Final Report
Final Report
Dalam rangka pengembangan usaha pertambangan bahan galian batubara, maka PT Intan Bumi
Persada (IBP) melakukan kegiatan pemetaan geologi untuk dikembangkan menjadi usaha
pertambangan. Daerah penelitian termasuk ke dalam Wilayah Desa Baronang dan sekitarnya
Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah sesuai dengan Keputusan Bupati Kapuas
Nomor: 362/Distamben tahun 2011 tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Ekplorasi. Garis
besar penyelidikan difokuskan pada penyebaran batubara hingga didapat gambaran pasti
kelayakan daerah tersebut.
Luasan proyek yang diteliti seluas ± 5,000 Ha. Lokasi penyelidikan tersebut berada sekitar ± 80 km
ke arah baratlaut dari kota Muara Teweh.
Berdasarkan data yang di dapat Coal Bearing (formasi pembawa batubara) adalah Formasi
Purukcahu, dengan total keseluruhan seam berjumlah 39 lapisan/seam batubara. Seam tersebut
memiliki ketebalan rata‐rata berkisar antara 0.10 m – 3.5 m.
Struktur geologi daerah penyelidikan termasuk komplek, terdiri struktur Antiklin dan Sinklin
Selirang, Sesar Naik Selirang 1 dan 2, Sesar Mendatar Mosak, Sesar Mendatar Manyalap dan Sesar
Mendatar Mamput.
Perhitungan sumber daya batubara di daerah penelitian sampai dengan kedalaman 150 m
memperoleh jumlah sumberdaya sebanyak 37,849,810 Ton (kategori terukur,terindikasi dan
tereka) dan sumberdaya kategori hipotetik 12,056,749 Ton .
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 2
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 5. Peta tata guna lahan di daerah penelitian yang didominasi oleh hutan sekunder .........14
Gambar. 7. Sketsa Perhitungan Sumberdaya Batubara dengan Menggunakan Metoda SNI Kategori
Komplek Kombinasi dengan Kedalaman Tambang................................................................................35
DAFTAR LAMPIRAN
Profil Outcrop
Report of Analysis
Peta Geologi
I. PENDAHULUAN
Batubara merupakan salah satu komoditi yang diperlukan untuk bahan baku energi. Saat ini
pemerintah sedang meningkatkan pemanfaatan batubara sebagai energi alternatif, baik untuk
keperluan domestik seperti dalam sektor industri, pembangkit tenaga listrik maupun untuk
ekspor. Dalam rangka pengembangan sumber daya energi batubara tersebut, maka PT. Intan
Bumi Persada (PT. IBP) melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan berupa pemetaan geologi detail
untuk mencari kemungkinan adanya potensi endapan batubara yang terletak di daerah Desa
Baronang dan sekitarnya Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah, dengan luas area
penyelidikan ± 5.000 hektar sesuai dengan Keputusan Bupati Kapuas Nomor: 362/Distamben
tahun 2011 tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Ekplorasi.
Melalui kegiatan Pemetaan Geologi ini nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai potensi sumberdaya batubara yang ada untuk dapat dikembangkan dalam tahapan
selanjutnya.
Kegiatan Penyelidikan Geologi ini dimaksudkan untuk memperoleh data mengenai keberadaan
batubara yang meliputi lokasi singkapan, jurus dan kemiringan, ketebalan, kualitas dan
penyebarannya. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengetahui gambaran umum geologi daerah
penyelidikan, khususnya menyangkut formasi pembawa batubara dan hubungannya dengan
formasi lain, morfologi serta keadaan umum daerah penyelidikan yang erat kaitannya dengan
penambangan, seperti kesampaian daerah, sosio‐demografi, flora dan fauna.
Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui potensi sumberdaya batubara yang ada di dalam
konsesi baik secara kuantitas maupun kualitas sebagai dasar pertimbangan untuk menilai layak
atau tidaknya untuk kegiatan selanjutnya.
Penyelidikan lapangan berlangsung sejak tanggal 6 Juli – 10 Agustus 2012, diluar perjalanan
mobilisasi dan demobilisasi personil.
Geologist : 5 orang
Drafter : 1 orang
Fieldclerk : 1 orang
Logistik : 1 orang
Wilayah PT Intan Bumi Persada secara administratif terletakdi Desa Barunang, Kecamatan Kapuas
Tengah, Kabupaten Kapuas (lihat Gambar 1. Lokasi dan Kesampaian Daerah). Dengan luas
wilayah sekitar ± 5.000 Ha. Secara geografis dibatasi oleh koordinat‐koordinat seperti dalam Tabel
1 dan 2.
Tabel 2. Koordinat UTM Batas IUP PT. Intan Bumi Persada dengan Datum 50
Koordinat
No.
Easting Northing
1 202,956.39 9,902,173.50
2 205,150.62 9,902,175.08
3 205,150.62 9,903,790.55
4 208,101.07 9,903,790.55
5 208,101.07 9,904,356.92
6 210,517.61 9,904,356.92
7 210,517.61 9,896,845.79
8 202,956.39 9,896,845.79
Daerah penyelidikan terletak sekitar ± 80 km ke arah baratlaut dari Kota Muara Teweh. Daerah
penyelidikan dapat dicapai dari Jakarta menggunakan pesawat udara menuju Banjarmasin. Dari
Banjarmasin perjalanan diteruskan melalui darat dengan menggunakan kendaraan roda 4 menuju
kota Muara Teweh.
Gam
mbar. 1. Lok
kasi dan Kesa
ampaian Dae
erah
II.2 Mo
orfologi
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Ko nfirmasi Data Geologi Endapan Ba tubara Page 11
II.2.2 Geo
omorfologi Daerah Pen
nelitian
Secara umu
um morfolo
ogi daerah penyelidika
p an dapat dib
bagi menjad
di 2 (dua) saatuan morfologi yaitu::
satuan mo
orfologi ped
dataran dan
n satuan mo
orfologi perbukitan berrgelombangg kuat samp
pai sedang..
Satuan Mo
orfologi Peerbukitan Bergelomban
B ng Kuat ‐ Sedang, morfologi
m in
ni menemp
pati hampirr
elidikan, teerutama pada
sebagian besar daeerah penye p bagia
an utara daerah pe
enyelidikan
n
morfologin
nya bergelo
ombang ku
uat. Morfollogi ini tersusun oleh
h batuan d
dari Formassi Tanjung,,
Formasi Pu d Anggota Batugamp
urukcahu dan ping Penuu
ut. Satuan in
ni mempun
nyai kemirin
ngan lereng
g
antara 10° ‐ 60°, dengaan ketinggian 80 – 192 meter diata
as permuka
aan laut.
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Ko nfirmasi Data Geologi Endapan Ba tubara Page 12
Gambar 3. Foto mo
orfologi daerrah penelitia
an bergelomb
bang sedang – kuat.
Satuan Mo
orfologi Ped
dataran umu
umnya diju
umpai pada
a daerah‐da
aerah sekitar
ar aliran sun
ngai utama,,
seperti Sun
ngai Mosak
k dan Sunga
ai Selirang. Dimana keedua sunga
ai ini bermu
uara di Sun
ngai Kuatan
n
dan selanju
utnya meng
galir dan be
ermuara ke Sungai Kap
puas.
Gambar 4.
4 Foto Morffologi pedata
aran daerah penelitian
p
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Ko nfirmasi Data Geologi Endapan Ba tubara Page 13
II.3 Tatag
guna Lahan
n
Daerah peenyelidikan
n pada um
mumnya ad
dalah hutan
n sekunder yang meerupakan areal
a HPH
H
perusahaan
n kayu PT
T. Pandu Ja
aya Gemilaang Agung
g. Sebagian lagi meru
upakan huttan primer,,
lainnya lag
gi adalah seemak beluka
ar. (lihat Laampiran Petta Tataguna
a Lahan).
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 14
Penduduk di DesaBaronang dan sekitarnya umumnya terdiri dari Suku Dayak Kapuas, Suku
Banjar dan Jawa serta beberapa suku lainnya adalah merupakan pendatang. Suku Dayak Kapuas,
sebagian dari mereka telah memeluk agama Kristen dan Islam, sebagian lainnya masih memeluk
agama asal (tradisi) Kaharingan. Para pendatang (Suku Banjar, Jawa, dll.) umumnya beragama
Islam, kehidupan antar umat beragama terlihat baik.
Fasilitas umum yang tersedia berupa sarana peribadatan dan Sekolah Dasar. Untuk sarana
kesehatan seperti Puskesmas berada di kota Kecamatan, dan untuk sarana komunikasi sudah
banyak yang menggunakan telepon seluler.
Stratigrafi regional daerah penyelidikan dan sekitarnya terdiri dari formasi batuan sedimen yang
mempunyai hubungan saling selaras, saling menjemari, saling tidak selaras dan satuan batuan
beku baik berupa intrusif maupun ekstrusif. Penjelasan masing‐masing formasi tersebut (dari tua
ke muda) adalah sebagai berikut:
Formasi Tanjung
Formasi Tanjung merupakan sedimen tertua didalam Cekungan Barito, diendapkan pada kala
Eosen Bawah, terdiri dari perselingan batupasir (kuarsa), batulempung dan batulanau (bersisipan
batubara) dan bersisipan batugamping dan konglomerat.
Berdasarkan Peta Geologi bersistem Indonesia lembar Muara Teweh (PPPG, 1995 oleh S.
Supriatna, A. Sudrajat dan H.Z. Hasibuan), Formasi Batu Ayau selaras diatas Formasi Tanjung
yang berumur Eosen Akhir dan diendapkan pada lingkungan laut terbuka‐dangkal. Formasi
Tanjung mempunyai hubungan yang saling menjemari dengan Formasi Haloq + Batu Kelau dan
berumur Eosen Akhir.
Formasi Batu Ayau merupakan penyusun utama stratigrafi daerah Sungai Laung dan sekitarnya
dan juga merupakan “Coal Bearing Formation” atau Formasi pembawa batubara, dicirikan oleh
batupasir, batulempung dan batulanau, umumnya karbonan, setempat bersisipan tuf dan
batubara. Sedangkan Formasi Haloq dicirikan oleh batupasir kuarsa, sedikit konglomerat,
batulumpur dan jarang batugamping, diendapkan tidak selaras diatas Kelompok Embaluh dan
Selangkai. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah laut dangkal yang berenergi kuat dan
berumur Eosen Akhir. Formasi Batu Kelau didominasi oleh serpih, batulanau, batulumpur dan
sedikit batupasir.
Litologi ini terdiri dari lelehan andesit sampai basal, breksi lahar, tuf dan sedikit riolit, bersisipan
tipis batulempung dan batulanau, umumnya terubah, terpecahkan dan termineralisasikan,
setempat terdapat struktur bantal dan kekar meniang.
Formasi Ujohbilang
Formasi ini terdiri dari batulumpur, sedikit batupasir, sebagian gampingan dan karbonan,
setempat tufan. Formasi Ujobilang selaras diatas Formasi Batu Ayau, dengan lingkungan
pengendapan laut terbuka‐ paparan luar dan berumur Oligosen Bawah. Formasi ini dicirikan oleh
batulumpur (dominan) dan sedikit batupasir, serta terdapat di bagian timur sampai timurlaut
daerah Puruk Cahu.
Formasi‐formasi batuan sedimen tersebut di atas diintrusi oleh batuan beku Andesit – Diorit dan
Batuan Gunungapi Bundang yang bersusunan Andesit‐Basalt.
Formasi Purukcahu
Formasi Purukcahu terdiri dari batulempung berfosil, kelabu tua, berselingan dengan batulanau
mengandung lensa kecil dan lapisan tipis batubara vitrinit, dan batupasir berstruktur perairan
sejajar dan konvolut, bersisipan breksi berfragmen andesit, dasit, genes dan batubara, matriks
berupa batupasir kasar mengandung fragmen batubara vitrinit. Selama Kala Oligosen Atas –
Miosen Bawah tersebut, ke dalam Cekungan Barito juga diendapkan batuan‐batuan dari Anggota
Batugamping Penuut, Anggota Batugamping Jangkan, Formasi Montalat dan Formasi Berai.
Formasi Purukcahu diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Ujohbilang, adapun terhadap
Formasi Montalat, Formasi Berai serta batuan‐batuan dari Anggota Batugamping Penuut dan
Jangkan hubungannya saling menjemari, dan berumur Oligosen Atas – Miosen Bawah.
Formasi Karamuan
Formasi Karamuan terdiri dari batulumpur abu‐abu sebagian gampingan dan berfosil, batupasir
kuarsa berlapis baik, batulanau abu‐abu, batu lanau tufan abu‐abu kehijauan, bersisipan
batugamping berfosil, batulanau serpihan dan batulanau karbonan. Lingkungan pengendapan
formasi ini laut dangkal sampai paparan luar.
Formasi Warukin
Formasi ini diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Karamuan dan Formasi Purukcahu,
tersebar dominan di bagian timur dan berumur Miosen Tengah. Formasi Warukin dicirikan oleh
batupasir kuarsa berbutir halus‐sedan, urai, bersisipan batulempung karbonan dan batulanau
karbonan.
Formasi‐formasi batuan tersebut di atas secara setempat ditutupi oleh endapan permukaan
(alluvial) yang berumur Kuarter yang tersebar terutama di sekitar sungai‐sungai utama. (Tabel 3
Stratigrafi Regional Daerah Penyelidikan).
Pulau Kalimantan berdasarkan kedudukannya pada konfigurasi tektonik regional, di bagian timur
dibatasi oleh pemekaran Selat Makasar, di bagian timurlaut oleh obduksi kerak samudra pada
kerak benua, di bagian utara dibatasi oleh kompleks subduksi Kuching Arch (Central Range)
sedangkan di barat dan baratdaya dibatasi oleh Paparan Sunda / Schwaner Block.
Struktur geologi regional yang berkembang di daerah Cekungan Barito antara lain berupa
perlipatan dan sesar (Sam Supriatna, dkk., 1995) (Gambar 3). Struktur perlipatan berupa antiklin
dan sinklin serta struktur sesar berupa sesar naik dan sesar geser. Struktur antiklin dan sinklin
mempunyai sumbu perlipatan yang berbeda‐beda, di bagian utara dan baratlaut, sumbu
perlipatannya mempunyai arah dari timur ke barat, sedangkan di bagian timur berarah dari
timurlaut ke baratdaya. Selain pengaruh dari arah gaya tekan yang bekerja, kemungkinan pola
perlipatan ini disebabkan pula oleh bentuk Cekungan Barito, tempat berlangsungnya proses
pengendapan. Beberapa sesar naik yang dijumpai, arah patahannya sejajar dengan sumbu
perlipatan. Selain itu, terdapat pula sesar geser berarah baratlaut ‐ tenggara yang memotong
struktur yang terbentuk sebelumnya. Sesar turun dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil, dan
kemungkinan terbentuk akibat pengaruh gravitasi.
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 18
‐ Analisa Laboratorium
Pemetaan geologi permukaan dilakukan secara konvensional dengan skala peta 1 : 10.000.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran batuan dan batubara serta dapat
menyimpulkan keadaan geologi daerah penyelidikan yang meliputi stratigrafi maupun struktur
dan hubungannya dengan kondisi dan penyebaran batubara.
- Pemetaan singkapan batubara dan batuan non‐batubara secara terukur pada daerah‐daerah
dimana batuan tersingkap dengan baik, seperti pada sungai dan alur‐alurnya serta bukaan‐
bukaan jalan.
- Penentuan lokasi singkapan pada peta dasar dengan mengacu pada hasil lintasan terukur dan
titik‐titik yang dikenal di lapangan maupun di peta dasar dan dibantu dengan alat GPS.
- Deskripsi dan penomoran singkapan batubara dan batuan non‐batubara. Untuk batuan non
batubara dilakukan pemerian baik tekstur maupun struktur sedangkan untuk batubara
dilakukan pemerian sifat fisik berupa jenis, warna, gores, kekerasan, kilap, pecahan, jenis
roof/floor dan parting serta ada tidaknya mineral tambahan seperti pirit dan resin secara
megaskopis.
Pengambilan conto batubara dilakukan secara channel sampling dengan prosedur sebagai berikut:
- Pengambilan conto dilakukan pada lapisan batubara dengan ketebalan ≥ 1,00 meter
dengan mengikut sertakan parting yang berketebalan< 0,10 meter, sedangkan parting
dengan ketebalan > 0,10 meter dipisahkan dari contoh. Untuk batubara dengan tebal < 1.0
meter hanya diambil sebagai hand specimen.
- Jika ketebalan batubara > 1,50 meter pengambilan conto dibagi/dipisahkan menjadi 2
bagian.
- Conto terambil dikemas dalam kantong plastik tebal berukuran 3 – 5 Kg, diberi label
sesuai dengan penomoran pada singkapan untuk dikirim ke laboratorium.
Sebanyak 67 conto/sample batubara telah diambil dari penelitian sebelumnya untuk di analisa dan
dikirim ke laboratorium untuk mengetahui kualitasnya, meliputi : Total Moisture (TM), Inherent
Moisture (IM), Ash content (Ash), Volatile Matter (VM), Sulphur Content (S), Calorific Value (CV),
Relatively Density (RD), HGI yang dilakukan dengan metoda ASTM standard.
Evaluasi dan penyusunan laporan dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai. Hasil dari
kegiatan‐kegiatan tersebut dievaluasi, kemudian disusun menjadi laporan hasil penyelidikan.
IV.1.1 Stratigrafi
Penentuan stratigrafi daerah penelitian mengacu kepada kerangka geologi regional dengan
memperhatikan aspek keberadaan serta sifat fisik batubara yang ditemukan di lapangan.
Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, daerah penyelidikan ditempati oleh Formasi
Tanjung, Formasi Purukcahu dan Anggota Batugamping Penuut. Di beberapa tempat ditutupi
oleh endapan aluvial (lihat Lampiran Peta Geologi).
Formasi Tanjung ini tersingkap di bagian timur daerah penyelidikan di sepanjang Sungai Grinsing
dan Sungai selirang dan anak‐anak sungainya. Menempati hampir ± 30% dari luas daerah
penyelidikan dengan arah penyebarannya relatif timurlaut‐baratdaya. Umumnya terdiri dari
perselingan batupasir (kuarsa), batulempung dan batulanau (bersisipan batubara) dan bersisipan
konglomerat.
Batupasir kuarsa, berwarna abu‐abu terang, keras – agak rapuh, berbutir sedang sampai kasar,
terpilah baik – sedang, membulat – menyudut tanggung, didominasi oleh mineral kuarsa dan
sebagian kecil hadir mineral hitam (mineral mafik), mika dan tufa.
Batulanau, berwarna abu‐abu kecoklatan, agak keras, sebagian karbonan, struktur sedimen
laminasi sejajar sebagian karbonan dan lensa tipis batubara dan kadang‐kadang menyerpih.
Batulempung, berwarna abu‐abu kecoklatan, struktur sedimen laminasi sejajar sebagian karbonan
dan lensa tipis batubara.
Konglomerat, berwarna abu‐abu gelap, keras, fragmen andesit dan dasit, matrik berupa batupasir
kasar tufan.
Batubara, Bright Coal – Banded Coal berwarna hitam, kilap subvitreous – vitreous, agak keras –
rapuh, pecahan subconchoidal – conchoidal, cleat rapat – jarang dan juga sebagian kecil
memperlihatkan kondisi singkapan lapisan batubara Dull Coal berwarna hitam kecoklatan –
coklat, agak keras – keras, kilap tanah, even, blocky, dengan pecahan bersifat jarang.
Formasi Tanjung diendapkan pada lingkungan pengendapan litoral sampai rawa yang diduga
berumur Eosen Akhir (Supriatna dkk.,1995). Ketebalan Formasi Tanjung di daerah penyelidikan >
Ga
ambar 6. Petta geologi daerah penelitiian
Formasi Pu
urukcahu (T
Tomc) dan Anggota
A Ba
atugamping
g Penuut (To
oml)
Formasi P
Purukcahu di daerah
h penyelidiikan tersin
ngkap di bagian
b tenggah dan barat,
b yang
g
menempatti ± 65 % luas daerrah penyellidikan. Litologi form
masi ini teerdiri dari batupasir,,
batulempu
ung, batulan
nau dengan
n sisipan b
batubara da
an breksi. Formasi Pu
urukcahu diendapkan
d n
tidak selarras diatas Formasi Tanjung,
T daan hubunga
an dengan Anggota Batugampiing Penuutt
adalah men
njemari.
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 22
Batupasir, berwarna abu‐abu terang, keras – agak rapuh, berbutir sedang sampai kasar, terpilah
baik – sedang, membulat – menyudut tanggung, struktur paralel laminasi dan konvolut,
didominasi oleh tufa.
Batulempung, berwarna abu‐abu terang ‐ kecoklatan, struktur sedimen laminasi sejajar sebagian
tufan dan karbonan dan lensa tipis batubara.
Batulanau, berwarna abu‐abu terang ‐ kecoklatan, agak keras, sebagian karbonan, struktur
sedimen laminasi sejajar, tufan dan sebagian karbonan, beberapa terdapat lensa tipis batubara dan
kadang‐kadang menyerpih.
Breksi, abu‐abu gelap, keras, fragmen andesit dan dasit, matrik batupasir kasar.
Batugamping, warna putih keabu‐abuan, berbutir sedang – kasar, kaya foram besar, ganggang
dan koral, mengandung glaukonit, sebagian termineralisasi, bersisipan batugamping pasiran,
berlapis baik.
Batubara, Banded Bright Coal – Banded Coal berwarna hitam, kilap subvitreous, agak keras –
sedang, pecahan subconchoidal – conchoidal, cleat rapat – jarang.
Endapan Aluvial
Satuan batuan ini merupakan batuan termuda yang berumur kuarter, satuan ini berupa endapan
alluvial sungai yang umumnya menempati sepanjang daerah aliran sungai utama.
Struktur geologi daerah penyelidikan komplek. Berdasarkan data lapangan yang diperoleh,
struktur daerah penyelidikan yang berkembang adalah struktur sinklin, antiklin, sesar naik, dan
sesar mendatar. Adanya sesar‐sesar ini didasarkan atas adanya off set pada lapisan batuan/seam‐
seam batubara, perulangan lapisan, hancuran‐hancuran atau gerusan yang terlihat pada batuan
dan memperlihatkan tidak teraturnya jurus serta kemiringan lapisan batuan. Hal ini
menyebabkan sebaran seam‐seam batubara mengalami pergeseran dari puluhan hingga ratusan
meter.
Pada dasarnya struktur lipatan berupa Antiklin dan Sinklin Selirang yang terdapat di daerah
penyelidikan, yang merupakan seretan (drag) akibat struktur Sesar Naik Selirang 1 dan 2 yang
berarah relatif timurlaut‐baratdaya. Hal ini diinterpretasikan berdasarkan adanya perulangan
lapisan batubara (Seam O, P, Q dan R). Dinamai struktur lipatan Antiklin Selirang dan Sinklin
Selirang disebabkan struktur ini melintasi dan terdapat di daerah Sungai Selirang. Struktur lipatan
Antiklin dan Sinklin Selirang ini terpotong oleh Sesar Mendatar Mosak di bagian baratnya.
Ditemukan beberapa pasangan sinklin dan antiklin pada daerah penelitian. Sehingga lipatan di
lokasi penelitian diperkirakan merupakan lipatan isoklinal.
Sesar Naik Selirang 1 terdapat di bagian utara dan sebelah timur Sesar Mendatar Mosak, dinamai
Sesar Naik Selirang 1 karena sesar ini melintasi Sungai Selirang. Arah sesar ini memanjang dengan
dengan arah relatif timurlaut‐baratdaya. Di bagian barat, sesar Naik Selirang 1 terpotong oleh
Sesar Mendatar Mosak. Sesar naik ini menyebabkan tersingkapnya lapisan Formasi Tanjung
bagian bawah (lapisan batupasir kuarsa dan konglomerat) serta adanya kemiringan lapisan
batuan/batubara yang terjal dengan dip 40° ‐ 84°, seperti pada singkapan batubara HS/AD‐04,
S/SR‐08, S/AD‐03, HS/AG‐20, HS/DM‐15, S/DM‐14 dan S/AD‐05.
Sesar Naik Selirang 2 terdapat di daerah hilir Sungai Selirang (selatan) dan disebelah timur Sesar
Mendatar Mosak. Dinamai Sesar Naik Selirang 2 karena sama‐sama melintasi Sungai Selirang dan
untuk membedakan dengan Sesar Naik Selirang 1 yang berada di utaranya. Arah sesar ini
memanjang relatif berarah timurlaut‐baratdaya, dan berujung di Sesar Mosak di bagian tengah
daerah penelitian. Sesar ini ditandai adanya kemiringan lapisan batubara yang terjal dengan dip
47° ‐ 80°, seperti pada singkapan batubara S/AG‐10, S/DM‐05 dan S/DM‐06.
Sesar Mendatar Manyalap terdapat di bagian tengah daerah penyelidikan yang memanjang relatif
baratdaya‐timurlaut. Sesar ini terpotong oleh Sesar Mendatar Mosak yang lebih muda. Sesar
Mendatar Manyalap ini di interpretasikan dengan pola jurus dan kemiringan lapisan batuan yang
tidak beraturan. Pergeseran batuan yang diakibatkan oleh sesar ini terlihat dari dari singkapan
batubara yang ditemukan mempunyai karakter yang berbeda di lapangan.
Sesar Mendatar Marau terdapat di bagian baratdaya daerah penyelidikan yang berarah relatif
baratlaut‐tenggara dengan pola pergerakan dekstral (menganan). Sesar ini memotong Sesar
Mendatar Manyalap. Sesar Mendatar Marau diinterpretasikan dari pola jurus dan kemiringan
lapisan batuan yang tidak beraturan.
Sesar Mendatar Mosak terdapat di bagian tengah daerah penyelidikan yang berarah relatif
baratlaut‐tenggara dengan pola pergerakan sinistral (mengiri). Sesar ini merupakan sesar utama di
daerah penyelidikan. Dinamai Sesar Mendatar Mosak dikarenakan arah sesar ini memanjang
mengikuti pola aliran Sungai Mosak yang memotong lapisan batuan yang ada disekitarnya.
Kajian struktur geologi tersebut perlu dikaji lebih detil, hal tersebut diperlukan untuk mengetahui
jenis dan pola pergeseran yang lebih tepat. Untuk itu, diperlukan penelitian yang lebih detil untuk
membahas struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan.
Selama kegiatan pemetaan telah ditemukan sebanyak 160 singkapan batubara dari Formasi
Purukcahu (lihat Lampiran Peta lintasan dan Lokasi Pengamatan).
Lapisan‐lapisan batubara sebagian besar tersingkap pada dinding dan dasar sungai beserta anak–
anak sungainya dan sebagian lagi tersingkap pada kupasan‐kupasan jalan. Singkapan umumnya
dalam kondisi sebagian terendam air ataupun tertutup tanah. Sebagian singkapan batubara yang
ditemukan terlihat melapuk dengan tingkat pelapukan rendah sampai melapuk kuat.
Secara umum keadaan singkapan batubara dapat dideskripsikan secara megaskopis sebagai
berikut :
Batubara: Bright Coal – Banded Coal berwarna hitam, kilap subvitreous – vitreous, agak keras –
rapuh, pecahan subconchoidal – conchoidal, cleat rapat – jarang dan juga sebagian kecil
memperlihatkan kondisi singkapan lapisan batubara Dull Coal berwarna hitam kecoklatan –
coklat, agak keras – keras, kilap tanah, even, blocky, dengan pecahan bersifat jarang. Ketebalan
lapisan batubara berkisar antara 0.1 – 3.5 meter.
Lapisan‐lapisan batubara umumnya tersebar dengan arah relatif timurlaut – baratdaya, sedangkan
pada area sebelah barat penyebaran lapisan relatif berarah baratlaut – tenggara, dengan arah jurus
lapisan berkisar 2o – 358o, dan kemiringan lapisan 5o – 88o. Singkapan dari lapisan‐lapisan batubara
tersebut banyak ditemukan di daerah Sungai Grinsing, Sungai Selirang, Sungai Marau dan anak‐
anak sungainya. (lihat Lampiran Peta Lintasan dan Lokasi Pengamatan) .
Thick Average
No Seam Min Max Thick
1 1 0.3 1.23 0.74
2 2 0.7 2.5 1.21
3 3 0.3 3.95 2.06
4 4 0.35 1.8 0.75
5 5 0.3 1.42 0.84
6 6 0.6 0.60
7 7 0.17 3.05 1.27
8 8 0.4 2.93 1.33
9 9 0.2 2.75 1.25
10 10 0.5 1.6 0.97
11 11 0.26 1.53 0.72
12 12 0.34 1.6 0.85
13 13 0.4 0.6 0.50
14 14 0.15 0.75 0.45
15 15 1.4 1.40
16 16 0.4 0.65 0.53
17 17 0.3 0.45 0.35
18 A 0.46 1.3 0.94
19 B 0.05 1.5 0.74
20 C 0.4 1.5 0.96
21 D 0.5 1.5 0.97
22 E 0.5 0.6 0.55
23 F 0.5 0.50
24 G 0.7 0.95 0.78
25 H 0.4 0.65 0.55
26 I 0.35 0.37 0.36
27 J 0.45 1 0.66
28 K 0.5 1.7 0.79
29 L 0.7 1.4 1.10
30 M 0.45 2.3 1.38
31 N 0.41 2.15 1.03
32 O 0.35 1.22 0.72
33 P 1.1 1.2 1.13
34 Q 0.4 0.40
35 R 0.65 0.65
36 S 1.4 1.40
37 T 0.18 1.25 0.61
38 U 0.2 1 0.52
39 V 0.52 0.62 0.58
Seam batubara secara berurutan dari tua kemuda sebagaimana tabel 6 berikut ini.
Untuk mengetahui kualitas batubara, maka perlu dilakukan uji kualitas dari conto‐conto batubara
terpilih dari singkapan batubara yang terambil. Conto‐conto batubara dianalisa secara proksimat
dengan menggunakan metoda ASTM Standard disertai dengan analisa lainnya seperti : Total
Moisture (TM), Calorific Value (CV) dan Total Sulphur (TS).
Hasil komposit analisa atas sampel batubara menunjukkan kualitas batubara Formasi Purukcahu
adalah :
Total Moisture (ar) : 22.85%
Moisture : 14.35%
Ash (adb) : 2.55%
Total Sulphur (adb) : 0.82%
Calorific Value (adb) : 5821.5 cal/gr
Calorific Value (ar) : 5245 cal/gr
Sehubungan dengan keadaan tersebut di atas, maka perhitungan sumberdaya batubara dibuat
berdasarkan gabungan antara hasil korelasi seam/lapisan batubara yang sudah jelas dan
perhitungan berdasarkan asumsi dan kriteria (lihat Gambar 7. Sketsa Perhitungan Sumberdaya
Batubara dengan menggunakan metoda SNI kategori komplek kombinasi dengan kedalaman).
Asumsi
Sebaran lapisan/Seam batubara dianggap konsisten dan menerus baik ke arah lateral maupun
vertikal (kemiringan lapisan) dari titik singkapan yang diketahui atau ke arah singkapan lain yang
sudah terkorelasi.
Kriteria
Adapun kriteria yang dipakai dalam perhitungan sumberdaya adalah sebagai berikut :
• Batas sebaran lateral untuk geological resources mengacu pada sistem SNI, dengan asumsi
kategori komplek. Untuk sumberdaya terukur adalah sejauh 0 – 125 meter ke arah kiri dan
kanan jurus (p) dari titik observasi (singkapan), kategori terindikasi sejauh 125 – 250
meter,kategori terduga sejauh 250 – 500 meter dan kategori hypothetic > 500 meter.
• Perhitungan sumber daya batubara dibagi kedalam 3 blok perhitungan, dimana setiap blok
dibatasi oleh sesar/patahan.
• Ketebalan batubara (t) adalah ketebalan yang diambil berdasarkan data ketebalan lapisan
batubara dari singkapan dengan minimal ketebalan 0.50 meter.
Berdasarkan kriteria‐kriteria dan asumsi tersebut di atas, maka perhitungan sumberdaya batubara
dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
Dimana :
SD = S
Sumberday ya Batubara (Ton)
p = Panjang ke arah jurus (meter)
P
d = K
Kedalaman n penamban ngan, dari leevel singkap
pan batubarra
t = T
Tebal batubbara (meter))
= K
Kemiringan n lapisan ba
atubara ( )
BJ = B
Berat jenis batubara
b (gr/cm3)
umlah sumb
Adapun ju berdaya batubara dari h
hasil perhittungan adallah sebagai berikut :
Untuk Perrhitungan sumberdaya
s a Batubara Blok Timu
ur dengan kedalaman
k ttambang 25
5 meter
Kategori T
Terukur : 675.7022 Ton
n
Kategori T
Terindikasi : 554.5466 Ton
n
Kategori T
Terduga : 644.741 Ton
n
Jumlah : 1.874.989 Ton
Kategori H
Hipotetik : 1.222.8233 Ton
n
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 35
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Timur dengan kedalaman tambang 50 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Timur dengan kedalaman tambang 75 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Timur dengan kedalaman tambang 100 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Timur dengan kedalaman tambang 125 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Timur dengan kedalaman tambang 150 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 25 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 50 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 75 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 100 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 125 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Tengah dengan kedalaman tambang 150 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 25 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 50 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 75 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 100 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 125 meter
Untuk Perhitungan sumberdaya Batubara Blok Barat dengan kedalaman tambang 150 meter
Adapun resume jumlah sumberdaya batubara dari hasil perhitungan untuk setiap kedalaman
tambang pada masing‐masing blok dapat dilihat pada Tabel 8, 9, 10,11, 12 dan 13.
Tabel 8. Perhitungan Sumberdaya Batubara sampai dengan kedalaman 25 m
Sumberdaya Batubara Sumber Daya
Terukur Terindikasi Terduga Hipotetik
Kedalaman 25 meter
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
Blok Timur 675,702.62 554,545.78 644,741.39 1,222,823.00
Blok Barat 1,298,580.31 954,465.58 987,564.22 687,644.97
Blok Tengah 566,945.43 335,173.74 290,582.60 101,900.90
TOTAL 2,541,228.36 1,844,185.09 1,922,888.22 2,012,368.87
Total jumlah sumberdaya pada daerah penelitian sampai dengan kedalaman 150 diperkirakan
sebesar 37.849.810 Ton dengan sumberdaya hipotetik sebesar 12.056.749 Ton. Jumlah Sumberdaya
tersebut masih merupakan jumlah sementara yang dihitung berdasarkan sebaran dan korelasi
Untuk keg
giatan eksp
plorasi lanju
utan, makaa perlu dila
akukan pro
oses pengeeboran. Ada
a beberapaa
metoda peengeboran yang
y dilakukan, yaitu d
dengan mod
del scout drrill dan mod
del stratigra
afi.
1. Pem
mboran strratigrafi (in ng), yaitu dengan membuat
nitial drillin m 3 buah crosssline yang
g
dip
perkirakan dapat mew
wakili stratiigrafi batua
an yang ad
da di lokassi penelitian. Masing‐‐
maasing crosslin
ne terdapatt 15 titik bo
or dengan kedalaman
k setiap lubaang bor seb
besar 80 m..
(tab
bel 14)
011/SSM-IBP
P/02/IX/2012 Sep
ptember, 2012
2
PT Intan Bumi Persada–Laporan Pekerjaan Konfirmasi Data Geologi Endapan Batubara Page 41
NO CROSS LINE PANJANG CL (M) JUMLAH TITIK BOR KEDALAMAN BOR JMLH KEDALAMAN (M) KETERANGAN
1 CL‐01 3400.00 15 100 1500 barat
2 CL‐07 2500.00 15 100 1500 kemiringan 60⁰, tengah
3 CL‐10 2700.00 11 100 1100 kemiringan 60⁰, timur
TOTAL 8,600.00 41 4,100
2. Pemboran dengan sistem scout drill, yaitu terfokus pada blok yang dianggap prospek.
Seperti dalam perhitungan sumber daya pada daerah penelitian, maka untuk perencanaan
pemboran ini daerah penelitian terbagi menjadi 3 blok. Yaitu blok timur, blok tengah dan
barat. Pada blok timur dibuat 4 buah crossline, yaiu CL‐01, CL‐02, dan CL‐03 (tabel 15)
NO CROSS LINE PANJANG CL (M) JUMLAH TITIK BOR KEDALAMAN BOR JMLH KEDALAMAN (M) KETERANGAN
1 CL‐01 3400.00 15 100 1500
2 CL‐02 3000.00 9 100 900
3 CL‐03 1800.00 8 100 800
TOTAL 8,200.00 32 3,200
Sedangkan untuk blok tengah dibuat 4 buah crossline, yaitu CL‐04, CL‐05, CL‐06 dan CL‐07.
(tabel 16)
NO CROSS LINE PANJANG CL (M) JUMLAH TITIK BOR KEDALAMAN BOR JMLH KEDALAMAN (M) KETERANGAN
1 CL‐04 495.00 2 100 200
2 CL‐05 1500.00 4 100 400
3 CL‐06 1700.00 6 100 600 kemiringan 60⁰
4 CL‐07 2500.00 15 100 1500 kemiringan 60⁰
TOTAL 6,195.00 27.00 400.00 2,700.00
Sedangkan untuk blok barat dibuat 3 buah crossline, yaitu CL‐08, CL‐09, CL‐10,CL‐11 dan
CL‐12. (tabel 17)
NO CROSS LINE PANJANG CL (M) JUMLAH TITIK BOR KEDALAMAN BOR JMLH KEDALAMAN (M) KETERANGAN
1 CL‐08 east 2300.00 8 100 800 kemiringan 60⁰
2 CL‐09 east 2400.00 9 100 900 kemiringan 60⁰
3 CL‐10 east 2700.00 11 100 1100 kemiringan 60⁰
4 CL‐11 east 3000.00 11 100 1100 kemiringan 60⁰
5 CL‐12 east 1600.00 9 100 900 kemiringan 60⁰
TOTAL 12,000.00 48 4,800
V.1 Kesimpulan
1. Daerah penyelidikan tersusun oleh Formasi Tanjung dan Formasi Purukcahu dan
batugamping anggota Penuhut, dimana secara setempat formasi tersebut ditutupi oleh
endapan alluvial.
2. Morfologi daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 2 (dua) satuan morfologi yaitu : Satuan
Morfologi Pedataran dan Satuan Morfologi Perbukitan Bergelombang Kuat sampai Sedang.
3. Struktur geologi daerah penyelidikan komplek, struktur geologi yang berkembang meliputi
struktur Antiklin dan Sinklin Selirang, Sesar Naik Selirang 1 dan 2, Sesar Mendatar Mosak,
Sesar Mendatar Manyalap dan Sesar Mendatar Mamput.
5. Lapisan batubara tersebar pada sebagian besar wilayah bagian Timur, Tengah dan Barat,
Lapisan‐lapisan batubara umumnya tersebar dengan arah relatif timurlaut – baratdaya,
sedangkan pada area sebelah barat penyebaran lapisan relatif berarah baratlaut –
tenggara,dengan arah jurus lapisan berkisar 2o – 358o, dan kemiringan lapisan 5o – [Link]
ketebalan rata‐rata lapisan batubara berkisar antara 0.10 – 3.5 meter.
7. Total jumlah sumberdaya pada daerah penelitian sampai dengan kedalaman 150 diperkirakan
sebesar 37.849.810 Ton untuk kategori terukur, terindikasi dan terduga, sedangkan untuk
sumberdaya hipotetiknya sebesar 12.056.749 Ton.
V.2 Saran–Saran
2. Scout drilling/pemboran pandu dengan jarak antra crossline lebih kurang 800 m.
DAFTAR PUSTAKA
1. Australasian Insitute of Mining and Metallurgy and the Australasian Mining Industry
Council., 1988, Guiddelines to the Australasian Code for Reporting of Identified Mineral
2. Colin R. Ward, 1984, Coal Geology and Technology, Blackwell Scientific, Publications,
Melbourne.
3. Van Zuidam, R.A. 1985. Aerial Photo‐Interpretation in Terrain Anaysis and Geomorphologic
4. Diessel C.F.K, 1984, Coal Geology, Australian Mineral Foundation, Workshop Course, Part 1
and 2, Indonesia.
5. ESCAP series, 1987, Coal Exploration, Evaluation and Exploitation United Nations, Bangkok,
Thailand.
7. Rance, H.C, 1975, Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilisation, Shell
8. Supriatna S., dkk., 1995, Peta Geologi Regional Lembar Muara Teweh, Pusat Penelitian dan
Pengembangan, Bandung.