0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan218 halaman

Bab II Tasha Arizka Khaira

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk definisi, klasifikasi, tanda-tanda, serta perubahan fisiologis dan psikologis pada ibu hamil selama trimester I hingga III. Terdapat juga penjelasan mengenai tanda bahaya yang perlu diwaspadai selama kehamilan. Informasi ini penting untuk memahami proses kehamilan dan menjaga kesehatan ibu serta janin.

Diunggah oleh

tasha.arizka22
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan218 halaman

Bab II Tasha Arizka Khaira

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk definisi, klasifikasi, tanda-tanda, serta perubahan fisiologis dan psikologis pada ibu hamil selama trimester I hingga III. Terdapat juga penjelasan mengenai tanda bahaya yang perlu diwaspadai selama kehamilan. Informasi ini penting untuk memahami proses kehamilan dan menjaga kesehatan ibu serta janin.

Diunggah oleh

tasha.arizka22
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dasar Kehamilan

A. Pengertian

Menurut Federasi Obstetric Ginekologi Internasional, Kehamilan

didefinisikan sebagai proses pembuahan, yaitu penyatuan antara

spermatozoa dan ovum, yang kemudian diikuti oleh proses nidasi atau
(Prawirohardjo, 2020)
implantasi . Kehamilan biasanya terjadi sekitar 40

minggu, dimulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Apabila

kehamilan melewati 42 minggu atau, maka disebut kehamilan post-term


(Putri et al., 2023)
atau lewat bulan .

B. Klasifikasi Kehamilan

Menurut (Said et al., 2022) kehamilan dibagi menjadi tiga kategori:

1. Trimester pertama merupakan fase awal kehamilan yang terjadi

dalam rentang minggu ke-1 hingga minggu ke-12.

2. Trimester kedua adalah tahap lanjutan yang berlangsung selama

kurang lebih 15 minggu, yakni dimulai dari minggu ke-13 sampai

dengan minggu ke-27.

3. Trimester ketiga merupakan fase akhir kehamilan yng berlangsung

dari minggu ke-28 hingga mencapai minggu ke-40.

C. Tanda-tanda Kehamilan

Tanda-tanda kehamilan terbagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai


(Rianda Fitra Rosa, 2022) (Hatijar et al., 2020)
berikut: ,

1
2

1. Tanda pasti kehamilan

a. Hasil tes kehamilan medis menunjukkan bahwa ibu sedang hamil.

Tes ini dapat dilakukan secara mandiri dirumah seperti testpack

atau di laboratorium menggunakan sampel urine atau darah.

b. Ibu menyadari adanya gerakan bayi di dalam kandungannya.

c. Keberadaan janin di dalam rahim sudah dapat dirasakan pada usia

kehamilan sekitar 20 minggu, bidan mampu menentukan bagian

tubuh seperti kepala, leher, punggung dan lengan dengan

melakukan palpasi pada perut ibu.

d. Denyut jantung janin dapat terdengar saat usia kehamilan

memasuki 10 – 20 minggu. Secara spesifik, bunyi jantung janin

sudah dapat dideteksi sejak usia sekitar 12 minggu dengan

menggunakan alat fetal elektrokardiograf (Doppler), sedangkan

dengan stetoskop Laennec biasanya baru dapat didengar pada usia

kehamilan 18 – 20 minggu.

2. Tanda kehamilan tidak pasti (probable signs)

a. Amenore merupakan kondisi ketika menstruasi tidak terjadi pada

wanita yang berada dalam masa subur.

b. Morning sickness ditandai dengan mual dan muntah yang sering

muncul di pagi hari, serta dipicu oleh bau makanan yang

menyengat.

c. Mastodinia menggambarkan rasa sakit dan kencang pada

payudara yang disebabkan oleh peningkatan ukuran payudara.


3

d. Munculnya bercak darah serta kram perut sebagai akibat

menempelnya embrio diri di dinding rahim.

e. Ibu mengalami rasa lelah dan kantuk sepanjang hari.

f. Perubahan hormon yang menyebabkan sakit kepala yang timbul

bersamaan dengan rasa letih, mual dan tegang.

g. Frekuensi kencing yang bertambah, terutama di malam hari,

disebabkan oleh uterus yang membesar dan menekan kandung

kemih dan tertarik ke kranial.

h. Pigmentasi kulit pada muka seperti chloasma gravidarum, areola

payudara, leher dan dinding perut seperti linea nigra.

i. Anoreksia atau tidak ada selera makan, biasanya terjadi pada awal

kehamilan kemudian nafsu makan akan timbul kembali.

j. Ibu mengalami ngidam akibat flaktuasi hormon dalam tubuh.

3. Tanda – tanda kemungkinan hamil

a. Perut membesar

b. Rahim mengalami pembesaran yang disertai perubahan pada

ukuran, bentuk, serta konsistensinya.

c. Pada usia kehamilan 6 – 12 minggu dapat ditemukan tanda

Piscaseck yang merupakan segmen bawah uterus yang memiliki

konsistensi lebih lunak dibandingkan bagian lainnya.

d. Munculnya tanda Chadwick yaitu perubahan warna pada serviks

dan vagina menjadi kebiruan.


4

e. Terjadinya konraksi ringan pada uterus saat mendapat rangsangan

(Braxton Hicks), yang disebabkan oleh peregangan sel otot rahim

akibat peningkatan aksomiosin di dalamnya.

f. Dapat ditemukan tanda Ballotement, yaitu saat uterus diberi

dorongan ringan, janin akan bergerak di dalam cairan ketuban

sehingga dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa. Tanda ini

penting dalam pemeriksaan kehamilan karena perabaan saja

belum cukup, sebab dapat menyerupai kondisi lain seperti mioma

uteri.

g. Reaksi kehamilan dinyatakan positif melalui deteksi hormon

Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dalam urine uang

diproduksi selama kehamilan. Hormon ini mulai terdeteksi sekitar

26 hari setelah konsespsi, meningkat hingga puncak pada usia 60-

70 hari, lalu menurun pada hari ke-100 hingga ke-130.

D. Perubahan fisiologis dan Psikologis pada Ibu Hamil

1. Perubahan fisik

Perubahan dan adaptasi fisiologi pada ibu hamil Trimester I, II dan


(Hatijar et al., 2020)
III:
5

a. Sistem Reproduksi

1) Uterus

Selama kehamilan, rahim mengalami perubahan signifikan

berupa pembesaran akibat hipertrofi dan hiperplasia sel otot

polos, dengan kapasitas lebih dari 4000 cc pada kehamilan

aterm. Beratnya meningkat dari 30 gram menjadi 1000 gram

pada akhir kehamilan.

Pada awal kehamilan, bentuk uterus berubah dari menyerupai

buah pir menjadi lebih bulat dan kemudian memanjang,

dengan dinding yang semakin tipis hingga bagian janin dapat

diraba. Posisi uterus juga bereser dari rongga pelvis ke

abdomen seiring pertumbuhan janin, disertai peningkatan

vaskularisasi serta tinggi fundus uteri (TFU) yang dari

pertengahan simpisis – pusat hingga mendekati prosesus

sifoideus sesuai usia kehamilan.


6

Gambar TFU dan usia kehamilan

Sumber: (Hatijar, 2020)

2) Serviks Uteri

Vaskularisasi serviks meningkat sehingga jaringan serviks

menjadi lebih lunak, fenomena ini dikenal sebagai tanda

Godell. Selain itu, kalenjar pada endoserviks mengalami

pembesaran dan memproduksi lebih banyak lendir.

Perubahan ini disertai pelebaran serta peningkatan aliran

darah, sehingga warna serviks berubah menjadi kebiruan,

yang disebut sebagai tanda Chadwick.

3) Vagina dan Vulva

Vagina dan vulva mengalami perubahan yang dipengaruhi

oleh hormon estrogen. Karena peningkatan vaskularisasi,

jaringan di daerah ini tampak lebih merah atau kebiruan.

Warna kebiruan pada vagina dan portio serviks dikenal

sebagai tanda Chadwick.

4) Ovarium

Meskipun ovulasi tidak terjadi selama kehamilan, korpus

luteum graviditas tetap bertahan hingga plasenta terbentuk

dan mengambil alih produksi hormon estrogen serta

progesteron, biasanya sekitar usia kehamilan 16 minggu,

dengan ukuran kurang lebih 3 cm.


7

Selain itu, kadar hormon relaksin dalam sirkulasi maternal

meningkat terutama pada trimester pertama, yang berperan

memberikan efek relaksasi pada jaringan tubuh ibu

sehingga membantu menunjang pertumbuhan dan

perkembangan janin secara optimal hingga mencapai aterm.

5) Dinding perut

Meningkatnya ukuran uterus menimbulkan peregangan

pada kulit, sehingga serat elastis di lapisan bawahnya dapat

mengalami kerusakan atau robekan yang menimbulkan

striae gravidarum. Selain itu, kulit pada garis tengah perut

(linea alba) mengalami peningkatan pigmentasi, yang

dikenal sebagai linea nigra.

6) Payudara

Dibawah pengaruh hormon estrogen, progesteron dan

somatomammotropin payudara mengalami peningkatan

ukuran dan terasa lebih kencang, meskipun produksi ASI

masih belum terjadi.

7) Kulit

Kulit dapat mengalami peningkatan pigmentasi berupa

hiperpigmentasi pada beberapa area tubuh. Kondisi ini

terjadi akibat hormone Melanophore Stimulating Hormone

(MSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior hipofisis


(Wahyu Nuraisya, 2022)
.
8

E. Perubahan Fisiologis dan Psikologis Ibu Hamil Timester III

Selama kehamilan, ibu mengalami berbagai fase yang membawa

perubahan signifikan, terutama pada trimester III. Pada tahap ini, tubuh

dan pikiran ibu beradaptasi dengan berbagai aspek baru yang terkait

dengan kehamilan. Perubahan fisiologis dan psikologis ibu pada trimester


(Kasmiati & Dkk, 2023), (Febriyeni et al., 2021)
III adalah:

a. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Hamil Trimester III

1) Uterus
9

Pada trimester akhir, ismus uteri menjadi segmen bawah uterus.

Pada akhir kehamilan otot-otot uterus bagian atas akan

berkontraksi sehingga segmen bawah uterus akan melebar dan

menipis.

Pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus pada

kehamilan minggu ke-28, yaitu sepertiga pusat-xypoid. Pada

kehamilan minggu ke-32, fundus setinggi, pertengahan pusat-

xypoid, pada kehamilan minggu ke-36, fundus berada 1 jari

dibawah xypoid, dan pada kehamilan minggu ke-40 fundus uteri

setinggi 3 jari dibawah xypoid. Tinggi fundus sesuai usia

kehamilan dalam hitungan minggu dapat dilihat pada gambar

dibawah ini.

Gambar 2. 1 Tinggi Fundus Uteri


Sumber: Jumper Medical, 2020

2) Serviks

Pada akhir kehamilan, terjadi penurunan lebih lanjut dari

konsentrasi kolagen. Perubahan penting pada serviks dalam


10

kehamilan yaitu menjadi lunak. Bersifat seperti katup yang

bertanggungjawab menjaga janin didalam uterus sampai akhir

kehamilan.

3) Ovarium

Selama kehamilan ovarium terhenti dan pematangan folikel

baru juga tertunda. Dan akan berperan sebagai penghasil

progesterone dalam jumlah yang relative minimal.

4) Vagina dan parenium

Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan

persiapan untuk mengalami peregangan pada saat persalinan

dengan meningkatnya ketebalan mukosa, mengendornya jaringan

ikat, dan hipetrofi sel otot polos.

5) Sistem respirasi

Pada kehamilan terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk

dapat memenuhi kebutuhan oksigen (O2). Disamping itu juga

terjadi desakan diafragma, karena dorongan rahim yang membesar

pada umur kehamilan 32 minggu.

6) Sistem darah

Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah

lebih banyak dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi

semacam pengenceran darah (hemodilusi) dengan puncaknya pada

umur hamil 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah


11

sebesar 25% sampai 30% sedangkan sel darah bertambah sekitar

20%.

7) Kulit

Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan

hiperpigmentasi karena pengaruh melanophone stimulating

hormone lobus anterior dan pengaruh kelenjar supranelis

hiperpigmentasi ini terjadi pada striaegravidarum livide atau alba,

aerola papilla mamae, pada pipi (Cloasma gravidarum).

8) Sistem pencernaan

Biasanya akan terjadi mingkatnya pengeluaran asam lambung

karena pengaruh tekanan uterus yang membesar yang mendesak

organ pencernaan.

b. Perubahan Psikologis Pada Ibu Hamil Trimester III

Psikologis ibu hamil diartikan sebagai periode krisis saat

terjadinya gangguan dan perubahan identitas peran. Definisi krisis

merupakan ketidakseimbangan psikologi yang disebabkan oleh situasi

atau tahap perkembangan. Awal perubahan psikologi ibu hamil yaitu

periode syok, menyangkal, bingung, dan sikap menolak. Perubahan


(Febriyeni et al., 2021)
psikologis ibu hamil trimester III yaitu:

1) Perubahan Emosional
12

Perubahan emosional trimester III (penantian dengan penuh

kewaspadaan) terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan

biasanya gembira bercampur takut karena kehamilannya telah

mendekati persalinan.

Kekhawatiran ibu hamil biasanya seperti apa yang akan terjadi

pada saat melahirkan, apakah bayi lahir sehat, dan tugas-tugas apa

yang dilakukan setelah kelahiran.

2) Cenderung malas

Penyebab ibu hamil cenderung malas karena pengaruh

perubahan hormon dari kehamilannya. Perubahan hormonal akan

memengaruhi gerakan tubuh ibu, seperti gerakannya yang semakin

lamban dan cepat merasa letih. Keadaan tersebut yang membuat

ibu hamil cenderung menjadi malas.

3) Sensitif

Penyebab wanita hamil menjadi lebih sensitif adalah faktor

hormon. Reaksi wanita menjadi peka, mudah tersinggung, mudah

marah, mudah cemburu.

F. Tanda Bahaya Pada Kehamilan Trimester III

Pada kehamilan trimester III penting bagi ibu untuk tetap waspada

terhadap tanda-tanda yang dapat mengindikasikan adanya masalah serius.

Adapun tanda bahaya pada kehamilan trimester III yaitu:


(Kasmiati & Dkk, 2023)

a. Perdarahan pervaginam
13

Perdarahan antpaertum atau perdarahan pada kehamilan lanjut

adalah perdarahan pada trimester terakhir dalam kehamilan sampai

bayi dilahirkan. Perdarahan yang abnormal apabila keluar darah merah

segar atau kehitaman dengan bekuan darah, perdarahan yang banyak

atau kadang disertai rasa nyeri. Perdarahan biasanya disebabkan:

1) Plasenta Previa

Plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian

atau seluruh ostium uteri intemum.

2) Sulosio plasenta

Plasenta yang lepas sebelum waktunya, secara normal plasenta

terlepas setelah bayi lahir.

b. Sakit kepala yang hebat

Wanita hamil yang mengeluh sakit kepala yang hebat, menetap

dan tidak mau hilang, walau sudah beristirahat merupakan ketidak

nyamanan saat hamil pada trimester III dan merupakan tanda bahaya

pada kehamilan ibu pada trimester III

c. Penglihatan kabur

Penglihatan yang kabur dan disertai sakit kepala hebat merupakan

tanda bahaya pada ibu hamil trimester III. Dan merupakan salah satu

tanda gejala pre- eklamsi

d. Bengkak di wajah dan jari-jari


14

Bengkak biasa menunjukan adanya masalah serius jika muncul di

wajah dan tangan, jika tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa

saja pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklamsi

e. Keluar cairan pervaginam

Keluarnya cairan di vagina pada trimester III, yaitu keluarnya

cairan tanpa terasa, berbau amis, dan berwarna putih keruh, berarti itu

adalah cairan ketuban. Jika air ketuban sebelum waktu persalinan

disebut dengan ketuban pecah dini.

f. Gerakan janin tidak terasa

Biasanya tanda dan gejalanya yaitu gerakan bayi kurang dari 3 kali

dalam periode 3 jam. Normalnya gerakan janin adalah 10 kali dalam

24 jam. Apabila gerakan janin berkurang, kemungkinan terjadinya

asfiksia hinggaterjadi kematian janin.

g. Nyeri perut yang hebat

Nyeri abdomen yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah

beristirahat kemungkinan menunjukkan masalah yang mengancam

keselamatan jiwa ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

G. Ketidaknyamanan Pada Kehamilan Trimester III

Selama trimester III kehamilan, banyak ibu mengalami berbagai

ketidaknyamanan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Ketidaknyamanan yang biasa terjadi pada ibu hamil di trimester III dan
(Kasmiati & Dkk, 2023)
cara mengatasinya adalah sebagai berikut:

a. Rasa Lelah
15

Pertambahan berat badan dan membesarnya ukuran janin dapat

membuat ibu hamil lebih mudah kelelahan. Untuk mengatasi hal

tersebut, ibu hamil dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

1) Perbanyak waktu istirahat dan tidur lebih awal. Apabila ibu hamil

masih bekerja, ambillah waktu sebentar pada jam istirahat untuk

memejamkan mata atau merebahkan diri.

2) Konsumsi makanan sehat setiap hari untuk menambah tenaga dan

mencukupi kebutuhan nutrisi harian ibu hamil. Makanan yang baik

untuk dikonsumsi antara lain roti gandum, kacang walnut, sayuran,

dan buah-buahan.

3) Rutin melakukan olahraga, seperti berjalan kaki, berenang, atau

yoga, setidaknya selama 20—30 menit setiap hari. Olahraga rutin

dapat mengurangi rasa lelah yang dialami oleh ibu hamil selama

trimester akhir ini.

4) Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

5) Batasi kegiatan yang tidak penting. Jika ibu hamil membutuhkan

bantuan untuk melakukan sesuatu maka jangan ragu meminta

bantuan suami atau keluarga.

b. Nyeri Punggung

Nyeri punggung saat trimester III umumnya terjadi karena

punggung ibu hamil harus menopang bobot tubuh yang lebih berat.

Rasa nyeri ini juga dapat disebabkan oleh hormon rileksin yang

mengendurkan sendi di antara tulang-tulang di daerah panggul.


16

Kendurnya sendi-sendi ini dapat memengaruhi postur tubuh dan

memicu nyeri punggung. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu hamil

dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

1) Lakukan latihan panggul, seperti senam hamil, peregangan kaki

secara rutin, atau senam kegel.

2) Letakkan bantal di punggung saat tidur untuk menyangga

punggung dan perut ibu hamil. Jika ibu hamil tidur dengan posisi

miring maka letakkan bantal di antara tungkai.

3) Duduk dengan tegak dan gunakan kursi yang menopang punggung

dengan baik.

4) Gunakan sepatu yang nyaman, contohnya sepatu hak rendah

karena model ini dapat menopang punggung lebih baik.

5) Kompres punggung dengan handuk hangat.

c. Sering Buang Air Kecil

Semakin mendekati persalinan, janin akan bergerak turun ke area

panggul dan membuat ibu hamil merasakan adanya tekanan pada

kandung kemih. Kondisi tersebut mungkin bisa membuat frekuensi

buang air kecil meningkat dan membuat urine mudah keluar saat ibu

hamil bersin atau tertawa. Pastinya melelahkan apabila harus bolak-

balik ke toilet. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu hamil dapat

melakukan hal-hal sebagai berikut.


17

1) Hindari mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau

minuman bersoda, karena bisa membuat ibu hamil lebih sering

buang air kecil.

2) Pastikan minum air putih setidaknya delapan gelas sehari. Namun,

hindari minum sebelum tidur.

3) Jangan menahan rasa ingin buang air kecil karena hal ini mungkin

dapat meningkatkan frekuensi ke toilet.

d. Sesak Napas

Otot yang berada di bawah paru-paru dapat tergencet oleh rahim

yang terus membesar. Hal ini membuat paru-paru sulit untuk

mengembang dengan sempurna sehingga kadang membuat ibu hamil

sulit untuk bernapas. Jika ibu hamil mengalami hal demikian maka

cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut.

1) Topang kepala dan bahu dengan bantal saat tidur.

2) Lakukan olahraga ringan secara rutin untuk memperbaiki posisi

tubuh sehingga paru-paru dapat mengembang dengan baik.

e. Dada Terasa Panas atau Terbakar

Rasa terbakar di dada disebabkan oleh perubahan hormon yang

menyebabkan otot lambung menjadi rileks dan tertekannya lambung

oleh rahim yang semakin membesar. Hal tersebut memicu isi dan asam

lambung terdorong naik ke kerongkongan yang menimbulkan keluhan

berupa rasa panas atau terbakar di dada. Untuk menghindarinya, ada


18

beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh ibu hamil sebagaimana

berikut.

1) Teliti dalam memilih makanan. Jauhi makanan yang asam, pedas,

berminyak, atau berlemak, dan batasi konsumsi minuman

berkafein.

2) Makanlah dengan frekuensi lebih sering, tetapi dengan porsi yang

sedikit. Jangan makan sambil berbaring atau mendekati waktu

tidur.

H. Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil Trimester III

Selama trimester III kehamilan, kebutuhan psikologis ibu menjadi

sangat penting untuk mendukung kesejahteraan mental dan emosionalnya.

Adapun kebutuhan psikologis ibu hamil trimester III antara lain sebagai
(Kasmiati & Dkk, 2023), (Situmorang & Dkk, 2021)
berikut:

a. Dukungan keluarga

Memberikan dukungan berbentuk perhatian, pengertian, kasih

sayang pada wanita dari ibu, terutama dari suami, anak apabila sudah

mempunyai anak dan keluarga-keluarga serta kerabat. Hal ini untuk

membantu ketenangan jiwa ibu hamil.

b. Dukungan tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan dapat memberikan peranan melalui penanganan

baik aktif maupun pasif seperti melalui kelas antenatal atau dengan

memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami masalah

untuk berkonsultasi. Juga memberikan pendidikan, pengetahuan dari


19

awal kehamilan sampai akhir kehamilan yang berbentuk konseling,

dan penyuluhan.

c. Rasa aman dan nyaman selama kehamilan

Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil biasanya

ialah suami. Wanita hamil yang diberi perhatian dan kasih sayang oleh

suaminya menunjukkan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih

sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan

penyesuaian selama masa nifas. Ada dua kebutuhan utama yang

ditunjukkan wanita selama hamil, antara lain menerima tanda-tanda

bahwa ia dicintai dan dihargai, merasa yakin akan penerimaan

pasangannya terhadap sang anak yang dikandung ibu sebagai keluarga

baru.

d. Persiapan menjadi orang tua

Menjadi orang tua harus dipersiapkan karena setelah bayi lahir

banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu, ayah, dan

keluarga. Bagi pasangan yang pertama kali memiliki anak, persiapan

dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi dengan orang yang

mampu untuk membagi pengalamannya dan memberikan nasihat

mengenai persiapan menjadi orang tua. Bagi pasangan yang sudah

mempunyai lebih dari satu anak, dapat belajar dari pengalaman

mengasuh anak sebelumnya. Selain persiapan mental, yang tidak kalah

pentingnya adalah persiapan ekonomi, karena bertambah anggota

maka bertambah pula kebutuhannya.


20

e. Persiapan sibling

Persiapan sibling di mana wanita telah mempunyai anak pertama

atau kehamilan para gravidum yaitu persiapan anak untuk menghadapi

kehadiran adiknya adalah sebagai berikut:

1) Dukungan anak untuk ibu (wanita hamil), menemani ibu saat

konsultasi dan kunjungan saat perawatan akhir kehamilan untuk

proses persalinan.

2) Apabila tidak dapat beradaptasi dengan baik dapat terjadi

kemunduran perilaku, misalnya mengisap jari, ngompol, nafsu

makan berkurang, dan rewel.

3) Intervensi yang dapat dilakukan misalnya memberikan perhatian

dan perlindungan tinggi dan ikut dilibatkan dalam persiapan

menghadapi kehamilan serta persalinan.

I. Kebutuhan Fisiologis Ibu Hamil Trimester III

Pada masa kehamilan, pemenuhan kebutuhan fisiologis menjadi sangat

penting untuk mendukung kesehatan ibu dan perkembangan janin. Adapun


(Febriyeni et al., 2021) ,
kebutuhan fisiologis ibu hamil trimester III yaitu:
(Marfuah et al., 2023)

a. Oksigen

Meningkatnya jumlah progesteron selama kehamilan

mempengaruhi pusat pernapasan, CO2 menurun dan O2 meningkat, O2

meningkat akan bermanfaat bagi janin. Pada trimester III janin


21

membesar dan menekan diafragma, menekan vena cava inferior, yang

menyebabkan napas pendek-pendek.

b. Kebutuhan nutrisi

Untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi selama masa

kehamilan, banyak di perlukan zat gizi dalam jumlah lebih besar dari

pada sebelum hamil.

1) Kalori

Jumlah kalori yang diperlukan ibu hamil setiap harinya adalah

2500 kalori, jumlah kalori yang berlebih menyebabkan obesitas,

dan ini merupakan faktor atas terjadinya preeklaamsi.

2) Protein

Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85gr

perhari, sumber protein terseut bisa diperoleh dari tumbuhan

(kacang-kacangan) atau hewani, (ikan, ayam, keju, susu, telur).

3) Kalsium

Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1500 mg perhari, kalsium

dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama bagi

pengembangan otot rangka.

4) Zat besi
22

Ibu hamil membutuhkan sekitar 800 mg zat besi selama masa

kehamilan, dengan rincian 300 mg untuk janin dan 500 mg untuk

menambah hemoglobin maternal. Per hari, ibu hamil

membutuhkan zat besi sebanyak 30 mg.

5) Asam folat.

Jumlah asam folat yang dibutuhkan ibu hamil sebesar 400

mikro gram perhari, kekurangan asam folat dapat menyebabkan

anemia megaloblastik pada ibu hamil.

6) Air

Air diperlukan tetapi sering dilupakan pada saat pengkajian. Air

digunakan untuk membantu sistem pencernaan makanan, dan

membantu proses transportasi.

Salah satu contoh menu makanan yang sehat untuk ibu hamil

dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2. 1 Contoh Menu Makanan Ibu Hamil

1. Nasi putih 100gr (3/4 sendok nasi)


2. Telur dadar 55gr (1 butir)
3. Susu 1 gelas
Pagi 4. Jeruk 1 buah
5. Selingan (jam 10.00) bubur kacang hijau 1 porsi

1. Nasi putih 150gr


2. Ayam goreng 50gr (1 potong sedang)
3. Tempe goreng 50gr (2 potong sedang)
Siang 4. Melon 1 potong sedang
5. Selingan (jam 16.00) pudding roti dan jus jeruk
23

1. Nasi putih 100gr


2. Ikan mas 50gr
Malam 3. Sayur bayam 50gr
4. Semangka 100gr (1 potong sedang)

Sumber: Kementrian Kesehatan RI. 2022

c. Personal hygiene

Kebersihan harus tetap terjaga selama kehamilan, guna menjaga si

ibu dari infeksi, karena badan yang kotor mengandung kuman, ibu

hamil cenderung menghasilkan banyak keringat, Karena banyaknya

aktifitas dari metabolisme tubuh.

Agar ibu hamil selalu terjaga kebersihan nya, ibu hamil di anjurkan

mandi minimal 2 kali sehari, rutin mengganti celana dalam, menjaga

kebersihan gigi dan mulut, keramas 2 kali seminggu.

d. Seksualitas selama kehamilan

Hamil bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan

seksual namun pada trimester ketiga kehamilan hubungan seksual

dilakukan dengan hati hati karena dapat menimbulkan kontraksi uterus

sehingga kemungkinkan dapat terjadi prematur, fetal bradiacardia pada

janin sehingga dapat menyebabkan fetal distress dan tidak memiliki

riwayat sebagai berikut:

1) Sering abortus dan kelahiran prematur

2) Perdarahan pervaginam

3) Koitus harus dilakukan dengan hati hati terutama pada minggu

kehamilan pertama
24

4) Bila ketuban sudah pecah maka dilarang koitus karena dapat

menyebabkan infeksi janin dan intra uterimature

e. Senam hamil

Senam hamil bukan merupakan satu keharusan. Namun, dengan

melakukan senam hamil akan banyak memberi manfaat dalam

membantu kelancaran proses persalinan, antara lain dapat melatih

pernapasan, relaksasi, menguatkan otot-otot panggul dan perut, serta

melatih cara mengejan yang benar. Senam nifas sebaiknya dilakukan

dalam 24 jam setelah persalinan, secara teratur setiap hari.

f. Istirahat

Istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Pada trimester

akhir kehamilan sering diiringi dengan bertambahnya ukuran janin,

sehingga terkadang ibu kesulitan untuk menentukan posisi yang paling

baik dan nyaman untuk tidur. Posisi tidur yang dianjurkan pada ibu

hamil adalah miring ke kiri, kaki lurus, kaki kanan sedikit menekuk

dan diganjal dengan bantal, dan untuk mengurangi rasa nyeri pada

perut, ganjal dengan bantal pada perut bawah sebelah kiri. Ibu hamil

dianjurkan untuk tidur pada malam hari selama 8 jam dan istirahat

dalam keadaan relaks pada siang hari selama 1 jam.

g. Imunisasi

Imunisasi harus diberikan pada ibu hamil hanya berupa imunisasi

TT untuk mencegah kemungkinan tetanus neonatorum. Berikut waktu

pemberian imunisasi TT dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


25

Tabel 2. 2 Pemberian Imunisasi

Antigen Interval Lama Perlindungan Perlindungan


(%)

TT1 Awal Belum ada 0%


TT2 4 minggu stelah TT1 3 tahun 80%
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95%
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 95%
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/ seumur 99%
hidup
Sumber: Muthe, Juliana, dkk, 2019

J. Asuhan Antenatal

a. Pengertian Asuhan Antenatal

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan

kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran marernal dan neonatal

melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.


(Marfuah et al., 2023)

Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu:

1) Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas

kesehatan.

2) Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang

dikandungnya.

3) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan

kehamilannya.

4) Mengidentifikasi dan menata laksana kehamilan risiko tinggi.


26

5) Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga

kualitas kehamilan dan merawat bayi.

6) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan

membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang

dikandungnya

b. Tujuan Asuhan Antenatal

Tujuan asuhan antenatal adalah menurunkan atau mencegah

kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.

Adapun tujuan khususnya sebagai berikut:

1) Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan ibu

dan perkembangan bayi yang normal.

2) Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan memberikan

penatalaksanaan yang diperlukan.

3) Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan dalam

rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik, emosional,

dan logis untuk menghadapi kelahiran serta kemungkinan adanya

komplikasi

c. Standar asuhan kehamilan

Asuhan antenatal atau yang dikenal antenatal care merupakan

prosedur rutin yang dilakukan oleh bidan dalam membina suatu

hubungan dalam proses pelayanan pada ibu hamil hingga persiapan

persalinannya. Berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021


27

pemeriksaan kehamilan dilakukan sebanyak 6 kali. Minimal 2 kali

pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan trimester III, diantaranya:

1) Trimester I kunjungan ANC 1 kali (awal kehamilan hingga 12

minggu)

2) Trimester II kunjungan ANC 2 kali (kehamilan 12 minggu hingga

24 minggu)

3) Trimester III kunjungan ANC 3 kali (kehamilan 24 minggu hingga

40 minggu)

Pelayanan ANC minimal 5T, meningkat menjadi 7T dan sekarang

menjadi 10T, sedangkan untuk daerah gondok dan endemik malaria


(Situmorang & Dkk, 2021)
menjadi 14T yaitu sebagai berikut:

1) Timbang berat badan dan tinggi badan

Tinggi badan ibu dikategorikan adanya resiko apabila hasil

pengukuran <145 cm. Berat badan ditimbang setiap ibu datang atau

berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB dan penurunan BB.

Kenaikan BB ibu hamil normal rata-rata antara 6,5 kg – 16 kg.

2) Tekanan darah

Tekanan darah normal berkisar 110/80 -120/80 mmHg. Ibu

hamil perlu mendapatkan perhatian khusus dan diwaspadai, jika

tekanan darah tinggi perlu diwaspadai hipertensi dan preeklampsia.

Sedangkan jika tekanan darah rendah, kemungkinan beresiko

terhadap anemia, tekanan darah diperiksa setiap kali berkunjung

3) Pengukuran tinggi fundus


28

Menggunakan pita sentimeter,letakkan titik nol pada tepi atas

simpisis dan rentangkan sampai fundus uteri Pengukuran tinggi

fundus ini berguna untuk mendeteksi apakah besar kehamilan

sesuai dengan usia kehamilan, diukur setiap kali berkunjung.

4) Pemberian imunisasi TT

Untuk melindungi dari tetanus neonatorum. Efek samping TT

yaitu nyeri, kemerah-merahan dan bengkak 1-2 hari pada tempat

penyuntikan pemberian imunisasi Tetanus Toxoid pada kehamilan.

umumnya diberikan 2 kali saja, imunisasi pertama diberikan pada

usia kehamilan 16 minggu untuk yang kedua diberikan 4 minggu

kemudian

5) Pemberian tablet Fe (Tablet Tambah darah)

Untuk memenuhi kebutuhan volume darah pada ibu hamil dan

nifas karena masa kehamilan kebutuhan meningkat seiring dengan

pertumbuhan janin , setiap ibu hamil harus mendapat tablet tambah

darah (tablet zat besi) dan Asam Folat minimal 90 tablet selama

kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama.

6) Pemeriksaan Hb

Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang

pertama kali kemudian diperiksa menjelang persalinan.

Pemeriksaan HB adalah salah satu upaya untuk mendeteksi anemia

pada ibu hamil.

7) Pengambilan darah
29

Pemeriksaan Veneral Disease Research Laboratory (VDRL)

untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular

seksual antara lain syphilis.

8) Pemeriksaan protein urine

Protein urine berfungsi sebagai pendeteksi dini apakah ibu

mengalami preeklamsia.

9) Pemeriksaan reduksi urine

Dilakukan pemeriksaan urine reduksi hanya kepada ibu

dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat penyakit gula

keluarga ibu dan suami.

10) Perawatan payudara

Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi

dan mulai pada kehamilan 6 bulan. Dilakukan untuk

memperlancar pengeluaran asi.

11) Pemeliharaan tingkat kebugaran atau senam ibu hamil

Bermanfaat membantu ibu dalam persalinan dan mempercepat

pemulihan setelah melahirkan serta mencegah sembelit.

12) Pemberian obat malaria

Pemberian obat malaria diberikan khusus untuk pada ibu

hamil di daerah endemis malaria atau kepada ibu dengan

gejala khas malaria yaitu panas tinggi disertai menggigil.

13) Pemberian kapsul minyak beryodium

Kekurangan yodium dipengaruhi oleh faktor-faktor


30

lingkungan dimana tanah dan air tidak mengandung unsur

yodium. Akibat kekurangan yodium dapat mengakibatkan gondok

dan kretin ditandai dengan gangguan fungsi mental, gangguan

fungsi pendengaran, gangguan pertumbuhan dan gangguan kadar

hormon rendah.

14) Temu wicara

Konseling merupakan hal yang terpenting untuk

mengedukasi ibu dalam merawat dan menjaga kehamilannya.

2. Konsep Dasar Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dari janin

turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses untuk mendorong

keluar (ekspulsi) hasil pembuahan dari dalam keluar uterus. Normalnya,

proses berlangsung Ketika uterus sudah tidak dapat tumbuh lebih besar

lagi, Ketika janin sudah cukup mature untuk hidup di luar rahim.
(Subiastutik & Atik Mayarti, 2022)
, (Sulfianti, 2020)

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada

kehamilan cukup bulan (37- 42 minggu) lahir spontan dengan presentasi

belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik


(Subiastutik & Atik Mayarti, 2022)
ibu maupun janin.

B. Tanda – Tanda Persalinan

Gejala persalinan jika sudah dekat akan menyebabkan kekuatan his

makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi semakin pendek,
31

dengan terjadi pengeluaran tanda seperti lendir bercampur darah yang

lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang

ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksa dalam didapat

perlunakan serviks pendataran serviks dan terjadi pembukuan serviks.


(Sulfianti, 2020)

Ada 3 tanda paling utama menuju persalinan, yaitu: (Fadjriah, 2022)

a. Kontraksi (his)

Hal ini disebabkan karena pengaruh hormon oksitosin yang secara

fisiologis membantu dalam proses pengeluaran janin.

b. Penipisan dan pembukaan serviks, dimana rasa nyeri terjadi karena

adanya tekanan panggul saat kepala janin turun ke area tulang panggul

sebagai akibat melunaknya rahim.

c. Pecahnya ketuban dan keluarnya bloody show (lendir bercampur

darah). Itu terjadi karena pada saat menjelang persalinan terjadi

pelunakan, pelebaran, dan penipisan mulut rahim.

C. Penyebab Mulainya Persalinan

Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga

menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya


(Sulfianti, 2020) ,
proses persalinan, yaitu:
(Rochmawati & Novitasari, 2024)

a. Teori peregangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas

tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga


32

persalinan dapat dimulai. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi

kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses

persalinan.

b. Teori penurunan progesteron

Proses penuaan plasenta mulai umur kehamilan 28 minggu, di

mana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami

penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan,

sehingga otot rahim menjadi lebih sensitif terhadap oksitosin.

Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat

penurunan progesteron tertentu.

c. Teori oksitosin internal

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.

Perubahan keseimbangan esterogen dan pogesteron dapat mengubah

sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton

Hicks. Menurunnya konsentrasi akibat tuanya kehamilan, maka

oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat

dimulai.

d. Teori prostaglandin

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur 15 minggu, yang

dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil

dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi

dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu

persalinan.
33

e. Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis

Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anencephalus

sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk

hipotalamus. Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci

percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama. Dari

hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan antara

hypothalamus dengan mulainya persalinan. Glandula suprarenalis

merupakan pemicu terjadinya persalinan.

f. Teori berkurangnya nutrisi

Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukanan oleh Hippokrates

untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang, maka

konsepsi akan segera dikeluarkan.

D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Persalinan

Keberhasilan dan kelancaran proses persalinan dipengaruhi oleh

berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor yang mempengaruhi


(Yulizawati dkk, 2019)
persalinan tersebut antara lain:

a. Passenger

Malpresentasi atau malformasi janin dapat mempengaruhi

persalinan normal. Pada faktor passenger, terdapat beberapa faktor

yang mempengaruhi yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap


34

dan posisi janin. Karena plasenta juga harus melalui jalan lahir, maka

ia dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin.

b. Passage away

Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat,

dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun

jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut

menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan

dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya

terhadap jalan lahir yang relatif kaku.

c. Power

His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks

membuka dan mendorong janin ke bawah. Pada presentasi kepala, bila

his sudah cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk ke dalam

rongga panggul. Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunteer

secara bersamaan.

d. Position

Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan.

Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah posisi

membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan memperbaki

sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk dan

jongkok.
35

e. Psychologic Respons

Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan

mencemaskan bagi wanita dan keluarganya. Rasa takut, tegang dan

cemas mungkin mengakibatkan proses kelahiran berlangsung lambat.

Pada kebanyakan wanita, persalinan dimulai saat terjadi kontraksi

uterus pertama dan dilanjutkan dengan kerja keras selama jam- jam

dilatasi dan melahirkan kemudian berakhir ketika wanita dan

keluarganya memulai proses ikatan dengan bayi. Perawatan ditujukan

untuk mendukung wanita dan keluarganya dalam melalui proses

persalinan supaya dicapai hasil yang optimal bagi semua yang terlibat.

Wanita yang bersalin biasanya akan mengutarakan berbagai

kekhawatiran jika ditanya, tetapi mereka jarang dengan spontan

menceritakannya.

E. Mekanisme Persalinan

Dalam mekanisme persalinan normal terbagi dalam beberapa tahap

gerakan kepala janin di dasar panggul yang diikuti dengan lahirnya


(Yulizawati dkk, 2019)
seluruh badan bayi.

a. Engagement

Engagement pada primigravida terjadi pada bulan terakhir

kehamilan sedangkan pada multigravida dapat terjadi pada awal

persalinan. engagement adalah peristiwa ketika diameter biparetal

(Jarak antara dua paretal) melewati pintu atas panggul dengan sutura

sagitalis melintang atau oblik di dalam jalan lahir dan sedikit fleksi.
36

Masuknya kepala akan mengalami ksulitan bila saat masuk ke dalam

panggu dengan sutura sgaitalis dalam antero posterior. Jika kepala

masuk kedalam pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang

di jalan lahir, tulang parietal kanan dan kiri sama tinggi, maka

keadaan ini disebut sinklitismus.

Kepala pada saat melewati pintu atas panggul dapat juga dalam

keadaan dimana sutura sgaitalis lebih dekat ke promontorium atau ke

simfisis maka hal ini disebut asinklitismus.

b. Penurunan kepala

Dimulai sebelum persalinan/inpartu. Penurunan kepala terjadi

bersamaan dengan mekanisme lainnya. Kekuatan yang mendukung

penurunan kepala yaitu:

1) Tekanan cairan amnion

2) Tekanan langsung fundus ada bokong

3) Kontraksi otot-otot abdomen

4) Ekstensi dan pelurusan badan janin atau tulang belakang janin

c. Fleksi

Gerakan fleksi di sebabkan karena janin terus didorong maju

tetapi kepala janin terlambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar

panggul. Kepala janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipito


37

frontalis 12 cm berubah menjadi suboksipito bregmatika 9 cm. Posisi

dagu bergeser kearah dada janin. Pada pemeriksaan dalam ubun-

ubun kecil lebih jelas teraba daripada ubun- ubun besar.

d. Rotasi dalam (putaran paksi dalam)

Rotasi dalam atau putar paksi dalam adalah pemutaran bagian

terendah janin dari posisi sebelumnya kearah depan sampai dibawah

simpisis. Bila presentasi belakang kepala dimana bagian terendah

janin adalah ubun-ubun kecil maka ubun-ubun kecil memutar ke

depan sampai berada di bawah simpisis.

Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan

dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang tengah dan pintu

bawah panggul. Rotasi dalam terjadi bersamaan dengan majunya

kepala. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati Hodge III (setinggi

spina) atau setelah didasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun-

ubun kecil mengarah ke jam 12. Sebab-sebab adanya putar paksi

dalam yaitu:

1) Bagian terendah kepala adalah bagian belakang kepala pada letak

fleksi.

2) Bagian belakang kepala mencari tahanan yang paling sedikit

yang disebelah depan yaitu hiatus genitalis.

e. Ekstensi

Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar

panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini


38

disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul

mengarah ke depan atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi

untuk melaluinya. Pada kepala bekerja dua kekuatan, yang satu

mendesak nya ke bawah dan satunya disebabkan tahanan dasar

panggul yang menolaknya ke atas.

Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah symphysis akan

maju karena kekuatan tersebut di atas bagian yang berhadapan

dengan suboksiput, maka lahirlah berturut- turut pada pinggir atas

perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu

dengan gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran

disebut hypomochlion.

f. Rotasi luar (putaran paksi luar)

Terjadinya gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi

oleh faktor-faktor panggul, sama seperti pada rotasi dalam.

Merupakan gerakan memutar ubun-ubun kecil ke arah punggung

janin, bagian belakang kepala berhadapan dengan tuber iskhiadikum

kanan atau kiri, sedangkan muka janin menghadap salah satu paha

ibu.

Bila ubun-ubun kecil pada mulanya disebelah kiri maka ubun-

ubun kecil akan berputar kearah kiri, bila pada mulanya ubun-ubun

kecil disebelah kanan maka ubun-ubun kecil berputar ke kanan.

Gerakan rotasi luar atau putar paksi luar ini menjadikan diameter

biakromial janain searah dengan diameter anteroposterior pintu


39

bawah panggul, dimana satu bahu di anterior di belakang simpisis

dan bahu yang satunya di bagian posterior dibelakang perineum.

Sutura sagitalis kembali melintang.

g. Ekspulsi

Setelah terjadinya rotasi luar, bahu depan berfungsi sebagai

hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah

kedua bahu lahir disusul lahirlah trochanter depan dan belakang

sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan kelahiran bahu depan, bahu

belakang dan seluruhnya. Visualisasi mekanisme persalinan dapat

dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2. 2 Mekanisme Persalinan Normal


Sumber: Midewifery Blog, 2013

F. Partograf

Untuk menjamin kelangsungan hidup ibu dan bayi, bidan harus

menerapkan Asuhan Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam


40

melakukan pertolongan persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya

partus lama, APN mengandalkan penggunaan partograf sebagai salah satu


(Sulfianti, 2020) ,
praktik pencegahan dan deteksi dini.
(Rochmawati & Novitasari, 2024)

a. Pengertian

Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan

pemeriksaan fisik ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat

utama dalam mengambil keputusan klinik khususnya pada persalinan

kala satu.

b. Kegunaan

Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan

memeriksa pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan dalam.

Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, dengan

demikian dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus

lama. Hal ini merupakan bagian terpenting dari proses pengambilan

keputusan klinik persalinan kala I.

c. Bagian-bagian partograf

1) Kemajuan persalinan, meliputi: pembukaan serviks; turunnya

bagian terendah dan kepala janin; kontraksi uterus.

2) kondisi janin: denyut jantung janin; warna dan volume air ketuban;

moulase kepala janin.


41

3) Kondisi ibu: tekanan darah, nadi dan suhu badan; volume urine;

obat dan cairan.

d. Cara mencatat temuan pada partograf

Observasi dimulai sejak ibu datang, apabila ibu datang masih

dalam fase laten, maka hasil observasi ditulis di lembar observasi

bukan pada partograf. Karena partograf dipakai setelah ibu masuk fase

aktif yang meliputi:

1) Identifikasi ibu

Lengkapi bagian awal atau bagian atas lembar partograf secara

teliti pada saat mulai asuhan persalinan yang meliputi: nama, umur,

gravida, para, abortus, nomor rekam medis/nomor klinik, tanggal

dan waktu mulai dirawat, waktu pecahnya ketuban.

2) Kondisi janin

Kolom lajur dan skala angka pada partograf bagian atas adalah

untuk pencatatan.

a) Denyut jantung janin

DJJ dinilai setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda- tanda

gawat janin). Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf

diantara garis tebal angka 180 dan 100, nilai normal sekitar 120

s/d 160, apabila ditemukan DJJ dibawah 120 dan diatas 160,

maka penolong harus waspada.

b) Warna dan adanya air ketuban


42

Nilai air ketuban setiap kali melakukan pemeriksaan dalam

dengan menggunakan lambang sebagai berikut:

U: Jika ketuban Utuh belum pecah.

J: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih.

M: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur

dengan mekoneum.

D: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur dengan

darah.

K: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban Kering.

c) Penyusupan/ moulase kepala janin

Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai penyusupan

kepala janin dengan menggunakan lambang sebagai berikut:

0: Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah

dapat diraba.

1: Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan.

2: Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi

masih dapat dipisahkan.

3: Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat

dipisahkan.

3) Kemajuan persalinan

a) Dilatasi serviks
43

Pada kolom dan lajur kedua dari partograf adalah untuk

pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera pada

tepi kolom kiri adalah besarnya dilatasi serviks. Kotak

diatasnya menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm.

Pada pertama kali menulis pembesaran dilatasi serviks harus

ditulis tepat pada garis waspada.

Cara pencatatannya dengan memberi tanda silang (X) pada

garis waspada sesuai hasil pemeriksaan dalam/ VT. Hasil

pemeriksaan dalam/ VT selanjutnya dituliskan sesuai dengan

waktu pemeriksaan dan dihubungkan dengan garis lurus

dengan hasil sebelumnya. Apabila dilatasi serviks melewati

garis waspada, perlu diperhatikan apa penyebabnya dan

penolong harus menyiapkan ibu untuk dirujuk.

b) Penurunan bagian terendah janin

Skala 0 s/d 5 pada garis tepi sebelah kiri keatas, juga

menunjukkan seberapa jauh penurunan kepala janin kedalam

panggul. Dibawah lajur kotak dilatasi serviks dan penurunan

kepala menunjukkan waktu/ jam dimulainya fase aktif, tertera

kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan fase

aktif dimulai, setiap kotak menunjukkan 30 menit.

Pendokumentasian kontraksi uterus lurus segaris pembukaan

serviks mulai dicatat dalam partograf.

4) Obat-obatan dan cairan yang diberikan


44

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tersedia lajur

kotak untuk mencatat obat-obatan dan cairan yang diberikan.

5) Kondisi ibu

Bagian akhir pada lembar partograf berkaitan dengan kondisi ibu

yang meliputi: Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh, urine

(volume, aceton, dan protein).

G. Tahapan Persalinan

Menuju persalinan ibu mengalami tahapan persalinan yang dibagi


(Sulfianti, 2020)
menjadi 4 kala, yaitu:

a. Kala I Persalinan

Dimulai sejak adanya his yang teratur dan meningkat (frekuensi

dan kekuatannya) yang menyebabkan pembukaan, sampai serviks

membuka lengkap (10 cm). Kala I terdiri dari dua fase, yaitu fase laten

dan fase aktif.

1) Fase laten

Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan pembukaan

sampai pembukaan 3 cm. Pada umumnya berlangsung 8 jam

2) Fase aktif dibagi menjadi 3 fase, yaitu:

a) Fase akselerasi

Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

b) Fase dilatasi maksimal


45

Dalam waktu 2 jam pembukaan serviks berlangsung cepat dari

4 cm menjadi 9 cm.

c) Fase deselerasi

Pembukaan serviks menjadi lambat, dalam waktu 2 jam dari

pembukaan 9 cm menjadi 10 cm. Pada primipara, berlangsung

selama 12 jam dan pada multipara sekitar 8 jam. Kecepatan

pembukaan serviks 1 cm/jam (primipara) atau lebih dari 1 cm

hingga 2 cm (multipara).

b. Kala II (dua) Persalinan

Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap

(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut

sebagai kala pengeluaran bayi. Tanda pasti kala II (dua) ditentukan

melalui pemeriksaan dalam yang hasilnya adalah:

1) Pembukaan serviks telah lengkap (10 cm), atau

2) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.

Proses kala II berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam pada

multipara. Dalam kondisi yang normal pada kala II kepala janin sudah

masuk dalam dasar panggul, maka pada saat his dirasakan tekanan

pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa

mengedan. Wanita merasa adanya tekanan pada rektum dan seperti

akan buang air besar.

Kemudian perineum mulai menonjol dan melebar dengan

membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian


46

kepala janin tampak di vulva saat ada his. Jika dasar panggul sudah

berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his. Dengan kekutan

his dan mengedan maksimal kepala dilahirkan dengan suboksiput

dibawah simpisis dan dahi, muka, dagu melewati perineum. Setelah his

istirahat sebentar, maka his akan mulai lagi untuk mengeluarkan

anggota badan bayi.

c. Kala III (tiga) persalinan

Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir

dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban yang berlangsung tidak

lebih dari 30 menit. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit

setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan dari fundus

uteri.

d. Kala IV (empat) Persalinan

Kala IV persalinan ditetapkan berlangsung selama 2 jam setelah

plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang terjadi

segera jika homeostasis berlangsung dengan baik. Pada tahap ini,

kontraksi otot Rahim meningkat sehingga pembuluh darah terjepit

untuk menghentikan perdarahan. Pada kala ini dilakukan observasi

tekanan darah, pernapasan, nadi, kontraksi otot Rahim dan perdarahan

selama 2 jam pertama. Selain itu juga dilakukan penjahitan luka jika

terdapat robekan jalan lahir. Setelah 2 jam, bila keadaan baik, ibu

dipindahkan keruangan bersama bayinya.


47

H. Perubahan Fisiologis Pada Masa Persalinan

Persalinan melibatkan berbagai perubahan dalam tubuh ibu untuk

mempersiapkan kelahiran bayi. Perubahan fisiologis yang dialami ibu


(Rochmawati & Novitasari, 2024) ,
masa persalinan adalah:
(Utami & Fitriahadi, 2019)

a. Perubahan Uterus

Kontraksi uterus yang menyebar ke depan dan ke bawah abdomen

yang dimulai dari fundus uteri. Segmen atas rahim akan bertambah

tebal dengan majunya persalinan sehingga mendorong bayi keluar

segmen bawah rahim bersifat aktif relokasi dan dilatasi. Dilatasi makin

tipis karena terus di regang dengan majunya persalinan.

b. Perubahan bentuk Rahim

Setiap terjadinya kontraksi, sumbu rahim bertambah panjang

sedangkan ukuran melintang dan ukuran muka belakang berkurang.

Pengaruh perubahan bentuk rahim:

1) Ukuran melintang akan menjadi turun, akibatnya lengkungan

punggung bayi turun menjadi lurus, bagian atas bayi tertekan

fudus, dan bagian tertekan pintu atas panggul.

2) Rahim bertambah panjang sehingga otot-otot memanjang diregang

dan menrik. Segmen bawah rahim dan servis akibatnya

menimbulkan terjadinya pembukaan serviks sehingga segmen atas

rahim (Panggul).
48

c. Perubahan pada sistem urinaria

Pada wanita bersalin mugkin tidak menyadari bahwa kandung

kemihnya sudah penuh karena intensitas kontraksi uterus adan tekanan

bagian presentasi janin atau efek anestesi lokal.

d. Perubahan pada bagian vagina dan dasar panggul

Saat Kembali ke vulva, lubang vulva akan menghadap ke atas.

Perubahan dasar panggul terlihat pada perenium yang menonjol dan

menjadi tipis dan anus yang membuka.

e. Perubahan pada metabolisme

Perubahan hormon progesteron mengakibatkan sistem pencernan

menjadi lambat. Hal ini yang di sebabkan ibu mengalami obstipasi dan

mual muntah.

f. Perubahan pada hematologi

Hemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar 1,2 gr%

dan akan meningkat selama persalinan, kecuali jika terjadi pendarahan.

Peningkatan leukosit terjadi secara signifikan dari 5000-15.000 pada

pembukaan lengkap.

I. Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin

Dalam menghadapi proses persalinan, ibu membutuhkan perhatian dan

pemenuhan berbagai kebutuhan agar dapat melalui tahapan ini dengan

optimal. Kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk mendukung


(Utami & Fitriahadi, 2019)
kelancaran persalinan mencakup:

a. Kebutuhan fisiologis
49

1) Oksigen

2) Makan dan minum

3) Istirahat selama tidak ada his

4) Kebersihan badan terutama genetalia

5) Buang air kecil dan buang air besar

6) Pertolongan persalinan yang terstandar

7) Penjahitan perineum bila perlu

b. Kebutuhan rasa aman

1) Memilih tempat dan penolong persalinan

2) Informasi tentang proses persalinan atau tindakan yang akan

dilakukan

3) Posisi tidur yang dikehendaki ibu

4) Pendampingan oleh keluarga

5) Pantauan selama persalinan

6) Intervensi yang diperlukan

c. Kebutuhan dicintai dan mencintai

1) Pendampingan oleh suami/keluarga

2) Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)

3) Masase untuk mengurangi rasa sakit

4) Berbicara dengan suara yang lemah, lembut dan sopan

d. Kebutuhan harga diri

1) Merawat bayi sendiri

2) Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu


50

3) Pelayanan yang bersifat empati dan simpati

4) Informasi bila akan melakukan tindakan

5) Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu

lakukan

e. Kebutuhan aktualisasi diri

1) Memilih tempat dan penolong sesuai keinginan

2) Memilih pendamping selama persalinan

3) Bounding and attachment

4) Ucapan selamat atas kelahirannya

J. Tanda Bahaya Ibu Bersalin

Selama proses persalinan, penting untuk mengenali kondisi yang dapat

mengancam keselamatan ibu dan bayi. Tanda bahaya ibu bersalin harus

dipahami dengan baik agar penanganan segera dapat dilakukan untuk


(Utami & Fitriahadi, 2019)
mencegah komplikasi yang lebih serius.

a. Tanda bahaya Kala I

1) Terdapat perdarahan pervaginam selain lendir bercampur darah

2) Persalinan kurang dari 37 minggu (kurang bulan)

3) Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental.

4) Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit

mekonium, disertai dengan tanda-tanda gawat janin.

5) Ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan

kurang dari 37 minggu).


51

6) Infeksi (temperature > 38°C, menggigil, nyeri abdomen, cairan

ketuban berbau).

7) Tekanan darah lebih dari 160/100 dan atau terdapat protein dalam

urine (pre-eklampsia berat).

8) Tinggi fundus 40 cm atau lebih.

9) DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit pada dua kali

penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin).

10) Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin

masih 5/5.

11) Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang dan lain

lain).

12) Presentasi ganda (majemuk).

13) Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdeyut).

14) Syok (nadi cepat lemah lebih dari 110 x/menit, tekanan darah

sistolik menurun, pucat, berkeringat dingin, nafas cepat lebih dari

30 x/menit, produksi urine kurang dari 30 ml/jam).

15) Fase laten berkepanjangan (pembukaan serviks kurang dari 4 cm

setelah 8 jam, kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit).

16) Partus lama (pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis

waspada, pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam, frekuensi

kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang

dari 40 detik)

b. Tanda bahaya Kala II


52

1) Syok (nadi cepat lemah dan lebih dari 100 x/menit, tekanan darah

sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat pasi, berkeringat dingin, nafas

cepat lebih dari 30 x/menit, produksi urine sedikit kurang dari 30

ml/jam).

2) Dehidrasi (perubahan nadi 100 x/menit atau lebih, urine pekat,

produksi urin sedikit 30 ml/jam).

3) Infeksi (nadi cepat 110 x/menit atau lebih, temperatur suhu > 38 C,

menggigil, cairan ketuban berbau).

4) Pre-Eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,

proteinuria hingga 2+).

5) Pre-Eklampsia berat atau Eklamsia (Tekanan darah sistolik 110

mmHg atau lebih, tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih

dengan kejang, nyeri kepala, gangguan penglihatan dan kejang)

6) Insersia uteri (kontraksi kurang dari 3x dalam waktu 10 menit

lamanya kurang dari 40 detik).

7) Gawat janin (DJJ kurang dari 120 x/menit dan lebih dari 160

x/menit).

8) Distosia bahu (kepala bayi tidak melakukan putar paksi luar, kepala

bayi keluar kemudian tertarik Kembali ke dalam vagina, bahu bayi

tidak lahir).

9) Cairan ketuban bercampur mekonium ditandai dengan warna

ketuban hijau.
53

10) Tali pusat menumbung (tali pusat teraba atau terlihat saat periksa

dalam).

11) Lilitan tali pusat (tali pusat melilit leher bayi).

c. Tanda bahaya Kala III dan IV

1) Retensio plasenta (normal jika plasenta lahir setelah 30 menit bayi

lahir).

2) Avulsi tali pusat (tali pusat putus dan plasenta tidak lahir).

3) Bagian plasenta tertahan (bagian permukaan plasenta yang

menempel pada ibu hilang, bagian selaput ketuban hilang/robek,

perdarahan pasca persalinan, uterus berkontraksi).

4) Atonia uteri (uterus lembek tidak berkontraksi dalam waktu 5 detik

setelah massage uterus, perdarahan pasca persalinan).

5) Robekan vagina, perineum atau serviks (perdarahan pasca

persalinan, plasenta lengkap, uterus berkontraksi).

6) Syok (nadi cepat lemah atau lebih dari 100 x/menit, tekanan darah

sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat, berkeringat dingin, nafas

cepat lebih dari 30 x/menit, produksi urine sedikit kurang dari 30

ml/jam).

7) Dehidrasi (meningkatnya nadi lebih dari 100 x/menit, temperatur

tubuh di atas 38°C, urine pekat, produksi urine sedikit 30 ml/jam).

8) Infeksi (nadi cepat 110 x/menit atau lebih, temperature suhu >

38°C, kedinginan, cairan vagina yang berbau busuk).


54

9) Pre-Eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,

proteinuria).

3. Konsep Dasar Bayi Baru Lahir

2. Pengertian Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir merupakan bayi yang keluar dari rahim dengan usia

kehamilan minimal 37 minggu atau lebih, dan memiliki berat badan antara

2500 hingga 4000 gram. Bayi ini mengalami proses adaptasi yang disebut

BBL (Bayi Baru Lahir) untuk dapat berfungsi dan bertahan hidup di luar

rahim. Pada waktu kelahiran, sejumlah adaptasi fisik dan psikologis mulai
(Wulandari & Dkk, 2023)
terjadi pada tubuh bayi baru lahir.

Ciri-ciri bayi normal adalah, sebagai berikut: (Karo et al., 2023)

a. Berat badan 2.500-4.000 gram.

b. Panjang badan 48-52.

c. Lingkar dada 30-38.

d. Lingkar kepala 33-35.

e. Frekuensi jantung 120-160 kali/menit.

f. Pernapasan ±40-60 kali/menit.

g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup.

h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala baisanya telah sempurna.

i. Kuku agak panjang dan lemas.

j. Genitalia: pada perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora,

dan pada laki-laki, testis sudah turun dan skrotum sudah ada.

k. Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.


55

l. Refleks Moro atau gerak memeluk jika dikagetkan sudah baik.

m. Refleks grap atau menggenggam sudah baik.

n. Eliminasi baik, mekonium keluar dalam 24 jam pertama, mekonium

berwarna hitam kecoklatan

K. Perubahan Fisiologis Bayi Segera Setelah Lahir

Setelah proses kelahiran, bayi mengalami berbagai adaptasi untuk

beralih dari kehidupan di dalam rahim ke lingkungan luar. Adapun


(Sulfianti, 2020),
perubahan pada bayi segera baru lahir adalah:
(Wulandari & Dkk, 2023)
, (Karo et al., 2023)

a. Termoregulasi

Termoregulasi adalah kemampuan untuk menyeimbangkan

produksi panas dan kehilangan panas guna mempertahankan suhu

tubuh dalam kisaran normal tertentu.

a) Konduksi

Benda padat yang kontak dengan kulit bayi dapat menyebabkan

proses kehilangan panas. Hal ini jarang terjadi, kecuali pada

kondisi bayi yang diletakkan pada alas yang dingin.

b) Konveksi
56

Aliran udara disekitar bayi dapat menyebabkan kehilangan panas,

oleh sebab itu suhu udara ruangan bersalin minimal 20° C dan

tidak berangin.

c) Evaporasi

Penguapan air pada kulit bayi yang basah dapat menyebabkan

kehilangan panas, oleh sebab itu proses pengeringan yang segera

perlu dilakukan.

d) Radiasi

Benda padat yang tidak berkontak secara langsung dan berada

di dekat kulit bayi juga dapat menyebabkan kehilangan panas.

Suhu bayi pada saat lahir lebih tinggi dari suhu ibu (0,5 - 1° C) dan

dapat mengalami penurunan hingga 35 - 35,5° C dalam kurun

waktu 15 – 30 menit. Termoregulasi pada bayi dapat dilihat pada

gambar dibawah ini:

Gambar 2. 3 Termoregulasi Pada Bayi


Sumber: Sherwood, 1993

Upaya pencegahan kehilangan panas:


57

a) Keringkan bayi dengan seksama dengan cara menyeka tubuh

bayi serta melaksanakan rangsangan taktil sebagai salah satu

upaya membantu bayi dalam memulai pernapasannya.

b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang hangat,

jangan lupa mengganti handuk atau kain yang telah basah oleh

cairan ketuban dengan kain yang baru.

c) Selimuti bagian kepala bayi karena kepala merupakan

permukaan yang relative luas dan sumber kehilangan panas jika

tidak tertutup.

d) Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayi, karena pelukan ibu

pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh bayi.

b. Perubahan Sistem Pernapasan

Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam 30 detik

sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas

normal sistem saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa

rangsangan lainnya. Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar 30-

60 kali/menit.

c. Perubahan Sistem Gastrointestinal

Janin akan menelan dan menghisap sebelum cukup bulan. Pada

saat lahir, refleks gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk

dengan baik, refleks ini masih cukup untuk mencerna ASI, hubungan

antara eosophagus bawah dan lambung masih belum sempurna maka

akan menyebabkan gumoh pada bayi baru lahir, kapasistas lambung


58

sangat terbatas kurang dari 30 cc dan akan bertambah sesuai dengan

pertumbuhannya.

d. Perubahan Sistem Kardiovaskuler

Dengan berkembangnya paru-paru, pada alveoli akan terjadi

peningkatan tekanan oksigen. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida

akan mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan terjadinya

penurunan resistansi pembuluh darah dari arteri pulmonalis mengalir

keparu-paru dan ductus arteriosus tertutup.

e. Metabolisme Glukosa

Dengan tindakan penjepitan tali pusat, bayi harus

mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri saat lahir agar

otaknya dapat berfungsi, glukosa adarah akan menurun dalam waktu

cepat yaitu 1-2 jam, koreksi penurunan glukosa dilakukan dengan cara

penggunaan ASI dan penggunaan cadangan glikogen.

f. Perubahan Ginjal

Sebagian besar bayi berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir

dan 2-6 kali sehari pada 1-2 hari pertama, setelah itu mereka berkemih

5-20 kali dalam 24 jam.

L. Asuhan Bayi Baru Lahir Dalam 2 Jam Pertama

Masa 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan periode emas yang

sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kesehatan bayi. Asuhan bayi
(Sari, 2022)
baru lahir dalam 2 jam pertama diantaranya yaitu:
59

a. Pencegahan Infeksi

Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan

dengan bayi Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi

yang belum dimandikan Pastikan semua peralatan dan bahan yang

digunakan, terutama klem, gunting, penghisap lendir DeLee dan

benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Pastikan

semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,

sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita

pengukur, termometer, stetoskop.

b. Penilaian awal pada bayi segera setelah lahir.

Penilaian awal yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir untuk

melakukan tindakan selanjutnya yaitu:

1) Apakah bayi cukup bulan?

2) Apakah air ketuban jernih atau bercampur mekonium?

3) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas megap-megap?

4) Apakah kulit bayi kemerahan atau tidak?

5) Apakah tonus otot bayi kuat? Bergerak aktif?

Keadaan umum bayi dinilai menggunakan APGAR. Penilaian ini

dilakukan segera setelah bayi baru lahir. Penilaian ini bertujuan untuk

menilai apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Dari hasil penilaian

dapat diketahui apakah bayi dalam keadaan normal dengan nilai

APGAR 7-10, mengalami asfiksia sedang nilai APGAR 4-6 atau


60

asfiksia berat dengan nilai APGAR 0- 3. Penilaian APGAR skor dapat

dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2. 3 APGAR Score

Tanda 0 1 2

Apperance (warna Biru/pucat Badan pucat, Semuanya berwarna


kulit) tungkai biru merah
Pulse (denyut Tidak teraba <100 >100
jantung)
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
(rangsangan)
Activity (tonus otot) Lemas/lumpuh Gerakan Aktif/fekstremitas
sedikit/fleksi leksi
tunggal
Respiratory (usaha Tidak ada Lambat, tidak Menangis kuat
nafas) teratur
Sumber: Kurniarum, 2016

c. Membebaskan Jalan Nafas

Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis

spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis,

penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai

berikut:

1) Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan

hangat.

2) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher

bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur

lurus sedikit tengadah kebelakang.

3) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan

jari tangan yang dibungkus kassa steril.


61

4) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit

bayi dengan kain kering dan kasar.

5) Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya

yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat

6) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung

7) Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama

8) Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau

mulut harus diperhatikan.

d. Klem dan potong tali pusat

1) Melakukan pengkleman tali pusat dengan dua buah klem, pada 2-3

cm dari pangkal pusat bayi.

2) Memotong tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi badan

bayi dari gunting dengan tangan kiri.

3) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat bayi,

mengganti handscoon bila ternyata sudah kotor.

4) Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila terjadi perdarahan

lakukan pengikatan ulang.

5) Jangan mengoleskan apapun pada tampuk tali pusat, hindari

pembungkusan tali pusat agar mempercepat proses pengeringan.

e. Mencegah bayi kehilangan panas

Pastikan bayi agar tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit ibu

dan bayi. Mengganti kain bayi jika telah basah, bungkus bayi dengan

selimut atau kain bedong yang tebal, jangan lupa untuk memastikan
62

kepala bayi terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas

tubuh bayi.

f. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Segera setelah bayi lahir, setelah pemotongan tali pusat letakkan

bayi di dada ibu dengan kulit bayi kontak ke kulit ibu. Biarkan kontak

kulit ini menetap minimal selama 1 jam bahkan sampai bayi dapat

menyusu sendiri. Bayi diberi topi dan diselimuti ibu. Keuntungan IMD

untuk bayi:

1) Mempercepat keluarnya kolostrum yaitu makanan dengan kualitas

dan kuantitas optimal untuk kebutuhan bayi

2) Mengurangi infeksi dengan kekebalan aktif maupun pasif melalui

kolostrum

3) Mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari ke bawah

4) Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif, membantu

bayi mengkoordinasikan kemampuan hisap, telan dan nafas

5) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi mencegah bayi

hipotermi

Keuntungan IMD bagi ibu:

1) Merangsang kontraksi uterus sehingga menurunkan resiko

perdarahan pasca persalinan

2) Merangsang pengeluaran kolostrum dan peningkatan produksi ASI

3) Dapat menguatkan ikatan batin antara ibu dan bayi

g. Pemberian salep mata


63

Berikan salep mata tetrasiklin 1% pada bayi untuk mencegah

penyakit mata klamidia yang diberikan pada satu jam pertama setelah

persalinan.

h. Pemberian vitamin K

Semua bayi baru lahir harus diberikan injeksi vitamin K, injeksi 1

mg secara intramuscular pada paha kiri. Tujuannya untuk mencegah

terjadinya perdarahan pada bayi baru lahir akibat defisiensi vitamin K

yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.

i. Pemeriksaan Fisik Bayi

Tujuan pemeriksaan fisik pada bayi adalah memaksimalkan jumlah

informasi yang dikumpulkan, meminimalkan gangguan terhadap bayi

baru lahir dan orang tua. Evaluasi pemeriksaan fisik meliputi:

1) Pemeriksaan antropometri, meliputi mengukur panjang badan,

lingkar dada dan lingkar kepala.

2) Evaluasi sistem organ, meliputi pemeriksaan jenis kelamin,

kelainan-kelainan pada fisik bayi.

3) Pemeriksaan neurologis, meliputi pemeriksaan reflek bayi.

j. Pemberian HB0

Pemberian HB0 bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B

terhadap bayi terutama jalur penularan ibu dan bayi. Pemberian HB 0

dilakukan 1 jam setelah pemberian vitamin K. penyuntikan tersebut

dilakukan secara intramuscular disepertiga paha kanan atas bagian luar.


64

M. Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir

Adaptasi bayi baru lahir adalah adaptasi terhadap kehidupan di luar

Rahim. Periode ini berlangsung selama 28 hari pertama setelah bayi

dilahirkan. Berikut beberapa adaptasi fisiologis yang terjadi pada bayi baru
(Karo et al., 2023), (Raufaindah et al., 2022)
lahir yaitu:

a. Sistem Pernafasan

Pernapasan pada neonatus terutama adalah melalui abdominal dan

diafragmatik dan menjadi thorakal ketika bayi mulai duduksekitar

umur 6 bulan. Pernapasan pada neonatus tenang dan dangkal dengan

kecepatan antara 40-60 kali per menit.

b. Sistem Pencernaan

Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan

mencerna sumber makanan dari luar cukup terbatas. Hal ini

membutuhkan enzim dan beberapa hormon pencernaan yang terdapat

di saluran cerna. Selain menghisap dan menelan dengan tujuan

memperoleh makanan, neonatus harus mulai berdefekasi dengan

tujuan mengeluarkan mekonium.

c. Sistem Urogenital

Neonatus berkemih 6-10 kali dengan warna urin pucat

menunjukkan masukan cairan yang cukup. Umumnya neonatus yang

cukup bulan berkemih 15-60 ml/kg/hari.

d. Sistem Integument
65

Pada neonatus PH kulit lebih tinggi, kulit lebih tipis, sekresi

keringat dan sebum sedikit. Hal ini menyebabkan neonatus rentan

terhadap infeksi kulit dari pada anak yang lebih besar atau orang

dewasa.

e. Sistem Musculoskeletal

Tulang-tulang pada neonatus masih lunak, karena tulang tersebut

sebagian besar terdiri dari kartilago yang hanya mengandung sedikit

kalsium. skeletonnya fleksibel dan persendiannya elastis untuk

menjamin keamanan dalam melewatijalan lahir.

f. Sistem Endokrin

Setelah lahir sistem endokrin bekerja sehingga bayi dapat hidup

diluar rahim ibunya karena hilangnya ketergantungan dari plasenta dan

ibu.

g. Sistem Saraf

Sistem persyarafan pada bayi baru lahir belum matang secara

anatomis dan berbeda dari sistem saraf otonom sangat penting selama

masa transisi kerana sistem ini menstimulasi respirasi awal, membantu

mempertahankan keseimbangan asam basa dan sebagian mengatur

control tubuh.
66

N. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir

Tanda bahaya bayi baru lahir yang harus dikenali ibu dan segera

periksa ke petugas kesehatan jika menemukannya, yaitu:


(Yulizawati et al., 2021)
, (Nurun Ayati Khasanah & Wiwit Sulistyawati, 2018)

a. Tidak mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum

b. Bayi kejang

c. Bayi lemah, bergerak hanya jika dirangsang/dipegang

d. Nafas cepat >60x/menit.

e. Bayi merintih

f. Tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat

g. Pusar kemerahan, berbau tidak sedap, keluar nanah

h. Demam (suhu > 370c) atau suhu tubuh bayi dingin (suhu < 36,50c)

i. Mata bayi bernanah

j. Bayi diare

k. Kulit bayi terlihat kuning pada telapak tangan dan kaki. Kuning pada

bayi yang berbahaya muncul pada hari pertama (kurang dari 24 jam)

setelah lahir dan ditemukan pada umur lebih dari 14 hari

l. Tinja berwarna pucat.

O. Tanda Bayi Cukup ASI

Bayi usia 0 – 6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila

mencapai keadaan sebagai berikut:


(Nurun Ayati Khasanah & Wiwit Sulistyawati, 2018)
67

a. Bayi minum ASI tiap 2 – 3 jam atau dalam 24 jam minimal

mendapatkan ASI 8 kali pada 2 – 3 minggu pertama.

b. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna menjadi

lebih muda pada hari kelima setelah lahir.

c. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6 – 8 x sehari.

d. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.

e. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.

f. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.

g. Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesuai

dengan grafik pertumbuhan.

h. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan

rentang usianya).

i. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun dan tidur

dengan cukup.

j. Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur

pulas.

Jika bayi sudah cukup minum ASI atau sudah kenyang, biasanya dia

akan melepaskan isapannya. Tapi kadang-kadang bayi juga berhenti

sejenak sewaktu minum ASI. Amati sebentar, kalau ia masih ingin

mengisap kembali, berarti dia masih belum merasa kenyang.

P. Kunjungan Bayi Baru Lahir

Pelayanan kesehatan BBL menurut Kemenkes RI (2015) adalah

pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan


68

kepada BBL sedikitnya 3 kali, dengan tujuan untuk mendapatkan bayi

yang sehat mencegah, dan mendeteksi secara dini komplikasi atau masalah

serta menangani masalah-masalah yang mungkin akan terjadi pada bayi.

selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir, diantaranya:


(Sari, 2022)

a. Kunjungan BBL ke-1 (KN 1) dilakukan 6 jam sampai dengan 48 jam

setelah lahir, dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, pengkajian

apakah ada tanda-tanda infeksi pada BBL, memandikan bayi,

perawatan tali pusat, hepatitis B, pencegahan kehilangan panas bayi,

ASI ekslusif, dan mendeteksi tanda-tanda bahaya pada BBL.

b. Kunjungan BBL ke-2 (KN 2) dilakukan pada hari ke-3 sampai hari ke-

7 setelah lahir, pemeriksaan fisik, personal hygiene, memandikan bayi,

melakukan perawatan tali pusat, perawatan kulit bayi, menjaga tubuh

bayi tetap hangat, pemberian ASI Eksklusif, pola istirahat, keamanan

dan mendeteksi tanda-tanda bahaya pada BBL.

c. Kunjungan BBL ke-3 (KN 3) dilakukan pada hari ke-8 sampai hari ke-

28 setelah lahir, pemeriksaan TTV, personal hygiene, memandikan

bayi, perawatan kulit, menganjurkan ibu memberikan ASI ekslusif

selama 6 bulan, melakukan pemeriksaan pertumbuhan dan nutrisi,

memberitahu ibu tanda-tanda bahaya pada BBL.


69

4. Konsep Dasar Nifas

1. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas (Postpartum) merupakan masa dimana 2 jam setelah

melahirkan plasenta sampai dengan 6 Minggu berikutnya, dalam periode

ini merupakan episode dramatasi dari kondisi ibu terkait perubahan

anatomi dan psikologis serta adaptasinya setelah melahirkan. Dalam

proses adaptasi atau penyeseuian ini sebagian ibu bisa menyesuikan diri

dan yang lainya tidak bisa, bagi yang tidak bisa menyesuikan diri beberapa

akan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai macam


(Pacitasari & Wijhati, 2023)
sindrom atau gejala.

Pada masa ini di perlukan asuhan yang berlansung secara konfrensif

mulai dari ibu masih dalam perawatan pasca persalinan di fasilitas

pelayanan kesehatan sampai ibu nifas kembali ke rumahnya. Banyak

perubahan yang terjadi pada masa nifas seperti perubahan fisik, involusio
(Kasmiati, 2023)
uteri, laktasi.

Q. Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Selama masa ini, tubuh mengalami berbagai adaptasi untuk kembali ke

kondisi sebelum hamil. Perubahan fisiologis masa nifas mencakup

berbagai proses yang mendukung pemulihan kesehatan ibu secara

menyeluruh. Perubahan- perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu masa


(Sumarni & Nahira, 2019)
yaitu:
70

a. Uterus

Uterus merupakan organ reproduksi interna yang berongga dan

berotot, berbentuk seperti buah alpukat yang sedikit gepeng dan

berukuran sebesar telur ayam. Panjang uterus sekitar 7-8 cm, lebar

sekitar 5-5,5 cm dan tebal sekitar 2,5 cm. Letak uterus secara fisiologis

adalah anteversiofleksio. Uterus terbagi dari 3 bagian yaitu fundus

uteri, korpus uteri, dan serviks uteri.

Uterus berangsur- angsur menjadi kecil (involusi) sehingga

akhirnya kembali seperti sebelum hamil:

1) Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000

gram.

2) Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah

pusat dengan berat uterus 750gram.

3) Satu minggu postpartum tinggi fundus uteri teraba pertengahan

pusat dengan simpisis, berat uterus 500gram.

4) Dua minggu postpartum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas

simpisis dengan berat uterus 350gram.

5) Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan

berat uterus 50gram.

Pemeriksaan uterus meliputi mencatat lokasi, ukuran dan

konsistensi antara lain:


71

1) Penentuan lokasi uterus

Dilakukan dengan mencatat apakah fundus berada diatas atau

dibawah umbilikus dan apakah fundus berada digaris tengah

abdomen/ bergeser ke salah satu sisi.

2) Penentuan ukuran uterus

Dilakukan melalui palpasi dan mengukur TFU pada puncak fundus

dengan jumlah lebar jari dari umbilikus atas atau bawah.

3) Penentuan konsistensi uterus

Ada 2 ciri konsistensi uterus yaitu uterus kerasa teraba sekeras batu

dan uterus lunak.

b. Serviks

Serviks merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya

menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Serviks

menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan

keluarnya janin dan uterus menuju saluran vagina pada saat

persalinan. Segera setelah persalinan, bentuk serviks akan menganga

seperti corong. Hal ini disebabkan oleh korpus uteri yang

berkontraksi sedangkan serviks tidak berkontraksi. Warna serviks

berubah menjadi merah kehitaman karena mengandung banyak

pembuluh darah dengan konsistensi lunak. Segera setelah janin

dilahirkan, serviks masih dapat dilewati oleh tangan pemeriksa.

Setelah 2 jam persalinan serviks hanya dapat dilewati oleh 2-3 jari
72

dan setelah 1 minggu persalinan hanya dapat dilewati oleh 1 jari,

setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.

c. Vagina

Vagina merupakan saluran yang menghubungkan rongga uterus

dengan tubuh bagian luar. Dinding depan dan belakang vagina

berdekatan satu sama lain dengan ukuran panjang ± 6, 5 cm dan ± 9

cm. Selama proses persalinan vagina mengalami penekanan serta

pereganganan yang sangat besar, terutama pada saat melahirkan bayi.

Beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, vagina tetap berada

dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vagina kembali kepada

keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur- angsur

akan muncul kembali. Sesuai dengan fungsinya sebagai bagian lunak

dan jalan lahir dan merupakan saluran yang menghubungkan cavum

uteri dengan tubuh bagian luar, vagina juga berfungsi sebagai saluran

tempat dikeluarkannya sekret yang berasal dari cavum uteri selama

masa nifas yang disebut lochea. Karakteristik lochea dalam masa nifas

adalah sebagai berikut:

1) Lochea rubra/ kruenta, timbul pada hari 1- 2 postpartum, terdiri

dari darah segar barcampur sisa- sisa selaput ketuban, sel- sel

desidua, sisa- sisa verniks kaseosa, lanugo dan mekoneum.

2) Lochea sanguinolenta, timbul pada hari ke 3 sampai dengan hari ke

7 postpartum, karakteristik lochea sanguinolenta berupa darah

bercampur lendir.
73

3) Lochea serosa, merupakan cairan berwarna agak kuning, timbul

setelah 1 minggu postpartum.

4) Lochea alba, timbul setelah 2 minggu postpartum dan hanya

merupakan cairan putih. Normalnya lochea agak berbau amis,

kecuali bila terjadi infeksi pada jalan lahir, baunya akan berubah

menjadi berbau busuk.

d. Vulva

Sama halnya dengan vagina, vulva juga mengalami penekanan serta

peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi.

Beberapa hari pertama sesudah proses melahirkan vulva tetap berada

dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva akan kembali kepada

keadaan tidak hamil dan labia menjadi lebih menonjol.

e. Payudara (mamae)

Setelah pelahiran plasenta, konsentrasi estrogen dan progesteron

menurun, prolactin dilepaskan dan sintesis ASI dimulai. Suplai darah

ke payudara meningkat dan menyebabkan pembengkakan vascular

sementara. Air susu sata diproduksi disimpan di alveoli dan harus

dikeluarkan dengan efektif dengan cara dihisap oleh bayi untuk

pengadaan dan keberlangsungan laktasi. ASI yang akan pertama

muncul pada awal nifas ASI adalah ASI yang berwarna kekuningan

yang biasa dikenal dengan sebutan kolostrum. Kolostrum telah

terbentuk didalam tubuh ibu pada usia kehamilan ± 12 minggu.

Perubahan payudara dapat meliputi:


74

1) Penurunan kadar progesteron secara tepat dengan peningkatan

hormon prolactin setelah persalinan.

2) Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi ASI terjadi pada hari

ke 2 atau hari ke 3 setelah persalinan

3) Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses

laktasi

f. Tanda- tanda vital

Perubahan tanda- tanda vital antara lain:

1) Suhu tubuh

Setelah proses persalinan suhu tubuh dapat meningkat 0,5⁰

celcius dari keadaan normal namun tidak lebih dari 38⁰ celcius.

Setelah 12 jam persalinan suhu tubuh akan kembali seperti keadaan

semula.

2) Nadi

Setelah proses persalinan selesai frekuensi denyut nadi dapat

sedikit lebih lambat. Pada masa nifas biasanya denyut nadi akan

kembali normal.

3) Tekanan darah

Setelah partus, tekanan darah dapat sedikit lebih rendah

dibandingkan pada saat hamil karena terjadinya perdarahan pada

proses persalinan.
75

4) Pernafasan

Pada saat partus frekuensi pernapasan akan meningkat karena

kebutuhan oksigen yang tinggi untuk tenaga ibu meneran/

mengejan dan memepertahankan agar persediaan oksigen ke janin

tetap terpenuhi. Setelah partus frekuensi pernafasan akan kembali

normal.

g. Sistem peredaran darah (Kardiovaskuler)

Denyut jantung, volume dan curah jantung meningkat segera setelah

melahirkan karena terhentinya aliran darah ke plasenta yang

mengakibatkan beban jantung meningkat yang dapat diatasi dengan

haemokonsentrasi sampai volume darah kembali normal, dan pembulu

darah kembali ke ukuran semula.

h. Sistem pencernaan

Pada ibu yang melahirkan dengan cara operasi (section caesarea)

biasanya membutuhkan waktu sekitar 1- 3 hari agar fungsi saluran

cerna dan nafsu makan dapat kembali normal. Ibu yang melahirkan

secara spontan biasanya lebih cepat lapar karena telah mengeluarkan

energi yang begitu banyak pada saat proses melahirkan. Buang air

besar biasanya mengalami perubahan pada 1- 3 hari postpartum, hal ini

disebabkan terjadinya penurunan tonus otot selama proses persalinan.

Selain itu, enema sebelum melahirkan, kurang asupan nutrisi dan

dehidrasi serta dugaan ibu terhadap timbulnya rasa nyeri disekitar

anus/ perineum setiap kali akan b.a.b juga mempengaruhi defekasi


76

secara spontan. Faktor- faktor tersebut sering menyebabkan timbulnya

konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Kebiasaan defekasi

yang teratur perlu dilatih kembali setelah tonus otot kembali normal.

i. Sistem perkemihan

Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan

terdapat spasine sfingter dan edema leher buli- buli sesudah bagian ini

mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama

persalinan. Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam

waktu 12- 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan,

kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami

penurunan yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Uterus

yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

j. Sistem integumen

Perubahan kulit selama kehamilan berupa hiperpigmentasi pada

wajah, leher, mamae, dinding perut dan beberapa lipatan sendi karena

pengaruh hormon akan menghilang selama masa nifas.

k. Sistem musculoskeletal

Ambulasi pada umumnya dimulai 4- 8 jam postpartum. Ambulasi

dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat

proses involusi.
77

R. Kebutuhan Pada Masa Nifas

Kebutuhan dasar pada ibu masa nifas mencakup berbagai aspek yang

harus dipenuhi guna memastikan pemulihan optimal dan kesejahteraan


(Sumarni & Nahira, 2019)
ibu, yaitu:

a. Kebutuhan nutrisi

Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat- zat

yang berguna bagi tubuh ibu pasca melahirkan dan untuk persiapan

prosuksi ASI, terpenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, zat besi,

vitamin dan minelar untuk mengatasi anemia, cairan dan serat untuk

memperlancar ekskresi.

Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat- zat

yang berguna bagi tubuh ibu pasca melahirkan dan untuk persiapan

prosuksi ASI, terpenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, zat besi,

vitamin dan minelar untuk mengatasi anemia, cairan dan serat untuk

memperlancar ekskresi. Kebutuhan kalori wanita dewasa yang sehat

dengan berat badan 47 kg diperkirakan sekitar 2200 kalori/ hari. Ibu

yang berada dalam masa nifas dan menyusui membutuhkan kalori

yang sama dengan wanita dewasa, ditambah 700 kalori pada 6 bulan

pertama untuk membeikan ASI eksklusif dan 500 kalori pada bulan ke

tujuh dan selanjutnya.

b. Kebutuhan cairan

Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme

tubuh. Minumlah cairan cukup untuk membuat tubuh ibu tidak


78

dehidrasi. Ibu dianjurkan untuk minum setiap kali menyusui dan

menjaga kebutuhan hidrasi sedikitnya 3liter setiap hari. Asupan tablet

tambah darah dan zat besi diberikan selama 40 hari postpartum.

Minum kapsul Vit A (200.000 unit).

c. Kebutuhan mobilisasi

Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara

aktivitas dan istirahat. Dalam 2 jam setelah bersalin ibu harus sudah

melakukan mobilisasi. Dilakukan secara perlahan- lahan dan bertahap.

Dapat dilakukan dengan miring kanan atau kiri terlebih dahulu dan

berangsur- angsur untuk berdiri dan jalan. Mobilisasi dini bermanfaat

untuk:

a) Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium.

b) Ibu merasa lebih sehat dan kuat.

c) Mempercepat involusi alat kandungan.

d) Fungsi usus, sirkulasi, paru- paru dan perkemihan lebih baik.

e) Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat

fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.

f) Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu.

g) Mencegah trombosis pada pembuluh tungkai.

d. Kebutuhan eliminasi

Dalam 6 jam pertama postpartum, pasien sudah harus dapat buang

air kecil. Semakin lama urine tertahan dalam kandung kemih maka

dapat mengakibatkan gangguan pada kontraksi uterus. Dalam 24 jam


79

pertama, pasien juga sudah harus buang air besar karena semakin lama

feses tertahan semakin sulit baginya untuk buang air besar dengan

lancar.

e. Kebersihan diri

Pada masa nifas yang berlangsung selama lebih kurang 40 hari,

kebersihan vagina perlu mendapat perhatian lebih. Vagina merupakan

bagian dari jalan lahir yang dilewati janin pada saat proses persalinan.

Kebersihan vagina yang tidak terjaga dengan baik pada masa nifas

dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada vagina itu sendiri yang

dapat meluas sampai ke rahim.

f. Kebutuhan istirahat dan tidur

Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang

dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada

siang hari. Pada tiga hari pertama dapat merupakan hari yang sulit bagi

ibu akibat menumpuknya kelelahan karena proses persalinan dan nyeri

yang timbul pada luka perineum. Secara teoritis, pola tidur akan

kembali mendekati normal dalam 2 sampai 3 minggu setelah

persalinan. Pada ibu nifas, kurang istirahat akan mengakibatkan:

1) Berkurangnya produksi ASI.

2) Memperlambat proses involusi uterus dan meningkatkan

perdarahan.

3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi

dan dirinya sendiri.


80

g. Kebutuhan seksual

Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual

kembali setelah 6 minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu

didasarkan atas pemikiran pada masa itu semua luka akibat persalinan,

termasuk luka episiotomi. Bila suatu persalinan dipastikan tidak ada

luka atau laserasi/ robek pada jaringan, hubungan seks bahkan telah

boleh dilakukan 3- 4 minggu setelah proses melahirkan. Meskipun

hubungan telah dilakaukan setelah minggu ke- 6 adakalanya ibu- ibu

tertentu mengeluh hubungan masih terasa sakit atau nyeri meskipun

telah beberapa bulan proses persalinan.

h. Kebutuhan perawatan payudara

Kebutuhan perawatan payudara pada ibu masa nifas antara lain:

1) Sebaiknya perawatan mamae telah dimulai sejak wanita hamil

supaya puting lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan

untuk menyusui bayinya.

2) Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara:

pembalutan mamae sampai tertekan, pemberian obat estrogen

untuk supresi LH seperti tablet Lynoral dan Pardolel.

3) Ibu menyusi harus menjaga payudaranya untuk tetap bersih dan

kering.

4) Menggunakan bra yang menyongkong payudara.

5) Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar

pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui, kemudian


81

apabila lecetnya sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam.

Asi dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok. Selain itu,

untuk menghilangkan rasa nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet

setiap 4- 6 jam.

i. Latihan senam nifas

Pada masa nifas yang berlangsung selama lebih kurang 6 minggu,

ibu membutuhkan latihan- latihan tertentu yang dapat mempercepat

proses involusi. Salah satu latihan yang dianjurkan pada masa ini

adalah senam nifas. Senam nifas adalah senam yang dilakukan oleh

ibu setelah persalinan, setelah keadaan ibu normal. Senam nifas

sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah persalinan, secara teratur

setiap hari. Luka yang timbul akibat proses persalinan karena 6 jam

setelah persalinan normal dan 8 jam setelah persalinan Caesar, ibu

sudah dianjurkan untuk mobilisasi dini. Tujuan utama mobilisasi dini

adalah agar peredaran darah ibu dapat berjalan dengan baik sehingga

ibu dapat melakukan senam nifas. Manfaat senam nifas antara lain:

1) Memperbaiki sirkulasi darah sehingga mencegah terjadinya

pembekuan (trombosis) pada pembuluh darah terutama pembuluh

tungkai.

2) Memperbaiki sikap tubuh selama kehamilan dan persalinan dengan

memulihkan dan menguatkan otot- otot punggung.

3) Memperbaiki tonus otot pelvis.

4) Memperbaiki regangan otot tungkai bawah.


82

5) Memperbaiki regangan otot abdomen setelah hamil dan

melahirkan.

6) Meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot- otot

dasar panggul.

7) Mempercepat terjadinya proses involusi organ- organ reproduksi.

Tidak semua ibu setelah persalinan dapat melakukan senam nifas.

Untuk ibu- ibu yang mengalami komplikasi selama persalinan

tidak dibolehkan melakukan senam nifas. Demikian juga untuk

penderita kelainan seperti jantung, ginjal atau diabetes.

j. Rencana KB

Rencana KB setelah ibu melahirkan sangatlah penting, dikarenakan

secara tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat

anaknya dengan baik serta mengistirahatkan alat kandungnya.

S. Tahapan Masa Nifas

Selama masa nifas, terdapat proses pemulihan yang terjadi secara

bertahap yang berlangsung hingga organ reproduksi ibu kembali ke

keadaan sebelum hamil. Tahapan masa nifas tersebut sebagai berikut:


(Pacitasari & Wijhati, 2023)

a. Puerperium Dini (Immediate Postpartum): 0 – 24 jam postpartum.

Yaitu masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam.

Perdarahan merupakan masalah terbanyak pada masa ini. Kepulihan

dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan

aktivitas layaknya wanita normal lainnya. Oleh karena itu, bidan


83

dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus,

pengeluaran lokiaa, tekanan darah dan suhu.

b. Puerperium Intermediate (Early Postpartum): 24 jam – 1 minggu

postpartum: pada fase dimana involusi uterus harus dipastikan dalam

keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk,

tidak demam, ibu cukup mendapat nutrisi dan cairan, ibu dapat

menyusui dengan baik. Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang

lamanya sekitar 6- 8 minggu.

c. Puerperium Remote (Late Postpartum): 1 - 6 minggu postpartum

waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.

Masa dimana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari, serta

konseling KB. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,

bulanan, tahunan.

T. Kunjungan Nifas

Kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan yang

dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk

mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2020), jadwal kunjungan pada masa


(Hidayah et al., 2022)
nifas sebagai berikut:

a. Kunjungan Nifas ke-1 (KF 1)

Kunjungan I Kunjungan dalam waktu 6 jam – 2 hari setelah

persalinan, yaitu:
84

1) Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas

2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan

memberikan rujukan bila perdarahan berlanjut

3) Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga

mengenai bagimana mencegah perdarahan masa nifas karena

atonia uteri

4) Pemberian ASI pada awal menjadi ibu

5) Menganjarkan ibu untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi

baru lahir Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah

hipotermi.

b. Kunjungan Nifas ke-2 (KF 2)

Kunjungan dalam waktu 3 – 7 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,

fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan

tidak ada bau

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca

melahirkan

3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda

penyulit

5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan bayi, cara

merawat tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap hangat.


85

c. Kunjungan Nifas ke-3 (KF 3)

Kunjungan dalam waktu 8 – 14 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,

fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan

tidak ada bau

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca

melahirkan

3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, istirahat

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda

penyulit

5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi,

cara merawat tali pusat, dan menjaga bayi tetap hangat.

d. Kunjungan Nifas ke-4 (KF 4)

Kunjungan dalam waktu 29 – 42 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami atau

bayinya.

2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

U. Tujuan Asuhan Nifas

Asuhan pada masa nifas diperlukan karena pada periode ini masa

kritis baik ibu maupun bayinya terutama dalam 24 jam waktu jam pertama.
(Kasmiati, 2023)
Adapun tujuan asuhan masa nifas yaitu:
86

a. Tujuan Umum

Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal

mengasuh anak.

b. Tujuan Khusus

1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun

fisiologiknya.

2) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah

mengobati/merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun

bayinya

3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan

diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi

pada bayinya, dan perawatan bayi sehat.

4) Memberikan pelayanan keluarga berencana.

Berikut ada tujuan asuhan pada masing-masing tahap:

a. Puerperium Dini (Immediate Postpartum)

1) Memantau tanda vital ibu dan bayi untuk mendeteksi komplikasi.

2) Menilai perdarahan postpartum dan memberikan intervensi jika

diperlukan.

3) Mendorong inisiasi menyusui segera untuk memperkuat bonding

dan stimulasi laktasi.

4) Mengedukasi ibu tentang perawatan diri dan pentingnya istirahat.

b. Puerperium Intermediate (Early Postpartum)


87

1) Melanjutkan pemantauan kesehatan ibu, termasuk pemeriksaan

luka jahitan dan tanda infeksi.

2) Mengidentifikasi dan menangani masalah laktasi.

3) Memberikan dukungan emosional dan psikologis untuk ibu dalam

beradaptasi dengan perannya.

4) Mengedukasi ibu tentang tanda-tanda bahaya yang perlu

diwaspadai.

c. Puerperium Remote (Late Postpartum)

1) Memantau pemulihan fisik dan psikologis ibu, termasuk kesehatan

mental.

2) Menilai perkembangan bayi dan memastikan kebutuhan gizi

terpenuhi.

3) Memberikan informasi tentang kontrasepsi dan perencanaan

keluarga.

4) Mendorong ibu untuk kembali ke aktivitas normal secara bertahap

dan menjaga kesehatan.

Setiap tahap memiliki fokus yang berbeda, tetapi semuanya penting

untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi secara keseluruhan.

V. Tanda Bahaya Masa Nifas

Tanda bahaya ibu nifas adalah suatu tanda yang abnormal yang

mengindikasikan adanya bahaya atau komplikasi yang dapat terjadi selama

masa nifas, apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa


88

menyebabkan kematian ibu. Tanda-tanda bahaya postpartum, adalah


(Hidayah et al., 2022)
sebagai berikut:

a. Perdarahan postpartum

Perdarahan postpartum dibedakan menjadi sebagai berikut:

1) Perdarahan portpartum primer (early postpartum hemorrhage)

adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam

setelah anak lahir, atau perdarahan dengan volume seberapapun

tetapi terjadi perubahan keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital

sudah menunjukkan analisa adanya perdarahan. Penyebab utama

adalah atonia uteri, retensio placenta, sisa plasenta dan robekan

jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.

2) Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage)

adalah perdarahan dengan konsep pengertian yang sama seperti

perdarahan postpartum primer namun terjadi setelah 24 jam

postpartum hingga masa nifas selesai. Perdarahan postpartum

sekunder yang terjadi setelah 24 jam, biasanya terjadi antara hari

ke 5 sampai 15 postpartum. Penyebab utama adalah robekan jalan

lahir dan sisa plasenta. Perdarahan postpartum merupakan

penyebab penting kematian maternal khususnya di negara

berkembang.

b. Tanda infeksi masa nifas

Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab utama

morbiditas dan mortalitas ibu. Infeksi alat genital merupakan


89

komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas kesaluran urinari,

payudara, dan pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab

terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas,

malaise, denyut nadi cepat. Gejala lokal dapat berupa uterus lembek,

kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria. Lochea

yang berbau busuk dan bernanah disertai nyeriperut bagian bawah

kemungkinan diagnosis adalah metritis. Metritis adalah infeksi uterus

setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar

kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat

menjadi abses pelvik, peritonitis, syok septic.

c. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah

penglihatan

Sakit kepala merupakan merupakan tanda-tanda bahaya pada nifas.

Pusing bisa disebabkan oleh tekanan darah tinggi (Sistol ≥140 mmHg

dan distolnya ≥90 mmHg). Pusing yang berlebihan juga perlu

diwaspadai adanya keadaan preeklampsi/eklampsi postpartum, atau

keadaan hipertensi esensial. Pusing dan lemas yang berlebihan dapat

juga disebabkan oleh anemia bila kadar haemoglobin <10 gr%. Lemas

yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya, dimana keadaan

lemas dapat disebabkan oleh kurangnya istirahat dan kurangnya

asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat, tekanan darah rendah.

d. Nyeri bagian bawah abdomen atau punggung


90

Nyeri bagian bawah abdomen biasa menjadi indikasi terjadinya sub

involusi uterus atau pengecilan rahim yang terganggu. Involusi adalah

keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana berat rahim dari

1000gr saat setelah bersalin, menjadi 40-60 mg 6 minggu kemudian.

Bila pengecilan ini kurang baik atau terganggu di sebut sub-involusi.

Faktor penyebab sub-involusi, antara lain: sisa plasenta dalam uterus,

endometritis, adanya mioma uteri. Pada pemeriksaan bimanual di

temukan uterus lebih besar dan lebih lembek dari seharusnya, fundus

masih tinggi, lochea banyak dan berbau, dan tidak jarang terdapat pula

perdarahan.

e. Pembengkakan di wajah dan ekstremitas

Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-

vena di pelvis maupun tungkai yang mengalami dilatasi. Keadaan ini

secara klinis dapat menyebabkan peradangan pada vena-vena pelvis

maupun tungkai yang disebut tromboplebitis pelvica (pada panggul)

dan tromboplebitis femoralis (pada tungkai). Pembengkakan ini juga

dapat terjadi karena keadaan udema yang merupakan tanda klinis

adanya preeklampsi/ eklampsi.

f. Demam, muntah, rasa nyeri waktu berkemih

Pada masa nifas awal sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan

air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan

serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung

kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang


91

ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi, hematom dinding

vagina.

g. Payudara kemerahan, terasa panas dan sakit

Keadaan ini dapat disebabkan oleh payudara yang tidak disusu

secara adekuat, puting susu yang lecet, BH yang terlalu ketat, ibu

dengan diet yang kurang baik, kurang istirahat, serta anemia. Keadaan

ini juga dapat merupakan tanda dan gejala adanya komplikasi dan

penyulit pada proses laktasi, misalnya pembengkakan payudara,

bendungan ASI, mastitis dan abses payudara.

h. Sakit/nyeri, kemerahan, panas, disertai dengan area yang keras pada

betis

Tromboflebitis merupakan inflamasi pembuluh darah disertai

pembentukan pembekuan darah. Bekuan darah dapat terjadi di

permukaam atau di dalam vena. Tromflebitis cenderung terjadi pada

periode pacsa partum pada saat kemampuan pengumpulan darah

meningkat akibat peningkatan fibrinogen. Factor penyebab terjadinya

infeksi tromboflebitis antara lain:

1) Pasca bedah, perluasan infeksi endometrium;

2) Mempunyai varises pada vena.

3) Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama

Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat mempengaruhi

nafsu makan, sehingga terkadang ibu tidak ingin makan sampai

kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin berikan ibu minuman


92

hangat, susu, kopi atau teh yang bergula untuk mengembalikan tenaga

yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya ringan, karena alat

pencernaan perlu proses guna memulihkan keadaanya kembali pada

masa postpartum.

i. Merasa Sedih atau Tidak Mampu Mengurus Bayi dan Dirinya Sendiri

Pada minggu-minggu awal setelah persalinan sampai kurang lebih

1 tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan perasaan

yang tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak mampu

mengasuh dirinya sendiri atau bayinya. Ada kalanya ibu mengalami

perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut

dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang

dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya.

j. Merasa sangat letih atau nafas terengah engah

5. Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen asuhan kebidanan mengacu pada KEPMENKES

NO.938/MENKES/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan yang

meliputi:

1. Standar I (Pengkajian/ Rumusan Format Pengkajian)


Pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk

mengevaluasi keaadaan klien secara lengkap. Data yang terkumpul ini

sebagai data dasar untuk interpretasi kondisi klien guna menentukan

langkah berikutnya.

Pengkajian tersebut dapat dilakukan dengan:


93

a. Anamnesa

1) Biodata, data demografi

2) Keluhan utama

3) Riwayat kesehatan, termasuk faktor herediter dan kecelakaan

4) Riwayat menstruasi

5) Riwayat obstetrik, ginekologi termasuk nifas dan laktasi

6) Pola kehidupan sehari-hari

7) Riwayat kontrasepsi

8) Pengetahuan klien

b. Pemeriksaan fisik, sesuai kebutuhan dan tanda-tanda vital

c. Pemeriksaan khusus

1) Inspeksi

2) Palpasi

3) Auskultasi

4) Perkusi

d. Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan laboratorium

2) Diagnosa lain: USG dan radiologi

e. Pengkajian sesaat pada bayi segera setelah lahir

1) Bayi lahir spontan

2) Segera menangis kuat

3) Gerakan aktif

4) Warna kulit merah muda


94

2. Standar II (Perumusan Diagnosa/ Masalah Kebidanan)


a. Diagnosa

1) Ibu hamil

Dx: Ibu hamil G...P...A...H..., usia kehamilan...minggu, janin

hidup/mati, tunggal/ganda, intrauterine/ekstrauterine, letak

kepala/letak bokong/letak lintang, keadaan jalan lahir normal/tidak

normal, keadaan umum ibu dan janin baik/tidak.

2) Ibu bersalin

a) Kala I

Dx: Ibu inpartu G…P…A…H…, aterm, kala I fase aktif, janin

hidup/mati, tunggal/ganda, intrauterine/ekstrauterine,

letkep/letsu/letli, keadaan umum ibu baik/tidak.

b) Kala II

Dx: Ibu inpartu kala II normal, keadaan umum ibu baik/tidak.

c) Kala III

Dx: Ibu inpartu kala III normal, keadaan umum ibu baik/tidak.

d) Kala IV

Dx: Ibu parturient kala IV normal, keadaan umum ibu

baik/tidak.

3) Bayi Baru Lahir

Dx: Bayi Baru lahir normal, usia…jam, keadaan umum bayi

baik atau tidak.


95

4) Ibu nifas

Dx: P…A…H…, nifas hari ke…, keadaan umum ibu baik atau

tidak.

b. Masalah

Masalah dapat diidentifikasi berdasarkan keluhan yang dirasakan

oleh ibu.

c. Kebutuhan

Informasi mengenai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan,

informasi tentang masalah yang dialami ibu, penjelasan tentang solusi

dari masalah yang dialami, informasi kebutuhan nutrisi ibu, infomasi

kebutuhan istirahat ibu, informasi personal hygiene, informasi

mengenai kunjungan ulang.

3. Standar III (Perencanaan)

a. Kehamilan

1) Berikan informasi mengenai hasil pemeriksaan kepada ibu.

2) Berikan informasi kepada ibu bahwa terdapat perubahan fisiologis

dan ketidaknyamanan umum selama hamil.

3) Berikan informasi kebutuhan nutrisi ibu hamil trimester III

4) Beritahu ibu mengenai pentingnya kebutuhan istirahat selama

hamil trimester III.

5) Diskusi dengan ibu mengenai pentingnya latihan fisik ringan

selama hamil.

6) Diskusikan tentang rencana persalinan.


96

7) Jelaskan kepada ibu tanda bahaya kehamilan trimester III

8) Diskusikan dengan ibu mengenai kunjungan ulang.

b. Persalinan

1) Kala I

a) Memantau tekanan darah, suhu badan, denyut nadi setiap 4

jam, mendengarkan DJJ setiap 1 jam pada fase laten dan 30

menit pada fase aktif

b) Melakukan palpasi kontraksi uterus setiap 1 jam pada fase laten

dan 30 menit pada fase aktif

c) Memantau pembukaan serviks, penurunan bagian terendah

janin pada fase laten dan fase aktif dilakukan setiap 4 jam

d) Memonitor pengeluaran Urin setiap 2 jam

e) Mencatat seluruh hasil pemantauan ke dalam partograf

f) Menginformasikan hasil pemeriksaan dan rencana asuhan serta

kemajuan persalinan dan meminta persetujuan keluarga untuk

rencana selanjutnya

g) Mengatur aktivitas dan posisi ibu juga membimbing relaksasi

ketika ada his

h) Menjaga privasi dan kebersihan ibu, memberi rasa aman dan

nyaman, mengurangi rasa nyeri dengan melakukan masase

ketika ada kontraksi pada ibu.

i) Memberi asupan nutrisi yang cukup

j) Memastikan kandung kemih tetap kosong


97

2) Kala II

a) Memberi dukungan terus menerus kepada ibu

b) Memastikan kecukupan asupan nutrisi

c) Mempersiapkan kelahiran bayi

d) Membimbing ibu mengejan ketika ada kontraksi

e) Memantau TTV dan DJJ terus menerus

f) Melahirkan kepala sesuai mekanisme persalinan

g) Melahirkan bahu dan diikuti seluruh badan bayi

h) Menilai tanda-tanda kehidupan bayi dengan minimal tiga

aspek, yaitu usaha bernapas, denyut jantung, dan warna kulit

i) Menjepit dari pusat dan memotong tali pusat

j) Menjaga kehangatan bayi

k) Mendekatkan bayi pada ibunya sekaligus menuntun untuk IMD

3) Kala III

a) Melakukan palpasi uterus untuk memastikan tidak ada janin

kedua

b) Memberi injeksi oksitosin 10 U/M segera setelah 2 menit

kelahiran bayi

c) Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT)

d) Lahirkan plasenta setelah ada tanda-tanda pelepasan plasenta

4) Kala IV

a) Melakukan pemantauan kontraksi uterus, pengeluaran darah,

tanda-tanda vital setiap 15 menit selama 1 jam pertama, setiap


98

30 menit selama 1 jam kedua. jika uterus tidak berkontraksi

dengan baik lakukan masase fundus dan berikan metil

ergometrin 0,2 mg IM jika ibu tidak mengalami hipertensi.

b) Melakukan pemeriksaan jalan lahir dan perineum

c) Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaputnya

d) Mengajarkan ibu dan keluarga bagaimana memeriksa kontraksi

dengan cara meraba uterus dan memasasenya

e) Mengevaluasi jumlah darah yang hilang

f) Memantau pengeluaran lochea

c. Bayi Baru Lahir

1) Rawat gabung ibu dan bayi dan melakukan penilaian APGAR skor.

2) Pemeriksaan antropometri bayi baru lahir

3) Menjaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat.

4) Bounding attachment dan IMD

5) Injeksi vitamin K 1 jam setelah bayi lahir secara IM

6) Pemberian salep mata gentamisin 1 jam setelah bayi lahir

7) Injeksi Hb0 sebanyak 0,5 cc secara IM, 1 jam setelah vitamin K

8) Merencanakan bayi dimandikan setelah 6 jam lahir

9) Melakukan perawatan tali pusat

d. Nifas

1) Menjaga kebersihan diri

2) Istirahat

3) Latihan fisik/senam
99

4) Nutrisi

5) Menyusui

6) Perawatan payudara

7) Sanggama

8) Keluarga berencana

4. Standar IV (Implementasi)
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah

diuraikan pada langkah sebelumnya dilaksanakan secara efisien dan aman.

Perencanaan ini bisa dilakukan sebelumnya oleh bidan atau sebagian lagi

oleh klien atau anggota tim kesehatan/lainnya. Walaupun bidan tidak

melaksanakan asuhan sendiri tetapi bidan tetap memiliki tanggung jawab

untuk mengarahkan pelaksanaanya. Bila perlu berkolaborasi dengan

dokter atas komplikasi yang ada. Manajemen yang efisien berhubungan

dengan waktu, biaya serta peningkatan mutu asuhan. Kaji ulang apakah

semua rencana sudah dilaksanakan.

5. Standar V (Evaluasi)
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang

diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar

benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah

diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat

dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada

kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedangkan

sebagian belum efektif.


100

6. Standar VI (Pencatatan Asuhan Kebidanan)


Pendokumentasian dilakukan dengan metode SOAP. Menurut Helen

Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah, agar

diketahui orang lain apa yang dilakukan seorang bidan melalui proses

berpikir sistematis, maka didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu:

a. S: Subjektif

Menggambarkan pendokumentasian hana pengumpulan data asien

melalui anamnesa tanda gejala subjektif yang diperoleh dari hasil

bertanya dari pasien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan,

riwayat menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat

persalinan. riwayat KB, penyakit, riwayat penyakit keluarga, riwayat

penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).

b. O: Objektif

Mengambarkan pendokumentasian hasil analisa dan fisik pasien,

hasil lab, dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus

untuk mendukung assesment. Tanda dan gejala objektif yang diperoleh

dari hasil pemeriksaan (keadaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan

fisik, pemeriksan khusus, pemeriksaan kebidanan, pemeriksaan dalam,

pemeriksan laboratorium dan pemeriksaan penunjang). Pemeriksaan

dengan ispeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.

c. A: Assesment (Pengkajian)

Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau

informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau


101

diseimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah dan selalu ada

informasi baru baik subjektif maupun objektif dan sering diungkapkan

secara terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah suatu proses

yang dinamika.

d. P: Planning (Rencana)

Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan serta

evaluasi berdasarkan assesment SOAP untuk perencanaan,

implementasi, dan evaluasi dimasukkan kedalam perencanaan.


102

6. Kerangka Pikir

1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
1. Kesehatan
Ibu Hamil Masalah Kebidanan
Ibu
Trimester 3. Perencanaan sesuai dengan teori
2. Kesehatan
4. Implementasi
Janin
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan

1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah Kebidanan 1. Kesehatan
Ibu 3. Perencanaan sesuai dengan teori Ibu
Bersalin 4. Implementasi 2. Kesehatan
5. Evaluasi Janin
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan

1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah kebidanan
Ibu Nifas 3. Perencanaan sesuai dengan teori Kesehatan
4. Implementasi Ibu
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan

1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah kebidanan
Bayi Baru 3. Perencanaan sesuai dengan teori Kesehatan
Lahir 4. Implementasi Bayi
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
kebidanan

Gambar 2. 4 Kerangka Pikir


Asuhan Kebidanan Berkesinambungan Pada Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan Bayi
Baru Lahir.
Sumber: Kemenkes RI, 2018
BAB III
METODE PENELITIAN LAPORAN TUGAS AKHIR
7. Jenis Laporan Kasus

Laporan Tugas Akhir (LTA) ditulis berdasarkan laporan kasus asuhan

kebidanan komprehensif secara continuity of care (CoC) dengan mendampingi

dan memantau ibu secara berkesinambungan atau berkelanjutan pada masa

hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. Jenis penelitian ini adalah kualitatif

dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan cara meneliti suatu

permasalahan yang berhubungan dengan kasus itu sendiri serta mengkaji

faktor-faktor yang mempengaruhi, kejadian khusus yang muncul sehubungan

dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan.
(Hengki Fernanda, 2023)

8. Lokasi dan Waktu

1. Lokasi Penelitian

Penelitian telah dilakukan di Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab

Efendi, Amd. Keb Kabupaten Solok Tahun 2025.

2. Waktu Penelitian

Penelitian telah dilakukan pada bulan 10 Februari 2025 s/d 12 April

2025.

9. Subjek Studi Kasus

Subjek dalam studi kasus ini adalah:

103
104

1. Ny. R Usia 31 tahun G3P2A0H2 dari usia kehamilan 36-37 minggu,

kemudian dilanjutkan dengan asuhan kebidanan ibu bersalin, sampai nifas

hari ke-20.

2. Bayi Ny. R dengan jenis kelamin perempuan dari kelahiran sampai dengan

usia 20 hari.

10. Instrumen Studi Kasus

Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, seperti

pemeriksaan fisik, inspeksi, palpasi, auskultasi, dan pemeriksaan

laboratorium. Selanjutnya, instrumen yang digunakan adalah wawancara dan

studi dokumentasi dalam bentuk format asuhan kebidanan pada ibu hamil,

bersalin, nifas, dan bayi baru lahir beserta pendokumentasian

dalam bentuk SOAP.

11. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan

melakukan pengumpulan (wawancara/anamnesa, pemeriksaan, dan

observasi).

a. Wawancara/Anamnesa

Wawancara/anamnesa dilakukan dengan tanya jawab langsung baik

kepada klien atau keluarga mengenai kondisi klien dan mengkaji

keluhan keluhan yang dirasakan oleh klien beserta riwayat penyakit

klien maupun keluarga dengan menggunakan format pengkajian data

pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir.


105

b. Pemeriksaan / Observasi

Peneliti melakukan pemeriksaan atau observasi dengan melakukan

pengamatan dalam suatu gejala yang muncul dalam pemeriksaan fisik

Ny. R, yaitu melakukan inspeksi mulai dari kepala, mata, wajah, leher,

payudara, abdomen, ekstremitas, sampai dengan genetalia ibu.

Kemudian pemeriksaan palpasi mulai dari leopold I sampai dengan

loopold IV, pemeriksaan perkusi untuk melihat reflek patella kanan

dan kiri ibu, selanjutnya pemeriksaan auskultasi untuk mendengar

detak jantung janin pada punctum maximum ibu.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang berasal dari olahan data primer. Dalam

hal ini, data sekunder digunakan untuk melengkapi data yang ada

hubungannya dengan masalah yang ditemukan. Oleh karena itu, peneliti

mengambil data dengan studi dokumentasi yaitu mendapatkan data darı

dokumen atau catatan medik ibu, yaitu buku Kesehatan Ibu Anak (KIA).

Data sekunder yang didapatkan dari buku KIA ibu yaitu status

imunisasi TT ibu, dan tanggal terakhir ibu melakukan pemeriksaan labor

(Hb, protein urin, glukosa urin, dan triple eliminasi) serta hasil

pemeriksaan labor tersebut.

12. Alat dan Bahan

1. Wawancara/Anamnesa
106

Alat dan bahan yang digunakan dalam wawancara/anamnesa yaitu

format asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas,

dan bayi baru lahir.

2. Studi Dokumentasi

Bahan yang digunakan dalam studi kasus adalah catatan medik dan

buku KIA klien.

3. Pemeriksaan

a. Pemeriksaan fisik ibu hamil

Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon.

timbangan berat badan, meteran, tensimeter, stetoskop, thermometer,

pita lila, metlin (pita ukur), jam tangan, doppler/leanec, dan refleks

hammer.

b. Pemeriksaan fisik ibu bersalin

Alat dan bahan yang digunakan adalah Alat Pelindung Diri (APD)

lengkap, yaitu masker, handscoon, tensimeter, stetoskop. thermometer,

metlin, jam tangan, doppler/leanec.

c. Pertolongan persalinan

Alat dan bahan yang digunakan adalah Alat Pelindung Diri (APD)

lengkap, yaitu masker, handscoon, kacamata, sepatu boots. tensimeter,

stetoskop, thermometer, metlin, doppler/leanec, partus set, kapas DTT,


107

delee, spuit 3 ml, oksitosin, kapas alcohol, kain bersih, handuk,

celemek, perlak, air DTT, larutan klorin.

d. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir

Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon,

timbangan berat badan bayi, alat ukur panjang bayi, lampu sorot, pita

lila, serta pakaian bayi baru lahir lengkap.

e. Pemeriksaan fisik ibu nifas

Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon,

timbangan berat badan, meteran, tensimeter, stetoskop, thermometer.


BAB IV
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
13. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi yang digunakan peneliti sebagai tempat penelitian adalah Praktik

Mandiri Bidan (PMB) Zainab Efendi, Amd. Keb yang berlokasi di Nagari

Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Batas Nagari Saok

Laweh yaitu, sebelah timur berbatasan dengan Nagari Guguak Sarai, sebelah

barat dan utara berbatasan dengan Kota Solok, sebelah selatan berbatasan

dengan Nagari Gauang. Masyarakat disekitar PMB merupakan masyarakat

bermata pencarian bertani dan berdagang.

Sarana dan prasarana di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb termasuk yang

memiliki fasilitas cukup lengkap karena memiliki ruang pemeriksaan, ruang

bersalin, ruang nifas dan ruang tunggu. Zainab Efendi, Amd. Keb melayani

pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan 24 jam, pemeriksaan nifas,

konseling pemberian metode alat kontrasepsi (KB), Kesehatan Ibu dan Anak

(KIA), pemeriksaan bayi dan balita, anak pra sekolah, remaja dan lansia yang

akan dilayani oleh bidan Zainab Efendi, Amd. Keb yang di bantu oleh 1 orang

asisten bidan.

Alat yang digunakan dalam melakukan pelayanan yaitu tensimeter,

stetoskop, doppler, timbang berat badan, pengukur tinggi badan, meteran, pita

LILA, termometer dan suplemen kesehatan yang dibutuhkan ibu hamil. Di

dalam ruang bersalin terdapat bed ginekologi, alat partus set, hecting set,

timbangan bayi, tiang infus, cairan infus, tabung oksigen, rak dorong, tempat

108
109

sampah, safety box, alat sterilitator, serta dilengkapi alat set pemasangan

implan dan IUD.

PMB ini memberikan pelayanan dengan 5S yaitu, senyum, sapa, salam,

sopan dan santun. Selain masyarakat setempat masyarakat di luar wilayah

kerja bidan Zainab Efendi, Amd. Keb juga banyak yang datang berkunjung ke

PMB. Rata-rata pengunjung pada praktik mandiri bidan ini setiap bulannya

yaitu sekitar 150 orang meliputi pasien berobat, periksa kehamilan, bersalin,

pemasangan KB. Pelayanan yang di berikan di PMB sesuai dengan prosedur

dan kewenangan bidan.

14. Tinjauan Kasus

Berikut ini adalah asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. “R” mulai

dari masa kehamilan 36-37 minggu, persalinan, nifas dan bayi baru lahir di

Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.


110

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA


KEHAMILAN 36-37 MINGGU DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN
ZAINAB EFENDI, Amd. Keb KAB. SOLOK

PENGUMPULAN DATA
A. Identitas / Biodata
Nama Ibu : Ny. R Nama suami : Tn. D
Umur : 31 Tahun Umur : 41 Tahun
Suku/bangsa : Indonesia Suku/bangsa : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh Tani
Alamat Rumah : Rangeh Alamat Rumah : Rangeh
[Link] : 0822******** [Link] : 0812********
Nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi : Tn. D
Hubungan dengan klien : Suami
Alamat : Rangeh
No. Telp : 0812********

A. Data Subjektif
Pada tanggal : 16 Februari 2025
Pukul : 17.00 WIB
1. Alasan kunjungan ini : memeriksa kehamilan (kontrol)
2. Keluhan utama : nyeri pinggang dari 4 hari yang lalu
3. Riwayat menstruasi
a. Haid pertama : 12 tahun
b. Teratur/tidak : teratur
c. Siklus : 28 hari
d. Lamanya : 7 hari
e. Banyaknya : ± 2-3 kali ganti pembalut
f. Warnanya : merah kehitaman
g. Sifat darah : kental
111

h. Dismenorhoe : tidak ada


i. Bau : amis
4. Riwayat Kehamilan
a. HPHT : 03 Juni 2024
b. TP : 10 Maret 2025
c. Keluhan pada
1) TM 1 : mual muntah
2) TM 2 : tidak ada
3) TM 3 : nyeri pinggang
d. Pergerakan anak pertama kali dirasakan : UK 5 bulan
e. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : sering, lebih dari
10x sehari
f. Keluhan yang dirasakan :
- Rasa 5L (lemah,letih,lesu,lelah,lunglai) : tidak ada
- Mual dan muntah yang berlebihan : tidak ada
- Nyeri perut : tidak ada
- Panas, menggigil : tidak ada
- Sakit kepala berat : tidak ada
- Penglihatan kabur : tidak ada
- Rasa nyeri panas waktu BAK : tidak ada
- Rasa gatal pada vulva, vagina dan sekitarnya : tidak ada
- Pengeluaran cairan pervaginam : tidak ada
- Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : tidak ada
- Oedema (di tungkai, tibia, muka, dan jari tangan : tidak ada
- Obat – obatan yang dikonsumsi : ada (Tablet Fe
90 butir)
5. Pola Makan
a. Pagi : nasi goreng 1 porsi + air putih
b. Siang : 2 sendok nasi + ikan 1 potong + sayur 1 mangkok
kecil + air putih 2 gelas
c. Malam : 2 sendok nasi + ikan 1 potong + sayur 1 mangkok
kecil + buah + air putih 2 gelas
112

6. Perubahan pola makan yang dialami selama hamil (termasuk ngidam


dan kebiasaan-kebiasaan lain): tidak ada
7. Pola Eliminasi
a. BAK
1) Frekuensi : ± 5 kali dalam sehari
2) Warna : kuning jernih
3) Keluhan : tidak ada
b. BAB
1) Frekuensi : ± 1 kali dalam sehari
2) Warna : kuning kecoklatan
3) Konsistensi : sedikit lembek
4) Keluhan : tidak ada
8. Aktivitas sehari - hari
a. Pekerjaan : ibu mengerjakan kebutuhan sehari-hari
tanpa gangguan
b. Seksualitas : tidak mengganggu kehamilan ibu
9. Lama istirahat atau tidur
a. Siang hari : ± 2 jam
b. Malam hari : ± 7 jam (22.00-05.00 WIB)
10. Imunisasi
TT 1 : ada (2014)
TT 2 : ada (2014)
TT 3 : ada (2015)
TT 4 : ada (2020)
TT 5 : ada (21-08-2024)
11. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No Tanggal Persalinan Komplikasi Bayi Nifas
Lahir Usia Jenis Tempat Penolo Ibu Bayi BB/PB/ Keadaa Lochea Laktasi
ng JK n
1. 18-09- Aterm SC RS Dokter Tidak Tidak 3300 g/ Normal Normal ASI
2014 ada ada 48 cm/ sampai 2
LK tahun
2. 18-03- Ater Spont BPS Bidan Tidak Tidak 3800 g/ Normal Normal ASI
2019 m an ada ada 49 cm/ sampai 2
LK tahun
113

3. Hamil
Sekarang

12. Kontrasepsi yang pernah digunakan : tidak ada


Alasan tidak menggunakan lagi : tidak ada
13. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita
1) Jantung : tidak ada
2) Hipertensi : tidak ada
3) Ginjal : tidak ada
4) DM : tidak ada
5) Hepatitis : tidak ada
6) Asma :tidak ada
7) TBC Paru : tidak ada
8) Epilepsi : tidak ada
9) PMS : tidak ada
b. Riwayat alergi
1) Makanan : tidak ada
2) Obat-obatan : tidak ada
c. Riwayat trasfusi darah : tidak ada
d. Riwayat operasi yang pernah dialami : tidak ada
e. Riwayat pernah mengalami gangguan jiwa : tidak ada
14. Riwayat kesehatan keluarga
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita
1) Jantung : tidak ada
2) Hipertensi : tidak ada
3) Ginjal : tidak ada
4) DM : tidak ada
5) Asma : tidak ada
6) TBC Paru : tidak ada
7) Epilepsi : tidak ada
b. Riwayat kehamilan kembar
1) Gemelli / kembar 2 : tidak ada
114

2) Lebih dari 2 : tidak ada


15. Kelainan psikologis : tidak ada
16. Keadaan sosial
a. Perkawinan
1) Status perkawinan : Sah
2) Perkawinan ke : pertama
3) Kawin I : 13 Mei 2013
4) Setelah menikah berapa lama baru hamil : ± 1 tahun
b. Kehamilan
1) Direncanakan : ada
2) Diterima : ada
c. Hubungan dengan keluarga : baik
d. Hubungan dengan tetangga dan masyarakat : baik
e. Jumlah anggota keluarga : 4 orang (suami,
istri, dan 2 anak)
17. Keadaan ekonomi
a. Penghasilan perbulan : ± 3.000.000,-
b. Penghasilan perkapita : ± 750.000,-
18. Keadaan spritual : ibu melakukan ibadah setiap waktu
19. Keadaan psikologis : baik
B. Data Objektif (Pemeriksaan Fisik)
1. Status emosional : stabil
2. Tanda vital
a. Tekanan darah : 105/64 mmHg
b. Nadi : 80x/ menit
c. Pernafasan : 20x/menit
d. Suhu : 36,50C
e. Kesadaran : compos mentis
f. BB sebelum hamil : 53 Kg
g. BB sekarang : 65 Kg
h. TB : 153,3 cm
i. Lila : 26 cm
3. Pemeriksaan Khusus
115

a. Inspeksi
1) Kepala
a. Rambut : hitam, bersih
b. Mata : konjungtiva tidak anemik dan sklera tidak
ikterik
c. Muka : tidak ada cloasmagravidarum dan oedema
d. Mulut : bersih
e. Gigi : tidak ada karies dan gigi berlobang
2)Leher : tidak ada pembengkakan kalenjer tiroid dan
pembesaran limfe
3) Dada : simetris, putting susu kiri dan kanan
menonjol, areola menghitam dan belum ada
pengeluaran ASI
4) Abdomen : pembesaran sesuai usia kehamilan
5) Genitalia
a. Kemerahan : tidak dilakukan pemeriksaan
b. Pembengkakan : tidak dilakukan pemeriksaan
c. Varices : tidak dilakukan pemeriksaan
d. Oedema : tidak dilakukan pemeriksaan
e. Parut : tidak dilakukan pemeriksaan
6) Ekstremitas
a. Atas
Sianosis pada ujung jari : tidak sianosis
Oedema : tidak ada
Pergerakan : aktif
b. Bawah
Varices : tidak ada
Oedema : tidak ada
Pergerakan : aktif

b. Palpasi

1) Leopold

Leopold I : TFU berada 3 jari di bawah proxesus xifoid,


teraba bundar, lunak, tidak melenting,
116

kemungkinan bokong janin.


Leopold II : perut kiri ibu teraba panjang, keras, memapan,
kemungkinan punggung janin, perut kanan ibu
teraba tonjolan-tonjolan kecil, kemungkinan
ekstermitas janin.
Leopold III : teraba bulat, keras, kemungkinan kepala
janin, kepala janin masih dapat digoyangkan,
kemungkinan sebagian kecil kepala sudah
masuk PAP
Leopold IV : Konvergen
2) Mc donald : 33 cm
3) TBA : 3.100 gram
c. Auskultasi
1) DJJ : positif
2) Frekuensi : 148 x/menit
3) Irama : teratur
4) Intensitas : kuat
5) Punctum maximum : kuadran kiri bawah perut ibu
d. Perkusi
Reflek Patella kanan : positif
Reflek Patella kiri : positif
e. Pemeriksaan panggul luar
Distansia spinarum : tidak dilakukan pemeriksaan
Distansia cristarum : tidak dilakukan pemeriksaan
Conjungata eksterna : tidak dilakukan pemeriksaan
Lingkar panggul : tidak dilakukan pemeriksaan
f. Pemeriksaan Laboratorium
Golongan darah :O
Hb : 12,3 gr/dL (25 Januari 2025)
Protein urine : Negatif (25 Januari 2025)
Glukosa urine : Negatif (25 Januari 2025)
HbSAg : NR (21 Agustus 2024)
Sifilis : NR (21 Agustus 2024)
117

HIV : NR (21 Agustus 2024)


TABEL 4.1 ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 36-37 MINGGU
DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Kunjungan 1 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 17.00 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 16 Februari a. Keadaan umum: Baik Ibu G3P2A0H2 WIB mengenai hasil pemeriksaan
2025 b. Status emosional: Stabil usia kehamilan bahwa kehamilan ibu sudah
Pukul : 17.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis 36-37 minggu, memasuki 36-37 minggu, ibu dan
d. Tanda-tanda vital janin hidup, janin dalam keadaan baik, tanda-
Ibu mengatakan: TD : 105/64 mmHg tunggal, tanda vital ibu normal, keadaan
1. Ingin N : 80 x/menit intrauterine, umum ibu dan janin baik, taksiran
memeriksakan P : 20 x/menit puki, pres-kep, persalinan 10 Maret 2025
kehamilan S : 36,50C U, keadaan Evaluasi: Ibu mengerti dan sudah
2. Ini adalah e. BB sebelum hamil: 53 Kg jalan lahir mengetahui hasil pemeriksaannya
kehamilan BB Sekarang: 65,5 Kg normal,
ketiga f. TB: 153,3 cm Keadaan umum 17.15 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa
3. Hari Pertama Haid g. Lila: 26 cm ibu dan janin WIB keluhan nyeri pada pinggang
Terakhir (HPHT): h. TP: 10-03-2025 baik yang dirasakan ibu merupakan hal
03-06- yang normal, disebabkan karena
2024 2. Pemeriksaan Khusus Masalah: usia kehamilan yang bertambah
4. Merasakan nyeri a. Inspeksi nyeri pada terjadi perubahan pada postur
pada pinggang Hasil pemeriksaan head to pinggang tubuh ibu karena perut ibu yang
sejak 4 hari yang toe dalam batas normal semakin membesar. Selain itu
lalu b. Palpasi nyeri pada pinggang juga dapat
Leopold I : TFU 3 jari
dibawah prosesus xifoideus,
teraba bokong janin.

118
5. Ibu mengatakan Leopold II : Pada perut ibu terjadi kareja perubahan hormon
sudah bagian kiri teraba punggung dan juga stress. Cara
melakukan janin. mengatasinya yaitu:
pemeriksaan Leopold III : Pada bagian a. Melakukan olahraga ringan
labor pada bawah perut ibu teraba b. Memperbaiki postur tubuh,
tanggal 25 kepala janin, sebagian kecil seperti saat tidur miring
Januari 2025 kepala sudah masuk PAP tambahkan bantal diantara
Leopold IV : Konvergen kedua lutut
Mc. Donald : 33 cm c. Menghindari mengangkat
TBJ : 3.100 gram beban yang berat
c. Auskultasi Evaluasi: Ibu paham dengan cara
DJJ : (+) mengatasi nyeri pungungg yg
Frekuensi : 148 x/menit dianjurkan
Intensitas : Kuat
Pucntum maksimum : 17.18 3. Menginformasikan kepada ibu
kuadran kiri bawah WIB untuk tetap mengkonsumsi tablet
perut penambah darah satu hari sekali
pada malam hari
d. Perkusi Evaluasi: Ibu telah
Reflek patella kanan : mengkonsumsi tablet penambah
(+) Reflek patella kiri darah sudah lebih dari 90 butir
: dan ibu tetap mau mengkonsumsi
(+) tablet penambah darah

e. Pemeriksaan Laboratorium
Gol. Darah : O
Hb : 12,3 gr%/dl (25
Januari 2025 Buku

119
KIA)
Protein urin :
(-) Glukosa Urin :
(-)

120
HbSAg : NR (-) 17.23 4. Menginformasikan kepada ibu
Sifilis : NR (-) WIB untuk melakukan aktivitas fisik
HIV : NR (-) seperti senam hamil atau jalan
kaki di pagi hari yang bertujuan
untuk mempelancar proses
persalinan dan dapat
meningkatkan kenyaman pada ibu
selama kehamilan.
Evaluasi: Ibu tidak bersedia di
ajarkan senam hamil tetapi, ibu
bersedia jalan di pagi hari.

17.28 5. Menginformasikan kepada ibu


WIB tentang tanda bahaya kehamilan
yaitu:
a. Sakit kepala yang hebat terus
menerus
b. Penglihatan kabur
c. Gerakan janin kurang atau
tidak terasa
d. Nyeri perut hebat
e. Oedema pada wajah dan
esktermitas
f. Perdarahan pervaginam
g. Keluar cairan ketuban
sebelum waktunya
Menginformasikan kepada ibu
jika ibu mengalami hal diatas

121
segera memeriksakan diri ke
pelayanan Kesehatan
Evaluasi: Ibu dapat menyebutkan
5 dari 7 tanda bahaya yang
dijelaskan dan ibu berjanji akan
memeriksakan diri ke pelayanan
Kesehatan jika mengalami tanda
bahaya tersebut

17.33 6. Menjelaskan kepada ibu tentang


WIB tanda-tanda awal persalinan:
a. Perut mules-mules teratur,
timbulnya semakin sering dan
semakin lama
b. Keluar lender bercampur
darah dari jalan lahir
c. Keluar air-air yang banyak
dari jalan lahir
Jika muncul salah satu tanda yang
telah dijelaskan, maka ibu harus
ke fasilitas kesehatan untuk
dilakukan pemeriksaan
Evaluasi: Ibu mengerti dan akan
datang ke fasilitas Kesehatan
apabila terdapat tanda-tanda yang
telah dijelaskan
17.35 7. Menginformasikan kepada ibu
WIB

122
tentang persiapan persalinan
yaitu:
a. Tempat bersalin
b. Penolong persalinan
c. Biaya persalinan
d. Transportasi
e. Pendamping persalinan
f. Pengambilan Keputusan
g. Perlengkapan pakaian ibu dan
bayi
h. Persiapan donor jika terjadi
kegawatdaruratan.
Evaluasi: Ibu sudah
mempersiapkan yaitu:
1) Ibu sudah memilih tempat
bersalin yaitu PMB Zainab
Efendi, Amd. Keb
2) Ibu sudah memilih
persalinannya akan ditolong
oleh bidan Zainab Efendi,
Amd. Keb
3) Ibu sudah mempersiapakan
biaya persalinan
4) Ibu sudah mempersiapkan
kendaraan
5) Ibu sudah memutuskan
pendamping persalinanya

123
6) Ibu sudah memilih yang akan
mengambil keputusan.
7) Ibu sudah mempersiapkan
pakaian ibu dan bayi.
8) Ibu sudah memilih pendonor
jika terjadi kegawatdaruratan.
9) Menganjurkan ibu untuk
melengkapi persiapan
persalinan yang belum
lengkap

17. 38 8. Menginformasikan kepada ibu


WIB kunjungan ulang pemeriksaan
kehamilan 1 minggu lagi pada
tanggal 22 Maret 2025 atau dapat
kembali jika ibu ada keluhan
Evaluasi: Ibu bersedia datang
untuk kunjungan ulang

124
TABEL 4.2 ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 37-38 MINGGU
DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Kunjungan II 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 16.05 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 22 Februari a. Keadaan umum: Baik Ibu G3P2A0H2 WIB tentang hasil pemeriksaan
2025 b. Status emosional: Stabil usia kehamilan bahwa kehamilan ibu sudah
Pukul : 16.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis 37-38 minggu, memasuki 37-38 minggu, ibu
d. Tanda-tanda vital TD : 121/74 janin hidup, dan janin dalam keadaan baik,
Ibu mengatakan: mmHg N : 80 x/menit tunggal, tanda-tanda vital ibu normal,
1. Ingin memeriksakan P : 20 x/menit intrauterine, puki, keadaan umum ibu dan janin
kehamilan S : 36,50C pres-kep, U, baik, taksiran persalinan 10
2. Nyeri pinggang yang e. BB sebelum hamil: 53 Kg keadaan jalan Maret 2025
ibu rasakan sudah BB Sekarang : 65,5 Kg lahir normal, Evaluasi: Ibu mengerti dan
mulai berkurang dari f. TB: 153,3 cm Keadaan umum sudah mengetahui hasil
sebelumnya g. Lila: 26 cm ibu dan janin baik pemeriksaannya
3. Hari Pertama Haid h. TP: 10-03-2025
Terakhir (HPHT): Masalah: 16.15 2. Meminta ibu supaya
03-06-2024 2. Pemeriksaan Khusus - WIB melanjutkan saran yang
a. Inspeksi diberikan untuk menghilangkan
Hasil pemeriksaan head to rasa nyeri pada pinggang ibu,
toe dalam batas normal dan mengingatkan ibu untuk
tetap menerapkan apa yang
b. Palpasi disarankan bidan pada
Leopold I : TFU 3 jari dibawah kunjungan sebelumnya yaitu
prosesus xifoideus, teraba dengan cara:
bokong janin

125
Leopold II : Pada perut ibu a. Berolahraga ringan dengan
bagian kiri teraba punggung melakukan peregangan
janin. secara rutin setiap harinya.
Leopold III : Pada bagian b. Perbaiki posisi tidur dengan
bawah perut ibu teraba kepala mencari posisi nyaman
janin, sebagian kecil kepala mengarah ke kiri. Ibu bisa
sudah masuk PAP meletakkan bantal di bawah
Leopold IV : Konvergen perut diantara kedua kaki
Mc. Donald : 33 cm c. Bodi mekanik yang baik
TBJ : 3.100 gram ketika mengangkat beban
atau ketika ingin duduk dan
c. Auskultasi berdiri. Hindari kebiasaan
DJJ : (+) terlalu lama duduk atau
Frekuensi : 145 x/menit berdiri
Intensitas : Kuat d. Lakukan kompres hangat
Pucntum maksimum : kuadran pada pinggang untuk
kiri bawah perut melancarkan sirkulasi darah
dan mengurangi rasa nyeri
d. Perkusi pada punggung
Reflek patella kanan : (+) Evaluasi: Ibu sudah olahraga
Reflek patella kiri : (+) ringan di rumah dan tidur posisi
miring kiri dan ibu mengatakan
masih mengingat dan akan apa
yang disampaikan bidan pada
kunjungan sebelumnya

16.18 3. Menginformasikan kepada ibu


WIB untuk membersihkan payudara,

126
melakukan pemijatan payudara
ibu untuk persiapan menyusui
nantinya
Evaluasi: Ibu paham dan
bersedia melakukan saran yang
diberikan

16.23 4. Mengingatkan Kembali kepada


WIB ibu tentang tanda-tanda awal
persalinan:
a. Perut mules-mules teratur,
timbulnya semakin sering
dan lama
b. Keluar lendir bercampur
darah dari jalan lahir
c. Keluar air-air yang banyak
dari jalan lahir
Jika muncul salah satu tanda
yang telah dijelaskan, maka ibu
harus ke fasilitas Kesehatan
untuk dilakukan pemeriksaan
Evaluasi: ibu mengerti dan
akan datang ke fasilitas
kesehatan apabila terdapat
tanda-tanda yang dijelaskan

127
16.28 5. Menginformasikan kepada ibu
WIB tentang tanda bahaya
kehamilan yaitu:
a. Sakit kepala yang hebat
terus menerus
b. Penglihatan kabur
c. Gerakan janin kurang
atau tidak terasa
d. Nyeri perut hebat
e. Oedema pada wajah dan
esktermitas
f. Perdarahan pervaginam
g. Keluar cairan ketuban
sebelum waktunya
Menginformasikan kepada ibu
jika ibu mengalami hal diatas
segera memeriksakan diri ke
pelayanan Kesehatan
Evaluasi: Ibu dapat
menyebutkan 5 dari 7 tanda
bahaya yang dijelaskan dan ibu
berjanji akan memeriksakan
diri ke pelayanan Kesehatan
jika mengalami tanda bahaya
tersebut.

128
129
16.33 6. Menginformasikan kepada ibu
WIB mengenai pentingnya KB
pasca salin dan menjelaskan
kepada ibu berbagai jenis dan
metode kontrasepsi jangka
panjang seperti implant dan
IUD
Evaluasi: Ibu mengerti dan
akan berunding dengan suami
untuk memilih alat kontrasepsi
apa yang akan ibu gunakan
setelah persalinan nantinya

16.36 7. Menjadwalkan kunjungan


WIB ulang 1 minggu lagi yaitu
tanggal 01 Maret 2025 atau
segera apabila telah keluar
tanda-tanda persalinan atau
mengalami tanda bahaya
Evaluasi: Ibu bersedia untuk
melakukan kunjungan ulang

130
TABEL 4.3 ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 39-40 MINGGU ATERM
INPARTU DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Kala I 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 23.00 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 06 Maret a. Keadaan umum: Baik Ibu inpartu kala WIB dan suami tentang hasil
2025 b. Status emosional: Stabil I fase aktif, KU pemeriksaan pada ibu bahwa
Pukul : 23.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis ibu dan janin pembukaan sudah 8 cm, ibu
d. Tanda-tanda vital baik. akan memasuki proses
Ibu mengatakan: TD : 128/80 mmHg persalinan dan ketuban belum
1. Ibu mules sejak N : 80 x/menit Masalah: pecah. Keadaan umum ibu dan
pukul 05.00 WIB P : 20 x/menit - janin baik.
2. Keluar lendir S : 36,50C Evaluasi: Ibu sudah tau dan
bercampur darah 2. Pemeriksaan Khusus paham dengan informasi yang
dari kemaluan sejak a. Inspeksi diberikan
pukul 15.00 WIB Hasil pemeriksaan head
3. Ibu sudah BAB to toe dalam batas normal 23.13 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa
pada pukul 12.00 b. Palpasi WIB yang dirasakan ibu yaitu mules
WIB Leopold I : TFU berada di perut adalah hal yang wajar
4. Ibu sudah BAK pertengahan pusat dan karena ibu telah memasuki
pada pukul 22.30 prosesus xifoideus, teraba proses persalinan sehingga saat
WIB bokong janin adanya kontraksi kepala
5. HPHT : 03-06-2024 Leopold II : Pada perut ibu semakin memasuki rongga
6. TP: 10-03-2025 bagian kiri punggung janin. panggul yang menyebabkan
Leopold III : Pada bagian terjadinya penekanan didalam
bawah perut ibu teraba kepala panggul. Untuk menguranginya
janin, kepala janin sudah ibu dapat

131
masuk PAP menarik nafas dari hidung dan
Leopold IV : Divergen mengeluarkan secara perlahan
Perlimaan: 2/5 melalui mulut dan melakukan
Mc. Donald : 31 cm massase atau pijatan pada
TBJ : 3.100 gram pinggang ibu atau bisa juga
kompres dengan air hangat. Ibu
His : (+) bisa melakukan ini setiap ibu
Frekuensi : 4x dalam 10 menit merasakan nyeri atau pada saat
Durasi : 45 detik terjadi kontraksi.
Intensitas : Kuat Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan yang diberikan dan
c. Auskultasi sudah melakukannya pada saat
DJJ : (+) 150x/menit kontraksi.

d. Pemeriksaan Dalam 23.20 3. Memberikan dukungan


1) Atas indikasi : Inpartu WIB emosional, spiritual, serta
2) Dinding vagina : Tidak support kepada ibu dengan cara:
ada massa a. Mengikutsertakan suami
3) Portio : Menipis atau keluarga untuk
4) Pembukaan: 8 cm menemani dan
5) Ketuban : (+) mendampingi ibu.
6) Presentasi: Kepala b. Menganjurkan suami untuk
7) Posisi: UUK kiri depan mengusap pinggang ibu
8) Penurunan: Hodge III ketika ibu berkontraksi.
9) Penyusupan : 0 c. Meyakinkan ibu bahwa ibu
pasti bisa melewati proses
persalinan dengan selamat

132
133
dan menyarankan ibu untuk
selalu berdoa kepada allah
SWT
c. Menjelaskan kepada ibu
bahwa selama proses
persalinan bidan akan
senantiasa membantu dan
menenmani ibu sampai
persalinan berakhir
Evaluasi: Ibu bersemangat
untuk melalui proses persalinan
dan berdoa kepada Tuhan YME,
serta ibu terlihat tenang dengan
didampingi oleh suaminya.
Mengerti dan paham dengan
penjelasan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan

23.25 4. Menganjurkan ibu untuk


WIB mobilisasi dengan ibu bisa tidur
posisi miring kekiri
Evaluasi: ibu sudah tidur
dengan posisi miring kekiri

23.30 5. Memberi ibu makan dan minum


WIB disaat ibu merasa lapar dan haus
agar ibu tetap

134
135
bertenaga saat meneran
nantinya
Evaluasi: Ibu sudah makan
roti, buah, dan sudah minum 1
gelas teh hangat

23.35 6. Mengajarkan ibu teknik


WIB relaksasi, yaitu ibu bisa
menarik nafas dalam dari
hidung dan melepaskannya
secara perlahan dari mulut agar
ibu dapat rileks menghadapi
persalinan. Disamping itu
ajarkan suami atau keluarga
untuk mengusap lembut
pinggang ibu saat berkontraksi
Evaluasi: Ibu melakukannya
dan suami melakukan pijatan
pada pinggang ibu saat ibu
merasakan kontraksi

23.40 7. Memberitahu dan mengajarkan


WIB ibu posisi bersalin diantaranya:
posisi setengah duduk, posisi
dorsal recumbent, jongkok
serta mengajarkan ibu teknik

136
137
meneran yang benar yaitu ibu
meneran pada saat pembukaan
sudah lengkap dan saat ada
kontraksi saja dengan kedua
tangan berada dipangkal paha
dan ketika meneran dagu ibu
menumpu ke dada seperti
melihat anak lahir. Ketika his
sudah hilang ibu tidak usah
meneran, ibu dapat miring
kekiri.
Evaluasi: Ibu memilih posisi
dorsal recumbent saat bersalin,
ibu mengerti dengan teknik
meneran yang diajarkan

23.41 8. Persiapkan alat dan obat-obatan


WIB yang dibutuhkan saat
pertolongan persalinan
Evaluasi: alat dan obat sudah
disiapkan

138
139
00.00 9. Kemajuan persalinan telah
WIB dipantau yaitu DJJ dalam batas
normal, his semakin lama
semakin kuat, sering dan teratur
Evaluasi: pukul 00.00 WIB
ketuban pecah spontan
Warna : jernih
Bau : amis
Jumlah : ±200cc
Pembukaan :10 cm
Portio : tidak teraba
Ketuban : (-)
Presentasi : kepala
Posisi : UUK depan
Penyusupan : 0
Hodge : IV
HIS : 5x dalam 10
menit durasi 50
detik
DJJ : 149x/menit, kuat
dan teratur
Pemantauan telah tercatat pada
partograf dan segera lakukan
pertolongan persalinan.

140
141
Kala II
Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 00.02 1. Memberitahu ibu hasil
2025 Tanda-tanda vital: Ibu inpartu kala WIB pemeriksaan bahwa pembukaan
Pukul : 00.00 WIB TD : 130/80 mmHg II, keadaan sudah lengkap, ketuban sudah
N : 85x /menit umum ibu dan pecah dan sebentar lagi ibu akan
Ibu mengatakan : P : 22x /menit janin baik melahirkan dan ibu boleh
1. Mules yang S : 36,50C meneran jika ada kontraksi
dirasakan semakin 2. Pemeriksaan Kebidanan Evaluasi: Ibu mengerti dengan
sering dan semakin a. Palpasi hasil pemeriksaannya
kuat His: 5x dalam 10 menit
2. Ibu ingin meneran Durasi: 50 detik 00.05 2. Mengatur posisi ibu sesuai
Intensitas: kuat WIB dengan yang telah diajarkan
b. Auskultasi kepada ibu.
DJJ: 149x /menit Evaluasi: Posisi ibu sudah
c. Inspeksi: dengan posisi yang telah
Terlihat tanda-tanda kala diajarkan
II
1) Vulva dan anus 00.10 3. Membimbing ibu meneran disaat
membuka WIB his dan memberi pujian
2) Perinemum menonjol ibu saat meneran serta meminta
3) Adanya dorongan ibu beristirahat dan minum
meneran dari ibu disela-sela kontraksi.
d. Pemeriksaan dalam Evaluasi: ibu meneran disaat
1) Dinding vagina: tidak ada his saja
ada massa
2) Portio: tidak teraba 00.40 4. Melakukan pertolongan
3) Pembukaan: 10 cm WIB persalinan yaitu:
4) Ketuban: (-) a. Saat kepala sudah mulai

142
143
5) Presentasi: kepala crowning (5-6 cm) di depan
6) Posisi: UUK depan vulva, tangan kanan
7) Penyusupan: 0 melindungi perineum dan
8) Penurunan bagian tangan kiri memegang kassa
terendah: Hodge IV untuk menahan kepala bayi
dengan lembut tanpa
menghambat kepala bayi dan
membiarkan kepala keluar
secara perlahan agar tidak
terjadi defleksi maksimal.
b. Menganjurkan ibu untuk
menarik nafas secara
perlahan dari hidung dan
mengeluarkan kembali
melalui mulut ketika ingin
meneran, meneran pada saat
kontraksi saja
c. Membiarkan kepala janin
lahir secara maksimal, jika
sudah keluar kepala bayi
secara keseluruhan kemudian
mengusap mulut, hidung
mata dan seluruh muka
dengan kassa steril
d. Memeriksa adanya lilitan tali
pusat sambil menunggu
putaran paksi luar secara
spontan

144
e. Ketika bayi sudah
melakukan putaran paksi luar
secara spontan, lahirkan
bahu depan dan bahu
belakang dengan
memposisikan tangan secara
biparietal dengan mantap,
dengan lembut tuntun bahu
kebawah untuk mekahirkan
bahu depan dan tuntun ke
atas untuk melahirkan bahu
belakang. Setelah bahu
depan dan belakang lahir,
kemudian tangan yang di
bawah untuk menyanggah
kepala bayi sedangkan
tangan yang di atas
menelusuri dari lengan,
punggung, siku hingga
kearah kaki untuk
menyanggah saat punggung
dan kaki lahir (sanggah
susur)
f. Mengeringkan bayi sambil
melakukan penilaian sepintas
(warna kulit, denyut nadi,
refleks, tonus otot, dan
pernapasan)

145
146
Evaluasi: pukul 00.40 WIB,
bayi lahir spontan, menangis
kuat, tonus otot baik, kulit
kemerahan, jenis kelamin
perempuan, A/S: 8/9

00.41 5. Melakukan palpasi abdomen


WIB untuk memastikan tidak adanya
janin kedua
Evaluasi: Tidak ada janin kedua

KALA III
Tanggal : 07 Maret Bayi lahir spontan pukul 00.40 Diagnosa: 00.43 1. Memberitahu ibu bahwa ibu
2025 WIB, jenis kelamin perempuan, Ibu parturien kala WIB akan disuntikkan oksitosin guna
Pukul : 00.40 WIB menangis kuat, bergerak aktif, III, keadaan membantu pengeluaran plasenta
Ibu mengatakan: warna kulit kemerahan. umum ibu baik dan menginjeksi oksitosin 10 IU
1. Senang atas secara IM
kelahiran bayinya TFU : setinggi pusat Masalah: Evaluasi: Oksitosin telah
2. Perutnya terasa Kontraksi uterus : Baik Perutnya terasa diinjeksikan, kontraksi ibu baik
mules Kandung kemih : tidak teraba mules
Perdarahan : ± 150 cc 00.45 2. Melakukan pemotongan tali
Plasenta belum lahir WIB pusat dengan cara memasang
klem pertama dengan jarak 3-5
cm dari pangkal tali pusat
kemudian mengurut ke arah
maternal dan memasang klem
kedua dengan jarak 2-3 cm dari
klem pertama, setelah itu

147
memotong tali pusat di antara
dua klem dengan posisi tangan
melindungi tubuh bayi.
Kemudian mengikat tali pusat,
lalu keringkan bayi
Evaluasi: Tali pusat bayi sudah
dipotong dan diikat dan bayi
sudah dikeringkan.
00.47
WIB 3. Melakukan IMD dengan cara
meletakkan bayi diatas perut ibu
dan bayi diselimuti agar terjadi
kontak antara kulit bayi dengan
kulit ibu. Bayi diposisikan
telungkup diatas perut ibu
dengan tetap membebaskan jalan
napas bayi, biarkan bayi mencari
puting susu ibu sendiri. Posisi
tangan ibu memeluk bayi dari
dalam dan suami membantu
memegang bayi dari luar.
Evaluasi: Bayi telah dilakukan
IMD
00.50
WIB 4. Melakukan PTT (Peregangan
Tali pusat Terkendali) dengan
meletakkan tangan kiri diatas

148
supra pubis dengan posisi dorso

149
cranial dan tangan kanan
memegang tali pusat sejajar
lantai secara terkendali, lalu
amati tanda-tanda pelepasan
plasenta yaitu:
a. Keluar darah secara
mendadak
b. Tali pusat memanjang
c. Perut ibu teraba globular
Evaluasi: Sudah ada tanda-tanda
pelepasan plasenta, dan lakukan
tindakan untuk melahirkan
plasenta

00.51 5. Membantu kelahiran plasenta


WIB dengan cara:
a. Tangan kiri diperut ibu
secara dorso kranial dan
tangan kanan melakukan
PTT
b. Setelah itu bantu lahirkan
plasenta ke arah bawah
sesuai jalan lahir ibu
c. Apabila tali pusat
bertambah panjang
pindahkan klem 5-10 cm
didepan vulva sambil tali
pusat diurut

150
151
d. Setelah plasenta berada
didepan vulva, pegang
plasenta dengan kedua
tangan, lakukan putaran
searah dan letakkan
plasenta di piring plasenta
Evaluasi: Plasenta lahir
spontan pukul 00.45 WIB

00.52 6. Melakukan massase fundus


WIB uteri selama 15 detik searah
jarum jam
Evaluasi: kontraksi uterus
baik
00.54
WIB 7. Memeriksa kelengkapan
plasenta
Evaluasi: plasenta lahir
lengkap, spontan, selaput utuh,
panjang tali pusat ±50 cm,
terdapat 18 kotiledon

152
KALA IV Plasenta lahir lengkap pukul Diagnosa: 00.56
Tanggal : 07 Maret 00.50 WIB Ibu parturien kala WIB 1. Memeriksa laserasi jalan lahir
2025 IV, keadaan Evaluasi: ada laserasi jalan
Pukul : 00.55 WIB Kontraksi uterus: Baik umum ibu baik lahir derajat 2 dan sudah
Ibu mengatakan: TFU : 2 jari dibawah pusat dijahit
1. Sangat senang telah Kandung kemih: tidak teraba 00.57
melewati proses Perdarahan : ±150 cc WIB 2. Membersihkan tempat tidur
persalinan dengan air klorin 0,5% dan
2. Badan sedikit lemas membersihkan ibu dengan air
telah melewati DTT, membantu ibu
proses persalinan memasangkan pembalut, gurita
dan mengganti pakaian ibu
dengan pakaian yang bersih
Evaluasi: tempat tidur sudah
dibersihkan dan pakaian ibu
sudah diganti
00.58
WIB 3. Mengajarkan suami dan
keluarga untuk melakukan
masase fundus uteri dan
Memeriksa kontraksi uterus
dengan melakukan gerakan
melingkar searah jarum jam
agar uterus tetap berkontraksi
dengan baik
Evaluasi: suami sudah
melakukn anjuran yang
diberikan

153
01.10
WIB 4. Melakukan pengawasan kala
IV setiap 15 menit pada 1 jam
pertama dan setiap 30 menit
pada 1 jam kedua
Evaluasi: pemantauan kala IV
telah dilakukan dan terlampir
di partograf
01.15
WIB 5. Menganjurkan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
dan hidrasi ibu untuk
memulihkan kembali tenaga
ibu.
Evaluasi : ibu makan beberapa
suap nasi dan minum segelas
air putih di tambah dengan jus
alpukat
01.20
WIB 6. Memberikan ibu Vit A
200.000 unit sebanyak 2 kali,
yaitu pada kala IV dan
sebelum 24 jam
Evaluasi: Ibu sudah meminum
vit A yang di berikan

154
01.22 7. Menganjurkan ibu beristirahat
WIB untuk memulihkan kondisi
ibu.
Evaluasi: ibu beristirahat
diatas tempat tidur.

01.24 8. Memberikan salaf mata pada


WIB bayi agar bayi terhindar dari
infeksi.
Evaluasi: salaf mata
chloramphenicol 1% sudah
diberikan pada mata kanan
dan kiri bayi

01.27 9. Memberikan vit K 0,5 cc


WIB secara IM di 1/3 paha kiri atas
bagian luar yang bertujuan
untuk pencegahan perdarahan
pada bayi baru lahir.
Evaluasi: vitamin K sudah
diberikan kepada bayi

155
TABEL 4.4 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 7 JAM POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan kepada ibu
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 7 jam WIB tentang hasil pemeriksaan yang
Pukul : 08.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, telah dilakukan bahwa keadaan ibu
c. Tanda-tanda vital Keadaan baik
Ibu mengatakan: d. TD : 121/80 mmHg umum ibu Evaluasi: Ibu merasa senang
1. Senang atas N : 80 x/menit baik. dengan hasil pemeriksaan yang
kelahiran bayinya P : 20 x/menit disampaikan.
2. Sudah menyusui S : 36,50C Masalah:
bayinya tapi ASI Perut masih 08.08 2. Menganjurkan ibu untuk makan
yang keluar masih 2. Pemeriksaan Khusus terasa nyeri WIB yang mengandung karbohidrat
sedikit a. Inspeksi (seperti nasi makanan pokok),
3. Perut masih terasa 1) Hasil pemeriksaan protein hewani (ikan, telur, ayam,
mulas head to toe dalam dan lainnya) protein nabati, (tempe,
4. Ada darah yang batas normal tahu, dan lainnya) sayur dan buah-
keluar dari 2) Pengeluaran buahan dan minum air putih 14
kemaluan tapi tidak pervaginam: lochea gelas/hari di 6 bulan pertama dan
banyak rubra 12 gelas/hari di 6 bulan kedua
5. Sudah BAK ke 3) Jumlah: 3x ganti Evaluasi: ibu sudah makan 2
kamar mandi pembalut sendok nasi + 1 potong ikan dan
6. Ibu sudah b. Palpasi minum 2 gelas teh hangat
beristirahat 1) Kontraksi: baik
7. Ibu sudah makan 2 2) TFU: 2 jari dibawah 08.10 3. Menjelaskan kepada ibu bahwa
sendok nasi + 1 pusat WIB perutnya masih terasa nyeri yang
ibu rasakan adalah hal yang normal.

156
potong ikan + 2 3) Kandung kemih: tidak Nyeri perut yang dirasakan ibu
gelas air teh hangat teraba disebabkan karena adanya kontraksi
4) Tanda homan: (-) otot rahim sebagai proses
5) Banyak lochea : kembalinya rahim ke keadaan
±25cc semula dan ibu tidak perlu cemas.
Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan yang disampaikan

08.12 4. Mengingatkan kembali pada ibu


WIB untuk mengkonsumsi obat yang
sudah diberikan.
Evaluasi: ibu sudah meminum obat
yang diberikan.

08.15 5. Mengecek perdarahan dengan


WIB melihat pembalut ibu,
memberitahukan pada ibu dan
keluarga untuk mengontrol
perdarahan
Evaluasi: Perdarahan ibu ±25cc,
ibu dan keluarga mengerti dan
bersedia melaporkan pada bidan
jika merasakan hal tersebut.

08.18 6. Membantu ibu membersihkan


WIB dirinya dengan mandi supaya ibu
merasa lebih nyaman

157
Evaluasi: ibu sudah mandi, sudah
berganti pakaian dan ibu merasa
lebih nyaman

08.20 7. Menjelaskan pada ibu dan keluarga


WIB bahwa ASI sedikit pada hari
pertama dan kedua adalah hal yang
normal, ibu harus sering menyusui
bayinya sehingga ada rangsangan
untuk memproduksi, serta
mengajarkan kepada ibu mengenai
teknik menyusui yang baik dan
benar.
Evaluasi: Ibu paham dan mengerti
dan akan menyusui bayinya
sesering mungkin dan telah
mencoba melakukan teknik
menyusui bayi yang baik dan benar

08.22 8. Memberikan dukungan psikologis


WIB dan support kepada ibu dengan
melibatkan peran suami.
Menganjurkan pada suami dan
keluarga untuk lebih
memperhatikan ibu karena ibu
sangat butuh perhatian dan
didengarkan serta membantu
menjaga bayi saat ibu beristirahat.

158
Eavaluasi: suami dan keluarga ikut
berperan dalam memberikan
dukungan psikologis pada ibu.

08.25 9. Menganjurkan ibu untuk melakukan


WIB mobilisasi dini yang berguna
melatih otot- otot tubuh agar
kembali pulih dan latihan
pernafasan untuk ibu nifas caranya:
Gerakan 1:
a. Posisi baring terlentang lutut
ditekuk, letakkan satu tangan di
perut bagian atas dan satu
tangan di dada.
b. Tarik napas dalam-dalam
melalui hidung, rasakan perut
mengembang (bukan dada).
c. Tahan sebentar, lalu
hembuskan napas perlahan
melalui mulut, kencangkan otot
perut untuk membantu
mengeluarkan udara.
d. Ulangi gerakan
ini beberapa kali.
Evaluasi: ibu sudah melakukan
mobilisasi dini dengan sudah duduk
di tempat tidur dan sudah berjalan
ke kamar mandi dibantu oleh suami

159
dan sudah melakukan latihan
pernafasan

08.27 10. Melakukan kontak waktu dengan


WIB ibu bahwa akan dilakukan
kunjungan rumah yaitu 11 Maret
2025 atau ibu bisa datang ke
fasilitas kesehatan dan
menghubungi tenaga kesehatan bila
ada keluhan
Evaluasi: Ibu paham dan bersedia
untuk dilakukan kunjungan rumah

160
TABEL 4.5 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 4 HARI POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Tanggal : 11 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnos: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 4 hari WIB pemeriksaan kepada ibu bahwa
Pukul : 08.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, keadaan umum ibu baik.
c. Tanda-tanda vital Keadaan Evaluasi: Ibu senang dengan hasil
Ibu mengatakan: TD : 110/70 umum ibu pemeriksaan
1. ASI nya sudah mmHg N : 80 baik
mulai banyak, bayi x/menit 08.08 2. Menganjurkan ibu untuk istirahat
kuat menyusu P : 20 Masalah: WIB yang cukup agar tidak mengalami
2. Pengeluaran dari x/menit S Sedikit pusing, kelelahan yang berlebihan, ibu
kemaluannya sudah : 36,50C kurang tidak boleh terlalu capek dan
berkurang dan istirahat, kurang istirahat karena berpengaruh
berwarna merah 2. Pemeriksaan Khusus kurang tidur pada produksi ASI dan involusi
kekuningan a. Inspeksi uterus. Waktu istirahat ibu yang
3. Tidak ada keluhan Hasil pemeriksaan head tepat adalah ketika bayi tidur ibu
to toe dalam batas normal juga tidur, sehingga ketika bayi
b. Palpasi hendak menyusui ibu tidak merasa
1) TFU: lelah dan mengantuk.
pertengahan pusat Evaluasi: Ibu paham dengan
dan simpisis penjelasan yang diberikan.
2) Kandung kemih:
tidak teraba
3) Tanda homan: (-)
c. Pemeriksaan khusus

161
1) Pengeluaran
pervaginam:
lochea

162
sanguinolenta 08.13 3. Memberikan edukasi kepada ibu
2) Jumlah: 2x WIB untuk meningkatkan nutrisi ibu
ganti selama menyusui agar menunjang
pembalut/hari produksi ASI serta meningkatkan
3) Banyak lochea: ± 10cc tenaga ibu, ibu harus banyak
mengkonsumasi makanan yang
mengandung karbohidrat, protein,
makanan berserat, buah-buahan
serta sayur-sayuran.
Evaluasi: Ibu paham dan mnegerti
atas penjelasan yang diberikan,
serta ibu mau mengikuti saran yang
diberikan

08.18 4. Mengajarkan kepada ibu teknik


WIB menyusui yang benar dan
memotivasi ibu untuk tetap
memberikan bayinya ASI saja
sampai umur 6 bulan tanpa
makanan selingan.
Evaluasi: Ibu mengerti tentang
teknik menyusui yang benar yang
telah diajarkan dan ibu langsung
bisa mempraktekkannya, serta ibu
akan menyusui bayinya sampai
bayinya berusia 6 bulan tanpa
makanan selingan.

163
164
08.23 5. Mengingatkan ibu untuk menjaga
WIB kebersihan, yaitu:
a. Sering mengganti pembalut
jika sudah penuh
b. Cuci kemaluan dari depan ke
belakang
c. Mandi minimal 2x sehari
d. Merawat payudara sengan
membersihkan dengan air
hangat bukan sabun dan
biarkan kering
Evaluasi: ibu mengerti dengan
personal hygiene yang baik dan ibu
akan melakukan cara tersebut

08.28 6. Menganjurkan ibu untuk menyusui


WIB bayinya sesering mungkin dan
memotivasi ibu untuk memberikan
ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa
memberikan susu formula atau
makanan lainnya dan menjelaskan
manfaat ASI, yaitu:
a. ASI merupakan makanan
terbaik bagi bayi
b. Mengandung zat gizi
c. Sebagai antibodi
d. Menjalin kasih sayang antara
ibu dan bayi

165
166
e. Mencegah perdarahan pada ibu
nifas
f. Hemat biaya dan praktis
Evaluasi: Ibu bersedia
memberikan ASI saja sampai bayi
berusia 6 bulan.

08.33 7. Menginformasikan kepada ibu


WIB bahwa ada beberapa gerakan yang
dapat membantu otot- otot panggul
dan perut kembali normal, ibu
dapat melakukan sesuai
kemampuan ibu secara bertahap:
a. Gerakan 2 : Ibu tidur terlentang
dan kedua tangan direntangkan
dan 1 tangan di depan dada
lakukan secara bergantian
b. Gerakan 3 : Ibu tidur terlentang,
kedua kaki ditekuk kemudian
panggul diangkat.
Evaluasi: Ibu paham tentang
senam nifas dan sudah mampu
sampai gerakan ke 3.

08.38 8. Memberitahu pada ibu tanda- tanda


WIB bahaya masa nifas
a. Demam lebih dari 2 hari
b. Pengeluaran dari kemaluan

167
168
yang berbau busuk
c. Perdarahan lewat jalan lahir
Ibu terlihat sedih, murung dan
menangis tanpa sebab (depresi)
d. Payudara bengkak, merah
disertai rasa sakit
e. Nyeri ulu hati, mual muntah,
sakit, pandangan kabur, kejang
dengan atau tanpa bengkak
pada kaki, tangan dan wajah.
Evaluasi: Ibu paham dan dapat
mengulangi tanda bahaya yang
harus diwaspadainya

08.40 9. Menganjurkan ibu untuk makan


WIB yang mengandung karbohidrat
(seperti nasi makanan pokok),
protein hewani (ikan, telur, ayam,
dan lainnya) protein nabati, (tempe,
tahu, dan lainnya) sayur dan buah-
buahan dan minum air putih 14
gelas/hari di 6 bulan pertama dan
12 gelas/hari di 6 bulan kedua
Evaluasi: ibu paham dan mengerti
atas penejelasan yang diberikan
serta mau mengikuti saran yang
diberikan

169
170
08.43 10. Menginformasikan ibu untuk
WIB melakukan kunjungan rumah pada
tanggal 27 Maret 2025 dan apabila
ada keluhan bisa datang ke fasilitas
kesehatan.
Evaluasi: Ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang dan apabila ada
keluhan ibu akan datang ke fasilitas
kesehatan

171
TABEL 4.6 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 20 HARI POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Tanggal : 27 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 09.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 20 hari WIB pemeriksaan kepada ibu bahwa
Pukul : 09.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, keadaan umum ibu baik, tanda vital
c. Tanda-tanda vital keadaan umum dalam batas normal
Ibu mengatakan: TD : 110/70 ibu baik Evaluasi: Ibu senang dengan hasil
1. Anak kuat ASI mmHg N : 80 pemeriksaan
2. Pengeluaran dari x/menit
kemaluan berwarna P : 20 09.08 2. Mengingatkan ibu untuk selalu
putih x/menit S WIB memenuhi kebutuhan nutrisi selama
: 36,50C menyusui agar menunjang produksi
ASI serta meningkatkan tenaga, ibu
2. Pemeriksaan Khusus harus benyak mengkonsumsi
a. Inspeksi makanan yang mengandung
Hasil pemeriksaan head karbohidrat, protein, makanan
to toe dalam batas normal berserat, buah-buahan serta sayur-
b. Palpasi sayuran.
1) TFU: tidak teraba Evaluasi: ibu paham dan mengerti
2) Kandung kemih: atas penjelasan yang diberikan serta
tidak teraba ibu mau mengikuti saran yang
3) Diastasis recti: normal diberikan.
c. Pemeriksaan khusus
1) Pengeluaran
pervaginam:

172
lochea alba ±2 cc

173
09.13 3. Menginformasikan kepada ibu
WIB bahwa ada beberapa gearakan yang
dapat membantu otot- otot panggul
dan perut kembali normal, ibu
dapat melakukan sesuai
kemampuan ibu secara bertahap:
a. Gerakan 4 : Ibu tidur terlentang
dan kedua kaki ditekuk, letakkan
tangan kanan diatas perut
kemudian angkat panggul dan
kepala secara bersamaan.
b. Gerakan 5: Tidur terlentang,
tekuk kaki secara bergantian
sambil dijinjit
Evaluasi: Ibu paham tentang
senam nifas dan sudah mampu dari
gerakan ke-1 sampai gerakan ke-5.

09.18 4. Mengingatkan kembali ibu untuk


WIB tetap menyusui bayinya sesering
mungkin dan memotivasi ibu untuk
memberikan ASI Eksklusif selama
6 bulan tanpa memberikan
makanan apa pun dan menjelaskan
manfaat ASI bagi bayinya:
a. ASI merupakan makanan yang
terbaik untuk bayi.
b. Mengandung zat gizi.

174
175
c. Sebagai antibodi
d. Mencegah perdarahan bagi ibu
e. Menjalin kasih sayang antara ibu
dan bayi.
Evaluasi: ibu bersedia memberikan
ASI saja selama 6 bulan

09.23 5. Mengingatkan ibu tentang alat


WIB kontrasepsi yang akan ibu gunakan
setelah pasca persalinan dan
menyarankan ibu untuk
menggunakan metode kontrasepsi
jangka panjang. Macam-macam
alat kontrasepsi yang bisa
digunakan ibu menyusui yaitu:
suntik 3 bulan, mini pil
progesterone, implant dan IUD
Evaluasi: ibu mengerti dengan dan
ibu mau memasang KB IUD yang
sudah didiskusiakan dengan
suaminya.

09.25 6. Memberitahu ibu untuk melakukan


WIB kunjungan pada fasilitas kesehatan
apabila ada keluhan.
Evaluasi: ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang apabila ada
keluhan.

176
177
178

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR 7 JAM NORMAL DI


PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK

Tanggal : 07 Maret 2025

Pukul : 08.00 WIB

I. PENGUMPULAN DATA
A. Identitas/Biodata
Nama bayi : By. Ny. R
Umur bayi : 7 Jam
Tgl/jam lahir : 07 Maret 2025/ 00.40 WIB
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke- : 3 (Ketiga)
(Istri) (Suami)

Nama : Ny . R / Tn. D

Umur : 31 Tahun / 41 Tahun

Suku/Bangsa : Minang/Indonesia / Minang/Indonesia

Agama : Islam / Islam

Pendidikan : SMA / SD

Pekerjaan : IRT / Buruh Tani

Alamat : Rangeh

Nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi : Tn. D


Hubungan dengan ibu : Suami
Alamat : Rangeh
No Telp/Hp : 0812xxxx xxxx

B. Data Subjektif
1. Riwayat ANC G3P2A0H2
ANC kemana : Puskesmas dan PMB
Berapa kali : 6 kali
179

Keluhan saat hamil : Mual muntah, sakit pinggang


Penyakit selama hamil : Tidak Ada

2. Kebiasaan waktu hamil


Makanan : Tidak Ada
Obat-obatan : Tidak Ada
Jamu : Tidak Ada
Kebiasaan merokok : Tidak Ada
Lain-lain : Tidak Ada

3. Riwayat INC
Lahir tanggal : 07 Maret 2025
Jenis persalinan : Spontan
Ditolong oleh : Peneliti dan didampingi oleh bidan
a. Lama persalinan
Kala I : 1 jam
Kala II : 40 menit
Kala III : 5 menit
b. Ketuban pecah
Pukul : 00.00 WIB
Bau : Amis
Warna : Jernih
Jumlah : ± 200 cc
c. Komplikasi persalinan
Ibu : Tidak Ada
Bayi : Tidak Ada

Keadaan bayi baru lahir


BB/PB lahir : 2.840 gram/48 cm
Menangis kuat : Iya
Frekuensi kuat : Kuat
Usaha bernafas : Baik
Tonus otot : Baik
Warna kulit : Kemerahan
180

C. Data Objektif (Pemeriksaan Fisik)


1. Pemeriksaan Umum
Pernafasan : 48 x/menit
Suhu : 36,7 ℃
Nadi : 148 x/menit
Gerakan : Aktif
Warna kulit : Kemerahan
BB sekarang : 2.840 gram

2. Pemeriksaan Khusus
Kepala : Ubun-ubun datar, tidak ada caput succedaneum,
tidak ada cephal hematoma
Muka : Kemerahan, tidak ada kelainan
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
Telinga : Simetris, ada lubang dan daun telinga, sejajar
dengan mata dan tidak ada kelainan
Mulut : Bibir dan langit-langit normal, tidak ada
labioschiziz, tidak ada palatoschiziz dan tidak ada
labiopalatoschiziz
Hidung : Ada dua lubang hidung dan ada sekat diantara
lubang hidung.
Leher : Tidak ada pembengkakan
Dada : Simetris kiri dan kanan, ada puting susu dan tidak
ada tarikan dinding dada saat bernapas
Tali pusat : Tidak ada perdarahan, tidak berbau Punggung
: Datar, tidak ada kelainan Ekstremitas
Atas : Jari-jari lengkap, gerakan aktif, tidak ada sindaktili,
tidak ada polidaktili dan tidak ada sianosis
Bawah : Jari-jari lengkap, gerakan aktif, tidak ada sindaktili,
tidak ada polidaktili dan tidak ada sianosis
Genetalia
Perempuan : Labia mayora sudah menutupi labia minora.
Anus : Positif (+)
181

3. Refleks
Refleks moro : Positif
Refleks rooting : Positif
Refleks sucking : Positif
Refleks swallowing : Positif
Refleks graph : Positif

4. Antropometri
Berat badan : 2.840 gram
Panjang badan : 48 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 36 cm
Lingkar Lila : 11 cm

5. Eliminasi
Miksi : Ada
Mekonium : Ada
TABEL 4.7 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 7 JAM NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi baru WIB pemeriksaan pada ibu dan keluarga,
Pukul : 08.00 WIB b. Tanda-tanda vital lahir usia 7 bahwa keadaan umum bayi dalam
N : 47 x/menit jam, keadaan batas normal.
Ibu mengatakan: P : 146 x/menit umum bayi Evaluasi: Ibu dan keluarga sudah
1. Bayi sudah BAK S : 36,80C baik tau dan merasa senang dengan hasil
dan BAB c. Gerakan: aktif informasi yang telah disampaikan.
2. Bayi sudah d. Warna kulit: kemerahan
menyusu 08.08 2. Memberitahu ibu agar memenuhi
3. Bayi belum 2. Pemeriksaan Khusus WIB kebutuhan kebersihan bayi dan rasa
dimandikan a. Inspeksi aman bayi
1) Hasil pemeriksaan a. Menganjurkan ibu untuk
head to toe dalam mencuci tangan sebelum
batas normal memegang bayi untuk
2) Tali pusat bersih dan mencegah infeksi
tidak ada tanda-tanda b. Mandikan bayi dengan air
infeksi suam-suam kuku
b. Antropometri c. Ganti popok atau kain bayi
1) BB: 2840 gram setiap kali basah
2) PB: 48 cm d. Gunakanlah kain yang lembut
3) LK: 34 cm dan menyerap keringat
4) LD: 36 cm e. Jangan meninggalkan bayi
5) Lila: 11 cm sendiri.

182
c. Refleks: Evaluasi: ibu mengerti dan akan
1) Reflek Moro: (+) melaksanakan sesuai dengan apa
2) Reflek rooting: (+) yang dijelaskan
3) Reflek sucking: (+)
4) Reflek swallowing: 08.13 3. Mengajarkan pada ibu cara
(+) WIB memandikan bayi
5) Reflek graph: (+) Evaluasi: bayi sudah dimandikan
d. Eliminasi
1) Miksi: Ada 08.20 4. Menginformasikan pada ibu bahwa
2) Mekonium: Ada WIB bayi akan diinjeksikan Hb0 yang
bertujuan agar bayi tidak terinfeksi
penyakit hepatitis.
Evaluasi: ibu setuju dan bayi
sudah diinjeksikan Hb0

08.23 5. Memberikan pendidikan kesehatan


WIB perawatan tali pusat serta
mengajarkan ibu cara perawatan
tali pusat yang benar.
a. Menjaga tali pusat tetap bersih
dan kering
b. Jangan bubuhkan obat- obatan,
ramuan, betadine, maupun
alkohol pada tali pusat.
c. Biarkan tali pusat tetap terbuka.
d. Lipat popok dibawah tali pusat
Evaluasi: Tali pusat sudah
dibersihkan dan ibu paham cara

183
perawatan tali pusat yang benar.

08.25 6. Memberitahu ibu untuk selalu


WIB menjaga kehangatan bayi dengan
cara memakaikan bayi pakaian
yang hangat, topi dan bedong.
Letakkan bayi di tempat yang
bersih, kering, aman dan hangat dan
jangan biarkan bayi terpapar udara
yang dingin, gantilah popok bayi
segera mungkin apabila bayi BAB/
BAK. Bayi selalu berada di dekat
ibu.
Evaluasi: ibu mengerti dengan
penjelasan yang di berikan.
Bayi sudah dibedong dan berada
dalam dekapan ibunya
08.27
WIB 7. Menjelaskan kepada ibu tanda
bahaya pada bayi baru lahir, yaitu:
a. Bayi tampak lemah, tidak mau
menyusu
b. Bayi tidak BAB 24 jam pertama
b. Tali pusat berbau busuk atau
keluar nanah
c. Suhu tubuh bayi dibawah 36,5 0
C atau diatas 37,5 0 C
d. Bagian yang berwarna putih pada

184
mata berubah menjadi warna
kuning atau warna kulit juga
tampak kekuningan.
Bila ibu menemukan salah satu
tanda diatas, segera bawa bayi ke
pelayanan kesehatan.
Evaluasi: ibu mengerti dan dapat
menyebutkan kembali tanda bahaya
bayi baru lahir.
08.30
WIB 8. Menginformasikan kepada ibu
untuk melakukan kunjungan ulang
pada tanggal 11 Maret 2025 atau
jika bayi ada keluhan.
Evaluasi: Ibu bersedia untuk
kunjungan ulang pada tanggal 11
Maret 2025 atau jika bayi ada
keluhan.

185
TABEL 4.8 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 4 HARI NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 11 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi usia 4 hari, WIB pemeriksaan bayi kepada ibu dan
Pukul : 08.00 WIB b. Tanda-tanda vital keadaan umum keluarga bahwa keadaan umum
N : 46 x/menit bayi baik bayi baik, serta tidak ada masalah
Ibu mengatakan: P : 147 x/menit atau kelainan pada bayi.
1. Bayi aktif menyusu S : 36,7 0 C Evaluasi: ibu dan keluarga
dan air susu ibu c. BB Sekarang: 2.740 gram mengetahui hasil pemeriksaan yang
mulai banyak d. PB: 48 cm dilakukan.
2. Tali pusat bayi
sudah kering 2. Pemeriksaan Khusus 08.08 2. Menjelaskan kepada ibu tanda bayi
tapi belum lepas a. Inspeksi WIB sudah cukup ASI, yaitu:
1) Hasil pemeriksaan a. Bayi tidak rewel
head to toe dalam b. Bayi menyusui minimal 10
batas normal kali dalam waktu 24 jam.
2) Tali pusat sudah c. Lama waktu menyusui: 20- 45
kering tapi belum menit
lepas, pada tali pusat d. Bayi tidur nyenyak
tidak ada tanda- e. BAK kurang lebih 6 kali
tanda infeksi sehari
f. Mata bayi tidak terlihat kuning
g. Adanya kenaikan berat badan.
Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan mengenai tanda- tanda
bayi sudah cukup ASI.

186
08.13 3. Mengingatkan kembali kepada ibu
WIB agar memenuhi kebutuhan
kebersihan bayi:
a. Selalu memandikan bayi
minimal 2 kali sehari dengan
air suam-suam kuku.
b. Ganti popok atau kain bayi
setiap kali basah.
c. Gunakanlah kain yang lembut
dan menyerap keringat.
d. Menganjurkan ibu untuk
mencuci tangan sebelum
memegang bayi untuk
mencegah infeksi.
Evaluasi: Ibu mengerti dan akan
melaksanakan sesuai dengan apa
yang dijelaskan.

08.18 4. Mengevaluasi dan mengingatkan


WIB teknik menyusui yang benar kepada
ibu dengan meminta ibu untuk
menyusui bayinya.
a. Pastikan ibu duduk dengan
nyaman, jika dikursi, usahakan
kaki menapak ke lantai, beri
sanggahan jika kaki tidak
sampai kelantai.
b. Bersihkan payudara bagian

187
puting hingga areola dengan
menggunakan kassa dengan air
yang masak.
c. Lalu keluarkan ASI sedikit dan
oleskan hingga ke bagian
areola.
d. Ambil bayi lalu letakkan kepala
bayi pada lekukkan siku bagian
dalam, usahakan perut bayi
menempel pada perut ibu.
e. Ambil payudara ibu dengan
cara menggenggam membentuk
huruf C dan dekatkan ke pipi,
jika mulut terbuka maka
masukkan seluruh puting
sampai ke areola pada mulut
bayi.
f. Lalu tangan yang satu
memegang bokongTatap bayi
dan ajak bayi bicara.
g. Susukan pada kedua belah
payudara
h. Jika bayi sudah kenyang dan
mengantuk, buka mulut bayi
dengan cara memasukkan jari
kelingking pada ujung sudut
mulut bayi atau memegang
dagu bayi sehingga mulut bayi

188
terbuka.
Evaluasi: Ibu sudah menyusui
bayi dengan benar.
08.23
WIB 5. Menganjurkan ibu untuk ke PMB,
posyandu atau puskesmas untuk
menimbang berat badan bayi setiap
bulannya dan untuk mendapatkan
imunisasi dasar lengkap.
Evaluasi: ibu bersedia ke
PMB, posyandu atau
08.23 puskesmas
WIB
6. Menganjurkan ibu untuk kunjungan
ulang ketiga pada tanggal 27 Maret
2025 atau jika bayi ada keluhan.
Evaluasi: Ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang pada tanggal 27
Maret 2024 atau jika bayi ada
keluhan

189
TABEL 4.9 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 20 HARI NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025

Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf


Tanggal : 27 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 09.05 1. Menginformasikan kepada ibu hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi usia 20 WIB pemeriksaan yang telah dilakukan
Pukul : 09.00 WIB b. Tanda-tanda vital hari, keadaan kepada ibu bahwa bayi dalam
N : 47 x/menit umum bayi baik keadaan baik.
Ibu mengatakan: P : 147 x/menit N : 147 x/menit
1. Bayi aktif menyusu S : 36,7 0 C P : 47 x/menit
dan air susu ibu c. BB Sekarang: 2.850 gram S : 36,7 0 C
mulai banyak d. PB: 48 cm BB : 2.850 gram
2. Bayi sudah mulai Evaluasi: ibu mengerti dengan
aktif bergerak dan 2. Pemeriksaan Khusus hasil pemeriksaan.
tidak mau lagi a. Inspeksi
dibedong 1) Hasil pemeriksaan 09.08 2. Mengevaluasi menyusui ibu,
3. Tali pusat bayi head to toe dalam WIB apakah ibu masih memberikan ASI
sudah lepas batas normal eksklusif kepada bayinya dan
tanggal 12 Maret 2) Tali pusat sudah lepas apakah ibu memberikan ASI secara
2025 dan tidak ada tanda- on demand kepada bayinya yaitu
tanda infeksi pada sesuai kebutuhan bayinya
penanaman tali pusat Evaluasi: Ibu masih memberikan
bayi. ASI Eksklusif kepada bayinya dan
memberikan ASI secara on demand.

190
09.13 3. Mengevaluasi pengetahuan ibu
WIB mengenai tanda bayi puas menyusu
Evaluasi: ibu dapat menyebutkan
tanda bayi puas menyusu dan ibu
sudah memahami seperti apa bayi
yang dikatakan puas menyusu, yang
dapat dilihat dengan pertambahan
berat badan bayi ibu sebesar 110
gram

09.18 4. Memberitahukan kepada ibu


WIB mengenai macam-macam
imunisasi, manfaat, kapan waktu
pemberiannya dan efek samping
setelah pemberian imunisasi.
Mengingatkan ibu untuk membawa
bayinya ke posyandu nanti waktu
umur bayi 1 bulan, untuk
mendapatkan imunisasi BCG dan
polio1
Evaluasi: Ibu telah mengerti
dengan penjelasan yang diberikan
dan mengatakan akan selalu
membawa bayinya ke posyandu
untuk mendapatkan imunisasi dasar
lengkap.

191
09.23 5. Memberitahukan ibu untuk selalu
WIB memeriksaan tumbuh kembang
bayinya ke posyandu setiap bulan
dan membawa bayinya ketenaga
kesehatan jika ibu memiliki
keluhan dengan keadaan bayinya
Evaluasi: ibu mengerti dengan
anjuran bidan

09.25 6. Menganjurkan ibu untuk


WIB mendatangi tenaga kesehatan
apabila ada keluhan pada bayinya
Evaluasi: ibu bersedia untuk
melakukan kunjungan ulang bila
ada keluhan

192
193

15. Pembahasan

Studi kasus asuhan kebidanan berkesinambungan pada ibu hamil, bersalin,

bayi baru lahir dan nifas di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Zainab Efendi,

Amd. Keb telah dilakukan pada Ny. “R” usia 31 tahun dengan G 3P2A0H2.

Pasien dalam studi kasus ini telah diberikan asuhan berkesinambungan sejak

usia kehamilan 36-37 minggu sampai dengan usia bayi 20 hari. Asuhan dan

kunjungan mulai dilakukan pada tanggal 10 Februari 2025 dan berakhir pada

12 April 2025 di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb di Nagari Saok Laweh,

Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Pada BAB

ini peneliti akan menyajikan pembahasan dengan membandingkan antara

konsep teoritis kebidanan dengan asuhan yang diberikan kepada Ny. “R” usia

31 tahun G3P2A0H2 dengan HPHT 03 Juni 2024.

1. Kehamilan

Dalam melakukan pelayanan antenatal diupayakan memenuhi standar

pelayanan kebidanan yaitu 14T yaitu timbang berat badan dan ukur tinggi

badan, mengukur tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri (TFU),

Imunisasi Tetanus Toxoid, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet

selama kehamilan, pemeriksaan Hb, pemeriksaan protein urin,

pemeriksaan reduksi urin, perawatan payudara dan tekan payudara,

pemeliharaan tingkat kebugaran/senam hamil, tes VDRL/ penyakit

menular seksual, temu wicara, terapi yodium, terapi obat malaria termasuk

perencanaan persalinan pencegahan komplikasi (P4K) serta KB pasca

persalinan.
Menurut teori kujungan ANC sebaiknya dilakukan minimal sebanyak

6 kali selama kehamilan yaitu 2 kali pada TM I, 1 kali pada TM II dan 3

kali pada TM III. Peneliti melakukan pemeriksaan kehamilan pada Ny.

“R” sebanyak 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester III.15

Pada studi kasus ini selama kehamilan Ny. “R” telah melakukan

pemeriksaan sebanyak 6 kali di fasilitas kesehatan yaitu 2 kali pada TM I,

1 kali pada TM II, 3 kali pada TM III dan dalam hal ini sudah sesuai

dengan teori. Selama kehamilan TM III Ny. “R” telah melakukan 2 kali

kunjungan dengan peneliti di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb dengan hasil

yaitu:

a. Kunjungan I

Kunjungan pertama ini dilakukan pada tanggal 16 Februari 2025

pukul 17.00 WIB. Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan pada

Ny. “R” untuk pengambilan data studi kasus asuhan kebidanan

berkesinambungan. Pada kunjungan ini ibu mempunyai keluhan yang

fisiologis seperti ibu merasakan nyeri pinggang. Berdasarkan konsep

teoritis kebidanan yaitu mengenai perubahan fisiologis ibu TM III

keluhan ini merupakan keluhan yang normal. Nyeri pinggang

disebabkan oleh progesteron dan relaksin (yang melunakkan jaringan

ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya berat badan

yang dibawa dalam rahim. Penyebab nyeri pinggang yang

masih dirasakan ibu ini dikarenakan ibu mengerjakan pekerjaan rumah

sendiri. Hindari mengangkat benda yang berat, memberitahu cara-cara


195

untuk mengistirahatkan otot punggung.13

Dalam pemeriksaan kehamilan ini, Ny. “R” diupayakan

mendapatkan pelayanan sesuai standar kebidanan meliputi, timbang

berat badan dan tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran

tinggi fundus, pemberian tablet Fe, imunisasi TT, pemeriksaan Hb,

protein urine, pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual, reduksi

urine, perawatan payudara, senam ibu hamil atau aktivitas fisik

lainnya, pemberian obat malaria, pemberian yodium, temu wicara.

Hasil pemeriksaan BB ibu sebelum hamil 53 kg dan sekarang 65,5

kg. Pertambahan berat badan ibu ± 12 kg masih sesuai dengan batas

penambahan normal pada ibu hamil usia kehamilan 36-37 minggu.

Berdasarkan penambahan total BB selama hamil yaitu 11,5-16 kg serta

berdasarkan penghitungan IMT ibu selama hamil ini normal yaitu

21,64 kg/m2. Berdasarkan pemeriksaan tinggi badan didapatkan tinggi

badan ibu 153,3 cm.

Tekanan darah ibu yaitu 105/64 mmHg, tekanan darah normal

pada ibu hamil dibawah 140/90 mmHg. Tinggi fundus uteri (TFU)

Ny. “R” yaitu 3 jari dibawah prosesus xifoideus, ukuran Mc. donald

pada kunjungan pertama ini yaitu 33 cm dan Sebagian kecil kepala

sudah masuk PAP, hasil pemeriksaan dalam batas normal, bila

dihitung dengan rumus Johnson diperkirakan berat badan janin

3.100 gram dan sesuai dengan usia kehamilan. Ibu sudah

mendapatkan tablet Fe dan mengkonsumsinya 1 tablet perhari, ibu


196

mendapatkan imunisasi TT5 pada tanggal 21 Agustus 2024 didapat

dari buku KIA. Secara teori manfaat imunisasi TT yaitu untuk

melindungi ibu dan bayi dari tetanus dan infeksi, terutama untuk

menghindari bayi terkena tetanus neonatorum. Peneliti tidak

memberikan TT karena tidak tersedianya vaksin imunisasi TT di

PMB. Adanya kesenjangan antar teori dan praktik karena peneliti tidak

memberikan imunisasi TT pada ibu dikarenakan tidak tersedianya

imunisasi di PMB.

Pemeriksaan laboratorium pada kunjungan ini tidak dilakukan

karena pada buku KIA telah dilakukan di puskesmas pada tanggal 21

Agustus 2024 dan didukung oleh hasil pemeriksaan fisik saat ini

tidak ditemukan indikasi pada ibu untuk dilakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan Hb, pemeriksaan

protein urine, glukosa urine dan didapatkan protein urine dan glukosa

urine negatif (-), Hb ibu 12,3 gr %, berdasarkan teori pada ibu hamil

trimester III Hb minimal ibu hamil adalah 11,0 gr % dan Hb ibu

tersebut masih dalam batas normal. Pertimbangan lainnya karena

peneliti tidak melihat ada indikasi anemia pada ibu, tekanan darah ibu

normal, tidak memiliki riwayat hipertensi, ibu tidak ada mengeluh sakit

kepala dan penglihatan kabur serta tidak terdapat oedema pada ibu dan

ibu tidak memiliki riwayat diabetes. Sementara golongan darah tidak

dilakukan kembali karena hanya perlu dilakukan satu kali, karena

golongan darah tidak akan berubah. Secara teori dan praktik terdapat
197

kesenjangan karena peneliti tidak melakukan pemeriksaan dikarenakan

tidak adanya indikasi pada Ny. “R”.

Tes PMS juga dilakukan ibu saat kontrol hamil di puskesmas pada

tanggal 21 Agustus 2024 didapat dari buku KIA dan hasil tes yang

diperoleh adalah HIV (-), Hepatitis B (-) dan sifilis (-). Ibu telah

mendapat perawatan payudara dan telah melakukan aktivitas fisik

seperti jalan pagi setiap hari. Ibu tidak mendapatkan pemberian obat

malaria dan pemberian yodium karena wilayah penelitian bukan

merupakan wilayah yang endemik malaria atau gondok. Tidak terdapat

kesenjangan antara teori dan praktik karena secara teori pemberian

obat malaria dan pemberian yodium dilakukan pada daerah endemis

malaria dan gondok.

Hasil anamnesa tidak ditemukan gangguan kesehatan pada ibu dan

bayi setelah melakukan anamnesa, pemeriksaan umum dan

pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa “Ibu G3P2A0H2 usia

kehamilan 36-37 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, puki, pres-

kep, sebagian kecil kepala sudah masuk PAP, keadaan jalan lahir

normal, keadaan umum ibu dan janin baik”.

Berdasarkan semua asuhan yang diberikan, Ny. “R” sudah bisa

memahami apa yang dijelaskan dan bersedia melakukan kunjungan

ulang. Ny. “R” merasa senang dengan informasi yang diberikan

mengenai kondisi kehamilannya serta keadaan janinnya. Dari semua

hasil pengkajian pada Ny. “R” tidak ditemukan masalah yang berat
198

dan didapat diagnosa kehamilan normal. Peneliti akan mengevaluasi

asuhan yang diberikan pada kunjungan ibu hamil berikutnya.

b. Kunjungan II

Kunjungan kedua ini dilakukan pada tanggal 22 Februari 2025

pukul 16.00 WIB. Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan pada

Ny. “R” untuk pengambilan data studi kasus asuhan kebidanan

berkesinambungan. Pada kunjungan ini ibu mempunyai keluhan yang

fisiologis seperti ibu masih sedikit nyeri pada pinggang. Berdasarkan

konsep teoritis kebidanan yaitu mengenai perubahan fisiologis ibu TM

III keluhan ini merupakan keluhan yang normal. Nyeri pinggang

disebabkan oleh progesteron dan relaksin (yang melunakkan jaringan

ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya berat badan

yang dibawa dalam rahim. Penyebab nyeri pinggang yang masih

dirasakan ibu ini dikarenakan ibu mengerjakan pekerjaan rumah

sendiri. Hindari mengangkat benda yang berat, memberitahu cara-cara

untuk mengistirahatkan otot punggung.13 Pada kunjungan ini peneliti

melakukan pemeriksaan yang kurang lebih sama seperti kunjungan

sebelumnya.

Hasil pemeriksaan BB ibu sebelum hamil 53 kg dan sekarang 65

kg. Pertambahan berat badan ibu ± 12 kg masih sesuai dengan batas

penambahan normal pada ibu hamil usia kehamilan 37-38 minggu.

Tekanan darah ibu yaitu 121/74 mmHg, tekanan darah normal pada

ibu hamil dibawah 140/90 mmHg. Tinggi fundus uteri Ny. “R”
199

yaitu 4 jari dibawah prosesus xifoideus, ukuran Mc. donald pada

kunjungan kedua ini yaitu 33 cm dan kepala belum masuk PAP,

hasil pemeriksaan dalam batas normal, bila dihitung dengan rumus

Johnson diperkirakan berat badan janin 3.100 gram dan sesuai

dengan usia kehamilan. selanjutnya peneliti melakukan evaluasi

kepada ibu apakah masih mengkonsumsi tablet Fe dan menganjurkan

pada ibu untuk tetap mengkonsumsinya 1 tablet perhari sampai dengan

masa persalinan.

Kunjungan ANC kedua ini lebih difokuskan pada tanda-tanda

persalinan. Tanda-tanda dari persalinan yaitu sakit pinggang menjalar

ke ari-ari yang semakin lama semakin kuat dan sering, keluar lendir

bercampur darah dari kemaluan ibu, serta keluar cairan banyak dan

tidak dapat di tahan dari kemaluan ibu. Peneliti juga

menginformasikan kepada ibu untuk menjaga personal hygiene beserta

perawatan payudara, serta mengingatkan kembali kepada ibu asuhan

yang sudah diberikan pada kunjungan pertama seperti, persiapan

persalinan yang belum lengkap, konsumsi tablet tambah darah,

aktivitas fisik, menanyakan kembali tentang kontrasepsi yang akan di

gunakan, serta tanda bahaya kehamilan.18 19 Pada asuhan yang peneliti

berikan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik. Diakhir

kunjungan peneliti mengatur jadwal kunjungan ulang satu minggu lagi

atau apabila ibu ada keluhan dan jika ibu mengalami tanda-tanda

persalinan.
200

2. Persalinan

a. Kala I

Kala I persalinan adalah kala pembukaan yang berlangsung antara

pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.18 Pada tanggal 06 Maret

2023 pukul 23.00 WIB Ny. “R” datang ke PMB. Ibu mengatakan sakit

pinggang menjalar ke ari-ari sejak pukul 05.00 WIB dan sudah keluar

lendir bercampur darah sejak pukul 15.00 WIB. Pengkajian data subjektif

telah dikumpulkan secara keseluruhan. Setelah itu peneliti melakukan

pemeriksaan pada pukul 23.00 WIB dan didapatkan hasil pemeriksaan

fisik dalam batas normal, his 4 kali dalam 10 menit lamanya 45 detik,

perlimaan 2/5, pemeriksaan dalam didapatkan hasil portio menipis,

pembukaan 8 cm dan ketuban belum pecah, presentasi kepala, posisi

UUK kiri depan, penurunan bagian terendah janin di Hodge III dan tidak

ada bagian yang menumbung dan tidak ada molase.

Berdasarkan data subjektif dan objektif didapatkan diagnosa ibu

dengan usia kehamilan 39-40 minggu inpartu kala I fase aktif, keadaan

umum ibu dan janin baik. Ibu telah membawa persiapan persalinan yang

telah dijelaskan saat kunjungan kehamilan. Asuhan kebidanan kala I yang

diberikan kepada ibu yaitu menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang

dirasakan ibu yaitu nyeri pinggang adalah hal yang wajar karena ibu telah

memasuki proses persalinan. Memberikan dukungan emosional, spiritual

serta support kepada ibu. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dengan


201

tidur posisi miring ke kiri.

Posisi miring kiri sudah sering dianjurkan pada ibu bersalin, banyak

ibu bersalin yang merasa nyaman dan kemajuan persalinan berjalan

lancar setelah dianjurkan posisi miring kiri. Posisi miring kiri sangat

cocok bagi ibu yang merasa nyeri di punggung atau kelelahan karena

mencoba posisi yang lain. Posisi miring kiri mengharuskan ibu berbaring

ke kiri, salah satu kaki diangkat, sedang kaki lainnya dalam keadaan lurus

atau ditumpuhkan diatas kaki yang diluruskan (seperti memeluk guling).

Posisi berbaring miring kiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava

inferior sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia

karena suplai oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi

ibu yang mengalami kecapekan dan dapat mencegah terjadinya

laserasi/robekan jalan lahir.18

Menganjurkan ibu memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi.

Mengajarkan ibu teknik relaksasi saat ada his, dengan cara menarik nafas

dalam dari hidung dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Ibu dapat

melakukan teknik relaksasi dengan benar. Menganjurkan ibu untuk

berkemih jika terasa ingin berkemih dan jangan menahan untuk

berkemih, agar tidak mengganggu kontraksi dan penurunan kepala janin.

Mengajarkan ibu posisi bersalin yaitu dengan posisi dorsal recumbent.

Dari hasil penjelasan yang telah diberikan kepada ibu, maka evaluasi

yang didapatkan adalah asuhan telah sesuai dengan teori. Tidak ada

kesenjangan antara teori dan praktik.22


202

Pada Ny. “R” lama pembukaan 8 cm ke pembukaan 10 cm

berlangsung selama 1 jam. Menurut teori pada kehamilan multipara lama

pembukaan fase aktif berlangsung selama 1,5 hingga 2,5 cm per jam.

Keadaan tersebut sesuai dengan teori asuhan persalinan normal. Faktor-

faktor yang menyebabkan pembukaan 8 cm ke pembukaan lengkap

hanya berlangsung 1 jam diantaranya mobilisasi ibu yang baik yaitu ibu

tidur dengan posisi miring ke kiri, rahim yang sangat efisien yang

berkontraksi semakin kuat dan teratur, dukungan penolong dan suami

yang selalu mendampingi ibu, pemenuhan nutrisi dan eliminasi ibu baik,

serta pola aktivitas ibu seperti berjalan-jalan di pagi hari. Berdasarkan

teori hal tersebut dapat membantu turunnya kepala janin. Pada asuhan

kala I tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.

b. Kala II

Kala II dimulai dari pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan

berakhir dengan lahirnya bayi.18 Pada tanggal 07 Maret 2025 pukul 00.00

WIB ibu mengatakan rasa sakitnya semakin sering dan semakin kuat, ibu

mengatakan seperti ingin BAB. Peneliti melakukan pemeriksaan inspeksi

terdapat tanda dan gejala kala II, dorongan meneran, perineum menonjol,

vulva membuka dan tekanan pada anus.18 Selanjutnya dilakukan

pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan lengkap, portio tidak teraba

dan ketuban pecah spontan pukul 00.00 WIB, presentasi belakang kepala,

ubun-ubun kecil depan, tidak ada molase, tidak ada bagian terkemuka dan

kepala berada di hodge IV. Dari data subjektif dan objektif didapatkan
203

diagnosa ibu inpartu kala II, keadaan umum ibu dan janin baik. Untuk

saat ini tidak ditemukan masalah.

Setelah pembukaan lengkap, peneliti menyiapkan diri sebagai

penolong persalinan dengan memasang alat perlindungan diri (APD)

berupa sendal tertutup, gown, masker dan handscoon. Ada kesenjangan

antara teori dan praktik dimana menurut 60 langkah APN kita diharuskan

menggunakan sepatu boots, penutup kepala (mitela), kacamata (google),

gown, handscoon dan masker tetapi karena keterbatasan alat dan bahan

penolong tidak menggunakan APD lengkap sehingga dapat

terkontaminasi oleh cairan pasien dan kemungkinan dapat tertular oleh

penyakit menular. Asuhan yang diberikan pada ibu adalah asuhan sayang

ibu dan sesuai dengan kebutuhan ibu yaitu mengatur posisi ibu sesuai

dengan yang telah diajarkan kepada ibu, yaitu posisi dorsal recumbent,

membimbing ibu meneran disaat his dan memberi pujian ibu saat

meneran serta meminta ibu beristirahat dan minum di sela-sela kontraksi.

Jika ibu lelah ibu bisa mengganti dengan posisi miring yang juga dapat

mempercepat proses penurunan kepala dan mempercepat proses

persalinan.20

Peneliti selanjutnya melakukan pertolongan persalinan sesuai APN.

Ketika kepala bayi terlihat 5-6 cm di depan vulva, letakkan tangan kiri

pada kepala bayi agar tidak terjadi defleksi terlalu cepat dan sementara

tangan kanan menahan atau menekan perineum. Ada kesenjangan antara

teori dan praktik yaitu peneliti menahan kepala bayi tidak menggunakan
204

duk steril akan tetapi menggunakan kain popok yang sudah disterilkan

dengan sterilitator dengan suhu 1700C selama 60 menit, jadi berdasarkan

teori jika alat sudah disterilkan selama 60 menit dengan suhu 1700C

maka sudah mengurangi resiko terjadinya infeksi akibat alat atau bahan

yang tidak steril. Ketika kepala telah dilahirkan, bersihkan mulut, hidung,

mata dan seluruh wajah bayi dengan kassa steril. Periksa apakah ada

lilitan tali pusat. Tunggu kepala bayi putaran paksi luar, lalu bantu

lahirkan bahu depan, bahu belakang, dengan memposisikan tangan secara

biparietal dan bantu lahirkan seluruh tubuh bayi. Setelah bayi lahir

diletakkan diatas perut ibu lalu dikeringkan dengan handuk bersih yang

telah tersedia sambil dilakukan penilaian sepintas. Kala II berlangsung

selama 40 menit, lama kala ini sesuai dengan teori bahwa proses kala II

biasanya berlangsung paling lama 1 jam untuk multigravida. Pukul 00.40

WIB bayi lahir normal, menangis kuat, kulit kemerahan, tonus otot baik

dan jenis kelamin laki-laki.20

Setelah bayi lahir dilakukan pemotongan tali pusat kemudian

melakukan langkah inisiasi menyusui dini (IMD) yaitu dengan kontak

kulit dengan ibunya setelah lahir. Dalam praktiknya, peneliti meletakkan

bayi diatas perut ibu untuk dilakukan IMD dan hasilnya bayi telah IMD

60 menit dan telah berhasil menemukan puting susu ibunya pada menit ke

40.21 Hal tersebut menunjukkan asuhan yang dilakukan sudah sesuai

dengan teori, karena untuk dikatakan berhasil dilakukan IMD yaitu

minimal dilaksanakan selama 60 menit. Hal tersebut menunjukkan


205

asuhan yang dilakukan telah sesuai dengan teori dan pada kala II tidak

terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.

c. Kala III

Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir

dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban yang berlangsung tidak

lebih dari 30 menit.18 Pada kala III ini didapatkan data subjektif ibu

mengatakan senang atas kelahiran bayi dan perutnya terasa mules. Dari

pemeriksaan data objektif didapatkan hasil pemeriksaan TFU setinggi

pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih tidak teraba, perdarahan

±150 cc, plasenta belum lepas, kemudian adanya tanda-tanda pelepasan

plasenta.

Kemudian peneliti melakukan pemeriksaan janin kedua dan

melakukan manajemen aktif kala III yaitu suntik oksitosin, Peregangan

tali pusat terkendali (PTT) dan masase fundus. Plasenta lahir lengkap

pukul 00.50 WIB dengan berat ± 500 gram dan panjang tali pusat ±50

cm, perdarahan ±150 cc, hal ini sesuai teori bahwa kala III tidak boleh

lebih dari 30 menit dan perdarahan tidak melebihi 500 cc dan keadaan ibu

baik. Dari hasil pengkajian dan pemeriksaan didapatkan diagnosa ibu

parturien kala III, keadaan umum ibu baik dan tidak ditemukan adanya

masalah. Pada kala III tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.

d. Kala IV

Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama

postpartum. Observasi yang dilakukan pada kala IV adalah tekanan


206

darah, nadi, suhu, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, kandung kemih

dan perdarahan.18 Kala IV persalinan didapatkan data subjektif ibu

mengatakan sangat senang telah melewati proses persalinan dan badan

sedikit lemas setelah melahirkan. Dari data objektif didapatkan hasil

pemeriksaan didapatkan TTV dalam batas normal, plasenta sudah lahir

lengkap, kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan

±150 cc, kandung kemih tidak teraba dan tidak ditemukannya laserasi

jalan lahir. Dari hasil pengkajian dan pemeriksaan didapatkan diagnosa

ibu parturien kala IV, keadaan umum ibu baik dan tidak ditemukan

adanya masalah.

Pada kala IV ini peneliti juga memberikan rasa aman dan nyaman

kepada ibu dengan membersihkan ibu dari darah dan air ketuban yang

melekat di badan ibu, mengajarkan keluarga cara memantau kontraksi

uterus, pemenuhan nutrisi dan hidrasi ibu dan anjuran untuk beristirahat,

serta pemantauan kala IV. Pemantauan kala IV dilakukan tiap 15 menit

pada satu jam pertama dan dan tiap 30 menit pada satu jam kedua dengan

memantau tanda-tanda vital ibu, kontraksi, tinggi fundus, kandung kemih

dan perdarahan. Selama dilakukannya pemantauan kala IV tidak terdapat

komplikasi dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.

3. Bayi Baru Lahir

Proses persalinan berlangsung normal, dan bayi Ny. “R” lahir pukul

00.40 WIB, menangis kuat, kulit kemerahan, tonus otot baik, dengan jenis

kelamin perempuan, berat badan bayi 2.840 gram, panjang badan 48 cm,
207

lingkar dada 36 cm, lingkar kepala 34 cm, dan lingkar lengan 11 cm.

Pelaksanaan IMD dilakukan selama 60 menit, IMD berhasil. Dimana secara

teori IMD berhasil jika dilakukan selama minimal 1 jam. Manfaat IMD

adalah untuk meningkatkan kesempatan bayi memperoleh kolostrum,

mendukung keberhasilan ASI eksklusif, memperkuat hubungan ibu dan bayi

dan meningkatkan kesehatan bayi serta IMD dikatakan berhasil jika

dilakukan selama satu jam. IMD dilakukan segera setelah bayi lahir, dipotong

tali pusatnya dan dikeringkan kemudian bayi diletakkan di atas perut ibu

sampai bayi tersebut dapat menemukan puting susu dan menyusui dengan

sendirinya tanpa adanya bantuan dari orang lain selama satu jam.25

Setelah 1 jam bayi diinjeksikan vitamin K dipaha kiri bayi dan salep

mata. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa pemberian

salep mata dan injeksi vitamin K pada bayi yaitu 1 jam pertama setelah bayi

lahir.25 Dalam asuhan pada bayi baru lahir terdapat kesesuaian antara teori

dengan praktiknya yaitu pelaksanaan IMD dilakukan selama 60 menit dan

pemberian salap mata serta injeksi vitamin K pada 1 jam pertama setelah bayi

lahir.

a. Kunjungan I

Kunjungan pertama dilakukan pada tanggal 07 Maret 2025 pukul

08.00 WIB saat bayi berusia 7 jam. Pelaksanaan pelayanan kesehatan

neonatus kunjungan neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6-

48 jam. Pengkajian data secara subjektif telah dikumpulkan secara

keseluruhan, ibu mengatakan bayinya sudah bisa menyusu dan bayinya


208

sudah BAB dan BAK. Selanjutnya peneliti melakukan pengkajian data

secara objektif dengan pemeriksaan fisik pada bayi dan tidak ditemukan

adanya kelainan pada bayi. Dari data subjektif dan objektif didapatkan

diagnosa bayi baru lahir usia 7 jam, keadaan bayi baik dan untuk saat ini

tidak ditemukan masalah serta tidak diperlukan tindakan segera.

Asuhan yang peneliti berikan pada usia 7 jam ini yaitu tentang

kebutuhan kebersihan bayi dan rasa aman bayi, perawatan tali pusat, cara

menjaga kehangatan bayi, cara menyusui yang benar dan tanda bahaya

pada bayi baru lahir. Perawatan tali pusat pada bayi Ny. “R” yaitu tali

pusat dijaga agar tetap bersih dan kering, tidak dibubuhkan obat-obatan,

ramuan, betadine, maupun alkohol pada tali pusat, tali pusat dibiarkan

terbuka dan melipat popok di bawah tali pusat.25

Peneliti memberikan imunisasi Hb0 pada tanggal 07 Maret 2025

setelah bayi dimandikan pada pukul 08.00 WIB. Berdasarkan teori

pemberian vaksin Hb0 seharusnya 1 jam setelah pemberian vit. K.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12

Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi dijelaskan bahwa bayi

lahir di institusi rumah sakit, klinik dan bidan praktik swasta diberikan

vaksin imunisasi hepatitis B < 24 jam pasca persalinan, dengan di dahului

suntikan vitamin KI antara 2-3 jam sebelumnya, pemberian imunisasi

Hepatitis B masih di perkenankan sampai < 7 hari. 25 Dalam hal tersebut

adanya kesenjangan antara teotri dan prakatik, namun berdasarkan

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017


209

hal itu boleh dilakukan.

Dari hasil penjelasan yang telah diberikan kepada ibu, maka evaluasi

yang didapatkan adalah ibu paham dan mengerti dengan penjelasan yang

diberikan. Asuhan yang diberikan pada bayi telah sesuai dengan teori

kebidanan yang ada. Selama peneliti memberikan asuhan pada kunjungan

ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.

b. Kunjungan II

Kunjungan kedua dilakukan pada tanggal 11 Maret 2025 pukul 09.00

WIB saat bayi berusia 4 hari. Berdasarkan teori kunjungan kedua

dilakukan pada saat bayi berumur 3-7 hari. Pemeriksaan objektif pada

bayi didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal, hasil berat badan

2.740 gram, panjang badan 48 cm. Pada pemeriksaan ini, bayi mengalami

penurunan BB 100 gr, hal ini sejalan dengan teori yang mengatakan akan

mengalami penurunan berat badan 10% dari berat lahir. Tali pusat bayi

belum terlepas. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik

karena berdasarkan teori pelepasan tali pusat dikatakan cepat kurang dari

5 hari, normal jika terjadi antara 5-7 hari dan lambat jika lebih dari 7 hari.

Peneliti melakukan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi

Ny. “R”, dimana secara teori SHK merupakan skrining/uji saring untuk

memilah bayi yang menderita hipotiroid kongenital dari bayi yang bukan

penderita dan mendeteksi kelainan hormon tiroid yang menjadi salah satu

resiko timbulnya gangguan fisik dan mental dalam masa tumbuh

kembang anak.
210

Asuhan yang diberikan pada saat KN 2 yaitu: tanda bayi sudah cukup

ASI, kebutuhan kebersihan bayi, teknik menyusui yang benar dan

menganjurkan ibu untuk ke PMB, Posyandu atau puskesmas untuk

menimbang berat badan bayi setiap bulannya dan untuk mendapatkan

imunisasi dasar lengkap. 25 Hasil pemeriksaan keadaan bayi dalam batas

normal tidak ditemukan masalah atau komplikasi. Asuhan yang diberikan

pada bayi telah sesuai dengan teori kebidanan yang ada. Selama peneliti

memberikan asuhan ini peneliti tidak menemukan kesenjangan antara

teori dan pratik.

c. Kunjungan III

Kunjungan ketiga dilakukan peneliti pada tanggal 27 Maret 2025

pukul 10.00 WIB pada saat usia bayi 20 hari. Berdasarkan teori

kunjungan ketiga dilakukan pada saat bayi berumur 8 sampai 28 hari.

Pemeriksaan objektif pada bayi dilakukan didapatkan tanda vital dalam

batas normal, hasil berat badan 2.850 gram, panjang badan 48 cm. Pada

kunjungan ini berat badan bayi mengalami kenaikan 110 gram, secara

teori dalam minggu pertama berat badan bayi mungkin turun dahulu

kemudian naik kembali dan pada usia 7-10 hari umumnya telah mencapai

berat badan lahirnya. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.

Asuhan yang diberikan pada saat KN 3 yaitu: pemberian ASI

Eksklusif, mengevaluasi pengetahuan ibu mengenai tanda bayi puas

menyusu, memberitahu ibu mengenai macam-macam imunisasi dan

mengingatkan ibu untuk memeriksakan tumbuh kembang bayinya ke


211

posyandu setiap bulannya, defekasi, perkemihan, kebersihan, serta tanda

bahaya pada bayi baru lahir. 25 Dari hasil anamnesa ibu mengatakan tidak

ada keluhan pada bayi, setelah dilakukan pemeriksaan tanda vital pada

bayi dalam batas normal dan tidak ada tanda bahaya pada bayi. Asuhan

kebidanan bayi baru lahir yang peneliti lakukan sesuai dengan teori

kebidanan dan tidak ada kesenjangan antara praktik dan teori.

4. Nifas

Pelayanan kesehatan ibu nifas dilakukan dengan kunjungan nifas

sebanyak 4 (empat) kali dengan jadwal kunjungan I (6 jam- 2 hari post

partum), kunjungan II (3 hari-7 hari post partum), kunjungan III (8 hari- 28

hari post partum), dan kunjungan IV (29-42 hari post partum). 32 Ada

ketimpangan antara teori dan praktik karena peneliti hanya melakukan

kunjungan nifas sebanyak 3 kali, yaitu pada 7 jam post partum, 4 hari post

partum dan 20 hari post partum.

a. Kunjungan I

Kunjungan nifas pertama dilakukan pada 7 jam postpartum yaitu pada

tanggal 07 Maret 2025 pukul 08.00 WIB. Dari data subjektif diketahui

bahwa ibu sudah menyusui bayinya, perutnya masih terasa nyeri dan

sudah BAK. Data subjektif telah dikumpulkan secara keseluruhan.

Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data objektif, peneliti

melakukan pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan didapatkan TTV

dalam batas normal, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik dan

kandung kemih tidak teraba, perdarahan normal, pengeluaran pervaginam


212

lochea rubra. Pemeriksaan head to toe dalam batas normal, tanda homan

negatif, dan ibu sudah mobilisasi dini dengan pergi berkemih ke kamar

mandi. Berdasarkan teori pemeriksaan diatastasis rekti bertujuan untuk

mengetahui apakah otot perut yaitu rektus abdominis sudah kembali

normal atau belum, sedangkan pemeriksaan tanda homan bertujuan untuk

mengetahui apakah ibu mengalami tromboplebitis atau tidak. 32 Tidak ada

kesenjangan antara teori dan praktik karena tanda homan negatif dan

diastasis rekti normal. Dari data subjektif dan objektif didapatkan

diagnosa ibu 7 jam postpartum, keadaan umum ibu baik dan didapatkan

masalah ibu merasa nyeri pada perut bagian bawah.

Asuhan yang peneliti berikan yaitu menjelaskan kepada ibu bahwa

nyeri pada perut adalah hal yang normal, nyeri perut yang dirasakan ibu

disebabkan karena adanya kontraksi otot rahim sebagai proses

kembalinya rahim ke keadaan semula. Selanjutnya peneliti menjelaskan

bahwa ASI sedikit pada hari pertama dan kedua adalah hal yang normal,

menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini, mengajarkan ibu cara menjaga

persolan hygiene yang baik, anjurkan untuk meningkatkan nutrisi,

mengajarkan ibu teknik meyusui yang benar dan menginformasikan

kepada ibu dan keluarga tentang tanda bahaya nifas. 32

Peneliti juga menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi obat yang

diberikan yaitu tablet Fe, amoxicillin untuk antibiotik, asam mefenamic

yang berguna untuk menghilangkan nyeri, vitamin ASI untuk

memperlancar produksi ASI ibu, pemberian vitamin A pada ibu sebanyak


213

2 kali yaitu 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelah melahirkan. Ini

sudah sesuai dengan teori dimana pemberian vitamin A dianjurkan pada

ibu pasca salin (200.000 unit) agar dapat memberikan vitamin A pada

bayinya melalui ASI. Dalam asuhan yang peneliti berikan tidak terdapat

kesenjangan antara teori dan praktik.

b. Kunjungan II

Kunjungan kedua dilakukan pada hari ke-4 postpartum yaitu tanggal

11 Maret 2025 pukul 08.00 WIB. Peneliti melakukan kunjungan ke

rumah Ny. “R” untuk mengetahui kondisi ibu. Ibu mengatakan ASI nya

sudah mulai banyak, bayi kuat menyusu, pengeluaran dari kemaluannya

sudah berkurang dan berwarna merah kekuningan, sedikit pusing, kurang

istirahat, kurang tidur. Data subjektif telah dikumpulkan secara

keseluruhan. Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data objektif

peneliti melakukan pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan didapatkan

TTV dalam batas normal, TFU pertengahan pusat dengan simfisis pubis,

kandung kemih tidak teraba, tanda homan negatif, pengeluaran

pervaginam lochea sanguinolenta. Dari data subjektif dan objektif

didapatkan diagnosa ibu 4 hari postpartum, keadaan umum ibu baik

dengan masalah kurang istirahat.

Pada kunjungan kedua ini mengingatkan kembali kepada ibu untuk

istirahat yang cukup, meningkatkan nutrisi ibu selama menyusui, menjaga

kebersihan, perawatan payudara, menyusui bayinya sesering mungkin

serta memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, menganjurkan ibu


214

senam nifas, serta mengingatkan kembali tanda bahaya masa nifas.32

Asuhan yang peneliti berikan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan

praktik. Dalam kunjungan ini didapatkan ibu dan bayi dalam keadaan

normal dan tidak ditemukan masalah.

c. Kunjungan III

Pada tanggal 27 Maret 2025 pukul 09.00 WIB dilakukan kunjungan

nifas ke rumah Ny. “R” yaitu pada hari ke-20 postpartum. Didapatkan

data subjektif dari ibu yaitu anaknya kuat ASI, pengeluaran dari

kemaluannya putih. Dari pemeriksaan didapatkan hasil tanda-tanda vital

dalam batas normal. TFU tidak teraba, kandung kemih tidak teraba,

diastasi rekti normal, pengeluaran lochea alba, pemeriksaan head to toe

dalam batas normal.

Pada kunjungan ketiga ini asuhan yang diberikan yaitu mengajarkan

ibu gerakan senam nifas, mengingatkan kembali ibu untuk memberikan

ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa memberikan makanan apa pun serta

menjelaskan manfaat ASI bagi bayinya dan mengingatkan ibu tentang

alat kontrasepsi yang akan ibu gunakan setelah pasca persalinan. Pada

kunjungan ini tidak ditemukan masalah pada ibu dan bayi, keadaan

umum ibu dan bayi baik.32 Berdasarkan standar pelayanan nifas,

kunjungan nifas seharusnya dilakukan sebanyak 4 kali. Namun dalam

penelitian ini peneliti hanya melakukan kunjungan sebanyak 3 kali

dikarenakan keterbatasan waktu dan kesediaan Ny. “R”. Dalam hal ini

terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
16. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dengan menerapkan asuhan kebidanan

berkesinambungan pada Ny, “R” yang dilakukan pada tanggal 10 Februari

2025 sampai tanggal 12 April 2025 di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb yang

berlokasi di Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok,

Provinsi Sumatera Barat, peneliti dapat menerapkan manajemen asuhan

kebidanan pada masa kehamilan 36-37 minggu, bersalin, bayi baru lahir dan

nifas. Dari asuhan yang telah diberikan tidak ditemukan kelainan atau

komplikasi baik pada ibu maupun pada bayi, sehingga peneliti mampu:

1. Melakukan pengkajian data subjektif dan data objektif pada Ny. R mulai

usia kehamilan 36-37 minggu, bersalian, bayi baru lahir dan nifas yang

didapat dari hasil anamnesa, pemeriksaan umum, dan laboratoriumdi

Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab Efendi, Amd. Keb Kabupaten

Solok Tahun 2025.

2. Merumuskan diagnosa dan masalah kebidanan pada Ny, R mulai usia

kehamilan 36-37 minggu, bersalian, bayi baru lahir dan nifas. Berdasarkan

diagnosa yang didapatkan dari asuhan yang diberikan merupakan diagonsa

normal. Perumusahan diagnosa penelitian dapat menyusun rencana asuhan

yang menyeluruh pada Ny. R mulai usia kehamilan 36-37 minggu.

Persalinan, nifas dan bayi baru lahir normal dengan bantuan pembimbing,

dalam hal ini dapat disimpulkan perencanan dibuat sesuai dengan

pengkajian dan diagnosa yang telah ditegakkan.


216

3. Asuhan kebidanan yang sesuai dengan rencana yang efisien dan aman

berdasarkan evidence based dalam kehamilan, persalinan, bayi baru lahir

dan nifas. Dalam pelaksanaannya pada Ny. R G 3P2A0H2, dan pada bayi

telah mendapatkan asuhan sesuai perencanan dan konsep teoritis.

4. Mengevaluasi tindakan yang diberikan dari ibu hami, bersalin, bayi baru

lahir dan nifas berdasarkan asuhan yang telah diberikan. Dalam asuhan

yang peneliti berikan pada ibu dan bayi baru lahir, ibu dan bayi sudah

mendapatkan asuhan berdasarkan pendidikan kesehatan yang diberikan,

ibu sudah melakukan dan mengulangi informasi-informasi yang telah

disampaikan oleh peneliti yang berlandaskan dengan teori kebidanan.

5. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan dengan motode SOAP

pada Ny. R mulai usia kehamilan 36-37 minggu, bersalin, nifas dan bayi

baru lahir di Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab Efendi, [Link]. Keb

Kabupaten Solok Tahun 2025.

17. Saran

Berdasarkan pembinaan dari penerapan manajemen asuhan kebidanan

yang telah dilakukan pada Ny. “R” dari kehamilan 36-37 minggu, bersalin,

bayi baru lahir dan nifas, maka peneliti memberikan beberapa saran antara

lain:

1. Teoritis

Hasil studi kasus ini dapat sebagai pertimbangan masukan untuk

menambah wawasan tentang asuhan kebidanan beresinambungan pada ibu

hamil trimester III, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.


217

2. Aplikatif

a. Bagi Peneliti

Agar peneliti dapat memperdalam dan menerapkan pengetahuan

sehingga dapat memberikan asuhan secara berkesinambungan sesuai

dengan kebutuhan ibu serta sesuai dengan standar pelayanan

kebidanan yang telah ditetapkan, sesuai dengan kewenangan bidan

yang telah diberikan kepada profesi bidan.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat menjadi panduan serta masukan dalam menerapkan dan

mengembangkan ilmu yang didapat dari perkuliahan secara langsung

khususnya dalam menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil,

bersalin, bayi baru lahir dan nifas.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat melakukan asuhan

mulai dari awal kehamilan, agar dapat melakukan asuhan secara

berkesinambungan mulai dari trimester I, trimester II, dan trimester III.

Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat menggunakan alat sesuai

dengan standar asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan nifas

serta melakukan asuhan sesuai dengan standar asuhan kebidanan.


DAFTAR PUSTAKA
MENDELEY BIBLIOGRAPHY PLACEHOLDER #1

Anda mungkin juga menyukai