A.
Capaian Pembelajaran
1. Capaian Pembelajaran Pendidikan Aagama Katolik dan Budi Pekerti
1.A Rasional Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Rasional Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Pendidikan
pada dasarnya merupakan tanggungjawab utama dan pertama orangtua, demikian
pula dalam hal pendidikan iman anak. Pendidikan iman pertama-tama harus dimulai
dan dilaksanakan di lingkungan keluarga, tempat dan lingkungan dimana anak mulai
mengenal dan mengembangkan iman. Pendidikan iman yang dimulai dalam keluarga
perlu dikembangkan lebih lanjut dalam Gereja (Umat Allah), dengan bantuan pastor
paroki, katekis dan guru Pendidikan Agama Katolik di sekolah. Negara juga
mempunyai kewajiban untuk memfasilitasi agar pendidikan iman bisa terlaksana
dengan baik sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Salah satu bentuk
dukungan negara adalah dengan menyelenggarakan pendidikan iman (agama) secara
formal di sekolah yaitu Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
Belajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti mendorong peserta didik menjadi
pribadi beriman yang mampu menghayati dan mewujudkan imannya dalam
kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
membekali peserta didik dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang bersumber
dari Kitab Suci, Tradisi, Ajaran Gereja (Magisterium), dan pengalaman iman peserta
didik. Kurikulum Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti diharapkan mampu
mengembangkan kemampuan memahami, menghayati, mengungkapkan dan
mewujudkan iman para peserta didik. Mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekerti disusun secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran iman Gereja Katolik, dengan tetap
memperhatikan penghormatan terhadap agama dan kepercayaan lain. Hal ini
dimaksudkan juga untuk menciptakan hubungan antar umat beragama yang harmonis
dalam masyarakat Indonesia yang majemuk demi terwujudnya persatuan nasional.
1.B Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti bertujuan:
1. agar peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap membangun
hidup yang semakin beriman (beraklak mulia);
2. membangun hidup beriman Kristiani yang berarti membangun kesetiaan pada Injil
Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan
Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan, situasi dan perjuangan untuk
perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan
kesetiaan, dan kelestarian lingkungan hidup; dan
3. mendidik pesera didik menjadi manusia paripurna yang berkarakter mandiri,
bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan global sesuai dengan
tata paham dan tata nilai yang diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus Kristus sehingga
nilai-nilai yang dihayati dapat tumbuh dan membudaya dalam sikap dan perilaku
peserta didik.
1.C Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti diorganisasikan dalam
lingkup empat elemen konten dan empat kecakapan. Empat elemen konten tersebut
adalah:
Elemen Deskripsi
Pribadi Peserta Didik Elemen ini membahas tentang diri sebagai
laki-laki atau perempuan yang memiliki
kemampuan dan keterbatasan kelebihan
dan kekurangan, yang dipanggil untuk
membangun relasi dengan sesama serta
lingkungannya sesuai dengan Tradisi
Katolik.
Yesus Kristus Elemen ini membahas tentang pribadi
Yesus Kristus yang mewartakan Allah Bapa
dan Kerajaan Allah, seperti yang terungkap
dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, agar peserta didik berelasi
dengan Yesus Kristus dan meneladani-Nya.
Gereja Elemen ini membahas tentang makna
Gereja agar peserta didik mampu
mewujudkan kehidupan menggereja.
Masyarakat Elemen ini membahas tentang perwujudan
iman dalam hidup bersama di tengah
masyarakat sesuai dengan Tradisi Katolik.
Kecakapan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi
Pekerti adalah memahami, menghayati, mengungkapkan, dan mewujudkan.
Dengan memiliki kecakapan memahami, peserta didik diharapkan memiliki
pemahaman ajaran iman Katolik yang otentik. Kecakapan menghayati
membantu peserta didik dapat menghayati iman Katoliknya sehingga mampu
mengungkapkan iman dalam berbagai ritual ungkapan iman dan pada
akhirnya mampu mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat. Kecakapan ini merupakan dasar pengembangan konsep belajar
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
1.D Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Katolik dan Budi Pekerti setiap Fase
1. Fase E (Untuk kelas X SMK)
Pada akhir Fase E, peserta didik memahami dirinya sebagai pibadi yang
unik, sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki kesetaraan sebagai
Citra Allah; yang memiliki suara hati, sehingga mampu bersikap kritis
dan bertanggung jawab terhadap pengaruh media massa, ideologi dan
gaya hidup yang berkembang saat ini; memahami Kitab Suci, Tradisi Suci
dan Magisterium sebagai sumber untuk mengenal pribadi Yesus dan
karya-Nya; memahami peran Roh Kudus dan Allah Tri Tunggal;
meneladan Yesus sebagai idola, sahabat sejati, Putera Allah dan Juru
selamat serta membangun hidup yang berpolakan pribadi Yesus Kristus
dalam mewujudkan imannya di tengah masyarakat.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pribadi Peserta Didik Peserta didik mampu memahami dirinya sebagai
pibadi yang unik, setara antara laki-laki dan
perempuan, serta memiliki kean sebagai Citra Allah;
memiliki suara hati sehingga mampu bersikap kritis
dan bertanggung jawab terhadap pengaruh media
massa, ideologi dan gaya hidup yang berkembang
saat ini.
Yesus Kristus Peserta didik memahami Kitab Suci Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru, Tradisi Suci dan Magisterium
sebagai sumber untuk mengenal pribadi Yesus dan
karya-Nya yang mewartakan dan memperjuangkan
Kerajaan Allah, sengsara, wafat, kebangkitan dan
kenaikan Yesus ke surga; memahami peran Roh Kudus
dan Allah Tri Tunggal. Pada akhirnya peserta didik
mampu meneladan Yesus sebagai idola, sahabat sejati,
Putera Allah dan Juru selamat serta membangun
hidup yang berpolakan pribadi Yesus Kristus sebagai
perwujudan imannya di tengah masyarakat.
Gereja -
Masyarakat -
2. Fase F (Untuk kelas X dan XII SMK)
Pada akhir Fase F, peserta didik memahami arti, makna, dan sifat
Gereja; karya pastoral Gereja; peran hierarki dan awam; ajaran sosial dan
Hak Asasi Manusia; mengembangkan budaya kasih, menghormati
kehidupan; memahami makna panggilan hidup, nilai- nilai penting dalam
masyarakat, menghargai keberagaman, membangun dialog dan kerjasama;
mewujudkan sifat serta karya pastoral Gereja di dalam kehidupan sehari-
hari di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat.
Fase F Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pribadi Peserta Didik Peserta didik mampu memahami makna panggilan
hidup (berkeluarga, membiara, karya/profesi).
Yesus Kristus -
Gereja Peserta didik mampu memahami arti dan makna
Gereja, sifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, Apostolik),
peran hierarki dan awam dalam Gereja, karya
pastoral Gereja (Liturgia, Kerygma, Martyria,
Koinonia, Diakonia).
Masyarakat Peserta didik mampu memahami hubungan Gereja
dan dunia, Ajaran Sosial Gereja, Hak Asasi Manusia
dalam terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja;
mengembangkan budaya kasih, menyadari hidup itu
milik Allah (contoh kasus moral aktual: aborsi, bunuh
diri, euthanasia dan hukuman mati), memilih gaya
hidup sehat (bebas dari HIV/AIDS dan obat terlarang).
Pada akhirnya peserta didik dapat mengambil bagian
dalam mewujudkan sifat-sifat dan karya pastoral
Gereja dalam hidupnya serta menjadi agen dalam
pengembangan moral hidup kristiani dalam
masyarakat.
Peserta didik mampu memperjuangkan nilai-nilai
penting dalam masyarakat yang bermartabat seturut
ajaran Yesus; menghargai keberagaman dalam
masyarakat sebagai anugerah Allah, membangun
dialog dan kerja sama antar umat beragama dan
berkepercayaan serta berperan dalam pembangunan
bangsa Indonesia, sebagai perwujudan imannya
dalam hidup sehari-hari di tengah keluarga, Gereja
dan masyarakat.
2. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan
Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dan Budi Pekerti
A. Rasional Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang
Maha Esa dan Budi Pekerti
Negara Indonesia memiliki dasar negara dan landasan ideologi, yaitu
Pancasila. Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya Bangsa
Indonesia. Sila pertama yang menjiwai dan meliputi sila-sila dalam
Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Perwujudan sila pertama
itu di antaranya adalah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
selanjutnya ditulis Kepercayaan. Kepercayaan itu merupakan salah satu
modal dasar pembangunan nasional yang meyakini nilai-nilai budaya yang
lahir dan rujukan pembentukan karakter bangsa Indonesia.
Pentingnya pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
untuk menjawab tentang sejarah asal usul Kepercayaan Terhadap Tuhan
Yang Maha Esa (Bustami, 2017), makna dan tujuan utama kehidupan
melalui budi pekerti (Sumiyati & Sumarwanto, 2017), dasarnya
Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Hernandi, 2017), martabat
spiritual, masalah larangan dan kewajiban, dan arti menjadi manusia.
Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tentang budi
pekerti meliputi budi pekerti kepada sesama makhluk, kepada masyarakat,
kepada lingkungan, kepada bangsa dan negara, serta anjuran serta
larangan. Sejarah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di
Indonesia meliputi asal usul ajaran, perkembangan Penghayat, dan peran
dan sumbangsih dalam perjuangan dan pergerakan nasional serta
pembangunan nasional. Pelindungan, pelayanan, dan pembinaan negara
terhadap Penghayat menjadi bagian penting materi sejarah. Martabat
spiritual meliputi unsur-unsur dan bentuk martabat spiritual bidang
filsafat, seni, arsitektur, dan ekspresi budaya spiritual.
Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa berkontribusi
dalam mempromosikan rasa saling menghormati dan toleransi dalam
masyarakat beragam. Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang
Maha Esa ini juga menawarkan untuk refleksi pribadi untuk membangun
keindonesiaan (Basuki, 2005) dan perkembangan spiritual nusantara
sehingga memperdalam
pemahaman tentang pentingnya nila-nilai kearifan lokal dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara pada situasi keberagaman global.
B. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dan Budi Pekerti
Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
bertujuan untuk memastikan peserta didik:
1. Memahami sejarah Kepercayaan terhadap Tuhan YME untuk
mengetahui keteladanan tentang kejujuran (tokoh, sosok, panutan)
mengenai perjuangan, pendidikan, dan kemanusiaan;
2. Memiliki kepedulian dalam berbagai persitiwa kehidupan baik
lingkungan dan masyarakat di sekitarnya pada khususnya serta
kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya, bersikap disiplin
dan bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang
diembannya serta memiliki sikap santun, pemaaf, adi luhung yang
merupakan budaya asli pemahaman dari ajaran budi pekerti luhur;
3. Memiliki sikap toleransi terhadap sesama manusia untuk bisa
menerima perbedaan pada masyarakat yang beragam baik secara lokal
maupun global dengan cara menyampaikan pendapat secara santun
dan menghargai serta mendengarkan pendapat yang berbeda sebagai
bukti penumbuhan budi pekerti luhur serta pengembangan kedewasaan
diri.
4. Meyakini adanya Tuhan dan Tuhan itu Maha Esa, meyakini
kemahakuasaan Tuhan, mengenal dan mensyukuri karunia Tuhan
berupa alam semesta beserta isinya yang merupakan ciptaan Tuhan.
5. Mencintai budaya spiritual nusantara dan kearifan lokal masing-
masing daerah, serta mampu menunjukkan percaya diri sebagai
pengemban ajaran Kepercayaan warisan leluhur yang proaktif
mempromosikan penghargaan kebhinekaan dan keragaman global.
6. Menunjukkan perbuatan baik dan menjauhkan perbuatan buruk serta
mampu menjelaskan pentingnya menunaikan kewajiban untuk
senantiasa mendasarkan budi luhur dalam semua tindakan dan
mencegah perbuatan buruk yang ada di rumah, sekolah, dan
lingkungan sekitarnya.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan Budi Pekerti
Mata pelajaran pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
digambarkan dalam 5 elemen pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang
Maha Esa yang meliputi (1) Sejarah, (2) Keagungan Tuhan, (3) Budi
pekerti, (4) Martabat spiritual, (5) Larangan dan kewajiban. Secara rinci
elemen-elemen Mata Pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan
Yang Maha Esa adalah sebagai berikut:
Elemen Deskripsi
Sejarah Pada elemen ini, peserta didik peserta didik dapat
menguraikan catatan perkembangan sejarah
Kepercayaan terhadap Tuhan YME, serta
mengambil nilai kebijaksanaan dan tauladan dari
sejarah tokoh penghayat Kepercayaan, serta
pelaku dan pejuang Kepercayaan
Keagungan Tuhan Pada elemen ini, peserta diarahkan untuk
Memahami kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
sehingga dapat menunjukkan sikap taat kepada
Tuhan Yang Maha Esa bedasarkan pengamatan
terhadap dirinya dan alam sekitar baik secara
mandiri serta penuh percaya diri dan tanggung
jawab dengan menjalankan prilaku perilaku hidup
bersih dan sehat serta sikap santun dan
menghargai sesama manusia. Selain itu peserta
dididk dapa mengakui dan menerima adanya
keterbatasan dalam diri manusia
Budi Pekerti Pada elemen ini, peserta didik menunjukkan
perilaku budi pekerti luhur dan keteladanan
dengan cara menghayati peran serta dan
sumbangsih penghayat Kepercayaan dalam
kegiatan kemasyarakatan serta di kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Martabat Spiritual Pada elemen ini, peserta didik mempelajari
keragaman budaya nusantara dan kearifan lokal,
bentuk-bentuk ritual, serta menunjukkan sikap
religius dengan kecerdasan spiritual.
Larangan dan Pada elemen ini, peserta didik memahami
Kewajiban pentingnya berbuat baik dan menghindari
perbuatan buruk serta melaksanakan kewajiban
dalam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha
Esa
D. Capaian Pembelajaran Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/SMK/ Program Paket C)
Peserta didik mampu menghayati ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, sehingga dapat menunjukkan perilaku budi pekerti
luhur yang responsif dan proaktif untuk menjadi bagian dari solusi atas
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dan
negara dalam pergaulan keragaman global. Peserta didik juga mampu
menerapkan, menganalisis dan menilai pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural serta hasil kreasinya berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu dan teknologi, seni, budaya terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah sehingga menumbuhkan rasa syukur atas adanya
kekuasaan dan keberadaan Tuhan. Peserta didik juga harus mampu
mengolah, menalar, menyajikan hasil analisis dan penilaiannya secara
kreatif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengkajian
ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa secara
mandiri serta bertindak secara efektif, kreatif, dan mampu
menjalankan ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang luas dan beragam.
Peserta didik dapat menjelaskan Sejarah Kepercayaan terhadap Tuhan
YME dan Asal usul kehidupan. Peserta didik dapat menjelaskan
konsep prosedural penumbuhan budi pekerti luhur dalam dirinya serta
penerapan kehidupan. Peserta didik dapat mendeskripsikan unsur-
unsur diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dalam
kehidupan dan penghidupannya. Peserta didik juga dapat
mendeskripsikan pola ritual religius ajaran Kepercayaan Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa serta mencintai nilai kearifan lokal
lingkungan hidup dengan kreasi penerapannya dalam nilai ekospiritual
dan teknologi kekinian. Peserta didik dapat mendeskripsikan ragam
larangan dan kewajiban ajaran Kepercayaannya
Diakhir fase ini, peserta didik mampu mengkomunikasikan hasil
analisis dan penilaian tentang aspek sejarah Kepercayaan Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dikaitkan dengan keragaman budaya spiritual
nusantara serta makna berbudi pekerti luhur dalam ajaran Kepercayaan
Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam lingkungan yang luas dan
beragam.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Sejarah Pada akhir Fase E, peserta didik dapat
mengamalkan Ajaran Kepercayaannya
Peserta didik dapat mengkomunikasikan sejarah
Kepercayaan terhadap Tuhan YME, dan
Peserta didik juga
dapat memberikan argumentasi pengetahuan
tentang sistem Kepercayaan prosedural asal-
usulhidup dan kehidupan dengan beberapa teori asal
mula alam semesta.
Keagungan Pada akhir Fase E, peserta didik dapat menghayati
Tuhan keagungan Tuhan dengan rasa syukur atas
karunia adanya ciptaan-Nya serta
mendeskripsikan unsur-unsur diri dan kewajiban
manusia sujud syukur sebagai makhluk ciptaan
Tuhan YME,
Budi Pekerti Pada akhir Fase E, peserta didik dapat
mengamalkan dan mengkomunikasikan konsep
prosedural penumbuhan sikap budi pekerti luhur
dalam dirinya serta penerapannya dalam wujud
sikap tanggungjawab, kerja keras dan peduli
berbagi, sopan -menghargai, santun – menerima
berbeda pendapat, serta sikap taat azas –
terpercaya dalam kehidupannya berbangsa dan
bernegara berdasarkan nilai nilai Pancasila
Martabat Pada akhir Fase E, peserta didik dapat menghayati
Spiritual dan mendeskripsikan pola ritual religius ajaran
Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di
daerahnya serta mencintai nilai kearifan lokal
lingkungan hidup
Peserta didik mengamalkan nilai religius spiritual
melalui kreasi penerpan nilai ekospiritual dan
teknologi kekinian dalam kehidupan dan
penghidupan.
Larangan dan Pada akhir Fase E peserta didik dapat menghayati
Kewajiban dan mengamalkan perbuatan baik menerapkan
ajaran Kepercayaannya. Peserta didik dapat
mendeskripsikan ragam larangan dan kewajiban
ajaran Kepercayaannya
2. Fase F (Umumnya untuk kelas XI dan XII SMA/SMK/Program Paket C)
Peserta didik mampu menghayati ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan
Yang Maha Esa sehingga dapat menunjukkan perilaku budi pekerti
luhur yang responsif dan proaktif untuk menjadi bagian dari solusi atas
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dan negara
dalam pergaulan keragaman global. Peserta didik juga mampu
menerapkan, menganalisis dan menilai pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, serta metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang tentang ilmu dan teknologi, seni, budaya terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah sehingga menumbuhkan rasa syukur
atas adanya kekuasaan dan keberadaan Tuhan. Peserta didik
juga harus
mampu mengolah, menalar, menyajikan dan menciptakan dalam ranah konkret dan
abstrak terkait dengan pengembangan ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang
Maha Esa secara mandiri serta bertindak secara efektif, kreatif, dan mampu
menjalankan ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
situasi dan kondisi lingkungan yang luas dan beragam.
Pesert didik dapat mengkreasi Perjuangan dan eksistensi Kepercayaan Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa di daerahnya serta mendeskripsikan nilai-nilai keteladanan
tokoh Kepercayaan dalam lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Peserta didik
dapat mendeskripsikan makna kebaikan, bertanggung jawab, percaya diri,
mengamalkan sikap santun, sabar dan pemaaf; dan menyajikan praktik pengamalan
nilai-nilai keteladanan berbudi pekerti luhur dalam kehidupan masyarakat, berbangsa
dan bernegara. Peserta didik dapat mendeskripsikan pentingya perilaku bersyukur atas
karunia dan rasa cinta kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Peserta didik dapat
menjelaskan konsep hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta.
Peserta didik mampu mengevaluasi kecerdasan spiritual dan kearifan local serta
mengekspresikan wujud cinta budaya spiritual nusantara dengan membuat karya
ilmiah dan atau atraksi kebudayaan. Peserta didik dapat menyajikan hasil analisis
tahapan prosedural pencapaian menjalankan kewajiban dan tahapan menghindari
larangan dalam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Diakhir fase ini, peserta didik mampu menghasilkan gagasan dan ide untuk
mengkomunikasikan hasil kreasi dan penilaian tentang makna berbudi pekerti luhur
dalam ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam lingkungan yang
luas dan beragam. Peserta didik juga mampu menunjukkan sikap budi pekerti luhur
dalam lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan
kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pergaulan keragaman global.
Fase F Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Sejarah Pada akhir Fase F, peserta didik dapat memberikan
argumentasi pengetahuan tentang prosedural asal-
usul hidup dan kehidupan dengan beberapa teori
asal mula alam semesta.
Peserta didik mengkontruksi sejarah dan perjuangan
Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
meliputi keteladanan dan perjuangan pendidikan
dan kemanusiaan menjadi nilai yang terkristalisasi
dalam lingkup pergaulan global.
Keagungan Pada akhir Fase F, peserta didik dapat menjelaskan
Tuhan hubungan Tuhan YME dengan asal-usul adanya
sesuatu serta hidup dan kehidupan.
Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara
manusia dan Tuhan melalui pengenalan dirinya
sebagai ciptaan-Nya, menyadari percikan energi
semesta dan KeiIIahian dalam diri untuk
kepentingn sesama manusia, yang selaras dengan
hukum alam semesta
Budi Pekerti Pada akhir Fase F, peserta didik dapat membangun
nilai-nilai Luhur Keindonesiaan baik dalam
lingkungan maupun dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Pada akhir pembelajaran peserta didik dapat
mengamalkan dan meneladankan pribadi mandiri
bertanggung jawab, sikap saling mengasihi sesama
mahkluk, dan sikap memayu hayuning bawono
(menjaga dan melestarikan alam semesta) di
lingkungan hidupnya.
Martabat Pada akhir Fase F, peserta didik dapat
Spiritual mengamalkan sikap pelajar sepanjang hayat yang
memiliki kompetensi global dan berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,
Peserta didik dapat mengembangkan sikap saling
mengasihi antar sesama hidup dalam kehidupan
sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara serta keragaman global tanpa kehilangan
jati diri penghayat dan ke-Indonesiaannya.
Peserta didik dapat menerima dan memahami
bisikan hati nurani dan tanggap terhadap tanda-
tanda alam dalam upaya mencapai keselarasan
hidup lahir dan batin.
Larangan dan Pada akhir Fase F, peserta didik dapat
Kewajiban mengamalkan ajaran Kepercayaan
Peserta didik dapat memahami, menghadapi, dan
mengatasi berbagai masalah dan tantangan hidup
dengan kematangan jiwa dalam pengamalan budi
pekerti luhur.
3. CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN MATEMATIKA
A. Rasional Mata Pelajaran Matematika
Matematika merupakan ilmu atau pengetahuan tentang belajar atau
berpikir logis yang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup yang
mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai
peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir
manusia. Matematika dipandang sebagai materi pembelajaran yang harus
dipahami sekaligus sebagai alat konseptual untuk mengonstruksi dan
merekonstruksi materi tersebut, mengasah, dan melatih kecakapan
berpikir yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan.
Belajar matematika dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Kompetensi tersebut
diperlukan agar pembelajar memiliki kemampuan memperoleh,
mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada
keadaan yang selalu berubah, penuh dengan ketidakpastian, dan bersifat
kompetitif.
Mata Pelajaran Matematika membekali peserta didik tentang cara
berpikir, bernalar, dan berlogika melalui aktivitas mental tertentu yang
membentuk alur berpikir berkesinambungan dan berujung pada
pembentukan alur pemahaman terhadap materi pembelajaran matematika
berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, relasi, masalah, dan solusi
matematis tertentu yang bersifat formal-universal. Proses mental tersebut
dapat memperkuat disposisi peserta didik untuk merasakan makna dan
manfaat matematika dan belajar matematika serta nilai- nilai moral dalam
belajar Mata Pelajaran Matematika, meliputi kebebasan, kemahiran,
penaksiran, keakuratan, kesistematisan, kerasionalan, kesabaran,
kemandirian, kedisiplinan, ketekunan, ketangguhan, kepercayaan diri,
keterbukaan pikiran, dan kreativitas. Dengan demikian relevansinya
dengan profil pelajar Pancasila, Mata Pelajaran Matematika ditujukan
untuk mengembangkan kemandirian, kemampuan bernalar kritis, dan
kreativitas peserta didik. Adapun materi pembelajaran pada Mata
Pelajaran Matematika di setiap jenjang pendidikan dikemas melalui
bidang kajian Bilangan, Aljabar, Pengukuran, Geometri, Analisis Data
dan Peluang, dan Kalkulus (sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII).
B. Tujuan Mata Pelajaran Matematika
Mata Pelajaran Matematika bertujuan untuk membekali peserta didik
agar dapat:
1. memahami materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep,
prinsip, operasi, dan relasi matematis dan mengaplikasikannya
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah
matematis (pemahaman matematis dan kecakapan prosedural),
2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematis dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika (penalaran dan
pembuktian matematis),
3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merancang model matematis, menyelesaikan model atau
menafsirkan solusi yang diperoleh (pemecahan masalah matematis).
4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau
media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, serta
menyajikan suatu situasi ke dalam simbol atau model matematis
(komunikasi dan representasi matematis),
5. mengaitkan materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep,
prinsip, operasi, dan relasi matematis pada suatu bidang kajian, lintas
bidang kajian, lintas bidang ilmu, dan dengan kehidupan (koneksi
matematis), dan
6. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam
mempelajari matematika, serta sikap kreatif, sabar, mandiri, tekun,
terbuka, tangguh, ulet, dan percaya diri dalam pemecahan masalah
(disposisi matematis).
C. Karakteristik Mata Pelajaran Matematika
Mata Pelajaran Matematika diorganisasikan dalam lingkup lima
elemen konten (dengan tambahan 1 elemen sebagai pilihan untuk kelas
XI dan XII) dan lima elemen proses.
1. Elemen konten dalam Mata Pelajaran Matematika terkait dengan
pandangan bahwa matematika sebagai materi pembelajaran (subject
matter) yang harus dipahami peserta didik. Pemahaman matematis
terkait erat dengan pembentukan alur pemahaman terhadap materi
pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, dan
relasi yang bersifat formal-universal.
Elemen Deskripsi
Bilangan Bidang kajian Bilangan membahas tentang angka
sebagai simbol bilangan, konsep bilangan, operasi
hitung bilangan, dan relasi antara berbagai operasi
hitung bilangan dalam subelemen representasi visual,
sifat urutan, dan operasi
Aljabar Bidang kajian Aljabar membahas tentang aljabar non-
formal dalam bentuk simbol gambar sampai dengan
aljabar formal dalam bentuk simbol huruf yang
mewakili bilangan tertentu dalam subelemen
persamaan dan pertidaksamaan, relasi dan pola
bilangan, serta rasio dan proporsi.
Pengukuran Bidang kajian Pengukuran membahas tentang
besaran- besaran pengukuran, cara mengukur
besaran tertentu, dan membuktikan prinsip atau
teorema terkait besaran tertentu dalam subelemen
pengukuran besaran geometris dan non-geometris.
Geometri Bidang kajian Geometri membahas tentang berbagai
bentuk bangun datar dan bangun ruang baik dalam
kajian Euclides maupun Non-Euclides serta ciri-
cirinya dalam subelemen geometri datar dan
geometri ruang.
Analisis Data Bidang kajian Analisis Data dan Peluang membahas
dan Peluang tentang pengertian data, jenis-jenis data, pengolahan
data dalam berbagai bentuk representasi, dan analisis
data kuantitatif terkait pemusatan dan penyebaran
data serta peluang munculnya suatu data atau kejadian
tertentu dalam subelemen data dan representasinya,
serta ketidakpastian dan peluang.
Kalkulus Bidang kajian Kalkulus membahas tentang laju
(sebagai perubahan sesaat dari suatu fungsi kontinu, dan
pilihan untuk mencakup topik limit, diferensial, dan integral, serta
kelas XI dan penggunaannya.
XII)
2. Elemen proses dalam mata pelajaran Matematika terkait dengan
pandangan bahwa matematika sebagai alat konseptual untuk
mengonstruksi dan merekonstruksi materi pembelajaran matematika
berupa aktivitas mental yang membentuk alur berpikir dan alur
pemahaman yang dapat mengembangkan kecakapan- kecakapan.
Elemen Deskripsi
Penalaran Penalaran terkait dengan proses penggunaan pola
dan hubungan dalam menganalisis situasi untuk
Pembuktian menyusun serta menyelidiki praduga. Pembuktian
Matematis matematis terkait proses membuktikan kebenaran
suatu prinsip, rumus, atau teorema tertentu.
Pemecahan Pemecahan masalah matematis terkait dengan proses
Masalah penyelesaian masalah matematis atau masalah sehari-
Matematis hari dengan cara menerapkan dan mengadaptasi
berbagai strategi yang efektif. Proses ini juga
mencakup konstruksi dan rekonstruksi pemahaman
matematika melalui pemecahan masalah.
Komunikasi Komunikasi matematis terkait dengan pembentukan
alur pemahaman materi pembelajaran matematika
melalui cara mengomunikasikan pemikiran matematis
menggunakan bahasa matematis yang tepat.
Komunikasi matematis juga mencakup proses
menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematis
orang lain.
Representasi Representasi matematis terkait dengan proses
Matematis membuat dan menggunakan simbol, tabel, diagram,
atau bentuk lain untuk mengomunikasikan gagasan
dan pemodelan matematika. Proses ini juga mencakup
fleksibilitas dalam mengubah dari satu bentuk
representasi ke bentuk representasi lainnya, dan
memilih representasi yang paling sesuai untuk
memecahkan masalah.
Koneksi Koneksi matematis terkait dengan proses mengaitkan
Matematis antar materi pembelajaran matematika pada suatu
bidang kajian, lintas bidang kajian, lintas bidang
ilmu, dan dengan kehidupan.
D. Capaian Pembelajaran Matematika Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/SMK/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase E, peserta didik dapat menggeneralisasi sifat-sifat
operasi bilangan berpangkat (eksponen), serta menggunakan barisan
dan deret (aritmetika dan geometri) dalam bunga tunggal dan bunga
majemuk. Mereka dapat menggunakan sistem persamaan linear tiga
variabel, sistem pertidaksamaan linear dua variabel, persamaan dan
fungsi kuadrat dan persamaan dan fungsi eksponensial dalam
menyelesaikan masalah. Mereka dapat menentukan perbandingan
trigonometri dan memecahkan masalah yang melibatkan segitiga
siku-siku. Mereka juga dapat menginterpretasi dan membandingkan
himpunan data berdasarkan distribusi data, menggunakan diagram
pencar untuk menyelidiki hubungan data numerik, dan mengevaluasi
laporan berbasis statistika. Mereka dapat menjelaskan peluang dan
menentukan frekuensi harapan dari kejadian majemuk, dan konsep
dari kejadian saling bebas dan saling lepas.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Bilangan Di akhir fase E, peserta didik dapat menggeneralisasi
sifat-sifat bilangan berpangkat (termasuk bilangan
pangkat pecahan). Mereka dapat menerapkan barisan
dan deret aritmetika dan geometri, termasuk masalah
yang terkait bunga tunggal dan bunga majemuk.
Aljabar and Di akhir fase E, peserta didik dapat menyelesaikan
Fungsi masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan
linear tiga variabel dan sistem pertidaksamaan linear
dua variabel. Mereka dapat menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan persamaan dan fungsi kuadrat
(termasuk akar imajiner), dan persamaan eksponensial
(berbasis sama) dan fungsi eksponensial.
Pengukuran -
Geometri Di akhir fase E, peserta didik dapat menyelesaikan
permasalahan segitiga siku-siku yang melibatkan
perbandingan trigonometri dan aplikasinya.
Analisis Di akhir fase E, peserta didik dapat merepresentasikan
Data dan dan menginterpretasi data dengan cara menentukan
Peluang jangkauan kuartil dan interkuartil. Mereka dapat
membuat dan menginterpretasi box plot (box-and-
whisker plot) dan menggunakannya untuk
membandingkan himpunan data. Mereka dapat
menggunakan dari box plot, histogram dan dot plot
sesuai dengan natur data dan kebutuhan. Mereka
dapat menggunakan diagram pencar untuk menyelidiki
dan menjelaskan hubungan antara dua variabel
numerik (termasuk salah satunya variabel bebas
berupa waktu). Mereka dapat mengevaluasi laporan
statistika di media berdasarkan tampilan, statistika dan
representasi data.
Peserta didik dapat menjelaskan peluang dan
menentukan frekuensi harapan dari kejadian majemuk.
Mereka menyelidiki konsep dari kejadian saling bebas
dan saling lepas, dan menentukan peluangnya.
[Link] F (Umumnya untuk kelas XI dan XII
SMA/SMK/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase F, peserta didik dapat memodelkan pinjaman dan
investasi dengan bunga majemuk dan anuitas. Mereka dapat
menyatakan data dalam bentuk matriks, dan menentukan fungsi
invers, komposisi fungsi dan transformasi fungsi untuk
memodelkan situasi dunia nyata. Mereka dapat menerapkan
teorema tentang lingkaran, dan menentukan panjang busur dan
luas juring lingkaran untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga
dapat melakukan proses penyelidikan statistika untuk data
bivariat dan mengevaluasi berbagai laporan berbasis statistik.
Fase F Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Bilangan Di akhir fase F, peserta didik dapat memodelkan pinjaman
dan investasi dengan bunga majemuk dan anuitas, serta
menyelidiki (secara numerik atau grafis) pengaruh masing-
masing parameter (suku bunga, periode pembayaran) dalam
model tersebut.
Aljabar dan Di akhir fase F, peserta didik dapat menyatakan data dalam
Fungsi bentuk matriks. Mereka dapat menentukan fungsi invers,
komposisi fungsi, dan transformasi fungsi untuk
memodelkan situasi dunia nyata menggunakan fungsi yang
sesuai (linear, kuadrat, eksponensial).
Pengukuran -
Geometri Di akhir fase F, peserta didik dapat menerapkan teorema
tentang lingkaran, dan menentukan panjang busur dan luas
juring lingkaran untuk menyelesaikan masalah (termasuk
menentukan lokasi posisi pada permukaan Bumi dan jarak
antara dua tempat di Bumi).
Analisis Di akhir fase F, peserta didik dapat melakukan proses
Data dan penyelidikan statistika untuk data bivariat. Mereka dapat
Peluang mengidentifikasi dan menjelaskan asosiasi antara dua
variabel kategorikal dan antara dua variabel numerikal.
Mereka dapat memperkirakan model linear terbaik (best fit)
pada data numerikal. Mereka dapat membedakan hubungan
asosiasi dan sebab-akibat.
Peserta didik memahami konsep peluang bersyarat dan
kejadian yang saling bebas menggunakan konsep
permutasi dan kombinasi.
Kalkulus -
1. Fase F+ (Sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII)
Pada akhir fase F+, peserta didik dapat menyelesaikan masalah terkait
polinomial, melakukan operasi aljabar pada matriks dan
menerapkannya dalam transformasi geometri. Mereka dapat
menyatakan vektor pada bidang datar, melakukan operasi aljabar pada
vektor dan menggunakan-nya pada pembuktian geometris. Mereka
dapat mengenal berbagai fungsi dan menggunakannya untuk
memodelkan fenomena, serta menyatakan sifat-sifat geometri
dengan persamaan pada sistem koordinat. Mereka dapat
mengevaluasi hasil keputusan dengan menggunakan distribusi
peluang dengan menghitung nilai yang diharapkan, dan juga dapat
menerapkan konsep dasar kalkulus di dalam konteks pemecahan
masalah aplikasi dalam berbagai bidang.
Fase F+ Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Bilangan -
Aljabar dan Di akhir fase F+, peserta didik dapat melakukan operasi
Fungsi aritmetika pada polinomial (suku banyak), menentukan
faktor polinomial, dan menggunakan identitas polinomial
untuk menyelesaikan masalah.
Peserta didik dapat melakukan operasi aljabar pada
matriks dan menerapkannya dalam transformasi
geometri.
Peserta didik dapat menyatakan fungsi trigonometri
menggunakan lingkaran satuan, memodelkan fenomena
periodik dengan fungsi trigonometri, dan membuktikan
serta menerapkan identitas trigonometri dan aturan
cosinus dan sinus.
Peserta didik dapat mengenal berbagai fungsi
(termasuk fungsi rasional, fungsi akar, fungsi
eksponensial, fungsi logaritma, fungsi nilai mutlak,
fungsi tangga dan fungsi piecewise) dan
menggunakannya untuk memodelkan
berbagai fenomena.
Pengukuran -
Geometri Di akhir fase F+, peserta didik dapat menyatakan vektor
pada bidang datar, dan melakukan operasi aljabar pada
vektor. Mereka dapat melakukan pembuktian geometris
menggunakan vektor.
Peserta didik dapat menyatakan sifat-sifat geometri
dari persamaan lingkaran, elips dan persamaan garis
singgung.
Analisa Data Di akhir fase F+, peserta didik memahami variabel diskrit
dan Peluang acak dan fungsi peluang, dan menggunakannya dalam
memodelkan data. Mereka dapat menginterpretasi
parameter distribusi data secara statistik (seragam,
binomial dan normal), menghitung nilai harapan
distribusi binomial dan normal, dan menggunakannya
dalam penyelesaian masalah.
Kalkulus Di akhir fase F+, peserta didik dapat memahami laju
perubahan dan laju perubahan rata-rata, serta laju
perubahan sesaat sebagai konsep kunci derivatif
(turunan), baik secara geometris maupun aljabar. Mereka
dapat menentukan turunan dari fungsi polinomial,
eksponensial, dan trigonometri, dan menerapkan
derivatif (turunan) untuk membuat sketsa kurva,
menghitung gradien dan menentukan persamaan garis
singgung, menentukan kecepatan sesaat dan
menyelesaikan soal optimasi. Mereka dapat memahami
integral, baik sebagai proses yang merupakan kebalikan
dari derivatif (turunan) dan juga sebagai cara
menghitung luas. Mereka memahami teorema dasar
kalkulus sebagai penghubung antara derivatif (turunan)
dan integral.
4. CAPAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
A. Rasional Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang dominan digunakan
secara global dalam aspek pendidikan, bisnis, perdagangan, ilmu
pengetahuan, hukum, pariwisata, hubungan internasional, kesehatan,
dan teknologi. Mempelajari bahasa Inggris memberikan peserta didik
kesempatan untuk berkomunikasi dengan warga dunia dari latar
belakang budaya yang berbeda. Dengan menguasai bahasa Inggris,
maka peserta didik akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk
berinteraksi dengan menggunakan berbagai teks. Dari interaksi
tersebut, mereka memperoleh pengetahuan, mempelajari berbagai
keterampilan, dan perilaku manusia yang dibutuhkan untuk dapat hidup
dalam budaya dunia yang beraneka ragam.
Pembelajaran bahasa Inggris umum pada jenjang Pendidikan Dasar
dan Menengah (SD/MI/Program Paket A; SMP/MTs/Program Paket B;
dan SMA/MA/Program Paket C) dalam kurikulum nasional
memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk membuka wawasan
yang berkaitan dengan diri sendiri, hubungan sosial, kebudayaan, dan
kesempatan kerja yang tersedia secara global. Mempelajari bahasa
Inggris memberikan peserta didik kemampuan untuk mendapatkan
akses ke dunia luar dan memahami cara berpikir yang berbeda.
Pemahaman mereka terhadap pengetahuan sosial-budaya dan
interkultural ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Dengan memahami budaya lain dan interaksinya dengan budaya
Indonesia, mereka mengembangkan pemahaman yang mendalam
tentang budaya Indonesia, memperkuat identitas dirinya, dan dapat
menghargai perbedaan.
Pembelajaran bahasa Inggris difokuskan pada penguatan kemampuan
menggunakan bahasa Inggris dalam enam keterampilan berbahasa,
yakni menyimak, berbicara, membaca, memirsa, menulis, dan
mempresentasikan secara terpadu, dalam berbagai jenis teks. Capaian
Pembelajaran minimal keenam keterampilan bahasa Inggris ini
mengacu pada Common European Framework of Reference for
Languages: Learning, Teaching, Assessment (CEFR) dan setara
level B1. Level B1 (CEFR) mencerminkan spesifikasi yang dapat
dilihat dari kemampuan peserta didik untuk:
- mempertahankan interaksi dan menyampaikan sesuatu yang
diinginkan, dalam berbagai konteks dengan artikulasi jelas;
- mengungkapkan pokok pikiran utama yang ingin disampaikan secara
komprehensif; dan
- mempertahankan komunikasi walaupun terkadang masih terdapat jeda.
Pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang Pendidikan Dasar dan
Menengah (SD/MI/Program Paket A; SMP/MTs/Program Paket B; dan
SMA/MA/Program Paket C) diharapkan dapat membantu peserta didik
berhasil mencapai kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris
sebagai bagian dari life skills. Pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran bahasa Inggris umum adalah pendekatan berbasis teks
(genre-based approach), yakni pembelajaran difokuskan pada teks,
dalam berbagai moda, baik lisan, tulisan, visual, audio, maupun
multimodal. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikatakan oleh
Halliday dan Mathiesen (2014: 3) bahwa “When people speak or write,
they produce text, and text is what listeners and readers engage with
and interpret.” Ada empat tahapan dalam pendekatan berbasis teks,
dan keempat tahapan ini dilakukan dalam pembahasan mengenai topik
yang sama.
1. Building Knowledge of the Field (BKOF): Guru membangun
pengetahuan atau latar belakang pengetahuan peserta didik terhadap
topik yang akan ditulis atau dibicarakan. Pada tahapan ini, guru
juga membangun konteks budaya dari teks yang diajarkan.
2. Modelling of the Text (MOT): Guru memberikan model/contoh teks
sebagai acuan bagi peserta didik dalam menghasilkan karya, baik secara
lisan maupun tulisan.
3. Joint Construction of the Text (JCOT): Guru membimbing peserta
didik dan bersama-sama memproduksi teks.
4. Independent Construction of the Text (ICOT): peserta didik
memproduksi teks lisan dan tulisan secara mandiri (Emilia, 2011).
Komunikasi akan terjadi pada tingkat teks, bukan hanya sekadar kalimat.
Artinya, makna tidak hanya disampaikan oleh kata-kata, melainkan harus
didukung oleh konteks. Setiap teks memiliki tujuan, seperti
mendeskripsikan, menjelaskan, bercerita, dsb. (Agustien, 2020).
Pembelajaran bahasa Inggris umum di dalam kurikulum nasional membantu
peserta didik untuk menyiapkan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat,
yang memiliki Profil Pelajar Pancasila seperti beriman dan berakhlak mulia,
mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebhinekaan global.
Profil ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Inggris umum,
karena pembelajarannya yang bersifat dinamis dan fluid, yaitu memberikan
kesempatan bagi peserta didik untuk terlibat dalam pemilihan teks atau
jenis aktivitas belajarnya. Pembelajaran bahasa Inggris memiliki peluang
untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila melalui materi teks tertulis, visual,
teks oral, maupun aktivitas-aktivitas yang dikembangkan dalam proses
belajar mengajar.
Mata pelajaran Bahasa Inggris pada jenjang Pendidikan Dasar dan
Menengah (SD/MI/Program Paket A; SMP/MTs/Program Paket B; dan
SMA/MA/Program Paket C) dapat diselenggarakan sebagai mata
pelajaran pilihan bagi satuan pendidikan yang memiliki kesiapan sumber
daya. Satuan pendidikan yang belum siap memberikan mata pelajaran
Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan dapat mengintegrasikan
muatan Bahasa Inggris ke dalam mata pelajaran lain dan/atau
ekstrakurikuler dengan melibatkan masyarakat, komite sekolah, relawan
mahasiswa, dan/atau bimbingan orang tua.
B. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Mata pelajaran bahasa Inggris bertujuan untuk memastikan peserta didik
dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Mengembangkan kompetensi komunikatif dalam bahasa Inggris dengan
berbagai teks multimodal (lisan, tulisan, visual, dan audiovisual).
2. Mengembangkan kompetensi interkultural untuk memahami dan
menghargai perspektif, praktik, dan produk budaya Indonesia dan
budaya asing.
3. Mengembangkan kepercayaan diri untuk berekspresi sebagai individu
yang mandiri dan bertanggung jawab.
4. Mengembangkan keterampilan bernalar kritis dan kreatif.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Inggris
1. Jenis teks yang diajarkan dalam bahasa Inggris umum beragam,
misalnya narasi, deskripsi, eksposisi, prosedur, argumentasi, diskusi,
teks khusus (pesan singkat, iklan), dan teks otentik. Beragam teks
ini disajikan bukan hanya dalam bentuk teks tulisan saja, tetapi juga
teks lisan (monolog atau dialog), teks visual, teks audio, dan teks
multimodal (teks yang mengandung aspek verbal, visual dan audio), baik
otentik maupun teks yang dibuat untuk tujuan pengajaran, baik tunggal
maupun teks ganda, yang diproduksi dalam kertas maupun layar. Hal ini
diupayakan untuk memfasilitasi peserta didik agar terampil
menggunakan teknologi (literasi teknologi), sehingga dapat
meningkatkan kemampuan mereka dalam menavigasi informasi digital.
2. Guru dapat menentukan jenis teks yang ingin diajarkan sesuai dengan
kondisi di kelas. Pembelajaran dapat dimulai dari jenis teks yang
memuat topik yang sudah dikenal oleh peserta didik untuk membantu
mereka memahami isi teks yang dibacanya dan kemudian mampu
menghasilkan teks jenis tersebut dalam bentuk lisan dan tulisan.
Selanjutnya, guru dapat memperkenalkan peserta didik dengan jenis teks
yang baru diketahui oleh peserta didik. Guru dapat membantu mereka
membangun pemahaman terhadap jenis teks baru tersebut, sehingga
peserta didik mampu menghasilkan karya dalam jenis teks tersebut, baik
lisan maupun tulisan. Pemilihan jenis teks juga dapat disesuaikan dengan
kondisi yang sering dialami oleh peserta didik baik di dalam konteks
sekolah, maupun konteks di rumah agar peserta didik memiliki
kesempatan untuk mempelajari dan mempraktikkan teks tersebut dalam
kehidupan nyata.
3. Proses belajar berfokus pada peserta didik (learner-centred) (Tyler,
1949, 1990), yakni bahwa proses belajar harus difokuskan pada upaya
mengubah perilaku peserta didik (yang asalnya dari tidak mampu
menjadi mampu), dalam menggunakan bahasa Inggris pada enam
keterampilan berbahasa dalam berbagai jenis teks.
4. Pembelajaran bahasa Inggris umum difokuskan pada kemampuan
berbahasa peserta didik sesuai dengan tahapan perkembangan
kemampuan berbahasa. Pembelajaran bahasa Inggris umum mencakup
elemen keterampilan reseptif (menyimak, membaca, dan memirsa), serta
keterampilan produktif (berbicara, menulis, dan mempresentasikan).
Berikut elemen-elemen mata pelajaran serta deskripsinya
Elemen Deskripsi
Menyimak Kemampuan memahami informasi, memberikan
apresiasi kepada lawan bicara, dan memahami
informasi yang didengar, sehingga dapat
menyampaikan tanggapan secara relevan dan
kontekstual. Proses yang terjadi dalam menyimak
mencakup kegiatan seperti mendengarkan,
mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi
bunyi bahasa, lalu memahami makna.
Keterampilan menyimak juga merupakan
kemampuan komunikasi non-verbal yang
mencakup seberapa baik seseorang menangkap
makna (tersirat dan tersurat) pada sebuah paparan
lisan dan memahami ide pokok dan pendukung
pada konten informasi maupun konteks yang
melatari paparan tersebut (Petri, 2017).
Membaca Kemampuan memahami, menggunakan, dan
merefleksi teks sesuai tujuan dan kepentingannya,
untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi
seseorang agar ia dapat berpartisipasi dengan
masyarakat (OECD, 2000).
Memirsa Kemampuan memahami, menggunakan, dan
merefleksi teks visual sesuai tujuan dan
kepentingannya.
Berbicara Kemampuan menyampaikan gagasan, pikiran,
serta perasaan secara lisan dalam interaksi sosial.
Menulis Kemampuan menyampaikan, mengomunikasikan
gagasan, mengekspresikan kreativitas dan
mencipta dalam berbagai genre teks tertulis,
dengan cara yang efektif dan dapat dipahami, serta
diminati oleh pembaca dengan struktur organisasi
dan unsur kebahasaan yang tepat.
Mempresentasikan Kemampuan memaparkan gagasan secara fasih,
akurat, dapat dipertanggungjawabkan dengan cara
yang komunikatif melalui beragam media (visual,
digital, dan audiovisual), dan dapat dipahami oleh
pendengar. Penyampaian dalam berbicara dan
mempresentasikan perlu disusun dan
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan atau
karakteristik penyimak.
B. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris Setiap Fase
1. Fase E, Umumnya untuk Kelas X (SMA/MA/AMK/Program Paket C)
Pada akhir Fase E, peserta didik menggunakan teks lisan, tulisan dan visual dalam bahasa
Inggris untuk berkomunikasi sesuai dengan situasi, tujuan, dan pemirsa/pembacanya. Berbagai
jenis teks seperti narasi, deskripsi, prosedur, eksposisi, recount, report, dan teks otentik menjadi
rujukan utama dalam mempelajari bahasa Inggris di fase ini. Peserta didik menggunakan
bahasa Inggris untuk menyampaikan keinginan/perasaan dan berdiskusi mengenai topik yang
dekat dengan keseharian mereka atau isu yang hangat sesuai usia peserta didik di fase ini.
Mereka membaca teks tulisan untuk mempelajari sesuatu/mendapatkan informasi. Keterampilan
inferensi tersirat ketika memahami informasi, dalam bahasa Inggris mulai berkembang. Peserta
didik memproduksi teks tulisan dan visual yang lebih beragam, dengan kesadaran terhadap
tujuan dan target pembaca.
Elemen Menyimak – Berbicara
Pada akhir Fase E, peserta didik menggunakan bahasa Inggris
untuk berkomunikasi dengan guru, teman sebaya dan orang lain
dalam berbagai macam situasi dan tujuan. Mereka menggunakan
dan merespon pertanyaan dan menggunakan strategi untuk
memulai dan mempertahankan percakapan dan diskusi. Mereka
memahami dan mengidentifikasi ide utama dan detail relevan
dari diskusi atau presentasi mengenai topik yang dekat dengan
kehidupan pemuda.
Mereka menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan
opini terhadap isu yang dekat dengan kehidupan pemuda dan
untuk membahas minat. Mereka memberikan pendapat dan
membuat perbandingan. Mereka menggunakan elemen non-
verbal seperti bahasa tubuh, kecepatan bicara, dan nada suara
untuk dapat dipahami dalam sebagian konteks.
By the end of Phase E, students use English to communicate with
teachers, peers and others in a range of settings and for a range of
purposes. They use and respond to questions and use strategies to
initiate and sustain conversations and discussion. They
understand and identify the main ideas and relevant details of
discussions or presentations on youth-related topics. They use
English to express opinions on youth-related issues and to discuss
youth-related interests. They give and make comparisons. They
use non-verbal elements such as gestures, speed and pitch to be
understood in some contexts.
Elemen Membaca – Memirsa
Pada akhir Fase E, peserta didik membaca dan merespon
berbagai macam teks seperti narasi, deskripsi, prosedur,
eksposisi, recount, dan report. Mereka membaca untuk
mempelajari sesuatu atau untuk mendapatkan informasi. Mereka
mencari dan mengevaluasi detil spesifik dan inti dari berbagai
macam jenis teks. Teks ini dapat berbentuk cetak atau digital,
termasuk di antaranya teks visual, multimodal atau interaktif.
Pemahaman mereka terhadap ide pokok,
isu-isu atau pengembangan plot dalam berbagai macam teks
mulai berkembang. Mereka mengidentifikasi tujuan penulis dan
mengembangkan keterampilannya untuk melakukan inferensi
sederhana dalam memahami informasi tersirat dalam teks.
By the end of Phase E, students read and respond to a variety of
texts, such as narratives, descriptions, procedures, expositions,
recount and report. They read to learn or to find information. They
locate and evaluate specific details and main ideas of a variety of texts.
These texts may be in the form print or digital texts, including visual,
multimodal or interactive texts. They are developing understanding of
main ideas, issues or plot development in a variety of texts. They identify
the author’s purposes and are developing simple inferential skills to help
them understand implied information from the texts.
Elemen Menulis – Mempresentasikan
Pada akhir Fase E, peserta didik menulis berbagai jenis teks fiksi dan
non-fiksi, melalui aktivitas yang dipandu, menunjukkan kesadaran
peserta didik terhadap tujuan dan target pembaca. Mereka membuat
perencanaan, menulis, mengulas dan menulis ulang berbagai jenis tipe
teks dengan menunjukkan strategi koreksi diri, termasuk tanda baca
dan huruf besar. Mereka menyampaikan ide menggunakan kosakata
dan kata kerja umum dalam tulisannya. Mereka menyajikan informasi
menggunakan berbagai mode presentasi untuk menyesuaikan dengan
pembaca/pemirsa dan untuk mencapai tujuan yang berbeda-beda,
dalam bentuk cetak dan digital.
By the end of phase E, students write a variety of fiction and non-fiction
texts, through guided activities, showing an awareness of purpose and
audience. They plan, write, review and redraft a range of text types with
some evidence of self-correction strategies, including punctuation and
capitalization. They express ideas and use common/daily vocabulary
and verbs in their writing. They present information using different
modes of presentation to suit different audiences and to achieve different
purposes, in print and digital forms
2. Fase F, Umumnya untuk Kelas XI dan XII (SMA/SMK/MA/Program
Paket C)
Pada akhir Fase F, peserta didik menggunakan teks lisan, tulisan dan
visual dalam bahasa Inggris untuk berkomunikasi sesuai dengan situasi,
tujuan, dan pemirsa/pembacanya. Berbagai jenis teks seperti narasi,
deskripsi, eksposisi, prosedur, argumentasi, diskusi, dan teks otentik
menjadi rujukan utama dalam mempelajari bahasa Inggris di fase ini.
Peserta didik menggunakan bahasa Inggris untuk berdiskusi dan
menyampaikan keinginan/perasaan. Peserta didik menggunakan
keterampilan berbahasa Inggris untuk mengeksplorasi berbagai teks
dalam berbagai macam topik kontekstual. Mereka membaca teks tulisan
untuk mempelajari sesuatu/mendapatkan informasi dan untuk
kesenangan. Pemahaman mereka terhadap teks tulisan semakin
mendalam. Keterampilan inferensi tersirat ketika memahami informasi, dan
kemampuan evaluasi berbagai jenis teks dalam bahasa Inggris sudah berkembang.
Mereka memproduksi teks lisan dan tulisan serta visual dalam bahasa Inggris yang
terstruktur dengan kosakata yang lebih beragam. Peserta didik memproduksi beragam
teks tulisan dan visual, fiksi maupun non-fiksi dengan kesadaran terhadap tujuan dan
target pembaca/pemirsa.
Elemen Menyimak – Berbicara
Pada akhir Fase F, peserta didik menggunakan bahasa Inggris untuk
berkomunikasi dengan guru, teman sebaya dan orang lain dalam
berbagai macam situasi dan tujuan. Mereka menggunakan dan
merespon pertanyaan terbuka dan menggunakan strategi untuk
memulai, mempertahankan dan menyimpulkan percakapan dan
diskusi. Mereka memahami dan mengidentifikasi ide utama dan detail
relevan dari diskusi atau presentasi mengenai berbagai macam topik.
Mereka menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan opini
terhadap isu sosial dan untuk membahas minat, perilaku dan nilai-
nilai lintas konteks budaya yang dekat dengan kehidupan pemuda.
Mereka memberikan dan mempertahankan pendapatnya, membuat
perbandingan dan mengevaluasi perspektifnya. Mereka menggunakan
strategi koreksi dan perbaikan diri, dan menggunakan elemen non-
verbal seperti bahasa tubuh, kecepatan bicara dan nada suara untuk
dapat dipahami dalam sebagian besar konteks.
By the end of Phase F, students use English to communicate with
teachers, peers and others in a range of settings and for a range of
purposes. They use and respond to open-ended questions and use
strategies to initiate, sustain and conclude conversations and discussion.
They understand and identify the main ideas and relevant details of
discussions or presentations on a wide range of topics. They use English
to express opinions on social issues and to discuss youth-related
interests, behaviours and values across cultural contexts. They give and
justify opinions, make comparisons and evaluate perspectives. They
employ self-correction and repair strategies, and use non-verbal elements
such as gestures, speed and pitch to be understood in most contexts.
Elemen Membaca – Memirsa
Pada akhir Fase F, peserta didik membaca dan merespon berbagai
macam teks seperti narasi, deskripsi, eksposisi, prosedur, argumentasi,
dan diskusi secara mandiri. Mereka membaca untuk mempelajari
sesuatu dan membaca untuk kesenangan. Mereka mencari, membuat
sintesis dan mengevaluasi detil spesifik dan inti dari berbagai macam
jenis teks. Teks ini dapat berbentuk cetak atau digital, termasuk di
antaranya teks visual, multimodal atau interaktif. Mereka menunjukkan
pemahaman terhadap ide pokok, isu-isu atau pengembangan plot
dalam berbagai macam teks. Mereka mengidentifikasi tujuan penulis
dan melakukan inferensi untuk memahami informasi tersirat dalam
teks.
By the end of Phase F, students independently read and respond to a
wide range of texts such as narratives, descriptives, expositions,
procedures, argumentatives and discussions. They read to learn and read
for pleasure. They locate, synthesize and evaluate specific details and gist
from a range of text genres. These texts may be in the form of print or
digital texts, including visual, multimodal or interactive texts. They
demonstrate an understanding of the main ideas, issues or plot
development in a range of texts. They identify the author’s purpose and
make inference to comprehend implicit information in the text.
Elemen Menulis – Mempresentasikan
Pada akhir Fase F, peserta didik menulis berbagai jenis teks fiksi dan
faktual secara mandiri, menunjukkan kesadaran peserta didik terhadap
tujuan dan target pembaca. Mereka membuat perencanaan, menulis,
mengulas dan menulis ulang berbagai jenis tipe teks dengan
menunjukkan strategi koreksi diri, termasuk tanda baca, huruf besar,
dan tata bahasa. Mereka menyampaikan ide kompleks dan
menggunakan berbagai kosakata dan tata bahasa yang beragam dalam
tulisannya. Mereka menuliskan kalimat utama dalam paragraf-paragraf
mereka dan menggunakan penunjuk waktu untuk urutan, juga
konjungsi, kata penghubung dan kata ganti orang ketiga untuk
menghubungkan atau membedakan ide antar dan di dalam paragraf.
Mereka menyajikan informasi menggunakan berbagai mode presentasi
untuk menyesuaikan dengan pemirsa dan untuk mencapai tujuan yang
berbeda-beda, dalam bentuk cetak dan digital.
By the end of Phase F, students independently write an extensive range
of fictional and factual text types, showing an awareness of purpose and
audience. They plan, write, review and redraft a range of text types with
some evidence of self-correction strategies, including punctuation,
capitalization and tenses. They express complex ideas and use a wide
range of vocabulary and verb tenses in their writing. They include topic
sentences in their paragraphs and use time markers for sequencing, also
conjunctions, connectives and pronoun references for linking or
contrasting ideas between and within paragraphs. They present
information using different modes of presentation to suit different
audiences and to achieve different purposes, in print and digital forms
D.1 CAPAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS TINGKAT LANJUT
A. Rasional Mata Pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut
Bahasa Inggris Tingkat Lanjut adalah program di luar pengajaran bahasa
Inggris wajib, yang diberikan untuk Kelas XI dan XII (SMA/MA/Program
Paket C) dengan memfasilitasi peserta didik yang benar-benar berminat untuk
mempelajari bahasa Inggris dengan lebih komprehensif dan terfokus. Program
ini diharapkan dapat membantu peserta didik agar berhasil mencapai
kemampuan akademik yang ditargetkan serta life skills yang diperlukan untuk
dapat hidup dalam tatanan dunia dan teknologi yang berubah dengan cepat.
Selain life skills, di dalam pembelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut juga
menekankan pada keterampilan Abad 21 (berpikir kritis, kreativitas,
komunikasi, dan kolaborasi), pengembangan karakter, dan literasi sesuai
kebutuhan.
Pengajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut ini memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris,
pada keempat keterampilan bahasa Inggris yang meliputi menyimak,
berbicara, membaca dan menulis, kepada tingkat yang lebih tinggi.
Capaian Pembelajaran minimal keempat keterampilan Bahasa Inggris pada
program Bahasa Inggris Tingkat Lanjut ini mengacu pada Common
European Framework of Reference for Languages: Learning, Teaching,
Assessment (CEFRL) dan setara Level B2. English Level B2 adalah tingkat
keempat bahasa Inggris, yakni tingkat Upper Intermediate dalam Common
European Framework of Reference (CEFR), suatu penentuan berbagai
tingkat kecakapan bahasa yang disusun oleh Dewan Eropa. Dalam
percakapan sehari- hari, tingkat ini biasa disebut sebagai confident atau
percaya diri. Pada tingkat ini, peserta didik dapat berfungsi secara mandiri
di berbagai lingkungan akademik dan profesional menggunakan bahasa
Inggris, meskipun dengan berbagai nuansa dan keakuratan yang terbatas.
([Link] EF, CEFR,
[Link]
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris Tingkat
Lanjut ini adalah pendekatan berbasis teks (genre-based approach),
yakni pembelajaran difokuskan pada teks, dalam berbagai moda, baik
lisan, tulisan, visual, audio, maupun multimodal.
Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman dalam
menggunakan teks-teks berbahasa Inggris untuk memahami dan
menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural berdasarkan
rasa keingintahuan (curiousity) tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, dan budaya terkait fenomena dan kejadian tampak kasad mata.
Teks menjadi fokus pembelajaran sebagaiamana yang dikatakan oleh
Halliday dan Mathiesen (2014: 3) bahwa “When people speak or write, they
produce text, and text is what listeners and readers engage with and
interpret.” Untuk itu, pengajaran juga difokuskan pada penguatan
kemampuan menggunakan bahasa Inggris dalam empat keterampilan
berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis secara
terpadu, dalam tiga jenis teks, yakni naratif, eksposisi, dan diskusi. Ada 4
tahap pada pengajaran bahasa yang menggunakan pendekatan berbasis teks:
tahap pertama Building Knowledge of Field; guru dan peserta didik
membangun konteks budaya, berbagi pengalaman, membahas kosakata,
pola-pola kalimat, dan sebagainya. Pada tahap kedua, Modelling of Text;
guru menunjukkan teks model (lisan atau tulisan) dari jenis teks yang
sedang dipelajari. Tahap ketiga, Joint Construction of Text; peserta didik
mencoba memproduksi teks secara berkelompok dengan bantuan guru.
Tahap keempat, Independent Construction of Text; peserta didik diberi
kesempatan untuk memproduksi teks lisan dan tulisan secara mandiri,
dengan bimbingan guru yang minimal, hanya kalau diperlukan.
Pembelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut juga dirancang untuk
membentuk Profil Pelajar Pancasila seperti beriman dan berakhlak mulia,
mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebhinekaan global,
baik secara langsung maupun tidak langsung msupun tifsk langsung
dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam melalui pembelajaran
yang bersifat kontekstual. Dalam kaitannya dengan tujuan pembentukan
Profil Pelajar Pancasil, pengajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut
diharapkan dapat mewujudkan peserta didik yang merdeka, yakni menjadi
pengguna bahasa Inggris yang mandiri dan percaya diri, selain itu,
pembentukan Profil Pelajar Pancasila juga dapat dicapai melalui berbagai
aktivitas pembelajaran dengan berbagai jenis teks.
B. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut
Mata pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut bertujuan untuk
memastikan peserta didik sebagai berikut.
1. Menggunakan bahasa Inggris secara mandiri dan dengan rasa percaya
diri untuk mencapai tujuan komunikasi baik lisan maupun tulisan dalam
tiga jenis teks, yakni naratif, eksposisi, dan diskusi dalam empat
keterampilan berbahasa secara terpadu, dengan kompetensi bahasa
Inggris setara Level B2 CEFR.
Pada Level B2 CEFR, peserta didik diharapkan mampu:
a. memahami gagasan utama dari teks yang kompleks baik tentang
topik konkrit terkait kejadian-kejadian di lingkungan sekitar,
maupun abstrak terkait isu mutakhir atau topik terkait mata
pelajaran lain dalam teks naratif, eksposisi, dan diskusi;
b. berinteraksi dengan lancar, spontan, dan mampu berinteraksi secara
teratur dengan penutur jati bahasa Inggris, serta cukup mungkin
tanpa ada hambatan bagi kedua belah pihak yang berkomunikasi
atau berinteraksi;
c. memproduksi teks dengan struktur organisasi yang jelas dan detail,
tentang berbagai topik dan menjelaskan pendapat atau pandangan
terkait isu dalam topik tertentu dengan memberikan manfaat dan
kelemahan (pro dan kontra) dari berbagai pilihan atau pendapat.
Semua karakteristik kemampuan bahasa Inggris Level B2 di atas sesuai
dengan tujuan dari teks naratif, eksposisi, dan diskusi.
2. Memiliki keterampilan Abad 21, termasuk berpikir kritis, kreatif,
berkomunikasi lisan dan tulisan, dan mampu bekerja sama, serta mampu
berliterasi digital.
3. Menjadi warga masyarakat global yang tetap memegang teguh nilai-
nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dengan
mengedepankan Profil Pelajar Pancasila seperti beriman dan berakhlak
mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan
berkebhinekaan global.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut
1. Pengajaran mencakup empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak,
berbicara, membaca dan menulis yang diajarkan secara terintegrasi
dalam siklus pengajaran berbasis teks, khususnya 3
jenis teks, yakni naratif, eksposisi, dan diskusi. Teks naratif dipilih
karena tiga alasan utama. Pertama, teks naratif merupakan life— worlds
(Macken-Horarik, dkk, 2017: 32) peserta didik, tersedia di setiap masa,
dalam setiap kalangan dan kelompok usia, dalam berbagai jenis dan
topik, mulai dari topik sejarah sampai topik terkini. Kedua, teks naratif
bertujuan untuk menghibur, dan merupakan bagian dari karya sastra.
Hal ini diharapkan mampu menarik perhatian dan meningkatkan minat
peserta didik untuk terus belajar bahasa Inggris. Alasan terakhir adalah
naratif juga memainkan peran penting dalam menentukan cara
pandang seseorang terhadap dunia (Bruner, 1986; Gee, 1989,1999,
dalam Lopez-Bonilla, 2011:49). Teks eksposisi dan diskusi dipilih
karena jenis teks ini mempunyai peranan yang sangat penting, tidak
hanya di dunia akademik, tetapi juga di dunia kerja. Teks eksposisi dan
diskusi menuntut peserta didik untuk mampu menggunakan bahasa
Inggris untuk mengemukakan pendapat tentang suatu isu, dengan
mengungkapkan argumen yang didukung fakta, data, dan pendapat para
ahli terkait isu tersebut. Teks diskusi, khususnya, menuntut peserta
didik untuk melihat satu isu dari berbagai perspektif, minimal dua
perspektif, yakni perspektif yang mendukung dan menentang.
Pengajaran teks diskusi dapat memfasilitasi peserta didik untuk berlatih
berdebat dalam bahasa Inggris dan juga kemampuan yang sangat
penting baik dalam dunia akademik maupun dalam dunia kerja
dewasa ini. Kedua jenis teks ini, dengan argumen sebagai bagian
utama, berperan penting dalam pengembangan kemampuan berpikir
kritis dan mendapat perhatian besar dari pemerintah dewasa ini.
2. Ketiga teks ini disajikan bukan hanya dalam bentuk teks tulisan, tetapi
juga teks lisan (monolog atau dialog), teks visual, teks audio, dan teks
multimodal (teks yang mengandung aspek verbal, visual dan audio),
baik otentik maupun teks yang dibuat untuk tujuan pengajaran, baik
tunggal maupun teks ganda, yang diproduksi dalam kertas maupun
layar. Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi peserta didik supaya
terampil menggunakan teknologi (literasi teknologi), sehingga
kemampuan peserta didik meningkat dalam mengelola informasi
digital.
3. Pengajaran sastra dan lintas budaya menjadi bagian dari
pengajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, karena teks merupakan
konstruksi sosial, pembahasan teks tidak akan terlepas dari
pembahasan budaya yang direfleksikan dalam setiap teks yang dibahas.
Dengan demikian, pengajaran sastra dan budaya sudah inklusif dalam
pengajaran pada 3 jenis teks di atas.
4. Konsep belajar yang digunakan adalah the zone of proximal
development, yakni bahwa proses belajar harus menciptakan jarak antara
tingkat perkembangan aktual yang ditentukan oleh penyelesaian
masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan yang dicapai di
bawah bimbingan orang dewasa (guru) atau kerja sama dengan teman
sebaya yang lebih mampu (Vygotsky, 1978: 86). Dalam kaitannya
dengan konsep merdeka belajar, pengajaran Bahasa Inggris Tingkat
Lanjut diharapkan dapat mewujudkan para peserta didik yang
merdeka, yakni menjadi pengguna bahasa Inggris yang mandiri dan
percaya diri.
5. Proses belajar berlangsung berdasarkan konsep bahwa belajar
merupakan proses sosial, dan peserta didik belajar bahasa, belajar
melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa (Halliday, dalam Feez and
Joyce, 1998).
6. Proses belajar terjadi dalam kerangka apprenticeship (magang), di mana
guru berperan sebagai ahli yang bisa memberikan bimbingan sampai
peserta didik memiliki kemampuan yang diharapkan. Proses belajar
selanjutnya berfokus pada peserta didik (learner- centred) (Tyler, 1949,
1990), yakni bahwa proses belajar harus difokuskan pada upaya
mengubah perilaku peserta didik (yang asalnya dari tidak mampu
menjadi mampu), dalam menggunakan bahasa Inggris pada empat
keterampilan berbahasa dalam jenis teks naratif, eksposisi, dan diskusi.
7. Prinsip belajar adalah scaffolding, yakni bantuan tutorial yang diberikan
oleh guru atau orang dewasa lain yang mengetahui cara mengontrol hal-
hal yang berada di luar kapasitas peserta didik (Wood, Bruner and Ross,
1976; Wells, 1999). Guru berperan mengajarkan kepada peserta didik
cara melakukan sesuatu, dalam hal ini cara menggunakan bahasa
Inggris dan memberikan kesempatan untuk mempraktikkannya
(Mendelsohn, 2008: 56).
Elemen-elemen mata pelajaran beserta deskripsinya
Elemen Deskripsi
Menyimak (Listening) Peserta didik diharapkan mencapai kemampuan
yang ditargetkan dalam mata pelajaran Bahasa
Inggris wajib dan mampu memahami gagasan
utama dari teks dengaran yang kompleks baik
tentang topik konkrit terkait kejadian-kejadian di
lingkungan sekitar, maupun abstrak terkait isu
mutakhir atau topik terkait mata pelajaran lain
dalam teks naratif, eksposisi dan diskusi.
Membaca (Reading) Peserta didik diharapkan mencapai kemampuan
yang ditargetkan dalam mata pelajaran Bahasa
Inggris wajib dan mampu memahami gagasan
utama dari teks tulis, baik dalam bentuk cetak
maupun dalam visual, baik teks tunggal maupun
ganda, dan yang kompleks baik topik konkrit
terkait kejadian-kejadian di lingkungan sekitar,
maupun abstrak terkait isu mutakhir atau topik
terkait mata pelajaran lain dalam teks naratif,
eksposisi dan diskusi.
Menulis (Writing) Peserta didik diharapkan mencapai kemampuan
yang ditargetkan dalam mata pelajaran Bahasa
Inggris wajib dan mampu memproduksi teks
dengan struktur organisasi yang jelas dan detail
dalam jenis teks naratif, eksposisi dan diskusi
tentang berbagai topik dan menjelaskan pendapat
atau pandangan terkait isu dalam topik tertentu
dengan menjelaskan manfaat dan kelemahan
atau argumen yang mendukung dan menentang
tentang berbagai pilihan atau pendapat.
Berbicara (Speaking) Peserta didik mencapai kemampuan yang
ditargetkan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris
wajib dan mampu berinteraksi dengan lancar
dan spontan secara teratur dengan penutur asli
bahasa Inggris dan cukup mungkin tanpa ada
hambatan bagi kedua belah pihak yang
berkomunikasi atau berinteraksi dalam jenis teks
naratif, eksposisi, diskusi.
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut
Setiap Fase
Fase F, Umumnya untuk Kelas XI dan XII (SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir Fase F, peserta didik menggunakan teks lisan, tulisan dan
visual dalam bahasa Inggris untuk berkomunikasi sesuai dengan situasi,
tujuan, dan pemirsa/pembacanya. Berbagai jenis teks seperti naratif,
eksposisi, diskusi, teks sastra, teks otentik maupun multiteks menjadi
rujukan utama dalam mempelajari bahasa inggris pada fase ini. Peserta
didik menggunakan kemampuan bahasa Inggris untuk mengeksplorasi
teks naratif, eksposisi, dan diskusi dalam berbagai macam topik termasuk
isu sosial dan konteks budaya. Pada fase ini, bukan hanya kemampuan
berbahasa peserta didik yang semakin berkembang, tetapi juga
kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan percaya
diri demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila.
Elemen Capaian Pembelajaran
Menyimak (Listening) Pada akhir Fase ini, peserta didik diharapkan
mencapai kemampuan yang ditargetkan dalam
mata pelajaran Bahasa Inggris wajib dan mampu
memahami gagasan utama dari teks dengaran
yang kompleks baik tentang topik konkrit terkait
kejadian-kejadian di lingkungan sekitar, maupun
abstrak terkait isu mutakhir atau topik terkait
mata pelajaran lain dalam teks naratif, eksposisi
dan diskusi.
At the completion of Phase F, students are expected to
achieve the targeted competence in the compulsory
English subject and to comprehend main ideas of
complex listened texts, on both concrete and abstract
topics (on events in their surrounding and current
issue), including those specialised ones relevant to
other subjects in the curriculum in Narrative,
Exposition and Discussion texts.
Membaca (Reading) Pada akhir Fase ini, peserta didik diharapkan
mencapai kemampuan yang ditargetkan dalam
mata pelajaran Bahasa Inggris wajib dan mampu
memahami gagasan utama dari teks tulisan, baik
dalam bentuk cetak maupun dalam visual, baik
teks tunggal maupun ganda, yang kompleks baik
topik konkrit terkait kejadian-kejadian di
lingkungan sekitar, maupun abstrak terkait isu
mutakhir atau topik terkait mata pelajaran lain
dalam teks naratif, eksposisi, dan diskusi.
At the completion of Phase F, students are expected to
achieve the targeted competence in the compulsory
English subject, and can comprehend main ideas of
complex written texts, both in print and on screen,
single or multiple, both on concrete and abstract
topics (on events in their surrounding and current
issue), including the discussion on specialised ones
relevant to other subjects in the curriculum in three
text types: Narrative, Exposition and Discussion.
Menulis (Writing) Pada akhir Fase ini, peserta didik diharapkan
mencapai kemampuan yang ditargetkan dalam mata
pelajaran Bahasa Inggris wajib dan mampu
memproduksi teks dengan struktur organisasi yang
jelas dan detail dalam jenis teks naratif, eksposisi
dan diskusi tentang berbagai topik dan
menjelaskan pendapat atau pandangan terkait isu
dalam topik tertentu dengan menjelaskan manfaat
dan kelemahan atau argumen yang mendukung
dan menentang tentang berbagai pilihan atau
pendapat.
At the completion of Phase F, students are expected to
achieve the targeted competence in the compulsory
English subject, and can produce texts with a clear and
detailed structure of organisation on different topics,
and express ideas or opinions on a certain issues or
topics by explaining the strengths and weaknesses or
arguments for and against of different choices or
opinions.
Berbicara (Speaking) Pada akhir Fase ini, peserta didik mencapai
kemampuan yang ditargetkan dalam mata
pelajaran Bahasa Inggris wajib dan mampu
berinteraksi dengan lancar dan spontan secara
teratur dengan penutur asli Bahasa Inggris, serta
cukup mungkin tanpa ada hambatan bagi kedua
belah pihak yang berkomunikasi atau berinteraksi
dalam jenis teks naratif, eksposisi, dan diskusi.
At the end of this Phase, students are expected to
achieve the targeted competence in the compulsory
English subject and can interact fluently and
spontaneously, and can interact regularly with English
native speakers and quite possibly without hindrances
for both sides of interactants or can interact in these
text types that is Narrative, Exposition and Discussion.
5. CAPAIAN PEMBELAJARAN FISIKA SMA/MA/PROGRAM PAKET C
A. Rasional Mata Pelajaran Fisika SMA/SMK/MA//Program Paket C
Fisika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mengkaji sifat-
sifat materi dalam ruang dan waktu beserta konsep-konsep gaya dan energi
terkait. Fisika mengkaji fenomena alam mulai dari skala atomik hingga jagat
raya dengan menggunakan nalar ilmiah secara objektif dan kuantitatif yang
terwujud dalam proses pengamatan, pengukuran, perancangan model
hubungan antar variabel yang terlibat yang mencerminkan keteraturan alam,
serta penarikan kesimpulan yang terwujud dalam suatu teori yang valid dan
dapat diaplikasikan. Fisika mendasari perkembangan khasanah bidang ilmu
pengetahuan alam lainnya serta perkembangan teknologi modern yang
memudahkan kehidupan manusia diawali dari perkembangan mekanik dan
permesinan, otomotif, komputer dan otomasi, serta teknologi informasi dan
komunikasi.
Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan
pelajaran yang baik kepada manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum
alam serta mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan bijak.
Pemahaman yang baik tentang fisika mendukung upaya mitigasi dan
pengurangan dampak bencana alam secara optimal.
Pada proses pembelajaran fisika, peserta didik dilatih untuk melakukan
penelitian sederhana mengenai fenomena alam. Peserta didik belajar
menemukan permasalahan, membuat hipotesis, merancang percobaan
sederhana, melakukan percobaan, menganalisis data, menarik kesimpulan
dan mengkomunikasikan hasil percobaan baik secara tertulis maupun
secara lisan. Dari proses pembelajaran fisika peserta dilatih untuk memiliki
penalaran ilmiah, kemampuan berfikir kritis serta keterampilan memecahkan
masalah yang semuanya sejalan dengan upaya pengembangan profil pelajar
Pancasila yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri,
bernalar kritis, dan kreatif.
Pada tingkat SMA/MA/Program Paket C, fisika diajarkan sebagai mata
pelajaran tersendiri dengan beberapa pertimbangan. Pertama, pemahaman
fisika yang benar dan mendalam berguna untuk memecahkan masalah di
dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pemahaman fisika yang kuat menjadi
jembatan keberhasilan peserta didik dalam menempuh studi lanjut di
perguruan tinggi baik pada ilmu- ilmu dasar/sains maupun ilmu-ilmu
keteknikan/rekayasa dan teknologi.
B. Tujuan Mata Pelajaran Fisika SMA/SMK/MA/Program
Paket C
Dengan mempelajari ilmu fisika, peserta didik dapat:
1. membentuk sikap religius melalui fisika dengan menyadari keteraturan
dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa;
2. memupuk integritas dan sikap, jujur, adil, bertanggung jawab,
menghormati martabat individu, kelompok, dan komunitas, serta
berkebhinekaan global;
3. memperdalam pemahaman tentang prinsip-prinsip fisis alam semesta
yang konsisten sehingga memiliki kemampuan berfikir kritis dilengkapi
dengan keterampilan penalaran kuantitatif;
4. memiliki sikap ilmiah, mengembangkan rasa ingin tahu, pengalaman
untuk dapat merumuskan masalah secara kreatif, mengajukan dan
menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit
instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data,
serta mengomunikasikan hasil percobaan baik lisan maupun tulisan
secara mandiri; dan
5. memahami kekuatan dan keterbatasan diri untuk mendukung
pembelajaran dan pengembangan diri, memiliki keinginan dalam
mengembangkan pengalaman belajar, dan menjadi pemelajar
sepanjang hayat.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Fisika SMA/MA/Program Paket C
Mata pelajaran fisika diorganisasikan dalam 2 (dua) kategori, pemahaman
fisika dan keterampilan proses.
Elemen Deskripsi
Merupakan materi-materi yang perlu dikuasai
peserta didik untuk memiliki pengetahuan dan
keterampilan dasar untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Pemahaman fisika yang
Pemahaman Fisika dikuasai adalah pengukuan, mekanika, fluida,
getaran dan gelombang, termodinamika, listrik
magnet, fisika modern dan radioaktifitas, teknologi
digital,dan keberlangsungan energi dan
lingkungan alam sekitar.
Merupakan keterampilan saintifik dan rekayasa yang
meliputi (1) mengamati, (2) mempertanyakan dan
memprediksi, (3) merencanakan dan melakukan
Keterampilan Proses penyelidikan, (4) memproses dan menganalisis data
dan informasi, (5) mencipta (6)
mengevaluasi dan merefleksi dan (7)
mengomunikasikan hasil
A. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Fisika SMA/MA/Program Paket C
Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan untuk
responsif terhadap isu-isu global dan berperan aktif dalam
memberikan penyelesaian masalah. Kemampuan tersebut antara lain
mengamati, mempertanyakan dan memprediksi, merencanakan dan
melakukan penyelidikan, memproses dan menganalisis data dan
informasi, mengevaluasi dan refleksi, mengkomunikasikan hasil dalam
bentuk projek sederhana atau simulasi visual menggunakan apilkasi
teknologi yang tersedia terkait dengan energi alternatif, pemanasan
global, pencemaran lingkungan, nano teknologi, bioteknologi, kimia
dalam kehidupan sehari-hari, pemanfaatan limbah dan bahan alam,
pandemi akibat infeksi virus. Semua upaya tersebut diarahkan pada
pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable
Development Goals/SDGs). Melalui pengembangan sejumlah
pengetahuan tersebut dibangun pula berakhlak mulia dan sikap ilmiah
seperti jujur, obyektif, bernalar kritis, kreatif, mandiri, inovatif,
bergotong royong dan berkebhinekaan global.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pemahaman Fisika Peserta didik mampu mendeskripsikan gejala
alam dalam cakupan keterampilan proses dalam
pengukuran, perubahan iklim dan pemanasan
global, pencemaran lingkungan, energi alternatif,
dan pemanfaatannya.
Keterampilan 1. Mengamati
Proses Peserta didik mampu mengoptimalkan
potensi menggunakan ragam alat bantu untuk
melakukan pengukuran dan pengamatan.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Peserta didik mampu mempertanyakan dan
memprediksi berdasarkan hasil observasi,
mampu merumuskan permasalahan yang ada
dan mampu mengajukan pertanyaan kunci
untuk menyelesaikan masalah.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan
Peserta didik mengidentifikasi latar
belakang masalah, merumuskan tujuan, dan
menggunakan referensi dalam perencanaan
penyelidikan/penelitian.
Peserta didik membedakan variabel, termasuk
yang dikendalikan dan variabel bebas,
menggunakan instrumen yang sesuai dengan
tujuan penyelidikan.
Peserta didik menentukan langkah langkah kerja
dan cara pengumpulan data.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi
Peserta didik menyiapkan peralatan/
instrumen yang sesuai untuk penelitian
ilmiah, menggunakan alat ukur secara teliti
dan benar, mengenal keterbatasan dan
kelebihan alat ukur yang dipakai.
Peserta didik menerapkan teknis/ proses
pengumpulan data, mengolah data sesuai
jenisnya/sesuai keperluan, menganalisis data
dan menyimpulkan hasil penelitian serta
memberikan rekomendasi tindak lanjut/saran
dari hasil penelitian.
5. Mencipta
Peserta didik mampu menggunakan hasil
analisis data dan informasi untuk
menciptakan ide solusi ataupun rancang
bangun untuk menyelesaikan suatu
permasalahan.
6. Mengevaluasi dan refleksi
Peserta didik berani dan santun dalam
mengajukan pertanyaan dan berargumentasi,
mengembangkan keingintahuan, dan
memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Peserta didik mengajukan argumentasi ilmiah
dan kritis berani mengusulkan perbaikan atas
suatu kondisi dan bertanggungjawab
terhadap usulannya.
Peserta didik bersikap jujur terhadap temuan
data/fakta.
7. Mengomunikasikan hasil
Peserta didik menyusun laporan tertulis hasil
penelitian serta mengomunikasikan hasil
penelitian, prosedur perolehan data, cara
mengolah dan cara menganalisis data serta
mengomunikasikan kesimpulan yang sesuai
untuk menjawab masalah penelitian
/penyelidikan secara lisan atau tulisan
Peserta didik menyajikan hasil pengolahan
data dalam bentuk tabel, grafik, diagram
alur/ flowchart dan/atau peta konsep,
menyajikan data dengan simbol dan standar
internasional dengan benar, dan
menggunakan media yang sesuai dalam
penyajian hasil pengolahan data.
Peserta didik mendeskripsikan
kecenderungan hubungan, pola, dan
keterkaitan variabel dan menggunakan
bahasa, simbol dan peristilahan yang sesuai
untuk bidang fisika.
1. Fase F (Umumnya untuk kelas XI dan XII SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase F, peserta didik mampu menerapkan konsep dan prinsip
vektor kedalam kinematika dan dinamika gerak partikel, usaha dan
energi, fluida dinamis, getaran harmonis, gelombang bunyi dan
gelombang cahaya dalam menyelesaikan masalah, serta menerapkan
prinsip dan konsep energi kalor dan termodinamika dengan berbagai
perubahannya dalam mesin kalor. Peserta didik mampu menerapkan
konsep dan prinsip kelistrikan (baik statis maupun dinamis) dan
kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk
teknologi, menerapkan konsep dan prinsip gejala gelombang
elektromagnetik dalam menyelesaikan masalah. Peserta didik mampu
menganalisis keterkaitan antara berbagai besaran fisis pada teori
relativitas khusus, gejala kuantum dan menunjukkan penerapan konsep
fisika inti dan radioaktivitas dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
Peserta didik mampu memberi penguatan pada aspek fisika sesuai
dengan minat untuk ke perguruan tinggi yang berhubungan dengan
bidang fisika. Melalui kerja ilmiah juga dibangun sikap ilmiah dan profil
pelajar pancasila khususnya mandiri, inovatif, bernalar kritis, kreatif dan
bergotong royong.
Fase F Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pemahaman Fisika Peserta didik mampu menerapkan konsep dan
prinsip vektor, kinematika dan dinamika gerak,
fluida, gejala gelombang bunyi dan gelombang
cahaya dalam menyelesaikan masalah, serta
menerapkan prinsip dan konsep kalor dan
termodinamika, dengan berbagai perubahannya
dalam mesin kalor. Peserta didik mampu
menerapkan konsep dan prinsip kelistrikan (baik
statis maupun dinamis) dan kemagnetan dalam
berbagai penyelesaian masalah dan berbagai
produk teknologi, menerapkan konsep dan prinsip
gejala gelombang elektromagnetik dalam
menyelesaikan masalah. Peserta didik mampu
memahami prinsip-prinsip gerbang logika dan
pemanafaatannya dalam sistem komputer dan
perhitungan digital lainnya. Peserta didik mampu
menganalisis keterkaitan antara berbagai besaran
fisis pada teori relativitas khusus, gejala kuantum
dan menunjukkan penerapan konsep fisika inti
dan radioaktivitas dalam kehidupan sehari-hari
dan teknologi.
Keterampilan 1. Mengamati
Proses Peserta didik mampu mengoptimalkan
potensi menggunakan ragam alat
bantu untuk melakukan pengamatan.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Peserta didik mampu mempertanyakan dan
memprediksi berdasarkan hasil observasi,
mampu merumuskan permasalahan yang ada
dan mampu mengajukan pertanyaan kunci
untuk menyelesaikan masalah.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan
Peserta didik mengidentifikasi latar
belakang masalah, merumuskan tujuan, dan
menggunakan referensi dalam perencanaan
penelitian.
Peserta didik membedakan variabel, termasuk
yang dikendalikan dan variabel bebas,
menggunakan instrumen yang sesuai dengan
tujuan penelitian.
Peserta didik menentukan langkah langkah
kerja dan cara pengumpulan data.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi
Peserta didik menyiapkan peralatan/
instrumen yang sesuai untuk penelitian
ilmiah, menggunakan alat ukur secara teliti
dan benar, mengenal keterbatasan dan
kelebihan alat ukur yang dipakai.
Peserta didik menerapkan teknis/ proses
pengumpulan data, mengolah data sesuai
jenisnya/sesuai keperluan, menganalisis data
dan menyimpulkan hasil penelitian serta
memberikan rekomendasi tindak lanjut/saran
dari hasil penelitian.
5. Mencipta
Peserta didik mampu menggunakan hasil
analisis data dan informasi untuk
menciptakan ide solusi ataupun rancang
bangun untuk menyelesaikan suatu
permasalahan.
6. Mengevaluasi dan refleksi
Peserta didik berani dan santun dalam
mengajukan pertanyaan dan berargumentasi,
mengembangkan keingintahuan, dan
memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Peserta didik mengajukan argumentasi ilmiah
dan kritis berani mengusulkan perbaikan atas
suatu kondisi dan bertanggungjawab
terhadap usulannya.
Peserta didik bersikap jujur terhadap temuan
data/fakta.
7. Mengomunikasikan hasil
Peserta didik menyusun laporan tertulis hasil
penelitian serta mengomunikasikan hasil
penelitian, prosedur perolehan data, cara
mengolah dan cara menganalisis data serta
mengomunikasikan kesimpulan yang sesuai
untuk menjawab masalah penelitian
/penyelidikan secara lisan atau tulisan
Peserta didik menyajikan hasil pengolahan
data dalam bentuk tabel, grafik, diagram
alur/ flowchart dan/atau peta konsep,
menyajikan data dengan simbol dan standar
internasional dengan benar, dan
menggunakan media yang sesuai dalam
penyajian hasil pengolahan data.
Peserta didik mendeskripsikan
kecenderungan hubungan, pola, dan
keterkaitan variabel dan menggunakan
bahasa, simbol dan peristilahan yang sesuai
untuk bidang fisika.
6. CAPAIAN PEMBELAJARAN KIMIA SMA/MA/PROGRAM PAKET C
A. Rasional Mata Pelajaran Kimia SMA/MA/Program Paket C
Kimia adalah kajian teoritis dan praktis mengenai interaksi, struktur
dan sifat berbagai macam bahan. Penyelidikan dan pengertian pada
tingkat atom yang mikroskopis memberikan pemahaman terhadap
berbagai fenomena dunia nyata yang makroskopis. Pemahaman
tentang struktur dan proses kimia digunakan untuk beradaptasi dan
berinovasi guna memenuhi kebutuhan ekonomi, lingkungan dan
sosial di dunia yang terus berkembang. Hal ini termasuk
mengatasi tantangan perubahan iklim global dan keterbatasan energi
dengan merancang proses untuk memaksimalkan penggunaan
sumber daya bumi yang terbatas secara efisien.
Kimia merupakan pembelajaran yang bersifat praktis. Peserta didik
dilatih untuk melakukan penelitian kualitatif dan kuantitatif
sederhana baik secara individu maupun kolaboratif mengenai
berbagai fenomena kehidupan dunia nyata. Peserta didik belajar
menemukan permasalahan, membuat hipotesis, merancang
percobaan sederhana, melakukan percobaan, menganalisis data,
menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil percobaan baik
secara tertulis maupun lisan. Secara tidak langsung, peserta didik
dapat mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yakni beriman,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,
berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis,
dan kreatif melalui belajar Kimia.
Pada tingkat SMA/MA/Program Paket C, Kimia diajarkan sebagai
mata pelajaran tersendiri dengan beberapa pertimbangan. Pertama,
Kimia menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan terbuka yang
diperlukan untuk memahami dan memecahkan masalah pada dunia
nyata. Kedua, pemahaman Kimia membekali peserta didik dengan
pengetahuan sesuai dengan minat dan karir masa depan dalam
berbagai area seperti kedokteran, lingkungan hidup, teknologi
terapan, farmasi, dan olahraga serta sains kimia.
B. Tujuan Mata Pelajaran Kimia SMA/MA/Program Paket C
Dengan mempelajari ilmu Kimia, peserta didik dapat:
1. membentuk sikap religius melalui Kimia dengan menyadari
keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan
Yang Maha Esa;
2. memupuk integritas dan sikap, jujur, adil, bertanggung jawab,
menghormati martabat individu, kelompok, dan komunitas, serta
berkebhinekaan global
3. mengembangkan keahlian dalam melakukan serangkaian investigasi
ilmiah secara mandiri maupun kolaboratif termasuk mengumpulkan,
menganalisa, menafsirkan dan menjelaskan data kualitatif maupun
kuantitatif.
4. mengkomunikasikan berbagai hasil investigasi secara lisan dan tertulis
secara jelas dan terstruktur
5. mengembangkan kemampuan beradaptasi dan berinovasi untuk
menghasilkan berbagai teknologi terapan yang dapat memecahkan
masalah pada dunia nyata
6. memupuk kemampuan berpikir kritis untuk menganalisa berbagai klaim
ilmiah dan mengevaluasi berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-
hari
7. memiliki pikiran yang terbuka untuk menerima pendapat orang lain
dalam diskusi.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Kimia SMA/MA/Program Paket C
Kimia mempelajari materi, sifat-sifat materi, bagaimana dan mengapa zat
bergabung atau terpisah untuk membentuk zat lain, serta energi yang
menyertai perubahannya. Kontribusi Kimia mencakup bagaimana
pengetahuan yang dimiliki dapat mempengaruhi sikap yang dapat
diterapkan dalam menjawab permasalahan-permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari baik lokal maupun global.
Materi Kimia untuk fase A, B dan C difokuskan pada materi sederhana yang
dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mudah untuk diamati dan
dipahami. Materi Kimia untuk fase D dan E adalah dasar yang harus
dikuasai oleh peserta didik agar siap belajar pada fase F. yaitu di kelas 11
dan 12. Pada kelas 11 peminatan dimulai, sehingga pada fase ini materi
Kimia dipelajari lebih mendalam melalui materi perhitungan kimia; sifat,
struktur dan interaksi partikel; energi, laju dan kesetimbangan reaksi kimia;
dan asam-basa. Selain itu, fase ini juga mencakup transformasi energi kimia
dan kimia organik.
Ada 2 elemen dalam mata pelajaran Kimia yang mencakup (1) pemahaman
Kimia, (2) keterampilan proses. Pemahaman Kimia mencakup semua materi
yang dipelajari. Keterampilan proses mencakup keseluruhan proses ilmiah
dari mengamati sampai dengan mengkomunikaskan hasil penelitian.
Elemen Deskripsi
Pemahaman Kimia Menjelaskan konsep kimia dalam kehidupan
sehari-hari; Menerapkan konsep kimia
dalam pengelolaan
lingkungan termasuk
menjelaskan fenomena pemanasan global;
Menuliskan reaksi kimia dan menerapkan
hukum-hukum dasar kimia; Memahami
struktur atom dan aplikasinya dalam
nanoteknologi; Menerapkan operasi
matematika dalam perhitungan kimia;
Mempelajari sifat, struktur dan interaksi
partikel dalam membentuk berbagai
senyawa termasuk pengolahan dan
penggunaannya dalam keseharian;
Memahami dan menjelaskan aspek energi,
laju dan kesetimbangan dalam reaksi kimia;
Menggunakan konsep asam-basa dalam
kehidupan sehari-hari; Menggunakan
transformasi energi kimia dalam kehidupan
sehari-hari termasuk termokimia dan
elektrokimia; Memahami kimia organik
termasuk penerapannya dalam keseharian.
Keterampilan proses Proses melakukan penelitian yang dimulai
dari mengamati, mempertanyakan dan
memprediksi, merencanakan dan melakukan
penyelidikan, memproses dan menganalisis
data dan informasi, mengevaluasi dan
refleksi, mengkomunikasikan hasil.
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Kimia SMA/MA/Program Paket C
Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase E, peserta didik memliki kemampuan untuk
merespon isu-isu global dan berperan aktif dalam memberikan
penyelesaian masalah. Kemampuan tersebut antara lain
mengidentifikasi, mengajukan gagasan, merancang solusi, mengambil
keputusan, dan mengkomunikasikan dalam bentuk projek sederhana
atau simulasi visual menggunakan aplikasi teknologi yang tersedia
terkait dengan energi alternatif, pemanasan global, pencemaran
lingkungan, nanoteknologi, bioteknologi, kimia dalam kehidupan
sehari-hari, pemanfaatan limbah dan bahan alam, pandemi akibat infeksi
virus. Semua upaya tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan
pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development
Goals/SDGs). Melalui pengembangan sejumlah pengetahuan tersebut
dibangun pula akhlak mulia dan sikap ilmiah seperti jujur, objektif,
bernalar kritis, kreatif, mandiri, inovatif, bergotong royong, dan
berkebhinekaan global.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pemahaman Kimia Peserta didik mampu mengamati, menyelidiki dan
menjelaskan fenomena sesuai kaidah kerja ilmiah
dalam menjelaskan konsep kimia dalam
kehidupan sehari hari; menerapkan konsep kimia
dalam pengelolaan lingkungan termasuk
menjelaskan fenomena pemanasan global;
menuliskan reaksi kimia dan menerapkan
hukum-hukum dasar kimia; memahami struktur
atom dan aplikasinya dalam nanoteknologi.
Keterampilan proses 1. Mengamati
Mampu memilih alat bantu yang tepat untuk
melakukan pengukuran dan pengamatan.
Memperhatikan detail yang relevan dari
obyek yang diamati.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Mengidentifikasi pertanyaan dan
permasalahan yang dapat diselidiki secara
ilmiah. Peserta didik menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki dengan
pengetahuan baru untuk membuat prediksi.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan
Peserta didik merencanakan penyilidikan
ilmiah dan melakukan langkah-langkah
operasional berdasarkan referensi yang
benar untuk menjawab pertanyaan. Peserta
didik melakukan pengukuran atau
membandingkan variabel terikat dengan
menggunakan alat yang sesuai serta
memperhatikan kaidah ilmiah.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi
Menafsirkan informasi yang didapatkan
dengan jujur dan bertanggung jawab.
Menganalisis menggunakan alat dan metode
yang tepat, menilai relevansi informasi yang
ditemukan dengan mencantumkan referensi
rujukan, serta menyimpulkan hasil
penyelidikan.
5. Mengevaluasi dan refleksi
Peserta didik berani dan santun dalam
Mengevaluasi kesimpulan melalui
perbandingan dengan teori yang ada.
Menunjukkan kelebihan dan kekurangan
proses penyelidikan dan efeknya pada data.
Menunjukkan permasalahan pada
metodologi.
6. Mengomunikasikan hasil
Mengomunikasikan hasil penyelidikan secara
utuh termasuk di dalamnya pertimbangan
keamanan, lingkungan, dan etika yang
ditunjang dengan argumen, bahasa serta
konvensi sains yang sesuai konteks
penyelidikan. Menunjukkan pola berpikir
sistematis sesuai format yang ditentukan.
7. CAPAIAN PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA/MA/PROGRAM PAKET C
A. Rasional Mata Pelajaran Biologi SMA/MA/Program Paket C
Kata “Biologi” pertama kali diciptakan oleh naturalis Jerman Gottfried
Reinhold pada tahun 1802 tetapi pemahaman tentang organisme hidup
baru mulai berkembang cepat dengan adanya teknik dan teknologi yang
dikembangkan pada abad 18 dan 19 seperti penemuan mikroskop.
Biologi adalah kajian fenomena kehidupan dan makhluk hidup yang
mencakup struktur, fisiologi, morfologi, ruang hidup, serta asal muasal
dan distribusinya. Dalam perkembangannya, Biologi tidak hanya
mengkaji makhluk hidup dan proses kehidupan, tetapi juga perubahan
makhluk hidup dari masa ke masa serta inovasi teknologi biologi.
Biologi dalam kurikulum nasional sangat diperlukan untuk memahami,
mengatasi, dan mengelola tantangan sumber daya alam, kualitas
lingkungan, kesehatan dan penyakit, pencegahan dan penanggulangan
penyakit, serta peggunaan teknologi biologi yang dihadapi masyarakat
pada abad ke-21. Selain itu, ilmu Biologi digunakan dalam
mempertahankan keanekaragaman hayati, kelestarian ekosistem,
kesejahteraan manusia dan organisme lain beserta populasinya, serta
keberlanjutan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia.
Proses pembelajaran sains Biologi dilakukan melalui pendekatan
kontekstual dan inkuiri yang seluruh kegiatan berpusat pada peserta
didik. Melalui pendekatan ini, peserta didik diberikan pengalaman
belajar secara otentik sehingga peserta didik terlatih dalam memecahkan
permasalahan kehidupan sehari-hari melalui kerja ilmiah dimulai dari
menemukan masalah, menyusun hipotesis, merancang percobaan,
melalakukan percobaan, menganalisis data, menarik kesimpulan dan
mengkomunikasikan hasil percobaan. Hal ini akan berimplikasi pada
kesiapan peserta didik dalam menghadapi hidupnya saat ini dan masa
depannya. Materi Biologi pada tingkatan Sekolah Menengah Atas
mencakup keanekaragaman makhluk hidup dan peranannya, virus,
ekosistem, perubahan lingkungan, biologi sel, sistem organ, evolusi dan
genetika serta pertumbuhan dan perkembangan, serta inovasi biologi.
Pengenalan tingkatan kehidupan akan membantu peserta didik
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan
menggunakan pengetahuan yang dimiliki dan pengembangan
keterampilan inkuri selama proses pembelajaran. Sebagai contoh
peserta didik menggunakan pemahamannya dalam mengevaluasi
hubungan sistem biologi dan perubahannya akibat dampak aktivitas
manusia, maka dapat mengusulkan penyelesaian permasalahannya
dalam konteks personal, lokal, dan global. Peserta didik juga dapat
mengeksplorasi bagaimana para ahli bekerja secara kolaborasi dan
individual dalam meningkatkan pemahaman tentang ilmu Biologi.
Peserta didik dapat mengembangkan keterampilan proses berupa
investigasi, analisis dan keterampilan komunikasi melalui lingkungan
dan laboratorium. Selain itu, secara tidak langsung selama melakukan
keterampilan proses, sikap ilmiah peserta didik dan Profil Pelajar
Pancasila dapat terbentuk. Melalui kegiatan investigasi, peserta didik
secara mandiri dapat mengasah nalar, memunculkan kreatifitas,
mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan peserta didik lainnya.
Dengan demikian Biologi dapat mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan proses.
Pembelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas memberikan
keterampilan dan pemahaman berdaya guna dalam lingkup yang luas
untuk keberlanjutan proses pembelajaran di perguruan tinggi dan/atau
karirnya. Pemahaman terhadap konsep Biologi seperti pengetahuan dan
keterampilan sains secara umum, sangat relevan untuk karir, seperti
dunia kesehatan, peternakan, perikanan, industri makanan, biologi laut,
agrikultur, bioteknologi, rehabilitasi lingkungan, konservasi, dan
ekowisata. Biologi juga dapat dijadikan dasar bagi peserta didik dalam
mengambil keputusan secara kritis tentang isu personal, lokal, dan
global.
B. Tujuan Mata Pelajaran Biologi SMA/SMK/MA/Program Paket C
Dengan mempelajari ilmu Biologi, peserta didik dapat:
1. Memiliki rasa kagum dan bersyukur terhadap Pencipta (sikap spiritual)
serta menghormati makhluk hidup dan ikut menjaga lingkungan;
2. Menghormati keragaman pendapat, budaya, dan karakteristik khas
lingkungan;
3. Memiliki kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan
memperhatikan etika dan norma yang berlaku;
4. Memiliki pemahaman tentang sistem kehidupan yang saling
berinteraksi ; adanya aliran materi dan energi; serta pertahanan dan
perubahan;
5. Memahami esensi Biologi mulai proses subseluler hingga dinamika
ekosistem;
6. Memahami perkembangan pengetahuan Biologi dari waktu ke waktu
melalui dinamika proses kerja para ilmuwan yang mampu
mempengaruhi masyarakat dalam konteks personal, lokal, dan global;
7. Memahami isu permasalahan biologi dalam lingkup individu,
keluarga, lingkungan sekitar dan global serta menerapkan pengetahuan
Biologi untuk mengatasi permasalahan tersebut;
8. Menghasilkan gagasan sebagai hasil adaptasi, adopsi, modifikasi,
kreasi baru yang beragam berdasarkan hasil eksperimen;
9. Memiliki kemampuan merencanakan dan melaksanakan investigasi
lapangan, laboratorium dan penelitian lainnya termasuk pengumpulan
dan analisis data kualitatif maupun kuantitatif, serta interpretasi bukti.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Biologi SMA/MA/Program Paket C
Biologi adalah kajian fenomena kehidupan dan makhluk hidup yang
mencakup struktur, fisiologi, morfologi, ruang hidup, serta asal muasal
dan distribusinya. Biologi juga mengkaji makhluk hidup dan
karakteristik kehidupannya dari masa ke masa. Materi biologi untuk
fase A, B dan C mencakup materi sederhana yang dekat dengan
kehidupan peserta didik sehingga mudah memahaminya. Materi biologi
untuk fase D dan E adalah materi dasar yang mengintegrasikan mata
pelajaran fisika dan kimia yang harus dikuasai oleh peserta didik agar
siap belajar pada fase F. Selain itu, Penerapan materi fase D dan E
mengarah pada penelahaan isu-isu personal, lokal, dan global. Pada
Fase F, cakupan materi biologi adalah struktur sel, bioproses dalam sel,
genetika, evolusi, sistem organ, struktur, fisiologi pada manusia,
pertumbuhan dan perkembangan, serta inovasi teknologi biologi
Merujuk pada hakikat sains sebagai proses dan produk, maka ada dua
elemen dalam mata pelajaran ini yang mencakup (1) pemahaman biologi
dan (2) keterampilan proses.
Elemen Deskripsi
Pemahaman Biologi Mencakup materi keanekaragaman hayati dan
peranannya, virus dan peranannya, perubahan
lingkungan, ekosistem, bioteknologi, biologi sel,
sistem organ pada manusia, evolusi, genetika,
pertumbuhan dan perkembangan, serta inovasi
teknologi biologi.
Keterampilan Proses Keterampilan saintifik yang mencakup (1)
mengamati, (2) mempertanyakan dan
memprediksi, (3) merencanakan dan melakukan
penyelidikan, (4) memproses dan menganalisis
data dan informasi, (5) mengevaluasi dan
merefleksi dan (6) mengomunikasikan hasil
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Biologi SMA/MA/Program Paket C
Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan untuk
responsif terhadap isu-isu global dan berperan aktif dalam
memberikan penyelesaian masalah. Kemampuan tersebut antara lain
mengamati, mempertanyakan dan memprediksi, merencanakan dan
melakukan penelitian, memproses dan menganalisis data dan
informasi, mengevaluasi dan merefleksi, serta mengkomunikasikan
dalam bentuk projek sederhana atau simulasi visual menggunakan
aplikasi teknologi yang tersedia terkait dengan energi alternatif,
pemanasan global, pencemaran lingkungan, nano teknologi,
bioteknologi, kimia dalam kehidupan sehari-hari, pemanfaatan
limbah dan bahan alam, pandemi akibat infeksi virus. Semua upaya
tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan pembangunan yang
berkelanjutan (SDGs). Melalui keterampilan proses juga dibangun
sikap ilmiah dan profil pelajar pancasila.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Pemahaman Biologi Pada akhir fase E, peserta didik memiliki
kemampuan menciptakan solusi atas
permasalahan-permasalahan berdasarkan isu
lokal, nasional atau global terkait pemahaman
keanekaragaman makhluk hidup dan
peranannya, virus dan peranannya, inovasi
teknologi biologi, komponen ekosistem dan
interaksi antar komponen serta perubahan
lingkungan.
Keterampilan proses 1. Mengamati
Mampu memilih alat bantu yang tepat
untuk melakukan pengukuran dan
pengamatan. Memperhatikan detail yang
relevan dari obyek yang diamati.
2. Mempertanyakan dan memprediksi
Mengidentifikasi pertanyaan dan
permasalahan yang dapat diselidiki secara
ilmiah. Peserta didik menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki dengan
pengetahuan baru untuk membuat
prediksi.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan
Peserta didik merencanakan penyilidikan
ilmiah dan melakukan langkah-langkah
operasional berdasarkan referensi yang
benar untuk menjawab pertanyaan. Peserta
didik melakukan pengukuran atau
membandingkan variabel terikat dengan
menggunakan alat yang sesuai serta
memperhatikan kaidah ilmiah.
4. Memproses, menganalisis data dan
informasi
Menafsirkan informasi yang didapatkan
dengan jujur dan bertanggung jawab.
Menganalisis menggunakan alat dan
metode yang tepat, menilai relevansi
informasi yang ditemukan dengan
mencantumkan referensi rujukan, serta
menyimpulkan hasil penyelidikan.
5. Mengevaluasi dan refleksi
Mengevaluasi kesimpulan melalui
Mengevaluasi kesimpulan melalui
perbandingan dengan teori yang ada.
Menunjukkan kelebihan dan kekurangan
proses penyelidikan dan efeknya pada data.
Menunjukkan permasalahan pada
metodologi dan mengusulkan saran
perbaikan untuk proses penyelidikan
selanjutnya.
6. Mengomunikasikan hasil
Mengomunikasikan hasil penyelidikan
secara utuh termasuk di dalamnya
pertimbangan keamanan, lingkungan, dan
etika yang ditunjang dengan
argumen, bahasa serta konvensi sains
yang sesuai konteks penyelidikan.
Menunjukkan pola berpikir sistematis
sesuai format yang ditentukan.
8. CAPAIAN PEMBELAJARAN INFORMATIKA
A. Rasional Mata Pelajaran Informatika
Informatika adalah sebuah disiplin ilmu yang mencari pemahaman dan
mengeksplorasi dunia di sekitar kita, baik natural maupun artifisial yang secara
khusus tidak hanya berkaitan dengan studi, pengembangan, dan implementasi dari
sistem komputer, tetapi juga pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar
pengembangan. Peserta didik dapat menciptakan, merancang, dan mengembangkan
produk berupa artefak komputasional (computational artifact) dalam bentuk
perangkat keras, perangkat lunak (algoritma, program, atau aplikasi), atau sistem
berupa kombinasi perangkat keras dan lunak dengan menggunakan teknologi dan
perkakas (tools) yang sesuai. Informatika mencakup prinsip keilmuan perangkat
keras, data, informasi, dan sistem komputasi yang mendasari proses pengembangan
tersebut. Oleh karena itu, Informatika mencakup sains, rekayasa, dan teknologi
yang berakar pada logika dan matematika. Istilah Informatika dalam bahasa
Indonesia merupakan padanan kata yang diadaptasi dari Computer Science atau
Computing dalam bahasa Inggris. Peserta didik mempelajari mata pelajaran
Informatika tidak hanya untuk menjadi pengguna komputer, tetapi juga untuk
menyadari perannya sebagai problem solver yang menguasai konsep inti (core
concept), terampil dalam praktik (core practices) menggunakan dan
mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta berpandangan
terbuka pada aspek lintas bidang.
Mata pelajaran Informatika memberikan fondasi berpikir komputasional yang merupakan kemampuan
problem solving yaitu keterampilan generik yang penting seiring dengan perkembangan teknologi
digital yang pesat. Peserta didik ditantang untuk menyelesaikan persoalan komputasi yang
berkembang mulai dari kelas I sampai dengan kelas XII, mulai dari data sedikit sampai dengan
data banyak, mulai dari persoalan kecil dan sederhana sampai dengan persoalan besar,
kompleks, dan rumit, serta mulai dari hal yang konkret sampai dengan abstrak dan samar atau
ambigu. Mata pelajaran Informatika juga meningkatkan kemampuan peserta didik dalam logika,
analisis, dan interpretasi data yang diperlukan dalam literasi, numerasi, dan literasi sains, serta
membekali peserta didik dengan kemampuan pemrograman yang mendukung pemodelan dan
simulasi dalam sains komputasi (computational science) dengan menggunakan TIK.
Proses pembelajaran Informatika berpusat pada peserta didik (student-centered
learning) dengan prinsip pembelajaran berbasis inkuiri (inquiry-based learning),
pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), dan pembelajaran berbasis
projek (project-based learning). Guru dapat menentukan tema atau kasus sesuai
dengan kondisi lokal, terutama tema atau kasus tentang analisis data.
Mata pelajaran Informatika dilaksanakan secara inklusif bagi semua peserta didik di seluruh
Indonesia, sehingga pembelajarannya dapat menggunakan komputer (plugged) maupun tanpa
komputer (unplugged). Pembelajaran Informatika pada jenjang SD menekankan pada fondasi
berpikir komputasional (computational thinking), diintegrasikan dalam tema atau mata pelajaran
lainnya terutama dalam Bahasa, Matematika dan Sains. Pembelajaran Informatika mendukung
kemampuan peserta didik dalam mengekspresikan kemampuan berpikir secara terstruktur dan
pemahaman aspek sintaksis maupun semantik dalam Bahasa, membentuk kebiasaan peserta didik
untuk berpikir logis dalam Matematika, serta kemampuan menganalisis dan menginterpretasi data
dalam Sains.
Mata pelajaran Informatika berkontribusi terhadap profil pelajar Pancasila
dalam memampukan peserta didik menjadi warga yang bernalar kritis,
mandiri, kreatif melalui penerapan berpikir komputasional; serta menjadi
warga yang berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong
melalui Praktik Lintas Bidang (core practices) untuk menghasilkan artefak
komputasional yang dikerjakan secara berkolaborasi dalam kerja kelompok
baik secara luring maupun daring dengan memanfaatkan Teknologi Informasi
dan Komunikasi. Kemampuan bekerja mandiri dan berkolaborasi secara
daring merupakan kemampuan penting sebagai anggota masyarakat abad ke-
21. Peserta didik diharapkan dapat menjadi warga digital (digital citizen)
yang beretika dan mandiri dalam berteknologi informasi, sekaligus menjadi
warga dunia (global citizen) yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
B. Tujuan Mata Pelajaran Informatika
Mata pelajaran Informatika bertujuan untuk mengantarkan peserta didik
menjadi “computationally literate creators” yang menguasai konsep dan praktik
Informatika, yaitu:
1. berpikir komputasional, yaitu terampil menciptakan solusi-solusi untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan secara sistematis, kritis, analitis, dan
kreatif;
2. memahami ilmu pengetahuan yang mendasari Informatika, yaitu sistem
komputer, jaringan komputer dan internet, analisis data, algoritma dan
pemrograman, serta menyadari dampak Informatika terhadap kehidupan
bermasyarakat;
3. terampil berkarya dalam menghasilkan artefak komputasional
sederhana, dengan memanfaatkan teknologi dan menerapkan proses
rekayasa, serta mengintegrasikan pengetahuan bidang-bidang lain yang
membentuk solusi sistemik;
4. terampil dalam mengakses, mengelola, menginterpretasi,
mengintegrasikan, mengevaluasi informasi, serta menciptakan informasi
baru dari himpunan data dan informasi yang dikelolanya, dengan
memanfaatkan TIK yang sesuai; dan
5. menunjukkan karakter baik sebagai anggota masyarakat digital, sehingga
mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi dan menggunakan
perangkat teknologi informasi disertai kepedulian terhadap dampaknya
dalam kehidupan bermasyarakat.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Informatika
Mata pelajaran Informatika mengintegrasikan kemampuan berpikir
komputasional, keterampilan menerapkan pengetahuan Informatika, serta
pemanfaatan teknologi (khususnya TIK) secara tepat dan bijak sebagai
objek kajian dan alat bantu untuk menghasilkan solusi efisien dan optimal
dari persoalan yang dihadapi masyarakat dengan menerapkan rekayasa
dan prinsip keilmuan Informatika. Elemen mata pelajaran Informatika
saling terkait satu sama lain membentuk
keseluruhan mata pelajaran Informatika sebagaimana diilustrasikan pada
gambar bangunan Informatika di bawah ini.
Keterangan:
TIK : Teknologi Informasi
Dan Komunikasi
SK : Sistem Komputer
JKI : Jaringan Komputer
Dan Internet S J A A D
K K D P
AD : Analisis Data
I S
AP : Algoritma dan Pemrograman I
DSI : Dampak Sosial Informatika
BERPIKIR KOMPUTASIONAL
Gambar Bangunan Informatika
Mata Pelajaran Informatika terdiri atas delapan elemen berikut ini.
Elemen Deskripsi
Berpikir Mengasah keterampilan problem solving yang
komputasional efektif, efisien, dan optimal sebagai landasan untuk
(BK) menghasilkan solusi dengan menerapkan penalaran
kritis, kreatif dan mandiri.
Teknologi Menjadi perkakas dalam berkarya dan sekaligus objek
Informasi dan kajian yang memberikan inspirasi agar suatu hari
Komunikasi peserta didik menjadi pencipta karya-karya
(TIK) berteknologi yang berlandaskan Informatika.
Sistem Pengetahuan tentang bagaimana perangkat keras dan
komputer (SK) perangkat lunak berfungsi dan saling mendukung dalam
mewujudkan suatu layanan bagi pengguna baik di luar
maupun di dalam jaringan komputer/internet.
Jaringan Memfasilitasi pengguna untuk menghubungkan sistem
Komputer dan komputer dengan jaringan lokal maupun internet.
Internet (JKI)
Analisis data Memberikan kemampuan untuk menginput, memproses,
(AD) memvisualisasi data dalam berbagai tampilan,
menganalisis, menginterpretasi, dan memprediksi, serta
mengambil kesimpulan serta keputusan berdasarkan
penalaran.
Algoritma dan Mengarahkan peserta didik menuliskan langkah
Pemrograman penyelesaian solusi secara runtut dan menerjemahkan
(AP) solusi menjadi program yang dapat dijalankan oleh
mesin (komputer).
Dampak Sosial Menyadarkan peserta didik akan dampak Informatika
Informatika dalam: (a) kehidupan bermasyarakat dan dirinya,
(DSI) khususnya dengan kehadiran dan pemanfaatan TIK, dan
(b) bergabungnya manusia dalam jaringan komputer dan
internet untuk membentuk masyarakat digital.
Praktik Lintas Melatih peserta didik bergotong royong untuk untuk
Bidang (PLB) menghasilkan artefak komputasional secara kreatif dan
inovatif dengan mengintegrasikan semua pengetahuan
Informatika maupun pengetahuan dari mata pelajaran
lain, menerapkan proses rekayasa atau pengembangan
(designing, implementing, debugging, testing, refining),
serta mendokumentasikan dan mengomunikasikan hasil
karyanya.
Beban belajar setiap elemen pada mata pelajaran Informatika tidak sama.
BK, AD, AP, dan PLB memiliki beban belajar paling besar yang
memungkinkan peserta didik berpikir kritis dan kreatif. SK dan JKI
diberikan terbatas pada pengetahuan dasar dan penggunaannya. TIK dan
DSI dapat diberikan sambil melakukan kegiatan yang berkaitan dengan
elemen lainnya, dimana perkakas TIK saat ini semakin intuitif yang mudah
dipelajari dan dimanfaatkan, sedangkan DSI merupakan aspek dari setiap
area pengetahuan Informatika untuk menumbuhkan kepedulian pada
masyarakat dan pembentukan karakter baik sebagai warga dunia maupun
warga digital.
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Informatika Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/SMK/MAK/Program Paket C)
Pada akhir fase E, peserta didik peserta didik mampu memahami peran sistem
operasi dan mekanisme internal yang terjadi pada interaksi antara perangkat
keras, perangkat lunak, dan pengguna, menerapkan keamanan dalam
penyambungan perangkat ke jaringan lokal dan internet, mengumpulkan dan
mengintegrasikan data dari berbagai sumber baik secara manual atau otomatis
dengan perkakas yang sesuai, memahami fitur lanjut, otomasi, serta
integrasi aplikasi perkantoran, menerapkan strategi algoritmik standar
untuk mengembangkan program komputer yang terstruktur dalam bahasa
pemrograman prosedural tekstual sebagai solusi atas persoalan berbagai
bidang yang mengandung data diskrit bervolume tidak kecil, bergotong
royong untuk menyelesaikan suatu persoalan kompleks dengan
mengembangkan (merancang, mengimplementasi, memperbaiki, menguji)
artefak komputasional yang bersentuhan dengan bidang lain sesuai kaidah
proses rekayasa, serta mengomunikasikan rancangan produk, produk, dan
prosesnya secara lisan dan tertulis, memahami sejarah perkembangan
komputer dan tokoh-tokohnya, memahami hak kekayaan intelektual, lisensi,
aspek teknis, hukum, ekonomi, lingkungan, dan sosial dari produk TIK,
mengenal berbagai bidang studi dan profesi terkait Informatika serta peran
Informatika pada bidang lain.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
BK Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan
strategi algoritmik standar untuk menghasilkan beberapa
solusi persoalan dengan data diskrit bervolume tidak kecil
pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya
dalam program komputer.
TIK Pada akhir fase E, peserta didik mampu memanfaatkan
berbagai aplikasi secara bersamaan dan optimal untuk
berkomunikasi, mencari sumber data yang akan diolah
menjadi informasi, baik di dunia nyata maupun di internet,
serta mahir menggunakan fitur lanjut aplikasi perkantoran
(pengolah kata, angka, dan presentasi) beserta otomasinya
untuk mengintegrasikan dan menyajikan konten aplikasi
dalam berbagai representasi yang memudahkan analisis
dan interpretasi konten tersebut.
SK Pada akhir fase E, peserta didik mampu memahami peran
sistem operasi dan mekanisme internal yang terjadi pada
interaksi antara perangkat keras, perangkat lunak, dan
pengguna.
JKI Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan
konektivitas jaringan lokal, komunikasi data via ponsel,
konektivitas internet melalui jaringan kabel dan nirkabel
(bluetooth, wifi, internet), enkripsi untuk memproteksi
data
pada saat melakukan penyambungan perangkat ke
jaringan lokal maupun internet yang tersedia.
AD Pada akhir fase E, peserta didik mampu memahami aspek
privasi dan keamanan data, mengumpulkan data secara
otomatis dari berbagai sumber data, memodelkan data
berbagai bidang, menerapkan siklus pengolahan data
(pengumpulan, pengolahan, visualisasi, analisis,
interpretasi, dan publikasi) dengan menggunakan perkakas
TIK yang sesuai, serta menerapkan strategi pengelolaan
data yang tepat guna dengan mempertimbangkan volume
dan kompleksitasnya.
AP Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan
praktik baik konsep pemrograman prosedural dalam salah
satu bahasa pemrograman prosedural dan mampu
mengembangkan program yang terstruktur dalam notasi
algoritma atau notasi lain, berdasarkan strategi algoritmik
yang tepat.
Pada akhir fase E, peserta didik mampu memahami sejarah
DSI perkembangan komputer dan tokoh-tokohnya, memahami
hak kekayaan intelektual, lisensi, aspek teknis, hukum,
ekonomi, lingkungan, dan sosial dari produk TIK,
memahami berbagai bidang studi dan profesi bidang
Informatika serta peran Informatika pada bidang lain.
PLB Pada akhir fase E, peserta didik mampu bergotong royong
dalam tim inklusif untuk mengerjakan projek bertema
Informatika dengan mengidentifikasi persoalan, merancang,
mengimplementasi, menguji, dan menyempurnakan
program komputer didasari strategi algoritma yang sesuai
sebagai solusi persoalan masyarakat serta
mengomunikasikan produk, proses pengembangan dan
manfaatnya bagi masyarakat secara lisan maupun
tertulis.
2.
9. CAPAIAN PEMBELAJARAN SEJARAH SMA/MA/PROGRAM PAKET C
A. Rasional Mata Pelajaran Sejarah SMA/MA/Program Paket C
Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Negeri lautan
dengan taburan pulau-pulau di atasnya. Perpaduan lautan dan daratan
dengan berbagai ragam potensi yang ada di dalamnya menjadikan
Indonesia sebagai salah satu negara Kepulauan (archipelago) terbesar di
dunia. Secara fisik Kepulauan Indonesia memiliki 1.904.569 km² luas
wilayah, 18.108 jumlah pulau, 81.000 km² garis pantai, dan 2,7 juta luas
perairan atau 70% dari luas wilayah Indonesia yang membentang dari 6⁰
08’ LU - 11⁰ 15’ LS dan 94⁰ 45’ BT
– 141⁰ 05’ BT. Sedangkan secara kebudayaan, Indonesia adalah negara
majemuk yang terdiri atas 1.331 suku bangsa, 652 bahasa daerah, 6 agama,
dan 187 kelompok penghayat kepercayaan.
Indonesia diapit oleh Benua Asia dan Australia serta Samudera Hindia dan
Pasifik, sehingga secara geografis Indonesia menempati lokasi strategis
dalam jalur lalu lintas masyarakat dunia. Sudah sejak lama Indonesia
menjadi tempat persinggahan berbagai bangsa, mulai dari India, Arab,
Cina, dan Eropa dengan masing-masing membawa ragam budaya dari
tanah asalnya, serta berinteraksi dengan ragam budaya asli Indonesia.
Proses ini melahirkan berbagai bentuk budaya baru yang bercampur dalam
balutan kearifan lokal, kemudian membentuk model Indonesia dengan
karakteristik Indonesia dan citarasa Indonesia. Selain itu posisi Indonesia
sebagai pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya ikut melahirkan
kultur masyarakat yang inklusif, plural, serta mampu mengembangkan
berbagai corak kebudayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan
kawasan dunia manapun.
Pemahaman dan kesadaran mengenai keindonesiaan wajib diketahui oleh
segenap bangsa Indonesia, pertanyaan dari mana kita berasal,
bagaimana keadaan kita sekarang, dan kedepan mau berjalan kearah mana
adalah berbagai pertanyaan menyangkut eksistensi kita sebagai bangsa
atau bahkan manusia pada umumnya. Kita juga harus menyadari
bahwa bangsa ini lahir bukan dari persamaan suku, ras, budaya, atau
agama, melainkan karena adanya kesadaran serta kesepakatan untuk
hidup bersama dalam sebuah bangsa yaitu Indonesia. Kesadaran dan
kesepakatan bersama ini diikat oleh fakta bahwa kita berangkat dari
sejarah yang sama.
Berbagai peristiwa penting yang terjadi di Indonesia mulai dari asal usul
nenek moyang dan jalur rempah, masa Kerajaan Hindu-Buddha, masa
Kerajaan Islam, masa penjajahan Bangsa Eropa, masa Pergerakan
Kebangsaan Indonesia, masa Pendudukan Jepang, masa Proklamasi
Kemerdekaan, masa usaha mempertahankan kemerdekaan, masa
pemerintahan Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin, masa
Pemerintahan Orde Baru, sampai masa Pemerintahan Reformasi adalah
sebuah perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu, dimana banyak
terkandung pelajaran di dalamnya.
Perjalanan sejarah Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang
terjadi di dunia. Revolusi Besar Dunia, Perang Dunia I, Perang Dunia II,
Perang Dingin, dan Peristiwa Kontemporer Dunia sampai Abad-21 adalah
diantara peristiwa dunia yang berpengaruh secara langsung atau tidak
langsung dengan Indonesia. Transformasi pengetahuan atas masa lalu
untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan kekinian, dan sebagai
bahan proyeksi untuk masa depan, sebagai upaya memperkuat jati diri
manusia dalam dimensi lokal, nasional, dan global hanya mungkin
dilakukan melalui mata pelajaran Sejarah.
Dari sisi pengetahuan konten teknologi pembelajaran (pedagogical content
technology knowledge) guru sejarah dalam mengajarkan sejarah harus
utuh dan komprehensif. Laksana orang menenun, sejarah harus
disampaikan memanjang jalur atas-bawah dan melebar jalur kiri-kanan,
artinya berbagai pendekatan diakronis (kronologis) maupun sinkronis
dapat digunakan untuk menjelaskan sebuah peristiwa sejarah secara
utuh. Begitu juga dengan muatan-muatan lain dalam sejarah perlu
diajarkan secara multidimensional, misalnya jika selama ini mempelajari
sejarah lebih ditekankan kepada muatan politik atau militer, maka sekarang
ini kita dapat juga mengangkat muatan lokal, muatan sosial, muatan Hak
Asasi Manusia (HAM), muatan feminis, muatan maritim, muatan agraris,
muatan teknologi, muatan lingkungan, muatan mitigasi, muatan kesehatan,
muatan fashion, muatan kuliner, dan lain sebagainya secara terintegrasi
dalam satu narasi sejarah. Penjelasan sejarah yang utuh dan komprehensif
dari berbagai pendekatan, serta dengan memasukan berbagai muatan
sejarah dan melibatkan ilmu-ilmu bantu lain, kemudian dikombinasikan
dengan penggunaan ragam model atau media
pembelajaran inovatif berbasis teknologi, niscaya akan membuat
pembelajaran sejarah menjadi semakin kaya, berbobot, dan bermakna bagi
kehidupan anak bangsa.
Peran guru sejarah dibutuhkan untuk membangun jembatan antara masa
lalu, masa kini, dan masa depan dengan merangsang kebatinan serta nalar
peserta didik melalui keterampilan imajinatif, kreatif, kritis, dan reflektif
yang bersandar pada sumber-sumber autentik. Dari sini kita semakin
menjadi yakin bahwa belajar sejarah sesungguhnya adalah belajar berpikir.
Selain itu belajar sejarah jangan sampai hanya sebatas lambang pemujaan
masa lalu, dimana generasi muda hanya dapat terpesona atau menjadi
penikmat dari masa lalu yang gemilang, tanpa pernah berpikir untuk
merencanakan bangunan masa depan mereka sendiri.
Secara progresif pembelajaran sejarah harus mampu
mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu
dengan berbagai peristiwa yang dialami sekarang, untuk kita dapat saling
merenungi, mengevaluasi, membandingkan, atau mengambil keputusan,
sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.
Muara dari pembelajaran sejarah yang berorientasi pada keterampilan
berpikir secara alamiah akan mendorong pembentukan manusia merdeka
yang memiliki kesadaran sejarah dan selaras dengan Profil Pelajar
Pancasila.
B. Tujuan Belajar Sejarah
1. Mata pelajaran Sejarah bertujuan untuk:
2. Menumbuhkembangkan kesadaran sejarah;
3. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang diri sendiri;
4. Menumbuhkembangkan pemahaman kolektif sebagai bangsa;
5. Menumbuhkembangkan rasa bangga atas kegemilangan masa lalu;
6. Menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dan patriotisme;
7. Menumbuhkembangkan nilai-nilai
moral, kemanusiaan, dan
lingkungan hidup;
8. Menumbuhkembangkan nilai-nilai kebhinekaan
dan gotong royong;
9. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang dimensi manusia,
yaitu kemampuan menganalisis pemikiran, suasana kebatinan,
tindakan, maupun karya yang memiliki makna dalam sejarah;
10. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang dimensi ruang, yaitu
kemampuan menganalisis hubungan atau keterkaitan antara
peristiwa yang terjadi secara lokal, nasional, serta global;
11. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang waktu, yaitu
kemampuan melihat peristiwa secara utuh meliputi dimensi masa
lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, serta menganalisis
perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan
dalam kehidupan manusia;
12. Melatih kecakapan berpikir diakronis (kronologi), sinkronis,
kausalitas, imajinatif, kreatif, kritis, reflektif, kontekstual, dan
multiperspektif;
13. Melatih keterampilan mencari sumber (heuristik), kritik dan seleksi
sumber (verifikasi), analisis dan sintesis sumber (interpretasi), dan
penulisan sejarah (historiografi);
14. Melatih keterampilan mengolah informasi sejarah secara non digital
maupun digital dalam berbagai bentuk aplikasi sejarah, rekaman
suara, film dokumenter, foto, maket, vlog, story board, timeline,
infografis, videografis, komik, poster, dan lain-lain;
C. Karakteristik Mata Pelajaran Sejarah
Karakteristik mata pelajaran sejarah terikat oleh dimensi manusia, ruang,
dan waktu. Dimensi manusia dilihat sebagai agen yang menciptakan
sejarah, secara individu ataupun kolektif, dengan melihat dimensi
pemikiran, mental kebatinan, rekam jejak atau karya yang menjadi latar
belakang manusia tersebut. Lalu dimensi ruang dilihat dari tempat
terjadinya sebuah peristiwa, dalam lingkup lokal, nasional, dan global,
dengan menarik hubungan antara satu peristiwa di satu tempat, dengan
peristiwa di tempat lainnya. Kemudian dimensi waktu dilihat secara
kontekstual melewati masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang,
dengan memperhatikan pola perkembangan, perubahan, keberlanjutan,
atau keberulangan dari sebuah peristiwa.
Dari sisi substansi, mata pelajaran sejarah berisikan berbagai peristiwa
penting yang terjadi di Indonesia dalam lingkup lokal dan nasional, mulai
dari asal usul nenek moyang dan jalur rempah, masa Kerajaan
Hindu-Buddha, masa Kerajaan Islam, masa penjajahan Bangsa Eropa,
masa Pergerakan Kebangsaan Indonesia, masa Pendudukan Jepang, masa
Proklamasi Kemerdekaan, masa usaha mempertahankan kemerdekaan,
masa pemerintahan Demokrasi Liberal dan Terpimpin, masa pemerintahan
Orde Baru, sampai masa pemerintahan Reformasi.
Mata pelajaran Sejarah juga mencakup berbagai peristiwa global yang
memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan
Indonesia. Peristiwa global ini berbentuk muatan materi yang
terintegrasi dalam perjalanan sejarah di Indonesia seperti pembentukan
paham keindonesiaan yang dikaitkan dengan revolusi besar dunia,
pergerakan kebangsaan dengan Perang Dunia I, Proklamasi
kemerdekaan dengan Perang Dunia II, usaha mempertahankan
kemerdekaan dengan Perang Dingin, serta masa reformasi dengan
peristiwa kontemporer dunia sampai abad-21
Secara pendekatan, mata pelajaran sejarah dapat dikaji dengan
menggunakan berbagai pendekatan khas sejarah seperti diakronis
(kronologi) maupun sinkronis. Mata pelajaran sejarah juga memberikan
pengalaman belajar saintifik yang diperoleh melalui tahapan mencari
sumber (heuristik), kritik dan seleksi sumber (verifikasi), analisis dan
sintesis sumber (interpretasi), sampai mengambil kesimpulan dan refleksi
yang dituliskan secara historiografi.
1. Lingkup materi dalam mata pelajaran sejarah, yaitu:
a. Pengantar Ilmu Sejarah
b. Asal-Usul Nenek Moyang dan Jalur Rempah di Indonesia
c. Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
d. Kerajaan Islam di Indonesia
e. Kolonisasi dan Perlawanan Bangsa Indonesia
f. Pergerakan Kebangsaan Indonesia
g. Pendudukan Jepang di Indonesia
h. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
i. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
j. Pemerintahan Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin
k. Pemerintahan Orde Baru
l. Pemerintahan Reformasi
2. Lingkup Strands Kecakapan dalam mata pelajaran Sejarah,
meliputi:
a. Keterampilan Konsep Sejarah (Historical Conceptual Skills)
b. Keterampilan Berpikir Sejarah (Historical Thinking Skills)
c. Kesadaran Sejarah (Historical Consciousness)
d. Penelitian Sejarah (Historical Research)
e. Keterampilan Praktis Sejarah (Historical Practice Skills)
Dari uraian di atas, maka mata pelajaran Sejarah meliputi elemen sebagai
berikut:
Elemen Deskripsi
Keterampilan Konsep Keterampilan Konsep Sejarah (Historical
Kelas X Conceptual Skills) berhubungan dengan konsep-
konsep dasar ilmu sejarah, seperti manusia,
ruang, waktu, diakronik (kronologi),
sinkronik, historiografi, maupun konsep-
konsep lain yang berhubungan dengan
peristiwa sejarah seperti kolonialisme,
imperialisme, pergerakan nasional,
proklamasi, orde lama, orde baru, reformasi,
dan lain-lain. Keterampilan konsep diperoleh
melalui pemahaman akan sebuah konsep, baik
dalam dalam lingkup ilmu sejarah maupun
lingkup ilmu lain yang memiliki relevansi dengan
pembahasan sebuah peristiwa.
Peserta didik tidak hanya sekedar tahu dan hafal
tentang definisi konsep, tetapi juga harus tahu
bagaimana menggunakan konsep sebagai bahan
analisis untuk mengkaji sebuah peristiwa.
Pemahaman konsep dibutuhkan untuk
memperoleh penjelasan secara lebih luas dan
bermakna tentang sebuah peristiwa.
Keterampilan Proses 1. Mengamati: Peserta didik melakukan kegiatan
Sejarah Kelas X yang dilaksanakan secara sengaja dan
terencana dengan maksud untuk mendapat
informasi dari hasil pengamatan. Pengamatan
dapat dilakukan langsung atau menggunakan
instrumen lain.
2. Menanya: Peserta didik menyusun pertanyaan
tentang hal-hal yang ingin diketahuinya dan
masalah apa yang ditemukan. Pada tahap ini
ia juga menghubungkan pengetahuan yang
dimiliki dengan pengetahuan baru yang akan
dipelajari sehingga dapat menjelaskan
permasalahan yang sedang diselidiki dengan
rumus 5W 1H (apa, siapa, kapan, di mana,
mengapa, dan bagaimana), dan
memperkirakan apa yang akan terjadi
berdasarkan jawaban atas pertanyaan.
3. Mengumpulkan Informasi: Peserta didik
menyusun langkah-langkah untuk
mengumpulkan informasi melalui studi
pustaka, studi dokumen, wawancara,
observasi, kuesioner, dan teknik pengumpulan
informasi lainnya.
4. Mengorganisasikan Informasi: Peserta didik
memilih, mengolah dan menganalisis informasi
yang diperoleh. Proses analisis informasi
dilakukan dengan cara verifikasi, interpretasi,
dan triangulasi informasi.
5. Menarik Kesimpulan: Peserta didik menjawab,
mengukur dan mendeskripsikan serta
menjelaskan permasalahan yang ada dengan
memenuhi prosedur dan tahapan yang
ditetapkan.
6. Mengomunikasikan: Peserta didik
mengungkapkan seluruh hasil tahapan di atas
secara lisan dan tulisan dalam bentuk media
digital dan non-digital. Peserta didik lalu
mengomunikasikan hasil temuannya dengan
mempublikasikan hasil laporan dalam bentuk
presentasi digital dan/atau non digital.
7. Merefleksikan dan Merencanakan Proyek
Lanjutan Secara Kolaboratif: Peserta didik
mampu mengevaluasi pengalaman belajar yang
telah dilalui dan diharapkan dapat
merencanakan projek lanjutan dengan
melibatkan lintas mata pelajaran secara
kolaboratif.
Keterampilan Proses 1. Keterampilan Berpikir Sejarah (Historical
Sejarah Kelas XI dan XII Thinking Skills): Peserta didik mampu berpikir
diakronis (kronologi); berpikir sinkronis;
berpikir kausalitas; berpikir interpretasi;
berpikir kritis; berpikir kreatif; berpikir
kontekstual; berpikir imajinatif; berpikir
multiperspektif; berpikir reflektif.
2. Kesadaran Sejarah (Historical
Consciousness): Peserta didik mampu
memahami dan menganalisis fakta sejarah;
menghubungkan masa lalu, masa kini, dan
masa depan; memaknai nilai-nilai masa lalu.
3. Penelitian Sejarah (Historical Research):
Peserta didik mampu menentukan topik;
mengumpulkan sumber (heuristik); mengritik
dan menyeleksi sumber (verifikasi);
menganalisis dan mensintesis sumber
(interpretasi); menuliskan sejarah
(historiografi).
4. Keterampilan Praktis Sejarah (Historical
Practice Skills): Peserta didik mampu membaca
buku teks, buku referensi, internet, dokumen
sejarah, dan hasil wawancara; menuliskan
cerita sejarah; menuturkan cerita sejarah;
mengolah informasi sejarah non digital atau
digital dalam berbagai bentuk aplikasi sejarah,
rekaman suara, film dokumenter, foto, maket,
vlog, timeline, story board, infografis,
videografis, komik, poster, dan lain-lain.
D. Capaian Pembelajaran Sejarah Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya Kelas X SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir Fase E, peserta didik mampu memahami konsep-konsep dasar manusia,
ruang, waktu, diakronis (kronologi), sinkronis, guna sejarah, sejarah dan teori
sosial, metode penelitian sejarah, serta sejarah lokal. Melalui literasi, diskusi,
kunjungan langsung ke tempat bersejarah, dan penelitian berbasis proyek
kolaboratif peserta didik mampu menganalisis serta mengevaluasi berbagai
peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia meliputi konsep asal-usul nenek moyang
dan jalur rempah di Indonesia, kerajaan Hindu-Buddha, dan kerajaan Islam di
Indonesia.
Pada akhir Fase E, peserta didik mampu menggunakan sumber primer atau
sekunder untuk melakukan penelitian sejarah lokal yang memiliki benang merah
dengan keindonesiaan baik langsung ataupun tidak langsung, secara diakronis
dan/atau sinkronis kemudian mengomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan,
dan/atau media lain. Selain itu mereka juga mampu menggunakan berbagai
keterampilan sejarah untuk menjelaskan peristiwa sejarah serta memaknai nilai-
nilai yang terkandung di dalamnya.
Elemen Pemahaman Konsep Sejarah
Pada akhir fase ini, peserta didik mampu memahami konsep dasar ilmu
sejarah yang dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa sejarah;
memahami konsep dasar ilmu sejarah sebagai bahan analisis untuk mengkaji
peristiwa sejarah; memahami konsep dasar ilmu sejarah sebagai bahan
evaluasi untuk mengkaji peristiwa sejarah; menganalisis serta mengevaluasi
manusia sebagai subjek dan objek sejarah; menganalisis serta mengevaluasi
peristiwa sejarah dalam ruang lingkup lokal, nasional, dan global;
menganalisis serta mengevaluasi sejarah dalam dimensi masa lalu, masa kini,
dan masa depan; menganalisis serta mengevaluasi sejarah dari aspek
perkembangan, perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan; memahami
peristiwa sejarah secara diakronis (kronologi) maupun sinkronis.
Peserta didik juga dapat memahami konsep dasar asal usul nenek moyang dan
jalur rempah; menganalisis serta mengevaluasi manusia dalam asal usul nenek
moyang dan jalur rempah; menganalisis serta mengevaluasi asal usul nenek
moyang dan jalur rempah dalam ruang lingkup lokal, nasional, serta global;
menganalisis serta mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur rempah
dalam dimensi masa lalu, masa kini, serta masa depan; menganalisis serta
mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur rempah dari pola
perkembangan, perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan; menganalisis
serta mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur rempah secara diakronis
(kronologi) dan/atau sinkronis.
Peserta didik memahami konsep dasar kerajaan Hindu-Buddha; menganalisis
serta mengevaluasi manusia dalam kerajaan Hindu-Buddha; menganalisis
serta mengevaluasi kerajaan Hindu-Buddha dalam ruang lingkup lokal,
nasional, dan global; menganalisis serta mengevaluasi kerajaan Hindu-Buddha
dalam dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan; menganalisis serta
mengevaluasi kerajaan Hindu-Buddha dari pola perkembangan, perubahan,
keberlanjutan, dan keberulangan; menganalisis serta mengevaluasi kerajaan
Hindu-Buddha secara diakronis (kronologi) dan/atau sinkronis.
Peserta didik mampu memahami konsep dasar kerajaan Islam; menganalisis
serta mengevaluasi manusia dalam kerajaan Islam; menganalisis serta
mengevaluasi kerajaan Islam dalam ruang lingkup lokal, nasional, dan
global; menganalisis serta mengevaluasi kerajaan Islam dalam dimensi masa
lalu, masa kini, dan masa depan; menganalisis serta mengevaluasi kerajaan
Islam dari pola perkembangan, perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan;
menganalisis serta mengevaluasi kerajaan Islam secara diakronis (kronologi)
dan/atau sinkronis.
Elemen Keterampilan Proses Sejarah
Pada akhir fase ini, peserta didik mampu mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, mengorganisasikan informasi, menarik kesimpulan,
mengomunikasikan, merefleksikan dan merencanakan proyek lanjutan secara
kolaboratif tentang pengantar dasar ilmu sejarah, jalur rempah dan asal usul
nenek moyang bangsa Indonesia, kerajaan Hindu- Buddha, dan kerajaan Islam
meliputi:
1. Penelitian sejarah lokal dimulai dari lingkungan terdekat (sejarah keluarga,
sejarah sekolah, sejarah jalur rempah di daerah, sejarah kerajaan di daerah,
dan lain-lain); mengumpulkan sumber-sumber primer maupun sekunder
melalui sarana lingkungan sekitar, perpustakaan, dan internet; melakukan
seleksi dan kritik terhadap sumber-sumber primer maupun sekunder;
melakukan penafsiran untuk mendeskripsikan makna di balik sumber-
sumber primer dan/atau sekunder; dan menuliskan hasil penelitian dalam
bentuk historiografi.
2. Penjelasan peristiwa sejarah secara diakronis (kronologi) yang
menitikberatkan pada proses dan/atau sinkronis yang menitikberatkan pada
struktur; Penjelasan peristiwa sejarah berdasarkan hubungan kausalitas;
Mengaitkan peristiwa sejarah dengan kehidupan sehari-hari; dan
menempatkan peristiwa sejarah pada konteks zamannya.
3. Penjelasan peristiwa sejarah dalam perspektif masa lalu, masa kini, dan
masa depan; Penjelasan peristiwa sejarah dari pola perkembangan,
perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan.
4. Penjelasan peristiwa sejarah dalam ruang lingkup lokal, nasional, dan
global; Mengaitkan hubungan antara peristiwa sejarah lokal, nasional, dan
global.
5. Memaknai nilai-nilai dari peristiwa sejarah dan dikontekstualisasikan
dalam kehidupan masa kini.
6. Mengolah informasi sejarah secara non digital maupun digital dalam
berbagai bentuk aplikasi sejarah, rekaman suara, film dokumenter, foto,
maket, vlog, timeline, story board, infografis, videografis, komik, poster,
dan lain-lain.
10. CAPAIAN PEMBELAJARAN SENI MUSIK
A. Rasional Mata Pelajaran Seni Musik
Seni musik merupakan ekspresi, respon, dan apresiasi manusia
terhadap berbagai fenomena kehidupan, baik dari dalam diri
maupun dari budaya, sejarah, alam dan lingkungan hidup
seseorang, dalam beragam bentuk tata dan olah bunyi-musik.
Musik bersifat individu sekaligus universal, mampu menembus
sekat-sekat perbedaan, serta menyuarakan isi hati dan buah pikiran
manusia yang paling dalam, termasuk yang tidak dapat diwakili
oleh bahasa verbal. Musik mendorong manusia untuk
merasakan, dan mengekspresikan keindahan melalui penataan
bunyi-suara.
Melalui pendidikan seni musik, manusia diajak untuk berpikir dan
bekerja artistik-estetik secara kreatif, memiliki daya apresiasi,
menerima perbedaan, menghargai kebhinekaan global, sejahtera
secara utuh (jasmani, mental-psikologis, dan rohani), yang pada
akhirnya akan berdampak terhadap kehidupan manusia (diri sendiri
dan orang lain) dan pengembangan pribadi setiap orang dalam
proses pembelajaran yang berkesinambungan (terus menerus).
B. Tujuan Mata Pelajaran Seni Musik
1. Peserta didik mampu mengekspresikan diri atas fenomena
kehidupan.
2. Peserta didik peka terhadap persoalan diri secara pribadi dan
dunia sekitar.
3. Peserta didik mampu mengasah dan mengembangkan
musikalitas, terlibat dengan praktik-praktik bermusik dengan
cara yang sesuai, tepat, dan bermanfaat, serta turut ambil
bagian dan mampu menjawab tantangan dalam kehidupan
sehari-hari.
4. Secara sadar dan bermartabat peserta didik mengusahakan
perkembangan kepribadian, karakter, dan kehidupannya baik
untuk diri sendiri maupun untuk sesama dan alam sekitar.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Seni Musik
1. Pelajaran seni musik mencakup: pengembangan musikalitas;
kebebasan berekspresi; pengembangan imajinasi secara luas;
menjalani disiplin kreatif; penghargaan akan nilai-nilai
keindahan; pengembangan rasa kemanusiaan, toleransi dan
menghargai perbedaan; pengembangan karakter/kepribadian
manusia secara utuh (jasmani, mental/psikologis, dan rohani)
yang dapat memberikan dampak dalam kehidupan manusia.
2. Pelajaran musik membantu mengembangkan musikalitas,
kemampuan bermusik peserta didik melalui berbagai macam
praktik musik yang baik secara:
a. Ekspresif dan indah
b. Kesadaran, pemahaman dan penghayatan akan unsur-
unsur/ elemen-elemen bunyi-musik dan kaidah-kaidahnya
c. Dengan penerapan yang tepat guna
Dalam pembelajaran praktik Seni Musik mencakup elemen-
elemen sebagai berikut:
Elemen Deskripsi
Mengalami ● Peserta didik mengenali, merasakan, menyimak,
(Experiencing) mencoba/bereksperimen, dan merespon bunyi-
musik dari beragam sumber, dan beragam jenis/
bentuk musik dari berbagai konteks budaya dan
era.
● Peserta didik mengeksplorasi bunyi dan beragam
karya-karya musik, bentuk musik, alat-alat yang
menghasilkan bunyi-musik, dan penggunaan
teknologi dalam praktik bermusik.
● Peserta didik mengamati, mengumpulkan, dan
merekam pengalaman dari beragam praktik
bermain musik, menumbuhkan kecintaan pada
musik dan mengusahakan dampak bagi diri
sendiri, orang lain, dan masyarakat.
Elemen Deskripsi
Merefleksikan ● Peserta didik memiliki nilai-nilai yang generatif-
(Reflecting) lestari dalam pengalaman dan pembelajaran
bermusik secara artistik-estetik yang
berkesinambungan (terus-menerus).
● Peserta didik mengamati, memberikan penilaian
dan membuat hubungan antara karya pribadi
dan orang lain sebagai bagian dari proses
berpikir dan bekerja artistik-estetik, dalam
konteks unjuk karya musik.
Berpikir dan Bekerja ● Peserta didik merancang, menata, menghasilkan,
Secara Artistik mengembangkan, me-reka ulang, dan
(Thinking and mengkomunikasikan ide melalui proses
Working Artistically) mengalami, merefleksikan, dan menciptakan.
● Peserta didik mengeksplorasi dan menemukan
sendiri bentuk karya dan praktik musik
(elaborasi dengan bidang keilmuan yang lain:
seni-rupa, tari, drama/lakon, dan non-seni) yang
membangun, dan bermanfaat untuk menanggapi
setiap tantangan hidup dan kesempatan berkarya
secara mandiri.
● Peserta didik meninjau dan memperbarui karya
pribadi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,
jaman, konteks fisik-psikis, budaya, dan kondisi
alam.
● Peserta didik menjalani kebiasaan/disiplin
secara kreatif sebagai sarana melatih kelancaran,
keluwesan, dan kemampuan bermusik.
Menciptakan ● Peserta didik memilih penggunaan beragam
(Creating) media dan teknik bermain dalam praktik musik
untuk menghasilkan karya musik sesuai dengan
konteks, kebutuhan dan ketersediaan, serta
kemampuan praktik musik masyarakat, sejalan
dengan perkembangan teknologi.
● Peserta didik menciptakan karya-karya musik
dengan standar musikalitas yang baik dan sesuai
dengan kaidah/budaya dan kebutuhan, dapat
dipertanggungjawabkan, berdampak pada diri
sendiri dan orang lain, dalam beragam bentuk
praktik musik.
Berdampak ● Peserta didik memilih, menganalisis,
(Impacting) bagi diri menghasilkan karya-karya musik dengan
sendiri dan orang lain kesadaran untuk terus mengembangkan
kepribadian dan karakter bagi diri sendiri dan
sesama.
● Peserta didik memilih, menganalisis
menghasilkan karya-karya musik dengan
kesadaran untuk terus membangun persatuan
dan kesatuan bangsa.
● Peserta didik memilih, menganalisis,
menghasilkan karya-karya musik dengan
kesadaran untuk terus meningkatkan cinta kasih
kepada sesama manusia dan alam semesta.
● Peserta didik menjalani kebiasaan/disiplin
kreatif dalam praktik musik sebagai sarana
melatih pengembangan pribadi dan bersama, dan
menjadi semakin baik (waktu demi waktu, tahap
demi tahap).
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Seni Musik setiap Fase
1. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir Fase E, peserta didik mampu menyimak dengan baik dan
cermat, melibatkan diri secara aktif dalam pengalaman atas bunyi-
musik. Peserta didik dapat mengkaji, memberi kesan, dan merekam
beragam praktik bermusik baik sendiri maupun bersama-sama baik
sebagai dokumentasi maupun alat komunikasi secara umum serta
menyadari hubungannya dengan konteks dan praktik-praktik
lain (di luar musik) yang lebih luas untuk perbaikan hidup baik
diri sendiri, sesama, lingkungan dan alam semesta. Peserta
didik mampu menjalani kebiasaan praktik musik yang baik dan
rutin dalam melakukan praktik musik mulai persiapan,
penyajian, maupun setelah melakukan praktik musik dengan
kesadaran untuk perkembangan, perbaikan, kelancaran serta
keluwesan dalam melakukan praktik musik. Peserta didik
mampu memilih, memainkan, menghasilkan, menganalisis,
merefleksi karya-karya musik secara aktif, kreatif, artistik, dan
musikal secara bebas dan bertanggung jawab, serta sensitif
terhadap fenomena kehidupan manusia serta terus
mengusahakan mendapatkan pengalaman dan kesan baik dan
berharga bagi perbaikan dan kemajuan diri sendiri secara utuh
dan bagi kemajuan bersama.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Mengalami Pada akhir fase ini, peserta didik mampu
(Experiencing menyimak, melibatkan diri secara aktif dalam
pengalaman atas kesan terhadap bunyi-musik,
peka dan paham, serta secara sadar melibatkan
konteks sajian musik dan berpartisipasi aktif
dalam sajian musik yang berguna bagi
perbaikan hidup baik untuk diri sendiri.
sesama, lingkungan, dan alam semesta.
Merefleksikan Pada akhir fase ini, peserta didik mampu
(Reflecting) menyimak, melibatkan diri secara aktif dalam
pengalaman atas kesan terhadap bunyi-musik,
peka dan paham, serta secara sadar melibatkan
konteks sajian musik dan berpartisipasi aktif
dalam sajian musik yang berguna bagi
perbaikan hidup baik untuk diri sendiri.
sesama, lingkungan, dan alam semesta.
Berpikir dan Bekerja Pada akhir fase ini, peserta didik mampu
Secara Artistik menjalani kebiasaan baik dan rutin dalam
(Thinking and berpraktik musik sejak dari persiapan, saat,
Working Artistically) maupun usai berpraktik musik dengan
kesadaran untuk perkembangan dan perbaikan
kelancaran serta keluwesan bermusik, serta
memilih, memainkan, menghasilkan,
menganalisis, dan merefleksi karya-karya
musik secara aktif, kreatif, artistik, dan musikal
secara bebas dan bertanggung jawab, serta
sensitif terhadap fenomena kehidupan
manusia.
Menciptakan Pada akhir fase ini, peserta didik mampu
(Creating) menghasilkan gagasan dan karya musik yang
otentik dalam sebuah sajian dengan kepekaan
akan unsur-unsur bunyi-musik baik intrinsik
maupun ekstrinsik, keragaman konteks,
melibatkan praktik-praktik selain musik
(bentuk seni yang lain) baik secara terencana
maupun situasional yang berguna bagi
perbaikan hidup diri sendiri, sesama,
lingkungan, dan alam semesta.
Elemen Capaian Pembelajaran
Berdampak (Impacting) Pada akhir fase ini, peserta didik mampu
bagi diri sendiri dan menjalani kebiasaan baik dan rutin dalam
orang lain berpraktik musik dan aktif dalam kegiatan-
kegiatan bermusik lewat bernyanyi,
memainkan media bunyi-musik dan
memperluas wilayah praktik musiknya dengan
praktik-praktik lain di luar musik serta terus
mengusahakan mendapatkan pengalaman dan
kesan baik dan berharga bagi perbaikan dan
kemajuan diri sendiri secara utuh dan
bersama.
11. CAPAIAN PEMBELAJARAN SENI TEATER
A. Rasional Mata Pelajaran Seni Teater
Seni Teater merupakan ekspresi manusia terhadap berbagai
fenomena melalui media yang lebih kompleks, dengan
menggabungkan semua bidang seni, baik bidang seni tari, musik,
akting, seni rupa, dan multimedia. Manusia memiliki sifat homo
ludens (manusia bermain), sehingga sejak usia dini teater dapat
diajarkan sebagai bentuk pengenalan, pemahaman, pengolahan,
peniruan (mimesis) dan pengekspresian emosi melalui tubuhnya.
Melalui bermain peran, seni teater dapat membantu peserta didik
sejak dini untuk mengasah daya pikir (imajinasi dan bernalar
kritis), mengenali dan mengembangkan potensi diri (mandiri) serta
meningkatkan kepercayaan diri.
Seni teater dapat menjawab potensi manusia sebagai homo socius
(makhluk sosial). Seni teater dapat mengajarkan cara
berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal agar
peserta didik dapat berinteraksi dan menyampaikan pesan dengan
lebih baik dan menarik lagi dengan lingkungan sekitar. Hal ini
dapat dipraktikkan dalam bentuk eksperimen pertunjukan di
kelas, dalam kegiatan ini peserta didik dapat bekerja sama dalam
permainan peran, menulis naskah, atau latihan repetisi dalam
gladi bersih. Kerja teater adalah kerja ansambel, sehingga semua
bidang adalah penting dan setiap orang memiliki peran untuk
bersama mencapai tujuan bersama (gotong royong).
Manusia sebagai makhluk yang mampu berinovasi (homo creator)
dapat diarahkan untuk dapat melihat persoalan-persoalan di
sekitarnya. Manusia dapat mencari lebih jauh permasalahan, dan
menggunakan media seni teater untuk berkreasi dan berinovasi
untuk mengulik, menyampaikan atau mencari alternatif jawaban
terhadap persoalan tersebut (berpikir kritis, kreatif dan asas
berkebhinekaan global). Untuk mengasah potensi homo creator,
peserta didik dapat berperan serta dalam proses membuat dan
mempersiapkan pertunjukan menurut kemampuan masing-masing.
Seni teater dapat mengajarkan empati dan tanggung jawab
kepada sesama, dan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk menggali dan mengeksplorasi potensi individu, kerja
sama, dan unity menuju kreativitas estetis,
berdasarkan norma yang berlaku (beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan yang Maha Esa).
Oleh karena itu, mata pelajaran Seni Teater dapat membentuk
Profil Pelajar Pancasila dengan sikap beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, kritis (mengasah daya pikir, memahami
persoalan di sekitarnya), mandiri (mengenali dan mengembangkan
potensi diri), gotong royong (memahami kerja ansambel sehingga
semua peserta didik memiliki peran untuk mencapai tujuan
bersama), kreatif (mencari solusi terhadap berbagai persoalan
yang dihadapi di lingkungan sekitarnya), dan memiliki sikap
hormat dan toleransi pada kebhinekaan sebagai bagian dari
masyarakat global.
B. Tujuan Mata Pelajaran Seni Teater
1. Peserta didik mampu mengasah kepekaannya terhadap
persoalan diri dan mampu mencari solusi, baik untuk diri
sendiri, sesama, maupun dunia sekitarnya; serta mampu
mengekspresikan diri secara kreatif dan inovatif melalui tubuh,
ruang, waktu.
2. Peserta didik menguasai teknik, eksplorasi alat, bahan,
teknologi, dan mampu memanfaatkannya sesuai dengan
prosedur dan teknik, untuk dapat menjawab kesempatan dan
tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Peserta didik membutuhkan imajinasi untuk tumbuh, berkreasi,
berpikir, dan bermain. Teater adalah satu-satunya media paling
sesuai untuk menjelajahi kemungkinan tidak terbatas dari
proses imajinasi mereka pada sesuatu yang dapat mereka
lakukan.
4. Peserta didik mampu mengembangkan diri dan
mengomunikasikan gagasan, serta karya dengan lebih baik.
Seni Teater dapat berdampak secara langsung maupun tidak
langsung kepada perubahan cara pandang dan pembentukan
kepribadian dan karakter peserta didik.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Seni Teater
● Memberikan ruang kreativitas bagi peserta didik untuk dapat
mengenal, memahami, mengelola dan mengekspresikan
emosi melalui tubuh, suara, dan pikiran dengan berbagai media
seni dan budaya.
● Memiliki kemampuan untuk menghargai keindahan,
kemanusiaan, empati, dan toleransi melalui proses penciptaan
karya seni teater;
● Menghargai, melestarikan dan mempererat ekosistem kesenian
di Indonesia; menghargai keunikan dan kemajemukan ide,
nilai, dan budaya melalui eksplorasi seni tari, pantomim,
musik, akting, seni rupa, dan multimedia.
● Seni teater terkait erat dengan disiplin ilmu lainnya dan
berbagai macam aspek kehidupan manusia (humaniora), seperti
agama, psikologi, sosial, budaya, sejarah, komunikasi, politik
dan antropologi; memberikan kontribusi penting dalam
mengomunikasikan legenda, sejarah, budaya dan sosio-
ekonomi bangsa.
● Melalui teater, peserta didik dibawa ke dalam cerita
tentang karakter dari berbagai latar belakang yang bisa
dibayangkan. Pertunjukan langsung mengajari peserta didik
bagaimana menghargai semua karakterisasi tokoh dan
bagaimana menghormati sudut pandang orang lain. Seni Teater
mengajarkan manusia untuk bersikap kritis dan mampu
memberi solusi untuk menyelesaikan masalah, sehingga
melalui Seni Teater, peserta didik mampu memahami berbagai
persoalan yang terjadi dalam diri dan lingkungannya.
Pada praktik pengajarannya, Seni Teater menggunakan
sejumlah elemen pendekatan sebagai berikut.
Gambar 1. Skema Elemen Capaian Pembelajaran Seni
Elemen Deskripsi
Berpikir dan Bekerja Seni Teater memberikan kesempatan kepada siswa
Secara Artistik untuk mengelaborasi elemen tata artistik
(Thinking Artistically) panggung dan keaktoran dan proses penyatuan
(unity) semua elemen tersebut ke dalam wujud
karya atau produk yang dipresentasikan dalam
sebuah pertunjukan. Melalui proses berpikir dan
bekerja secara artistik, peserta didik akan
menghasilkan, mengembangkan, menciptakan dan
mengomunikasikan ide-ide kreatifnya untuk
menggunakan alat, media dan teknologi. Berpikir
dan bekerja secara artistik menghubungkan hasil
proses mengalami, mencipta, dan merefleksi.
Mengalami Melalui pendidikan Seni Teater, peserta didik
(Experiencing) dapat memahami, mengalami, merasakan,
merespon dan bereksperimen dengan ragam
pengetahuan, gaya dan konsep Seni Teater.
Kegiatan mengalami terjadi ketika peserta didik
melakukan olah rasa, tubuh, suara, eksplorasi
alat, media, atau mengumpulkan informasi melalui
observasi dan interaksi dengan seniman untuk
memperkaya wawasan dan pengalaman dalam
berteater. Lebih lanjut melalui proses mengalami,
memungkinkan peserta didik untuk melangkah ke
posisi orang lain dan melihat bentuk lain dari
sudut pandang mereka. Ini mengajarkan tentang
empati dan relativitas budaya.
Menciptakan Menciptakan memberikan kesempatan kepada
(Making/Creating) peserta didik untuk dapat menampilkan gambaran
dasar karya, yang merupakan penyatuan dari
unsur artistik, alat, media, dan teknologi. Melalui
pendidikan Seni Teater, peserta didik dapat belajar
berkreasi dan mengekspresikan dirinya untuk
menggali karakter/tokoh, membuat rangkaian
cerita dengan tata artistik panggung, alat, media
atau teknologi dalam wujud sebuah produk yang
akan dipresentasikan dan dipentaskan. Proses ini
dapat mempertajam daya imajinasi dalam
penciptaan ragam karya teater, kepekaan terhadap
berbagai situasi dan kondisi untuk mencari solusi
dalam berkreasi, serta dapat mengembangkan
keahlian berimprovisasi sesuai tujuan dan tugas
peran yang diberikan.
Merefleksikan Seni teater mampu menggali pengalaman dan
(Reflecting) ingatan emosi melalui hasil pengamatan,
membaca, apresiasi, dan kontak sosial individu
dan kelompok. Pengalaman dan ingatan emosi
selama atau sesudah proses berseni Teater
merupakan pantulan kesadaran yang timbul
untuk melakukan evaluasi dan perbaikan atas
karya atau produk yang telah dihasilkan melalui
proses berpikir dan bekerja secara artistik. Elemen
merefleksikan dalam seni teater mencakup proses
apresiasi, kritik dan saran atas karya diri sendiri
atau orang lain. Terdapat proses berpikir kritis dan
kreatif secara simultan.
Berdampak Seni Teater akan menimbulkan perubahan positif
(Impacting) dan berjangka panjang kepada peserta didik.
Perubahan ini mencakup cara berpikir,
kemampuan dan sikap peserta didik, seperti lebih
mandiri, percaya diri, berpikir kritis dan kreatif
sehingga pada akhirnya bertujuan untuk
menghargai perbedaan, sesuai dengan nilai-nilai
Profil Pelajar Pancasila. Dampak ini akan jelas
tercermin dalam proses mengalami, menciptakan,
mengevaluasi dan presentasi hasil akhir karya
peserta didik.
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Seni Teater setiap Fase
1. Fase E, Umumnya untuk Kelas X (SMA/MA/Program Paket C)
Pada akhir Fase E, peserta didik mampu bertindak sebagai
penjelajah, dengan melakukan observasi, mengumpulkan data
serta peristiwa sebagai dasar untuk membuat lakon yang berlatar
pada persoalan kehidupan di sekitarnya. Peserta didik juga mampu
memahami ragam teater ber-genre propaganda seperti perpaduan
teater realis dan non-realis dalam bentuk teater gerak, teater
politik, musikalisasi puisi, atau bereksperimen dengan proses
penulisan struktur cerita dramatis yang lebih bervariasi melalui
kegiatan improvisasi. Selanjutnya peserta didik memahami
bagaimana tubuh, pikiran, suara, dan tata artistik serta teknologi
berpadu dalam proses kreatif untuk membentuk pertunjukan
berdasar riset dan cara kerja kolaborasi. Melalui pengalaman ini,
peserta didik diharapkan mampu mengenali situasi lapangan yang
dihadapi, menghadirkan solusi, serta berempati terhadap dan
lingkungannya.
Fase E Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Berpikir dan Bekerja Proses dilakukan oleh peserta didik berpikir dan
Secara Artistik bermain dengan tata artistik panggung, mulai
(Thinking Artistically) dari mengeksplorasi, merancang, dan
memproduksi, dan memainkan tata artistik
panggung. Konsep ini dilakukan dengan kerja
ansambel untuk melatih peserta didik
bertanggung jawab atas peran masing masing
dalam pertunjukan, baik secara artistik
maupun non-artistik, untuk mengusung dan
mensukseskan pertunjukan bersama.
Mengalami Latihan olah tubuh dan vokal merupakan dasar
(Experiencing) keaktoran yang dilakukan untuk penguasaan
gerak tubuh agar mampu memainkan beragam
karakter, kemudian penguasaan membaca
dialog atau naskah dengan penekanan kuat
pada ekspresi wajah, artikulasi dan intonasi.
Eksplorasi bahasa tubuh, wajah, dan suara
untuk menunjukkan kepekaan terhadap
persoalan sosial, dan eksplorasi komunikasi
non-verbal. Proses mengalami dilakukan ketika
observasi dan mulai fokus pada konsentrasi
dengan mencatat dan merekam: tokoh dan
perwatakannya berdasar analisis fisik, fisiologis
dan sosiologis, hasil investigasi dan riset teknik/
genre teater, serta mencatat dan merekam
proses gladi resik.
Menciptakan Refleksi dalam tahap berikutnya adalah
(Making/Creating) bagaimana peserta didik mampu menggali
ingatan emosi dan latar belakang tokoh yang
diembannya sekaligus memberikan
pembelajaran agar persoalan-persoalan yang ada
dalam lakon menginspirasi dalam kehidupan.
Bentuk apresiasi karya seni dilakukan untuk
menggali kelebihan dan kekurangan karya
sendiri dan karya orang lain, proses ini pun
dapat memberi saran perbaikan menggunakan
terminologi teater sederhana serta memberikan
argumentasi dengan pembuktian, serta mulai
mengkritisi produksi seniman profesional
sesuai dengan terminologi teater.
Berdampak (Impacting) Proses belajar dan produk akhir mencerminkan
Profil Pelajar Pancasila dengan observasi,
pengumpulan data serta peristiwa sebagai dasar
untuk membuat lakon (kritis, kreatif),
menghadirkan solusi, serta berempati terhadap
sesama dan lingkungan (mandiri dan
berkebhinekaan global).
12. CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI,
OLAHRAGA, DAN KESEHATAN (PJOK)
A. Rasional Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan (PJOK)
Pendidikan jasmani, yang di Indonesia dikenal sebagai Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, menurut William H Freeman
(2007: 27-28) adalah pendidikan yang menggunakan aktivitas
jasmani untuk meningkatkan individu peserta didik secara
menyeluruh berupa aspek jasmani, mental, dan emosional.
Pendidikan jasmani memperlakukan setiap peserta didik sebagai
satu kesatuan utuh antara jiwa dan raga. Pernyataan tersebut
menjadikan pendidikan jasmani sebagai bidang kajian yang sangat
luas dan menarik dengan titik berat pada peningkatan
pergerakan manusia (human movement).
Pembelajaran pendidikan jasmani dilaksanakan dengan
menggunakan berbagai pendekatan, model, strategi, metode, gaya,
dan teknik sesuai dengan karakteristik tugas gerak, peserta didik,
dan lingkungan belajar. Pembelajaran diarahkan untuk
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah
(psikomotor, kognitif, dan afektif) setiap peserta didik dengan
menekankan pada kualitas kebugaran jasmani dan perbendaharaan
gerak. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dilaksanakan di
sekolah secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan agar dapat
mengembangkan sikap positif peserta didik yang dapat menghargai
manfaat aktivitas jasmani untuk meningkatkan kualitas hidup
secara menyeluruh.
Berbagai penjelasan ini menyiratkan bahwa pendidikan jasmani,
olahraga, dan kesehatan bukan semata-mata berurusan dengan
pembentukan raga, tetapi melibatkan seluruh aspek perkembangan
manusia sesuai dengan cita-cita terbentuknya Profil Pelajar
Pancasila yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha
Esa, kreatif, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis,
dan mandiri.
B. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan (PJOK)
Tujuan mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan
untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah membentuk
individu yang terliterasi secara jasmani, dengan uraian sebagai
berikut:
1. Mengembangkan kesadaran arti penting aktivitas jasmani untuk
mencapai pertumbuhan dan perkembangan individu, serta gaya
hidup aktif sepanjang hayat.
2. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan
diri dalam upaya meningkatkan dan memelihara kebugaran
jasmani, kesejahteraan diri, serta pola perilaku hidup sehat.
3. Mengembangkan pola gerak dasar (fundamental movement
pattern) dan keterampilan gerak (motor skills) yang dilandasi
dengan penerapan konsep, prinsip, strategi, dan taktik secara
umum.
4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui
internalisasi nilai-nilai kepercayaan diri, sportif, jujur, disiplin,
kerja sama, pengendalian diri, kepemimpinan, dan demokratis
dalam melakukan aktivitas jasmani sebagai cerminan rasa
tanggung jawab personal dan sosial (personal and social
responsibility).
5. Menciptakan suasana rekreatif yang berisi keriangan, interaksi
sosial, tantangan, dan ekspresi diri.
6. Mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, kreatif, gotong
royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan mandiri
melalui aktivitas jasmani.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan (PJOK)
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan sebagai sebuah bidang
kajian memiliki karakteristik:
1. Diorientasikan pada pembentukan peserta didik yang terliterasi
secara jasmani dan mampu menerapkannya dalam kehidupan
nyata sepanjang hayat.
2. Melibatkan peserta didik dalam pengalaman langsung, riil, dan
otentik untuk meningkatkan kreativitas, penalaran kritis,
kolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi, serta berfikir ke
tingkat yang lebih tinggi melalui aktivitas jasmani.
3. Mempertimbangkan karakteristik peserta didik, tugas gerak
(movement task), dan dukungan lingkungan yang berprinsip
developmentally appropriate practices (DAP).
4. Penyelenggaraan di sekolah didasari nilai-nilai luhur bangsa
untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila.
5. Memuat elemen-elemen keterampilan gerak, pengetahuan
gerak, pemanfaatan gerak, serta pengembangan karakter dan
internalisasi nilai-nilai gerak. Adapun elemen-elemen tersebut
dideskripsikan sebagaimana dalam tabel berikut.
Elemen-elemen Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK serta
Deskripsinya
No Elemen Deskripsi
1. Keterampilan Gerak Elemen ini berupa kekhasan pembelajaran PJOK
yang merupakan proses pendidikan tentang dan
melalui aktivitas jasmani, terdiri dari sub elemen:
a) Aktivitas Pengembangan Pola Gerak Dasar
(Fundamental Movement Pattern), dan
b) Aktivitas Pengembangan Keterampilan
Gerak (Motor Skills) berupa Aktivitas Pilihan
Permainan dan Olahraga, Aktivitas Senam,
Aktivitas Gerak Berirama, serta Aktivitas
Permainan dan Olahraga Air (kondisional)
2. Pengetahuan Gerak Elemen ini berupa pemahaman, penerapan,
analisis, evaluasi, serta kreasi konsep, prinsip,
prosedur, taktik dan strategi gerak sebagai
landasan dalam melakukan keterampilan, kinerja,
serta budaya hidup aktif pada setiap sub elemen:
a) Aktivitas Pengembangan Pola Gerak Dasar
(Fundamental Movement Pattern), dan
b) Aktivitas Pengembangan Keterampilan
Gerak (Motor Skills) berupa Aktivitas Pilihan
Permainan dan Olahraga, Aktivitas Senam,
Aktivitas Gerak Berirama, serta Aktivitas
Permainan dan Olahraga Air (kondisional)
3. Pemanfaatan Gerak Elemen ini berupa pengetahuan dan keterampilan
gerak serta pemanfaatannya dalam kehidupan
sehari-hari, terdiri dari sub elemen:
a) Aktivitas Pemeliharaan dan Peningkatan
Kebugaran Jasmani Terkait Kesehatan dan
Keterampilan, dan
b) Pola Perilaku Hidup Sehat
4. Pengembangan Elemen ini berupa pengembangan karakter dan
Karakter dan internalisasi nilai-nilai gerak secara gradual yang
Internalisasi Nilai- dirancang melalui berbagai aktivitas jasmani,
nilai Gerak terdiri dari sub elemen:
a) Tanggung Jawab Personal dan Sosial, serta
b) Nilai-nilai Keriangan, Tantangan, Ekspresi
Diri, dan Interaksi Sosial
D. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya Kelas X SMA/MA/SMK/MAK/Program Paket
C) Pada akhir fase E, peserta didik dapat menunjukkan
kemampuan berbagai penerapan keterampilan gerak pada
permainan, aktivitas jasmani lainnya, dan kehidupan nyata sehari-
hari sebagai hasil evaluasi pengetahuan yang benar, mengevaluasi
dan mempraktikkan latihan pengembangan kebugaran jasmani
terkait kesehatan (physicsl fittness related health) dan kebugaran
jasmani terkait keterampilan (physical fittness related skills), pola
perilaku hidup sehat, serta menunjukkan perilaku
dalam menumbuhkembangkan
nilai-nilai aktivitas jasmani.
Elemen Capaian Pembelajaran
Elemen Keterampilan Pada akhir fase E peserta didik dapat
Gerak menunjukkan kemampuan dalam
mempraktikkan hasil evaluasi penerapan
keterampilan gerak berupa permainan dan
olahraga, aktivitas senam, aktivitas gerak
berirama, dan aktivitas permainan dan olahraga
air (kondisional) secara matang pada
permainan, aktivitas jasmani lainnya, dan
kehidupan nyata sehari-hari.
Elemen Pengetahuan Pada akhir fase E peserta didik dapat
Gerak mengevaluasi fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur dalam melakukan evaluasi penerapan
keterampilan gerak berupa permainan dan
olahraga, aktivitas senam, aktivitas gerak
berirama, dan aktivitas permainan dan olahraga
air (kondisional) pada permainan, aktivitas
jasmani lainnya, dan kehidupan nyata sehari-
hari.
Elemen Pemanfaatan Pada akhir fase E peserta didik dapat
Gerak mengevaluasi fakta,konsep, prinsip, dan
prosedur dan mempraktikkan latihan
pengembangan kebugaran jasmani terkait
kesehatan (physicsl fittness related health) dan
kebugaran jasmani terkait keterampilan (physical
fittness related skills), berdasarkan prinsip
latihan (Frequency, Intensity, Time, Type/FITT)
untuk mendapatkan kebugaran dengan status
baik. Peserta didik juga dapat menunjukkan
kemampuan dalam mengembangkan pola
perilaku hidup sehat berupa penerapan konsep
dan prinsip pergaulan sehat antar remaja dan
orang lain di sekitarnya.
Elemen Pengembangan Pada akhir fase E peserta didik mengembangkan
Karakter dan tanggung jawab sosialnya dalam kelompok kecil
Internalisasi Nilai-nilai untuk melakukan perubahan positif,
Gerak menunjukkan etika yang baik, saling
menghormati, dan mengambil bagian dalam kerja
kelompok pada aktivitas jasmani atau kegiatan
sosial lainnya. Peserta didik juga dapat
menumbuhkembangkan cara menghadapi
tantangan dalam aktivitas jasmani.
2. Fase F (Umumnya Kelas XI dan XII SMA/MA/SMK/MAK/Program
Paket C )
Pada akhir fase F, peserta didik dapat menunjukkan kemampuan
merancang dengan mengikuti beragam pola yang ada dan
mempraktikkan berbagai aktivitas penerapan keterampilan gerak
(motor skills) dilandasi dengan pengetahuan yang benar, merancang
dengan mengikuti beragam pola yang ada dan mempraktikkan
program latihan pengembangan kebugaran jasmani terkait kesehatan
(physicsl fittness related health) dan kebugaran jasmani terkait
keterampilan (physicsl fittness related skills) dan pengukurannya,
pola perilaku hidup sehat, serta menunjukkan perilaku mengambil
peran sebagai pemimpin kelompok kecil dengan menjunjung tinggi
moral dan etika dalam menerapkan nilai-nilai aktivitas jasmani.
Elemen Capaian Pembelajaran
Elemen Keterampilan Pada akhir fase F peserta didik dapat
Gerak menunjukkan kemampuan dalam
mempraktikkan hasil rancangan sesuai ragam
pola yang ada berupa penerapan keterampilan
gerak (motor skills) permainan dan olahraga,
aktivitas senam, aktivitas gerak berirama, dan
aktivitas permainan dan olahraga air
(kondisional) dengan berbagai bentuk taktik dan
strategi.
Elemen Pengetahuan Pada akhir fase F peserta didik dapat merancang
Gerak prosedur, strategi, dan taktik dengan mengikuti
beragam pola yang ada terkait dengan aktivitas
penerapan keterampilan gerak (motor skills)
berupa permainan dan olahraga, aktivitas senam,
aktivitas gerak berirama, dan aktivitas
permainan dan olahraga air (kondisional).
Elemen Pemanfaatan Pada akhir fase F peserta didik dapat merancang
Gerak dan mempraktikkan program latihan
pengembangan kebugaran jasmani terkait
kesehatan (physicsl fittness related health) dan
kebugaran jasmani terkait keterampilan (physicsl
fittness related skills) sesuai ragam pola yang
ada, serta penggunaan instrumen pengukurannya
untuk mendapatkan kebugaran dengan status
baik. Peserta didik juga dapat menganalisis
bahaya, cara penularan, dan cara pencegahan
HIV/AIDS, serta menganalisis langkah-langkah
melindungi diri dan orang lain dari Penyakit
Menular Seksual (PMS).
Elemen Pengembangan Pada akhir fase F peserta didik dapat mengambil
Karakter dan peran sebagai pemimpin kelompok yang lebih
Internalisasi Nilai-nilai besar dalam aktivitas jasmani dan olahraga
Gerak dengan tetap menjunjung tinggi moral dan etika.
Selain itu peserta didik dapat menginisiasi
pembentukan komunitas peminatan agar orang
lain menjalankan etika yang baik, saling
menghormati, dan mengambil bagian dalam kerja
kelompok sosial lainnya. Peserta didik juga dapat
memengaruhi kelompoknya dalam
mengekspresikan diri melalui aktivitas jasmani.
CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN KELOMPOK
KEJURUAN UNTUK SMK/MAK PADA KURIKULUM MERDEKA
13. CAPAIAN PEMBELAJARAN DASAR-DASAR AGRIBISNIS
TANAMAN
A. Rasional
Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman merupakan mata pelajaran
yang berisi kompetensi yang mendasari penguasaan
agribisnis tanaman, yaitu kesatuan kegiatan usaha yang
meliputi salah satu atau keseluruhan mata rantai produksi,
pengelolaan, dan pemasaran hasil produksi tanaman. Mata
pelajaran ini, menjadi landasan bagi peserta didik untuk
mendalami agribisnis tanaman secara utuh pada
konsentrasi produksi tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan untuk konsumsi, dan benih (perbenihan).
Tanaman merupakan komponen utama dalam ekosistem,
sehingga penting dipelajari guna menjaga ketahanan pangan
secara berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim
global.
Fungsi mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman
untuk menumbuh-kembangkan kebanggaan pada peserta
didik dalam melakukan proses agribisnis tanaman
sebagai generasi muda penerus pertanian dengan menjadi
agripreneur muda dan atau bekerja di industri produksi
tanaman, setelah belajar pada program keahlian Agribisnis
Tanaman. Selain itu, sebagai landasan pengetahuan dan
keterampilan untuk mengembangkan kompetensi produksi
tanaman pada pembelajaran konsentrasi keahlian di kelas
XI dan XII.
Pembelajaran mata pelajaran ini dapat dilakukan
menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta
model yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang
harus dipelajari. Pembelajaran tersebut harus dapat
menciptakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, renjana, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Model-model pembelajaran yang
dapat digunakan antara lain project- based learning,
teaching factory, discovery-based learning, problem- based
learning, inquiry-based learning, atau model lainnya serta
metode yang relevan.
Mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman
berkontribusi dalam membangun kemampuan dasar peserta
didik menjadi pribadi yang menguasai keahlian agribisnis
tanaman dengan memegang teguh iman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia terhadap
manusia dan alam, bernalar kritis, mandiri, kreatif,
komunikatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap
perkembangan teknologi dan lingkungan.
B. Tujuan
Mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman bertujuan
untuk membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan,
dan keterampilan (hard skill dan soft skill) meliputi:
1. memahami proses bisnis secara menyeluruh di bidang
agribisnis tanaman;
2. memahami perkembangan teknologi produksi tanaman
dan isu- isu global terkait dengan ketahanan pangan,
perubahan iklim, dan pertanian berkelanjutan dalam
rangka pelestarian ekosistem;
3. memahami agripreneur, profesi, job profile, dan
peluang usaha dan bekerja di bidang agribisnis
tanaman;
4. memahami penerapan teknis dasar proses produksi
tanaman secara taat asas, taat prosedur, dan presisi
dengan menerapkan K3; dan
5. memahami manajemen/pengelolaan secara menyeluruh
proses kegiatan produksi tanaman
C. Karakteristik
Pada hakikatnya mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis
Tanaman berfokus pada kompetensi bersifat dasar yang
harus dimiliki oleh generasi muda penerus pertanian dengan
menjadi agripreneur muda dan atau bekerja di industri
produksi tanaman sesuai dengan perkembangan dunia
kerja.
Selain itu peserta didik diberikan pemahaman tentang
proses bisnis, penerapan teknologi dan isu-isu global,
profil entrepreneur, job profile, peluang usaha dan
pekerjaan/profesi.
Mata pelajaran Dasar-dasar Agribisnis Tanaman meliputi
elemen sebagai berikut.
Elemen Deskripsi
Proses bisnis secara Meliputi pemahaman proses bisnis secara
menyeluruh di bidang agribisnis menyeluruh manajemen produksi bidang
tanaman agribisnis tanaman, antara lain penerapan
K3LH, perencanaan produk, mata rantai pasok
(Supply Chain), logistik, proses produksi,
penggunaan dan perawatan peralatan di bidang
agribisnis tanaman, serta pengelolaan sumber
daya manusia dengan memperhatikan potensi
dan kearifan lokal.
Perkembangan teknologi Meliputi pemahaman tentang perkembangan
produksi dan isu-isu global proses produksi tanaman secara konvensional
terkait dengan agribisnis dan sampai modern, pertanian perkotaan (urban
industri tanaman farming), alat dan mesin pertanian dari yang
konvensional sampai yang otomatis dan berbasis
IOT, smart farming dan isu pemanasan global,
perubahan iklim, ketersediaan pangan global,
regional dan lokal, sustainable farming
(pertanian berkelanjutan), serta penerapan
bioteknologi dalam pertanian.
Agripreneur, peluang usaha dan Meliputi pemahaman tentang profil
pekerjaan/profesi di bidang agripreneur yang mampu membaca peluang
agribisnis tanaman pasar dan usaha, profesi pemroduksi tanaman
(petani) dalam rangka menumbuhkan jiwa
wirausaha, serta peluang usaha dan peluang
bekerja di bidang agribisnis tanaman.
Teknis dasar proses produksi Meliputi pemahaman tentang pembiakan
tanaman tanaman, persiapan tanam, pemeliharaan
tanaman, panen dan penanganan pasca panen,
pengemasan, dan distribusi produk hasil panen.
Faktor-faktor yang berpengaruh Meliputi pemahaman tentang faktor-faktor
terhadap proses produksi yang berpengaruh kepada proses produksi
tanaman tanaman: faktor edafik, climatic, genetic, biotik,
dan pirik.
Pembiakan tanaman Meliputi pemahaman tentang pembiakan
tanaman secara generatif dan vegetatif, baik
konvensional maupun modern.
Pengelolaan menyeluruh Meliputi pemahaman tentang penerapan dan
proses produksi tanaman pengelolaan K3, pengelolaan lahan, sumber daya
alam pendukung, sumber daya manusia,
produksi tanaman berkelanjutan, limbah dengan
prinsip 8R (Rethink, Reduce, Reuse, Refurbish,
Repair, Repurpose, dan Recycle), kelembagaan
pada rantai produksi dan pasar, serta
pelestarian kearifan lokal.
D. Capaian Pembelajaran
Pada akhir fase E (kelas X), peserta didik akan
mendapatkan gambaran mengenai agribisnis tanaman
sehingga mampu menumbuhkan passion dan vision untuk
merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar.
Pada aspek hard skills peserta didik akan mampu
memahami elemen- elemen kompetensi pada mata
pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Proses bisnis secara Pada akhir fase E, peserta didik dapat
menyeluruh di bidang memahami proses bisnis secara menyeluruh
agribisnis tanaman manajemen produksi bidang agribisnis tanaman,
antara lain penerapan K3LH, perencanaan
produk, mata rantai pasok (Supply Chain),
logistik, proses produksi, penggunaan dan
perawatan peralatan di bidang agribisnis
tanaman, serta pengelolaan sumber daya
manusia dengan memperhatikan potensi dan
kearifan lokal.
Perkembangan teknologi Pada akhir fase E, peserta didik dapat
produksi dan isu-isu global memahami perkembangan proses produksi
terkait dengan agribisnis dan tanaman secara konvensional sampai modern,
industri tanaman pertanian perkotaan (urban farming), alat dan
mesin pertanian dari yang konvensional sampai
yang otomatis dan berbasis IOT, smart farming
dan isu pemanasan global, perubahan iklim,
ketersediaan pangan global, regional dan lokal,
sustainable farming (pertanian berkelanjutan),
serta penerapan bioteknologi dalam pertanian.
Agripreneur, peluang usaha Pada akhir fase E, peserta didik dapat
dan pekerjaan/profesi di menjelaskan tentang profil agripreneur yang
bidang agribisnis tanaman mampu membaca peluang pasar dan usaha,
profesi pemroduksi tanaman (petani) dalam
rangka menumbuhkan jiwa wirausaha, serta
peluang usaha dan peluang bekerja di bidang
agribisnis tanaman.
Teknis dasar proses produksi Pada akhir fase E, peserta didik dapat
tanaman menjelaskan tentang pembiakan tanaman,
persiapan tanam, pemeliharaan tanaman, panen
dan penanganan pasca panen, pengemasan, dan
distribusi produk hasil panen.
Faktor-faktor yang Pada akhir fase E, peserta didik dapat
berpengaruh terhadap proses menjelaskan tentang faktor-faktor yang
produksi tanaman berpengaruh kepada proses produksi tanaman:
faktor edafik, climatic, genetic, biotik, dan pirik.
Pembiakan tanaman Pada akhir fase E, peserta didik dapat
menjelaskan tentang pembiakan tanaman secara
generatif dan vegetatif, baik konvensional
maupun modern.
Pengelolaan menyeluruh Pada akhir fase E, peserta didik dapat
proses produksi tanaman memahami penerapan dan pengelolaan K3,
pengelolaan lahan, sumber daya alam
pendukung, sumber daya manusia, produksi
tanaman berkelanjutan, limbah dengan prinsip
8R (Rethink, Reduce, Reuse, Refurbish, Repair,
Repurpose, dan Recycle), kelembagaan pada
rantai produksi dan pasar, serta pelestarian
kearifan lokal.
14. CAPAIAN PEMBELAJARAN DASAR-DASAR AGRIBISNIS
TERNAK
A. Rasional
Dasar-Dasar Agribisnis Ternak adalah mata pelajaran
dasar pada program keahlian Agribisnis Ternak,
merupakan mata pelajaran prasyarat bagi mata pelajaran
kejuruan pada program keahlian Agribisnis Ternak.
Mata pelajaran ini berisi kemampuan yang mendasari
penguasaan keahlian Agribisnis Ternak agar peserta didik
mampu berpikir ilmiah, bersikap positif, dan
berketerampilan sesuai standar kompetensi yang
dibutuhkan, mampu menemukan berbagai fakta,
membangun konsep, dan nilai-nilai baru secara mandiri.
Mata pelajaran ini menjadi dasar bagi peserta didik
memahami proses Agribisnis Ternak yang meliputi:
menyiapkan kandang, mengoperasikan peralatan farm,
mengidentifikasi bibit ternak, membuat dan memberikan
pakan, memelihara ternak, menjaga kesehatan hewan,
mengelola recording farm, memanen dan memasarkan
hasil panen sesuai standar. Mata pelajaran ini juga
membekali peserta didik mampu mengaplikasikan dasar-
dasar pemeliharaan ternak dalam berwirausaha dan/atau
bekerja pada jabatan-jabatan di dunia usaha bidang
peternakan.
Mata pelajaran ini harus dipahami oleh peserta didik
sebelum mempelajari mata pelajaran lain pada program
keahlian Agribisnis Ternak, agar mereka ahli di bidang
peternakan sekaligus bernalar kritis, mandiri, kreatif, dan
adaptif. Selain itu, mata pelajaran ini juga memberikan
wawasan bagi peserta didik tentang isu-isu global terkait
dengan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan kelestarian
ekosistem.
Setelah mempelajari mata pelajaran ini diharapkan peserta
didik akan termotivasi untuk terus belajar dan mempelajari
lebih lanjut tentang agribisnis peternakan yang akan
dipelajari di kelas XI dan XII. Peserta didik juga
diharapkan akan mampu mengembangkan secara mandiri
usaha agribisnis peternakan, atau dapat berkiprah di dunia
kerja sesuai tuntutan dan kebutuhan perkembangan industri
peternakan.
Pembelajaran mata pelajaran ini dapat dilakukan
menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta
model yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang
harus dipelajari. Pembelajaran tersebut harus dapat
menciptakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, renjana, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Model-model pembelajaran yang
dapat digunakan antara lain project- based learning,
teaching factory, discovery-based learning, problem- based
learning, inquiry-based learning, atau model lainnya serta
metode yang relevan.
Mata pelajaran Dasar-dasar Agribisnis Ternak ini
berkontribusi dalam membangun kemampuan dasar peserta
didik menjadi pribadi yang menguasai keahlian agribisnis
ternak dengan memegang teguh iman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia terhadap manusia
dan alam, bernalar kritis, mandiri, kreatif, komunikatif
dan adaptif terhadap lingkungan.
B. Tujuan
Mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis bertujuan untuk
membekali peserta didik dengan dengan dasar-dasar
pengetahuan, keterampilan, dan sikap baik soft skills
maupun hard skills sehingga memiliki pemahaman yang
utuh (komprehensif) tentang Program Keahlian Agribisnis
Ternak setelah menyelesaikan proses pembelajaran,
meliputi:
1. memahami profil dan proses bisnis industri bidang
agribisnis ternak;
2. memahami perkembangan teknologi dan isu-isu
global terkait bidang agribisnis ternak;
3. memahami agripreneur, lapangan kerja, dan peluang
usaha di bidang agribisnis ternak;
4. memahami proses-proses dasar pekerjaan bidang
peternakan; dan
5. memahami penanganan komoditas ternak sesuai
prosedur Kesehatan, Keselamatan Kerja dan
Lingkungan Hidup (K3LH).
C. Karakteristik
Pada hakikatnya mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis
Ternak berfokus pada kompetensi bersifat dasar yang harus
dimiliki oleh generasi muda penerus agribisnis
peternakan dengan menjadi agripreneur muda dan atau
bekerja di industri peternakan sesuai dengan perkembangan
dunia kerja.
Selain itu peserta didik diberikan pemahaman tentang
proses bisnis, perkembangan penerapan teknologi dan isu-
isu global, profil entrepreneur, job profile, peluang usaha
dan pekerjaan/profesi.
Mata pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Ternak meliputi
elemen sebagai berikut.
Elemen Deskripsi
Meliputi pemahaman proses bisnis
Proses bisnis secara
secara menyeluruh manajemen
menyeluruh di bidang
produksi bidang agribisnis ternak,
agribisnis ternak
antara lain penerapan K3LH,
perencanaan produk, mata rantai
pasok (Supply Chain), logistik,
proses produksi, penggunaan dan
perawatan peralatan di bidang
agribisnis ternak, serta
pengelolaan sumber daya manusia
dengan memperhatikan
potensi dan kearifan lokal.
Perkembangan teknologi Meliputi pemahaman tentang
produksi dan isu-isu global teknologi peternakan seperti
terkait dengan agribisnis dan perkembangan bioteknologi,
industri ternak otomatisasi, aplikasi digitalisasi dan
internet of things (IoT), serta isu-isu
pemanasan global, perubahan iklim,
ketersediaan pangan global, regional
dan lokal, pertanian berkelanjutan,
sistem kelembagaan pada rantai
produksi dan pasar, dan limbah
dengan prinsip 8R (Rethink, Refuse,
Reuse, Refurbish, Repair, Repurpose,
Recycle).
Agripreneur, peluang usaha Meliputi pemahaman tentang profil
dan pekerjaan/profesi di agripreneur yang mampu membaca
bidang agribisnis ternak peluang pasar dan usaha, profesi
pemroduksi ternak (petani ternak)
dalam rangka menumbuhkan jiwa
wirausaha, serta peluang usaha dan
peluang bekerja di bidang agribisnis
ternak.
Proses-proses dasar pada Meliputi pemahaman tentang konsep,
agribisnis ternak prinsip dan prosedur peternakan
(pembibitan, pakan, perkandangan,
kesehatan ternak, pemeliharaan,
pemanenan dan pemasaran).
Penanganan komoditas Meliputi pemahaman tentang
peternakan sesuai prosedur pengidentikasian karakteristik dan
Keselamatan dan penanganan komoditas peternakan
Kesehatan Kerja (K3) untuk disimpan, dikonsumsi, atau
diproses lebih lanjut menjadi produk
olahan setengah jadi, atau produk jadi
dengan menerapkan prinsip dan
prosedur K3.
D. Capaian Pembelajaran
Pada akhir fase E (kelas X), peserta didik akan
mendapatkan gambaran yang utuh mengenai program
keahlian Agribisnis Ternak sehingga mampu
menumbuhkan kebanggaan, harapan besar, passion dan
vision untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas
belajar. Pada akhir fase E, rumusan capaian pembelajaran
dari masing-masing elemen pembelajaran sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Proses bisnis secara Pada akhir fase E, peserta didik
menyeluruh di bidang mampu memahami tentang proses
agribisnis ternak bisnis secara menyeluruh manajemen
produksi bidang agribisnis ternak,
antara lain penerapan K3LH,
perencanaan produk, mata rantai
pasok (Supply Chain), logistik, proses
produksi, penggunaan dan perawatan
peralatan di bidang agribisnis ternak,
serta pengelolaan sumber daya
manusia dengan memperhatikan
potensi dan kearifan lokal.
Perkembangan teknologi Pada akhir fase E, peserta didik
produksi dan isu-isu global mampu memahami tentang teknologi
terkait dengan agribisnis peternakan seperti perkembangan
dan industri ternak bioteknologi, otomatisasi, aplikasi
digitalisasi dan internet of things (IoT),
serta isu-isu pemanasan global,
perubahan iklim, ketersediaan pangan
global, regional dan lokal, pertanian
berkelanjutan, sistem kelembagaan
pada rantai produksi dan pasar, dan
limbah dengan prinsip 8R (Rethink,
Refuse, Reuse, Refurbish, Repair,
Repurpose, Recycle).
Agripreneur, peluang Pada akhir fase E, peserta didik
usaha dan mampu menjelaskan tentang profil
pekerjaan/profesi di agripreneur yang mampu membaca
bidang agribisnis ternak peluang pasar dan usaha, profesi
pemroduksi ternak (petani ternak)
dalam rangka menumbuhkan jiwa
wirausaha,
serta peluang usaha dan peluang
bekerja di bidang agribisnis ternak.
Proses-proses dasar pada Pada akhir fase E, peserta didik
agribisnis ternak mampu menjelaskan tentang konsep,
prinsip dan prosedur peternakan
(pembibitan, pakan, perkandangan,
kesehatan ternak, pemeliharaan,
pemanenan dan pemasaran).
Penanganan komoditas Pada akhir fase E, peserta didik
peternakan sesuai mampu menjelaskan tentang
prosedur Keselamatan dan pengidentikasian karakteristik dan
Kesehatan Kerja (K3) penanganan komoditas peternakan
untuk disimpan, dikonsumsi, atau
diproses lebih lanjut menjadi produk
olahan setengah jadi, atau produk
jadi dengan menerapkan prinsip dan
prosedur K3.