BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pengertian Air
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi
sangat penting bagi kehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan
umum sehingga merupakan modal dasar dan faktor utama pembangunan. Air
juga merupakan komponen lingkungan hidup yang penting bagi
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Itu bisa dilihat dari
fakta bahwa 70 persen permukaan bumi tertutup air dan dua per tiga tubuh
manusia terdiri dari air (Asmadi, et al., 2011).
Air adalah sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat karena air merupakan media penularan penyakit, disamping itu
juga pertambahan jumlah penduduk didunia ini yang semakin bertambah
jumlahnya sehingga menambah aktivitas kehidupan yang mau tidak mau
menambah pencemaran air yang pada hakikatnya dibutuhkan.
Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, mengakibatkan sumber
daya air di dunia telah menjadi salah satu kekayaan yang sangat penting. Air
merupakan hal pokok bagi konsumsi dan sanitasi umat manusia, untuk
produksi barang industri, serta untuk produksi makanan dan kain. Air tidak
tersebar merata di atas permukaan bumi, sehingga ketersediaannya disuatu
14
15
tempat akan sangat bervariasi menurut waktu (Wulan, 2018).
Kebutuhan yang pertama bagi terselanggaranya kesehatan yang baik
adalah tersedianya air yang memadai dari segi kuantitas dan kualitasnya yaitu
memenuhi syarat kebersihan dan keamanan. Selain itu, air bersih tersebut
juga harus tersedia secara kontinyu, menarik dan dapat diterima oleh
masyarakat agar mendorong masyarakat untuk memakainya. Apabila tidak
demikian, masyarakat akan memakai air yang kurang atau tidak bersih, yang
berasal dari sumber lain yang tidak terjamin kualitas penyediaannya.
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan, karena kehidupan di
dunia tak dapat berlangsung terus tanpa tersedianya air yang cukup. Dari
kesuluruhan air yang ada di atas dan didalam bumi, 97 % dari padanya
terdapat didalam laut dan lautan bergaram, dan 2,25 % terdapat didalam salju
dan es. Jumlah air tawar yang tersedia dan siap dipakai manusia sangat
terbatas, tetapi kebutuhan akan air ini selalu meningkat karena populasi dan
kegiatan manusia disegala bidang.
Pada saat ini, persentase jumlah penduduk Indonesia yang sudah
mendapatkan pelayanan air bersih dari badan atau perusahaan air minum
masih sangat kecil yaitu untuk daerah perkotaan sekitar 45 %, sedangkan
untuk daerah pedesaan baru sekitar 36 % (BPPT, 1999). Data lain
menyebutkan pada tahun 2005 penduduk Indonesia yang suadah
mendapatkan pelayanan air minum perpipaan untuk daerah perkotaan 49 %
dan daerah pedesaan baru 23 % (Departemen Pekerjaan Umum, 2005). Jadi
16
untuk negara-negara maju kebutuhan air pasti lebih besar dari kebutuhan
untuk negara-negara yang sedang berkembang.
Air merupakan sumber daya yang terbatas, konsumsi air telah
meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal mencegah
terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jurang antara tingkat
pemakaian air dinegara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin
dalam. Dewasa ini 1,8 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses ke air
bersih dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi
dasar yang memadai. Pada skala nasional ketersediaan air bersih, hingga kini
baru mencapai sekitar 60 persen. Artinya, masih ada 40 persen atau sekitar 90
jutaan rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara
kesehatan untuk kehidupan sehari-hari.
Hal ini seyogyanya menjadi perhatian semua pihak untuk bagaimana
mempertahankan kualitas lingkungan, mengembalikan fungsi hutan sebagai
penyimpan air, melakukan revitalisasi air tanah yang merupakan sumber air
bersih bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dan sebagainya. Upaya-
upaya tersebut diharapkan dapat menjamin ketersediaan air yang memadai
bagi masyarakat, baik dalam kualitas maupun kuantitas yang merupakan
prasyarat bagi kehidupan yang sehat dan produktif.
2. Fungsi Air Dan Peran Air Bagi Kehidupan
Air merupakan satu kebutuhan pokok yang tidak kita pisahkan dengan
kehidupan sehari-hari makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, maupun
manusia. Semua makhluk hidup memerlukan air, tanpa air tidak mungkin ada
17
kehidupan. Demikian pula manusia mungkin dapat hidup selama beberapa
hari tanpa makan tetapi tidak akan bertahan hidup selama beberapa hari tanpa
minum (Asmadi, 2011).
Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia
berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya. Akan tetapi banyak
kejadian dimana air yang dipergunakan tidak selalu sesuai dengan syarat
kesehatan, karena sering ditemui air tersebut mengandung bibit ataupun zat-
zat tertentu yang dapat menimbulkan penyakit yang justru membahayakan
kelangsungan hidup manusia.
Padahal dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari, manusia
sangat bergantung pada air, karena air dipergunakan pula untuk mencuci,
membersihkan, mandi, dan lain sebagainya. Manfaat lain dari air berupa
pembangkit tenaga, irigasi, alat transportasi, dan lain sebagainya yang sejenis
dengan ini. Semakin maju tingkat kebudayaan masyarakat maka penggunaan
air maki meningkat. Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dengan
segala macam kegiatannya, antara lain dipergunakan untuk :
a. Keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, cuci
dan pekerjaan lainnya.
b. Keperluan umum, misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar,
pengangkutan air limbah, hiasan kota, tempat rekreasi dan lain-lainya.
c. Keperluan industri, misalnya untuk pabrik dan bangunan pembangkit
tenaga listrik.
d. Keperluan perdagangan, misalnya untuk hotel, restoran, dll.
18
e. Keperluan pertanian dan peternakan.
f. Keperluan pelayaran dan sebagainya.
3. Air sebagai Media Penularan Penyakit
Mengingat air dapat berfungsi sebagai media penularan penyakit,
maka untuk mengurangi timbulnya penyakit atau menurunkan angka
kematian tersebut salah satu usahanya adalah meningkatkan penggunaan air
minum yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas.
4. Penyakit yang dihantarkan oleh Air (Water Borne Disease).
Di negara beriklim sedang terdapat kekhawatiran mengenai efek
kesehatan oleh masuknya tinja hewan maupun manusia terutama tinja
manusia kedalam air. Pencemaran oleh tinja baru apabila mereka yang
mencemari air sedang menderita infeksi usus, orang yang minum air itu akan
menelan organisme dan mungkin akan ikut terinfeksi.
Kekuatiran utama dalam penyediaan air bersih dikota beriklim sedang
dan negara tropis adalah pencemaran tinja yang memungkinkan organisme
penyebab penyakit akan tersebar melalui penyediaan air bersih dan
menyebabkan penyebaran penyakit secara luas diantara orang yang meminum
air tersebut. Contoh dari water borne disease adalah klasik; tifoid dan kolera.
Non klasik adalah hepatitis infektiosa.
5. Penyakit Akibat Kurangnya Air
Air yang ada terlalu sedikit atau sumur terlalu jauh sehingga
kebersihan perorangan tidak mungkin dilakukan sebagaimana mestinya. Air
yang tersedia tidak cukup untuk membersihkan diri atau alat-alat makan dan
19
pakaian, karena tidak dibersihkan. Infeksi kulit dapat berkembang tanpa
terkendali dan infeksi usus menjadi mudah tersebar dari orang keorang, yakni
melalui jari tangan yang kotor.
Kehidupan sehari-hari, berbagai penyakit ini merupakan kelompok
penyakit yang penting didaerah tropika. Contoh dari water washed disease
adalah: penyakit kulit dan mata (scabies, trachoma), penyakit diare (disentri
basiler).
6. Pengertian Air Limbah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2001, limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung
bahan berbahaya atau beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan
jumlahnya baik secara langsung atau tidak langsung akan dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lain (Purba, 2009).
Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 51 Tahun 1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri
yang dimaksud dengan limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang
dihasilkan oleh kegiatan industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga
dapat menurunkan kualitas lingkungan.
Dari definisi tersebut maka secara umum dapat disimpulkan bahwa air
limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan berupa cairan yang berasal dari
rumah tangga, industri, atau tempat-tempat umum lainnya yang biasanya
20
mendandung zat-zat yang membahayakan kehidupan manusia serta
mengganggu kelestarian lingkungan hidup (Halim, 2014).
7. Sumber Air Limbah
a. Air Limbah Domestik
Air limbah domestik adalah air yang berasal dari usaha dan atau
kegiatan permukiman (real estate), rumah makan, perkantoran,
perniagaan, apartemen, dan asrama (Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup, 2003).
Air limbah domestik adalah air yang dipergunakan yang berasal
dari rumah tangga atau permukiman termasuk didalamnya air buangan
yang berasal dari WC, kamar mandi, tempat cuci dan tempat masak
(Sugiharto, 1987). Sifat - sifat yang dimiliki oleh air buangan adalah sifat
fisik, kimia, dan biologis :
1) Sifat fisik
Karakter fisik air limbah meliputi temperatur, bau, warna, dan
padat-padatan. Temperature menunjukkan derajat atau tingkat panas
air limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Skala temperatur yang
biasa digunakan adalah skala Fahrenheit (⁰F) dan skala Celcius (⁰C).
Temperatur merupakan parameter yang penting dalam pengoperasian
untuk pengolahan limbah karena berpengaruh terhadap proses biologi
dan fisika.
Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau
tergantung pada sensitivitas indera penciuman seseorang. Kehadiran
21
bau-bauan yang lain menunjukkan adanya komponen-komponen lain
di dalam air. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh
kehadiran materimateri dissolved, suspenden, dan senyawa-senyawa
koloid, yang dapat dilihat dari spectrum warna yang terjadi. Padatan
yang terdapat di dalam air limbah dapat diklasifikasikan menjadi
floating, settleable, suspended, atau dissolved.
2) Sifat Biologi
Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi
hampir dalam semua bentuk limbah, biasanya dengan konsentrasi 10⁵
- 10⁸ organisme/ml. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas
ataupun berkelompok dan maupun melakukan proses-proses
kehidupan (tumbuh, metabolisme, dan reproduksi). Secara tradisional,
mikroorganisme dibedakan menjadi binatang dan tumbuhan. Namun,
keduanya sulit dibedakan.
Oleh karena itu mikroorganisme kemudian dimasukkan ke
dalam kategori protista, status yang sama dengan binatang maupun
tumbuhan. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah
merupakan kunci efektivitas proses biologis. Bakteri juga berperan
penting untuk mengevaluasi kualitas air.
b. Air Limbah Non-Domestik
Limbah non domestik adalah limbah yang berasal dari pabrik,
industri, pertanian, pertenakan, perikanan, transportasi, dan sumber-
sumber lain. Limbah ini sangat bervariasi lebih-lebih untuk limbah industri
22
yang biasanya menghasilkan bahan berbahaya dan beracun (B3) (P3M
STAIN Pekalongan, 2012). Perkembangan kota semakin pekat akan
meningkatkan aktivitas sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan
akan air bersih yang besar.
Baik untuk keperluan domestik maupun non-domestik. Seiring
dengan itu, maka jumlah air buangan semakin meningkat sementara lahan
semakin sempit. Hal ini menyebabkan masalah pembuangan air, sehingga
perlu ada usaha terpadu untuk mengelola air buangan agar tidak
mencemari lingkungan.
c. Air Limbah Industri
Air buangan industri yang berasal dari berbagai jenis industri
akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat
bervariasi sesuai dengan bahan baku yang digunakan oleh masing-masing
industry antara lain : nitrogen sulfide, amoniak, lemak, garam-garam, zat
perwarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab
itu pengolahan jenis air limbah ini menjadi lebih rumit karena harus
mempertimbangkan dampaknya pada lingkungan.
d. Air Limbah dari Daerah Perkotaan
Air buangan ini berasal dari daerah perkantoran, perdagangan,
hotel dan tempat umum lainnya. Pada umumnya zat yang terkandung
dalamnya sama dengan air limbah domestik.
23
8. Karakteristik Air Limbah
Air buangan berasal dari berbagai sumber, sehingga memiliki
karakteristik berbeda. Sifat dan karakteristik air buangan secara garis besar
dibagi menjadi tiga bagian yaitu : sifak fisik, sifat kimia dan sifat biologis.
9. Sifat Fisik Air Limbah
Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh
adanya sifat fisik yang mudah terlihat. Adapun sifat fisik yang penting adalah
total solid, total suspended solid, warna, kekeruhan, temperatur, bau, minyak
dan lemak.
a. Total solid merupakan padatan di dalam air yang terdiri dari bahan
organik maupun anorganik yang larut, mengendap, atau tersuspensi
dalam air.
b. Total suspended solid adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan
air, tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap, terdiri dari
partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari
sedimen.
c. Warna pada dasarnya air bersih tidak berwarna tetapi seiring dengan
waktu dan meningkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari
yang abu-abu menjadi kehitaman. Warna dalam air disebabkan adanya
ion-ion logam besi dan mangan, humus, plankton, tanaman air dan
buangan industri.
d. Kekeruhan disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik bersifat
organik maupun anorganik yang mengapung dan terurai di dalam air.
24
Kekeruhan menunjukkan sifat optis air, yang mengakibatkan
pembiasan cahaya ke dalam air. Kekeruhan membatasi masuknya
cahaya ke dalam air.
e. Temperatur merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan
efeknya terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air
dan penggunaan air untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
f. Bau disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi
materi atau penambahan substansi paa limbah. Sifat bau limbah
disebabkan karena zat-zat organic yang telah terurai dalam limbah dan
mengeluarkan gas-gas seperti sulfide atau amoniak uang
menimbulkan penciuman tidak enak.
10. Sifat Kimia Air Limbah
Kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat
merugikan lingkungan. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan oksigen
dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap dan
akan lebih berbahaya jika bahan kimia yang merupakan bahan kimia beracun.
Adapun bahan kimia yang penting yang ada di dalam air limbah pada
umumya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Bahan Organik
Pada umumnya zat organik berisikan kombinasi dari karbon,
hidrogen, dan oksigen, bersama-sama dengan [Link] lainnya
yang penting seperti belerang, fosfor, dan besi juga dapat
[Link] lama, jumlah dan jenis bahan organik semakin banyak.
25
Hal ini akan mempersulit dalam pengolahan air limbah, sebab beberapa
zat tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme.
b. Bahan Anorganik
Beberapa komponen anorganik dari limbah dan air alami adalah
sangat penting untuk peningkatan dan pengawasan kualitas air minum.
Jumlah bahan anorganik meningkat sejalan dan dipengaruhi oleh formasi
geologis dari asal air atau air limbah. Bahan anorganik meliputi : pH,
klorida, kebasaan, sulfur, zat beracun, logam berat, metan, Nitrogen,
fosfor, dan gas.
Pengaruh kandungan bahan kimia yang ada di dalam air buangan
domestik dapat merugikan lingkungan melalui beberapa cara. Bahan-
bahan terlarut dapat menghasilkan DO atau oksigen terlarut dan dapat juga
menyebabkan timbulnya bau. Protein merupakan penyebab utama
terjadinya bau ini. Sebabnya ialah struktur protein sangat kompleks dan
tidak stabil serta mudah terurai menjadi bahan kimia lain oleh proses
dekomposisi.
11. Sifat Biologis Air Limbah
Sifat biologis air buangan domestik perlu diketahui untuk kualitas air
terutama bagi air yang dipergunakan sebagai air minum dan air bersih dan
mengukur tingkat pencemaran sebelum dibuang ke badan air. Parameter yang
sering digunakan adalah banyaknya kandungan mikroorganisme yang ada
dalam kandungan air limbah adalah mikroorganisme yang berperan dalam
proses penguraian bahan-bahan organik di dalam air buangan domestik
26
adalah bakteri, jamur, protozoa, virus, algae, dan hewan renik. Indikator yang
digunakan untuk mengetahui besar dan kecilnya pencemaran bakteriologis
adalah berapa jumlah bakteri koliform perseratus ml larutan dengan singkatan
MPN ( Most Probable Number).
12. Pengertian Detergen
Detergen berasal dari bahasa latin “detere” yang berarti
membersihkan. Detergen diartikan sebagai bahan pencuci, sedangkan dalam
kehidupan sehari-hari detergen termasuk detergen sintetik selain sabun
(Maulidah, 2015).
Detergen merupakan produk komersial yang digunakan untuk
menghilangkan kotoran yang terdapat pada pakaian. Detergen sintetik
digunakan untuk mengatasi dua masalah dari sabun biasa, yaitu sebagai
garam dari asam lemah sehingga menghasilkan larutan sedikit basa dalam air
dan yang kedua sabun membentuk garam tidak larut dengan ion-ion kalsium
dan magnesium yang biasanya terdapat dalam air sadah.
Detergen sintetik memiliki keuntungan lebih karena secara relatif
bersifat asam kuat sehingga tidak menghasilkan endapan sebagai asam yang
mengendap dan menjadi karakteristik yang tidak terdapat dalam sabun.
13. Komponen Penyusun Detergen
Pada umumnya detergen mengandung bahan baku (surfaktan), bahan
penunjang dan bahan aditif. Bahan baku surfaktan berkisar 20- 30% dan
bahan penunjang sekitar 70- 80%. Surfaktan yang biasanya terdapat dalam
detergen berupa surfaktan anionic (Karsa, et al, 1991 dalam Rochman, 2004).
27
Surfaktan dalam detergen dapat menyebabkan permukaan kulit menjadi
kasar, hilangnya kelembapan alami pada kulit dan meningkatnya
permeabilitas permukaan luar.
Surfaktan selain digunakan sebagai bahan detergen, juga digunakan
sebagai bahan industri tekstil dan pertambangan. Kandungan surfaktan di
dalam detergen sekitar 10-30% dibandingkan dengan polifosfan dan bahan
pemutih. Kadar surfaktan 1 mg/liter dalam suatu perairan dapat menyebabkan
terbentuknya busa diperairan.
Fungsi surfaktan dalam detergen sebagai pengikat kotoran yang
menyebabkan sifat antara pada detergen satu dengan detergen lainnya.
Surfaktan terkonsentrasi pada batas permukaan antara air dengan gas (udara),
padatan (debu) dan cairan yang tidak dapat bercampur (minyak). Hal tersebut
karena struktur “Amphiphilic”, yang berarti bagian yang satu dari molekul
bersifat polar atau gugus ionik (sebagai kepala) dengan afinitas yang kuat
untuk air dan bagian lainnya suatu hidrokarbon (sebagai ekor) yang tidak
suka air.
Peraturan PERMEN LH. NOMOR 5 TAHUN 2014 Tentang baku
mutu air limbah yaitu bagi usaha dan/atau kegiatan fasilitas pelayanan
kesehatan tidak boleh lebih 10 mg/l, dan menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 bahwa kandungan
detergen dalam air bersih tidak boleh lebih dari 0,5 mg/l. Oleh sebab itu,
diperlukan pengawasan yang rutin terhadap kadar surfaktan annionik pada
air. Sampai tahun 1960-an surfaktan yang paling umum digunakan adalah
28
Alkil Benzen Sulfonat (ABS), suatu produk sulfonasi dari suatu derivatalkil
benzene.
Senyawa ABS dapat memberikan dampak yang sangat negatif, karena
sangat lambat terurai oleh bakteri pengurai yang disebabkan adanya rantai
bercabang pada strukturnya. Tidak terurainya secara biologi yang semakin
lama perairan yang terkontaminasi senyawa ABS akan dipenuhi busa.
Surfaktan jenis tersebut dapat menurunkan.
Tegangan permukaan air, pemecahan kembali dari gumpalan koloid,
pengemulsian gemuk dan minyak, serta pemusnahan bakteri yang berguna.
Surfaktan (senyawa ABS) ini kemudian digantikan dengan surfaktan lain
yang dapat di biodegradasi, yaitu senyawa LAS (Linier Alkil Sulfonat).
Surfaktan banyak dijumpai dalam produk detergen, sabun, bahan
pengemulsi maupun bahan-bahan pendispersi. Zat aktif pada permukaan
surfaktan cenderung mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan permukaan larutan. Hal tersebut yang menyebabkan surfaktan dapat
menurunkan tegangan permukaan pada larutan. Surfaktan dapat menurunkan
tegangan larutan ini yang menyebabkan partikel-partikel yang menempel
pada bahan yang dicuci dapat terlepas dan mengapung atau terlarut dalam air.
Karakteristik dari surfaktan yang mempunyai bagian yang dapat
digunakan untuk berinteraksi lemah dengan pelarut, yang disebut dengan
bagian hidrofobik dan bagian yang berinteraksi kuat dengan pelarut disebut
bagian hidrofilik. Sistem dalam surfaktan ini sering dikenal dengan sistem
29
amfipatik. Berdasarkan gugus hidrofilnya, surfaktan dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Surfaktan anionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofilnya
bermuatan negatif. Contohnya: RCOO-Na+ (sabun), RC6H4SO3-Na+
(ABS).
b. Surfaktan kationik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofilik
bermuatan positif. Contohnya: RNH3Cl- (garam amin rantai panjang).
c. Surfaktan zwiterionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus
hidrofilik mengandung muatan positif dan negatif. Contohnya:
R+NH2CH2COO- (asam amino rantai panjang).
d. Surfaktan non ionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofil
tidak mengandung muatan ion. Contohnya: RCOOCH2CHOH CH2OH
(monogliserid rantai panjang).
Kadar surfaktan kationik yang dapat menghambat pertumbuhan algae di
dalam air sebesar 0,1-10 mg/liter. Sedangkan untuk kadar surfaktan anionik
1- 10.000 mg/liter.
14. Pengertian Filtrasi
Filtrasi adalah proses penyaringan partikel baik secara fisik, kimia dan
biologi untuk memisahkan partikel yang tidak terendapkan di sedimentasi
melalui media berpori. Selama proses filtrasi zat pengotor bisa membuat
tersumbatnya pori-pori media membuat kehilangan tekanan akan meningkat.
Filtrasi adalah proses penyaringan untuk berupaya menghilangkan zat
padat tersuspensi dari air melalui media yang berpori-pori. Filtrasi dianggap
30
saringan yang menangkap atau menahan zat padat tersuspensi diantaranya
media filter. Tujuan filtrasi adalah untuk menghilangkan partikel yang
tersuspensi dan koloid dengan cara menyaringnya dengan media filter
(Artiyani, 2016)
15. Faktor – Faktor Mempengaruhi Filtrasi
Menurut Kusnaedi (2010), ada faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pada filtrasi anatar lain sebagai berikut :
a. Debit
Debit aliran adalah laju aliran (dalam bentuk volume air) yang
melewati suatu penampung melintang persatuan waktu. Dalam sistem
satuan besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik
(m³/dt). Bila kecepatan air dan debit air meningkat maka efektivitas
penyaringan akan semakin menurun. Kecepatan aliran air dan debit air
akan mempengaruhi kejenuhan. Debit yang lebih kecil dapat
menurunkan kekeruhan, TDS dan angka kuman E-Coli lebih banyak
karena waktu kontak air dalam media lebih lama.
b. Ketebalan lapisan filter
Lapisan adalah angka ketebalan media filter yang digunakan untuk
filtrasi. Filtrasi dengan media penyaring menggunakan penyaring
tunggal maupun penyaring ganda. Seringkali terdapat lapisan
penyangga. Ketebalan media filter yang efektif umumnya berkisar
antar 80-120 cm. Ketebalan media sangat mempengaruhi waktu
kontak dan bahan penyaring. Semakin tebal lapisan filter maka akan
31
semakin lama waktu kontak air dengan lapisan media filter, sehingga
membuat kualitas hasil penyaringan semakin membaik.
c. Diameter butiran filter
Semakin kecil diameter butiran yang digunakan maka akan
menyebabkan celah antara butiran akan rapat sehingga kecepatan
penyaringan semakin pelan membuat kualitas penyaringan semakin
membaik.
d. Lamanya pemakaian media untuk penyaringan
Semakin lama media yang digunakan maka semakin banyak filter
yang tertahan dalam meda filter, sehingga media tersebut lama-lama
akan tersumbat atau jenuh, untuk itu perlu dilakukan pencucian pada
media gilter.
e. Waktu kontak
Waktu kontak adalah lama waktu yang dibutuhkan oleh air untuk bisa
kontak dengan media filter. Waktu kontak yang digunakan akan
berpengaruh terhadap hasil filtrasi. Semakin lama waktu kontak yang
digunakan antara air dengan media filter maka kualitas air setelah
kegiatan filtrasi akan semakin membaik.
16. Prinsip Filter
Prinsip dasar filtrasi adalah penyaringan partikel secara fisik, kimia,
biologi untuk memisahkan/ menyaring partikel yang tidak terendapkan dalam
proses sedimentasi melalui media berpori. Proses penyaringan tersebut
diperlukan untuk memisahkan flok-flok yang berukuran kecil/halus yang
32
tidak dapat diendapkan oleh proses pengendapan ialah antara 5 sampai 10 %
(Asmadi, et al., 2011).
a. Penyaring mekanis
Proses ini dapat terjadi pada filter cepat maupun lambat. Media
yang digunakan dalam filtrasi adalah pasir yang mempunyai pori-pori
yang cukup kecil. Dengan demikian partikel-partikel yang mempunyai
ukuran butir lebih besar dari pori-pori media dapat bertahan.
b. Pengendapan
Proses ini hanya dapat terjadi pada filter lambat. Ruang antar butir
pasir berfungsi sebagai bak pengendap kecil. Partikel-partikel yang
mempunyai ukuran kecil sekalipun, serta koloidal dan beberapa macam
bakteri akan mengendap dalam ruang antar butir dan melekat pada butir
pasir efek fisika (adsorbsi).
c. Biological action
Proses ini hanya dapat terjadi pada filter saringan lambat. Suspensi-
suspensi yang terdapat di dalam air mengandung organisme-organisme
seperti alga dan plangton yang merupakan bahan makanan bagi jenis-
jenis mikroorganisme tertentu. Organisme-organisme tersebut
membentuk lapisan di atas media filter yang disebut dengan lapisan di
atas media filter yang disebut dengan lapisan lendir (smudt decke) filter
atau bio film. Dengan adanya lapisan lendir ini makroorganisme yang
terdapat dalam air akan tertinggal di situ, sehingga air filtrat tidak
mengandung mikroorganisme/ bakteri lagi.
33
17. Jenis Filter
Filter yang biasa digunakan pada sistem pengolahan air bersih adalah :
a. Filter cepat
b. Filter tipe gravitasi
c. Filter terbuka
d. Filter yang beroperasi dengan aliran dari atas kebawah
e. Filter basah artinya filter yang mempunyai supernatan diatas
permukaan media penyaring
f. Filter dengan media :
1) Media tunggal (single media)
Filter media tunggal adalah filter terbuka atau tertutup yang
bisa dicuci dan yang mempunyai media filter dengan
koefisien, keseragaman media filter yang terdekat.
2) Media ganda (double media)
Filter media ganda adalah filter dengan media filter yang
mempunyai berat jenis dan ukuran yang berbeda.
Berat jenis dan ukuran partikel harus disesuaikan untuk
masing-masing lapisan supaya setelah proses pencucian
semua lapisan terendapkan berdasarkan berat jenis dan
ukurannya.
Bila dilihat dari arah filtrasi dari atas, media filter yang kasar
akan dilewati lebih dulu, kemudian media filter yang halus.
Jika proses pencucian kurang efisien atau ukuran partikel
34
berat jenis media filter dibeberapa lapisan tidak begitu
berbeda bisa terjadi tercampurnya media filter. Bila hal itu
terjadi maka media filter ganda kehilangan efisiensinya.
18. Sistem Aliran Filtrasi Down Flow
Menurut Sadaruddin (2020), sistem filtrasi down flow merupakan
sistem saringan dimana air limbah didistribusikan kedalam alat
penyaringan dengan arah aliran air dari atas ke bawah. Pengolahan dengan
sistem down flow merupakan pengolahan dapat dirancang dengan berbagai
macam ukuran sesuai dengan kebutuhan.
Pengolahan air limbah dengan menggunakan saringan filtrasi down
flow mempunyai keunggulan antara lain :
a. Air hasil penyaringan cukup bersih untuk rumah tangga
b. Membuatnya cukup mudah dan sederhana pemeliharaannya.
c. Bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di daerah
pedesaan
d. Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat
murah.
e. Dapat menghilangkan zat besi, mangan, warna dan kekeruhan.
f. Dapat menghilangkan amonia dan polutan organik, karena proses
penyaringan berjalan secara fisika biokimia.
g. Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan yang
sangat sederhana
35
Sedangkan beberapa kelemahan system pengolahan down flow antara
lain :
a. Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter
menjadi besar, sehingga sering terjadi kebuntuan, akibatnya waktu
pencucian filter menjadi pendek
b. Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan
yang cukup luas. Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni
dengan cara mengeruk lapisan pasir bagian atas dan dicuci dengan
air bersih, dan setelah bersih dimasukkan kembali kedalam filter
seperti semula
c. Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring
air gambut.
19. Media Penyaring
a. Pasir Silika
Pasir silika adalah silika alami dengan jenis batuan tinggi, dipakai
sebagai media fliter dengan ukuran tertentu yang dinyatakan oleh
“ukuran efektif (efektif size)” dan “koefesian keseragaman (uniformity
coefficient)”. Pasir silika biasanya digunakan baik sebagai media
tunggal atau ganda dan ditempatkan pada lapisan bagian awal dalam
penyaringan ganda (Asmadi, et al., 2011)
b. Karbon aktif
Karbon aktif adalah material yang berbentuk bubuk yang berasal
dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa.
36
Dengan pengolahan tertentu dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki
luas permukaan yang besar. Untuk proses pengolahan air bersih/ air
minum sering dipakai karbon aktif dalam bentuk biasa dikenal dengan
“GAC (granular activated carbon) filter”, atau bubuk yang berperan
sebagai penyerap (adsorben), dimana karbon aktif mempunyai daya
adsorpsi yang tinggi.
Selain itu karbon aktif dimanfaatkan sebagia media filter pada filter
media tunggal atau filter media ganda. Permukaan dalam partikel
karbon aktif yang luas sering dimanfaatkan sebagai media penahan
mikroorganisme didalam filter yang bekerja secara biologi. Filter yang
dicuci dengan sistem pencucian balik (back washing) dengan
menggunakan air atau kombinasi udara-air.
c. Kerikil
Kerikil berfungsi sebagai media penyangga/penahan dalam proses
filtrasi, agar media, zeolite, arang aktif dan pasir tidak terbawa aliran
hasil penyaringan, sehingga penyumbatan dapat di hindari. Kerikil
merupakan batuan lebih besar dari 2 mm. kerikil mem[punyai bentuk
yang tidak beraturan namun ukuranya dapat disamakan melalui proses
pengayakan analisa kerikil, kerikil yang digunakan sebagai media harus
bersih, keras ,bentuknya bulat serta tahan lama.
d. Zeolit
Zeolit adalah senyawa alumnosilikat yang mempunyai struktur
berpori dengan saluran dalam rangka kristal, yang di dalamnya terdapat
37
molekul air dan ion ion logam alkali. Unit dasar pembentuk zeolite
adalah SiO₄ dan AIO₄ yang membentuk tetra hedral membentuk
jaringan aninonik dalam tiga dimensi, sifat zeolite adalah sebagai
penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau
penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan
faktor lainnya. Zeolite mempunyai fungsi sebagai adsorben dan
penyaring molekul, serta ion exchange (penukar ion) dalam pengolahan
air. Ada beberapa cara untuk mengaktifkan zeolite antara lan :
1) Cara pemanasan
Pemanasan yang dilakukan untuk melepaskan molekul-molekul
air yang terdapat pada zeolite yang nantinya akan digantikan
oleh molekul yang diadsorbsi.
2) Cara Kimia
Pengaktifan cara kimia dilakukan dengan pengadukan dan
perendaman suatu larutan asam H₂SO₄ atau basa (NaOH)
dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang
senyawa pengotor, dan mengatur kembali letak atom yang dapat
dipertukarkan.
38
B. Kerangka Konsep
Cuci Tangan Pakai Sabun
Limbah cair bekas Cuci Tangan Pakai Sabun memiliki kandungan
Surfaktan yang tinggi
Dilakukan pengolahan Tidak dilakukan pengolahan
Pengolahan menggunakan Filter
Ganguan pada biota air
Dengan Bahan Kerikil, Zeolit,
Gangguan pada permukaan tanah
Karbon Aktif, Dan Pasir
Gangguan pada manusia
Faktor-faktor mempengaruhi filter:
Limbah cair bekas CTPS memiliki
Debit
kandungan surfaktan tinggi langsung
Ketebalan media
dibuang lingkungan sekitar
Diameter media
Lamanya pemakian
Waktu kontak
Pemeriksaan Kadar Surfaktan *
keterangan : = Tidak diteliti
= Diteliti
* = Diukur
Gambar 1. Kerangka Konsep
39
C. Hipotesis
Filter kelara dapat menurunkan kadar surfaktan pada air buangan cuci tangan
pakai sabun sampai memenuhi standar baku mutu menurut Permenkes RI
Nomor 32 Tahun 2017.