0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan41 halaman

Terapi Bermain

Proposal ini membahas terapi aktivitas bermain Kinetic Sand Play untuk mengurangi kecemasan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani hospitalisasi di RSUP Dr. Sitanala. Terapi ini bertujuan untuk memberikan hiburan dan membantu anak mengekspresikan perasaan mereka selama masa perawatan. Melalui permainan ini, diharapkan anak dapat meningkatkan kreativitas, perilaku baik, dan rasa percaya diri.

Diunggah oleh

Ade siti Fatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan41 halaman

Terapi Bermain

Proposal ini membahas terapi aktivitas bermain Kinetic Sand Play untuk mengurangi kecemasan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani hospitalisasi di RSUP Dr. Sitanala. Terapi ini bertujuan untuk memberikan hiburan dan membantu anak mengekspresikan perasaan mereka selama masa perawatan. Melalui permainan ini, diharapkan anak dapat meningkatkan kreativitas, perilaku baik, dan rasa percaya diri.

Diunggah oleh

Ade siti Fatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL DAN LAPORAN PENANGGUNG JAWABAN PRAKTIK

PROFESI KEPERAWATAN ANAK

TERAPI AKTIVITAS BERMAIN KINETIC SAND PLAY (PASIR


KINETIK) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA USIA PRA
SEKOLAH (3-6 TAHUN) YANG MENJALANI HOSPITALISASI DI
RUANG ARJUNA RSUP DR. SITANALA

Disusun Untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Stase Praktik Profesi


Keperawatan Anak (PPKA) Program Studi Profesi Ners
Pembimbing Akademik : Ns. Ria Setia Sari, [Link]., [Link]
Pembimbing CI Lahan : Ns. Dewi Fitria Ariastusi, [Link]

Disusun Oleh :

Kurnia Widyaningrum 25030170


Jumrotul AZ-Zahra 25030122
Siti Sa’azah 25030085
Firyal Izzati Arifah 25030051
Rangga Yudistira 25030040
Salmma fariha Hadi 25030066
Yanti Yollanda 25030082

PROGRAM STUDI NERS PROGRAM PROFESI FAKULTAS


ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS YATSI MADANI
TANGERANG – BANTEN 2025/2026
LEMBAR PERSETUJUAN

TERAPI AKTIVITAS BERMAIN KINETIC SAND PLAY (PASIR


KINETIK) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA USIA PRA
SEKOLAH (3-6 TAHUN) YANG MENJALANI HOSPITALISASI DI
RUANG ARJUNA RSUP DR. SITANALA

Proposal Ini Telah Disetujui Dan Diperiksa Untuk Dipertahankan


Di Hadapan Dosen Pembimbing Dan CA Lahan Dalam
Stase Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah (PPKA)
Program Studi Profesi Ners
Universitas Yatsi Madani (UYM)

Tangerang, 07 Desember 2026

Menyetujui,

Dosen Pembimbing CI/Pembimbing Lahan


Ruang Arjuna

(Ns. Ria Setia Sari, [Link]., [Link]) (Ns. Dewi Fitria Ariastuti, [Link])

ii
LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Proposal : Proposal Terapi Aktivitas Bermain Kinetic


Sand Play (Pasir Kinetik) Untuk Menurunkan
Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Pra Sekolah
(3-6 Tahun) Yang Menjalani Hospitalisasi Di
Ruang Rawat Arjuna Rsup Dr. Sitanala.
2. Anggota : 7 orang terdiri :
1. Kurnia Widyaningrum
2. Jumrotul AZ-Zahra
3. Siti Sa’azah
4. Firyal Izzati Arifah
5. Rangga Yudistira
6. Salmma fariha Hadi
7. Yanti Yollanda
3. Waktu dan Pelaksanaan : Rabu, 07 Januari 2026

Penanggung jawab
Proses Nama Jabatan Tanda Tanggal
Tangan

Perumusan Yanti Yollanda Ketua Kelompok

Mengetahui Ns. Ria Setia Sari, [Link]., [Link] Pembimbing Akademik

Ns. Dewi Fitria Ariastusi, [Link] Pembimbing CI Lahan

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT , yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun proposal terapi aktivitas
bermain sesuai dengan waktu yang ditentukan. Yang akan kami lakukan berjudul
“Terapi Aktivitas Bermain Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) Untuk
Menurunkan Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Pra Sekolah (3-6 Tahun)
Yang Menjalani Hospitalisasi Di Ruang Rawat Arjuna Rsup Dr. Sitanala”.

Kami menyadari bahwa terapi aktivitas bermain ini tidak akan maksimal
tanpa bantuan dari berbagai pihak, terutama RSUP Dr. Sitanala yang sudah sangat
mendukung dalam menyediakan tempat untuk terapi aktivitas bermain, kami selaku
penulis menemukan banyak kesulitan dan hambatan tetapi berkat bantuan dan
motivasi dari berbagai pihak, akhirnya pembuatan proposal ini dapat terselesaikan
tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terimakasih
kepada:

1. Drs. Trisonjaya, [Link]., MM selaku Rektor Universitas Yatsi Madani.


2. Bapak Bambang Eko Supriyanto, [Link]., [Link] selaku wakil Rektor I
Universitas Yatsi Madani.
3. Bapak Ikhsan Kamil, SE., MM selaku wakil Rektor II Universitas Yatsi
Madani.
4. Ibu Nuryanti, [Link]., [Link] selaku wakil Rektor III Universitas Yatsi Madani.
5. Ns. Zahrah Maulidia Septimar, [Link]., [Link] ., Ph.D selaku Dekan Fakultas
Imu Kesehatan Universitas Yatsi Madani.
6. Ns. Cicirosnita J. Idu, [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Profesi Ners
Universitas Yatsi Madani
7. Ns. Ria Setia Sari selaku Pembimbing Akademik Profesi Ners Stase PPKA
Universitas Yatsi Madani.
8. Ns. Dewi Fitria Ariastusi, [Link] selaku CI Lahan Ruang Arjuna RSUP Dr.
Sitanala

iv
Tangerang, 04 Januari 2026

Kelompok

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ii


KATA PENGANTAR .................................................................................................iv
DAFTAR ISI...............................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
A. Latar Belakang ....................................................................................................1
B. Tujuan ..................................................................................................................3
C. Manfaat................................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................4
A. Konsep Bermain..................................................................................................4
B. Konsep Terapi Pasir kinetik (Kinetic Sand Play) ................................................6
C. Konsep Anak Pra Sekolah ...................................................................................7
D. Konsep Kecemasan .............................................................................................9
BAB III METODE KEGIATAN ..............................................................................13
A. Peserta ...............................................................................................................13
B. Metode dan Media.............................................................................................13
C. Pengorganisasian ...............................................................................................14
D. Pembagian Tugas ..............................................................................................14
E. Setting Tempat ...................................................................................................15
F. Strategi Pelaksanaan ..........................................................................................16
G. Rencana Evaluasi Kegiatan................................................................................17
E. Pengeluaran .......................................................................................................18
BAB IV PENUTUP ...................................................................................................19
A. Kesimpulan .......................................................................................................24
B. Saran ..................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................25

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak merupakan individu yang mempunyai kebutuhan spesifik berbeda
dengan orang dewasa. Perbedaan kebutuhan ini terkait dengan fase-fase yang
akan dilewati oleh anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya
(Anggeriyane & Zainuddin, 2023). Anak usia prasekolah dimulai pada usia 36
tahun, masa kanak-kanak yang dialami pada usia prasekolah cenderung lebih
senang untuk berimajinasi dan percaya bahwa memiliki kekuatan, secara
psikologis anak usia prasekolah membutuhkan cinta dan kasih sayang yang
lebih dari orang tua dan lingkungannya, serta membutuhkan rasa aman atau
terbebas dari ancaman, pada masa ini anak usia prasekolah mengalami
pertumbuhan yang berjalan dengan baik dan akan terjadi peningkatan
pertumbuhan serta perkembangan (Gerungan, 2020).
Hospitalisasi adalah masuknya individu ke rumah sakit sebagai pasien
dengan berbagai alasan seperti pemeriksaan diagnostik, prosedur operasi,
perawatan medis, pemberian obat dan menstabilkan atau pemantauan kondisi
tubuh. Hospitalisasi ini merupakan suatu keadaan krisis pada anak, saat anak
sakit dan dirawat di rumah sakit (Saputro & Fazrin, 2021). Berdasarkan data
WHO (World Health Organization) tahun 2020 menunjukkan 4%-12% pasien
anak yang di rawat di Amerika Serikat mengalami stress selama hospitalisasi.
Sekitar 3% 6% dari anak usia sekolah yang di rawat di Jerman juga mengalami
hal yang serupa, 4%-10% anak yang di hospitalisasi di Kanada dan Selandia
Baru juga mengalami tanda stress selama di hospitalisasi (Listiana, Kustriyani,
& Widyaningsih, 2021). Keadaan ini (hospitalisasi) terjadi karena anak
berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan asing yaitu rumah sakit,
sehingga menjadi stressor baik terhadap anak maupun orang tua dan keluarga,
perubahan kondisi ini merupakan masalah besar yang menimbulkan ketakutan,
kecemasan bagi anak yang dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan
psikologis pada anak jika anak tidak mampu (Saputro & Fazrin, 2022).

1
Hospitalisasi dapat menimbulkan kecemasan yang berlebihan pada anak.
Bila tidak diatasi sejak awal, kecemasan dapat mengurangi intensitas terapi dan
perawatan selama masa penyembuhan di rumah sakit, maka anak perlu untuk
mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping
dalam menghadapi stress, salah satunya adalah dengan terapi bermain (Sari,
2023). Bermain merupakan kegiatan menyenangkan yang dilakukan dengan
tujuan bersenang-senang, yang memungkinkan seorang anak dapat melepaskan
rasa frustasi. Manfaat bermain salah satunya dapat membuat anak gembira dan
memberikan kepuasan pada anak. Terapi bermain merupakan salah satu aspek
penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling efektif untuk mengatasi
stress anak ketika dirawat di rumah (Saputro & Fazrin, 2022). Bermain di
rumah sakit bertujuan untuk dapat melanjutkan pertumbuhan dan
perkembangan yang normal selama dirawat, dan mengungkapkan pikiran,
perasaan serta fantasinya melalui permainan (Sari, Fadhilah, 2024).
Salah satu permainan yang sering dilakukan anak usia prasekolah yaitu
bermain pasir kinetik (Kinetic Sand Play). Kelebihan dari permainan pasir
kinetik ini adalah mudah dijumpai dan diaplikasikan. Pasir kinetik (Kinetic
Sand) merupakan media pengganti pasir yang lebih bersih, berwarna - warni
dan aman digunakan anak yang penggunaannya di sertai dengan penggunaan
simbol-simbol seperti miniatur binatang, buah dan mainan kecil lainnya yang
bertujuan memberi kesenangan dan kepuasan anak, sebagai hubungan
interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis dalam prosedur terapi
bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi
perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya
mengekspresikan dan eksplorasi dirinya perasaan, pikiran, pengalaman, dan
perilakunya melalui media bermain selama masa hospitalisasi (Indana
&Lailiyah,2021).
Ruang Arjuna merupakan bangsal perawatan anak, dimana pasien yang
dirawat merupakan pasien pada usia anak yang masih dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan. Sebagian besar anak yang dirawat
mengalami tingkat kecemasan yang tinggi akibat tindakan medis yang

2
dilakukan dan lingkungan baru yang belum dikenal, sehingga anak menangis
atau menolak terhadap tindakan medis. Dalam kondisi seperti ini anak
membutuhkan suatu hiburan dalam bentuk permainan dimana anak bisa
bermain pasirr kinetik (Kinetic Sand Play) dan dibentuk sesuai keinginannya
yang bermanfaat bagi anak selama hospitalisasi di Rumah Sakit.

B. Tujuan
Mengurangi kecemasan pada anak selama hospitalisasi

C. Manfaat
1. Meningkatkan kreatifitas bermain
2. Meningkatkan perilaku yang baik
3. Meningkatkan motorik halus pada anak
4. Memfasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya
5. Meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan anak

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Bermain
1. Pengertian Bermain
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan anak secara spontan,
sukarela, dan menyenangkan tanpa adanya paksaan, yang berfungsi sebagai
sarana utama anak untuk belajar, mengekspresikan emosi, serta beradaptasi
dengan lingkungan. Bermain menjadi media alami bagi anak untuk
memahami pengalaman hidup, termasuk pengalaman yang menimbulkan
stres seperti sakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson, 2021).
Dalam konteks keperawatan anak, bermain dipandang sebagai
pendekatan terapeutik yang membantu mengurangi kecemasan dan
meningkatkan rasa aman selama perawatan di rumah sakit (Kaluas et al.,
2020).
2. Manfaat Bermain
Manfaat bermain sangatlah banayk diantara nya (Hayati, S. N., &
Putro, 2021):
a. Bermain bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan fisik anak, hal
ini ditandai dengan kegiatan anak bermain seperti berlari, melompat dan
menendang
b. Bermain melibatkan seluruh indera yang ada dalam diri anak
c. Bermain dapat meningkatkan kreativitas anak, seperti contoh menyusun
balok menjadi bangunan, membuat bentuk-bentuk dari plastisin atau
tanah liat, menggambar dan masih banyak lagi
d. Bermain dapat mengembangkan kepribadian anak seperti bertanggung
jawab, patuh terhadap aturan, kerjasama dan masih banyak lagi
e. Bermain dapat membantu anak mengenal diri sendiri dan mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki
3. Tahap Perkembangan

4
Bermain memiliki beberapa tahapan sesuai dengan tingkat
perkembangan anak. Tahapan ini adalah hasil dari penelitian Parten dan
Rogers (Hayati, S. N., & Putro, 2021) , yaitu :
a. Solitary play atau bermain sendiri
Tahap ini anak hanya bermain sendiri dengan mainannya. Ini terjadi
saat anak usia 2-3 tahun dikarenakan pada usia ini anak berada pada
tahap perkembangan kognitif operasional konkret dan baru mengenal
diri sendiri. Anak sangat menikmati bermain sendiri sampai ketika anak
lain datang untuk mengambil alat permainan yang digunakan.
b. Unoccupied atau tidak menetap
Anak tidak ikut bermain bersama dan hanya melihat anak lain
bermain. Pada tahap ini anak hanya mengamati tetapi tidak ada interaksi
antara anak dengan anak yang sedang bermain.
c. Associative play atau bermain dengan teman
Tahap ini anak sudah menjalin interaksi lebih kompleks, dalam
bermain anak sudah dapat mengingatkan teman-temannya,
berkomunikasi, bertukar mainan hanya saja anak belum dapat
melakukan kerjasama dalam kegiatan bermain.
d. Onlooker play atau pengamat
Tahap ini anak adalah tahap sebelum anak bergabung dalam
permainan atau lingkungan baru. Sebelumnya anak mengamati anak
lain bermain kemudian anak akan mulai bergabung dengan kelompok
yang diamati sebelumnya
e. Parallel play atau kegiatan parallel
Anak sudah bermain dengan anak lain tetapi belum terjadi interaksi
bahkan hanya memainkan alat yang ada di dekat temannya tersebut.
Hal ini biasa terjadi saat anak memasuki usia 3-4 tahun.
f. Cooperative play atau kerjasama dalam bermain dengan aturan
Anak sudah dapat bermain bersama dengan teman, kegiatan anak
bermain lebih terorganisir serta masing-masing anak menjalankan
peran dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kegiatan bermain ini

5
sudah ditampakkan oleh anak usia 5 tahun. Disini diperlukan peran
orangtua atau pendidik sebagai orang dewasa untuk menstimulasi
perkembangan anak.

B. Konsep Terapi Pasir kinetik (Kinetic Sand Play)


1. Definisi Pasir Kinetik (Kinetic Sand Play)
Kinetic sand atau pasir kinetik yang sering disebut juga pasir ajaib
yakni campuran pasir dengan bahan sintetis yang menghasilkan pasir
dengan tekstur lebih lembut dari pasir pantai, tidak berantakan hanya
menempel pada pasir kinetik itu sendiri (Rizkia, 2020).
Bermain Pasir kinetik (kinetic sand play) merupakan media bermain
edukatif yang melibatkan aktivitas sensorik dan motorik halus melalui
kegiatan menggali, meremas, dan membentuk pasir, sehingga membantu
koordinasi tangan dan mata anak (Septiana, 2023; Haraharp, 2023). Dalam
konteks hospitalisasi, (Irawan et al., 2024).
2. Manfaat Bermain Pasir Kinetik (Kinetic Sand Play)
Menurut Sands Alive Interesting Series dijelaskan dalam (Anisah
Kamaliyah et al., 2020), pasir ajaib juga mampu memberikan manfaat
terhadap tercapainya kemampuan belajar anak, adapun manfaat dari
bermain pasir ajaib yaitu:
a. Menstimulasi indra peraba seperti memegang dan menyentuh pasir
untuk merasakan teksturnya.
b. Melatih motorik halus, menghasilkan beberapa wujud menggunakan
tangan.
c. Melatih membuat gambar pramenulis sebelum memakai pensil, bisa
dengan memanfaatkan jari atau lainnya untuk menulis.
d. Merangsang kreativitas imajinasi seperti membuat bentuk dan bercerita,
bahkan bermain peran.
e. Melatih konsentrasi yaitu membuat bentuk dan struktur yang lebih
detail dengan tenang.
f. Membantu memberikan ketenangan dan mengurangi kecemasan pada
saat masa hospitalisasi di Rumah Sakit.

6
3. Kelebihan Bermain Pasir Kinetik (Kinetic Sand Play)
Menurut (Muthiah, 2020) ada beberapa kelebihan dalam Bermain Pasir
Kinetik (Kinetic Sand Play) yaitu :
a. Pasir kinetik sangat berguna untuk melatih dan membangun motorik
halus pada anak, membangun sosial emosional anak.
b. Mudah dibentuk dan memberikan kesenangan, relaksasi dan kreativitas
untuk anak-anak dan orang tua melalui berbagai imajinasi yang
diinginkan. Anak dapat memilih kontak langsung dengan permainan
pasir kinetik yang memberikan pengalaman berbeda.
c. Anak dapat menikmati kebebasan untuk menuangkan kreativitasnya.
Adapun kelemahan pasir kinetik ini yaitu jika dibiarkan tercecer dilantai
dikhawatirkan dapat membuat orang celaka terpeleset dan tidak
dianjurkan untuk anak usia 3 tahun kebawah

C. Konsep Anak Pra Sekolah


1. Definisi Anak Pra Sekolah
Anak prasekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun. Dalam
usia ini anak umumnya mengikuti program anak ( 3-5 tahun) dan kelompok
bermain usia (3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka
mengikuti program taman kanak-kanak (Ferasinta et al., 2021).
Masa prasekolah merupakan masa keemasan dimana stimulasi
seluruh aspek perkembangan berperan penting untuk tugas perkembangan
selanjutnya, dimana 80% perkembangan kognitif anak telah dicapai pada
usia prasekolah. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada
masa balita karena pada masa ini pertumbuhan dasar akan mempengaruhi
dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Proses dan tahapan
tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa tahapan berdasarkan usia.
Salah satunya adalah masa prasekolah yaitu usia 3-5 tahun (Khadijah et al,
2022).
2. Tahap Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah
Anak Pra Sekolah sering disebut sebagai golden age. Hal ini karena
pada masa ini pondasi otak manusia sedang dibangun, pondasi yang kuat

7
akan menghasilkan bangunan yang kuat dan tahan lama. Perkembangan
anak pada tahap pra sekolah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu usia
2-3 tahun dan 4-6 tahun. Anak pada usia 2-3 tahun memiliki beberapa
kesamaan karakteristik dengan masa bayi (0-2 tahun). Ada empat ciri
tahapan perkembangan anak prasekolah yaitu :
a. Perkembangan Bahasa
Dalam membicarakan perkembangan bahasa terdapat tiga butir yang
perlu dibicarakan, yaitu :
1). Ada perbedaan antara bahasa dan kemampuan berbicara. Bahasa
biasanya dipahami sebagai sistem tata bahasa yang rumit dan
bersifat semantik. Sedangkan kemampuan bicara terdiri dari
ungkapan dalam bentuk kata-kata.
2). Terdapat dua daerah pertumbuhan bahasa yaitu bahasa yang bersifat
pengertian/ reseptif (understanding) dan pernyataan/ ekspresif
(producing). Bahasa pengertian (misalnya menengarkan dan
membaca) menunjukkan kemampuan anak untuk memahami dan
berlaku terhadap komunikasi yang ditujukan kepada anak tersebut.
Bahasa ekspresif (bicara dan tulisan) menunjukkan ciptaan bahasa
yang dikomunikasikan kepada orang lain.
3). Komunikasi diri atu bicara dalam hati, juga harus dibahas. Anak
akan berbicara dengan dirinya sendiri apabila berkhayal, pada saat
merencanakan menyelesaikan masalah, dan menyerasikan gerakan
mereka.
b. Perkembangan Kognitif
Kognitif seringkali diartikan sebagai kecerdasan atau berpikir.
Kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan
mengamati, jadi merupakan tingkah laku yang mengakibatkan orang
memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk menggunakan
pengetahuan. Perkembangan kognitif menunjukkan perkembangan dari
cara anak berpikir. Kemampuan anak untuk mengkoordinasi berbagai

8
cara berpikir untuk menyelesaikan berbagai masalah dapat
dipergunakan sebagai tolak ukur pertumbuhan kecerdasan.
c. Perkembangan jasmani
Pada saat anak mencapai tahapan prasekolah (3-6 tahun) ada ciri
yang jelas berbeda antara anak usia bayi dan anak prasekolah.
Perbedaannya terletak dalam penampilan, proporsi tubuh, berat,
panjang badan dan keterampilan yang mereka miliki. Contohnya, pada
anak prasekolah telah tampak otot-otot tubuh yang berkembang dan
memungkinkan bagi mreka melakukan berbagai keterampilan.
d. Perkembangan Emosi dan Sosial
Perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek
perkembangan anak. Dalam periode prasekolah, anak ditunut untuk
mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang dari berbagai
tatanan, yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya. Perkembangan
sosial biasanya dimaksudkan sbagai perkembangan tingkah laku anak
dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam
masyarakat di mana anak berada.

D. Konsep Kecemasan
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan merupakan kondisi yang dialami hampir setiap orang
pada suatu waktu tertentu dalam hidupnya. Kecemasan ditandai dengan
perasaan tegang, tidak aman, dan khawatir yang muncul karena
dirasakan akan mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan (Colin
et al., 2023).
Kecemasan pada anak merupakan suatu kondisi emosional yang
tidak menyenangkan ditandai oleh munculnya perasaan subjektif yang
sering kali tidak diketahui secara jelas penyebabnya seperti, perasaan
khawatiran, tegang, dan ketakutan (Melynda et al., 2024).
Selama menjalani hospitalisasi, anak dapat mengalami berbagai
situasi yang menimbulkan kecemasan dan trauma. Rasa cemas dan takut
seringkali muncul sebagai konsekuensi dari proses hospitalisasi karena

9
adanya stresor dari lingkungan rumah sakit yang terasa asing dan tidak
dikenal oleh anak (Sari, R.S., et al., 2023).
2. Tingkat Kecemasan
Menurut (Stuart, 2016) dalam (Silalahi Lenny,et all, 2021) tingkat
kecemasan didentifikasi menjadi empat tingkat yaitu :
a. Kecemasan Ringan
Terjadi saat ketegangan hidup sehari-hari dan membuat
waspada serta Meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat
meningkatkan Pembelajaran dan menciptakan pertumbuhan kreatif.
b. Kecemasan Sedang
Terjadi saat ketegangan hidup sehari-hari dan membuat
waspada serta Meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat
meningkatkan Pembelajaran dan menciptakan pertumbuhan kreatif.
c. Kecemasan Berat
Ditandai dengan penurunan yang signifikan pada lapang
persepsi Seseorang. Cenderung fokus pada satu hal tertentu, tidak
memikirkan Hal lain, perilaku apapun ditunjukkan untuk
mengurangi ketegangan.
d. Panik
Melibatkan rasa takut dan seseorang kehilangan kendali.
Orang yang Panik tidak dapat melakukan apapun bahkan dengan
pengarahan. Panik Berhubungan dengan ketidakcocokan
kepribadian. Ketika ini terjadi, Kemampuan untuk berhubungan
dengan orang lain terganggu, persepsi Yang menyimpang, dan
kemampuan berpikir rasional atau logis hilang.
3. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan pada anak
Menurut (Saputro Heri, 2020), Faktor yang mempengaruhi
kecemasan anak antara lain:
a. Usia
Usia berhubungan dengan pencapaian perkembangan
kognitif anak. Anak prasekolah belum bisa menerima dan merasakan

10
pengalaman Baru dengan penyakit dan lingkungan asing. Semakin
muda anak Kecemasan hospitalisasi akan semakin besar. Anak usia
infant, toddler Dan prasekolah lebih mungkin mengalami stress
akibat perpisahan Karena kemampuan kognitif anak yang terbatas
untuk memahami Hospitalisasi.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress
hospitalisasi, dengan Anak perempuan yang menjalani hospitalisasi
memiliki tingkat Kecemasan yang lebih tinggi daripada anak
lakilaki, meskipunBeberapa berpendapat bahwa tidak ada hubungan
yang signifikan Antara jenis kelamin anak dan tingkat kecemasan.
c. Pengalaman Terhadap Sakit Dan Perawatan Di Rumah Sakit
Anak yang mempunyai pengalaman hospitalisasi
sebelumnya akan Memiliki kecemasan yang lebih rendah
dibandingkan dengan anak Yang belum memiliki pengalaman..
Respon anak menunjukkan Peningkatan sensitivitas terhadap
lingkungan dan mengingat dengan Detail kejadian yang dialaminya
di lingkungan disekitarnya. Pengalaman dilakukan perawatan juga
membuat anak mengingatKejadian sebelumnya dengan perawatan
pada saat ini. Anak yang Memiliki pengalaman yang tidak
menyenangkan selama dirawat di Rumah sakit sebelumnya akan
membuat anak takut dan trauma. Sebaliknya jika pengalaman anak
dirawat di rumah sakit mendapatkan Perawatan yang baik dan
menyenangkan maka anak lebih kooperatif.
d. Persepsi Anak Terhadap Sakit
Keluarga yang cukup besar mempengaruhi persepsi dan
perilaku anak Ketika menghadapi masalah hospitalisasi. Semakin
besar jumlah Anggota keluarga di dalam rumah semakin besar
kemampuan keluarga Dalam mendukung perawatan anak.
4. Upaya Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Kecemasan Pada Anak
a. Melibatkan orang tua

11
Biarkan orang tua bersama anak-anak mereka 24 jam sehari
dan berpartisipasi aktif dalam perawatan anak. Jika itu tidak
memungkinkan, pertahankan kontak antara orang tua dengan
memastikan bahwa mereka dapat melihat anak mereka setiap
saat.
b. Peran dari petugas kesehatan rumah sakit (dokter, perawat)
Mengingat perawat bersama dengan orang tua merupakan
orang yang paling dekat dengan anak selama perawatan di rumah
sakit. Sekalipun anak menolak orang asing (perawat), perawat
harus memberikan dukungan dengan menghabiskan waktu
bersama anak secara fisik di dekatnya atau dengan mengajaknya
bermain.
c. Modifikasi lingkungan rumah sakit
Membantu anak-anak merasa nyaman dan akrab dengan
lingkungan baru mereka.

12
BAB III
METODE KEGIATAN
SATUAN ACARA KEGIATAN TERAPI AKTIVITAS BERMAIN
KINETIC SAND PLAY (PASIR KINETIK)

Pokok Bahasan : Terapi Aktivitas Bermain Kinetic Sand Play


(Pasir Kinetic) Di Rsup Dr. Sitanala
Sub Pokok Bahasan : Terapi Aktivitas Bermain (TAB) Pada Anak
Presekolah
Tujuan : 1. Mengoptimalkan Tingkat Perkembangan
Anak
2. Mengurangi Kecemasan Pada Saat
Hospitalisasi Di Rumah Sakit
3. Meningkatkan Motorik Halus Pada Anak
Waktu : 10.00 WIB s/d selesai
Tempat : Ruang Rawat Arjuna RSUP Dr. Sitanala

A. Peserta
Pasien di Ruang Rawat Arjuna RSUP Dr. Sitanala menyatakan bahwa
karakteristik atau kriteria pasien anak usia prasekolah yaitu :
1. Kesadaran composmentis
2. Tanda – tanda vital stabil
3. Pada anak usia Praseolah 3 – 6 tahun
4. Anak tidak menderita fraktur
5. Orang tua menyetujui anaknya diberikan terapi bermain kinetic sand play
(pasir kinetik)
6. Mendapatkan izin kepala ruangan
7. Anak diperbolehkan oleh dokter yang merawat untuk mengikuti terapi
bermain
B. Metode dan Media
1. Metode

13
Bermain dengan membentuk pasir kinetik menggunakan cetakan yanh
sudah disediakan
2. Media
Pasir dan cetakan simbol-simbol seperti miniatur binatang, buah dll.

C. Pengorganisasian
1. Pelaksanaan
a. Hari / tanggal : Rabu, 07 Januari 2026
b. Waktu : Pukul 10.00 WIB
c. Tempat : Ruang Rawat Arjuna RSUP Dr. Sitanala
2. Tim Terapi
a. Leader : Yanti Yollanda
b. Co Leader : Firyal Izzati Arifah
c. Fasilitator : RanggaYudistira, Siti Sa’azah, Jumrotul AZ-Zahra
d. Observer : Kurnia Widyaningrum
e. Moderator : Salmma Fariha Hadi

D. Pembagian Tugas
1. Peran Leader
a. Memimpin jalannya terapi aktivitas bermain kelompok
b. Merencanakan, mengontrol, dan mengatur jalannya terapi aktivitas
bermain dengan pasir kinetik
c. Menyampaikan materi sesuai tujuan TAB
d. Memimpin diskusi terapi aktivitas bermain
2. Peran Co Leader
a. Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan.
b. Mengingatkan leader jika terjadi penyimpangan dalam kegiatan
c. Membantu dalam memimpin jalannya kegiatan
d. Mengganti leader apabila terhalang tugas

3. Peran Observer

14
a. Mencatat dan mengamati respon pasien (dicatat pada format yang telah
tersedia)
b. Menjalankan aktivitas kelompok dari mulai persiapan, proses dan tugas
kelompok
c. Mengamati proses kegiatan mengenai waktu, tempat dan jalannya
kegiatan
d. Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua anggota
kelompok serta evaluasi dalam kelompok
4. Peran Fasilitator
a. Memotivasi peserta dalam kegiatan terapi aktivitas bermain dengan
pasir kinetik
b. Memotivasi kegiatan dalam ekspresi perasaan setelah melakukan
kegiatan terapi aktivitas bermain pasir kinetik
c. Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan
kegiatan terapi aktivitas bermain pasir kinetik
d. Membimbing kelompok selama melakukan kegiatan terapi aktivitas
bermain pasir kinetik
e. Membantu leader melaksanakan kegiatan terapi aktivitas bermain.
5. Peran Moderator
Pembawa acara jalannya kegiatan terapi aktivitas bermain

E. Setting Tempat

15
Keterangan :

Observer Leader Co Leader


fasilitator

Moderator Pasien Orang Tua


F. Strategi Pelaksanaan
No . Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta

1. 3 menit Pembukaan : - Menjawab salam


- Memberi salam - Mendengarkan dan
memperhatikan.
- Memperkenalkan
diri
- Menjelaskan tujuan
pembelajaran dalam
kegiatan terapi
aktivitas bermain
2. 10 menit Pelaksanaan : - Mengerjakan dan
- Terapi aktivitas mendampingi anak
bermain Pasir kinetik untuk melakukan

- Menyampaikan tata kegiatan bermain


cara bermain dengan dengan pasir kinetik
pasir kinetik

4 menit Evaluasi : - Mengamati hasil


bermain dengan pasir
- Mengetahui tingkat
kinetik yang
pemahaman peserta dilakukan peserta,
setelah melakukan yang terlihat pada
ekspresi wajah peserta
tindakan terapi yang sudah mengikuti
aktivitas bermain terapi

- Memberikan masukan

16
- Menyimpulkan hasil aktivitas bermain
penyuluhan terapi pasir kinetik
aktivitas bermain

3 menit Penutup : - Menjawab salam


- Mengucapkan
terimakasih dan
mengucapkan salam

G. Rencana Evaluasi Kegiatan


1. Evaluasi struktur yang diharapkan
a. Proposal sudah siap dan telah dikonsulkan kepada pembimbing
b. Mahasiswa telah memahami dan menguasai materi mengenai terapi
aktivitas bermain
c. Peserta siap dan menyepakati waktu kegiatan pada tanggal 07 Januari
2026 media dan alat sudah disiapkan dan siap digunakan.
2. Evaluasi proses yang diharapkan
a. Mahasiswa menjelaskan tujuan kegiatan yaitu terapi aktivitas bermain
b. Mahasiswa melakukan kegiatan sesuai dengan waktu yang sudah
disepakati oleh masing-masing orang tua anak yaitu pada tanggal 07
Januari 2026
c. Peserta menerima kegiatan mahasiswa.
d. Peserta aktif dalam proses selama kegiatan terapi aktivitas bermain
dengan mahasiswa.
3. Evaluasi Hasil yang Diharapkan
a. Keberhasilan target jumlah peserta dalam kegiatan 50%. Angka tersebut
menunjukan bahwa kegiatan penyuluhan yang terlihat dari jumlah
peserta yang mengikuti dapat dilakukan dengan baik.

17
b. Ketercapaian tujuan penyuluhan 100% terlihat dari keaktifan peserta
dalam kegiatanyang disampaikan.
c. Kecapaian target materi yang telah direncanakan 100%. Ketercapaian
target materi pada kegiatan penyuluhan cukup baik, dan materi sudah
disampai secara keseluruhan.

E. Pengeluaran
Kegiatan pendidikan kesehatan ini dilaksanakan di Ruang Rawat Arjuna
RSUP Dr. Sitanala Rencana Anggaran Biaya
a. Kebutuhan Dana
Dana yang dibutuhkan untuk melakukan program penyuluhan kesehatan ini
sekisar Rp. 250.000,- ( Dua ratus lima puluh ribu rupiah).
b. Sumber Dana
Sumber dana untuk menjalankan penyuluhan ini didapatkan dari
mahasiswa kelompok Ruang Rawat Arjuna.
c. Modal Awal
Kegiatan penyuluhan kesehatan harus tetap dilaksanakan dengan dana awal
yang diberikan 75% dari pengajuan awal, ketika proposal sudah disetujui.
d. Prediksi Biaya
Kegiatan penyuluhan kesehatan harus tetap dilaksanakan dengan dana awal
yang diberikan 75% dari pengajuan awal, ketika proposal sudah disetujui

Tabel 3 1 Rekapitulasi Usulan Pembiayaan Pendidikan


Kesehatan
No Uraian Jumlah (Rp)

1 Proposal dan LPJ Rp. 120.000.-

2 Pasir TAB Rp. 50.000.-

3 Gift/Snack Rp. 80.000.-

Total Biaya yaRp. 250.000.-

18
LEMBAR PERSETUJAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertanda tangan dbawah ini:


Inisial orang tua/wali: Inisial anak:
TTL anak:
Dengan ini saya beserta anak bersedia menjadi responden pada ” Terapi
Aktivitas Bermain Pasir Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) Untuk
Menurunkan Kecemasan Pada Usia Pra Sekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani
Hospitalisasi Di Ruang Arjuna Rsup [Link]” yang dilakukan oleh:
Mahasiswa Universitas Yatsi Madani Program Studi Profesi Ners.
1. Kurnia Widyaningrum
2. Jumrotul AZ-Zahra
3. Siti Sa’azah
4. Firyal Izzati Arifah
5. Rangga Yudistira
6. Salmma fariha Hadi
7. Yanti Yollanda
Demikian persetujuan ini saya buat dengan sesungguhnya dan tidak ada paksaan
dari pihak manapun.

Tangerang, 07 Desember 2026

Peneliti Yang Membuat Pernyataan Responden

(Mahasiswa Yatsi Madani) ( )

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kuesioner Tingkat Kecemasan Pada Anak Mengenai Hospitalisasi


Setelah dilakukan Tindakan keperawatan terapi bermain Pasir Kinetic Sand
Play (Pasir Kinetik) untuk menurunkan kecemasan anak di Ruang Arjuna,
didapatkan hasil:
1. Anak : An. A
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 5 tahun
Hasil score Sebelum : 34 kecemasan berat
Sesudah : 21 kecemasan sedang

2. Anak : An. D
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 3 Tahun
Hasil score Sebelum : 34 kecemasan berat
Sesudah : 19 kecemasan ringan

3. Anak : An. K
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 4 Tahun
Hasil score Sebelum : 25 kecemasan sedang
Sesudah : 16 kecemasan ringan

4. Anak : An. Z
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 3 Tahun
Hasil Score
Sebelum : 24 kecemasan sedang Score
Sesudah : 19 kecemasan ringan.

20
B. Hasil Evaluasi Terapi Bermain Melalui Bermain Pasir Kinetic Sand Play
(Pasir Kinetik) Di Ruang Perawatan Arjuna RSUP Dr. Sitanala
Setelah dilakukan tindakan keperawatan terapi bermain Pasir Kinetic Sand
Play (Pasir Kinetik) untuk menurunkan kecemasan anak akibat dampak
hospitalisasi didapatkan hasil:

1. Anak : An. A
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 5 Tahun
• Sebelum mengikuti TAB: sebelum dilakukan terapi bermain anak, anak
A selalu terlihat cemas dan gelisah saat perawat dan dokter
mendekatinya.
• Sesudah mengikuti TAB: setelah dilakukan tindakan keperawatan terapi
bermain, anak A tampak asik bermain dan membentuk gambar
menggunakan pasir kinetic bersama temannya.

2. Anak : An. D
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 3 Tahun
• Sebelum mengikuti TAB: sebelum dilakukan terapi bermain anak, anak
D selalu terlihat cemas, merasa takut, dan berlindung dipelukan ibunya.
• Sesudah mengikuti TAB: setelah dilakukan tindakan terapi bermain,
anak D terlihat senang.

3. Anak : An. K
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 4 Tahun
• Sebelum mengikuti TAB: Sebelum dilakukan tindakan terapi bermain,
anak K terlihat murung dan menangis.
• Sesudah mengikuti TAB: setelah dilakukan tindakan terapi bermain,

21
anak K terlihat senang dan bersemangat bermain pasir kinetic sand play
(pasir kinetik)
4. Anak : An. E
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 3 Tahun
• Sebelum mengikuti TAB: sebelum dilakuka terapi bermain, anak E
terlihat cemas dan gelisah saat perawat dan dokter mendekatinnya.
• Sesudah mengikuti TAB: setelah dilakukan terapi bermain, anak E
tampak fokus bermain pasir kinetic sand play (pasir kinetik) bersama
perawat dan temannya.

C. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Terapi Bermain Pasir Kinetic Sand Play


(Pasir Kinetik)
Pelaksanaan kegiatan terapi aktivitas mermain dengan Pasir Kinetic Sand
Play (Pasir Kinetik) diruangan perawatan anak arjuna di RSUP Dr. Sintanala
pada hari rabu, 07 desember 2026 pada pukul 10.00. terapi bermain salah satu
aktivitas bermain yang bisa di jadikan alat untuk simulasi perkembangan anak,
mendukung proses penyembuhan pada anak yang sedang sakit, membantu anak
bersedia kooperatif selama proses pengobatan selama menjalani perawatan
atau hospitalisasi. Pasir Kinetic Sand Play merupakan media bermain edukatif
yang melibatkan aktivitas sensorik dan motorik halus melalui kegiatan
menggali, meremas, dan membentuk pasir, sehingga membantu koordinasi
tangan dan mata anak. Dengan bermain, dihadapan anak akan teralihkan dari
rasa sakit dan merasakan relaksasi. Tujuan main dirumah sakit adalah agar anak
dapat beradaptasi lebih efektif. Selama proses hospitalisasi, anak mengalami
berbagai pengalaman perawatan yang menyebabkan stress dan trauma.
Kecemasan dan ketakutan merupakan dampak dari hospitalisasi, rasa cemas
saat menjalani hospitalisasi yang dirasakan oleh anak disebabkan karna
menghadapi stress yang ada dilingkungan rumah sakit. Penelitian ini
mengunakan desain pretest dan posttest. Pengambilan sempel dilakukan
berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi, sempel yang diambil sebanyak 4 orang

22
dengan alat ukur yang digunakan merupakan kuesioner, saat pelaksanaan terapi
bermain orangtua diberikan kuesioner pretest dan posttest mengenai terapi
bermain Pasir Kinetic Sand Play didapatkan hasil: pada An. A sebelum
mengikuti TAB anak setiap melihat perawat selalu terlihat cemas, takut, dan
menangis. Namun setelah dilakukan tindakan keperawatan TAB Pasir Kinetic
Sand Play An. A tampak antusias dan aktif. Pada An. D sebelum mengikuti
TAB selalu terlihat cemas dan gelisah. Namun setelah dilakukan tindakan
keperawatan TAB Pasir Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) An. K tampak focus
membuat bentuk-bentuk yang menarik menggunakan Pasir Kinetic Sand Play
(Pasir Kinetik) . An. K sebelum dilakukam terapi bermain anak K selalu
tampak cemas, merasa takut dan selalu berlindung dipelukan ibunya. Namun
setelah dilakukan terapi bermain Pasir Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) An.
E tampak aktif. Pada An. sebelum mengikuti TAB playdough An. E tampak
gelisah dan murung. Namun dilakukan TAB Pasir Kinetic Sand Play (Pasir
Kinetik) An. E tampak aktif dan antusias.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan ada
pengaruh yang signifikan antara pemberian terapi bermain pada anak dalam
menurunkan Tingkat Kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia
prasekolah. Hasil di atas sejalan dengan teori yang dikemukan oleh Hamid, L.
(2020) bahwa perkembangan motorik yang stagnan atau terhenti bisa terjadi
karena faktor internal (neurologis, genetik) atau eksternal (lingkungan kurang
stimulasi). Dan juga pnelitian yang dilakukan oleh Sari dan Wulandari dengan
desain pretest-posttest control group pada anak usia prasekolah menemukan
bahwa bermain Kinetic Sand meningkatkan kemampuan motorik halus secara
signifikan (p < 0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa stimulasi sensorik
taktil membantu anak dalam mengontrol gerakan tangan dan jari. Hasil ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shadrina et al., (2023), hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat Ada pengaruh kreativitas dengan
kinetic playsand pada nilai mean TK Bina Putra dan TK Dian Pratama, yaitu
nilai mean TK Dian Pratama (Nurul Aqidah Arafah,2024).

23
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Terapi aktivitas bermain Kinetic Sand Play (Bermain Pasir Kinetik)
merupakan intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif untuk anak
prasekolah usia 3–6 tahun yang menjalani perawatan selama rumah sakit.
Terapi ini dapat membantu mengurangi kecemasan, ketakutan, dan stres
akibat hospitalisasi, sekaligus meningkatkan rasa nyaman, konsentrasi, serta
kemampuan motorik halus anak. Melalui kegiatan bermain pasir kinetik
yang sederhana dan menyenangkan, anak dapat mengekspresikan perasaan
dan beradaptasi lebih baik dengan lingkungan rumah sakit. Oleh karena itu,
terapi aktivitas bermain pasir kinetik layak diterapkan sebagai bagian dari
asuhan keperawatan anak di ruang perawatan rumah sakit.

B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Rumah sakit diharapkan mendukung pelaksanaan terapi bermain pasir
kinetik dengan menyediakan fasilitas yang aman dan menjadikannya
bagian dari pelayanan keperawatan anak untuk meningkatkan kenyamanan
selama perawatan.
2. Bagi Orang tua
Rumah sakit diharapkan mendukung pelaksanaan terapi bermain pasir
kinetik dengan menyediakan fasilitas yang aman dan menjadikannya
bagian dari pelayanan keperawatan anak untuk meningkatkan kenyamanan
selama perawatan.
3. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan terapi bermain pasir kinetik
dalam praktik klinik untuk meningkatkan keterampilan keperawatan anak
dan memberikan asuhan yang berpusat pada anak.

24
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R., Putri, D. A., & Hidayat, S. (2022). Gangguan kecemasan dan
dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Jurnal Psikologi Klinis Indonesia,
11(2), 95–103.
Anisah, Kamaliyah, A., & Rahmawati, E. (2019). Pemanfaatan pasir ajaib (kinetic
sand) dalam meningkatkan kemampuan belajar, kreativitas, dan
perkembangan motorik halus anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia
Dini, 13(2), 115–123.
Colin, R., Matthews, J., & Thompson, L. (2023). Anxiety disorders: Concepts,
assessment, and management. Journal of Mental Health Nursing, 32(1), 15–
24.
Deswita, R., Lestari, D., & Putra, A. R. (2023). Respons kecemasan pada anak
selama hospitalisasi ditinjau dari aspek fisiologis dan psikologis. Jurnal
Keperawatan Anak Indonesia, 7(1), 1–9.
Ferasinta, F., & Dinata, E. Z. (2021). Pengaruh terapi bermain menggunakan
playdough terhadap peningkatan motorik halus pada anak prasekolah.
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 9(2), 59-65.
Haraharp. (2023). Pengaruh permainan pasir kinetik terhadap koordinasi mata dan
tangan anak usia dini. Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak, 6(1), 45–
52.
Hayati, S. N., & Putro, K. Z. (2021). Bermain dan permainan anak usia dini.
Generasi Emas. Jurnal Pendidikan Islam Usia Dini, 4 nomor 1, 52-64.
Irawan, A., Putri, D. R., & Sari, M. (2024). Terapi aktivitas bermain atraumatik pada
anak hospitalisasi dalam menurunkan tingkat kecemasan. Jurnal
Keperawatan Anak, 8(1), 12–20.
Kaluas, I., Ismanto, A. Y., & Kundre, R. (2020). Pengaruh terapi bermain terhadap
tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama hospitalisasi. Jurnal
Keperawatan, 8(2), 110–116.
Khadijah, K., Mardiana, S., Syahputri, N., & Anita, N. (2022). Analisa deteksi dini
dan stimulasi perkembangan anak usia prasekolah. Jurnal Pendidikan Dan
Konseling, 4(4), 139-146.
Lufianti, N., Rahman, F., & Sulastri, M. (2022). Faktor-faktor yang memengaruhi
kecemasan anak selama perawatan di rumah sakit. Jurnal Keperawatan
Pediatrik, 5(2), 88–96.

25
Melynda, P., Hartini, S., & Wibowo, A. (2024). Kecemasan pada anak dan
dampaknya terhadap adaptasi selama hospitalisasi. Jurnal Psikologi
Perkembangan, 9(1), 34–42.
Muthiah. (2020). Media pembelajaran dan permainan edukatif anak usia dini.
Yogyakarta: Deepublish.
Rizkia. (2020). Pasir kinetik sebagai media bermain edukatif untuk stimulasi
sensorik dan motorik anak. Jurnal Pendidikan Anak, 5(2), 78–85.
Saputro Heri, fazrin I. (2022). Anak Sakit Wajib Bermain di Rumah Sakit :
PenerapanTerapi Bermain Anak Sakit: Proses,Manfaat dan Pelaksanaannya.
Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES).
Sari, R. S., Putri, N. A., & Kurniawan, T. (2023). Hospitalisasi dan kecemasan pada
anak usia prasekolah. Jurnal Keperawatan Anak, 6(2), 57–65.
Septiana. (2023). Permainan pasir kinetik sebagai stimulasi perkembangan motorik
halus dan kreativitas anak usia dini. Jurnal Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini,
7(1), 22–30.

26
LAMPIRAN

27
Lampiran I Kuesioner
KUESIONER

1. Keterangan Wawancara
a. Nama Orang Tua Klien :
b. Nama Anak :
c. Usia Anak :
2. Petunjuk Pengisian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan memberikan tanda
ceklist (✓) pada kotak yang sudah disediakan
TP: Tidak Pernah SR: Sering
KK: Kadang-Kadang SL: Selalu

No. Pertanyaan TP SR KK SL

1.
Saya melihat anak saya ketakutan ketika
dia berada di ruangan in

Anak saya sering menangis dan


2.
berteriak sant perawat mendekatinya

Saya melihat anak saya ketakutan ketika


3. ditanya oleh perawat
4. Anak saya takut dan menangis terhadap
jarum suntik atau alat untuk memasang
infus
5. Saya melihat anak saya ketakutan ketika
mendengar suara keras yang menurut dia
akan membahayakan seperti alat untuk
uap

6.
Saya melihat wajah anak saya pucat
ketika perawat menghampirinya.

Saya melihat anak saya sedih saat saya


7. pergi meninggalkan dia di ruangan ini.

28
8.
Anak saya menangis apabila saat bangun
tidur saya tidak disampingnya

Saya melihat anak saya takut saat dokter


9. memeriksanya
10. Anak saya khawatir terhadap apa yang
akan terjadi padanya.

11. Saya merasa tangan anak saya dingin dan


lembab saat dia berada di ruangan ini

Saya melihat anak saya lemas dan tidak


12. berdaya selama berada di ruangan ini

13. Saya merasa anak saya sulit untuk


berkonsentrasi selama berada di ruangan
ini
14. Saya melihat anak saya gugup saat
melihat orang asing yang yang mendapat
perawatan disampingnya

15. Saya melihat anak saya sering terkejut.

16. Saya melihat anak saya enggan dan takut


untuk menjawab pertanyaan dari perawat
dan dokter.
17. Saya melihat anak saya tidak bisa tenang
saat diperiksa.

18. Saya merasa jantung anak saya berdebar-


debar saat ada petugas yang mendekat.

Sumber : (Patricia,2024)

29
Lampiran II Lembar Persetujuan

LEMBAR PERSETUJAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertanda tangan dbawah ini:


Inisial orang tua/wali:

Inisial anak:

TTL anak:
Dengan ini saya beserta anak bersedia menjadi responden pada ” Terapi
Aktivitas Bermain Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) Untuk Menurunkan
Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Pra Sekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani
Hospitalisasi Di Ruang Rawat Arjuna Rsup Dr. Sitanala” yang dilakukan oleh:
Mahasiswa Universitas Yatsi Madani Program Studi Profesi Ners
1. Kurnia Widyaningrum
2. Jumrotul AZ-Zahra
3. Siti Sa’azah
4. Firyal Izzati Arifah
5. Rangga Yudistira
6. Salmma fariha Hadi
7. Yanti Yollanda
Demikian persetujuan ini saya buat dengan sesungguhnya dan tidak ada
paksaan dari pihak manapun.

Tangerang, 07 Januari 2026

Peneliti Yang Membuat Pernyataan Responden

(Mahasiswa Yatsi Madani) ( )

30
Lampiran III Daftar Hadir

DAFTAR HADIR
Acara : Terapi Aktivitas Bermain Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik)
Untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Pra
Sekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani Hospitalisasi Di
Ruang Rawat Arjuna Rsup Dr. Sitanala
Hari/Tanggal : Rabu, 07 Januari 2026
Waktu : 10.00 s.d Selesai
Tempat : Ruang Arjuna RSUP Dr. Sitanala

NO NAMA BAGIAN PARAF

1. 1 2

2.

3. 3 4

4.

5. 5 6

6.

7. 7 8

8.

31
9. 9 10

10.

32
Lampiran IV Beriata Acara

BERITA ACARA

TERAPI AKTIVITAS BERMAIN


Pada Hari Rabu Tanggal 07 Januari Tahun 2026 Telah Dilaksanakan Kegiatan Terapi
Aktivitas Bermain Kinetic Sand Play (Pasir Kinetik) Untuk Menurunkan Tingkat
Kecemasan Pada Anak Usia Pra Sekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani Hospitalisasi Di
Ruang Rawat Arjuna Rsup Dr. Sitanala
Adapun Jumlah Peserta Sebanyak 4 Orang.
Laki-Laki 3 Orang

Perempuan 1 Orang

Catatan Selama Kegiatan

………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………........
............................……………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

Demikian Berita Acara Ini Dibuat Dengan Sebenarnya, Sesuai Dengan Kegiatan
Yang Berlaku.

Tangerang, 07 Januari 2026

Mengetahui,

Dosen Pembimbing CI/Pembimbing Lahan


Ruang Arjuna

(Ns. Ria Setia Sari, [Link]., [Link]) (Ns. Dewi Fitria Ariastuti, [Link])

33
Lampiran V Dokumentasi

34
35

Anda mungkin juga menyukai