JAWABAN TUGAS TUTORIAL 2 SPK
Nama : Mochammad Adriawan Sujana
NIM : 857532875
Program Studi : PGSD
Kode Mata Kuliah : PDGK 4105
Nama Mata Kuliah : Strategi Pembelajaran di SD
Jumlah sks : 4 sks
Nama Pengembang : Dr. Rif’at Shafwatul Anam, [Link].
Nama Penelaah :
Tahun Pengembangan : 2022
Status Pengembangan : Baru/Revisi*
Edisi Ke- :
Skor Sumber Tugas
No. Uraian Tugas Tutorial
Maksimum Tutorial
1. Pada proses pembelajaran terdapat 5 (lima) faktor 25 Modul 5 PDGK
yang perlu diperhatikan dalam memilih metode 4105
mengajar. Jelaskan kelima faktor tersebut sesuai
dengan pemahaman Anda!
2. Berdasarkan teori Piaget siswa SD dalam proses 25 Modul 5 PDGK
pembelajaran harus dibantu dengan sesatu yang 4105
riil/nyata agar lebih memahami konsep yang
sedang dipelajari. Menurut Anda dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
sebaiknya metode apa yang digunakan dan
sertakan alasannya!
3. Media merupakan salah satu bagian penting dalam 25 Modul 6 PDGK
proses pembelajaran. Pada masa Pandemik ini 4105
tentu peran media menjadi lebih diperlukan lagi.
Menurut Anda media apa yang paling cocok di
masa pandemik saat ini dan jelaskan apa kelebihan
dari media tersebut!
4. Salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh 25 Modul 7 PDGK
seorang Guru adalah keterampilan memberi 4105
penguatan. Menurut Anda apakah kriteria bahwa
seorang guru dikatakan memiliki keterampilan
ini!
*) Coret yang tidak perlu
Jawaban Nomor 1 :
Dalam proses pembelajaran, pemilihan metode mengajar sangat penting agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Menurut Modul 5 PDGK4105
Universitas Terbuka (2021), terdapat lima faktor utama yang perlu diperhatikan oleh guru
dalam memilih metode mengajar, yaitu:
1. Tujuan Pembelajaran
Metode yang dipilih harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuan
pembelajaran bersifat pengetahuan (kognitif), metode ceramah atau tanya jawab
mungkin efektif. Namun, bila tujuannya melatih keterampilan atau sikap, metode
demonstrasi, eksperimen, atau simulasi lebih sesuai.
➤ Contoh: Untuk mencapai kemampuan berpikir kritis, guru dapat memilih metode
diskusi atau problem solving.
2. Peserta Didik (Karakteristik Siswa)
Guru harus mempertimbangkan tingkat usia, kemampuan, minat, pengalaman belajar,
serta latar belakang sosial siswa. Metode yang baik untuk siswa sekolah dasar belum
tentu cocok untuk siswa SMA.
➤ Contoh: Anak SD lebih cocok dengan metode bermain sambil belajar atau
demonstrasi langsung.
3. Situasi dan Kondisi Lingkungan Belajar
Kondisi kelas, waktu pembelajaran, jumlah siswa, dan fasilitas belajar juga
memengaruhi pemilihan metode. Lingkungan belajar yang sempit atau waktu yang
terbatas tidak memungkinkan penggunaan metode yang memerlukan banyak alat atau
gerak.
➤ Contoh: Di kelas besar dengan waktu singkat, guru dapat menggunakan metode
ceramah interaktif.
4. Kemampuan Guru (Kompetensi Pengajar)
Guru harus memahami dan menguasai metode yang akan digunakan. Guru yang tidak
menguasai metode tertentu akan kesulitan menerapkannya secara efektif.
➤ Contoh: Guru yang mahir menggunakan teknologi dapat menerapkan metode
blended learning atau pembelajaran berbasis proyek digital.
5. Sarana dan Sumber Belajar yang Tersedia
Pemilihan metode juga bergantung pada ketersediaan alat bantu, media, serta sumber
belajar. Tanpa dukungan sarana yang memadai, beberapa metode tidak bisa
diterapkan dengan baik.
➤ Contoh: Metode eksperimen membutuhkan alat laboratorium yang memadai agar
tujuan pembelajaran tercapai.
Kesimpulan:
Kelima faktor tersebut — yaitu tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, kondisi
lingkungan belajar, kemampuan guru, serta sarana dan sumber belajar — harus
dipertimbangkan secara seimbang. Guru yang mampu menyesuaikan kelima faktor ini akan
menciptakan pembelajaran yang efektif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Sumber Referensi:
1. Universitas Terbuka. (2021). Modul 5: Pemilihan dan Penggunaan Metode
Mengajar – PDGK4105 Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.
2. Sanjaya, W. (2019). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
3. Mulyasa, E. (2020). Menjadi Guru Profesional dalam Konteks Revolusi Industri 4.0.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jawaban Nomor 2 :
Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, siswa Sekolah Dasar (SD) berada pada
tahap operasional konkret (usia 7–11 tahun). Pada tahap ini, anak mulai mampu berpikir
logis, tetapi pemahamannya masih terbatas pada hal-hal yang bersifat konkret dan
nyata. Karena itu, dalam proses pembelajaran — terutama pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) — siswa perlu dibantu dengan pengalaman langsung agar dapat
memahami konsep secara utuh.
Berdasarkan teori tersebut, metode yang paling tepat digunakan dalam pembelajaran
IPA di SD adalah metode eksperimen atau demonstrasi.
1. Metode Eksperimen
Metode eksperimen memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan
sendiri, mengamati gejala alam, dan menarik kesimpulan dari hasil pengamatan.
• Alasan:
o Membantu siswa memahami konsep abstrak melalui pengalaman langsung.
o Mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah (mengamati, menanya, menalar,
mencoba, dan menyimpulkan).
o Menumbuhkan rasa ingin tahu dan sikap ilmiah seperti jujur, teliti, dan
bertanggung jawab.
o Sesuai dengan karakteristik anak SD yang belajar paling efektif melalui
kegiatan konkret dan praktik langsung.
2. Metode Demonstrasi
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan suatu proses atau percobaan secara langsung
oleh guru.
• Alasan:
o Cocok digunakan bila alat dan bahan terbatas.
o Membantu siswa melihat hubungan sebab-akibat secara nyata.
o Dapat menarik perhatian dan meningkatkan pemahaman konsep IPA yang
sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Kesimpulan:
Berdasarkan teori Piaget, pembelajaran IPA di SD sebaiknya menggunakan metode
eksperimen dan demonstrasi karena keduanya melibatkan benda konkret, pengamatan
langsung, serta pengalaman nyata, yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif siswa
SD. Dengan metode tersebut, siswa dapat belajar secara aktif, menemukan sendiri konsep
ilmiah, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Sumber Referensi:
1. Universitas Terbuka. (2021). Modul PDGK4105 – Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.
→ Bab 5: “Pemilihan dan Penggunaan Metode Mengajar.”
2. Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. New York: Basic Books.
3. Trianto. (2017). Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara.
4. Sanjaya, W. (2019). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Jawaban Nomor 3 :
Media pembelajaran merupakan sarana penting yang membantu guru menyampaikan pesan
pembelajaran secara efektif kepada peserta didik. Pada masa pandemi COVID-19, ketika
kegiatan belajar dilakukan secara jarak jauh (online), pemilihan media pembelajaran yang
tepat menjadi sangat penting agar proses belajar tetap berjalan optimal meskipun tanpa tatap
muka langsung.
Menurut saya, media pembelajaran yang paling cocok digunakan pada masa pandemi
adalah media berbasis digital atau daring (online), seperti Google Classroom,
WhatsApp Group, Zoom Meeting, dan YouTube Edukasi.
Alasan dan Kelebihan Media Pembelajaran Daring:
1. Memudahkan interaksi tanpa batas ruang dan waktu
Guru dan siswa dapat berkomunikasi, berdiskusi, serta mengirim tugas secara
fleksibel dari rumah masing-masing. Hal ini sangat membantu keberlangsungan
pembelajaran meskipun tidak dilakukan di sekolah.
2. Mendukung pembelajaran interaktif dan menarik
Media daring dapat menampilkan gambar, video, animasi, dan simulasi yang
membuat materi lebih mudah dipahami. Contohnya, pembelajaran IPA dapat
memanfaatkan video eksperimen dari YouTube atau simulasi laboratorium virtual.
3. Meningkatkan motivasi belajar siswa
Penggunaan media digital yang bervariasi seperti kuis online, game edukatif, dan
video pembelajaran membuat siswa lebih termotivasi dan tidak cepat bosan.
4. Mempermudah guru dalam memberikan umpan balik dan penilaian
Melalui Google Classroom atau aplikasi serupa, guru dapat mengumpulkan tugas,
memberikan nilai, serta memberikan komentar langsung secara efisien.
5. Mendorong keterampilan literasi digital siswa
Pembelajaran daring membantu siswa terbiasa menggunakan teknologi informasi
secara positif dan produktif, sebuah keterampilan penting di era modern.
Kesimpulan:
Pada masa pandemi, media pembelajaran berbasis digital/daring adalah pilihan yang
paling tepat karena dapat menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar secara efektif,
interaktif, dan fleksibel. Media ini juga membantu siswa dan guru tetap terhubung serta
meningkatkan kemampuan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sumber Referensi:
1. Universitas Terbuka. (2021). Modul PDGK4105 – Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.
→ Bab 7: “Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran.”
2. Munadi, Y. (2018). Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: GP
Press.
3. Kemdikbud RI. (2020). Panduan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi
COVID-19. Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
4. Sadiman, A. S. (2020). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Jawaban Nomor 4 :
Keterampilan memberi penguatan (reinforcement skill) adalah kemampuan guru dalam
memberikan respon positif terhadap perilaku, jawaban, atau usaha siswa dalam kegiatan
belajar mengajar, dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan
partisipasi siswa.
Seorang guru dikatakan memiliki keterampilan memberi penguatan yang baik apabila
memenuhi beberapa kriteria berikut ini:
1. Memberikan penguatan secara tepat waktu dan sesuai situasi
Guru yang terampil akan memberikan penguatan segera setelah siswa menunjukkan
perilaku positif (misalnya menjawab dengan benar, berpartisipasi aktif, atau menunjukkan
usaha yang baik). Penguatan yang diberikan tepat waktu membuat siswa merasa dihargai dan
termotivasi untuk mengulang perilaku positif tersebut.
Contoh:
Ketika siswa berhasil menjawab dengan benar, guru langsung mengatakan, “Bagus sekali,
kamu sudah paham konsepnya!”
2. Menggunakan berbagai jenis penguatan
Guru yang baik tidak hanya memberi pujian secara verbal, tetapi juga mengombinasikan
penguatan verbal dan nonverbal, seperti senyuman, anggukan, acungan jempol, atau
penghargaan kecil. Variasi penguatan ini membuat siswa tidak bosan dan merasa
diperhatikan.
3. Penguatan diberikan secara adil dan tidak berlebihan
Guru yang terampil mampu memberi penguatan secara objektif, bukan karena suka atau
tidak suka kepada siswa tertentu. Selain itu, penguatan tidak diberikan secara berlebihan agar
tidak menimbulkan kesan berpihak atau manipulatif.
Contoh:
Pujian diberikan pada semua siswa yang berusaha keras, bukan hanya yang paling pintar.
4. Penguatan mendorong motivasi dan partisipasi siswa
Guru yang memiliki keterampilan penguatan mampu membuat siswa semakin semangat
belajar, berani berpendapat, dan aktif dalam diskusi. Penguatan yang tepat dapat
menciptakan suasana kelas yang positif dan menyenangkan.
5. Penguatan bersifat mendidik (membangun perilaku positif)
Penguatan tidak hanya bertujuan memberi pujian, tetapi juga mengembangkan karakter
dan tanggung jawab siswa. Guru mengarahkan agar siswa memahami bahwa usaha dan
kerja keras juga layak dihargai, bukan hanya hasil akhirnya.
Kesimpulan:
Guru yang memiliki keterampilan memberi penguatan adalah guru yang mampu
memberikan respon positif secara tepat, bervariasi, adil, dan mendidik, sehingga dapat
menumbuhkan motivasi, rasa percaya diri, dan semangat belajar siswa.
Sumber Referensi:
1. Universitas Terbuka. (2021). Modul PDGK4105 – Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.
→ Bab 6: “Keterampilan Memberi Penguatan.”
2. Usman, M. Uzer. (2019). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
3. Hamalik, O. (2020). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.