Arc I: Dunia Baru
Chapter 1: Swordsman dengan Sihir Mystic
*Perbatasan Hutan Wilayah Elf dan Viscount of Moonclair
6 Tahun Semenjak Kepergian Vaelric
Sebuah sihir murni menerjang golem batu raksasa, membentuk lingkaran sihir yang
mengelilingi targetnya. Tidak ada kerusakan yang jelas pada makhluk batu itu, namun ia
hanya bisa mematung di sana. Singkat, seorang dengan rambut cokelat cerah menghampiri,
menebas setiap siku dari lawannya, menghidari armor batu. Memberikan luka yang parah.
Langkah terakhir lelaki tersebut mengambil jarak, diakhiri dengan tembakan sihir terang ke
arah golem itu. Kemenangan telak untuknya.
Ia menyarungkan pedangnya, menghela nafas sejenak. “Selesai, perasaan lebih cepat.”
Karena urusannya sudah usai, lelaki itu meninggalkan goa dengan penerangan seadanya.
Dilihat dari keringat yang sudah membahasi tubuh serta bajunya, ia nampak sudah lama sejak
dia meninggalkan permukaan.
Setelah melewati jalan bercabang, ia bertemu dengan seorang manusia. Duduk bersantai
seolah memang keberadaanya hanya untuk menunggu seseorang. Terlihat muda serta umur
keduanya nampaknya tidak terlalu jauh. Hanya saja yang membedakan adalah
perlengkapannya. Orang yang berjaga di jalan itu memang sedari awal berniat bertarung,
dengan armor dada dan pedang ganda bilah dua yang menemaninya.
“Kamu... tumben lebih cepat,” sapanya.
“Iya begitulah.” Lawan bicaranya acuh, ia melanjutkan perjalanannya.
“Hei, tunggu Vaelric. Apakah memang hanya kamu seorang saja yang mengulang terus
dungeon tersembunyi ini setiap harinya?”
Vaelric yang dulunya adalah anak yang dianggap tidak berbakat kini sudah menjadi remaja.
Tidak banyak yang berubah, hanya kemampuannya yang menjadi lebih baik. “Kamu sudah
melihatnya sejak dulu bukan?” Ia menghela nafas besar, “Lagian bukan aku orang pertama
yang menyelesaikan dungeon ini.” Melirik kearah pedang ganda di tangan orang ini. “Dual
Glaive, terlebih lagi kelihatannya sudah disempurnakan oleh orang lain.”
“Matamu cukup jeli juga.” Ia bangkit, mengambil sepasang senjatanya. “Kalau begitu ayo
berduel!” ajaknya semangat sambil mengarahkan senjatanya pada Vaelric.
Dengan tenang ia menurunkan glaive lawannya, “Sudahlah, aku tidak tertarik dengan itu.”
“Hei, kamu memang tidak tahu siapa aku?!”
“Veist Moonclair, anak termuda dari Viscount Moonclair,” jawabnya dengan nada datar, ia
kelihatannya sudah bosan. “Lagipula, sudah jelas bukan siapa yang akan menang? Toh dari
awal kamu juga telah menyelesaikan dungeon ini sebelumnya, apalagi orang pertama.”
“Cih, jawabanmu sama saja kayak kemarin,” ketus Veist, berjalan meninggalkan Vaelric.
Vaelric mengikuti, keluar dari dungeon. “Apalagi pertanyaanmu, kamu tidak bosan kah
bertanya seperti itu setiap hari?”
“Malah aku yang heran, kamu tidak bosan kah melawan Bearrock Golem itu setiap hari?
Sudah berapa lama coba? Kayanya hampir dua tahun deh?” gerutu Veist. “Tidak dapat apa
apa pula.”
“Emm yah, dua tahun sudah sih,” jawabnya ragu. “Dan juga, aku penasaran dari dulu, apa
anak dari Viscount besar seperti Moonclair itu bisa seenaknya pergi ya? Apalagi seharian
penuh, mana setiap hari.”
“Aku?” Veist tertarik dengan pertanyaan Vaelric, “Ya panjang ceritanya, lagian aku tidak
terlalu dekat dengan keluargaku.”
“Oh..”
“Kesepian? Itukah alasan dia setiap hari mengajakku bertanding?” batin Vaelric.
“Aku tidak masalah sih, toh aku juga kabur dari rumah.”
“Kabur?”
Veist menatap heran Vaelric, “Ya gimana coba kamu pergi dari kediaman Moonclair ke
perbatasan hutan ini hanya beberapa jam?”
“Ahh...” Vaelric sadar, bahwa semenjak ia kabur dari hutan wilayah elf. Ia tidak pernah
sekalipun pergi kemanapun.
Rutinitas harian yang dijalani oleh anak kedua Elbrecth adalah bangun, belajar dengan elf tua
di pagi hari, serta pergi ke dungeon tersembunyi ini hingga petang. Sekalipun ia rehat
berlatih, Vaelric pergi ke sungai untuk berenang. Hari-hari seperti itu sudah menjadi
kesehariannya selama empat tahun kebelakang.
“Jauhkah?” tanya Vaelric penasaran sekaligus memastikan. “Aku tidak pernah pergi kemana-
mana sih sebenarnya.”
Anak dari keluarga bangsawan itu tercengang, “Apakah benar kamu tidak pernah pergi
kemana pun selain hutan ini?” Ia menatap lawan bicaranya dengan ekspresi beragam: kasihan
atau terkejut.
“Yah begitulah,” gumamnya sambil menggaruk rambut. “Kamu setidaknya tahu kalau aku
memang selalu di dungeon ini.”
“Hmm... kalau aku berjalan kaki waktu itu sih, sekitar dua hari dua malam. Mungkin kalau
pakai kereta kuda hanya satu harian saja,” jawabnya.
“Ohh cukup jauh berarti, lalu sekarang kamu tinggal dimana?” tanya kembali Vaelric, ia
perlahan mulai tertarik dengan dunia luar selain hutan ini. “Katanya kamu kabur?”
Veist berpikir, “Dimana yah... aku tidak tahu tepatnya, yang terpenting di dekat bengkel
dwarf di perbatasan hutan sana.” Ia menunjuk ke arah timur laut, “Aku tinggal bersama
pamanku sih.”
“Begitu ya...” Vaelric kemudian termenung, “Aku tidak tahu sih dimana bengkel dwarf itu.”
Dalam langkah kaki yang tenang serta kicauan burung menyambut senja itu keduanya
berjalan santai. Langit emas menaungi seakan memberikan mereka hadiah atas hidup hingga
detik ini. Suasana tenang nan damai itu membuat setiap makhluk bertanya-tanya, “Apakah
jiwa kita bisa bebas seperti lautan emas di angkasa senja?”
Mungkin itu adalah salah satu pertanyaan yang dipikirkan oleh Vaelric dalam lamunannya,
tapi semua yang terombang-ambing di kepalanya itu abstrak. Salah satunya adalah dunia luar.
“Apakah aku sesekali harus pergi ke luar hutan ya?” pikirnya singkat, namun ia
menggelengkan kepala setelahnya. “Tidak-tidak bagaimana dengan urusan sarapan untuk
yang lainnya?” Pikirannya masih campur aduk. “Tapi kan aku juga biasanya ke pasar, dan
itu juga cukup jauh sih. Belum juga nanti aku akan telat belajar dengan nenek Helena.”
Dalam pertarungan batin melawan dirinya itu, Vaelric seakan mengabaikan lingkungan
sekitarnya. Bahkan Veist yang ada di sebelahnya sedikit terkejut dengan perilaku Vaelric saat
ini.
“Vael? Vaelric kamu kenapa?”
Tidak ada respon dari Vaelric, ia masih larut dalam alam bawah sadarnya.
Merasa jengkel, Veist menyenggolnya sedikit keras. “Berhenti melamun, kamu
membayangkan apa sih?”
“Tidak, tidak ada.” Vaelric memalingkan wajahnya, sedikit malu.
Veist tersadarkan sesuatu, “Apa jangan-jangan kamu penasaran dengan apa yang ada di luar
hutan?” Kelihatannya ia paham karena sebelumnya ia tidak pernah berbicara tentang tempat
asalnya. “Apa karena ceritaku tadi?”
“Tidak bukan itu.” Vaelric menggelengkan kepala, namun kebohongan masih nampak pada
ekspresinya.
Veist tersenyum licik, ia merencanakan sesuatu. “Hei Vaelric, kalau kamu mau, aku bisa
mengajakmu berkeliling Viscount Moonclair loh,” tawarnya memasang umpan.
Dan benar saja, tidak lama umpan itu langsung disambar, “Benarkah? Berkeliling daerah
Moonclair? Kapan?” sahut Vaelric dengan antusias.
“Yah... mungkin aku harus melakukan sesuatu dulu sih,” lirik Veist melanjutkan rencana
yang berjalan dengan baik.
“Apa itu?”
“Hmm... lebih ke arah syarat saja sih.”
“Syarat?”
Veist mengangguk, “Iya syarat.”
“Apa syaratnya?”
Sasaran sudah mencapai genggaman, Veist tersenyum licik. “Bertandinglah denganku, sekali
saja.”
Vaelric tertegun menyadari syarat yang dibicarakan Veist, “Yah, jelas aku yang kalah dong.”
“Tidak, kalah menang tidak masalah. Hanya latih tanding biasa.”
“Bagaimana ya,” pikir Vaelric, sebelum membuat keputusan. “Ya baiklah tidak masalah,
kapan dan dimana?” terimanya dengan cepat, ia tidak berpikir jauh untuk menjawab pilihan
itu.
Veist menjentikkan jari, rencananya sukses besar. “Terserah kamu saja.”
“Bagaimana kalau besok pagi?” usul Vaelric.
“Yah tidak masalah, di pintu dungeon saja.”
“Oke! Kutunggu besok pagi.”
“Ya! Jangan hanya omongan saja.”
“Hahaha!”
Keduanya nampak bahagia diatas redupnya cahaya, seakan mereka menjadi pembatas buku di
antara halaman buku yang akan dibaca selanjutnya. Bintang juga perlahan sudah mulai
membekas di antara angkasa, pertemuan kedua masa itu benar-benar memberikan
pemandangan indah bagi siapa saja.
*Hutan Wilayah Elf
Kembali lagi pada pelataran daratan yang dipenuh tanaman besar, pepohonan rimbun adalah
kata kuncinya. Dari kejauhan terlihat cahaya remang redup menyala di tengah hutan, jika
lebih dekat, jelas di sana sebuah kabin yang terhubung dengan rumah pohon milik elf.
Bangunan itu sangatlah tua, cukup untuk mengetahui seberapa lamanya ia berdiri kokoh di
sana.
Vaelric baru saja masuk, dia nampak tergesa-gesa. Bangunan itu adalah tempat tinggal
sekaligus tempat dimana dirinya mengasah kemampuan.
“Kakak Vael! Selamat datang!” sambut seorang anak kecil yang sadar akan kedatangan
Vaelric.
Tidak hanya seorang saja, ada empat anak yang sedang sibuk dengan mainannya di ruang itu.
Mereka serentak menghampiri Vaelric.
“Ah ya, aku baru saja latihan tadi,” jawabnya sembari mengelus kepala gadis kecil itu. Ellie
namanya. “Bagaimana dengan latihan dengan nenek Helena? Lucy dan Luna?”
Gadis kecil nan kembar itu tersenyum senang, “Ya! Asik seperti biasanya, aku sekarang juga
bisa lancar menggunakan sihir air!” jawab Lucy, saudara tertua. Namun Luna juga tidak mau
kalah, “A...aku juga lancar pakai sihir es!”
Vaelric memegang pundak keduanya, “Kerja bagus, lanjutkan ya!” Kemudian ia melirik ke
arah salah satu anak lelaki elf di sana, “Bagaimana harimu tadi?”
“Emm yah, kurasa lancar, sedikit...”
“Sedikit?”
Owan memainkan jarinya, “Ladang di belakang terkena serangan babi hutan, aku gagal
menangkapnya.”
Vaelric tersenyum kecil, “Biarlah, besok-besok mari kita urus hama itu bersama,” hiburnya.
“Omong-omong dimana Nenek Helena? Dan apakah kalian sudah makan malam?”
“Nenek ada di belakang, di rumah pohon,” jawab Ellie, menunjuk ke arah belakang.
“Belum sih kak, tapi kami baru saja makan biskuit.” Lucy ikut menjawab.
Mengetahui jawaban mereka, Vaelric berdiri sembari menghela nafas. “Baiklah, aku akan
menyiapkan makan malam untuk kalian, tunggu ya.”
Mereka berempat mengangguk, tapi Ellie menarik ujung baju Vaelric. “Ada apa Ellie?”
Reflek ia berhenti.
“Aku ikut membantu kak,” pintanya sedikit malu-malu.
Vaelric tersenyum kecil, “Terima kasih.”
Keduanya pergi ke dapur, letaknya tak jauh dari ruang tamu di depan, hanya melewati
ruangan belajar saja. Sejatinya kabin yang menempel di rumah pohon milik ras elf ini adalah
tempat pendidikan, semacam sekolah yang tidak formal. Untuk saat ini hanya ada lima murid
termasuk Vaelric.
Helena sang elf –lah yang membangun kabin ini, alasan terbesarnya adalah merawat anak
terlantar dan semacamnya. Vaelric adalah yang pertama dan sekaligus tertua, di susul oleh
Ellie di umur 12 tahun, kemudian ada gadis kembar Lucy dan Luna yang kurang lebih masih
umur delapan tahun, terakhir adalah Owan yang sedikit lebih tua dari Ellie meski baru saja
datang beberapa bulan yang lalu.
“Kukira tadi Ellie saja yang memasak, tapi kamu juga sudah datang ya Vaelric,” sahut
seorang elf tua dengan rambut yang sepenuhnya sudah beruban, jalannya saja sudah dibantu
oleh tongkat.
Aroma masakan sudah mulai tercium di setiap sudut dapur, Vaelric dengan kecakapannya
bermain api bersama wajan penggorengan. Tumis sayur dan sambal ikan, hasil dari hutan,
cukup simpel namun digemari anak-anak.
“Ah ya, maaf aku belum sempat mengabari nenek.”
“Bagaimana perkembangan sihir pemadatan manamu?” tanya nenek Helena, menghampiri
Ellie yang sedang mengeringkan piring. “Kamu sudah mulai suka dengan dapur ya?”
“Aku hanya membantu Kak Vael.”
“Aku belum mencoba semuanya,” balas Vaelric selagi mematikan api, ia sudah
menyelesaikan sebagian pekerjaannya. “Lagi pula musuh di dungeon itu lincah, meskipun
aku bisa menghambat pergerakannya.”
Nenek Helena mengelus rambut Ellie, gemas. “Ada benarnya, mengeluarkan hampir seluruh
mana juga beresiko, apalagi di dungeon.”
“Nenek, memang mengeluarkan semua mana itu resikonya apa?” tanya Ellie polos.
Vaelric menyiapkan peralatan makan, “Kamu bisa mati.”
“Yang benar kak?!” Gadis berambut pendek itu terkejut ketakutan.
Nenek Helena berdecak, “Kamu ini jangan menakuti anak yang masih belajar sihir. Memang
ada benarnya sih.”
“Ada benarnya?” Ellie lebih ketakutan.
“Nenek malah lebih menakutinya,” imbuh Vaelric, pekerjaannya tuntas semua. Makanan
lezat sudah siap disantap di meja makan. “Ayo makan malam.”
“Ellie, menghabiskan mana sampai nol itu hampir mustahil bagi sebagian orang, tapi khusus
untuk Kak Vaelric itu mungkin,” jelas singkat nenek Helena. “Nah sekarang, panggil yang
lainnya untuk makan malam.”
Gadis itu hanya bisa mengangguk, sebagian perkataan pengasuhnya itu tidak ia pahami
sepenuhnya.
Langit dihiasi selendang bintang, terbentang luas di antara pucuk pohon-pohon yang
menjulang. Beberapa daun memantulkan cahaya rembulan yang temaram, seakan
memberikan pesan bagi setiap makhluk yang menyimpan setiap kisah yang tidak bisa mereka
ucapkan.
Angin malam menyusuri celah-celah akar, aroma hutan khususnya kayu tua tersebar di
wilayah tersebut. Tidak ada suara gaduh, hanya nyanyian serangga dan gemerisik ranting
yang digoyangkan angin. Di suatu pelosok, suara lembut aliran sungai mengalun seperti
lullaby purba, menyejukkan seluruh alam.
Hanya ada sepasang orang yang berbincang di tenangnya malam, tepatnya di puncak salah
satu pohon raksasa.
“Ini tehnya nenek,” cakap Vaelric sembari menaruh secangkir minuman hangat itu di
hadapan nenek Helena. Ia ikut duduk satu meja dengannya.
“Ya, terima kasih.”
Lelaki berambut coklat cerah itu menghela nafasnya besar-besar, bagaikan ia mengeluarkan
semua bebannya hari ini pada alam. “Aku jadi faham, mengapa banyak orang yang suka
menikmati langit malam saat cerah.”
“Itu berarti kamu sudah mulai tua, haha.” Elf tua itu terkekeh karena candaanya sendiri.
Vaelric hanya tersenyum menghargai, “Nek, besok aku ingin istirahat bentar.”
“Apanya?”
“Emm...” Ia sedikit ragu meminta izin, “Latihan besok aku tidak ikut dulu, aku ingin pergi ke
Viscount of Moonclair.”
Nenek Helena meminum teh sebelum membalas perkataan Vaelric, “Yah pergi saja, lagi
pula...” Ia menghadap ke arah angkasa malam yang luas.
“Lagi pula?”
“Hidupku mungkin sudah lebih dari ratusan tahun, dan selama hidupku itu aku sadar bahwa
sepanjang hidup seseorang, semuanya akan berubah. Waktu akan menenggelamkan
segalanya, bahkan seorang yang abadi akan merasakan apa itu kehilangan. Dunia ini luas,
tidak peduli seberapa lama aku hidup, aku akan mati dengan apa yang kumiliki.”
Vaelric terdiam, ia tidak begitu faham akan apa yang di katakan elf itu. Apakah itu sebuah
diksi, puisi, ataupun pesan? Ia tidak menganggapnya seperti itu.
“Pergilah, aku sejujurnya sudah mengajari apa yang aku bisa ajarkan padamu, jika dalam
ilmu matematika, keberadaanmu adalah probabilitas kecil di antara abstraknya angka,”
pesannya, ia sudah menghabiskan setengah dari minumannya, “Yah kamu kan sudah tahu,
belakangan ini kamu hanya kuajari bagaimana melatih pengeluaran manamu.”
Lelaki itu memandangi kedua tangannya, ia sadar seberapa jauh ia melangkah dari
keterpurukannya.
“Kalau memang setidaknya kamu faham dan penjelasanku sudah cukup, kamu juga berhak
untuk pergi keluar kan?”
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh Vaelric secara langsung, bahkan ia tidak menyangka
jika jawaban yang diberikan elf tua itu mengarah sampai sini. “Aku tidak tahu.”
Nenek Helena tersenyum, “Apakah ajakan dari anak bungsu dari keluarga Moonclair?”
Vaelric terkejut, tapi ia langsung menggelengkan kepala. ”Bukan, bukan ajakan, aku saja
yang penasaran.”
“Oh, iya wajar sih.”
“Wajar?”
“Kamu sudah remaja, sudah sepatutnya kan untun penasaran dengan dunia luar,” ucapnya
kemudian meminum sisa tehnya. “Apalagi kamu belum sama sekali jalan-jalan kan? Hanya
beli bahan makanan di pasar sana.”
“...”
Senyum Elf tua itu kembali mengembang ketika melihat anak didiknya sudah tumbuh lebih
dewasa. “Pergilah, aku akan mengurus semuanya.”
“Terima kasih, nek.”
“Ya, anggap saja ini balas budi untuk guruku dulu,” lirihnya, suaranya sedikit samar
terdengar.
“Balas budi untuk guru?” tanya Vaelric yang memang tidak sengaja mendengarnya.
“Ya, seorang guru yang telah menyadarkanku seberapa luas dunia ini.” Mata elf paruh baya
itu berkaca-kaca seolah angkasa penuh bintang.
Memang benar benda angkasa yang gemerlap itu menyimpan segalanya, meskipun
ukurannya kalau jauh dari rembulan, nyatanya mereka menjadi saksi bisu dunia berjalan.
“Omong-omong soal guru, sekarang umurmu sudah hampir menginjak 15 tahun ya?”
Vaelric mengangguk, namun ia heran. “Iya, memangnya kenapa nek?”
“Akademi Velmara. Apakah kamu ada niat untuk mengasah kemampuanmu di sana?”
“Akademi Velmara? Apa itu?” Hal itu masih asing bagi Vaelric.
“Ya, kalau kamu ingin mengembangkan kekuatan mana atau kemampuan berpedangmu,
akademi tempatnya,” jelas singkat nenek Helena. “Ada banyak guru sepertiku yang akan
mengajarimu sihir lebih baik dariku.
Ia tertegun, berpikir sejenak.
“Kalau kamu memang ingin, aku bisa mengajukkannya. Tapi sedikit sulit sih.”
“Tidak masalah nek, lagipula aku juga belum tahu kemana jalan hidupku ini selain berpedang
dan sihir.”
Nenek Helena tersenyum untuk kesekian kalinya, “Baiklah memang maniak.”
*Perbatasan Wilayah Hutan Elf dan Viscount of Moonclair
“Kamu... sudah datang?” sapa Vaelric dengan wajah heran, ia tidak menyangka Veist akan
datang sepagi ini.
Lelaki berambut hitam itu menguap, antara mengantuk atau bosan. “Ini sudah sedikit siang
tahu,” gerutunya.
“Iyakah?” Vaelric heran, memandangi sekitarnya. Bahkan matahari belum muncul
sepenuhnya.
Sontak Veist mengambil sepasang glaive dari punggungnya, “Tidak usah banyak omong,
mari kita bertanding.”
“Sudah setahun kamu memintanya, aku kira waktu pertama kali kamu menantangku adalah
sebuah gurauan.” Vaelric juga memegang gagang pedang yang masih di sarungkan.
Salah satu glaive di arahkan ke mata lawannya, “Iya ada benarnya.”
“Pastikan kamu puas dengan permintaanmu.” Suara pedang yang ditarik dari bajunya.
“Akhirnya,” lirih Veist, suara itu adalah kelegaan tersendiri baginya.
Vaelric tak menjawab. Hanya mengangguk pelan, satu langkah maju, kaki kanannya
menekan tanah sebagai kuda kuda. “Jujur saja,aku tidak pernah bertanding satu lawan satu
dengan seorang swordsman,” ujarnya, suara tenang namun mengandung arti yang berat.
Veist melesat. Tak menunggu aba-aba, ia melancarkan serangan pertama. Pertarungan
dimulai.
Satu langkah cepat, glaive kanan diarahkan ke bahu kanan Vaelric.
Ting!
Vaelric menangkis. Tubuhnya melengkung memanfaatkan momentum serangan Veist untuk
melangkah ke samping, memutar, lalu menebas horizonta. Cepat dan mematikan.
Masih ada tangan kiri dengan glaivenya. Serangan itu berhasil ditangkis, namun Veist
mengambil langkah mundur, tersenyum tipis sembari mengatur tempo pertarungan, “Aku
tidak bisa meremehkan orang yang mengalahkan Bearrock Golem sendirian setiap hari.”
“Aku juga tidak bisa meremahkan orang yang mengalahkan Bearrock Golem pertama kali.”
Pertarungan berlanjut. Sinar matahari memantul di bilah glaive ganda milik Veist,
menyilaukan seperti petir yang siap menyambar. Sekali lagi ia maju dengan gaya bertarung
penuh gerakan berputar. Cocok dengan senjata glaive, seolah keduanya menyatu seperti
tarian mematikan. Serangan demi serangan mengarah ke kepala, pinggang, lalu lutut.
Tetap saja Vaelric hanya bisa menangkis, mengelak, dan terkadang nyaris terpleset saat tanah
yang masih mengembun di bawahnya mengkhianati langkahnya. Tapi ia tetap tenang, setiap
gerakannya seperti menghemat tenaga, mengelak hanya sejauh yang diperlukan.
Sesekali Vaelric menggunakan sihir yang biasanya digunakan melawan Bearrock Golem
untuk menghambat pergerakan lawan, meskipun tidak begitu berpengaruh pada Veist yang
memang pada dasarnya menyerang mengandalkan kelincahan.
Sebuah barrier cahaya muncul, kemudian di tembak dengan sihir dari tangannya, pertemuan
antara sihir yang menyala itu membentuk sebuah lingkaran. Lingkaran sempurna dengan
diameter sesuai pada panjanganya barrier. Itulah salah satunya kemampuan sihir Vaelric,
lingkaran mana. Dampaknya adalah membatasi pergerakan lawan, siapapun yang memasuki
atau sekadar menyentuh sihir itu, semua gerakannya berhenti, atau setidaknya terhambat.
“Lingkaran mana hanya berdampak besar pada monster saja kah?” batin Vaelric, keringat
sudah semakin membasahi tubuhnya. Menyadari bahwa Veist masih bisa bergerak lincah
walau sudah terkena sihir itu berkali-kali.
“Aku tidak bisa menghentikkan pergerakannya!”
Beberapa menit berlalu. Keduanya nampak mulai kehilangan separuh staminanya.
“Berat! Tubuhku rasanya berat!” ucap Veist dalam hati, ia melompat mundur-mengambil
sedikit jarak. Nafasnya mulai berat. “Apa-apaan ini? Seharusnya kemampuan senjata ini kan
menghilangkan semua efek buruk sihir.”
Mata Veist teralihkan pada senjatanya sendiri, “Apakah glaive ini rusak? Atau memang sihir
anehnya itu yang menghambat pergerakanku?”
Sadar akan Veist yang kelelahan, kesempatan berpihak pada Vaelric. Ia lagi-lagi
menggunakan lingkaran sihirnya untuk menghentikkan lawan, setelahnya ia menerjang maju.
“Tidak bisa bergerak! Apa-apaan?!”
Namun tebasan Vaelric masih lemah, Veist membendung serangan itu dengan kedua
glaivenya.
“Sihir... sihir apa yang kamu gunakan huh?” tanyanya, ia penasaran apa yang membuatnya
terpojokkan.
Vaelric tidak langsung menjawab. Ia hanya menurunkan posisi pedangnya, membiarkan
ujungnya menyentuh tanah.
“Aku tidak pernah melihat sihir aneh seperti itu, apa sebenarnya elemental coremu? Mystic?”
telaahnya, kali ini mata Veist terbebankan pada pedang lawannya. “Pedangnya sudah cacat.”
“Sihir mystic? Aneh bagiku untuk mengatakan bahwa sihir yang kugunakan itu adalah
elemental core mystic.” Vaelric memperlihatkan kristal mana yang dipadatkan di atas telapak
tangannya.
Veist tersenyum akan ketangguhan lawannya, ia sadar bahwa Vaelric-dengan perlengkapan
yang masih samar kejelasannya, bahkan kurang layak digunakan masih bisa mengimbanginya
cukup lama. “Aku tidak menyesal jika harus mati di duel ini.”
Glaive ganda terangkat kembali, kali ini mulai serius menggunakan seluruh kemampuannya.
Pertarungan kembali berlanjut, keduanya melesat ke arah yang sama, dengan tujuan yang
sama. Menunjukkan seberapa jauh kemampuan mereka di dorong.
Karena Veist sebelumnya sadar bahwa pedang milik Vaelric sudah rapuh, ia mengalihkan
target serangannya. Kali ini matanya hanya tertuju pada bilah pedang lawannya, mengincar
kehancuran senjata itu.
Dan benar saja, hanya butuh sekali serangan. Benturan keras.
Serangan berputar dari glaive ganda Veist menghantam sisi pedang Vaelric.
Kreeekkk!!
Retakan menjalar cepat di sepanjang bilah usang, bagaikan es tipis yang dipijak. Tidak
menyiakan kesempatan itu, Veist menyerang lagi. Seperti rencananya, pedang Vaelric
hancur, pecahan bilahnya terlempar ke tanah hutan.
Dengan cepat, Vaelric mundur. Baru kali ini dia mengambil jarak dari lawannya.
“Apakah harus dilanjut?” tanya bingung Veist, meskipun ini adalah tujuannya, tapi ia tidak
tahu harus bagaimana selanjutnya.
Di bawah sorot mata Veist yang kebingungan, Vaelric membuang gagang pedang yang
hancur dan mengangkat tangan kosongnya.
Uap tipis, biru keperakan, perlahan berkumpul di sekeliling tangannya.
Sekumpulan mana.
Dengan keahliannya, ia memadatkan energi itu, perlahan tapi pasti membentuk gagang dan
bilah. Memang tidak sempurna, apalagi bilahnya yang tranparan. Ciptaanya itu seolah hanya
ilusi yang berwujud, sekaligus nyata untuk di pegang.
Slash!
Sebuah pedang dari gumpalan mana tercipta. Tepat saat Veist menganyunkan glaive-na lagi.
Vaelric menangkis.
Crack!
Namun bagaimanapun, itu hanyalah sebuah mana. Sekali lagi, ilusi yang berwujud, sekaligus
nyata untuk di pegang. Pedang mana itu retak, serpihannya lenyap menjadi kabut kecil.
“Apa-apaan itu?” Veist lebih bingung.
Tidak menunggu, Vaelric langsung membentuk yang baru. Tanpa ragu-tanpa berpikir
panjang.
Serangan datang lagi.
Benturan kembali lagi.
Hancur lagi.
Dan lagi.
Tubuh Vaelric bergerak seirama dengan pikirannya, mengalir bersama kehancuran dan
penciptaan. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Veist, dibalas bukan dengan kekuatan, tapi
dengan keteguhan untuk bertahan. Pedang mana ciptaannya tak pernah bertahan lebih dari
satu atau dua tebasan, tapi Vaelric tidak pernah berhenti.
“Bahkan jika aku anak seorang bangsawan dan selalu melihat anggota kerajaan berlatih
sihir, aku tidak pernah melihat hal aneh seperti ini. Apakah itu sihir? Atau hanya sebuah
imajinasi?”
Veist melangkah mundur, terengah. Nafasnya tidak beraturan. Untuk pertama kalinya,
matanya penuh rasa takjub. “Gila... Kau benar-benar keras kepala.”
Dengan tenang, Vaelric hanya tersenyum kecil. Meskipun sesekali nafasnya naik turun.
Namun netranya masih menatap keyakinan.
Veist memutar glaive-nya lalu mengayun lagi dengan kekuatan penuh. Vaelric kembali
membentuk pedang dalam sekejap, menangkis, lalu melangkah maju. Mendekat.
Dentang-dentang!
Pertarungan jarak dekat untuk kesekian kalinya.
Benturan senjata memenuhi udara pagi yang selayaknya segar.
Vaelric mulai menguasai tempo pertarungan, serangan-serangannya menjadi lebih terarah.
Untuk sesaat, Veist yang terbiasa mendominasi, mulai kehilangan keseimbangan.
“Dia berkembang secepat itu, apalagi di tengah duel?” pikir Veist kagum sekaligus tertekan.
Dengan sebuah gerakan cepat, Vaelric menangkis glaive Veist ke samping, lalu menekuk
lutut, menusuk lurus ke arah pinggang lawannya.
Sebuah kesempatan emas.
Veist masih tak sempat menarik kembali glaive-nya untuk bertahan. Dalam sepersekian detik,
Vaelric membentuk pedang mana baru, lebih panjang dan lebih tebal, menusuk ke depan.
Namun di sanalah kesalahan fatal Vaelric muncul. Dalam usahanya memperbesar pedang
mana itu secara cepat, konsentrasinya terbelah. Suatu kesalahan kecil, sedetik saja. Akibatnya
adalah struktur pedangnya menjadi rapuh.
Crack!
Pedang itu hancur sebelum bisa mengenai Veist.
Mata Veist mengambil alih keuntungan, menangkap peluang itu secepat kilat.
Pengalaman bertarung memanglah berpengaruh jelas. Dengan gerak reflek, ia memutar
tubuhnya, mengayunkan bagian gagang belakang glaive ke arah Vaelric.
Hanya satu hentakan kuat.
Thwak!
Vaelric terdorong mundur, lututnya menghantam tanah. Nafasnya memburu.
Ia mencoba bangkit dengan segala stamina yang tersisa. Namun sebelum ia bangun dan bisa
membentuk pedang baru, ujung glaive Veist sudah menempel ringan di lehernya.
Sunyi. Hanya suara nafas dan desir angin pagi di sela pepohonan.
Veist tersenyum kecil, wajahnya tidak sombong, malah takjub penuh rasa hormat. “Kau
hampir saja, Vael,” ucapnya, menurunkan senjatanya perlahan. “Apa-apaan sihir yang bisa
membentuk pedang itu?”
Vaelric menunduk, tidak marah, juga tidak kecewa. Justru ada semacam keyakinan bahwa
kemampuannya masih kurang jauh dari kata sempurna.
Ia bangkit, menepuk debu di lututnya. “Lain kali, aku tidak akan membuat kesalahan,”
balasnya tenang. “Lagian aku juga baru kali ini bertarung dengan manusia.”
Lawannya tertawa ringan, bahunya berguncang. “Kalau begitu, aku harus benar-benar
bersiap.”
Sementara itu, langit sudah sepenuhnya terang, warna cerah seolah menyambut penyelesaian
atas pertarungan mereka. Di hutan, depan dungeon tersembunyi, dua remaja itu berdiri.
Masing-masing membawa luka ringan, rasa hormat, dan semangat baru untuk menjadi lebih
kuat.
“Dengan ini, syaratnya sudah selesaikan?”
Veist tertawa, “Haha! Kamu memang mau bertarung hanya karena hal itu ya!” Ia menepuk
pundak Vaelric, puas.
“Ya bagaimana lagi?”
“Okelah, mumpung pagi juga.” Veist melihat Vaelric dengan sarung kosong tanpa pedang, ia
menyadari kesalahannya. “Sebelum itu mari kukenalkan ke dwarf untuk membuatkan pedang
baru untukmu.”
“Huh? Buat apa coba?” Vaelric heran, “Lagian pedangnya juga sudah jelek.”
“Ya tetap saja aku yang telah merusaknya, setidaknya aku harus menggantinya.”
“Tidak usah ah, langsung saja ke kota. Aku masih ada pedang lain.”
“Sebentar saja, toh sejalan,” ucap Veist. “Juga mau kutunjukkan pangkat bangsawan ini.”
“Iyalah anak bangsawan,” pungkasnya.