0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan125 halaman

Coc Rapi

Dokumen ini membahas asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. M, seorang primigravida berusia 25 tahun, di Puskesmas Turi, mencakup kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan masa nifas. Selama proses asuhan, tidak ditemukan komplikasi, dan bayi lahir sehat dengan APGAR Score yang baik. Penekanan pada pentingnya asuhan kebidanan yang komprehensif dan berkesinambungan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta mencegah komplikasi maternal.

Diunggah oleh

Zulva Pram
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan125 halaman

Coc Rapi

Dokumen ini membahas asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. M, seorang primigravida berusia 25 tahun, di Puskesmas Turi, mencakup kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan masa nifas. Selama proses asuhan, tidak ditemukan komplikasi, dan bayi lahir sehat dengan APGAR Score yang baik. Penekanan pada pentingnya asuhan kebidanan yang komprehensif dan berkesinambungan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta mencegah komplikasi maternal.

Diunggah oleh

Zulva Pram
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN (CONTINUITY OF

CARE/COC)
PADA NY. M USIA 25 PRIMIGRAVIDA DENGAN ASUHAN
KEBIDANAN
KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR DAN NIFAS
FISIOLOGIS DI PUSKESMAS TURI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Kebidanan Komunitas dalam


Konteks Continuity of Care (COC ) I

Oleh :
ERI WURYATI
NIM.P07124521151
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN JURUSAN
KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA 2022
iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Continuity of Care
(COC) ini. Penulisan tugas ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
Tugas Praktik Kebidanan Komunitas dalam Konteks Continuity of Care (COC)
untuk memperoleh gelar profesi bidan pada Program Studi Profesi Bidan pada
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Tugas ini dapat diselesaikan
atas bimbingan, masukan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak:
1. Bapak Joko Susilo, SKM.., [Link] selaku Direktur Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta.
2. [Link] Kusmiyati,SST.,MPH selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta dan selaku Pembimbing Akademik.
3. Hesty W, [Link] selaku Ketua Prodi Profesi Kebidanan Jurusan Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
4. dr. Pinky Christina Dewi selaku kepala Puskesmas Turi.
5. Febri Dwi K R, [Link] selaku Pembimbing Lahan Praktik.
6. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara moril maupun
material yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan, untuk itu
penulis mengharapkan masukan, kritikan, dan saran yang bersifat membangun
dari berbagai pihak. Penulis berharap semoga Tugas ini dapat bermanfaat di
kemudian hari.

Yogyakarta, Maret 2022

Penyusun

SINOPSIS

iv
Kehamilan merupakan kondisi fisioligis yang dialami oleh perempuan usia
reproduksi yang telah menikah. Meskipun kehamilan merupakan hal fisiologis
namun tidak menutupi kemungkinan kehamilan tersebut akan mengalami
penyulit, sehigga kondisi tersebut dapat memunculkan paradigma baru dalam
mensejahterakan kesehatan ibu dan anak yaitu dengan melaksanakan asuhan
berkesinambungan (continue of care) sebagai tindakan preventif sebagai salah
satu upaya penanganan komplikasi maternal yang mungkin terjadi pada saat ibu
hamil, persalinan maupun nifas.
Kasus yang didapatkan dari Ny. M pada kehamilan Trimester III tidak
ditemukan penyulit selama asuhan berlangsung. Asuhan dilakukan sebanyak 2
kali selama masa kehamilan di Puskesmas Turi. Ny M melahirkan secara spontan
di PMB Widawati Rahayu pada usia kehamilan 40 minggu 3 hari. Bayi baru lahir
sehat menangis kuat, APGAR Score 8/9/10, dengan berat lahir 3000 gram.
Selama masa nifas tidak ditemukan permasalahan dan pemeriksaan vital sign
dalam batas normal.
Kesimpulan pada laporan ini kunjungan hamil, bersalin, nifas, bayi baru
lahir, dan neonatal, serta konseling KB telah dilakukan secara berkesinambungan
dan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Setelah dilakukan kunjungan atau
asuhan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dan hasil pengkajian tersebut
dapat menjadi deteksi dini penyulit klien sehingga mendapatkan penanganan yang
sesuai.
v

DAFTAR ISI

Contents
HALAMAN
JUDUL .......................................................................................................... 1
LEMBAR PENGESAHAN ............................................... Error! Bookmark not
defined.
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
SINOPSIS................................................................................................................iv
DAFTAR ISI............................................................................................................v
DAFTAR TABEL...................................................................................................vi
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN....................................................................................................1

v
A. Latar Belakang...............................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................3
C. Ruang Lingkup.............................................................................................4
D. Manfaat..........................................................................................................4
BAB II......................................................................................................................6
TINJAUAN KASUS DAN TEORI..........................................................................6
A. Tinjauan Kasus.............................................................................................6
B. Tinjauan Teori.............................................................................................13
1. Teori Kehamilan......................................................................................13
2. Teori Persalinan.......................................................................................32
3. Teori Bayi Baru Lahir.............................................................................39
4. Teori Nifas................................................................................................43
5. Teori Keluarga Berencana......................................................................55
BAB III...................................................................................................................63
PEMBAHASAN....................................................................................................63
A. Asuhan Kebidanan Kehamilan.................................................................63
B. Asuhan Kebidanan Persalinan..................................................................66
C. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir........................................................70
D. Asuhan Kebidanan Nifas............................................................................73
E. Asuhan Keluarga Berencana.....................................................................77
BAB IV PENUTUP................................................................................................78
A. Kesimpulan..................................................................................................78
B. Saran............................................................................................................78
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................80

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. TFU Tinggi Fundus Uteri Leopold


1 .................................................................. 18
Tabel 2. Perubahan normal uterus selama post
partum..................................................... 44
Tabel 3. Perubahan
Lochea. .............................................................................................. 45

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya kehamilan, persalinan, nifas, dan Bayi Baru Lahir
(BBL) merupakan suatu keadaan yang alamiah dan fisiologis namun dalam
prosesnya terdapat kemungkinan keadaan tersebut berubah menjadi keadaan
patologis yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Menurut World Health
Organization (WHO) kesehatan ibu merupakan kunci bagi kesehatan generasi
penerusnya, ibu yang sehat ketika hamil, aman ketika melahirkan, pada
umumnya akan melahirkan bayi yang sehat. Oleh sebab itu angka kesakitan
dan kematian ibu merupakan indikator yang penting untuk menggambarkan
status kesehatan maternal. Agar posisi alamiah ini berjalan dengan lancar dan
baik dan tidak berkembang menjadi keadaan patologis, diperlukan upaya
sejak dini yaitu berupa asuhan kebidanan secara menyeluruh dan
berkesinambungan serta upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Umumnya kematian maternal
(maternal mortality) merupakan indikator yang dipakai untuk menilai baik
buruknya suatu keadaan pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu
Negara atau daerah.1
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah rasio kematian ibu yang
disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi
bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau insidental di setiap
100.000 kelahiran hidup. Secara umum terjadi penurunan kematian ibu
selama periode 1991- 2015 dari 390 menjadi 305 per 100.000 kelahiran
hidup. Data menunjukkan bahwa AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi
meskipun sebelumnya mengalami penurunan, diharapkan Indonesia dapat
mencapai target yang ditentukan Sustainable Development Goals (SDGs)
2030 yaitu AKI 70 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 12 per 1000
kelahiran hidup
Profil kesehatan Yogyakarta 2020 menunjukan bahwa angka kematian
di Yogyakarta tahun 2015 penurunan jumlah kematian ibu sangat signifikan
hingga menjadi sebesar 29 kasus. Namun pada tahun 2016 kembali naik
tajam
2
1

menjadi 39 kasus dan kembali sedikit turun menjadi 34 pada tahun 2017,
namun naik lagi di tahun 2018 menjadi 36 di tahun 2019 kasus kematian ibu
hamil di angka yang sama dengan tahun sebelumnya. Kasus terbanyak terjadi
di Kabupaten Bantul (13 kasus) dan terendah di Kota Yogyakarta (4 kasus). 1
Profil kesehatan Kabupaten sleman 2020 menunjukan Angka
kematian ibu melahirkan Tahun 2019 mengalami kenaikan bila dibandingkan
dengan tahun 2018. Jumlah kematian ibu pada Tahun 2018 adalah sebanyak 7
kasus dari 13.879 kelahiran hidup dengan angka kematian ibu melahirkan
sebesar 50,44 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu Tahun 2019
sebanyak 8 kasus dari 13.462 kelahiran hidup dengan angka kematian ibu
melahirkan sebesar 59,43 per 100.000 kelahiran hidup.2 Penyebab terjadinya
angka kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan 60 – 70 %, infeksi 10 –
20 %, pre eklampsi dan eklampsi 20 – 30%. Untuk menurunkan Angka
Kematian Ibu (AKI) Depkes sedang menggalakkan program Making
Pregnancy Safer (MPS) dengan program (P4K) antara lain Program
Perencanaan, Persalinan dan Pencegahan Komplikasi.
Program tersebut sesuai dengan asuhan yang akan dilakukan, yaitu
perawatan atau asuhan ada ibu hamil secara berkesinambungan atau Continue
of Care. Homer et al (2014) yang menjelaskan CoC dalam kebidanan adalah
serangkaian kegiatan pelayanan yang berkelanjutan dan menyeluruh mulai
dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan
keluarga berencana. Asuhan berkelanjutan ini berkaitan dengan kualitas
pelayanan dari waktu ke waktu, dalam pemerian asuhan tersebut seorang
bidan dapat bermitra dengan perempuan sehingga mampu memantau kondisi
ibu hamil mulai dari awal kehamilan sampai dengan proses persalinan dan
pemantauan bayi baru lahir dari tanda infeksi maupun komplikasi pasca lahir
serta fasilitator untuk pasangan usia subur dalam pelayanan KB.3
Pengawasan antenatal memberikan manfaat bagi kedua pihak yaitu
maternal dan neonatal. Penemuan kelainan yang menyertai kehamilan secara
dini, dapat diperhitungkan dan di persiapkan langkah-langkah dalam
pertolongan persalinannya. Kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan
kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan janin. Dalam hal ini Bidan
memiliki kedudukan yang sangat penting dalam melaksanakan misi
3
tercapainya pembangunan kesehatan yang optimal. Oleh karena itu penulis
tertarik untuk mengkaji dan memberikan asuhan dengan judul “Asuhan
Kebidanan Berkesinambungan pada Ny M usia 25 Tahun Primigravida di
Puskesmas Turi Sleman”. Asuhan Kebidanan diberikan secara Cotinuity of
Care pada ibu masa hamil, bersalin, BBL, nifas, neonatus, dan KB.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. M
usia 25 tahun mulai dari hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB sesuai
dengan penerapan pola pikir manajemen kebidanan varney di Puskesmas
Turi.
2. Tujuan Khusus.
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada Ny. M secara
komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
b. Mahasiswa mampu menentukan interpretasi data dasar pada Ny. M
secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
c. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa potensial pada Ny. M
secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
d. Mahasiswa mampu melakukan tindakan segera pada Ny. M secara
komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
e. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan kebidanan pada Ny. M
secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
f. Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny. M
secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
g. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi asuhan kebidanan pada
Ny. M secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan.
4
h. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan pada
Ny. M secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam asuhan kebidanan ini adalah pemberian asuhan
kebidanan kehamilan, persalinan, BBL, nifas dan KB

D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Dapat menambah wawasan terutama yang terkait dengan asuhan
kebidanan komprehensif pada kehamilan, persalinan, bayi baru lahir,
nifas dan KB.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Memberikan tambahan informasi dan pengetahuan tentang asuhan
kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, BBL dan KB.
b. Bagi Bidan Puskesmas Turi
Untuk menambah informasi dan dapat mengoptimalkan mutu
pelayanan Puskesmas dalam memberikan asuhan kebidanan
komprehensif pada ibu hamil, bersalin, nifas dan KB.

c. Bagi Mahasiswa
Menambah informasi dan sebagai referensi dalam menerapkan ilmu
yang didapat selama kuliah untuk memberikan asuhan kebidanan
secara komprehensif pada kehamilan, persalinan, BBL, nifas dan
KB.
d. Bagi Klien
Menambah pengetahuan selama kehamilan, persalinan, nifas dan
perencanaan KB.
BAB II
TINJAUAN KASUS DAN TEORI

A. Tinjauan Kasus
1. Asuhan Kebidanan Kehamilan
Seorang ibu hamil datang ke Puskesmas Turi pada tanggal 21
Januari 2022 ibu datang untuk melakukan kontrol hamil dan mengatakan
tidak ada keluhan. Riwayat menstruasi pasien HPHT tanggal 29 April
2021, HPL 6 Februari 2022, saat ini umur kehamilan ibu sudah 38 minggu
1 hari. Pasien rutin periksa kehamilan sejak umur 8 minggu 4 hari di
Puskesmas Turi dan PMB W. Status imunisasi TT sudah TT4 dan terakhir
saat caten tahun 2019. Ini merupakan kehamilan pertama dan belum
pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya. Pasien mengatakan
tidak memiliki riwayat penyakit sistemik, keturunan kembar baik dari
keluarganya maupun suami. Ini merupakan kehamilan yang diharapkan
sejak awal pernikahan.
Pengkajian objektif meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan
fisik. Hasil pemeriksaan keadaan ibu normal, tekanan darah 112/60
mmHg, TB 150 cm, BB sebelum hamil 43 kg, BB sekarang 55 kg, Lila 25
cm dan IMT 24,4 kg/m2. Setelah itu dilanjutkan pemeriksaan fisik mulai
dari kepala sampai kaki. Pada pemeriksaan abdomen tidak ditemukan
adanya bekas operasi, perabaan leopold I didapatkan TFU 31 cm dan
teraba bulat, lunak tidak melenting yang berarti bokong, pada leopold II
teraba punggung pada perut sebelah kiri, leopold III teraba bulat, keras
dan tidak dapat digoyangkan yang artinya pada segmen bawah rahim
teraba kepala dan pada leopold IV tangan pemeriksa divergen yang
artinya kepala bayi sudah masuk PAP. Setelah, perabaan atau palpasi
dilakukan pemeriksaan auskultasi denyut jantung janin sebanyak 146
x/menit. Ekstremitas bawah tidak ada pembengkakan, pemeriksaan
penunjang dalam batas normal, Hb 12 , Protein urine negatif. Analisis
pada masalah ini Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 38 minggu 1 hari
dengan kehamilan fisiologis tidak memiliki masalah kesehatan, KIE
persiapan persalinan dan tanda bahaya TM 3.
6
6

Penatalaksanaan yang dilakukan oleh bidan adalah memberikan KIE


ketidaknyamanan trimester III. Memberikan KIE pola istirahat selama
hamil, KIE pola nutrisi selama hamil bahwa ibu harus mengkonsumsi
makanan sehat seimbang, Memberi KIE perencanaan persalinan agar saat
bersalin nanti semua sudah dipersiapkan dengan baik. Memberikan KIE
tanda persalinan agar ibu segera ke fasilitas kesehatan begitu mengalami
salah satu tanda persalinan. Memberikan tablet tambah darah 7 tablet dan
kalsium 7 tablet dan menganjurkan kunjungan ulang 1 minggu lagi atau
jika ada keluhan.
Pada kunjungan berikutnya pasien periksa kehamilan pada tanggal
28/01/2022 saat kunjungan umur kehamilan sudah 39 minggu 1 hari dan
mengatakan sudah mulai kenceng - kenceng. Ibu mengatakan pemenuhan
sehari-hari dalam batas normal. Sudah mulai jalan pagi. Hasil pengkajian
objektif pemeriksaan keadaan ibu normal, tekanan darah 120/70 mmHg,
TB 150 cm, BB sebelum hamil 43 kg, BB sekarang 56 kg, Lila 25 cm dan
IMT 24,6 kg/m2kondisi ibu dalam batas normal. Pemeriksaan palpasi
leopold I pada fundus teraba kepala dengan TFU 32 cm, palpasi leopold II
teraba punggung pada perut sebelah kiri, leopold III teraba kepala dan
tidak bisa digoyangkan, pada leopold IV kepala sudah masuk PAP.
Setelah palpasi, dilakukan auskultasi denyut jantung janin yaitu sebanyak
156 xmenit. Analisis diperoleh Ny. M usia 25 tahun G1P0A0 UK 39
minggu 1 hari dengan kehamilan normal memiliki masalah sudah mulai
merasa kenceng hilang timbul, kebutuhan dukungan emosional ibu.
Penatalaksanaan yang diberikan KIE memantau gerakan janin setiap hari,
KIE psikologis agar ibu tidak cemas dengan kondisinya, KIE nutrisi
selama hamil, menganjurkan melanjutkan obat yang masih tersisa.
Menganjurkan kunjungan ulang seminggu lagi atau jika ada keluhan dan
belum ada tanda persalinan.

2. Asuhan Kebidanan Persalinan


Pengkajian kasus ini dilakukan melalui data sekunder berupa
register dan rekam medik pasien. Pada tanggal 09/02/2022 jam 07.00
WIB pasien datang ke PMB W dengan keluhan kenceng-kenceng dan ada
7
pengeluaran lendir darah dari jalan lahir sejak jam 23.30 WIB. HPHT
tanggal 29/04/2021, HPL 06/02/2022 dan umur kehamilan 40 minggu 3
hari. Riwayat periksa kehamilan rutin di PMB dan Puskesmas. Kontraksi
mulai dirasakan tanggal 08/02/2022 jam 19.00 WIB dan pengeluaran
lendir darah jam 23.30 WIB. Gerakan janin dirasakan aktif >10 kali dalam
12 jam. Makan terakhir tgl 08/02/2022 jam 19.00 WIB, BAK terakhir tgl
09/02/2022 jam 04.00 WIB dan BAB terakhir tgl 09/02/2022 jam 04.00
WIB.
Pemeriksaan objektif didapatkan dari data sekunder pasien.
Keadaan umum pasien baik dan kesadaran composmentis. Tekanan darah
120/70 mmHg, nadi 84x/m, respirasi 22x/menit, suhu 36 5C, BB sekarang
54 kg. Pemeriksaan abdomen palpasi leopold I teraba bokong dengan
TFU 30 cm, leopold II teraba punggung pada perut kiri, leopold III teraba
kepala pada segmen bawah rahim, dan tidak bisa digoyangkan, leopold IV
posisi tangan divergen dan bagian terendah janin sudah masuk PAP
dengan penurunan kepala 4/5. Kontraksi dirasakan dengan durasi 20 detik
frekuensi 3x dalam 10 menit. Auskultasi titik punctum maksium
hipogastrik sebelah kiri dengan frekuensi 149x/m. Pemeriksaan genetalia
ada pengeluaran lendir darah dan dilakukan periksa dalam oleh bidan.
Periksa dalam dilakukan tgl 09/02/2022 jam 07.30 WIB atas indikasi
pengeluaran lendir darah dan adanya kontraksi. Tujuan periksa dalam
untuk mengetahui kemajuan persalinan. Hasil periksa dalam yang telah
dilakukan bidan adalah vagina licin, tebal, lunak, pembukaan 1, selaput
ketuban +, presentasi belakang kepala, hodge I, dan sarung tangan lendir
darah +. Analisa pada kasus ini seorang Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK
40 mg 3 hari janin tunggal, intauterine, hidup, presentasi belakang kepala,
punggung kiri dalam persalinan kala 1 fase laten. Penatalaksanaan yang
diberikan oleh bidan dalam fase laten adalah menganjurkan ibu tetap
makan minum, menganjurkan jalan-jalan untuk membantu penurunan
kepala, motivasi ibu untuk berdoa, menganjurkan keluarga untuk
mendampingi selama proses persalinan, memberikan formulir persetujuan
tindakan selama proses persalinan dan melakukan observasi kemajuan
persalinan.
8
Setelah 4 jam dilakukan pemeriksaan kemajuan persalinan jam
11.30 WIB pasien mengatakan ingin meneran kenceng-kenceng semakin
kuat.
HIS dirasakan 3x10’ selama 30” dan DJJ 139 x/menit. Hasil pemeriksaan
dalam vulva uretra teraba tenang, dinding vagina licin, servik teraba
menipis, pembukaan 5 cm, selaput ketuban positif, presentasi belakang
kepala, UUK arah jam 9, molase 0, Hodge II, air ketuban negatif. Analisa
pada kasus ini seorang Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 40 mg 3 hari
janin tunggal, intauterine, hidup, presentasi belakang kepala, punggung
kiri dalam persalinan kala 1 fase aktif. Penatalaksanaan dilakukan
observasi dan menejemen nyeri dengan mengarahkan posisi ibu senyaman
mungkin, dan tetap menganjurkan ibu makan minum dan menghadirkan
pendamping ibu.
Setelah 4 jam kemudian dilakukan pemeriksaan kemajuan
persalinan pada pukul 16.30 WIB, pemeriksaan dalam vulva uretra teraba
tenang, dinding vagina licin, servik teraba menipis, pembukaan 8 cm,
selaput ketuban positif, presentasi belakang kepala, UUK arah jam 12,
molase 0, Hodge III, air ketuban negatif. Analisa pada kasus ini seorang
Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 40 mg 3 hari janin tunggal, intauterine,
hidup, presentasi belakang kepala, punggung kiri dalam persalinan kala 1
fase aktif. Penatalaksanaan tetap melanjutkan observasi, dan menejemen
nyeri serta asuhan sayang ibu.
Pada pukul 17.00 WIB ibu mengatakan keluar air dari jalan lahir,
kenceng semakin kuat dan sudah terasa ingin BAB, Pemeriksaan TTV
dalam batas normal, HIS 4 x10” 45’ DJJ 146x/menit. Pemeriksaan dalam
vulva uretra teraba tenang, dinding vagina licin, servik tidak teraba,
pembukaan 10 cm, selaput ketuban negatif, presentasi belakang kepala,
UUK arah jam 12, molase 0, Hodge III, air ketuban jernih. Analisa kasus
Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 40 minggu 3 hari janin tunggal,
intrauterine, hidup, presentasi belakang kepala dalam persalinan kala II.
Penatalaksanaan yang diberikan pada kala II meliputi cara meneran yang
benar, mengatur posisi ibu dan motivasi ibu untuk tetap kuat dalam proses
persalinan, memimpin persalinan dan membantu kelahiran bayi selama 25
menit. Bayi lahir spontan pada jam 17.25 WIB menangis spontan, cukup
bulan, kulit kemerahan, tonus otot aktif, jenis kelamin perempuan.
9
Pada jam 17.25 WIB ibu mengatakan perutnya mules, TFU setinggi
pusat, janin tunggal, kontraksi baik. Analisa kasus Ny. M usia 25 tahun
P1A0Ah1 dalam persalinan kala III. Pentalaksanaan yang dilakukan bidan
pada kasus ini memberitahu ibu bahwa bayinya sudah lahir dan
melakukan manajemen aktif kala III. Plasenta lahir spontan lengkap utuh
pada jam 17.30 WIB. Karena ibu akan dilakukan pemasangan IUD pasca
placenta dilakukan eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian placenta
tertinggal, setelah dipastikan bersih memasang IUD dengan menggunakan
2 jari yaitu jari telunjuk dan jari tengah sembari tangan kiri menahan
fundus. Setelah terpasang dilakukan massase fundus, memeriksa adanya
laserasi jalan lahir dan ditemukan ruptur derajat 2. Pada pukul 17.30 Ibu
mengatakan perutnya mules, kontraksi uterus baik, TFU 2 jr bawah pusat
terdapat ruptur derajat 2. Analisa kasus ini Ny. M usia 25 tahun P1A0Ah1
dalam persalinan kala IV dengan ruptur perineum derajat 2.
Penatalaksanaan yang dilakukan bidan adalah melakukan penjahitan
laserasi perineum dengan lidokain, melakukan observasi 2 jam kala IV.
Selama 1 jam pertama setiap 15 menit dan pada 1 jam kedua setiap 30
menit.
3. Asuhan Bayi Normal
Pengkajian kasus ini dilakukan berdasarkan pengkajian data
sekunder. Riwayat antenatal ini adalah kehamilan pertama dengan umur
kehamilan 40 minggu 3 hari. Riwayat intranatal bayi lahir pada tanggal
9/2/2022 jam 17.25 WIB spontan ditolong oleh bidan. Lama persalinan
kala I 6 jam, kala II 25 menit, kala III 5 menit. Penilaian awal bayi baru
lahir cukup bulan, ketuban jernih, menangis kuat, tonus otot aktif, warna
kulit kemerahan. APGAR skor dalam 1 menit pertama 8, dalam 5 menit
nilai 9 dan pada 10 menit bernilai 10. Setelah persalinan langsung
dilakukan IMD selama 1 jam.
Setelah dilakukan IMD, dilakukan pemeriksaan fisik dan hasilnya
dalam batas normal. Pola eliminasi bayi sudah meko segera setelah lahir.
Analisa kasus ini By Ny M BBLC SMK spontan usia 1 jam.
Penatalaksanaan yang dilakukan bidan melakukan pemeriksaan
antropometri, memberikan salep mata anti profilaksis pada mata kiri dan
kanan, memberikan injeksi vitamin K, dan melakukan termoregulasi bayi.
10
Pada tanggal 16/2/2022, Ny. M mengatakan bahwa anaknya dalam
kondisi sehat, mau menetek, hanya saja bayi sering tertidur, dan ibu segan
membangunkan bayinya. Hasil pengkajian data tersebut dapat dianalisis
bahwa By Ny. M usia 7 hari dalam keadaan normal, masalah tidak ada,
kebutuhan pemenuhan cairan atau ASI sesering mungkin.
Penatalaksanaan yang diberikan adalah menganjurkan ibu untuk
menyusui sesering mungkin, dan menjemur bayinya di pagi hari. Serta
menganjurkan ibu untuk mengontrolkan bayinya.
4. Asuhan Kebidanan Nifas
Pada kunjungan masa nifas dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada
kunjungan postpartum hari ke 1, postpartum hari ke 7, postpartum hari ke
14 dan postpartum hari ke 30. Pada kunjungan nifas pertama yaitu tanggal
10/02/2022 pukul 10.25 WIB , ibu mengatakan nyeri jahitan pada jalan
lahir sejak persalinan tanggal 09/02/2022 jam 17.25 wib. Umur kehamilan
40 minggu 3 hari, melahirkan secara spontan dengan IUD pascaplacenta,
laserasi derajat 2 dan dilakukan penjahitan dengan lidokain. Perdarahan
kala III ±100 cc dan kala IV ±100cc. Lamanya persalinan kala I selama 6
jam, kala II 25 menit, kala III 5 menit. Dilakukan rawat gabung untuk
bounding antara ibu dan bayi. Pola nutrisi ibu sudah makan nasi, sayur
dan lauk serta minum air putih sudah ±3 gelas sejak persalinan. Ibu sudah
mandi dan sudah BAK, tapi belum BAB. Ibu sudah berjalan dari tempat
tidur ke kamar mandi. Kelahiran ini merupakan kelahiran yang sangat
dinantikan, keluarga besar menunggu dan mempersiapkan segala
kebutuhan ibu dan bayi.
Pada pemeriksaan tekanan darah 110/80 mmHg, colostrum sudah
keluar sedikit, tidak teraba bendungan ASI, TFU 2 jari dibawah pusat
dengan kontraksi keras, jahitan masih basah dengan pengeluaran lochia
rubra dari jalan lahir. Analisa kasus Ny M usia 25 tahun P1A0Ah1
postpartum spontan hari ke 1 terpasang IUD Pascaplacenta, dengan
masalah nyeri jahitan perineum serta belum mengerti tentang masa nifas
dan memiliki kebutuhan KIE nyeri jahitan perineum dan KIE masa nifas.
Pada penatalaksaan kunjungan pertama berisi KIE kebersihan diri, KIE
perawatan perineum, KIE nutrisi selama nifas, KIE ambulasi dini
melakukan aktivitas rumah tangga, teknik menyusui, KIE tanda bahaya
dan memberikan obat vitamin A 2X200.000 IU/24jam, Amoxicilin
11
2x500mg/8 jam, tablet tambah darah 1x200mg/8jam dan asam
mefenamant 3x500mg/8jam.
Pada kunjungan kedua dilakukan di rumah melalui saluran telefon
ibu pada tanggal 16/02/2022 jam 10.00 WIB. Pasien mengatakan tidak
ada keluhan sejak pulang dari PMB, Ibu mengatakan tidak ada keluhan.
Pasien sudah makan seperti biasa dan tanpa pantangan apapun. Istirahat
saat bayi tidur dan bergantian dengan suami saat malam hari menjaga
bayinya. Ibu mengatakan masih mengeluarkan darah coklat kekuningan
dan tidak ada masalah pada dirinya. Analisis pada kasus ini Ny. M Umur
25 tahun P1A0Ah1 dengan postpartum hari ke 7. Penatalaksanaan KIE
istirahat, KIE menyusui dan teknik menyusui, KIE perawatan bayi, dan
menganjurkan ibu untuk menjemur bayinya dan menganjurkan kunjungan
nifas ke PMB / ke Puskesmas.
Pada kunjungan ketiga postpartum hari ke 14 pada tanggal
23/02/2022 di PMB W, ibu mengatakan tidak ada keluhan dan masalah
selama masa nifas. Ibu mengatakan luka jahitan sudah kering dan masih
mengeluarkan darah sedikit – sedikit berwarna kuning kecoklatan. Pada
pemeriksaan tekanan darah 120/80 mmHg, ASI keluar, tidak teraba
bendungan ASI, TFU 2 jari diatas sympisis dengan kontraksi keras,
jahitan sudah kering dengan pengeluaran lochia serosa dari jalan lahir.
Analisa kasus Ny M usia 25 tahun P1A0Ah1 postpartum spontan hari ke
14 normal.
Asuhan terakhir pada masa nifas tanggal 11/03/2022 saat ini ibu
postpartum hari ke 30. Ibu mengatakan tidak ada keluhan, pengeluaran
ASI lancar, TFU tidak teraba, jahitan kering dan sudah tidak ada
pengeluaran dari jalan lahir. Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus
ini adalah memberikan KIE imunisasi bayi, KIE tanda bahaya pada ibu
dan bayi, KIE ASI Ekslusif.

B. Tinjauan Teori
1. Teori Kehamilan
a. Pengertian
Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan yang mana
terdiri dari ovulasi, migrasi, spermatozoa dan ovum, konsepsi dan
pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan
12
plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm. 4
kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi. Bila dihitung dari dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi,
kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10
bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi
dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12
minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27),
dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)
b. Tanda Kehamilan
1) Tanda Tidak Pasti ( Presumptive Sign)
Tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan fisiologis yang
dapat dikenali dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita
hamil. Tanda tidak pasti ini terdiri atas hal-hal berikut ini.
a) Amenorea (Berhentinya Menstruasi): Konsepsi dan nidasi
menyebabkan tidak terjadinya pembentukan folikel de Graaf
dan ovulasi sehingga tidak terjadi menstruasi. Lamanya
amenorea dapat dikonfirmasikan dengan memastikan hari
pertama haid terakhir (HPHT), dan digunakan untuk
menentukan usia kehamilan dan taksiran kehamilan. Namun
kondisi ini dapat juga menunjukan akibat dari penyakit kronik
tertentu, tumor pituitari, perubahan dan faktor lingkungan,
malnutrisi dan biasanya gangguan emosional seperti ketakutan
akan kehamilan.
b) Mual (Nausa) dan Muntah (Emesis): Keadaan ini dapat
disebabkan oleh estrogen dan progesterone yang
menyebabkan peningkatan asam lambung sehingga
menimbulkan mual muntah yang terjadi terutama pada pagi
hari yang disebut Morning Sickness. Dalam Batasan tertentu
hal ini masih fisiologi, tetapi bila terlampau sering dapat
menimbulkan gangguan kesehatan yang disebut dengan
Hiperemesis Gravidarum.
c) Ngidam (Pengingin makanan tertentu): Wanita hamil sering
menginginkan makanan tertentu, keingginan yang demikian
disebut ngidam. Ngidam sering terjadi pada bulan-ulan
13
pertama kehamilan dan akan menghilang dengan makin tuanya
kehamilan.
d) Kelelahan Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari
penurunan kecepatan basal metabolism (basal metabolism
rateBMR ) pada kehamilan, yang akan meningkat seiring
pertambahan usia kehamilan akibat aktifitas metabolisme hasil
konsepsi
e) Payudara tegang: Estrogen meningkatkan system duktus pada
payudara, sedangkan progesteron menstimulasi perkembangan
system alveolar payudara. Bersama somatomamotropin
hormone-hormon ini menimbulkan pembesaran payudara,
menimbulkan perasaan tegang dan nyeri selama 2 bulan
pertama kehamilan, pelebaran putting susu, serta pengeluaran
kolostrum.
f) Pigmentasi kulit: Terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12
minggu. Terjadi akibat pengaruh hormone kortikosteroid
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. Pigmentasi ini
meliputi tempat-tempat berikut ini.
(1) Sekitar pipi (cloasma gravidarum): Penghitaman pada
daerah dahi,hidung,pipi,dan leher .
(2) Sekitar leher: Tampak lebih hitam
(3) Dinding perut (striage lividae/gravidarum): Terdapat
pada seorang primigravida ,warnanya membiru),striae
nigra,linea alba menjadi lebih hitam (linea grisea/nigra)
(4) Sekitar payudara: Hiperpigmentasi areola mamae
sehingga terbentuk areola sekunder. Pigmentasi ereola ini
berbeda pada tiap wanita,ada yang merah muda pada
wanita kulit [Link] itu, kelenjar Mentgometri
menonjol dan pembuluh darah menifes sekitar payudara.
(5) Sekitar pantat dan paha atas: Terdapat striae akibat
pembesaran bagian tersebut.
2) Tanda kemungkinan (probability sign)
Tanda kemungkinan adalah perubahan-perubahan fisiologis yang
dapat diketahui oleh pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan
14
fisik pada wanita hamil. Tanda kemungkinan ini terdiri atas
halhal berikut ini.
a) Pembesaran perut: Terjadi akibat pembesaran perut. Hal ini
terjadi pada bulan ke empat kehamilan.
b) Tanda Hegar: Tanda Hegar adalah pelunakan dan dapat
ditekannya isthimus uteri.
c) Tanda Goodle: Adalah pelunakan serviks. Pada wanita
yang tidak hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan
pada wanita hamil melunak seperti bibir.
d) Tanda Chadwicks: Perubahan warna menjadi keunguan
pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga portio dan
serviks.
e) Tanda Piscaseck: Merupakan pembesaran uterus yang tidak
simetris. Terjadi karena ovum berimplantasi pada daerah
dekat kornum sehingga daerah tersebut berkembang lebih
dulu.
f) Kontraksi Braxton Hicks: Merupakan peregangan sel-sel
uterus, akibat meningkatnya actomysin dalam otot uterus.
Kontaksi ini tidak ber ritmik, sporadic, tidak nyeri,
biasanya timbul pada kehamilan 8 minggu, tetapi baru
dapat diamati dari pemeriksaan abdominal pada trimester
ke tiga. Kontraksi ini akan terus meningkan frekuensinya,
lamanya, dan kekuatannya sampai mendekati persalinan.
g) Teraba Ballotement: Ketukan yang mendadak pada uterus
menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang
dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa. Hal ini ada pada
pemeriksaan kehamilan karena perabaan bagian seperti
bentuk janin saja tidak cukup karena dapat saja merupakan
myoma uteri.
h) Pemeriksaan Tes Biologis kehamilan (planotest)
positif :Pemeriksaan ini adalah untuk meendeteksi adanya
Human Chorionic Gonadotropi (hCG) yang diproduksi
oleh sinsiotropoblastik sel selama kehailan. Hormon ini
disekrei di peredaran darah ibu ( pada plasma darah),dan
diekskresi pada urine ibu. Hormon ini dapat mulai
15
dideteksi pada 26 Hari setelah konsepsi dan meningkat
dengan cepat pada hari ke 30-60. Tingkat tertinggi pada
hari 60-70 usia gestasi, kemudian menurun pada hari ke
100-130.
3) Tanda pasti ( positive sign)
Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung
keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksaan.
Tanda pasti kehamilan terdiri dari hal-hal berikut ini.
a) Gerakan janin dalam rahim: Gerakan janin ini harus dapat
diraba oleh pemeriksa. Gerakan janin dapat dirasakan pada
usia kehamian sekitar 20 minggu
b) Denyut Jantung Janin: Dapat didengar usia 12 minggu
dengan menggunakan alat vetal elektocardioraf (misalnya
Doppler). Dengan stetoskop linec, DJJ baru dapat didengar
usia 18-20 minggu.
c) Bagian-bagian janin: Bagian-bagian janin yaitu bagian besar
janin (kepala dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan
dan kaki ) dapat diraba dengan jelas pada kehamilan lebih
tua (trimester terakhir). Bagian janin ini dapat dilihat lebih
sempurna lagi dengan menggunakan USG.
d) Kerangka Janin: Kerangka janin dapat dilihat dengan foto
rontgen maupun USG. (Umi Hani, 2010 Hal 71-74)
c. Perubahan Fisiologis ibu Hamil
Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian
besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama
kehamilan. Kebanyakan perubahan ini merupakan respons terhadap
janin. Satu hal yang menakjubkan adalah bahwa hampir semua
perubahan ini akan kembali seperti keadaan sebelum hamil setelah
proses persalinan dan menyusui selesai.
1) Uterus: Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima
dan melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai
persalinan. Uterus mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk
bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali
seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah
[Link] perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70
16
gram dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan, uterus
akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin,
plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan volume
totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih
dengan berat rata-rata 1100 gram.
Tabel 1. TFU Tinggi Fundus Uteri Leopold 1

Umur Tinggi Fundus Uteri Centimeter


Kehamilan (TFU) (cm)
(Minggu)

<12 Belum Teraba


12 1/3 jari diatas simfisis
16 ½ simfisis-pusat
20 2/3 diatas simfisis atau 3 jari dibawah 20 cm
pusat
24 Setinggi pusat 23 cm
28 1/3 di atas pusat atau 3 jari diatas 26 cm
pusat
32 ½ pusat-prosesus xiphoideus (Px) 30 cm
36 Setinggi prosesus xiphoideus (Px) 33 cm
40 2 jari (4cm) dibawah prosesus
xiphoideus (Px)
Sumber : (Kemenkes RI,2016)5

2) Serviks: Satu bulan setelah konsepsi serviks akan menjadi lebih


lunak dan kebiruan. Perubahan ini terjadi akibat penambahan
vaskularisasi dan terjadinya edema pada seluruh serviks, bersamaa
dengan terjadinya hipertrofi dan hiperplasia pada kelenjar-kelenjar
serviks.
17
3) Ovarium: Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan
pematangan foliket baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum
yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi
maksimal selama 6 -7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan
berperan sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif
minimal.
4) Vagina dan Perineum: Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi
dan hiperemia terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum
dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat berwarna keunguan
yang dikenal dengan tanda Chadwick.
5) Kulit: Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna
menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan
mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan
nama striae gravidaru.
6) Payudara: Payudara membesar disebabkan oleh meningktanya
produksi hormon estrogen dan progestero. Payudara juga akan
terasa makin lembut, hal ini menimbulkan rasa sensitif yang lebih
tinggi, hingga payudara akan terasa sakit atau nyeri saat dipegang.
Puting susu membesar dan warnanya semakin gelap, kadang juga
terasa gatal. Pembuluh vena pada payudara akan terlihat akibat
penegangan payudara. Selain itu, terjadi aktifitas hormon HPL
(Human Placenta Lactogen). Hormon terebut diproduksi oleh
tubuh saat ibu mengalami kehamilan untuk persiapan ASI bagi
bayi.
7) Sistem Kardiovaskuler: Sejak pertengahan kehamilan pembesaran
uterus akan menekan vena kava inferior dan aorta bawah ketika
berada dalam posisi terlentang. Penekanan ini akan mengurangi
darah balik vena ke jantung. Akibatnya, terjadinya penurunan
preloud dan cardiac output sehingga menyebabkan terjadinya
hipotensi arterial yang dikenal dengan sindrom hipotensi supine
dan pada keadaan yang cukup berat sehingga mengakibatkan ibu
kehilangan kesadaran. Penekanan pada aorta ini juga dapat
mengurangi aliran drah uteroplasenta ke ginjal. Selama trimester
terakhir posisi terlentang dapat membuat fungsi ginjal menurun jika
18
dibandingkan posisi miring. Karena alasan inilah tidak dianjurkan
ibu hamil dalam posisi terlentang pada akhir kehamilan.
8) Sistem Respirasi: Frekuensi pernapasan hanya mengalami sedikit
perubahan selama kehamilan, tetapi volume tidak, volume ventilasi
per menit dan pengambilan oksigen per menit akan bertambah
secara signifikan pada kehamilan lanjut. Perubahan ini mencapai
puncaknya pada minggu ke 37 dan akan kembali hampir seperti
sedia kala dalam 24 minggu setelah persalinan.
9) Traktus Digestivus: Seiring dengan makin besarnya uterus,
lambung dan usus akan tergeser. Demikian juga dengan yang
lainnya seperti apendiks yang akan bergeser ke arah atas dan
lateral. Perubahan yang nyata akan terjadi pada penurunan motilitas
otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam
hidroklorid dan petindi lambung sehingga akan menimbulkan
gejala berupa pyrosis (heartburn) yang disebabkan oleh refluks
asam lambung ke esofagus bewah sebagai akibat perubahan posisi
lambung dan menurunnya tonus sfingter esofagus bagia bawah.
Mual terjadi akibat penurunan asam hidroklorid dan penuruna
motilitas, serta konstipasi sebagai akibat penurunan motilitas usus
besar.
10) Traktus Urinarius: Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung
kemihakan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga
menimbulkan sering berkemih. Keadaan ini akan menghilang
dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga
panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun
ke pintu atas panggul, keluhan itu akan timbul kembali.
11) Sistem Hematologi: Volume plasma meningkat 30-50%, sebanyak
1200-1300 ml selama kehamilan. Peningkatan ini lebih tinggi pada
multigravida dibandingkan dengan primigravida. Pada wanita
dengan anak kembar, peningkatan volume plasma merata lebih
besar
dan bisa setinggi 70%. Kadar air tubuh total meningkat sekitar 6,5
sampai 8 liter. Volume darah mulai meningkat sejak usia gestasi 7
minggu sebesar 10–15% dan mencapai puncaknya pada 30-34
minggu. Peningkatan 1–2 liter volume darah penting untuk
19
mengimbangi peningkatan aliran darah dalam organ seperti rahim
dan ginjal. Peningkatan volume plasma 30-50%, menyebabkan
anemia. Semakin diperberat dengan adanya transfer simpanan zat
besi dari ibu ke janin. Oleh karena itu, hemoglobin turun saat
kehamilan berlanjut, dan anemia paling terlihat pada usia
kehamilan 30-34 minggu. Hematokrit turun sampai akhir trimester
kedua tetapi mungkin stabil di kemudian hari dalam kehamilan atau
bahkan meningkat dalam waktu dekat saat peningkatan sel darah
merah menjadi sebanding dengan peningkatan volume plasma.
Namun, hematokrit (32-34%) pada wanita hamil selalu lebih
rendah dibandingkan dengan wanita tidak hamil, dan penurunan
viskositas darah ini mungkin penting untuk meningkatkan aliran
darah di organ. Zat besi ibu kebutuhan meningkat dari 5 menjadi 6
mg per hari. Kebutuhan besi secara keseluruhan diperkirakan 1000
mg ( 300 mg untuk fetus dan plasenta, 500 mg untuk produksi Hb,
dan 200 mg hilang melalui saluran cerna). Anemia akibat
suplementasi zat besi yang tidak adekuat dapat menyebabkan
komplikasi kebidanan seperti kelahiran prematur dan keguguran.6
12) Sistem Endokrin: Selama kehamilan normal kelenjar hipofisis
membesar. Pada perempuan yang mengalami hipofisektomi dapat
berjalan dengan lancar. Hormon prolaktin akan meningkat 10 x
lipat pada saat kehamilan aterm. Sebaliknya, setelah persalinan
konsentrasinya pada plasenta akan menurun. Hal ini juga
ditemukan pada ibu-ibu yang menyusui.
13) Sistem Muskuloskeletal: Lordosis yang progresif akan menjadi
bentuk yang umum pada kehamilan. Akibat kompensasi dari
pembesaran uterus ke posisi anterior, lordosis menggeser pusat
daya barat ke belakang ke arah dua tungkai. Sendi sakroilliaka,
sakrokoksigis dan pubis akan meningkat mobilitasnya, yang
diperkirakan karena pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat
mengakibatkan perubahan sikap ibu dan pada akhirnya
menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah punggung
terutama pada ahir kehamilan ( Prawirohardjo, 2016 hal 174-186 ).
d. Ketidaknyamanan Kehamilan
20
1) Sering buang air kecil Trimester I dan III Cara
mengatasi:
a) Jelaskan kepada pasien tentang sebab terjadinya keadaan ini.
b) Kosongkan kandung kemih saat ada dorongan untuk
berkemih.
c) Perbanyak minum pada siang hari.
d) Jangan kurangi minum di malam hari untuk mencegah
nokturia, kecuali jika nokturia sangat mengganggu tidur
dimalam hari.
e) Batasi minum kopi, teh, dan soda.
f) Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan
menjaga posisi tidur.
2) Sakit punggung atas dan bawah Cara
mengatasi:
a) Gunakan posisi tubuh yang baik.
b) Gunakan bra yang menopang dengan ukuran yang tepat.
c) Gunakan kasur yang keras.
d) Gunakan bantal ketika tidur untuk meluruskan punggung
3) [Link] di trimester I, II, dan III Cara
mengatasi:
a) Tingkatkan kebersihan dengan mandi tiap hari.
b) Memakai pakaian dalam dari bahan katun dan mudah
menyerap.
c) Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan buah dan sayur.
4) Varises pada [Link] II dan II
Cara mengatasi:
a) Tinggikan kaki sewaktu berbaring.
b) Jaga agar kaki tidak bersilangan.
c) Hindari berdiri atau duduk terlalu Lama
d) Dilakukan senam
e) Istirahat dalam posisi miring ke kiri
5) Pusing/[Link] II dan III Cara
mengatasi:
a) Bangun secara perlahan dari posisi istirahat.
21
b) Hindari berdiri lama dalam lingkungan yang hangat dan
sesak.
c) Hindari berbaring terlalu dalam posisi terlentang
6) Perut [Link] II dan III Cara
mengatasi:
a) Hindari makanan yang mengandung gas.
b) Mengunyah makanan secara sempurna.
c) Lakukan senam secara teratur.
d) Pertahankan saat buang air besar yang teratur.
7) Nyeri ligamentum rotundum. Trimester
II dan III Cara mengatasi:
a) Berikan penjelasan mengenai penyebab nyeri.
b) Tekuk lutut ke arah abdomen.
c) Mandi air hangat.
d) Gunakan bantalan pemanas pada area yang terasa sakit hanya
jika terdapat kontraindikasi.
e) Gunakan sebuah bantal untuk menopang uterus di antara lutut
pada waktu berbaring miring.
8) Napas sesak. Trimester II dan III Cara
mengatasi:
a) Jelaskan penyebab fisiologinya.
b) Merentangkan tangan diatas kepala serta menarik napas
panjang.
c) Dorong agar sengaja mengatur laju dan dalamnya pernapasan
pada kecepatan normal ketika terjadi hiperventilasi.
9) Sembelit. Trimester II dan III Cara
mengatasi:
a) Tingkatkan diet asupan cairan
b) Minuman cairan dingin atau hangat, terutama saat perut
kosong.
c) Istirahat cukup.
d) Senam hamil.
e) Membiasakan buang air besar secara teratur.
f) Buang air besar segera setelah ada dorongan
22
10) Keringat bertambah. Secara perlahan
terus meningkat sampai akhir kehamilan
Cara mengatasi:
a) Pakailah pakaian yang tipis dan longgar.
b) Tingkatkan asupan cairan.
c) Mandi secara teratur

e. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil


1) Gizi Seimbang Untuk Ibu Hamil
a) Biasakan mengkonsumsi aneka ragam pangan yang lebih
banyak, Ibu hamil perlu mengkonsumsi aneka ragam pangan
yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energy,
protein dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) karena
digunakan untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam kandungan, serta cadangan
selama masa menyusui. Zat gizi mikro penting yang
diperlukan selama hamil adalah zat besi, asam folat, kalsium,
iodium dan zink. (Kementrian
Kesehatan RI : 2015 Hal : 48)
b) Membatasi mengkonsumsi makanan yang mengandung
garam. Pembatasan konsumsi garam dapat mencegah
hipertensi selama kehamilan. Selama ibu hamil diusahakan
agar tidak menderita hipertensi. Hal ini disebabkan karena
hipertensi selama kehamilan akan menigkatkan resiko
kematian janin, terlepasnya plasenta, serta gangguan
pertumbuhan. (Kementrian Kesehatan RI : 2015 Hal : 48)
c) Minumlah air putih yang banyak: Air merupakan cairan yang
paling baik untuk hidrasi tubuh secara optimal. Air berfungsi
membantu percernaan, membuang racun, sebagai penyusun
sel dan darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh dan
mengatur suhu tubuh. Kebutuhan air selama kehamilan
meningkat agar dapat mendukung sirkulasi janin, produksi
cairan amnion dan meningkatnya volume darah. Ibu hamil
memerlukan asupan air minum sekitar 2-3 liter perhari (8-12
gelas sehari). (Kementrian Kesehatan RI :2015 Hal : 48)
23
d) Membatasi minum kopi: Kafein apabila dikonsumsi oleh ibu
hamil akan mempunyai efek diuretic pada kehamilan dan
stimulasi. Oleh karenanya bila ibu hamil minum kopi sebagai
sumber utama kafein yang tidak terkontrol, akan mengalami
peningkatan buang air kecil (BAK) yang akan berakibat
dehidrasi, tekanan darah meningkat dan detak jantung juga
akan meningkat. Pangan sumber kafein lainnya adalah coklat,
teh, dan minuman suplemen energy. Satu botol minuman
suplemen energy mengandung kafein setara dengan 1-2
cangkir kopi. Disamping mengandung kafein, kopi juga
mengandung inhibitor (zat yang mengganggu penyerapan zat
besi). Konsumsi kafein pada ibu hamil juga akan berpengaruh
pada pertumbuhan dan perkembangan janin, karena
metabolisme janin belum sempurna. Menurut british Medical
Journal (2008) mengkonsumsi kafein bagi ibu hamil tidak
melebihi 100 mg/hari atau 1-2 cangkir/hari. Oleh karenanya
dianjurkan kepada ibu hamil, selama kehamilan ibu harus
bijak dalam mengkonsumi kopi sebagai sumber utama
kafein, batasi dalam batas aman yaitu paling banyak 2
cangkir kopi/hari atau hindari sama sekali.
e) Pemenuhan Nutrisi yang Baik
(1) Kalori
Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil untuk
setiap harinya adalah 2500 kalori. Pengetahuan tentang
berbagai jenis makanan yang dapat memberikan
kecukupan kalori tersebut sebaiknya dapat dijelaskan
secara rinci dan bahasa yang dimengerti oleh para ibu
hamil dan keluarganya. Jumlah kalori yang berlebih dapat
menyebabkan obesitas dan hal ini merupakan faktor
predisposisi untuk terjadinya preeclampsia. Jumlah
pertambahan berat badan menurut rekomendasi pedoman
IOM (kenaikan 12,5-18 kg untuk wanita kurus [BMI
<18,5]; 11,5-16 kg untuk normal- berat wanita [BMI
18,5-24,9]; 7-11 kg untuk wanita kelebihan berat badan
24
[BMI 25-29,9], dan 5-9 kg untuk wanita obesitas [BMI
≥30].7
(2) Protein
Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85
gram per hari. Sumber protein tersebut dapat diperoleh
dari tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau hewan
(ikan, ayam, keju, susu dan telur). Defisiensi protein
dapat menyebabkan kelahiran premature, anemia dan
edema. Protein bagi ibu hamil digunakan untuk
membangun laju pertumbuhan badan calon bayi, dimulai
dari pembentukan sel sampai menjadi tubuh utuh berat
3,5 kg. Jika protein tidak mencukupi maka pembentukan
ari-ari, dan akan mempengaruhi perkembangan organ-
organ tubuh lainnya.
8

(3) Kalsium
Kebutuhan kalsium meningkat pada saat hamil karena
digunakan untuk mengganti cadangan kalsium ibu guna
pembentukan jaringan baru pada [Link] konsumsi
kalsium tidak mencukupi maka akan berakibat
meningkatkan risiko ibu mengalami komplikasi yang
disebut keracunan kehamilan (pre eklamsia). Selain itu
9
ibu akan mengalami pengeroposan tulang dan gigi.
Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari.
Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutaama
bagi pengembangan otot dan rangka. Sumber kalsium
yang mudah diperoleh adalah susu, keju, yogurt dan
kalsium karbonat. Defisiensi kalsium dapat menyebabkan
riketsia pada bayi atau osteomalasia pada ibu.8
(4) Zat besi
Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan
kecukupan oksigenasi jaringan yang diperoleh dari
pengikatan dan pengantaran oksigen melalui hemoglobin
didalam sel-sel darah merah. Untuk menjaga konsentrasi
25
haemoglobin yang normal, diperlukan asupan zat besi
bagi ibu hamil dengan jumlah 30mg/hari terutama setelah
trimester [Link] tidak ditemukan anemia pemberian
besi perminggu cukup adekuat. Zat besi yang diberikan
dapat berupa ferrous gluconate, ferrous fumarate atau
ferrous sulphate. Kekurangan zat besi pada ibu hamil
dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi
(Prawirohardjo 2016 : 286). Tablet Besi atau tablet
tambah darah (TTD) diberikan pada ibu hamil sebanyak 1
tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama 90
hari selama masa kehamilan. Tablet tambah darah
mengandung 200 mg ferro sulfat setara dengan 60 mg
besi elemental dan 0,25 mg asam folat. Tablet tersebut
wajib dikonsumsi oleh ibu hamil sebanyak 10 tablet
setiap bulannya untuk mengurangi gejala-gejala sakit saat
masa-masa kehamilan. 10 Kekurangan hemoglobin disebut
Anemia atau penyakit kurang darah dapat membahayakan
kesehatan ibu dan bayi seperti Berat Bayi Lahir Rendah
kurang dari 2500 gr
(BBLR), perdarahan dan peningkatan resiko kematian.11
(5) Asam folat
Selain zat besi, sel-sel darah merah juga memerlukan
asam folat bagi pematangan sel. Jumlah asam folat yang
dibutuhkan oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram per
hari. Kekurangan asam folatdapat menyebabkan anemia
megaloblastik pada ibu hamil (Prawirohardjo 2016 : 286).
Sumber asam Folat antara lain ragi, hati, brokoli, susu,
sayur berdaun hijau (bayam, asfaragus), kacang-
kacangan, ikan, daging, jeruk, avocado, gandum, stoberi,
pisang, dan putih telur. (Muchtar, 2014. Hal :43). Asam
folat diberikan minimal 3 bulan sebelum kehamilan
hingga 12 minggu kehamilan dilanjutkan selama 4-6
minggu pascapartum atau selama menyusui berlanjut
(Level A).12
(6) Iodium
26
Iodium merupakan bagian hormone tiroksin (T4) dan
triodotironin (T3) yang befungsi untuk mengatur
perrtumbuhan dan perkembangan bayi. Iodium berperan
dalam sintetis protein, absorsi karbohidrat dan saluran
cerna serta sintetis kolesterol darah. Zat Iodium
memegang peranan yang sangat besar bagi ibu dan janin.
Kekurangan iodium akan berakibat terhambatnya
perkembangan otak dan system saraf terutama
menurunkan IQ dan meningkatkan resiko kematian bayi.
Disamping itu kekurangan iodium dapat menyebabkan
pertumbuhan fisik anak yang dilahirkan terganggu
(kretin). Dampak pada perkembangan otak dan system
saraf ini biasanya menetap. Sumber iodium yang baik
adalah makanan laut seperti ikan, udang, kerang, rumput
laut. Setiap memasak diharuskan menggunakan garam
beriodium.9
(7) Vitamin
Buah berwarna merupakan sumber vitamin yang baik
bagi tubuh dan buah yang berserat karena dapat
melancarkan buang air besar sehingga mengurangi resiko
sembelit (susah buang air besar).
1) Edukasi kesehatan bagi ibu hamil
Tidak semua ibu hamil dan keluarganya mendapat pendidikan dan
konseling kesehatan yang memadai tentang kesehatan reproduksi,
terutama tentang kehamilan dan upaya untuk menjaga agar
kehamilan tetap sehat dan berkualitas. Kunjungan antenatal
member kesempatan bagi petugas kesehatan untuk memberikan
informasi kesehatan esensial bagi ibu hamil dan keluarganya
termasuk rencana persalinan dan cara merawat bayi. Beberapa
informasi penting tersebut adalah sebagai berikut (Prawirohardjo
2016 : 285).
2) Perawatan Payudara
Basuhan lembut setiap hari pada aerola dan putting susu akan
mengurangi retak dan lecet pada area tersebut. Untuk sekresi yang
mongering pada putting susu, lakukan pembersihan dengan
27
menggunakan campuran gliserin dan alcohol. Karena payudara
menegang, sensitive dan menjadi lebih berat, maka sebaiknya
menggunakan penopang payudara yang sesuai.8

3) Perawatan Gigi
Paling tidak dibutuhkan 2 kali pemeriksaan gigi selama
kehamilan, yaitu pada trimester pertama dan ketiga. Penjadwalan
untuk trimester pertama terkait dengan hiperemesis dan ptialisme
(produksi liur yang berlebihan) sehingga kebersihan rongga mulut
harus selalu terjaga. Sementara itu pada trimester ketiga, terkait
dengan adanya kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan janin
sehingga perlu diketahui apakah terdapat pengaruh yang
merugikan pada gigi ibu hamil. Dianjurkan untuk selalu menyikat
gigi setelah makan karena ibu hamil sangat rentan terhadap
terjadinya carries dan gingivitis.8
4) Kebersihan Tubuh dan Pakaian
Kebersihan harus terjaga selama kehamilan. Perubahan anatomic
pada perut, area genitalia/lipat paha dan payudara menyebabkan
lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan mudah terinventasi
oleh mikroorganisme. Sebaiknya gunakan pancuran atau gayung
pada mandi, tidak dianjurkan berendam dalam bathub dan
melakukan vaginal douche. Gunakan pakaian yang longgar,
bersih dan nyaman dan hindarkan sepatu bertongkat tinggi (high
heels) dan alas kaki yang keras (tidak elastic) serta korset penahan
perut. Lakukan gerakan tubuh ringan, misalnya berjalan kaki,
terutama pada pagi hari, jangan melakukan pekerjaan rumah
tangga yang berat dan hindarkan kerja fisik yang dapat
menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Beristirahat cukup,
minimal 8 jam pada malam hari dan 2 jam di siang hari. Ibu tidak
dianjurkan untuk melakukan kebiasaan merokok selama hamil
karena dapat menimbulkan vasospasme yang berakibat anoksi
janin, berat janin lahir rendah
(BBLR), prematuritas, kelainan congenital dan solusio plasenta.8
28
5) Kebutuhan Istirahat
Adanya aktifitas yang dilakukan setiap hari otomatis ibu hamil
akan sering merasa lelah dari pada waktu sebelum [Link] salah
satunya disebabkan oleh faktor beban berat janin yang semakin
terasa oleh sang ibu. Oleh karena itu pengaturan aktifutas yang
tidak terlalu berlebihan sangatlah perlu diterapkan oleh setiap ibu
hamil. Setiap wanita hamil menemukan cara yang berbeda
mengatasi keletihannya. Salah satunya adalah dengan cara
beristirahat atau tidur sebentar di siang hari. Dapat seperti biasa
(tingkat aktifitas ringan hingga sedang), istirahat minimal 15
menit tiap 2 jam. Jika duduk atau berbaring dianjurkan kaki agak
ditinggikan.13
6) Kebutuhan seks
Jika kehamilan calon ibu normal serta tidak mempunyai
kecenderungan melahirkan premature dan aborsi ulang maka
senggama dapat dilanjutkan dengan frekuensi yang normal untuk
pasangan tersebut. Beberapa wanita lebih menginginkan
senggama yang sering selama hamil, sementara yang lain justru
ingin mengurangi. Alasannya berkurang minat seksual yang
dialami banyak wanita hamil khususnya dalam minggu-minggu
terakhir kehamilan, tidak jelas. Beberapa wanita merasa takut
senggama akan merusak bayi atau menyebabkan kelahilan
premature. Yang lain merasa takut bahwa orgasme dengan cara
apapun akan menyebabkan hal yang sama. Jika ada riwayat
Abortus sebelumnya, koitus ditunda sampai usia kehamilan
diatas 16 Minggu, dimana diharapkan plasenta sudah terbentuk,
dengan implantasi dan fungsi yang baik. Beberapa pustaka
menganjurkan agar koitus mulai dihentikan pada 3-4 minggu
terakhir menjelang perkiraan tanggal persalinan. Pada beberapa
keadaan seperti kontraksi /tanda-tanda persalinan awal, keluar
cairan pervaginam, abortus iminens, atau abortus habitualis,
kehamilan kembar, dan penyakit menular seksual.13

2. Teori Persalinan
a. Pengertian
29
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37–42 minggu), lahir
spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
(Prawirohardjo, 2002).
b. Macam Persalinan
1) Persalinan Spontan Yaitu persalinan yang berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri, melalui jalan lahir ibu tersebut.
2) Persalinan Buatan Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari
luar misalnya ekstraksi forceps, atau dilakukan operasi Sectio
Caesaria.
3) Persalinan Anjuran Persalinan yang tidak dimulai dengan
sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban,
pemberian pitocin atau prostaglandin.
c. Faktor Penyebab Persalinan
1) Penurunan Kadar Progesteron
Progesterone menimbulkan relaxasi otot-otot rahim, sebaliknya
estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan
terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen
dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron
menurun sehingga timbul his. Proses penuaan plasenta terjadi
mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana terjadi penimbunan
jaringan ikat, dan pembuluh darah mengalami penyempitan dan
buntu. Produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga
otot rahim lebih sensitive terhadap oxitosin. Akibatnya otot
rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan
progesterone tertentu.
2) Teori Oxitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi
kontraksi Braxton Hicks. Di akhir kehamilan kadar progesteron
menurun sehingga oxitocin bertambah dan meningkatkan
aktivitas otot-otot rahim yang memicu terjadinya kontraksi
sehingga terdapat tanda-tanda persalinan.
30
3) Keregangan Otot-otot.
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tertentu terjadi kontraksi
sehingga persalinan dapat dimulai. Seperti halnya dengan
Bladder dan Lambung, bila dindingnya teregang oleh isi yang
bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Demikian pula dengan rahim, maka dengan  Asuhan
Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir  5 majunya
kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin
rentan. Contoh, pada kehamilan ganda sering terjadi kontraksi
setelah keregangan tertentu sehingga menimbulkan proses
persalinan.
4) Pengaruh Janin Hipofise dan kelenjar suprarenal janin
ruparupanya juga memegang peranan karena pada anencephalus
kehamilan sering lebih lama dari biasa, karena tidak terbentuk
hipotalamus. Pemberian kortikosteroid dapat menyebabkan
maturasi janin, dan induksi (mulainya ) persalinan.
5) Teori Prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15
minggu yang dikeluarkan oleh desidua. Prostaglandin yang
dihasilkan oleh desidua diduga menjadi salah satu sebab
permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra
dan extra amnial menimbulkan kontraksi miometrium pada
setiap umur kehamilan. Pemberian prostaglandin saat hamil
dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi
dapat keluar. Prostaglandin dapat dianggap sebagai pemicu
terjadinya persalinan. Hal ini juga didukung dengan adanya
kadar prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun
daerah perifer pada ibu hamil, sebelum melahirkan atau selama
persalinan.
d. Penyebab Terjadinya Persalinan
1) Passage (Jalan Lahir) Merupakan jalan lahir yang harus dilewati
oleh janin terdiri dari rongga panggul, dasar panggul, serviks
dan vagina. Syarat agar janin dan plasenta dapat melalui jalan
31
lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus
normal.
2) Power: Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan
yang terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran
dari ibu. Power merupakan tenaga primer atau kekuatan utama
yang dihasilkan oleh adanya kontraksi dan retraksi otot-otot
rahim.
Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari:
a) His (kontraksi otot uterus) Adalah kontraksi uterus karena
otot- otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna.
Pada waktu kontraksi otot – otot rahim menguncup
sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri
menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan kantung
amneon ke arah segmen bawah rahim dan serviks.
b) Kontraksi otot-otot dinding perut
c) Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
d) Ketegangan dan ligmentous action terutama ligamentum
rotundum.
3) Passanger: Passanger terdiri dari janin dan plasentaa. Janin
merupakan passangge utama dan bagian janin yang paling
penting adalah kepala karena bagian yang paling besar dan keras
dari janin adalah kepala janin. Posisi dan besar kepala dapat
mempengaruhi jalan persalinan. Kelainan – kelainan yang sering
menghambat dari pihak passangger adalah kelainan ukuran dan
bentuk kepala anak seperti hydrocephalus ataupun
anencephalus, kelainan letak seperti letak muka atau pun letak
dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang atau
letak sungsang.
4) Psikis (Psikologis) Perasaan positif berupa kelegaan hati,
seolaholah pada saat itulah benarbenar terjadi realitas
“kewanitaan sejati” yaitu munculnya rasa bangga bias
melahirkan atau memproduksi anaknya. Mereka seolah-olah
mendapatkan kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap
sebagai suatu
“keadaan yang belum pasti“ sekarang menjadi hal yang nyata.
32
5) Penolong Peran dari penolong persalinan dalam hal ini Bidan
adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin
terjadi pada ibu dan janin. Proses tergantung dari kemampuan
skill dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses
persalinan.
e. Tanda dan Gejala Persalinan
1) Tanda Persalinan Sudah dekat
a) Lightening: Beberapa minggu sebelum persalinan, calon ibu
merasa bahwa keadaannya menjadi lebih enteng. Ia merasa
kurang sesak, tetapi sebaliknya ia merasa bahwa berjalan
sedikit lebih sukar, dan sering diganggu oleh perasaan nyeri
pada anggota bawah.
b) Pollikasuria Pada akhir bulan ke-IX hasil pemeriksaan
didapatkan epigastrium kendor, fundus uteri lebih rendah
dari pada kedudukannya dan kepala janin sudah mulai
masuk ke dalam pintu atas panggul. Keadaan ini
menyebabkan kandung kencing tertekan sehingga
merangsang ibu untuk sering kencing yang disebut
Pollakisuria.
c) False labor Tiga atau empat minggu sebelum persalinan,
calon ibu diganggu oleh his pendahuluan yang sebetulnya
hanya merupakan peningkatan dari kontraksi Braxton Hicks.
His pendahuluan ini bersifat:
(1) Nyeri yang hanya terasa di perut bagian bawah
(2) Tidak teratur
(3) Lamanya his pendek, tidak bertambah kuat dengan
majunya waktu dan bila dibawa jalan malah sering
berkurang
(4) Tidak ada pengaruh pada pendataran atau pembukaan
cervix
d) Perubahan cervix Pada akhir bulan ke-IX hasil pemeriksaan
cervix menunjukkan bahwa cervix yang tadinya tertutup,
panjang dan kurang lunak, kemudian menjadi lebih lembut,
dan beberapa menunjukkan telah terjadi pembukaan dan
penipisan. Perubahan ini berbeda untuk masingmasing ibu,
33
misalnya pada multipara sudah terjadi pembukaan 2 cm
namun pada primipara sebagian besar masih dalam keadaan
tertutup.
e) Energy Sport Beberapa ibu akan mengalami peningkatan
energi kira-kira 24-28 jam sebelum persalinan mulai.
Setelah beberapa hari sebelumnya merasa kelelahan fisik
karena tuanya kehamilan maka ibu mendapati satu hari
sebelum persalinan dengan energi yang penuh. Peningkatan
energi ibu ini tampak dari aktifitas yang dilakukannya
seperti membersihkan rumah, mengepel, mencuci perabot
rumah, dan pekerjaan rumah lainnya sehingga ibu akan
kehabisan tenaga menjelang kelahiran bayi, sehingga
persalinan menjadi panjang dan sulit
f) Gastrointestinal Upsets Beberapa ibu mungkin akan
mengalami tanda-tanda seperti diare, obstipasi, mual dan
muntah karena efek penurunan hormon terhadap sistem
pencernaan.
2) Tanda- tanda pasti dari persalinan adalah :
a) Timbulnya kontraksi uterus Biasa juga disebut dengan his
persalinan yaitu his pembukaan yang mempunyai sifat
sebagai berikut :
(1) Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut
bagian depan.
(2) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan
(3) Sifatnya teratur, inerval makin lama makin pendek
dan kekuatannya makin besar
(4) Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau
pembukaan cervix.
(5) Makin beraktifitas ibu akan menambah kekuatan
kontraksi. Kontraksi uterus yang mengakibatkan
perubahan pada servix (frekuensi minimal 2 kali
dalam 10 menit). Kontraksi yang terjadi dapat
menyebabkan pendataran, penipisan dan pembukaan
serviks.
34
b) Penipisan dan pembukaan servix Penipisan dan pembukaan
servix ditandai dengan adanya pengeluaran lendir dan darah
sebagai tanda pemula.
c) Bloody Show (lendir disertai darah dari jalan lahir) Dengan
pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis cervicalis keluar
disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini
disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah
segmen bawah rahim hingga beberapa capillair darah terputus.
d) Premature Rupture of Membrane Adalah keluarnya cairan
banyak dengan sekonyong-konyong dari jalan lahir. Hal ini
terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban
biasanya pecah kalau pembukaan lengkap atau hampir lengkap
dan dalam hal ini keluarnya cairan merupakan tanda yang
lambat sekali. Tetapi kadang-kadang ketuban pecah pada
pembukaan kecil, malahan kadang-kadang selaput janin robek
sebelum persalinan. Walaupun demikian persalinan diharapkan
akan mulai dalam 24 jam setelah air ketuban keluar.
f. Mekanisme Persalinan
1) Masuknya kepala janin dalam PAP
2) Fleksi : Fleksi kepala janin memasuki ruang panggul dengan
ukuran yang paling kecil yaitu dengan diameter suboccipito
bregmatikus (9,5 cm) menggantikan suboccipito frontalis (11 cm)
3) Putaran paksi dalam: Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari
bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari
bagian depan memutar ke depan ke bawah symphysis
4) Ekstensi: Setelah putaran paksi dalam selesai dan kepala sampai
di dasar panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal
ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah
panggul mengarah ke depan di atas, sehingga kepala harus
mengadakan ekstensi untuk dapat melewati pintu bawah panggul.
5) Putar Paksi Luar: gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam
terjadi, untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung
janin.
g. Proses Persalinan
Terbagi Menjadi 4 Fase yaitu:
35
1) Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan
pembukaan servix hingga mencapai pembukaan lengkap (10
cm). Persalinan kala I berlangsung 18 – 24 jam dan terbagi
menjadi dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.
Fase laten persalinan Dimulai sejak awal kontraksi yang
menyebabkan penipisan dan pembukaan servix secara bertahap
Fase aktif persalinan Fase ini terbagi menjadi 3 fase yaitu
akselerasi, dilatasi maximal, dan deselerasi
2) KALA II: dimulai dengan pembukaan lengkap dari serviks dan
berakhir dengan lahirnya bayi. Proses ini berlangsung 2 jam
pada primi dan 1 jam pada multi
3) KALA III: dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta dan selaput ketuban, berlangsung tidak lebih
dari 30 menit, Disebut dengan kala uri atau kala pengeluaran
plasenta, peregangan Tali pusat Terkendali (PTT) dilanjutkan
pemberian oksitosin untuk kontraksi uterus dan mengurangi
perdarahan
4) KALA IV: dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua
jam setelah Persalian merupakan masa paling kritis karena
proses perdarahan yang berlangsung, Masa 1 jam setelah
plasenta lahir Pemantauan 15 menit pada jam pertama setelah
kelahiran plasenta, 30 menit pada jam kedua setelah persalinan,
jika kondisi ibu tidak stabil, perlu dipantau lebih sering.
Observasi intensif karena perdarahan yang terjadi pada masa
ini, Observasi yang dilakukan :
a) Tingkat kesadaran penderita.
b) Pemeriksaan tanda vital.
c) Kontraksi uterus.
d) Perdarahan, dianggap masih normal bila jumlahnya tidak
melebihi 400- 500cc.

3. Teori Bayi Baru Lahir


a. Pengertian
Bayi baru lahir (Neonatus) menurut Marmi (2012) bahwa adalah bayi
yang baru mengalami proses kelahiran, berusia 0-28 hari. BBL
36
memerlukan penyesuaian fisiologis berupa maturasi, adaptasi
(menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan
ekstrauterine) dan toleransi bagi BBL untuk dapat hidup dengan baik.
14

b. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir


Bayi baru lahir normal mempunyai ciri-ciri berat badan lahir
25004000 gram, umur kehamilan 37-40 minggu, bayi segera
menangis, bergerak aktif, kulit kemerahan, menghisap ASI dengan
baik, dan tidak ada cacat bawaan.15 Bayi baru lahir normal memiliki
panjang badan 4852 cm, lingkar dada 30-38 cm, lingkar lengan 11-12
cm, frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit, pernapasan 40-60
x/menit, lanugo tidak terlihat dan rambut kepala tumbuh sempurna,
kuku agak panjang dan lemas, nilai APGAR >7, refleks-refleks sudah
terbentuk dengan baik (rooting, sucking, morro, grasping), organ
genitalia pada bayi lakilaki testis sudah berada pada skrotum dan
penis berlubang, pada bayi perempuan vagina dan uretra berlubang
serta 7 adanya labia minora dan mayora, mekonium sudah keluar
dalam 24 jam pertama berwarna hitam kecoklatan.16
c. Klasifikasi Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir atau neonatus di bagi dalam beberapa kasifikasi
yaitu :17 1) Neonatus menurut masa gestasinya:
a) Kurang bulan (preterm infant) : < 259 hari (37 minggu)
b) Cukup bulan (term infant) : 259-294 hari (37-42 minggu)
c) Lebih bulan (postterm infant) : > 294 hari (42 minggu atau
lebih)
2) Neonatus menurut berat badan lahir:
a) Berat lahir rendah : < 2500 gram
b) Berat lahir cukup : 2500-4000 gram
c) Berat lahir lebih : > 4000 gram
3) Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi
dan ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan):
a) Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
b) Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan
(SMK/KMK/BMK)
d. Asuhan Bayi Baru Lahir
37
Semua bayi diperiksa segera setelah lahir untuk mengetahui apakah
transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine berjalan dengan
lancar dan tidak ada kelainan. Pemeriksaan medis komprehensif
dilakukan dalam 24 jam pertama kehidupan. Pemeriksaan rutin pada
bayi baru lahir harus dilakukan dengan tujuan mendeteksi kelainan
atau anomali kongenital yang muncul pada setiap kelahiran. Kelainan
anomaly kongeital dapat terjadi pada 10-20 per 1000 kelahiran.
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah untuk
membersihkan jalan napas, memotong dan merawat tali pusat,
mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, dan pencegahan
infeksi. Asuhan bayi baru lahir meliputi:
1) Pencegahan Infeksi (PI)
2) Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi Untuk
menilai apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak dilakukan
penilaian sepintas setelah seluruh tubuh bayi lahir dengan tiga
pertanyaan :
3) Pemotongan dan perawatan tali pusat
4) Setelah penilaian sepintas dan tidak ada tanda asfiksia pada bayi,
dilakukan manajemen bayi baru lahir normal dengan
mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks,
kemudian bayi diletakkan di atas dada atau perut ibu. Setelah
pemberian oksitosin pada ibu, lakukan pemotongan tali pusat
dengan satu tangan melindungi perut bayi. Perawatan tali pusat
adalah dengan tidak membungkus tali pusat atau mengoleskan
cairan/bahan apa pun pada tali pusat. Perawatan rutin untuk tali
pusat adalah selalu cuci tangan sebelum memegangnya, menjaga
tali pusat tetap kering dan terpapar udara, membersihkan dengan
air, menghindari dengan alkohol karena menghambat pelepasan
tali pusat, dan melipat popok di bawah umbilicus.
5) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi
tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk
melaksanakan proses IMD selama 1 jam. Biarkan bayi mencari,
menemukan puting, dan mulai menyusu. Sebagian besar bayi akan
38
berhasil melakukan IMD dalam waktu 60-90 menit, menyusu
pertama biasanya berlangsung pada menit ke- 45-60 dan
berlangsung selama 10-20 menit dan bayi cukup menyusu dari
satu payudara.
6) Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam,
kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi
7) Pemberian salep mata/tetes mata: Pemberian salep atau tetes mata
diberikan untuk pencegahan infeksi mata. Beri bayi salep atau
tetes mata antibiotika profilaksis (tetrasiklin 1%, oxytetrasiklin
1% atau 11 antibiotika lain). Pemberian salep atau tetes mata
harus tepat 1 jam setelah kelahiran. Upaya pencegahan infeksi
mata tidak efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran
8) Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis
tunggal di paha kiri. Semua bayi baru lahir harus diberi
penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di
paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi
vitamin yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.
Pemberian vitamin K sebagai profilaksis melawan hemorragic
disease of the newborn dapat diberikan dalam suntikan yang
memberikan pencegahan lebih terpercaya, atau secara oral yang
membutuhkan beberapa dosis untuk mengatasi absorbsi yang
bervariasi dan proteksi yang kurang pasti pada bayi. Vitamin K
dapat diberikan dalam waktu 6 jam setelah lahir
9) Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha
kanan Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan
setelah penyuntikan vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah
penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat
menimbulkan kerusakan hati
10) Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kelainan pada bayi. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan
dianjurkan tetap berada di fasilitas tersebut selama 24 jam karena
risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama
kehidupan. saat kunjungan tindak lanjut (KN) yaitu 1 kali pada
umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-7 hari dan 1 kali pada umur
828 hari
39
11) Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan
dan minuman tambahan lain pada bayi berusia 0-6 bulan dan jika
memungkinkan dilanjutkan dengan pemberian ASI dan makanan
pendamping sampai usia 2 tahun. Pemberian ASI ekslusif
mempunyai dasar hukum yang diatur dalam SK Menkes Nomor
450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian ASI Eksklusif pada
bayi 0-6 bulan. Setiap bayi mempunyai hak untuk dipenuhi
kebutuhan dasarnya seperti Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI
Ekslusif, dan imunisasi serta pengamanan dan perlindungan bayi
baru lahir dari upaya penculikan dan perdagangan bayi.

4. Teori Nifas
a. Pengertian
Nifas merupakan (peuperium) merupakan kondisi pemulihan, mulai
dari persalinan selesai samoai alat-alat kandungan kembali seperti
pra kehamilan. Lama masa nifas adalah 6-8 minggu. Masa nifas
(puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir
ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
masa nifas berlangsung kirakira 6 minggu, akan tetapi, seluruh alat
genital baru pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil dalam
waktu 3 bulan (Prawirohardjo, 2009; Saifuddin, 2002). 2. Masa nifas
adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu. Selama masa
ini, fisiologi saluran reproduktif kembali pada keadaan yang normal
(Cunningham,
2007)
b. Tahapan masa nifas menurut Sulistyawati (2015: 5) adalah sebagai
berikut:
1) Puerperium dini Puerperium dini merupakan masa kepulihan,
yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalanjalan
2) Puerperium intermedial Puerperium intermedial merupakan
masa kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia, yang lamanya
sekitar 68 minggu
3) Remote puerperium Remote puerperium merupakan masa yang
diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila
40
selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama
bermingguminggu, bulanan, bahkan tahunan.
c. Perubahan fisiologis masa Nifas
Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna
akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan-perubahan ini dalam keseluruhannya disebut involusi.
Adaptasi perubahan fisik masa nifas,18 yaitu:
1) Involusi uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses
dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil.

Tabel 2. Perubahan normal uterus selama post partum


Involusio uteri Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 1000 Gram


Plasenta lahir Dua jari dibawah pusat 750 Gram
1 minggu Pertengahan pusat dan 500 Gram
simpisis
2 minggu tak teraba 350 Gram
6 minggu Berukuran normal 50 gram
seperti semula
Sumber: Prawirohardjo (2014)
2) Lochea
Akibat involusio uteri, lapisan desidua yang mengelilingi situs
plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua yang mati akan keluar
bersama dengan sisa cairan. Pencampuran antara desidua dan
darah inilah yang di namakan lochea. Lochea adalah ekskresi
cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai sifat basa/
alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat
daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal.19 Jenis-
jenis lokhia:
Tabel 3. Perubahan Lochea.
Lochea Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra 1-3 hari Merah kehitaman Terdiri dari sel desidua,
verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa
mekonium dan sisa darah
41

Sanguinolenta 3-7 hari Putih bercampur Sisa darah bercampur lendir


merah
Serosa 7-14 hari Kekuningan/ Lendir bercampur darah dan
Kecoklatan lebih banyak serum, juga
terdiri dari leukosit dan
robekan laserasi plasenta.
Alba >14 hari Putih Mengandung leukosit,
selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati
Lochia Terjadi infeksi, keluar cairan
purulenta seperti nanah berbau busuk
Lochiastasis Tidak lancar keluarnya
Sumber: Anggraini (2010)
3) Ligamen-ligamen
Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi
menciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke
belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum menjadi
kendor.
4) Vulva, vagina dan perineuM
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi dan dalam beberapa
hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap
berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan
vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara
labia menjadi lebih menonjol.
Rugae kembali timbul pada minggu ketiga. Himen tampak
sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah
menjadi karankulae mitiformis yang khas pada wanita
multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan
keadaan sebelum saat persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada
saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat
terjadi secaraspontan atapun dilakukan episiotomi dengan
indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum
dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan
vagina hingga tingkat tertentu. Kondisi vagina setelah persalinan
42
akan tetap terbuka lebar, ada kecenderungan vagina mengalami
bengkak dan memar serta nampak ada celah antara introitus
vagina. Tonus otot vagina akan kembali pada keadaan semula
dengan tidak ada pembengkakan dan celah vagina tidak lebar
pada minggu 1-2 hari pertama postpartum. Pada minggu ketiga
postpartum rugae vagina mulai pulih menyebabkan ukuran
vagina menjadi lebih kecil. Dinding vagina menjadi lebih lunak
serta lebih besar dari biasanya sehingga ruang vagina akan
sedikit lebih besar dari keadaan sebelum melahirkan.20
Perineum pada saat proses persalinan ditekan oleh kepala
janin, sehingga perineum menjadi kendur dan teregang. Tonus
otot perineum akan pulih pada hari kelima postpartum mesipun
masih kendur dibandingkan keadaan sebelum hamil.21
5) Serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks uteri setelah persalinan
adalah menjadi sangat lunak, kendur dan terbuka seperti corong.
Korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks uteri tidak
berkontraksi sehingga seolah-olah terbentuk seperti cincin pada
perbatasan antara korpus uteri dan serviks uteri.20
Tepi luar serviks yang berhubungan dengan ostium uteri eksterna (OUE) biasanya
mengalami laserasi pada bagian lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan
beberapa hari setelah persalinan ostium uteri hanya dapat dilalui oleh 2 jari. Pada
akhir minggu pertama, ostium uteri telah menyempit, serviks menebal dan kanalis
servikalis kembali terbentuk. Meskipun proses involusi uterus telah selesai, OUE
tidak dapat kembali pada bentuknya semula saat nullipara. Ostium ini akan
melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan
yang permanen dan menjadi ciri khas servis pada wanita yang pernah
melahirkan.22
6) Sistem pencernaan
Pasca melahirkan, kadar progesteron menurun dan faal usus
memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal. Biasanya ibu
mengalami obstipasi setelah persalinan. Selain itu hal ini
disebabkan pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat
tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran
cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi),
43
kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air
besar kembali teratur dapat diberikan diet/ makanan yang
mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha
ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong
dengan pemberian glyserin spuit atau diberikan terapi pencahar
lainnya.
7) Sistem perkemihan
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi
yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya,
pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali
normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin
dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36
jam sesudah melahirkan, hal ini disebabkan karena kelebihan
cairan sebagai akibat retensi air saat kehamilan.
8) Sistem hematologi
Leukositosis akan meningkat pada beberapa hari post partum,
sehingga dianjurkan untuk mengajarkan pada ibu cara menjaga
kebersihan genetalia. Jumlah hemoglobin dan hematokrit serta
eritrosit akan bervariasi pada awal masa nifas sebagai akibat
dari volume darah, volume plasma, dan volume sel darah yang
berubah-ubah.
9) Sistem Kardiovaskular
Persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 cc.
Bila kelahiran melalui sectio caesarea, maka kehilangan darah
dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah (blood
volume) dan hematokrit (haemoconcentration). Bila persalinan
pervaginam, hematokrit akan naik dan pada section caesaria
hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6
minggu.
Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba.
Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan
menimbulkan beban pada jantung, dapat menimbulkan
decompensationcordia pada penderita vitum cordia. Keadaan ini
dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya
44
haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti
sediakala, umumnya hal ini terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5
postpartum.
10) Sistem Musculoskeletal
Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada
waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus
jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamen
rotundum menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi
pada 6-8 minggu setelah persalinan. Sebagai akibat putusnya
serat-serat elastik kulit dan distensi yang berlangsung lama
akibat besarnya uterus pada saat hamil, dinding abdomen masih
lunak dan kendur untuk sementara waktu. Pemulihan dibantu
dengan latihan.
11) Sistem endokrin
1. Human Chorionic Gonadotropin (HCG): Human Chorionic
Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat setelah
persalinan. HCG menurun dan menetap sampai 10% dalam
3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset
pemenuhan mammae pada hari ke-3 postpartum.23
2. Hormon pituitary: Prolaktin darah meningkat dengan cepat,
pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2
minggu.
12) Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
a) Penurunan kadar progesteron secara tepat dengan
peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan.
b) Kolostrum sudah ada saat persalinan, produksi ASI terjadi
pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan.
c) Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya
proses laktasi.
13) Pembentukan air susu
Ada dua refleks dalam pembentukan air susu ibu yaitu :
1. Refleks prolactin
45
Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan
untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum
terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen
dan progesterone yang kadarnya memang tinggi. Saat bayi
menyusu, isapan bayi akan merangsang ujung-ujung saraf
sensoris yang sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan dilanjutkan kehipotalamus melalui medulla
spinalis hipotalamus akan menekan pengeluaran fakto-
faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya
merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memicu sekresi
prolaktin. Sekresi prolaktin akan merangsang hipofise
anterior sehingga keluarprolaktin. Hormon ini merangsang
sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
2. Refleks letdown
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise
anterior, rangsangan yang bersal dari isapan bayi ada yang
dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang
kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah,
hormon ini diangkat menuju uterus yang dapat
menimbulkan kontraksi uterus sehingga terjadi involusi.
Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat
keluar dari alveoli dan masuk ke system duktus dan
selanjutnya membalir melalui duktus lactiferus masuk ke
mulut bayi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan
penghambat refleks let down.18 1. Peningkatan refleks let
down:
(a) Melihat bay
(b) Mendengarkan bayi
(c) Mencium bayi
(d) Memikirkan untuk menyusui bayi
d. Perubahan Psikologis Ibu
Menurut Herawati Mansur (2014: 134-135), adaptasi psikologis
postpartum oleh rubin dibagi dalam 3 (tiga) periode yaitu sebagai
berikut:
46
1) Taking In: Periode ini berlangsung 1-2 hari setelah melahirkan.
Ibu pasif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu menjaga
komunikasi yang baik. Ibu menjadi sangat tergantung pada
orang lain, mengharapkan segala sesuatu kebutuhan dapat
dipenuhi orang lain. Perhatiannya tertuju pada kekhawatiran
akan perubahan tubuhnya. Ibu mungkin akan bercerita tentang
pengalamannya ketika melahirkan secara berulang-ulang.
Diperlukan lingkungan yang kondusif agar ibu dapat tidur
dengan tenang untuk memulihkan keadaan tubuhnya seperti
sediakala. Nafsu makan bertambah sehingga dibutuhkan
peningkatan nutrisi, dan kurangnya nafsu makan menandakan
ketidaknormalan proses pemulihan
2) Taking Hold: Periode ini berlangsung 3-10 hari setelah
melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dalam merawat bayi. Ibu menjadi sangat
sensitif, sehingga mudah tersinggung. Oleh karena itu, ibu
membutuhkan sekali dukungan dari orang-orang terdekat. Saat
ini merupakan saat yang baik bagi ibu untuk menerima berbagai
penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya. Dengan begitu ibu
dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pada periode ini ibu
berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalkan
buang air kecil atau buang air besar, mulai belajar untuk
mengubah posisi seperti duduk atau jalan, serta belajar tentang
perawatan bagi diri dan bayinya
3) Let it go: Periode ini berlangsung 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya
dalam merawat bayi. Ibu menjadi sangat sensitif, sehingga
mudah tersinggung. Oleh karena itu, ibu membutuhkan sekali
dukungan dari orang-orang terdekat. Saat ini merupakan saat
yang baik bagi ibu untuk menerima berbagai penyuluhan dalam
merawat diri dan bayinya. Dengan begitu ibu dapat
menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pada periode ini ibu
berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalkan
buang air kecil atau buang air besar, mulai belajar untuk
47
mengubah posisi seperti duduk atau jalan, serta belajar tentang
perawatan bagi diri dan bayinya.
e. Kebutuhan Dasar Ibu nifas
1) Nutrisi dan cairan
Nutrisi dan gizi merupakan zat yang diperlukan tubuh untuk
metabolisme tubuh, pada ibu nifas kebutuhan nutrisi akan
meningkat 25 % dimana peningkatan tersebut bertujuan dalam
proses penyembuhan pasca bersalin dan pemenuhan produksi
ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi. Pada wanita normal
kebutuhan kalori adalah sebanyak 2000 – 2500 Kkal, sedangkan
pada ibu nifas dan menyusui kebutuhan meningkat menjadi 3000
– 3500 Kkal. Pada 6 bulan pertama peningkatan kalori ibu adalah
700 Kkal, sedangkan pada 6 bulan ke dua meningkat sekitar 500
Kkal. Jenis makanan ibu harus mengandung sumber energi
terdiri dari karbohidrat dan lemak. Sumber energi ini berguna
untuk pembakaran tubuh, pembentukan jaringan baru,
penghematan protein (jika sumber tenaga kurang).Sumber
Protein
2) Eliminasi
Kebutuhan miksi ibu nifas dan menyusui normalnya akan
melakukan buang air kecil secara spontant setiap 3 -4 jam.
Kemudian kebutuhan lain yaitu buang air besar ibu nifas dapat
terjadi secara teratur ibu nifas diharapkan dapat melakukan diit
teratur dan konsumsi air yang cukup, makan makanan yang
berserat dan olah raga.
3) Mobilisasi
Early ambulation, yaitu upaya sesegera mungkin membimbing
klien keluar dari tempat tidurnya dan membimbing berjalan. Ibu
nifas diperblehkan berdiri dari tempat tidur 24 – 48
jampostpartum.
4) Senam nifas
Senam nifas memiliki banyak manfaat untuk ibu nifasyaitu
memulihkan kesehatan ibu, meningkatkan kebugaran dan
mendukung kenyamanan ibu.
48
f. Tanda-tanda bahaya masa nifas menurut Siti Saleha (2009) adalah
sebagai berikut:
1) Perdarahan pervaginam yang luar biasa atau tiba-tiba
bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila
memerlukan pergantian pembalut-pembalut 2 kali dalam
setengah jam).
2) Pengeluaran cairan vagina yang berbau busuk.
3) Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.
4) Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah
penglihatan.
5) Pembengkakan diwajah atau ditangan.
6) Demam, muntah, rasa sakit sewaktu BAK atau jika merasa
tidak enak badan.
7) Payudara yang bertambah atau berubah menjadi merah panas
dan atau terasa sakit
8) Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
9) Rasa sakit merah, lunak dan atau pembengkakan di kaki.

g. Komplikasi masa nifas


1) Perdarahan Post partum terbagi menjadi sua jenis perdarahan,
yaitu:
a) Perdarahan postpartum primer (Early Postpartum
hemorrhage): perdarahan yang lebih dari 500 – 600 ml dalam
masa 24 jam setelah anak lahir, atau perdarahan dengan
volume seberapapun yang mengakibatkan perubahan
keadaan umum ibu dan tanda vital ibu. Paling sering terjadi
pada 2 jam pertama pasca bersalin atau anak lahir.
b) Perdarahan Postpartum sekunder (Late Postpartum
Hemorrhage): perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
postpartum hingga masa nifas selesai, perdarahan ini terjadi
antara hari ke 5 sampaidengan hari ke 15 postpartum.
2) Infeksi postpartum
Infeksi postpartum merupakan komplikasi masa nifas, tanda
gejala infeksi adalah perubahan suhu yang meningkat, malaise,
49
denyut nadi cepat. Gejala local uterus lembek, adanya
kemerahan dan nyeri pada paydaraatau adanya dysuria.
3) Nyeri perut dan pelvis
Peritonitis adalah peradangan pada peritonium, peritonitis
umum dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh
kematian karena infeksi. Menurut Mochtar (2002), gejala klinis
peritonitis dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut: Peritonitis
pelvio berbatas pada daerah pelvis Tanda dan gejalanya adalah
demam, nyeri perut bagian bawah tetapi keadaan umum tetap
baik, pada pemeriksaan dalam kavum dauglas menonjol karena
ada abses.
4) Bendungan ASI.
Selama 24 hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi
lacteal, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan
berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan
air susu, sering merasakan nyeri yang cukup hebat dan bisa
disertai dengan kenaikan suhu tubuh. Kelainan tersebut
menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan dan
penggembungan limfatik dalam payudara, yang merupakan
prekusor regular untuk terjadinya laktasi. Keadaan ini bukan
merupakan overdistensi sistem lacteal oleh air susu.
5) Mastitis
Mastitis adalah infeksi payudara. Mastitis terjadi akibat invasi
jaringan payudara oleh organisme infeksius atau adanya cedera
payudara. Gejala - gejala mastitis antara lain:
a) Peningkatan suhu yang cepat hingga 39,50C-400C.
b) Peningkatan kecepatan nadi
c) Menggigil
d) Malaise umum, sakit kepala
e) Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, serta area payudara
keras.
6) Pospartum Blues
Postpartum blues adalah suasana hati yang dirasakan oleh
wanita setelah melahirkan yang berlangsung selama 3-6 hari
dalam 14 hari pertama pasca melahirkan yang perasaan ini
50
berkaitan dengan bayinya (Mansur, 2014: 136). Adapun gejala
postpartum blues menurut Ambarwati (2010: 90).
a) Menangis
b) Mengalami perubahan perasaan
c) Cemas
d) Khawatir mengenai sang bayi
e) Kesepian
f) Penurunan gairah seksual
g) Kurang percaya diri terhadap kemampuannya menjadi
seorang ibu

5. Teori Keluarga Berencana


a. Pengertian
Menurut WHO dalam Stephan dan Ariyani (2017), keluarga
berencana adalah sebuah program yang dimaksudkan untuk
mengantisipasi kehamilan yang tidak diinginkan, mengatur jumlah
anak sesuai rencana dan mengatur waktu dari kelahiran antar anak.
Program KB ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode
kontrasepsi berupa KB oral, suntik, implant, Intra Uterine Device
(IUD), kondom dan sterilisasi. 24
b. Kontrasepsi Pascasalin
BKKBN (2020), KB Pasca Persalinan merupakan upaya
pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat
kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6
minggu setelah melahirkan, sedangkan KB Pasca Keguguran
merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat
dan obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan
kurun waktu 14 hari.24 The American College Of Obstetricians and
Gynecologists (AGOC), Metode kontrasepsi jangka panjang pasca
salin seperti IUD dan Implan terbukti berhasil mengurangi
kehamilan yang tidak diinginkan dan tingkat aborsi. Metode
kontrasepsi jangka panjang pasca salin dapat segera dipasang atau
sebelum pasien keluar dari rumah sakit.25 Menurut Sarah dkk (2017),
Penggunaan kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif
berpotensi meningkatkan kemampuan wanita untuk menghindari
51
interval antar kehamilan yang pendek, yang berhubungan dengan
peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas ibu, serta persalinan
prematur.26 Secara umum, hampir semua metode kontrasepsi dapat
digunakan sebagai metode KB Pasca Persalinan.
Untuk memastikan jarak kehamilan yang sehat dan aman
(minimal 2 tahun) maka pasien perlu diberikan informasi dan
motifasi untuk menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP) sejak sebelum ibu melahirkan. Sejalan dengan hal tersebut,
sebagai upaya untuk mencegah terjadinya ledakan kelahiran
bayi/baby boom dalam situasi pandemi covid 19 maka BKKBN dan
pemerintah merekomendasikan penggunaan metode kontrasepsi
jangka panjang (MKJP ) selama pandemi Covid-19 seperti IUD
(Intra Uterine
Device), Implant (susuk dan Kontrasepsi mantap (MOP dan
MOW).27
Pemilihan kontrasepsi KB Pasca Persalinan (KB PP)
disesuaikan dengan ibu yang akan menyusui anaknya dan ibu yang
tidak menyusui anaknya.
1) Ibu yang akan menyusui anaknya dapat menggunakan jenis
metode:
a) Tubektomi dan vasektomi
b) AKDR
c) Implant
d) Suntik 3 bbulan
e) Pil Progesterron
f) Kondom
g) MAL
2) Ibu yang tidak menyusui anaknya, dapat menggunakan jenis
metode:
a) Tubektomi dan vasektomi
b) AKDR
c) Implant
d) Suntik 3bulan
e) Pil Progesteron
f) Kondom
52
g) MAL
h) Suntuk KB 1 Bulan
i) Pil Kombinasi
c. AKDR
1) Pengertian
(Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR) merupakan alat kontrasepsi terbuat dari plastik yang
flesibel dipasang dalam rahim dan merupakan kontrasepsi yang
paling ideal untuk ibu pasca persalinan dan menyusui karena
tidak menekan produksi ASI. Kontrasepsi IUD merupakan
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dan dapat segera
digunakan segera setelah persalinan sehingga ibu tidak cepat
hamil lagi (minimal 3-5 tahun) dan memilki waktu merawat
kesehatan diri sendiri, anak dan keluarga. Penyuluhan pemilihan
metode kontrasepsi ini dapat dilakukan sejak kunjungan
kehamilan sampai dengan persalinan, sehingga ibu setelah
bersalin atau keguguran, pulang ke rumah sudah menggunakan
salah satu kontrasepsi (BKKBN, 2014).
2) Jenis IUD
Menurut Arum (2011) jenis-jenis Intra Uterine Device (IUD)
adalah sebagai berikut:
a. IUD CuT-380 A Bentuknya kecil, kerangka dari plastik yang
fleksibel, berbentuk huruf T diselubungi oleh kawat halus
yang terbuat dari tembaga (Cu).
b. NOVA T (Schering) Menurut Hartanto (2008), IUD yang
banyak dipakai di Indonesia dari jenis unmedicated adalah
Lippes Loop dan dari jenis Medicated adalah Cu-T 380 A,
Multiload 375 dan Nova-T.
c. Cu T 380 A IUD Cu – T 380 A terbuat dari bahan polietilen
berbentuk huruf T dengan tambahan bahan Barium Sulfat.
Pada bagian tubuh yang tegak, dibalut tembaga sebanyak 176
mg tembaga dan pada bagian tengahnya masingmasing
mengandung 68,7 mg tembaga, dengan luas permukaan 380
± 23m2. Ukuran bagian tegak 36 mm dan bagian melintang
32 mm, dengan diameter 3 mm. pada bagian ujung bawah
53
dikaitkan benang monofilamen polietilen sebagai kontrol dan
untuk mengeluarkan IUD. c. Multiload 375 IUD Multiload
375 (ML 375) terbuat dari polipropilen dan mempunyai luas
permukaan 250 mm2 atau panjang 375 mm2 kawat halus
tembaga yang membalut batang vertikalnya untuk menambah
efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load yaitu standar,
small, dan 9 mini. Bagian lengannya didesain 15 sedemikian
rupa sehingga lebih fleksibel dan meminimalkan terjadinya
ekspulsi.
d. Nova-T IUD Nova-T mempunyai 200 mm2 kawat halus
tembaga dengan bagian lengan fleksibel dan ujung tumpul
sehingga tidak menimbulkan luka pada jaringan setempat
pada saat dipasang. e. Cooper-7 IUD ini berbentuk angka 7
dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini
mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan
ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai
luas permukaan 200 mm2 fungsinya sama seperti halnya
lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T (Proverawati,
2010)
Menurut Suparyanto (2011), IUD terdiri dari IUD hormonal
dan non hormonal.
3) Keuntungan Pemasangan IUD
Keuntungan menggunakan IUD adalah (Buku Saku WHO,
2013):
a) Langsung bisa diakses oleh ibu yang melahirkan di
pelayanan kesehatan
b) Tidak memengaruhi kualitas dan volume ASI
c) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah
abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
d) Pemasangan ada pascapersalinan, kasus perdarahan lebih
sedikit dibandingkan dengan pemasangan setelah beberapa
hari atau minggu 5. Mengurangi angka ketidakpatuhan
pasien
e) Sebagai kontrasepsi, mempunyai efektivitas yang tinggi
54
f) Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1
tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan)
g) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
h) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380 A
dan tidak perlu diganti)
i) Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat
4) Kerugian IUD Kerugian penggunaan alat kontrasepsi IUD
adalah sebagai berikut (Proverawati, 2010):
a) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan
akan berkurang setelah 3 bulan)
b) Haid lebih lama dan banyak
c) Perdarahan (spotting antar menstruasi)
d) Saat haid lebih sakit
5) Waktu Pemasangan IUD
IUD pasca plasenta aman dan efektif, tetapi tingkat
ekspulsinya lebih tinggi dibandingkan ekspulsi ≥4 minggu
pasca persalinan. Eskpulsi dapat diturunkan dengan cara
melakukan insersi IUD dalam 10 menit setelah pengeluaran
plasenta, memastikan insersi mencapai fundus uteri, dan
dikerjakan oleh tenaga medis dan paramedis yang terlatih dan
berpengalaman. Jika 48 jam pasca persalinan telah lewat,
insersi IUD ditunda sampai 4 minggu atau lebih pasca
persalinan. IUD 4 minggu pasca persalinan aman dengan
menggunakan IUD copper T, sedangkan jenis noncopper
memerlukan penundaan sampai 6 minggu pasca persalinan.
6) Cara Kerja IUD
Mekanisme kerja yang pasti dari kontrasepsi IUD belum
diketahui. Ada beberapa mekanisme kerja kontrasepsi IUD
yang telah diajukan:
a) Timbulnya reaksi radang (munculnya leukosit PMN,
makrofag, foreign body giant cells, sel mononuklear dan sel
plasma di dalam cavum uteri 17 sehingga implantasi sel
telur yang telah dibuahi terganggu karena lisis dari
spermatozoa atau ovum dan blastokista.
55
b) Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang
menyebabkan terhambatnya implantasi.
c) Gangguan atau terlepasnya blastokista yang telah
berimplantasi di dalam endometrium.
d) Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba
fallopi
e) Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri
(Hartanto, 2008).
Menurut Saifuddin, dkk (2006) cara kerja pemasangan IUD
adalah sebagai berikut:
a) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba
falofi
b) Memengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum
uteri
c) IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum
bertemu, walaupun IUD membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
kemampuan sperma untuk fertilisasi
d) Memungkinkan utnuk mencegah implantasi telur dalam
uterus
7) Cara Pemasangan IUD Pascaplacenta
Bila pemasangan IUD tidak dilakukan segera dalam waktu 48
jam setelah bersalin, sebaiknya IUD ditangguhkan sampai 6 - 8
minggu postpartum oleh karena jika pemasangan IUD
dilakukan antara minggu 18 kedua dan minggu keenam setelah
partus, bahaya perforasi atau ekspulsi lebih besar. Pemasangan
IUD dalam 10 menit setelah plasenta lahir dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu :
a) Dipasang dengan tangan secara langsung Setelah plasenta
dilahirkan dan sebelum perineorafi, pemasang melakukan
pembersihan vulva dan mengganti sarung tangan dengan
yang baru. Pemasang memegang AKDR dengan jari
telunjuk dan jari tengah kemudian dipasang secara
perlahan-lahan melalui vagina dan servik sementara itu
tangan yang lain melakukan penekanan pada abdomen
56
bagian bawah dan mencengkeram uterus untuk memastikan
AKDR dipasang di tengah-tengah yaitu di fundus uterus.
Tangan pemasang dikeluarkan perlahan-lahan dari vagina.
Jika AKDR ikut tertarik keluar saat tangan pemasang
dikeluarkan dari vagina atau AKDR belum terpasang di
tempat yang seharusnya, segera dilakukan perbaikan posisi
AKDR.
b) Dipasang dengan ring forceps Prosedur pemasangan dengan
AKDR menggunakan ring forceps hampir sama dengan
pemasangan dengan menggunakan tangan secara langsung
akan tetapi AKDR diposisikan dengan menggunakan ring
forceps, bukan dengan tangan.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Asuhan Kebidanan Kehamilan


1. Pengkajian Data
Kunjungan pertama asuhan kehamilan pada tanggal 21/01/ 2022,
pukul 10.00 WIB. Dimana ibu berkunjung ke Puskesmas untuk kontrol
kehamilannya. Kemudian dilakukan pengkajian bahwa ibu tidak
memiliki keluhan pada kehamilan. Riwayat menstruasi ibu dalam batas
normal HPHT 29/4/2021 dan HPL 6/2/2022, pada saat kunjungan usia
kehamilan ibu tepat berusia 38 minggu 1 hari. Riwayat pemenuhan
sehari- hari dalam batas normal, makan 3x sehari porsi normal dengan
beragam makanan, minum lebih dari 8 gelas sehari, pola eliminasi dan
lainnya dalam batas normal. Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak
ada yang menderita penyakit DM, hipertensi maupun jantung serta ibu
tidak pernah mengalami riwayat penyakit tersebut. Riwayat imunisasi TT
ibu berstatus TT4 terakhir caten tahun 2019. Imunisasi TT pada ibu hamil
bertujuan mencegah bayi dari infeksi tetanus neonatorum, pada
pelaksanaan TT dimulai dari Sekolah Dasar dan pada ibu hamil diberikan
TT pada Kehamilan dan TT saat akan menikah, yang mana diharapkan
dapat melindungi ibu dan bayi yang dikandungnya dari penyakit tetanus
Toxoid.29
Hasil pengkajian data objektif didapatkan bahwa kesadaran
composmentis, Pemeriksaan Tanda Vital sgn normal, TB 150 cm, BB
sebelum hamil 43 kg, BB Sekarang 55 kg, LLA 25 cm, IMT 24,4 kg/m2.
Hasil pengukuran berat badan menunjukan bahwa kenaikan berat badan
ibu adalah 12 Kg. Menurut Departemen Kesehatan RI Tahun 2013,
kenaikan berat badan ideal ibu hamil adalah 9 kilogram atau 1 kilogram
setiap bulannya.30 berdasarkan teori Akbar dkk 2015 tentang hubungan
pertambahan berat badan dengan berat badan lahir bayi menunjukan
hubungan yang signifikan, yang mana ditunjukan dengan hasil uji
korelasi
63
58
31
didapatkan r = 0,103 dan p = 0,323 (>0,05).
Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan adanya bekas operasi,
perabaan leopold I didapatkan TFU 31 cm dan terabab bulat, lunak tidak
melenting yang berarti bokong, pada leopold II teraba punggung pada
perut sebelah kiri, leopold III teraba bulat, keras dan tidak dapat
digoyangkan yang artinya pada segmen bawah rahim teraba kepala dan
pada leopold IV tangan pemeriksa divergen yang artinya kepala bayi
sudah masuk PAP. Setelah, perabaan atau palpasi dilakukan pemeriksaan
auskultasi denyut jantung janin sebanyak 146 x/menit. Ekstremitas
bawah tidak ada pembengkakan, pemeriksaan penunjang dalam batas
normal, Hb 12 , Protein urine -. Hasil pemeriksaan abdomen menunjukan
bahwa terdapat kesesuaian dengan teori, dimana pada usia kehamilan 38
minggu 1 hari kepala telah masuk panggul.
Pada kunjungan berikutnya pasien periksa sebanyak 2 kali dimana
pada pemeriksaan sebelumnya ibu dilakukan rujukan untuk rapid test
kehamilan, dan penulis hanya mencatat hasil pengkajian terakhir yaitu
pada tanggal 28/01/2022 saat kunjungan umur kehamilan sudah 39
minggu 1 hari dan mengatakan sudah mulai kenceng - kenceng. Menurut
Enny F 2019 kondisi yang dialami ibu merupakan kondisi yang bisa
menunjukan adanya tanda persalinan, namun apabila kenceng atau his
yang dirasakan ibu masih kurang dari 3 kali atau konsistensinya tidak
kuat menunjukan adanya His palsu persalinan.32 Hasil pengkajian objektif
kondisi ibu dalam batas normal. Pemeriksaan palpasi leopold I pada
fundus teraba kepala dengan tfu 32 cm, palpasi leopold II teraba
punggung pada perut sebelah kiri, leopold III teraba kepala dan tidak bisa
digoyangkan, pada leopold IV kepala sudah masuk PAP. Setelah palpasi,
dilakukan auskultasi denyut jantung janin yaitu sebanyak 156 xmenit.
Pemeriksaan ibu hamil yang dilaksanakan di Puskesmas telah memenuhi
kaidah 10 T. karena didalamnya terkandung unsur pengukuran tinggi
badan dan berat badan, pengukuran lingkar lengan atas, mengukur
tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri, menentukan presentasi dan
denyut jantung janin, skiring imunisasi TT, pemberian tablet tambah
darah, pemeriksaan laboratorium, pemberian asuhan dan temu wicara
yaitu konseling.
2. Analisis
59
Analisis pada masalah ini Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 38
minggu 1 hari dengan kehamilan fisiologis tidak memiliki masalah
kesehatan, KIE persiapan persalinan dan tanda bahaya TM 3.
Penatalaksanaan yang dilakukan oleh bidan adalah memberikan KIE
ketidaknyamanan trimester III. Analisis diperoleh Ny. M usia 25 tahun
G1P0A0 UK 39 minggu 1 hari dengan kehamilan normal memiliki
masalah sudah mulai merasa kenceng hilang timbul, kebutuhan dukungan
emosional ibu.
3. Penatalaksanaan
Memberitahu kondisi ibu atau hasil pemeriksaan yang telah dikaji.
Sesuai perundang-undangan no 36 tahun 2009 tentang kesehatan dimana
setiap klien berhak mengetahui kondisi maupun prosedur tindakan yang
akan dilaksanakan.33
KIE pola nutrisi selama hamil bahwa ibu harus mengkonsumsi
makanan sehat seimbang, Memberi KIE perencanaan, Tanda Persalinan,
dan Tanda Bahayanya, agar saat bersalin nanti semua sudah dipersiapkan
dengan baik. Memberikan KIE tanda persalinan agar ibu segera ke
fasilitas kesehatan begitu mengalami salah satu tanda persalinan.
Konseling ini diberikan sesuai kewenangan bidan yang tercantum dalam
PMK no 28 tahun 2017 tentang kewenangan bidan dalam memberikan
asuhan kepada wanita, ibu hamil yang akan mempersiapkan persalinan.34
Memberikan tablet tambah darah 7 butir dan kalsium 7 butir dan
menganjurkan kunjungan ulang 1 minggu lagi atau jika ada keluhan.
Sesuai peraturan kementrian kesehatan dimana ibu hamil diwajibkan
mengonsumsi tablet tambah darah minimal sebanyak 90 tablet selama
kehamilan, dengan harapan tingkat kejadian anemia pada ibu hamil akan
menurun, serta komplikasi akibat anemia dapat dicegah.35
B. Asuhan Kebidanan Persalinan
1. Pengkajian Data
Pengkajian kasus ini dilakukan melalui data sekunder berupa
register dan rekam medik pasien. Pada tanggal 09/02/2022 jam 07.00 wib
pasien datang ke PMB Widawati Rahayu dengan keluhan kenceng-
kenceng dan ada pengeluaran lendir darah dari jalan lahir sejak jam 19.00
wib. Berdasarkan dari teori yang telah didapatkan bahwa hasil anamnesa
menunjukan bahwa Ny M telah memiliki tanda persalinan bahwa ibu
60
mengalami kenceng – kenceng yang teratur. Kontraksi yang terjadi akibat
kelenjar hipofise posterior mengeluarkan oksitosin. Yang disebabkan
adanya perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi
braxton hicks. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya
kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga
persalinan dimulai.32 HPHT tanggal 29/4/2021 dan HPL 06/02/2022 dan
umur kehamilan 40 minggu 3 hari. Riwayat periksa kehamilan rutin di
PMB dan Puskesmas. Pemeriksaan rutin yang dilakukan ibu adalah
sesuai dengan program yang tercantum daam Peraturan Pemerintah No
61 tentang Kesehatan Reproduksi pada pasal 14 dimana Ibu hamil wajib
berskonsultasi atau memeriksakan kondisinya minimal 4 kali selama
36
kehamilan. Kontraksi mulai dirasakan tanggal 08/02/2022 jam 19.00
wib dan pengeluaran lendir darah jam 23.30 wib. Gerakan janin
dirasakan aktif >10 kali dalam 12 jam. Makan terakhir tgl 08/02/2022
jam 19.00 WIB , BAK terakhir tgl 09/02/2022 jam 04.00 wib dan BAB
terakhir tgl 09/02/2022 jam 04.00. Ibu mengatakan rutin melakukan
senam hamil yaitu 1-2 kali dalam seminggu. Senam hamil merupakan
sarana untuk melatih ibu mempersiapkan persalinan dimana dalam
kegiatan ini ibu hamil diberikan pengetahuan dan cara melatih pernafasan
dan beberapa gerakan untuk mempersiapkan organ reproduksi. Menurut
penelitian Maria 2019 menyatakan bahwa ibu hamil yang melaksanakan
senam hamil dapat menurunkan ketidaknyamanan ibu hamil dan
mempersiapkan fisik dan psikologis ibu saat akan bersalin.28
Pemeriksaan objektif didapatkan dari data sekunder pasien.
Keadaan umum pasien baik dan kesadaran composmentis. Tekanan darah
120/70 mmHg, Nadi 84x/m, Respirasi 22x/menit, Suhu 365C, BB
sekarang 55 kg. Pemeriksaan abdomen palpasi leopold I teraba bokong
dengan TFU 30 cm, leopold II teraba punggung pada perut kiri, leopold
III teraba kepala pada segmen bawah rahi, dan tidak bisa digoyangkan,
leopold IV posisi tangan divergen dan bagian terendah janin sudah masuk
PAP dengan penurunan kepala 4/5. Kontraksi dirasakan dengan durasi 20
detik frekuensi 3xdalam 10 menit. Auskultasi titik punctum maksium
hipogastrik sebelah kiri dengan frekuensi 149x/m. Pemeriksaan genetalia
luar terdapat pengeluaran lendir darah dan dilakukan periksa dalam oleh
61
bidan. Periksa dalam dilakukan tgl 09/02/2022 jam 07.30 wib atas
indikasi pengeluaran lendir darah dan adanya kontraksi. Tujuan periksa
dalam untuk mengetahui kemajuan persalinan. Haisl periksa dalam yang
telah dilakukan bidan adalah vagina licin, tebal, lunak, pembukaan 1,
selaput ketuban +, presentasi belakang kepala, hodge I, dan sarung
tangan lendir darah +. Analisa pada kasus ini seorang Ny M usia 25
tahun G1P0A0 UK 40 mg 3 hari janin tunggal, intauterine, hidup,
presentasi belakang kepala, punggung kiri dalam persalinan kala 1 fase
laten. Menurut panduan Kementrian kesehatan menyebutkan bahwa
pembukaan 1 -3 termasuk dalam kategori persalinan dengan Kala 1 fase
laten.
Pada 4 jam berikutnya dilakukan pemeriksaan kemajuan persalinan
jam 11.30 wib pasien mengatakan ingin meneran kenceng-kenceng
semakin kuat. HIS dirasakan 3x10’ selama 30” dan DJJ 139 x/menit.
Hasil pemeriksaan dalam vulva uretra teraba tenang, dinding vagina licin,
servik teraba menipis, pembukaan 5 cm, selaput ketuban negatif,
presentasi belakang kepala, UUK arah jam 9, molage 0, Hodge II, air
ketuban -. Hasil pemeriksaan dalam sesuai dengan Panduan dari
kementrian Kesehatan 2014 hasil pemeriksaan dalam menunjukan bahwa
ibu telah memasuki persalinan kala 1 fase aktif dimana telah terjadi
pembukaan serviks 4 cm.37 Analisa pada kasus ini seorang Ny M usia 25
tahun G1P0A0 UK 40 mg 3 hari janin tunggal, intauterine, hidup,
presentasi belakang kepala, punggung kiri dalam persalinan kala 1 fase
aktif. Penatalaksanaan dilakukan observasi dan menejemen nyeri dengan
mengarahkan posisi ibu senyaman mungkin, dan tetap menganjurkan ibu
makan minum dan menghadirkan pendamping ibu.
Setelah 4 jam kemudian dilakukan pemeriksaan kemajuan
persalinan pada pukul 16.30 WIB, pemeriksaan dalam vulva uretra teraba
tenang, dinding vagina licin, servik teraba menipis, pembukaan 8 cm,
selaput ketuban negatif, presentasi belakang kepala, UUK arah jam 12,
molage 0, Hodge III, air ketuban jernih. Analisa pada kasus ini seorang
Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 40 mg 3 hari janin tunggal, intauterine,
hidup, presentasi belakang kepala, punggung kiri dalam persalinan kala 1
fase aktif. Kondisi ini sesuai dengan teori yang ada dimana lama kala
satu pada pasien primi ravida adalah 18 -24 jam.32 yang mana persalinan
62
kala satu pada wanita primigravida adalah 18 jam. Penatalaksanaan tetap
melanjutkan observasi, dan menejemen nyeri serta asuhan saying ibu.
Pada pukul 17.00 WIB ibu mengatakan kenceng semakin kuat dan
sudah terasa ingin BAB, Pemeriksaan TTV dalam batas normal, HIS 4
x10” 45’ DJJ 146x/menit. Pemeriksaan dalam vulva uretra teraba tenang,
dinding vagina licin, servik teraba menipis, pembukaan 8 cm, selaput
ketuban negatif, presentasi belakang kepala, UUK arah jam 12, molage 0,
Hodge III, air ketuban jernih. Berdasarkan hasil pemeriksaan ibu telah
memasuki persalinan kala II dimana muncul tanda gejala seperti vulva
anus dan perineum menonjol, serta interval dari his yang mulai adekuat
dimana terjadi 4- 5 kali dengan frekuensi 40 – 100 detik. Kala II
persalinan dimulai dari pembukaan 10 hingga bayi lahir, berlangsung 2
jam pada primipara dan 1 jam pada multipara.
Bayi lahir spontan pada jam 17.25 WIB menangis spontan, cukup
bulan, kulit kemerahan, tonus otot aktif, jenis kelamin perempuan. Pada
jam 17.25 wib ibu mengatakan perutnya mules, TFU setinggi pusat, janin
tunggal, kontraksi baik. Analisa kasus Ny. M usia 25 tahun P1A0AH1
dalam persalinan kala III. Pentalaksanaan yang dilakukan bidan pada
kasus ini memberitahu ibu bahwa bayinya sudah lahir dan melakukan
manajemen aktif kala III. Plasenta lahir spontan lengkap utuh pada jam
17.30 wib. Karena ibu akan dilakukan pemasangan IUD pasca Placenta
dilakukan Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian placenta
tertinggal, setelah dipastikan bersih memasang IUD dengan
menggunakan 2 jari yaitu jari telunjuk dan jari tengah sembari tangan kiri
menahan fundus. Setelah terpasang dilakukan massase fundus,
memeriksa adanya laserasi jalan lahir dan ditemukan ruptur derajat 2.
Pada pukul 17.30 Ibu mengatakan perutnya mules, kontraksi uterus baik,
TFU 2 jr bawah pusat terdapat ruptur derajat 2. Analisa kasus ini Ny. M
usia 25 tahun P1A0AH1 dalam persalinan kala IV dengan ruptur
peirneum deajat 2. Pentalaksanaan yang dilakukan bidan adalah
melakukan penjahitan laserasi perineum dengan lidocain, melakukan
observasi 2 jam kala IV. Selama 1 jam pertama setiap 15 menit dan pada
1 jam kedua setiap 30 menit.
2. Analisa
63
Analisa kasus Ny M usia 25 tahun G1P0A0 UK 40 minggu 3 hari
janin tunggal, intrauterine, hidup, presentasi belakang kepala dalam
persalinan kala II. Permasalahan Kebidanan, Ibu merasa nyeri,
Kebutuhan berdasarkan Kondisi Pasien, Dukungan emosional untuk ibu
agar semangat menghadapi persalinan, Tehnik rilaksasi
3. Penatalaksanaan
Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan memberitahu ibu setiap
hasil perkembangan proses persalinan ibu, berdasarkan Undang – undang
no 36 th 2009 pasal 8. Dimana setiap orang berhak mendapatkan
informasi tentang data kesehatan diri, tindakan dan pengobatan yang
diberikan pada pasien.33
Memberikan asuhan sayang ibu, berupa dukungan emosional,
pemilihan posisi nyaman ibu serta asupan nutrisi ibu disela kontraksi.
Serta pengetahuan tehnik rilaksasi, Menurut Murti wuryani suhan sayang
Ibu dengan proses persalinan di Ruang Bersalin BLUD Rumah Sakit
Kabupaten Konawe (ρ= 0.000). Responden yang diberikan Asuhan
sayang Ibu mempunyai kemungkinan 2,6 kali berisiko melahirkan
normal di bandingkan dengan ibu yang melahirkan dengan SC (RP=2,6
CI 95%). Penelitian Herawati didapatkan bahwa tehnik relaksasi
pernafasan yang paling efektif dalam mengurangi nyeri persalinan kala I
yakni 40% dari jumlah responden 20 orang.
Menghadirkan Suami untuk mendampingi ibu selama proses
persalinan. Penelitian Septi menunjukan bahwa ibu yang mendapatkan
dukungan baik dari suaminya dapat mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan saat proses persalinan.
Memimpin persalinan ibu dan mengajarkan ibu tehnik mengejan
yang benar yaitu dengan menarik nafas panjang dan mngejan seperti
buang air besarserta mata menatap pada perut dan mengejan dilakukan
ketika terdapat kontraksi, membantu melahirkan kepala dan badan bayi.
Dengan menerapkan asuhan sesuai APN. Melakukan jepit potong tali
pusar dan menerapkan asuhan bayi baru lahir dan melakukan IMD. Bayi
lahir lengkap pukul 17.25 wib.37
Membantu kelahiran placenta dengan menerapkan menejemen aktif
kala III, seperti peregangangan tali pusar terkendali dan masasse.
Pemasangan IUD pasca Placenta dilaksanakan sebagai bentuk partisipasi
64
ibu dalam penggunaan alat kontrasepsi. Kementrian kesehatan
menganjurakan pada masa pandemic saat ini diharapkan wanita atau ibu
pada masa reproduksi baik dianjurkan untuk menggunakan alat
kontrasepsi jangka panjang yang mana salah satunya adalah IUD.
Melakukan pemantauan kala IV, dimana dilakukan setiap 15 menit
pada 1 jam pertama dan 30 menit pada jam ke dua. Tujuan dilaksanakan
pemantauan adalah untuk mendeteksi komplikasi pasca salin seperti
terjadinya perdarahan yang disebabkan atonia uteri, dan stabilitasi ibu
dan bayi.
C. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
1. Pengkajian
Kasus ini dilakukan berdasarkan pengkajian data sekunder.
Riwayat antenatal ini adalah kehamilan pertama dengan umur kehamilan
40 minggu 3 hari. Riwayat intranatal bayi lahir pada tanggal 9/2/2022
jam 17.25 wib spontan ditolong oleh bidan. Lama persalinan kala I 6 jam,
kala II 25 menit, kala III 5 menit. Penilaian awal bayi baru lahir cukup
bulan, ketuban jernih, menangis kuat, tonus otot aktif, warna kulit
kemerahan. APGAR skor dalam 1 menit pertama 8, dalam 5 menit nilai 9
dan pada 10 menit bernilai 10. Setelah persalinan langsung dilakukan
IMD selama 1 jam. IMD merupakan Inisiasi Menyusu Dini, dimana bayi
dengan telanjang Badan diletakan pada perut ibu sehingga bayi berusaha
untuk mencari putting ibu sendiri. IMD bertujuan untuk meningkatkan
kedekatan ibu serta membantu proses involusi uteri, Berdasarkan
Penelitian Wiyati N (2012) menyebutkan bahwa IMD mempengaruhi
involusi uteri yang disebabkan oleh adanya rangsangan menyusu bayi
sehingga meningkatkan pengeluaran hormone oksitosin yang berfungsi
merangsang kontraksi payudara serta menyebabkan kontraksi uterus,
disamping itu hentakan kepala bayi, sentuhan tangan bayi ada putting ibu
serta isapan dapat membantu pengeluaran hormone oksitosin sehingga
dapat membantu involusi uteri dan pengurangan terjadinya perdarahan
ibu.38 Hasil pengkajian data menunjukan bahwa kondisi yang dilahirkan
Ny M merupakan bayi cukup bulan, yang mana diharapkan organ dalam
tubuh bayi telah mengalami perkembangan yang baik dan cukup.
Setelah dilakukan IMD, dilakukan pemeriksaan fisik dan hasilnya
dalam batas normal. Pola eliminasi bayi sudah mekonium segera setelah
65
lahir. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi Bayi dimana,
menilai berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar perut, lingkar
lengan serta tanda vital bayi untuk mengetahui lebih dini terdapat
kelainan pada bayi atau tidak.

2. Analisa
Analisa kasus ini By Ny. M BBLC SMK spontan usia 1 jam.
Masalah tidak ada
3. Pentalaksanaan
Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan memberitahu ibu setiap
hasil perkembangan proses persalinan ibu, berdasarkan Undang –
Undang no 36 th 2009 pasal 8. Dimana setiap orang berhak
mendapatkan informasi tentang data kesehatan diri, tindakan dan
pengobatan yang diberikan pada pasien.33
Melakukan pemeriksaan antropometri, memberikan salep mata anti
profilaksis pada mata kiri dan kanan, Sesuai dengan asuhan kepada bayi
baru lahir adalah dengan mencegah terjadinya infeksi pada anak,
memberikan Vit K bertujuan untuk mencegah terjadinya perdarahan otak,
serta salep mata sebagai pencegah terjadinya penularan infeksi mata.
Sesuai kewenangan bidan pada undang – undang no 28 tahun 2017 yang
menyatakan bahwa kewenangan bidan dalam memberikan asuhan kepada
bayi baru lahir adalah menjaga termoregulasi, memberikan dosis vitamin
k,memberikan salep mata, melakukan IMD.
Melakukan termoregulasi bayi, agar bayi tidak mengalami
kehilangan panas sehingga tidak terjadi hipotermia. Menurut Paula 2016
penurunan suhu pada bayi dapat mengarah keberbagai komplikasi dan
dapat meningkatkan risiko angka mortalitas dan morbiditas bayi baru
lahir, sehingga bayi perlu dilakukan pemeriksaan suhu rutin serta
menjaga bayi dari kehilangan panas dalam tubuhnya.
Memberitahu ibu untuk melakukan perawatan tali pusar ibu, yang
mana selalu menjaga keadaan pusar bayi selalu kering dan bersih.
Menurut penlitian Reni dian, 2018 menyatakan bahwa perawatan tali
pusar terbuka dibandingkan dengan talipusar tertutup kasa lebih cepat
kering dan terlepas atau puput pada bayi dengan perawatan terbuka,
dimana ditunjukan dengan rasio sik sebesar 1,226.39p
66
Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif, yaitu
memberikan ASI saja tanpa memberikan pendamping makanan lain
seperti susu formula, air putih, madu dan lainnya. Anjuran tersebut
memiliki dasar hukum berdasarkan SK Menkes
Nomor
450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6
bulan. Setiap bayi mempunyai hak untuk dipenuhi kebutuhan dasarnya
seperti Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Ekslusif, dan imunisasi serta
pengamanan dan perlindungan bayi baru lahir dari upaya penculikan dan
perdagangan bayi.

D. Asuhan Kebidanan Nifas


1. Pengkajian data
Pada kunjungan masa nifas dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada
kunjungan postpartum hari ke 1, postpartum hari ke 7, postpartum hari ke
14 dan postpartum hari ke 30. Pada kunjungan nifas pertama yaitu
tanggal 10/02/2022 pukul 10.25 WIB , ibu mengatakan nyeri jahitan pada
jalan lahir sejak persalinan tanggal 09/02/2022 jam 17.25 WIB. Umur
kehamilan 40 minggu 3 hari, melahirkan secara spontan dengan IUD
pascaplacenta, laserasi derajat 2 dan dilakukan penjahitan dengan
lidokain. Perdarahan kala III ±100 cc dan kala IV ±100cc. Lamanya
persalinan kala I selama 6 jam, kala II 25 menit, kala III 5 menit. Hal ini
sesuai dengan Penelitian Fatriyani 2020 dimana meneliti perbedaan lama
kala 1 dan 11 pada ibu primi dan multipara menunjukan terdapat
perbedaan yang signifikan dimana pada ibu multipara lebih cepat dengan
rata- rata waktu 245 menit ( 4,08 jam) dan pada ibu primigravida rata –
rata waktu 481 menit (8,01 jam). Dilakukan rawat gabung untuk
bounding antara ibu dan bayi. Pola nutrisi ibu sudah makan nasi, sayur
dan lauk serta minum air putih sudah ±3 gelas sejak persalinan. Ibu sudah
mandi dan sudah BAK, tapi belum BAB. Ibu sudah berjalan dari tempat
tidur ke kamar mandi. Kelahiran ini merupakan kelahiran yang sangat
dinantikan, keluarga besar menunggu dan mempersiapkan segala
kebutuhan ibu dan bayi. Kondisi ini sesuai dengan perubahan psikologis
ibu yaitu taking in, dimana ibu sedang mulai beradapatasi dengan peran
67
baru ibu, ibu masih mengingat jelas proses persalinannya sehingga
memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
Pada pemeriksaan tekanan darah 110/80 mmHg, colostrum sudah
keluar sedikit,. tidak teraba bendungan ASI, hasil pemeriksaan payudara
menunjukan bahwa payudara telah mengeluarkan jenis ASI pertama yang
baik yaitu colostrum, colostrum merupakan ASI pertama yang akan
keluar 1-3 hari setelah bersalin, mengandung berbagai macam nutrisi
yang baik untuk bayi, dan dapat membantu meningkatkan imunitas
bayi.23
Tfu 2 jari dibawah pusat dengan kontraksi baik, jahitan masih
basah dengan pengeluaran warna merah gelap dan kecoklatan, disini
termasuk dalam kategori Lochea rubra, menurut Anggraini 2010 lochea
tersebut muncul pada hari 1-3 Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa,
rambut lanugo, sisa mekonium dan sisa darah.
Pada kunjungan kedua dilakukan di rumah melalui saluran telefon
ibu pada tanggal 16/02/2022 jam 10.00 WIB. Pasien mengatakan tidak
ada keluhan sejak pulang dari PMB, Ibu mengatakan anaknya dalam
kondisi sehat dan ibu tidak memiliki keluhan. dalam kasus ini ibu berada
pada perubahan psikologis Letting go dimana ibu sudah secara mandiri
merawat bayinya yang kadang melibatkan orang lain dalam keluargannya
dan ibu merasa senang dengan peran barunya.23,18 Pasien sudah makan
seperti biasa dan tanpa pantangan apapun dan mengonsumsi makanan
tinggi protein. berdasarkan penelitian Fadelika MP (2018) menyebutkan
bahwa protein dapat membantu dalam pembentukan jaringan sel baru
dalam penyembuhan luka, disamping itu jika kekurangan protein dapat
mengakibatkan penurunan pada proses angiogenesis, penurunan
proliferasi fibroblas dan sel endotel, serta penurunan sintesis kolagen dan
remodeling.40 Istirahat saat bayi tidur dan bergantian dengan suami saat
malam hari menjaga bayinya. dalam kasus ini ibu berada pada perubahan
psikologis Letting go dimana ibu sudah secara mandiri merawat bayinya
yang kadang melibatkan orang lain dalam keluargannya dan ibu merasa
senang dengan peran barunya.23,18 Ibu mengatakan masih mengeluarkan
darah coklat kekuningan dan tidak ada masalah pada dirinya. Hal ini
menunjukan jenis lochea merupakan lochea sanguonelenta, lochea yang
keluar pada hari ke 3 sampai dengan hari ke -7.
68
Pada kunjungan ketiga postpartum hari ke 14 pada tanggal
23/02/2022 di PMB Widawati Rahayu, ibu mengatakan tidak ada keluhan
dan masalah selama masa nifas. Ibu mengatakan luka jahitan sudah
kering dan masih mengeluarkan darah sedikit – sedikit berwarna kuning
kecoklatan.
Asuhan terakhir pada masa nifas tanggal 11/03/2022 saat ini ibu
postpartum hari ke 30. Ibu mengatakan tidak ada keluhan, pengeluaran
ASI lancar, TFU tidak teraba, jahitan kering dan sudah tidak ada
pengeluaran dari jalan lahir. Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus
ini adalah memberikan KIE imunisasi bayi, KIE tanda bahaya pada ibu
dan bayi, KIE ASI Ekslusif.
2. Analisa
Analisa kasus Ny M usia 25 tahun P1A0Ah1 postpartum spontan
hari pertama terpasang IUD Pascaplacenta, dengan masalah nyeri jahitan
perineum serta belum mengerti tentang masa nifas dan memiliki
kebutuhan KIE nyeri jahitan perineum dan KIE masa nifas.
Analisis selanjutnya pada kunjungan kedua adalah Ny M Umur 25
tahun P1A0Ah1 dengan postpartum hari ke 7. Permasalahan ibu tidak
memiliki permasalahan, Kebutuhan mengingatkan kembali ibu untuk
tetap menjaga kondisi ibu, tetap memberikan ASI eksklusif, memantau
kembali apakah muncul tanda bahaya.
Analisis selanjutnya pada kunjungan ketiga adalah Ny M Umur 25
tahun P1A0Ah1 dengan postpartum hari ke 14 dan hari ke 30.
Permasalahan ibu tidak memiliki permasalahan. Penatalaksaan
Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan memberitahu ibu setiap
hasil perkembangan proses persalinan ibu, berdasarkan Undang – undang
no 36 th 2009 pasal 8. Dimana setiap orang berhak mendapatkan
informasi tentang data kesehatan diri, tindakan dan pengobatan yang
diberikan pada pasien.33
Memberi KIE istirahat dan tidur yaitu ibu membutuhkan tidur
sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Selama masa
ifas ibu harus cukup istirahat, apabila ibu kurang istirahat dapat
mengurangi produksi ASI, memperlambat proses pemulihan sistim
reproduksi.
69
Memberikan konseling nutrisi dimana ibu dianjurkan
mengonsumsi makanan yang tinggi protein dan tinggi karbohidrat serta
mineral, dimana nutrisi tersebut dapat membantu percepatan
penyembuhan luka maupun meningkatkan produksi jumlah ASI. Sesuai
penelitian yang dilakukan oleh Fadelika MP (2018) menyebutkan bahwa
protein dapat membantu dalam pembentukan jaringan sel baru dalam
penyembuhan luka, disamping itu jika kekurangan protein dapat
mengakibatkan penurunan pada proses angiogenesis, penurunan
proliferasi fibroblas dan sel endotel, serta penurunan sintesis kolagen dan
remodeling.40
Konseling penanganan nyeri, perawatan perineum. Konseling ini
diberikan untuk meningkatkan pengetahuan ibu untuk terhindar dari
terjadinya infeksi jalan lahir, sesuai PMK no 28 tahun 2017 menyatakan
perawatan asuhan ibu nifas adalah perawatan perineum, yang merupakan
salah satu cara pencegahan terjadi infeksi pada ibu nifas.
Konseling tehnik menyusui merupakan salah satu cara dalam
menentukan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya,
dengan teknik menyusui yang baik kualitas menyusui akan meningkat
baik serta kecukupan ASI pada bayi akan meningkat. Sesuai Penelitian
Kartika 2017 yang menyatakan adanya pengaruh atau hubungan tehnik
menyusui yang baik dengan kenaikan berat badan bayi yang ditunjukan
dengan nilai OR 38,882.41
Konseling tanda bahaya bertujuan meningkatkan kewaspadaan ibu
dan sebagai salah satu deteksi dini apabila ibu mengalami komplikasi,
tanda bahaya ini ditandai dengan adanya demam, pengeluaran darah yang
abnormal.
Memberikan obat vitamin A 2X200.000 IU/24jam, Amoxicilin
2x500mg/8 jam, tablet tambah darah 1x200mg/8jam dan asam
mefenamant 3x500mg/8jam Pemberian tablet besi adalah untuk
mengurangi angka kejadian anemia ibu pasca salin, dimana berdasarkan
penelitian Rahayu 2020 menyatakan bahwa pemberian tablet besi dapat
menurunkan risiko terjadinya anemia. Jurnal Coachran menjelaskan
Pemberian Antibiotik rutin adalah sebagai salah satu cara mencegah
terjadinya infeksi. Dan mencegah terjadinya endometriosisPemberian
70
Vitamin A diberikan untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, karena
masyarakat belum mampu membeli makanan yang kaya protein dan zat
gizi mikro.42,43

E. Asuhan Keluarga Berencana


Pada kasus ini Ny M telah ikut serta dalam penggunaan kontrasepsi
IUD pasca salin yang mana tindakannya telah dilakukan sejak 10 menit
pasca plasenta lahir. Dalam panduan pemasangan IUD pasca salin dapat
dipasang 10 menit setelah placenta lahir atau kurang dari 48 jam – 4
minggu pasca salin.
The American College Of Obstetricians and Gynecologists
(AGOC), Metode kontrasepsi jangka panjang pasca salin seperti IUD dan
Implan terbukti berhasil mengurangi kehamilan yang tidak diinginkan dan
tingkat aborsi. Metode kontrasepsi jangka panjang pasca salin dapat segera
dipasang atau sebelum pasien keluar dari rumah sakit.25
BBKBN 2017 menyatakan kontrasepsi yang cocok untuk ibu
menyusui adalah kontrasepsi pill laktasi, suntik 3 bulan, MAL, IUD
maupun implant. Pada masa pandemic covid saat ini pemerintah sedang
melaksanakan program Manajemen kontrasespsi jangka Panjang, yang
bertujuan untuk mengontrol atau mencegah peningkatan penularan
penyakit, serta menurunkan jumlah peningkatan penduduk. Seorang bidan
diharapkan melaksanakan peranannya sebagai mitra wanita sehingga
dapat meningkatkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang ini.44
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Mahasiswa mampu melakukan Pengkajian pada Ny M secara
komprehensif menggunakan pendekatan manajemen kebidanan pada
asuhan kebidanan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan nifas.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data objektif secara
komprehensif pada asuhan kebidanan kehamilan, persalinan, bayi baru
lahir dan nifas.
3. Mahasiswa mampu menentukan diagnosis potensial pada Ny M secara
komprensif dengan menggunakan pendekatan menejemen kebidanan pada
asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.
4. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan kebidanan pada Ny M secara
komprensif dengan menggunakan pendekatan menejemen kebidanan pada
asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.
5. Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny M secara
komprensif dengan menggunakan pendekatan menejemen kebidanan pada
asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.
6. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan kebidanan pada Ny M secara
komprensif dengan menggunakan pendekatan menejemen kebidanan pada
asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.

B. Saran
1. Bagi Bidan Puskesmas Turi
Diharapkan agar tenaga kesehatan khususnya Bidan, dapat melaksanakan
asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan KB sesuai dengan
keilmuan terbaru dan juga SOP yang ada.
2. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat memberikan asuhan kebidanan kehamilan, persalinan,
bayi baru lahir, nifas dan KB dengan preeklampsia secara komprehensif.
78

3. Bagi Klien
72
Dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan memahami tentang asuhan
kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan KB pada ibu.
Asuhan kebidanan yang diberikan sudah bagus dan sesuai dengan teori.
Sehingga tetap dipertahankan atau ditambahkan dengan asuhan kebidanan
yang terbaru.

DAFTAR PUSTAKA
73
1. Dinas Kesehatan DIY. Profil Kesehatan D.I Yogyakarta tahun 2018. Profil
Kesehat Drh Istimewa Yogyakarta tahun 2018. 2019:32.
[Link]
2. Kabupaten PK. Kabupaten Sleman Tahun 2020. Dinas Kesehat Sleman.
2020;(0274):865000.
3. Hardiningsih H, Yunita FA, Nurma Yuneta AE. Analisis Implementasi
Continuity of Care (CoC) di Program Studi D III Kebidanan UNS.
PLACENTUM J Ilm Kesehat dan Apl. 2020;8(2):67.
doi:10.20961/placentum.v8i2.43420
4. I A C M, I Bagus G. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan KB.
Jakarta:
EGC; 2010.
5. Siti P, Alif T. praktik klinik kebidanan III. 2016.
6. Tan EK, Tan EL. Alterations in physiology and anatomy during pregnancy.
Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2016;27(6):791-802.
doi:10.1016/[Link].2013.08.001
7. Goldstein RF, Abell SK, Ranasinha S, et al. Association of gestational
weight gain with maternal and infant outcomes: A systematic review and
meta-analysis. JAMA - J Am Med Assoc. 2017;317(21):2207-2225.
doi:10.1001/jama.2017.3635
8. Wiknjosastro, G. H, dan Rachimhadhi T (ed). Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2016.
9. RI KK. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: :Kemenkes [Link]
Jenderal Bina Gizi dan KIA; 2015.
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Ajar Kesehatan Ibu Dan
Anak.; 2015.
11. Kementerian kesehatan R. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA; 2014.
12. Douglas Wilson R, Audibert F, Brock JA, et al. Pre-conception Folic Acid
and Multivitamin Supplementation for the Primary and Secondary
Prevention of Neural Tube Defects and Other Folic Acid-Sensitive
Congenital Anomalies. J Obstet Gynaecol Canada. 2015;37(6):534-549.
doi:10.1016/S1701-2163(15)30230-9
13. Nanny lia V, Sunarsih T. Asuhan Kehamilan Untuk Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika; 2010.
74
14. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Neonatal Essential. 2010:160.
15. Kemenkes. Pentingnya Pemantauan Kesehatan Pada Masa Periode Emas
Balita. Jakarta: Kemenkes RI; 2015.
16. Dewi, Vivian Nanny Lia. (2010). Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita.
Jakarta: Salemba Medika.
17. Marmi K, R,. 2015. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, Dan Anak Prasekolah.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
18. Astutik RY. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Dan Menyusui. Jakarta: Trans
Info Media; 2015.
19. Anggraini Y. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta: Pustaka
Rihama; 2010.
20. Varney H, King TL, Brucker MC, Kriebs JM, Fahey JO, Gregor CL.
Varney’s Midwifery Fifth Edition. Burlington: Jones and Bartlett Learning;
2015.
21. Bidan dan Dosen Kebidanan Indonesia. Kebidanan Teori Dan Asuhan
Volume 2. Jakarta: EGC; 2018.
22. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics 24th
Edition. United States: McGraw-Hill Education; 2014.
23. Sutanto AV. Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui: Teori Dalam Praktik
Kebidanan Profesional. Yogyakarta: Pustaka Baru Press; 2018.
24. Stephan dan Ariyani. Gambaran perilaku pemakaian kontrasepsi pasca
persalinan pada wanita usia subur di desa gelgel, Klungkung-Bali
Published. Intisari Sains Medis. 2017;8(2):144-146.
doi:10.1556/ism.v8i2.130
25. Stanton TA, Blumenthal PD. Postpartum hormonal contraception in
breastfeeding women. Curr Opin Obstet Gynecol. 2019;31(6):441-446.
doi:10.1097/GCO.0000000000000571
26. Averbach S, Kakaire O, Kayiga H, et al. Immediate versus delayed
postpartum use of levonorgestrel contraceptive implants: a randomized
controlled trial in Uganda. Am J Obstet Gynecol. 2017;217(5):568.e1-
568.e7. doi:10.1016/[Link].2017.06.005
27. Kemenkes RI. Panduan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan
Reproduksi Dalam Situasi Pandemi COVID-19. kemenkes RI. 2020:5.
75
28. Hidayati U. Systematic Review: Senam Hamil Untuk Masa Kehamilan Dan
Persiapan Persalinan. PLACENTUM J Ilm Kesehat dan Apl. 2019;7(2):8.
doi:10.20961/placentum.v7i2.29732
29. Informasi PD dan. Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan
Eliminasi Tetanus Maternal Neonatal. Vol 148. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Indonesia; 2012.
30. Saifuddin. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal.; 2014.
31. Shiddiq A, Lipoeto NI, Yusrawati Y. Hubungan Pertambahan Berat Badan
Ibu Hamil terhadap Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman. J Kesehat Andalas.
2015;4(2):472-477. doi:10.25077/jka.v4i2.276
32. Fitriahadi E, Utami I. Buku Ajar Asuhan Persalinan & Managemen Nyeri
Persalinan. Univ Aisyiyiah Yogyakarta. 2019:284 hlm.
33. Indonesia PR. Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan. 2009.
34. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. PMK NO 28 Tahun 2017. Vol
87.; 2017.
35. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberian Tablet
Tambah Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil. 2020:24.
36. Indonesia P. Peraturan Pemerintah No 61 tahun 2014. Pres Republik
Indones. 2014;6(11):951-952.
37. Suprapti, Herawati M. Praktik Klinik Kebidanan II. (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, ed.). Jakarta; 2018.
38. Wiyati N. Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Kecepatan Involusi
Uteri pada Pada Ibu Postpartum. Kesehat Ibu dan Anak. 2012;Volume
2(2):19-22.
39. Reni DP, Nur FTi, Cahyanto EB, Nugraheni A. Perbedaan Perawatan Tali
Pusat Terbuka Dan Kasa Kering Dengan Lama Pelepasan Tali Pusat Pada
Bayi Baru Lahir. PLACENTUM J Ilm Kesehat dan Apl. 2018;6(2):7.
doi:10.20961/placentum.v6i2.22772
40. Fedelika MP, Rahayu DE, Sendra E. Pengaruh Konsumsi Ikan Lele
Terhadap Lama Pentyembuhan Luka Jahitan Perineum. Glob Heal Sci.
2018;3(1):339-345.
41. Sari DK, Tamtomo DG, Anantayu S. Hubungan Teknik, Frekuensi, Durasi
Menyusui dan Asupan Energi dengan Berat Badan Bayi Usia 1-6 Bulan di
Puskesmas Tasikmadu Kabupaten Karanganyar Relations Techniques ,
76
Frequency , Duration of Breastfeeding and Energy Intake With Weight
Babies in Age 1-. Amerta Nutr. 2017;1(1):1-13.
doi:10.20473/amnt.v1.i1.2017.1-13
42. Bonet M, Ota E, Chibueze CE, Oladapo OT. Reducing maternal infectious
morbidity (Review ). Cochrane Database Syst Rev. 2017;(11).
doi:10.1002/[Link] 43.
Kemenkes. Panduan Manajemen Terintegrasi Suplementasi Vitamin a.
2016:69.
44. BKKBN. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Pelayanan Keluarga Berencana
Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran. Pelayanan Kel Berencana Pasca
Persalinan dan Keguguran. 2017;1(1):64.
ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN NY M USIA 25 TAHUN
G1P0A0 UK 38+1 MINGGU DENGAN KEHAMILAN NORMAL DI
Puskesmas Turi
Pengkaji : Eri Wuryati
Waktu Pengkajian : 21 Januari 2022
Tempat : Puskesmas Turi BIODATA

Istri Suami
Nama : Ny. M Nama : Tn. P
Umur : 25 Tahun Umur : 25 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan, swasta Pekerjaan : Buruh
Alamat : Kendal Bangunkerto Turi Sleman

I. DATA SUBYEKTIF
1. Keluhan Utama
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
2. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 22 Tahun. Menikah sudah 3 Tahun
3. Riwayat Menstruasi
Menarche usia 13 Tahun. Siklus haid 28 hari. Teratur dan lama menstruasi
7 hari. HPHT 29-04-2021 HPL 06-02-2022
4. Riwayat Kehamilan
a. Riwayat ANC
ANC sejak umur kehamilan 8 minggu 4 hari.
b. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 18 minggu.
Pergerakan janin dalam waktu 12 jam terakhir >10 kali.
c. Imunisasi TT
Status imunisasi TT yaitu TT4 atau TT caten pada 2019
5. Riwayat Obstetri
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan pertama.
6. Riwayat Kontrasepsi
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan KB sebelumnya.
7. Riwayat Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari

a. Pola Nutrisi Makan Minum


Frekuensi : 3x/sehari >8gelas/hari
Macam : nasi, sayur, lauk Air putih,
susu
Jumlah : 1 porsi 1 gelas
Keluhan : T.a.k T.a.k
b. Pola Aktivitas
Kegiatan : Ibu mengatakan setiap hari dirumah
sehari-hari mengerjakan kegiatan rumah tangga.

Istirahat : Malam ± 8 jam dan tidur siang


minimal 1 jam
c. Kebiasaan Sehari-hari
Ibu mengatakan keluarga ada yang merokok dan ibu
tidak minum jamu.
7 Riwayat Kesehatan
a. Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik seperti
asma, jantung, diabetes, dan hipertensi.
b. Ibu mengatakan tidak ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan
jiwa.
c. Ibu mengatakan tidak ada riwayat keturunan kembar.
8 Riwayat psikologi spiritual
Ibu mengatakan ini kehamilan yang diharapkan.

II. DATA OBYEKTIF


1. Pemeriksaan Umum
a. KU dalam kondisi baik Kesadaran composmentis
b. Tanda vital
TD :112/60 mmHg
c. Antropometri
TB : 150 cm
BB sebelum hamil : 43kg
BB sekarang : 55 kg
LLA : 25 cm
IMT : 24,4 kg/m2
d. Kepala dan Leher
Mata : konjungtiva merah muda, sklera putih
e. Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar dan vena
Jugularis
f. Payudara : ASI (-) , Puting menonjol, aerola hiperpigmentasi.
g. Abdomen
Bentuk : Membesar memanjang
Bekas Luka : Tidak ada luka bekas operasi Palpasi
Leopolod I : Teraba bulat lunak, tidak melenting
(bokong). Tfu 31 cm.
Leopold II : Bagian kiri teraba keras, tahanan kuat dan datar
(punggung).
Leopold III : Teraba bulat keras, melenting (kepala)
Leopold IV : Kepala masuk PAP (divergen) Auskultasi
DJJ : 146 x/menit
h. Ekstremitas
Oedem : -/-
Varices : -/-
Reflek patela : +/+
2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 31/12/2021
Hb 12 gr/dL
Protein urin : negatif (-)
III. ANALISA
Diagnosa :
Ny. M usia 25 Tahun G1P0A0 UK 38 minggu 1 hari dengan kehamilan
fisiologis.
Masalah :
Tidak ada masalah

IV. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa saat ini
kondisi ibu dan janin sehat, dan ibu dapat melakukan senam hamil.
E : Ibu tampak lega mendengarnya
2. Memberikan KIE pola istirahat ibu agar mencukupi kebutuhan istirahat
sehari-hari selama hamil. Tidur malam minimal 7 jam dan siang
minimal 2 jam. E: Ibu mengerti
3. Memberi KIE pola nutrisi yaitu seimbang karbohidrat, lemak, protein
dan vitamin selama hamil.
E : Ibu mengerti.
4. Memberi KIE perencanaan persalinan yaitu memastikan tempat
persalinan, penolong persalinan, pendamping
persalinan,alat transportasi, pendonor darah apabila dibutuhkan, dan
perlengkapan ibu dan bayi.
E : Ibu paham dengan penjelasan petugas.
5. Memberi KIE tanda-tanda persalinan yaitu kontraksi teratur setiap 10
menit, keluar lendir darah dari jalan lahir, keluar cairan ketuban dari
jalan lahir disertai tanda-tanda persalinan yang lain.

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal : 28/01/2022 Data Subjektif :


1. Keluhan :
Ibu mengatakan khawatir sudah merasakan kenceng – kenceng kadang
kadang.
2. Riwayat Pemenuhan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi Makan Minum Frekuensi : 3x/sehari >8gelas/hari
Macam : nasi, sayur, lauk Air putih, susu
Jumlah : 1 porsi 1 gelas Keluhan :
T.a.k T.a.k
b. Pola Aktivitas
Kegiatan sehari-hari : Ibu mengatakan setiap hari dirumah
mengerjakan kegiatan rumah tangga.
Istirahat : malam ± 8 jam dan tidur siang
minimal 1 jam
c. Kebiasaan Sehari-hari
Ibu mengatakan keluarga tidak ada yang merokok dan ibu tidak minum
Jamu.
3. Riwayat Psikospritual
Ibu mengatakan khawatir karena belum merasakan tanda persalinan.
Data Objektif :
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan
Umum

: Baik
Kesadaran : Composmentis
2. Antropometri
BB sekarang : 55 kg
3. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
4. Pemeriksaan fisik
Payudara : puting menonjol, aerola hiperpigmentasi, colostrum
sudah keluar. Abdomen:
Leopold I : Teraba bulat, lunak ( Kepala ). TFU 32 cm.
Leopold II : Teraba keras, memanjang, tahanan kuat diperut sebelah kiri
(punggung)
Leopold III : Teraba bulat, keras, tidak bisa digoyangkan (Kepala)
Leopold IV : Kepala sudah masuk PAP (divergen).
Auskultasi
DJJ : 144x/m
5. Pemeriksaan Penunjang tidak ada

Analisa
Ny M usia 25 Tahun G1P0A0 UK 39 minggu 1 hari dengan kehamilan
normal

Penatalaksanaan
1. Memberitahu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa kondisi ibu dan
janin baik-baik saja.
E : Ibu agak lega mendengarnya.
2. Memberi KIE untuk memantau gerakan janin dalam 12 jam harus > 10 kali.
E : Ibu mengerti.
3. Memberikan konseling tentang tanda persalinan seperti kenceng – kenceng
yang sering setiap 3 – 4 kali dalam 10 menit, keluarnya cairan ketuban dari
jalan lahir, keluarnya flek dari jalan lahir
E : Ibu menerima dukungan dari bidan
4. Memberitahu ibu untuk melakukan stimulasi mandiri dengan melakukan
hubungan seksual dengan sperma dimasukan kedalam rahim, pikiran rileks
dan tidak stress
Evaluasi: ibu mengerti.
5. Menganjurkan ibu melanjutkan konsumsi tablet tambah darah 1x1 dan
kalsium 1x1.
Evaluasi: ibu mengerti
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan 1 minggu lagi atau jika ada
tanda persalinan.
7. Dokumentasi.
PRODI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
Jalan Mangkuyudan MJ III/304 Yogyakarta 55143 Telp (0274) 374331
ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PADA MASA PERSALINAN PADA
NY. M UMUR 25 TAHUN, G1P0A0 HAMIL 40+3 MINGGU

PERSALINAN NORMAL DENGAN PEMASANGAN IUD


POST PLASENTA DI PMB W

No register : 15/II/2022
Pengkajian : 9 Februari 2022 pukul : 07.00 WIB
A. Data Subjektif
Biodata Ibu Suami
Nama : Ny. M Tn. P
Umur : 25 tahun 25 tahun
Pendidikan : SMA SMP
Pekerjaan : Swasta Buruh
Agama : Islam Islam
Alamat : Kendal Bangunkerto Turi
No. Hp : 08864150XXX
1. Alasan datang/dirawat
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaannya
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan kenceng-kenceng teratur dan keluar lendir bercampur darah sejak
tanggal 08-02-2022 jam 23.30 WIB. Ibu mengeluh nyeri pada atas
kemaluan
3. Riwayat menstruasi
Menarche : 14 tahun Siklus : 28-30 hari
Lama : 7-8 hari Teratur : ya
Sifat darah : encer, merah agak kehitaman
Keluhan : merasa nyeri saat hari pertama dan kedua dan masih bisa
Melakukan aktifitas
HPHT : 29-04-2021
4. Riwayat perkawinan
Status perkawinan: sah Menikah ke: satu
Lama: 3 tahun Usia menikah pertama kali: 22 tahun
5. Riwayat obstetrik : G1 P0A0
6. Riwayat kontrasepsi yang digunakan Ibu mengatakan tidak pernah ber KB

7. Riwayat Kehamilan Sekarang


a. HPHT : 29-04-2021
HPL : 06-02-2022
b. ANC pertama umur kehamilan : 8+4 minggu
c. Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi : 4 kali, Tempat : Puskesmas dan PMB Widawati
Rahayu
Oleh : bidan
Keluhan : mual, muntah
Komplikasi : tidak ada
Terapi : asam folat, B6
Trimester II
Frekuensi : 4 kali, Tempat : Puskesmas dan PMB Widawati
Rahayu
Oleh : bidan
Keluhan : tidak ada
Komplikasi : tidak ada
Terapi : FE, kalk
Trimester III
Frekuensi : 6 kali, Tempat : Puskesmas dan PMB Widawati
Rahayu
Oleh : bidan
Keluhan : tidak ada
Komplikasi : tidak ada
Terapi : fe, kalk
d. Imunisasi TT : TT 5
TT 1 : tanggal (bayi)
TT 2 : tanggal (sd)
TT 3 : tanggal (sd)
TT 4 : tanggal (caten)
8. Riwayat Persalinan Sekarang
Ibu mengatakan kenceng-kenceng teratur dan keluar lendir bercampur
darah sejak tanggal 08-02-2022 jam 23.30 WIB. Ibu mengeluh nyeri
pada atas kemaluan
9. Riwayat Kesejahteraan Janin Gerakan janin aktif
10. Riwayat Penyakit
Ibu tidak pernah menderita penyakit Asma, TBC, Jantung, Hipertensi, dan
Hepatitis B.
11. Riwayat nutrisi dan eliminasi
Makan-minum terakhir tanggal 08-02-2022 jam 19.00 WIB
BAK terakhir tanggal 09-02-2022, jam 04.00WIB
BAB terakhir tanggal 09-02-2022, jam 04.00 WIB

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
Status emosional : Stabil
Tanda vital :
Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 84 x/menit
Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36,5˚C
BB : 55 kg TB : 150cm
Lila : 25 cm
IMT : 24,4Kg/m2
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Rambut Hitam, bersih, tidak ada ketombe
Wajah : bulat, tidak ada cloasma gravidarum
Mata : bersih, sclera putih, konjungtiva merah muda
Hidung : bersih
Mulut : bersih
Telinga : bersih, pendengaran baik
Leher : tidak teraba pembengkakan kelenjar tiroid, limfe, dan vena
jugularis
Payudara : simetris, areola tampak menghitam, puting menonjol, ASI
Belum keluar
Abdomen : terjadi embesaran, terdapat linea nigra
Palpasi Leopold
Leopold I : TFU3 jari dibawah PX, teraba lunak, tidak melenting
(bokong)
Leopold II : Perut kiri teraba luas,datar seperti papan,ada tahanan
(punggung), perut kanan teraba bagian kecil janin
(ekstremitas)
Leopold III : Teraba bulat,keras dan melenting (kepala)
Leopold IV : Kepala/Bagian terendah janin sudah masuk panggul
Pemeriksaan Mc. Donald : TFU 31 cm, TBJ 2945 gram
Auskultasi DJJ : 150x/menit, regular
Penurunan kepala : 1/5
Kontraksi : 3x 10 menit duras 25 detik
Genetalia :
Periksa dalam : 09-02-2022/ 07.30 WIB oleh : bidan
Indikasi : ibu sudah merasa knceng-kenceng teratur dan keluar lendir darah
dari jalan lahir
Tujuan : untuk mengetahui kemajuan persalinan
Hasil :vulva uretra tenang, dinding vgina licin, serviks tebal lunak,
pembukaan 1cm, selaput ketuban utuh presentasi kepala, molase
tidak ada, hodge 1, STLD positif, AK negatif
Ekstremitas Atas: kuku merah muda, tidak ada bengkak
Ekstremitas Bawah : kuku merah muda tidak ada bengkak
3. Pemeriksaan Penunjang
Tgl periksa 31/12/21: Hb 12
Tgl Periksa 14/01/22: PITC: NR

C. Analisis
Diagnosa Kebidanan.
Ny. M umur 25 tahun G1P0A0 Umur kehamilan 40 +3 minggu, janin tunggal, hidup,
intrauterine, puki, masuk PAP dalam persalinan kala I fase laten.

D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan bahwa keadaan
ibu dan janin baik dan masih pembukaan 1 cm
Evaluasi : ibu dan keluarga sudah mengerti penjelasan bidan
2. Melakukan Observasi Kala 1 meliputi Observasi tekanan darah, suhu tiap
4 jam sekali, nadi tiap 30-60 menit sekali, DJJ dan his tiap 1 jam sekali,
pada ibu.
Evaluasi: Telah dilakukan Observasi dan telah tercatat di lembar
observasi, kemudian akan direncanakan pemeriksaan dilatasi serviks per 4
jam atau apabila ada indikasi, memberitahu ibu untuk melakukan relaksasi
ketika muncul kontraksi dengan mengatur pernafasan yaitu menghirup
nafas panjang dan dikeluarkan. Memberitahu ibu untuk miring kiri atau
ibu bisa berjalan-jalan disekitar klinik. Serta memberitahu ibu untuk tidak
mengejan selama belum dipimpin untuk mengedan karena mengakibatkan
jalan lahir bengkak.
3. Memberitahu ibu dan keluar untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi
disela kontraksi untuk persiapan tenaga saat mengejan.
Evaluasi: Makanan dan minuman telah disediakan dan Ibu diminta untuk
menghabiskan makanan yang telah disediakan serta memberitahu suami
untuk proaktif dalam membantu ibu untuk makan dan minum setiap ibu
tidak dalam keadaan kontraksi.
4. Meminta suami dan keluarga untuk mendampingi ibu bersalin. Evaluasi :
Suami dan Keluarga tampak mendampingi ibu dan memberikan support
mental pada ibu untuk menghilangkan rasa cemas dan takut serta
meyakinkan ibu bahwa ini merupakan proses alamiah dalam menuju
persalinan serta suami memberikan massase di punggung ibu agar dapat
mengurangi rasa sakitnya
5. Memberitahu ibu dan keluarga agar tidak perlu khawatir dengan kenceng-
kencengnya karena kepala janin sudah masuk dan dalam proses persalinan,
ibu dapat beristirahat dahulu apabila tidak ada kontraksi.
Evaluasi: ibu telah mendengarkan penjelasan bidan dan ibu mulai merasa
tenang.
6. Memberitahu ibu bahwa ibu boleh berjalan ke kamar mandi apabila ibu
ingin buang air kecil dan meminta ibu untuk tidak menahan buang air kecil
karena dapat mengganggu proses penurunan kepala janin.
Evaluasi: ibu mengerti dan akan berjalan ke kamar mandi apabila mulai
merasakan ingin buang air kecil.
7. Memberitahu dan mengingatkan ibu dan suami kembali bahwa nanti akan
dipasangkan KB IUD sesuai kesepakatan saat kunjungan hamil , dan
menjelaskan kepada ibu bahwa IUD akan dipasang kedalam rahim ibu 10
menit setelah plasenta.
Evaluasi : ibu dan suami sudah mengerti dan bersedia
8. Mempersiapkan alat partus set, resusitasi set, hecting set, air sabun, air
klorin, APD, tempat plasenta, IUD set dan obat-obatan.
Evaluasi: semua partus set sudah dipersiapkan.

LEMBAR OBSEVASI
Tgl / Jam His Keterangan Petugas
9-2-2022 2 x 10’30” Vital Sign
08.00 sedang TD :120/80 mmHg,
N: 76 x/menit, R:
19x/menit,
S:36,5 C
DJJ : 150x/mnt-
09.00 2 x 10’30” : 78x/menit, R : 19x/menit,
sedang DJJ : 136 x/menit
10.00 3 x 10’30” : 80x/menit, R : 20x/menit,
sedang DJJ : 140 x/menit
11.30 3 x 10’35” Vital Sign
sedang TD :110/80 mmHg,
N: 83 x/menit, R:
21x/menit,
S:36,7 C
DJJ : 148 x/mnt
D : vulva uretra tenang,
dinding vagina licin,
serviks lunak, pembukaan 5
cm, selaput ketuban utuh
presentasi kepala, molase
tidak ada, hodge 2,UUK
jam 9 STLD +,
AK -
12.00 3 x 10’40” : 83x/menit, R : 20x/menit,
sedang DJJ : 145x/menit
12.30 3 x 10’35” : 82x/menit, R : 20x/menit,
Kuat DJJ : 145x/menit
14.00 3 x 10’35” : 82x/menit, R : 20x/menit,
Kuat DJJ : 145x/menit
14.30 3 x 10’40” : 86x/menit, R : 20x/menit,
kuat DJJ : 145x/menit
15.00 3 x 10’40” : 86x/menit, R : 20x/menit,
kuat DJJ : 145x/menit
15.30 4 x 10’40” Vital Sign
Kuat Ibu TD :110/70 mmHg,
mengataka N: 76 x/menit, R:
n 20x/menit,
ingin S:36,5 C
mengejan DJJ:148x/mnt
dan BAB PD: vulva uretra tenang,
dinding vagina licin,
serviks tidak teraaba,
pembukaan 8 cm, selaput
ketuban negatif
Tgl / Jam His Keterangan Petugas
presentasi kepala, molase
tidak ada, hodge 3, UUK
jam
12, STLD +, AK jernih
17.00 4x10’45” Ibu TD :120/70 mmHg,
mengatakan N: 76 x/menit, R: 20x/menit,
sudah sangat S:36,5 C
ingin DJJ:148x/mnt
BAB PD: vulva uretra tenang,
dinding vagina licin, serviks
tidak teraaba, pembukaan 10
cm, selaput ketuban negatif
presentasi kepala, molase
tidak ada, hodge 3, UUK
jam
12, STLD +, AK jernih
92
CATATAN PERKEMBANGAN
NAMA :Ny. M [Link] : 15/II/2022
DATA PENATALAKSANAN
Tgl / Jam SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF ANALISA
JAM KEGIATAN

09/02/2022 Ny. M ingin Vital Sign Ny. M umur 25 17.00 1. Menjelaskan kepada ibu bahwa hasil pemeriksaan ibu dan janin
JAM 17.00 mengejan dan TD :110/80 mmHg, tahun G1P0A0 dalam keadaan normal, pembukaan sudah lengkap namun
ingin BAB N: 83 x/menit, R: UK selaput ketuban belum pecah sehingga akan segera dilakukan
40+3 minggu
21x/menit, S:36,7 C amniotomi/ dirobek secara manual agar kepala janin semakin
Inpartu kala II turun dan mempercepat proses persalinan. Ibu sudah boleh
PD: vulva uretra
mengejan setelah ketuban pecah agar bayi terdorong keluar.
tenang, dinding vagina
Evaluasi : Ibu bersedia untuk dilakukan amniotomi.
licin, serviks tidak 2. Melakukan amniotomi pada saat tidak ada his dengan
teraaba, pembukaan 10 memperhatikan [Link] ketuban telah robek, air
cm, selaput ketuban ketuban jernih dan tidak ada bagian janin yang menumbung.
3. Melibatkan suami dan keluarga untuk mendukung proses
utuh presentasi kepala, [Link] menghendaki untuk didampingi suami saat
molase tidak ada, bersalin.
hodge 3, UUK jam 12, 4. Melakukan persiapan diri menggunakan APD sesuai protokol
kesehatan yaitu menggunakan APD level 2 dan mendekatkan
STLD +, AK jernih.
alat partus. APD telah dipakai dan alat partus telah didekatkan.
5. Mengatur posisi yang nyaman tanpa membahayakan janin. Ibu
memilih mengejan dengan miring ke kiri.
6. Mengajarkan kepada ibu cara mengejan yang efektif yaitu
mengejan saat puncak kontraksi, dengan mengambil nafas
panjang kemudian mengejan seperti BAB dan berhenti mengejan
saat kontraksi berhenti. Istirahat pada saat kontraksi hilang. Ibu
mampu mengejan dengan baik sesuai dengan instruksi

7. Memberi ibu minum manis agar ibu tidak dehidrasi pada saat
93
tidak ada kontraksi. Ibu bersedia minum susu pada saat tidak ada
kontraksi.
8. Memeriksa DJJ setiap tidak ada kontraksi. DJJ dalam batas
normal.
9. Menolong persalinan sesuai dengan APN.
Setelah tampak kepala bayi berdiameter 5-6 cm, menganjurkan
ibu untuk merubah posisi dengan setengah duduk saat tidak ada
kontraksi. Persiapan pertolongan kelahiran bayi, pasang handuk
diatas perut ibu, pakai sarung tangan, pasang kain 1/3 pada
bokong ibu, lindungi perineum ibu, mengecek apakah ada lilitan
tali pusat, tunggu bayi melakukan putaran paksi luar, tangan
biparietal untuk melahirkan bahu depan dan belakang, sanggah
bahu bayi, susuri badan bayi sampai ke tungkai, nilai sepintas
lalu letakkan di atas perut ibu, keringkan bayi dengan seksama.
Bayi telah lahir tanggal 09-02-2022, jam: 17.25 WIB, menangis
kuat, kemerahan, tonus otot baik, JK laki-laki, BB 3000 gr.

CATATAN PERKEMBANGAN NAMA :Ny. M [Link] : 15/II/2022


94
DATA PENATALAKSANAN
Tgl / Jam SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF ANALISA
JAM KEGIATAN

9/2/2022 Ny. M merasa KU : baik, Ny. M umur 17.30 1. Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu dan bayi dalam keadaan
JAM 17.30 masih mules TD : 110/70 mmHg 25 tahun baik. Saat ini plasenta belum lahir dan akan segera
N : 80 x/mnt P1A0Ah1 [Link] mengerti dengan penjelasan yang diberikan.
dalam 2. Melakukan MAK III :
S: 36,5˚C persalinan
R : 20 x/mnt a. Memeriksa kembali uterus dengan meraba abdomen untuk
kala III
TFU setinggi pusat memastikan tidak ada janin kedua.
Kontraksi uterus: keras b. Menjelaskan dan memberitahu ibu akan disuntik agar uterus
Kandung kemih: berkontraksi dengan baik.
kosong Inspeksi c. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, berikan injeksi
vulva : tampak tali Oksitoxin 10 IU secara IM pada 1/3 paha atas bagian distal
pusat di depan vulva lateral.
Perdarahan : 100 cc d. Melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) di atas perut ibu
Terdapat tanda-tanda dan menjaga kehangatan bayi dengan memberikan selimut
kala III: semburan dan topi.
darah dari jalan lahir, e. Memindahkan klem tali pusat 5-10 cm dari vulva.
uterus globuler, tali f. Melakukan PTT (Peregangan Tali Pusat Terkendali), saat
pusat bertambah ada kontraksi tangan kiri berada di atas simpisis melakukan
panjang. dorsocranial dan tangan kanan melakukan PTT hingga
plasenta keluar dari jalan lahir.
g. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan kedua tangan pegang dan putar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin, kemudian lahirkan. Plasenta lahir
spontan tanggal: 09-082022, jam: 17.30 WIB
h. Memastikan pada rahim tidak ada bagian yang tertinggal
placenta dengan melakukan eksplorasi untuk persiapan
pemasangan IUD pasca placenta
i. Memeriksa kelengkapan plasenta dari sisi maternal
kotiledon lengkap, dari sisi fetal insersi tali pusat sentralis,
95
terdapat 2 arteri 1 vena, selaput korion utuh. Tempatkan
plasenta pada wadahnya.
Memberitahu ibu akan dilakukan pemasangan iud pasca
3. plasenta.
a. Setelah plasenta dilahirkan dan sebelum perineorafi,
melakukan kembali toilet vulva (membersihkan bagian
vulva)
b. mengganti sarung tangan dengan yang baru.
c. memegang AKDR dengan jari telunjuk dan jari tengah
kemudian dipasang secara perlahan-lahan melalui vagina
dan servik
d. sementara itu tangan yang lain melakukan penekanan pada
abdomen bagian bawah dan mencengkeram uterus untuk
memastikan AKDR dipasang di tengah-tengah yaitu di
fundus uterus.
e. Tangan pemasang dikeluarkan perlahan-lahan dari vagina.
Evaluasi : IUD sudah terpasang

CATATAN PERKEMBANGAN NAMA


:Ny. M [Link] : 15/II/2022

DATA PENATALAKSANAN
96
Tgl / Jam SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF ANALISA JAM KEGIATAN

9/2/2022 Ny. M Ibu KU : baik, Ny. M umur 25 17.40 1. Menjelaskan kepada ibu bahwa plasenta telah lahir dan kondisi
JAM 17.40 mengatakan TD : 110/70 mmHg tahun P1A0Ah1 ibu baik.
perutnya N : 85 x/mnt dalam persalinan Ibu sangat senang mendengar penjelasan tersebut.
masih terasa S: 36,5˚C kala IV 2. Melakukan penjahitan perineum dengan menggunakan lidocain
mulas. R : 20 x/mnt 1%.
Palpasi : TFU 2 jari di Perineum ibu telah selesai dijahit.
bawah pusat 3. Merapihkan dan membersihkan ibu menggunakan waslap dan air
Kontraksi uterus: keras DTT, memakaikan pembalut dan kain bersih.
Kandung kemih: Ibu tampak nyaman.
kosong 4. Melakukan dekontaminasi, pencucian dan menyeterilkan alat-alat
Perineum: robekan partus.
derajat II 5. Melakukan pemantauan tekanan darah, nadi, TFU, kontraksi
rahim, kandung kemih dan jumlah perdarahan setiap 15 menit
perdarahan: ± 100 cc
pada jam pertama, dan setiap 30 menit pada jam kedua
pascapersalinan. Hasil pemeriksaan normal, terlampir dalam
lembar partograf.
6. Mengajarkan ibu cara masase uterus dengan telapak tangan,
memutar searah jarum jam.
Ibu sudah bisa melakukan masase uterus
7. Menyarankan ibu untuk melakukan mobilisasi di tempat tidur.
Ibu mengikuti saran yang diberikan.
97
8. Menganjurkan ibu makan dan minum untuk memenuhi
kebutuhan nutrisinya.
Ibu mau minum serta makan.
9. Menyarankan ibu untuk segera mengosongkan kadung kemih saat
terasa ingin BAK.
Ibu mengikuti saran yang diberikan.
[Link] terapi obat kepada ibu: Asam Mefenamat 500 mg/ 8
jam (10 tablet), Vitamin A 1x1 (2 kapsul), Tablet Fe 1x1 (30).
Terapi obat telah diminum ibu.
[Link] pendokumentasian observasi pada partograf.
Partograf terlampir.
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR BY. NY M CUKUP BULAN, SMK
USIA 1 JAM SETELAH LAHIR DI PMB W

Masuk PMB Tgl : 9/2/2022 jam 18.25 WIB

DATA SUBJEKTIF
1. Riwayat Antenatal
G1P0A0 Umur Kehamilan 40 minggu 3 hari.
Riwayat ANC : Teratur, 15 kali di PMB dan Puskesmas.
Imunisasi TT : TT4
Kenaikan BB : 12 Kg
Keluhan saat hamil : mual muntah pusing pegel
Penyakit selama hamil : ibu mengatakan tidak pernah menderita
penyakit berat selama hamil. Kebiasaan makan : makan 3xsehari, tidak
ada pantangan
apapun
2. Riwayat Intranatal
Lahir tanggal 9/2/2022 jam 17.25 wib Jenis
persalinan : spontan
Penolong : bidan
Lama persalinan : kala I 8 jam, kala II 25 menit, Kala III 5 Menit
3. Keadaan bayi baru lahir
Penilaian awal : Bayi lahir cukup bulan, ketuban jernih,
menangis kuat, tonus otot aktif, warna kulit kemerahan.
APGAR

No Kriteria 1 menit 5 menit 10 menit


1. Denyut jantung 2 2 2
2. Usaha nafas 2 2 2
3. Tonus Otot 1` 1 2
4. Reflek 2 2 2
5. Warna Kulit 1 2 2
Total 8 9 10

Caput succedenum : Tidak ada

83
Cephal hematoma : Tidak ada
Cacat bawaan : Tidak ada
4. Kebutuhan sehari-hari
IMD : segera setelah lahir selama 1 jam

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Pernafasan : 46x/menit
b. Kulit : kemerahan
c. Denyut jantung : 143x/m
d. Suhu : 366C
e. Postur tubuh dan gerakan : postur tegap dan gerakan aktif
f. Tonus otot/tingkat kesadaran : Tonus aktif
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : mesochepal
b. Mata : simetris, tidak ada kelaian, sklera putih,
konjungtiva merah muda
c. Telinga : simetris, normal
d. Hidung : tidak cuping hidung
e. Mulut : tidak ada kelainan langit-langit mulut
f. Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar dan vena
g. Klavikula dan lengan tangan : tidak ada fraktur
h. Dada : tidak ada retraksi
i. Abdomen : supel
j. Genetalia : penis berlubang, testis sudah turun pada skrotum
k. Anus : berlubang
l. Punggung : tidak ada spina bifida
m. Ektremitas : lengkap tidak ada kelainan
n. Tali pusat : basah, tidak kemerahan, dan tidak berbau menyengat.
3. Reflek
Moro : Bayi mengikuti arahan tepukan tangan

84
Rooting : bayi mengikuti arahan sentuhan jari tangan Graphs
: bayi menggenggam ketika diberi jari Sucking
: bayi menghisap dengan baik saat menyusu
4. Antropometri
BB : 3000 gram PB : 48
cm
LK : 30 cm
LLA : 10 cm
5. Eliminasi
a. Bayi belum miksi
b. Bayi sudah mekonium
6. Pemeriksaan penunjang Tidak dilakukan

ANALISIS
By Ny M BBLC CB SMK spontan usia 1 jam
PENATALAKSANAAN
Tgl 09/02/2022 jam 18.25 WIB
1. Memindahkan bayi dari atas dada ibu ke tempat yang datar dan menghangat bayi
bawah lampu dengan jarak 60 cm.
Evaluasi : bayi dalam posisi tenang
2. Melakukan pengukuran antropometri.
Evaluasi : BB 3000 grm, PB 48 ccm, LK 30 cm, LLA 10 cm.
3. Memberikan salep mata anti profilaksis pada mata kiri dan kanan bayi.
Evaluasi : salep mata sudah diberikan.
4. Menyiapkan injeksi vitamin K dengan dosis 1mg. Sediaan obat 2mg dalam 1ml.
Menyiapkan injeksi vitamin K 0,5cc. Mendesinfektasi paha kiri anterolateral dengan
kapas DTT. Menyuntikkan secara IM. Menekan bekas suntikkan dengan kapas kering.
Evaluasi : bayi sudah diberi injeksi vitamin K untuk mencegah perdarahan.
5. Melakukan termoregulasi. Memakaikan baju hangat dan bedong.
Evaluasi : bayi tampak tenang

85
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NY. M USIA 25 AHUN P1A0
POSTPARTUM SPONTAN DI PMB W

Tanggal : 10/02/2022
Tempat : PMB W
Oleh : Mahasiswa

A. DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan
Ibu mengatakan nyeri jahitan pada jalan lahir sejak persalinan tanggal 09/02/2022
jam 17.25 WIB
2. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Terakhir
Usia Kehamilan : 40 minggu 3 hari
Tempat persalinan : PMB W
Jenis persalinan : spontan Komplikasi : tidak ada Plasenta :
lengkap, lahir spontan.
Perineum : ruptur derajat 2 dijahit dengan anesthesi.
Perdarahan : kala III 100 cc, kala IV ± 100 cc Tindakan lain
: tidak ada
Lama persalinan : kala I 8 jam, kala II 25 menit, kala III 5 menit,
Kala IV 2 jam postpartum.
3. Keadaan Bayi Baru Lahir
Lahir tanggal : 9/2/2022 jam 17.25
Masa gestasi : 40 minggu 3 hari
BB/PB lahir : 3000 gram/48 cm
Nilai APGAR : 1 menit/5 menit/10 menit : 8/9/10 Cacat
bawaan : Tidak ada cacat bawaan Rawat Gabung : ya
dilakukan rawat gabung.
4. Pola Kebiasaan Setelah Melahirkan
a. Nutrisi :
Ibu sudah makan nasi sayur dan lauk. Minum air putih sudah ±3 gelas sejak
setelah persalinan.
b. Istirahat :
Ibu mengatakan sudah tidur sebentar

90
c. Personal Hygiene :
Ibu mengatakan barusan mandi
d. Eliminasi :
Ibu mengatakan sudah BAK tapi belum BAB
e. Aktivitas
Ibu mengatakan sudah bisa berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan BAK.
5. Riwayat Psikososial dan spiritual
a. Kelahiran ini merupakan kehamilan yang ditunggu dan sangat diinginkan oleh
ibu dan suami.
b. Ibu mengatakan menerima kelahiran bayinya.
c. Ibu mengatakan belum begitu mengerti tentang masa nifas.
d. Keluarga mengatakan sangat menantikan kelahiran bayi ibu dan sudah
mempersiapkan segala sesuatunya.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Composmentis
c. Antropometri TB : 150 cm
BB sebelum melahirkan : 55 kg BB sekarang : 53 Kg
LILA : 25 cm
d. TTV
Tekanan Darah : 121/80 mmHg Nadi
: 81x/m
Respirasi : 22x/m
Suhu : 367C
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : kulit kepala bersih tidak ada ketombe
Muka : tidak ada pembengkakan pada wajah Mata :
sklera putih, konjungtiva merah muda.
Telinga : simetris, tidak ada sekret Hidung :
simetris, tidak ada sekret
Mulut : tidak ada sariawan, tidak ada carries gigi.

91
Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis. Payudara :
simetris, puting menonjol, aerola hiperpigmentasi, ASI (+), dan tidak ada
bendungan ASI.
Abdomen : Tidak ada bekas operasi, TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi
uterus baik teraba keras.
Genitalia : Terdapat jahitan perineum masih basah, pengeluaran lochea
rubra.
Ekstremitas : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan pada betis.
3. Pemeriksaan Penunjang Tidak
dilakukan pengkajian

C. ANALISA Diagnosa :
Ny. M usia 25 Tahun P1A0 Postpartum Spontan Hari 1 Masalah
:
1. Ibu mengatakan nyeri jahitan perineum
2. Ibu mengatakan belum mengerti tentang masa nifas Kebutuhan :
1. KIE nyeri jahitan perineum
2. KIE masa nifas

D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan bahwa saat ini
kondisi ibu dan bayi sehat.
Evaluasi : Ibu tampak senang.
2. Memberi KIE ibu tentang rasa nyeri pada jahitan jalan lahir ibu dikarenakan bagian
tubuh yang luka menjadi sensitif terhadap rasa nyeri. Rasa nyeri jahitan tersebut
akan hilang bila digunakan aktivitas secara bertahap.
Evaluasi : Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan.
3. Memberi KIE perawatan perineum yaitu mencuci daerah kemaluan dengan air dan
sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci dari arah depan ke
belakang, mengganti pembalut minimal 2 kali sehari, mencuci tangan sebelum dan
sesudah menyentuh kemaluan, dan usahan untuk tidak menyentuh jahitan pada jalan
lahir. Evaluasi : Ibu mengerti.
4. Memberi KIE istirahat dan tidur yaitu ibu membutuhkan tidur sekitar 8 jam pada
malam hari dan 1 jam pada siang hari. Selama masa ifas ibu harus cukup istirahat,

92
apabila ibu kurang istirahat dapat mengurangi produksi ASI, memperlambat proses
pemulihan sistim reproduksi. Evaluasi : ibu mengerti.
5. Memberikan KIE nutrisi selama nifas yaitu harus cukup seimbang karbohidrat,
lemak, protein dan vitamin. Evaluasi : Ibu mengerti.
6. Menganjurkan ibu menyusui sesering mungkin tanpa terjadwal, agar kecukupan
nutrisi bayi tercukupi dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif yaitu
hanya ASI saja sampai bayi usia 6 bulan.
7. Memberi KIE ambulasi dini yaitu melakukan aktivitas secara bertahap untuk
membantu proses kembalinya organ reproduksi seperti semula. Evaluasi : Ibu
mengerti.
8. Membimbing ibu teknik menyusui yang benar yaitu kepala dan badan bayi searah
garis lurus, perut bayi menempel pada perut ibu. Tanda bayi menyusu dengan benar
yaitu mulut bayi terbuka lebar, dagu menyentuh payudara ibu, bagian atas aerola
terlihat lebih lebar dibandingkan bagian bawah. Evaluasi : Ibu melakukannya
dengan benar.
9. Memberi KIE tanda bahaya masa nifas yaitu perdarahan banyak dari jalan lahir,
pusing hebat, demam tinggi, perdarahan berbau busuk. Segera datang ke fasilitas
kesehatan.
Evaluasi : ibu mengerti.
10. Menganjurkan ibu untuk melakukan senam nifas dirumah yang bertujuan untuk
memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut, serta mengingatkan ibu
apa bila terasa benang pada jalan lahir terasa keluar jangan dicabut dikarenakan
mengakibatkan ekspulsi IUD yang terpasang, sehingga IUD terlepas. Evaluasi : Ibu
bersedia.
11. Memberikan terapi oral kolaborasi dengan dokter yaitu vitamin A 2x200.000IU/24
jam, Amoxicilin 3x500mg/12jam, Tablet tambah darah 2x200mg/8jam dan asam
mefenamat 3x500mg/8 jam.
Evaluasi : ibu menerima terapi obat yang diberikan.
CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl kunjungan : 16/02/2022


Tempat :-
Melalui Telfon Seluler

93
DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan
Ibu mengatakan tidak ada keluhan sejak pulang dari PMB
2. Pola Kebiasaan Setelah Melahirkan
Nutrisi :
Ibu makan 3x sehari, nasi sayur dan lauk. Minum air putih >8gelas sehari.
3. Istirahat :
Ibu mengatakan saat bayi tidur ibu ikut tidur.
4. Personal Hygiene :
Ibu mengatakan mandi 2x sehari.
5. Eliminasi :
Ibu mengatakan sudah BAB tadi pagi dan BAK 2xkali.
6. Aktivitas
Ibu mengatakan sudah bisa beraktivias seperti biasa yaitu mengerjakan
kegiatan rumah tangga.

DATA OBJEKTIF
Tidak dikaji

ANALISIS
Ny. M usia 25 tahun P1A0Ah1 Postpartum spontan hari ke 7

PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan bahwa saat ini kondisi
ibu dan bayi sehat.
Evaluasi : Ibu tampak senang.
2. Memberi KIE istirahat dan tidur yaitu ibu membutuhkan tidur sekitar 8 jam pada
malam hari dan 1 jam pada siang hari. Selama masa ifas ibu harus cukup istirahat,
apabila ibu kurang istirahat dapat mengurangi produksi ASI, memperlambat proses
pemulihan sistim reproduksi. Evaluasi : ibu mengerti.
3. Memberikan KIE nutrisi selama nifas yaitu harus cukup seimbang karbohidrat, lemak,
protein dan vitamin. Evaluasi: Ibu mengerti.

94
4. Menganjurkan ibu menyusui sesering mungkin tanpa terjadwal, agar kecukupan nutrisi
bayi tercukupi dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif yaitu hanya ASI
saja sampai bayi usia 6 bulan.
Evaluasi : Ibu bersedia menyusui secara Eksklusif
5. Membimbing ibu teknik menyusui yang benar yaitu kepala dan badan bayi searah garis
lurus, perut bayi menempel pada perut ibu. Tanda bayi menyusu dengan benar yaitu
mulut bayi terbuka lebar, dagu menyentuh payudara ibu, bagian atas aerola terlihat
lebih lebar dibandingkan bagian bawah. Evaluasi : Ibu melakukannya dengan benar.
6. Memberi KIE perawatan bayi yaitu tetap menjaga kondisi bayi agar selalu hangat
dengan menggunakan pakaian hangat dan mencegah bayi dari udara dingin dari luar.
Menjaga kondisi tali pusat bayi agar tetap bersih dan tidak boleh diberi ramuan-ramuan
apapun karena dapat menyebabkan infeksi. Evaluasi : Ibu mengerti
7. Menganjurkan ibu kunjungan nifas ke puskesmas sesuai anjuran bidan.
Evaluasi : ibu bersedia melakukan kunjungan nifas.
8. Dokumentasi

95
CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl kunjungan : 23/2/2022


Tempat : PMB Widawati Rahayu

DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan
Ibu mengatakan tidak ada keluhan hanya benang IUD sudah terasa tidak nyaman
2. Pola Kebiasaan Setelah Melahirkan Nutrisi :
Ibu makan 3x sehari, nasi sayur dan lauk. Minum air putih >8gelas sehari. Istirahat: Ibu
mengatakan saat bayi tidur ibu ikut tidur atau gantian dengan suami dalam menjaga
bayinya.
3. Personal Hygiene :
Ibu mengatakan mandi 2x sehari.
4. Eliminasi :
Ibu mengatakan sudah BAB tadi pagi dan BAK 4 x kali.
5. Aktivitas
Ibu mengatakan sudah bisa beraktivias seperti biasa yaitu mengerjakan kegiatan rumah
tangga.

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
2. Antropometri TB : 150 cm
BB sebelum melahirkan : 55 kg
BB sekarang : 53 Kg
LILA : 25 cm
3. TTV
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 83x/m
Respirasi : 24x/m
Suhu : 365C
4. Pemeriksaan Fisik
Payudara : simetris, puting menonjol, aerola hiperpigmentasi,ASI (+), dan tidak ada
bendungan ASI.
Abdomen : Tidak ada bekas operasi, TFU tidak teraba.
Genitalia : Terdapat jahitan perineum bersih kering, pengeluaran lochea
serosa.
Ekstremitas : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan pada betis.
5. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan

93
ANALISIS
Ny. M usia 25 tahun P1A0 Postpartum spontan hari ke 14

PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan bahwa saat ini kondisi
ibu dan bayi sehat.
Evaluasi : Ibu tampak senang.
2. Memberi KIE istirahat dan tidur yaitu ibu membutuhkan tidur sekitar 8 jam pada
malam hari dan 1 jam pada siang hari. Selama masa ifas ibu harus cukup istirahat,
apabila ibu kurang istirahat dapat mengurangi produksi ASI, memperlambat proses
pemulihan sistim reproduksi. Evaluasi : ibu mengerti.
3. Memberikan KIE nutrisi selama nifas yaitu harus cukup seimbang karbohidrat, lemak,
protein dan vitamin. Evaluasi : Ibu mengerti.
4. Menganjurkan ibu menyusui sesering mungkin tanpa terjadwal, agar kecukupan
nutrisi bayi tercukupi dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif yaitu
hanya ASI saja sampai bayi usia 6 bulan. Evaluasi : Ibu bersedia menyusui secara
Eksklusif
5. Membimbing ibu teknik menyusui yang benar yaitu kepala dan badan bayi searah
garis lurus, perut bayi menempel pada perut ibu. Tanda bayi menyusu dengan benar
yaitu mulut bayi terbuka lebar, dagu menyentuh payudara ibu, bagian atas aerola
terlihat lebih lebar dibandingkan bagian bawah.
Evaluasi : Ibu melakukannya dengan benar.
6. Memberi KIE perawatan bayi yaitu tetap menjaga kondisi bayi agar selalu hangat
dengan menggunakan pakaian hangat dan mencegah bayi dari udara dingin dari luar.

94
Menjaga kondisi tali pusat bayi agar tetap bersih dan tidak boleh diberi
ramuanramuan apapun karena dapat menyebabkan infeksi. Evaluasi : Ibu mengerti
7. Memotong benang iud agar meningkatkan kenyamanan ibu. Evaluasi : benang telah
dipotong
8. Dokumentasi
94

CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl kunjungan : 11/03/2022


Tempat :
Rumah pasien

DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
2. Pola Kebiasaan Setelah Melahirkan
Nutrisi :
Ibu makan 3x sehari, nasi sayur dan lauk. Minum air putih > 8 gelas sehari.
Istirahat :
Ibu mengatakan saat bayi tidur ibu ikut tidur atau gantian dengan suami dalam
menjaga bayinya.
3. Personal Hygiene :
Ibu mengatakan mandi 2x sehari.
4. Eliminasi :
Ibu mengatakan sudah BAB tadi pagi dan BAK 2xkali.
5. Aktivitas
Ibu mengatakan sudah bisa beraktivias seperti biasa yaitu mengerjakan kegiatan
rumah tangga.

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
2. Antropometri TB : 150 cm

95
BB sebelum melahirkan : 55 kg
BB sekarang : 53
Kg
LILA : 25 cm
3. TTV
Tekanan Darah : 120/80 mmHg Nadi
: 79x/m Respirasi : 21x/m
Suhu : 363C

96
4. Pemeriksaan Fisik
Payudara : simetris, puting menonjol, aerola hiperpigmentasi,ASI (+), dan
tidak ada bendungan ASI.
Abdomen : Tidak ada bekas operasi, TFU tidak teraba.
Genitalia : Terdapat jahitan perineum bersih kering, tidak ada
pengeluaran
lochea
Ekstremitas : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan pada
betis.
5. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

ANALISIS
Ny. M usia 25 tahun P1A0 Postpartum spontan hari ke 30

PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan bahwa saat ini
kondisi ibu dan bayi sehat. Evaluasi : Ibu tampak senang.
2. Memberi KIE tentang keluarga berencana yaitu idelanya setelah melahirkan
ibu diperbolehkan hamil lagi setelah 2 tahun. Selama menyusui ibu tidak
mengalami ovulasi apabila menyusui secara eksklusif dan ibu belum
mendapatkan haid. Evaluasi : Ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya secara lengkap yaitu
imunisasi BCG pada usia 1 bulan, Imunisasi Dpt-hb-hib dan IPV mulai bayi
usia 2 bulan sampai 4 bulan, imunisasi MR pada usia 9 bulan dan imunisasi
lanjutan saat bayi usia 18 bulan untuk imuniasi pentavalen booster dan 24
bulan untuk MR booster.
Evaluasi : Ibu bersedia mengimunisasikan bayinya.
4. Memberi KIE tanda bahaya masa nifas yaitu perdarahan banyak dari jalan
lahir, pusing hebat, demam tinggi, perdarahan berbau busuk. Tanda bahaya

97
bagi bayi adalah bayi tidak mau menyusu, kejang, ada tarikan dinding dada,
dan warna kulit kebiruan. Apabila ibu tau bayi mengalami salah satu tanda
tersebut, segera datang ke fasilitas kesehatan.
Evaluasi : Ibu bersedia datang ke faskes terdekat saat mengalami tanda bahaya
tersebut.
5. Dokumentasi

98
FOTO ASUHAN Ny M

ASUHAN KEHAMILAN

99
Asuhan Nifas

100
101
102
103
104
105

Anda mungkin juga menyukai