0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan26 halaman

Chapter 2 PDF

Dokumen ini membahas pentingnya air sebagai sumber daya alam yang vital bagi kehidupan manusia dan dampak pencemaran air terhadap kesehatan. Ketersediaan air bersih di Indonesia masih rendah, dengan banyak penduduk yang tidak memiliki akses ke air yang layak. Selain itu, dokumen ini menjelaskan karakteristik air limbah dan dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

embelembel228
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan26 halaman

Chapter 2 PDF

Dokumen ini membahas pentingnya air sebagai sumber daya alam yang vital bagi kehidupan manusia dan dampak pencemaran air terhadap kesehatan. Ketersediaan air bersih di Indonesia masih rendah, dengan banyak penduduk yang tidak memiliki akses ke air yang layak. Selain itu, dokumen ini menjelaskan karakteristik air limbah dan dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

embelembel228
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Pengertian Air

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi

sangat penting bagi kehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan

umum sehingga merupakan modal dasar dan faktor utama pembangunan. Air

juga merupakan komponen lingkungan hidup yang penting bagi

kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Itu bisa dilihat dari

fakta bahwa 70 persen permukaan bumi tertutup air dan dua per tiga tubuh

manusia terdiri dari air (Asmadi, et al., 2011).

Air adalah sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat karena air merupakan media penularan penyakit, disamping itu

juga pertambahan jumlah penduduk didunia ini yang semakin bertambah

jumlahnya sehingga menambah aktivitas kehidupan yang mau tidak mau

menambah pencemaran air yang pada hakikatnya dibutuhkan.

Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, mengakibatkan sumber

daya air di dunia telah menjadi salah satu kekayaan yang sangat penting. Air

merupakan hal pokok bagi konsumsi dan sanitasi umat manusia, untuk

produksi barang industri, serta untuk produksi makanan dan kain. Air tidak

tersebar merata di atas permukaan bumi, sehingga ketersediaannya disuatu

14
15

tempat akan sangat bervariasi menurut waktu (Wulan, 2018).

Kebutuhan yang pertama bagi terselanggaranya kesehatan yang baik

adalah tersedianya air yang memadai dari segi kuantitas dan kualitasnya yaitu

memenuhi syarat kebersihan dan keamanan. Selain itu, air bersih tersebut

juga harus tersedia secara kontinyu, menarik dan dapat diterima oleh

masyarakat agar mendorong masyarakat untuk memakainya. Apabila tidak

demikian, masyarakat akan memakai air yang kurang atau tidak bersih, yang

berasal dari sumber lain yang tidak terjamin kualitas penyediaannya.

Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan, karena kehidupan di

dunia tak dapat berlangsung terus tanpa tersedianya air yang cukup. Dari

kesuluruhan air yang ada di atas dan didalam bumi, 97 % dari padanya

terdapat didalam laut dan lautan bergaram, dan 2,25 % terdapat didalam salju

dan es. Jumlah air tawar yang tersedia dan siap dipakai manusia sangat

terbatas, tetapi kebutuhan akan air ini selalu meningkat karena populasi dan

kegiatan manusia disegala bidang.

Pada saat ini, persentase jumlah penduduk Indonesia yang sudah

mendapatkan pelayanan air bersih dari badan atau perusahaan air minum

masih sangat kecil yaitu untuk daerah perkotaan sekitar 45 %, sedangkan

untuk daerah pedesaan baru sekitar 36 % (BPPT, 1999). Data lain

menyebutkan pada tahun 2005 penduduk Indonesia yang suadah

mendapatkan pelayanan air minum perpipaan untuk daerah perkotaan 49 %

dan daerah pedesaan baru 23 % (Departemen Pekerjaan Umum, 2005). Jadi


16

untuk negara-negara maju kebutuhan air pasti lebih besar dari kebutuhan

untuk negara-negara yang sedang berkembang.

Air merupakan sumber daya yang terbatas, konsumsi air telah

meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal mencegah

terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jurang antara tingkat

pemakaian air dinegara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin

dalam. Dewasa ini 1,8 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses ke air

bersih dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi

dasar yang memadai. Pada skala nasional ketersediaan air bersih, hingga kini

baru mencapai sekitar 60 persen. Artinya, masih ada 40 persen atau sekitar 90

jutaan rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara

kesehatan untuk kehidupan sehari-hari.

Hal ini seyogyanya menjadi perhatian semua pihak untuk bagaimana

mempertahankan kualitas lingkungan, mengembalikan fungsi hutan sebagai

penyimpan air, melakukan revitalisasi air tanah yang merupakan sumber air

bersih bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dan sebagainya. Upaya-

upaya tersebut diharapkan dapat menjamin ketersediaan air yang memadai

bagi masyarakat, baik dalam kualitas maupun kuantitas yang merupakan

prasyarat bagi kehidupan yang sehat dan produktif.

2. Fungsi Air Dan Peran Air Bagi Kehidupan

Air merupakan satu kebutuhan pokok yang tidak kita pisahkan dengan

kehidupan sehari-hari makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, maupun

manusia. Semua makhluk hidup memerlukan air, tanpa air tidak mungkin ada
17

kehidupan. Demikian pula manusia mungkin dapat hidup selama beberapa

hari tanpa makan tetapi tidak akan bertahan hidup selama beberapa hari tanpa

minum (Asmadi, 2011).

Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia

berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya. Akan tetapi banyak

kejadian dimana air yang dipergunakan tidak selalu sesuai dengan syarat

kesehatan, karena sering ditemui air tersebut mengandung bibit ataupun zat-

zat tertentu yang dapat menimbulkan penyakit yang justru membahayakan

kelangsungan hidup manusia.

Padahal dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari, manusia

sangat bergantung pada air, karena air dipergunakan pula untuk mencuci,

membersihkan, mandi, dan lain sebagainya. Manfaat lain dari air berupa

pembangkit tenaga, irigasi, alat transportasi, dan lain sebagainya yang sejenis

dengan ini. Semakin maju tingkat kebudayaan masyarakat maka penggunaan

air maki meningkat. Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dengan

segala macam kegiatannya, antara lain dipergunakan untuk :

a. Keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, cuci

dan pekerjaan lainnya.

b. Keperluan umum, misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar,

pengangkutan air limbah, hiasan kota, tempat rekreasi dan lain-lainya.

c. Keperluan industri, misalnya untuk pabrik dan bangunan pembangkit

tenaga listrik.

d. Keperluan perdagangan, misalnya untuk hotel, restoran, dll.


18

e. Keperluan pertanian dan peternakan.

f. Keperluan pelayaran dan sebagainya.

3. Air sebagai Media Penularan Penyakit

Mengingat air dapat berfungsi sebagai media penularan penyakit,

maka untuk mengurangi timbulnya penyakit atau menurunkan angka

kematian tersebut salah satu usahanya adalah meningkatkan penggunaan air

minum yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas.

4. Penyakit yang dihantarkan oleh Air (Water Borne Disease).

Di negara beriklim sedang terdapat kekhawatiran mengenai efek

kesehatan oleh masuknya tinja hewan maupun manusia terutama tinja

manusia kedalam air. Pencemaran oleh tinja baru apabila mereka yang

mencemari air sedang menderita infeksi usus, orang yang minum air itu akan

menelan organisme dan mungkin akan ikut terinfeksi.

Kekuatiran utama dalam penyediaan air bersih dikota beriklim sedang

dan negara tropis adalah pencemaran tinja yang memungkinkan organisme

penyebab penyakit akan tersebar melalui penyediaan air bersih dan

menyebabkan penyebaran penyakit secara luas diantara orang yang meminum

air tersebut. Contoh dari water borne disease adalah klasik; tifoid dan kolera.

Non klasik adalah hepatitis infektiosa.

5. Penyakit Akibat Kurangnya Air

Air yang ada terlalu sedikit atau sumur terlalu jauh sehingga

kebersihan perorangan tidak mungkin dilakukan sebagaimana mestinya. Air

yang tersedia tidak cukup untuk membersihkan diri atau alat-alat makan dan
19

pakaian, karena tidak dibersihkan. Infeksi kulit dapat berkembang tanpa

terkendali dan infeksi usus menjadi mudah tersebar dari orang keorang, yakni

melalui jari tangan yang kotor.

Kehidupan sehari-hari, berbagai penyakit ini merupakan kelompok

penyakit yang penting didaerah tropika. Contoh dari water washed disease

adalah: penyakit kulit dan mata (scabies, trachoma), penyakit diare (disentri

basiler).

6. Pengertian Air Limbah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82

Tahun 2001, limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung

bahan berbahaya atau beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan

jumlahnya baik secara langsung atau tidak langsung akan dapat

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia

serta makhluk hidup lain (Purba, 2009).

Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor 51 Tahun 1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri

yang dimaksud dengan limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang

dihasilkan oleh kegiatan industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga

dapat menurunkan kualitas lingkungan.

Dari definisi tersebut maka secara umum dapat disimpulkan bahwa air

limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan berupa cairan yang berasal dari

rumah tangga, industri, atau tempat-tempat umum lainnya yang biasanya


20

mendandung zat-zat yang membahayakan kehidupan manusia serta

mengganggu kelestarian lingkungan hidup (Halim, 2014).

7. Sumber Air Limbah

a. Air Limbah Domestik

Air limbah domestik adalah air yang berasal dari usaha dan atau

kegiatan permukiman (real estate), rumah makan, perkantoran,

perniagaan, apartemen, dan asrama (Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup, 2003).

Air limbah domestik adalah air yang dipergunakan yang berasal

dari rumah tangga atau permukiman termasuk didalamnya air buangan

yang berasal dari WC, kamar mandi, tempat cuci dan tempat masak

(Sugiharto, 1987). Sifat - sifat yang dimiliki oleh air buangan adalah sifat

fisik, kimia, dan biologis :

1) Sifat fisik

Karakter fisik air limbah meliputi temperatur, bau, warna, dan

padat-padatan. Temperature menunjukkan derajat atau tingkat panas

air limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Skala temperatur yang

biasa digunakan adalah skala Fahrenheit (⁰F) dan skala Celcius (⁰C).

Temperatur merupakan parameter yang penting dalam pengoperasian

untuk pengolahan limbah karena berpengaruh terhadap proses biologi

dan fisika.

Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau

tergantung pada sensitivitas indera penciuman seseorang. Kehadiran


21

bau-bauan yang lain menunjukkan adanya komponen-komponen lain

di dalam air. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh

kehadiran materimateri dissolved, suspenden, dan senyawa-senyawa

koloid, yang dapat dilihat dari spectrum warna yang terjadi. Padatan

yang terdapat di dalam air limbah dapat diklasifikasikan menjadi

floating, settleable, suspended, atau dissolved.

2) Sifat Biologi

Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi

hampir dalam semua bentuk limbah, biasanya dengan konsentrasi 10⁵

- 10⁸ organisme/ml. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas

ataupun berkelompok dan maupun melakukan proses-proses

kehidupan (tumbuh, metabolisme, dan reproduksi). Secara tradisional,

mikroorganisme dibedakan menjadi binatang dan tumbuhan. Namun,

keduanya sulit dibedakan.

Oleh karena itu mikroorganisme kemudian dimasukkan ke

dalam kategori protista, status yang sama dengan binatang maupun

tumbuhan. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah

merupakan kunci efektivitas proses biologis. Bakteri juga berperan

penting untuk mengevaluasi kualitas air.

b. Air Limbah Non-Domestik

Limbah non domestik adalah limbah yang berasal dari pabrik,

industri, pertanian, pertenakan, perikanan, transportasi, dan sumber-

sumber lain. Limbah ini sangat bervariasi lebih-lebih untuk limbah industri
22

yang biasanya menghasilkan bahan berbahaya dan beracun (B3) (P3M

STAIN Pekalongan, 2012). Perkembangan kota semakin pekat akan

meningkatkan aktivitas sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan

akan air bersih yang besar.

Baik untuk keperluan domestik maupun non-domestik. Seiring

dengan itu, maka jumlah air buangan semakin meningkat sementara lahan

semakin sempit. Hal ini menyebabkan masalah pembuangan air, sehingga

perlu ada usaha terpadu untuk mengelola air buangan agar tidak

mencemari lingkungan.

c. Air Limbah Industri

Air buangan industri yang berasal dari berbagai jenis industri

akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat

bervariasi sesuai dengan bahan baku yang digunakan oleh masing-masing

industry antara lain : nitrogen sulfide, amoniak, lemak, garam-garam, zat

perwarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab

itu pengolahan jenis air limbah ini menjadi lebih rumit karena harus

mempertimbangkan dampaknya pada lingkungan.

d. Air Limbah dari Daerah Perkotaan

Air buangan ini berasal dari daerah perkantoran, perdagangan,

hotel dan tempat umum lainnya. Pada umumnya zat yang terkandung

dalamnya sama dengan air limbah domestik.


23

8. Karakteristik Air Limbah

Air buangan berasal dari berbagai sumber, sehingga memiliki

karakteristik berbeda. Sifat dan karakteristik air buangan secara garis besar

dibagi menjadi tiga bagian yaitu : sifak fisik, sifat kimia dan sifat biologis.

9. Sifat Fisik Air Limbah

Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh

adanya sifat fisik yang mudah terlihat. Adapun sifat fisik yang penting adalah

total solid, total suspended solid, warna, kekeruhan, temperatur, bau, minyak

dan lemak.

a. Total solid merupakan padatan di dalam air yang terdiri dari bahan

organik maupun anorganik yang larut, mengendap, atau tersuspensi

dalam air.

b. Total suspended solid adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan

air, tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap, terdiri dari

partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari

sedimen.

c. Warna pada dasarnya air bersih tidak berwarna tetapi seiring dengan

waktu dan meningkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari

yang abu-abu menjadi kehitaman. Warna dalam air disebabkan adanya

ion-ion logam besi dan mangan, humus, plankton, tanaman air dan

buangan industri.

d. Kekeruhan disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik bersifat

organik maupun anorganik yang mengapung dan terurai di dalam air.


24

Kekeruhan menunjukkan sifat optis air, yang mengakibatkan

pembiasan cahaya ke dalam air. Kekeruhan membatasi masuknya

cahaya ke dalam air.

e. Temperatur merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan

efeknya terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air

dan penggunaan air untuk berbagai aktivitas sehari-hari.

f. Bau disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi

materi atau penambahan substansi paa limbah. Sifat bau limbah

disebabkan karena zat-zat organic yang telah terurai dalam limbah dan

mengeluarkan gas-gas seperti sulfide atau amoniak uang

menimbulkan penciuman tidak enak.

10. Sifat Kimia Air Limbah

Kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat

merugikan lingkungan. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan oksigen

dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap dan

akan lebih berbahaya jika bahan kimia yang merupakan bahan kimia beracun.

Adapun bahan kimia yang penting yang ada di dalam air limbah pada

umumya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Bahan Organik

Pada umumnya zat organik berisikan kombinasi dari karbon,

hidrogen, dan oksigen, bersama-sama dengan [Link] lainnya

yang penting seperti belerang, fosfor, dan besi juga dapat

[Link] lama, jumlah dan jenis bahan organik semakin banyak.


25

Hal ini akan mempersulit dalam pengolahan air limbah, sebab beberapa

zat tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme.

b. Bahan Anorganik

Beberapa komponen anorganik dari limbah dan air alami adalah

sangat penting untuk peningkatan dan pengawasan kualitas air minum.

Jumlah bahan anorganik meningkat sejalan dan dipengaruhi oleh formasi

geologis dari asal air atau air limbah. Bahan anorganik meliputi : pH,

klorida, kebasaan, sulfur, zat beracun, logam berat, metan, Nitrogen,

fosfor, dan gas.

Pengaruh kandungan bahan kimia yang ada di dalam air buangan

domestik dapat merugikan lingkungan melalui beberapa cara. Bahan-

bahan terlarut dapat menghasilkan DO atau oksigen terlarut dan dapat juga

menyebabkan timbulnya bau. Protein merupakan penyebab utama

terjadinya bau ini. Sebabnya ialah struktur protein sangat kompleks dan

tidak stabil serta mudah terurai menjadi bahan kimia lain oleh proses

dekomposisi.

11. Sifat Biologis Air Limbah

Sifat biologis air buangan domestik perlu diketahui untuk kualitas air

terutama bagi air yang dipergunakan sebagai air minum dan air bersih dan

mengukur tingkat pencemaran sebelum dibuang ke badan air. Parameter yang

sering digunakan adalah banyaknya kandungan mikroorganisme yang ada

dalam kandungan air limbah adalah mikroorganisme yang berperan dalam

proses penguraian bahan-bahan organik di dalam air buangan domestik


26

adalah bakteri, jamur, protozoa, virus, algae, dan hewan renik. Indikator yang

digunakan untuk mengetahui besar dan kecilnya pencemaran bakteriologis

adalah berapa jumlah bakteri koliform perseratus ml larutan dengan singkatan

MPN ( Most Probable Number).

12. Pengertian Detergen

Detergen berasal dari bahasa latin “detere” yang berarti

membersihkan. Detergen diartikan sebagai bahan pencuci, sedangkan dalam

kehidupan sehari-hari detergen termasuk detergen sintetik selain sabun

(Maulidah, 2015).

Detergen merupakan produk komersial yang digunakan untuk

menghilangkan kotoran yang terdapat pada pakaian. Detergen sintetik

digunakan untuk mengatasi dua masalah dari sabun biasa, yaitu sebagai

garam dari asam lemah sehingga menghasilkan larutan sedikit basa dalam air

dan yang kedua sabun membentuk garam tidak larut dengan ion-ion kalsium

dan magnesium yang biasanya terdapat dalam air sadah.

Detergen sintetik memiliki keuntungan lebih karena secara relatif

bersifat asam kuat sehingga tidak menghasilkan endapan sebagai asam yang

mengendap dan menjadi karakteristik yang tidak terdapat dalam sabun.

13. Komponen Penyusun Detergen

Pada umumnya detergen mengandung bahan baku (surfaktan), bahan

penunjang dan bahan aditif. Bahan baku surfaktan berkisar 20- 30% dan

bahan penunjang sekitar 70- 80%. Surfaktan yang biasanya terdapat dalam

detergen berupa surfaktan anionic (Karsa, et al, 1991 dalam Rochman, 2004).
27

Surfaktan dalam detergen dapat menyebabkan permukaan kulit menjadi

kasar, hilangnya kelembapan alami pada kulit dan meningkatnya

permeabilitas permukaan luar.

Surfaktan selain digunakan sebagai bahan detergen, juga digunakan

sebagai bahan industri tekstil dan pertambangan. Kandungan surfaktan di

dalam detergen sekitar 10-30% dibandingkan dengan polifosfan dan bahan

pemutih. Kadar surfaktan 1 mg/liter dalam suatu perairan dapat menyebabkan

terbentuknya busa diperairan.

Fungsi surfaktan dalam detergen sebagai pengikat kotoran yang

menyebabkan sifat antara pada detergen satu dengan detergen lainnya.

Surfaktan terkonsentrasi pada batas permukaan antara air dengan gas (udara),

padatan (debu) dan cairan yang tidak dapat bercampur (minyak). Hal tersebut

karena struktur “Amphiphilic”, yang berarti bagian yang satu dari molekul

bersifat polar atau gugus ionik (sebagai kepala) dengan afinitas yang kuat

untuk air dan bagian lainnya suatu hidrokarbon (sebagai ekor) yang tidak

suka air.

Peraturan PERMEN LH. NOMOR 5 TAHUN 2014 Tentang baku

mutu air limbah yaitu bagi usaha dan/atau kegiatan fasilitas pelayanan

kesehatan tidak boleh lebih 10 mg/l, dan menurut Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 bahwa kandungan

detergen dalam air bersih tidak boleh lebih dari 0,5 mg/l. Oleh sebab itu,

diperlukan pengawasan yang rutin terhadap kadar surfaktan annionik pada

air. Sampai tahun 1960-an surfaktan yang paling umum digunakan adalah
28

Alkil Benzen Sulfonat (ABS), suatu produk sulfonasi dari suatu derivatalkil

benzene.

Senyawa ABS dapat memberikan dampak yang sangat negatif, karena

sangat lambat terurai oleh bakteri pengurai yang disebabkan adanya rantai

bercabang pada strukturnya. Tidak terurainya secara biologi yang semakin

lama perairan yang terkontaminasi senyawa ABS akan dipenuhi busa.

Surfaktan jenis tersebut dapat menurunkan.

Tegangan permukaan air, pemecahan kembali dari gumpalan koloid,

pengemulsian gemuk dan minyak, serta pemusnahan bakteri yang berguna.

Surfaktan (senyawa ABS) ini kemudian digantikan dengan surfaktan lain

yang dapat di biodegradasi, yaitu senyawa LAS (Linier Alkil Sulfonat).

Surfaktan banyak dijumpai dalam produk detergen, sabun, bahan

pengemulsi maupun bahan-bahan pendispersi. Zat aktif pada permukaan

surfaktan cenderung mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan

dengan permukaan larutan. Hal tersebut yang menyebabkan surfaktan dapat

menurunkan tegangan permukaan pada larutan. Surfaktan dapat menurunkan

tegangan larutan ini yang menyebabkan partikel-partikel yang menempel

pada bahan yang dicuci dapat terlepas dan mengapung atau terlarut dalam air.

Karakteristik dari surfaktan yang mempunyai bagian yang dapat

digunakan untuk berinteraksi lemah dengan pelarut, yang disebut dengan

bagian hidrofobik dan bagian yang berinteraksi kuat dengan pelarut disebut

bagian hidrofilik. Sistem dalam surfaktan ini sering dikenal dengan sistem
29

amfipatik. Berdasarkan gugus hidrofilnya, surfaktan dapat diklasifikasikan

menjadi beberapa macam, yaitu:

a. Surfaktan anionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofilnya

bermuatan negatif. Contohnya: RCOO-Na+ (sabun), RC6H4SO3-Na+

(ABS).

b. Surfaktan kationik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofilik

bermuatan positif. Contohnya: RNH3Cl- (garam amin rantai panjang).

c. Surfaktan zwiterionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus

hidrofilik mengandung muatan positif dan negatif. Contohnya:

R+NH2CH2COO- (asam amino rantai panjang).

d. Surfaktan non ionik, yaitu surfaktan yang mempunyai gugus hidrofil

tidak mengandung muatan ion. Contohnya: RCOOCH2CHOH CH2OH

(monogliserid rantai panjang).

Kadar surfaktan kationik yang dapat menghambat pertumbuhan algae di

dalam air sebesar 0,1-10 mg/liter. Sedangkan untuk kadar surfaktan anionik

1- 10.000 mg/liter.

14. Pengertian Filtrasi

Filtrasi adalah proses penyaringan partikel baik secara fisik, kimia dan

biologi untuk memisahkan partikel yang tidak terendapkan di sedimentasi

melalui media berpori. Selama proses filtrasi zat pengotor bisa membuat

tersumbatnya pori-pori media membuat kehilangan tekanan akan meningkat.

Filtrasi adalah proses penyaringan untuk berupaya menghilangkan zat

padat tersuspensi dari air melalui media yang berpori-pori. Filtrasi dianggap
30

saringan yang menangkap atau menahan zat padat tersuspensi diantaranya

media filter. Tujuan filtrasi adalah untuk menghilangkan partikel yang

tersuspensi dan koloid dengan cara menyaringnya dengan media filter

(Artiyani, 2016)

15. Faktor – Faktor Mempengaruhi Filtrasi

Menurut Kusnaedi (2010), ada faktor-faktor yang mempengaruhi

proses pada filtrasi anatar lain sebagai berikut :

a. Debit

Debit aliran adalah laju aliran (dalam bentuk volume air) yang

melewati suatu penampung melintang persatuan waktu. Dalam sistem

satuan besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik

(m³/dt). Bila kecepatan air dan debit air meningkat maka efektivitas

penyaringan akan semakin menurun. Kecepatan aliran air dan debit air

akan mempengaruhi kejenuhan. Debit yang lebih kecil dapat

menurunkan kekeruhan, TDS dan angka kuman E-Coli lebih banyak

karena waktu kontak air dalam media lebih lama.

b. Ketebalan lapisan filter

Lapisan adalah angka ketebalan media filter yang digunakan untuk

filtrasi. Filtrasi dengan media penyaring menggunakan penyaring

tunggal maupun penyaring ganda. Seringkali terdapat lapisan

penyangga. Ketebalan media filter yang efektif umumnya berkisar

antar 80-120 cm. Ketebalan media sangat mempengaruhi waktu

kontak dan bahan penyaring. Semakin tebal lapisan filter maka akan
31

semakin lama waktu kontak air dengan lapisan media filter, sehingga

membuat kualitas hasil penyaringan semakin membaik.

c. Diameter butiran filter

Semakin kecil diameter butiran yang digunakan maka akan

menyebabkan celah antara butiran akan rapat sehingga kecepatan

penyaringan semakin pelan membuat kualitas penyaringan semakin

membaik.

d. Lamanya pemakaian media untuk penyaringan

Semakin lama media yang digunakan maka semakin banyak filter

yang tertahan dalam meda filter, sehingga media tersebut lama-lama

akan tersumbat atau jenuh, untuk itu perlu dilakukan pencucian pada

media gilter.

e. Waktu kontak

Waktu kontak adalah lama waktu yang dibutuhkan oleh air untuk bisa

kontak dengan media filter. Waktu kontak yang digunakan akan

berpengaruh terhadap hasil filtrasi. Semakin lama waktu kontak yang

digunakan antara air dengan media filter maka kualitas air setelah

kegiatan filtrasi akan semakin membaik.

16. Prinsip Filter

Prinsip dasar filtrasi adalah penyaringan partikel secara fisik, kimia,

biologi untuk memisahkan/ menyaring partikel yang tidak terendapkan dalam

proses sedimentasi melalui media berpori. Proses penyaringan tersebut

diperlukan untuk memisahkan flok-flok yang berukuran kecil/halus yang


32

tidak dapat diendapkan oleh proses pengendapan ialah antara 5 sampai 10 %

(Asmadi, et al., 2011).

a. Penyaring mekanis

Proses ini dapat terjadi pada filter cepat maupun lambat. Media

yang digunakan dalam filtrasi adalah pasir yang mempunyai pori-pori

yang cukup kecil. Dengan demikian partikel-partikel yang mempunyai

ukuran butir lebih besar dari pori-pori media dapat bertahan.

b. Pengendapan

Proses ini hanya dapat terjadi pada filter lambat. Ruang antar butir

pasir berfungsi sebagai bak pengendap kecil. Partikel-partikel yang

mempunyai ukuran kecil sekalipun, serta koloidal dan beberapa macam

bakteri akan mengendap dalam ruang antar butir dan melekat pada butir

pasir efek fisika (adsorbsi).

c. Biological action

Proses ini hanya dapat terjadi pada filter saringan lambat. Suspensi-

suspensi yang terdapat di dalam air mengandung organisme-organisme

seperti alga dan plangton yang merupakan bahan makanan bagi jenis-

jenis mikroorganisme tertentu. Organisme-organisme tersebut

membentuk lapisan di atas media filter yang disebut dengan lapisan di

atas media filter yang disebut dengan lapisan lendir (smudt decke) filter

atau bio film. Dengan adanya lapisan lendir ini makroorganisme yang

terdapat dalam air akan tertinggal di situ, sehingga air filtrat tidak

mengandung mikroorganisme/ bakteri lagi.


33

17. Jenis Filter

Filter yang biasa digunakan pada sistem pengolahan air bersih adalah :

a. Filter cepat

b. Filter tipe gravitasi

c. Filter terbuka

d. Filter yang beroperasi dengan aliran dari atas kebawah

e. Filter basah artinya filter yang mempunyai supernatan diatas

permukaan media penyaring

f. Filter dengan media :

1) Media tunggal (single media)

Filter media tunggal adalah filter terbuka atau tertutup yang

bisa dicuci dan yang mempunyai media filter dengan

koefisien, keseragaman media filter yang terdekat.

2) Media ganda (double media)

Filter media ganda adalah filter dengan media filter yang

mempunyai berat jenis dan ukuran yang berbeda.

Berat jenis dan ukuran partikel harus disesuaikan untuk

masing-masing lapisan supaya setelah proses pencucian

semua lapisan terendapkan berdasarkan berat jenis dan

ukurannya.

Bila dilihat dari arah filtrasi dari atas, media filter yang kasar

akan dilewati lebih dulu, kemudian media filter yang halus.

Jika proses pencucian kurang efisien atau ukuran partikel


34

berat jenis media filter dibeberapa lapisan tidak begitu

berbeda bisa terjadi tercampurnya media filter. Bila hal itu

terjadi maka media filter ganda kehilangan efisiensinya.

18. Sistem Aliran Filtrasi Down Flow

Menurut Sadaruddin (2020), sistem filtrasi down flow merupakan

sistem saringan dimana air limbah didistribusikan kedalam alat

penyaringan dengan arah aliran air dari atas ke bawah. Pengolahan dengan

sistem down flow merupakan pengolahan dapat dirancang dengan berbagai

macam ukuran sesuai dengan kebutuhan.

Pengolahan air limbah dengan menggunakan saringan filtrasi down

flow mempunyai keunggulan antara lain :

a. Air hasil penyaringan cukup bersih untuk rumah tangga

b. Membuatnya cukup mudah dan sederhana pemeliharaannya.

c. Bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di daerah

pedesaan

d. Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat

murah.

e. Dapat menghilangkan zat besi, mangan, warna dan kekeruhan.

f. Dapat menghilangkan amonia dan polutan organik, karena proses

penyaringan berjalan secara fisika biokimia.

g. Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan yang

sangat sederhana
35

Sedangkan beberapa kelemahan system pengolahan down flow antara

lain :

a. Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter

menjadi besar, sehingga sering terjadi kebuntuan, akibatnya waktu

pencucian filter menjadi pendek

b. Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan

yang cukup luas. Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni

dengan cara mengeruk lapisan pasir bagian atas dan dicuci dengan

air bersih, dan setelah bersih dimasukkan kembali kedalam filter

seperti semula

c. Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring

air gambut.

19. Media Penyaring

a. Pasir Silika

Pasir silika adalah silika alami dengan jenis batuan tinggi, dipakai

sebagai media fliter dengan ukuran tertentu yang dinyatakan oleh

“ukuran efektif (efektif size)” dan “koefesian keseragaman (uniformity

coefficient)”. Pasir silika biasanya digunakan baik sebagai media

tunggal atau ganda dan ditempatkan pada lapisan bagian awal dalam

penyaringan ganda (Asmadi, et al., 2011)

b. Karbon aktif

Karbon aktif adalah material yang berbentuk bubuk yang berasal

dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa.


36

Dengan pengolahan tertentu dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki

luas permukaan yang besar. Untuk proses pengolahan air bersih/ air

minum sering dipakai karbon aktif dalam bentuk biasa dikenal dengan

“GAC (granular activated carbon) filter”, atau bubuk yang berperan

sebagai penyerap (adsorben), dimana karbon aktif mempunyai daya

adsorpsi yang tinggi.

Selain itu karbon aktif dimanfaatkan sebagia media filter pada filter

media tunggal atau filter media ganda. Permukaan dalam partikel

karbon aktif yang luas sering dimanfaatkan sebagai media penahan

mikroorganisme didalam filter yang bekerja secara biologi. Filter yang

dicuci dengan sistem pencucian balik (back washing) dengan

menggunakan air atau kombinasi udara-air.

c. Kerikil

Kerikil berfungsi sebagai media penyangga/penahan dalam proses

filtrasi, agar media, zeolite, arang aktif dan pasir tidak terbawa aliran

hasil penyaringan, sehingga penyumbatan dapat di hindari. Kerikil

merupakan batuan lebih besar dari 2 mm. kerikil mem[punyai bentuk

yang tidak beraturan namun ukuranya dapat disamakan melalui proses

pengayakan analisa kerikil, kerikil yang digunakan sebagai media harus

bersih, keras ,bentuknya bulat serta tahan lama.

d. Zeolit

Zeolit adalah senyawa alumnosilikat yang mempunyai struktur

berpori dengan saluran dalam rangka kristal, yang di dalamnya terdapat


37

molekul air dan ion ion logam alkali. Unit dasar pembentuk zeolite

adalah SiO₄ dan AIO₄ yang membentuk tetra hedral membentuk

jaringan aninonik dalam tiga dimensi, sifat zeolite adalah sebagai

penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau

penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan

faktor lainnya. Zeolite mempunyai fungsi sebagai adsorben dan

penyaring molekul, serta ion exchange (penukar ion) dalam pengolahan

air. Ada beberapa cara untuk mengaktifkan zeolite antara lan :

1) Cara pemanasan

Pemanasan yang dilakukan untuk melepaskan molekul-molekul

air yang terdapat pada zeolite yang nantinya akan digantikan

oleh molekul yang diadsorbsi.

2) Cara Kimia

Pengaktifan cara kimia dilakukan dengan pengadukan dan

perendaman suatu larutan asam H₂SO₄ atau basa (NaOH)

dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang

senyawa pengotor, dan mengatur kembali letak atom yang dapat

dipertukarkan.
38

B. Kerangka Konsep

Cuci Tangan Pakai Sabun

Limbah cair bekas Cuci Tangan Pakai Sabun memiliki kandungan


Surfaktan yang tinggi

Dilakukan pengolahan Tidak dilakukan pengolahan

Pengolahan menggunakan Filter


Ganguan pada biota air
Dengan Bahan Kerikil, Zeolit,
Gangguan pada permukaan tanah
Karbon Aktif, Dan Pasir
Gangguan pada manusia

Faktor-faktor mempengaruhi filter:


Limbah cair bekas CTPS memiliki
Debit
kandungan surfaktan tinggi langsung
Ketebalan media
dibuang lingkungan sekitar
Diameter media
Lamanya pemakian
Waktu kontak

Pemeriksaan Kadar Surfaktan *

keterangan : = Tidak diteliti

= Diteliti

* = Diukur

Gambar 1. Kerangka Konsep


39

C. Hipotesis

Filter kelara dapat menurunkan kadar surfaktan pada air buangan cuci tangan

pakai sabun sampai memenuhi standar baku mutu menurut Permenkes RI

Nomor 32 Tahun 2017.

Anda mungkin juga menyukai