0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

VBAC

VBAC (Vaginal Birth After C-Section) adalah proses persalinan per vaginam bagi wanita yang pernah menjalani seksio sesaria, dengan tingkat keberhasilan 50-85% jika tidak ada kontraindikasi. Kriteria seleksi pasien dan persyaratan medis yang ketat diperlukan untuk meminimalkan risiko, termasuk adanya tenaga medis yang siap untuk tindakan darurat. Meskipun ada risiko, VBAC dianggap aman bagi wanita dengan insisi transversal pada segmen bawah rahim dan dapat menjadi opsi bagi mereka yang memiliki riwayat SC.

Diunggah oleh

Ticka Rossa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

VBAC

VBAC (Vaginal Birth After C-Section) adalah proses persalinan per vaginam bagi wanita yang pernah menjalani seksio sesaria, dengan tingkat keberhasilan 50-85% jika tidak ada kontraindikasi. Kriteria seleksi pasien dan persyaratan medis yang ketat diperlukan untuk meminimalkan risiko, termasuk adanya tenaga medis yang siap untuk tindakan darurat. Meskipun ada risiko, VBAC dianggap aman bagi wanita dengan insisi transversal pada segmen bawah rahim dan dapat menjadi opsi bagi mereka yang memiliki riwayat SC.

Diunggah oleh

Ticka Rossa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

VBAC (VAGINAL BIRTH AFTER

CAESAREAN/ C-SECTION)

Anggrawati Wulandari, SST, Bd, [Link].


Pendahuluan

¼ persalinan
US
SC
19651988 : 4,5%25%

15-20% SC IND


NIH dan ACOG (1989): anjuran
"trial of labor"

angka ibu hamil dengan riwayat SC


kesuksesan mendapatkan kesempatan persalinan
VBAC adalah pervaginam asal tidak ada
50-85% kontraindikasi
Definisi
VBAC (Vaginal Birth After C-Section) ialah proses
persalinan per vaginam yang dilakukan terhadap pasien
yang pernah mengalami seksio sesaria pada kehamilan
sebelumnya
Indikasi
American College of Obstetricians and Gynecologists
(ACOG) pada tahun 1999 dan 2004 memberikan
rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang
direncanakan untuk persalinan pervaginal pada bekas
seksio caesarea
Kriteria seleksi pasien yang mencoba VBAC
menurut ACOG
Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi
segmen bawah rahim

Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik


baik
Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain
pada uterus

Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan


monitoring, persalinan dan seksio sesarea emergensi.

Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani


seksio sesarea darurat
 Riwayat insisi klasik atau T atau operasi uterus transfundal
lainnya (termasuk riwayat histerotomi, ruptura uteri,
miomektomi)
 Adanya indikasi untuk harus dilakukan seksio sesarea
(plasenta previa, makrosomia, malpresentasi, malposisi)
 Komplikasi medis atau obstetri yang melarang persalinan
pervaginam
 Ketidakmampuan melaksanakan seksio sesarea segera karena
tidak adanya operator, anastesia, staf atau fasilitas
 Kehamilan kembar
 Pasien menolak
 Hamil di usia yang sudah terlalu tua.
 Hamil dengan berat badan berlebih.
 Usia kehamilan sudah lebih dari 40 minggu.
 Usia kehamilan terlalu singkat, sekitar kurang dari 18 minggu.
PRASAYARAT VBAC

 Memerlukan kehadiran seorang


dokter ahli kebidanan, ahli
anastesi dan staf yang mempunyai
keahlian dalam hal persalinan
dengan sectio caesarea emergensi
 Kamar operasi dan staf siap
 Persediaan darah
 Alat monitor denyut jantung janin
FAKTOR YANG
BERPENGARUH
Teknik operasi sebelumnya

Jumlah seksio sesarea


sebelumnya
Penyembuhan luka pada seksio
sesarea sebelumnya
Indikasi operasi pada seksio
sesarea sebelumnya

Usia maternal

Usia kehamilan saat seksio


sesarea sebelumnya

Riwayat persalinan pervaginam

Keadaan serviks pada saat partus

Keadaan selaput ketuban


 RISIKOTERHADAP MATERNAL
(VBAC:SC ulangan elektif)
Insiden demam lebih kecil secara bermakna pada persalinan pervaginal yang
berhasil dibanding dengan seksio sesarea ulangan elektif

Pada persalinan pervaginal yang gagal yang dilanjutkan dengan seksio sesarea
insiden demam lebih tinggi

Tidak banyak perbedaan insiden dehisensi uterus pada persalinan pervaginal


dibanding dengan seksio sesarea elektif.

Dehisensi atau ruptur uteri setelah gagal persalinan pervaginal adalah 2.8 kali
dari seksio sesarea elektif.

Mortalitas ibu pada seksio sesarea ulangan elektif dan persalinan pervaginal
sangat rendah
Kelompok persalinan pervaginal mempunyai rawat inap yang lebih singkat,
penurunan insiden transfusi darah pada paska persalinan dan penurunan insiden
demam paska persalinan dibanding dengan seksio sesarea elektif
RISIKO TERHADAP ANAK

 Resiko kematian perinatal


 VBAC 2.1 kali lebih besar dibanding
seksio sesarea elektif
 Namun jika berat badan janin < 750
gram dan kelainan kongenital berat tidak
diperhitungkan maka angka kematian
perinatal tidak berbeda secara bermakna
KOMPLIKASI
Ruptura uteri merupakan komplikasi langsung
Tanda ruptura uteri
• Pola denyut jantung janin yang
tidak menjamin, dengan
deselerasi memanjang.
Deselerasi lambat, variabel,
bradikardi, atau denyut jantung
hilang
• Nyeri uterus atau perut
• Hilangnya bagian terbawah
janin
• Perdarahan pervaginam
• Hipotensi
Pengenalan faktor risiko terjadinya
rupture uteri pada pasien sebelum
VBAC
• Jenis parut uterus
• Penutupan uterus satu lapis atau
dua lapis.
• Jumlah seksio sesarea sebelumnya
• Riwayat persalinan pervaginam
• Jarak kelahiran
• Usia ibu
• Infeksi paska seksio pada
kehamilan sebelumnya
• Ketebalan segmen bawah uterus (
SBU )
Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah
dilakukan, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya
ruptur uteri :

1. Usia ibu > 40 tahun lebih berisiko 3x daripada ibu


dengan usia < 30 tahun.
2. Jarak kelahiran < 18 bulan meningkatkan risiko 3x,
dan mempunyai 86% keberhasilan dengan jarak
kehamilan lebih dari 18 bulan.
3. Demam setelah seksio sesarea sebelumnya
meningkatkan risiko 4x
4. Jahitan 1 lapis pada rahim meningkatkan risiko
hampir 4x dibandingkan dengan 2 lapis
5. Jumlah seksio sesarean sebelumnya >2x
meningkatkan risiko 4,5x
6. Induksi persalinan dengan oksitosin meningkatkan
risiko 4,6x
7. Sayatan klasik/ T terbalik berisiko ruptura uteri 4-
9%, vertikal rendah 1–7 %, sedangkan insisi
transversal rendah 0,1-1,5%.
8. Adanya riwayat persalinan pervaginam
sebelumnya menurunkan risiko ruptur 0,2.
9. Risiko terjadinya ruptur 0% bila ketebalan SBU >
4,5 mm, 0,6% bila 2,6-3,5 mm dan 9,8% bila
tebalnya < 2,5 mm.
[Link] janin > 4000 gr mempunyai risiko 1-2x lebih
besar untuk terjadi ruptura uteri.(3,6,10)
MANAJEMEN PERSALINAN
VBAC

1. Anamnesis yang teliti mengenai riwayat


persalinan sebelumnya
2. Faktor - faktor yang berhubungan dengan
kehamilan sekarang
3. Faktor yang berhubungan dengan
penatalaksanaan persalinan seperti induksi
dan augmentasi
4. Pemantauan penatalaksanaan VBAC
terhadap tanda ancaman ruptura uteri
.5. Kemampuan mengadakan operasi dalam
waktu kurang lebih 30 menit bila terjadi
ancaman ruptura uteri
MANAJEMEN PERSALINAN VBAC

6. Pasien dirawat pada usia kehamilan 38 minggu atau lebih dan


dilakukan persiapan seperti persalinan biasa.
7. Dilakukan pemerikssaan NST atau CST (bila sudah inpartu
8. Kemajuan persalinan dipantau dan dievaluasi seperti halnya
persalinan biasa
9. Setiap patologi persalinan atau kemajuannya, memberikan indikasi
untuk segera mengakhiri persalinan itu secepatnya (yakni dengan
seksio sesarea kembali).
10. Kala II persalinan sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari 30 menit,
. sehingga harus diambil tindakan untuk mempercepat kala II
(ekstraksi forseps atau ekstraksi vakum) jika dalam waktu tersebut
bayi belum lahir.
MANAJEMEN PERSALINAN VBAC

[Link] oksitosin sebagai induksi ataupun


augmentasi masih dapat diterima selama pasien dalam
pengawasan yang ketat
[Link] untuk melakukan eksplorasi/pemeriksaan
terhadap keutuhan dinding uterus setelah lahirnya
plasenta, terutama pada lokasi irisan seksio sesarea
terdahulu.
[Link] keras melakukan ekspresi fundus uteri
(perasat Kristeller).
.[Link] syarat-syarat untuk persalinan per vaginam tak
terpenuhi (misalnya kala II dengan kepala yang masih
tinggi), dapat dilakukan seksio sesarea kembali.
Penilaian Keberhasilan VBAC
Sistem Skoring Flamm-Geiger untuk VBAC
No Karakteristik Skor
1 Usia < 40 tahun 2
2 Riwayat persalinan pervaginam
- sebelum dan sesudah seksio sesarea 4
- persalinan pervaginam sesudah seksio sesarea 2
- persalinan pervaginam sebelum seksio sesarea 1
- tidak ada 0
3 Alasan lain seksio sesarea terdahulu (bukan kegagalan kemajuan 1
persalinan)
4 Pendataran dan penipisan serviks saat tiba di Rumah Sakit dalam
keadaan inpartu: 2
- 75 % 1
- 25 – 75 % 0
- < 25 % 1
5 Dilatasi serviks 4 cm
Interpretasi skor Flamm

Skor Angka Keberhasilan (%)


0–2 42-49
3 59-60
4 64-67
5 77-79
6 88-89
7 93
8 – 10 95-99
KESIMPULAN
 Di Indonesia angka persalinan
dengan seksio sesarea
mengalami peningkatan yang
cukup tajam
 Banyak para ahli yang
berpendapat bahwa VBAC
sangat berbahaya bagi
keselamatan ibu dan anak
namun telah dinyatakan bahwa
VBAC dengan insisi uterus
transversal pada segmen bawah
rahim adalah tindakan yang
aman dan dapat diterima
 VBAC merupakan salah satu opsi yang
dapat dipertimbangkan bagi wanita hamil
dengan riwayat SC
 Pengetahuan dan kebijaksanan dokter,
pilihan ibu, didukung sarana rumah sakit
yang memadai akan mendukung setiap opsi
yang dipilih.
 Harus dilakukan monitoring dalam proses
VBAC karena ruptur uteri masih merupakan
komplikasi utama dalam VBAC.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai