PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI SERBUK GERGAJI DAN
BIOCHAR DARI LIMBAH CANGKANG KELAPA SAWIT TERHADAP
N-total, NH4+ dan KTK PADA TANAH ULTISOL
COMBINED EFFECT OF SAWDUST AND BIOCHAR FROM OIL PALM SHELL
TO N-total, NH4+ AND CEC IN ULTISOL SOIL
Fandi Kurniawan1*, Rd. Indah Nirtha NPPS2 dan Bambang Joko Priatmadi3
1. Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, ULM
2. Dosen Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, ULM
3. Dosen Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, ULM
Jl. A. Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 70714, Indonesia
*E-mail: fandi743@@[Link]
ABSTRAK
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, tekstur tanah ini
umumnya didominasi oleh mineral kaolinit yang tidak banyak memberikan kontribusi pada kapasitas
tukar kation tanah sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kandungan bahan organik
dan fraksi liat. Bahan organik dan teknologi biochar salah satu teknologi dapat berpengaruh terhadap
perubahan sifat-sifat tanah. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis pengaruh penambahan
kombinasi serbuk gergaji dan biochar cangkang kelapa sawit dalam perbaikan ketersedian unsur N-
total, NH4+ dan KTK. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6
perlakuan: tanpa penambahan apapun, cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji, biochar dan serbuk
gergaji, biochar, cangkang kelapa sawit, serbuk gergaji dengan waktu inkubasi selama 15 hari dan
pengulangan sebanyak 3 kali. Berdasarkan dari hasil penelitian, penambahan biochar dari cangkang
kelapa sawit dan serbuk gergaji berpengaruh nyata terhadap N-total, NH4+ dan KTK , begitu pula
dengan penambahan cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji.
Kata kunci: Tanah ultisol, Biochar, Serbuk gergaji, Cangkang kelapa sawit
ABSTRACT
Ultisol is one type of soil in Indonesia that has a wide spread, soil texture is generally dominated by
kaolinite minerals that do not contribute much to the soil cation exchange capacity so that the cation
exchange capacity depends only on the content of organic matter and clay fraction. Organic materials
and technology biochar one technology can influence the change of soil [Link] study aimed to
analyze the effect of a combination of sawdust and oil palm shell biochar in improving the availability
of N-total, NH4+ dan KTK . This study uses a completely randomized design (CRD) with 6 treatments:
without any additions, oil palm shell and sawdust, biochar and sawdust, biochar, oil palm shell,
sawdust with a time of incubation for 15 days and repeated 3 times. Based on the results of research,
addition of biochar from oil palm shell and sawdust had a significant effect on N-total, NH4+ and CEC,
as well as the addition of oil palm shell and sawdust.
Keywords: Ultisol Soil, Biochar, Sawdust, Oil palm shell
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
1. PENDAHULUAN
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai
45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia. Sebaran terluas terdapat di
Kalimantan (21.938.000 ha), diikuti di Sumatera (9.469.000 ha), Maluku dan Papua (8.859.000 ha),
Sulawesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha), dan Nusa Tenggara (53.000 ha). Tanah ini dapat
dijumpai pada berbagai relief, mulai dari datar hingga bergunung. Ultisol dibentuk oleh proses
pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim
tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi. Tanah Ultisol beriklim basah
didominasi oleh bahan induk yang miskin unsur hara (Subagyo, dkk, 2000).
Tekstur tanah ini umumnya didominasi oleh mineral kaolinit yang tidak banyak memberikan kontribusi
pada kapasitas tukar kation tanah sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kandungan
bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan
melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik. Bahan organik akan
meningkatkan kesuburan tanah, baik secara fisik, kimia maupun dari segi biologis tanah. Bahan
organik banyak menyumbangkan/ membebaskan unsur hara N, P, K, Ca, Mg, serta meningkatkan
ketersediaan hara lainnya bagi tanaman. Keberadaan bahan organik sekaligus meningkatkan aktivitas
mikroorganisme di dalam tanah sekaligus mengeluarkan asam humik, fulfik, karboksil, fenol dan asam-
asam organik lainnya yang dapat bereaksi dengan logam Al, Fe dan Mn sehingga hara dapat tersedia
bagi tanaman. Menurut Sudjana (2004) teknologi biochar dapat meningkatkan beberapa senyawa
seperti C-organik, N-total dan beberapa sifat kimia tanah salah satunya dapat meningkatkan pH.
Penambahan limbah serbuk gergaji, penggunaan bahan dari limbah bertujuan untuk mengurangi
timbulan-timbulan limbah yang dihasilkan dari sector pengolahan kayu. Pada limbah serbuk gergaji
memiliki kadar Karbon 50 %, Hidrogen 6 %, Nitrogen 0,04 %, - 0,10 %, Abu 0,20 – 0,50 %, dan
sisanya adalah oksigen (Nurida dkk., 2010). Bahan organik yang digunakan pada penelitian ini adalah
cangkang kelapa sawit dari perkebunan kelapa sawit yang akan dijadikan biochar dan limbah serbuk
gergaji yang dihasilkan dari sektor pengolahan kayu. Mengurangi timbulan limbah padat cangkang
kelapa sawit dan limbah dari sektor pengolahan kayu, maka dilakukan pemanfaatan limbah cangkang
kelapa sawit dan limbah serbuk gergaji untuk memperbaiki sifat kimia tanah yaitu unsur nitrogen pada
bahan tanah ultisol.
II. METODE PENELITIAN
2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pegambilan sampel bahan tanah ultisol di Jl. Aneka Tambang, Cempaka dan limbah cangkang kelapa
sawit di PTPN XIII Pelaihari, Kalimantan Selatan. Sedangkan lokasi pengambilan limbah serbuk
gergaji di Intansari, Banjarbaru. Proses inkubasi bahan tanah sendiri dilakukan di rumah pribadi yang
kemudian sampel tanah tersebut diteliti di Laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi Tanah Fakultas
Pertanian UNLAM Banjarbaru.
58
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
2.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : Alat pembakar biochar, bak reaktor, alat
penghalus, saringan, wadah tempat menampung biochar, kertas label, plastik, alat tulis, timbangan dan
kamera untuk dokumentasi. Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : bahan tanah
ultisol, cangkang kelapa sawit (sebagai bahan dasar biochar) dan serbuk gergaji.
2.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan lingkungan dengan rancangan acak lengkap faktorial yang
terdiri dari 6 perlakuan dan 3 kali pegulangan, sehingga pada penelitian ini terdapat 18 satuan
percobaan. Bak reaktor yang digunakan berukuran diameter 30 cm dengan tinggi 20 cm dan dengan
berat bahan tanah sebanyak 90 Kg. Parameter yang diuji pada penelitian ini yaitu nitrogen total, N-
NH4+, KTK dan pH tanah denga waktu inkubasi 15 hari.
Tabel 2. 1 Perlakuan Kombinasi Pada Tanah Ultisol
No. Perlakuan Kombinasi Pada Tanah Ultisol
1. Bahan Tanah Ultisol (Kontrol)
2. Bahan Tanah ditambahkan Cangkang Kelapa Sawit dan Serbuk Gergaji
3. Bahan Tanah ditambahkan Biochar Cangkang Kelapa Sawit dan Serbuk Gergaji
4. Bahan Tanah ditambahkan Biochar Cangkang Kelapa Sawit
5. Bahan Tanah ditambahkan Cangkang Kelapa Sawit
6. Bahan Tanah ditambahkan Serbuk Gergaji
Hasil penelitian dianalisa dengan uji analysis of variance (ANOVA). Apabila hasil analisa ragam
menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh nyata atau signifikan, maka dilanjutkan dengan uji Least
Significant Differences (LSD) 5%.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh Penambahan Kombinasi Serbuk Gergaji dan Biochar Dari Limbah Cangkang
Kelapa Sawit Terhadap Sifat Kimia Tanah Ultisol
3.1.1 Kandungan pH
Pengaruh pemberian biochar dari cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji terhadap pH tanah
ultisol dapat disajikan pada Tabel 3.1 berikut :
Tabel 3. 1 Nilai pH Tanah pada Berbagai perlakuan
Ulangan Rata-
No. Perlakuan
1 2 3 rata pH
1 Kontrol 4,56 4,76 4,97 4,76
2 CKS + SG 4,85 4,79 4,83 4,82
3 B + SG 5,21 5,29 5,35 5,28
4 B 5,29 5,21 5,25 5,25
5 CKS 5,11 5,10 5,17 5,13
6 `SG 4,89 4,88 4,87 4,88
Keterangan :
CKS = Cangkang Kelapa Sawit , SG = Serbuk Gergaji, B = Biochar
59
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
Hasil penelitian pada Tabel 3 . 1 menunjukan sebelum perlakuan nilai pH tanah tergolong masam
dengan rata-rata 4,76. Nilai pH tersebut sesuai dengan pendapat Latuponu (2011) menyatakan bahwa
tanah ultisol memiliki pH golongan masam. Kemudian setelah pemberian cangkang kelapa sawit dan
serbuk gergaji rata-rata pH tanah sebesar 4,82 kemudian biochar dan serbuk gergaji rata-rata pH tanah
sebesar 5,28, setelah pemberian biochar rata-rata pH tanah sebesar 5,25 kemudian setelah pemberian
cangkang kelapa sawit rata-rata pH sebesar 5,13 dan setelah penambahan serbuk gergaji rata-rata pH
sebesar 4,88. Dari semua perlakuan diatas nilai rata-rata pH tertinggi berada pada saat ditambahkan
biochar dan serbuk gergaji yaitu sebesar 5,28.
Berdasarkan uji F bahwa setelah adanya perlakuan menunjukan berpengaruh secara nyata
terhadap perubahan nilai pH tanah ultisol. Pada perlakuan kontrol pH tanah sebesar 4,76.
Kemudian setelah perlakuan terjadi peningkatan berkisar 4,82 – 5,28. Perubahan nilai pH tanah
dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3. 1 pH Tanah pada Berbagai Perlakuan
Berdasarkan hasil Uji LSD 5% menunjukan peningkatan pH setelah adanya perlakuan. Perlakuan
pertama atau kontrol (B0) bila dibandingkan dengan perlakuan ketiga, keempat dan kelima (B2,
B3, B4) memberikan perbedaan nyata. Namun pada perlakuan kedua dan kelima (B1-B5)
dibandingkan dengan kontrol (B0) tidak berbeda nyata. Perlakuan ketiga dan keempat (B2-B3)
terjadi peningkatan pH tanah sebesar 5,28 - 5,25 lihat (Gambar 4.1) hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya Endriani dkk (2013) bahwa peningkatan pH tanah masam berhubungan dengan
penambahan biochar, dikarenakan biochar yang diberikan ke dalam tanah memiliki pH biochar
mendekati netral yaitu 6,71 dengan demikian pH tanah sulfat masam juga terjadi peningkatan. Nilai pH
tanah yang meningkat dapat menambah unsur hara tanah dan merupakan kontribusi paling penting
dalam hal perbaikan kualitas tanah. Perlakuan kedua dan keenam (B1 dan B5) terjadi penurunan pH
tanah sebesar 4,82-4,88, Menurut Irawan (2016) penambahan bahan organik dapat meningkatkan atau
malah menurunkan pH tanah tergantung pada jenis tanah dan kelebihan jumlah asam-asam organik.
60
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
3.1.2 Kandungan KTK (Kapasitas Tukar Kation)
Pengaruh pemberian biochar dari cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji terhadap KTK tanah
ultisol dapat disajikan pada Tabel 3.2 berikut :
Tabel 3. 2 Nilai KTK Tanah pada Berbagai perlakuan
Ulangan (me/100g) Rata-rata
No. Perlakuan KTK
1 2 3
(me/100g)
1 Kontrol 12,39 12,66 12,93 12,66
2 CKS + SG 12,41 14,39 13,40 13,40
3 B + SG 17,34 15,40 13,49 15,41
4 B 12,93 13,07 13,22 13,07
5 CKS 11,80 11,33 11,06 11,40
6 `SG 11,65 12,12 13,23 12,33
Hasil penelitian pada Tabel 3 .2 menunjukan sebelum perlakuan nilai KTK tanah tergolong rendah
dengan rata-rata 12,66 me/100g. Menurut Standar Pusat Penelitian Tanah (1983) yang menyatakan
bahwa nilai KTK <5 maka bisa dikatakan kandungannya sangat rendah, dan apabila kandungannya 5
sampai 16 maka KTK tergolong rendah kemudian jika nilainya >25 maka tanah tersebut memiliki
kandungan KTK tinggi. Kemudian setelah penambahan cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji rata-
rata KTK sebesar 13,40 me/100g, penambahan biochar dan serbuk gergaji rata-rata KTK sebesar 15,41
me/100g, penambahan biochar diperoleh rata-rata KTK sebesar 13,07 me/100g kemudian penambahan
cangkang kelapa sawit diperoleh rata-rata KTK sebesar 11,40 me/100g dan penambahan serbuk gergaji
diperoleh rata-rata KTK sebesar 12,33 me/100g. Dari berbagai perlakuan diatas diperoleh nilai rata-rata
KTK tertinggi pada saat diberikan penambahan biochar dan serbuk gergaji yaitu sebesar 15,41
me/100g.
Berdasarkan uji F bahwa setelah perlakuan menunjukan adanya pengaruh secara nyata terhadap
perubahan nilai KTK tanah ultisol. Pada perlakuan kontrol KTK tanah sebesar 12,66 me/100g.
Kemudian setelah perlakuan terjadi peningkatan berkisar 13,40 m e/ 100g – 15,41 me/100g.
Perubahan nilai KTK tanah dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Berdasarkan hasil Uji LSD 5% menunjukan peningkatan KTK setelah adanya perlakuan. Perlakuan
pertama atau kontrol (B0) bila dibandingkan dengan perlakuan kedua dan ketiga (B1 dan B2)
memberikan perbedaan nyata. Berdasarkan penelitian Lisa (2015) semakin banyak penambahan
biochar maka dapat meningkatkan kandungan kation pada tanah ultisol. Sehingga pada penambahan
biochar dan serbuk gergaji mampu meningkatkan kation tanah menjadi 15,41 me/100g, namun nilai
tersebut masih tergolong rendah sehingga diperlukan dosis biochar yang lebih banyak untuk
meningkatkan KTK tanah ultisol. Namun pada perlakuan keempat, kelima dan keenam (B3, B4 dan
B5) dibandingkan dengan kontrol (B0) tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan pada perlakuan ini
61
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
tidak ada nya penambahan biochar sehingga tidak dapat meningkatkan kation secara signifikan.
Gambar 3. 2 KTK Tanah pada berbagai perlakuan
Keterangan : Nilai KTK yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak
berbeda nyata menurut uji LSD 5%
3.1.3 Kandungan NH4+
Pengaruh pemberian biochar dari cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji terhadap NH4+ tanah
ultisol dapat disajikan pada Tabel 3.3 berikut :
Tabel 3. 3 Nilai NH4+ Tanah pada Berbagai perlakuan
Ulangan (ppm) Rata-rata
No. Perlakuan NH4+
1 2 3
(ppm)
1 Kontrol 1,12 1,50 1,57 1,40
2 CKS + SG 4,23 5,54 4,88 4,88
3 B + SG 9,46 9,82 9,10 9,46
4 B 1,58 1,84 1,26 1,56
5 CKS 2,11 1,74 2,48 2,11
6 `SG 2,65 2,74 2,84 2,74
Hasil penelitian pada Tabel 3.3 menunjukan sebelum perlakuan nilai rata-rata NH4+ sebesar 1,40
ppm. Kemudian setelah penambahan cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji rata-rata NH4+ sebesar
4,88 ppm, penambahan biochar dan serbuk gergaji rata-rata NH4+ sebesar 9,46 ppm, penambahan
biochar diperoleh rata-rata NH4+ sebesar 1,56 ppm kemudian penambahan cangkang kelapa sawit
diperoleh rata-rata NH4+ sebesar 2,11 ppm dan penambahan serbuk gergaji diperoleh rata-rata NH4+
sebesar 2,74 ppm. Dari berbagai perlakuan diatas diperoleh nilai rata-rata NH4+ tertinggi pada saat
diberikan penambahan biochar dan serbuk gergaji yaitu sebesar 9,46 ppm.
62
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
Berdasarkan uji F bahwa setelah perlakuan menunjukan adanya pengaruh secara nyata terhadap
perubahan nilai NH4+ tanah ultisol. Pada perlakuan kontrol NH4+ tanah sebesar 1,40 ppm.
Kemudian setelah perlakuan terjadi peningkatan berkisar 1,56 ppm – 9,46 ppm . Perubahan nilai
NH4+ tanah dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Gambar 3. 3 Kandungan NH4+ pada berbagai perlakuan
Berdasarkan hasil Uji LSD 5% menunjukan peningkatan NH4+ setelah adanya perlakuan. Perlakuan
pertama atau kontrol (B0) bila dibandingkan dengan perlakuan kedua, ketiga, kelima dan keenam
(B1, B2, B4 dan B5) memberikan perbedaan nyata. Pada setiap perlakuan dapat meningkatkan N-NH4+
dengan penambahan bahan organik dapat terjadi proses mineralisasi yang membuat mikroorganisasi
merubah bahan organik menjadi mineral –N. Namun pada perlakuan keempat (B3) bila dibandingkan
dengan kontrol (B0) tidak berbeda nyata. Menurut Tillman dan Scotes (1991) pergerakan N-NH4+
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti besarnya hidrolisis urea (seperti air tanah) dan faktor penentu
nitrifikasi (seperti pH, air tanah, aktifitas bakteri nitrifikasi).
3.1.4 Kandungan N-total
Pengaruh pemberian biochar dari cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji terhadap N-total tanah
ultisol dapat disajikan pada Tabel 3.4 berikut :
Tabel 3. 4 Nilai N-total Tanah pada Berbagai perlakuan
Ulangan (%) Rata-rata N-
No. Perlakuan
1 2 3 total (%)
1 Kontrol 0,04 0,04 0,04 0,04
2 CKS + SG 0,06 0,06 0,05 0,06
3 B + SG 0,06 0,07 0,08 0,07
4 B 0,05 0,07 0,06 0,06
5 CKS 0,06 0,07 0,08 0,07
6 `SG 0,03 0,04 0,05 0,04
63
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
Hasil penelitian pada Tabel 4.4 menunjukan sebelum perlakuan nilai rata-rata N-total sebesar
0,04%. Kemudian setelah penambahan cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji rata-rata N-total
sebesar 0,06%, penambahan biochar dan serbuk gergaji rata-rata N-total sebesar 0,07%, penambahan
biochar diperoleh rata-rata N-total sebesar 0,06% kemudian penambahan cangkang kelapa sawit
diperoleh rata-rata N-total sebesar 0,07% dan penambahan serbuk gergaji diperoleh rata-rata N-total
sebesar 0,07%.
Berdasarkan uji F bahwa setelah perlakuan menunjukan adanya pengaruh secara nyata terhadap
perubahan nilai N-total tanah ultisol. Pada perlakuan kontrol N-total tanah sebesar 0,04%.
Kemudian setelah perlakuan terjadi peningkatan berkisar 0,05% – 0,0 7% . Perubahan nilai NH4+
tanah dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Keterangan : Nilai pH yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata
menurut uji LSD 5%
Gambar 3. 4 N-total pada berbagai perlakuan
Berdasarkan hasil Uji LSD 5% menunjukan peningkatan N-total setelah adanya perlakuan. Perlakuan
pertama atau kontrol (B0) bila dibandingkan dengan perlakuan kedua, ketiga, keempat dan kelima
(B1, B2, B3 da B4) memberikan perbedaan nyata. Pada perlakuan keenam (B5) bila dibandingkan
dengan kontrol (B0) tidak berbeda nyata. Dari perlakuan diatas memang terjadi perbedaan nyata tetapi
nilai nya tidak signifikan, menurut Hardjowigeno (2003) hal ini dapat disebabkan Nitrogen organik
yang dibenamkan kedalam tanah merupakan N organik yang bentuk kimianya tidak dapat diserap
begitu saja atau memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk diserap tanah ultisol.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Hasil penelitian menyimpulkan sebagai berikut :
1. Penambahan cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji memiliki pengaruh terhadap perbaikan
hara N-total, NH4+, dan KTK.
2. Penambahan biochar limbah cangkang kelapa sawit serta serbuk gergaji memiliki pengaruh
terhadap perbaikan hara N-total, NH4+, dan KTK.
64
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini sebaiknya melakukan penambahan bahan organik atau
pemupukkan untuk meningkatkan hara tanah ultisol. Untuk penelitain selanjutnya dilakukan parameter
faktor lingkungan seperti temperatur.
DAFTAR RUJUKAN
Aspacasri. 2013. Artikel Cangkang Sawit. [Link] diakses tanggal 1
November 2016
Bakkara, Lenaria. 2014. Pemanfaatan Pohon Kelapa [Link]://[Link]/4395654/8291PB,
diakses tanggal 25 Oktober 2016
Blanco-Canqui, H. and R. Lal. 2004. Mechanisms of carbon sequestration in soil agregates. Jurnal
Critical Reviews in Plant Sciences. ISSN 1549-7836. Vol 23 No 6, Hal 481-504. The Ohio
State University, USA.
Cristoper, H dan Marteen. 2008. Gasification : Second Edition. UK : Elsevier
Fitrianty, L. 2015. Pengaruh Dosis Biochar Dari Limbah Tandan Kelapa Sawit Terhadap Perubahan
Sifat Fisika – Kimia Tanah Ultisol Dengan Parameter Berat Jenis, Kadar Air, pH, KTK dan Al-
dd. Skripsi Jurusan Lingkungan. Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.
Gani, A. 2009. Biochar penyelamat lingkungan. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol
31, Hal 15-16.
Glaser, B., Lehmann, J., dan Zech, W. 2002. Ameliorating Physical and Chemical Properties of Highly
Weathered Soils in The Tropics with Charcoal –a review. Journal Biology and Fertility of Soils.
ISSN 1432-0789. Vol 35, Hal 219-230. University of Bayreuth, Germany.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta
Latuponu, H., Shiddieq, D., Syukur, A., & Hanudin, E. 2011. Pengaruh biochar dari limbah sagu
terhadap pelindian nitrogen di lahan kering masam. Jurnal Agronomika. Vol 11 No 2.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Liang, B., J. Lehmann, D. Solomon, S. Sohi, J.E. Thies, J.O. Skjemstad, F.J. Luizao, M.H. Engelhard,
E.G. Neves, and S. Wirick. 2008. Stability of Biomassderived Black Carbon in Soils. Journal
Geochimica et Cosmochimica Acta. Vol 72, Hal 6096-6078. Cornell University, New York.
Meriyenti. 2001. Pemanfaatan Kompos Kirinyuh, Serbuk Gergaji dan Arang Sekam Untuk Media
Semai Jati. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mulyani, A., Suharta, N. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Jurnal Tanah
dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor
Nurida, N. L., A. Dariah., dan A. Rachman. 2012. Kualitas limbah pertanian sebagai bahan baku
pembenah tanah berupa biochar untuk rehabilitasi lahan. Prosiding Seminar Nasional
Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor
Prasetyo, B.H., D. Subardja, dan B. Kaslan. 2005. Ultisol dari bahan volkan andesitic di lereng bawah
G. Ungaran. Jurnal Tanah dan Iklim. Vol 23, Hal 1−12. Pusat Penelitian Tanah Agroklimat,
Bogor
Rondon, M.A., J. Lehmann, J. Ramirez, dan M. Hurtado, 2007. Biological
Nitrogen Fixation by Common Beans (Phaseolus vulgaris L) Increases with Bio-char additions.
Journal Biology and Fertility Soils. ISSN 1432-0789. Vol 43, Hal 699-708. Cornell University,
New York.
65
JTAM Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Vol 1 (2) Tahun 2018
Rosmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Santi, L. P. dan D. H. Goenadi. 2010. Pemanfaatan bio-char sebagai pembawa mikroba untuk
pemantap agregat tanah Ultisol dari Taman Bogo- Lampung. Jurnal Menara Perkebunan, Vol
78 No 2, Hal 52 – 60. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan, Bogor.
Steinbeiss, S., G. Gleixner, M. Antonietti. 2009. Effect of biochar amendment on soil carbon balance
and soil microbial activity. Journal of Soil Biology and Biochemistry. Vol 41: 1301–1310. Max
Planck Institute for Biogeochemistry, Germany
Sudarmadji, S. 1996. Prosedur Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Tillman, R. W. & D. R. Scotter. 1991. Movement of Solute Associated with Intermittent Soil Water
Flow II. Nitrogen and Cation. Aust. J. Soil Res. 29: 185-196.
Yang, H., R. Yan, D.T. Liang, H. Chen & C. Zheng. 2006. Pyrolysis of Palm Oil Wastes for Biofuel
Production. Journal Energy and Environment. ISSN 1513-4121. Vol 7, Hal 315-323. Nanyang
Technological University, Singapore.
66