BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dasar Kehamilan
A. Pengertian
Menurut Federasi Obstetric Ginekologi Internasional, Kehamilan
didefinisikan sebagai proses pembuahan, yaitu penyatuan antara
spermatozoa dan ovum, yang kemudian diikuti oleh proses nidasi atau
(Prawirohardjo, 2020)
implantasi . Kehamilan biasanya terjadi sekitar 40
minggu, dimulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Apabila
kehamilan melewati 42 minggu atau, maka disebut kehamilan post-term
(Putri et al., 2023)
atau lewat bulan .
B. Klasifikasi Kehamilan
Menurut (Said et al., 2022) kehamilan dibagi menjadi tiga kategori:
1. Trimester pertama merupakan fase awal kehamilan yang terjadi
dalam rentang minggu ke-1 hingga minggu ke-12.
2. Trimester kedua adalah tahap lanjutan yang berlangsung selama
kurang lebih 15 minggu, yakni dimulai dari minggu ke-13 sampai
dengan minggu ke-27.
3. Trimester ketiga merupakan fase akhir kehamilan yng berlangsung
dari minggu ke-28 hingga mencapai minggu ke-40.
C. Tanda-tanda Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan terbagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai
(Rianda Fitra Rosa, 2022) (Hatijar et al., 2020)
berikut: ,
1
2
1. Tanda pasti kehamilan
a. Hasil tes kehamilan medis menunjukkan bahwa ibu sedang hamil.
Tes ini dapat dilakukan secara mandiri dirumah seperti testpack
atau di laboratorium menggunakan sampel urine atau darah.
b. Ibu menyadari adanya gerakan bayi di dalam kandungannya.
c. Keberadaan janin di dalam rahim sudah dapat dirasakan pada usia
kehamilan sekitar 20 minggu, bidan mampu menentukan bagian
tubuh seperti kepala, leher, punggung dan lengan dengan
melakukan palpasi pada perut ibu.
d. Denyut jantung janin dapat terdengar saat usia kehamilan
memasuki 10 – 20 minggu. Secara spesifik, bunyi jantung janin
sudah dapat dideteksi sejak usia sekitar 12 minggu dengan
menggunakan alat fetal elektrokardiograf (Doppler), sedangkan
dengan stetoskop Laennec biasanya baru dapat didengar pada usia
kehamilan 18 – 20 minggu.
2. Tanda kehamilan tidak pasti (probable signs)
a. Amenore merupakan kondisi ketika menstruasi tidak terjadi pada
wanita yang berada dalam masa subur.
b. Morning sickness ditandai dengan mual dan muntah yang sering
muncul di pagi hari, serta dipicu oleh bau makanan yang
menyengat.
c. Mastodinia menggambarkan rasa sakit dan kencang pada
payudara yang disebabkan oleh peningkatan ukuran payudara.
3
d. Munculnya bercak darah serta kram perut sebagai akibat
menempelnya embrio diri di dinding rahim.
e. Ibu mengalami rasa lelah dan kantuk sepanjang hari.
f. Perubahan hormon yang menyebabkan sakit kepala yang timbul
bersamaan dengan rasa letih, mual dan tegang.
g. Frekuensi kencing yang bertambah, terutama di malam hari,
disebabkan oleh uterus yang membesar dan menekan kandung
kemih dan tertarik ke kranial.
h. Pigmentasi kulit pada muka seperti chloasma gravidarum, areola
payudara, leher dan dinding perut seperti linea nigra.
i. Anoreksia atau tidak ada selera makan, biasanya terjadi pada awal
kehamilan kemudian nafsu makan akan timbul kembali.
j. Ibu mengalami ngidam akibat flaktuasi hormon dalam tubuh.
3. Tanda – tanda kemungkinan hamil
a. Perut membesar
b. Rahim mengalami pembesaran yang disertai perubahan pada
ukuran, bentuk, serta konsistensinya.
c. Pada usia kehamilan 6 – 12 minggu dapat ditemukan tanda
Piscaseck yang merupakan segmen bawah uterus yang memiliki
konsistensi lebih lunak dibandingkan bagian lainnya.
d. Munculnya tanda Chadwick yaitu perubahan warna pada serviks
dan vagina menjadi kebiruan.
4
e. Terjadinya konraksi ringan pada uterus saat mendapat rangsangan
(Braxton Hicks), yang disebabkan oleh peregangan sel otot rahim
akibat peningkatan aksomiosin di dalamnya.
f. Dapat ditemukan tanda Ballotement, yaitu saat uterus diberi
dorongan ringan, janin akan bergerak di dalam cairan ketuban
sehingga dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa. Tanda ini
penting dalam pemeriksaan kehamilan karena perabaan saja
belum cukup, sebab dapat menyerupai kondisi lain seperti mioma
uteri.
g. Reaksi kehamilan dinyatakan positif melalui deteksi hormon
Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dalam urine uang
diproduksi selama kehamilan. Hormon ini mulai terdeteksi sekitar
26 hari setelah konsespsi, meningkat hingga puncak pada usia 60-
70 hari, lalu menurun pada hari ke-100 hingga ke-130.
D. Perubahan fisiologis dan Psikologis pada Ibu Hamil
1. Perubahan fisik
Perubahan dan adaptasi fisiologi pada ibu hamil Trimester I, II dan
(Hatijar et al., 2020)
III:
5
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
Selama kehamilan, rahim mengalami perubahan signifikan
berupa pembesaran akibat hipertrofi dan hiperplasia sel otot
polos, dengan kapasitas lebih dari 4000 cc pada kehamilan
aterm. Beratnya meningkat dari 30 gram menjadi 1000 gram
pada akhir kehamilan.
Pada awal kehamilan, bentuk uterus berubah dari menyerupai
buah pir menjadi lebih bulat dan kemudian memanjang,
dengan dinding yang semakin tipis hingga bagian janin dapat
diraba. Posisi uterus juga bereser dari rongga pelvis ke
abdomen seiring pertumbuhan janin, disertai peningkatan
vaskularisasi serta tinggi fundus uteri (TFU) yang dari
pertengahan simpisis – pusat hingga mendekati prosesus
sifoideus sesuai usia kehamilan.
6
Gambar TFU dan usia kehamilan
Sumber: (Hatijar, 2020)
2) Serviks Uteri
Vaskularisasi serviks meningkat sehingga jaringan serviks
menjadi lebih lunak, fenomena ini dikenal sebagai tanda
Godell. Selain itu, kalenjar pada endoserviks mengalami
pembesaran dan memproduksi lebih banyak lendir.
Perubahan ini disertai pelebaran serta peningkatan aliran
darah, sehingga warna serviks berubah menjadi kebiruan,
yang disebut sebagai tanda Chadwick.
3) Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva mengalami perubahan yang dipengaruhi
oleh hormon estrogen. Karena peningkatan vaskularisasi,
jaringan di daerah ini tampak lebih merah atau kebiruan.
Warna kebiruan pada vagina dan portio serviks dikenal
sebagai tanda Chadwick.
4) Ovarium
Meskipun ovulasi tidak terjadi selama kehamilan, korpus
luteum graviditas tetap bertahan hingga plasenta terbentuk
dan mengambil alih produksi hormon estrogen serta
progesteron, biasanya sekitar usia kehamilan 16 minggu,
dengan ukuran kurang lebih 3 cm.
7
Selain itu, kadar hormon relaksin dalam sirkulasi maternal
meningkat terutama pada trimester pertama, yang berperan
memberikan efek relaksasi pada jaringan tubuh ibu
sehingga membantu menunjang pertumbuhan dan
perkembangan janin secara optimal hingga mencapai aterm.
5) Dinding perut
Meningkatnya ukuran uterus menimbulkan peregangan
pada kulit, sehingga serat elastis di lapisan bawahnya dapat
mengalami kerusakan atau robekan yang menimbulkan
striae gravidarum. Selain itu, kulit pada garis tengah perut
(linea alba) mengalami peningkatan pigmentasi, yang
dikenal sebagai linea nigra.
6) Payudara
Dibawah pengaruh hormon estrogen, progesteron dan
somatomammotropin payudara mengalami peningkatan
ukuran dan terasa lebih kencang, meskipun produksi ASI
masih belum terjadi.
7) Kulit
Kulit dapat mengalami peningkatan pigmentasi berupa
hiperpigmentasi pada beberapa area tubuh. Kondisi ini
terjadi akibat hormone Melanophore Stimulating Hormone
(MSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior hipofisis
(Wahyu Nuraisya, 2022)
.
8
E. Perubahan Fisiologis dan Psikologis Ibu Hamil Timester III
Selama kehamilan, ibu mengalami berbagai fase yang membawa
perubahan signifikan, terutama pada trimester III. Pada tahap ini, tubuh
dan pikiran ibu beradaptasi dengan berbagai aspek baru yang terkait
dengan kehamilan. Perubahan fisiologis dan psikologis ibu pada trimester
(Kasmiati & Dkk, 2023), (Febriyeni et al., 2021)
III adalah:
a. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Hamil Trimester III
1) Uterus
9
Pada trimester akhir, ismus uteri menjadi segmen bawah uterus.
Pada akhir kehamilan otot-otot uterus bagian atas akan
berkontraksi sehingga segmen bawah uterus akan melebar dan
menipis.
Pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus pada
kehamilan minggu ke-28, yaitu sepertiga pusat-xypoid. Pada
kehamilan minggu ke-32, fundus setinggi, pertengahan pusat-
xypoid, pada kehamilan minggu ke-36, fundus berada 1 jari
dibawah xypoid, dan pada kehamilan minggu ke-40 fundus uteri
setinggi 3 jari dibawah xypoid. Tinggi fundus sesuai usia
kehamilan dalam hitungan minggu dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
Gambar 2. 1 Tinggi Fundus Uteri
Sumber: Jumper Medical, 2020
2) Serviks
Pada akhir kehamilan, terjadi penurunan lebih lanjut dari
konsentrasi kolagen. Perubahan penting pada serviks dalam
10
kehamilan yaitu menjadi lunak. Bersifat seperti katup yang
bertanggungjawab menjaga janin didalam uterus sampai akhir
kehamilan.
3) Ovarium
Selama kehamilan ovarium terhenti dan pematangan folikel
baru juga tertunda. Dan akan berperan sebagai penghasil
progesterone dalam jumlah yang relative minimal.
4) Vagina dan parenium
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan
persiapan untuk mengalami peregangan pada saat persalinan
dengan meningkatnya ketebalan mukosa, mengendornya jaringan
ikat, dan hipetrofi sel otot polos.
5) Sistem respirasi
Pada kehamilan terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk
dapat memenuhi kebutuhan oksigen (O2). Disamping itu juga
terjadi desakan diafragma, karena dorongan rahim yang membesar
pada umur kehamilan 32 minggu.
6) Sistem darah
Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah
lebih banyak dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi
semacam pengenceran darah (hemodilusi) dengan puncaknya pada
umur hamil 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah
11
sebesar 25% sampai 30% sedangkan sel darah bertambah sekitar
20%.
7) Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan
hiperpigmentasi karena pengaruh melanophone stimulating
hormone lobus anterior dan pengaruh kelenjar supranelis
hiperpigmentasi ini terjadi pada striaegravidarum livide atau alba,
aerola papilla mamae, pada pipi (Cloasma gravidarum).
8) Sistem pencernaan
Biasanya akan terjadi mingkatnya pengeluaran asam lambung
karena pengaruh tekanan uterus yang membesar yang mendesak
organ pencernaan.
b. Perubahan Psikologis Pada Ibu Hamil Trimester III
Psikologis ibu hamil diartikan sebagai periode krisis saat
terjadinya gangguan dan perubahan identitas peran. Definisi krisis
merupakan ketidakseimbangan psikologi yang disebabkan oleh situasi
atau tahap perkembangan. Awal perubahan psikologi ibu hamil yaitu
periode syok, menyangkal, bingung, dan sikap menolak. Perubahan
(Febriyeni et al., 2021)
psikologis ibu hamil trimester III yaitu:
1) Perubahan Emosional
12
Perubahan emosional trimester III (penantian dengan penuh
kewaspadaan) terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan
biasanya gembira bercampur takut karena kehamilannya telah
mendekati persalinan.
Kekhawatiran ibu hamil biasanya seperti apa yang akan terjadi
pada saat melahirkan, apakah bayi lahir sehat, dan tugas-tugas apa
yang dilakukan setelah kelahiran.
2) Cenderung malas
Penyebab ibu hamil cenderung malas karena pengaruh
perubahan hormon dari kehamilannya. Perubahan hormonal akan
memengaruhi gerakan tubuh ibu, seperti gerakannya yang semakin
lamban dan cepat merasa letih. Keadaan tersebut yang membuat
ibu hamil cenderung menjadi malas.
3) Sensitif
Penyebab wanita hamil menjadi lebih sensitif adalah faktor
hormon. Reaksi wanita menjadi peka, mudah tersinggung, mudah
marah, mudah cemburu.
F. Tanda Bahaya Pada Kehamilan Trimester III
Pada kehamilan trimester III penting bagi ibu untuk tetap waspada
terhadap tanda-tanda yang dapat mengindikasikan adanya masalah serius.
Adapun tanda bahaya pada kehamilan trimester III yaitu:
(Kasmiati & Dkk, 2023)
a. Perdarahan pervaginam
13
Perdarahan antpaertum atau perdarahan pada kehamilan lanjut
adalah perdarahan pada trimester terakhir dalam kehamilan sampai
bayi dilahirkan. Perdarahan yang abnormal apabila keluar darah merah
segar atau kehitaman dengan bekuan darah, perdarahan yang banyak
atau kadang disertai rasa nyeri. Perdarahan biasanya disebabkan:
1) Plasenta Previa
Plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian
atau seluruh ostium uteri intemum.
2) Sulosio plasenta
Plasenta yang lepas sebelum waktunya, secara normal plasenta
terlepas setelah bayi lahir.
b. Sakit kepala yang hebat
Wanita hamil yang mengeluh sakit kepala yang hebat, menetap
dan tidak mau hilang, walau sudah beristirahat merupakan ketidak
nyamanan saat hamil pada trimester III dan merupakan tanda bahaya
pada kehamilan ibu pada trimester III
c. Penglihatan kabur
Penglihatan yang kabur dan disertai sakit kepala hebat merupakan
tanda bahaya pada ibu hamil trimester III. Dan merupakan salah satu
tanda gejala pre- eklamsi
d. Bengkak di wajah dan jari-jari
14
Bengkak biasa menunjukan adanya masalah serius jika muncul di
wajah dan tangan, jika tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa
saja pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklamsi
e. Keluar cairan pervaginam
Keluarnya cairan di vagina pada trimester III, yaitu keluarnya
cairan tanpa terasa, berbau amis, dan berwarna putih keruh, berarti itu
adalah cairan ketuban. Jika air ketuban sebelum waktu persalinan
disebut dengan ketuban pecah dini.
f. Gerakan janin tidak terasa
Biasanya tanda dan gejalanya yaitu gerakan bayi kurang dari 3 kali
dalam periode 3 jam. Normalnya gerakan janin adalah 10 kali dalam
24 jam. Apabila gerakan janin berkurang, kemungkinan terjadinya
asfiksia hinggaterjadi kematian janin.
g. Nyeri perut yang hebat
Nyeri abdomen yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah
beristirahat kemungkinan menunjukkan masalah yang mengancam
keselamatan jiwa ibu hamil dan janin yang dikandungnya.
G. Ketidaknyamanan Pada Kehamilan Trimester III
Selama trimester III kehamilan, banyak ibu mengalami berbagai
ketidaknyamanan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Ketidaknyamanan yang biasa terjadi pada ibu hamil di trimester III dan
(Kasmiati & Dkk, 2023)
cara mengatasinya adalah sebagai berikut:
a. Rasa Lelah
15
Pertambahan berat badan dan membesarnya ukuran janin dapat
membuat ibu hamil lebih mudah kelelahan. Untuk mengatasi hal
tersebut, ibu hamil dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
1) Perbanyak waktu istirahat dan tidur lebih awal. Apabila ibu hamil
masih bekerja, ambillah waktu sebentar pada jam istirahat untuk
memejamkan mata atau merebahkan diri.
2) Konsumsi makanan sehat setiap hari untuk menambah tenaga dan
mencukupi kebutuhan nutrisi harian ibu hamil. Makanan yang baik
untuk dikonsumsi antara lain roti gandum, kacang walnut, sayuran,
dan buah-buahan.
3) Rutin melakukan olahraga, seperti berjalan kaki, berenang, atau
yoga, setidaknya selama 20—30 menit setiap hari. Olahraga rutin
dapat mengurangi rasa lelah yang dialami oleh ibu hamil selama
trimester akhir ini.
4) Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
5) Batasi kegiatan yang tidak penting. Jika ibu hamil membutuhkan
bantuan untuk melakukan sesuatu maka jangan ragu meminta
bantuan suami atau keluarga.
b. Nyeri Punggung
Nyeri punggung saat trimester III umumnya terjadi karena
punggung ibu hamil harus menopang bobot tubuh yang lebih berat.
Rasa nyeri ini juga dapat disebabkan oleh hormon rileksin yang
mengendurkan sendi di antara tulang-tulang di daerah panggul.
16
Kendurnya sendi-sendi ini dapat memengaruhi postur tubuh dan
memicu nyeri punggung. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu hamil
dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
1) Lakukan latihan panggul, seperti senam hamil, peregangan kaki
secara rutin, atau senam kegel.
2) Letakkan bantal di punggung saat tidur untuk menyangga
punggung dan perut ibu hamil. Jika ibu hamil tidur dengan posisi
miring maka letakkan bantal di antara tungkai.
3) Duduk dengan tegak dan gunakan kursi yang menopang punggung
dengan baik.
4) Gunakan sepatu yang nyaman, contohnya sepatu hak rendah
karena model ini dapat menopang punggung lebih baik.
5) Kompres punggung dengan handuk hangat.
c. Sering Buang Air Kecil
Semakin mendekati persalinan, janin akan bergerak turun ke area
panggul dan membuat ibu hamil merasakan adanya tekanan pada
kandung kemih. Kondisi tersebut mungkin bisa membuat frekuensi
buang air kecil meningkat dan membuat urine mudah keluar saat ibu
hamil bersin atau tertawa. Pastinya melelahkan apabila harus bolak-
balik ke toilet. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu hamil dapat
melakukan hal-hal sebagai berikut.
17
1) Hindari mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau
minuman bersoda, karena bisa membuat ibu hamil lebih sering
buang air kecil.
2) Pastikan minum air putih setidaknya delapan gelas sehari. Namun,
hindari minum sebelum tidur.
3) Jangan menahan rasa ingin buang air kecil karena hal ini mungkin
dapat meningkatkan frekuensi ke toilet.
d. Sesak Napas
Otot yang berada di bawah paru-paru dapat tergencet oleh rahim
yang terus membesar. Hal ini membuat paru-paru sulit untuk
mengembang dengan sempurna sehingga kadang membuat ibu hamil
sulit untuk bernapas. Jika ibu hamil mengalami hal demikian maka
cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut.
1) Topang kepala dan bahu dengan bantal saat tidur.
2) Lakukan olahraga ringan secara rutin untuk memperbaiki posisi
tubuh sehingga paru-paru dapat mengembang dengan baik.
e. Dada Terasa Panas atau Terbakar
Rasa terbakar di dada disebabkan oleh perubahan hormon yang
menyebabkan otot lambung menjadi rileks dan tertekannya lambung
oleh rahim yang semakin membesar. Hal tersebut memicu isi dan asam
lambung terdorong naik ke kerongkongan yang menimbulkan keluhan
berupa rasa panas atau terbakar di dada. Untuk menghindarinya, ada
18
beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh ibu hamil sebagaimana
berikut.
1) Teliti dalam memilih makanan. Jauhi makanan yang asam, pedas,
berminyak, atau berlemak, dan batasi konsumsi minuman
berkafein.
2) Makanlah dengan frekuensi lebih sering, tetapi dengan porsi yang
sedikit. Jangan makan sambil berbaring atau mendekati waktu
tidur.
H. Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil Trimester III
Selama trimester III kehamilan, kebutuhan psikologis ibu menjadi
sangat penting untuk mendukung kesejahteraan mental dan emosionalnya.
Adapun kebutuhan psikologis ibu hamil trimester III antara lain sebagai
(Kasmiati & Dkk, 2023), (Situmorang & Dkk, 2021)
berikut:
a. Dukungan keluarga
Memberikan dukungan berbentuk perhatian, pengertian, kasih
sayang pada wanita dari ibu, terutama dari suami, anak apabila sudah
mempunyai anak dan keluarga-keluarga serta kerabat. Hal ini untuk
membantu ketenangan jiwa ibu hamil.
b. Dukungan tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan dapat memberikan peranan melalui penanganan
baik aktif maupun pasif seperti melalui kelas antenatal atau dengan
memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami masalah
untuk berkonsultasi. Juga memberikan pendidikan, pengetahuan dari
19
awal kehamilan sampai akhir kehamilan yang berbentuk konseling,
dan penyuluhan.
c. Rasa aman dan nyaman selama kehamilan
Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil biasanya
ialah suami. Wanita hamil yang diberi perhatian dan kasih sayang oleh
suaminya menunjukkan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih
sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan
penyesuaian selama masa nifas. Ada dua kebutuhan utama yang
ditunjukkan wanita selama hamil, antara lain menerima tanda-tanda
bahwa ia dicintai dan dihargai, merasa yakin akan penerimaan
pasangannya terhadap sang anak yang dikandung ibu sebagai keluarga
baru.
d. Persiapan menjadi orang tua
Menjadi orang tua harus dipersiapkan karena setelah bayi lahir
banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu, ayah, dan
keluarga. Bagi pasangan yang pertama kali memiliki anak, persiapan
dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi dengan orang yang
mampu untuk membagi pengalamannya dan memberikan nasihat
mengenai persiapan menjadi orang tua. Bagi pasangan yang sudah
mempunyai lebih dari satu anak, dapat belajar dari pengalaman
mengasuh anak sebelumnya. Selain persiapan mental, yang tidak kalah
pentingnya adalah persiapan ekonomi, karena bertambah anggota
maka bertambah pula kebutuhannya.
20
e. Persiapan sibling
Persiapan sibling di mana wanita telah mempunyai anak pertama
atau kehamilan para gravidum yaitu persiapan anak untuk menghadapi
kehadiran adiknya adalah sebagai berikut:
1) Dukungan anak untuk ibu (wanita hamil), menemani ibu saat
konsultasi dan kunjungan saat perawatan akhir kehamilan untuk
proses persalinan.
2) Apabila tidak dapat beradaptasi dengan baik dapat terjadi
kemunduran perilaku, misalnya mengisap jari, ngompol, nafsu
makan berkurang, dan rewel.
3) Intervensi yang dapat dilakukan misalnya memberikan perhatian
dan perlindungan tinggi dan ikut dilibatkan dalam persiapan
menghadapi kehamilan serta persalinan.
I. Kebutuhan Fisiologis Ibu Hamil Trimester III
Pada masa kehamilan, pemenuhan kebutuhan fisiologis menjadi sangat
penting untuk mendukung kesehatan ibu dan perkembangan janin. Adapun
(Febriyeni et al., 2021) ,
kebutuhan fisiologis ibu hamil trimester III yaitu:
(Marfuah et al., 2023)
a. Oksigen
Meningkatnya jumlah progesteron selama kehamilan
mempengaruhi pusat pernapasan, CO2 menurun dan O2 meningkat, O2
meningkat akan bermanfaat bagi janin. Pada trimester III janin
21
membesar dan menekan diafragma, menekan vena cava inferior, yang
menyebabkan napas pendek-pendek.
b. Kebutuhan nutrisi
Untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi selama masa
kehamilan, banyak di perlukan zat gizi dalam jumlah lebih besar dari
pada sebelum hamil.
1) Kalori
Jumlah kalori yang diperlukan ibu hamil setiap harinya adalah
2500 kalori, jumlah kalori yang berlebih menyebabkan obesitas,
dan ini merupakan faktor atas terjadinya preeklaamsi.
2) Protein
Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85gr
perhari, sumber protein terseut bisa diperoleh dari tumbuhan
(kacang-kacangan) atau hewani, (ikan, ayam, keju, susu, telur).
3) Kalsium
Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1500 mg perhari, kalsium
dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama bagi
pengembangan otot rangka.
4) Zat besi
22
Ibu hamil membutuhkan sekitar 800 mg zat besi selama masa
kehamilan, dengan rincian 300 mg untuk janin dan 500 mg untuk
menambah hemoglobin maternal. Per hari, ibu hamil
membutuhkan zat besi sebanyak 30 mg.
5) Asam folat.
Jumlah asam folat yang dibutuhkan ibu hamil sebesar 400
mikro gram perhari, kekurangan asam folat dapat menyebabkan
anemia megaloblastik pada ibu hamil.
6) Air
Air diperlukan tetapi sering dilupakan pada saat pengkajian. Air
digunakan untuk membantu sistem pencernaan makanan, dan
membantu proses transportasi.
Salah satu contoh menu makanan yang sehat untuk ibu hamil
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2. 1 Contoh Menu Makanan Ibu Hamil
1. Nasi putih 100gr (3/4 sendok nasi)
2. Telur dadar 55gr (1 butir)
3. Susu 1 gelas
Pagi 4. Jeruk 1 buah
5. Selingan (jam 10.00) bubur kacang hijau 1 porsi
1. Nasi putih 150gr
2. Ayam goreng 50gr (1 potong sedang)
3. Tempe goreng 50gr (2 potong sedang)
Siang 4. Melon 1 potong sedang
5. Selingan (jam 16.00) pudding roti dan jus jeruk
23
1. Nasi putih 100gr
2. Ikan mas 50gr
Malam 3. Sayur bayam 50gr
4. Semangka 100gr (1 potong sedang)
Sumber: Kementrian Kesehatan RI. 2022
c. Personal hygiene
Kebersihan harus tetap terjaga selama kehamilan, guna menjaga si
ibu dari infeksi, karena badan yang kotor mengandung kuman, ibu
hamil cenderung menghasilkan banyak keringat, Karena banyaknya
aktifitas dari metabolisme tubuh.
Agar ibu hamil selalu terjaga kebersihan nya, ibu hamil di anjurkan
mandi minimal 2 kali sehari, rutin mengganti celana dalam, menjaga
kebersihan gigi dan mulut, keramas 2 kali seminggu.
d. Seksualitas selama kehamilan
Hamil bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan
seksual namun pada trimester ketiga kehamilan hubungan seksual
dilakukan dengan hati hati karena dapat menimbulkan kontraksi uterus
sehingga kemungkinkan dapat terjadi prematur, fetal bradiacardia pada
janin sehingga dapat menyebabkan fetal distress dan tidak memiliki
riwayat sebagai berikut:
1) Sering abortus dan kelahiran prematur
2) Perdarahan pervaginam
3) Koitus harus dilakukan dengan hati hati terutama pada minggu
kehamilan pertama
24
4) Bila ketuban sudah pecah maka dilarang koitus karena dapat
menyebabkan infeksi janin dan intra uterimature
e. Senam hamil
Senam hamil bukan merupakan satu keharusan. Namun, dengan
melakukan senam hamil akan banyak memberi manfaat dalam
membantu kelancaran proses persalinan, antara lain dapat melatih
pernapasan, relaksasi, menguatkan otot-otot panggul dan perut, serta
melatih cara mengejan yang benar. Senam nifas sebaiknya dilakukan
dalam 24 jam setelah persalinan, secara teratur setiap hari.
f. Istirahat
Istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Pada trimester
akhir kehamilan sering diiringi dengan bertambahnya ukuran janin,
sehingga terkadang ibu kesulitan untuk menentukan posisi yang paling
baik dan nyaman untuk tidur. Posisi tidur yang dianjurkan pada ibu
hamil adalah miring ke kiri, kaki lurus, kaki kanan sedikit menekuk
dan diganjal dengan bantal, dan untuk mengurangi rasa nyeri pada
perut, ganjal dengan bantal pada perut bawah sebelah kiri. Ibu hamil
dianjurkan untuk tidur pada malam hari selama 8 jam dan istirahat
dalam keadaan relaks pada siang hari selama 1 jam.
g. Imunisasi
Imunisasi harus diberikan pada ibu hamil hanya berupa imunisasi
TT untuk mencegah kemungkinan tetanus neonatorum. Berikut waktu
pemberian imunisasi TT dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
25
Tabel 2. 2 Pemberian Imunisasi
Antigen Interval Lama Perlindungan Perlindungan
(%)
TT1 Awal Belum ada 0%
TT2 4 minggu stelah TT1 3 tahun 80%
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95%
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 95%
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/ seumur 99%
hidup
Sumber: Muthe, Juliana, dkk, 2019
J. Asuhan Antenatal
a. Pengertian Asuhan Antenatal
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan
kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran marernal dan neonatal
melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.
(Marfuah et al., 2023)
Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu:
1) Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas
kesehatan.
2) Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang
dikandungnya.
3) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan
kehamilannya.
4) Mengidentifikasi dan menata laksana kehamilan risiko tinggi.
26
5) Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga
kualitas kehamilan dan merawat bayi.
6) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan
membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang
dikandungnya
b. Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah menurunkan atau mencegah
kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.
Adapun tujuan khususnya sebagai berikut:
1) Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan ibu
dan perkembangan bayi yang normal.
2) Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan memberikan
penatalaksanaan yang diperlukan.
3) Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan dalam
rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik, emosional,
dan logis untuk menghadapi kelahiran serta kemungkinan adanya
komplikasi
c. Standar asuhan kehamilan
Asuhan antenatal atau yang dikenal antenatal care merupakan
prosedur rutin yang dilakukan oleh bidan dalam membina suatu
hubungan dalam proses pelayanan pada ibu hamil hingga persiapan
persalinannya. Berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021
27
pemeriksaan kehamilan dilakukan sebanyak 6 kali. Minimal 2 kali
pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan trimester III, diantaranya:
1) Trimester I kunjungan ANC 1 kali (awal kehamilan hingga 12
minggu)
2) Trimester II kunjungan ANC 2 kali (kehamilan 12 minggu hingga
24 minggu)
3) Trimester III kunjungan ANC 3 kali (kehamilan 24 minggu hingga
40 minggu)
Pelayanan ANC minimal 5T, meningkat menjadi 7T dan sekarang
menjadi 10T, sedangkan untuk daerah gondok dan endemik malaria
(Situmorang & Dkk, 2021)
menjadi 14T yaitu sebagai berikut:
1) Timbang berat badan dan tinggi badan
Tinggi badan ibu dikategorikan adanya resiko apabila hasil
pengukuran <145 cm. Berat badan ditimbang setiap ibu datang atau
berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB dan penurunan BB.
Kenaikan BB ibu hamil normal rata-rata antara 6,5 kg – 16 kg.
2) Tekanan darah
Tekanan darah normal berkisar 110/80 -120/80 mmHg. Ibu
hamil perlu mendapatkan perhatian khusus dan diwaspadai, jika
tekanan darah tinggi perlu diwaspadai hipertensi dan preeklampsia.
Sedangkan jika tekanan darah rendah, kemungkinan beresiko
terhadap anemia, tekanan darah diperiksa setiap kali berkunjung
3) Pengukuran tinggi fundus
28
Menggunakan pita sentimeter,letakkan titik nol pada tepi atas
simpisis dan rentangkan sampai fundus uteri Pengukuran tinggi
fundus ini berguna untuk mendeteksi apakah besar kehamilan
sesuai dengan usia kehamilan, diukur setiap kali berkunjung.
4) Pemberian imunisasi TT
Untuk melindungi dari tetanus neonatorum. Efek samping TT
yaitu nyeri, kemerah-merahan dan bengkak 1-2 hari pada tempat
penyuntikan pemberian imunisasi Tetanus Toxoid pada kehamilan.
umumnya diberikan 2 kali saja, imunisasi pertama diberikan pada
usia kehamilan 16 minggu untuk yang kedua diberikan 4 minggu
kemudian
5) Pemberian tablet Fe (Tablet Tambah darah)
Untuk memenuhi kebutuhan volume darah pada ibu hamil dan
nifas karena masa kehamilan kebutuhan meningkat seiring dengan
pertumbuhan janin , setiap ibu hamil harus mendapat tablet tambah
darah (tablet zat besi) dan Asam Folat minimal 90 tablet selama
kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama.
6) Pemeriksaan Hb
Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang
pertama kali kemudian diperiksa menjelang persalinan.
Pemeriksaan HB adalah salah satu upaya untuk mendeteksi anemia
pada ibu hamil.
7) Pengambilan darah
29
Pemeriksaan Veneral Disease Research Laboratory (VDRL)
untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular
seksual antara lain syphilis.
8) Pemeriksaan protein urine
Protein urine berfungsi sebagai pendeteksi dini apakah ibu
mengalami preeklamsia.
9) Pemeriksaan reduksi urine
Dilakukan pemeriksaan urine reduksi hanya kepada ibu
dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat penyakit gula
keluarga ibu dan suami.
10) Perawatan payudara
Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi
dan mulai pada kehamilan 6 bulan. Dilakukan untuk
memperlancar pengeluaran asi.
11) Pemeliharaan tingkat kebugaran atau senam ibu hamil
Bermanfaat membantu ibu dalam persalinan dan mempercepat
pemulihan setelah melahirkan serta mencegah sembelit.
12) Pemberian obat malaria
Pemberian obat malaria diberikan khusus untuk pada ibu
hamil di daerah endemis malaria atau kepada ibu dengan
gejala khas malaria yaitu panas tinggi disertai menggigil.
13) Pemberian kapsul minyak beryodium
Kekurangan yodium dipengaruhi oleh faktor-faktor
30
lingkungan dimana tanah dan air tidak mengandung unsur
yodium. Akibat kekurangan yodium dapat mengakibatkan gondok
dan kretin ditandai dengan gangguan fungsi mental, gangguan
fungsi pendengaran, gangguan pertumbuhan dan gangguan kadar
hormon rendah.
14) Temu wicara
Konseling merupakan hal yang terpenting untuk
mengedukasi ibu dalam merawat dan menjaga kehamilannya.
2. Konsep Dasar Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dari janin
turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses untuk mendorong
keluar (ekspulsi) hasil pembuahan dari dalam keluar uterus. Normalnya,
proses berlangsung Ketika uterus sudah tidak dapat tumbuh lebih besar
lagi, Ketika janin sudah cukup mature untuk hidup di luar rahim.
(Subiastutik & Atik Mayarti, 2022)
, (Sulfianti, 2020)
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37- 42 minggu) lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik
(Subiastutik & Atik Mayarti, 2022)
ibu maupun janin.
B. Tanda – Tanda Persalinan
Gejala persalinan jika sudah dekat akan menyebabkan kekuatan his
makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi semakin pendek,
31
dengan terjadi pengeluaran tanda seperti lendir bercampur darah yang
lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang
ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksa dalam didapat
perlunakan serviks pendataran serviks dan terjadi pembukuan serviks.
(Sulfianti, 2020)
Ada 3 tanda paling utama menuju persalinan, yaitu: (Fadjriah, 2022)
a. Kontraksi (his)
Hal ini disebabkan karena pengaruh hormon oksitosin yang secara
fisiologis membantu dalam proses pengeluaran janin.
b. Penipisan dan pembukaan serviks, dimana rasa nyeri terjadi karena
adanya tekanan panggul saat kepala janin turun ke area tulang panggul
sebagai akibat melunaknya rahim.
c. Pecahnya ketuban dan keluarnya bloody show (lendir bercampur
darah). Itu terjadi karena pada saat menjelang persalinan terjadi
pelunakan, pelebaran, dan penipisan mulut rahim.
C. Penyebab Mulainya Persalinan
Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga
menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya
(Sulfianti, 2020) ,
proses persalinan, yaitu:
(Rochmawati & Novitasari, 2024)
a. Teori peregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga
32
persalinan dapat dimulai. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi
kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses
persalinan.
b. Teori penurunan progesteron
Proses penuaan plasenta mulai umur kehamilan 28 minggu, di
mana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami
penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan,
sehingga otot rahim menjadi lebih sensitif terhadap oksitosin.
Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat
penurunan progesteron tertentu.
c. Teori oksitosin internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.
Perubahan keseimbangan esterogen dan pogesteron dapat mengubah
sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton
Hicks. Menurunnya konsentrasi akibat tuanya kehamilan, maka
oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat
dimulai.
d. Teori prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur 15 minggu, yang
dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil
dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi
dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu
persalinan.
33
e. Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis
Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anencephalus
sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk
hipotalamus. Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci
percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama. Dari
hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan antara
hypothalamus dengan mulainya persalinan. Glandula suprarenalis
merupakan pemicu terjadinya persalinan.
f. Teori berkurangnya nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukanan oleh Hippokrates
untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang, maka
konsepsi akan segera dikeluarkan.
D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Persalinan
Keberhasilan dan kelancaran proses persalinan dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor yang mempengaruhi
(Yulizawati dkk, 2019)
persalinan tersebut antara lain:
a. Passenger
Malpresentasi atau malformasi janin dapat mempengaruhi
persalinan normal. Pada faktor passenger, terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap
34
dan posisi janin. Karena plasenta juga harus melalui jalan lahir, maka
ia dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin.
b. Passage away
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat,
dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun
jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut
menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan
dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya
terhadap jalan lahir yang relatif kaku.
c. Power
His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks
membuka dan mendorong janin ke bawah. Pada presentasi kepala, bila
his sudah cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk ke dalam
rongga panggul. Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunteer
secara bersamaan.
d. Position
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan.
Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah posisi
membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan memperbaki
sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk dan
jongkok.
35
e. Psychologic Respons
Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan
mencemaskan bagi wanita dan keluarganya. Rasa takut, tegang dan
cemas mungkin mengakibatkan proses kelahiran berlangsung lambat.
Pada kebanyakan wanita, persalinan dimulai saat terjadi kontraksi
uterus pertama dan dilanjutkan dengan kerja keras selama jam- jam
dilatasi dan melahirkan kemudian berakhir ketika wanita dan
keluarganya memulai proses ikatan dengan bayi. Perawatan ditujukan
untuk mendukung wanita dan keluarganya dalam melalui proses
persalinan supaya dicapai hasil yang optimal bagi semua yang terlibat.
Wanita yang bersalin biasanya akan mengutarakan berbagai
kekhawatiran jika ditanya, tetapi mereka jarang dengan spontan
menceritakannya.
E. Mekanisme Persalinan
Dalam mekanisme persalinan normal terbagi dalam beberapa tahap
gerakan kepala janin di dasar panggul yang diikuti dengan lahirnya
(Yulizawati dkk, 2019)
seluruh badan bayi.
a. Engagement
Engagement pada primigravida terjadi pada bulan terakhir
kehamilan sedangkan pada multigravida dapat terjadi pada awal
persalinan. engagement adalah peristiwa ketika diameter biparetal
(Jarak antara dua paretal) melewati pintu atas panggul dengan sutura
sagitalis melintang atau oblik di dalam jalan lahir dan sedikit fleksi.
36
Masuknya kepala akan mengalami ksulitan bila saat masuk ke dalam
panggu dengan sutura sgaitalis dalam antero posterior. Jika kepala
masuk kedalam pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang
di jalan lahir, tulang parietal kanan dan kiri sama tinggi, maka
keadaan ini disebut sinklitismus.
Kepala pada saat melewati pintu atas panggul dapat juga dalam
keadaan dimana sutura sgaitalis lebih dekat ke promontorium atau ke
simfisis maka hal ini disebut asinklitismus.
b. Penurunan kepala
Dimulai sebelum persalinan/inpartu. Penurunan kepala terjadi
bersamaan dengan mekanisme lainnya. Kekuatan yang mendukung
penurunan kepala yaitu:
1) Tekanan cairan amnion
2) Tekanan langsung fundus ada bokong
3) Kontraksi otot-otot abdomen
4) Ekstensi dan pelurusan badan janin atau tulang belakang janin
c. Fleksi
Gerakan fleksi di sebabkan karena janin terus didorong maju
tetapi kepala janin terlambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar
panggul. Kepala janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipito
37
frontalis 12 cm berubah menjadi suboksipito bregmatika 9 cm. Posisi
dagu bergeser kearah dada janin. Pada pemeriksaan dalam ubun-
ubun kecil lebih jelas teraba daripada ubun- ubun besar.
d. Rotasi dalam (putaran paksi dalam)
Rotasi dalam atau putar paksi dalam adalah pemutaran bagian
terendah janin dari posisi sebelumnya kearah depan sampai dibawah
simpisis. Bila presentasi belakang kepala dimana bagian terendah
janin adalah ubun-ubun kecil maka ubun-ubun kecil memutar ke
depan sampai berada di bawah simpisis.
Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan
dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang tengah dan pintu
bawah panggul. Rotasi dalam terjadi bersamaan dengan majunya
kepala. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati Hodge III (setinggi
spina) atau setelah didasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun-
ubun kecil mengarah ke jam 12. Sebab-sebab adanya putar paksi
dalam yaitu:
1) Bagian terendah kepala adalah bagian belakang kepala pada letak
fleksi.
2) Bagian belakang kepala mencari tahanan yang paling sedikit
yang disebelah depan yaitu hiatus genitalis.
e. Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar
panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini
38
disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi
untuk melaluinya. Pada kepala bekerja dua kekuatan, yang satu
mendesak nya ke bawah dan satunya disebabkan tahanan dasar
panggul yang menolaknya ke atas.
Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah symphysis akan
maju karena kekuatan tersebut di atas bagian yang berhadapan
dengan suboksiput, maka lahirlah berturut- turut pada pinggir atas
perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu
dengan gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran
disebut hypomochlion.
f. Rotasi luar (putaran paksi luar)
Terjadinya gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi
oleh faktor-faktor panggul, sama seperti pada rotasi dalam.
Merupakan gerakan memutar ubun-ubun kecil ke arah punggung
janin, bagian belakang kepala berhadapan dengan tuber iskhiadikum
kanan atau kiri, sedangkan muka janin menghadap salah satu paha
ibu.
Bila ubun-ubun kecil pada mulanya disebelah kiri maka ubun-
ubun kecil akan berputar kearah kiri, bila pada mulanya ubun-ubun
kecil disebelah kanan maka ubun-ubun kecil berputar ke kanan.
Gerakan rotasi luar atau putar paksi luar ini menjadikan diameter
biakromial janain searah dengan diameter anteroposterior pintu
39
bawah panggul, dimana satu bahu di anterior di belakang simpisis
dan bahu yang satunya di bagian posterior dibelakang perineum.
Sutura sagitalis kembali melintang.
g. Ekspulsi
Setelah terjadinya rotasi luar, bahu depan berfungsi sebagai
hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah
kedua bahu lahir disusul lahirlah trochanter depan dan belakang
sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan kelahiran bahu depan, bahu
belakang dan seluruhnya. Visualisasi mekanisme persalinan dapat
dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 2. 2 Mekanisme Persalinan Normal
Sumber: Midewifery Blog, 2013
F. Partograf
Untuk menjamin kelangsungan hidup ibu dan bayi, bidan harus
menerapkan Asuhan Persalinan Normal (APN) sebagai dasar dalam
40
melakukan pertolongan persalinan. Sebagai usaha mencegah terjadinya
partus lama, APN mengandalkan penggunaan partograf sebagai salah satu
(Sulfianti, 2020) ,
praktik pencegahan dan deteksi dini.
(Rochmawati & Novitasari, 2024)
a. Pengertian
Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan
pemeriksaan fisik ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat
utama dalam mengambil keputusan klinik khususnya pada persalinan
kala satu.
b. Kegunaan
Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan
memeriksa pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan dalam.
Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, dengan
demikian dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus
lama. Hal ini merupakan bagian terpenting dari proses pengambilan
keputusan klinik persalinan kala I.
c. Bagian-bagian partograf
1) Kemajuan persalinan, meliputi: pembukaan serviks; turunnya
bagian terendah dan kepala janin; kontraksi uterus.
2) kondisi janin: denyut jantung janin; warna dan volume air ketuban;
moulase kepala janin.
41
3) Kondisi ibu: tekanan darah, nadi dan suhu badan; volume urine;
obat dan cairan.
d. Cara mencatat temuan pada partograf
Observasi dimulai sejak ibu datang, apabila ibu datang masih
dalam fase laten, maka hasil observasi ditulis di lembar observasi
bukan pada partograf. Karena partograf dipakai setelah ibu masuk fase
aktif yang meliputi:
1) Identifikasi ibu
Lengkapi bagian awal atau bagian atas lembar partograf secara
teliti pada saat mulai asuhan persalinan yang meliputi: nama, umur,
gravida, para, abortus, nomor rekam medis/nomor klinik, tanggal
dan waktu mulai dirawat, waktu pecahnya ketuban.
2) Kondisi janin
Kolom lajur dan skala angka pada partograf bagian atas adalah
untuk pencatatan.
a) Denyut jantung janin
DJJ dinilai setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda- tanda
gawat janin). Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf
diantara garis tebal angka 180 dan 100, nilai normal sekitar 120
s/d 160, apabila ditemukan DJJ dibawah 120 dan diatas 160,
maka penolong harus waspada.
b) Warna dan adanya air ketuban
42
Nilai air ketuban setiap kali melakukan pemeriksaan dalam
dengan menggunakan lambang sebagai berikut:
U: Jika ketuban Utuh belum pecah.
J: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih.
M: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur
dengan mekoneum.
D: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur dengan
darah.
K: Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban Kering.
c) Penyusupan/ moulase kepala janin
Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai penyusupan
kepala janin dengan menggunakan lambang sebagai berikut:
0: Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah
dapat diraba.
1: Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan.
2: Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi
masih dapat dipisahkan.
3: Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat
dipisahkan.
3) Kemajuan persalinan
a) Dilatasi serviks
43
Pada kolom dan lajur kedua dari partograf adalah untuk
pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera pada
tepi kolom kiri adalah besarnya dilatasi serviks. Kotak
diatasnya menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm.
Pada pertama kali menulis pembesaran dilatasi serviks harus
ditulis tepat pada garis waspada.
Cara pencatatannya dengan memberi tanda silang (X) pada
garis waspada sesuai hasil pemeriksaan dalam/ VT. Hasil
pemeriksaan dalam/ VT selanjutnya dituliskan sesuai dengan
waktu pemeriksaan dan dihubungkan dengan garis lurus
dengan hasil sebelumnya. Apabila dilatasi serviks melewati
garis waspada, perlu diperhatikan apa penyebabnya dan
penolong harus menyiapkan ibu untuk dirujuk.
b) Penurunan bagian terendah janin
Skala 0 s/d 5 pada garis tepi sebelah kiri keatas, juga
menunjukkan seberapa jauh penurunan kepala janin kedalam
panggul. Dibawah lajur kotak dilatasi serviks dan penurunan
kepala menunjukkan waktu/ jam dimulainya fase aktif, tertera
kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan fase
aktif dimulai, setiap kotak menunjukkan 30 menit.
Pendokumentasian kontraksi uterus lurus segaris pembukaan
serviks mulai dicatat dalam partograf.
4) Obat-obatan dan cairan yang diberikan
44
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tersedia lajur
kotak untuk mencatat obat-obatan dan cairan yang diberikan.
5) Kondisi ibu
Bagian akhir pada lembar partograf berkaitan dengan kondisi ibu
yang meliputi: Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh, urine
(volume, aceton, dan protein).
G. Tahapan Persalinan
Menuju persalinan ibu mengalami tahapan persalinan yang dibagi
(Sulfianti, 2020)
menjadi 4 kala, yaitu:
a. Kala I Persalinan
Dimulai sejak adanya his yang teratur dan meningkat (frekuensi
dan kekuatannya) yang menyebabkan pembukaan, sampai serviks
membuka lengkap (10 cm). Kala I terdiri dari dua fase, yaitu fase laten
dan fase aktif.
1) Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan pembukaan
sampai pembukaan 3 cm. Pada umumnya berlangsung 8 jam
2) Fase aktif dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
a) Fase akselerasi
Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
b) Fase dilatasi maksimal
45
Dalam waktu 2 jam pembukaan serviks berlangsung cepat dari
4 cm menjadi 9 cm.
c) Fase deselerasi
Pembukaan serviks menjadi lambat, dalam waktu 2 jam dari
pembukaan 9 cm menjadi 10 cm. Pada primipara, berlangsung
selama 12 jam dan pada multipara sekitar 8 jam. Kecepatan
pembukaan serviks 1 cm/jam (primipara) atau lebih dari 1 cm
hingga 2 cm (multipara).
b. Kala II (dua) Persalinan
Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap
(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut
sebagai kala pengeluaran bayi. Tanda pasti kala II (dua) ditentukan
melalui pemeriksaan dalam yang hasilnya adalah:
1) Pembukaan serviks telah lengkap (10 cm), atau
2) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.
Proses kala II berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam pada
multipara. Dalam kondisi yang normal pada kala II kepala janin sudah
masuk dalam dasar panggul, maka pada saat his dirasakan tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa
mengedan. Wanita merasa adanya tekanan pada rektum dan seperti
akan buang air besar.
Kemudian perineum mulai menonjol dan melebar dengan
membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian
46
kepala janin tampak di vulva saat ada his. Jika dasar panggul sudah
berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his. Dengan kekutan
his dan mengedan maksimal kepala dilahirkan dengan suboksiput
dibawah simpisis dan dahi, muka, dagu melewati perineum. Setelah his
istirahat sebentar, maka his akan mulai lagi untuk mengeluarkan
anggota badan bayi.
c. Kala III (tiga) persalinan
Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir
dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban yang berlangsung tidak
lebih dari 30 menit. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit
setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan dari fundus
uteri.
d. Kala IV (empat) Persalinan
Kala IV persalinan ditetapkan berlangsung selama 2 jam setelah
plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang terjadi
segera jika homeostasis berlangsung dengan baik. Pada tahap ini,
kontraksi otot Rahim meningkat sehingga pembuluh darah terjepit
untuk menghentikan perdarahan. Pada kala ini dilakukan observasi
tekanan darah, pernapasan, nadi, kontraksi otot Rahim dan perdarahan
selama 2 jam pertama. Selain itu juga dilakukan penjahitan luka jika
terdapat robekan jalan lahir. Setelah 2 jam, bila keadaan baik, ibu
dipindahkan keruangan bersama bayinya.
47
H. Perubahan Fisiologis Pada Masa Persalinan
Persalinan melibatkan berbagai perubahan dalam tubuh ibu untuk
mempersiapkan kelahiran bayi. Perubahan fisiologis yang dialami ibu
(Rochmawati & Novitasari, 2024) ,
masa persalinan adalah:
(Utami & Fitriahadi, 2019)
a. Perubahan Uterus
Kontraksi uterus yang menyebar ke depan dan ke bawah abdomen
yang dimulai dari fundus uteri. Segmen atas rahim akan bertambah
tebal dengan majunya persalinan sehingga mendorong bayi keluar
segmen bawah rahim bersifat aktif relokasi dan dilatasi. Dilatasi makin
tipis karena terus di regang dengan majunya persalinan.
b. Perubahan bentuk Rahim
Setiap terjadinya kontraksi, sumbu rahim bertambah panjang
sedangkan ukuran melintang dan ukuran muka belakang berkurang.
Pengaruh perubahan bentuk rahim:
1) Ukuran melintang akan menjadi turun, akibatnya lengkungan
punggung bayi turun menjadi lurus, bagian atas bayi tertekan
fudus, dan bagian tertekan pintu atas panggul.
2) Rahim bertambah panjang sehingga otot-otot memanjang diregang
dan menrik. Segmen bawah rahim dan servis akibatnya
menimbulkan terjadinya pembukaan serviks sehingga segmen atas
rahim (Panggul).
48
c. Perubahan pada sistem urinaria
Pada wanita bersalin mugkin tidak menyadari bahwa kandung
kemihnya sudah penuh karena intensitas kontraksi uterus adan tekanan
bagian presentasi janin atau efek anestesi lokal.
d. Perubahan pada bagian vagina dan dasar panggul
Saat Kembali ke vulva, lubang vulva akan menghadap ke atas.
Perubahan dasar panggul terlihat pada perenium yang menonjol dan
menjadi tipis dan anus yang membuka.
e. Perubahan pada metabolisme
Perubahan hormon progesteron mengakibatkan sistem pencernan
menjadi lambat. Hal ini yang di sebabkan ibu mengalami obstipasi dan
mual muntah.
f. Perubahan pada hematologi
Hemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar 1,2 gr%
dan akan meningkat selama persalinan, kecuali jika terjadi pendarahan.
Peningkatan leukosit terjadi secara signifikan dari 5000-15.000 pada
pembukaan lengkap.
I. Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin
Dalam menghadapi proses persalinan, ibu membutuhkan perhatian dan
pemenuhan berbagai kebutuhan agar dapat melalui tahapan ini dengan
optimal. Kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk mendukung
(Utami & Fitriahadi, 2019)
kelancaran persalinan mencakup:
a. Kebutuhan fisiologis
49
1) Oksigen
2) Makan dan minum
3) Istirahat selama tidak ada his
4) Kebersihan badan terutama genetalia
5) Buang air kecil dan buang air besar
6) Pertolongan persalinan yang terstandar
7) Penjahitan perineum bila perlu
b. Kebutuhan rasa aman
1) Memilih tempat dan penolong persalinan
2) Informasi tentang proses persalinan atau tindakan yang akan
dilakukan
3) Posisi tidur yang dikehendaki ibu
4) Pendampingan oleh keluarga
5) Pantauan selama persalinan
6) Intervensi yang diperlukan
c. Kebutuhan dicintai dan mencintai
1) Pendampingan oleh suami/keluarga
2) Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)
3) Masase untuk mengurangi rasa sakit
4) Berbicara dengan suara yang lemah, lembut dan sopan
d. Kebutuhan harga diri
1) Merawat bayi sendiri
2) Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu
50
3) Pelayanan yang bersifat empati dan simpati
4) Informasi bila akan melakukan tindakan
5) Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu
lakukan
e. Kebutuhan aktualisasi diri
1) Memilih tempat dan penolong sesuai keinginan
2) Memilih pendamping selama persalinan
3) Bounding and attachment
4) Ucapan selamat atas kelahirannya
J. Tanda Bahaya Ibu Bersalin
Selama proses persalinan, penting untuk mengenali kondisi yang dapat
mengancam keselamatan ibu dan bayi. Tanda bahaya ibu bersalin harus
dipahami dengan baik agar penanganan segera dapat dilakukan untuk
(Utami & Fitriahadi, 2019)
mencegah komplikasi yang lebih serius.
a. Tanda bahaya Kala I
1) Terdapat perdarahan pervaginam selain lendir bercampur darah
2) Persalinan kurang dari 37 minggu (kurang bulan)
3) Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental.
4) Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit
mekonium, disertai dengan tanda-tanda gawat janin.
5) Ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan
kurang dari 37 minggu).
51
6) Infeksi (temperature > 38°C, menggigil, nyeri abdomen, cairan
ketuban berbau).
7) Tekanan darah lebih dari 160/100 dan atau terdapat protein dalam
urine (pre-eklampsia berat).
8) Tinggi fundus 40 cm atau lebih.
9) DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit pada dua kali
penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin).
10) Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin
masih 5/5.
11) Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang dan lain
lain).
12) Presentasi ganda (majemuk).
13) Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdeyut).
14) Syok (nadi cepat lemah lebih dari 110 x/menit, tekanan darah
sistolik menurun, pucat, berkeringat dingin, nafas cepat lebih dari
30 x/menit, produksi urine kurang dari 30 ml/jam).
15) Fase laten berkepanjangan (pembukaan serviks kurang dari 4 cm
setelah 8 jam, kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit).
16) Partus lama (pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis
waspada, pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam, frekuensi
kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang
dari 40 detik)
b. Tanda bahaya Kala II
52
1) Syok (nadi cepat lemah dan lebih dari 100 x/menit, tekanan darah
sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat pasi, berkeringat dingin, nafas
cepat lebih dari 30 x/menit, produksi urine sedikit kurang dari 30
ml/jam).
2) Dehidrasi (perubahan nadi 100 x/menit atau lebih, urine pekat,
produksi urin sedikit 30 ml/jam).
3) Infeksi (nadi cepat 110 x/menit atau lebih, temperatur suhu > 38 C,
menggigil, cairan ketuban berbau).
4) Pre-Eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,
proteinuria hingga 2+).
5) Pre-Eklampsia berat atau Eklamsia (Tekanan darah sistolik 110
mmHg atau lebih, tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih
dengan kejang, nyeri kepala, gangguan penglihatan dan kejang)
6) Insersia uteri (kontraksi kurang dari 3x dalam waktu 10 menit
lamanya kurang dari 40 detik).
7) Gawat janin (DJJ kurang dari 120 x/menit dan lebih dari 160
x/menit).
8) Distosia bahu (kepala bayi tidak melakukan putar paksi luar, kepala
bayi keluar kemudian tertarik Kembali ke dalam vagina, bahu bayi
tidak lahir).
9) Cairan ketuban bercampur mekonium ditandai dengan warna
ketuban hijau.
53
10) Tali pusat menumbung (tali pusat teraba atau terlihat saat periksa
dalam).
11) Lilitan tali pusat (tali pusat melilit leher bayi).
c. Tanda bahaya Kala III dan IV
1) Retensio plasenta (normal jika plasenta lahir setelah 30 menit bayi
lahir).
2) Avulsi tali pusat (tali pusat putus dan plasenta tidak lahir).
3) Bagian plasenta tertahan (bagian permukaan plasenta yang
menempel pada ibu hilang, bagian selaput ketuban hilang/robek,
perdarahan pasca persalinan, uterus berkontraksi).
4) Atonia uteri (uterus lembek tidak berkontraksi dalam waktu 5 detik
setelah massage uterus, perdarahan pasca persalinan).
5) Robekan vagina, perineum atau serviks (perdarahan pasca
persalinan, plasenta lengkap, uterus berkontraksi).
6) Syok (nadi cepat lemah atau lebih dari 100 x/menit, tekanan darah
sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat, berkeringat dingin, nafas
cepat lebih dari 30 x/menit, produksi urine sedikit kurang dari 30
ml/jam).
7) Dehidrasi (meningkatnya nadi lebih dari 100 x/menit, temperatur
tubuh di atas 38°C, urine pekat, produksi urine sedikit 30 ml/jam).
8) Infeksi (nadi cepat 110 x/menit atau lebih, temperature suhu >
38°C, kedinginan, cairan vagina yang berbau busuk).
54
9) Pre-Eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,
proteinuria).
3. Konsep Dasar Bayi Baru Lahir
2. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir merupakan bayi yang keluar dari rahim dengan usia
kehamilan minimal 37 minggu atau lebih, dan memiliki berat badan antara
2500 hingga 4000 gram. Bayi ini mengalami proses adaptasi yang disebut
BBL (Bayi Baru Lahir) untuk dapat berfungsi dan bertahan hidup di luar
rahim. Pada waktu kelahiran, sejumlah adaptasi fisik dan psikologis mulai
(Wulandari & Dkk, 2023)
terjadi pada tubuh bayi baru lahir.
Ciri-ciri bayi normal adalah, sebagai berikut: (Karo et al., 2023)
a. Berat badan 2.500-4.000 gram.
b. Panjang badan 48-52.
c. Lingkar dada 30-38.
d. Lingkar kepala 33-35.
e. Frekuensi jantung 120-160 kali/menit.
f. Pernapasan ±40-60 kali/menit.
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup.
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala baisanya telah sempurna.
i. Kuku agak panjang dan lemas.
j. Genitalia: pada perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora,
dan pada laki-laki, testis sudah turun dan skrotum sudah ada.
k. Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
55
l. Refleks Moro atau gerak memeluk jika dikagetkan sudah baik.
m. Refleks grap atau menggenggam sudah baik.
n. Eliminasi baik, mekonium keluar dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan
K. Perubahan Fisiologis Bayi Segera Setelah Lahir
Setelah proses kelahiran, bayi mengalami berbagai adaptasi untuk
beralih dari kehidupan di dalam rahim ke lingkungan luar. Adapun
(Sulfianti, 2020),
perubahan pada bayi segera baru lahir adalah:
(Wulandari & Dkk, 2023)
, (Karo et al., 2023)
a. Termoregulasi
Termoregulasi adalah kemampuan untuk menyeimbangkan
produksi panas dan kehilangan panas guna mempertahankan suhu
tubuh dalam kisaran normal tertentu.
a) Konduksi
Benda padat yang kontak dengan kulit bayi dapat menyebabkan
proses kehilangan panas. Hal ini jarang terjadi, kecuali pada
kondisi bayi yang diletakkan pada alas yang dingin.
b) Konveksi
56
Aliran udara disekitar bayi dapat menyebabkan kehilangan panas,
oleh sebab itu suhu udara ruangan bersalin minimal 20° C dan
tidak berangin.
c) Evaporasi
Penguapan air pada kulit bayi yang basah dapat menyebabkan
kehilangan panas, oleh sebab itu proses pengeringan yang segera
perlu dilakukan.
d) Radiasi
Benda padat yang tidak berkontak secara langsung dan berada
di dekat kulit bayi juga dapat menyebabkan kehilangan panas.
Suhu bayi pada saat lahir lebih tinggi dari suhu ibu (0,5 - 1° C) dan
dapat mengalami penurunan hingga 35 - 35,5° C dalam kurun
waktu 15 – 30 menit. Termoregulasi pada bayi dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:
Gambar 2. 3 Termoregulasi Pada Bayi
Sumber: Sherwood, 1993
Upaya pencegahan kehilangan panas:
57
a) Keringkan bayi dengan seksama dengan cara menyeka tubuh
bayi serta melaksanakan rangsangan taktil sebagai salah satu
upaya membantu bayi dalam memulai pernapasannya.
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang hangat,
jangan lupa mengganti handuk atau kain yang telah basah oleh
cairan ketuban dengan kain yang baru.
c) Selimuti bagian kepala bayi karena kepala merupakan
permukaan yang relative luas dan sumber kehilangan panas jika
tidak tertutup.
d) Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayi, karena pelukan ibu
pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh bayi.
b. Perubahan Sistem Pernapasan
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam 30 detik
sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas
normal sistem saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa
rangsangan lainnya. Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar 30-
60 kali/menit.
c. Perubahan Sistem Gastrointestinal
Janin akan menelan dan menghisap sebelum cukup bulan. Pada
saat lahir, refleks gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk
dengan baik, refleks ini masih cukup untuk mencerna ASI, hubungan
antara eosophagus bawah dan lambung masih belum sempurna maka
akan menyebabkan gumoh pada bayi baru lahir, kapasistas lambung
58
sangat terbatas kurang dari 30 cc dan akan bertambah sesuai dengan
pertumbuhannya.
d. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Dengan berkembangnya paru-paru, pada alveoli akan terjadi
peningkatan tekanan oksigen. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida
akan mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan terjadinya
penurunan resistansi pembuluh darah dari arteri pulmonalis mengalir
keparu-paru dan ductus arteriosus tertutup.
e. Metabolisme Glukosa
Dengan tindakan penjepitan tali pusat, bayi harus
mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri saat lahir agar
otaknya dapat berfungsi, glukosa adarah akan menurun dalam waktu
cepat yaitu 1-2 jam, koreksi penurunan glukosa dilakukan dengan cara
penggunaan ASI dan penggunaan cadangan glikogen.
f. Perubahan Ginjal
Sebagian besar bayi berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir
dan 2-6 kali sehari pada 1-2 hari pertama, setelah itu mereka berkemih
5-20 kali dalam 24 jam.
L. Asuhan Bayi Baru Lahir Dalam 2 Jam Pertama
Masa 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan periode emas yang
sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kesehatan bayi. Asuhan bayi
(Sari, 2022)
baru lahir dalam 2 jam pertama diantaranya yaitu:
59
a. Pencegahan Infeksi
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan
dengan bayi Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi
yang belum dimandikan Pastikan semua peralatan dan bahan yang
digunakan, terutama klem, gunting, penghisap lendir DeLee dan
benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Pastikan
semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,
sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita
pengukur, termometer, stetoskop.
b. Penilaian awal pada bayi segera setelah lahir.
Penilaian awal yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir untuk
melakukan tindakan selanjutnya yaitu:
1) Apakah bayi cukup bulan?
2) Apakah air ketuban jernih atau bercampur mekonium?
3) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas megap-megap?
4) Apakah kulit bayi kemerahan atau tidak?
5) Apakah tonus otot bayi kuat? Bergerak aktif?
Keadaan umum bayi dinilai menggunakan APGAR. Penilaian ini
dilakukan segera setelah bayi baru lahir. Penilaian ini bertujuan untuk
menilai apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Dari hasil penilaian
dapat diketahui apakah bayi dalam keadaan normal dengan nilai
APGAR 7-10, mengalami asfiksia sedang nilai APGAR 4-6 atau
60
asfiksia berat dengan nilai APGAR 0- 3. Penilaian APGAR skor dapat
dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. 3 APGAR Score
Tanda 0 1 2
Apperance (warna Biru/pucat Badan pucat, Semuanya berwarna
kulit) tungkai biru merah
Pulse (denyut Tidak teraba <100 >100
jantung)
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
(rangsangan)
Activity (tonus otot) Lemas/lumpuh Gerakan Aktif/fekstremitas
sedikit/fleksi leksi
tunggal
Respiratory (usaha Tidak ada Lambat, tidak Menangis kuat
nafas) teratur
Sumber: Kurniarum, 2016
c. Membebaskan Jalan Nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis
spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis,
penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai
berikut:
1) Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan
hangat.
2) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher
bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur
lurus sedikit tengadah kebelakang.
3) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan
jari tangan yang dibungkus kassa steril.
61
4) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit
bayi dengan kain kering dan kasar.
5) Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya
yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat
6) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
7) Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama
8) Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau
mulut harus diperhatikan.
d. Klem dan potong tali pusat
1) Melakukan pengkleman tali pusat dengan dua buah klem, pada 2-3
cm dari pangkal pusat bayi.
2) Memotong tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi badan
bayi dari gunting dengan tangan kiri.
3) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat bayi,
mengganti handscoon bila ternyata sudah kotor.
4) Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila terjadi perdarahan
lakukan pengikatan ulang.
5) Jangan mengoleskan apapun pada tampuk tali pusat, hindari
pembungkusan tali pusat agar mempercepat proses pengeringan.
e. Mencegah bayi kehilangan panas
Pastikan bayi agar tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit ibu
dan bayi. Mengganti kain bayi jika telah basah, bungkus bayi dengan
selimut atau kain bedong yang tebal, jangan lupa untuk memastikan
62
kepala bayi terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas
tubuh bayi.
f. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Segera setelah bayi lahir, setelah pemotongan tali pusat letakkan
bayi di dada ibu dengan kulit bayi kontak ke kulit ibu. Biarkan kontak
kulit ini menetap minimal selama 1 jam bahkan sampai bayi dapat
menyusu sendiri. Bayi diberi topi dan diselimuti ibu. Keuntungan IMD
untuk bayi:
1) Mempercepat keluarnya kolostrum yaitu makanan dengan kualitas
dan kuantitas optimal untuk kebutuhan bayi
2) Mengurangi infeksi dengan kekebalan aktif maupun pasif melalui
kolostrum
3) Mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari ke bawah
4) Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif, membantu
bayi mengkoordinasikan kemampuan hisap, telan dan nafas
5) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi mencegah bayi
hipotermi
Keuntungan IMD bagi ibu:
1) Merangsang kontraksi uterus sehingga menurunkan resiko
perdarahan pasca persalinan
2) Merangsang pengeluaran kolostrum dan peningkatan produksi ASI
3) Dapat menguatkan ikatan batin antara ibu dan bayi
g. Pemberian salep mata
63
Berikan salep mata tetrasiklin 1% pada bayi untuk mencegah
penyakit mata klamidia yang diberikan pada satu jam pertama setelah
persalinan.
h. Pemberian vitamin K
Semua bayi baru lahir harus diberikan injeksi vitamin K, injeksi 1
mg secara intramuscular pada paha kiri. Tujuannya untuk mencegah
terjadinya perdarahan pada bayi baru lahir akibat defisiensi vitamin K
yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.
i. Pemeriksaan Fisik Bayi
Tujuan pemeriksaan fisik pada bayi adalah memaksimalkan jumlah
informasi yang dikumpulkan, meminimalkan gangguan terhadap bayi
baru lahir dan orang tua. Evaluasi pemeriksaan fisik meliputi:
1) Pemeriksaan antropometri, meliputi mengukur panjang badan,
lingkar dada dan lingkar kepala.
2) Evaluasi sistem organ, meliputi pemeriksaan jenis kelamin,
kelainan-kelainan pada fisik bayi.
3) Pemeriksaan neurologis, meliputi pemeriksaan reflek bayi.
j. Pemberian HB0
Pemberian HB0 bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B
terhadap bayi terutama jalur penularan ibu dan bayi. Pemberian HB 0
dilakukan 1 jam setelah pemberian vitamin K. penyuntikan tersebut
dilakukan secara intramuscular disepertiga paha kanan atas bagian luar.
64
M. Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir
Adaptasi bayi baru lahir adalah adaptasi terhadap kehidupan di luar
Rahim. Periode ini berlangsung selama 28 hari pertama setelah bayi
dilahirkan. Berikut beberapa adaptasi fisiologis yang terjadi pada bayi baru
(Karo et al., 2023), (Raufaindah et al., 2022)
lahir yaitu:
a. Sistem Pernafasan
Pernapasan pada neonatus terutama adalah melalui abdominal dan
diafragmatik dan menjadi thorakal ketika bayi mulai duduksekitar
umur 6 bulan. Pernapasan pada neonatus tenang dan dangkal dengan
kecepatan antara 40-60 kali per menit.
b. Sistem Pencernaan
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan
mencerna sumber makanan dari luar cukup terbatas. Hal ini
membutuhkan enzim dan beberapa hormon pencernaan yang terdapat
di saluran cerna. Selain menghisap dan menelan dengan tujuan
memperoleh makanan, neonatus harus mulai berdefekasi dengan
tujuan mengeluarkan mekonium.
c. Sistem Urogenital
Neonatus berkemih 6-10 kali dengan warna urin pucat
menunjukkan masukan cairan yang cukup. Umumnya neonatus yang
cukup bulan berkemih 15-60 ml/kg/hari.
d. Sistem Integument
65
Pada neonatus PH kulit lebih tinggi, kulit lebih tipis, sekresi
keringat dan sebum sedikit. Hal ini menyebabkan neonatus rentan
terhadap infeksi kulit dari pada anak yang lebih besar atau orang
dewasa.
e. Sistem Musculoskeletal
Tulang-tulang pada neonatus masih lunak, karena tulang tersebut
sebagian besar terdiri dari kartilago yang hanya mengandung sedikit
kalsium. skeletonnya fleksibel dan persendiannya elastis untuk
menjamin keamanan dalam melewatijalan lahir.
f. Sistem Endokrin
Setelah lahir sistem endokrin bekerja sehingga bayi dapat hidup
diluar rahim ibunya karena hilangnya ketergantungan dari plasenta dan
ibu.
g. Sistem Saraf
Sistem persyarafan pada bayi baru lahir belum matang secara
anatomis dan berbeda dari sistem saraf otonom sangat penting selama
masa transisi kerana sistem ini menstimulasi respirasi awal, membantu
mempertahankan keseimbangan asam basa dan sebagian mengatur
control tubuh.
66
N. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Tanda bahaya bayi baru lahir yang harus dikenali ibu dan segera
periksa ke petugas kesehatan jika menemukannya, yaitu:
(Yulizawati et al., 2021)
, (Nurun Ayati Khasanah & Wiwit Sulistyawati, 2018)
a. Tidak mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum
b. Bayi kejang
c. Bayi lemah, bergerak hanya jika dirangsang/dipegang
d. Nafas cepat >60x/menit.
e. Bayi merintih
f. Tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat
g. Pusar kemerahan, berbau tidak sedap, keluar nanah
h. Demam (suhu > 370c) atau suhu tubuh bayi dingin (suhu < 36,50c)
i. Mata bayi bernanah
j. Bayi diare
k. Kulit bayi terlihat kuning pada telapak tangan dan kaki. Kuning pada
bayi yang berbahaya muncul pada hari pertama (kurang dari 24 jam)
setelah lahir dan ditemukan pada umur lebih dari 14 hari
l. Tinja berwarna pucat.
O. Tanda Bayi Cukup ASI
Bayi usia 0 – 6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila
mencapai keadaan sebagai berikut:
(Nurun Ayati Khasanah & Wiwit Sulistyawati, 2018)
67
a. Bayi minum ASI tiap 2 – 3 jam atau dalam 24 jam minimal
mendapatkan ASI 8 kali pada 2 – 3 minggu pertama.
b. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna menjadi
lebih muda pada hari kelima setelah lahir.
c. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6 – 8 x sehari.
d. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.
e. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.
f. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.
g. Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesuai
dengan grafik pertumbuhan.
h. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan
rentang usianya).
i. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun dan tidur
dengan cukup.
j. Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur
pulas.
Jika bayi sudah cukup minum ASI atau sudah kenyang, biasanya dia
akan melepaskan isapannya. Tapi kadang-kadang bayi juga berhenti
sejenak sewaktu minum ASI. Amati sebentar, kalau ia masih ingin
mengisap kembali, berarti dia masih belum merasa kenyang.
P. Kunjungan Bayi Baru Lahir
Pelayanan kesehatan BBL menurut Kemenkes RI (2015) adalah
pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan
68
kepada BBL sedikitnya 3 kali, dengan tujuan untuk mendapatkan bayi
yang sehat mencegah, dan mendeteksi secara dini komplikasi atau masalah
serta menangani masalah-masalah yang mungkin akan terjadi pada bayi.
selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir, diantaranya:
(Sari, 2022)
a. Kunjungan BBL ke-1 (KN 1) dilakukan 6 jam sampai dengan 48 jam
setelah lahir, dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, pengkajian
apakah ada tanda-tanda infeksi pada BBL, memandikan bayi,
perawatan tali pusat, hepatitis B, pencegahan kehilangan panas bayi,
ASI ekslusif, dan mendeteksi tanda-tanda bahaya pada BBL.
b. Kunjungan BBL ke-2 (KN 2) dilakukan pada hari ke-3 sampai hari ke-
7 setelah lahir, pemeriksaan fisik, personal hygiene, memandikan bayi,
melakukan perawatan tali pusat, perawatan kulit bayi, menjaga tubuh
bayi tetap hangat, pemberian ASI Eksklusif, pola istirahat, keamanan
dan mendeteksi tanda-tanda bahaya pada BBL.
c. Kunjungan BBL ke-3 (KN 3) dilakukan pada hari ke-8 sampai hari ke-
28 setelah lahir, pemeriksaan TTV, personal hygiene, memandikan
bayi, perawatan kulit, menganjurkan ibu memberikan ASI ekslusif
selama 6 bulan, melakukan pemeriksaan pertumbuhan dan nutrisi,
memberitahu ibu tanda-tanda bahaya pada BBL.
69
4. Konsep Dasar Nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (Postpartum) merupakan masa dimana 2 jam setelah
melahirkan plasenta sampai dengan 6 Minggu berikutnya, dalam periode
ini merupakan episode dramatasi dari kondisi ibu terkait perubahan
anatomi dan psikologis serta adaptasinya setelah melahirkan. Dalam
proses adaptasi atau penyeseuian ini sebagian ibu bisa menyesuikan diri
dan yang lainya tidak bisa, bagi yang tidak bisa menyesuikan diri beberapa
akan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai macam
(Pacitasari & Wijhati, 2023)
sindrom atau gejala.
Pada masa ini di perlukan asuhan yang berlansung secara konfrensif
mulai dari ibu masih dalam perawatan pasca persalinan di fasilitas
pelayanan kesehatan sampai ibu nifas kembali ke rumahnya. Banyak
perubahan yang terjadi pada masa nifas seperti perubahan fisik, involusio
(Kasmiati, 2023)
uteri, laktasi.
Q. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Selama masa ini, tubuh mengalami berbagai adaptasi untuk kembali ke
kondisi sebelum hamil. Perubahan fisiologis masa nifas mencakup
berbagai proses yang mendukung pemulihan kesehatan ibu secara
menyeluruh. Perubahan- perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu masa
(Sumarni & Nahira, 2019)
yaitu:
70
a. Uterus
Uterus merupakan organ reproduksi interna yang berongga dan
berotot, berbentuk seperti buah alpukat yang sedikit gepeng dan
berukuran sebesar telur ayam. Panjang uterus sekitar 7-8 cm, lebar
sekitar 5-5,5 cm dan tebal sekitar 2,5 cm. Letak uterus secara fisiologis
adalah anteversiofleksio. Uterus terbagi dari 3 bagian yaitu fundus
uteri, korpus uteri, dan serviks uteri.
Uterus berangsur- angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil:
1) Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000
gram.
2) Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah
pusat dengan berat uterus 750gram.
3) Satu minggu postpartum tinggi fundus uteri teraba pertengahan
pusat dengan simpisis, berat uterus 500gram.
4) Dua minggu postpartum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas
simpisis dengan berat uterus 350gram.
5) Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan
berat uterus 50gram.
Pemeriksaan uterus meliputi mencatat lokasi, ukuran dan
konsistensi antara lain:
71
1) Penentuan lokasi uterus
Dilakukan dengan mencatat apakah fundus berada diatas atau
dibawah umbilikus dan apakah fundus berada digaris tengah
abdomen/ bergeser ke salah satu sisi.
2) Penentuan ukuran uterus
Dilakukan melalui palpasi dan mengukur TFU pada puncak fundus
dengan jumlah lebar jari dari umbilikus atas atau bawah.
3) Penentuan konsistensi uterus
Ada 2 ciri konsistensi uterus yaitu uterus kerasa teraba sekeras batu
dan uterus lunak.
b. Serviks
Serviks merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya
menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Serviks
menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan
keluarnya janin dan uterus menuju saluran vagina pada saat
persalinan. Segera setelah persalinan, bentuk serviks akan menganga
seperti corong. Hal ini disebabkan oleh korpus uteri yang
berkontraksi sedangkan serviks tidak berkontraksi. Warna serviks
berubah menjadi merah kehitaman karena mengandung banyak
pembuluh darah dengan konsistensi lunak. Segera setelah janin
dilahirkan, serviks masih dapat dilewati oleh tangan pemeriksa.
Setelah 2 jam persalinan serviks hanya dapat dilewati oleh 2-3 jari
72
dan setelah 1 minggu persalinan hanya dapat dilewati oleh 1 jari,
setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.
c. Vagina
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan rongga uterus
dengan tubuh bagian luar. Dinding depan dan belakang vagina
berdekatan satu sama lain dengan ukuran panjang ± 6, 5 cm dan ± 9
cm. Selama proses persalinan vagina mengalami penekanan serta
pereganganan yang sangat besar, terutama pada saat melahirkan bayi.
Beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, vagina tetap berada
dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur- angsur
akan muncul kembali. Sesuai dengan fungsinya sebagai bagian lunak
dan jalan lahir dan merupakan saluran yang menghubungkan cavum
uteri dengan tubuh bagian luar, vagina juga berfungsi sebagai saluran
tempat dikeluarkannya sekret yang berasal dari cavum uteri selama
masa nifas yang disebut lochea. Karakteristik lochea dalam masa nifas
adalah sebagai berikut:
1) Lochea rubra/ kruenta, timbul pada hari 1- 2 postpartum, terdiri
dari darah segar barcampur sisa- sisa selaput ketuban, sel- sel
desidua, sisa- sisa verniks kaseosa, lanugo dan mekoneum.
2) Lochea sanguinolenta, timbul pada hari ke 3 sampai dengan hari ke
7 postpartum, karakteristik lochea sanguinolenta berupa darah
bercampur lendir.
73
3) Lochea serosa, merupakan cairan berwarna agak kuning, timbul
setelah 1 minggu postpartum.
4) Lochea alba, timbul setelah 2 minggu postpartum dan hanya
merupakan cairan putih. Normalnya lochea agak berbau amis,
kecuali bila terjadi infeksi pada jalan lahir, baunya akan berubah
menjadi berbau busuk.
d. Vulva
Sama halnya dengan vagina, vulva juga mengalami penekanan serta
peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi.
Beberapa hari pertama sesudah proses melahirkan vulva tetap berada
dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva akan kembali kepada
keadaan tidak hamil dan labia menjadi lebih menonjol.
e. Payudara (mamae)
Setelah pelahiran plasenta, konsentrasi estrogen dan progesteron
menurun, prolactin dilepaskan dan sintesis ASI dimulai. Suplai darah
ke payudara meningkat dan menyebabkan pembengkakan vascular
sementara. Air susu sata diproduksi disimpan di alveoli dan harus
dikeluarkan dengan efektif dengan cara dihisap oleh bayi untuk
pengadaan dan keberlangsungan laktasi. ASI yang akan pertama
muncul pada awal nifas ASI adalah ASI yang berwarna kekuningan
yang biasa dikenal dengan sebutan kolostrum. Kolostrum telah
terbentuk didalam tubuh ibu pada usia kehamilan ± 12 minggu.
Perubahan payudara dapat meliputi:
74
1) Penurunan kadar progesteron secara tepat dengan peningkatan
hormon prolactin setelah persalinan.
2) Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi ASI terjadi pada hari
ke 2 atau hari ke 3 setelah persalinan
3) Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses
laktasi
f. Tanda- tanda vital
Perubahan tanda- tanda vital antara lain:
1) Suhu tubuh
Setelah proses persalinan suhu tubuh dapat meningkat 0,5⁰
celcius dari keadaan normal namun tidak lebih dari 38⁰ celcius.
Setelah 12 jam persalinan suhu tubuh akan kembali seperti keadaan
semula.
2) Nadi
Setelah proses persalinan selesai frekuensi denyut nadi dapat
sedikit lebih lambat. Pada masa nifas biasanya denyut nadi akan
kembali normal.
3) Tekanan darah
Setelah partus, tekanan darah dapat sedikit lebih rendah
dibandingkan pada saat hamil karena terjadinya perdarahan pada
proses persalinan.
75
4) Pernafasan
Pada saat partus frekuensi pernapasan akan meningkat karena
kebutuhan oksigen yang tinggi untuk tenaga ibu meneran/
mengejan dan memepertahankan agar persediaan oksigen ke janin
tetap terpenuhi. Setelah partus frekuensi pernafasan akan kembali
normal.
g. Sistem peredaran darah (Kardiovaskuler)
Denyut jantung, volume dan curah jantung meningkat segera setelah
melahirkan karena terhentinya aliran darah ke plasenta yang
mengakibatkan beban jantung meningkat yang dapat diatasi dengan
haemokonsentrasi sampai volume darah kembali normal, dan pembulu
darah kembali ke ukuran semula.
h. Sistem pencernaan
Pada ibu yang melahirkan dengan cara operasi (section caesarea)
biasanya membutuhkan waktu sekitar 1- 3 hari agar fungsi saluran
cerna dan nafsu makan dapat kembali normal. Ibu yang melahirkan
secara spontan biasanya lebih cepat lapar karena telah mengeluarkan
energi yang begitu banyak pada saat proses melahirkan. Buang air
besar biasanya mengalami perubahan pada 1- 3 hari postpartum, hal ini
disebabkan terjadinya penurunan tonus otot selama proses persalinan.
Selain itu, enema sebelum melahirkan, kurang asupan nutrisi dan
dehidrasi serta dugaan ibu terhadap timbulnya rasa nyeri disekitar
anus/ perineum setiap kali akan b.a.b juga mempengaruhi defekasi
76
secara spontan. Faktor- faktor tersebut sering menyebabkan timbulnya
konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Kebiasaan defekasi
yang teratur perlu dilatih kembali setelah tonus otot kembali normal.
i. Sistem perkemihan
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan
terdapat spasine sfingter dan edema leher buli- buli sesudah bagian ini
mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama
persalinan. Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam
waktu 12- 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan,
kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami
penurunan yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Uterus
yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.
j. Sistem integumen
Perubahan kulit selama kehamilan berupa hiperpigmentasi pada
wajah, leher, mamae, dinding perut dan beberapa lipatan sendi karena
pengaruh hormon akan menghilang selama masa nifas.
k. Sistem musculoskeletal
Ambulasi pada umumnya dimulai 4- 8 jam postpartum. Ambulasi
dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat
proses involusi.
77
R. Kebutuhan Pada Masa Nifas
Kebutuhan dasar pada ibu masa nifas mencakup berbagai aspek yang
harus dipenuhi guna memastikan pemulihan optimal dan kesejahteraan
(Sumarni & Nahira, 2019)
ibu, yaitu:
a. Kebutuhan nutrisi
Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat- zat
yang berguna bagi tubuh ibu pasca melahirkan dan untuk persiapan
prosuksi ASI, terpenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, zat besi,
vitamin dan minelar untuk mengatasi anemia, cairan dan serat untuk
memperlancar ekskresi.
Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat- zat
yang berguna bagi tubuh ibu pasca melahirkan dan untuk persiapan
prosuksi ASI, terpenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, zat besi,
vitamin dan minelar untuk mengatasi anemia, cairan dan serat untuk
memperlancar ekskresi. Kebutuhan kalori wanita dewasa yang sehat
dengan berat badan 47 kg diperkirakan sekitar 2200 kalori/ hari. Ibu
yang berada dalam masa nifas dan menyusui membutuhkan kalori
yang sama dengan wanita dewasa, ditambah 700 kalori pada 6 bulan
pertama untuk membeikan ASI eksklusif dan 500 kalori pada bulan ke
tujuh dan selanjutnya.
b. Kebutuhan cairan
Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme
tubuh. Minumlah cairan cukup untuk membuat tubuh ibu tidak
78
dehidrasi. Ibu dianjurkan untuk minum setiap kali menyusui dan
menjaga kebutuhan hidrasi sedikitnya 3liter setiap hari. Asupan tablet
tambah darah dan zat besi diberikan selama 40 hari postpartum.
Minum kapsul Vit A (200.000 unit).
c. Kebutuhan mobilisasi
Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara
aktivitas dan istirahat. Dalam 2 jam setelah bersalin ibu harus sudah
melakukan mobilisasi. Dilakukan secara perlahan- lahan dan bertahap.
Dapat dilakukan dengan miring kanan atau kiri terlebih dahulu dan
berangsur- angsur untuk berdiri dan jalan. Mobilisasi dini bermanfaat
untuk:
a) Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium.
b) Ibu merasa lebih sehat dan kuat.
c) Mempercepat involusi alat kandungan.
d) Fungsi usus, sirkulasi, paru- paru dan perkemihan lebih baik.
e) Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat
fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
f) Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu.
g) Mencegah trombosis pada pembuluh tungkai.
d. Kebutuhan eliminasi
Dalam 6 jam pertama postpartum, pasien sudah harus dapat buang
air kecil. Semakin lama urine tertahan dalam kandung kemih maka
dapat mengakibatkan gangguan pada kontraksi uterus. Dalam 24 jam
79
pertama, pasien juga sudah harus buang air besar karena semakin lama
feses tertahan semakin sulit baginya untuk buang air besar dengan
lancar.
e. Kebersihan diri
Pada masa nifas yang berlangsung selama lebih kurang 40 hari,
kebersihan vagina perlu mendapat perhatian lebih. Vagina merupakan
bagian dari jalan lahir yang dilewati janin pada saat proses persalinan.
Kebersihan vagina yang tidak terjaga dengan baik pada masa nifas
dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada vagina itu sendiri yang
dapat meluas sampai ke rahim.
f. Kebutuhan istirahat dan tidur
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang
dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada
siang hari. Pada tiga hari pertama dapat merupakan hari yang sulit bagi
ibu akibat menumpuknya kelelahan karena proses persalinan dan nyeri
yang timbul pada luka perineum. Secara teoritis, pola tidur akan
kembali mendekati normal dalam 2 sampai 3 minggu setelah
persalinan. Pada ibu nifas, kurang istirahat akan mengakibatkan:
1) Berkurangnya produksi ASI.
2) Memperlambat proses involusi uterus dan meningkatkan
perdarahan.
3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri.
80
g. Kebutuhan seksual
Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual
kembali setelah 6 minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu
didasarkan atas pemikiran pada masa itu semua luka akibat persalinan,
termasuk luka episiotomi. Bila suatu persalinan dipastikan tidak ada
luka atau laserasi/ robek pada jaringan, hubungan seks bahkan telah
boleh dilakukan 3- 4 minggu setelah proses melahirkan. Meskipun
hubungan telah dilakaukan setelah minggu ke- 6 adakalanya ibu- ibu
tertentu mengeluh hubungan masih terasa sakit atau nyeri meskipun
telah beberapa bulan proses persalinan.
h. Kebutuhan perawatan payudara
Kebutuhan perawatan payudara pada ibu masa nifas antara lain:
1) Sebaiknya perawatan mamae telah dimulai sejak wanita hamil
supaya puting lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan
untuk menyusui bayinya.
2) Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara:
pembalutan mamae sampai tertekan, pemberian obat estrogen
untuk supresi LH seperti tablet Lynoral dan Pardolel.
3) Ibu menyusi harus menjaga payudaranya untuk tetap bersih dan
kering.
4) Menggunakan bra yang menyongkong payudara.
5) Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar
pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui, kemudian
81
apabila lecetnya sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam.
Asi dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok. Selain itu,
untuk menghilangkan rasa nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet
setiap 4- 6 jam.
i. Latihan senam nifas
Pada masa nifas yang berlangsung selama lebih kurang 6 minggu,
ibu membutuhkan latihan- latihan tertentu yang dapat mempercepat
proses involusi. Salah satu latihan yang dianjurkan pada masa ini
adalah senam nifas. Senam nifas adalah senam yang dilakukan oleh
ibu setelah persalinan, setelah keadaan ibu normal. Senam nifas
sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah persalinan, secara teratur
setiap hari. Luka yang timbul akibat proses persalinan karena 6 jam
setelah persalinan normal dan 8 jam setelah persalinan Caesar, ibu
sudah dianjurkan untuk mobilisasi dini. Tujuan utama mobilisasi dini
adalah agar peredaran darah ibu dapat berjalan dengan baik sehingga
ibu dapat melakukan senam nifas. Manfaat senam nifas antara lain:
1) Memperbaiki sirkulasi darah sehingga mencegah terjadinya
pembekuan (trombosis) pada pembuluh darah terutama pembuluh
tungkai.
2) Memperbaiki sikap tubuh selama kehamilan dan persalinan dengan
memulihkan dan menguatkan otot- otot punggung.
3) Memperbaiki tonus otot pelvis.
4) Memperbaiki regangan otot tungkai bawah.
82
5) Memperbaiki regangan otot abdomen setelah hamil dan
melahirkan.
6) Meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot- otot
dasar panggul.
7) Mempercepat terjadinya proses involusi organ- organ reproduksi.
Tidak semua ibu setelah persalinan dapat melakukan senam nifas.
Untuk ibu- ibu yang mengalami komplikasi selama persalinan
tidak dibolehkan melakukan senam nifas. Demikian juga untuk
penderita kelainan seperti jantung, ginjal atau diabetes.
j. Rencana KB
Rencana KB setelah ibu melahirkan sangatlah penting, dikarenakan
secara tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat
anaknya dengan baik serta mengistirahatkan alat kandungnya.
S. Tahapan Masa Nifas
Selama masa nifas, terdapat proses pemulihan yang terjadi secara
bertahap yang berlangsung hingga organ reproduksi ibu kembali ke
keadaan sebelum hamil. Tahapan masa nifas tersebut sebagai berikut:
(Pacitasari & Wijhati, 2023)
a. Puerperium Dini (Immediate Postpartum): 0 – 24 jam postpartum.
Yaitu masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam.
Perdarahan merupakan masalah terbanyak pada masa ini. Kepulihan
dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan
aktivitas layaknya wanita normal lainnya. Oleh karena itu, bidan
83
dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus,
pengeluaran lokiaa, tekanan darah dan suhu.
b. Puerperium Intermediate (Early Postpartum): 24 jam – 1 minggu
postpartum: pada fase dimana involusi uterus harus dipastikan dalam
keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk,
tidak demam, ibu cukup mendapat nutrisi dan cairan, ibu dapat
menyusui dengan baik. Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya sekitar 6- 8 minggu.
c. Puerperium Remote (Late Postpartum): 1 - 6 minggu postpartum
waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
Masa dimana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari, serta
konseling KB. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,
bulanan, tahunan.
T. Kunjungan Nifas
Kunjungan nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan yang
dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2020), jadwal kunjungan pada masa
(Hidayah et al., 2022)
nifas sebagai berikut:
a. Kunjungan Nifas ke-1 (KF 1)
Kunjungan I Kunjungan dalam waktu 6 jam – 2 hari setelah
persalinan, yaitu:
84
1) Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan
memberikan rujukan bila perdarahan berlanjut
3) Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagimana mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
4) Pemberian ASI pada awal menjadi ibu
5) Menganjarkan ibu untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermi.
b. Kunjungan Nifas ke-2 (KF 2)
Kunjungan dalam waktu 3 – 7 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan
tidak ada bau
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca
melahirkan
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda
penyulit
5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan bayi, cara
merawat tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap hangat.
85
c. Kunjungan Nifas ke-3 (KF 3)
Kunjungan dalam waktu 8 – 14 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan
tidak ada bau
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca
melahirkan
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda
penyulit
5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi,
cara merawat tali pusat, dan menjaga bayi tetap hangat.
d. Kunjungan Nifas ke-4 (KF 4)
Kunjungan dalam waktu 29 – 42 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami atau
bayinya.
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.
U. Tujuan Asuhan Nifas
Asuhan pada masa nifas diperlukan karena pada periode ini masa
kritis baik ibu maupun bayinya terutama dalam 24 jam waktu jam pertama.
(Kasmiati, 2023)
Adapun tujuan asuhan masa nifas yaitu:
86
a. Tujuan Umum
Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal
mengasuh anak.
b. Tujuan Khusus
1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun
fisiologiknya.
2) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah
mengobati/merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya
3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi
pada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
4) Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Berikut ada tujuan asuhan pada masing-masing tahap:
a. Puerperium Dini (Immediate Postpartum)
1) Memantau tanda vital ibu dan bayi untuk mendeteksi komplikasi.
2) Menilai perdarahan postpartum dan memberikan intervensi jika
diperlukan.
3) Mendorong inisiasi menyusui segera untuk memperkuat bonding
dan stimulasi laktasi.
4) Mengedukasi ibu tentang perawatan diri dan pentingnya istirahat.
b. Puerperium Intermediate (Early Postpartum)
87
1) Melanjutkan pemantauan kesehatan ibu, termasuk pemeriksaan
luka jahitan dan tanda infeksi.
2) Mengidentifikasi dan menangani masalah laktasi.
3) Memberikan dukungan emosional dan psikologis untuk ibu dalam
beradaptasi dengan perannya.
4) Mengedukasi ibu tentang tanda-tanda bahaya yang perlu
diwaspadai.
c. Puerperium Remote (Late Postpartum)
1) Memantau pemulihan fisik dan psikologis ibu, termasuk kesehatan
mental.
2) Menilai perkembangan bayi dan memastikan kebutuhan gizi
terpenuhi.
3) Memberikan informasi tentang kontrasepsi dan perencanaan
keluarga.
4) Mendorong ibu untuk kembali ke aktivitas normal secara bertahap
dan menjaga kesehatan.
Setiap tahap memiliki fokus yang berbeda, tetapi semuanya penting
untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi secara keseluruhan.
V. Tanda Bahaya Masa Nifas
Tanda bahaya ibu nifas adalah suatu tanda yang abnormal yang
mengindikasikan adanya bahaya atau komplikasi yang dapat terjadi selama
masa nifas, apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa
88
menyebabkan kematian ibu. Tanda-tanda bahaya postpartum, adalah
(Hidayah et al., 2022)
sebagai berikut:
a. Perdarahan postpartum
Perdarahan postpartum dibedakan menjadi sebagai berikut:
1) Perdarahan portpartum primer (early postpartum hemorrhage)
adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam
setelah anak lahir, atau perdarahan dengan volume seberapapun
tetapi terjadi perubahan keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital
sudah menunjukkan analisa adanya perdarahan. Penyebab utama
adalah atonia uteri, retensio placenta, sisa plasenta dan robekan
jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
2) Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage)
adalah perdarahan dengan konsep pengertian yang sama seperti
perdarahan postpartum primer namun terjadi setelah 24 jam
postpartum hingga masa nifas selesai. Perdarahan postpartum
sekunder yang terjadi setelah 24 jam, biasanya terjadi antara hari
ke 5 sampai 15 postpartum. Penyebab utama adalah robekan jalan
lahir dan sisa plasenta. Perdarahan postpartum merupakan
penyebab penting kematian maternal khususnya di negara
berkembang.
b. Tanda infeksi masa nifas
Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas ibu. Infeksi alat genital merupakan
89
komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas kesaluran urinari,
payudara, dan pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab
terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas,
malaise, denyut nadi cepat. Gejala lokal dapat berupa uterus lembek,
kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria. Lochea
yang berbau busuk dan bernanah disertai nyeriperut bagian bawah
kemungkinan diagnosis adalah metritis. Metritis adalah infeksi uterus
setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar
kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat
menjadi abses pelvik, peritonitis, syok septic.
c. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah
penglihatan
Sakit kepala merupakan merupakan tanda-tanda bahaya pada nifas.
Pusing bisa disebabkan oleh tekanan darah tinggi (Sistol ≥140 mmHg
dan distolnya ≥90 mmHg). Pusing yang berlebihan juga perlu
diwaspadai adanya keadaan preeklampsi/eklampsi postpartum, atau
keadaan hipertensi esensial. Pusing dan lemas yang berlebihan dapat
juga disebabkan oleh anemia bila kadar haemoglobin <10 gr%. Lemas
yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya, dimana keadaan
lemas dapat disebabkan oleh kurangnya istirahat dan kurangnya
asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat, tekanan darah rendah.
d. Nyeri bagian bawah abdomen atau punggung
90
Nyeri bagian bawah abdomen biasa menjadi indikasi terjadinya sub
involusi uterus atau pengecilan rahim yang terganggu. Involusi adalah
keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana berat rahim dari
1000gr saat setelah bersalin, menjadi 40-60 mg 6 minggu kemudian.
Bila pengecilan ini kurang baik atau terganggu di sebut sub-involusi.
Faktor penyebab sub-involusi, antara lain: sisa plasenta dalam uterus,
endometritis, adanya mioma uteri. Pada pemeriksaan bimanual di
temukan uterus lebih besar dan lebih lembek dari seharusnya, fundus
masih tinggi, lochea banyak dan berbau, dan tidak jarang terdapat pula
perdarahan.
e. Pembengkakan di wajah dan ekstremitas
Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-
vena di pelvis maupun tungkai yang mengalami dilatasi. Keadaan ini
secara klinis dapat menyebabkan peradangan pada vena-vena pelvis
maupun tungkai yang disebut tromboplebitis pelvica (pada panggul)
dan tromboplebitis femoralis (pada tungkai). Pembengkakan ini juga
dapat terjadi karena keadaan udema yang merupakan tanda klinis
adanya preeklampsi/ eklampsi.
f. Demam, muntah, rasa nyeri waktu berkemih
Pada masa nifas awal sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan
air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan
serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung
kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang
91
ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi, hematom dinding
vagina.
g. Payudara kemerahan, terasa panas dan sakit
Keadaan ini dapat disebabkan oleh payudara yang tidak disusu
secara adekuat, puting susu yang lecet, BH yang terlalu ketat, ibu
dengan diet yang kurang baik, kurang istirahat, serta anemia. Keadaan
ini juga dapat merupakan tanda dan gejala adanya komplikasi dan
penyulit pada proses laktasi, misalnya pembengkakan payudara,
bendungan ASI, mastitis dan abses payudara.
h. Sakit/nyeri, kemerahan, panas, disertai dengan area yang keras pada
betis
Tromboflebitis merupakan inflamasi pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Bekuan darah dapat terjadi di
permukaam atau di dalam vena. Tromflebitis cenderung terjadi pada
periode pacsa partum pada saat kemampuan pengumpulan darah
meningkat akibat peningkatan fibrinogen. Factor penyebab terjadinya
infeksi tromboflebitis antara lain:
1) Pasca bedah, perluasan infeksi endometrium;
2) Mempunyai varises pada vena.
3) Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat mempengaruhi
nafsu makan, sehingga terkadang ibu tidak ingin makan sampai
kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin berikan ibu minuman
92
hangat, susu, kopi atau teh yang bergula untuk mengembalikan tenaga
yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya ringan, karena alat
pencernaan perlu proses guna memulihkan keadaanya kembali pada
masa postpartum.
i. Merasa Sedih atau Tidak Mampu Mengurus Bayi dan Dirinya Sendiri
Pada minggu-minggu awal setelah persalinan sampai kurang lebih
1 tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan perasaan
yang tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak mampu
mengasuh dirinya sendiri atau bayinya. Ada kalanya ibu mengalami
perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang
dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya.
j. Merasa sangat letih atau nafas terengah engah
5. Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan mengacu pada KEPMENKES
NO.938/MENKES/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan yang
meliputi:
1. Standar I (Pengkajian/ Rumusan Format Pengkajian)
Pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk
mengevaluasi keaadaan klien secara lengkap. Data yang terkumpul ini
sebagai data dasar untuk interpretasi kondisi klien guna menentukan
langkah berikutnya.
Pengkajian tersebut dapat dilakukan dengan:
93
a. Anamnesa
1) Biodata, data demografi
2) Keluhan utama
3) Riwayat kesehatan, termasuk faktor herediter dan kecelakaan
4) Riwayat menstruasi
5) Riwayat obstetrik, ginekologi termasuk nifas dan laktasi
6) Pola kehidupan sehari-hari
7) Riwayat kontrasepsi
8) Pengetahuan klien
b. Pemeriksaan fisik, sesuai kebutuhan dan tanda-tanda vital
c. Pemeriksaan khusus
1) Inspeksi
2) Palpasi
3) Auskultasi
4) Perkusi
d. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
2) Diagnosa lain: USG dan radiologi
e. Pengkajian sesaat pada bayi segera setelah lahir
1) Bayi lahir spontan
2) Segera menangis kuat
3) Gerakan aktif
4) Warna kulit merah muda
94
2. Standar II (Perumusan Diagnosa/ Masalah Kebidanan)
a. Diagnosa
1) Ibu hamil
Dx: Ibu hamil G...P...A...H..., usia kehamilan...minggu, janin
hidup/mati, tunggal/ganda, intrauterine/ekstrauterine, letak
kepala/letak bokong/letak lintang, keadaan jalan lahir normal/tidak
normal, keadaan umum ibu dan janin baik/tidak.
2) Ibu bersalin
a) Kala I
Dx: Ibu inpartu G…P…A…H…, aterm, kala I fase aktif, janin
hidup/mati, tunggal/ganda, intrauterine/ekstrauterine,
letkep/letsu/letli, keadaan umum ibu baik/tidak.
b) Kala II
Dx: Ibu inpartu kala II normal, keadaan umum ibu baik/tidak.
c) Kala III
Dx: Ibu inpartu kala III normal, keadaan umum ibu baik/tidak.
d) Kala IV
Dx: Ibu parturient kala IV normal, keadaan umum ibu
baik/tidak.
3) Bayi Baru Lahir
Dx: Bayi Baru lahir normal, usia…jam, keadaan umum bayi
baik atau tidak.
95
4) Ibu nifas
Dx: P…A…H…, nifas hari ke…, keadaan umum ibu baik atau
tidak.
b. Masalah
Masalah dapat diidentifikasi berdasarkan keluhan yang dirasakan
oleh ibu.
c. Kebutuhan
Informasi mengenai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan,
informasi tentang masalah yang dialami ibu, penjelasan tentang solusi
dari masalah yang dialami, informasi kebutuhan nutrisi ibu, infomasi
kebutuhan istirahat ibu, informasi personal hygiene, informasi
mengenai kunjungan ulang.
3. Standar III (Perencanaan)
a. Kehamilan
1) Berikan informasi mengenai hasil pemeriksaan kepada ibu.
2) Berikan informasi kepada ibu bahwa terdapat perubahan fisiologis
dan ketidaknyamanan umum selama hamil.
3) Berikan informasi kebutuhan nutrisi ibu hamil trimester III
4) Beritahu ibu mengenai pentingnya kebutuhan istirahat selama
hamil trimester III.
5) Diskusi dengan ibu mengenai pentingnya latihan fisik ringan
selama hamil.
6) Diskusikan tentang rencana persalinan.
96
7) Jelaskan kepada ibu tanda bahaya kehamilan trimester III
8) Diskusikan dengan ibu mengenai kunjungan ulang.
b. Persalinan
1) Kala I
a) Memantau tekanan darah, suhu badan, denyut nadi setiap 4
jam, mendengarkan DJJ setiap 1 jam pada fase laten dan 30
menit pada fase aktif
b) Melakukan palpasi kontraksi uterus setiap 1 jam pada fase laten
dan 30 menit pada fase aktif
c) Memantau pembukaan serviks, penurunan bagian terendah
janin pada fase laten dan fase aktif dilakukan setiap 4 jam
d) Memonitor pengeluaran Urin setiap 2 jam
e) Mencatat seluruh hasil pemantauan ke dalam partograf
f) Menginformasikan hasil pemeriksaan dan rencana asuhan serta
kemajuan persalinan dan meminta persetujuan keluarga untuk
rencana selanjutnya
g) Mengatur aktivitas dan posisi ibu juga membimbing relaksasi
ketika ada his
h) Menjaga privasi dan kebersihan ibu, memberi rasa aman dan
nyaman, mengurangi rasa nyeri dengan melakukan masase
ketika ada kontraksi pada ibu.
i) Memberi asupan nutrisi yang cukup
j) Memastikan kandung kemih tetap kosong
97
2) Kala II
a) Memberi dukungan terus menerus kepada ibu
b) Memastikan kecukupan asupan nutrisi
c) Mempersiapkan kelahiran bayi
d) Membimbing ibu mengejan ketika ada kontraksi
e) Memantau TTV dan DJJ terus menerus
f) Melahirkan kepala sesuai mekanisme persalinan
g) Melahirkan bahu dan diikuti seluruh badan bayi
h) Menilai tanda-tanda kehidupan bayi dengan minimal tiga
aspek, yaitu usaha bernapas, denyut jantung, dan warna kulit
i) Menjepit dari pusat dan memotong tali pusat
j) Menjaga kehangatan bayi
k) Mendekatkan bayi pada ibunya sekaligus menuntun untuk IMD
3) Kala III
a) Melakukan palpasi uterus untuk memastikan tidak ada janin
kedua
b) Memberi injeksi oksitosin 10 U/M segera setelah 2 menit
kelahiran bayi
c) Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT)
d) Lahirkan plasenta setelah ada tanda-tanda pelepasan plasenta
4) Kala IV
a) Melakukan pemantauan kontraksi uterus, pengeluaran darah,
tanda-tanda vital setiap 15 menit selama 1 jam pertama, setiap
98
30 menit selama 1 jam kedua. jika uterus tidak berkontraksi
dengan baik lakukan masase fundus dan berikan metil
ergometrin 0,2 mg IM jika ibu tidak mengalami hipertensi.
b) Melakukan pemeriksaan jalan lahir dan perineum
c) Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaputnya
d) Mengajarkan ibu dan keluarga bagaimana memeriksa kontraksi
dengan cara meraba uterus dan memasasenya
e) Mengevaluasi jumlah darah yang hilang
f) Memantau pengeluaran lochea
c. Bayi Baru Lahir
1) Rawat gabung ibu dan bayi dan melakukan penilaian APGAR skor.
2) Pemeriksaan antropometri bayi baru lahir
3) Menjaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
4) Bounding attachment dan IMD
5) Injeksi vitamin K 1 jam setelah bayi lahir secara IM
6) Pemberian salep mata gentamisin 1 jam setelah bayi lahir
7) Injeksi Hb0 sebanyak 0,5 cc secara IM, 1 jam setelah vitamin K
8) Merencanakan bayi dimandikan setelah 6 jam lahir
9) Melakukan perawatan tali pusat
d. Nifas
1) Menjaga kebersihan diri
2) Istirahat
3) Latihan fisik/senam
99
4) Nutrisi
5) Menyusui
6) Perawatan payudara
7) Sanggama
8) Keluarga berencana
4. Standar IV (Implementasi)
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah sebelumnya dilaksanakan secara efisien dan aman.
Perencanaan ini bisa dilakukan sebelumnya oleh bidan atau sebagian lagi
oleh klien atau anggota tim kesehatan/lainnya. Walaupun bidan tidak
melaksanakan asuhan sendiri tetapi bidan tetap memiliki tanggung jawab
untuk mengarahkan pelaksanaanya. Bila perlu berkolaborasi dengan
dokter atas komplikasi yang ada. Manajemen yang efisien berhubungan
dengan waktu, biaya serta peningkatan mutu asuhan. Kaji ulang apakah
semua rencana sudah dilaksanakan.
5. Standar V (Evaluasi)
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar
benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada
kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedangkan
sebagian belum efektif.
100
6. Standar VI (Pencatatan Asuhan Kebidanan)
Pendokumentasian dilakukan dengan metode SOAP. Menurut Helen
Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah, agar
diketahui orang lain apa yang dilakukan seorang bidan melalui proses
berpikir sistematis, maka didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu:
a. S: Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hana pengumpulan data asien
melalui anamnesa tanda gejala subjektif yang diperoleh dari hasil
bertanya dari pasien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan,
riwayat menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan. riwayat KB, penyakit, riwayat penyakit keluarga, riwayat
penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).
b. O: Objektif
Mengambarkan pendokumentasian hasil analisa dan fisik pasien,
hasil lab, dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus
untuk mendukung assesment. Tanda dan gejala objektif yang diperoleh
dari hasil pemeriksaan (keadaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan
fisik, pemeriksan khusus, pemeriksaan kebidanan, pemeriksaan dalam,
pemeriksan laboratorium dan pemeriksaan penunjang). Pemeriksaan
dengan ispeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
c. A: Assesment (Pengkajian)
Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau
informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau
101
diseimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah dan selalu ada
informasi baru baik subjektif maupun objektif dan sering diungkapkan
secara terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah suatu proses
yang dinamika.
d. P: Planning (Rencana)
Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan serta
evaluasi berdasarkan assesment SOAP untuk perencanaan,
implementasi, dan evaluasi dimasukkan kedalam perencanaan.
102
6. Kerangka Pikir
1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
1. Kesehatan
Ibu Hamil Masalah Kebidanan
Ibu
Trimester 3. Perencanaan sesuai dengan teori
2. Kesehatan
4. Implementasi
Janin
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan
1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah Kebidanan 1. Kesehatan
Ibu 3. Perencanaan sesuai dengan teori Ibu
Bersalin 4. Implementasi 2. Kesehatan
5. Evaluasi Janin
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan
1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah kebidanan
Ibu Nifas 3. Perencanaan sesuai dengan teori Kesehatan
4. Implementasi Ibu
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan
1. Pengkajian
2. Perumusan Diagnosa atau
masalah kebidanan
Bayi Baru 3. Perencanaan sesuai dengan teori Kesehatan
Lahir 4. Implementasi Bayi
5. Evaluasi
6. Laporan Pelaksanaan Asuhan
kebidanan
Gambar 2. 4 Kerangka Pikir
Asuhan Kebidanan Berkesinambungan Pada Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan Bayi
Baru Lahir.
Sumber: Kemenkes RI, 2018
BAB III
METODE PENELITIAN LAPORAN TUGAS AKHIR
7. Jenis Laporan Kasus
Laporan Tugas Akhir (LTA) ditulis berdasarkan laporan kasus asuhan
kebidanan komprehensif secara continuity of care (CoC) dengan mendampingi
dan memantau ibu secara berkesinambungan atau berkelanjutan pada masa
hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. Jenis penelitian ini adalah kualitatif
dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan cara meneliti suatu
permasalahan yang berhubungan dengan kasus itu sendiri serta mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi, kejadian khusus yang muncul sehubungan
dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan.
(Hengki Fernanda, 2023)
8. Lokasi dan Waktu
1. Lokasi Penelitian
Penelitian telah dilakukan di Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab
Efendi, Amd. Keb Kabupaten Solok Tahun 2025.
2. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilakukan pada bulan 10 Februari 2025 s/d 12 April
2025.
9. Subjek Studi Kasus
Subjek dalam studi kasus ini adalah:
103
104
1. Ny. R Usia 31 tahun G3P2A0H2 dari usia kehamilan 36-37 minggu,
kemudian dilanjutkan dengan asuhan kebidanan ibu bersalin, sampai nifas
hari ke-20.
2. Bayi Ny. R dengan jenis kelamin perempuan dari kelahiran sampai dengan
usia 20 hari.
10. Instrumen Studi Kasus
Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, seperti
pemeriksaan fisik, inspeksi, palpasi, auskultasi, dan pemeriksaan
laboratorium. Selanjutnya, instrumen yang digunakan adalah wawancara dan
studi dokumentasi dalam bentuk format asuhan kebidanan pada ibu hamil,
bersalin, nifas, dan bayi baru lahir beserta pendokumentasian
dalam bentuk SOAP.
11. Teknik Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan
melakukan pengumpulan (wawancara/anamnesa, pemeriksaan, dan
observasi).
a. Wawancara/Anamnesa
Wawancara/anamnesa dilakukan dengan tanya jawab langsung baik
kepada klien atau keluarga mengenai kondisi klien dan mengkaji
keluhan keluhan yang dirasakan oleh klien beserta riwayat penyakit
klien maupun keluarga dengan menggunakan format pengkajian data
pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir.
105
b. Pemeriksaan / Observasi
Peneliti melakukan pemeriksaan atau observasi dengan melakukan
pengamatan dalam suatu gejala yang muncul dalam pemeriksaan fisik
Ny. R, yaitu melakukan inspeksi mulai dari kepala, mata, wajah, leher,
payudara, abdomen, ekstremitas, sampai dengan genetalia ibu.
Kemudian pemeriksaan palpasi mulai dari leopold I sampai dengan
loopold IV, pemeriksaan perkusi untuk melihat reflek patella kanan
dan kiri ibu, selanjutnya pemeriksaan auskultasi untuk mendengar
detak jantung janin pada punctum maximum ibu.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berasal dari olahan data primer. Dalam
hal ini, data sekunder digunakan untuk melengkapi data yang ada
hubungannya dengan masalah yang ditemukan. Oleh karena itu, peneliti
mengambil data dengan studi dokumentasi yaitu mendapatkan data darı
dokumen atau catatan medik ibu, yaitu buku Kesehatan Ibu Anak (KIA).
Data sekunder yang didapatkan dari buku KIA ibu yaitu status
imunisasi TT ibu, dan tanggal terakhir ibu melakukan pemeriksaan labor
(Hb, protein urin, glukosa urin, dan triple eliminasi) serta hasil
pemeriksaan labor tersebut.
12. Alat dan Bahan
1. Wawancara/Anamnesa
106
Alat dan bahan yang digunakan dalam wawancara/anamnesa yaitu
format asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas,
dan bayi baru lahir.
2. Studi Dokumentasi
Bahan yang digunakan dalam studi kasus adalah catatan medik dan
buku KIA klien.
3. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan fisik ibu hamil
Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon.
timbangan berat badan, meteran, tensimeter, stetoskop, thermometer,
pita lila, metlin (pita ukur), jam tangan, doppler/leanec, dan refleks
hammer.
b. Pemeriksaan fisik ibu bersalin
Alat dan bahan yang digunakan adalah Alat Pelindung Diri (APD)
lengkap, yaitu masker, handscoon, tensimeter, stetoskop. thermometer,
metlin, jam tangan, doppler/leanec.
c. Pertolongan persalinan
Alat dan bahan yang digunakan adalah Alat Pelindung Diri (APD)
lengkap, yaitu masker, handscoon, kacamata, sepatu boots. tensimeter,
stetoskop, thermometer, metlin, doppler/leanec, partus set, kapas DTT,
107
delee, spuit 3 ml, oksitosin, kapas alcohol, kain bersih, handuk,
celemek, perlak, air DTT, larutan klorin.
d. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir
Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon,
timbangan berat badan bayi, alat ukur panjang bayi, lampu sorot, pita
lila, serta pakaian bayi baru lahir lengkap.
e. Pemeriksaan fisik ibu nifas
Alat dan bahan yang digunakan adalah masker, handscoon,
timbangan berat badan, meteran, tensimeter, stetoskop, thermometer.
BAB IV
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
13. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi yang digunakan peneliti sebagai tempat penelitian adalah Praktik
Mandiri Bidan (PMB) Zainab Efendi, Amd. Keb yang berlokasi di Nagari
Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Batas Nagari Saok
Laweh yaitu, sebelah timur berbatasan dengan Nagari Guguak Sarai, sebelah
barat dan utara berbatasan dengan Kota Solok, sebelah selatan berbatasan
dengan Nagari Gauang. Masyarakat disekitar PMB merupakan masyarakat
bermata pencarian bertani dan berdagang.
Sarana dan prasarana di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb termasuk yang
memiliki fasilitas cukup lengkap karena memiliki ruang pemeriksaan, ruang
bersalin, ruang nifas dan ruang tunggu. Zainab Efendi, Amd. Keb melayani
pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan 24 jam, pemeriksaan nifas,
konseling pemberian metode alat kontrasepsi (KB), Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA), pemeriksaan bayi dan balita, anak pra sekolah, remaja dan lansia yang
akan dilayani oleh bidan Zainab Efendi, Amd. Keb yang di bantu oleh 1 orang
asisten bidan.
Alat yang digunakan dalam melakukan pelayanan yaitu tensimeter,
stetoskop, doppler, timbang berat badan, pengukur tinggi badan, meteran, pita
LILA, termometer dan suplemen kesehatan yang dibutuhkan ibu hamil. Di
dalam ruang bersalin terdapat bed ginekologi, alat partus set, hecting set,
timbangan bayi, tiang infus, cairan infus, tabung oksigen, rak dorong, tempat
108
109
sampah, safety box, alat sterilitator, serta dilengkapi alat set pemasangan
implan dan IUD.
PMB ini memberikan pelayanan dengan 5S yaitu, senyum, sapa, salam,
sopan dan santun. Selain masyarakat setempat masyarakat di luar wilayah
kerja bidan Zainab Efendi, Amd. Keb juga banyak yang datang berkunjung ke
PMB. Rata-rata pengunjung pada praktik mandiri bidan ini setiap bulannya
yaitu sekitar 150 orang meliputi pasien berobat, periksa kehamilan, bersalin,
pemasangan KB. Pelayanan yang di berikan di PMB sesuai dengan prosedur
dan kewenangan bidan.
14. Tinjauan Kasus
Berikut ini adalah asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. “R” mulai
dari masa kehamilan 36-37 minggu, persalinan, nifas dan bayi baru lahir di
Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.
110
ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA
KEHAMILAN 36-37 MINGGU DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN
ZAINAB EFENDI, Amd. Keb KAB. SOLOK
PENGUMPULAN DATA
A. Identitas / Biodata
Nama Ibu : Ny. R Nama suami : Tn. D
Umur : 31 Tahun Umur : 41 Tahun
Suku/bangsa : Indonesia Suku/bangsa : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh Tani
Alamat Rumah : Rangeh Alamat Rumah : Rangeh
[Link] : 0822******** [Link] : 0812********
Nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi : Tn. D
Hubungan dengan klien : Suami
Alamat : Rangeh
No. Telp : 0812********
A. Data Subjektif
Pada tanggal : 16 Februari 2025
Pukul : 17.00 WIB
1. Alasan kunjungan ini : memeriksa kehamilan (kontrol)
2. Keluhan utama : nyeri pinggang dari 4 hari yang lalu
3. Riwayat menstruasi
a. Haid pertama : 12 tahun
b. Teratur/tidak : teratur
c. Siklus : 28 hari
d. Lamanya : 7 hari
e. Banyaknya : ± 2-3 kali ganti pembalut
f. Warnanya : merah kehitaman
g. Sifat darah : kental
111
h. Dismenorhoe : tidak ada
i. Bau : amis
4. Riwayat Kehamilan
a. HPHT : 03 Juni 2024
b. TP : 10 Maret 2025
c. Keluhan pada
1) TM 1 : mual muntah
2) TM 2 : tidak ada
3) TM 3 : nyeri pinggang
d. Pergerakan anak pertama kali dirasakan : UK 5 bulan
e. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : sering, lebih dari
10x sehari
f. Keluhan yang dirasakan :
- Rasa 5L (lemah,letih,lesu,lelah,lunglai) : tidak ada
- Mual dan muntah yang berlebihan : tidak ada
- Nyeri perut : tidak ada
- Panas, menggigil : tidak ada
- Sakit kepala berat : tidak ada
- Penglihatan kabur : tidak ada
- Rasa nyeri panas waktu BAK : tidak ada
- Rasa gatal pada vulva, vagina dan sekitarnya : tidak ada
- Pengeluaran cairan pervaginam : tidak ada
- Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : tidak ada
- Oedema (di tungkai, tibia, muka, dan jari tangan : tidak ada
- Obat – obatan yang dikonsumsi : ada (Tablet Fe
90 butir)
5. Pola Makan
a. Pagi : nasi goreng 1 porsi + air putih
b. Siang : 2 sendok nasi + ikan 1 potong + sayur 1 mangkok
kecil + air putih 2 gelas
c. Malam : 2 sendok nasi + ikan 1 potong + sayur 1 mangkok
kecil + buah + air putih 2 gelas
112
6. Perubahan pola makan yang dialami selama hamil (termasuk ngidam
dan kebiasaan-kebiasaan lain): tidak ada
7. Pola Eliminasi
a. BAK
1) Frekuensi : ± 5 kali dalam sehari
2) Warna : kuning jernih
3) Keluhan : tidak ada
b. BAB
1) Frekuensi : ± 1 kali dalam sehari
2) Warna : kuning kecoklatan
3) Konsistensi : sedikit lembek
4) Keluhan : tidak ada
8. Aktivitas sehari - hari
a. Pekerjaan : ibu mengerjakan kebutuhan sehari-hari
tanpa gangguan
b. Seksualitas : tidak mengganggu kehamilan ibu
9. Lama istirahat atau tidur
a. Siang hari : ± 2 jam
b. Malam hari : ± 7 jam (22.00-05.00 WIB)
10. Imunisasi
TT 1 : ada (2014)
TT 2 : ada (2014)
TT 3 : ada (2015)
TT 4 : ada (2020)
TT 5 : ada (21-08-2024)
11. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No Tanggal Persalinan Komplikasi Bayi Nifas
Lahir Usia Jenis Tempat Penolo Ibu Bayi BB/PB/ Keadaa Lochea Laktasi
ng JK n
1. 18-09- Aterm SC RS Dokter Tidak Tidak 3300 g/ Normal Normal ASI
2014 ada ada 48 cm/ sampai 2
LK tahun
2. 18-03- Ater Spont BPS Bidan Tidak Tidak 3800 g/ Normal Normal ASI
2019 m an ada ada 49 cm/ sampai 2
LK tahun
113
3. Hamil
Sekarang
12. Kontrasepsi yang pernah digunakan : tidak ada
Alasan tidak menggunakan lagi : tidak ada
13. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita
1) Jantung : tidak ada
2) Hipertensi : tidak ada
3) Ginjal : tidak ada
4) DM : tidak ada
5) Hepatitis : tidak ada
6) Asma :tidak ada
7) TBC Paru : tidak ada
8) Epilepsi : tidak ada
9) PMS : tidak ada
b. Riwayat alergi
1) Makanan : tidak ada
2) Obat-obatan : tidak ada
c. Riwayat trasfusi darah : tidak ada
d. Riwayat operasi yang pernah dialami : tidak ada
e. Riwayat pernah mengalami gangguan jiwa : tidak ada
14. Riwayat kesehatan keluarga
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita
1) Jantung : tidak ada
2) Hipertensi : tidak ada
3) Ginjal : tidak ada
4) DM : tidak ada
5) Asma : tidak ada
6) TBC Paru : tidak ada
7) Epilepsi : tidak ada
b. Riwayat kehamilan kembar
1) Gemelli / kembar 2 : tidak ada
114
2) Lebih dari 2 : tidak ada
15. Kelainan psikologis : tidak ada
16. Keadaan sosial
a. Perkawinan
1) Status perkawinan : Sah
2) Perkawinan ke : pertama
3) Kawin I : 13 Mei 2013
4) Setelah menikah berapa lama baru hamil : ± 1 tahun
b. Kehamilan
1) Direncanakan : ada
2) Diterima : ada
c. Hubungan dengan keluarga : baik
d. Hubungan dengan tetangga dan masyarakat : baik
e. Jumlah anggota keluarga : 4 orang (suami,
istri, dan 2 anak)
17. Keadaan ekonomi
a. Penghasilan perbulan : ± 3.000.000,-
b. Penghasilan perkapita : ± 750.000,-
18. Keadaan spritual : ibu melakukan ibadah setiap waktu
19. Keadaan psikologis : baik
B. Data Objektif (Pemeriksaan Fisik)
1. Status emosional : stabil
2. Tanda vital
a. Tekanan darah : 105/64 mmHg
b. Nadi : 80x/ menit
c. Pernafasan : 20x/menit
d. Suhu : 36,50C
e. Kesadaran : compos mentis
f. BB sebelum hamil : 53 Kg
g. BB sekarang : 65 Kg
h. TB : 153,3 cm
i. Lila : 26 cm
3. Pemeriksaan Khusus
115
a. Inspeksi
1) Kepala
a. Rambut : hitam, bersih
b. Mata : konjungtiva tidak anemik dan sklera tidak
ikterik
c. Muka : tidak ada cloasmagravidarum dan oedema
d. Mulut : bersih
e. Gigi : tidak ada karies dan gigi berlobang
2)Leher : tidak ada pembengkakan kalenjer tiroid dan
pembesaran limfe
3) Dada : simetris, putting susu kiri dan kanan
menonjol, areola menghitam dan belum ada
pengeluaran ASI
4) Abdomen : pembesaran sesuai usia kehamilan
5) Genitalia
a. Kemerahan : tidak dilakukan pemeriksaan
b. Pembengkakan : tidak dilakukan pemeriksaan
c. Varices : tidak dilakukan pemeriksaan
d. Oedema : tidak dilakukan pemeriksaan
e. Parut : tidak dilakukan pemeriksaan
6) Ekstremitas
a. Atas
Sianosis pada ujung jari : tidak sianosis
Oedema : tidak ada
Pergerakan : aktif
b. Bawah
Varices : tidak ada
Oedema : tidak ada
Pergerakan : aktif
b. Palpasi
1) Leopold
Leopold I : TFU berada 3 jari di bawah proxesus xifoid,
teraba bundar, lunak, tidak melenting,
116
kemungkinan bokong janin.
Leopold II : perut kiri ibu teraba panjang, keras, memapan,
kemungkinan punggung janin, perut kanan ibu
teraba tonjolan-tonjolan kecil, kemungkinan
ekstermitas janin.
Leopold III : teraba bulat, keras, kemungkinan kepala
janin, kepala janin masih dapat digoyangkan,
kemungkinan sebagian kecil kepala sudah
masuk PAP
Leopold IV : Konvergen
2) Mc donald : 33 cm
3) TBA : 3.100 gram
c. Auskultasi
1) DJJ : positif
2) Frekuensi : 148 x/menit
3) Irama : teratur
4) Intensitas : kuat
5) Punctum maximum : kuadran kiri bawah perut ibu
d. Perkusi
Reflek Patella kanan : positif
Reflek Patella kiri : positif
e. Pemeriksaan panggul luar
Distansia spinarum : tidak dilakukan pemeriksaan
Distansia cristarum : tidak dilakukan pemeriksaan
Conjungata eksterna : tidak dilakukan pemeriksaan
Lingkar panggul : tidak dilakukan pemeriksaan
f. Pemeriksaan Laboratorium
Golongan darah :O
Hb : 12,3 gr/dL (25 Januari 2025)
Protein urine : Negatif (25 Januari 2025)
Glukosa urine : Negatif (25 Januari 2025)
HbSAg : NR (21 Agustus 2024)
Sifilis : NR (21 Agustus 2024)
117
HIV : NR (21 Agustus 2024)
TABEL 4.1 ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 36-37 MINGGU
DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Kunjungan 1 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 17.00 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 16 Februari a. Keadaan umum: Baik Ibu G3P2A0H2 WIB mengenai hasil pemeriksaan
2025 b. Status emosional: Stabil usia kehamilan bahwa kehamilan ibu sudah
Pukul : 17.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis 36-37 minggu, memasuki 36-37 minggu, ibu dan
d. Tanda-tanda vital janin hidup, janin dalam keadaan baik, tanda-
Ibu mengatakan: TD : 105/64 mmHg tunggal, tanda vital ibu normal, keadaan
1. Ingin N : 80 x/menit intrauterine, umum ibu dan janin baik, taksiran
memeriksakan P : 20 x/menit puki, pres-kep, persalinan 10 Maret 2025
kehamilan S : 36,50C U, keadaan Evaluasi: Ibu mengerti dan sudah
2. Ini adalah e. BB sebelum hamil: 53 Kg jalan lahir mengetahui hasil pemeriksaannya
kehamilan BB Sekarang: 65,5 Kg normal,
ketiga f. TB: 153,3 cm Keadaan umum 17.15 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa
3. Hari Pertama Haid g. Lila: 26 cm ibu dan janin WIB keluhan nyeri pada pinggang
Terakhir (HPHT): h. TP: 10-03-2025 baik yang dirasakan ibu merupakan hal
03-06- yang normal, disebabkan karena
2024 2. Pemeriksaan Khusus Masalah: usia kehamilan yang bertambah
4. Merasakan nyeri a. Inspeksi nyeri pada terjadi perubahan pada postur
pada pinggang Hasil pemeriksaan head to pinggang tubuh ibu karena perut ibu yang
sejak 4 hari yang toe dalam batas normal semakin membesar. Selain itu
lalu b. Palpasi nyeri pada pinggang juga dapat
Leopold I : TFU 3 jari
dibawah prosesus xifoideus,
teraba bokong janin.
118
5. Ibu mengatakan Leopold II : Pada perut ibu terjadi kareja perubahan hormon
sudah bagian kiri teraba punggung dan juga stress. Cara
melakukan janin. mengatasinya yaitu:
pemeriksaan Leopold III : Pada bagian a. Melakukan olahraga ringan
labor pada bawah perut ibu teraba b. Memperbaiki postur tubuh,
tanggal 25 kepala janin, sebagian kecil seperti saat tidur miring
Januari 2025 kepala sudah masuk PAP tambahkan bantal diantara
Leopold IV : Konvergen kedua lutut
Mc. Donald : 33 cm c. Menghindari mengangkat
TBJ : 3.100 gram beban yang berat
c. Auskultasi Evaluasi: Ibu paham dengan cara
DJJ : (+) mengatasi nyeri pungungg yg
Frekuensi : 148 x/menit dianjurkan
Intensitas : Kuat
Pucntum maksimum : 17.18 3. Menginformasikan kepada ibu
kuadran kiri bawah WIB untuk tetap mengkonsumsi tablet
perut penambah darah satu hari sekali
pada malam hari
d. Perkusi Evaluasi: Ibu telah
Reflek patella kanan : mengkonsumsi tablet penambah
(+) Reflek patella kiri darah sudah lebih dari 90 butir
: dan ibu tetap mau mengkonsumsi
(+) tablet penambah darah
e. Pemeriksaan Laboratorium
Gol. Darah : O
Hb : 12,3 gr%/dl (25
Januari 2025 Buku
119
KIA)
Protein urin :
(-) Glukosa Urin :
(-)
120
HbSAg : NR (-) 17.23 4. Menginformasikan kepada ibu
Sifilis : NR (-) WIB untuk melakukan aktivitas fisik
HIV : NR (-) seperti senam hamil atau jalan
kaki di pagi hari yang bertujuan
untuk mempelancar proses
persalinan dan dapat
meningkatkan kenyaman pada ibu
selama kehamilan.
Evaluasi: Ibu tidak bersedia di
ajarkan senam hamil tetapi, ibu
bersedia jalan di pagi hari.
17.28 5. Menginformasikan kepada ibu
WIB tentang tanda bahaya kehamilan
yaitu:
a. Sakit kepala yang hebat terus
menerus
b. Penglihatan kabur
c. Gerakan janin kurang atau
tidak terasa
d. Nyeri perut hebat
e. Oedema pada wajah dan
esktermitas
f. Perdarahan pervaginam
g. Keluar cairan ketuban
sebelum waktunya
Menginformasikan kepada ibu
jika ibu mengalami hal diatas
121
segera memeriksakan diri ke
pelayanan Kesehatan
Evaluasi: Ibu dapat menyebutkan
5 dari 7 tanda bahaya yang
dijelaskan dan ibu berjanji akan
memeriksakan diri ke pelayanan
Kesehatan jika mengalami tanda
bahaya tersebut
17.33 6. Menjelaskan kepada ibu tentang
WIB tanda-tanda awal persalinan:
a. Perut mules-mules teratur,
timbulnya semakin sering dan
semakin lama
b. Keluar lender bercampur
darah dari jalan lahir
c. Keluar air-air yang banyak
dari jalan lahir
Jika muncul salah satu tanda yang
telah dijelaskan, maka ibu harus
ke fasilitas kesehatan untuk
dilakukan pemeriksaan
Evaluasi: Ibu mengerti dan akan
datang ke fasilitas Kesehatan
apabila terdapat tanda-tanda yang
telah dijelaskan
17.35 7. Menginformasikan kepada ibu
WIB
122
tentang persiapan persalinan
yaitu:
a. Tempat bersalin
b. Penolong persalinan
c. Biaya persalinan
d. Transportasi
e. Pendamping persalinan
f. Pengambilan Keputusan
g. Perlengkapan pakaian ibu dan
bayi
h. Persiapan donor jika terjadi
kegawatdaruratan.
Evaluasi: Ibu sudah
mempersiapkan yaitu:
1) Ibu sudah memilih tempat
bersalin yaitu PMB Zainab
Efendi, Amd. Keb
2) Ibu sudah memilih
persalinannya akan ditolong
oleh bidan Zainab Efendi,
Amd. Keb
3) Ibu sudah mempersiapakan
biaya persalinan
4) Ibu sudah mempersiapkan
kendaraan
5) Ibu sudah memutuskan
pendamping persalinanya
123
6) Ibu sudah memilih yang akan
mengambil keputusan.
7) Ibu sudah mempersiapkan
pakaian ibu dan bayi.
8) Ibu sudah memilih pendonor
jika terjadi kegawatdaruratan.
9) Menganjurkan ibu untuk
melengkapi persiapan
persalinan yang belum
lengkap
17. 38 8. Menginformasikan kepada ibu
WIB kunjungan ulang pemeriksaan
kehamilan 1 minggu lagi pada
tanggal 22 Maret 2025 atau dapat
kembali jika ibu ada keluhan
Evaluasi: Ibu bersedia datang
untuk kunjungan ulang
124
TABEL 4.2 ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 37-38 MINGGU
DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Kunjungan II 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 16.05 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 22 Februari a. Keadaan umum: Baik Ibu G3P2A0H2 WIB tentang hasil pemeriksaan
2025 b. Status emosional: Stabil usia kehamilan bahwa kehamilan ibu sudah
Pukul : 16.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis 37-38 minggu, memasuki 37-38 minggu, ibu
d. Tanda-tanda vital TD : 121/74 janin hidup, dan janin dalam keadaan baik,
Ibu mengatakan: mmHg N : 80 x/menit tunggal, tanda-tanda vital ibu normal,
1. Ingin memeriksakan P : 20 x/menit intrauterine, puki, keadaan umum ibu dan janin
kehamilan S : 36,50C pres-kep, U, baik, taksiran persalinan 10
2. Nyeri pinggang yang e. BB sebelum hamil: 53 Kg keadaan jalan Maret 2025
ibu rasakan sudah BB Sekarang : 65,5 Kg lahir normal, Evaluasi: Ibu mengerti dan
mulai berkurang dari f. TB: 153,3 cm Keadaan umum sudah mengetahui hasil
sebelumnya g. Lila: 26 cm ibu dan janin baik pemeriksaannya
3. Hari Pertama Haid h. TP: 10-03-2025
Terakhir (HPHT): Masalah: 16.15 2. Meminta ibu supaya
03-06-2024 2. Pemeriksaan Khusus - WIB melanjutkan saran yang
a. Inspeksi diberikan untuk menghilangkan
Hasil pemeriksaan head to rasa nyeri pada pinggang ibu,
toe dalam batas normal dan mengingatkan ibu untuk
tetap menerapkan apa yang
b. Palpasi disarankan bidan pada
Leopold I : TFU 3 jari dibawah kunjungan sebelumnya yaitu
prosesus xifoideus, teraba dengan cara:
bokong janin
125
Leopold II : Pada perut ibu a. Berolahraga ringan dengan
bagian kiri teraba punggung melakukan peregangan
janin. secara rutin setiap harinya.
Leopold III : Pada bagian b. Perbaiki posisi tidur dengan
bawah perut ibu teraba kepala mencari posisi nyaman
janin, sebagian kecil kepala mengarah ke kiri. Ibu bisa
sudah masuk PAP meletakkan bantal di bawah
Leopold IV : Konvergen perut diantara kedua kaki
Mc. Donald : 33 cm c. Bodi mekanik yang baik
TBJ : 3.100 gram ketika mengangkat beban
atau ketika ingin duduk dan
c. Auskultasi berdiri. Hindari kebiasaan
DJJ : (+) terlalu lama duduk atau
Frekuensi : 145 x/menit berdiri
Intensitas : Kuat d. Lakukan kompres hangat
Pucntum maksimum : kuadran pada pinggang untuk
kiri bawah perut melancarkan sirkulasi darah
dan mengurangi rasa nyeri
d. Perkusi pada punggung
Reflek patella kanan : (+) Evaluasi: Ibu sudah olahraga
Reflek patella kiri : (+) ringan di rumah dan tidur posisi
miring kiri dan ibu mengatakan
masih mengingat dan akan apa
yang disampaikan bidan pada
kunjungan sebelumnya
16.18 3. Menginformasikan kepada ibu
WIB untuk membersihkan payudara,
126
melakukan pemijatan payudara
ibu untuk persiapan menyusui
nantinya
Evaluasi: Ibu paham dan
bersedia melakukan saran yang
diberikan
16.23 4. Mengingatkan Kembali kepada
WIB ibu tentang tanda-tanda awal
persalinan:
a. Perut mules-mules teratur,
timbulnya semakin sering
dan lama
b. Keluar lendir bercampur
darah dari jalan lahir
c. Keluar air-air yang banyak
dari jalan lahir
Jika muncul salah satu tanda
yang telah dijelaskan, maka ibu
harus ke fasilitas Kesehatan
untuk dilakukan pemeriksaan
Evaluasi: ibu mengerti dan
akan datang ke fasilitas
kesehatan apabila terdapat
tanda-tanda yang dijelaskan
127
16.28 5. Menginformasikan kepada ibu
WIB tentang tanda bahaya
kehamilan yaitu:
a. Sakit kepala yang hebat
terus menerus
b. Penglihatan kabur
c. Gerakan janin kurang
atau tidak terasa
d. Nyeri perut hebat
e. Oedema pada wajah dan
esktermitas
f. Perdarahan pervaginam
g. Keluar cairan ketuban
sebelum waktunya
Menginformasikan kepada ibu
jika ibu mengalami hal diatas
segera memeriksakan diri ke
pelayanan Kesehatan
Evaluasi: Ibu dapat
menyebutkan 5 dari 7 tanda
bahaya yang dijelaskan dan ibu
berjanji akan memeriksakan
diri ke pelayanan Kesehatan
jika mengalami tanda bahaya
tersebut.
128
129
16.33 6. Menginformasikan kepada ibu
WIB mengenai pentingnya KB
pasca salin dan menjelaskan
kepada ibu berbagai jenis dan
metode kontrasepsi jangka
panjang seperti implant dan
IUD
Evaluasi: Ibu mengerti dan
akan berunding dengan suami
untuk memilih alat kontrasepsi
apa yang akan ibu gunakan
setelah persalinan nantinya
16.36 7. Menjadwalkan kunjungan
WIB ulang 1 minggu lagi yaitu
tanggal 01 Maret 2025 atau
segera apabila telah keluar
tanda-tanda persalinan atau
mengalami tanda bahaya
Evaluasi: Ibu bersedia untuk
melakukan kunjungan ulang
130
TABEL 4.3 ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN PADA NY. R G3P2A0H2 USIA KEHAMILAN 39-40 MINGGU ATERM
INPARTU DI TEMPAT PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Kala I 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 23.00 1. Menginformasikan kepada ibu
Tanggal : 06 Maret a. Keadaan umum: Baik Ibu inpartu kala WIB dan suami tentang hasil
2025 b. Status emosional: Stabil I fase aktif, KU pemeriksaan pada ibu bahwa
Pukul : 23.00 WIB c. Kesadaran: Composmentis ibu dan janin pembukaan sudah 8 cm, ibu
d. Tanda-tanda vital baik. akan memasuki proses
Ibu mengatakan: TD : 128/80 mmHg persalinan dan ketuban belum
1. Ibu mules sejak N : 80 x/menit Masalah: pecah. Keadaan umum ibu dan
pukul 05.00 WIB P : 20 x/menit - janin baik.
2. Keluar lendir S : 36,50C Evaluasi: Ibu sudah tau dan
bercampur darah 2. Pemeriksaan Khusus paham dengan informasi yang
dari kemaluan sejak a. Inspeksi diberikan
pukul 15.00 WIB Hasil pemeriksaan head
3. Ibu sudah BAB to toe dalam batas normal 23.13 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa
pada pukul 12.00 b. Palpasi WIB yang dirasakan ibu yaitu mules
WIB Leopold I : TFU berada di perut adalah hal yang wajar
4. Ibu sudah BAK pertengahan pusat dan karena ibu telah memasuki
pada pukul 22.30 prosesus xifoideus, teraba proses persalinan sehingga saat
WIB bokong janin adanya kontraksi kepala
5. HPHT : 03-06-2024 Leopold II : Pada perut ibu semakin memasuki rongga
6. TP: 10-03-2025 bagian kiri punggung janin. panggul yang menyebabkan
Leopold III : Pada bagian terjadinya penekanan didalam
bawah perut ibu teraba kepala panggul. Untuk menguranginya
janin, kepala janin sudah ibu dapat
131
masuk PAP menarik nafas dari hidung dan
Leopold IV : Divergen mengeluarkan secara perlahan
Perlimaan: 2/5 melalui mulut dan melakukan
Mc. Donald : 31 cm massase atau pijatan pada
TBJ : 3.100 gram pinggang ibu atau bisa juga
kompres dengan air hangat. Ibu
His : (+) bisa melakukan ini setiap ibu
Frekuensi : 4x dalam 10 menit merasakan nyeri atau pada saat
Durasi : 45 detik terjadi kontraksi.
Intensitas : Kuat Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan yang diberikan dan
c. Auskultasi sudah melakukannya pada saat
DJJ : (+) 150x/menit kontraksi.
d. Pemeriksaan Dalam 23.20 3. Memberikan dukungan
1) Atas indikasi : Inpartu WIB emosional, spiritual, serta
2) Dinding vagina : Tidak support kepada ibu dengan cara:
ada massa a. Mengikutsertakan suami
3) Portio : Menipis atau keluarga untuk
4) Pembukaan: 8 cm menemani dan
5) Ketuban : (+) mendampingi ibu.
6) Presentasi: Kepala b. Menganjurkan suami untuk
7) Posisi: UUK kiri depan mengusap pinggang ibu
8) Penurunan: Hodge III ketika ibu berkontraksi.
9) Penyusupan : 0 c. Meyakinkan ibu bahwa ibu
pasti bisa melewati proses
persalinan dengan selamat
132
133
dan menyarankan ibu untuk
selalu berdoa kepada allah
SWT
c. Menjelaskan kepada ibu
bahwa selama proses
persalinan bidan akan
senantiasa membantu dan
menenmani ibu sampai
persalinan berakhir
Evaluasi: Ibu bersemangat
untuk melalui proses persalinan
dan berdoa kepada Tuhan YME,
serta ibu terlihat tenang dengan
didampingi oleh suaminya.
Mengerti dan paham dengan
penjelasan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan
23.25 4. Menganjurkan ibu untuk
WIB mobilisasi dengan ibu bisa tidur
posisi miring kekiri
Evaluasi: ibu sudah tidur
dengan posisi miring kekiri
23.30 5. Memberi ibu makan dan minum
WIB disaat ibu merasa lapar dan haus
agar ibu tetap
134
135
bertenaga saat meneran
nantinya
Evaluasi: Ibu sudah makan
roti, buah, dan sudah minum 1
gelas teh hangat
23.35 6. Mengajarkan ibu teknik
WIB relaksasi, yaitu ibu bisa
menarik nafas dalam dari
hidung dan melepaskannya
secara perlahan dari mulut agar
ibu dapat rileks menghadapi
persalinan. Disamping itu
ajarkan suami atau keluarga
untuk mengusap lembut
pinggang ibu saat berkontraksi
Evaluasi: Ibu melakukannya
dan suami melakukan pijatan
pada pinggang ibu saat ibu
merasakan kontraksi
23.40 7. Memberitahu dan mengajarkan
WIB ibu posisi bersalin diantaranya:
posisi setengah duduk, posisi
dorsal recumbent, jongkok
serta mengajarkan ibu teknik
136
137
meneran yang benar yaitu ibu
meneran pada saat pembukaan
sudah lengkap dan saat ada
kontraksi saja dengan kedua
tangan berada dipangkal paha
dan ketika meneran dagu ibu
menumpu ke dada seperti
melihat anak lahir. Ketika his
sudah hilang ibu tidak usah
meneran, ibu dapat miring
kekiri.
Evaluasi: Ibu memilih posisi
dorsal recumbent saat bersalin,
ibu mengerti dengan teknik
meneran yang diajarkan
23.41 8. Persiapkan alat dan obat-obatan
WIB yang dibutuhkan saat
pertolongan persalinan
Evaluasi: alat dan obat sudah
disiapkan
138
139
00.00 9. Kemajuan persalinan telah
WIB dipantau yaitu DJJ dalam batas
normal, his semakin lama
semakin kuat, sering dan teratur
Evaluasi: pukul 00.00 WIB
ketuban pecah spontan
Warna : jernih
Bau : amis
Jumlah : ±200cc
Pembukaan :10 cm
Portio : tidak teraba
Ketuban : (-)
Presentasi : kepala
Posisi : UUK depan
Penyusupan : 0
Hodge : IV
HIS : 5x dalam 10
menit durasi 50
detik
DJJ : 149x/menit, kuat
dan teratur
Pemantauan telah tercatat pada
partograf dan segera lakukan
pertolongan persalinan.
140
141
Kala II
Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 00.02 1. Memberitahu ibu hasil
2025 Tanda-tanda vital: Ibu inpartu kala WIB pemeriksaan bahwa pembukaan
Pukul : 00.00 WIB TD : 130/80 mmHg II, keadaan sudah lengkap, ketuban sudah
N : 85x /menit umum ibu dan pecah dan sebentar lagi ibu akan
Ibu mengatakan : P : 22x /menit janin baik melahirkan dan ibu boleh
1. Mules yang S : 36,50C meneran jika ada kontraksi
dirasakan semakin 2. Pemeriksaan Kebidanan Evaluasi: Ibu mengerti dengan
sering dan semakin a. Palpasi hasil pemeriksaannya
kuat His: 5x dalam 10 menit
2. Ibu ingin meneran Durasi: 50 detik 00.05 2. Mengatur posisi ibu sesuai
Intensitas: kuat WIB dengan yang telah diajarkan
b. Auskultasi kepada ibu.
DJJ: 149x /menit Evaluasi: Posisi ibu sudah
c. Inspeksi: dengan posisi yang telah
Terlihat tanda-tanda kala diajarkan
II
1) Vulva dan anus 00.10 3. Membimbing ibu meneran disaat
membuka WIB his dan memberi pujian
2) Perinemum menonjol ibu saat meneran serta meminta
3) Adanya dorongan ibu beristirahat dan minum
meneran dari ibu disela-sela kontraksi.
d. Pemeriksaan dalam Evaluasi: ibu meneran disaat
1) Dinding vagina: tidak ada his saja
ada massa
2) Portio: tidak teraba 00.40 4. Melakukan pertolongan
3) Pembukaan: 10 cm WIB persalinan yaitu:
4) Ketuban: (-) a. Saat kepala sudah mulai
142
143
5) Presentasi: kepala crowning (5-6 cm) di depan
6) Posisi: UUK depan vulva, tangan kanan
7) Penyusupan: 0 melindungi perineum dan
8) Penurunan bagian tangan kiri memegang kassa
terendah: Hodge IV untuk menahan kepala bayi
dengan lembut tanpa
menghambat kepala bayi dan
membiarkan kepala keluar
secara perlahan agar tidak
terjadi defleksi maksimal.
b. Menganjurkan ibu untuk
menarik nafas secara
perlahan dari hidung dan
mengeluarkan kembali
melalui mulut ketika ingin
meneran, meneran pada saat
kontraksi saja
c. Membiarkan kepala janin
lahir secara maksimal, jika
sudah keluar kepala bayi
secara keseluruhan kemudian
mengusap mulut, hidung
mata dan seluruh muka
dengan kassa steril
d. Memeriksa adanya lilitan tali
pusat sambil menunggu
putaran paksi luar secara
spontan
144
e. Ketika bayi sudah
melakukan putaran paksi luar
secara spontan, lahirkan
bahu depan dan bahu
belakang dengan
memposisikan tangan secara
biparietal dengan mantap,
dengan lembut tuntun bahu
kebawah untuk mekahirkan
bahu depan dan tuntun ke
atas untuk melahirkan bahu
belakang. Setelah bahu
depan dan belakang lahir,
kemudian tangan yang di
bawah untuk menyanggah
kepala bayi sedangkan
tangan yang di atas
menelusuri dari lengan,
punggung, siku hingga
kearah kaki untuk
menyanggah saat punggung
dan kaki lahir (sanggah
susur)
f. Mengeringkan bayi sambil
melakukan penilaian sepintas
(warna kulit, denyut nadi,
refleks, tonus otot, dan
pernapasan)
145
146
Evaluasi: pukul 00.40 WIB,
bayi lahir spontan, menangis
kuat, tonus otot baik, kulit
kemerahan, jenis kelamin
perempuan, A/S: 8/9
00.41 5. Melakukan palpasi abdomen
WIB untuk memastikan tidak adanya
janin kedua
Evaluasi: Tidak ada janin kedua
KALA III
Tanggal : 07 Maret Bayi lahir spontan pukul 00.40 Diagnosa: 00.43 1. Memberitahu ibu bahwa ibu
2025 WIB, jenis kelamin perempuan, Ibu parturien kala WIB akan disuntikkan oksitosin guna
Pukul : 00.40 WIB menangis kuat, bergerak aktif, III, keadaan membantu pengeluaran plasenta
Ibu mengatakan: warna kulit kemerahan. umum ibu baik dan menginjeksi oksitosin 10 IU
1. Senang atas secara IM
kelahiran bayinya TFU : setinggi pusat Masalah: Evaluasi: Oksitosin telah
2. Perutnya terasa Kontraksi uterus : Baik Perutnya terasa diinjeksikan, kontraksi ibu baik
mules Kandung kemih : tidak teraba mules
Perdarahan : ± 150 cc 00.45 2. Melakukan pemotongan tali
Plasenta belum lahir WIB pusat dengan cara memasang
klem pertama dengan jarak 3-5
cm dari pangkal tali pusat
kemudian mengurut ke arah
maternal dan memasang klem
kedua dengan jarak 2-3 cm dari
klem pertama, setelah itu
147
memotong tali pusat di antara
dua klem dengan posisi tangan
melindungi tubuh bayi.
Kemudian mengikat tali pusat,
lalu keringkan bayi
Evaluasi: Tali pusat bayi sudah
dipotong dan diikat dan bayi
sudah dikeringkan.
00.47
WIB 3. Melakukan IMD dengan cara
meletakkan bayi diatas perut ibu
dan bayi diselimuti agar terjadi
kontak antara kulit bayi dengan
kulit ibu. Bayi diposisikan
telungkup diatas perut ibu
dengan tetap membebaskan jalan
napas bayi, biarkan bayi mencari
puting susu ibu sendiri. Posisi
tangan ibu memeluk bayi dari
dalam dan suami membantu
memegang bayi dari luar.
Evaluasi: Bayi telah dilakukan
IMD
00.50
WIB 4. Melakukan PTT (Peregangan
Tali pusat Terkendali) dengan
meletakkan tangan kiri diatas
148
supra pubis dengan posisi dorso
149
cranial dan tangan kanan
memegang tali pusat sejajar
lantai secara terkendali, lalu
amati tanda-tanda pelepasan
plasenta yaitu:
a. Keluar darah secara
mendadak
b. Tali pusat memanjang
c. Perut ibu teraba globular
Evaluasi: Sudah ada tanda-tanda
pelepasan plasenta, dan lakukan
tindakan untuk melahirkan
plasenta
00.51 5. Membantu kelahiran plasenta
WIB dengan cara:
a. Tangan kiri diperut ibu
secara dorso kranial dan
tangan kanan melakukan
PTT
b. Setelah itu bantu lahirkan
plasenta ke arah bawah
sesuai jalan lahir ibu
c. Apabila tali pusat
bertambah panjang
pindahkan klem 5-10 cm
didepan vulva sambil tali
pusat diurut
150
151
d. Setelah plasenta berada
didepan vulva, pegang
plasenta dengan kedua
tangan, lakukan putaran
searah dan letakkan
plasenta di piring plasenta
Evaluasi: Plasenta lahir
spontan pukul 00.45 WIB
00.52 6. Melakukan massase fundus
WIB uteri selama 15 detik searah
jarum jam
Evaluasi: kontraksi uterus
baik
00.54
WIB 7. Memeriksa kelengkapan
plasenta
Evaluasi: plasenta lahir
lengkap, spontan, selaput utuh,
panjang tali pusat ±50 cm,
terdapat 18 kotiledon
152
KALA IV Plasenta lahir lengkap pukul Diagnosa: 00.56
Tanggal : 07 Maret 00.50 WIB Ibu parturien kala WIB 1. Memeriksa laserasi jalan lahir
2025 IV, keadaan Evaluasi: ada laserasi jalan
Pukul : 00.55 WIB Kontraksi uterus: Baik umum ibu baik lahir derajat 2 dan sudah
Ibu mengatakan: TFU : 2 jari dibawah pusat dijahit
1. Sangat senang telah Kandung kemih: tidak teraba 00.57
melewati proses Perdarahan : ±150 cc WIB 2. Membersihkan tempat tidur
persalinan dengan air klorin 0,5% dan
2. Badan sedikit lemas membersihkan ibu dengan air
telah melewati DTT, membantu ibu
proses persalinan memasangkan pembalut, gurita
dan mengganti pakaian ibu
dengan pakaian yang bersih
Evaluasi: tempat tidur sudah
dibersihkan dan pakaian ibu
sudah diganti
00.58
WIB 3. Mengajarkan suami dan
keluarga untuk melakukan
masase fundus uteri dan
Memeriksa kontraksi uterus
dengan melakukan gerakan
melingkar searah jarum jam
agar uterus tetap berkontraksi
dengan baik
Evaluasi: suami sudah
melakukn anjuran yang
diberikan
153
01.10
WIB 4. Melakukan pengawasan kala
IV setiap 15 menit pada 1 jam
pertama dan setiap 30 menit
pada 1 jam kedua
Evaluasi: pemantauan kala IV
telah dilakukan dan terlampir
di partograf
01.15
WIB 5. Menganjurkan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
dan hidrasi ibu untuk
memulihkan kembali tenaga
ibu.
Evaluasi : ibu makan beberapa
suap nasi dan minum segelas
air putih di tambah dengan jus
alpukat
01.20
WIB 6. Memberikan ibu Vit A
200.000 unit sebanyak 2 kali,
yaitu pada kala IV dan
sebelum 24 jam
Evaluasi: Ibu sudah meminum
vit A yang di berikan
154
01.22 7. Menganjurkan ibu beristirahat
WIB untuk memulihkan kondisi
ibu.
Evaluasi: ibu beristirahat
diatas tempat tidur.
01.24 8. Memberikan salaf mata pada
WIB bayi agar bayi terhindar dari
infeksi.
Evaluasi: salaf mata
chloramphenicol 1% sudah
diberikan pada mata kanan
dan kiri bayi
01.27 9. Memberikan vit K 0,5 cc
WIB secara IM di 1/3 paha kiri atas
bagian luar yang bertujuan
untuk pencegahan perdarahan
pada bayi baru lahir.
Evaluasi: vitamin K sudah
diberikan kepada bayi
155
TABEL 4.4 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 7 JAM POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan kepada ibu
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 7 jam WIB tentang hasil pemeriksaan yang
Pukul : 08.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, telah dilakukan bahwa keadaan ibu
c. Tanda-tanda vital Keadaan baik
Ibu mengatakan: d. TD : 121/80 mmHg umum ibu Evaluasi: Ibu merasa senang
1. Senang atas N : 80 x/menit baik. dengan hasil pemeriksaan yang
kelahiran bayinya P : 20 x/menit disampaikan.
2. Sudah menyusui S : 36,50C Masalah:
bayinya tapi ASI Perut masih 08.08 2. Menganjurkan ibu untuk makan
yang keluar masih 2. Pemeriksaan Khusus terasa nyeri WIB yang mengandung karbohidrat
sedikit a. Inspeksi (seperti nasi makanan pokok),
3. Perut masih terasa 1) Hasil pemeriksaan protein hewani (ikan, telur, ayam,
mulas head to toe dalam dan lainnya) protein nabati, (tempe,
4. Ada darah yang batas normal tahu, dan lainnya) sayur dan buah-
keluar dari 2) Pengeluaran buahan dan minum air putih 14
kemaluan tapi tidak pervaginam: lochea gelas/hari di 6 bulan pertama dan
banyak rubra 12 gelas/hari di 6 bulan kedua
5. Sudah BAK ke 3) Jumlah: 3x ganti Evaluasi: ibu sudah makan 2
kamar mandi pembalut sendok nasi + 1 potong ikan dan
6. Ibu sudah b. Palpasi minum 2 gelas teh hangat
beristirahat 1) Kontraksi: baik
7. Ibu sudah makan 2 2) TFU: 2 jari dibawah 08.10 3. Menjelaskan kepada ibu bahwa
sendok nasi + 1 pusat WIB perutnya masih terasa nyeri yang
ibu rasakan adalah hal yang normal.
156
potong ikan + 2 3) Kandung kemih: tidak Nyeri perut yang dirasakan ibu
gelas air teh hangat teraba disebabkan karena adanya kontraksi
4) Tanda homan: (-) otot rahim sebagai proses
5) Banyak lochea : kembalinya rahim ke keadaan
±25cc semula dan ibu tidak perlu cemas.
Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan yang disampaikan
08.12 4. Mengingatkan kembali pada ibu
WIB untuk mengkonsumsi obat yang
sudah diberikan.
Evaluasi: ibu sudah meminum obat
yang diberikan.
08.15 5. Mengecek perdarahan dengan
WIB melihat pembalut ibu,
memberitahukan pada ibu dan
keluarga untuk mengontrol
perdarahan
Evaluasi: Perdarahan ibu ±25cc,
ibu dan keluarga mengerti dan
bersedia melaporkan pada bidan
jika merasakan hal tersebut.
08.18 6. Membantu ibu membersihkan
WIB dirinya dengan mandi supaya ibu
merasa lebih nyaman
157
Evaluasi: ibu sudah mandi, sudah
berganti pakaian dan ibu merasa
lebih nyaman
08.20 7. Menjelaskan pada ibu dan keluarga
WIB bahwa ASI sedikit pada hari
pertama dan kedua adalah hal yang
normal, ibu harus sering menyusui
bayinya sehingga ada rangsangan
untuk memproduksi, serta
mengajarkan kepada ibu mengenai
teknik menyusui yang baik dan
benar.
Evaluasi: Ibu paham dan mengerti
dan akan menyusui bayinya
sesering mungkin dan telah
mencoba melakukan teknik
menyusui bayi yang baik dan benar
08.22 8. Memberikan dukungan psikologis
WIB dan support kepada ibu dengan
melibatkan peran suami.
Menganjurkan pada suami dan
keluarga untuk lebih
memperhatikan ibu karena ibu
sangat butuh perhatian dan
didengarkan serta membantu
menjaga bayi saat ibu beristirahat.
158
Eavaluasi: suami dan keluarga ikut
berperan dalam memberikan
dukungan psikologis pada ibu.
08.25 9. Menganjurkan ibu untuk melakukan
WIB mobilisasi dini yang berguna
melatih otot- otot tubuh agar
kembali pulih dan latihan
pernafasan untuk ibu nifas caranya:
Gerakan 1:
a. Posisi baring terlentang lutut
ditekuk, letakkan satu tangan di
perut bagian atas dan satu
tangan di dada.
b. Tarik napas dalam-dalam
melalui hidung, rasakan perut
mengembang (bukan dada).
c. Tahan sebentar, lalu
hembuskan napas perlahan
melalui mulut, kencangkan otot
perut untuk membantu
mengeluarkan udara.
d. Ulangi gerakan
ini beberapa kali.
Evaluasi: ibu sudah melakukan
mobilisasi dini dengan sudah duduk
di tempat tidur dan sudah berjalan
ke kamar mandi dibantu oleh suami
159
dan sudah melakukan latihan
pernafasan
08.27 10. Melakukan kontak waktu dengan
WIB ibu bahwa akan dilakukan
kunjungan rumah yaitu 11 Maret
2025 atau ibu bisa datang ke
fasilitas kesehatan dan
menghubungi tenaga kesehatan bila
ada keluhan
Evaluasi: Ibu paham dan bersedia
untuk dilakukan kunjungan rumah
160
TABEL 4.5 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 4 HARI POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 11 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnos: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 4 hari WIB pemeriksaan kepada ibu bahwa
Pukul : 08.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, keadaan umum ibu baik.
c. Tanda-tanda vital Keadaan Evaluasi: Ibu senang dengan hasil
Ibu mengatakan: TD : 110/70 umum ibu pemeriksaan
1. ASI nya sudah mmHg N : 80 baik
mulai banyak, bayi x/menit 08.08 2. Menganjurkan ibu untuk istirahat
kuat menyusu P : 20 Masalah: WIB yang cukup agar tidak mengalami
2. Pengeluaran dari x/menit S Sedikit pusing, kelelahan yang berlebihan, ibu
kemaluannya sudah : 36,50C kurang tidak boleh terlalu capek dan
berkurang dan istirahat, kurang istirahat karena berpengaruh
berwarna merah 2. Pemeriksaan Khusus kurang tidur pada produksi ASI dan involusi
kekuningan a. Inspeksi uterus. Waktu istirahat ibu yang
3. Tidak ada keluhan Hasil pemeriksaan head tepat adalah ketika bayi tidur ibu
to toe dalam batas normal juga tidur, sehingga ketika bayi
b. Palpasi hendak menyusui ibu tidak merasa
1) TFU: lelah dan mengantuk.
pertengahan pusat Evaluasi: Ibu paham dengan
dan simpisis penjelasan yang diberikan.
2) Kandung kemih:
tidak teraba
3) Tanda homan: (-)
c. Pemeriksaan khusus
161
1) Pengeluaran
pervaginam:
lochea
162
sanguinolenta 08.13 3. Memberikan edukasi kepada ibu
2) Jumlah: 2x WIB untuk meningkatkan nutrisi ibu
ganti selama menyusui agar menunjang
pembalut/hari produksi ASI serta meningkatkan
3) Banyak lochea: ± 10cc tenaga ibu, ibu harus banyak
mengkonsumasi makanan yang
mengandung karbohidrat, protein,
makanan berserat, buah-buahan
serta sayur-sayuran.
Evaluasi: Ibu paham dan mnegerti
atas penjelasan yang diberikan,
serta ibu mau mengikuti saran yang
diberikan
08.18 4. Mengajarkan kepada ibu teknik
WIB menyusui yang benar dan
memotivasi ibu untuk tetap
memberikan bayinya ASI saja
sampai umur 6 bulan tanpa
makanan selingan.
Evaluasi: Ibu mengerti tentang
teknik menyusui yang benar yang
telah diajarkan dan ibu langsung
bisa mempraktekkannya, serta ibu
akan menyusui bayinya sampai
bayinya berusia 6 bulan tanpa
makanan selingan.
163
164
08.23 5. Mengingatkan ibu untuk menjaga
WIB kebersihan, yaitu:
a. Sering mengganti pembalut
jika sudah penuh
b. Cuci kemaluan dari depan ke
belakang
c. Mandi minimal 2x sehari
d. Merawat payudara sengan
membersihkan dengan air
hangat bukan sabun dan
biarkan kering
Evaluasi: ibu mengerti dengan
personal hygiene yang baik dan ibu
akan melakukan cara tersebut
08.28 6. Menganjurkan ibu untuk menyusui
WIB bayinya sesering mungkin dan
memotivasi ibu untuk memberikan
ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa
memberikan susu formula atau
makanan lainnya dan menjelaskan
manfaat ASI, yaitu:
a. ASI merupakan makanan
terbaik bagi bayi
b. Mengandung zat gizi
c. Sebagai antibodi
d. Menjalin kasih sayang antara
ibu dan bayi
165
166
e. Mencegah perdarahan pada ibu
nifas
f. Hemat biaya dan praktis
Evaluasi: Ibu bersedia
memberikan ASI saja sampai bayi
berusia 6 bulan.
08.33 7. Menginformasikan kepada ibu
WIB bahwa ada beberapa gerakan yang
dapat membantu otot- otot panggul
dan perut kembali normal, ibu
dapat melakukan sesuai
kemampuan ibu secara bertahap:
a. Gerakan 2 : Ibu tidur terlentang
dan kedua tangan direntangkan
dan 1 tangan di depan dada
lakukan secara bergantian
b. Gerakan 3 : Ibu tidur terlentang,
kedua kaki ditekuk kemudian
panggul diangkat.
Evaluasi: Ibu paham tentang
senam nifas dan sudah mampu
sampai gerakan ke 3.
08.38 8. Memberitahu pada ibu tanda- tanda
WIB bahaya masa nifas
a. Demam lebih dari 2 hari
b. Pengeluaran dari kemaluan
167
168
yang berbau busuk
c. Perdarahan lewat jalan lahir
Ibu terlihat sedih, murung dan
menangis tanpa sebab (depresi)
d. Payudara bengkak, merah
disertai rasa sakit
e. Nyeri ulu hati, mual muntah,
sakit, pandangan kabur, kejang
dengan atau tanpa bengkak
pada kaki, tangan dan wajah.
Evaluasi: Ibu paham dan dapat
mengulangi tanda bahaya yang
harus diwaspadainya
08.40 9. Menganjurkan ibu untuk makan
WIB yang mengandung karbohidrat
(seperti nasi makanan pokok),
protein hewani (ikan, telur, ayam,
dan lainnya) protein nabati, (tempe,
tahu, dan lainnya) sayur dan buah-
buahan dan minum air putih 14
gelas/hari di 6 bulan pertama dan
12 gelas/hari di 6 bulan kedua
Evaluasi: ibu paham dan mengerti
atas penejelasan yang diberikan
serta mau mengikuti saran yang
diberikan
169
170
08.43 10. Menginformasikan ibu untuk
WIB melakukan kunjungan rumah pada
tanggal 27 Maret 2025 dan apabila
ada keluhan bisa datang ke fasilitas
kesehatan.
Evaluasi: Ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang dan apabila ada
keluhan ibu akan datang ke fasilitas
kesehatan
171
TABEL 4.6 ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. R P3A0H3 20 HARI POSTPARTUM
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 27 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 09.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Ibu 20 hari WIB pemeriksaan kepada ibu bahwa
Pukul : 09.00 WIB b. Kesadaran: Composmentis postpartum, keadaan umum ibu baik, tanda vital
c. Tanda-tanda vital keadaan umum dalam batas normal
Ibu mengatakan: TD : 110/70 ibu baik Evaluasi: Ibu senang dengan hasil
1. Anak kuat ASI mmHg N : 80 pemeriksaan
2. Pengeluaran dari x/menit
kemaluan berwarna P : 20 09.08 2. Mengingatkan ibu untuk selalu
putih x/menit S WIB memenuhi kebutuhan nutrisi selama
: 36,50C menyusui agar menunjang produksi
ASI serta meningkatkan tenaga, ibu
2. Pemeriksaan Khusus harus benyak mengkonsumsi
a. Inspeksi makanan yang mengandung
Hasil pemeriksaan head karbohidrat, protein, makanan
to toe dalam batas normal berserat, buah-buahan serta sayur-
b. Palpasi sayuran.
1) TFU: tidak teraba Evaluasi: ibu paham dan mengerti
2) Kandung kemih: atas penjelasan yang diberikan serta
tidak teraba ibu mau mengikuti saran yang
3) Diastasis recti: normal diberikan.
c. Pemeriksaan khusus
1) Pengeluaran
pervaginam:
172
lochea alba ±2 cc
173
09.13 3. Menginformasikan kepada ibu
WIB bahwa ada beberapa gearakan yang
dapat membantu otot- otot panggul
dan perut kembali normal, ibu
dapat melakukan sesuai
kemampuan ibu secara bertahap:
a. Gerakan 4 : Ibu tidur terlentang
dan kedua kaki ditekuk, letakkan
tangan kanan diatas perut
kemudian angkat panggul dan
kepala secara bersamaan.
b. Gerakan 5: Tidur terlentang,
tekuk kaki secara bergantian
sambil dijinjit
Evaluasi: Ibu paham tentang
senam nifas dan sudah mampu dari
gerakan ke-1 sampai gerakan ke-5.
09.18 4. Mengingatkan kembali ibu untuk
WIB tetap menyusui bayinya sesering
mungkin dan memotivasi ibu untuk
memberikan ASI Eksklusif selama
6 bulan tanpa memberikan
makanan apa pun dan menjelaskan
manfaat ASI bagi bayinya:
a. ASI merupakan makanan yang
terbaik untuk bayi.
b. Mengandung zat gizi.
174
175
c. Sebagai antibodi
d. Mencegah perdarahan bagi ibu
e. Menjalin kasih sayang antara ibu
dan bayi.
Evaluasi: ibu bersedia memberikan
ASI saja selama 6 bulan
09.23 5. Mengingatkan ibu tentang alat
WIB kontrasepsi yang akan ibu gunakan
setelah pasca persalinan dan
menyarankan ibu untuk
menggunakan metode kontrasepsi
jangka panjang. Macam-macam
alat kontrasepsi yang bisa
digunakan ibu menyusui yaitu:
suntik 3 bulan, mini pil
progesterone, implant dan IUD
Evaluasi: ibu mengerti dengan dan
ibu mau memasang KB IUD yang
sudah didiskusiakan dengan
suaminya.
09.25 6. Memberitahu ibu untuk melakukan
WIB kunjungan pada fasilitas kesehatan
apabila ada keluhan.
Evaluasi: ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang apabila ada
keluhan.
176
177
178
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR 7 JAM NORMAL DI
PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK
Tanggal : 07 Maret 2025
Pukul : 08.00 WIB
I. PENGUMPULAN DATA
A. Identitas/Biodata
Nama bayi : By. Ny. R
Umur bayi : 7 Jam
Tgl/jam lahir : 07 Maret 2025/ 00.40 WIB
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke- : 3 (Ketiga)
(Istri) (Suami)
Nama : Ny . R / Tn. D
Umur : 31 Tahun / 41 Tahun
Suku/Bangsa : Minang/Indonesia / Minang/Indonesia
Agama : Islam / Islam
Pendidikan : SMA / SD
Pekerjaan : IRT / Buruh Tani
Alamat : Rangeh
Nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi : Tn. D
Hubungan dengan ibu : Suami
Alamat : Rangeh
No Telp/Hp : 0812xxxx xxxx
B. Data Subjektif
1. Riwayat ANC G3P2A0H2
ANC kemana : Puskesmas dan PMB
Berapa kali : 6 kali
179
Keluhan saat hamil : Mual muntah, sakit pinggang
Penyakit selama hamil : Tidak Ada
2. Kebiasaan waktu hamil
Makanan : Tidak Ada
Obat-obatan : Tidak Ada
Jamu : Tidak Ada
Kebiasaan merokok : Tidak Ada
Lain-lain : Tidak Ada
3. Riwayat INC
Lahir tanggal : 07 Maret 2025
Jenis persalinan : Spontan
Ditolong oleh : Peneliti dan didampingi oleh bidan
a. Lama persalinan
Kala I : 1 jam
Kala II : 40 menit
Kala III : 5 menit
b. Ketuban pecah
Pukul : 00.00 WIB
Bau : Amis
Warna : Jernih
Jumlah : ± 200 cc
c. Komplikasi persalinan
Ibu : Tidak Ada
Bayi : Tidak Ada
Keadaan bayi baru lahir
BB/PB lahir : 2.840 gram/48 cm
Menangis kuat : Iya
Frekuensi kuat : Kuat
Usaha bernafas : Baik
Tonus otot : Baik
Warna kulit : Kemerahan
180
C. Data Objektif (Pemeriksaan Fisik)
1. Pemeriksaan Umum
Pernafasan : 48 x/menit
Suhu : 36,7 ℃
Nadi : 148 x/menit
Gerakan : Aktif
Warna kulit : Kemerahan
BB sekarang : 2.840 gram
2. Pemeriksaan Khusus
Kepala : Ubun-ubun datar, tidak ada caput succedaneum,
tidak ada cephal hematoma
Muka : Kemerahan, tidak ada kelainan
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
Telinga : Simetris, ada lubang dan daun telinga, sejajar
dengan mata dan tidak ada kelainan
Mulut : Bibir dan langit-langit normal, tidak ada
labioschiziz, tidak ada palatoschiziz dan tidak ada
labiopalatoschiziz
Hidung : Ada dua lubang hidung dan ada sekat diantara
lubang hidung.
Leher : Tidak ada pembengkakan
Dada : Simetris kiri dan kanan, ada puting susu dan tidak
ada tarikan dinding dada saat bernapas
Tali pusat : Tidak ada perdarahan, tidak berbau Punggung
: Datar, tidak ada kelainan Ekstremitas
Atas : Jari-jari lengkap, gerakan aktif, tidak ada sindaktili,
tidak ada polidaktili dan tidak ada sianosis
Bawah : Jari-jari lengkap, gerakan aktif, tidak ada sindaktili,
tidak ada polidaktili dan tidak ada sianosis
Genetalia
Perempuan : Labia mayora sudah menutupi labia minora.
Anus : Positif (+)
181
3. Refleks
Refleks moro : Positif
Refleks rooting : Positif
Refleks sucking : Positif
Refleks swallowing : Positif
Refleks graph : Positif
4. Antropometri
Berat badan : 2.840 gram
Panjang badan : 48 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 36 cm
Lingkar Lila : 11 cm
5. Eliminasi
Miksi : Ada
Mekonium : Ada
TABEL 4.7 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 7 JAM NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 07 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi baru WIB pemeriksaan pada ibu dan keluarga,
Pukul : 08.00 WIB b. Tanda-tanda vital lahir usia 7 bahwa keadaan umum bayi dalam
N : 47 x/menit jam, keadaan batas normal.
Ibu mengatakan: P : 146 x/menit umum bayi Evaluasi: Ibu dan keluarga sudah
1. Bayi sudah BAK S : 36,80C baik tau dan merasa senang dengan hasil
dan BAB c. Gerakan: aktif informasi yang telah disampaikan.
2. Bayi sudah d. Warna kulit: kemerahan
menyusu 08.08 2. Memberitahu ibu agar memenuhi
3. Bayi belum 2. Pemeriksaan Khusus WIB kebutuhan kebersihan bayi dan rasa
dimandikan a. Inspeksi aman bayi
1) Hasil pemeriksaan a. Menganjurkan ibu untuk
head to toe dalam mencuci tangan sebelum
batas normal memegang bayi untuk
2) Tali pusat bersih dan mencegah infeksi
tidak ada tanda-tanda b. Mandikan bayi dengan air
infeksi suam-suam kuku
b. Antropometri c. Ganti popok atau kain bayi
1) BB: 2840 gram setiap kali basah
2) PB: 48 cm d. Gunakanlah kain yang lembut
3) LK: 34 cm dan menyerap keringat
4) LD: 36 cm e. Jangan meninggalkan bayi
5) Lila: 11 cm sendiri.
182
c. Refleks: Evaluasi: ibu mengerti dan akan
1) Reflek Moro: (+) melaksanakan sesuai dengan apa
2) Reflek rooting: (+) yang dijelaskan
3) Reflek sucking: (+)
4) Reflek swallowing: 08.13 3. Mengajarkan pada ibu cara
(+) WIB memandikan bayi
5) Reflek graph: (+) Evaluasi: bayi sudah dimandikan
d. Eliminasi
1) Miksi: Ada 08.20 4. Menginformasikan pada ibu bahwa
2) Mekonium: Ada WIB bayi akan diinjeksikan Hb0 yang
bertujuan agar bayi tidak terinfeksi
penyakit hepatitis.
Evaluasi: ibu setuju dan bayi
sudah diinjeksikan Hb0
08.23 5. Memberikan pendidikan kesehatan
WIB perawatan tali pusat serta
mengajarkan ibu cara perawatan
tali pusat yang benar.
a. Menjaga tali pusat tetap bersih
dan kering
b. Jangan bubuhkan obat- obatan,
ramuan, betadine, maupun
alkohol pada tali pusat.
c. Biarkan tali pusat tetap terbuka.
d. Lipat popok dibawah tali pusat
Evaluasi: Tali pusat sudah
dibersihkan dan ibu paham cara
183
perawatan tali pusat yang benar.
08.25 6. Memberitahu ibu untuk selalu
WIB menjaga kehangatan bayi dengan
cara memakaikan bayi pakaian
yang hangat, topi dan bedong.
Letakkan bayi di tempat yang
bersih, kering, aman dan hangat dan
jangan biarkan bayi terpapar udara
yang dingin, gantilah popok bayi
segera mungkin apabila bayi BAB/
BAK. Bayi selalu berada di dekat
ibu.
Evaluasi: ibu mengerti dengan
penjelasan yang di berikan.
Bayi sudah dibedong dan berada
dalam dekapan ibunya
08.27
WIB 7. Menjelaskan kepada ibu tanda
bahaya pada bayi baru lahir, yaitu:
a. Bayi tampak lemah, tidak mau
menyusu
b. Bayi tidak BAB 24 jam pertama
b. Tali pusat berbau busuk atau
keluar nanah
c. Suhu tubuh bayi dibawah 36,5 0
C atau diatas 37,5 0 C
d. Bagian yang berwarna putih pada
184
mata berubah menjadi warna
kuning atau warna kulit juga
tampak kekuningan.
Bila ibu menemukan salah satu
tanda diatas, segera bawa bayi ke
pelayanan kesehatan.
Evaluasi: ibu mengerti dan dapat
menyebutkan kembali tanda bahaya
bayi baru lahir.
08.30
WIB 8. Menginformasikan kepada ibu
untuk melakukan kunjungan ulang
pada tanggal 11 Maret 2025 atau
jika bayi ada keluhan.
Evaluasi: Ibu bersedia untuk
kunjungan ulang pada tanggal 11
Maret 2025 atau jika bayi ada
keluhan.
185
TABEL 4.8 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 4 HARI NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 11 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 08.05 1. Menginformasikan hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi usia 4 hari, WIB pemeriksaan bayi kepada ibu dan
Pukul : 08.00 WIB b. Tanda-tanda vital keadaan umum keluarga bahwa keadaan umum
N : 46 x/menit bayi baik bayi baik, serta tidak ada masalah
Ibu mengatakan: P : 147 x/menit atau kelainan pada bayi.
1. Bayi aktif menyusu S : 36,7 0 C Evaluasi: ibu dan keluarga
dan air susu ibu c. BB Sekarang: 2.740 gram mengetahui hasil pemeriksaan yang
mulai banyak d. PB: 48 cm dilakukan.
2. Tali pusat bayi
sudah kering 2. Pemeriksaan Khusus 08.08 2. Menjelaskan kepada ibu tanda bayi
tapi belum lepas a. Inspeksi WIB sudah cukup ASI, yaitu:
1) Hasil pemeriksaan a. Bayi tidak rewel
head to toe dalam b. Bayi menyusui minimal 10
batas normal kali dalam waktu 24 jam.
2) Tali pusat sudah c. Lama waktu menyusui: 20- 45
kering tapi belum menit
lepas, pada tali pusat d. Bayi tidur nyenyak
tidak ada tanda- e. BAK kurang lebih 6 kali
tanda infeksi sehari
f. Mata bayi tidak terlihat kuning
g. Adanya kenaikan berat badan.
Evaluasi: Ibu mengerti dengan
penjelasan mengenai tanda- tanda
bayi sudah cukup ASI.
186
08.13 3. Mengingatkan kembali kepada ibu
WIB agar memenuhi kebutuhan
kebersihan bayi:
a. Selalu memandikan bayi
minimal 2 kali sehari dengan
air suam-suam kuku.
b. Ganti popok atau kain bayi
setiap kali basah.
c. Gunakanlah kain yang lembut
dan menyerap keringat.
d. Menganjurkan ibu untuk
mencuci tangan sebelum
memegang bayi untuk
mencegah infeksi.
Evaluasi: Ibu mengerti dan akan
melaksanakan sesuai dengan apa
yang dijelaskan.
08.18 4. Mengevaluasi dan mengingatkan
WIB teknik menyusui yang benar kepada
ibu dengan meminta ibu untuk
menyusui bayinya.
a. Pastikan ibu duduk dengan
nyaman, jika dikursi, usahakan
kaki menapak ke lantai, beri
sanggahan jika kaki tidak
sampai kelantai.
b. Bersihkan payudara bagian
187
puting hingga areola dengan
menggunakan kassa dengan air
yang masak.
c. Lalu keluarkan ASI sedikit dan
oleskan hingga ke bagian
areola.
d. Ambil bayi lalu letakkan kepala
bayi pada lekukkan siku bagian
dalam, usahakan perut bayi
menempel pada perut ibu.
e. Ambil payudara ibu dengan
cara menggenggam membentuk
huruf C dan dekatkan ke pipi,
jika mulut terbuka maka
masukkan seluruh puting
sampai ke areola pada mulut
bayi.
f. Lalu tangan yang satu
memegang bokongTatap bayi
dan ajak bayi bicara.
g. Susukan pada kedua belah
payudara
h. Jika bayi sudah kenyang dan
mengantuk, buka mulut bayi
dengan cara memasukkan jari
kelingking pada ujung sudut
mulut bayi atau memegang
dagu bayi sehingga mulut bayi
188
terbuka.
Evaluasi: Ibu sudah menyusui
bayi dengan benar.
08.23
WIB 5. Menganjurkan ibu untuk ke PMB,
posyandu atau puskesmas untuk
menimbang berat badan bayi setiap
bulannya dan untuk mendapatkan
imunisasi dasar lengkap.
Evaluasi: ibu bersedia ke
PMB, posyandu atau
08.23 puskesmas
WIB
6. Menganjurkan ibu untuk kunjungan
ulang ketiga pada tanggal 27 Maret
2025 atau jika bayi ada keluhan.
Evaluasi: Ibu bersedia melakukan
kunjungan ulang pada tanggal 27
Maret 2024 atau jika bayi ada
keluhan
189
TABEL 4.9 ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA NY. R G3P2A0H2 20 HARI NORMAL
DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN ZAINAB EFENDI, Amd. Keb
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2025
Subjektif Objektif Assessment Waktu Planning Paraf
Tanggal : 27 Maret 1. Pemeriksaan Umum Diagnosa: 09.05 1. Menginformasikan kepada ibu hasil
2025 a. Keadaan umum: Baik Bayi usia 20 WIB pemeriksaan yang telah dilakukan
Pukul : 09.00 WIB b. Tanda-tanda vital hari, keadaan kepada ibu bahwa bayi dalam
N : 47 x/menit umum bayi baik keadaan baik.
Ibu mengatakan: P : 147 x/menit N : 147 x/menit
1. Bayi aktif menyusu S : 36,7 0 C P : 47 x/menit
dan air susu ibu c. BB Sekarang: 2.850 gram S : 36,7 0 C
mulai banyak d. PB: 48 cm BB : 2.850 gram
2. Bayi sudah mulai Evaluasi: ibu mengerti dengan
aktif bergerak dan 2. Pemeriksaan Khusus hasil pemeriksaan.
tidak mau lagi a. Inspeksi
dibedong 1) Hasil pemeriksaan 09.08 2. Mengevaluasi menyusui ibu,
3. Tali pusat bayi head to toe dalam WIB apakah ibu masih memberikan ASI
sudah lepas batas normal eksklusif kepada bayinya dan
tanggal 12 Maret 2) Tali pusat sudah lepas apakah ibu memberikan ASI secara
2025 dan tidak ada tanda- on demand kepada bayinya yaitu
tanda infeksi pada sesuai kebutuhan bayinya
penanaman tali pusat Evaluasi: Ibu masih memberikan
bayi. ASI Eksklusif kepada bayinya dan
memberikan ASI secara on demand.
190
09.13 3. Mengevaluasi pengetahuan ibu
WIB mengenai tanda bayi puas menyusu
Evaluasi: ibu dapat menyebutkan
tanda bayi puas menyusu dan ibu
sudah memahami seperti apa bayi
yang dikatakan puas menyusu, yang
dapat dilihat dengan pertambahan
berat badan bayi ibu sebesar 110
gram
09.18 4. Memberitahukan kepada ibu
WIB mengenai macam-macam
imunisasi, manfaat, kapan waktu
pemberiannya dan efek samping
setelah pemberian imunisasi.
Mengingatkan ibu untuk membawa
bayinya ke posyandu nanti waktu
umur bayi 1 bulan, untuk
mendapatkan imunisasi BCG dan
polio1
Evaluasi: Ibu telah mengerti
dengan penjelasan yang diberikan
dan mengatakan akan selalu
membawa bayinya ke posyandu
untuk mendapatkan imunisasi dasar
lengkap.
191
09.23 5. Memberitahukan ibu untuk selalu
WIB memeriksaan tumbuh kembang
bayinya ke posyandu setiap bulan
dan membawa bayinya ketenaga
kesehatan jika ibu memiliki
keluhan dengan keadaan bayinya
Evaluasi: ibu mengerti dengan
anjuran bidan
09.25 6. Menganjurkan ibu untuk
WIB mendatangi tenaga kesehatan
apabila ada keluhan pada bayinya
Evaluasi: ibu bersedia untuk
melakukan kunjungan ulang bila
ada keluhan
192
193
15. Pembahasan
Studi kasus asuhan kebidanan berkesinambungan pada ibu hamil, bersalin,
bayi baru lahir dan nifas di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Zainab Efendi,
Amd. Keb telah dilakukan pada Ny. “R” usia 31 tahun dengan G 3P2A0H2.
Pasien dalam studi kasus ini telah diberikan asuhan berkesinambungan sejak
usia kehamilan 36-37 minggu sampai dengan usia bayi 20 hari. Asuhan dan
kunjungan mulai dilakukan pada tanggal 10 Februari 2025 dan berakhir pada
12 April 2025 di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb di Nagari Saok Laweh,
Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Pada BAB
ini peneliti akan menyajikan pembahasan dengan membandingkan antara
konsep teoritis kebidanan dengan asuhan yang diberikan kepada Ny. “R” usia
31 tahun G3P2A0H2 dengan HPHT 03 Juni 2024.
1. Kehamilan
Dalam melakukan pelayanan antenatal diupayakan memenuhi standar
pelayanan kebidanan yaitu 14T yaitu timbang berat badan dan ukur tinggi
badan, mengukur tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri (TFU),
Imunisasi Tetanus Toxoid, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet
selama kehamilan, pemeriksaan Hb, pemeriksaan protein urin,
pemeriksaan reduksi urin, perawatan payudara dan tekan payudara,
pemeliharaan tingkat kebugaran/senam hamil, tes VDRL/ penyakit
menular seksual, temu wicara, terapi yodium, terapi obat malaria termasuk
perencanaan persalinan pencegahan komplikasi (P4K) serta KB pasca
persalinan.
Menurut teori kujungan ANC sebaiknya dilakukan minimal sebanyak
6 kali selama kehamilan yaitu 2 kali pada TM I, 1 kali pada TM II dan 3
kali pada TM III. Peneliti melakukan pemeriksaan kehamilan pada Ny.
“R” sebanyak 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester III.15
Pada studi kasus ini selama kehamilan Ny. “R” telah melakukan
pemeriksaan sebanyak 6 kali di fasilitas kesehatan yaitu 2 kali pada TM I,
1 kali pada TM II, 3 kali pada TM III dan dalam hal ini sudah sesuai
dengan teori. Selama kehamilan TM III Ny. “R” telah melakukan 2 kali
kunjungan dengan peneliti di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb dengan hasil
yaitu:
a. Kunjungan I
Kunjungan pertama ini dilakukan pada tanggal 16 Februari 2025
pukul 17.00 WIB. Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan pada
Ny. “R” untuk pengambilan data studi kasus asuhan kebidanan
berkesinambungan. Pada kunjungan ini ibu mempunyai keluhan yang
fisiologis seperti ibu merasakan nyeri pinggang. Berdasarkan konsep
teoritis kebidanan yaitu mengenai perubahan fisiologis ibu TM III
keluhan ini merupakan keluhan yang normal. Nyeri pinggang
disebabkan oleh progesteron dan relaksin (yang melunakkan jaringan
ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya berat badan
yang dibawa dalam rahim. Penyebab nyeri pinggang yang
masih dirasakan ibu ini dikarenakan ibu mengerjakan pekerjaan rumah
sendiri. Hindari mengangkat benda yang berat, memberitahu cara-cara
195
untuk mengistirahatkan otot punggung.13
Dalam pemeriksaan kehamilan ini, Ny. “R” diupayakan
mendapatkan pelayanan sesuai standar kebidanan meliputi, timbang
berat badan dan tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran
tinggi fundus, pemberian tablet Fe, imunisasi TT, pemeriksaan Hb,
protein urine, pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual, reduksi
urine, perawatan payudara, senam ibu hamil atau aktivitas fisik
lainnya, pemberian obat malaria, pemberian yodium, temu wicara.
Hasil pemeriksaan BB ibu sebelum hamil 53 kg dan sekarang 65,5
kg. Pertambahan berat badan ibu ± 12 kg masih sesuai dengan batas
penambahan normal pada ibu hamil usia kehamilan 36-37 minggu.
Berdasarkan penambahan total BB selama hamil yaitu 11,5-16 kg serta
berdasarkan penghitungan IMT ibu selama hamil ini normal yaitu
21,64 kg/m2. Berdasarkan pemeriksaan tinggi badan didapatkan tinggi
badan ibu 153,3 cm.
Tekanan darah ibu yaitu 105/64 mmHg, tekanan darah normal
pada ibu hamil dibawah 140/90 mmHg. Tinggi fundus uteri (TFU)
Ny. “R” yaitu 3 jari dibawah prosesus xifoideus, ukuran Mc. donald
pada kunjungan pertama ini yaitu 33 cm dan Sebagian kecil kepala
sudah masuk PAP, hasil pemeriksaan dalam batas normal, bila
dihitung dengan rumus Johnson diperkirakan berat badan janin
3.100 gram dan sesuai dengan usia kehamilan. Ibu sudah
mendapatkan tablet Fe dan mengkonsumsinya 1 tablet perhari, ibu
196
mendapatkan imunisasi TT5 pada tanggal 21 Agustus 2024 didapat
dari buku KIA. Secara teori manfaat imunisasi TT yaitu untuk
melindungi ibu dan bayi dari tetanus dan infeksi, terutama untuk
menghindari bayi terkena tetanus neonatorum. Peneliti tidak
memberikan TT karena tidak tersedianya vaksin imunisasi TT di
PMB. Adanya kesenjangan antar teori dan praktik karena peneliti tidak
memberikan imunisasi TT pada ibu dikarenakan tidak tersedianya
imunisasi di PMB.
Pemeriksaan laboratorium pada kunjungan ini tidak dilakukan
karena pada buku KIA telah dilakukan di puskesmas pada tanggal 21
Agustus 2024 dan didukung oleh hasil pemeriksaan fisik saat ini
tidak ditemukan indikasi pada ibu untuk dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan Hb, pemeriksaan
protein urine, glukosa urine dan didapatkan protein urine dan glukosa
urine negatif (-), Hb ibu 12,3 gr %, berdasarkan teori pada ibu hamil
trimester III Hb minimal ibu hamil adalah 11,0 gr % dan Hb ibu
tersebut masih dalam batas normal. Pertimbangan lainnya karena
peneliti tidak melihat ada indikasi anemia pada ibu, tekanan darah ibu
normal, tidak memiliki riwayat hipertensi, ibu tidak ada mengeluh sakit
kepala dan penglihatan kabur serta tidak terdapat oedema pada ibu dan
ibu tidak memiliki riwayat diabetes. Sementara golongan darah tidak
dilakukan kembali karena hanya perlu dilakukan satu kali, karena
golongan darah tidak akan berubah. Secara teori dan praktik terdapat
197
kesenjangan karena peneliti tidak melakukan pemeriksaan dikarenakan
tidak adanya indikasi pada Ny. “R”.
Tes PMS juga dilakukan ibu saat kontrol hamil di puskesmas pada
tanggal 21 Agustus 2024 didapat dari buku KIA dan hasil tes yang
diperoleh adalah HIV (-), Hepatitis B (-) dan sifilis (-). Ibu telah
mendapat perawatan payudara dan telah melakukan aktivitas fisik
seperti jalan pagi setiap hari. Ibu tidak mendapatkan pemberian obat
malaria dan pemberian yodium karena wilayah penelitian bukan
merupakan wilayah yang endemik malaria atau gondok. Tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan praktik karena secara teori pemberian
obat malaria dan pemberian yodium dilakukan pada daerah endemis
malaria dan gondok.
Hasil anamnesa tidak ditemukan gangguan kesehatan pada ibu dan
bayi setelah melakukan anamnesa, pemeriksaan umum dan
pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa “Ibu G3P2A0H2 usia
kehamilan 36-37 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, puki, pres-
kep, sebagian kecil kepala sudah masuk PAP, keadaan jalan lahir
normal, keadaan umum ibu dan janin baik”.
Berdasarkan semua asuhan yang diberikan, Ny. “R” sudah bisa
memahami apa yang dijelaskan dan bersedia melakukan kunjungan
ulang. Ny. “R” merasa senang dengan informasi yang diberikan
mengenai kondisi kehamilannya serta keadaan janinnya. Dari semua
hasil pengkajian pada Ny. “R” tidak ditemukan masalah yang berat
198
dan didapat diagnosa kehamilan normal. Peneliti akan mengevaluasi
asuhan yang diberikan pada kunjungan ibu hamil berikutnya.
b. Kunjungan II
Kunjungan kedua ini dilakukan pada tanggal 22 Februari 2025
pukul 16.00 WIB. Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan pada
Ny. “R” untuk pengambilan data studi kasus asuhan kebidanan
berkesinambungan. Pada kunjungan ini ibu mempunyai keluhan yang
fisiologis seperti ibu masih sedikit nyeri pada pinggang. Berdasarkan
konsep teoritis kebidanan yaitu mengenai perubahan fisiologis ibu TM
III keluhan ini merupakan keluhan yang normal. Nyeri pinggang
disebabkan oleh progesteron dan relaksin (yang melunakkan jaringan
ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya berat badan
yang dibawa dalam rahim. Penyebab nyeri pinggang yang masih
dirasakan ibu ini dikarenakan ibu mengerjakan pekerjaan rumah
sendiri. Hindari mengangkat benda yang berat, memberitahu cara-cara
untuk mengistirahatkan otot punggung.13 Pada kunjungan ini peneliti
melakukan pemeriksaan yang kurang lebih sama seperti kunjungan
sebelumnya.
Hasil pemeriksaan BB ibu sebelum hamil 53 kg dan sekarang 65
kg. Pertambahan berat badan ibu ± 12 kg masih sesuai dengan batas
penambahan normal pada ibu hamil usia kehamilan 37-38 minggu.
Tekanan darah ibu yaitu 121/74 mmHg, tekanan darah normal pada
ibu hamil dibawah 140/90 mmHg. Tinggi fundus uteri Ny. “R”
199
yaitu 4 jari dibawah prosesus xifoideus, ukuran Mc. donald pada
kunjungan kedua ini yaitu 33 cm dan kepala belum masuk PAP,
hasil pemeriksaan dalam batas normal, bila dihitung dengan rumus
Johnson diperkirakan berat badan janin 3.100 gram dan sesuai
dengan usia kehamilan. selanjutnya peneliti melakukan evaluasi
kepada ibu apakah masih mengkonsumsi tablet Fe dan menganjurkan
pada ibu untuk tetap mengkonsumsinya 1 tablet perhari sampai dengan
masa persalinan.
Kunjungan ANC kedua ini lebih difokuskan pada tanda-tanda
persalinan. Tanda-tanda dari persalinan yaitu sakit pinggang menjalar
ke ari-ari yang semakin lama semakin kuat dan sering, keluar lendir
bercampur darah dari kemaluan ibu, serta keluar cairan banyak dan
tidak dapat di tahan dari kemaluan ibu. Peneliti juga
menginformasikan kepada ibu untuk menjaga personal hygiene beserta
perawatan payudara, serta mengingatkan kembali kepada ibu asuhan
yang sudah diberikan pada kunjungan pertama seperti, persiapan
persalinan yang belum lengkap, konsumsi tablet tambah darah,
aktivitas fisik, menanyakan kembali tentang kontrasepsi yang akan di
gunakan, serta tanda bahaya kehamilan.18 19 Pada asuhan yang peneliti
berikan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik. Diakhir
kunjungan peneliti mengatur jadwal kunjungan ulang satu minggu lagi
atau apabila ibu ada keluhan dan jika ibu mengalami tanda-tanda
persalinan.
200
2. Persalinan
a. Kala I
Kala I persalinan adalah kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.18 Pada tanggal 06 Maret
2023 pukul 23.00 WIB Ny. “R” datang ke PMB. Ibu mengatakan sakit
pinggang menjalar ke ari-ari sejak pukul 05.00 WIB dan sudah keluar
lendir bercampur darah sejak pukul 15.00 WIB. Pengkajian data subjektif
telah dikumpulkan secara keseluruhan. Setelah itu peneliti melakukan
pemeriksaan pada pukul 23.00 WIB dan didapatkan hasil pemeriksaan
fisik dalam batas normal, his 4 kali dalam 10 menit lamanya 45 detik,
perlimaan 2/5, pemeriksaan dalam didapatkan hasil portio menipis,
pembukaan 8 cm dan ketuban belum pecah, presentasi kepala, posisi
UUK kiri depan, penurunan bagian terendah janin di Hodge III dan tidak
ada bagian yang menumbung dan tidak ada molase.
Berdasarkan data subjektif dan objektif didapatkan diagnosa ibu
dengan usia kehamilan 39-40 minggu inpartu kala I fase aktif, keadaan
umum ibu dan janin baik. Ibu telah membawa persiapan persalinan yang
telah dijelaskan saat kunjungan kehamilan. Asuhan kebidanan kala I yang
diberikan kepada ibu yaitu menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang
dirasakan ibu yaitu nyeri pinggang adalah hal yang wajar karena ibu telah
memasuki proses persalinan. Memberikan dukungan emosional, spiritual
serta support kepada ibu. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dengan
201
tidur posisi miring ke kiri.
Posisi miring kiri sudah sering dianjurkan pada ibu bersalin, banyak
ibu bersalin yang merasa nyaman dan kemajuan persalinan berjalan
lancar setelah dianjurkan posisi miring kiri. Posisi miring kiri sangat
cocok bagi ibu yang merasa nyeri di punggung atau kelelahan karena
mencoba posisi yang lain. Posisi miring kiri mengharuskan ibu berbaring
ke kiri, salah satu kaki diangkat, sedang kaki lainnya dalam keadaan lurus
atau ditumpuhkan diatas kaki yang diluruskan (seperti memeluk guling).
Posisi berbaring miring kiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava
inferior sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia
karena suplai oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi
ibu yang mengalami kecapekan dan dapat mencegah terjadinya
laserasi/robekan jalan lahir.18
Menganjurkan ibu memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
Mengajarkan ibu teknik relaksasi saat ada his, dengan cara menarik nafas
dalam dari hidung dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Ibu dapat
melakukan teknik relaksasi dengan benar. Menganjurkan ibu untuk
berkemih jika terasa ingin berkemih dan jangan menahan untuk
berkemih, agar tidak mengganggu kontraksi dan penurunan kepala janin.
Mengajarkan ibu posisi bersalin yaitu dengan posisi dorsal recumbent.
Dari hasil penjelasan yang telah diberikan kepada ibu, maka evaluasi
yang didapatkan adalah asuhan telah sesuai dengan teori. Tidak ada
kesenjangan antara teori dan praktik.22
202
Pada Ny. “R” lama pembukaan 8 cm ke pembukaan 10 cm
berlangsung selama 1 jam. Menurut teori pada kehamilan multipara lama
pembukaan fase aktif berlangsung selama 1,5 hingga 2,5 cm per jam.
Keadaan tersebut sesuai dengan teori asuhan persalinan normal. Faktor-
faktor yang menyebabkan pembukaan 8 cm ke pembukaan lengkap
hanya berlangsung 1 jam diantaranya mobilisasi ibu yang baik yaitu ibu
tidur dengan posisi miring ke kiri, rahim yang sangat efisien yang
berkontraksi semakin kuat dan teratur, dukungan penolong dan suami
yang selalu mendampingi ibu, pemenuhan nutrisi dan eliminasi ibu baik,
serta pola aktivitas ibu seperti berjalan-jalan di pagi hari. Berdasarkan
teori hal tersebut dapat membantu turunnya kepala janin. Pada asuhan
kala I tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.
b. Kala II
Kala II dimulai dari pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi.18 Pada tanggal 07 Maret 2025 pukul 00.00
WIB ibu mengatakan rasa sakitnya semakin sering dan semakin kuat, ibu
mengatakan seperti ingin BAB. Peneliti melakukan pemeriksaan inspeksi
terdapat tanda dan gejala kala II, dorongan meneran, perineum menonjol,
vulva membuka dan tekanan pada anus.18 Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan lengkap, portio tidak teraba
dan ketuban pecah spontan pukul 00.00 WIB, presentasi belakang kepala,
ubun-ubun kecil depan, tidak ada molase, tidak ada bagian terkemuka dan
kepala berada di hodge IV. Dari data subjektif dan objektif didapatkan
203
diagnosa ibu inpartu kala II, keadaan umum ibu dan janin baik. Untuk
saat ini tidak ditemukan masalah.
Setelah pembukaan lengkap, peneliti menyiapkan diri sebagai
penolong persalinan dengan memasang alat perlindungan diri (APD)
berupa sendal tertutup, gown, masker dan handscoon. Ada kesenjangan
antara teori dan praktik dimana menurut 60 langkah APN kita diharuskan
menggunakan sepatu boots, penutup kepala (mitela), kacamata (google),
gown, handscoon dan masker tetapi karena keterbatasan alat dan bahan
penolong tidak menggunakan APD lengkap sehingga dapat
terkontaminasi oleh cairan pasien dan kemungkinan dapat tertular oleh
penyakit menular. Asuhan yang diberikan pada ibu adalah asuhan sayang
ibu dan sesuai dengan kebutuhan ibu yaitu mengatur posisi ibu sesuai
dengan yang telah diajarkan kepada ibu, yaitu posisi dorsal recumbent,
membimbing ibu meneran disaat his dan memberi pujian ibu saat
meneran serta meminta ibu beristirahat dan minum di sela-sela kontraksi.
Jika ibu lelah ibu bisa mengganti dengan posisi miring yang juga dapat
mempercepat proses penurunan kepala dan mempercepat proses
persalinan.20
Peneliti selanjutnya melakukan pertolongan persalinan sesuai APN.
Ketika kepala bayi terlihat 5-6 cm di depan vulva, letakkan tangan kiri
pada kepala bayi agar tidak terjadi defleksi terlalu cepat dan sementara
tangan kanan menahan atau menekan perineum. Ada kesenjangan antara
teori dan praktik yaitu peneliti menahan kepala bayi tidak menggunakan
204
duk steril akan tetapi menggunakan kain popok yang sudah disterilkan
dengan sterilitator dengan suhu 1700C selama 60 menit, jadi berdasarkan
teori jika alat sudah disterilkan selama 60 menit dengan suhu 1700C
maka sudah mengurangi resiko terjadinya infeksi akibat alat atau bahan
yang tidak steril. Ketika kepala telah dilahirkan, bersihkan mulut, hidung,
mata dan seluruh wajah bayi dengan kassa steril. Periksa apakah ada
lilitan tali pusat. Tunggu kepala bayi putaran paksi luar, lalu bantu
lahirkan bahu depan, bahu belakang, dengan memposisikan tangan secara
biparietal dan bantu lahirkan seluruh tubuh bayi. Setelah bayi lahir
diletakkan diatas perut ibu lalu dikeringkan dengan handuk bersih yang
telah tersedia sambil dilakukan penilaian sepintas. Kala II berlangsung
selama 40 menit, lama kala ini sesuai dengan teori bahwa proses kala II
biasanya berlangsung paling lama 1 jam untuk multigravida. Pukul 00.40
WIB bayi lahir normal, menangis kuat, kulit kemerahan, tonus otot baik
dan jenis kelamin laki-laki.20
Setelah bayi lahir dilakukan pemotongan tali pusat kemudian
melakukan langkah inisiasi menyusui dini (IMD) yaitu dengan kontak
kulit dengan ibunya setelah lahir. Dalam praktiknya, peneliti meletakkan
bayi diatas perut ibu untuk dilakukan IMD dan hasilnya bayi telah IMD
60 menit dan telah berhasil menemukan puting susu ibunya pada menit ke
40.21 Hal tersebut menunjukkan asuhan yang dilakukan sudah sesuai
dengan teori, karena untuk dikatakan berhasil dilakukan IMD yaitu
minimal dilaksanakan selama 60 menit. Hal tersebut menunjukkan
205
asuhan yang dilakukan telah sesuai dengan teori dan pada kala II tidak
terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.
c. Kala III
Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir
dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban yang berlangsung tidak
lebih dari 30 menit.18 Pada kala III ini didapatkan data subjektif ibu
mengatakan senang atas kelahiran bayi dan perutnya terasa mules. Dari
pemeriksaan data objektif didapatkan hasil pemeriksaan TFU setinggi
pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih tidak teraba, perdarahan
±150 cc, plasenta belum lepas, kemudian adanya tanda-tanda pelepasan
plasenta.
Kemudian peneliti melakukan pemeriksaan janin kedua dan
melakukan manajemen aktif kala III yaitu suntik oksitosin, Peregangan
tali pusat terkendali (PTT) dan masase fundus. Plasenta lahir lengkap
pukul 00.50 WIB dengan berat ± 500 gram dan panjang tali pusat ±50
cm, perdarahan ±150 cc, hal ini sesuai teori bahwa kala III tidak boleh
lebih dari 30 menit dan perdarahan tidak melebihi 500 cc dan keadaan ibu
baik. Dari hasil pengkajian dan pemeriksaan didapatkan diagnosa ibu
parturien kala III, keadaan umum ibu baik dan tidak ditemukan adanya
masalah. Pada kala III tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.
d. Kala IV
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama
postpartum. Observasi yang dilakukan pada kala IV adalah tekanan
206
darah, nadi, suhu, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, kandung kemih
dan perdarahan.18 Kala IV persalinan didapatkan data subjektif ibu
mengatakan sangat senang telah melewati proses persalinan dan badan
sedikit lemas setelah melahirkan. Dari data objektif didapatkan hasil
pemeriksaan didapatkan TTV dalam batas normal, plasenta sudah lahir
lengkap, kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan
±150 cc, kandung kemih tidak teraba dan tidak ditemukannya laserasi
jalan lahir. Dari hasil pengkajian dan pemeriksaan didapatkan diagnosa
ibu parturien kala IV, keadaan umum ibu baik dan tidak ditemukan
adanya masalah.
Pada kala IV ini peneliti juga memberikan rasa aman dan nyaman
kepada ibu dengan membersihkan ibu dari darah dan air ketuban yang
melekat di badan ibu, mengajarkan keluarga cara memantau kontraksi
uterus, pemenuhan nutrisi dan hidrasi ibu dan anjuran untuk beristirahat,
serta pemantauan kala IV. Pemantauan kala IV dilakukan tiap 15 menit
pada satu jam pertama dan dan tiap 30 menit pada satu jam kedua dengan
memantau tanda-tanda vital ibu, kontraksi, tinggi fundus, kandung kemih
dan perdarahan. Selama dilakukannya pemantauan kala IV tidak terdapat
komplikasi dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
3. Bayi Baru Lahir
Proses persalinan berlangsung normal, dan bayi Ny. “R” lahir pukul
00.40 WIB, menangis kuat, kulit kemerahan, tonus otot baik, dengan jenis
kelamin perempuan, berat badan bayi 2.840 gram, panjang badan 48 cm,
207
lingkar dada 36 cm, lingkar kepala 34 cm, dan lingkar lengan 11 cm.
Pelaksanaan IMD dilakukan selama 60 menit, IMD berhasil. Dimana secara
teori IMD berhasil jika dilakukan selama minimal 1 jam. Manfaat IMD
adalah untuk meningkatkan kesempatan bayi memperoleh kolostrum,
mendukung keberhasilan ASI eksklusif, memperkuat hubungan ibu dan bayi
dan meningkatkan kesehatan bayi serta IMD dikatakan berhasil jika
dilakukan selama satu jam. IMD dilakukan segera setelah bayi lahir, dipotong
tali pusatnya dan dikeringkan kemudian bayi diletakkan di atas perut ibu
sampai bayi tersebut dapat menemukan puting susu dan menyusui dengan
sendirinya tanpa adanya bantuan dari orang lain selama satu jam.25
Setelah 1 jam bayi diinjeksikan vitamin K dipaha kiri bayi dan salep
mata. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa pemberian
salep mata dan injeksi vitamin K pada bayi yaitu 1 jam pertama setelah bayi
lahir.25 Dalam asuhan pada bayi baru lahir terdapat kesesuaian antara teori
dengan praktiknya yaitu pelaksanaan IMD dilakukan selama 60 menit dan
pemberian salap mata serta injeksi vitamin K pada 1 jam pertama setelah bayi
lahir.
a. Kunjungan I
Kunjungan pertama dilakukan pada tanggal 07 Maret 2025 pukul
08.00 WIB saat bayi berusia 7 jam. Pelaksanaan pelayanan kesehatan
neonatus kunjungan neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6-
48 jam. Pengkajian data secara subjektif telah dikumpulkan secara
keseluruhan, ibu mengatakan bayinya sudah bisa menyusu dan bayinya
208
sudah BAB dan BAK. Selanjutnya peneliti melakukan pengkajian data
secara objektif dengan pemeriksaan fisik pada bayi dan tidak ditemukan
adanya kelainan pada bayi. Dari data subjektif dan objektif didapatkan
diagnosa bayi baru lahir usia 7 jam, keadaan bayi baik dan untuk saat ini
tidak ditemukan masalah serta tidak diperlukan tindakan segera.
Asuhan yang peneliti berikan pada usia 7 jam ini yaitu tentang
kebutuhan kebersihan bayi dan rasa aman bayi, perawatan tali pusat, cara
menjaga kehangatan bayi, cara menyusui yang benar dan tanda bahaya
pada bayi baru lahir. Perawatan tali pusat pada bayi Ny. “R” yaitu tali
pusat dijaga agar tetap bersih dan kering, tidak dibubuhkan obat-obatan,
ramuan, betadine, maupun alkohol pada tali pusat, tali pusat dibiarkan
terbuka dan melipat popok di bawah tali pusat.25
Peneliti memberikan imunisasi Hb0 pada tanggal 07 Maret 2025
setelah bayi dimandikan pada pukul 08.00 WIB. Berdasarkan teori
pemberian vaksin Hb0 seharusnya 1 jam setelah pemberian vit. K.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi dijelaskan bahwa bayi
lahir di institusi rumah sakit, klinik dan bidan praktik swasta diberikan
vaksin imunisasi hepatitis B < 24 jam pasca persalinan, dengan di dahului
suntikan vitamin KI antara 2-3 jam sebelumnya, pemberian imunisasi
Hepatitis B masih di perkenankan sampai < 7 hari. 25 Dalam hal tersebut
adanya kesenjangan antara teotri dan prakatik, namun berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017
209
hal itu boleh dilakukan.
Dari hasil penjelasan yang telah diberikan kepada ibu, maka evaluasi
yang didapatkan adalah ibu paham dan mengerti dengan penjelasan yang
diberikan. Asuhan yang diberikan pada bayi telah sesuai dengan teori
kebidanan yang ada. Selama peneliti memberikan asuhan pada kunjungan
ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.
b. Kunjungan II
Kunjungan kedua dilakukan pada tanggal 11 Maret 2025 pukul 09.00
WIB saat bayi berusia 4 hari. Berdasarkan teori kunjungan kedua
dilakukan pada saat bayi berumur 3-7 hari. Pemeriksaan objektif pada
bayi didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal, hasil berat badan
2.740 gram, panjang badan 48 cm. Pada pemeriksaan ini, bayi mengalami
penurunan BB 100 gr, hal ini sejalan dengan teori yang mengatakan akan
mengalami penurunan berat badan 10% dari berat lahir. Tali pusat bayi
belum terlepas. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik
karena berdasarkan teori pelepasan tali pusat dikatakan cepat kurang dari
5 hari, normal jika terjadi antara 5-7 hari dan lambat jika lebih dari 7 hari.
Peneliti melakukan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi
Ny. “R”, dimana secara teori SHK merupakan skrining/uji saring untuk
memilah bayi yang menderita hipotiroid kongenital dari bayi yang bukan
penderita dan mendeteksi kelainan hormon tiroid yang menjadi salah satu
resiko timbulnya gangguan fisik dan mental dalam masa tumbuh
kembang anak.
210
Asuhan yang diberikan pada saat KN 2 yaitu: tanda bayi sudah cukup
ASI, kebutuhan kebersihan bayi, teknik menyusui yang benar dan
menganjurkan ibu untuk ke PMB, Posyandu atau puskesmas untuk
menimbang berat badan bayi setiap bulannya dan untuk mendapatkan
imunisasi dasar lengkap. 25 Hasil pemeriksaan keadaan bayi dalam batas
normal tidak ditemukan masalah atau komplikasi. Asuhan yang diberikan
pada bayi telah sesuai dengan teori kebidanan yang ada. Selama peneliti
memberikan asuhan ini peneliti tidak menemukan kesenjangan antara
teori dan pratik.
c. Kunjungan III
Kunjungan ketiga dilakukan peneliti pada tanggal 27 Maret 2025
pukul 10.00 WIB pada saat usia bayi 20 hari. Berdasarkan teori
kunjungan ketiga dilakukan pada saat bayi berumur 8 sampai 28 hari.
Pemeriksaan objektif pada bayi dilakukan didapatkan tanda vital dalam
batas normal, hasil berat badan 2.850 gram, panjang badan 48 cm. Pada
kunjungan ini berat badan bayi mengalami kenaikan 110 gram, secara
teori dalam minggu pertama berat badan bayi mungkin turun dahulu
kemudian naik kembali dan pada usia 7-10 hari umumnya telah mencapai
berat badan lahirnya. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik.
Asuhan yang diberikan pada saat KN 3 yaitu: pemberian ASI
Eksklusif, mengevaluasi pengetahuan ibu mengenai tanda bayi puas
menyusu, memberitahu ibu mengenai macam-macam imunisasi dan
mengingatkan ibu untuk memeriksakan tumbuh kembang bayinya ke
211
posyandu setiap bulannya, defekasi, perkemihan, kebersihan, serta tanda
bahaya pada bayi baru lahir. 25 Dari hasil anamnesa ibu mengatakan tidak
ada keluhan pada bayi, setelah dilakukan pemeriksaan tanda vital pada
bayi dalam batas normal dan tidak ada tanda bahaya pada bayi. Asuhan
kebidanan bayi baru lahir yang peneliti lakukan sesuai dengan teori
kebidanan dan tidak ada kesenjangan antara praktik dan teori.
4. Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas dilakukan dengan kunjungan nifas
sebanyak 4 (empat) kali dengan jadwal kunjungan I (6 jam- 2 hari post
partum), kunjungan II (3 hari-7 hari post partum), kunjungan III (8 hari- 28
hari post partum), dan kunjungan IV (29-42 hari post partum). 32 Ada
ketimpangan antara teori dan praktik karena peneliti hanya melakukan
kunjungan nifas sebanyak 3 kali, yaitu pada 7 jam post partum, 4 hari post
partum dan 20 hari post partum.
a. Kunjungan I
Kunjungan nifas pertama dilakukan pada 7 jam postpartum yaitu pada
tanggal 07 Maret 2025 pukul 08.00 WIB. Dari data subjektif diketahui
bahwa ibu sudah menyusui bayinya, perutnya masih terasa nyeri dan
sudah BAK. Data subjektif telah dikumpulkan secara keseluruhan.
Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data objektif, peneliti
melakukan pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan didapatkan TTV
dalam batas normal, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik dan
kandung kemih tidak teraba, perdarahan normal, pengeluaran pervaginam
212
lochea rubra. Pemeriksaan head to toe dalam batas normal, tanda homan
negatif, dan ibu sudah mobilisasi dini dengan pergi berkemih ke kamar
mandi. Berdasarkan teori pemeriksaan diatastasis rekti bertujuan untuk
mengetahui apakah otot perut yaitu rektus abdominis sudah kembali
normal atau belum, sedangkan pemeriksaan tanda homan bertujuan untuk
mengetahui apakah ibu mengalami tromboplebitis atau tidak. 32 Tidak ada
kesenjangan antara teori dan praktik karena tanda homan negatif dan
diastasis rekti normal. Dari data subjektif dan objektif didapatkan
diagnosa ibu 7 jam postpartum, keadaan umum ibu baik dan didapatkan
masalah ibu merasa nyeri pada perut bagian bawah.
Asuhan yang peneliti berikan yaitu menjelaskan kepada ibu bahwa
nyeri pada perut adalah hal yang normal, nyeri perut yang dirasakan ibu
disebabkan karena adanya kontraksi otot rahim sebagai proses
kembalinya rahim ke keadaan semula. Selanjutnya peneliti menjelaskan
bahwa ASI sedikit pada hari pertama dan kedua adalah hal yang normal,
menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini, mengajarkan ibu cara menjaga
persolan hygiene yang baik, anjurkan untuk meningkatkan nutrisi,
mengajarkan ibu teknik meyusui yang benar dan menginformasikan
kepada ibu dan keluarga tentang tanda bahaya nifas. 32
Peneliti juga menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi obat yang
diberikan yaitu tablet Fe, amoxicillin untuk antibiotik, asam mefenamic
yang berguna untuk menghilangkan nyeri, vitamin ASI untuk
memperlancar produksi ASI ibu, pemberian vitamin A pada ibu sebanyak
213
2 kali yaitu 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelah melahirkan. Ini
sudah sesuai dengan teori dimana pemberian vitamin A dianjurkan pada
ibu pasca salin (200.000 unit) agar dapat memberikan vitamin A pada
bayinya melalui ASI. Dalam asuhan yang peneliti berikan tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan praktik.
b. Kunjungan II
Kunjungan kedua dilakukan pada hari ke-4 postpartum yaitu tanggal
11 Maret 2025 pukul 08.00 WIB. Peneliti melakukan kunjungan ke
rumah Ny. “R” untuk mengetahui kondisi ibu. Ibu mengatakan ASI nya
sudah mulai banyak, bayi kuat menyusu, pengeluaran dari kemaluannya
sudah berkurang dan berwarna merah kekuningan, sedikit pusing, kurang
istirahat, kurang tidur. Data subjektif telah dikumpulkan secara
keseluruhan. Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data objektif
peneliti melakukan pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan didapatkan
TTV dalam batas normal, TFU pertengahan pusat dengan simfisis pubis,
kandung kemih tidak teraba, tanda homan negatif, pengeluaran
pervaginam lochea sanguinolenta. Dari data subjektif dan objektif
didapatkan diagnosa ibu 4 hari postpartum, keadaan umum ibu baik
dengan masalah kurang istirahat.
Pada kunjungan kedua ini mengingatkan kembali kepada ibu untuk
istirahat yang cukup, meningkatkan nutrisi ibu selama menyusui, menjaga
kebersihan, perawatan payudara, menyusui bayinya sesering mungkin
serta memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, menganjurkan ibu
214
senam nifas, serta mengingatkan kembali tanda bahaya masa nifas.32
Asuhan yang peneliti berikan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan
praktik. Dalam kunjungan ini didapatkan ibu dan bayi dalam keadaan
normal dan tidak ditemukan masalah.
c. Kunjungan III
Pada tanggal 27 Maret 2025 pukul 09.00 WIB dilakukan kunjungan
nifas ke rumah Ny. “R” yaitu pada hari ke-20 postpartum. Didapatkan
data subjektif dari ibu yaitu anaknya kuat ASI, pengeluaran dari
kemaluannya putih. Dari pemeriksaan didapatkan hasil tanda-tanda vital
dalam batas normal. TFU tidak teraba, kandung kemih tidak teraba,
diastasi rekti normal, pengeluaran lochea alba, pemeriksaan head to toe
dalam batas normal.
Pada kunjungan ketiga ini asuhan yang diberikan yaitu mengajarkan
ibu gerakan senam nifas, mengingatkan kembali ibu untuk memberikan
ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa memberikan makanan apa pun serta
menjelaskan manfaat ASI bagi bayinya dan mengingatkan ibu tentang
alat kontrasepsi yang akan ibu gunakan setelah pasca persalinan. Pada
kunjungan ini tidak ditemukan masalah pada ibu dan bayi, keadaan
umum ibu dan bayi baik.32 Berdasarkan standar pelayanan nifas,
kunjungan nifas seharusnya dilakukan sebanyak 4 kali. Namun dalam
penelitian ini peneliti hanya melakukan kunjungan sebanyak 3 kali
dikarenakan keterbatasan waktu dan kesediaan Ny. “R”. Dalam hal ini
terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
16. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian dengan menerapkan asuhan kebidanan
berkesinambungan pada Ny, “R” yang dilakukan pada tanggal 10 Februari
2025 sampai tanggal 12 April 2025 di PMB Zainab Efendi, Amd. Keb yang
berlokasi di Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok,
Provinsi Sumatera Barat, peneliti dapat menerapkan manajemen asuhan
kebidanan pada masa kehamilan 36-37 minggu, bersalin, bayi baru lahir dan
nifas. Dari asuhan yang telah diberikan tidak ditemukan kelainan atau
komplikasi baik pada ibu maupun pada bayi, sehingga peneliti mampu:
1. Melakukan pengkajian data subjektif dan data objektif pada Ny. R mulai
usia kehamilan 36-37 minggu, bersalian, bayi baru lahir dan nifas yang
didapat dari hasil anamnesa, pemeriksaan umum, dan laboratoriumdi
Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab Efendi, Amd. Keb Kabupaten
Solok Tahun 2025.
2. Merumuskan diagnosa dan masalah kebidanan pada Ny, R mulai usia
kehamilan 36-37 minggu, bersalian, bayi baru lahir dan nifas. Berdasarkan
diagnosa yang didapatkan dari asuhan yang diberikan merupakan diagonsa
normal. Perumusahan diagnosa penelitian dapat menyusun rencana asuhan
yang menyeluruh pada Ny. R mulai usia kehamilan 36-37 minggu.
Persalinan, nifas dan bayi baru lahir normal dengan bantuan pembimbing,
dalam hal ini dapat disimpulkan perencanan dibuat sesuai dengan
pengkajian dan diagnosa yang telah ditegakkan.
216
3. Asuhan kebidanan yang sesuai dengan rencana yang efisien dan aman
berdasarkan evidence based dalam kehamilan, persalinan, bayi baru lahir
dan nifas. Dalam pelaksanaannya pada Ny. R G 3P2A0H2, dan pada bayi
telah mendapatkan asuhan sesuai perencanan dan konsep teoritis.
4. Mengevaluasi tindakan yang diberikan dari ibu hami, bersalin, bayi baru
lahir dan nifas berdasarkan asuhan yang telah diberikan. Dalam asuhan
yang peneliti berikan pada ibu dan bayi baru lahir, ibu dan bayi sudah
mendapatkan asuhan berdasarkan pendidikan kesehatan yang diberikan,
ibu sudah melakukan dan mengulangi informasi-informasi yang telah
disampaikan oleh peneliti yang berlandaskan dengan teori kebidanan.
5. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan dengan motode SOAP
pada Ny. R mulai usia kehamilan 36-37 minggu, bersalin, nifas dan bayi
baru lahir di Tempat Praktik Mandiri Bidan Zainab Efendi, [Link]. Keb
Kabupaten Solok Tahun 2025.
17. Saran
Berdasarkan pembinaan dari penerapan manajemen asuhan kebidanan
yang telah dilakukan pada Ny. “R” dari kehamilan 36-37 minggu, bersalin,
bayi baru lahir dan nifas, maka peneliti memberikan beberapa saran antara
lain:
1. Teoritis
Hasil studi kasus ini dapat sebagai pertimbangan masukan untuk
menambah wawasan tentang asuhan kebidanan beresinambungan pada ibu
hamil trimester III, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.
217
2. Aplikatif
a. Bagi Peneliti
Agar peneliti dapat memperdalam dan menerapkan pengetahuan
sehingga dapat memberikan asuhan secara berkesinambungan sesuai
dengan kebutuhan ibu serta sesuai dengan standar pelayanan
kebidanan yang telah ditetapkan, sesuai dengan kewenangan bidan
yang telah diberikan kepada profesi bidan.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menjadi panduan serta masukan dalam menerapkan dan
mengembangkan ilmu yang didapat dari perkuliahan secara langsung
khususnya dalam menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil,
bersalin, bayi baru lahir dan nifas.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat melakukan asuhan
mulai dari awal kehamilan, agar dapat melakukan asuhan secara
berkesinambungan mulai dari trimester I, trimester II, dan trimester III.
Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat menggunakan alat sesuai
dengan standar asuhan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan nifas
serta melakukan asuhan sesuai dengan standar asuhan kebidanan.
DAFTAR PUSTAKA
MENDELEY BIBLIOGRAPHY PLACEHOLDER #1