawan) dan eksternal perusahaan (pemasok, pemerintah
daerah/pusat, masyarakat sekitar lingkungan perusahaan, dan konsumen air bersih).

Walaupun penerapan proses manajemen resiko pada perusahaan air minum di Indonesia
khususnya perusahaan daerah air minum belum ada peraturan hukumnya, namun karena
manajemen resiko merupakan praktik terbaik (best practice), maka seharusnya sudah mulai
diterapkan secara sistematis, terintegrasi, dan melekat pada setiap aktivitas bisnis perusahaan air
minum, khususnya pada aktivitas manajemen asset.

Agar manajemen resiko dapat diterapkan dengan baik, maka perlu disiapkan segala infrastruktur
manajemen resiko antara lain: pedoman manajemen resiko (kebijakan, pedoman umum,
prosedur, dan formulir), struktur organisasi manajemen resiko (tugas, wewenang, tanggung
jawab personil untuk melaksanakan manajemen resiko), dan sistem informasi
pelaporan/pemantauan pelaksanaan manajemen resiko.

BAB 4

SIMPULAN

4.1 Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut:

Manajemen asset merupakan aktivitas yang dilakukan oleh manajemen yang tidak terlepas dari
resiko. Manajemen asset berbasis resiko lebih menekankan pada proses mengelola asset fisik
yang sangat besar dan berhubungan dengan resiko yang melekat pada proses tersebut dengan
melibatkan penerapan proses manajemen resiko terhadap asset utama perusahaan untuk
mengidentifikasi dan mengelola penyebab utama kegagalan pencapaian sasaran perusahaan.

Penerapan proses manajemen resiko dapat dilakukan pada seluruh aktivitas bisnis perusahaan air
minum atau secara khusus lebih menekankan pada aktivitas manajemen asset perusahaan (setiap
aktivitas lifecycle asset management).
Walaupun penerapan manajemen resiko pada perusahaan air minum di Indonesia khususnya
perusahaan daerah air minum belum ada peraturan hukumnya, namun karena manajemen resiko
merupakan praktik terbaik (best practice) maka seyogyanya sudah mulai dapat diterapkan secara
sistematis, terintegrasi, dan melekat pada setiap aktivitas bisnis perusahaan air minum,
khususnya pada aktivitas manajemen asset sehingga tujuan manajemen asset dapat tercapai.

Manajemen asset berbasis resiko kiranya dapat menjadi salah satu solusi dalam rangka
memaksimalkan pengelolaan asset perusahaan air minum.

DAFTAR PUSTAKA

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

AS/NZS 4360:2004, Australian/New Zealand Standard Risk Management, Joint Technical


Committee OB-007 Risk Management, 31 Agustus 2004.

Artikel “Landasan Teori Asset Manajemen”, Website Manajemen Asset, 2007.

Artikel “Lifecycle Asset Management” Website Manajemen Asset, 2007.

Artikel “Risk Based Enterprise Asset Management”, Capgemini, Website 2007.

Artikel “Sumber Daya Air”, Website Bappenas.

Artikel “Sumbang Pikir dalam PDAM Rescue”, Kepala Bidang Rencana dan Evaluasi Pusat
Pengembangan Investasi BAPEKIN, Website 2007.

Artikel “Water Infrastucture”, Website GAO, Maret 2004.

Slide “Pengantar Pengelolaan Asset (Infrastruktur)”, Gary Mc Lay, Website, 2 Juni 2006.

Darmawi, Herman. Manajemen Resiko. Bumi Aksara, 2005.

Chapman, Christy. Bringing ERM into Focus. Internal Auditor, June 2003
Committee of Sponsoring Organization (COSO) of the Treadway Commission. What is COSO:
Background and Events Leading to Internal Control-Integrated Framework. 1992

Simmons, Mark. COSO Based Auditing. The Internal Auditor, December 1997 The Institute of
Internal Auditors. Internal C

Vaughan, Emmet. Fundamental of Risk and Insurance. 2nd, John Willey, 1978

Tentang iklan-iklan ini

Terkait

Manajemen Resiko

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Comments RSS feed

Tinggalkan Balasan

« BAB 3 METODE PENELITIAN


Curriculum Vitae »

 Recent entries
o Tadarus 2013
o Bab 3
o 64
o 59
o Surat Lamaran Kerja
o Curriculum Vitae
o Makalah Manajemen Resiko
o BAB 3 METODE PENELITIAN
o BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
o BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
 Browse popular tags
 Meta
o Daftar
o Masuk
o Entries RSS
o Comments RSS

 Friends & links


o Documentation
o Plugins
o Suggest Ideas
o Support Forum
o Themes
o WordPress Blog
o WordPress Planet

 Laman
o About

 Arsip Bulanan
o Juli 2013
o Mei 2012
o April 2011
o Februari 2011
o Juli 2010

Buat situs web atau blog gratis di [Link].


[ Kembali ke atas ]

 Ikuti

Anda mungkin juga menyukai