0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Chapter 3

Chapter 3 dari Arc I: Dunia Baru menggambarkan pameran Akademi Velmara yang ramai, di mana pengunjung terpesona oleh berbagai teknologi magitech dan demonstrasi sihir. Dua remaja, Veist dan Vaelric, menjelajahi pameran dan belajar tentang sistem kelas pertarungan yang ada, termasuk Swordsman, Mage, Guard, dan Artillery. Mereka juga menyaksikan pertarungan antara penantang dan juara bertahan, yang menunjukkan kemampuan bertarung yang mengesankan di arena.

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Chapter 3

Chapter 3 dari Arc I: Dunia Baru menggambarkan pameran Akademi Velmara yang ramai, di mana pengunjung terpesona oleh berbagai teknologi magitech dan demonstrasi sihir. Dua remaja, Veist dan Vaelric, menjelajahi pameran dan belajar tentang sistem kelas pertarungan yang ada, termasuk Swordsman, Mage, Guard, dan Artillery. Mereka juga menyaksikan pertarungan antara penantang dan juara bertahan, yang menunjukkan kemampuan bertarung yang mengesankan di arena.

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Arc I: Dunia Baru

Chapter 3: Pameran Akademi Velmara

*Viscount of Moonclair, Alun-alun kota

“Bukankah ini terlalu ramai?”

“Ya mau bagaiamanapun, Akademi Velmara adalah akademi top satu di wilayah selatan.”

Bendera warna warni kecil bergelantungan di atas, digoyangkan oleh angin yang berlalu.
Beberapa lampu hiasan juga dipasang meski fungsinya hanya sekedar memeriahkan suasana,
sepasang remaja itu baru saja memasuki pameran Akademi Velmara. Segala keajaiban
tersedia di sana, sihir buatan, sampai teknologi yang hampir tidak bisa dinalar oleh pemikiran
sepihak saja.

Di kiri-kanan mereka, sebagian orang berkumpul untuk mengelilingi demonstrasi sihir api,
alat magis yang memanfaatkan mana, bahkan sebuah monster jinak yang telah dibangkitkan
kembali. Banyak anak-anak yang kelihatan tertarik atau bahkan termotivasi, begitu pula
dengan orang dewasa yang merasa kalah akan kehebatan anak muda zaman ini.

“Bagaimana bisa orang-orang membuat alat aneh seperti itu?” gerutu Veist, menyilangkan
tangannya sebagai sandaran.

“Emm, entah? Mengapa kamu tanya aku tentang ini?”

Veist menunjuk ke salah satu stan, yang paling banyak kerumunannya. Satu hal yang
membuatnya mencolok adalah namanya, kelompok Morrow. Salah satu kelompok besar di
wilayah selatan, terlebih lagi salah satu pemilik kekuasaan di sana, Duke of Morrow. Tidak
heran stan mereka memiliki peminat yang lebih banyak. Dari tempat mereka, terlihat
beberapa senjata magitech besar.

“Ayo ke sana.”

Vaelric hanya mengikuti.

“Ini adalah magitech buatan keluarga Pixel yang telah dimodifikasi akhir oleh Morrow,
lihatlah! Aku perkenalkan, magitech yang dapat mengkonversi mana sesuai dengan elemental
core kalian. Syprus Element!”

Sebuah senjata yang cukup besar, digunakan di pinggang salah satu orang di sana. Beberapa
lubang besar tertata rapi seakan memberikan tekanan yang mengerikan bagi lawannya, belum
lagi beberapa tombol di sana. Kompleks.

“Baiklah, jangan palingkan mata kalian!”

Cahaya berkumpul di sekitar lubang, singkat saja hingga banyak serangan cahaya padat
muncul beserta ledakan yang mengarah ke atas dan lenyap begitu saja. Semua orang di
sekitar dengan sekejap terkejut akan kekuatan senjata itu
“Bagaimana? Itu belum kekuatan sepenuhnya serangan ini. Aku hanya mengeluarkan satu
persen saja dari senjata ini!” serunya.

“Serangan cahaya kah? Apa keluaran serangan dari senjata itu tergantung dari elemental core
penggunanya?” gumam seorang di sebelah Vaelric.

“Entah, sepertinya sih begitu. Mengkonversi mana sesuai dengan elemental corenya memang
masih memungkinkan.” Orang lain membalasnya. Perbincangan kedua orang itu membuat
remaja yang baru saja keluar hutan itu lebih penasaran.

Satu lagi wanita yang di atas stan datang dan mengambil alih acara itu, “Beri tepuk tangan
dulu untuk Bram sebagai pencipta sekaligus penyempurnaan senjata ini!”

Penonton yang terpuaskan akan penampilan singkat itu dengan meriah bertepuk tangan.
Sesekali ada orang yang bersorak, stan kelompok Morrow nampaknya sukses dengan
menampilkan salah satu ciptaan terbaiknya.

“Bagaimana penampilan salah satu senjata kita? Jika kalian tertarik, jangan lupa untuk masuk
menjadi murid di Akademi Velmara ya! Dan juga, dukung Morrow terus untuk menjadi
kelompok terkuat di wilayah selatan!” pungkasnya.

“Mengkonversi mana elemetal core?Bagaimana dengan aku yang tidak memiliki ketertarikan
dengan elemental core?” pikir sejenak Vaelric, sementara beberapa audiens di sana mulai
pergi.

“Kamu lagi melamun apa Vael?” tanya Veist.

“Ah tidak, aku hanya sedikit penasaran dengan cara kerja senjata itu.”

Veist tertegun, “Aku sedikit kaget kalau kelompok Morrow juga akan hadir di pameran ini.
Dan juga...” Ia melihat sekeliling, “Sepertinya pameran ini bukan hanya ada magitech saja,
semua kelas pertarungan ada di sini.”

“Kelompok Morrow? Pameran magitech?” Vaelric bingung akan maksud perkataan dari
Veist.

“Emm yah, biasanya Kelompok Morrow itu fokus pada tingkat kelompoknya dengan jalur
prestasi atau pertarungan antar kelompok. Jadi aneh saja menurutku...” Veist melangkah
pergi, kerumunan dari stan sebelumnya sudah mulai sepi.

Vaelric tetap saja mengekor, “Pertarungan antar kelompok?”

“Antar kelompok bertarung begitu, seperti tadi disebut ada Keluarga Pixel, nah mereka juga
punya kelompoknya sendiri, Pixel. Kemudian karena suatu tingkatan atau sebagainya,
Kelompok Morrow dan Kelompok Pixel bertarung, bisa juga pertarungan itu disebut War
Game.”

“Oh, seperti menunjukkan ini adalah kelompok terkuat di wilayah ini?” telaah Vaelric yang
mencoba memahami, ia meragakan tangannya di makan lainnya.
Veist mengangguk, “Benar, dan juga War Game itu banyak macamnya, seperti All Out
Attack, yaitu pertarungan habis-habisan, ada juga yang melindungi menara, yang paling
populer itu apa ya namanya.” Veist tertegun, berpikir keras. “Pokoknya pertarungan yang
hanya bisa menggunakan beberapa kemampuan, yah sama seperti All Out Attack tapi lebih
seimbang.”

Temannya yang mendengarkan penjelasan panjang itu hanya bisa mengangguk, “Jadi banyak
ya.”

“Hanya memilih satu, itu saja antara kesepakatan dari kedua pihak atau pemilihan acak.”
Veist teringat, “Kalau tidak salah yang populer itu Rising Festivities.”

“Kamu masuk kelompok apa?” seloroh Vaelric.

Veist terkejut, “Maksudnya? Aku saja belum masuk akademi, terus juga aku belum memiliki
kelas.”

“Kelas? Apalagi itu?”

Anak bangsawan itu seolah menjadi pemandu wisata di daerahnya sendiri, menjelaskan
jalannya acara ini sekaligus bagaimana dunia luar hutan itu berjalan. “Kelas itu seperti
keahlianmu dalam bertarung, biasanya dapat waktu masuk akademi atau menjadi prajurit.”
Veist menghela napas kecil, “Apakah dia tidak tau apa-apa tentang ini? Yang benar saja?
Ngapain saja kamu?”

“...”

Veist menarik tangan sahabatnya itu, ia ingin menunjukkan sesuatu padanya. “Sini ikut aku,
mumpung ada yang bisa aku jelaskan.”

Tidak jauh mereka melangkah, sedikit lagi sampai pusat alun-alun, mereka berhenti sejenak.
Dari mereka berdiri, sudah jelas air pancur yang menjadi ikonik Viscount Moonclair nampak.
Pancurannya cukup tinggi, sekitar setengah dari rata-rata tinggi gedung di sekitar, bunyi
gemerciknya lembut bercampur dengan meriahnya pameran ini. Meski strukur bangunannya
yang sederhana, kehadirannya bukan sekedar air pancur biasa, tetapi pusat keanekaragaman
kota itu.

“Kamu lihat itu?” tunjuk Veist ke kanan, arah selatan, stan yang berjajar rapi di dekat air
pancur. “Sepertinya itu adalah area kelas mage. Banyak alat magis di sana.”

Kemudian ia menengok ke belakang sejenak, mendapati beberapa tempat target panah dan
sebagainya. “Kita yang dari timur ini masuk area kelas artillery yang memang zaman ini
kebanyakan menggunakan peralatan pendukung seperti stan tadi.”

Vaelric hanya bisa mengangguk memahami penjelasan singkat dari sahabatnya itu, seakan
dia adalah gelas kosong yang diisi dengan berbagai minuman. Sorot matanya begitu
semangat melihat apa yang belum ia lihat sebelumnya.
“Untuk sebelah kiri, sudah jelaskan kalau ada pameran peralatan perlindungan diri?”

“Iya?”

“Itu area kelas guard.”

Veist mulai mengayunkan kaki, “Mumpung area kelas guard sepi, kita pergi ke sana dulu.”

“Kelihatannya stan di area kelas ini memang lebih sepi daripada area lainnya ya?”

“Iya memang, bagaimanapun kelas guard adalah keahlian melindungi rekan. Singkatnya
menjadi armor atau garda depan dalam medan perang. Secara logika, siapa yang mau menjadi
tumbal jika dia bisa lebih baik daripada itu?” jelas Veist. Kali ini keduanya sudah mulai
memasuki area kelas guard.

Vaelric hanya bisa merenung menerima fakta tersebut, “Ya tidak salah juga perkataanmu
itu.”

Semua wilayah sudah menerapkan sistem pembagian kelas sebagai keahlian mereka dalam
pertempuran, termasuk akademi yang sudah membagi setiap muridnya sebelum masuk tahun
pelajaran. Peraturan seperti ini sudah turun temurun dari puluhan abad yang lalu, tidak ada
perubahan pasti dalam tugas setiap kelasnya, hanya saja perkembangan cara bertarung yang
mengikuti perubahan zaman.

Keseluruhannya ada empat, Swordsman, Mage, Guard, dan Artillery. Keahlian mereka dalam
bertarung sesuai dengan namanya, Swordsman yang memang memiliki kemampuan dalam
pertarungan jarak dekat menggunakan pedang, tombak, dan sebagainya. Kemudian ada Mage
dengan sihirnya, Guard yang unggul dalam perlindungan dan dukungan bagi rekan timnya.
Terakhir ada Artillery atau peran yang mengambil alih serangan jarak jauh, entah itu
menggunakan panah ataupun peralatan sihir seperti magitech.

Tentu masih ada pembagian yang lebih kompleks dalam kelas tersebut, namanya adalah
keahlian, circle, dan mastery. Seperti halnya Mage yang memiliki kecocokan elemental core,
Swordsman pada gaya bertarung yang digunakan, Guard terhadap kemampuan melindungi
rekan, dan terakhir Artillery sesuai dengan senjata mereka.

“Hampir sedikit orang yang mau menjadi Guard, terlebih lagi seorang Fortrif.”

“Fortrif? Apa lagi itu?” tanya Vaelric yang penasaran, matanya masih tidak bisa berhenti
memandangi beberapa armor yang terpajang di setiap stan.

Veist sedikit memalingkan wajah-mengecilkan suaranya, “Yang aku bilang tadi, tumbal
garda depan. Seorang dengan kemampuan bertahan yang baik.”

“Tapi yah, aku kenal kok seorang yang aku percaya akan menjadi seorang Guard terhebat.”

“Siapa?”
Veist tersenyum lega, “Nanti kalau kamu juga ikut masuk Akademi Velmara, kamu akan tahu
siapa itu.”

Tidak lama mereka melangkah, mata mereka sudah terpikat pada jajaran pedang dan
beberapa senjata jarak dekat yang dipamerkan di setiap stan. Keduanya sudah memasuki area
kelas Swordsman, wilayah timur dari alun-alun. Sudah setengah perjalanan.

“Ini yang belum kamu tunjukkan.”

Ia mengangguk, “Iya, kelas yang ingin aku pilih kelak saat aku masuk akademi, Swordsman,
dengan mastery Assasin.”

Vaelric hanya tersenyum menanggapi semangat dari sahabatnya itu, “Dengan gaya
bertarungmu yang lincah, sudah jelas bahwa ini kelasmu.”

“Kamu juga, jika memang kamu bertarung seimbang denganku, kelasmu pasti Swordsman,”
balas langsung Veist.

“...”

Tidak ada balasan yang cocok bagi Vaelric sekarang.

“Tapi kamu juga bisa menggunakan sihir juga ya? Bagaimana kalau kelas Mage?”

Lelaki yang baru saja memasuki dunia remaja dan masih bermain air di tepian itu hanya bisa
menghela napas kecil. Sebuah keputusan yang akan mempengaruhi jalan kehidupan kedepan
kelak. “Aku masih belum memutuskan.”

“Iya juga ya.”

Langkah demi langkah tercapai, area kelas Swordsman memang sangatlah ramai. Menyadari
bahwa senjata serta mastery kelas tersebut cukup beragam, stan di sana juga lebih banyak.
Salah satu yang menjadi pusat perhatian di sana adalah stan yang mengadakan tantangan,
terlebih lagi hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, yaitu sebuah pedang magitech
dengan elemental core api.

Waktu Vaelric dan Veist datang, terlihat ada satu penantang yang mundur dengan napas yang
cukup berat, sepertinya ia baru saja mengalami pertarungan sengit.

“Nah, siapa lagi? Baru 28 penantang, dan tidak ada satu penantang pun yang berhasil
memberikan serangan bersih padaku,” teriak pemuda yang ada di ring itu dengan pedang
kayu sebagai sandarannya.

“Apa coba ini,” gerutu Vaelric. Sedangkan Veist yang ada di sebelahnya sudah melakukan
peregangan jari-jemarinya. “Ini latih tanding, dan jika aku berhasil memberikan serangan
bersih pada orang itu, aku menang kan?”
Wajah datar muncul seketika, “Di papan stan tulisannya begitu sih,” ucap Vaelric dengan
nada lemas.”Lagian, kamu mau mencoba melawannya? Menaklukan 28 orang itu cukup
hebat bukan?”

“Aku! Aku akan menjadi penantang selanjutnya!” teriak salah seorang yang berada di depan
Vaelric.

“Apa orang-orang ini memang maniak bertarung atau bagaimana...”

“Baiklah, setelah ini aku yang akan maju.”

“Ampun dah,” gerutu Vaelric.

Pertandingan ke 29 dimulai, seorang remaja yang mungkin saja seumuran dengan Vaelric dan
Veist jika dilihat dari wajahnya. Ia mengambil pedang kayu yang disediakan di panggung
sebelumnya, tubuhnya yang besar dan kekar selaras dengan pedang besar yang diambilnya.
Singkat saja langsung mengambil kuda-kuda untuk melawan juara bertahan itu.

“kuda-kuda berpedangmu cukup bagus, apakah kamu cukup sering berlatih pedang?”
tanyanya.

“Iya begitulah, aku sudah berniat untuk masuk Akademi Velmara tahun ini.”

Vaelric dan Veist terkejut, “Dia seumuran kah sama kita?” tanya Vaelric dengan berbisik.

“Mungkin? Kenapa juga kamu tanya aku?”

“Oh, itu niat yang cukup bagus, aku ingin melihat seberapa kemampuamu.”

Ia melesat cepat dengan tubuh yang nampaknya berat, dentang pertama terjadi. Gemuruh
kayu beradu memanaskan suasana, tajam dan mematikan, seolah keduanya memang berniat
bertarung sampai titik terakhir.

Serangan dari penantang terus dilancarkan, tapi juara bertahan itu bukan hanya gelar semata,
tangkisannya presisi. Pertarungan yang penuh irama: satu tusukan, satu putaran, satu tebasan
yang melesat hanya seujung rambut. Tidak ada sihir di sini, tidak ada ledakan mana, hanya
kemampuan bertarung.

“Kekuatanmu cukup besar di umurmu yang muda, tidak mengecewakan.”

Penantang itu hanya tersenyum kecil mendapatkan pujian darinya, sesekali ia mundur sejenak
untuk mengatur kembali tempo napasnya.

“Aku Eron Kaelis dari March of Duskhaven, murid tingkat dua. Siapa namamu?” tanyanya.

“Rudolf, aku juga dari March of Duskhaven!” Sekejap penantang itu mengenalkan diri dan
langkahnya sudah maju.

Keringatnya menetes di pelipis, namun serangannya sama sekali tidak melemah. Bahkan
keseimbangan Rudolf dan Eron sesekali hilang, tapi mereka bangkit kembali, kedua mata
mereka tidak lepas dari lawan. Memang kemenangan di ring ini akan mendapatkan hadiah
untuk penantang, tapi balasannya adalah kehilangan harga diri oleh sang juara bertahan.
Dengan alasan itu mereka tidak ada yang berhenti sedetikpun.

Saat kayu kembali beradu dan tubuh keduanya terpental mundur, penonton yang berdiri di
luar panggung menahan napas. Hening. Senyum tipis muncul pada paras Eron, bukan senyum
kemenangan, tapi senyum kesetaraan. Seolah ia bertanding dengan cermin.

Tidak berhenti, keduanya langsung melesat dengan mata terpusat. Benturan terjadi, membuat
Rudolf yang memang kalah dalam pengalaman bertarung melangkah mundur, pundaknya
sedikit terangkat karena rasa ngilu. Nafasnya memburu, masih belum ingin menyerah.
Pegangannya bergetar ringan, entah karena kelelahan atau beban gengsi.

“Aku tidak menyangka dengan pedang kayu mereka bisa seganas itu,” gumam Vaelric.

Veist mengagguk setuju atas pernyataan sahabaynya, “Ya, belum lagi jika mereka diberikan
pedang sesungguhnya.”

“Rudolf ya... akan kuingat namamu jika kamu benar-benar masuk akademi.”

“Aku juga minta bimbingannya senior.”

Eron tidak berkata sepatah pun. Ia hanya menudukkan tubuhnya sedikit, lalu menyerbu maju.
Gerakannya cepat, ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Rudolf kali ini hanya bisa
bertahan, tapi mau bagaimanapun serangan Eron datang dari arah yang tak terduga. Tebasan
kuat dari atas, Rudolf melihat jalur serangannya.

“Waktunya!”

Ia sengaja mengarahkan lengannya untuk menutup jalur tebasan itu. Tentu saja pedang kayu
itu menghantam lengannya.

Clak!

Suara itu jelas. Pedang kayu Eron terlepas dan jatuh di tanah. Pedang kayu besar yang masih
di genggaman itu sudah mengarah pada wajah Eron.

Angin seketika berhembus ringan melewati panggung yang perannya sekaligus menjadi ring,
mengibaskan rambut Eron yang separuh basah oleh keringat. Rudolf menahan posisi, masih
siaga, sampai akhirnya Eron menunduk dan mengangkat tangan kosongnya.

“Aku kalah,” gumam Eron pelan, suara rendahnya tenggelam dalam hembusan angin.

Rudolf menurunkan pedang kayunya perlahan, ia tak tersenyum, tak bersorak. Hanya
menatap seniornya. Seolah ia berkata ini bukanlah tentang menang ataupun kalah, tapi
tentang terus bertahan sampai akhir.

“Aku tidak menyangka ia menahan serangan itu dengan lengannya,” seloroh Veist takjub.
Sedangkan Vaelric malah beranggapan sebaliknya, “Jika memang aku disana, kenapa juga
aku harus mengorbankan lenganku untuk sekedar hadiah.”

Para audiens di sana bersorak kecil, meski sebagian lainnya masih terpaku oleh gerakan
Rudolf.

“Yah, aku tidak jadi bertarung deh.”

“Baguslah kalau begitu.”

Hadiah telah diberikan pada penantang, semuanya bertepuk tangan atas pertandingan singkat
yang menakjubkan itu. Sekaligus sebagian dari mereka telah beranjak menuju stan lainnya.

“Keliatannya susah ini kalau memang mau mendaftar ke Akademi Velmara?” Veist mulai
melangkah pergi, diikuti oleh Vaelric.

“Kenapa coba?”

Ekspresi datar muncul sebagai balasan, “Apa kamu tidak melihat pertarungan tadi, siapa
namanya? Rudolf? Bukannya dia bilang ingin mendaftar juga ke akademi?”

“Ya... tapi keliatannya kamu masih lebih baik darinya sih,” cakap Vaelric. “Kamu lebih
unggul kecepatan darinya.”

“Haha! Iya juga ya!”

“Aku salah kata kayaknya deh.”

Langit bergelayut rendah, beberapa awan kelabu tebal menghiasi sekaligus memberikan
naungan bagi makhluk yang ada di bawahnya. Sang surya juga sudah ada di masa emasnya,
siapa saja bisa melihatnya dari kota ini. Orang-orang yang ada di pameran juga semakin
ramai, alun-alun kota sudah menuntaskan sebagian tanggung jawabnya sebagai tempat
masyarakat berkumpul.

“Tinggal area mage saja yang tersisa,” sahut Veist, hanya butuh beberapa langkah saja hingga
masuk ke beberapa stan Kelas Mage. “Malah lebih ramai dari pagi tadi keliatannya.”

“Iya namanya juga pameran magitech, pasti Kelas Mage punya banyak barang yang
dipamerkan.”

Keduanya sudah masuk kerumunan lagi, kanan-kiri mereka dipenuhi dengan pemandangan
beberapa alat pendukung mage yang menakjubkan. Tongkat sihir, cincin, bahkan armor yang
dipenuhi aura magis terlihat di sana. Memang benar, dunia magitech hampir sepenuhnya diisi
oleh Kelas Mage.

“Kayaknya aku yang tidak terlalu bisa menggunakan sihir, bisa langsung mengeluarkan
ledakan besar jika menggunakan tongkat sihir itu ya..”
“Mungkin, tongkat sihir biasanya digunakan untuk perantara, simplenya mempersingkat
rapalan,” jelas singkat Vaelric, jika berkaitan dengan magis, ia cukup paham. “Memangnya
kamu tidak punya elemental core?”

“Punyalah, tapi ya tidak kuat sekali,” jawabnya langsung. “Lagian memang ada orang yang
tidak memiliki kecocokan dengan elemental core?”

“Aku?”

“Ah iya, lupa.” Ekspresi datar muncul kembali.

Tidak lama menjelajah dalam keramaian, ada stan yang menarik perhatian Vaelric. Salah satu
stan yang menampilkan sebuah alat magitech yang berbeda dari stan lainnya. Memang cukup
ramai, tapi keduanya berhasil mendapatkan pandangan untuk melihat apa yang mereka
tampilkan.

“Omong-omong soal ketertarikan mana dengan elemental core, sepertinya stan ini membuat
alat untuk melihat soal itu.”

Vaelric mengangguk, “Iya, tidak heran kalau ramai.”

“Siapa yang mau mencoba lagi!” teriak salah satu perempuan berkacamata yang cukup
dewasa, kelihatannya itu adalah salah satu profesor yang ikut dalam pameran ini. Tertulis di
papan namanya, Renna Valtine.

Salah seorang pengunjung angkat tangan, dan maju ke stan. “Aku!”

“Silahkan letakkan tanganmu di atas bola ini,” ucap salah siswi yang membantu.

Benda itu cukup simpel. Hanya sebuah kotak dan bola putih yang terlihat hanya setengahnya
jika dari samping. Ketika salah seorang yang maju itu menempelkan kedua telapak tangan
pada permukaan bola itu, sekejap warna abu-abu menyala dengan cukup redup, disusul
dengan beberapa simbol yang tidak bisa dibaca oleh orang awam.

“Dingin...” gumamnya.

“Mana anda cocok dengan magis angin,” ujar siswi itu sembari menghitung apa yang
ditampilkan pada kotak bola itu. “Range 46,” imbuhnya.

“Range? Apa itu?” tanya Vaelric heran.

“Lah apalagi aku?”

Renna mendekat, “Manamu cocok dengan magis angin dengan viskositas 26 sampai 50, itu
sudah cukup untuk menjadi Mage Circle 2.”

“Viskositas... aku pernah mendengarnya dari nenek Helena, tapi apa yang dimaksud dengan
Circle? Circle 2?” pikir Vaelric cepat.

“Ada apa Vael? Apakah kamu mau mencobanya?” tanya Veist.


Vaelric terkejut, “Ah tidak, lagipula aku tidak memilki ketertarikan dengan elemental core.”

“Jadi begitulah, bola ini bisa mengetahui mana apa yang cocok dengan setiap elemental core.
Sesuai dengan warna batu elemental core, ia akan menyala sesuai dengan batunya. Sebagai
contoh tadi elemental core angin yang sama dengan batunya, warna abu-abu,” jelas Renna.

“Satu lagi, bola ini juga akan memberikan suasana yang khas dan warna sesuai dengan
viskositas magis yang bisa kalian keluarkan. Contohnya tadi dingin dengan cahaya redup,
bisa saja elemental core api yang panas, dan sebagainya.”

Sontak Veist angkat tangan dalam heningnya penjelasan itu, semua pandangan tertuju
padanya. Termasuk Profesor Renna, “Ada apa? Apakah kamu ingin mencobanya?”

Veist menggelengkan kepala, “tidak,aku hanya ingin bertanya.”

“Ya? Silahkan.”

“Apakah mungkin ada orang yang tidak memiliki mana dengan ketertarikan pada elemental
core?”

Vaelric terkejut dengan pertanyaan yang diajukan sahabatnya itu, sekejap ia langsung
menyikut perutnya.

“Aduh, apa-apaan?”

“Kamu yang apa-apaan, kenapa kamu tanya begitu?”

Profesor Renna tertegun, ia berpikir sejenak. “Maksudmu mana yang tidak memilki
kecocokan dengan elemental core?” tanya memastikan.

“Iya benar.”

Profesor Renna tersenyum kecil, “Maksudmu seorang demi-human? Memang pada dasarnya
mereka lahir tanpa mana ‘kan?”

Detik setelahnya audiens di sana tertawa kecil, beberapa masih ada yang tertarik dengan
pertanyaan dari Veist. Di sisi lain, Vaelric mulai malu dengan apa yang dilakukan sahabatnya
itu.

“Sudahlah, cukup.”

“Tidak, dia seorang manusia,” seloroh Veist langsung.

Sejenak, suasana menjadi hening. Sebagian juga ada yang masih bergumam.

“Manusia? Tanpa mana?”

“Dia punya mana.”

“Huh? Apakah kamu bercanda?” Profesor Renna terkekeh, begitu pula dengan pengunjung di
sana.
“Malunya aku, sudah hentikan,” gerutu Vaelric, wajahnya sedikit memerah.

“Hei nak, hampir 10 tahun aku menjadi profesor di Akademi dan lebih dari 1.000 murid yang
kulatih, aku tidak pernah melihat ada manusia yang tidak memiliki kecocokan dengan
elemental core,” jelasnya panjang. “Meskipun ada, setidaknya dia memiliki satu saja dengan
viskositas di bawah lima.”

“Tapi ini ada!” seloroh Veist dengan mata yakin sembari memegangi kedua pundak Vaelric.

“Ish! Apa? Kenapa kamu membawaku juga?! Tidak cukupkah?”

Profesor Renna memandangi Vaelric dengan tatapan tajam, begitu pula dengan seluruh
audiens di sana. “Apakah anak itu yang kamu maksud ‘si orang dengn mana yang tidak ada
kecocokan?’ Dia terlihat imut juga.”

“Hei! Bilang saja kalau dia mau coba alat itu!” teriak salah satu pengunjung.

“Iya! Siapa tau dia memang belum pernah melakukan tes!”

Semua orang di sana tertawa terkekeh, rasa malu yang menyelimuti Vaelric memecah, ia
benar-benar merasa harga dirinya terinjak. “Baik! Akanku buktikan kalau omongan bocah ini
benar!” teriaknya dengan sorot mata serius.

Profesor Renna tersenyum kecil, “Boleh, silahkan maju.”

Dengan langkah sedikit ragu, ia memantapkan niat ke atas panggung. Seluruh tubuh mungkin
gemetaran karena rasa ragunya, namun sorot mata mengatakan sebaliknya, kedua pihak yang
saling berlawanan bertarung dipikirannya.

Vaelric menghela nafas di hadapan bola yang dianggap dapat mengungkapkan ketertarikan
mana terhadap elemental core seseorang. “Aku hanya perlu menyentuh bola ini kan?”

Siswi yang ada di sebelahnya mengangguk, ia sudah siap dengan alat tulisnya untuk
menghitung hasil dari magitech tersebut. “Iya, silahkan sentuh dengan kedua telapak tangan.”

Di belakangnya, Profesor Renna juga nampak ragu. “Meksi aku sudah 10 tahun di kelas
mage, apakah mungkin ada seorang yang tidak memilki ketertarikan dengan satu saja
elemental core? Bisakah itu terjadi?”

Vaelric menyentuh permukaan bola itu, seluruh pengunjung di sana terdiam. Sunyi. Hanya
terdengar riuh dari stan di samping.

Kejadian yang sama tujuh tahun kembali terputar. Magitech tersebut menyala dengan terang,
setiap sisinya memiliki campuran warna yang berbeda, sekejap sudah membuat semua mata
di sana takjub. Namun itu tidak berlangsung lebih dari satu detik ketika bola tersebut kembali
mati tanpa alasan.

“Selesai... tidak ada reaksi” gumam Vaelric.


“200, tidak. Aku melihat simbol akhir itu 400?” batin siswi yang menjatuhkan penanya
karena tangan yang bergetar.

“Aku tidak sempat menghitungnya dengan pasti, tapi jika simbol mutlak bernilai 100 itu ada
empat, aku bisa menyebutnya langsung 400.”

Profesor Renna yang berada di belakangnya juga sempat melihat simbol dari magitech
tersebut, ia sedikit terkejut dari balik kacamatanya.

“Apakah alatnya rusak?” teriak salah satu penonton di sana.

“Apa hasilnya!”

Wanita dengan jas rapi itu menelan ludah, “Kamu benar-benar tidak punya ketertarikan pada
elemental core?”

“Aku sudah bilang dari awalkan?” ketus Vaelric, ia mengangkat kaki dari panggung.

Suasana kembali hening ketika Vaelric turun dan menghampiri Veist, tapi pandangan masih
terbebankan pada mereka berdua.

“Aku sudah cukup berkeliling di kota ini, aku mau kembali,” lirih Vaelric sesaat melewati
Veist.

“Serius?” Veist mengikut temannya keluar dari kerumunan itu. “Hei, ini salahku. Aku minta
maaf.”

Namun belum sepenuhnya keluar, Profesor Renna memanggil mereka, “Tunggu!”

“Apalagi?” Vaelric sudah mulai kesal, wajah tidak enak memandangi profesor itu.

“Apakah kalian berdua berniat menjadi murid akademi?”

Vaelric tersenyum kecil, “Mungkin.”

Anda mungkin juga menyukai