LAPORAN PENDAHULUAN KASUS
PADA PASIEN BPH (Benigna Prostat Hipertrophy) DIRUANG MAWAR
RSD BALUNG
Disusun Oleh :
NAMA : EKA PUTRI FEBRIANTI
NIM :23102185
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS dr. SOEBANDI
JEMBER
2026
PERSETUJUAN
Laporan Pendahuluan pada Pasien BPH (Benigna Prostat Hipertrophy)
Telah dibuat pada tanggal : 1 Februari 2026
Pada pasien di ruang mawar
1 Februari 2026
Pembimbing Pembimbing
ruangan, Akademik,
(………………………..) (……...............................)
NIP. ………………. NIK. ……………….
Kepala Ruangan,
(…………………
………)
NIP. …………………
LEMBAR PENGESAHAN
Nama Mahasiswa : Eka Putri Febrianti
Kasus Laporan Pendahuluan : BPH (Benigna Prostat Hipertrophy)
Ruang Praktik : Ruang mawar
Rumah Sakit/Lahan Praktik : RSD BALUNG
Pembimbing Akademik Pembimbing Lapangan
(……………………….)
(……………………..)
NIP. ………………..
NIK. ……….
BAB I
LAPORAN KASUS
1.1 PENGERTIAN ABDOMINAL PAIN
BPH (Benigna Prostat Hyperplasia) merupakan suatu penyakit dimana terjadi pembesaran di
kelenjar prostat akibat hyperplasia jinak dari sel-sel yang biasa terjadi pada laki-laki berusia lanjut.
kelainan ini ditentukan pada usia 40 tahun dan frekuensinya makin bertambah sesuai dengan
penambahan usia, sehingga pada usia di atas 80 tahun kira-kira 80% dari laki-laki yang menderita
kelaınınan ını (Aprina, Noven, & Sunarsih, 2017).
Secara histopatologis dikarakteristikkan dengan peningkatan jumlah sel-sel stroma dan epitel
prostat diarea periuretra yang merupakan suatu hiperplasia dan bukan [Link] juga diartikan
sebagai pembesaran prostat yang mengenai uretra dan menyebabkan gejala urtikaria. BPH
merupakan kondısa yang belum diketahui penyebabnya, ditandai dengan merungkatnya ukuran zona
dalam (kelenjar periuretras dari kelenjar prostatt Nuari & Dhira, 2017: Budaya & Besut, 2019)
1.2 ETIOLOGI
Sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti terjadinya BPH, tetapi beberapa hipotesis
menyebutkan bahwa hyperplasia prostat erat dengan kadar dihidrostesteron dan proses penuaan.
Selain faktor tersebut ada beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hyperplasia
prostat, yaitu sebagai berikut:
a. Dyhydrostosterone
Peningkatan 5 alfa reductase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan struma darı
kelenjar prosta mengalami hiperplast
b. Ketidakseimbangan hormone esterogen-testosteron
Pada proses penuaan pria terjadi peningkatan hormone esterogendan penurunan testoterone
yang mengakithatkan hiperplasi stroma
c. Interaksi stroma-epitel
Peningkatan epidermal growth factor atau fibrolast growth faktor dan penurunan
transforming growth factor beta menyebabkan hiperplast stronna dan epitel.
d. Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dan
kelenjar prostat
e. Teori stel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel buru. Sel
stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit (Nuari & Dhina, 2017, Bulaya &
Besut, 2019)
1.3 KLASIFIKASI
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat
gangguan miksi yang disebut WHO Prostate Symptom Score (PSS). Derajat ringan skor 0-7, sedang
skor 8-19, dan berat: skor 20-35. Jenis pengobatan untuk pasien dengan tumor prostat tergantung
pada tingkat keparahan gejala klinis. Tingkat keparahan derajat klinis dibagi menjadi empat skala
berdasarkan temuan colok dubur dan volume urin sisa. Seperti yang tercantum dalam bagan berikut
ini, menurut [Link] dan Wim De Jong. 2002 (Mailani, 2023)
Colok dubur Sisa volume urin
Penonjolan prostat, atas mudah diraba <50 ml
Penonjolan prostatjelas, batas atas dapat dicapai 50-100 ml
Batas atas prostat tidak dapat diraba >100 ml
Batas atas prostat tidak dapat diraba Retensi urin total
Keterangan:
a. Derajat pertama biasanya tidak memerlukan pembedahan dengan penatalaksanaan
konservatif
b. Derajat kedua merupakan indikasi untuk pembedahan, biasanya dianjurkan reseksi
endoskopik melalui uretra (transurethral resection/tur)
c. Reseksi endoskopi derajat tiga dapat dilakukan jika prostat dinilai cukup besar, reseksi tdak
cukup selama 1 jam, sebaiknya dengan operasi terbuka, retropubik/transvesikal perianal.
d. Prosesur keempat harus segera dilakukan untuk membebaskan pasien dari retensi urin total
dengan memasukkan kateter
1.4 PATOFISIOLOGI
Terlampir
1.5 PATHWAY
Terlampir
1.6 MANIFESTASI KLINES
1. IPPS (International Prostat Symptoms Score) adalah kumpulan pertanyaan yang merupakan
pedoman untuk mengevaluasi beratnya LUTS
a. Skor 0-7: gejala ringan
b. Skor 8-19 gejala sedang
c. Skor 20-35: gejala berat
Gejala:
- Obstruktif: hesitansi, pancaran miksi lemah, intermitten miksi tak puas, menetes setelah
miksi
- Iritatif: nocturna, urgensi & disuria
2. Rectal grading
Didapatkan batas atas terahu, menonjal 1 cm (seperti ujung hidung)
Lobus kanan/kiri simetri & tidak teraba nodul
a. Grade 0: penonjolan 0-1 cm
b. Grade 1: penonjolan 1-2 cm
c. Grade 2: penonjolan 2-3 cm
d. Grade 3: penonjolan 3-4 cm
e. Grade 4: penonjolan >4 cm
3. Clinical grading (berdasarkan residu urine)
a. Grade 1
Sejak berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun pasien mengeluh kencing tidak puas, pancaran
urine lemah, harus mengedan, nocturia (belum terdapat sisa urine)
b. Grade 2
Telah terdapat sisa urine (sistitis), nocturia makin sering dan kadang disertai hematuri pada
cyctoscopy dinding vesika urinaria menebal karena trabekulasi (hipertropi musculus
destrusor)
c. Grade 3
Sisa urine mencapai 80-100 ml, infeksi semakin hebat (hiperplexi, menggigil & nyeri
pinggang karena cystitis). Trabekulasi semakin banyak.
d. Grade 4
Retensi urine total.
1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
A. Darah lengkap
Untuk menilai kadar Hb, PCV (hematokrit), trombosit, leukosit
B. LED
Untuk menilai kemungkinan inflasi akibat statis urine
C. Sedimentasi urine
Untuk menilai kemungkinan inflamasi saluran kemih
D. Kultur urine
Untuk menentukan jenis bakteri & terapi antibiotik yang tepat
E. Renal fungsi tes (BUN/ureum, creatitin)
Untuk menilai gangguan fungsi ginjal akibat dari statis urine
F. PSA (Prostatik Spesifik Antigen)
Untuk kewaspadaan adanya keganasan
2. Pemeriksaan radiology
A. Foto abdomen polos (BNA/ Blass Nier Averzith)
Untuk melihat adanya batu pada system kemih
B. Intravenus phielografi
Untuk menilai kelainan ginjal dan ureter dan Untuk menilai penyulit yang terjadi pada
fundus uteri
C. USG (ultrasonografi)
Untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat
3. Pemeriksaan penendoscopy
Untuk melihat derajat pembesaran kelenjar prostat
4. Pemeriksaan pancaran urme (uroflowmetri)
- Flowrate maximal 15 ml/ dtk non obstruktif
- Flowrate maximal 10-15 ml/ dik border line
- Folwrate maximal 10 ml dú obstrukuf
1.8 PENATALAKSANAAN
1. Farmakologi untuk:
- Mengurangi retensi laher vesika urinaria dengan obat golongan penghambat androgen
- Mengurangi volume prostat
2. Operatif (operası terbuka)
- Retrapubic transvesikal prostatectomy yaitu melakukan sayatan section alfa melalui fossa
prostate anterior tatapi tidak membuka dinding vesika urmarna
- Suprapubic transvesikal prostatectomy (trayer) yaitu melakukan sayatan section alva
menembus vesika urinaria
- Transperineal prostatectomy yaitu melakukan sayatan melalui perineun, foosa ischi langsung
ke prostale.
3. Endorologi transurethral
- Transurethral resection prostatectomy (TUR-P)
- Transurethral laser prostatectomy (TUL-P)
- Transutretral incision of the prostate (TUP)
1.9 KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin beratnya
BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melawati prostat. Hal ini dapat
menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal.
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus mengejak pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen yang akan
menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu
endapatan uang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesiko urinaria
menjadikan media vertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistatis dan bila terjadi
refluks menyebabkan pyelonefritis (Nuari & Dhina, 2017)
BAB II
PENGKAJIAN
2.1 Pengkajian
a. Identitas Klien
Meliputi : Rawuh, Jember/01-07-1951, Laki laki,Islam,Menikah, tingkat pendidikan, jenis
pekerjaan, Dsn Karuk 2/17,Tutul,Balung,Kabupaten Jember, Retensio urin+ BPH
(28cc),CHF,2026/01/23/000350(RM).
b. Keluhan utama
Pasien mengatakan merasakan nyeri pada daerah kemih meskipun sudah terpasang kateter
sejak beberap waktu terakhir keluhan dirasakan semakin tidak nyamana, terutama saat ada
dorongan ingin berkemih, rasanya seperti tertusuk-tusuk benda tajam pada daerah kandung
kemih nyeri skala7 nyeri terasa saat berkemih.
c. Riwayat penyakit sekarang
Pasien didiagnosis Benig Prostatic Hyperplasia (BPH), yang diduga menyebabkan hambatan
aliran urin sehingga urin tidak dapat keluar optimal meskipun sudah dilakukan pemasangan
kateter.
d. Riwayat penyakit dahulu
Pasien memiliki riwayat jantung sejak 3 tahun yang lalu.
e. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Pola nutrisi
Pola nutrisi dan metabolisme meliputi informasi tentang jenis diet atau suplemen yang
pernah dikonsumsi, serta instruksi diet yang diberikan sebelumnya. Selain itu, penting
juga mengetahui nafsu makan pasien, seberapa banyak cairan yang masuk, serta adanya
keluhan seperti mual, muntah. Kebutuhan nutrisi khusus lainnya juga menjadi bagian
penting yang perlu diperhatikan.
2) Pola eliminasi
Pada pola ini, yang perlu ditanyakan adalah seberapa sering pasien buang air besar
setiap hari, serta apakah ada keluhan seperti nyeri saat buang air kecil (disuria),
sering buang air kecil di malam hari (nokturia), rasa mendesak untuk buang air kecil,
adanya darah dalam urine (hematuria), kesulitan mengosongkan kandung kemih
(retensi), hingga masalah kontrol kandung kemih seperti inkontinensia. Penting juga
untuk mengetahui apakah pasien menggunakan kateter, baik kateter yang dipasang di
dalam (indwelling) maupun kateter eksternal, serta hal-hal terkait lainnya.
3) Pola Istirahat dan Tidur
Tanyakan mengenai pola tidur dan istirahat pasien, seperti berapa lama waktu tidur di
malam hari, pagi, dan siang hari. Selain itu, cari tahu apakah pasien merasa segar dan
tenang setelah tidur, apakah ada kesulitan saat tidur, sering terbangun di pagi hari, mimpi
buruk yang mengganggu atau mengalami insomnia.
4) Pola Aktivitas
Saat mengumpulkan data, penting untuk menanyakan kemampuan pasien dalam
mengurus diri sendiri, seperti aktivitas setiap hari mulai dari makan, berpakaian, mandi,
hingga ke toilet. Selain itu, perlu juga diketahui sejauh mana pasien bisa bergerak di
tempat tidur, berpindah posisi, berjalan, kekuatan ototnya, serta kemampuan melakukan
gerakan sendi (Range of Motion). Informasi ini membantu menilai tingkat kemandirian
dan kebutuhan bantuan pasien.
5) Riwayat Psikososial
Cara klien mengatasi masalah yang dihadapi, usaha yang mereka lakukan untuk
mempercepat proses kesembuhan, serta bagaimana mereka menerima dan menyesuaikan
diri dengan kondisi yang sedang dialami semua ini merupakan bagian penting dari
mekanisme koping mereka.
f. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran composmentis, tampak menahan nyeri
Tanda-tanda vital:
Suhu: 36°C
Nadi: 71x/menit
Saturasi O²( % ): 99
Respirasi: 18x/ menit
1) Pemeriksaan fisik
a) Kepala
Normocephalic/ Tidak ada kelainan pada kepala
b) Mata
Konjungtiva tidak anemis,sclera tidak ikterik
c) Mulut
Mukosa bibir dan mulut lembab
d) Telinga
Simetris kanan dan kiri, tidak ada sekret
e) Hidung
Simetris, tidak ada sekret
f) Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada distensi vena jugularis
g) Thorax
1) Paru: suara napas vesikuler, simetris kanan dan kiri, tidak terdengar wheezing
maupun ronki
2) Jantung
Jantung: Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar jelas dan teratur, tidak terdengar
murmur
h. Abdomen
Abdomen tampak datar, teraba lunak, bising usus meningkat, tidak terdapat
nyeri tekan ringan pada perut, tidak ada pembesaran organ
i. Genetal
a) Normal
j. Kulit
Kulit tampak hangat, turgor kulit baik, tidak ada ruam, tidak pucat, tidak ikerik
k. Ekstremitas
Ekstremitas atas dan bawah simetris, hangat, akral tidak dingin, kekuatan otot
cukup tidak ada edema
2.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Inkontinensia Urine (D.0044)
2. Nyeri akut (D.0077)
3. Gangguan pola tidur (D.0055)
9.1 KRITERIA HASIL DAN INTERVENSI
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN
KEPERAWATAN
Inkontinensia Elimnasi Urine (L.04034) Manajemen Eliminasi Urine (I.04152)
Urine (D.0044)
Setelah dilakukan intervensi Keperawatan selama 3x 24 jam Observasi
maka diharapkan eliminasi urine membaik dengan kriteria
- Identifikasi tanda dan gejala retensi atau
hasil:
inkontensia urine
No Indikator SA ST - Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau
1 Sensasi 2 5 inkontensia urine
berkemih - Monitor eliminasi urine
Terapeutik
Keterangan:
- Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih
1: menurun
- Batasi asupan cairan, jika perlu
2: cukup menurun Edukasi
3: sedang - Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih
4: cukup meningkat - Anjurkan minum yang cukup, jika tidak ada
kontraindikasi
5: meningkat
- Anjurkan mengurangi minum menjelang tidur
1 Hesistancy 2 5 Kolaborasi
2 Volume residu 2 5 - Kolaborasikan pemberian obat supositoria
urine uretra,jika perlu
3 Dribbling 2 5
4 Nokturia 2 5
5 Enuresis 2 5
Keterangan:
1: meningkat
2: cukup meningkat
3: sedang
4: cukup menurun
5: menurun
1 Frekuensi BAK 2 5
Keterangan:
1: memburuk
2: cukup memburuk
3: sedang
4: cukup membaik
5: membaik
Nyeri akut Tingkat Nyeri (L.08066) Manajemen Nyeri (I.08238)
(D.0077)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, Observasi
maka diharapkan tingkat nyeri menurun, dengan kriteria
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
hasil:
kualitas, intensitas nyeri
No Indikator SA ST - Identifikasi skala nyeri
- Idenfitikasi respon nyeri non verbal
1 Keluhan nyeri 2 5
Terapeutik
2 Meringis 2 5
- Berikan Teknik nonfarmakologis untuk
3 Sikap protektif 2 5 mengurangi nyeri
- Menggunakan teknik distraksi relaksasi
4 Gelisah 2 5
Edukasi
Keterangan:
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
1: meningkat - Jelaskan strategi meredakan nyeri
2: cukup meningkat - Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
Kolaborasi
3: sedang
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
4: cukup menurun
5: menurun
Gangguan pola Pola tidur (L.05045) Dukungan Tidur (I.05174)
tidur (D.0055)
Setelah dilakukan intervensi Keperawatan selama 3x 24 jam Observasi
maka diharapkan pola tidur meningkat dengan kriteria hasil :
- Identifikasi pola aktivitas dan tidur
No. Indikator SA ST - Identifikasi faktor pengganggu tidur
- Identifikasi makanan atau minuman yang
1 Keluhan sulit 2 5
mengganggu tidur
tidur
- Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
2 Keluhan 2 5
Terapeutik
sering terjaga
- Lakukan prosedu untuk meningkatkan kenyamanan
3 Keluhan tidak 2 5
- Sesuaikan jadwal pemberian obat dan tindakan
puas tidur
untuk menunjang siklus tidur terjaga
4 Keluhan pola 2 5
Edukasi
tidur berubah
- Anjurkan menghindari makanan atau minuman
5 Keluhan 2 5
yang mengganggu tidur
istirahat tidak
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak
cukup
mengandungsupresor terhadap tidur REM
Keterangan:
1: menurun
2: cukup menurun
3: sedang
4: cukup meningkat
5: meningkat