TUGAS I
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Model Pembelajaran Discovery Learning
terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 5 SD
DI SUSUN OLEH:
NAMA : RIVALDA YUNISSA
NPM :
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN AJARAN 2025
1.
Judul Artikel: Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Model Pembelajaran
Discovery Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 5 SD.
2. RANGKUMAN FILE JURNAL ARTIKEL DAN BUKU
2.1 Jurnal
2.1.1
1 Judul: Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa
Sekolah Dasar
[Link] masalah:
Adapun rumusan masalah pada jurnal ini sebagai berikut: 1. Model pembelajaran yang digunakan
adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). 2. Kemampuan yang ingin dilihat
adalah kemampuan berpikir kritis siswa.
3. Rangkuman:
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam penggunaan model
problem based learning memiliki pengaruh yang positif dan signifikan bagi peningkatan
kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut dibuktikan dari hasil t-test dengan hasil nilai sig. 0,00 <
0,05. Kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh pada kelompok eksperimen mendapatkan
hasil yang lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, hal ini ditunjukkan dari rata rata kelompok
control sebesar 10.80 dan rata-rata yang diperoleh dari kelompok eksperimen sebesar 11.84.
Sehingga dapat disimpulkan penggunaan model problem based learning dapat menjadi salah satu
alternatif pendidik yang bisa digunakan dalam melatih keterampilan berpikir kritis siswa
khususnya pada peserta didik di sekolah dasar. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil yang
didapatkan bawah terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model problem based
learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV pada materi wujud zat dan
perubahannya di SDN Banjar 04 Bangkalan.
2.1.2
1. Judul: Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Dan Discovery
Learning Ditinjau Dari Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas 5 Sd
2. Rumusan Masalah: a. apa tu metode Pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning? b. bagaimana penerapan metode Pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning
3. Rangkuman: Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan efektivitas yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning dan Discovery Learning ditinjau dari keterampilan berpikir kritis siswa kelas 5 sekolah
dasar pada pembelajaran tematik. Simpulan ini didasarkan pada temuan rerata posttest pada kelas
eksperimen sebesar 81,74 dan rerata posttest pada kelas kontrol sebesar 77,59. Dilihat dari
signifikansi perlakukan terlihat dari uji T, dimana T hitung sebesar 2,305; sig (2 tailed) sebesar
0,023 (0,023
2.1.3
1. Judul: Meta Analisis Pengaruh Model Discovery Learning dan Problem Based
Learning
terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Peserta didik Kelas V SD
2. Rumusan Masalah: a. bagaimana mengolah data mengunakan meta analisis yaitu dengan
mendeskripsikan data. Hasil dari penelusuran diperoleh 10 jurnal nasional. hasil analisis
menunjukan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning mampu meningkatkan berpikir
kritis peserta didik mulai dari skor terendah 2,70 % dan nilai tertinggi 48,00 % dengan rata-rata
16, 32 %. Untuk model Discovery Learning peningkatan berpikir kritis peserta didik mulai dari
yang terendah 2,5 % dan yang tertinggi 35,31 % dengan rata-rata 12,03 %. Hal ini menunjukan
bahwa model Problem Based Learning lebih berpengaruh dari pada model Discovery
Learningdalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik kelas V SD.
b. bagaimana meningkatkan berpikir kritis peserta didik Model pembelajaran Discovery Learning
dan Problem Based Learning cukup mampu untuk meningkatkan berpikir kritis siswa kelas 5 SD
3. Rangkuman: Kesimpulannya dalam model Discovery Learning siswa siswa belajar secara
mandiri dalam artian siswa menemukan masalah-masalah dalam belajar dan siswa juga yang
memecahkan atau mencari solusi masalah yang telah ditemukan dan guru hanya sebagai
fasilitator atau hanya memberikan arahan jika siswa mengalami kesulitan. Dalam penerapa
Model Discovery Lerning terdapat kelebihan dan juga kekurangan sehingga guru dapat
menggunakan model ini pada pelajaran tertentu dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
Melalui Interpretasi Effect Zize diatas dapat dilihat perbedaan pengaruh model Discovery
Learning dan Problem Based learning, dalam Interpretasi Effect Zize pengaruh Problem Based
learning efektif dan lebih besar dari pada pengaruh model Discovery Learning dalam
meningkatkan pemikiran kritis peserta didik. Namun model Discovery Learning dan Problem
Based learning sama-sama efektif dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik kelas 5
sekolah dasar.
2.1.4
1. Judul: Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa
2. Rumusan Masalah: a. apa itu Critical Thinking dan bagaimana penerapannya, [Link] itu
dan bagaimana penerapannya Outcomes Learning, dan Problem Based Learning.
3. Rangkuman: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta hasil analisis data yang
dilakukan peneliti, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada
materi ekosistem melalui penerapan model Problem Based Learning dapat memperoleh rata-rata
61,69 dibandingkan pada kelas kontrol dengan menerapkan model Discovery Learning yang
memperoleh rata-rata 49,00. Sedangkan hasil belajar kognitif siswa melalui penerapan model
Problem Based Learning memperoleh nilai rata-rata 66,73 dengan ketuntasan 35% dibandingkan
pada kelas kontrol dengan menerapkan model Discovery Learning yang memperoleh rata-rata
44,23 dengan memperoleh ketuntasan hanya 4%. Ada pengaruh penerapan model Problem Based
Learning pada materi ekosistem terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang
dilihat pada hasil uji hipotesis dengan memperoleh nilai signifikansi 0,001
2.1.5
1. Judul: Efektifitas Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Discovery Learning
Terhadap kemampuan Berpikir Kritis Siswa kelas 6 Muatan Pelajaran IPS
2. Rumusan Masalah: a. bagaimana penerapan problem based learning, berpikir kritis dan
discovery learning.
3. Rangkuman: Penerapan muatan Pelajaran IPS dalam hal membantu siswa kelas 6 SD Gugus
Ganeca mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, model pembelajaran Discovery
Learning terasa lebih unggul dibandingkan model pembelajaran Problem Based Learning.
Simpulan penelitian ini berdasarkan pada perolehan hasil uji T keterampilan berpikir kritis pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang diperoleh nilai sig. sebesar 0,004 jadi nilai sig.
0,004 < 0,05 dinyatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima disimpulkan adanya signifikan antara
model pembelajaran Discovery Learning dan model pembelajaran Problem based learning untuk
mengetahui meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas 6 SD. Dan juga dibuktikan dari
hasil deskripsi tingkat berpikir kritis dari kedua kelompok dalam kelompok eksperimen sebesar
77,54 sedangkan untuk kelompok kontrol sebesar 67,85 sehingga terdapat selisih sebesar 9,69
sehingga dapat dilihat bahwa model pembelajaran Discovery Learning lebih efektif daripada
model pembelajaran Problem based learning karena terdapat perbedaan dalam hasil setiap
kelompok.
2.2 Buku
2.2.1
1. Judul: Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Terhadap Berpikir Kritis
Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Peserta Didik Kelas Xi Man 1 Lampung Timur
2. Rumusan Masalah: apakah ada pengaruh model pembelajaran problem based learning (PBL)
terhadap berpikir kritis pada mata pelajaran akidah akhlak peserta didik kelas XI MAN 1
Lampung Timur?
3. Rangkuman: Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Ada
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learningterhadap Berpikir Kritis Peserta Didik
pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Kelas XI MAN 1 Lampung Timur dibuktikan dengan
membandingkan nilai fhitung sebesar 13,517 nilai Fhitung = 13,517 > Ftabel = 42,3 dan besarnya
koefisien determinasi atau R Square adalah sebesar 0,626. Dengan demikian hipotesis yang
penulis ajukan (Ha) dapat diterima dan (H0) di tolak berarti. Besarnya koefisien determinasi atau
R Square adalah sebesar 0,303. Besarnya angka koefisien determinasi (R Square) adalah 0,303
atau sama dengan 30,3%. Angka tersebut mengandung arti bahwa variabel Model Pembelajaran
PBL (X) berpengaruh terhadap variabel berpikir kritis (Y) sebesar 30,3%. Sedangkan sisanya
(100% - 30,3% = 69,7%) dipengaruhi oleh variabel lain.
2.2.2
1. Judul: Buku Model Problem Based Learning (PBL)
2. Rumusan Masalah: ap aitu problem based learning dan bagaimana penerapannya?
3. Rangkuman: Berdasar pada beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa model Problem
Based Learning (PBL) bukan saja dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, tetapi
juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah mahasiswa, berpikir berdasarkan prinsip
ilmu pengetahuan yang objektif, metodologis, sistematis dan universal (Bakhtiar, A. 2004).
Sementara Salam, B (2000) mengemukakan bahwa berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan
empiris. Logis berarti masuk akal, dan empiris berarti dibahas secara mendalam berdasarkan
fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengembangan Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL), untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan berpikir ilmiah
mahasiswa ini relevan diterapkan serta pada mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
(PKK FT UNM), terutama yang mengambil mata kuliah Pengetahuan Bahan Makanan. Sebab
mata kuliah ini bukan saja menuntut kreativitas dan inovasi terampil mengambil keputusan bagi
mahasiswa tetapi juga dituntut untuk terampil berpikir dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmu
pengetahuan. Selama ini mata kuliah pengetahuan bahan makanan diajarkan dengan pendekatan
pembelajaran yang berorientasi guru (Teacher Centrelearning Oriented), pada hal mata kuliah ini
merupakan mata kuliah prasyarat yang memberi dasar yang kuat pada mata kuliah lanjutan,
akibatnya mahasiswa kurang kreatif dan inovatif serta seringkali tidak dapat melakukan
penyesuian pada mata kuliah lanjutan baik secara teoretik maupun praktik, yang tidak kalah
pentingnya adalah realitas bahwa mahasiswa kurang terbiasa mengambil peran dalam
memecahkan masalah secara ilmiah. Model pembelajaran ini setelah dilakukan kajian mendalam,
ternyata relevan juga diterapkan pada proses pembelajaran di tempat dan jurusan lain, oleh sebab
itu model ini penting dibuatkan panduan agar memudahkan para pengguna memanfaatkannya.
2.2.3
1. Judul: Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa pada Subtema Sumber Energi
2. Rumusan Masalah: bagaimana cara peningkatan hasil belajar materi sumber energi kelas
eskperimen menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik dibandingkan
dengan model konvensional
3. Rangkuman: Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan jumlah sampel sebanyak
27 siswa kelas IV SD Negeri 124386 Pematang Siantar, maka penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa Pengaruh Model Prroblem Based Learning berpengaruh positif Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Kelas IV Pada Subtema Sumber Energi SDN 124386 Pematang Siantar.
Hal ini dibuktikan dengan uji N-Gain menunjukan bahwa nilai hasil perhitungan gain kelas
eksperimen diperoleh rata – rata sebesar 39,59 dan rata-rata Posttest sebesar 88,88. Sehingga
diperoleh gain 0,83. Artinya, kelas eksperimen mengalami peningkatan hasil 443 Edu Cendikia:
10.47709/educendikia.v3i02.3058 belajar dengan kategori sangat tinggi karena 〈𝑔〉 ≥ 0,7.
Jurnal Ilmiah Kependidikan Volume: 3 | Nomor 2 | Agustus 2023 | E-ISSN: 2798-365X | DOI:
Berdasarkan data tersebut, maka dikatakan peningkatan hasil belajar materi sumber energi kelas
eskperimen menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik dibandingkan
dengan model konvensional. Adapun Persentase peserta didik mencapai KKM pada kelas
eksperimen yaitu 74% kategori cukup efektif
2.2.4
1. Judul: Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Kelas Viii Tahun Pelajaran 2022/2023
2. Rumusan Masalah: 1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL). 2. Kemampuan yang ingin dilihat adalah kemampuan berpikir
kritis siswa.
3. Rangkuman: Berdasarkan hasil penelitian, dimulai dari tanggal 19 Juli – 19 Agustus diproleh
hasil uji prasyarat dan hipotesis sebagai berikut. Uji normalitas angket persepsi siswa Lhitung <
Ltabel = 0, 168 < 0,213 diperoleh uji normalitas berdistribusi normal. Uji normalitas Post-test L
hitung < Ltabel atau 0,129 < 0,213 diproleh uji normalitas berdistribusi normal. Kemudian dari
hasil uji Linearitas yang telah dilakukan didapat Fhitung< 3,79 artinya regresi berpola linear.
Setelah uji prasyarat dilakukan, 54 selajutnya dilakukan uji hipotesis mengunakan uji Regresi
Sederhana. Adapun hasil uji hipotesis menunjukan hasil uji_t yaitu thitung = 2,45 dan ttabel =
1,745. Karena thitung > ttabel (2,45 > 1,745), maka Ha diterima berarti terdapat pengaruh yang
positif dan signifikan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap
kemampuan berpikir kritis siswa MTs Nurul Ihsan NWDI Salut. Sedangkan untuk melihat
seberapa kuat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampun
berpikir kritis siswa, dapat dilihat dari nilai Multiple R yaitu 0,548, karena nilai Multiple R
tergolong kedalam kategori cukup kuat dilihat dari interprestasi koefisien korelasi nilai r. Untuk
melihat berapa persen pengaruh model pembelajaran tersebut, dilihat nilai koefisien determinasin
yaitu 0,301 atau 30,1%. Hal tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based
Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 30,1% adapun sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain. Sedangkan untuk uji keberartian signifikan menunjukkan bahwa
hitung = tabel = 4,60 atau hitung tabel dengan taraf signifikan 5% artinya terdapat pengaruh yang
positif dan signifikan antara kemampuan berikir kritis dan model pembelajaran Proble Based
Learning. Untuk menentukan persaman regresi Ý dan X atau Ý = a + bx. Nilai b = 0,675 dan a =
20.915. Jadi persamaan regresinya adalah Ý = 20.91587 + 0,675x. Pembelajaran menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learing telah dilakukan dan berjalan sesuai dengan rencana,
Penilaian atau 55 keterampilan dalam berpikir kritis siswa yaitu, interprestasi siswa dapat
menuliskan apa saja yang diketahui dari soal yang sudah diberikan. Analisis siswa dapat
menuliskan apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Inferensi
yaitu siswa dapat menuliskan rumus apa yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan.
Evaluasi yaitu siswa dapat menganalisis jawaban yang sudah dibuat. Menjelaskan yaitu sisa
dapat menyajikan hasil dari permasalahan yang sudah dibuat. Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan secara keseluruhan dapat dikemukakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan
sinifikan penerapan model pembelajran Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir
kritis siswa kelas VIII MTs Nurul Ihsan NWDI Salut. Khususnya pada materi Kubus dan Balok,
ini disebabkan karena pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning akan menjadikan proses belajar siswa menjadi bermakna karena proses
pembelajarannya dilaksanakan dengan permasalahan yang nyata. Hal ini juga didukung oleh
hasil penelitian yang dilakukan oleh, Sitompul (2021), dengan judul “Pengaruh Model
Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa
SMP Kelas IX”, Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa siswa yang menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik dibandingkan dengan siswa yang
menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji Paired
Sampel t-test yaitu 0,00 < 0,05. Penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan
oleh, Sianturi et al (2018), dengan judul Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL)
Terhadap Kemmpuan Berpikir Kritis 56 Matematis Siswa SMPN 5 Sumbul” Hasil dari penelitian
tersebut menunjukan bahwa siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional hal
ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis diperoleh nilai thitung = 2,59 dan ttabel = 1,672 dengan
dk = 58 dan taraf signifikan sehingga terlihat bahwa thitung > ttabel yaitu 2,59 > 1,672.
2.2.1
1. Judul: Meta Analisis: Komparasi Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan
Discovery Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD
2. Rumusan Masalah: bagaimana penerpan problem based learning, discovery learning,
kemampuan berpikir kritis siswa SD, meta analisis
3. Rangkuman: Berdasarkan penelitian meta-analisis yang sudah dilakukan dengan menggunakan
20 subjek artikel jurnal terkait model pembelajaran Problem Based Learning dan Discovery
Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswaSD, dari hasil uji Ancova terdapat
perbedaan nilai rata-rata model pembelajaran Problem Based Learning sebesar 83,5420.
Sedangkan perolehan rata-rata dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning
memperoleh nilai sebesar 77,6890. Dari hasil analisis uji Ancova menggunakan SPSS 25 for
windows diperoleh fhitung> ftabel yaitu (8,608 >3,59) dan signifikan 0,009 < 0,05. Dengan
begitu dapat disimpulkan bahwa kedua model pembelajaran berpengaruh signifikan dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD. Dari hasil analisis Effect Size dengan 10
artikel model Problem Based Learning terdapat 7 artikel dengan kategori sedang dan 3 artikel
dengan kategori kecil, sedangkan 10 artikel dengan model Discovery Learning terdapat 8 artikel
dengan kategori kecil dan 2 artikel dengan kategori sedang. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa model Problem Based Learning memiliki Effect Size yang lebih tinggi dibandingkan
model Discovery Learning. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pandangan kepada
guru terkait keefektifan dari kedua model pembelajaran tersebut dengan kemampuan berpikir
kritis siswa SD.
III. KERANGKA TULISAN ILMIAH
1. Judul: Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Model Pembelajaran
Discovery Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 5 SD
2. Nama Penulis: Rivalda Yunissa
3. Apliasi Penulis: penulis menulis jurnal berdasarkan sumber rangkuman jurnal terdahulu agar
memahami struktur penulisan jurnal dan permasalahan srta hal lainnya. Yang bersumber pada
afiliasi jurnal sebelumnya.
4. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh model pembelajaran
Problem Based Learning dan Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa SD. Penelitian ini merupakan penelitian meta analisis. Teknik pengumpulan data
berupa artikel-artikel dilakukan melalui penelusuran Google Cendikia. Dari hasil pencarian
peneliti dapat mengumpulkan 5 artikel dan 5 buku yang sesuai. Hasil penelitian dari uji
Ancova menunjukkan fhitung> ftabel yaitu (8,608 > 3,59) dan didapat signifikan 0,009 < 0,05
yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya bahwa kedua model pembelajaran
berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil analisis
Effect Size menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning lebih
berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan
menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Hal ini dibuktikan dengan hasil
analisis Effect Size model Problem Based Learning yang memiliki kategori cenderung
sedang, dengan 7 hasil penelitian kategori sedang dan 3 penelitian dengan kategori kecil.
Sedangkan model Discovery Learning menunjukkan 8 penelitian dengan kategori kecil dan 2
penelitian dengan kategori sedang.
Kata Kunci: problem based learning, discovery learning, kemampuan berpikir kritis siswa
SD, meta analisis.
5. Pendahuluan: Abad 21 disebut dengan abad serba pengetahuan, seperti ekonomi berbasis
pengetahuan, abad teknologi informasi, dan revolusi industri 4.0. Pada abad 21 ini akan
terjadi perkembangan yang sangat cepat, dan tidak bisa diantisipasi, terutama perkembangan
teknologi. Teknologi berkembang dengan begitu cepat dikalangan masyarakat, semua
kalangan mengenal dan menggunakan teknologi. Begitu juga dalam dunia pendidikan,
teknologi dapat memberikan kesempatan bahkan tantangan bagi guru. Tantangan dan
kesempatan bagi guru untuk dapat meningkatkan sumberdaya manusia melalui pendidikan
yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sejalan dengan pendapat tersebut, sekolah
harus menerapkan keterampilan 4C yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Pada abad 21 siswa harus memiliki keterampilan 4C tersebut untuk mampu bersaing pada era
4.0 (Greenstein, 2012). Keterampilan 4C tidak didapatkan semenjak manusia lahir, melainkan
keterampilan 4C diperoleh dengan belajar, berlatih, dan pengalaman. Pembelajaran
merupakan kegiatan guru yang secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat
belajar secara aktif dan menekankan pada penyediaan sumber belajar (Dimyati & Mudjiono
dalam Syaiful Sagala, 2011: 62). Untuk meningkatkan kualitaspembelajaran dan sumberdaya
manusiaterutama dalam dunia pendidikan. Kurikulum 2013 yang digunakan saat ini telah
mengakomodasi keterampilan abad 21 yang harus dimiliki siswa untuk mampu bertahan dan
bersaing pada revolusi industri 4.0 dan yang akan terus berkembang. Untuk mengembangkan
siswa dalam memiliki keterampilan abad 21, guru harus mengubah proses pembelajaran
dimana yang sebelumnya pembelajaran berpusat pada guru (teacher center) sekarang diubah
menjadi pembelajaran yang difokuskan pada siswa(student center). IPS adalah salah satu
pengetahuan dasar yang memiliki peran penting untuk menciptakan sumber daya manusia
yang berkualitas dan mampu bersaing pada revolusi industri 4.0 dengan dibekali keterampilan
abad [Link] kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah yang terjadi dilihat dari
berbagai sudut pandang. Berpikir kritis dalam pembelajaran sangat diperlukan, karena pada
dasarnya IPS tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja namun dari berbagai sudut
pandang untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Model pembelajaran memberikan
pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa untuk memecahkan suatu permasalahan.
Dalam penerapan Kurikulum 2013 terdapat banyak model pembelajaran yang dapat
diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, diantaranya: Problem
Based Learning, Discovery Learning, Inquiry Learning, Problem Solving, dan Project Based
Learning. Banyaknya penelitian yang mengatakan bahwa model pembelajaran Problem Based
Learning berpengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa (Indri
Anugraheni, 2018; Kartika Cahaya Phasa, 2020).Tidak kalah dengan model pembelajaran
Discovery Learning, banyak juga penelitian yang mengatakan model pembelajaran Discovery
Learning memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
pada pembelajaran SD (Raras Rakasiwi & Indri Anugraheni, 2020; Wasito Yogi & Naniek
Sulistya Wardani). Kedua model pembelajaran ini memiliki kesamaan, dimana kedua model
pembelajaran ini dapat diterapkan dalam kelompok maupun individu, sehingga siswa dapat
mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya secara kelompok maupun mandiri. Problem
Based Learning merupakan salah satu model yang memfokuskan dalam menjembatani siswa
untuk mendapatkan pengalaman belajar dalam mengorganisasi, meneliti, dan pemecahan
masalah dalam kehidupan sehari-hari secara kompleks (Torp dan Sage dalam Abidin, 2014:
160). Pendapat ini didukung dengan Delise dalam Abidin (2014: 159) bahwa model
pembelajaran Problem Based Learning membantu guru untuk mengembangkan kemampuan
berpikir kritis siswa selama proses pembelajaran. Adapun sintaks model pembelajaran
Problem Based Learning diantaranya: (1) Orientasi siswa pada masalah; (2)
Mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) Membimbing pengalaman individu/ kelompok;
(4) Jurnal Basicedu Vol 5 No 2 Tahun 2021 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1008 Meta
Analisis: Komparasi Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Discovery
Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD – Dina Aprilianingrum,
Krisma Widi Wardani DOI : [Link] Mengembangkan dan
menyajikan hasil; (5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Model
pembelajaran Discovery Learning adalah strategi dalam proses pembelajaran untuk
mendorong siswa melakukan observasi, eksperimen, sehingga diperoleh kesimpulan dari
eksperimen (Saifuddin, 2014). Sintaks dalam model pembelajaran Discovery Learning yaitu:
(1) Pemberian rangsangan/ stimulus; (2) Identifikasi masalah; (3) Pengumpulan data; (4)
Pengolaham data; (5) Pembuktian; (6) Menarik kesimpulan. Banyak penelitian yang
membahas terkait upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learningdan Discovery Learning
diantaranya, hasil penelitian Indri Anugraheni terkait dengan model pembelajaran Problem
Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dari penelitiannya dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning memberikan pengaruh
positif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Indri Anugraheni, 2018). Kemudian
hasil penelitian Kartika Cahaya Phasa dalam penelitiannya terkait pengaruh model Problem
Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika,
membuktikan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning memberikan pengaruh
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa (Kartika Cahaya Phasa, 2020). Keberhasilan
selanjutnya dalam penelitian Raras Rakasiwi dan Indri Anugraheni dalam penelitiannya
terkait dengan model Discovery Learning terhadap hasil belajar IPS Siswa Kelas 4 Sekolah
Dasar, berhasil membuktikan bahwa model pembelajaran Discovery Learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS SD (Raras Rakasiwi & Indri
Anugraheni, 2020). Keberhasilan selanjutnya yaitu penelitian Wasito Yogi Noviyanto dan
Naniek Sulistya Wardani terkait dengan pendekatan Discovery Learning terhadap kemampuan
berpikir kritis Siswa Kelas V Tematik Muatan IPA, hasil penelitian tersebut membuktikan
bahwa pendekatan Discovery Learning memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa. Banyaknya hasil penelitian yang sudah dilakukan mengenai pengaruh
model pembelajaran Problem Based Learning dan Discovery Learning, harus dilakukan
pengkajian ulang terkait dengan hasil pengaruh dari model pembelajaran Problem Based
Learning dan model pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa pada pembelajaran SD. Dengan begitu peneliti berupaya untuk
mengumpulkan penelitian-penelitian tentang model pembelajaran Problem Based Learning
dan Discovery Learning dilihat dari kemampuan berpikir kritis siswa melalui penelitian
dengan judul “Meta Analisis: Komparasi Pengaruh Model Problem Based Learning dan
Discovery Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD”
6. Metode: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dengan mengkomparasikan pengaruh
model pembelajaran Problem Based Learning dan Discovery Learning dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa SD, dari kedua model tersebut mana yang lebih signifikan
dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian
meta-analisis, dengan pengumpulan data berupa artikel-artikel yang dilakukan melalui
penelusuran Google Cendikia, dengan menggunakan kata kunci “Problem Based Learning”,
“Discovery Learning”, dan “kemampuan berpikir kritis” yang terbit dari rentang tahun 2011
sampai dengan 2021 serta dibatasi hanya pada artikel terbit dari jurnal terakreditasi sinta.
Meta Analysis sebuah rangkuman dari kuantitatif yang mengkaji hasil penelitian secara
statistika (Prasetiyo, Yusmin & Hartoyo, 2010 : 2). Penelitian dengan menggunakan data
sekunder dari penelitian yang sudah ada sebelumnya untuk menerima atau menolak hipotesis
yang ada dalam penelitian tersebut. (Retnawati, dkk. 2018)