0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan16 halaman

Sap DM

Dokumen ini adalah rencana penyuluhan tentang Diabetes Mellitus yang ditujukan untuk warga RT 03/RW 05. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini, termasuk penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahannya. Metode yang digunakan meliputi ceramah dan tanya jawab, dengan evaluasi untuk memastikan pemahaman peserta.

Diunggah oleh

rahmawati ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan16 halaman

Sap DM

Dokumen ini adalah rencana penyuluhan tentang Diabetes Mellitus yang ditujukan untuk warga RT 03/RW 05. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini, termasuk penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahannya. Metode yang digunakan meliputi ceramah dan tanya jawab, dengan evaluasi untuk memastikan pemahaman peserta.

Diunggah oleh

rahmawati ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DIABETES MELLITUS
Pokok Bahasan : Diabetes Mellitus
Sasaran : Warga RT 03/RW 05
Waktu : 30 Menit
Tanggal : 27 Mei 2016
Tempat : RT 03/RW 05

I. Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan masyarakat dapat mengerti dan
menjelaskan kembali tentang penyakit Diabetes Mellitus.
II. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan masyarakat dapat :
1. Menjelaskan tentang penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
2. Menjelaskan factor penyebab penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
3. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
4. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
5. Menjelaskan pencegahan penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
[Link] Penyuluhan
1. Pengertian penyakit Diabetes Mellitus
2. Faktor penyebab penyakit Diabetes Mellitus
3. Tanda dan gejala penyakit Diabetes Mellitus
4. Penatalaksanaan penyakit Diabetes Mellitus
5. Pencegahan penyakit Diabetes Mellitus
6. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
7. PENGORGANISASIAN
Penyaji : Nur Anisa Muafifin
Moderator : Rahmawati Ningsih
Observer : Qurratu A’yun Laili
Fasilitator : Sitti Istianah Mardiyah
8. MEDIA
- Leaflet
- Lembar balik
- Speaker
SETTING TEMPAT

Keterangan:
: Peserta Penyuluhan
: Observer
: Moderator
: Penyuluh
9. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No WAKTU S A S A R A N
KEGIATAN METODE PERAN
P E N Y A J I MASYARAKAT
1 5 menit Pembukaan Menyampaikan a Menjaw Ceramah Moderator
a. Salam pembuka dengan bahasa yang
ab
b. Perkenalan diri benar dan sopan
c. Menyampaikan Salam
tujuan
b Memperhatik
d. Sambutan ketua
RT an
2 1 5 m e n i t Kegiatan Inti a Menyampaikan a Menyimak dan Ceramah Penyaji
a. Penyamp materi dengan jelas memperhatikan dan tanya
aian materi dan benar penyaji jawab
[Link] b Interaktif dengan b Menanyakan
pengertian pasien hal-hal yang
penyakit diabetes belum jelas
mellitus
[Link]
faktor penyebab
penyakit diabetes
mellitus
[Link]
tanda dan gejala
penyakit diabetes
mellitus
[Link]
penatalaksanaan
penyakit diabetes
mellitus
[Link]
pencegahan
penyakit diabetes
mellitus
3 5 menit P e n u t u p a. Menyampaikan a. Menjalankan Ceramah Moderator
a. Melakukan kesimpulan apa yang sudah
evaluasi dengan jelas dijelaskan
penyuluhan b. Menyampaikan b. Menjawab
b. Mengakhiri salam dengan salam
kegiatan sopan

JOB DESCRIPTION
1. Moderator
Uraian Tugas:
a. Membuka acara penyuluhan, memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta
b. Mengatur proses dan lama penyuluhan
c. Memotivasi peserta untuk bertanya
d. Memimpin jalannya diskusi dan evaluasi
e. Menutup acara penyuluhan
2. Penyaji
Uraian Tugas:
a. Menggali pengetahuan masyarakat
b. Menjelaskan materi penyuluhan dengan jelas dan bahasa yang
mudah dipahami oleh masyarakat
c. Memotivasi peserta untuk tetap aktif dan memperhatikan
penyuluhan
d. Menjawab pertanyaan peserta
3. Observer
Uraian Tugas:
a. Mencatat nama, alamat, jumlah peserta serta menempatkan diri
sehingga memungkinkan dapat mengamankan jalannya proses
penyuluhan. Mencatat pertanyaan yang diajukan oleh peserta
b. Mengamati perilaku verbal dan non verbal peserta selama proses
penyuluhan
KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media : leaflet
d. Peserta hadir ditempat penyuluhan
e. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelumnya
f. Kontrak waktu H-1 sebelum penyuluhan
2. Evaluasi Proses
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
c. Suasana penyuluhan tertib
d. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
3. Evaluasi Hasil
a. Masyarakat memahami penyakit Diabetes Mellitus dengan benar
b. Masyarakat menjelaskan factor penyebab penyakit Diabetes
Mellitus dengan benar
c. Masyarakat menjelaskan tanda dan gejala penyakit Diabetes
Mellitus dengan benar
d. Masyarakat menjelaskan penatalaksanaan penyakit Diabetes
Mellitus dengan benar
e. Masyarakat menjelaskan pencegahan penyakit Diabetes Mellitus
dengan benar

MATERI PENYULUHAN DIABETES MELLITUS


1. Pengertian
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit yang berlangsung lama (kronis),
dimana kadar gula didalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat menghasilkan
atau menggunakan insulin secara efektif, akibat tidak berfungsinya hormon
insulin dalam kelenjar pancreas, sehingga gula darah tersebut tidak dapat
dimanfaatkan oleh tubuh sebagai sumber energi. Hormone insulin inilah yang
berfungsi untuk mengendalikan kadar gula dalam darah dengan mengatur
produksi dan pemanfaatannya.
2. Klasifikasi
a. DM Tipe 1
1) Akibat rusaknya sel beta pancreas yang memproduksi insulin
2) Tergantung insulin (Insuline Dependent Diabetes Mellitus /
IDDM)
3) Dapat terjadi pada segala usia, tapi biasanya pada usia muda
<30 tahun
b. DM Tipe II
1) Akibat gangguan sekresi insulin, insulin mengalami resistence
(insulin tidak dapat bekerja secara maksimal karena terjadi
penurunan produksi insulin).
2) Tidak tergantung insulin (Non Insuline Dependent Diabetes
Mellitus / NIDDM)
3) Biasanya terjadi pada usia >30 tahun.
c. DM Gestasional (GDM)
1) Akibat gangguan sekresi insulin, insulin mengalami resistence
(insulin tidak dapat bekerja secara maksimal karena terjadi
penurunan produksi insulin akibat hormone yang disekresikan
placenta dapat menghambat kerja insulin).
2) Mirip DM Tipe 2
3) Terjadi pada wanita hamil, dan dapat sembuh setelah
melahirkan.
4) Dapat mengganggu kesehatan ibu dan janin.
3. Penyebab
a. DM Tipe 1
Secara pasti belum dapat diketahui, diduga karena:
1) Faktor Genetik
2) Faktor Immunologi
Akibat adanya reaksi abnormal dimana Ab berekasi dengan jaringan
normal yang dianggap sebagai jaringan asing (reaksi autoimun).
3) Faktor Eksternal (Lingkungan).
Akibat infeksi virus / toksin yang dapat merusak sel beta pancreas.

b. DM Tipe II
1) Faktor Genetik
2) Obesitas
3) Gaya hidup
4) Usia
5) Biasanya terjadi pada usia >30 tahun.
4. Tanda Gejala
a. Poliuri (sering kencing terutama pada malam hari)
Pada penderita DM, akibat insulin yang tidak mampu mengubah
glukosa menjadi glikogen, kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi.
Keadaan ini dapat menyebabkan hiperfiltrasi pada ginjal sehingga
kecepatan filtrasi ginjal juga meningkat. Akibatnya, glukosa dan Natrium
yang diserap ginjal menjadi berlebihan sehingga urine yang dihasilkan
banyak dan membuat penderita menjadi cepat pipis (Poliuri).

b. Polidipsi (banyak minum karena cepat haus)


Proses filtrasi pada ginjal normal merupakan proses difusi yaitu
filtrasi zat dari tekanan yang rendah ke tekanan yang tinggi. Pada
penderita DM, glukosa dalam darah yang tinggi menyebabkan kepekatan
glukosa dalam pembuluh darah sehingga proses filtrasi ginjal berubah
menjadi osmosis (filtrasi zat dari tekanan tinggi ke tekanan rendah).
Akibatnya, air yang ada di pembuluh darah terambil oleh ginjal sehingga
pembuluh darah menjadi kekurangan air yang menyebabkan penderita
menjadi cepat haus (Polidipsi).

c. Polifagi (banyak makan karena cepat lapar)


Glukosa jika masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi glikogen
dengan bantuan insulin dan disimpan dalam hati sebagai cadangan energi.
Pada penderita diabetes, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel target dan
berubah menjadi glikogen untuk disimpan di dalam hati sebagai cadangan
energi karena, insulin yang dihasilkan pancreas tidak dapat bekerja atau
insulin dapat bekerja tetapi bekerjanya lambat. Oleh karena itu, tidak ada
intake glukosa yang masuk sehingga penderita DM merasa cepat lapar dan
lemas (Polifagi).

d. Kesemutan pada ekstremitas


Khusus pada penderita diabetes, kesemutan diakibatkan oleh
gangguan pada pembuluh darah kapiler yang kecil dan rusaknya pembuluh
darah tepi. Hal ini menyebabkan volume darah yang mengalir di ujung
saraf berkurang. Jika mengalami hal ini penderita akan mengalami
kesemutan terus-menerus di ujung jari dan diikuti oleh rasa sakit lain
seperti nyeri di ujung telapak kaki, serta telapak kaki terasa menebal dan
panas. Keadaan ini biasanya dirasakan pada malam hari.

e. Cepat lelahdanMudah mengantuk


Kekurangan gula sebagai sumber energi karena gula tetap ada di
dalam darah, hal inilah yang menyebabkan penderita DM mudah lelah dan
ngantuk.
f. Penglihatan kabur
Kadar gula darah yang tinggi bersifat menarik air, sehingga
menyebabkan air di dalam sel tertarik keluar yang membuat respon otak
untuk menimbulkan rasa haus. Salah satu sel yang kekurangan air adalah
lensa mata sehingga menimbulkan gangguan fokus, selain itu kadar gula
darah yang tinggi dapat merusak saraf-saraf kecil, salah satunya adalah
saraf penglihatan mata sehingga dapat menimbulkan pandangan kabur.
g. Nafsu makan menurun, BB menurun
Fungsi pankreas adalah memproduksi insulin untuk memproses
asupan glukosa sebagai sumber energi. Pada orang yang
menderitadiabetes, tubuhnya gagal mengelola gula menjadi energi akibat
terjadinya resistensi [Link] tubuh butuh energi, ia mencari
alternatif dengan cara memecah lemak untuk menjadi energi. Kalau tidak
cukup, protein atau otot yang dipecah sehingga lama-lama berat badan
menyusut.

h. Mudah timbul luka dan lama sembuh


Pada pasien diabetes, terjadi penyumbatan pembuluh darah dan
kerusakan saraf akibat kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol.
Akibatnya terjadi penurunan sensasi perabaan pada permukaan kulit,
terutama kaki. Oleh karena itu, penderita diabetes yang tidak terkontrol
mungkin tidak merasakan adanya luka lecet atau trauma pada tungkai yang
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti sepatu yang terlalu sempit,
terantuk atau tergores sesuatu, menginjak benda tajam atau puntung rokok,
dan berbagai trauma yang lainnya.

Kurangnya sirkulasi darah di dalam kaki akibat tersumbatnya arteri-


arteri yang disebabkan oleh penyakit arteri perifer, menyebabkan proses
penyembuhan luka yang buruk. Luka menjadi sukar sembuh, oksigen dan
sel darah putih sulit mencapai jaringan, imunitas tubuh menurun, dan
terjadi penurunan fungsi sel darah putih dalam melawan kuman yang
masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, terjadi infeksi pada luka yang sukar
sembuh tersebut, dan selanjutnya dapat berakibat terjadinya pembusukan.
i. Pada DM gestasional, ibu melahirkan bayi >4 kg
5. Komplikasi
a. Otak : hipertensidan stroke
b. Mata : katarak, glaucoma, sampaikebutaan
c. Mental : sulittidur, bad mood, gugupdandepresi
d. Gigi danmulut : infeksibakteridanpenyakitmulutdangigi
e. Jantung : 5 kali lebihtinggiterkenaseranganjantung
f. Kulit : kulitkeringdanmudahluka
g. Saraf : kesemutan, mati rasa, kerusakansaraf, sakitsaatberjalan
h. Ginjal : gagalginjal
i. Sirkulasidarah: lukasulitsembuhdanberujungamputasi
6. Pencegahan
a. Ubah gaya hidup.
b. Kurangi konsumsi garam.
c. Kurangi konsumsi makan makanan manis & berlemak, jarak makan 4-6
jam.
d. Hindari konsumsi alkohol & merokok.
e. Kontrol berat badan dengan cegah kegemukan (obesitas).
f. Hindari stress.
g. Periksa kadar gula darah secara teratur.
h. Olahraga teratur sesuai kemampuan.
7. Penatalaksanaan
Ditujukan untuk mencegah komplikasi dan menguangi/menghilangkan
keluhan, dengan:

a. Pemeriksaan kadar gula darah secara teratur.


b. Diit DM,
Pola makan 3J yang harus dipahami dan diingat oleh para penderita
diabetes dalam mengatur pola makan sehari-hari yaitu:
1) Jadwal
Pengaturan jadwal bagi penderita diabetes biasanya adalah 6
kali makan. 3 kali makan besar dan 3 kai selingan. Adapun
jadwal waktunya adalah sebagai berikut;

a) Makan Pagi (jam 07.00)


b) Snack I (jam 10.00)
c) Makan siang (13.00)
d) Snack II (jam 16.00)
e) Snack III (jam 21.00)

Usahakan makan tepat pada waktunya, karena apabila telat


makan, akan terjadi hipoglikemia (rendahnya kadar gula darah)
dengan gejala seperti pusing, mual, dan pingsan. Apabila hal ini
terjadi segera minum air gula.

2) Jumlah
Perhatikan jumlah/porsi makanan yang anda konsumsi. Prinsip
jumlah makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes
adalah porsi kecil dan sering, artinya makan dalam jumlah
sedikit tetapi sering. Adapun pembagian kalori untuk setiap kali
makan dengan pola menu 6 kali makan adalah sebagai berikut ;

a) Makan Pagi (20%) – maksudnya 20% dari total


kebutuhan kalori sehari
b) Snack I (10%)
c) Makan siang (25%)
d) Snack II (10%)
e) Makan malam (25%)
f) Snack III (10%)
3) Jenis
Jenis makanan menentukan kecepatan naiknya kadar gula darah.
Kecepatan suatu makanan dalam menaikkan kadar gula darah
disebut juga indeks glikemik. Semakin cepat menaikkan kadar
gula darah sehabis makan tersebut dikonsumsi, maka semakin
tinggi indeks glikemik makanan tersebut. Jadi, hindari makanan
yang berindeks glikemik tinggi seperti sumber karbohidrat
sederhana, gula, madu, sirup, roti, mie dan [Link] yang
berindeks glikemik lebih rendah adalah makanan yang kaya
dengan serat. Contohnya sayuran dan buah-buahan.

c. Pemberian Insulin

Berdasarkan lama kerjanya, insulin dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

1) Insulin kerja singkat


Yang termasuk di sini adalah insulin regular (Crystal Zinc Insulin /
CZI ). Saat ini dikenal 2 macam insulin CZI, yaitu dalam bentuk
asam dan netral. Preparat yang ada antara lain : Actrapid,
Velosulin, Semilente. Insulin jenis ini diberikan 30 menit sebelum
makan, mencapai puncak setelah 1– 3 Jam dan efeknya dapat
bertahan samapai 8 jam.
2) Insulin kerja menengah
Yang dipakai saat ini adalah Netral Protamine Hegedorn
( NPH ),MonotardÒ, InsulatardÒ. Jenis ini awal kerjanya adalah
1.5 – 2.5 jam. Puncaknya tercapai dalam 4 – 15 jam dan efeknya
dapat bertahan sampai dengan 24 jam.
3) Insulin kerja panjang
Merupakan campuran dari insulin dan protamine, diabsorsi dengan
lambat dari tempat penyuntikan sehingga efek yang dirasakan
cukup lam, yaitu sekitar 24 – 36 jam. Preparat: Protamine Zinc
Insulin ( PZI ), Ultratard
4) Insulin infasik (campuran)
Merupakan kombinasi insulin jenis singkat dan menengah.
d. Obat oral sesuai anjuran dokter
1) Glimipiride
Glimipiride bekerja terutama menurunkan kadar glukosa
darah dengan perangsangan sekresi insulin dari sel beta pankreas
yang masih berfungsi. Selain itu, aktivitas sulfonilurea seperti
glimipiride dapat juga melalui efek ekstra pankreas, hal ini
didukung oleh studi preklinis dan klinis yang menunjukkan
bahwa pemberian glimipiride dapat meningkatkan sensitivitas
jaringan perifer terhadap insulin.
2) Glibenklamida
Glibenklamida adalah hipoglikemik oral derivat
sulfonil urea yang bekerja aktif menurunkan kadar gula darah.
Glibenklamida bekerja dengan merangsang sekresi insulin dari
pankreas. Oleh karena itu glibenklamida hanya bermanfaat pada
penderita diabetes dewasa yang pankreasnya masih mampu
memproduksi insulin. Pada penggunaan per oral glibenklamida
diabsorpsi sebagian secara cepat dan tersebar ke seluruh cairan
ekstrasel, sebagian besar terikat dengan protein plasma.
Pemberian glibenklamida dosis tunggal akan menurunkan kadar
gula darah dalam 3 jam dan kadar ini dapat bertahan selama 15
jam. Glibenklamida diekskresikan bersama feses dan sebagai
metabolit bersama urin.
3) Metformin
Metformin adalah zat antihiperglikemik oral
golongan biguanid untuk penderita diabetes militus tanpa
ketergantungan terhadap insulin. Mekanisme kerja metformin
yang tepat tidak jelas, walaupun demikian metformin dapat
memperbaiki sensitivitas hepatik dan periferal terhadap insulin
tanpa menstimulasi sekresi insulin serta menurunkan absorpsi
glukosa dari saluran lambung-usus. Metformin hanya mengurangi
kadar glukosa darah dalam keadaan hiperglikemia serta tidak
menyebabkan hipoglikemia bila diberikan sebagai obat tunggal.
Metformin tidak menyebabkan pertambahan berat badan bahkan
cendrung dapat menyebabkan kehilangan berat badan.
e. Olahraga teratur sesuai kemampuan.
Olahraga pada penderita diabetes melitus mampu untuk membakar
kalori yang berlebih di dalam tubuh, juga di anggap mampu untuk
mengontrol kadar gula dalam darah. Alasan mengapa dengan senam dapat
mengontrol gula darah adalah karena saat anda ber olahraga senam, sel-sel
pada otot akan bekerja lebih keras sehingga tentunya akan lebih
membutuhkan kadar gula dan oksigen untuk dibakar menjadi energi.
Olahraga senam ini juga bermanfaat dalam membantu kerja insulin
karena nantinya gula dalam darah akan dialirkan melalui sel otot yang
kemudian dirubah menjadi energi bagi tubuh anda sehingga ini
menyebabkan kadar gula dalam tubuh anda juga menurun.
Kegiatan fisik sehari – hari dan latihan fisik secara teratur (3–4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar
dalam perawatan diabetes tipe II. Latihan fisik dapat menurunkan berat
badan dan memperbaiki sensitifitas terhadap insulin, sehingga akan
memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan fisik yang dimaksud jalan
kaki, bersepeda santai, jogging, berenang.
Latihan fisik sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status
kesegaran fisik. Kegiatan sehari – hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun tetap dilakukan tetap dilakukan. Batasi
atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang gerak seperti
menonton televisi.
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2011. Departement Of Sustainable Development And Healthy


Environments
2. Susilo, Dr. Yekti Wulandari, Ari. 2011. Cara Jitu Mengatasi Diabetes
Mellitus. Yogyakarta: Penerbit Andi
3. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.2013. [Link]

Anda mungkin juga menyukai