PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) DAN
RENCANA KERJA SYARAT (RKS) HOTEL BINTANG 3 DI KOTA
KENDARI, PROVINSI SULAWESI TENGGARA
TUGAS AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya
Arsitektur ([Link]. Ars.) pada Program Studi D3 Teknik Arsitektur
Fakultas Teknik
OLEH:
LA ODE WAHYU AHMAD NAIM
P3B1 22 033
PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR D3
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga proposal ini dapat disusun dengan baik dan tepat
waktu. Proposal ini disusun sebagai bentuk perencanaan dan acuan dalam
pelaksanaan Penyusunan Dokumen Rencana Anggaran Biaya dan Rencana Kerja
Syarat Bangunan Hotel bintang 3 dengan Pendekatan Arsitektur Modern di Kota
Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan harapan dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak yang terlibat.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan dukungan, baik berupa saran, bimbingan, maupun bantuan dalam
penyusunan proposal ini. Penulis menyadari bahwa proposal ini masih memiliki
kekurangan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis sangat
harapkan demi penyempurnaan di masa mendatang.
Semoga proposal ini dapat menjadi pedoman yang bermanfaat serta
memberikan kontribusi positif bagi keberhasilan kegiatan yang direncanakan.
Demikian kata pengantar ini penulis sampaikan. Semoga segala rencana
yang tertuang dalam proposal ini dapat terlaksana dengan baik.
Kendari, 06 Maret 2025
La Ode Wahyu Ahmad Naim
NIM: P3B1 22 033
DAFTAR ISI
Table of Contents
KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................iii
DAFTAR TABEL............................................................................................v
DAFTAR GAMBAR......................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................3
C. Tujuan Pembahasan dan Sasaran Pembahasan....................................3
D. Ruang Lingkup dan Batasan Pembahasan...........................................4
E. Metode Pembahasan dan Sistematika Penulisan.................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................6
A. Pengertian Umum Hotel Bergaya Arsitektur Modern.........................6
B. Tinjauan Objek Perancangan.............................................................11
C. Tinjauan Terhadap RKS.....................................................................27
D. Tinjauan Terhadap RAB....................................................................32
BAB III TINJAUAN PROYEK..................................................................40
A. Gambaran Umum Proyek..................................................................40
B. Tinjauan Umum Lokasi Terkait Pemenuhan Material.......................55
C. Tinjauan Pemenuhan Ketersediaan Tenaga Kerja..............................58
BAB IV PERANCANGAN RKS DAN RAB..............................................61
A. Perancangan RKS..............................................................................61
B. Perancangan RAB............................................................................119
BAB V PENUTUP.......................................................................................206
A. Kesimpulan......................................................................................206
B. Saran................................................................................................207
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................208
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Tipe Hotel Berdasarkan Berbagai Klasifikasi......................................
Tabel 3. 1 Jumlah Curah Hujan, Hari Hujan Dan Penyinaran Matahari
Menurut Bulan di Kota Kendari Tahun 2023......................................
Tabel 3. 2 Letak Geografis Luas Daerah Kecamatan Kendari Barat Menurut
Kelurahan Pada Tahun 2023...............................................................
Tabel 3. 3 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Kendari (Km2) 2023........
Tabel 3. 4 Rata-Rata Suhu Kota Kendari 2024.....................................................
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 2 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 3 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 4 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 5 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2.6 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 7 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2 .8 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 9 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2 .10 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 2. 11 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel).............
Gambar 3. 1 Lokasi Perencanaan Bangunan Hotel (Sumber: [Link]
(Online 2025)).....................................................................................
Gambar 3. 2 Garis Peredaran Matahari di Bulan Januari......................................
Gambar 3.3 Analisa Sumber Kebisingan...............................................................
Gambar 3. 4 Analisa Penyebab Pencemaran Udara di Sekitar Tapak....................
Gambar 3. 5 Analisa Penyebap Pencemaran Udara di Sekitar Tapak....................
Gambar 3. 6 Peta Analisa Sirkulasi Kendaraan di Sekitar Tapak..........................
Gambar 3. 7 sirkulasi pejalan kaki disekitar tapak................................................
Gambar 3. 8 Zona Pandang A B dan C..................................................................
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. lampiran SSH Kota Kendari tahun anggaran 2025................119
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usaha Hotel adalah usaha penyediaan akomodasi secara harian berupa
kamar-kamar di dalam 1 (satu) atau lebih bangunan, termasuk losmen,
penginapan, pesanggrahan, yang dapat dilengkapi dengan jasa pelayanan
makan dan minum, kegiatan hiburan dan/atau fasilitas lainnya
(Permenparekraf Nomor 18 Tahun 2016,).
Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
(koordinat garis lintang 3°58'5,08" LS dan garis bujur 122°31'58,01" BT)
karena pertimbangan komprehensif atas potensi ekonomi yang tinggi, letak
geografis yang strategis, serta tersedianya fasilitas umum yang mendukung,
yang semuanya sejalan dengan kebijakan pemerintah Kota Kendari dalam
mengembangkan kawasan sebagai pusat perdagangan dan jasa.
Berdasarkan potensi yang telah diidentifikasi, diperlukan
pengembangan hotel bintang 3 di lokasi tersebut yang representatif dan
memiliki standar internasional guna mendukung peningkatan sektor
pariwisata dan ekonomi lokal. Pengembangan hotel ini bertujuan untuk
menyediakan fasilitas penginapan unggul dalam aspek kebersihan,
keamanan, dan kenyamanan, serta desain arsitektur modern. Konsep hotel
bintang 3 ini tidak hanya diharapkan memenuhi kebutuhan fungsional para
tamu, tetapi juga berperan sebagai simbol kemajuan dan daya tarik
investasi, sehingga dapat meningkatkan citra Kota Kendari sebagai destinasi
unggulan di bidang pariwisata dan bisnis. Implementasi konsep tersebut
secara strategis diharapkan mampu menciptakan sinergi antara sektor
pariwisata dan ekonomi, yang pada gilirannya mendukung pertumbuhan dan
perkembangan kota secara menyeluruh dan yang tidak kalah penting
sebelum membangun harus merencanakan RKS dan menghitung Rencana
Anggaran Biaya (RAB) karena RKS dan RAB berfungsi sebagai panduan
utama dalam pelaksanaan proyek.
1
Pembangunan hotel bintang tiga merupakan sektor penting yang
mendukung perkembangan pariwisata dan perekonomian di Kota Kendari,
Provinsi Sulawesi Tenggara, seiring dengan meningkatnya kebutuhan
fasilitas akomodasi yang memenuhi standar nasional. Hotel bintang tiga
dengan fasilitas standar seperti kamar berperabot lengkap, restoran, ruang
pertemuan, dan layanan 24 jam menjadi pilihan strategis dalam menunjang
kemajuan sektor pariwisata dan bisnis di wilayah tersebut. Dalam proses
pembangunannya, penyusunan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB)
dan Rencana Kerja Syarat (RKS) memegang peranan vital, RAB sebagai
pedoman dalam perencanaan dan pengelolaan biaya secara terperinci dan
sistematis untuk mengatur alokasi dana serta mengendalikan pengeluaran,
sedangkan RKS berisi spesifikasi teknis dan persyaratan pelaksanaan
pekerjaan yang harus dipatuhi guna menjamin kualitas, keamanan, dan
kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Namun, banyak proyek
pembangunan di Indonesia mengalami kendala serius akibat ketidaktepatan
atau ketidaklengkapan dokumen RAB dan RKS, yang menyebabkan
pembengkakan biaya, keterlambatan penyelesaian, mutu bangunan yang
tidak sesuai standar, serta potensi konflik antar pelaksana proyek. Oleh
karena itu, penyusunan dokumen RAB dan RKS yang akurat dan lengkap
sangat diperlukan dalam pembangunan hotel bintang tiga di Kota Kendari
agar proses pembangunan berjalan sesuai rencana, mematuhi regulasi teknis
dan hukum, serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh
Kementerian Pariwisata dan instansi terkait, sehingga proyek dapat
terlaksana secara efisien, efektif, dan berkelanjutan, mendukung
perkembangan pariwisata dan ekonomi daerah secara optimal.
Penyusunan RKS dan RAB bertujuan memastikan pembangunan hotel
modern di Kecamatan Kendari Barat berjalan lancar, tepat waktu, dan sesuai
perencanaan dengan mencakup aspek teknis, kebutuhan material, serta
estimasi anggaran, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat setempat sebagai tahap awal penting untuk
mewujudkan hotel berkualitas dan fungsional.
B. Rumusan Masalah
Pengadaan hotel bintang 3 di Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari,
sangat penting untuk mendukung kegiatan pariwisata dan memberikan
pengalaman menginap yang optimal. Hotel dengan kapasitas memadai,
aman, nyaman, bersih, sejuk, menarik, dan fasilitas lengkap tidak hanya
meningkatkan kepuasan tamu, tetapi juga memberikan dampak ekonomi
signifikan bagi wilayah sekitar. Pembangunan hotel ini dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan
pendapatan masyarakat, serta perkembangan usaha mikro, kecil, dan
menengah, sekaligus memperkuat investasi dan pembangunan infrastruktur,
sehingga memperkokoh Kendari sebagai destinasi pariwisata unggulan.
Berdasarkan kepentingan tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan
penelitian tersebut sebagai berikut :
1. Bagaimana menyusun Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) Gedung
Hotel Modern di Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari?
2. Bagaimana menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) Gedung Hotel
Modern di Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari?
C. Tujuan Pembahasan dan Sasaran Pembahasan
1. Tujuan pembahasan
a. Untuk melakukan Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS) pembangunan hotel modern di Kecamatan Kendari Barat,
Kota Kendari?
b. Untuk melakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
pembangunan hotel modern di Kecamatan Kendari Barat, Kota
Kendari?
2. Sasaran Pembahasan
a. Tersusunnya Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) untuk
pembangunan gedung hotel modern di Kecamatan Kendari Barat,
Kota Kendari?
b. Tersusunnya perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk
pembangunan gedung hotel modern di Kecamatan Kendari Barat,
Kota Kendari?
D. Ruang Lingkup dan Batasan Pembahasan
1. Ruang Lingkup Pembahasan
Pembahasan dalam tugas akhir ini ditinjau dari perspektif disiplin
ilmu arsitektur dengan fokus pada rencana kerja dan syarat-syarat
(RKS) dan rencana anggaran biaya (RAB) hotel modern yang terletak
di Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari. Selain itu, kajian ini
melibatkan disiplin ilmu lain yang relevan, seperti manajemen
perhotelan dan ekonomi pariwisata.
2. Batasan Pembahasan
a. Penulis ini hanya berfokus pada aspek Rencana Kerja dan Syarat-
syarat seperti syarat-syarat, aturan administrasi, aturan teknis
pekerjaan, dan pada aspek Rencana Anggaran Biaya, termasuk
perhitungan volume dan data pekerjaan, analisis satuan hasil
pekerjaan, harga upah dan material, serta rekapitulasi pekerjaan.
E. Metode Pembahasan dan Sistematika Penulisan
1. Metode Pembahasan
Secara umum, data yang digunakan dalam pembahasan ini
diklasifikasikan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui wawancara langsung dan survei lapangan yang
mendukung pengumpulan informasi empiris secara langsung.
Sedangkan data sekunder meliputi dokumen peraturan kerja bangunan,
data RKS dan RAB, serta peraturan yang relevan, antara lain Peraturan
Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata Dan
Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2021 tentang
Standar Kegiatan Usaha pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha
Berbasis Risiko Sektor Pariwisata dan Peraturan Menteri Pariwisata
Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
Pm.53/Hm.001/Mpek/2013 tentang Standar Usaha Hotel.
2. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini disusun untuk mendukung kemudahan
dalam penyusunan proposal, dengan penyesuaian terhadap tujuan dan
ruang lingkup penelitian yang telah ditetapkan, yaitu sebagai berikut:
a. BAB I PENDAHULUAN: Memuat tentang Latar Belakang,
Rumusan Masalah, Tujuan, Lingkup dan Batas Pembahasan serta
metode dan sistematika Penulisan.
b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA: Mengemukakan tinjauan umum
dan khusus suatu perencanaan arsitektural dalam suatu
pembangunan.
c. BAB III TINJAUAN PROYEK: Menggambarkan tentang
penjelasan terperinci mengenai gambaran umum proyek, lokasi
pemenuhan material, ketersediaan tenaga kerja.
d. BAB IV PERANCANGAN RAB DAN RKS: Menggambarkan
acuan dasar perancangan terhadap RAB dan RKS, acuan ini akan
selanjutnya dipakai sebagai titik tolak perancangan ke desain fisik.
e. BAB V PENUTUP: Merupakan BAB penutup yang berisi
kesimpulan dan saran-saran yang dilaksanakan.
f. DAFTAR PUSTAKA : berisi tentang judul buku dan artikel yang
terkait dalam karya tulis ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Umum Hotel Bergaya Arsitektur Modern
1. Pengertian Hotel
Pengertian hotel berdasarkan beberapa definisi dari para ahli yang
berasal dari Indonesia dan internasional. Pengertian hotel adalah sebuah
usaha bisnis akomodasi yang menyediakan fasilitas penginapan bagi
publik atau umum dan dilengkapi satu atau lebih layanan makanan dan
minuman, jasa attendent room, layanan berseragam, pencucian linen, dan
penggunaan furnitur dan perlengkapan serta memenuhi ketentuan
persyaratan yang di tetapkan di dalam keputusan pemerintah (Chair &
Pramudia dalam Insani & Setiyariski, 2020).
Menurut Sulastiyono dalam Insani & Setiyariski (2020), hotel dapat
didefinisikan sebagai perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya ini
menyediakan layanan berupa makanan, minuman, dan fasilitas kamar
untuk menginap kepada individu yang sedang dalam perjalanan dan
mampu membayar dengan harga yang wajar sesuai dengan kualitas
layanan yang diberikan, tanpa adanya kesepakatan khusus.
Menurut American Hotel and Motel Associations (AHMA) dalam
Hulfa dkk (2024), hotel didefinisikan sebagai tempat yang menyediakan
akomodasi, makanan dan minuman dan layanan lainnya, untuk disewakan
kepada orang-orang serta tamu yang ingin tinggal sementara waktu.
Menurut (Menteri Pariwisata Republik Indonesia, 2016), hotel
merupakan suatu bentuk usaha yang menyediakan akomodasi secara
harian dalam bentuk unit-unit kamar yang terletak dalam satu atau lebih
bangunan. Usaha ini mencakup pula jenis akomodasi lain seperti losmen,
penginapan, dan pesanggrahan, serta dapat dilengkapi dengan layanan
tambahan berupa penyediaan makanan dan minuman, fasilitas hiburan,
dan/atau fasilitas penunjang lainnya.
Menurut Suwithi & Boham (2008), hotel dapat didefinisikan
sebagai sebuah bangunan yang dikelola secara komersial dengan
memberikan fasilitas penginapan untuk umum dengan fasilitas pelayanan
sebagai berikut: pelayanan makan dan minum, pelayanan kamar,
pelayanaan barang bawaan, pencucian pakaian dan dapat menggunakan
fasilitas/perabotan dan menikmati hiasan-hiasan yang ada didalamnya.
Menurut KBBI hotel adalah bangunan berkamar banyak yang
disewakan sebagai tempat untuk menginap dan tempat makan orang yang
sedang dalam perjalanan; bentuk akomodasi yang dikelola secara
komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan,
penginapan, makan dan minum (Arti kata hotel - Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) Online, t.t.).
Berdasarkan beberapa definisi yang telah disebutkan, Penulis
menyimpulkan bahwa Hotel adalah usaha komersial yang menyediakan
layanan akomodasi bagi masyarakat dengan fasilitas penginapan,
makanan, minuman, dan layanan pendukung lainnya, yang dikelola untuk
memberikan kenyamanan bagi tamu sesuai ketentuan dan tarif yang
ditetapkan.
2. Pengertian Arsitektur Modern
Menurut Cahyani & Sari (2020), Arsitektur modern adalah
pendekatan dalam merancang bangunan yang mengedepankan kebebasan
dalam bentuk serta berorientasi pada perkembangan zaman. Gaya ini
menonjolkan kesederhanaan desain dengan menyingkirkan ornamen yang
tidak memiliki fungsi struktural. Selain itu, arsitektur modern juga
memanfaatkan teknologi konstruksi terbaru untuk meningkatkan efisiensi,
fungsi, dan estetika bangunan agar selaras dengan tuntutan masa kini.
Menurut Colquhoun (2002), Arsitektur modern lahir sebagai respons
terhadap ketidakpuasan terhadap gaya arsitektur eklektik dan historis yang
mendominasi abad ke-19. Aliran ini menekankan penciptaan bentuk yang
merepresentasikan semangat zaman, serta mendorong perubahan sosial
melalui pendekatan desain yang logis dan berorientasi fungsi. Modernisme
menolak ornamen yang berlebihan, dan lebih mengutamakan
kesederhanaan, pemanfaatan teknologi serta material baru, serta
keterkaitan antara bentuk dan fungsi. Meski bertujuan membentuk
identitas budaya yang selaras dengan nilai-nilai modern, arsitektur modern
juga menghadapi tantangan dalam mewujudkan idealisme sosial di tengah
realitas kapitalisme dan industrialisasi yang semakin kompleks.
3. Prinsip-prinsip Arsitektur Modern
Le Corbusier, melalui tulisannya yang berjudul “The Five Points of
a New Architecture” (Corbusier & Jeanneret, 1927) Menyajikan lima
prinsip utama yang menjadi dasar dari arsitektur modern. Kelima prinsip
ini menggambarkan pendekatan desain yang berfokus pada efisiensi,
kebebasan dalam berekspresi, serta penerapan teknologi konstruksi secara
kreatif dan inovatif. Adapun kelima prinsip tersebut meliputi:
a. “pilotis”, merujuk pada penggunaan kolom penyangga yang
mengangkat bangunan dari tanah, sehingga menciptakan area terbuka
di bagian bawahnya.
b. “free façade”, menunjukkan kebebasan dalam mendesain tampilan
luar bangunan tanpa dibatasi oleh sistem struktur pendukung.
c. “Free Plan” mengacu pada kelenturan dalam pengaturan tata ruang
interior; serta penggunaan jendela horizontal yang memanjang untuk
memaksimalkan pencahayaan alami.
d. “Roof Garden” adalah konsep pemanfaatan bagian atap sebagai ruang
hijau yang dapat difungsikan. Gagasan-gagasan ini mencerminkan
arsitektur modern yang merespons tuntutan zaman melalui pendekatan
yang logis dan inovatif.
Dalam Tesis Iwan Darmawan, ST dan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti,
[Link]., Ph.D. (Darmawan & Nuryanti, 2011), Dapat disimpulkan bahwa
Mies van der Rohe, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam
arsitektur modern, menerapkan sejumlah prinsip dalam karya-karyanya,
antara lain:
a. Less is more
b. selalu mempertahankan kondisi tapak
c. susunan masa yang fleksibel,
d. bentuk massa sederhana,
e. terjadi penambahan dan pengurangan bentuk,
f. repetisi bentuk,
g. segmentasi material,
h. transparansi,
i. view yang bebas,
j. susunan ruang yang efisien,
k. bentuk ruang yang sederhana,
l. aturan hirarki yang fleksibel,
m. ruang sebagai program,
n. kemudahan pencapaian entrance,
o. peralihan ruang yang jelas,
p. pola sirkulasi yang fleksibel,
q. pola hubungan ruang yang fleksibel,
r. pola sirkulasi grid dan linier,
s. menggunakan bahan-bahan yang praktis,
t. light (ringan-transparan),
u. struktur dan material terlihat secara utuh,
v. sistem konstruksi diselesaikan dengan detail,
w. pilotis,
x. inovasi dalam struktur-konstruksi-material.
4. Pengertian Hotel dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Menurut Menteri Pariwisata Republik Indonesia (2016), Hotel
adalah jenis usaha yang menyediakan layanan akomodasi harian berupa
kamar-kamar yang berada dalam satu atau beberapa bangunan. Jenis usaha
ini juga mencakup bentuk akomodasi lainnya seperti losmen, penginapan,
dan pesanggrahan, serta dapat dilengkapi dengan berbagai layanan
tambahan seperti penyediaan makanan dan minuman, fasilitas hiburan,
maupun fasilitas pendukung lainnya.
Sementara dalam tesis yang disusun oleh Iwan Darmawan, S.T. dan
Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, [Link]., Ph.D. (Darmawan & Nuryanti, 2011),
dijelaskan bahwa Mies Van Der Rohe, Diakui sebagai salah satu tokoh
berpengaruh dalam arsitektur modern, Mies van der Rohe
mengaplikasikan berbagai prinsip yang menjadi ciri khas pendekatan
modern dalam setiap karyanya. Prinsip-prinsip tersebut mencakup konsep
less is more, pelestarian tapak secara menyeluruh, pengaturan massa
bangunan yang fleksibel, serta penggunaan bentuk yang sederhana. Ia juga
menerapkan proporsi dalam penambahan dan pengurangan bentuk,
pengulangan elemen desain, pembagian material, transparansi, dan
penciptaan pandangan yang terbuka. Tata ruang dirancang dengan efisien
dan sederhana, menerapkan sistem hierarki yang lentur serta menganggap
ruang sebagai bagian dari program fungsional. Akses menuju area masuk
(entrance) dibuat mudah, transisi antar ruang dirancang jelas, dan pola
sirkulasi dibuat fleksibel dengan pendekatan grid atau linier. Selain itu,
penggunaan material yang efisien, kesan ringan dan transparan, serta
ekspos struktur dan material secara jujur menjadi bagian penting dari
estetika desainnya. Detail konstruksi dirancang dengan presisi,
penggunaan elemen pilotis diintegrasikan, dan inovasi dalam struktur,
material, serta teknik konstruksi menjadi bagian tak terpisahkan. Seluruh
prinsip ini mencerminkan upaya Mies van der Rohe dalam menciptakan
karya arsitektur yang modern, fungsional, dan sesuai dengan
perkembangan zaman.
Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai definisi hotel menurut
Menteri Pariwisata Republik Indonesia (2016) serta pemahaman arsitektur
modern menurut Darmawan & Nuryanti (2011), penulis menyimpulkan
bahwa hotel dengan pendekatan arsitektur modern merupakan bangunan
akomodasi yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal sementara
dengan layanan tambahan seperti makanan, minuman, dan hiburan,
sebagaimana dijelaskan dalam definisi resmi, tetapi juga dirancang
mengikuti prinsip-prinsip arsitektur modern yang diadopsi dari pemikiran
Mies van der Rohe. Pendekatan ini mencakup konsep less is more,
pelestarian kondisi tapak, fleksibilitas dalam penataan massa dan ruang,
penggunaan bentuk sederhana, repetisi serta segmentasi bentuk dan
material, penerapan transparansi, penciptaan pandangan bebas, kemudahan
akses menuju area masuk, serta pola sirkulasi yang teratur dan fleksibel
baik dalam sistem grid maupun linier. Selain itu, karakter utama lainnya
adalah kejujuran dalam menampilkan struktur dan material, detail
konstruksi yang presisi, penggunaan elemen pilotis, serta penerapan
inovasi dalam aspek struktur, teknik konstruksi, dan bahan bangunan.
Seluruh prinsip ini digunakan untuk mewujudkan desain hotel yang
efisien, fungsional, dan estetis, serta mencerminkan nilai-nilai modern
yang relevan dengan tuntutan dan perkembangan industri perhotelan masa
kini.
B. Tinjauan Objek Perancangan
1. Ciri-Ciri Hotel dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Berdasarkan perbandingan, pengumpulan, dan penyimpulan data
yang ada di poin sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa konsep hotel
dengan pendekatan arsitektur modern merupakan hasil integrasi antara
layanan penginapan komersial yang profesional dengan penerapan prinsip-
prinsip desain modern. Data dari para ahli, baik dari lingkup nasional
maupun internasional, menekankan bahwa hotel tidak hanya berfungsi
sebagai penyedia tempat tinggal sementara bagi para pelancong,
melainkan juga sebagai entitas yang mengusung kesederhanaan,
fungsionalitas, dan inovasi melalui desain geometris serta penerapan
prinsip “less is more”. Dengan demikian, hotel modern hadir sebagai
representasi sinergi antara estetika dan efisiensi operasional,
mengakomodir kebutuhan fungsional sekaligus menyajikan identitas visual
yang konsisten secara global. Adapun ciri-ciri hotel dengan pendekatan
arsitektur modern adalah sebagai berikut:
a. Layanan Komersial Terpadu
Hotel didefinisikan sebagai entitas usaha komersial yang
menyediakan layanan penginapan bagi pelancong dan masyarakat
umum. Layanan tersebut tidak hanya terbatas pada penyediaan tempat
tidur, melainkan juga mencakup penyediaan makanan dan minuman,
jasa pengangkutan barang bawaan, serta pencucian pakaian. Setiap
layanan diberikan dengan imbalan tarif yang telah ditetapkan,
sehingga menekankan aspek profesionalisme dan standar operasional
dalam pengelolaan hotel.
b. Kesederhanaan Bentuk dan Penghapusan Ornamen
Pendekatan arsitektur modern menekankan “less is more”
dengan mengutamakan kesederhanaan bentuk. Hotel yang mengusung
arsitektur modern menghilangkan ornamen-ornamen yang tidak
esensial sehingga setiap elemen bangunan memiliki fungsi yang jelas.
Prinsip ini sejalan dengan gagasan “form follows function” di mana
bentuk bangunan ditentukan oleh fungsinya, bukan oleh dekorasi
semata.
c. Penggunaan Struktur Geometris Dasar
Desain hotel modern mengadopsi struktur dasar geometri,
seperti platonic solid yang dominan berbentuk kotak, dengan
pengulangan elemen yang konsisten. Pada fasad, penggunaan garis
vertikal, horizontal, dan diagonal tidak hanya menciptakan tampilan
visual yang dinamis, tetapi juga berfungsi untuk mengoptimalkan
kinerja bangunan, misalnya dalam mengurangi penetrasi panas yang
langsung masuk ke dalam ruangan.
d. Inovasi pada Komponen Atap
Hotel dengan pendekatan arsitektur modern sering kali
mengimplementasikan desain atap yang inovatif, seperti atap miring
yang memanfaatkan struktur baja dan dilengkapi panel surya, serta
atap lengkung dengan struktur space frame. Kombinasi ini tidak hanya
memberikan kesan dinamis dan elegan, tetapi juga mendukung
efisiensi energi melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan.
e. Gaya Internasional yang Seragam
Arsitektur modern menerapkan gaya internasional yang
seragam, tidak terikat oleh budaya atau karakteristik lokal tertentu.
Hal ini memungkinkan hotel memiliki identitas visual yang konsisten
dan mudah dikenali secara global, sehingga dapat menarik tamu dari
berbagai latar belakang.
f. Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan
Penggunaan teknologi, seperti panel surya pada atap,
mencerminkan komitmen terhadap keberlanjutan dan efisiensi energi.
Selain itu, penerapan teknologi modern mendukung operasional hotel
yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sejalan dengan tren global
menuju pembangunan yang berkelanjutan.
2. Elemen-Elemen Hotel dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Menurut
(Anggih Permana et al., 2022; ISFIATY, 2016; Nurhakim et al., 2024)
elemen-elemen Hotel dengan Pendekatan Arsitektur Modern
adalah sebagai berikut:
a. Penerapan Material Ramah Lingkungan (Green Material): Penggunaan
material ramah lingkungan dalam konstruksi hotel modern bertujuan
mendukung arsitektur berkelanjutan dengan mengurangi dampak
lingkungan, meningkatkan efisiensi energi, dan menciptakan
lingkungan yang sehat.
b. Desain Interior Berbasis Budaya Lokal: Integrasi budaya lokal dalam
desain interior hotel menciptakan identitas unik dan pengalaman
autentik dengan memadukan unsur tradisional dan modern secara
harmonis.
c. Penerapan Desain Arsitektur Bioklimatik: Desain arsitektur
bioklimatik memanfaatkan iklim setempat untuk menciptakan
kenyamanan termal dan efisiensi energi melalui orientasi bangunan,
ventilasi alami, serta material penyerap panas.
d. Penggunaan Teknologi Hemat Energi: Hotel modern menerapkan
teknologi hemat energi, seperti lampu LED, sensor gerak, dan sistem
manajemen energi, untuk menekan konsumsi energi dan biaya
operasional.
e. Fasilitas Ramah Lingkungan: Penyediaan fasilitas ramah lingkungan
seperti stasiun pengisian listrik, program daur ulang, dan produk
pembersih hijau mencerminkan komitmen hotel terhadap keberlanjutan
serta menarik tamu peduli lingkungan.
f. Ruang Terbuka Hijau: Penyediaan taman, rooftop garden, atau area
hijau lainnya di dalam kompleks hotel tidak hanya meningkatkan
estetika tetapi juga memberikan ruang relaksasi bagi tamu dan
membantu dalam pengendalian iklim mikro.
g. Desain Universal (Universal Design): Penerapan desain inklusif yang
mengutamakan aksesibilitas bagi semua kalangan, termasuk
penyandang disabilitas, menjadi komponen vital untuk menciptakan
lingkungan hotel yang nyaman, adil, dan responsif bagi seluruh tamu.
h. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT): Integrasi
teknologi canggih dalam operasional hotel meningkatkan efisiensi,
keamanan, dan kepuasan tamu, sekaligus memperkaya pengalaman
menginap di era digital.
i. Fasilitas Kebugaran dan Kesehatan: Penyediaan fasilitas seperti pusat
kebugaran, spa, dan kolam renang menjadi standar penting hotel
modern untuk mendukung kesehatan, relaksasi, dan kesejahteraan
tamu melalui desain yang fungsional, berkelanjutan, dan berteknologi
tinggi.
j. Ruang Pertemuan dan Konferensi: Fasilitas MICE (Meetings,
Incentives, Conferences, Exhibitions) dalam arsitektur hotel modern
dirancang dengan teknologi canggih dan layanan terpadu untuk
mendukung kegiatan bisnis, meningkatkan efektivitas acara, serta
menarik segmen pasar korporat.
k. Restoran dan Layanan Kuliner Berkualitas: Hotel modern
mengoptimalkan pengalaman kuliner dengan menghadirkan ragam
masakan lokal dan internasional berstandar tinggi, yang
menggabungkan inovasi desain, efisiensi operasional, serta layanan
berkualitas.
l. Layanan Concierge dan Customer Service 24 Jam: Layanan pelanggan
24 jam dengan dukungan teknologi dan staf terlatih menjadi faktor
utama dalam meningkatkan efisiensi, kepuasan, serta loyalitas tamu di
industri perhotelan modern.
m. Sistem Keamanan Terintegrasi: Penerapan teknologi keamanan
canggih dan tenaga profesional terlatih memastikan lingkungan hotel
yang aman, meningkatkan kepercayaan tamu, serta memperkuat
reputasi institusi.
n. Kamar dengan Desain Ergonomis: Penerapan desain ergonomis dalam
penataan kamar meningkatkan kenyamanan, efisiensi ruang, dan
kepuasan tamu, sekaligus memperkuat citra positif hotel.
3. Syarat-Syarat Hotel Bintang 3 dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Mies Van Der
Rohe dalam tesis Iwan Darmawan, ST dan Prof. Ir Wiendu Nuryanti,
[Link]., Ph.D. (Darmawan & Nuryanti, 2011) standar hotel bintang 3,
dapat diidentifikasi beberapa ketentuan perancangan hotel yang selaras
dengan prinsip arsitektur modern, yaitu sebagai berikut:
a. Konsep dan Pendekatan Desain
1) Selalu mempertahankan kondisi tapak
2) Susunan masa yang fleksibel
3) Bentuk massa sederhana
4) Terjadi penambahan dan pengurangan bentuk
5) Repetisi bentuk
6) Segmentasi material
7) Transparansi
8) View yang bebas
9) Aturan hirarki yang fleksibel
10) Ruang sebagai program
11) Inovasi dalam struktur-konstruksi-material
b. Struktur dan Konstruksi Bangunan
1) Menggunakan bahan-bahan yang praktis
2) Light (ringan-transparan)
3) Struktur dan material terlihat secara utuh
4) Sistem konstruksi diselesaikan dengan detail
5) Pilotis
c. Fasad dan Material Eksterior
1) Segmentasi material
2) Transparansi
3) Light (ringan-transparan)
4) Struktur dan material terlihat secara utuh
d. Tata Ruang dan Sirkulasi
1) Susunan ruang yang efisien
2) Bentuk ruang yang sederhana
3) Kemudahan pencapaian entrance
4) Peralihan ruang yang jelas
5) Pola sirkulasi yang fleksibel
6) Pola hubungan ruang yang fleksibel
7) Pola sirkulasi grid dan linier
4. Jenis dan Fungsi Hotel
Menurut Suwithi & Boham (2008), hotel dapat dikelompokan ke
dalam beberapa tipe/kategori diantaranya sebagai berikut:
Tabel 2. 1 Tipe Hotel Berdasarkan Berbagai Klasifikasi
No Dasar Klasifikasi Penjelasan
1. Hotel Melati
2. Hotel bintang satu (*)
3. Hotel bintang dua (**)
1. Berdasarkan Kelas
4. Hotel bintang tiga (***)
5. Hotel bintang empat (****)
6. Hotel bintang lima (*****)
1. Full American Plan
2. Modified American Plan
2. Berdasarkan Plan 3. Continental Plan
4. European Plan
3. Berdasarkan Ukuran 1. Hotel Kecil / Small hotel
No Dasar Klasifikasi Penjelasan
2. Hotel Sedang/ Medium hotel
3. Hotel Besar/ Large hotel
1. City Hotel
4. Berdasarkan Lokasi 2. Resort Hotel
1. Downtown Hotel
2. Suburb Hotel
3. Country Hotel
5. Berdasarkan Area 4. Airport Hotel
5. Motel
6. Inn
1. Business Hotel
2. Tourism Hotel
3. Sport Hotel
6. Berdasarkan Maksud 4. Pilgrim hotel
5. Cure Hotel
6. Casino Hotel
1. Transit Hotel
Lamanya Tamu 2. Semi residential hotel
7.
Menginap 3. Residential hotel
8. Kriteria Jenis Tamu 1. Family Hotel
1. Pondok Wisata
Aspek Bentuk 2. Cottage
9.
Bangunan 3. Montel
1. Produk Nyata (Tangibel)
10. Wujud Fisik 2. Produk Tidak nyata ( Intangible)
Sumber: (Suwithi & Boham, 2008)
Pada tugas akhir ini, penulis menetapkan pilihan jenis hotel
berdasarkan klasifikasinya, yaitu hotel bintang tiga. Mengacu pada Suwithi
& Boham (2008), hotel bintang tiga memiliki standar sebagai berikut:
a. Jumlah kamar standar, minimum 30 kamar
b. Kamar suite minimum 2 kamar
c. Kamar mandi di dalam
d. Luas kamar standar, minimum 24 m2
e. Luas kamar suite, minimum 48 m2.
Selanjutnya, berdasarkan klasifikasi durasi menginap tamu, penulis
memilih hotel tipe semi residential sebagai fokus perancangan. Pilihan ini
disesuaikan dengan karakteristik hotel semi residential yang cocok dengan
kondisi tapak yang direncanakan. Lokasi tapak memiliki akses yang baik
ke berbagai destinasi wisata yang beragam dan berdekatan, sehingga tamu
tidak hanya dapat menikmati pemandangan menarik selama menginap,
tetapi juga memperoleh kemudahan untuk menjangkau tempat-tempat
wisata di sekitarnya. Menurut Suwithi & Boham (2008), standar hotel
semi residential umumnya ditujukan bagi tamu yang menginap lebih dari
satu malam, namun dalam jangka waktu relatif singkat, yakni antara satu
minggu hingga satu bulan.
Menurut Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor
PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel, berikut
adalah kriteria tidak mutlak standar usaha hotel bintang tiga.
Gambar 2.1 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 2 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 3 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
`
Gambar 2. 4 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 5 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2.6 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 7 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2 .8 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 9 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2 .10 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
Gambar 2. 11 (Sumber: Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel)
5. Perilaku Pengguna Hotel (kosumen)
Perilaku konsumen merujuk pada rangkaian aktivitas yang dilakukan
oleh konsumen selama proses mencari, membeli, menggunakan,
mengevaluasi, hingga mengonsumsi produk atau jasa yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka (Sudirman et al., 2020).
Perilaku konsumen dalam konteks hotel dapat dibagi menjadi beberapa
tahap, yaitu sebagai berikut:
a. Perilaku Sebelum Menginap
1) Mencari hotel melalui internet atau aplikasi
Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Veronika dkk.,
2019), keputusan menyewa kamar hotel secara online dipengaruhi
beberapa faktir utama yaitu sebagai berikut:
a) Faktor budaya, yaitu perilaku dasar yang terbentuk dari
kebiasaan yang dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-
hari.
b) Faktor sosial berperan penting dalam keputusan pembelian
karena dipengaruhi oleh interaksi dan persepsi bersama
antaranggota keluarga.
c) Faktor pribadi seperti usia, pekerjaan, dan gaya hidup
memengaruhi pandangan serta pola konsumsi individu dalam
pengambilan keputusan pembelian.
d) Faktor psikologis seperti motivasi, persepsi, dan pembelajaran
memengaruhi keputusan pembelian dengan mendorong
individu bertindak sesuai kebutuhannya.
2) Membaca ulasan dan rating dari tamu lain sebelum memutuskan
Menurut penelitian yang dilakukan (Marthasari & Widjaja,
2020) diketahui bahwa ulasan online memiliki peran yang
signifikan dalam memengaruhi tingkat minat calon tamu terhadap
keputusan pemesanan kamar hotel. Adapun aspek ulasan online
yang mempengaruhi tingkat minat calon tamu adalah sebagai
berikut:
a) reviewer expertise (review para ahli), Tingkat keahlian pemberi
ulasan berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan dan minat
konsumen dalam memesan kamar hotel.
b) timeliness of online review (ketepatan waktu ulasan),
Ketersediaan ulasan yang aktual dan relevan berpengaruh
signifikan terhadap minat konsumen dalam memesan kamar
hotel.
c) volume of online review (Volume ulasan online), Semakin
banyak ulasan yang dimiliki sebuah hotel, semakin tinggi pula
kepercayaan dan minat konsumen untuk melakukan pemesanan
kamar.
d) valence of online review (sifat ulasan online), Sentimen ulasan
online berpengaruh besar terhadap minat konsumen, di mana
ulasan positif meningkatkan minat, sedangkan ulasan negatif
dapat menurunkan citra hotel.
e) comprehensiveness of online review (Kelengkapan ulasan
online), Ulasan yang detail dan informatif berpengaruh
signifikan dalam meningkatkan kepercayaan dan minat
konsumen untuk memesan kamar hotel.
3) Membandingkan harga, fasilitas dan inovasi.
Harga yang sesuai dengan nilai yang ditawarkan terbukti
memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan
penjualan kamar hotel. Selain itu, inovasi dalam layanan juga
berkontribusi secara positif terhadap angka penjualan kamar
(Shonda Paulina Martines et al., 2023). Sementara itu, penelitian
oleh Gamatri et al. (2023) menunjukkan bahwa pengaruh harga dan
fasilitas terhadap keputusan tamu untuk menginap mencapai
57,9%.
4) Memilih berdasarkan lokasi, harga, atau diskon.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putra
(2024), diketahui bahwa faktor harga dan potongan harga
berkontribusi sebesar 47,9% terhadap keputusan tamu untuk
menginap. Di sisi lain, studi yang dilakukan oleh Arnold (2024)
dan Hartini (2017) menunjukkan bahwa faktor lokasi juga
memengaruhi keputusan tamu dalam memilih tempat menginap.
5) Melakukan pemesanan secara online atau langsung ke hotel.
Studi yang dilakukan oleh Mawarni & Susanto (2020)
Pemesanan offline berpengaruh positif terhadap tingkat okupansi
hotel, sedangkan pemesanan online memiliki pengaruh signifikan
namun negatif terhadap hunian kamar.
Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Herlikano et al. (2022), Pemesanan offline tetap menjadi
metode utama yang paling berpengaruh terhadap tingkat hunian
kamar, meskipun pemesanan online juga berkontribusi positif
secara signifikan.
b. Perilaku Selama Menginap
Perilaku pengguna hotel selama menginap dapat dibedakan
menjadi beberapa, yaitu sebagai berikut:
1) Menggunakan fasilitas Hotel
Berdasarkan penelitian oleh Rusmawati DJ (2019), Fasilitas
kamar dan harga hotel menjadi faktor utama yang memengaruhi
tingkat kepuasan tamu selama menginap.
2) Berinteraksi dengan Staf Hotel
Interaksi antara tamu dan staf memiliki peran krusial dalam
menciptakan pengalaman menginap yang menyenangkan.
Keramahan, kesopanan, serta respons cepat dari staf sangat
memengaruhi kepuasan pelanggan. Penelitian oleh Matantu et al.
(2020) menunjukkan bahwa sikap positif staf hotel merupakan
aspek yang paling dominan dalam menentukan preferensi tamu
terhadap suatu hotel.
3) Memanfaatkan Layanan Hotel
Kualitas layanan tambahan dan peran front office
berpengaruh besar terhadap kepuasan tamu, dengan dimensi
pelayanan seperti keandalan, empati, dan jaminan sebagai faktor
pendukung utama.
4) Berpartisipasi dalam Acara atau Aktivitas
Menurut Santoso et al. (2024) Kegiatan interaktif dan
fasilitas hotel yang mendukung kenyamanan tamu berpengaruh
positif terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan.
5) Berinteraksi dengan Tamu Lain
Penelitian Hidjaz (2014) menyatakan bahwa desain ruang
dan kondisi fisiknya sangat mendukung terjadinya interaksi, dan
interaksi umumnya terjadi di area makan atau koridor sebagai titik
pertemuan tak disengaja, seperti lobi, lorong, dan area lift.
6) Memanfaatkan Teknologi
Berdasarkan Studi Hananto (2023) menunjukkan bahwa
kemudahan dan manfaat teknologi di hotel memberikan dampak
signifikan, baik secara terpisah maupun keseluruhan, terhadap
tingkat kepuasan tamu. Semakin praktis dan berguna teknologi
tersebut, maka semakin tinggi pula kepuasan pengguna.
c. Perilaku Setelah Menginap
Kepuasan tamu terhadap pelayanan, kenyamanan, dan desain
hotel berpengaruh pada perilaku pascamenginap, seperti memberi
ulasan positif, merekomendasikan, dan melakukan kunjungan
[Link] ini sejalan dengan penelitian oleh Thungasal & Siagian
(2019) yang menunjukkan bahwa kualitas layanan memiliki pengaruh
signifikan dan positif terhadap kepuasan pelanggan, yang selanjutnya
berpengaruh signifikan dan positif terhadap loyalitas pelanggan.
C. Tinjauan Terhadap RKS
1. Pengertian RKS
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) merupakan dokumen esensial
dalam bidang konstruksi yang memuat berbagai ketentuan serta prosedur
yang harus diikuti oleh semua pihak yang terlibat dalam proyek
pembangunan.
Menurut Caesario dan Priyanto, RKS harus sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku, seperti dalam contoh mutu beton
K-250 yang disyaratkan dalam proyek pembangunan gedung
(Caesario & Priyanto, 2023)
. RKS tidak hanya menetapkan spesifikasi teknis, tetapi
juga berfungsi sebagai panduan untuk mengelola kualitas dan hasil akhir
yang diharapkan dalam setiap aspek konstruksi.
Adapun syarat-syarat dalam RKS mencakup berbagai elemen
penting seperti keselamatan kerja, penjadwalan, dan pengendalian kualitas.
Hasil penelitian oleh Yuliansyah dan Arneta menegaskan pentingnya
mengintegrasikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam
pelaksanaan proyek untuk mengurangi risiko kecelakaan
(Yuliansyah & Arneta, 2020)
2. Tujuan Penyusunan RKS
Penyusunan RKS bertujuan untuk menjamin agar pelaksanaan
proyek berlangsung lancar dan sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan. Tujuan utama dari penyusunan RKS antara lain adalah:
a. Menjamin Kepastian Pelaksanaan Proyek: RKS menyediakan panduan
yang jelas mengenai cakupan pekerjaan, jenis pekerjaan yang akan
dilakukan, mutu material yang digunakan, serta jadwal pelaksanaan,
yang semuanya menjadi rujukan bagi kontraktor dan pihak-pihak
terkait lainnya.
b. Mencegah Kesalahan dan Ketidaksesuaian: RKS menetapkan secara
rinci spesifikasi pekerjaan dan bahan yang akan digunakan, sehingga
membantu mencegah terjadinya penyimpangan atau ketidaksesuaian
selama pelaksanaan proyek.
c. Pengendalian Kualitas: RKS memuat spesifikasi teknis secara detail,
sehingga memungkinkan pengawasan kualitas pekerjaan dilakukan
secara lebih efektif. Di dalamnya tercantum prosedur pengujian
material, standar teknis, serta tata cara pengendalian mutu.
d. Pengelolaan Administrasi Proyek: RKS turut berperan dalam mengatur
hal-hal administratif proyek, termasuk dokumen yang wajib disiapkan
oleh kontraktor, mekanisme pembayaran, serta tanggung jawab lain
yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. (Pribadi, S. (2024).
Pengadaan Barang dan Jasa (Edisi 4). Jakarta: Grafindo Persada.)
Secara umum, RKS terdiri dari dua bagian utama:
1) Rencana Kerja: Menyusun rencana atau metode pelaksanaan
pekerjaan serta tahapan yang harus dilalui
2) Syarat-Syarat: Menetapkan spesifikasi teknis, prosedur
adminidtrasi, dan standar yang harus diikuti selama pelaksanaan
pekerjaan.
3. Komponen-Komponen RKS
Dokumen RKS mencakup berbagai elemen yang saling terhubung
dan menjabarkan secara rinci setiap aspek pekerjaan dalam suatu proyek.
Adapun beberapa elemen utama dalam RKS antara lain sebagai berikut:
a. Pendahuluan
Pendahuluan berisi tentang:
1) Latar Belakang Proyek: Menjelaskan dasar atau alasan pelaksanaan
proyek serta sasaran yang ingin diwujudkan melalui kegiatan
tersebut.
2) Ruang Lingkup Pekerjaan: Menjelaskan secara rinci jenis-jenis
pekerjaan yang akan dilaksanakan, batas-batas pelaksanaan, serta
cakupan kegiatan yang termasuk dalam proyek.
3) Tujuan dan Sasaran: Menggambarkan secara umum hasil akhir
yang diharapkan dari pelaksanaan proyek tersebut.
b. Deskripsi Pekerjaan
Uraian pekerjaan memaparkan secara detail jenis-jenis pekerjaan
yang akan dilakukan, mencakup hal-hal berikut:
1) Jenis Pekerjaan: Misalnya pekerjaan struktur, mekanikal, elektrikal,
finishing, dan sebagainya.
2) Metode Pelaksanaan: Uraian mengenai cara atau teknik yang akan
diterapkan dalam pelaksanaan pekerjaan, termasuk prosedur
operasional yang digunakan.
c. Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis mencakup seluruh standar yang wajib dipenuhi
selama pelaksanaan proyek, seperti:
1) Kualitas Material: Jenis serta mutu material yang digunakan,
seperti beton, baja, kaca, dan lainnya.
2) Prosedur Pengujian Material: Standar pengujian laboratorium atau
lapangan yang harus dilaksanakan untuk menjamin kualitas
material.
3) Metode Kerja: Prosedur pelaksanaan pekerjaan yang wajib diikuti
oleh kontraktor.
d. Jadwal Waktu Pelaksanaan
Dokumen RKS juga memuat:
1) Durasi Proyek: Menyebutkan jumlah waktu keseluruhan yang
diperlukan untuk menyelesaikan proyek.
2) Milestone: Pencapaian penting dalam proyek yang harus diraih
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
3) Penjadwalan Tahapan Kerja: Menyusun alokasi waktu untuk setiap
fase pekerjaan, mulai dari persiapan hingga penyelesaian proyek.
e. Syarat-Syarat Administrasi
1) Dokumen yang Diperlukan: Dokumen administratif yang wajib
diserahkan oleh kontraktor, seperti surat izin usaha, jaminan
pelaksanaan, dan lainnya.
2) Pembayaran dan Pembiayaan: Menjelaskan mekanisme
pembayaran yang akan dilakukan sesuai dengan tahapan pekerjaan
yang telah diselesaikan.
3) Jaminan dan Sanksi: Persyaratan jaminan yang harus diberikan
oleh kontraktor serta sanksi-sanksi yang akan diterapkan jika
terjadi pelanggaran.
f. Keamanan dan Kesehatan Kerja (K3)
Setiap proyek, khususnya di sektor konstruksi, wajib mengikuti
standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3). RKS mencakup:
1) Panduan Keamanan: Menjelaskan langkah-langkah yang perlu
diambil untuk memastikan keselamatan pekerja di lokasi proyek.
2) Alat Pelindung Diri (APD): Jenis dan pemakaian alat pelindung
yang wajib digunakan selama pekerjaan.
1. Proses Penyusunan RKS
Penyusunan RKS merupakan proses yang melibatkan berbagai pihak
untuk memastikan dokumen yang disusun dapat diterapkan dalam
pelaksanaan proyek. Berikut adalah langkah-langkah dalam penyusunan
RKS:
1) Identifikasi Kebutuhan Proyek
Langkah pertama adalah mengidentifikasi secara menyeluruh
kebutuhan dan tujuan proyek, termasuk jenis pekerjaan, durasi, dan
anggaran yang tersedia.
2) Penentuan Spesifikasi dan Standar Spesifikasi teknis dan standar
kualitas harus ditetapkan secara rinci, mulai dari bahan bangunan
yang akan digunakan, metode pelaksanaan, hingga prosedur
pengujian.
3) Penyusunan Draft RKS Setelah informasi terkumpul, draft RKS
disusun dengan merinci seluruh komponen pekerjaan yang akan
dilaksanakan, termasuk jadwal dan anggaran.
4) Revisi dan Finalisasi Draft RKS akan direvisi berdasarkan masukan
dari berbagai pihak terkait, seperti konsultan, pengawas proyek,
dan kontraktor. Revisi ini bertujuan untuk memastikan dokumen
RKS lengkap dan akurat.
5) Pengesahan RKS
Setelah direvisi, dokumen RKS disahkan oleh pihak yang
berwenang (misalnya pemilik proyek atau lembaga pemerintah
terkait) dan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan.
2. Pentingnya RKS dalam Pengadaan Barang/Jasa
RKS memiliki peran yang sangat penting dalam pengadaan barang
dan jasa, khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Berikut beberapa
alasan mengapa RKS sangat diperlukan:
a. Sebagai Pedoman Penawaran: Penyedia barang/jasa merujuk pada
RKS dalam menyusun penawaran mereka, agar harga dan kualitas
yang diajukan sesuai dengan persyaratan yang diinginkan.
b. Dasar Penilaian Penawaran: RKS digunakan oleh tim pengadaan untuk
menilai apakah penawaran yang masuk memenuhi spesifikasi yang
telah ditentukan.
c. Pengendalian Kualitas dan Waktu: RKS berfungsi sebagai panduan
pengawasan selama proyek untuk memastikan bahwa pekerjaan selesai
tepat waktu dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
3. Tantangan dalam Penyusunan dan Implementasi RKS
Walaupun RKS memiliki peran yang sangat vital, terdapat beberapa
tantangan yang sering dihadapi dalam penyusunan dan penerapannya, di
antaranya:
a. Ketidakjelasan Tujuan dan Cakupan Proyek: Dalam beberapa kasus,
proyek tidak memiliki cakupan yang jelas, sehingga RKS yang disusun
menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan.
b. Perubahan Spesifikasi dan Anggaran: Proyek sering kali mengalami
perubahan dalam spesifikasi atau anggaran selama pelaksanaan, yang
berdampak pada kesesuaian dengan RKS yang telah disusun.
c. Pengawasan yang Tidak Cukup Ketat: Kurangnya pengawasan
terhadap pelaksanaan pekerjaan dapat menyebabkan penyimpangan
dari standar yang telah tercantum dalam RKS.
4. Contoh Penerapan RKS dalam Proyek Konstruksi
Dalam proyek konstruksi, RKS berfungsi untuk mengatur berbagai
pekerjaan teknis seperti struktur, mekanikal, elektrikal, dan pekerjaan
finishing. Contohnya, dalam pembangunan gedung, RKS akan
mencantumkan spesifikasi beton yang digunakan (seperti kelas beton yang
harus dipenuhi) serta prosedur pengujian kualitas beton tersebut. Selain
itu, RKS juga akan mengatur metode pelaksanaan pekerjaan, mulai dari
persiapan lahan, pembangunan struktur dasar, instalasi listrik, hingga tahap
finishing.
(Samsudin, R. (2010). Manajemen Proyek Konstruksi. Jakarta: Erlangga.)
D. Tinjauan Terhadap RAB
1. Pengertian RAB
Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan dokumen esensial
dalam setiap proyek konstruksi yang mendetailkan estimasi biaya untuk
seluruh kegiatan dan bahan yang diperlukan. Menurut sejumlah
penelitian, RAB merupakan hasil dari analisis dan perencanaan
menyeluruh yang digunakan oleh kontraktor dan pemilik proyek untuk
memastikan kelancaran proses pembangunan serta menghindari masalah
finansial di masa depan (Adianto et al., 2022; Astana, 2017).
RAB tidak hanya terbatas pada bidang konstruksi, tetapi juga
berlaku dalam proses pengadaan barang dan jasa, baik di lingkungan
pemerintah maupun swasta. Dalam konteks pengadaan, RAB menjadi
landasan dalam penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yang
berperan penting dalam menentukan besaran nilai kontrak. (Jaya, A.
(2018). Manajemen Proyek Konstruksi. Jakarta: Gramedia; Peraturan
Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.)
2. Konsep dan Komponen dalam Penyusunan RAB
Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan dokumen teknis yang
berisi perkiraan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan sebuah
proyek konstruksi. Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No.
28/PRT/M/2016, RAB wajib mencakup semua komponen pekerjaan
konstruksi, mulai dari tahap perencanaan hingga penyelesaian proyek.
3. Komponen Utama dalam RAB
a. Biaya Langsung
1) Material: Mencakup seluruh jenis material yang digunakan dalam
proses konstruksi, seperti semen, pasir, batu bata, baja, serta
berbagai bahan bangunan lainnya.
2) Tenaga Kerja: Biaya untuk tukang, pekerja kasar, dan tenaga
teknis lainnya dihitung berdasarkan lamanya pekerjaan serta
standar upah yang berlaku. Di wilayah Kota Kendari, penyesuaian
upah dilakukan sesuai ketentuan pemerintah daerah.
3) Peralatan: Meliputi biaya penggunaan alat berat yang dibutuhkan
selama proyek berlangsung, seperti ekskavator, mesin pengaduk
beton, atau pompa air.
b. Biaya Tidak Langsung
1) Pengelolaan administrasi Proyek, meliputi pengeluaran untuk
perizinan, kegiatan survei, serta penyusunan dokumen terkait
proyek.
2) Pembayaran Pajak dan Asuransi, yang merupakan kewajiban
selama tahap pelaksanaan konstruksi.
4. Tujuan RAB
Menurut Suryani (2019), penyusunan Rencana Anggaran Biaya
(RAB) bertujuan untuk:
a. Mendukung pengelolaan anggaran yang efisien.
b. Memberikan estimasi biaya yang realistis guna mempermudah
proses pengendalian dan pengawasan.
c. Mencegah terjadinya kelebihan pengeluaran di luar rencana
anggaran.
5. Prosedur Penyusunan RAB Hotel Bergaya Arsitektur Modern
Penyusunan RAB untuk Hotel di Kecamatan Kendari Barat
dilaksanakan melalu tahap-tahap berikut:
a. Tahap survei dan Analisis Kebutuhan Proyek ini mencakup:
Identifikasi lokasi, kondisi lahan, dan kebutuhan spesifik hotel
bergaya arsitektur modern. Berdasarkan SNI 7394:2008, evaluasi
kebutuhan proyek harus memperhitungkan elemen desain serta
kapasitas yang diperlukan.
b. Penyusunan Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis
1) Penyusunan gambar kerja dan spesifikasi teknis hotel modern
memerlukan analisis kebutuhan yang matang agar proyek
berjalan efisien, terkelola dengan baik, dan menghasilkan
kualitas optimal (Diyanti et al., 2023).
2) Penyusunan gambar kerja yang detail dan menyeluruh sangat
penting untuk memperlancar proses konstruksi serta
meminimalisir kesalahan di lapangan (Susanti et al., 2021).
3) Spesifikasi teknis yang mencakup detail material, metode kerja,
dan standar keselamatan penting untuk memastikan kualitas,
kepatuhan regulasi, serta kinerja optimal dalam pembangunan
hotel (Umar & Prasetya, 2021)
4) Penerapan sistem pemesanan kamar yang efisien, baik online
maupun offline, meningkatkan pengalaman tamu dan efisiensi
operasional hotel (Muliadi et al., 2020) Oleh karena itu, integrasi
antara desain fisik hotel dengan teknologi informasi merupakan
elemen penting dalam menyusun gambar kerja dan spesifikasi
teknisnya.
Dengan demikian, penyusunan gambar kerja dan spesifikasi teknis
untuk sebuah hotel modern harus dilakukan sistematis, mencakup analisis
kebutuhan yang mendalam, pembuatan gambar kerja yang detail, serta
penyusunan spesifikasi teknis yang lengkap. Langkah-langkah ini akan
memastikan bahwa proyek tidak hanya memenuhi anggaran waktu dan
biaya tetapi juga dapat mencapai standar kualitas yang diharapkan.
c. Perhitungan Volume Pekerjaan
Perhitungan volume pekerjaan dilakukan mengacu pada
gambar kerja yang telah tersedia.
Contohnya:
Volume pekerjaan pasangan bata dinyatakan dalam satuan meter
kubik (m³).
Pekerjaan atap dihitung berdasarkan luas permukaan atap dalam
satuan meter persegi (m²).
d. Penentuan Harga Satuan
Harga satuan pekerjaan dihitung berdasarkan:
1) Harga material lokal sesuai daftar harga satuan dari Dinas
Pekerjaan Umum Kota Kendari
2) Standar upah tenaga kerja perkotaan yang biasanya lebih tinggi
dibandingkan daerah pedesaan.
e. Rekapitulasi Biaya dan Analisis
Seluruh elemen biaya dihimpun untuk memperoleh total
keseluruhan biaya proyek. Sebagai tahap penutup, dilakukan
evaluasi guna memastikan bahwa biaya tersebut sejalan dengan
anggaran yang telah disetujui.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Akurasi RAB
Akurasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) dipengaruhi oleh metode
pengukuran, pemahaman spesifikasi teknis, dan dinamika proyek.
a. Pertama, Metode pengukuran yang tepat menentukan akurasi RAB
dan keberhasilan perencanaan proyek. (Wahyuningsih, 2019).
b. Kedua, Pemahaman spesifikasi teknis yang baik menentukan akurasi
RAB dan mencegah pembengkakan biaya proyek.
(Clarita & Anondho, 2022).
c. Selain itu, Fluktuasi harga material memengaruhi akurasi RAB
melalui perubahan dinamika pasar. (Yazid & Mat, 2018). Oleh
karena itu, penting untuk memperbarui data harga serta
mempertimbangkan faktor risiko tersebut saat menyusun RAB.
d. Pengalaman dan keterampilan tim sangat berpengaruh terhadap
akurasi RAB. (Tanjaya et al., 2016).
e. Terakhir, Kelengkapan dan keteraturan data menentukan akurasi
serta kualitas RAB. (Mutasar et al., 2019)
7. Studi Kasus Pembangunan Hotel Bergaya Arsitektur Modern
Studi tentang pembangunan hotel bergaya arsitektur modern di Kota
Kendari, Sulawesi Tenggara memiliki Penggunaan teknologi digital
seperti pemodelan 3D dan simulasi arsitektural meningkatkan kualitas
serta efisiensi perancangan hotel bergaya modern (Purwanto, 2024).
8. Pengertian Anggaran
Anggaran merupakan rencana berbentuk kuantitatif yang disusun
secara berkala berdasarkan program yang telah disetujui sebelumnya. Di
bawah ini terdapat beberapa definisi anggaran menurut para ahli:
a. Anggaran, menurut Nafarin (2007), dapat dipahami sebagai suatu
rencana tertulis yang mengatur kegiatan suatu organisasi yang
dinyatakan dalam bentuk kuantitatif selama periode tertentu,
biasanya dinyatakan dalam satuan moneter seperti uang, tetapi juga
bisa berupa satuan barang atau jasa (Oktaviyah, 2022).
b. Anggaran, menurut Priyantono et al., anggaran mencerminkan
tingkat penyerapan yang optimal terhadap sumber daya yang
tersedia, yang krusial dalam konteks pengelolaan keuangan publik
(Priyantono et al., 2017).
c. Anggaran, sebagaimana dinyatakan oleh (Susilawati et al., 2023) ,
adalah rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang
dinyatakan secara kuantitatif untuk periode tertentu dan diungkapkan
dalam bentuk moneter, yang juga dapat merujuk pada satuan barang
atau jasa.
9. Jenis-Jenis Anggaran
Anggaran dapat dikelompokan dari beberapa sudut pandang:
a. Anggaran Operasional: Menurut Saputra et al., anggaran operasional
berfungsi untuk merencanakan kegiatan rutin dan memastikan
bahwa semua pengeluaran tetap dalam batas yang telah ditentukan
(Saputra et al., 2020) . Contoh dari anggaran operasional adalah
anggaran untuk gaji, biaya utilitas, dan pengadaan barang.
b. Anggaran Modal: Mulyono menyatakan bahwa anggaran modal
penting untuk memastikan bahwa investasi yang dilakukan dapat
menghasilkan keuntungan dan meningkatkan daya saing organisasi
(Mulyono, 2024). Contohnya adalah anggaran untuk pembelian
gedung baru atau peralatan produksi.
c. Anggaran Partisipatif: Didefinisikan oleh Rahmawati dan Supriatono
sebagai proses di mana warga atau pemangku kepentingan dilibatkan
dalam perumusan anggaran. (Rahmawati & Supriatono, 2019).
Contohnya bisa dilihat dalam program pembangunan desa yang
melibatkan masyarakat setempat dalam memilih prioritas
pembangunan.
d. Anggaran Fleksibel: Jenis anggaran ini memungkinkan penyesuaian
berdasarkan perubahan kondisi di lapangan, yang sangat berguna
dalam situasi yang tidak menentu. (Barasa et al., 2023). Contohnya
adalah anggaran yang dibuat untuk proyek yang dapat disesuaikan
berdasarkan hasil kinerja awal atau situasi ekonomi.
e. Anggaran Bertahap: Puspita dan Priyono mencatat bahwa anggaran
bertahap membantu pemantauan dan evaluasi kinerja anggaran
secara lebih sistematis dan terencana (Nur Hidayah et al., 2023).
Contoh dapat dilihat pada projek pembangunan yang dibagi dalam
beberapa tahap dengan anggaran yang ditetapkan per tahap.
f. Anggaran Rutin: Menurut Azmi, anggaran rutin mencakup
pengeluaran untuk pemeliharaan dan operasi
(Ayuningrum et al., 2023)
Contoh dari anggaran rutin adalah biaya pemeliharaan gedung
dan biaya administrasi umum.
10. Manfaat dan Fungsi Anggaran
a. Manfaat Anggaran
Manfaat utama anggaran adalah sebagai alat perencanaan yang
membantu organisasi dalam mengalokasikan sumber daya secara
efektif. Penggunaan anggaran yang tepat dapat meminimalkan risiko
kolusi dan korupsi, sehingga meningkatkan efisiensi dalam
pengadaan barang/jasa pemerintah, seperti yang dijelaskan oleh
Rizki dan Ridwan (Rizki & Ridwan, 2023).
b. Fungsi Anggaran
1) Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang
memungkinkan manajemen untuk memonitor dan mengevaluasi
kinerja keuangan. Penelitian oleh (Ayuni & Erawati, 2018)
menunjukkan bahwa kejelasan sasaran anggaran dan komitmen
organisasi dapat mempengaruhi senjangan anggaran, yang
merupakan indikator penting dalam mengevaluasi kinerja.
2) Di sektor publik, seperti yang dijelaskan oleh Saputro et al.
(Saputro et al., 2016) , anggaran juga berfungsi untuk
mengembangkan teori akuntansi sektor publik dan menanggapi
faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi ketepatan
anggaran.
11. Prosedur Penyusunan Anggaran
Prosedur penyusunan anggaran merupakan proses penting dalam
manajemen keuangan yang melibatkan serangkaian langkah strategis.
langkah-langkah tersebut umumnya mencakup analisis kebutuhan,
pengumpulan data, perencanaan, penyusunan, serta evaluasi anggaran
itu sendiri.
a. Langkah pertama dalam penyusunan anggaran biasanya adalah
analisis kebutuhan. Pada tahap ini, dilakukan identifikasi dan
pengklasifikasian kebutuhan dengan melibatkan berbagai pihak,
termasuk pegawai yang terkait langsung (stakeholders) dalam
kegiatan yang akan didanai
(Firana & Abbas, 2020; Indrawati, 2020)
.
b. Setelah kebutuhan diidentifikasi, tahap berikutnya adalah
pengumpulan data. Hal ini meliputi pengumpulan informasi terkait
biaya, sumber daya yang tersedia, dan faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi alokasi anggaran (Sutrisna, 2023).
c. Kemudian, tahap perencanaan dilakukan untuk menentukan strategi
anggaran. Ini meliputi pembuatan rancangan anggaran berdasarkan
data yang telah dikumpulkan serta penentuan bagaimana cara
pengalokasian sumber daya akan dilakukan. Dalam hal ini,
pembuatan standar operasional prosedur (SOP) dapat diperlukan
untuk menuntun proses dan prosedur dalam penyusunan anggaran
(Biswan & Widianto, 2019).
d. Setelah perencanaan selesai, tahap penyusunan anggaran secara
resmi bisa dilakukan. Pada tahap ini, semua informasi dan data yang
telah diperoleh disusun menjadi suatu dokumen anggaran yang
mencakup semua rincian pendapatan dan pengeluaran
(Milah et al., 2024).
e. Akhirnya, setelah dokumen anggaran disusun, tahap evaluasi harus
dilakukan. Evaluasi diperlukan untuk menilai efektivitas anggaran
yang telah disusun dan untuk menentukan apakah anggaran tersebut
telah memenuhi tujuan yang diharapkan (Benufinit & Modok, 2023).
BAB III
TINJAUAN PROYEK
A. Gambaran Umum Proyek
1. Letak Geografis Luas Wilayah
Kota Kendari terletak di wilayah timur Provinsi Sulawesi
Tenggara. Secara astronomis kota kendari terletak antara 3°54'40''–
4°5'05'' Lintang Selatan (LS) dan 122°26'33''–122°39'14'' Bujur Timur
(BT). Kota Kendari mencakup wilayah sekitar ±271,8 km², atau sekitar
0,70 persen dari total daratan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kota ini
didominasi oleh daerah berbukit dan dilintasi oleh beberapa sungai yang
bermuara ke Teluk Kendari, menjadikannya wilayah yang kaya akan
hasil laut.
Kota Kendari memiliki batas wilayah administratif yang telah
ditetapkan. Di sebelah utara, kota ini berbatasan dengan Kecamatan
Soropia, Kabupaten Konawe. Sementara di sisi timur, berbatasan
langsung dengan Laut Banda. Adapun di bagian selatan, berbatasan
dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda yang berada di
Kabupaten Konawe Selatan.
Kota Kendari terletak di wilayah timur Provinsi Sulawesi
Tenggara. Kota Kendari terbagi menjadi 11 kecamatan, yaitu Mandonga,
Baruga, Puuwatu, Kadia, Wua-Wua, Poasia, Abeli, Kambu, Nambo,
Kendari, dan Kendari Barat. Berdasarkan Stasiun pengamatan BMKG
pada tahun 2023 Jumlah curah hujan, hari hujan dan penyinaran
matahari menurut bulan di Kota Kendari, sebagai berikut :
Tabel 3. 1 Jumlah Curah Hujan, Hari Hujan Dan Penyinaran Matahari Menurut
Bulan di Kota Kendari Tahun 2023
Penyinaran
Bulan Curah Hujan Hari Hujan
Matahari
Januari 67,1 23 47,2
Februari 127,8 21 33,2
Maret 272,6 27 62,1
April 121,7 23 64,0
Mei 107,6 23 56,3
Juni 171,3 15 51,9
Juli 135,7 21 61,3
Agustus 46,1 11 70,9
September 12,0 4 85,7
Oktober 0,0 - 96,5
November 34,6 6 85,8
Desember 238,6 24 65,4
Sumber : [Link]
Secara geografis luas daerah Kecamatan Kendari Barat menurut
kelurahan pada tahun 2023 sebagai berikut:
Tabel 3. 2 Letak Geografis Luas Daerah Kecamatan Kendari Barat Menurut
Kelurahan Pada Tahun 2023
Persentase
Kelurahan Luas (Km2) Terhadap Luas
Kecamatan
Kemaraya 4,90 23,06
Watu-Watu 1,85 8,71
Tipulu 3,50 16,47
Punggaloba 3,66 17,22
Benua-Benua 2,08 9,79
Sodoha 2,08 9,79
Sanua 1,94 9,13
Dapu-Dapura 0,21 0,99
Lahundape 1,03 4,85
Total 21,25 100,00
Sumber : [Link]
Luas wilayah menurut Kecamatan di Kota Kendari (m 2) 2023 sebagai
berikut:
Tabel 3. 3 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Kendari (Km2) 2023
Luas Wilayah Menurut Kecamatan
Kecamatan
di Kota kendari (Km2)
Mandonga 23,63
Baruga 44,38
Puuwatu 39,88
Kadia 6,56
Wua-Wua 11,82
Poasia 37,51
Abeli 16,05
Kambu 25,35
Nambo 26,44
Kendari 17,27
Kendari Barat 21,25
Sumber : [Link]
2. Penentuan Tapak
Tapak terletak di Jalan Edi Sabara, Lahundape, Kecamatan
Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Tapak termasuk dalam
zona lahan kosong, Luas tapak bangunan Hotel Modern yang tersedia
sekitar 8.075 m2 dengan kontur tapak rata. Batas-batas disegala arah
untuk tapak bangunan adalah dibatasi dengan hotel, dan pemukiman
warga.
Gambar 3. 1 Lokasi Perencanaan Bangunan Hotel (Sumber:
[Link] (Online 2025))
3. Kajian Khusus Perancangan Bangunan Hotel Modern Kec. Kendari
Barat, Kota Kendari
a. Pengertian Hotel Kecamatan Kendari Barat
Hotel yang penulis akan rancang secara geografis berada di
Kecamatan Kendari Barat, Kota kendari. Penulis memilih lokasi di
Jalan Edi Sabara, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi
Tenggara (koordinat garis lintang 3°58'5,08" LS dan garis bujur
122°31'58,01" BT) karena pertimbangan atas potensi ekonomi yang
tinggi dimana dalam 4 tahun terakhir (2022 sampai 2025) jumlah
perjalanan wisatawan ke kota kendari rata-rata mencapai 202.234
(dua ratus dua ribu dua ratus tiga puluh empat) (Badan Pusat
Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2025d, 2025c, 2025b, 2025a),
letak geografis yang strategis dimana menurut (Badan Pusat Statistik
Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024) jumlah destinasi wisata menurut
jenis wisata di Kota Kendari mencapai 47 (empat puluh tujuh)
tempat. Lokasi ini menawarkan pemandangan alam yang indah dan
berdekatan dengan pusat kuliner yang terletak di Kendari Beach.
Selain itu, aksesibilitas ke berbagai lokasi penting seperti pasar,
pelabuhan, dan fasilitas umum yang mendukung juga menjadi faktor
utama, antara lain jalan yang mulus, keberadaan pusat perbelanjaan,
rumah sakit, serta kedekatannya dengan Pantai Toronipa.
b. Kondisi Existing
Lokasi site yang dipilih memiliki keunggulan strategis dengan
aksesibilitas yang sangat baik, ditandai dengan jalanan yang lebar
dan memadai untuk mendukung mobilitas kendaraan, sehingga
memberikan kemudahan akses bagi tamu dan operasional hotel.
Terletak hanya 10 menit dari Pelabuhan Kapal Cepat Kendari Raha,
11 menit dari Pelabuhan Fery Kendari Wawonii, 9 menit dari Pasar
Sentral Kota Lama, 8 menit dari tempat pelelangan ikan, 2 menit dari
SPBU Teratai Kendari. Lokasi ini tidak hanya menjamin
konektivitas yang efisien terhadap arus logistik dan transportasi,
tetapi juga membuka peluang dalam menjangkau segmen wisatawan
yang membutuhkan akomodasi dekat fasilitas pelabuhan. Selain itu,
kedekatan dengan area pelelangan dan beberapa fasilitas umum
lainnya menambah nilai komersial dan fungsional, sehingga site ini
memiliki potensi tinggi untuk mendukung berbagai kegiatan
ekonomi serta memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
1) Garis Edar Matahari (Sun Path)
Lintasan matahari merupakan gerakan harian matahari dari
arah timur ke barat yang dipengaruhi oleh posisi bumi, dan pola
pergerakan tersebut dapat divisualisasikan melalui sun path
diagram sesuai dengan lokasi geografis tertentu. (Sammang dkk.,
2022).
Garis edar matahari sepanjang tahun memengaruhi arah
dan intensitas cahaya pada bangunan, sehingga setiap fasad
memerlukan perlindungan panas dan peneduh yang disesuaikan
dengan posisi matahari tiap periode.
Gambar 3. 2 Garis Peredaran Matahari di Bulan Januari
Sumber: [Link]
2) Suhu
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun 2024, diketahui suhu
rata-rata kota Kendari adalah sebagai berikut (Data Online –
Direktorat Data dan Komputasi BMKG, t.t).
Suhu rata-rata (°C)
30
29
28
27
26
25
24
23
i i et ril ei ni li s r r r r
ar ar ar Ju ju tu be be be be
a nu bru M Ap M us m kto m m
J g e e e
Fe A pt O v s
Se No De
Berdasarkan data yang tersebut, diketahui rata rata suhu di
Kota Kendari adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 4 Rata-Rata Suhu Kota Kendari 2024
Bulan Rata-Rata Suhu (0C)
Januari 29,63
Febtuari 29,65
Maret 29,59
April 29,00
Mei 28,27
Juni 28,20
Juli 25,78
Agustus 26,05
September 27,13
Oktober 27,70
November 27,93
Desember 27,75
Sumber: (Data Online - Direktorat Data dan Komputasi BMKG,
t.t.)
3) Curah Hujan
Curah Hujan adalah banyaknya air hujan yang tercurah
atau turun di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu
(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor
11/PRT/M/2014 Tentang Pengelolaan Air Hujan Bangunan
Gedung dan Persilnya, 2014). Dalam pengukuran curah hujan
digunakan satuan milimeter (mm), dimana curah hujan satu
milimeter (1 mm) berarti dalam luasan satu meter persegi (1 m2)
tertampung air sebanyak satu liter (1 liter) atau tertampung air
setinggi satu milimeter (1 mm) (Limahelu, 2020).
Berdasarkan definisi tersebut, diketahui curah hujan di kota
kendari yaitu sebagai berikut:
Jumlah Curah Hujan Kota Kendari 2024
600
489.3
439.1
Jumlah Curah Hujan (mm)
500
371.5
400 328
272.5
300208.5 204.2
171.6 185.6
200 136.1
100 49.8
12.4
0
ri ri et il ei ni li s er er er er
n ua rua ar Apr M Ju Ju ustu mb tob mb mb
Ja Feb M g e k e e
A ept O ov es
S N D
Bulan
Sumber: (Badan Pusat Statistik Kota Kendari, 2022, 2025)
4) Kebisingan
Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan yang
berasal dari suatu usaha atau aktivitas pada tingkat dan durasi
tertentu. Suara ini dapat mengganggu kesehatan manusia serta
mengurangi kenyamanan lingkungan (Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang
Baku Tingkat Kebisingan, 1996). Lebih lanjut Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor:
KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan
(1996) menetapkan bahwa Tingkat kebisingan adalah ukuran
energi bunyi yang dinyatakan dalams atuan Desibel disingkat dB.
a) Pengukuran
Pengukuran tingkat kebisingan dapat dilakukan melalui
dua metode, yaitu sebagai berikut (Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor:
KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat
Kebisingan, 1996).
(1) Cara Sederhana
Dengan sebuah sound level meter biasa diukur
tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 (sepuluh) menit
untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan setiap 5
(lima) detik.
(2) Cara Langsung
Pengukuran dilakukan menggunakan integrating
sound level meter yang dilengkapi dengan fitur LTM5,
yaitu pengukuran tingkat kebisingan setara (Leq) dengan
interval waktu setiap 5 (lima) detik. Proses pengukuran
dilakukan selama 10 (sepuluh) menit untuk setiap titik
pengamatan.
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat
Kebisingan (1996), pengukuran dilakukan selama periode
aktivitas 24 jam atau Level of Sound Measurement (LSM),
yang dibagi menjadi dua bagian. Aktivitas siang hari (Level
Siang atau LS) berlangsung selama 16 jam, yaitu dari pukul
06.00 hingga 22.00, yang merupakan periode dengan tingkat
aktivitas tertinggi. Sementara itu, aktivitas malam hari (Level
Malam atau LM) berlangsung selama 8 jam, yaitu dari pukul
22.00 hingga 06.00.
Dalam (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat
Kebisingan, 1996) ditetapkan, setiap pengukuran tingkat
kebisingan harus mampu mewakili selang waktu tertentu.
Untuk itu, ditetapkan paling sedikit empat waktu pengukuran
pada periode siang hari dan paling sedikit tiga waktu
pengukuran pada periode malam hari. Sebagai contoh,
pembagian waktu pengukuran dapat dilakukan sebagai
berikut:
1) L1 diambil pada pukul 07.00, mewakili rentang waktu
06.00–09.00
2) L2 diambil pada pukul 10.00, mewakili rentang waktu
09.00–11.00
3) L3 diambil pada pukul 15.00, mewakili rentang waktu
14.00–17.00
4) L4 diambil pada pukul 20.00, mewakili rentang waktu
17.00–22.00
5) L5 diambil pada pukul 23.00, mewakili rentang waktu
22.00–24.00
6) L6 diambil pada pukul 01.00, mewakili rentang waktu
24.00–03.00
7) L7 diambil pada pukul 04.00, mewakili rentang waktu
03.00–06.00
Equivalent Continuous Noise Level (tingkat
kebisingan sinambung setara) adalah nilai tingkat
kebisingan yang dihasilkan dari kebisingan yang
Leq = bersifat fluktuatif selama periode waktu tertentu.
Nilai ini setara dengan tingkat kebisingan dari
suara ajeg (steady) dalam selang waktu yang
sama.
Satuan pengukurannya adalah desibel (dB A).
LTM5 = Leq dengan waktu sampling tiap 5 detik
LS = Selama siang hari
LM = Selama malam hari
LSM = Selama siang dan malam hari
Berdasarkan aturan tersebut, diketahui area dengan tingkat
kebisingan tertinggi yaitu di sebelah Tenggara site yang
berbatasan langsung dengan Jalan Edi Sabara dan arah Barat
yang berbatasan langsung dengan Jalan Swiss-Belhotel.
Gambar 3.3 Analisa Sumber Kebisingan
Sumber: Google Earth Pro
5) Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya
zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh
kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat
memenuhi fungsinya (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara,
1999). Berdasarkan definisi tersebut, berikut beberapa penyebab
pencemaran udara di sekitar tapak.
Gambar 3. 4 Analisa Penyebab Pencemaran Udara di Sekitar
Tapak
Gambar 3. 5 Analisa Penyebap Pencemaran Udara di Sekitar Tapak
Keterangan:
Kode Area Penyebap Pencemaran Udara
Area A 1) Penggunaan Kendaraan Bermotor Berlebihan
2) Pembakaran Sampah Secara Terbuka
3) Industri Rumah Tangga dan Usaha Kecil
(bengkel, percetakan, dan produksi makanan
skala rumahan)
4) Aktivitas Rumah Tangga
Kurangnya Ruang Terbuka Hijau
Area B 1) Penggunaan Kendaraan Bermotor Secara
Berlebihan
2) Kondisi Kendaraan yang Tidak Terawat
3) Modifikasi Knalpot Kendaraan (Knalpot Racing
atau Tanpa Peredam)
Lalu Lintas Truk Berat dan Bus Beremisi Tinggi
6) Sirkulasi Kendaraan
Cyril M. Haris dalam Allo dkk. (2023) menjelaskan,
sirkulasi didefinisikan sebagai pola pergerakan atau lalu lintas
yang terjadi di dalam suatu area atau bangunan, yang mengatur
alur perpindahan manusia maupun aktivitas lainnya di dalam
ruang tersebut. Disamping itu, kendaraan didefinisikan sebagai
suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas kendaraan bermotor
dan kendaraan tidak bermotor (Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Kendaraan, 2012).
Berdasarkan dua definisi yang telah disebutkan, penilis
mengambil kesimpulan bahwa sirkulasi kendaraan adalah sebuah
pola pergerakan kendaraan, baik bermotor maupun tidak
bermotor, yang terjadi di dalam suatu area atau lingkungan
bangunan. Pola ini mengatur alur perpindahan kendaraan guna
mendukung kelancaran aktivitas dan fungsi ruang, serta
memastikan keteraturan dan efisiensi dalam penggunaan ruang
luar bangunan.
Berdasarkan definisi tersebut, diketahui sirkulasi di sekitar
tapak adalah sebagai berikut:
Gambar 3. 6 Peta Analisa Sirkulasi Kendaraan di Sekitar Tapak
Sumber: Google Earth Pro
Keterangan:
Jalan Edi Sabara - Arus lalu lintas paling sibuk (di
sekitar tapak), jalanan terdiri dari dua jalur.
Lorong Swiss-Belhotel – Arus lalu lintas tidak
begitu sibuk, jalanan hanya terdiri atas satu jalur
namun dapat dilewati dalam dua arah
Pintu Masuk Utama ke Area Swiss-Belhotel –
Sirkulasi kendaraan cukup sibuk.
7) Sirkulasi Pejalan Kaki di Sekitar Tapak
Berdasarkan pengamatan penulis, berikut ini adalah peta
sirkulasi pejalan kaki di sekitar tapak.
Gambar 3. 7 sirkulasi pejalan kaki disekitar tapak
Sumber: Google Earth Pro
8) Merupakan area yang paling sering digunakan
oleh pejalan kaki.
Pemandangan ke Dalam Tapak
9) Pemandangan dari Tapak
Analisis pemandangan dari tapak merupakan salah satu
aspek penting dalam perancangan yang berkaitan dengan kualitas
visual dan kenyamanan lingkungan. Pada poin ini penulis
mengamati potensi visual yang dimiliki oleh tapak terhadap
elemen-elemen lanskap maupun bangunan di sekitarnya. Adapun
hasil pengamatan penulis, zona pemandangan dari tapak dapat
dibagi ke dalam tiga zona pandang, yaitu sebagai berikut.
Gambar 3. 8 Zona Pandang A B dan C
Sumber: Google Earth Pro
c. Peran dan Fungsi Hotel bintang 3 di Kecamatan Kendari Barat
1) Peran Hotel
(1)Sebagai Penyedia Akomodasi
Menyediakan tempat menginap bagi wisatawan, pebisnis, dan
pelancong.
(2)Pendukung Industri Pariwisata
Menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata dengan
menyediakan layanan bagi wisatawan.
(3)Penggerak Ekonomi
Membantu pertumbuhan ekonomi lokal dengan menciptakan
lapangan kerja dan mendukung sektor bisnis lainnya
(misalnya restoran, transportasi, dan hiburan).
(4)Fasilitator Pertemuan dan Acara
Menyediakan ruang untuk pertemuan bisnis, seminar,
pernikahan, dan acara lainnya.
(5)Pendorong Investasi
Meningkatkan daya tarik suatu daerah bagi investor dalam
sektor properti dan pariwisata.
2) Fungsi Hotel
a) Fungsi Akomodasi
Memberikan tempat tinggal sementara dengan berbagai
tingkat fasilitas dan layanan.
b) Fungsi Pelayanan
Menyediakan berbagai layanan seperti makanan, minuman,
hiburan, dan rekreasi.
c) Fungsi Sosial
Menjadi tempat berkumpul bagi masyarakat, baik untuk
kegiatan bisnis, sosial, maupun wisata.
d) Fungsi Bisnis
Memfasilitasi kegiatan bisnis dengan menyediakan ruang
rapat, ballroom, dan fasilitas perkantoran.
3) Waktu Produktifitas Hotel
a) Berdasarkan Siklus Harian
(1) Pagi Hari (06.00 - 10.00)
Waktu check-out tamu, sarapan, dan pembersihan kamar.
(2)Siang Hari (10.00 - 15.00)
Persiapan kamar untuk tamu baru, meeting atau acara
bisnis berlangsung.
(3)Sore Hari (15.00 - 18.00)
Waktu check-in utama, tamu mulai berdatangan.
(4)Malam Hari (18.00 - 23.00)
Aktivitas restoran, room service, dan hiburan seperti bar
atau live music meningkat.
(5)Dini Hari (23.00 - 06.00)
Operasional berkurang, tetapi tetap ada layanan 24 jam
seperti resepsionis dan keamanan.
b) Berdasarkan Musim atau Tren Tahun
(1)Musim Liburan (Juni - Agustus, Desember - Januari)
Hotel ramai karena liburan sekolah dan akhir tahun.
(2)Hari-hari Besar atau Event (Lebaran, Natal, Tahun Baru,
Imlek, dll.) Peningkatan okupansi karena wisatawan atau
acara khusus.
(3)Musim Bisnis atau Konferensi (Maret - Mei, September -
November)
Banyak acara bisnis, seminar, dan konferensi yang
meningkatkan okupansi hotel.
c) Berdasarkan Hari dalam Seminggu
(1)Hari Kerja (Senin - Kamis)
(2)Hotel bisnis lebih aktif karena tamu korporat, pertemuan,
dan seminar.
(3)Akhir Pekan (Jumat - Minggu)
Hotel wisata lebih ramai dengan tamu liburan dan acara
keluarga.
B. Tinjauan Umum Lokasi Terkait Pemenuhan Material
1. Material Lokal
Jenis material lokal yang tersedia di Sulawesi Tenggara sebagai berikut:
a. Pasir
Berdasarkan hasil penelitian (Mustika & Talanipa, 2020)
terhadap penggunaan material asal sungai Anese, Kecamatan
Andoolo Barat, Kabupaten Konawe Selatan sebagai bahan campuran
beton struktural, dapat disimpulkan hal-hal berikut ini:
1) Material kerikil dan pasir yang berasal dari sungai Anese,
Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten Konawe Selatan memeuhi
Persyaratan untuk digunakan sebagai material pada campuran
beton, hal ini terlihat dari hampir terpenuhi semua spesifikasi
material yang dipersyaratkan, kecuali untuk pengujian keausan
aggregat dengan mesin Los Angeless dengan nilai abrasi sebesar
36,37% lebih besar dari persyaratan untuk material beton di atas
20 Mpa sebesar maksimum 25%.
2) Komposisi campuran material yang tepat untuk menghasilkan
beton struktural dengan mutu di atas K.225 adalah dengan
perbandingan volume antara semen : pasir : kerikil adalah 1 :
0,96 : 2,0.
3) Berdasarkan hasil pemeriksaan material dan mutu beton yang
dihasilkan dengan komposisi perbandingan volume 1 : 0,96 : 2,0,
maka dapat disimpulkan bahwa material asal Sungai Anese
Kecamatan Andoolo Barat Kabupaten Konawe Selatan dapat dan
layak untuk digunakan sebagai bahan campuran beton struktural.
b. Batu Pecah
Dari pengujian (Muhsar Muhammad, 2024) tentang kuat tekan
beton yang di lakukan di Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Halu Oleo dengan menggunakan mesin uji kuat tekan
beton maka dapat di peroleh sifat mekanik beton sebagai berikut :
Kuat tekan optimum di peroleh dalam variasi agregat terhadap 100
% agregat kasar Moramo adalah pada Variasi A sebesar 28,55 Mpa
dan benda uji pada variasi B, variasi C, variasi D dan variasi E
mengalami penurunan nilai kuat tekan secara berturut-turut sebesar
28,37 Mpa, 25,73 Mpa, 24,49 Mpa, dan 21,68 Mpa.
c. Batu Bata Merah
Produksi batu bata merah lokal yang biasa digunakan terletak
di Desa Abenggi, Kecamatan Landono merupakan salah satu daerah
penghasil batu bata merah terbesar. Batu bata dari wilayah ini
diproduksi secara tradisional dan banyak digunakan di Kota Kendari
dan sekitarnya karena kualitas tanah liatnya yang baik.
Keunggulannya:
1) Tanah liat di Konawe Selatan dikenal memiliki kadar lempung
tinggi dan sifat plastisitas yang baik, dua unsur utama dalam
pembuatan batu bata yang kuat dan tahan lama.
2) Desa Abenggi dan sekitarnya telah lama menjadi sentra industri
batu bata dan sebagian pengrajinnya sudah terbiasa memenuhi
kebutuhan proyek besar.
3) Letaknya dekat dengan Kota Kendari (pusat aktivitas
konstruksi), suplai batu bata dari Konawe Selatan lebih lancar
dan biaya logistik lebih rendah, Hal ini mendukung efisiensi
waktu dan biaya proyek hotel di Kendari
d. Kayu
Konawe Selatan dan Kolaka adalah dua daerah yang paling
menonjol dalam produksi kayu untuk kebutuhan pembangunan hotel
atau gedung di Sulawesi Tenggara, karena memiliki ketersediaan
bahan, jenis kayu yang sesuai untuk konstruksi, serta kemudahan
distribusi ke Kota Kendari dan sekitarnya.
2. Material Pabrikasi
Material pabrikasi yang umum digunakan dalam pembangunan
hotel berbintang, termasuk di wilayah Sulawesi Tenggara seperti Kota
Kendari dan sekitarnya, biasanya dipilih berdasarkan ketahanannya,
kecepatan proses pemasangan, serta kesesuaiannya dengan standar
teknis untuk bangunan bertingkat. Adapun jenis material tersebut antara
lain sebagai berikut:
a. Beton Precast (Beton Pra-Cetak)
Balok, kolom, panel dinding, panel lantai (floor deck), dan pagar
beton merupakan elemen yang cocok digunakan pada struktur utama
hotel karena memiliki kelebihan presisi tinggi, mutu terkontrol di
pabrik, dan mempercepat waktu pemasangan.
b. Panel Dinding Lightweight (misalnya: GRC, AAC, atau Sandwich
Panel)
GRC (Glassfiber Reinforced Concrete) dan panel hebel/AAC
(Autoclaved Aerated Concrete) digunakan pada partisi dalam kamar
hotel dan dinding luar karena ringan, tahan api, memiliki isolasi suara
dan termal yang baik, serta pemasangannya cepat.
c. Steel Structure Prefabrication
Baja ringan, baja H-beam, kanal C, dan rangka atap prefabrikasi
banyak digunakan untuk kerangka atap, balok lantai, dan elemen
struktur non-permanen karena kuat, tahan gempa, dan efisien untuk
gedung bertingkat.
d. Material Modular Interior
Kamar mandi modular (toilet pod), unit kitchen set, dan panel
langit-langit modular sangat cocok untuk proyek hotel dengan banyak
kamar seragam karena cepat dipasang, tampilan konsisten, dan mutu
terjaga.
e. Material Penutup Lantai dan Dinding Pabrikasi
Vinyl tile, ceramic tile, PVC wall panel, dan HPL (High
Pressure Laminate) digunakan pada koridor, kamar, restoran, dan
ruang publik hotel karena tahan lama, estetis, dan pemasangannya
cepat.
f. Kusen dan Jendela Alumunium Pabrikasi
Kusen aluminium anodized dan jendela UPVC cocok digunakan
pada jendela kamar, lobby, dan area servis hotel karena memiliki
kelebihan tahan karat, minim perawatan, dan presisi tinggi.
g. Tangga dan Lift Modular
Struktur tangga baja prefabrikasi dan shaft lift dengan panel
logam modular merupakan contoh material yang cocok untuk hotel
bertingkat tiga ke atas karena memiliki kelebihan dalam hal instalasi
yang cepat dan aman.
C. Tinjauan Pemenuhan Ketersediaan Tenaga Kerja
1. Pekerja Lokal
Pekerja lokal Sulawesi Tenggara yang biasa digunakan dalam
pembangunan hotel umumnya meliputi:
a. Tukang Batu
untuk pekerjaan pemasangan batu bata, beton, dan struktur dinding.
b. Tukang Kayu
mengerjakan rangka atap, kusen, pintu, dan elemen kayu lainnya.
c. Tukang Pasang Keramik dan Tile
memasang lantai, dinding keramik, dan finishing interior.
d. Tukang Cat
untuk pengecatan dinding, plafon, dan elemen finishing.
e. Tukang Instalasi Listrik
mengerjakan sistem kelistrikan dan pemasangan lampu.
f. Tukang Instalasi Plumbing
mengerjakan instalasi pipa air bersih, pembuangan, dan sanitasi.
g. Mandor Lokal
sebagai pengawas lapangan yang mengatur pekerja dan proses
pembangunan.
h. Tenaga Operator Alat Berat
mengoperasikan alat berat untuk pekerjaan pondasi dan penggalian.
2. Pekerja Profesional
a. Arsitek
merancang konsep dan desain bangunan hotel sesuai fungsi
dan estetika.
b. Insinyur Struktur
memastikan kekuatan dan keamanan struktur bangunan.
c. Insinyur Sipil
mengawasi pekerjaan konstruksi dan infrastruktur pendukung.
d. Insinyur Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing (MEP)
merancang dan mengawasi instalasi listrik, mekanik, dan perpipaan.
e. Manajer Proyek
mengatur jadwal, anggaran, dan koordinasi antar tim.
f. Konsultan Pengawas/Konstruksi
mengontrol kualitas pekerjaan dan kesesuaian dengan spesifikasi.
g. Surveyor
melakukan pengukuran dan pemetaan lokasi proyek.
h. Tenaga Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
memastikan penerapan standar keselamatan di lokasi kerja.
i. Interior Designer
merancang tata ruang dan estetika interior hotel.
j. Kontraktor Spesialis
Tenaga ahli di bidang tertentu seperti instalasi HVAC, sistem
keamanan, dan lain-lain.
BAB IV
PERANCANGAN RKS DAN RAB
A. Perancangan RKS
Untuk mendukung peningkatan kualitas dan keberlanjutan hotel
bergaya arsitektur modern di kecamatan Kendari Barat, diperlukan sebuah
perencanaan yang matang dan terstruktur. Dokumen Rencana Kerja dan
Syarat (RKS) ini disusun sebagai pedoman dalam pembangunan hotel
bergaya arsitektur modern. RKS ini mencakup berbagai aspek teknis,
administratif, dan hukum yang relevan, dengan tujuan memberikan arahan
yang menyeluruh bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan
proyek ini.
1. Syarat Umum
a. Pengertian
Didefinisikan dibawah ini mempunyai arti sebagain berikut:
1) Pemberi Tugas
Yaitu Pimpinan Proyek
2) Perencana
Yaitu perusahaan yang memiliki status badan hukum dan
ditunjuk oleh pihak pemberi tugas untuk melaksanakan
pekerjaan perencanaan serta berperan sebagai penasihat secara
berkala selama pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengawas
Merujuk pada perusahaan berbadan hukum yang
ditunjuk oleh pemberi tugas untuk melaksanakan tugas
pengawasan dan berperan sebagai penasihat secara berkala
selama proses pekerjaan berlangsung.
4) Pelaksana
Yaitu perusahaan berbadan hukum yang telah
menyepakati suatu kontrak dengan pemberi tugas untuk
melaksanakan pekerjaan berdasarkan gambar dan ketentuan
yang tercantum dalam dokumen kontrak.
5) Kontrak
Merujuk pada kesepakatan yang telah dibuat secara
tertulis dalam format tertentu, mencakup seluruh isi yang
tergambar dan tercantum di dalamnya.
6) Nilai Kontrak
Merujuk pada nilai yang tercantum dalam kontrak, yang
mencakup keuntungan, pajak, serta telah disesuaikan dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam kontrak tersebut.
7) Gambar-Gambar
Mengacu pada ilustrasi atau gambar teknis yang terdapat
dalam dokumen kontrak.
8) Jadwal Waktu
Yaitu jangka waktu yang ditentukan dalam kontrak dan
digunakan oleh pemberi tugas sebagai acuan untuk
mengevaluasi kinerja pekerjaan.
9) Disetujui
Tertuang dalam bentuk tulisan, termasuk konfirmasi
tertulis atas persetujuan lisan yang telah disepakati
sebelumnya.
b. Lingkup Kontrak
Kontrak mencakup pekerjaan perencanaan pembangunan
Hotel bergaya arsitektur modern di Kecamatan Kendari Barat, Kota
Kendari.
1) Dokumen Kontrak
a) Dokumen kontrak mencakup Surat Perjanjian Pelaksanaan
Pekerjaan beserta lampiran-lampirannya, termasuk
dokumen pelelangan sebagaimana dijelaskan dalam
Bagian I Buku Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini,
dokumen penawaran dari calon pelaksana, serta dokumen
terkait lainnya.
b) Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam kontrak
beserta lampirannya harus dipahami sebagai saling
melengkapi dan menjelaskan satu sama lain.
c) Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam dokumen
lampiran kontrak merupakan bagian integral dari kontrak
dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat kedua belah
pihak, sebagaimana ketentuan yang tercantum dalam
kontrak utama.
d) Pelaksana wajib meminta penjelasan kepada pemberi
tugas jika ada ketentuan kontrak yang belum jelas, dan
segala akibat akibat kelalaiannya menjadi tanggung jawab
Pelaksana.
2) Pengawasan
a) Pelaksanaan pengawasan pekerjaan ini akan dilakukan
oleh Konsultan Pengawas yang akan ditunjuk kemudian.
Tugas dan instruksi dapat diberikan baik secara lisan
maupun tertulis, dan akan dicatat dalam buku harian yang
ditandatangani atau diparaf.
b) Berdasarkan penjelasan tertulis mengenai wewenang dari
Pemberi Tugas, konsultan pengawas memiliki tanggung
jawab untuk mengawasi jalannya pekerjaan serta
memastikan kompetensi para pekerja yang terlibat dalam
pelaksanaan pekerjaan tersebut.
c) Pelaku pengawasan tidak berwenang untuk
(1) Mengecualikan Pelaksana dari kewajiban yang
tercantum dalam kontrak kerja.
(2) Tidak menentang pelaksanaan pekerjaan atau
penggunaan material yang tidak sesuai dengan
ketentuan kontrak, serta membatasi wewenang
Pemberi Tugas untuk memerintahkan pembongkaran.
3) Kewajiban Pelaksana
a) Pelaksana wajib melakukan pemeriksaan terhadap lokasi
pekerjaan dan mengumpulkan informasi yang diperlukan
mengenai potensi risiko, biaya tak terduga, serta kondisi
lain yang dapat memengaruhi penawarannya.
b) Sebelum mengajukan surat penawaran, Pelaksana
dianggap telah memeriksa dan memahami kelengkapan
dokumen penawarannya. Harga satuan yang tercantum
dalam daftar harga penawaran harus mencakup semua
kewajiban yang diatur dalam dokumen kontrak.
c) Jika penawaran disetujui, Pelaksana diwajibkan untuk
menandatangani kontrak sesuai dengan format yang telah
ditentukan, dengan kemungkinan adanya perubahan yang
disepakati oleh kedua belah pihak.
4) Personil Pelaksana
a) Sesuai dengan ketentuan dalam dokumen kontrak,
Pelaksana diwajibkan untuk menyediakan:
(1) Staf teknis yang memiliki keahlian dan pengalaman
sesuai bidangnya, serta mandor yang kompeten dalam
mengelola dan melaksanakan tugas yang diberikan.
(2) Pekerja terampil (skilled), setengah terampil (semi-
skilled), dan pekerja kasar (unskilled) yang diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan ini.
b) Pengawas berhak meminta Pelaksana untuk segera
mengganti tenaga kerja yang tidak kompeten selama
pelaksanaan pekerjaan, apabila dianggap tidak layak untuk
dipekerjakan. Tenaga kerja tersebut tidak diperkenankan
untuk ditugaskan kembali dalam pekerjaan terkait tanpa
izin tertulis dari Konsultan Pengawas.
5) Sub Kontraktor
a) Pelaksana dapat bekerja sama dengan rekanan atau
pelaksana lain, asalkan memperoleh izin dan persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas serta melaporkannya
kepada Pemberi Tugas.
b) Pelaksana diwajibkan menyampaikan laporan berkala
kepada Pemberi Tugas mengenai pelaksanaan kerja sama
sebagaimana dimaksud pada poin (a).
c) Kerja sama tersebut hanya diperbolehkan untuk sebagian
dari pekerjaan yang akan dilaksanakan; penyerahan
seluruh pekerjaan kepada subkontraktor tidak diizinkan.
d) Segala biaya yang timbul dan hasil pekerjaan dari
penyerahan sebagian pekerjaan kepada subkontraktor
tetap menjadi tanggung jawab penuh Pelaksana.
6) Jangka Waktu Pelaksanaan
a) Pekerjaan harus diselesaikan dalam jangka waktu yang
telah ditentukan dalam kontrak, terhitung sejak tanggal
penerbitan Surat Perintah Kerja (SPK).
b) Apabila pekerjaan tidak dapat diselesaikan sesuai dengan
rencana kerja atau diperkirakan tidak akan selesai dalam
waktu yang ditetapkan dalam kontrak, Pemberi Tugas
berhak untuk memutuskan kontrak secara sepihak.
7) Waktu dimulainya dan Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan
a) Pelaksana wajib memulai pekerjaan sebagaimana
tercantum dalam kontrak, paling lambat 15 (lima belas)
hari kalender sejak diterbitkannya Surat Perintah Kerja,
dan harus melaksanakannya dengan baik dan tepat
waktu, kecuali terdapat kendala di luar kendalinya yang
telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
b) Jika Pelaksana tidak mampu melaksanakan pekerjaan
sesuai ketentuan dan jadwal yang diajukan, maka
Pemberi Tugas berhak untuk memutus kontrak secara
sepihak. Seluruh konsekuensi akibat situasi tersebut
menjadi tanggung jawab Pelaksana.
c) Apabila terlihat adanya hambatan yang berpotensi
menyebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan,
maka Pelaksana harus segera menyampaikan
pemberitahuan tertulis kepada Pemberi Tugas mengenai
alasan dan penyebab hambatan tersebut serta estimasi
durasi keterlambatannya.
d) Untuk setiap keterlambatan, Pelaksana wajib
mengajukan permintaan tertulis untuk perpanjangan
waktu paling lambat 1 (satu) minggu sebelum batas
waktu penyerahan pekerjaan pertama, disertai alasan
yang dapat diterima oleh Pemberi Tugas.
e) Bila permohonan disetujui, Pemberi Tugas akan
memberikan perpanjangan waktu yang wajar atas
rekomendasi Konsultan Pengawas, dengan ketentuan
Pelaksana tetap harus berusaha menyelesaikan pekerjaan
tersebut.
8) Rencana Kerja
a) Dalam jangka waktu maksimal 15 (lima belas) hari
kalender setelah ditunjuk oleh Pemberi Tugas, Pelaksana
wajib segera menyampaikan rencana kerja untuk
mendapatkan persetujuan dari Pemberi Tugas, yang
mencakup antara lain:
(1) Jadwal pelaksanaan pekerjaan: Rencana waktu dan
urutan kegiatan pelaksanaan proyek, termasuk
metode yang akan digunakan, yang harus dibahas
dan disetujui oleh Pemberi Tugas.
(2) Struktur organisasi dan daftar personalia: Informasi
lengkap mengenai susunan organisasi dan daftar
personel yang akan ditugaskan di lapangan, untuk
diketahui oleh Pemberi Tugas.
(3) Jadwal personal: Rencana penugasan personel yang
disusun dalam bentuk tabel dan diagram.
(4) Jadwal pengadaan material: Rencana waktu
pengadaan bahan-bahan yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan.
(5) Jadwal pengadaan peralatan: Rencana waktu
pengadaan peralatan yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan.
(6) Tata cara pelaksanaan: Prosedur pelaksanaan
pekerjaan, baik dari segi teknis maupun
administratif.
b) Persetujuan atas rencana kerja atau informasi lain oleh
Pemberi Tugas tidak membebaskan Pelaksana dari
tanggung jawab yang telah ditetapkan dalam kontrak.
9) Jaminan Pelaksanaan
a) Sebelum kontrak ditandatangani, Pelaksana harus
menyerahkan Garansi Bank senilai 5% dari nilai kontrak
sebagai jaminan pelaksanaan, yang dapat dicairkan oleh
Pemberi Tugas tanpa persetujuan Pelaksana jika terjadi
pemutusan kerja.
b) Garansi Bank tersebut harus dapat dicairkan dalam
waktu maksimal 3 (tiga) bulan setelah adanya
permintaan tertulis dari Pemberi Tugas dan berlaku
hingga penyerahan pertama pekerjaan selesai.
c) Apabila Pemberi Tugas memutuskan kontrak sebelum
pekerjaan selesai, sesuai dengan kewenangan yang
tercantum dalam pasal 28 dari buku Syarat-syarat
Umum, maka Pemberi Tugas berhak mencairkan Garansi
Bank tersebut untuk kepentingan proyek.
d) Selama masa pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana harus
memastikan bahwa nilai Garansi Bank tetap utuh sesuai
dengan ketentuan pada poin a.
e) Garansi Bank akan dikembalikan kepada Pelaksana
setelah seluruh pekerjaan yang tercantum dalam kontrak
selesai dan diserahkan kepada Pemberi Tugas, sesuai
dengan ketentuan dan syarat yang berlaku dalam kontrak
dan dokumen lampirannya.
10) Asuransi
a) Dalam jangka waktu maksimal 14 (empat belas) hari
kalender setelah penandatanganan kontrak, Pelaksana
wajib mengasuransikan seluruh pekerjaan terhadap risiko
kerusakan atau kejadian/kecelakaan yang dapat
menyebabkan kerusakan atau kerugian.
b) Pelaksana wajib menyelenggarakan Asuransi Sosial
Tenaga Kerja dan menyediakan asuransi kecelakaan
kerja bagi semua pihak terkait proyek selama masa
pelaksanaan.
c) Jika Pelaksana tidak mengadakan atau memperpanjang
asuransi, Pemberi Tugas berhak melakukannya dengan
memotong dana milik Pelaksana.
11) Perburuhan
a) Pelaksana wajib memastikan bahwa seluruh aspek terkait
perekrutan dan pengelolaan tenaga kerja mematuhi
undang-undang dan peraturan ketenagakerjaan yang
berlaku di Indonesia, termasuk ketentuan mengenai
upah, jam kerja, dan hak-hak pekerja lainnya.
b) Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, Pelaksana bertanggung jawab untuk menjamin
kesehatan dan keselamatan kerja di lokasi proyek. Hal ini
mencakup pencegahan dan penanggulangan penyakit
menular serta penyediaan fasilitas Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan (P3K) yang memadai.
c) Pelaksana bertanggung jawab atas kepatuhan terhadap
ketentuan ini tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi
juga untuk subkontraktor dan seluruh individu yang
terlibat dalam proyek, baik secara langsung maupun
tidak langsung.
d) Pelaksana harus menghormati hari libur dan hari besar
keagamaan dengan mengatur jadwal kerja sesuai
ketentuan, serta memastikan pekerja mendapat haknya
sesuai peraturan ketenagakerjaan yang berlaku
(Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republ
12) Benda-benda Arkheologis
Kontraktor wajib mengamankan sekaligus
melaporkan/menyerahkan kepada pihak yang berwenang bila
nantinya menemukan benda-benda bersejarah.
13) Perlindungan Terhadap Kepentingan Umum
a) Pelaksana harus melaksanakan pekerjaan tanpa
mengganggu kepentingan umum dan bertanggung jawab
atas segala tuntutan yang timbul akibat gangguan
tersebut.
b) Pelaksana bertanggung jawab dan wajib mengganti
kerugian yang timbul akibat pelaksanaan pekerjaan yang
disebabkan oleh kelalaian Pelaksana, pekerja Pelaksana,
agen, atau subkontraktor yang terlibat dalam pekerjaan
tersebut.
14) Perlindungan Terhadap Hak Paten
Pelaksana bertanggung jawab atas pelanggaran hak
paten atau hak hukum lain terkait peralatan dan bahan yang
digunakan, serta membebaskan Pemberi Tugas dari segala
klaim, karena semua biaya terkait sudah termasuk dalam
harga penawaran.
15) Mutu Bahan dan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan
a) Semua material dan hasil pekerjaan harus memenuhi
spesifikasi kontrak serta dilaksanakan sesuai ketentuan
dan instruksi Pemberi Tugas atau Konsultan Pengawas.
b) Pelaksana wajib menyediakan contoh material untuk uji
kualitas yang dapat dilakukan kapan saja, dan tidak
berhak menuntut biaya tambahan atas pengujian tersebut.
16) Pemeriksaan Pekerjaan
a) Pelaksana harus mengizinkan Konsultan Pengawas dan
Pemberi Tugas memeriksa serta memverifikasi pekerjaan
di bengkel atau lokasi terkait proyek.
b) Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas memiliki
kewenangan untuk memberikan perintah atau instruksi
terkait pelaksanaan pekerjaan, sesuai dengan ketentuan
yang berlaku dalam kontrak dan dokumen terkait.
17) Laporan
a) Pelaksana harus menyampaikan laporan perkembangan
pekerjaan kepada Konsultan Pengawas dan mencatat
seluruh instruksi serta hal penting dalam buku harian
proyek.
b) Dalam laporan harian, harus dicatat hal-hal berikut:
(1) Jenis dan jumlah material yang digunakan atau
diterima di lokasi proyek.
(2) Jenis dan jumlah alat yang digunakan dalam
pekerjaan.
(3) Jumlah tenaga kerja yang terlibat, beserta keahlian
atau jabatan masing-masing.
(4) Jenis pekerjaan yang dilaksanakan pada hari
tersebut.
(5) Volume pekerjaan yang telah diselesaikan
(6) Kondisi cuaca sepanjang hari kerja.
(7) Kendala atau masalah yang dihadapi selama
pelaksanaan pekerjaan.
(8) Instruksi atau keputusan penting dari pemberi tugas
atau konsultan pengawas.
c) Laporan tersebut harus dilengkapi dengan foto
bertanggal dan disusun dalam lima salinan.
18) Resiko Kenaikan Harga Bahan dan Upah
a) Jika terjadi kenaikan harga selama pelaksanaan
pekerjaan, Pelaksana tidak berhak mengajukan
permohonan peninjauan atau perhitungan tambahan
harga, maupun menuntut tambahan biaya. Hal ini karena
Pelaksana dianggap telah mempertimbangkan faktor-
faktor tersebut saat mengajukan harga penawaran.
b) Kenaikan harga tidak dapat dijadikan alasan untuk
menurunkan kualitas pekerjaan, mengurangi volume
pekerjaan, atau memperlambat waktu penyelesaian
pekerjaan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
kontrak.
c) Apabila kenaikan harga disebabkan oleh kebijakan
pemerintah dalam bidang moneter atau kebijakan
lainnya, penyesuaian akan ditentukan kemudian oleh
pemberi tugas.
19) Denda dan Perselisihan
a) Jika Pelaksana terlambat menyelesaikan pekerjaan tanpa
alasan yang dapat diterima, maka akan dikenakan denda
atau sanksi sesuai ketentuan kontrak.
b) Segala perselisihan yang mungkin timbul antara pemberi
tugas dan Pelaksana akan diupayakan untuk diselesaikan
melalui musyawarah. Alternatif penyelesaian sengketa
lainnya akan diatur lebih lanjut dalam kontrak.
20) Resiko-resiko Lain
a) Pelaksana menanggung seluruh kerugian atas kerusakan
atau hilangnya hasil pekerjaan sebelum diserahkan,
kecuali jika disebabkan oleh kelalaian Pemberi Tugas.
b) Jika terjadi keterlambatan dalam penyelesaian pekerjaan
yang disebabkan oleh kelalaian Pelaksana, maka
Pelaksana bertanggung jawab atas segala kerugian yang
timbul akibat keterlambatan tersebut.
21) Force Majure
a) Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, Pelaksana tidak
bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan yang
disebabkan oleh keadaan khusus (force majeure) yang
berada di luar kendali Pelaksana. Yang dianggap dengan
keadaan khusus adalah:
(1) Bencana Alam:
Gempa bumi, angin topan, letusan gunung berapi, dan
banjir besar (yang dinyatakan oleh pejabat pemerintah
yang berwenang sebagai bencana alam).
(2) Sabotase berupa peledakan atau pembakaran
(3) Peperangan baik yang diumumkan atau tidak
b) Jika terjadi peperangan yang memengaruhi pelaksanaan
kontrak, Pelaksana tetap harus melanjutkan pekerjaan,
namun Pemberi Tugas dapat menghentikan kontrak
secara tertulis tanpa merugikan kedua pihak.
c) Dalam hal kontrak dihentikan sebagaimana disebutkan di
atas, Pelaksana berkewajiban untuk segera memindahkan
seluruh peralatan konstruksi dari lokasi proyek.
d) Jika kontrak dihentikan sesuai dengan ketentuan tersebut,
pemberi tugas akan membayar kepada Pelaksana atas
seluruh pekerjaan yang telah diselesaikan hingga tanggal
penghentian kontrak. Pembayaran tersebut akan
didasarkan pada ukuran dan harga yang telah ditetapkan
dalam kontrak, dengan ketentuan tambahan sebagai
berikut:
(1) Jumlah pembayaran yang akan diberikan kepada
Pelaksana hanya mencakup pekerjaan yang telah
diselesaikan dan disetujui oleh konsultan pengawas.
(2) Biaya untuk bahan-bahan yang telah dipesan guna
keperluan pelaksanaan pekerjaan, baik yang sudah
dikirim maupun yang belum, dan telah disahkan
oleh konsultan pengawas, akan dibayarkan oleh
pemberi tugas. Setelah pembayaran dilakukan,
bahan-bahan tersebut menjadi milik pemberi tugas.
22) Pembayaran
a) Pembayaran atas hasil pekerjaan akan dilakukan secara
bertahap, sesuai dengan tingkat kemajuan pekerjaan yang
telah dicapai.
b) Rincian mengenai tahapan dan besaran pembayaran akan
ditentukan lebih lanjut dalam kontrak.
23) Perintah penundaan dan Perubahan Pekerjaan
a) Apabila Pelaksana menerima instruksi tertulis dari
Konsultan Pengawas atau Pemberi Tugas untuk menunda
kelanjutan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, maka
selama masa penundaan tersebut, Pelaksana wajib
menjaga dan melindungi pekerjaan sesuai dengan arahan
dari Konsultan Pengawas.
b) Konsultan Pengawas memiliki wewenang untuk
mengeluarkan perintah perubahan pekerjaan, dan
Pelaksana harus melaksanakan perintah tersebut tanpa
dianggap melanggar ketentuan dalam kontrak. Setiap
perintah perubahan harus dicatat dalam buku harian
proyek dan ditandatangani atau diparaf oleh Konsultan
Pengawas. Pelaksana tidak diperbolehkan melakukan
perubahan pekerjaan tanpa adanya perintah resmi.
c) Dengan persetujuan tertulis dari Pemberi Tugas,
Konsultan Pengawas dapat menginstruksikan perubahan
dalam kualitas atau lingkup pekerjaan yang dianggap
perlu, melalui perintah tertulis kepada Pelaksana.
d) Perintah perubahan pekerjaan tidak boleh mengubah
pekerjaan utama yang tercantum dalam kontrak, dan
setiap perubahan akan dihitung berdasarkan harga yang
telah ditentukan dalam kontrak.
e) Pelaksana tidak berhak mengajukan klaim tambahan
biaya akibat perintah perubahan pekerjaan tersebut,
kecuali jika biaya tambahan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan secara kumulatif sesuai dengan
ketentuan dalam Keputusan Presiden No. 29 Tahun 1984,
yang telah disempurnakan oleh Keppres No. 6 Tahun
1988 dan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1988.
f) Biaya yang timbul akibat perubahan pekerjaan akan
dihitung menggunakan informasi yang tercantum dalam
daftar harga satuan bahan, upah, dan analisis pekerjaan
yang disertakan dalam dokumen penawaran.
g) Pemberi Tugas akan melakukan penyesuaian terhadap
harga kontrak (jika diperlukan) sebagai akibat dari
perubahan pekerjaan yang telah dilaksanakan sesuai
dengan surat perintah perubahan pekerjaan.
24) Penyelesaian Pekerjaan
a) Setiap hasil pekerjaan harus memenuhi spesifikasi dan
persyaratan yang tercantum dalam kontrak serta
dokumen pendukungnya. Jika terdapat bagian pekerjaan
yang tidak sesuai, Pelaksana wajib segera melakukan
perbaikan tanpa berhak menuntut biaya tambahan.
b) Setelah Pelaksana menyampaikan pemberitahuan tertulis
bahwa pekerjaan telah selesai, Konsultan Pengawas
bersama Pelaksana akan melakukan pemeriksaan
bersama terhadap hasil pekerjaan.
c) Hasil dari pemeriksaan tersebut akan dituangkan dalam
berita acara yang memuat kondisi dan status pekerjaan
yang telah diperiksa.
d) Jika pemeriksaan menunjukkan bahwa pekerjaan belum
memenuhi ketentuan, Pelaksana harus segera
menyelesaikan atau memperbaiki bagian yang belum
sesuai sesuai dengan isi berita acara pemeriksaan.
e) Apabila hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pekerjaan
telah memenuhi semua persyaratan dalam kontrak,
Konsultan Pengawas akan menyusun berita acara serah
terima pertama yang ditandatangani oleh Pemberi Tugas
dan Pelaksana, disertai dengan ketentuan pemeliharaan
yang harus dilaksanakan oleh Pelaksana.
25) Masa Pemeliharaan dan Kerusakan Pada Masa Pemeliharaan
a) Masa pemeliharaan ditetapkan selama 180 (seratus
delapan puluh) hari kalender, dimulai sejak tanggal
penyerahan pertama pekerjaan (PHO).
b) Selama periode pemeliharaan tersebut, Pelaksana wajib
melaksanakan perbaikan atas permintaan tertulis dari
Konsultan Pengawas berdasarkan hasil pemeriksaan. Jika
perbaikan tersebut melampaui masa pemeliharaan, maka
masa pemeliharaan diperpanjang hingga perbaikan
selesai.
c) Pelaksana wajib memperbaiki kerusakan akibat
kesalahan atau kelalaiannya dengan biaya sendiri,
sedangkan kerusakan di luar tanggung jawabnya
dianggap sebagai pekerjaan tambahan.
d) Selama masa pemeliharaan, Pelaksana harus menelusuri
dan memperbaiki kerusakan atas permintaan Konsultan
Pengawas, dengan biaya sendiri jika kerusakan menjadi
tanggung jawabnya.
e) Apabila dalam waktu 7 x 24 jam sejak surat
pemberitahuan pertama dikeluarkan, Pelaksana belum
melakukan perbaikan yang diperlukan, Pemberi Tugas
berhak menunjuk pihak ketiga untuk melaksanakan
perbaikan tersebut dengan biaya yang dibebankan
kepada Pelaksana.
26) Hak Pemberi Tugas Untuk Memutuskan Kontrak
a) Pemberi Tugas berhak untuk mengakhiri kontrak, dan
Pelaksana wajib menanggung seluruh biaya yang muncul
sebagai konsekuensi dari pemutusan kontrak ini, apabila:
(1) Apabila Pelaksana tanpa alasan yang dapat diterima
oleh pemberi tugas lalai dan gagal menyelesaikan
seluruh pekerjaannya sebagaimana yang telah
ditentukan dalam rencana kerja dan jadwal waktu
penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati dalam
kontrak.
(2) Apabila Pelaksana dinyatakan pailit serta tidak
dapat lagi memenuhi kewajibannya terhadap para
kreditor atau menyatakan dirinya dalam keadaan
likuidasi (bukan likuidasi untuk mengadakan
peleburan atau pembangunan kembali).
(3) Apabila Pelaksana dengan sengaja melalaikan dan
tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk dan
peringatan-peringatan dari pemberi tugas sehingga
merugikan pelaksanaan pekerjaan.
(4) Apabila Pelaksana dinyatakan bersalah karena
melakukan sejumlah pelanggaran terhadap
ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat dalam
kontrak.
b) Jika kontrak diputus oleh Pemberi Tugas, ia berhak
mencairkan jaminan pelaksanaan, menunjuk Pelaksana
pengganti, dan mengambil alih seluruh barang di lokasi
proyek.
c) Setelah kontrak diputus, Pemberi Tugas hanya membayar
pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai ketentuan
kontrak, berdasarkan penilaian Konsultan Pengawas dan
dikurangi pembayaran sebelumnya.
27) Penyerahan Pekerjaan
a) Setelah masa pemeliharaan selesai dan hasil pekerjaan
telah diperiksa, konsultan pengawas akan menyusun
berita acara pemeriksaan yang menyatakan bahwa
pekerjaan telah diselesaikan dan memenuhi standar yang
ditetapkan.
b) Berdasarkan berita acara pemeriksaan tersebut,
penyerahan pekerjaan kedua dapat dilakukan antara
Pelaksana dan pemberi tugas, yang dituangkan dalam
berita acara serah terima kedua yang ditandatangani oleh
kedua belah pihak.
28) Kegagalan Pelaksanaan Kontrak
a) Jika Pelaksana tidak mengikuti instruksi Konsultan
Pengawas, Pemberi Tugas dapat mengambil tindakan
yang diperlukan dan membebankan seluruh biayanya
kepada Pelaksana.
b) Jika kontrak tidak dapat dilaksanakan dan dihentikan
sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 23, jumlah
pembayaran yang harus diterima Pelaksana untuk
pekerjaan yang telah dilaksanakan akan disesuaikan
dengan jumlah yang seharusnya dibayarkan menurut
pasal tersebut.
29) Ketentuan Umum
a) Pelaksana wajib mematuhi seluruh peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia, termasuk peraturan
perundang-undangan nasional, provinsi, dan daerah.
b) Pelaksana wajib mematuhi peraturan pihak berwenang
terkait pekerjaan dan menanggung seluruh biaya serta
tuntutan akibat ketidakpatuhan tersebut.
30) Pajak-Pajak
Pelaksana wajib memenuhi seluruh kewajiban
perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia, termasuk kewajiban atas Pajak
Pertambahan Nilai (PPN).
31) Tambahan
Pelaksana dianggap sebagai pihak yang berasal dari
Indonesia dan tunduk pada peraturan perundang-undangan
yang berlaku di negara tersebut.
c. Persyaratan Umum Lainnya
Lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh pelaksana
adalah:
1) Melaksanakan pembersihan lokasi sesuai dengan gambar
teknis dan daftar kuantitas pekerjaan yang telah ditetapkan.
2) Mengadakan, mengamankan, dan mengawasi semua alat dan
bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
3) Melakukan pemasangan, pengujian, dan pemeliharaan semua
bahan dan peralatan sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan.
4) Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan, keahlian,
dan keterampilan yang diperlukan. Bersedia untuk bekerja
lembur jika kondisi pekerjaan memerlukannya.
d. Ukuran dan Notasi
1) Semua dimensi yang tertera dalam gambar arsitektur,
struktur, mekanikal, dan elektrikal merupakan ukuran akhir
atau finishing, kecuali jika ditentukan lain dalam dokumen
kontrak atau spesifikasi teknis.
2) Apabila terdapat perbedaan atau ketidaksesuaian antara
ukuran atau notasi dalam gambar, hal tersebut harus segera
dikonfirmasikan kepada konsultan perencana untuk
klarifikasi lebih lanjut.
e. Gambar-Gambar
1) Seluruh dokumen gambar pelaksanaan untuk proyek
pembangunan hotel bergaya arsitekur modern, (gambar
arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal, serta spesifikasi
teknis), dapat diperoleh melalui pengawas lapangan dengan
sepengetahuan pemberi tugas.
2) Pelaksana diwajibkan untuk mempelajari dan memahami
seluruh proses serta teknis pekerjaan agar dapat
menyesuaikan program dan melaksanakan pekerjaan secara
terintegrasi dan simultan.
3) Pelaksana wajib menyusun gambar kerja pelaksanaan (shop
drawing) sebanyak tiga rangkap: satu untuk Pelaksana, satu
untuk pengguna jasa, dan satu untuk pengawas lapangan.
4) Selama pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana diwajibkan untuk
menandai dengan warna tertentu pada gambar bagian-bagian
bangunan yang telah dikerjakan, termasuk jika terdapat
perubahan dari gambar semula.
5) Sebelum memulai setiap bagian pekerjaan, Pelaksana wajib
mengajukan shop drawing dan memperoleh persetujuan dari
pengguna jasa dengan bantuan konsultan pengawas.
6) Apabila terdapat perbedaan antara gambar kerja dan
spesifikasi teknis, maka yang berlaku adalah spesifikasi
teknis, kecuali ditentukan lain oleh pengguna jasa, konsultan
perencana, atau pengawas lapangan.
7) Apabila terdapat keraguan terhadap gambar, Pelaksana harus
menyampaikan pertanyaan kepada pengguna jasa atau
pengawas lapangan paling lambat satu minggu sebelum
pelaksanaan pekerjaan.
8) Perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan alasan oleh
Pelaksana untuk mengajukan klaim terkait waktu
pelaksanaan.
f. Pekerjaan Sarana Tapak
Lingkup Pekerjaan imi Meliputi:
1) Pelaksana bertanggung jawab untuk menyediakan air dan
pasokan listrik yang diperlukan selama pelaksanaan
pekerjaan.
2) Penyediaan air untuk pekerjaan harus dilakukan oleh
Pelaksana dengan cara membuat sumur pompa di lokasi
proyek atau dengan menyuplai air dari sumber eksternal.
3) Air yang disediakan harus memenuhi standar kebersihan,
bebas dari bau, lumpur, minyak, dan bahan kimia lain yang
dapat merusak kualitas pekerjaan.
4) Penyediaan air harus dilakukan sesuai dengan petunjuk dan
persetujuan dari Pengguna Jasa.
5) enggunaan generator diesel sebagai sumber tenaga listrik
hanya diperbolehkan sementara dan harus mendapatkan
persetujuan dari Pengguna Jasa.
6) Pelaksana wajib menyediakan alat pemadam kebakaran yang
sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
g. Pekerjaan Persiapan
1) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
a) Pekerjaan pembersihan sebelum pelaksanaan
b) Pekerjaan Pembuatan tugu patok dasar (Bench Mark)
c) Pengukuran Tapak
d) Pembuatan Kantor Direki Lapangan
2) Persyaratan Pelaksanaan
a) Pekerjaan Pembersihan sebelum pelaksanaan
Pekerjaan ini mencakup pembersihan lokasi proyek
dari segala jenis kotoran dan sampah, baik yang bersifat
organik maupun anorganik, yang dapat mengganggu atau
menurunkan kualitas pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.
b) Pekerjaan pembuatan tugu patok dasar (Bench Mark)
(1) Penentuan Lokasi Tugu Patok Dasar
(2) Spesifikasi dan Pemasangan Tugu Patok Dasar
Tugu patok dasar terbuat dari beton bertulang
dengan dimensi 20 cm x 20 cm x 100 cm, ditanam
tegak lurus ke dalam tanah hingga kedalaman 80 cm.
dengan bagian yang terlihat di atas permukaan tanah
20 cm untuk memudahkan pengukuran selanjutnya.
(3) Ketentuan Pemeliharaan dan Pembongkaran Tugu
Patok Dasar
Tugu patok dasar harus dibangun secara
permanen, tidak boleh diubah, diberi tanda yang
jelas, dan dijaga keutuhannya hingga ada instruksi
tertulis dari Pengguna Jasa untuk pembongkarannya.
c) Pengukuran Tapak
(1) Pengukuran dan Penggambaran Ulang Lokasi
Penyedia jasa bertanggung jawab untuk
melakukan pengukuran ulang serta menggambar
kembali area proyek, termasuk mencatat elevasi
tanah, posisi bangunan yang ada, dan batas-batas
lahan. Pengukuran ini harus menggunakan alat optik
yang telah dikalibrasi dan disahkan oleh pihak
berwenang.
(2) Penanganan Ketidaksesuaian Data
Apabila terdapat perbedaan antara gambar
teknis dan kondisi nyata di lapangan, penyedia jasa
wajib segera melaporkannya kepada Pengguna Jasa
atau Pengawas Lapangan untuk mendapatkan arahan
lebih lanjut.
(3) Peralatan untuk Penentuan Titik Ketinggian dan
Sudut
Penentuan elevasi dan sudut-sudut harus
dilakukan menggunakan alat waterpass atau
theodolit tipe T2.
(4) Penyediaan Peralatan dan Tenaga Ahli
Penyedia jasa harus menyediakan peralatan
theodolit tipe T2 atau waterpass beserta operator
yang kompeten untuk keperluan pemeriksaan oleh
Pengguna Jasa atau Pengawas Lapangan.
(5) Pengukuran Sudut Siku-siku
Pengukuran sudut siku-siku menggunakan
metode segitiga Phytagoras dengan prisma atau
benang hanya diperbolehkan untuk bagian-bagian
kecil dan harus mendapatkan persetujuan dari
Pengguna Jasa atau Pengawas Lapangan.
(6) Perlindungan Instalasi yang Ada
Instalasi yang sudah ada dan masih berfungsi
harus diberi tanda yang jelas dan dilindungi dari
potensi kerusakan akibat pekerjaan proyek. Informasi
mengenai instalasi tersebut harus dicantumkan dalam
gambar pengukuran.
(7) Tanggung Jawab atas Kerusakan
Penyedia jasa bertanggung jawab atas segala
kerusakan yang timbul akibat pekerjaan yang
dilaksanakan.
d) Kantor Direki Lapangan
(1) Lingkup Pekerjaan
(a) Kantor Direksi Lapangan
Kantor lapangan harus dirancang agar
layak digunakan sebagai tempat kerja dan aman
untuk menyimpan dokumen proyek selama
masa pelaksanaan.
(b) Luas dan Peralatan Kantor
Ukuran dan fasilitas yang disediakan di
kantor lapangan harus memenuhi kebutuhan
administrasi minimal yang diperlukan untuk
kelancaran operasional proyek.
(2) Kantor Penyedia Jasa dan Los Kerja
(3) Ukuran Kantor dan Area Kerja
Penyedia jasa bebas menentukan lokasi
fasilitas kerja, asalkan aman, bersih, tidak
menimbulkan bahaya kebakaran, dan tidak
mengganggu kelancaran proyek.
(4) Penyimpanan Material Konstruksi
Untuk material seperti pasir dan kerikil,
penyedia jasa wajib menyediakan tempat
penyimpanan khusus berupa kotak yang dipagari
dengan dinding papan. Hal ini bertujuan agar setiap
jenis bahan tidak tercampur satu sama lain.
(5) Larangan Penyimpanan di Luar Lokasi Proyek
Penyedia jasa dilarang menyimpan alat atau
bahan bangunan di luar area proyek, serta tidak
diperkenankan menyimpan material yang telah
ditolak oleh Pengguna Jasa atau Pengawas
Lapangan karena tidak memenuhi persyaratan yang
ditetapkan.
2. Syarat Administrasi
a. Petunjuk Bagi Penawar
Peserta penawaran wajib memahami dengan cermat seluruh
petunjuk yang tercantum, karena tidak akan diterima keberatan atau
tuntutan yang disebabkan oleh kelalaian dalam membaca, tidak
mematuhi petunjuk tersebut, atau kesalahpahaman terhadap
maknanya, peserta penawaran wajib meninjau lokasi proyek secara
mandiri untuk memperoleh informasi lapangan yang dapat
memengaruhi penawarannya.
b. Dokumen
1) Dokumen ini memuat satu paket lengkap yang mencakup:
a) Petunjuk bagi penawaran
b) Contoh surat penawaran
c) Contoh jaminan penawaran
d) Contoh surat pernyataan tunduk
e) Rencana surat perjanjian pemborongan
f) Syarat-syarat kontrak
g) Ketentuan-ketentuan umum dan spesifikasi teknik
h) Gambar-gambar
i) Addenda/ berita acara penjelasan pekerjaan
j) Addenda merupakan dokumen-dokumen yang diterbitkan
sebelum pelaksanaan kontrak yang berfungsi untuk
mengubah atau memberikan penjelasan terhadap
Dokumen Penawaran, termasuk Gambar dan Spesifikasi
Teknis, melalui penambahan, penghapusan, klarifikasi,
atau koreksi. Addenda ini akan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari Dokumen Kontrak Pemborongan apabila
kontrak tersebut dilaksanakan.
k) Penawar bertanggung jawab untuk mempelajari seluruh isi
Dokumen Penawaran secara teliti serta memahami setiap
makna dan bagiannya dengan benar. Segala bentuk
keberatan dengan alasan tidak membaca atau melewatkan
bagian dari dokumen ini tidak akan diterima.
b. Keterangan dan Prosedur Penawaran
1) Penawar bertanggung jawab memperoleh seluruh informasi
untuk menentukan harga penawaran dan tidak dapat
mengajukan klaim akibat kekurangan atau kesalahan
informasi.
2) Seluruh penawaran wajib disusun sesuai dengan format yang
telah ditetapkan dan diserahkan mengikuti ketentuan yang
tercantum dalam petunjuk penawaran.
3) Penawaran dianggap tidak sah apabila diserahkan setelah batas
waktu dan tanggal yang telah ditentukan dalam Surat
Undangan Lelang atau dalam dokumen Addenda, meskipun
diserahkan di lokasi yang benar.
4) Penawaran berlaku 90 hari sejak batas akhir penyerahan, dan
setiap perubahan atau pembatalan akan menyebabkan
penyitaan Jaminan Penawaran oleh Pemilik.
5) Sebelum penyerahan penawaran, peserta menerima Berita
Acara Penjelasan Pekerjaan yang disusun oleh Konsultan
Perencana, disahkan oleh Pemberi Tugas, dan diparaf oleh
perwakilan peserta.
6) Pelelangan dapat dibatalkan atau mengalami kegagalan
apabila:
a) Harga yang diajukan dianggap tidak sesuai atau tidak
realistis.
b) Karena berbagai alasan, penetapan tidak dapat dilakukan.
7) Jika ada ketidakjelasan dalam Dokumen Penawaran, Penawar
harus meminta penjelasan kepada Pemberi Tugas melalui
Rapat Penjelasan atau permohonan tertulis sebelumnya.
8) Rapat Penjelasan wajib dihadiri semua penawar dan digunakan
untuk membahas serta menjawab pertanyaan terkait lelang.
Hasil rapat dituangkan dalam Berita Acara yang dibagikan
kepada seluruh penawar.
c. Kualitas Pekerjaan dan Harga Satuan
Penawar harus melampirkan Daftar Harga Satuan yang
mencakup seluruh biaya pekerjaan, sedangkan keuntungan dan
pajak dihitung terpisah serta digunakan sebagai dasar perhitungan
perubahan pekerjaan.
d. Produk dan Bahan yang Setara
1) Penyebutan merek atau produsen dalam Spesifikasi Teknis
hanya sebagai acuan standar kualitas dan tidak menutup
penggunaan merek lain yang setara.
2) Perubahan bahan harus mendapat persetujuan Pemilik, dengan
bukti kesetaraan yang dinilai oleh Perencana dan Direksi
Lapangan.
3) Peserta lelang diperbolehkan mengusulkan bahan pengganti
beserta contoh-contohnya sebelum lelang dilaksanakan, agar
dapat memperoleh persetujuan terlebih dahulu dan
dicantumkan dalam Addenda.
e. Material Pengganti
Material dapat diganti untuk menyesuaikan anggaran atau
meningkatkan kualitas, dan Penawar harus menyesuaikan
penawarannya. Pemilik berhak mengubah harga material pengganti
tanpa klaim dari Penawar.
f. Penawaran yang Ditolak
Pemilik berhak menolak penawaran yang tidak memenuhi
syarat dan menahan Jaminan Penawaran hingga 90 hari, yang akan
dikembalikan setelah kontrak ditandatangani.
g. Jaminan Penawaran dan Jaminan Pelaksa
1) Bersamaan dengan penyerahan Penawaran, Penawar
diwajibkan untuk menyediakan Jaminan Penawaran berupa
Jaminan Bank atau Bank Garansi yang dikeluarkan oleh Bank
Pemerintah atau lembaga keuangan yang sah.
2) Jaminan Penawaran menjamin bahwa pemenang lelang akan
menandatangani kontrak dalam 10 hari setelah menerima Surat
Penunjukan dengan harga sesuai penawarannya. Pemenang
Lelang yang terpilih gagal menandatangani Surat Perjanjian
Pemborongan, karena alasan-alasan berikut:
a) Jika Penawar membatalkan penawarannya.
b) Jika Penawar tidak mematuhi ketentuan yang tercantum
dalam petunjuk untuk Penawar.
c) Jika Penawar menolak untuk menandatangani Surat
Perjanjian Pemborongan sesuai dengan Syarat-syarat
Kontrak.
d) Jika Penawar menolak untuk menyediakan Jaminan
Pelaksanaan untuk pekerjaan yang telah dikontrakkan
sesuai dengan Syarat-syarat Kontrak. Semua hal ini akan
mengakibatkan penyitaan Jaminan Penawaran.
3) Seluruh Jaminan Penawaran dari peserta yang tidak
memenangkan lelang akan dikembalikan segera setelah
Pemenang Lelang menandatangani Surat Perjanjian
Pemborongan.
4) Penawar yang ditetapkan sebagai Pemenang wajib mengganti
Jaminan Penawaran dengan Jaminan Pelaksanaan dalam waktu
10 (sepuluh) hari setelah menerima Surat Penunjukan
Pemenang. Jaminan Pelaksanaan ini harus berlaku selama
masa pelaksanaan pekerjaan sebagaimana diatur dalam Surat
Perjanjian Pemborongan.
5) Jaminan Pelaksanaan akan dikembalikan setelah seluruh
pekerjaan diselesaikan dengan baik dan diserahterimakan pada
proses serah terima pertama (PHO).
6) Besaran Jaminan Pelaksanaan ditetapkan oleh Pemilik sebesar
5% (lima persen) dari nilai Kontrak, sesuai dengan ketentuan
Keputusan Presiden No. 29 Tahun 1984, dan harus berupa
Jaminan Bank yang diterbitkan oleh Bank Pemerintah atau
Lembaga Keuangan yang sah, dengan masa berlaku mengikuti
durasi pelaksanaan sebagaimana tercantum dalam Surat
Perjanjian Borongan.
h. Isi dan Lampiran-Lampiran Surat Penawaran
1) Surat Penawaran harus disusun mengikuti format yang telah
disediakan dalam contoh terlampir.
2) Bill of Quantity hanya sebagai referensi; Penawar harus
menghitung ulang, dan volume pekerjaan final ditetapkan
bersama sebagai acuan mengikat.
3) Surat Penawaran harus ditulis di atas kop surat resmi
perusahaan, terdiri dari satu (1) salinan asli dan tiga (3) salinan
karbon (carbon copy). Seluruh salinan harus ditandatangani,
diberi tanggal, dan dibubuhi cap perusahaan. Masing-masing
dokumen juga harus ditempeli materai Rp10.000 serta
dilengkapi lampiran-lampirannya.
4) Tiap surat penawaran (asli maupun carbon copy), dilampiri
dengan lampiran-lampirannya. Susunan surat dan lampiran-
lampirannyaa:
a) Syarat-syarat administrasi:
(1)Salinan Tanda Daftar Rekanan (TDR) yang masih aktif.
(2)Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
(3)Salinan Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang
masih berlaku.
(4)Surat referensi dari bank.
(5)Salinan dokumen Jaminan Penawaran.
(6)Surat Pernyataan Kesediaan untuk mematuhi ketentuan
yang berlaku.
b) Syarat-syarat teknis
(1)Daftar tenaga pelaksana atau tenaga ahli yang akan
dilibatkan dalam pekerjaan, disertai informasi
mengenai latar belakang pendidikan dan pengalaman
kerjanya.
(2)Daftar perlengkapan atau peralatan yang akan
digunakan selama pelaksanaan proyek.
(3)Jadwal pelaksanaan pekerjaan dalam bentuk diagram
waktu (Bar Chart).
(4)Usulan metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
(5)Data pengalaman proyek serupa yang telah dikerjakan
oleh perusahaan dalam lima tahun terakhir (referensi
diperbolehkan).
(6)Laporan neraca keuangan perusahaan terbaru yang
telah diaudit (tahun 2002).
c) Penawaran harga
(1)Surat Penawaran Harga (SPH).
(2)Rincian harga yang mencakup keuntungan kontraktor
serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dengan total
akhir dibulatkan ke bawah dalam satuan ribuan rupiah.
(3)Analisis Harga Satuan untuk setiap jenis pekerjaan.
(4)Daftar Harga Satuan untuk bahan, tenaga kerja, dan
upah.
5) Dokumen administrasi, teknis, dan penawaran harga harus
dijilid, diberi label, dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup
dengan cap dan segel sesuai ketentuan.
i. Penyerahan Surat Penawaran
1) Surat Penawaran beserta seluruh lampirannya harus
dimasukkan ke dalam amplop tertutup yang terbuat dari
kertas tebal berwarna cokelat berukuran 30 x 40 cm, yang
disiapkan sendiri oleh Penawar. Amplop tersebut harus
disegel dengan lak pada lima titik. Tidak diperbolehkan
mencantumkan tulisan atau tanda apa pun di sampul, kecuali
alamat yang telah ditentukan sebagai berikut:
Tempat pembangunan hotel bergaya arsitektur modern
Kecamatan Kendari Barat, kota Kendari.
2) Sebelum menyerahkan amplop yang berisi Surat Penawaran,
Penawar diwajibkan terlebih dahulu menyerahkan dokumen
kepada Panitia Pelelangan sebagai berikut:
a) Salinan NPWP, TDR, dan SIUJK yang telah dilegalisasi
oleh instansi berwenang, atau ditunjukkan bersama
dokumen aslinya.
b) Jaminan Penawaran asli harus diserahkan ke Panitia
Pelelangan, yang berhak menolak penawaran jika
dokumen tidak sah atau tidak sesuai.
c) Amplop berisi Surat Penawaran wajib diserahkan pada
waktu dan tempat yang telah ditetapkan dalam Undangan
Lelang.
j. Pembukaan Penawaran
1) Pembukaan sampul penawaran akan dilakukan secara terbuka
dan semua peserta diwajibkan hadir pada pertemuan yang
diadakan pada: Hari / Tanggal: (paling lambat) hingga selesai
Tempat:
2) Surat Penawaran yang dinyatakan sah akan dibuka, dan
angka penawarannya akan diumumkan serta dicatat, yang
kemudian akan disaksikan bersama oleh semua peserta.
k. Penilaian Penawaran
1) Penawaran harus disusun berdasarkan harga pasar yang
berlaku pada saat itu. Penawaran yang diajukan di bawah
harga pasar, dengan alasan apapun, tidak akan diterima.
2) Penilaian didasarkan pada penawaran terendah, namun
Panitia Lelang dapat mengambil keputusan lain jika
ditemukan kesalahan signifikan dalam perhitungan.
3) Selama proses penilaian Penawaran, tidak akan ada
komunikasi antara Panitia Lelang dan Peserta Lelang, kecuali
jika Panitia memutuskan hal lain dalam rapatnya.
4) Pemilik dapat menambah atau mengurangi pekerjaan sesuai
anggaran, dengan perhitungan berdasarkan harga penawaran,
dan pengurangan pekerjaan tidak mendapat kompensasi
biaya.
l. Pengumuman Penting
Pengumuman pemenang lelang akan dikirimkan kepada
seluruh peserta lelang melalui surat pos, sementara untuk
pemenang, pengumuman akan disampaikan melalui layanan
ekspedisi.
m. Biaya Material dan Pembuatan Kontrak (3set)
Biaya meterai dan biaya terkait pembuatan Kontrak beserta
lampirannya harus ditanggung oleh Pemborong dan dianggap
sudah termasuk dalam Harga Penawaran.
3. Spesifikasi Teknis
a. Pekerjaan Persiapan
1) Pembersihan
Penghilangan vegetasi dan material pengganggu serta
penataan area yang akan digunakan untuk pembangunan.
a) Secara umum, area yang akan digunakan untuk bangunan
harus dibersihkan. Segala jenis semak belukar, sampah
tertimbun, serta material lain yang tidak diperlukan di
lokasi pekerjaan harus dibabat atau ditebas, kemudian
dibakar atau dibuang dengan metode yang telah disetujui
oleh Direksi Lapangan.
b) Seluruh sisa vegetasi seperti akar tanaman, rumput, dan
lainnya harus diangkat hingga kedalaman 20 cm dari
permukaan tanah yang ada.
2) Pengukuran Kembali
a) Kontraktor diwajibkan melakukan pengukuran ulang dan
pemetaan lokasi pembangunan, lengkap dengan informasi
ketinggian tanah (peil), posisi pohon, serta batas-batas
lahan, menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi dan
terbukti akurat.
b) Jika ditemukan perbedaan antara kondisi aktual di
lapangan dan gambar perencanaan, hal tersebut harus
segera dilaporkan kepada Direksi Lapangan untuk
memperoleh arahan atau keputusan.
c) Penetapan elevasi dan sudut-sudut lokasi hanya
diperbolehkan menggunakan alat ukur presisi seperti
waterpass atau theodolite yang keakuratannya dapat
dipertanggungjawabkan.
d) Kontraktor harus menyediakan alat ukur dan operatornya
untuk keperluan pemeriksaan yang dilakukan oleh Direksi
Lapangan selama proyek berlangsung.
e) Pengukuran sudut siku dengan menggunakan prisma atau
benang berdasarkan prinsip Pythagoras hanya diizinkan
untuk area kecil, dan harus mendapat persetujuan dari
Direksi Lapangan.
f) Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, patok dasar
(benchmark) harus dipasang sesuai dengan lokasi dan
jumlah yang ditentukan oleh Direksi Lapangan.
g) Patok dasar harus dibuat dari beton dengan ukuran
penampang minimal 20 x 20 x 100 cm, ditanam tegak
lurus ke dalam tanah hingga kedalaman 80 cm. dengan
bagian yang terlihat di atas permukaan tanah 20 cm untuk
memudahkan pengukuran selanjutnya.
h) Patok dasar bersifat permanen, tidak boleh diubah, harus
diberi tanda yang jelas, dan dijaga kondisinya hingga ada
perintah tertulis dari Direksi Lapangan untuk
membongkarnya.
i) Saat melakukan pematokan untuk penentuan peil dan titik
sudut tapak, kontraktor wajib menyusun gambar kerja
(shop drawing) terlebih dahulu yang menyesuaikan
dengan kondisi aktual di lapangan.
3) Papan dasar pelaksanaan (Bouwplank)
a) Papan pelaksanaan dipasang pada balok kayu berkualitas,
seperti meranti merah, dengan ketebalan 3 cm dan lebar 20
cm, dalam kondisi lurus serta diratakan di bagian atasnya
agar sejajar secara horizontal (waterpass).
b) Papan tersebut dipasang di atas balok kayu meranti merah
ukuran kaso (5x7 cm) yang ditanam kuat ke dalam tanah
agar tidak dapat digeser atau diubah.
c) Tinggi bagian atas papan harus rata dan sejajar secara
horizontal (waterpass), kecuali jika ada instruksi berbeda
dari Direksi Lapangan.
d) Papan pelaksanaan dipasang dengan jarak 2 meter dari tepi
luar galian pondasi.
e) Bouwplank harus diberi tanda-tanda yang menunjukkan
garis sumbu (as) dan/atau ketinggian (level/peil) dengan
warna yang mencolok dan tahan lama.
f) Setelah pemasangan bouwplank selesai, kontraktor wajib
melaporkannya kepada Direksi Lapangan.
4) Pembuatan pagar proyek
Pembuatan pagar sementara dari seng gelombang rangka
kayu tinggi 2 meter.
5) Papan nama pekerjaan
Papan nama proyek ini terbuat dari bahan multipleks
dengan ukuran 60 cm x 80 cm . ketebalan minimal 10 mm
dipasang pada frame aluminium siku dan tiang kayu 5/7,
printing banner plastik. Papan tersebut harus dipasang di
lokasi yang mudah terlihat oleh publik..
6) Kantor sementara/rumah jaga
Kantor sementara/rumah jaga menggunakan lantai
plesteran, dan dinding setengah tembok.
7) Direksi keet (kantor)
Direksi keet menggunakan dinding triplex 4mm, kaso
5/7, lantai beton, menggunakan atap asbes gelombang.
8) Jalan sementara
Jalan sementara menggunakan jalan tanah.
9) Pekerjaan angkutan material dan/atau hasil galian.
b. Pekerjaan tanah
1) Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan tenaga kerja,
material, peralatan, serta transportasi yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan galian, pengurugan, pemadatan,
pembangunan dinding penahan tanah, dan konstruksi jalan
sesuai dengan gambar rencana.
2) Pekerjaan Galian
a) Seluruh pekerjaan galian harus dilakukan sesuai dengan
gambar rencana dan metode pelaksanaan yang telah
disetujui oleh Direksi Lapangan.
b) Kontraktor harus memastikan bahwa tanah dasar di bawah
elevasi perencanaan tetap dalam kondisi utuh, apabila
terjadi gangguan, kondisi tersebut harus dipulihkan seperti
semula.
c) Permukaan dasar galian harus sesuai dengan gambar
rencana. Jika masih terdapat akar atau material gembur,
bagian tersebut harus dibersihkan, kemudian lubangnya
diisi kembali dengan pasir dan dipadatkan.
d) Untuk mencegah genangan air di dasar galian, sediakan
pompa air/lumpur yang dapat beroperasi terus-menerus
bila diperlukan, serta buat saluran pembuangan sesuai
gambar dan persetujuan Direksi Lapangan.
e) Kontraktor harus menjaga kestabilan dinding galian
dengan penahan sementara atau kemiringan lereng yang
aman, serta melindungi bangunan di sekitar agar tidak
rusak.
f) Tanah hasil galian yang berlebih harus segera dibuang dari
area proyek sesuai instruksi Direksi Lapangan, terutama
bila volumenya sudah melebihi batas yang diperkenankan.
g) Kontraktor harus memastikan bahwa elemen struktur yang
tertanam di dalam tanah tidak mengalami kerusakan akibat
aktivitas penggalian.
h) Kontraktor bertanggung jawab penuh terhadap dampak
lingkungan yang ditimbulkan dari proses pembuangan
tanah dan air.
3) Pekerjaan Ururgan dan Pemadatan
a) Pekerjaan galian ini mencakup semua rincian yang
disebutkan atau ditunjukkan dalam petunjuk dari Direksi
Lapangan.
b) Seluruh material sisa hasil galian yang tidak digunakan
untuk pengurugan dan pengembalian tanah, serta semua
puing dan sampah, harus dibersihkan dari area proyek,
dengan biaya tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor.
c) Pekerjaan pengurugan dilakukan secara bertahap, dengan
ketebalan maksimum setiap lapisan 20 cm, yang kemudian
disiram atau dibasahi, diratakan, dan dipadatkan hingga
mencapai elevasi akhir urugan yang telah ditentukan.
d) Material yang digunakan untuk pengurugan harus berupa
tanah lempung berpasir (clay silt) yang bersih, bebas dari
bahan organik yang mudah membusuk, serta dapat
menggunakan batu pecah dengan ukuran maksimal 15 cm.
e) Seluruh bahan urugan harus berasal dari material yang
berkualitas baik dan telah mendapat persetujuan dari
Direksi Lapangan.
f) Seluruh area urugan dan timbunan harus dilakukan secara
berlapis, seperti yang ditentukan. Setiap lapisan wajib
dipadatkan hingga mencapai kepadatan relatif minimal
90% berdasarkan standar Proctor, sebelum lapisan
berikutnya ditambahkan, dan harus memenuhi standar uji
AASHTO T-99 atau T-180.
g) Pemadatan harus menggunakan alat pemadat tipe vibrator
(vibrator compactor) yang telah disetujui oleh Direksi
Lapangan.
h) Selama pekerjaan tanah berlangsung, harus tersedia sistem
drainase atau pengeringan yang memadai untuk mencegah
terjadinya genangan air di area kerja.
i) Jika material urugan mengandung batuan, tidak
diperbolehkan batu-batu besar terkumpul di satu titik;
semua rongga (pori-pori) harus diisi dengan batu kecil dan
tanah yang dipadatkan.
c. Pekerjaan pondasi footplat
1) Persyaratan Bahan
a) Pondasi yang dikerjakan adalah jenis pondasi footplat
yang dibuat di site, dengan ukuran footplat 120 x 120 cm,
75 cm x 75 cm dan yang disetujui direksi lapangan.
b) Menurut Miki dan Ariyanto, mutu beton yang digunakan
dalam perancangan untuk bangunan bertingkat adalah 25
MPa yang sesuai dengan kebutuhan struktural untuk
bangunan seperti hotel bintang tiga Miki & Ariyanto
(2022). Penelitian ini juga menyebutkan penggunaan
tulangan baja mutu 400 MPa, yang merupakan standar
untuk kekuatan dalam aplikasi struktural
(Miki & Ariyanto, 2022)
. Hal yang serupa juga diungkap oleh
Dewi, yang menjelaskan bahwa untuk gedung hotel,
standar mutu beton harus mengikuti SNI 2847:2019
tentang persyaratan beton struktural, yang menyarankan
penggunaan mutu beton yang optimal sesuai dengan
fungsi dan jenis bangunan Dewi (2022).
2) Pelaksanaan Loading Test
a) Langkah pertama dalam pelaksanaan loading test adalah
persiapan struktur dasar dan pondasi footplat yang akan
diuji. Pengujian umumnya dilakukan dengan
menggunakan model footplat yang dibuat dari bahan beton
atau material lain yang sesuai. Model ini harus diletakkan
pada lapangan yang telah dipersiapkan, biasanya berupa
lapisan tanah yang sudah dikompaksi dengan baik
(Mansouri & Abbèche, 2019).
b) Setelah pondasi dipasang, beban statis diberikan bertahap
sambil memantau penurunan. Beban ultimate ditentukan
dengan metode intersepsi garis tangensial pada kurva
beban-settlement, yaitu melalui perpotongan dua garis
tangensial pada awal dan akhir kurva (Abdi et al., 2019).
c) Pembebanan dilakukan bertahap dari ringan hingga
maksimum sambil mengukur penurunan dan deformasi
pondasi. Metode tangensial digunakan untuk menentukan
beban maksimum, dan penelitian menunjukkan posisi
beban serta bentuk pondasi berpengaruh signifikan
terhadap kapasitasnya (Abdi et al., 2018).
d) Setelah pembebanan, data dianalisis untuk menentukan
hubungan beban dan penurunan melalui grafik load-
settlement, sehingga dapat disimpulkan efektivitas desain
serta faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas beban
pondasi footplat di lapangan (Mansouri & Abbèche,
2019).
e) Langkah terakhir adalah dokumentasi dan pelaporan.
Seluruh data yang diperoleh selama pengujian harus
disusun secara sistematis untuk membentuk laporan teknis
yang berguna sebagai referensi untuk perhitungan lebih
lanjut dan evaluasi desain berbagai interaksi tanah-struktur
yang relevan dengan geoteknik.
d. Pekerjaan Beton Bertulang Cor di Tempat
1) Standar
Seluruh ketentuan terkait material, metode pemasangan,
dan pelaksanaan pekerjaan beton harus mengikuti standar yang
ditetapkan dalam SNI 2847:2019, kecuali jika terdapat
instruksi atau pernyataan lain dari Direksi Lapangan. Apabila
terdapat hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan tersebut,
maka ketentuan lain dapat diterapkan dengan terlebih dahulu
memberitahukan dan meminta izin dari Direksi Lapangan.
2) Lingkup Pekerjaan
a) footplat
b) Sloof
c) Kolom, Balok, dan Pelat
d) Tangga
3) Syarat Umum Bahan
a) Semen
(1) Semen Portland harus memenuhi SNI 2049:2015 yang
ditetapkan oleh BSN dan diadopsi oleh Asosiasi
Semen Indonesia. Produksinya harus berasal dari
pabrik bersertifikat yang memiliki lisensi SPPT SNI
dari Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro).
(2) Kontraktor harus menyertakan sertifikat dari produsen
pada setiap pengiriman semen sebagai bukti bahwa
produk telah lulus uji standar dan memenuhi ketentuan
teknis. Sertifikat ini dikeluarkan oleh pabrik resmi dan
dapat diminta oleh direksi lapangan untuk verifikasi
mutu material.
(3) Semen harus disimpan diruang tertutup yang kering
dengan lantai ditinggikan minimal 30 cm dari tanah.
Tumpukan tidak lebih dari 2 meter dan berjarak 50 cm
dari dinding untuk mencegah kelembapan. Semen
rusak (mengeras, menggumpal, atau kemasan sobek)
tidak boleh digunakan.
(4) Direksi Lapangan berhak memeriksa dan menolak
semen yang tidak memenuhi standar atau rusak.
Kontraktor wajib membuang semen yang ditolak atas
biaya sendiri tanpa keberatan. Ketentuan ini menjamin
penggunaan material sesuai spesifikasi demi kualitas
dan keselamatan proyek.
(5) Kontraktor wajib menguji semen atas biaya sendiri di
bawah pengawasan Direksi Lapangan dengan sampel
dari tempat penyimpanan. Pengujian memastikan
semen memenuhi standar kualitas, terutama waktu
pengikatan dan reaktivitas alkali, menggunakan
metode sesuai SNI 2049:2015.
(6) Semen harus disimpan dengan cara yang tepat untuk
menjaga kualitasnya hingga saat digunakan. Berikut
adalah beberapa langkah penting dalam penyimpanan
semen:
(a) Tinggi Tumpukan Maksimal: Semen dalam
kantong sebaiknya tidak ditumpuk lebih dari dua
meter untuk menghindari tekanan berlebih yang
dapat merusak kantong dan menyebabkan
penggumpalan.
(b) Pemisahan Berdasarkan Waktu Penerimaan:
Setiap kali menerima semen baru, simpanlah
secara terpisah dari stok sebelumnya. Hal ini
memudahkan identifikasi dan penggunaan
berdasarkan urutan kedatangan.
(c) Sistem FIFO (First In, First Out): Gunakan
semen sesuai dengan urutan kedatangannya;
semen yang diterima lebih awal harus digunakan
terlebih dahulu. Sistem ini membantu mencegah
penggunaan semen yang sudah lama disimpan,
yang kualitasnya mungkin telah menurun.
(d) Penyusunan yang Stabil: Tumpuk kantong semen
secara bersilang untuk meningkatkan stabilitas
tumpukan dan memudahkan pengambilan.
(e) Penyimpanan di Tempat Kering dan Tertutup:
Simpan semen di ruangan yang kering, tertutup,
dan memiliki sirkulasi udara yang baik untuk
mencegah kelembapan yang dapat menyebabkan
semen menggumpal atau mengeras sebelum
digunakan.
b) Agregat
(1) Pasir yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi
harus memenuhi persyaratan kualitas tertentu untuk
memastikan kekuatan dan daya tahan beton yang
dihasilkan. Berikut adalah beberapa ketentuan penting
terkait pasir untuk beton:
(a) Kebersihan dan Komposisi: Pasir harus terdiri
dari butiran yang bersih, tajam, dan keras, serta
bebas dari bahan organik, lumpur, tanah lempung,
dan kotoran lainnya. Kandungan lumpur dalam
pasir tidak boleh melebihi 5% dari berat kering
pasir.
(b) Jenis Pasir: Pasir alam merupakan pilihan utama
untuk agregat halus dalam beton. Namun, pasir
hasil pemecahan batu (pasir buatan) juga dapat
digunakan, terutama untuk mencapai gradasi
yang baik dalam campuran beton.
(c) Gradasi: Gradasi pasir harus sesuai dengan
spesifikasi yang ditetapkan untuk memastikan
kepadatan dan kekuatan beton yang optimal.
Penggunaan kombinasi pasir alam dan pasir
buatan dapat membantu mencapai gradasi yang
diinginkan.
(d) Kadar Air: Pasir yang digunakan harus memiliki
kadar air yang merata dan stabil untuk
menghindari variasi dalam campuran beton yang
dapat mempengaruhi kualitas akhir.
(2) Agregat kasar harus berupa batu pecah bergradasi
seragam, keras, dan tidak berpori agar beton memiliki
kekuatan tinggi, tahan terhadap lingkungan, serta padat
dan homogen berkat pengisian ruang antar butir yang
optimal.
(3) Kontraktor wajib memastikan campuran beton disusun
dengan takaran tepat untuk mencapai mutu, kepadatan,
workability, dan rasio air-semen optimal. Agregat
harus memenuhi SNI 2847:2019, dan setelah disetujui
Direksi Lapangan, kualitasnya harus konsisten agar
mutu beton seragam di seluruh pekerjaan.
(4) Pasir dan split harus disimpan terpisah untuk
mencegah kontaminasi silang yang dapat menurunkan
kualitas beton. Keduanya sebaiknya ditempatkan
dalam bak kayu di atas lantai kerja agar tetap bersih
dan siap digunakan.
c) Bahan-bahan Tambahan (Admixture)
Kontraktor harus mendapat persetujuan tertulis
Direksi Lapangan sebelum menambahkan bahan tambahan
ke beton untuk memastikan kesesuaian spesifikasi dan
kualitas beton.
d) Air
(1) Perencanaan Pengadaan Air: Kontraktor wajib
merencanakan penyediaan air kerja dalam jumlah yang
memadai untuk berbagai keperluan pekerjaan. Air
yang digunakan harus memenuhi persyaratan kualitas
yang ditetapkan dalam SNI 2847:2019.
(2) Kualitas Air: Air yang digunakan untuk campuran
beton, pencucian agregat, dan perawatan beton
(curing) haruslah air tawar yang bersih dan tidak
mengandung zat-zat berbahaya seperti minyak, alkali,
sulfat, bahan organik, dan garam-garam terlarut.
Kandungan silt (lanau) dalam air tidak boleh melebihi
2% dari beratnya. Kadar sulfat maksimum yang
diperkenankan adalah 0,5% (5 gram per liter),
sedangkan kadar klorida maksimum adalah 1,5% (15
gram per liter).
(3) Sumber Air: Kontraktor dilarang menggunakan air dari
rawa atau sumber air yang berlumpur. Tempat
pengambilan air harus dirancang sedemikian rupa
untuk mencegah masuknya material-material yang
tidak diinginkan. Setidaknya harus ada jarak vertikal
minimal 0,5 meter dari permukaan atas air ke sisi
tempat pengambilan.
(4) Perbandingan Uji Beton: Jika dilakukan perbandingan
uji beton antara campuran yang menggunakan air
suling (aquadest) dan air dari sumber tertentu, dan
hasilnya menunjukkan perbedaan kekuatan beton lebih
dari 15%, maka air dari sumber tersebut dianggap
tidak memenuhi syarat. Perbedaan ini dapat dilihat dari
uji kuat tekan maupun waktu pengerasan beton.
e) Cetakan
Bahan konstruksi yang berbeda dari beton, baja, bata
diplester, atau kayu harus mendapat persetujuan tertulis
Direksi Lapangan untuk memastikan spesifikasi, kualitas,
dan keamanan terpenuhi.
f) Besi Tulangan
(1) Sebelum pengecoran, besi beton harus dibersihkan dari
karat, minyak, atau kotoran agar daya lekat dengan
beton tetap baik. Pembersihan dapat dilakukan dengan
sikat kawat, dan pengecoran hanya boleh dilakukan
setelah besi diperiksa serta disetujui Konsultan
Pengawas sesuai ketentuan PBI 1971.
(2) Toleransi ukuran besi tulangan:
(a) Untuk besi tulangan dengan diameter lebih dari 10
mm, toleransi ukuran yang diperbolehkan adalah
±0,4 mm.
(b) Untuk besi tulangan dengan diameter kurang dari
atau sama dengan 10 mm, toleransi ukuran yang
diperbolehkan adalah ±0,1 mm.
(3) Persyaratan Mutu dan Sertifikasi Besi Tulangan:
(a) Besi tulangan yang digunakan dalam komponen
beton bertulang harus memiliki tegangan leleh
karakteristik (fy) sebesar 420 MPa (setara dengan
4283 kg/cm²).
(b) Untuk memastikan kualitas besi tulangan, selain
sertifikat dari pabrik, diperlukan juga sertifikat
hasil uji laboratorium.
(c) Uji laboratorium dilakukan dengan mengambil dua
sampel untuk setiap 5 ton besi tulangan.
(d) Pengujian ini harus dilakukan di laboratorium yang
disetujui oleh Direksi Lapangan.
(4) Penyimpanan Besi Tulangan di Lapangan:
(a) Besi tulangan yang disimpan di lapangan harus
ditempatkan di bawah penutup yang kedap air
untuk melindungi dari kelembapan dan air hujan.
(b) Besi tulangan harus diletakkan di atas alas yang
menjaga agar tidak bersentuhan langsung dengan
tanah atau genangan air.
(c) Penyimpanan harus dilakukan sedemikian rupa
untuk mencegah terjadinya karat atau kerusakan
pada besi tulangan.
4) Syarat Umum Pelaksanaan
a. Mutu Beton
(1) Uji mutu beton sebesar f’c = 30 MPa harus dilakukan
sesuai PBI 1971 dengan pengawasan Direksi
Lapangan.
(2) Evaluasi Tegangan Karakteristik Beton Berdasarkan
SK SNI 2847:2019.
(3) Kontraktor harus mengajukan rancangan campuran
beton beserta hasil uji laboratorium yang disetujui
Direksi Lapangan.
(4) Pembuatan Benda Uji: Selama pelaksanaan konstruksi,
kontraktor wajib membuat benda uji beton sesuai
dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 4.7 dan
4.9 PBI 1971.
(5) Sampel beton diambil mewakili kondisi struktur
dengan pengawasan Direksi Lapangan dan dibuat
minimal tiga benda uji setiap pengambilan.
(6) Benda uji beton dirawat dalam pasir basah selama
tujuh hari, lalu disimpan di udara terbuka hingga
pengujian.
(7) Pengujian Kuat Tekan: Pengujian kuat tekan pada
silinder beton dilakukan pada umur 7 hari dan 28 hari,
kecuali jika ada instruksi lain dari Direksi Lapangan.
(8) Selama pengecoran, beton segar harus diuji slump
dengan nilai 5–12 cm sesuai ketentuan Direksi
Lapangan.
(9) Laboratorium Pengujian: Semua pengujian silinder
beton harus dilakukan di laboratorium yang telah
mendapatkan persetujuan dari Direksi Lapangan.
(10) Kontraktor wajib membuat laporan mutu beton
berisi nilai karakteristik yang disahkan Direksi
Lapangan.
(11) Jika kuat tekan beton tidak memenuhi spesifikasi,
kontraktor wajib melakukan perbaikan sesuai PBI
1971 dan menanggung biayanya.
(12) Penggunaan beton ready mix harus disetujui Direksi
Lapangan, dan kontraktor bertanggung jawab atas
mutu, konsistensi, serta pengujiannya di bawah
pengawasan Direksi.
b. Pengadukan
Kontraktor harus menggunakan beton molen dalam
kondisi baik, mengukur bahan dengan tepat,
mengaduk minimal 1,5 menit, dan mengatur
penambahan air tanpa melebihi batas kekentalan yang
ditentukan.
c. Cetakan dan Perancah
(1) Bekisting harus dibuat sesuai arahan dan disetujui
Direksi Lapangan sebelum pengecoran.
(2) Bekisting harus kuat, stabil, dan rapat agar tidak
berubah bentuk atau bocor selama pengecoran dan
pemadatan beton.
(3) Permukaan dalam bekisting dilapisi minyak atau bahan
sejenis yang disetujui Direksi untuk mencegah beton
menempel.
(4) Beton deking (spaler) harus memiliki kualitas minimal
yang setara dengan beton struktural yang digunakan.
Ketebalan deking harus disesuaikan dengan kebutuhan
teknis serta memenuhi standar yang tercantum dalam
PBI-1971.
d. Lantai Kerja
(1) Lantai kerja harus dibuat menggunakan beton ringan
atau beton padat.
(2) Permukaan lantai kerja wajib dalam keadaan bersih
dan bebas dari genangan air.
e. Pembesian
(1) Pemasangan dan pembentukan besi tulangan harus
mengikuti ketentuan dalam PBI-1971 serta arahan dari
Direksi Lapangan.
(2) Pemasangan besi tulangan harus sesuai gambar
rencana dan diperiksa agar sesuai ukuran, bentuk,
posisi, dan jumlah yang ditetapkan.
(3) Besi tulangan dipasang sesuai gambar, diikat kuat,
disangga dengan benar, dan ujung kawat pengikat
ditekuk ke dalam beton.
(4) untuk penyambungan, panjang penyaluran besi
tulangan harus mengikuti standar yang ditetapkan
dalam PBI-1971 dan Pedoman Perencanaan Struktur
Beton Bertulang Biasa dan Struktur Tembok Bertulang
untuk gedung tahun 1983.
(5) Jarak antar tulangan lentur harus diatur agar proses
pengecoran dapat dilakukan dengan mudah.
(6) Hindari melakukan penyambungan semua tulangan
pada satu titik yang sama.
f. Pengecoran
(1) Pengecoran beton hanya dapat dilakukan setelah
dilakukan pemeriksaan dan diperoleh persetujuan
tertulis dari Direksi Lapangan.
(2) Untuk beton yang dicampur di lokasi proyek, seluruh
adukan harus dituangkan ke tempatnya maksimal 30
menit setelah proses pengadukan selesai.
(3) Beton tidak boleh dijatuhkan secara bebas dari
ketinggian lebih dari 2 meter, kecuali jika diperlukan
pada kondisi khusus.
(4) Pemadatan beton harus dilakukan dengan alat
penggetar yang dioperasikan oleh tenaga kerja terlatih
dan berpengalaman di bidang ini.
(5) Alat penggetar tidak boleh langsung mengenai besi
tulangan dan penggunaannya tidak boleh terlalu lama
agar tidak menyebabkan pemisahan campuran
(segregasi).
(6) Jumlah alat penggetar harus memadai, dan kontraktor
wajib menyediakan minimal satu unit cadangan.
(7) Hasil akhir pengecoran harus menunjukkan beton yang
padat merata, tanpa rongga maupun pemisahan unsur
campuran.
(8) Bekisting atau tulangan yang sudah dicor tidak boleh
diganggu selama 48 jam setelah pengecoran, kecuali
dengan izin Direksi Lapangan.
(9) Catatan lengkap mengenai tanggal, waktu, dan kondisi
pengecoran setiap bagian pekerjaan harus dibuat dan
diserahkan ke Direksi Lapangan selambat-lambatnya
satu hari setelah pelaksanaan pengecoran.
(10)Permukaan beton yang masih basah harus dilindungi
dari air hujan dan faktor lain yang dapat merusak
kondisi permukaan lunaknya, hingga beton mengeras.
(11)Permukaan beton baru juga harus dijaga dari paparan
sinar matahari langsung selama paling sedikit 7 hari
setelah pengecoran, dengan cara misalnya
menutupinya menggunakan karung basah.
(12)Siar pelaksanaan harus dirancang sesuai dengan
ketentuan PBI-1971 dan disetujui oleh Direksi
Lapangan.
(13)Jika umur beton kurang dari 3 hari, maka permukaan
siar dibersihkan menggunakan sikat kawat. Namun,
jika usia beton lebih dari 3 hari atau sudah mengeras,
permukaannya harus dikikir atau dibobok sampai
agregatnya tampak.
(14)Sebelum pengecoran baru dilakukan, permukaan
beton lama harus dilapisi perekat seperti ecosal,
calbon, atau bahan sejenis lainnya yang telah disetujui
oleh Direksi Lapangan.
(15)Perbaikan pada area yang cacat atau keropos dengan
campuran semen, bahan perekat, dan anti susut hanya
dapat dilakukan setelah mendapat izin dan
sepengetahuan Direksi Lapangan.
(16)Jika kerusakan atau ketidaksempurnaan tidak dapat
diperbaiki untuk mencapai hasil yang baik, maka
bagian tersebut harus dibongkar dan dicor ulang
dengan biaya ditanggung oleh pihak kontraktor.
g. Pemadatan Adukan beton
(1) Metode pencampuran yang tepat penting untuk
menghasilkan adukan beton merata dan mencegah
segregasi, karena teknik serta peralatan yang sesuai
dapat meningkatkan kualitas pengadukan dan
pemadatan (Almufid, 2020). Dalam konteks ini,
penggunaan aditif kimia, seperti yang dibahas dalam
penelitian Suryanto, dapat meningkatkan plastisitas
adukan sehingga membuat pemadatan menjadi lebih
mudah dan efisien (Suryanto, 2014).
(2) Mengenai pemadatan itu sendiri, metode yang
digunakan juga harus diperhatikan. Misalnya,
pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan
vibrator internal yang menciptakan vibrasi yang
merata. Maryoto dalam risetnya menggarisbawahi
pentingnya standar SNI 2493:2011 dalam mengatur
metode dan parameter pemadatan (Maryoto, 2018).
Selain itu, penambahan aditif seperti lignosulfonat
dapat meningkatkan sifat kompak betonnya, tetapi
harus diatur dosisnya agar tidak mengurangi
workability (GÖK & Klç, 2022)
h. Pembongkaran Acuan (Bekisting)
(1) Pembongkaran hanya dapat dilakukan setelah
memperoleh persetujuan tertulis dari Direksi
Lapangan.
(2) Bekisting dapat dibongkar apabila kekuatan beton
telah mencapai minimal 60% dari kekuatan yang
direncanakan, dan hal ini harus dibuktikan melalui uji
kuat tekan beton (tes kubus) pada bagian yang akan
dibongkar.
(3) Untuk bekisting pada pelat atau balok lantai, urutan
pembongkaran adalah sebagai berikut:
(a) Pertama, lepaskan bekisting pada sisi balok.
(b) Kedua, bongkar perancah dan bekisting di bagian
bawah balok.
(c) Ketiga, lepaskan perancah dan bekisting pelat.
i. Pemeliharaan Beton
(1) Selama 72 jam pertama setelah pengecoran, beton
harus dijaga agar tidak terkena benturan dari benda
keras.
(2) Selama proses pengerasan, permukaan beton yang
telah dicor harus tetap lembab dengan cara disiram air
secara terus-menerus selama minimal satu minggu atau
lebih, sesuai ketentuan dalam SK SNI T-15-1991-03.
(3) Beton harus dilindungi dari potensi kerusakan yang
mungkin disebabkan oleh aktivitas konstruksi lainnya.
5) Pekerjaan dinding
a) Lingkup Pekerjaan
(1) Pekerjaan ini mencakup pengadaan tenaga kerja,
material, peralatan, serta alat bantu yang diperlukan
guna memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan
dengan baik dan menghasilkan kualitas yang optimal.
(2) Pekerjaan dinding ini berfungsi sebagai pelengkap atau
pendukung dari pekerjaan utama, mencakup semua
detail yang tercantum dalam gambar kerja.
b) Persyaratan Bahan
(1) Batu bata harus memenuhi NI-10, yang dimana
persyaratan utama dalam NI-10 sebagai berikut:
(a) Dimensi Standar
Panjang: 240 mm.
Lebar: 115 mm.
Tebal: 52 mm.
Toleransi ukuran yang diperbolehkan adalah:
Panjang: ±3 mm.
Lebar: ±2 mm.
Tebal: ±2 mm.
(b) Kekuatan Tekan
Batu bata diklasifikasikan berdasarkan
kekuatan tekan rata-rata:
Mutu 1: 100 kg/cm²
Mutu II: 80–100 kg/cm²
Mutu III: 60–80 kg/cm²
(c) Sifat fisik Lainnya
Permukaan harus rata, tidak retak, dan bersudut
siku-siku.
Daya serap air dan kadar garam harus dalam
batas yang tidak membahayakan struktur
bangunan.
(2) Semen, pasir, dan air harus memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan dalam Pasal 4.3 SK SNI T-15-
1991-03.
(a) Rincian Umum Ketentuan dalam Pasal 4.3:
Semen: Harus memenuhi standar mutu tertentu,
seperti jenis semen Portland yang sesuai dengan
SNI yang berlaku.
Pasir (Agregat Halus): Harus bersih dari
kotoran, lumpur, dan bahan organik yang dapat
mempengaruhi kualitas beton.
Air: Harus bebas dari zat-zat yang dapat
merusak beton atau mengganggu proses
pengerasan, seperti garam atau bahan kimia
berbahaya.
c) Syarat-syarat Pelaksanaan
(1) Komposisi Adukan untuk Pasangan Bata
Pemasangan batu bata menggunakan campuran
adukan dengan perbandingan 1:4.
(2) Adukan Khusus untuk Area Tertentu
Untuk dinding luar, dinding lantai dasar dari
permukaan sloof hingga 30 cm di atas lantai, dinding
area basah setinggi 160 cm dari lantai, serta dinding
yang ditandai dengan simbol adukan trasram atau
kedap air pada gambar kerja, digunakan adukan kedap
air dengan komposisi 2:3.
(3) Jenis Batu Bata yang Digunakan
Batu bata yang digunakan adalah batu bata merah
lokal berkualitas tinggi yang telah mendapatkan
persetujuan dari Direksi Lapangan.
(4) Persiapan Sebelum Plesteran
Sebelum dilakukan plesteran, pasangan batu bata
harus dibasahi terlebih dahulu untuk memastikan daya
rekat yang optimal.
(5) Penambahan Kolom Praktis
Pada bidang dinding batu bata yang luasnya
melebihi 12 m², wajib ditambahkan kolom praktis
untuk memperkuat struktur, dengan dimensi 15 x 15.
(6) Kualitas Pelaksanaan Pekerjaan
Pemasangan batu bata harus dilakukan dengan
cermat, rapi, dan memastikan bahwa dinding berdiri
tegak lurus sesuai dengan standar konstruksi.
6) Pekerjaan Plesteran
a) Persyaratan Bahan
(1) Semen, pasir, dan air harus memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan dalam Pasal 4 SNI 03-6861.1-
2002.
(2) Adukan untuk plesteran tahan air digunakan campuran
1:3, ditambah dengan cairan aditif sebagai pengikat
(bonding agent).
(3) Untuk plesteran pada dinding lainnya, digunakan
campuran 1:2, juga ditambah dengan cairan aditif
sebagai pengikat (bonding agent).
b) Syarat-syarat Pelaksanaan
(1) Pekerjaan plesteran harus dilaksanakan sesuai dengan
spesifikasi teknis bahan yang digunakan, mengikuti
arahan dan persetujuan dari Direksi Lapangan, serta
memenuhi persyaratan tertulis dalam uraian dan syarat
pekerjaan.
(2) Plesteran hanya dapat dilakukan setelah pekerjaan
pada bidang lantai beton atau pasangan dinding batu
bata mendapatkan persetujuan dari Direksi Lapangan.
(3) Pekerjaan plesteran dinding diperbolehkan setelah
seluruh instalasi listrik dan plumbing untuk bangunan
selesai dipasang.
(4) Sebelum dilakukan plesteran, permukaan beton harus
dibersihkan dari sisa-sisa bekisting, dan semua lubang
pada permukaan beton harus ditutup dengan adukan
plester.
(5) Ketebalan minimum plesteran adalah 2,5 cm. Jika
ketebalan melebihi 2,5 cm, maka harus dipasang kawat
anyam untuk membantu dan memperkuat daya lekat
plesteran.
(6) Apabila terjadi keretakan akibat proses pengeringan
yang tidak baik, plesteran harus dibongkar dan
diperbaiki hingga mendapatkan persetujuan dari
Direksi Lapangan, dengan biaya menjadi tanggung
jawab Pemborong.
(7) Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai,
Pemborong harus secara rutin menyiram permukaan
dengan air hingga jenuh, setidaknya dua kali sehari,
untuk menjaga kelembaban dan mencegah retak akibat
pengeringan yang terlalu cepat.
7) Pekerjaan Cat
a) Pekerjaan Cat Tembok
(1) Persiapan Permukaan
Persiapan permukaan sebelum pengecatan
dinding merupakan langkah awal yang harus
diperhatikan untuk mencapai hasil cat yang optimal.
Sebelum proses pengecatan dimulai, permukaan
dinding harus dibersihkan dari kontaminan seperti
debu, kotoran, minyak, dan lemak (Lubi et al., 2023)
(2) Pelapisan Dasar (Primer)
Pelapisan dasar atau priming berfungsi untuk
meningkatkan daya rekat cat, mencegah kerusakan
pada permukaan dinding, serta memberikan hasil akhir
yang lebih merata dan estetik (Pagnin et al., 2025).
(3) Pengecatan Lapisan Utama
(a) Lakukan 2–3 lapisan cat utama
(b) Gunakan teknik pengecatan yang rata dan searah.
(c) Cat jenis weather shield digunakan untuk bagian
luar, sedangkan bagian dalam menggunakan cat
emulsion
(d) Pastikan setiap lapisan kering sempurna sebelum
pengecatan lapisan berikutnya.
(e) Campur cat dengan thinner atau air (jika berbasis
air) sesuai petunjuk.
(4) Finishing
(a) Periksa hasil akhir: apakah warnanya merata, tidak
belang, tidak ada goresan atau gelembung.
(b) Koreksi bagian yang tidak sempurna dengan
sentuhan akhir (touch-up).
(5) Pembersihan dan perawatan
b) Pekerjaan Cat Kayu
(1) Pekerjaan ini mencakup proses pengecatan hingga
menghasilkan tampilan akhir yang baik pada seluruh
permukaan kayu yang terlihat, termasuk bagian lis dan
elemen serupa lainnya.
(2) Sebelum proses pengecatan dimulai, permukaan yang
akan dicat terlebih dahulu diamplas hingga rata dan
halus.
8) Pekerjaan Keramik
a) Persyaratan Bahan
(1) Untuk lantai kamar hotel dan area umum
menggunakan ubin keramik 60x60 cm.
(2) Untuk kamar mandi menggunakan tegel porselen
ukuran 30x30 cm, dan untuk dinding kamar mandi
menggunakan keramik berukuran 30x30 cm.
b) Syarat-syarat Pelaksanaan
(1) Pemasangan ubin keramik dilakukan menggunakan
campuran adukan dengan perbandingan 1 bagian
semen (PC) dan 2 bagian pasir (PS), dengan ketebalan
minimum 2 cm di atas pelat beton.
(2) Jarak antar ubin harus seragam dan membentuk garis
lurus. Permukaan lantai keramik harus rata tanpa
adanya bagian yang bergelombang.
(3) Tiga hari setelah pemasangan, ubin diperiksa Direksi
Lapangan sebelum pengisian nat dengan semen
sewarna keramik.
(4) Seluruh permukaan lantai harus dibersihkan agar tidak
terdapat sisa noda semen dan permukaan keramik tetap
bersih.
9) Pekerjaan Pengunci dan Penggantung
a) Persyaratan Bahan
(1) Bahan yang digunakan untuk kusen pintu, jendela, dan
elemen sejenis adalah aluminium merek Indalex atau
yang memiliki kualitas setara.
(2) Kaca yang dipakai untuk bagian eksterior memiliki
ketebalan 12 mm, dan penggunaannya disesuaikan
dengan gambar kerja yang telah ditentukan.
b) Syarat-syarat Pelaksanaan
(1) Setelah pemasangan kusen selesai, permukaan kusen
harus dibersihkan dengan baik.
(2) Pemasangan pengunci dilakukan setelah pekerjaan
kusen dan pemasangan penggantung selesai, yang
mencakup pemasangan kunci dan gredel.
10) Pekerjaan Plumbing
a) Pekerjaan meliputi instalasi saluran air bersih dan air
limbah yang harus dilakukan sesuai dengan gambar
rancangan dan arahan dari Direksi Lapangan.
b) Pekerjaan ini direncanakan berdasarkan jumlah penghuni
gedung agar penggunaan sistem air dapat berjalan secara
efisien dan optimal.
c) Segala hal yang belum tercantum dalam gambar rencana,
seperti bahan finishing dan lainnya, wajib memperoleh
persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan sebelum
digunakan.
11) Pekerjaan Sanitair
a) Pekerjaan mencakup area kamar mandi dan kloset, yang
harus dilaksanakan sesuai dengan gambar rancangan dan
arahan dari Direksi Lapangan.
b) Segala hal yang belum tercantum dalam gambar rancangan,
seperti bahan finishing dan lain-lain, harus mendapatkan
persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Direksi Lapangan.
12) Pekerjaan Listrik
a) Pekerjaan wajib dilaksanakan sesuai dengan gambar
rencana dan instruksi dari Direksi Lapangan.
b) Pekerjaan instalasi listrik harus dilakukan oleh pemborong
khusus yang namanya serta alamatnya harus diajukan
terlebih dahulu kepada Direksi Lapangan untuk
memperoleh persetujuan.
c) Pemborong bertanggung jawab atas kualitas pekerjaan
serta semua risiko kerugian yang mungkin terjadi selama
proses pelaksanaan pekerjaan.
13) Pekerjaan Talang dan Saluran
a) Talang air hujan menggunakan pipa PVC dengan diameter
6 inci, dipasang mengikuti gambar rencana dan arahan dari
Direksi Lapangan.
b) Saluran air hujan terbuat dari buis beton berdiameter 50
cm, dipasang di tepi bangunan atau sesuai dengan gambar
rencana yang ada.
14) Pekerjaan Lain-lain
a) Penangkal Petir
(1) Pemasangan penangkal petir dilakukan oleh
Pemborong Khusus atau Sub Pemborong yang telah
mendapat persetujuan dari Direksi Lapangan.
(2) Pemborong utama bertanggung jawab atas hasil
pekerjaan dan wajib mengawasi pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan oleh Pemborong Khusus atau Sub
Pemborong tersebut.
b) Paving Block
(1) Jalan akses masuk dan keluar ke lokasi gedung hotel
harus dibangun sesuai dengan gambar rencana yang
telah ditetapkan.
(2) Permukaan jalan akan dilapisi dengan paving block
berkualitas tinggi, dengan pemilihan merek dan warna
yang harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Direksi Lapangan.
c) Tamanisasi
(1) Setelah pembangunan gedung dan fasilitasnya selesai,
pemborong wajib membersihkan halaman dari sisa-
sisa alat, bahan, dan bangunan sementara.
Setelah pembersihan, tanah di halaman harus diratakan
sesuai dengan peil yang tercantum dalam gambar
kerja.
(2) Bagian halaman yang tidak digunakan untuk parkir
atau lalu lintas kendaraan harus ditanami dengan
tanaman secukupnya.
(3) Rencana penanaman taman harus diajukan terlebih
dahulu kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan
persetujuan.
B. Perancangan RAB
1. Harga Upah dan Material
Daftar harga satuan yang digunakan sebagai acuan anggaran biaya
adalah “standar satuan harga Kota Kendari tahun anggaran 2025”.
Lampiran 1. lampiran SSH Kota Kendari tahun anggaran 2025
2. Analisa Harga Satuan Pekerjaan 2025
Dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB),
diperlukan analisis harga satuan pekerjaan (AHSP) sebagai dasar dalam
menghitung biaya tiap item pekerjaan kontruksi. Analisa ini mencakup
komponen biaya yaitu: Bahan material, tenaga kerja, dan peralatan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan.
Pada bagian ini penulis menyajikan Surat Edaran Direktur
Jenderal Bina Konstruksi Nomor 30/SE/Dk 2025.
a. Pekerjaan Persiapan
1) Pembersihan dan pengupasan permukaan tanah
2) Pembuatan Pagar Proyek
3) Papan Nama Pekerjaan
4) Kantor Sementara/Rumah Jaga
5) Direksi Keet (Kantor)
6) Jalan Sementara (Jalan tanah)
7) Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
8) Pekerjaan Galian Tanah
9) Pekerjaan Timbunan Dan Pemadatan (Termasuk Perataan dan
Perapihan)
10) Pekerjaan Angkutan Material dan/atau Hasil Galian
b. Pekerjaan Struktur
1) Pekerjaan Rangka Atap
2) Pekerjaan Struktur Beton
a) Struktur Atas
b) Struktur bawah
3) Pekerjaan struktur kayu
4) Pekerjaan Dinding Penahan Tanah
c. Pekerjaan Arsitektur
1) Pekerjaan Penutup Atap
2) Pekerjaan Insulasi
3) Pekerjaan Aksesoris Atap
4) Pekerjaan Waterproofing
5) Pekerjaan Langit-Langit (Plafon)
6) Pekerjaan Pasangan Dinding
7) Pekerjaan Plesteran dan Acian
8) Pekerjaan Pengecatan dan Pelituran
9) Pekerjaan Penutup Lantai
10) Pekerjaan Penutup Dinding
11) Pekerjaan Pintu dan Jendela
12) Pekerjaan Kaca
13) Pekerjaan Besi dan Aluminium
14) Pekerjaan Kayu
15) Pekerjaan Signage
16) Pekerjaan Fasad
Dalam proses pengembangan dan kajian untuk
pemutakhiran surat edaran.
17) Pekerjaan Sanitair
18) Pekerjaan Interior Ruangan
Dalam proses pengembangan dan kajian untuk
pemutakhiran surat edaran.
d. Pekerjaan Lansekap
1) Pekerjaan Penanaman Tanaman
2) Pekerjaan Pemeliharaan Tanaman
3) Pekerjaan Hardscape dan Street Furniture
e. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
1) Pekerjaan Sistem Distribusi Jaringan Listrik
2) Pekerjaan Sistem Proteksi Petir
3) Pekerjaan Sistem Pencahayaan
4) Pekerjaan Sistem Elektronik
5) Pekerjaan Sistem Tata Udara
6) Pekerjaan Sistem Proteksi Kebakaran
f. Pekerjaan Plambing
1) Sistem Air Minum
2) Sistem Air Limbah
3) Bak Kontrol
4) Sistem Perpipan Dalam Gedung
5) Aksesoris Pipa
6) Sistem Air Hujan
g. Jalan pada Permukiman
1) Jalan Paving Block
h. Drainase Jalan
1) Saluran Box Culvert
i. Pekerjaan Jaringan pipa di Luar Gedung
1) Pipa PVC
2) Pipa HDPE /PE
3) Pipa Beton
4) Aksesoris pipa
j. Pekerjaan Penutup
1) Membersihkan sisa material, debu, cat, semen
3. Menyusun Rincian Item Pekerjaan
a. Pekerjaan Persiapan
1) Pembersihan dan pengupasan permukaan tanah
2) Pembuatan Pagar Proyek
3) Papan Nama Pekerjaan
4) Kantor Sementara/Rumah Jaga
5) Direksi Keet (Kantor)
6) Jalan Sementara (Jalan tanah)
7) Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
8) Pekerjaan Galian Tanah
9) Pekerjaan Timbunan Dan Pemadatan (Termasuk Perataan dan
Perapihan)
10) Pekerjaan Angkutan Material dan/atau Hasil Galian
b. Pekerjaan Struktur
1) Pekerjaan Rangka Atap
2) Pekerjaan Struktur Beton
a) Struktur Atas
(1) Pembuatan bekisting
(2) Pemasangan dan membuka cetakan
(3) Penuangan/menebar beton
(4) Pemindahan komponen pracetak
(5) Pemasangan dan ereksi komponen pracetak
(6) Produksi lahan
b) Struktur bawah
(1) Pondasi Menerus Batu Belah
(2) Pondasi footplat
3) Pekerjaan struktur kayu
4) Pekerjaan Dinding Penahan Tanah
c. Pekerjaan Arsitektur
1) Pekerjaan Penutup Atap
2) Pekerjaan Insulasi
3) Pekerjaan Aksesoris Atap
4) Pekerjaan Waterproofing
5) Pekerjaan Langit-Langit (Plafon)
6) Pekerjaan Pasangan Dinding
7) Pekerjaan Plesteran dan Acian
8) Pekerjaan Pengecatan dan Pelituran
9) Pekerjaan Penutup Lantai
10) Pekerjaan Penutup Dinding
11) Pekerjaan Pintu dan Jendela
12) Pekerjaan Kaca
13) Pekerjaan Besi dan Aluminium
14) Pekerjaan Kayu
15) Pekerjaan Signage
16) Pekerjaan Fasad
17) Pekerjaan Sanitair
18) Pekerjaan Interior Ruangan
d. Pekerjaan Lansekap
1) Pekerjaan Penanaman Tanaman
2) Pekerjaan Pemeliharaan Tanaman
3) Pekerjaan Hardscape dan Street Furniture
e. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
1) Pekerjaan Sistem Distribusi Jaringan Listrik
2) Pekerjaan Sistem Proteksi Petir
3) Pekerjaan Sistem Pencahayaan
4) Pekerjaan Sistem Elektronik
5) Pekerjaan Sistem Tata Udara
6) Pekerjaan Sistem Proteksi Kebakaran
f. Pekerjaan Plambing
1) Sistem Air Minum
2) Sistem Air Limbah
3) Bak Kontrol
4) Sistem Perpipaan Dalam Gedung
5) Aksesoris Pipa
6) Sistem Air Hujan
g. Jalan pada Permukiman
1) Jalan Paving Block
2) Jalan Beton
h. Drainase Jalan
1) Saluran Box Culvert
i. Pekerjaan Jaringan pipa di Luar Gedung
1) Pipa PVC
a) Pemasangan Pipa PVC
b) Pemotongan Pipa PVC
2) Pipa HDPE /PE
a) Pemotongan Pipa
3) Pipa Beton
a) Pemasangan Pipa Beton
4) Aksesoris pipa
a) Sambungan Pipa Baru ke Pipa yang ada
b) Valve
j. Pekerjaan Penutup
1) Membersihkan sisa material, debu, cat, semen
4. Back up Data dan Perhitungan Volume
a. Pekerjaan Awal
1) Pembersihan lokasi pembangunan atau site clearing
Merupakan tahap awal dalam proyek konstruksi yang
bertujuan untuk mempersiapkan lahan sebelum pembangunan
dimulai.
Rumus: V= Panjang x Lebar.
2) Pemagaran site (Pagar Sementara)
Pemagaran sementara sebelum pembangunan gedung
memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan,
keamanan, dan kelancaran proyek konstruksi.
Rumus: V = Panjang Keliling Keseluruhan Lahan x Tinggi Pagar.
3) Pembuatan Direksi kit
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, kontraktor
diwajibkan untuk menyediakan dan membangun Direksi Keet
berupa bangunan sementara dengan ukuran minimal 4 x 5 meter,
serta rumah jaga berukuran minimal 3 x 3 meter. Bangunan
sementara ini harus dilengkapi dengan toilet/WC dan kamar
mandi yang khusus digunakan oleh Direksi atau Pengawas. Selain
itu, fasilitas tersebut harus dilengkapi dengan bak air, kloset, serta
sistem pengolahan limbah berupa septictank dan sumur resapan.
Rumus : V = Panjang x Lebar Direksi Keet.
4) Pembuatan Barak Kerja dan Gudang
Kontraktor boleh membangun fasilitas sementara dengan
persetujuan Direksi dan wajib membongkarnya setelah pekerjaan
selesai.
Rumus : V = Panjang x gudang
5) Pembuatan Papan Nama Proyek
a) Papan nama proyek ini terbuat dari bahan multipleks dengan
ukuran 60 cm x 80 cm . ketebalan minimal 10 mm dipasang
pada frame aluminium siku dan tiang kayu 5/7, printing
banner plastik. Papan tersebut harus dipasang di lokasi yang
mudah terlihat oleh publik.
b) Informasi yang tercantum pada papan nama proyek biasanya
meliputi:
(1) Nama proyek
(2) Lokasi proyek
(3) Nama dan alamat kontraktor pelaksana
(4) Nama dan alamat konsultan pengawas
(5) Nomor dan tanggal kontrak
(6) Nilai kontrak
(7) Sumber dana
(8) Waktu pelaksanaan
6) Pembuatan Jalan Sementara
Kontraktor harus berkoordinasi dengan konsultan pengawas
dan dinas terkait untuk memperoleh persetujuan pembangunan
jalan sementara, menentukan jalur yang efisien dan ramah
lingkungan, membersihkan lahan, mengupas tanah atas hingga
lapisan stabil, membuat saluran drainase, serta melakukan
perawatan rutin agar jalan tetap berfungsi selama masa
konstruksi.
7) Pembersihan dan pengupasan permukaan tanah
Pembersihan lahan dari Semak, rumput, pepohonan kecil,
Puing-puing atau material bekas, Sampah dan sisa organik yang
dapat mengganggu pekerjaan konstruksi.
8) Mobilisasi Alat Kerja
Berikut adalah tahapan umum dalam mobilisasi alat kerja:
a) Perencanaan dan Koordinasi
b) Persiapan Lapangan
c) Pengadaan dan Pengiriman Peralatan
d) Pemasangan dan Pengujian Peralatan
e) Pelatihan dan Briefing Tenaga Kerja
f) Pemeliharaan dan Pengawasan
9) Pekerjaan penyediaan air dan daya Listrik untuk Pekerjaan
Kontraktor harus menyediakan air bersih dan listrik sesuai
petunjuk pengawas, dengan biaya penggunaan ditanggung sendiri,
dan sumber serta penggunaan harus disetujui pengawas.
10) K3
Dalam proyek pembangunan hotel, penerapan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek krusial yang harus
direncanakan sejak tahap awal. Berikut adalah langkah-langkah
persiapan K3:
a) Analisis Risiko Awal
b) Penyusunan Rencana K3
c) Pelatihan dan Sosialisasi
d) Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD)
e) Pemasangan Rambu dan Tanda Peringatan
f) Pembangunan Fasilitas Pendukung K3
g) Monitoring dan Evaluasi Berkala
11) Drainase Tapak
Kontraktor wajib membangun saluran sementara sesuai
arahan dan persetujuan Direksi/Pengawas proyek untuk
mengalirkan air mengikuti kontur tanah menuju area terendah
atau saluran pembuangan yang ada.
12) Pengukuran
Pengukuran dilakukan sebelum memulai pekerjaan untuk
menentukan posisi bangunan dengan menetapkan batas-
batasnya. Volume pengukuran dihitung dalam satuan lumpsum.
Misalnya, jika pekerjaan diperkirakan berlangsung selama 2 hari
dengan melibatkan 2 tukang, maka perhitungannya adalah
sebagai berikut: dengan upah tukang sebesar Rp.50.000 per hari,
maka total biaya menjadi Rp. 50.000 × 2 × 2 = Rp. 200.000.
13) Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Boowplank berfungsi untuk menentukan sumbu (as) atau
titik lokasi bangunan. Prosesnya dilakukan dengan membangun
pagar dari papan berukuran 3/20 yang dipaku pada tiang kayu
berukuran 5/7. Pagar ini dipasang mengelilingi bangunan
dengan jarak 1 meter dari sumbu utama. Sebagai contoh, untuk
rumah berukuran 6 × 7 meter, volume bowplank dihitung
sebagai berikut: (6 + 1 + 1) + (7 + 1 + 1) = 17 meter.
b. Galian
Galian merupakan proses penggalian tanah yang berkaitan
dengan pembuatan pondasi. Kedalaman dan lebar galian ditentukan
berdasarkan jenis pondasi yang digunakan.
Volume = Lebar x Panjang x tinggi.
c. Urugan
Volume urugan dihitung dengan mengalikan luas area
bangunan dengan tinggi urugan dalam satuan meter kubik (m³).
Rumus perhitungannya: V = Luas Bangunan × Tinggi Urugan.
d. Urugan Kembali
Urugan kembali merupakan proses menimbun kembali area
bekas galian pondasi. Volume urugan kembali umumnya dihitung
sebagai sepertiga dari volume galian. Sebagai contoh, jika volume
galian adalah 60 m³, maka volume urugan kembali dihitung sebagai:
V = Volume Galian × 1/3, Sehingga, 60 m³ ÷ 3 = 20 m³.
e. Pekerjaan Pondasi Batu Belah
1) Urugan pasir bawah pondasi
Lantai kerja merupakan bagian konstruksi yang terletak di
bawah pondasi. Lantai kerja dapat dibuat dari urugan pasir setebal
10 cm.
2) pasangan batu kali kosong
Pasangan batu kali atau beton dengan campuran 1:3:5
dengan ketebalan antara 5 hingga 10 cm. Volume lantai kerja
dihitung dengan rumus: V = Luas × Tebal
3) Pasangan pondasi menerus
Pondasi yang dimaksud di sini adalah pondasi belah yang
digunakan untuk bangunan rumah satu lantai. Untuk menghitung
volumenya, terlebih dahulu jumlahkan seluruh panjang pondasi,
kemudian kalikan dengan tinggi pondasi dan rata-rata lebar
pondasi (hasil penjumlahan lebar atas dan lebar bawah, dibagi
dua).
Rumus perhitungan:
V = Panjang × Tinggi × (Lebar Atas + Lebar Bawah) / 2
f. Timbunan Tanah di datangkan
Timbunan tanah pasca pemasangan pondasi memiliki peran
penting dalam memastikan stabilitas dan keberlanjutan struktur
bangunan. Untuk menghitung volume timbunan tanah adalah selisih
antara volume galian dan volume pondasi telah dipasang
Rumus perhitungan:
Volume Timbunan = Volume Galian-Volume Pondasi
g. Pemadatan Tanah Tiap 20 cm
Pemadatan tanah setiap lapisan setebal 20 cm merupakan
praktik standar dalam konstruksi untuk memastikan kestabilan dan
kekuatan struktur yang dibangun di atasnya.
Langkah-langkah untuk menghitung volume pemadatan tanah
per lapisan 20 cm:
1) Tentukan Volume Total Area yang Akan Dipadatkan
Volume Total=Panjang (m)×Lebar (m)×Tinggi (m).
Contoh Volume total area dengan panjang 30 m, lebar 10 m, dan
tinggi timbunan 1,2 m: Volume Total= 30x10x1,2=360 m3
2) Hitung Jumlah Lapisan Pemadatan
arena pemadatan dilakukan setiap 20 cm (0,2 m), jumlah lapisan
dapat dihitung dengan:
Tinggi Timbunan
Jumlah Lapisan=
0 ,2
1,2
Jumlah Lapisan= =6 Lapisan
0,2
3) Hitung Volume Setiap Lapisan
Volume per Lapisan=Panjang×Lebar×Tebal Lapisan
Volume per Lapisan=30×10×0,2=60m3
h. Timbunan Pasir Bawah Lantai
Timbunan pasir di bawah lantai memiliki peran penting dalam
konstruksi bangunan. Rumus perhitungan volume timbunan pasir
bawah lantai sebagai berikut:
Volume=10×8×0,07=5,6m
i. Pemadatan Timbunan Pasir Tiap 20 cm
Pemadatan timbunan pasir setiap lapisan setebal 20 cm
merupakan praktik standar dalam konstruksi untuk memastikan
kestabilan dan kekuatan struktur yang dibangun di atasnya. Adapun
rumus perhitungannya sebagai berikut:
1) Hitung Volume per Lapisan volume per Lapisan=P×L×T
2) Hitung Jumlah Lapisan dan Volume Total=
Volume per Lapisan × Jumlah Lapisan
j. Pekerjaan Beton
1) Lantai Kerja
Lantai kerja merupakan bagian dari pekerjaan konstruksi
yang terletak di bawah pondasi bangunan. Elemen ini dapat
berupa lapisan pasir setebal 10 cm, pasangan batu belah, atau
beton dengan perbandingan campuran 1:3:5 yang memiliki
ketebalan antara 5 hingga 10 cm. Untuk menghitung volumenya,
digunakan rumus: Volume (V) = panjang × lebar x tinggi.
2) Pondasi footplat
Perhitungan hitung volume pondasi footplat, digunakan
rumus berikut:
Volume Pelat (Poer): Panjang × Lebar × Tebal
Volume Kolom: Panjang × Lebar × Tinggi Kolom
Volume Total: Volume Pelat + Volume Kolom
3) Sloof
Perhitungan volume sloof beton dapat dilakukan dengan
rumus:
Volume Beton Sloof = Panjang × Lebar × Tinggi (dalam satuan
meter kubik)
4) Kolom Utama
Untuk menghitung volume kolom utama, digunakan rumus:
Volume Kolom Utama = Panjang × Lebar × Tinggi
Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan meter kubik (m³).
5) Kolom Praktis
Untuk menghitung volume kolom praktis, digunakan rumus:
Volume Kolom Praktis = Panjang × Lebar × Tinggi
Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan meter kubik
(m³) dan digunakan untuk menentukan kebutuhan material dalam
proses konstruksi.
6) Balok Latei
Untuk menghitung volume balok latei, digunakan rumus:
Volume Balok Latei = Panjang × Lebar × Tinggi
7) Balok dan Plat Lantai
a) Untuk menghitung volume balok, menggunakan rumus:
Volume balok = Panjang x Lebar x Tinggi
b) Untuk menghitung volume plat lantai, digunakan rumus:
Volume Plat Lantai = Panjang × Lebar × Tebal
Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan meter
kubik (m³) dan digunakan untuk menentukan kebutuhan
material dalam proses konstruksi.
8) Ring Balok
Untuk menghitung volume ring balok, digunakan rumus
yang sama seperti pada sloof dan kolom, yaitu:
Volume Ring Balok = Panjang × Lebar × Tinggi
Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan meter kubik (m³)
9) Pekerjaan Plesteran Beton
Perbandingan campuran semen dan pasir untuk plesteran
antara lain:
a) Perbandingan 1:4 (Semen : Pasir)
Penggunaan: Plesteran dinding yang berada di bawah
permukaan tanah, seperti ruang bawah tanah atau kolam.
b) Perbandingan 1:5 (Semen : Pasir)
Penggunaan: Plesteran dinding bagian dalam bangunan
yang tidak langsung terpapar cuaca.
c) Perbandingan 1:6 (Semen : Pasir)
Penggunaan: Plesteran dinding bagian luar bangunan
yang terpapar cuaca.
k. Pekerjaan dinding
1) Pemasangan bata
Rumus:
Luas = Keliling dinding x Tinggi dinding – Luas Bukaan.
2) Plasteran
Rumus:
V = Luas dinding X 2 Lapis plesteran
3) Acian
Volume acian dihitung sama seperti plesteran, namun
dikurangi area yang tidak dilapisi acian, seperti dinding keramik
dan lainnya.
4) Plamir
Langkah-langkah menghitung volume plamir:
a) Ukur Dimensi Dinding
b) Hitung Luas Setiap Bidang menggunakan rumus:
Luas=Panjang×Tinggi
c) Kurangi Luas Bukaan
d) Jumlahkan Luas Bersih
5) Cat Dasar
Menghitung volume cat dasar sebagai berikut:
Rumusnya : Panjang x lebar x2 (sisi luar dalam)
6) Cat tembok
Menghitung volume cat tembok sebagai berikut:
Rumusnya : Panjang x lebar x2 (sisi luar dalam)
7) Sponengan atau tali air
Sponengan atau tali air merupakan batas antara kusen dan
plesteran. Jika lebar kusen lebih kecil dari lebar dinding 15 cm,
maka batas tersebut disebut sponengan. Namun, jika lebar kusen
sama dengan lebar dinding, maka batas tersebut disebut tali air.
l. Pekerjaan kusen, pintu, dan jendela
1) Pembuatan kusen
Dalam RAB, perhitungan kusen dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
V = Panjang kusen x Tebal kusen x Lebar kusen
2) Daun pintu
Daun pintu memiliki berbagai jenis, seperti daun pintu
panel atau double plywood. Dalam perhitungan volume untuk
RAB, biasanya dihitung per unit. Volume pemasangan dapat
dihitung dengan, Bh = Harga satuan unit x Banyak jumlah unit
3) Pasangan daun pintu, jendela dan ventilasi
Volume pemasangan dihitung per unit, tidak termasuk
pemasangan kunci tanam, hak angin, dan slot.
4) Pasang kaca dan kunci
Pemasangan kaca dihitung berdasarkan luas dengan satuan
meter persegi (m²). Bh = harga satuan unit x Banyak unit.
Pemasangan satu set kunci, engsel pintu, engsel jendela,
pemasangan geandel dihitung dengan, Bh = Harga satuan unit x
Banyak unit.
m. Pekerjaan atap dak beton
1) Pembuatan bekisting dak beton
Volume bekisting dak beton dihitung berdasarkan luas
permukaan yang akan dicetak, yaitu:
Volume Bekisting=Luas Dak Beton=Panjang×Lebar
Misalkan kita memiliki dak beton dengan ukuran:
Panjang = 6 meter, Lebar = 8 meter
Maka luas bekisting yang dibutuhkan: 6 × 8 =48 m2
2) Pembesian dak beton
Rumusnya : berat besi = luas dak (m) x Berat besi per
meter(kg/m)
3) Pengecoran dak beton
Rumusnya: V = Panjang x lebar x tebal dak beton
4) Pembongkaran bekisting
Setelah beton mengeras, bekisting dibongkar sesuai dengan
waktu yang ditentukan.
5) Finishing dak beton
Meratakan dan memperhalus permukaan dak beton agar
siap untuk pekerjaan lanjutan.
6) Pasang talang
Talang dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, seperti seng,
PVC, dan beton, dengan metode perhitungan volume yang
berbeda untuk setiap jenisnya. Talang seng dihitung berdasarkan
luas dengan satuan meter persegi (m²), talang PVC dihitung
berdasarkan panjang dengan satuan (m1), sementara talang beton
dapat dihitung menggunakan satuan meter kubik (m³) atau meter
persegi (m²).
7) Listplank
Perhitungan menggunakan satuan m1dengan rumus
V = Panjang lisplank
n. Pekerjaan Plafon
1) Rangka plafon
Rangka besi, perhitungannya dilakukan berdasarkan berat
dalam kilogram (kg). Rumus perhitungannya adalah panjang
dikalikan lebar dengan hasil dalam satuan meter persegi (m²).
2) Pasang plafond
Plafon tersedia dalam berbagai jenis bahan, seperti kayu,
eternit, asbes plat, plywood, gypsum, dan lainnya.
Rumusnya: panjang pasang plafond x Lebar
3) List plafond
Volume perhitungannya menggunakan satuan meter
panjang (m1), Rumusnya V=Panjang List Plafond.
o. Pekerjaan lantai dan keramik
1) Lantai kerja 1:3:5
Volume = panjang × lebar × tebal (m³).
2) Pasangan keramik lantai utama dan wc
Volume pemasangan keramik lantai dihitung berdasarkan
luas dengan satuan meter persegi (m²).
Rumus perhitungan:
Volume = panjang × lebar (m²)
3) Pasang keramik dinding
Volume pemasangan keramik dinding dihitung berdasarkan
luas dengan satuan meter persegi (m²).
Rumus perhitungan:
Volume = panjang × lebar (m²).
p. Pekerjaan MEP (Mechanical, Electrical, and Plumbing)
1) Pekerjaan Instalasi Listrik
a) Untuk menghitung volume pekerjaan instalasi kabel
menggunakan satuan m1 yaitu: V= Panjang kabel
b) Perhitungan volume pemasangan unit main distribution panel
ATS (Automatic Transwer Switch) yaitu:
Bh= Harga satuan unit x Banyak unit
c) Perhitungan titik lampu, panel kwh meter, titik stop kontak,
Saklar tunggal, Saklar ganda yaitu:
Bh= Harga satuan unit x Banyak unit
2) Pekerjaan Instalasi Air Bersih
a) Pemasangan pipa perhitungan menggunakan satuan m 1
yaitu: V = Panjang pipa.
b) Pemasangan tangki toren air, cara perhitungan
volumenya menggunakan, Bh = Harga satuan unit x
banyak unit.
3) Pekerjaan Instalasi Air Kotor
a) Pemasangan pipa perhitungan menggunakan satuan m1
yaitu: V = Panjang pipa
b) Pemasangan Floor drain, cara perhitungan volumenya
menggunakan, Bh = Harga satuan unit x banyak unit
4) Pekerjaan Instalasi Pemadam Kebakaran
Perhitungan volume adalah buah atau unit,
bh = Harga unit x banyak unit
5) Pekerjaan Instalasi AC (Air Conditioner)
Perhitungan volume adalah buah atau unit,
bh = Harga unit x banyak unit
q. Pekerjaan Finishing
1) Pengecatan
a) Dinding
Rumus:
Kebutuhan Cat (liter) =Luas Permukaan yang dicat (m 2) -
Luas
Bukaan (m2) / Daya sebar cat (m2/liter)
b) Plafond
Rumus:
Kebutuhan cat ( liter) = Luas Plafons (m 2) / Daya sebar cat
(m2/Liter) x Jumlah lapisan
c) Kusen pintu jendela dan ventilasi
Rumus:
Luas Permukaan Kusen (m2) = Panjang total elemen kusen
(m) x Kelilling Penanmpang kusen (m)
2) Finishing Fasad
Rumus:
Volume Pekerjaan (m2) = Luas Permukaan Fasad (m2) – Luas
Bukaan (m2) x Jumlah Lapisan
3) Saluran Keliling
Rumus:
Volume (m³)=Luas Penampang (m²)×Panjang Saluran (m)
4) Bak Kontrol
Rumus:
Volume (m³)=Panjang (m)×Lebar (m)×Tinggi (m)
r. Pekerjaan sanitasi
1) Instalasi pipa air bersih menggunakan PVC berukuran ¾”.
Penghitungan volume didasarkan pada panjang dengan satuan
meter (m1). V = Panjang pipa.
2) Instalasi saluran pembuangan air menggunakan pipa PVC
berdiameter 4”.
Pengukuran volume dilakukan berdasarkan panjang dengan
satuan meter (m1). V = Panjang pipa.
3) Pasang kloset, keran, dan wastafel
Perhitungan volume adalah buah atau unit, set = Harga unit x
banyak unit
4) Pemasangan jet washer, penggantung baju, towel bar, grab
bar,paper holder, shower set
Perhitungan volume adalah buah atau unit,
set = Harga unit x banyak unit
s. Pembuatan septick tank
Perhitungan volume adalah buah atau unit, bh = Harga unit x
banyak unit
t. Pekerjaan akhir
Volume pekerjaan diperkirakan selesai dalam 7 hari dengan
melibatkan 11 tukang, sehingga perhitungan biaya dilakukan dengan
rumus: upah tukang × 7 × 11 = Rp…
5. Rekapituasi Rencana Anggaran Biaya
Tahap terakhir dalam penyusunan rencana anggaran biaya (RAB)
adalah membuat bagian rekapitulasi. Rekapitulasi merupakan
penjumlahan total dari setiap subpekerjaan, seperti pekerjaan persiapan,
pondasi dan beton. Masing-masing subpekerjaan tersebut bisa
dijabarkan lebih rinci sesuai kebutuhan. Setelah semua pekerjaan
dijumlahkan, akan diperoleh total keseluruhan biaya proyek. Dalam
perhitungan rekapitulasi ini, dapat pula ditambahkan biaya pajak
pertambahan nilai (PPN) sebesar 15 % dari total nilai seluruh pekerjaan.
(Sumber : Penulis 2025)
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penyusunan dokumen Rencana Anggaran Biaya
(RAB) dan Rencana Kerja dan Syarat (RKS) untuk proyek pembangunan
Hotel Bintang 3 yang berlokasi di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara,
maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) telah berhasil disusun dengan
mengacu pada data perencanaan arsitektur dan struktur bangunan yang
tersedia. Penyusunan RAB dilakukan dengan mempertimbangkan volume
pekerjaan berdasarkan gambar rencana, harga satuan terkini, serta analisis
kebutuhan material dan tenaga kerja. Cakupan pekerjaan yang tercantum
dalam dokumen RAB meliputi pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur,
mekanikal, elektrikal, plumbing (MEP), pekerjaan finishing, hingga
pengembangan lingkungan sekitar bangunan.
2. Dokumen Rencana Kerja dan Syarat (RKS) disusun sebagai acuan teknis
dan administratif dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi. Dokumen ini
memuat ketentuan pelaksanaan pekerjaan, standar mutu material dan hasil
pekerjaan, spesifikasi teknis, serta rincian tanggung jawab penyedia jasa
konstruksi. Penyusunan RKS bertujuan untuk memastikan bahwa proyek
dapat terlaksana sesuai dengan standar mutu, waktu pelaksanaan, serta
anggaran biaya yang telah direncanakan.
3. Penyusunan dokumen RAB dan RKS merupakan bagian penting dalam
tahap perencanaan proyek konstruksi. Kedua dokumen ini berperan
sebagai pedoman dalam proses evaluasi penawaran, pengendalian biaya
proyek, serta pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan konstruksi di
lapangan.
4. Dengan tersusunnya dokumen RAB dan RKS secara lengkap dan
sistematis, diharapkan proyek pembangunan Hotel Bintang 3 di Kota
Kendari dapat dilaksanakan secara lebih efisien, transparan, dan
terstruktur, serta sesuai dengan ketentuan teknis dan regulasi yang berlaku
di bidang jasa konstruksi.
B. Saran
Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang telah menyelesaikan proses
penyusunan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta Rencana Kerja
dan Syarat (RKS) untuk proyek pembangunan Hotel Bintang 3 di Kota
Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, penulis menyampaikan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian tugas akhir dengan topik
serupa, disarankan agar memahami secara mendalam gambar kerja dan
dokumen perencanaan yang digunakan, karena ketepatan dalam membaca
serta mengolah data sangat menentukan keakuratan dalam perhitungan
anggaran biaya maupun penyusunan dokumen teknis.
2. Dalam proses penyusunan RAB, sangat dianjurkan untuk menggunakan
referensi harga satuan yang paling mutakhir dan sesuai dengan kondisi
wilayah proyek. Hal ini penting agar hasil estimasi biaya benar-benar
menggambarkan realitas harga di lapangan dan dapat dijadikan dasar yang
andal dalam pelaksanaan proyek konstruksi.
3. Untuk penyusunan dokumen RKS, mahasiswa diharapkan merujuk pada
standar-standar teknis nasional seperti Standar Nasional Indonesia (SNI),
serta sumber referensi profesional lainnya, guna memastikan bahwa
dokumen tersebut tersusun dengan baik secara teknis maupun
administratif.
4. Sebagai penutup, penulis berharap bahwa hasil penyusunan dokumen RAB
dan RKS dalam tugas akhir ini dapat memberikan manfaat, baik sebagai
referensi akademik maupun sebagai acuan praktis bagi pihak-pihak yang
terlibat dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan konstruksi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdi, A., Abbèche, K., Athmania, D., & Bouassida, M. (2019). Effective Width Rule in
the Analysis of Footing on Reinforced Sand Slope. Studia Geotechnica Et
Mechanica. [Link]
Abdi, A., Abbeche, K., Boufarh, R., & Mazouz, B. (2018). Experimental and
Numerical Investigation of an Eccentrically Loaded Strip Footing on Reinforced
Sand Slope. Electronic Journal of Structural Engineering.
[Link]
Adam, L., Mustanir, A., & Irwan, I. (2019). Pengaruh Kepemimpinan Terhadap
Partisipasi Masyarakat Pada Perencanaan Pembangunan. Jakpp (Jurnal Analisis
Kebijakan & Pelayanan Publik). [Link]
Adianto, Y. L. D., Wimala, M., & Harun, A. M. (2022). Faktor-Faktor Pengaruh
Besaran Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Penawaran Pekerjaan Jalan Oleh
Kontraktor X. In Jurnal Rekayasa Sipil (Jrs-Unand).
[Link]
Almufid, A. (2020). Perencanaan Beton Mutu Tinggi (Kuat Tekan Besar ) Dengan
Bahan Tambahan. In Jurnal Teknik. [Link]
Anggih Permana, S., Yuniastuti, T., Vidya Ayuningtyas, N., Studi Arsitektur, P., Teknik,
F., & Widya Mataram Yogyakarta, U. (2022). Perencanaan dan perancangan city
hotel di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta ( pendekatan pada desain arsitektur
bioklimatik). In Jurnal Arsitektur Pendapa Online (Vol. 5, Issue 1).
Asri, A., Mirsa, R., & Saputra, E. (2023). Evaluasi Pembangunan Kabupaten Pidie
Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) [Studi Kasus Kecamatan Pidie].
Rekatek. [Link]
Astana, I. N. Y. (2017). Estimasi Biaya Konstruksi Gedung Dengan Cost Significant
Model. In Jurnal Riset Rekayasa Sipil. [Link]
Ayuni, N. M. K., & Erawati, N. M. A. (2018). Pengaruh Asimetri Informasi Pada
Senjangan Anggaran Dengan Kejelasan Sasaran Anggaran Dan Komitmen
Organisasi Sebagai Pemoderasi. In E-Jurnal Akuntansi.
[Link]
Ayuningrum, N., Saputra, F. W., & Handoko, D. (2023). Penyusunan Anggaran
Komprehensif Pada UMKM Rempeyek Ilham Mumtaz Kota Jambi. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming.
[Link]
Barasa, H. S., Ishak, I., & Zunaidi, M. (2023). Sistem Pendukung Keputusan Untuk
Menentukan Kelayakan Nasabah Dalam Menerima Pinjaman Di PT. Bina Artha
Ventura Menggunakan Metode Weighted Product. Jurnal Sistem Informasi
Triguna Dharma (Jursi Tgd). [Link]
Benufinit, Y. A., & Modok, E. S. (2023). Implementasi Teks Prosedur Berbasis Video
Interaktif Dalam Praktikum Sistem Operasi. Hinef.
[Link]
Biswan, A. T., & Widianto, H. T. (2019). Peran Beyond Budgeting Entry Scan Untuk
Mengatasi Permasalahan Penganggaran Sektor Publik. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma. [Link]
Caesario, M. A., & Priyanto, B. (2023). Metode Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan
Struktur Atas Pada Proyek Pembangunan Gedung 10 Lantai. In Jurnal Sosial
Teknologi. [Link]
Clarita, J., & Anondho, B. (2022). Peringkat Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Produktivitas Konstruksi Akibat Penyebaran Virus Covid-19. JMTS Jurnal Mitra
Teknik Sipil. [Link]
Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. (1971). pbi-1971-peraturan-beton-
bertulang-indonesia.
Diyanti, Supomo, F. Y., & Amirulloh, M. R. (2023). Analisis Percepatan Pekerjaan
Pembangunan Aston Ciloto Hotel Dan Resorts Dengan Critical Path Method.
Artesis. [Link]
Ferdinand, F., & Pamadi, M. (2023). Perbandingan Biaya Pembangunan Rumah: SNI
2008, AHSP 2022 Atau Perhitungan Kontraktor? Jurnal Ilmiah Telsinas Elektro
Sipil Dan Teknik Informasi. [Link]
Firana, Y., & Abbas, A. (2020). Dimensi Keadilan Dalam Partisipasi Penyusunan
Anggaran Dan Kinerja Manajerial Rumah Sakit. Jesya (Jurnal Ekonomi &
Ekonomi Syariah). [Link]
GÖK, S. G., & Kılıç, İ. D. (2022). A Study on Investigating the Effect of
Lignosulfonate-Based Com-Paction Aid Admixture Dosage on the Properties of
Roller Com-Pacted Concrete. [Link]
Herlina, N., & Supriyatin, U. (2021). Amdal Sebagai Instrumen Pengendalian Dampak
Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan Dan Berwawasan Lingkungan.
Jurnal Ilmiah Galuh Justisi. [Link]
Indrawati, S. M. (2020). Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja
Manajerial Pada BPR Di Wilayah Otoritas Jasa Keuangan Purwokerto. Jurnal
Ekonomi Bisnis Dan Akuntansi. [Link]
ISFIATY, I. (2016). TINJAUAN MODERNISASI UNSUR TRADISIONAL
INDONESIA SEBAGAI ELEMEN INTERIOR HOTE PADA MATA KULIAH DI -
V FAKULTAS DESAIN UNIKOM. 14, 251–264.
Kustiah, H., Hardjomuljadi, S., & Amin, M. (2022). Faktor Pengaruh Variation Order
Pada Konstruksi Jalan Dan Jembatan Untuk Mengurangi Klaim Konstruksi. In
Konstruksia. [Link]
Lubi, A., Sari, Y., Anggarainy, R., Fatkhurrohman, A. C., Febrianto, M. R. D.,
Ramadhan, R., & Susetyo, F. B. (2023). Pengaruh Campuran Thinner Terhadap
Daya Rekat Dan Ketebalan Lapisan Hasil Dari Alat Custom Refill Cat Semprot.
In Jurnal Asiimetrik Jurnal Ilmiah Rekayasa & Inovasi.
[Link]
Madaul, R. A., & Ibal, L. (2023). Kajian Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Sorong Tahun 2012 - 2032. Jurnal Ilmiah Ecosystem.
[Link]
Mansouri, T., & Abbèche, K. (2019). Experimental Bearing Capacity of Eccentrically
Loaded Foundation Near a Slope. Studia Geotechnica Et Mechanica.
[Link]
Maryoto, A. (2018). Proposed Concrete Compaction Method Using an Electrical
Internal Vibrator: A Review of Compaction Standard for Concrete in Laboratory
According to SNI 2493:2011. In Matec Web of Conferences.
[Link]
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. (2023).
2023pmpupr1.
Miki, M. K., & Ariyanto, A. (2022). Perencanaan Pasar Seni 5 Lantai SJC Jepara. In
Jurnal Civil Engineering Study. [Link]
Milah, A. R., Hasanah, U., & Nurhidayat, R. (2024). Implementasi Manajemen
Pembiayaan Pendidikan Di SMK Negeri 1 Cijulang Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan. Jurnal Pelita Nusantara.
[Link]
Muhsar Muhammad, S. H. H. (2024). Analisis Kelayakan Kualitas Material Batu
Pecah Dan Pasir Asal Kelurahan Wandoka Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten
Wakatobi Sebagai Bahan Konstruksi Gedung.
Muliadi, M., Andriani, M., & Irawan, H. (2020). Perancangan Sistem Informasi
Pemesanan Kamar Hotel Berbasis Website (Web) Menggunakan Data Flow
Diagram (Dfd). Jisi Jurnal Integrasi Sistem Industri.
[Link]
Mulyono, S. (2024). Pengaruh Strategi Inovasi Dan Orientasi Pasar Terhadap
Keunggulan Bersaing Dan Kinerja Perusahaan (Studi Pada UKM OKE OCE
Jakarta). Journal of Economics, Business, Accounting and Management.
[Link]
Mustika, W., & Talanipa, R. (2020). STABILITA || Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
PEMANFAATAN MATERIAL SUNGAI ANESE.
Mutasar, A., Masril, M., David, D., Hendriani, S., & Fitriani, W. (2019). Pengaruh
Kecerdasan Emosional Dan Kepribadian Terhadap Kepemimpinan Kepala
Madrasah Di Kabupaten Agam. Al-Fikrah Jurnal Manajemen Pendidikan.
[Link]
Nur Hidayah, S. W., Hidayati, D., Herlin, H., & Putra, K. E. (2023). Evaluasi
Pencapaian Key Performance Indicator (KPI) Untuk Merancang Training Need
Analysis (TNA) Kompetensi Guru. Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia.
[Link]
Nurhakim, S., Hendro Murtiono, & I Gusti Ngurah Anom Gunawan. (2024).
PENERAPAN GREEN MATERIAL PADA BANGUNAN HOTEL UNTUK
MENCIPTAKAN ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN DI KOTA BATAM. 7.
Oktaviyah, N. (2022). Penyusunan Anggaran Operasional Pada Umkm Kuliner Di
Kabupaten Maros. In Bata Ilyas Journal of Accounting.
[Link]
Pagnin, L., Goidanich, S., Izzo, F. C., Zhang, Y., Scalarone, D., & Toniolo, L. (2025).
Compatibility and Efficacy Evaluations of Organic Protective Coatings for
Contemporary Muralism. In Coatings. [Link]
PERMENPAREKRAF NOMOR 18 TAHUN 2016. (2016).
Priyantono, H., Baga, L. M., & Falatehan, A. F. (2017). Optimization Strategy of
Budget Disbursement of the State Treasury Office of Jakarta II. In Matrik Jurnal
Manajemen Strategi Bisnis Dan Kewirausahaan.
[Link]
Purwanto, L. M. F. (2024). Mengintegrasikan Material Unggul Dan Teknologi Digital
Dalam Pembangunan Smart Building Dan Arsitektur Kota Modern. Joda Journal
of Digital Architecture. [Link]
Rahmawati, S. M., & Supriatono, B. (2019). Implementasi Penganggaran Partisipatif
Di Indonesia. Jurnal Sikap (Sistem Informasi Keuangan Auditing Dan
Perpajakan). [Link]
Rizki, M. Y., & Ridwan, A. (2023). Pengembangan Sistem Informasi Eksekutif Unit
Layanan Pengadaan Pada Kementerian Ketenagakerjaan. In Jipi (Jurnal Ilmiah
Penelitian Dan Pembelajaran Informatika).
[Link]
Saputra, Y. J., Rosnawintang, R., & Dali, N. (2020). Pengaruh Dau, Pad, Jenis Dan
Letak Pemerintahan Terhadap Perilaku Oportunistik Penyusun Anggaran Di
Kabupaten/Kota Se-Sulawesi Tenggara. Jurnal Progres Ekonomi Pembangunan
(Jpep). [Link]
Saputro, F. K., Irianto, B. S., & Herwiyanti, E. (2016). Faktor Yang Mempengaruhi
Ketepatan Anggaran Sektor Publik. In Sar (Soedirman Accounting Review)
Journal of Accounting and Business. [Link]
Suryanto, S. (2014). Pengaruh Semen Komposit Pada Beton Mutu Tinggi Dengan
Berbagai Aditif. In Prokons Jurusan Teknik Sipil.
[Link]
Susanti, E. D., Purnomo, F., & Novianto, D. (2021). Project Planning Pembangunan
Gedung Apartemen Klaksa Residence Kota Surabaya. Jurnal Jos-MRK.
[Link]
Susilawati, N., Sari, T. D., Wahyudi, T., & Hayati, M. N. (2023). The Description of
University Budget Variance, Equality, and Expenditure Matter Toward Services.
[Link]
Sutrisna, I. W. (2023). Pengelolaan Keuangan Yang Partisipatif Dalam Mewujudkan
Demokrasi Anggaran Di Desa. Jurnal Ilmiah Cakrawarti.
[Link]
Tanjaya, D., Arijanto, L., & Andi, A. (2016). Identifikasi Dan Evaluasi Faktor-Faktor
Kompetensi Sosial Manajer Proyek. Dimensi Utama Teknik Sipil.
[Link]
Umar, M. Z., & Prasetya, A. E. (2021). Pendampingan Tim Perencanaan Sekolah Alam
Kendari. Amal Ilmiah Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
[Link]
Wahyuningsih, T. (2019). Intensi Kewirausahaan Mahasiswa (Studi Perbandingan
Antara Mahasiswa PTS Dan Ptn). Jurnal Penelitan Ekonomi Dan Bisnis.
[Link]
Yazid, Z., & Mat, N. (2018). Meneroka Dinamik Perhubungan Dalam Kumpulan
Projek. Jurnal Pengurusan. [Link]
Yuliansyah, F., & Arneta, D. (2020). Analisis Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Pada Proyek Konstruksi (Studi Kasus
Proyek Revitalisasi Dan Perluasan Depo Kontainer Di Pt. Bhanda Ghara Reksa
Drive Iv Palembang). In Teknika Jurnal Teknik.
[Link]
Yunas, N. S. (2017). Efektivitas E-Musrenbang Di Kota Surabaya Dalam Sistem
Perencanaan Pembangunan Berparadigma Masyarakat. Otoritas Jurnal Ilmu
Pemerintahan. [Link]