0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas berbagai komponen dan sistem dalam elektronik, termasuk penggunaan mikrokontroler seperti Arduino Uno dan AT Command untuk komunikasi modem. Selain itu, dijelaskan juga tentang sensor suhu LM35 dan komponen seperti transistor dan dioda, serta karakteristik dan fungsi masing-masing. Informasi ini penting untuk memahami dasar-dasar sistem pengendalian dan pengukuran dalam proyek elektronik.

Diunggah oleh

yos.barat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas berbagai komponen dan sistem dalam elektronik, termasuk penggunaan mikrokontroler seperti Arduino Uno dan AT Command untuk komunikasi modem. Selain itu, dijelaskan juga tentang sensor suhu LM35 dan komponen seperti transistor dan dioda, serta karakteristik dan fungsi masing-masing. Informasi ini penting untuk memahami dasar-dasar sistem pengendalian dan pengukuran dalam proyek elektronik.

Diunggah oleh

yos.barat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

5

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka

1. Lukman Hakim, 2009, Sistem Pengaman Kendaraan Bermotor

Menggunakan SMS Berbasis Mikrokontroler AVR ATMega8535,

Karya ini memanfaatkan fasilitas kirim SMS untuk membuat alarm pengaman

kendaraan bermotor. Cara kerjanya yaitu ketika ada gangguan pada

kendaraan bermotor, dengan mikrokontroler Atmega8535 dan bantuan

sensor alarm akan menyala dan mikrokontroler akan mengirimkan

pemberitahuan ke pemilik kendaraan melalui fitur SMS.

2. Rachmin, Rahmat. (2011), Kontrol jarak jauh menggunakan handphone,

[Link]

Penelitian ini memanfaatkan fitur SMS dari handphone Siemens S45

menggunakan kabel data serial pabrikan Siemens untuk pengendali lampu

jarak jauh. Penelitian ini menggunakan mikrokontroler tipe AT89S51 yang

tergolong mikrokontroler tipe lama dan masih menggunakan bahasa

pemrograman Assembly.
6

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Arduino Uno

Jenis yang ini adalah yang paling banyak digunakan. terutama

untuk pemula sangat disarankan untuk menggunakan Arduino Uno. Dan

banyak sekali referensi yang membahas Arduino Uno. Versi yang terakhir

adalah Arduino Uno R3 (Revisi 3), menggunakan ATMEGA328 sebagai

microcontroller nya, memiliki 14 pin I/O digital dan 6 pin input analog.

Untuk pemograman cukup menggunakan koneksi USB type A to type B.

Sama seperti yang digunakan pada USB printer. Konfigurasi pin diagram

mikrokontroler sesuai pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konfigurasi pin diagram Mikrokontroler ATmega 328

Adapun keterangan fungsi alternatif dari setiap pin yang ada pada port-

port mikrokontroler ATmega 328 seperti pada Tabel 2.1, Tabel 2.2 dan
7

Tabel 2.3.

Tabel 2.1 Konfigurasi Port B Mikrokontroler ATmega 328

Port Pin Alternate Function

XTAL2 (Chip Clock Oscillator pin 2)

TOSC2 (Timer Oscillator pin 2)


PB7
PCINT7 (Pin Change Interrupt 7)

XTAL1 (Chip Clock Oscillator pin 1 or External Clock Input)

TOSC1 (Timer Oscillator pin 1)


PB6
PCINT6 (Pin Change Interrupt 6)

SCK (SPI Bus Master Clock Input)

PB5 PCINT5 (Pin Change Interrupt 5)

MISO (SPI Bus Master Input /Slave Output)

PB4 PCINT4 (Pin Change Interrupt 4)

MOSI (SPI Bus Master Output /Slave Input)

OC2A (Timer/Counter2 Output Compare Match A Output)


PB3
PCINT3 (Pin Change Interrupt 3)

SS (SPI Bus Master Slave Select)

OC1B (Timer/Counter1 Output Compare Match B Output)


PB2
PCINT2 (Pin Change Interrupt 2)

OC1A (Timer/Counter1 Output Compare Match A Output)

PB1 PCINT1 (Pin Change Interrupt 1)

PB0 ICP1 (Timer/Counter1 Input Capture Input)


8

Port Pin Alternate Function

CLKO (Divided System Clock Output)

PB0 PCINT0 (Pin Change Interrupt 0)

Tabel 2.2 Konfigurasi Port C Mikrokontroler ATmega 328


Port Pin Alternate Function
PC RESET (Reset pin)

6 PCINT14 (Pin Change Interrupt 14)

ADC5 (ADC Input Channel 5)

PC5 SCL (2-wire Serial Bus Clock Line)

PCINT13 (Pin Change Interrupt 13)

PC4 ADC5 (ADC Input Channel 5)

SDA (2-wire Serial Bus Data Output/Input Line)

PCINT12 (Pin Change Interrupt 12)

PC3 ADC3 (ADC Input Channel 3)

PCINT11 (Pin Change Interrupt 11)

PC2 ADC2 (ADC Input Channel 2)

PCINT10 (Pin Change Interrupt 10)

PC1 ADC1 (ADC Input Channel 1)

PCINT9 (Pin Change Interrupt 9)

CLKO (Divided System Clock Output)

PC0 PCINT8 (Pin Change Interrupt 8)


9

Tabel 2.3 Konfigurasi Port D Mikrokontroler ATmega 328


Port Pin Alternate Function
AIN1 (Analog Comparator Negative Input)

PD7 PCINT23 (Pin Change Interrupt 23)

AIN0 (Analog Comparator Positive Input)

PD6 OC0A (Timer/Counter 0 Output Compare Match A Output)

PCINT22 (Pin Change Interrupt 22)

T1 (Timer/Counter 1 External Input)

OC0B (Timer/Counter 0 Output Compare Match B Output)


PD5
PCINT21 (Pin Change Interrupt 21)

XCK (USART External Clock Input/Output)

T0 (Timer/Counter 0 External Input)


PD4
PCINT20 (Pin Change Interrupt 20)

INT1 (External Interrupt 1 Input)

OC2B (Timer/Counter 2 Output Compare Match B Output)


PD3
PCINT19 (Pin Change Interrupt 19)

INT0 (External Interrupt 0 Input)

PD2 PCINT18 (Pin Change Interrupt 18)

TXD (USART Output Pin)

PD1 PCINT17 (Pin Change Interrupt 17)

CLKO (Divided System Clock Output)


PD0 PCINT16 (Pin Change Interrupt 16)
10

2.2.2. Modem

AT Command adalah perintah–perintah yang digunakan dalam

komunikasi dengan Serial port. Dengan AT command kita dapat melihat

vendor dari modem yang digunakan, kekuatan sinyal, membaca pesan

yang ada pada SIM Card, mengirim pesan, mendeteksi pesan SMS baru

yang masuk secara otomatis, menghapus pesan pada SIM card, dan

masih banyak lagi fungsi lainnya. AT Command sebenarnya hampir sama

dengan perintah > (prompt) pada DOS. Perintah – perintahnya digunakan

untuk penulisan ke port komputer, dan diawali dengan kata AT, kemudian

diikuti karakter lainnya yang memiliki fungsi sendiri – sendiri. Selain

digunakan untuk penulisan ke port, AT Command juga dapat digunakan

untuk penulisan ke modem.

Contoh perintah AT Command:

AT: mengetahui kondisi port jika siap untuk berkomunikasi

AT+CGMI: perintah untuk mengetahui vendor ponsel yang digunakan

AT+CMGR: perintah untuk membaca salah satu SMS

Untuk penulisan data ke modem, maka modem terlebih dahulu harus

dihubungkan dengan suatu kabel data yang tersedia serial port di

komputer. AT Command yang digunakan pada modem mengikuti standar

dari ETSI GSM 07.05.

Subscriber Identity Module (SIM) sebuah kartu pintar seukuran

prangko yang ditaruh di telepon genggam yang menyimpan kunci

pengenal jasa telekomunikasi. Kartu SIM harus digunakan dalam sistem


11

GSM. Kartu yang mirip dengan SIM dalam UMTS disebut USIM,

sedangkan kartu RUIM popular dalam sistem CDMA.

Pada teknologi kartu SIM Ada tiga tegangan operasional kartu SIM:

5 Volt, 3 Volt dan 1.8 Volt (ISO/IEC 7816-3 kelas A, B dan C). Tegangan

operasional dari kartu SIM yang diluncurkan sebelum tahun 1998 adalah

5 Volt. Kartu SIM yang diproduksi setelahnya memiliki kompatibilitas,

yaitu

3 Volt dengan 5 Volt, atau 1.8 Volt dengan 3 Volt.

2.2.3. Sensor Suhu LM35

Sensor suhu yang digunakan adalah sensor suhu LM 35 sebagai

basic temperature sensor. Sensor suhu LM 35 seperti pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 LM 35 Basic Temperature Sensor

Sensor suhu IC LM35 dapat mengubah perubahan temperature menjadi

perubahan tegangan pada bagian outputnya. Sensor suhu IC LM35

membutuhkan sumber tegangan DC +5 Volt dan konsumsi arus DC

sebesar 60 µA dalam beroperasi. Bentuk fisik sensor suhu LM 35

merupakan chip IC dengan kemasan yang berfariasi, pada umumnya


12

kemasan sensor suhu LM35 adalah kemasan TO-92 seperti terlihat pada

gambar Gambar 2.3.

Gambar 2.3 IC Sensor Suhu LM35

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa sensor suhu IC LM35 pada

dasarnya memiliki 3 pin yang berfungsi sebagai sumber supply tegangan

DC +5 Volt, sebagai pin output hasil penginderaan dalam bentuk

perubahan tegangan DC pada Vout dan pin untuk Ground.

Karakteristik sensor suhu IC LM35 adalah:

1) Memiliki sensitivitas suhu, dengan faktor skala linier antara

tegangan dan suhu 10 mVolt/ºC, sehingga dapat dikalibrasi

langsung dalam celcius.

2) Memiliki ketepatan atau akurasi kalibrasi yaitu 0,5ºC pada suhu

25 ºC.

3) Memiliki jangkauan maksimal operasi suhu antara -55 ºC

sampai +150 ºC.

4) Bekerja pada tegangan 4 sampai 30 Volt.

5) Memiliki arus rendah yaitu kurang dari 60 µA.


13

6) Memiliki pemanasan sendiri yang rendah (low-heating) yaitu

kurang dari 0,1 ºC pada udara diam.

7) Memiliki impedansi keluaran yang rendah yaitu 0,1 W untuk beban

1 mA.

8) Memiliki ketidaklinieran hanya sekitar ± ¼ ºC.

Sensor suhu IC LM35 memiliki keakuratan tinggi dan mudah dalam

perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain, sensor

suhu LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang rendah dan

linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan

rangkaian kontrol khusus serta tidak memerlukan setting tambahan

karena output dari sensor suhu LM35 memiliki karakter yang linier

dengan perubahan 10mV/°C. Sensor suhu LM35 memiliki jangkauan

pengukuran -55ºC hingga +150ºC dengan akurasi ±0.5ºC.

Tegangan output sensor suhu IC LM35 dapat diformulasikan sebagai

berikut:

Vout LM35 = Temperature º x 10 mVolt

Sensor suhu IC LM 35 terdapat dalam beberapa varian sebagai berikut:

a) LM35, LM35A memiliki range pengukuran temperature -55ºC

hingga +150ºC.

b) LM35C, LM35CA memiliki range pengukuran temperature -40ºC

hingga +110ºC.
14

c) LM35D memiliki range pengukuran temperature 0ºC hingga

+100ºC.

Kelebihan dari sensor suhu IC LM35 antara lain:

1. Rentang suhu yang jauh, antara -55 sampai +150ºC

2. Low self-heating, sebesar 0.08 ºC

3. Beroperasi pada tegangan 4 Volt sampai 30 Volt

4. Rangkaian menjadi sederhana

5. Tidak memerlukan pengkondisian sinyal

2.2.4. Transistor

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai

penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi

tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat

berfungsi semacam kran listrik, di mana berdasarkan arus inputnya yaitu

Bipolar Junction Transistor (BJT).

Transistor through-hole (dibandingkan dengan pita ukur sentimeter)

Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E)

dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor

dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar

daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output

Kolektor.

Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia

elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam

amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara,

sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam

rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar


15

berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian

rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi

rangkaian-rangkaian lainnya.

Bipolar Junction Transistor (BJT)

BJT dalah salah satu dari dua jenis transistor. Cara kerja BJT

dapat dibayangkan sebagai dua diode yang terminal positif atau

negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal

tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis (B).

Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis

dapat menghasilkan perubahan arus listrik dalam jumlah besar pada

terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari penggunaan transistor

sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada koletor dengan

arus pada basis biasanya dilambangkan dengan β atau h FE. β

biasanya berkisar sekitar 100 untuk transistor-transisor BJT.

Gambar 2.4 Transistor BJT NPN


16

Simbol transistor npn seperti pada gambar 2.3. Transistor NPN

adalah satu dari dua tipe BJT, dimana huruf N dan P menunjukkan

pembawa muatan mayoritas pada daerah yang berbeda dalam

transistor. Hampir semua BJT yang digunakan saat ini adalah NPN

karena pergerakan elektron dalam semikonduktor jauh lebih tinggi

daripada pergerakan lubang, memungkinkan operasi arus besar dan

kecepatan tinggi. Transistor NPN terdiri dari selapis semikonduktor

tipe-p di antara dua lapisan tipe-n. Arus kecil yang memasuki basis

pada tunggal emitor dikuatkan di keluaran kolektor. Dengan kata lain,

transistor NPN hidup ketika tegangan basis lebih tinggi daripada

emitor. Tanda panah dalam simbol diletakkan pada kaki emitor dan

menunjuk keluar (arah aliran arus konvensional ketika peranti dipanjar

maju).

Rumus transistor dapat dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Rumus Transistor

2.2.5. Dioda

Dioda adalah komponen aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat

semikonduktor, yang memperbolehkan arus listrik mengalir ke satu arah

(kondisi panjar maju) dan menghambat arus dari arah sebaliknya (kondisi

panjar mundur). Dioda dapat disamakan sebagai fungsi katup di dalam


17

bidang elektronika. Dioda sebenarnya tidak menunjukkan karakteristik

kesearahan yang sempurna, melainkan mempunyai karakteristik

hubungan arus dan tegangan kompleks yang tidak linier dan seringkali

tergantung pada teknologi atau material yang digunakan serta parameter

penggunaan. Beberapa jenis dioda juga mempunyai fungsi yang tidak

ditujukan untuk penggunaan penyearahan.

Awal mula dari diode adalah peranti kristal Cat's Whisker dan tabung

hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini dioda yang paling umum

dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium.

Dioda Zener

Dioda zener adalah diode yang memiliki karakteristik menyalurkan

arus listrik mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang

diberikan melampaui batas "tegangan tembus" (breakdown voltage) atau

"tegangan Zener". Ini berlainan dari diode biasa yang hanya menyalurkan

arus listrik ke satu arah.

Dioda yang biasa tidak akan mengalirkan arus listrik untuk mengalir

secara berlawanan jika dicatu-balik (reverse-biased) di bawah tegangan

rusaknya. Jika melampaui batas tegangan operasional, diode biasa akan

menjadi rusak karena kelebihan arus listrik yang menyebabkan panas.

Namun proses ini adalah reversibel jika dilakukan dalam batas

kemampuan. Dalam kasus pencatuan-maju (sesuai dengan arah gambar

panah), dioda ini akan memberikan tegangan jatuh (drop voltage) sekitar

0.6 Volt yang biasa untuk diode silikon. Tegangan jatuh ini tergantung

dari jenis dioda yang dipakai.


18

Sebuah diode Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan dioda

biasa, kecuali bahwa alat ini sengaja dibuat dengan tegangan tembus

yang jauh dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah dioda Zener

memiliki p-n junction yang memiliki doping berat, yang memungkinkan

elektron untuk tembus (tunnel) dari pita valensi material tipe-p ke dalam

pita konduksi material tipe-n. Sebuah dioda Zener yang dicatu-balik akan

menunjukan perilaku tegangan tembus yang terkontrol dan akan

melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh supaya tetap pada

tegangan Zener. Sebagai contoh, sebuah diode Zener 3.2 Volt akan

menunjukan tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun,

karena arusnya terbatasi, sehingga dioda Zener biasanya digunakan

untuk membangkitkan tegangan referensi, untuk menstabilisasi tegangan

aplikasi-aplikasi arus kecil, untuk melewatkan arus besar diperlukan

rangkaian pendukung IC atau beberapa transistor sebagai output.

Tegangan tembusnya dapat dikontrol secara tepat dalam proses

doping. Toleransi dalam 0.05% bisa dicapai walaupun toleransi yang

paling biasa adalah 5% dan 10%. Efek ini ditemukan oleh seorang

fisikawan Amerika, Clarence Melvin Zener.

Mekanisme lainnya yang menghasilkan efek yang sama adalah efek

avalanche, seperti di dalam dioda avalanche. Kedua tipe diode ini

sebenarnya dibentuk melalui proses yang sama dan kedua efek

sebenarnya terjadi di kedua tipe dioda ini. Dalam diode silikon, sampai

dengan 5.6 Volt, efek Zener adalah efek utama dan efek ini menunjukan

koefisiensi temperatur yang negatif. Di atas 5.6 Volt, efek avalanche


19

menjadi efek utama dan juga menunjukan sifat koefisien temperatur

positif.

Dalam dioda Zener 5.6 Volt, kedua efek tersebut muncul bersamaan

dan kedua koefisien temperatur membatalkan satu sama lainnya.

Sehingga, diode 5.6 Volt menjadi pilihan utama di aplikasi temperatur

yang sensitif.

Teknik-teknik manufaktur yang modern telah memungkinkan untuk

membuat dioda-dioda yang memiliki tegangan jauh lebih rendah dari 5.6

Volt dengan koefisien temperatur yang sangat kecil. Namun dengan

munculnya pemakai tegangan tinggi, koefisien temperatur muncul

dengan singkat pula. Sebuah dioda untuk 75 Volt memiliki koefisien

panas yang 10 kali lipatnya koefisien sebuah diode 12 Volt.

Semua dioda di pasaran dijual dengan tanda tulisan atau kode voltase

operasinya ditulis dipermukaan kristal dioda, biasanya dijual dinamakan

dioda Zener.

Dioda zener digunakan digunakan secara luas dalam sirkuit elektronik.

Fungsi utamanya adalah untuk menstabilkan tegangan. Pada saat

disambungkan secara parallel dengan sebuah sumber tegangan yang

berubah-ubah yang dipasang sehingga mencatu-balik, sebuah dioda

Zener akan bertingkah seperti sebuah kortsleting (hubungan singkat) saat

tegangan mencapai tegangan tembus dioda tersebut. Hasilnya, tegangan

akan dibatasi sampai ke sebuah angka yang telah ditetapkan

sebelumnya.

Sebuah dioda Zener juga digunakan seperti ini sebagai regulator

tegangan shunt (shunt berarti sambungan paralel, dan regulator


20

tegangan sebagai sebuah kelas sirkuit yang memberikan sumber

tegangan tetap.

2.2.6. Silicon Control Rectifier (SCR) / Tiristor

SCR adalah dioda yang mempunyai fungsi sebagai pengendali. SCR

atau tiristor masih termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik

yang serupa dengan tabung thiratron. Sebagai pengendalinya adalah

gate (G). SCR sering disebut Thyristor. SCR sebetulnya dari bahan

campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif Negatif Positif

Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda. Logo pada skema elektronik

untuk SCR seperti pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Logo SCR

Fungsi SCR:

1. Sebagai rangkaian Saklar (switch control)

2. Sebagai rangkaian pengendali (remote control)


21

Adapun diagram dan skematik tiristor/SCR seperti pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Diagram dan Skematik Tiristor

Triode for Alternating Current (TRIAC)

TRIAC atau triode untuk arus bolak-balik adalah sebuah komponen

elektronik yang kira-kira ekivalen dengan dua SCR yang disambungkan

antiparalel dan kaki gerbangnya disambungkan bersama. Nama resmi untuk

TRIAC adalah Bidirectional Triode Thyristor. Ini menunjukkan sakelar dwiarah

yang dapat mengalirkan arus listrik ke kedua arah ketika dipicu (dihidupkan).

Ini dapat disulut baik dengan tegangan positif ataupun negatif pada elektroda

gerbang. Sekali disulut, komponen ini akan terus menghantar hingga arus

yang mengalir lebih rendah dari arus genggamnya, misal pada akhir paruh

siklus dari arus bolak-balik. Hal tersebut membuat TRIAC sangat cocok untuk

mengendalikan kalang AC, memungkinkan pengendalian arus yang sangat

tinggi dengan arus kendali yang sangat rendah. Sebagai tambahan,

memberikan pulsa sulut pada titik tertentu dalam siklus AC memungkinkan

pengendalian persentase arus yang mengalir melalui TRIAC (pengendalian

fase).
22

Low-Current TRIAC dapat mengontak hingga kuat arus 1 ampere dan

mempunyai maksimal tegangan sampai beberapa ratus Volt. Medium-Current

TRIACS dapat mengontak sampai kuat arus 40 ampere dan mempunyai

maksimal tegangan hingga 1.000 Volt. Simbol TRIAC dapat dilihat pada

gambar 2.8.

Gambar 2.8 Simbol TRIAC

Anda mungkin juga menyukai