EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE TERHADAP HASIL
BELAJAR POKOK BAHASAN SEGI EMPAT PADA SISWA KELAS VII
SEMESTER 2
SKRIPSI
Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1
untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Nama : Atik Widarti
NIM : 4101403041
Prodi : Pendidikan Matematika
Jurusan : Matematika
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
ABSTRAK
Atik Widarti (4101403041), “Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran
Koopertatif Tipe Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi Empat
Pada Siswa Kelas VII Semester 2”.
Matematika adalah ilmu dasar yang berkembang pesat baik materi maupun
kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak siswa yang secara sadar mengakui
pentingnya matematika, bahkan para orang tua sering memaksa anak mereka untuk
mengikuti pelajaran tambahan. Ini membuat anak merasa terpaksa mempelajari
matematika, sehingga membenci matematika. Akibatnya ia akan kesulitan memahami dan
menguasai matematika. Disinilah peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan.
Hal ini dikarenakan, guru berhubungan langsung dengan para siswa. Guru harus bisa
merencanakan suatu pembelajaran matematika yang menarik, efektif, dan bermakna. Salah
satu model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok
bahasan segi empat. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Adakah perbedaan rata-
rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran
menggunakan metode ekspositori? (2) Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar
dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada
tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori?(3) Apakah
rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-
Share mencapai ketuntasan belajar? (4) Bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1)
untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa
yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan siswa
yang diajar dengan metode ekspositori (2) untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga
aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari
pada rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori (3) untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar (4) untuk
mengetahui bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share.
Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 11 Semarang tahun
pelajaran 2006/2007. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cara cluster
random sampling diambil sampel sebanyak 2 kelas yaitu siswa kelas VII A sebagai
kelompok kontrol yang dikenai pembelajaran dengan metode ekspositori dan siswa kelas
VII D yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Pada akhir
pembelajaran, kedua kelompok sampel diberi tes dengan menggunakan instrumen yang
sama yang telah diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembedanya. Metode
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi, observasi, dan tes.
Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas data hasil tes dari kedua kelompok,
diperoleh bahwa data kedua kelompok sampel normal dan homogen, sehingga untuk
pengujian hipotesis pertama digunakan uji t dua pihak dan untuk pengujian hipotesis kedua
digunakan uji t satu pihak (pihak kanan). Dari hasil perhitungan dengan uji t dua pihak
pada ketiga aspek hasil belajar diperoleh bahwa thitung > ttabel sehingga H0 ditolak dan
hipotesis diterima. Hal ini berarti, terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang
signifikan. Pada pengujian hipotesis kedua diperoleh thitung > ttabel maka Ho ditolak dan
ii
hipotesis diterima. Jadi rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada
kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa ada perbedaan rata-
rata hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dan
rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.
Sehingga Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih efektif daripada
pembelajaran dengan metode ekspositori. Disarankan guru dapat mengembangkan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dan menerapkan pada pokok bahasan lain.
iii
PENGESAHAN
SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Matematika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang
Hari : Rabu
Tanggal : 29 Agustus 2007
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Kasmadi Imam S.,M. S Drs. Supriyono, [Link]
NIP. 130781011 NIP. 130815345
Pembimbing Utama Penguji Utama
Dr. St. Budi Waluyo, M. Si Drs. Mashuri, [Link]
NIP. 132046848 NIP. 131993875
Pembimbing Pendamping Anggota I
Isnarto, S. Pd, M. Si Dr. St. Budi Waluyo, M. Si
NIP. 132092853 NIP. 132046848
Anggota II
Isnarto, S. Pd, M. Si
NIP. 132092583
iv
MOTTO
1. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam
Nasyrah: 5).
2. Kebahagiaan anda tidak bergantung pada orang lain, tetapi berada di
tangan anda sendiri (DR. ‘Aidh ‘Abdullah Al Qarni).
3. Ujian karakter yang sejati bukanlah berapa banyak yang kita ketahui
dalam melakukan berbagai hal, tapi bagaimanakah kita bersikap ketika
kita tidak tahu harus melakukan apa (John Holt).
4. Satu tindakan kecil lebih berarti daripada cita-cita yang terlalu muluk.
PERSEMBAHAN:
1. Ibu dan Bapak tercinta yang selalu menyayangi, mencintai dan
sabar menghadapiku, doa kalian selalu menyertai setiap
langkahku.
2. Mas Edi, Mbak Lilik, dan Dek Ifa yang selalu memberiku
semangat dan selalu menghiburku dalam suka dan duka.
3. Sahabat-sahabatku yang selalu membantuku dan memberiku
semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Teman-teman Pend. Mat’03 atas persahabatan dan
kebersamaannya selama ini.
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan
karunia-Nya, serta kemudahan dan kelapangan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think-Pair-Share TERHADAP HASIL
BELAJAR PADA POKOK BAHASAN SEGI EMPAT PADA SISWA KELAS
VII SEMESTER 2”
Penulis sampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M. Si, Rektor Universitas Negeri
Semarang.
2. Drs. Kasmadi Imam S., M. S, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
3. Drs. Supriyono, M. Si, Ketua Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
4. Dr. St. Budi Waluyo, M. Si, Dosen pembimbing utama yang telah
memberikan bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan
skripsi.
5. Isnarto, S. Pd, M. Si, Dosen pembimbing pendamping yang telah memberikan
bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi.
6. Arief Basuki, S. Pd, M. M, Kepala SMP N 11 Semarang yang telah
memberikan ijin penelitian.
vi
7. Tri Kartinawati, S. Pd., Guru matematika kelas VII SMP N 11 Semarang yang
telah membantu terlaksananya penelitian ini.
8. Siswa-siswi kelas VII SMP N 11 Semarang tahun ajaran 2006/ 2007 atas
ketersediaannya menjadi responden dalam pengambilan data penelitian ini.
9. Bapak dan Ibu guru SMP N 11 Semarang atas segala bantuan yang diberikan.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa skripsi ini belum
sempurna. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi
pembaca yang budiman.
Semarang, 2007
Penulis
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
ABSTRAK ....................................................................................................... ii
PENGESAHAN ............................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI.................................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... x
DAFTAR TABEL............................................................................................ xvi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 6
E. Penegasan Istilah............................................................................ 7
F. Sistematika Penulisan Skripsi ........................................................ 9
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ........................................... 11
A. Landasan Teori............................................................................... 11
1. Belajar dan Pembelajaran Matematika..................................... 11
2. Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share ..................... 18
viii
3. Metode Ekspositori .................................................................. 23
4. Segi empat................................................................................ 24
B. Kerangka Berpikir.......................................................................... 28
C. Hipotesis......................................................................................... 30
BAB III METODE PENELITIAN............................................................... 32
A. Populasi dan Sampel Penelitian ..................................................... 32
B. Variabel Penelitian ......................................................................... 33
C. Desain Penelitian............................................................................ 33
D. Metode Pengumpulan Data ............................................................ 34
E. Metode Penyusunan Instrumen ..................................................... 35
F. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen ................................................ 36
G. Analisis Data .................................................................................. 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 57
A. Hasil Penelitian .............................................................................. 57
B. Pembahasan.................................................................................... 70
BAB V PENUTUP...................................................................................... 76
A. Simpulan ......................................................................................... 76
B. Saran ................................................................................................ 76
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 78
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Daftar Nama Kelas Uji Coba................................................. 80
Lampiran 2. Daftar Nama Kelompok Eksperimen .................................... 81
Lampiran 3. Daftar Nama Kelompok Kontrol ........................................... 82
Lampiran 4. Daftar Nilai Ujian Tengah Semester Kelompok
Eksperimen............................................................................. 83
Lampiran 5. Daftar Nilai Ujian Tengah Semester Kelompok Kontrol ...... 84
Lampiran 6. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa .................................... 85
Lampiran 7. Kisi-kisi Ujicoba Instrumen................................................... 86
Lampiran 8. Analisis Soal Objektif dan Isian Singkat............................... 88
Lampiran 9. Contoh Perhitungan Validitas Soal Objektif dan Isian
Singkat ................................................................................. 90
Lampiran 10. Contoh Perhitungan Daya Pembeda Soal Objektif dan Isian
Singkat .................................................................................. 91
Lampiran 11. Contoh Perhitungan Taraf Kesukaran Soal Objektif dan Isian
Singkat .................................................................................. 92
Lampiran 12. Contoh Perhitungan Reliabilitas Soal Objektif dan Isian
Singkat .................................................................................. 93
Lampiran 13. Analisis Soal Uraian .............................................................. 94
Lampiran 14. Contoh Perhitungan Validitas Soal Uraian............................ 95
Lampiran 15. Contoh Perhitungan Daya Beda Soal Uraian ........................ 96
Lampiran 16. Contoh Perhitungan Taraf Kesukaran Soal Uraian ............... 97
x
Lampiran 17. Contoh Perhitungan Reliabilitas Soal Uraian........................ 98
Lampiran 18. Instrumen Soal yang Dipakai dalam Penelitian..................... 99
Lampiran 19. Rencana Pembelajaran I ........................................................ 100
Lampiran 20. Lembar Kerja Siswa pada Pembelajaran I............................. 103
Lampiran 21. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran I.. .... 107
Lampiran 22. Rencana Pembelajaran II ....................................................... 108
Lampiran 23. Lembar Kerja Siswa pada Pembelaaran II ............................ 111
Lampiran 24. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran II ..... 116
Lampiran 25. Rencana Pembelajaran III...................................................... 117
Lampiran 26. Lembar Kerja Siswa pada Pembelajaran III .......................... 120
Lampiran 27. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran III.... 124
Lampiran 28. Grafik Perkembangan Aktivitas Siswa.................................. 125
Lampiran 29. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemahaman Konsep
Kelompok Eksperimen.......................................................... 126
Lampiran 30. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Penalaran
dan Komunikasi Kelompok Eksperimen .............................. 127
Lampiran 31. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemecahan Masalah
Kelompok Eksperimen.......................................................... 128
Lampiran 32. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemahaman Konsep
Kelompok Kontrol ................................................................ 129
Lampiran 33. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Penalaran
dan Komunikasi Kelompok Kontrol ..................................... 130
Lampiran 34. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemecahan Masalah
xi
Kelompok Kontrol ................................................................ 131
Lampiran 35. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Pemahaman
Konsep Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol. 132
Lampiran 36. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Penalaran
dan Komunikasi Konsep Kelompok Eksperimen dengan
Kelompok Kontrol ................................................................. 133
Lampiran 37. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Pemecahan
Masalah Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol 134
Lampiran 38. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Pemahaman Konsep
Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol.............. 135
Lampiran 39. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Penalaran dan
Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan Kelompok
Kontrol .................................................................................. 136
Lampiran 40. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Pemecahan
Masalah Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol 137
Lampiran 41. Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman Konsep Matematika
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ................... 138
Lampiran 42. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman
Konsep Kelompok Eksperimen ............................................ 139
Lampiran 43. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman
Konsep Kelompok Kontrol ................................................... 140
Lampiran 44. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek
Pemahaman Konsep Antara Kelompok Eksperimen dan
xii
Kelompok Kontrol ................................................................ 141
Lampiran 45. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek
Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen dengan
Kelompok Kontrol ................................................................ 142
Lampiran 46. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek Pemahaman
Konsep Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol. 143
Lampiran 47. Uji Ketuntasan Belajar Aspek Pemahaman Konsep Kelompok
Eksperimen............................................................................ 144
Lampiran 48. Uji Ketuntasan Belajar Aspek Pemahaman Konsep Kelompok
Kontrol .................................................................................. 145
Lampiran 49. Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi Matematika
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol.................... 146
Lampiran 50. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan
Komunikasi Kelompok Eksperimen ..................................... 147
Lampiran 51. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan
Komunikasi Kelompok Kontrol............................................ 148
Lampiran 52. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek
Penalaran dan Komunikasi Antara Kelompok Eksperimen
dan Kelompok Kontrol.......................................................... 149
Lampiran 53. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek
Penalaran dan Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan
Kelompok Kontrol ................................................................ 150
Lampiran 54. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek Penalaran
xiii
dan Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan Kelompok
Kontrol .................................................................................. 151
Lampiran 55. Uji ketuntasan Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi
Kelompok Eksperimen.......................................................... 152
Lampiran 56. Uji ketuntasan Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi
Kelompok Kontrol ................................................................ 153
Lampiran 57. Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan Masalah Matematika
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol.................... 154
Lampiran 58. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan
Masalah Kelompok Eksperimen ........................................... 155
Lampiran 59. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan
Masalah Kelompok Kontrol.................................................. 156
Lampiran 60. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek
Penalaran dan Komunikasi Antara Kelompok Eksperimen
dan Kelompok Kontrol.......................................................... 157
Lampiran 61. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek
Pemecahan Masalah Kelompok Eksperimen dengan
Kelompok Kontrol ................................................................ 158
Lampiran 62. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Awal Aspek
Pemecahan Masalah Kelompok Eksperimen dengan
Kelompok Kontrol ............................................................... 159
Lampiran 63. Uji ketuntasan Belajar Aspek Pemecahan Masalah
Kelompok Eksperimen.......................................................... 160
xiv
Lampiran 64. Uji ketuntasan Belajar Aspek Pemecahan Masalah
Kelompok Kontrol ................................................................ 161
Lampiran 65. Contoh Rencana Pembelajaran Kelompok Kontrol .............. 162
Lampiran 66. Surat Usulan Pembimbing ..................................................... 164
Lampiran 67. Surat Ijin Penelitian ............................................................... 165
Lampiran 68. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ..................... 166
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir........................................................... 30
xvii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Daftar Kritik Uji T ......................................................................... 167
Tabel 2. Tabel Nilai Chi Kuadrat................................................................. 168
Tabel 3. Daftar Kritik Z dari 0 ke Z ............................................................. 169
Tabel 4. Daftar Kritik Uji F.......................................................................... 170
Tabel 5. Daftar Kritik r Product Moment..................................................... 171
xvi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pesatnya perkembangan zaman dan adanya era globalisasi menuntut
setiap manusia untuk siap menghadapi persaingan dengan manusia lain. Untuk
dapat bersaing dan dapat bertahan maka harus memiliki kualitas sumber daya
manusia yang baik. Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesadaran tentang pentingnya
pendidikan telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan
masyarakat terhadap setiap perkembangan dunia pendidikan.
Matematika adalah segala sumber dari ilmu yang lain. Dengan kata
lain, banyak ilmu-ilmu lain yang penemuan dan perkembangannya bergantung
dari matematika. Matematika adalah ilmu dasar yang berkembang pesat baik
materi maupun kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Matematika adalah
suatu alat untuk mengembangkan kemampuan berpikir, karena itu matematika
sangat diperlukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga matematika perlu
diberikan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari SD hingga perguruan
tinggi, bahkan TK. Matematika hakekatnya memiliki objek kajian yang
abstrak dan sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. Mata pelajaran
matematika berfungsi mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan
menggunakan bilangan dan menggunakan ketajaman penalaran untuk
2
menyelesaikan persoalan sehari-hari. Sasaran dari pembelajaran matematika
adalah siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antara topik dalam
matematika serta manfaat bagi bidang lain.
Dalam Kurikilum tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), matematika
merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional yang
sangat menentukan kelulusan siswa. Oleh karena itu, banyak siswa yang
secara sadar mengakui pentingnya matematika, bahkan para orang tua sering
memaksa anak mereka untuk mengikuti pelajaran tambahan. Ini membuat
anak merasa terpaksa mempelajari matematika, sehingga membenci
matematika. Akibatnya ia akan kesulitan memahami dan menguasai
matematika. Disinilah peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan.
Hal ini dikarenakan, guru berhubungan langsung dengan para siswa. Guru
harus bisa merencanakan suatu pembelajaran matematika yang menarik,
efektif, dan bermakna. Ketika merencanakan pembelajaran, penting untuk
merancang bagaimana siswa akan berpartisipasi dalam belajar. Dalam
kenyataan di lapangan banyak siswa yang masih takut untuk mengekspresikan
diri mereka.
Sebagian guru masih menggunakan paradigma lama dalam mengajar,
yakni mengajar dengan metode ceramah dan mengharap siswa duduk, dengar,
catat, dan hafal, dan menganggap paradigma lama sebagai satu-satunya
alternatif. Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah, kita tidak
bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Teori, penelitian, dan
pelaksanaan kegiatan belajar membuktikan bahwa guru sudah harus
3
mengubah paradigma pengajaran. Strategi yang paling banyak digunakan
untuk mengaktifkan siswa adalah melibatkan siswa dalam diskusi dengan
seluruh kelas. Tetapi, strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru sudah
berusaha dan mendorong siswa untuk berpartisipasi. Kebanyakan siswa
terpaku menjadi penonton sementara arena kelas dikuasai oleh segelintir
siswa.
Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa
sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain.
Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan
mereka mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain.
Berdasarkan hasil penelitian Shofwani (2005), aktivitas siswa selama
pembelajaran dengan metode ekspositori belum memuaskan karena
pembelajaran berlangsung satu arah. Guru tidak mengikutsertakan siswa
dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa takut untuk bertanya atau
masih bingung dengan apa yang akan ditanyakan. Selain itu siswa kurang
berlatih dalam mengembangkan ide-idenya dan kurang berani
mengungkapkan pendapatnya, serta belum mampu berpikir kritis dan
cenderung pasif.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk
berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Model
pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa, memanfaatkan seluruh
energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Model pembelajaran
kooperatif membantu siswa belajar setiap mata pelajaran, mulai dari
4
ketrampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Ironisnya,
model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan
walaupun orang indonesia sangat membanggakan sifat gotong-royong dalam
kehidupan bermasyarakat.
Model Pembelajaran Kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu
tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri
siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model Pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share membantu siswa mengintepretasikan ide
mereka bersama dan memperbaiki pemahaman. Model pembelajaran
kooperatis tipe Think-Pair-Share cocok digunakan di SMP karena kondisi
siswa SMP yang masih dalam masa remaja membuat mereka menyukai hal
baru bagi mereka dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan
permasalahan yang mereka hadapi.
Dengan mempertimbangkan permasalahan-permasalahan yang telah
diuraikan diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan
judul:”Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-
Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi empat Pada Siswa
Kelas VII Semester 2”.
5
B. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Adakah perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang
diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori?
2. Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga
aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori?
3. Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar?
4. Bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif
tipe Think-Pair-Share?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka
tujuan penelitian ini adalah:
1. untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil
belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Think-Pair-Share dengan siswa yang diajar dengan metode
ekspositori.
6
2. untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-
rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan
metode ekspositori.
3. untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan
belajar.
4. untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a) Siswa dapat berperan aktif dan berpartisipasi dalam proses belajar
sehingga dapat mengekspresikan ide mereka.
b) Siswa dapat meningkatkan hasil belajar sehingga dapat belajar tuntas.
2. Bagi Guru
Guru dapat memperoleh suatu variasi strategi pembelajaran yang lebih
efektif dalam pembelajaran matematika.
3. Bagi Sekolah
Sekolah secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa
serta memperoleh masukan untuk proses pembelajaran berikutnya.
7
4. Bagi peneliti
Peneliti memperoleh jawaban dari permasalahan yang ada dan pengalaman
langsung menerapkan pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share
pada pembelajaran matematika yang kelak dapat diterapkan saat telah
terjun di lapangan.
E. Penegasan Istilah
Suatu istilah dapat ditafsirkan dengan makna yang berbeda-beda.
Penegasan istilah dalam skripsi ini akan lebih memberikan jawaban yang jelas
tentang permasalahan yang akan dibahas sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman dalam penafsiran istilah.
1. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti dapat membawa
hasil; berhasil guna (usaha tindakan)(KBBI,1993:219). Dalam konteks
penelitian ini, efektivitas dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai
berikut.
a) Hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik daripada
siswa yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori.
b) Hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
mencapai ketuntasan belajar lebih besar atau sama dengan 65 dan
secara klasikal sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di
kelas tersebut.
8
2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share
Model Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem
kerja/ belajar kelompok terstruktur. Lima unsur pokok yang termasuk
dalam struktur ini adalah saling ketergantungan positif, tanggung jawab
individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses
kelompok. Think-Pair-Share merupakan pembelajaran kooperatif dengan
menggunakan pendekatan struktural yang dirancang untuk mempengaruhi
pola interaksi siswa. Pada Think-Pair-Share, guru mengajukan pertanyaan,
siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka
berbagi jawaban dengan pasangannya atau anggota tim lainnya.
3. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh
dari kegiatan belajar yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share dan metode ekspositori pada sub pokok bahasan
jajargenjang, belah ketupat, dan layang-layang yang ditunjukkan dengan
nilai akhir dari tes evaluasi. Hasil belajar siswa pada penelitian ini meliputi
tiga aspek, yaitu: pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta
pemecahan masalah.
4. Siswa Kelas VII Semester 2
Siswa Kelas VII Semester 2 dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII
semester 2 SMP N 11 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007 yang
merupakan objek dari penelitian ini.
9
5. Segi empat
Segi empat merupakan salah satu materi yang diajarkan pada mata
pelajaran matematika sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP). Pada penelitian ini hanya mengambil sub pokok bahasan
Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang.
Dengan batasan istilah tersebut diatas, judul skripsi ini dimaksudkan
sebagai suatu penelitian atau penyelidikan mengenai keefektifan model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share untuk mengajarkan sub pokok
bahasan Jajargenjang, Belah Ketupat, dan Layang-layang pada siswa kelas VII
semester 2 SMP N 11 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007.
F. Sistematika Skripsi
Sistematika penulisan tentang keseluruhan skripsi ini terdiri dari
bagian awal skripsi, bagian inti skripsi, dan bagian akhir skripsi.
1. Bagian awal
Bagian awal skripsi meliputi: halaman judul, abstrak, halaman
pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar
lampiran, daftar tabel, dan tabel gambar.
2. Bagian Inti
Bagian inti skripsi terdiri dari lima bab, yaitu:
BAB I Pendahuluan, menemukakan tentang latar belakan,
permasalahan, tujuan, manfaat, penegasan istilah, dan
sistematika penulisan skripsi.
10
BAB II Landasan Teori dan Hipotesis, membahas teori yang melandasi
permasalahan skripsi serta penjelasan yang merupakan
landasan teoritis yang diterapkan dalam skripsi yang terkait
dengan pelaksanaan penelitian dan hipotesis.
BAB III Metode Penelitian, meliputi: metode penentuan objek
penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data,
metode penyusunan instrumen, dan metode analisis data.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, berisi semua hasil penelitian
yang dilakukan dan pembahasannya.
BAB V Penutup, mengemukakan simpulan hasil penelitian dan saran-
saran yang diberikan peneliti berdasarkan simpulan.
3. Bagian Akhir
Bagian akhir skripsi, meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
11
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Belajar dan Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Belajar
Pada umumnya para ahli, baik ahli pendidikan maupun ahli
psikologi mempunyai pendapat yang sama bahwa hasil aktivitas
belajar adalah perubahan, dimana perubahan tersebut terjadi akibat
pengalaman. Banyak ilmuwan yang mengartikan belajar menurut sudut
pandang mereka sendiri. Beberapa pendapat ilmuwan tentang definisi
belajar sebagai suatu perubahan adalah sebagai berikut.
(1) Slameto (2003: 2) menyatakan bahwa,” Belajar ialah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
(2) Hudojo (2003: 83) mengartikan bahwa,” Belajar merupakan suatu
proses aktif dalam memperoleh pengalaman/pengetahuan baru
sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku”.
(3) Winkel (dalam Darsono, 2000: 4) mengatakan bahwa,” Belajar
adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan
dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan, dan nilai-sikap”.
12
Dari pendapat-pendapat para ahli tentang belajar yang telah
dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar karena pengalaman.
Bahwa perubahan itu terlihat atau tidak, bertahan lama atau tidak,
kearah positif atau negatif.
Adapun beberapa prinsip belajar yang menunjang dan
memudahkan siswa belajar adalah:
(1) Setiap orang mempunyai kemampuan bawaan dalam belajar.
(2) Belajar akan bermanfaat bila siswa memahami manfaatnya.
(3) Belajar akan sia-sia kalau bertentangan dengan atau harus
mengubah kebulatan (integrasi) pribadi.
(4) Proses belajar yang mengganggu integrasi dapat dihilangkan, atau
dikurangi dengan menghilangkan faktor-faktor luar yang
mengganggu integrasi.
(5) Belajar akan berarti jika dilakukan lewat pengalaman sendiri dan
diuji coba sendiri.
(6) Belajar akan berhasil bila siswa berpartisipasi aktif dan disiplin
dalam setiap kegiatan belajar.
(7) Belajar dengan prakarsa sendiri penuh kesadaran dan kemampuan
dapat berlangsung lama dan tuntas.
(8) Kreativitas dan kepercayaan dari orang lain.
13
b. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Zulaiha
(2006: 19), hasil belajar yang dinilai dalam mata pelajaran matematika
ada tiga aspek. Ketiga aspek itu adalah pemhaman konsep, penalaran
dan komunikasi, serta pemecahan masalah. Ketiga aspek tersebut bisa
dinilai dengan menggunakan penilaian tertulis, penilaian kinerja,
penilaian produk, penilaian proyek, maupun penilaian portofolio.
Adapun kriteria dari ketiga aspek tersebut adalah:
(1) Pemahaman Konsep
(a) Menyatakan ulang sebuah konsep.
(b) Mengklasifikasian objek-objek menurut sifat-sifat tertentu.
(c) Memberi contoh dan non contoh dari konsep.
(d) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis.
(e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
(f) Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau
operasi tertentu.
(g) Mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah.
(2) Penalaran dan Komunikasi
(a) Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis,
gambar, dan diagram.
(b) Mengajukan dugaan.
14
(c) Melakukan manipulasi matematika.
(d) Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau
bukti terhadap kebenaran solusi.
(e) Menarik kesimpulan dari pernyataan.
(f) Memeriksa kesahihan dari argumen.
(g) Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk
membuat generalisasi.
(3) Pemecahan Masalah
(a) Menunjukkan pemahaman masalah
(b) Mengorganisasikan data dan memilih informasi yang relevan
dalam pemecahan masalah.
(c) Menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk.
(d) Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara
tepat.
(e) Mengembangkan strategi pemecahan masalah.
(f) Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu
masalah yang tidak rutin
c. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang
beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta
antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 2).
15
Banyak para ahli yang mendefinisikan apa itu matematika,
tetapi tidak satupun perumusan yang dapat diterima umum, atau
sekurang-kurangnya dapat diterima dari berbagai sudut pandang. Dari
definisi-definisi yang dirumuskan para ahli, kita dapat menerima
semua definisi tersebut, karena memang matematika dapat ditinjau dari
segala sudut, dan matematika itu sendiri bisa memasuki seluruh segi
kehidupan manusia, dari yang paling sederhana sampai kepada yang
paling kompleks.
Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk
memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang
dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi).
Namun, semua itu harus disesuaikan dengan perkembangan
kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu
kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.
Menurut Suhito (2003: 7), belajar matematika tidak sekedar
learning to know (belajar untuk mengetahui), tetapi harus ditingkatkan
menjadi learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be
(belajar untuk menjiwai), hingga learning to live together (belajar
untuk hidup bersama). Dengan pola belajar yang seperti itu akan
terjadi komunikasi antar sesama siswa, sehingga diharapkan suasana
kelas menjadi hidup karena perasaan siswa menjadi senang.
Prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang berpaham
konstruktivis diantaranya sebagai berikut.
16
(1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal
maupun sosial.
(2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali
hanya dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk bernalar.
(3) Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus sehingga selalu terjadi
perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap,
serta sesuai dengan konsep ilmiah.
(4) Guru sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar
proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Beberapa ciri pembelajaran matematika secara konstruktivis,
adalah sebagai berikut.
(1) Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya.
(2) Siswa belajar materi matematika secara bermakna.
(3) Siswa belajar bagaimana belajar itu.
(4) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya
sehingga menyatu dengan skemata yang telah dimiliki siswa.
(5) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan.
(6) Berorientasi pada pemecahan masalah.
Dalam GBPP Matematika dijelaskan bahwa tujuan
pembelajaran matematika di SMP adalah:
(1) siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui
kegiatan matematika,
17
(2) siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai berkat bekal
untuk melanjutkan ke pendidikan menengah,
(3) siswa memiliki ketrampilan matematika sebagai peningkatan dan
perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
(4) Siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap
logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan
matematika.
(Suherman, dkk, 2003:58)
Dalam pembelajaran matematika di sekolah perlu
memperhatikan beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran
matematika sekolah yaitu, pembelajaran matematika adalah berjenjang
(bertahap), pembelajaran matematika mengikuti metode spiral,
pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif, dan
pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah
pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik (lintas topik bahkan
lintas bidang studi jika memungkinkan) tentang materi yang telah
disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi
tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun
diharapkan pula muncul ‘efek iringan’ dari pembelajaran matematika
tersebut. Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah:
18
(1) Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan
topik matematika yang lainnya.
(2) Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi
bidang lainnya.
(3) Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia.
(4) Lebih mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis.
(5) Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah
masalah.
(6) Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
(Suherman, 2003: 299)
2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share
Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu
siswa meningkatkan sikap positif dalam matematika. Para siswa secara
individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk
menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi
atau bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika (math
anxiety) yang banyak dialami para siswa (Suherman, 2003).
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa unsur yang harus
diperhatikan agar tujuan pembelajaran kooperatif dapat dicapai, yaitu:
a. siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka
“sehidup sepenanggungan bersama”,
19
b. siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya,
seperti milik mereka sendiri,
c. siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya
memiliki tujuan yang sama,
d. siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara
anggota kelompoknya,
e. siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok,
f. siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan
untuk belajar bersama selama proses belajarnya,
g. siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar
akademik, penerimaan terhadap keberagaman, dan pengembangan sosial.
Berdasarkan hasil penelitian Slavin (dalam Muslimin, 2003: 16),
menunjukkan bahwa teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul
dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-
pengalaman belajar individual atau kompetitif. Dari hasil penelitian
Lundgren (dalam Muslimin, 2003: 17), menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif memiliki dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah
hasil belajarnya.
20
Menurut Sutawijaya (dalam Suhito, 2003: 16), pembelajaran
kooperatif adalah salah satu alternatif yang perlu digalakkan dalam
konstruktivisme, karena pertimbangan sebagai berikut.
a. siswa yang sedang menyelesaikan masalah bersama-sama dengan
teman sekelas, akan dapat menumbuhkan refleksi yang membutuhkan
kesadaran tentang apa yang sedang dipikirkan dan dikerjakan,
b. menjelaskan kepada temannya biasanya mengarah kepada suatu
pemahaman yang lebih jelas dan sering menemukan
ketidakkonsistenan pada pikirannya sendiri.
c. ketika suatu kelompok kecil menerangkan solusinya ke seluruh kelas
(tidak peduli apakah solusi itu cocok atau tidak) kelompok
memperoleh kesempatan berharga untuk mempelajari hasil yang
diperoleh.
d. mengetahui bahwa ada teman sekelompok belum bisa menjawab, akan
meningkatkan gairah setiap anggota kelompok untuk mencoba
menemukan jawabannya.
e. keberhasilan suatu kelompok menemukan suatu jawaban, akan
menumbuhkan motivasi untuk menghadapi masalah baru.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang sesuai untuk
diterapkan pada pelajaran matematika, dimana kegiatan belajar
matematika lebih diarahkan pada kegiatan yang mendorong siswa aktif
menemukan sendiri konsep ketrampilan proses.
21
Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas
Maryland pada tahun 1985. Think-Pair-Share memberikan kepada para
siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama
lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian
pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya
guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara serius mengenai
apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca.
Think-Pair-Share memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri
serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari pembelajaran
ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang
memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk
seluruh kelas, tapi pembelajaran ini memberi kesempatan sedikitnya
delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan
partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2002: 56).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
adalah sebagai berikut.
a. Langkah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau
isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk
memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.
b. Langkah 2 – Berpasangan (Pairing): Guru meminta para siswa untuk
berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan.
Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika
22
suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika
suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak
lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
c. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada langkah akhir ini guru meminta
pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan
kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.
Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari
pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo
dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk
melapor.
Kagan ( dalam Maesuri, 2002) menyatakan manfaat Think-Pair-
Share sebagai berikut.
a. para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan
tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka
terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang
mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam
pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring
penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi
lebih baik.
b. para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk
berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat
berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa,
dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.
23
3. Metode Ekspositori
Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari
seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara di awal
pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya-jawab
(Suyitno, 2004:4). Metode ini paling banyak digunakan oleh guru dalam
kegiatan pembelajaran matematika di kelas karena dianggap paling
efektif.
Kelebihan dari metode ekspositori adalah:
a. Dapat menampung kelas besar, setiap siswa mempunyai kesempatan
aktif yang sama.
b. Bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru.
c. Guru dapat menentukan terhadap hal-hal yang dianggap penting.
d. Guru dapat memberikan penjelasan-penjelasan secara individual
maupun klasikal.
Kekurangan dari metode ekspositori adalah:
a. Pada metode ini tidak menekankan penonjolan aktivitas fisik seperti
aktivitas mental siswa.
b. Kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan
pelajaran).
c. Pengetahuan yang didapat dengan metode ekspositori cepat hilang.
d. Kepadatan konsep dan aturan-aturan yang diberikan dapat berakibat
siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan.
(Suharyono, 1996).
24
4. Segi empat
Materi segi empat pada Sekolah Menengah Pertama pada kelas VII
semester 2 Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). Standar
kompetensi yang harus dicapai pada materi segiempat adalah memahami
konsep segiempat serta menentukan ukurannya. Pada materi segiempat
terdapat beberapa sub pokok bahasan, yaitu: persegi panjang, persegi,
jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium. Pada penelitian
ini materi yang diambil adalah jajargenjang, belah ketupat, dan layang-
layang.
Materi segi empat merupakan salah satu materi yang dipelajari
dalam pelajaran matematika di semua jenjang pendidikan. Materi ini
sangat penting, karena merupakan dasar dari materi geometri pada
matematika dan dapat digunakan siswa untuk memecahkan masalah yang
berhubungan pada kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini dipilih materi
segi empat dengan sub pokok bahasan jajargenjang, belah ketupat, dan
layang-layang, karena dalam pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-
Share, siswa belajar untuk menemukan sendiri konsep segi empat,
sehingga dengan siswa mengalami sendiri proses menemukan konsep
tersebut diharapkan siswa dapat lebih memahami materi yang berdampak
pada meningkatnya hasil belajar.
a. Jajargenjang
Jajargenjang adalah segiempat yang diperoleh dengan
menggabungkan suatu segitiga dan bayangannya, jika segitiga itu
25
diputar setengah putaran dengan pusat putaran adalah titik tengah salah
satu sisinya.
Adapun sifat-sifat jajargenjang adalah sebagai berikut.
(1) Pada setiap jajargenjang, sisi yang berhadapan sama panjang dan
sejajar.
(2) Pada setiap jajargenjang, sudut-sudut yang berhadapan sama besar.
(3) Pada setiap jajargenjang, jumlah dua sudut yang berdekatan
adalah180° .
(4) Diagonal-diagonal suatu jajargenjang saling membagi dua sama
panjang.
(Junaidi dan Siswono, 2004: 261 – 262)
D C
A B
a
Luas daerah jajargenjang ABCD = 2 × Luas daerah ΔABD
1
= 2× × a×t
2
= a×t
Jadi, luas daerah jajargenjang = a × t .
b. Belah Ketupat
Belah ketupat dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki dan
bayangannya setelah dicerminkan terhadap alasnya (Cholik dan
Sugijono, 2005: 291).
26
Adapun sifat-sifat belah ketupat adalah sebagai berikut.
(1) Semua sisi setiap belah ketupat sama panjang.
(2) Kedua diagonal setiap belah ketupat merupakan sumbu simetri.
(3) Pada setiap belah ketupat, sudut-sudut yang berhadapan sama besar
dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya.
(4) Kedua diagonal setiap belah ketupat saling membagi dua sama
panjang dan saling berpotongan tegak lurus.
(Cholik dan Sugijono, 2005: 292 – 293).
Karena belah ketupat merupakan jajargenjang, maka luas belah ketupat
adalah sebagai berikut.
Luas daerah belah ketupat = a × t
Rumus lain dari luas daerah belah ketupat adalah
A
B D
C
Luas daerah belah ketupat ABCD = Luas ΔABD + Luas ΔBDC
1 1
= × BD × AO + × BD × OC
2 2
1
= × BD × ( AO + OC )
2
27
1
= × BD × AC
2
Karena BD dan AC merupakan diagonal, maka:
1
Luas daerah belah ketupat = = x diagonal x diagonal (lainnya)
2
(Cholik dan Sugijono, 2005: 294).
c. Layang-layang
Layang-layang dibentuk dari gabungan dua segitiga sama kaki
yang panjang alasnya sama dan berimpit.
Adapun sifat layang-layang adalah sebagai berikut.
(1) Pada setiap layang-layang, terdapat sepasang sudut berhadapan
yang sama besar.
(2) Pada setiap layang-layang, salah satu diagonalnya merupakan
sumbu simetri.
(3) Pada setiap layang-layang, salah satu diagonalnya membagi dua
sama panjang diagonal lain dan tegak lurus dengan diagonal itu.
A
B D
C
Luas daerah layang-layang ABCD = Luas ΔABD + Luas ΔBDC
1 1
= × BD× AO + × BD× OC
2 2
28
1
= × BD × ( AO + OC )
2
1
= × BD × AC
2
Karena BD dan AC merupakan diagonal, maka:
1
Luas daerah layang-layang = x diagonal x diagonal (lainnya)
2
B. Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran matematika diperlukan peran aktif siswa.
Berdasarkan teori yang ada, maka salah satu model pembelajaran yang dapat
meningkatkan aktivitas, kemampuan, dan hasil belajar siswa adalah model
pembelajaran kooperatif, dalam hal ini adalah pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share.
Menurut Lundgren (Muslimin, 2000: 18), manfaat pembelajaran
kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah, antara lain
pemahaman yang lebih mendalam, motivasi lebih besar, hasil belajar lebih
tinggi, retensi atau penyimpanan materi lebih lama.
Pembelajaran kooperatif akan membantu siswa dalam membangun
sikap positif terhadap pelajaran matematika. Para siswa secara individu
membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan
masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa
cemas terhadap matematika yang banyak dialami siswa.
Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa
29
waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu
sama lain. Model pembelajaran tipe ini memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengemukakan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling
tepat, serta mendorong siswa untuk meningkatkan kerjasama antar siswa.
Dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share kemampuan siswa
baik secara individu maupun kelompok dapat berkembang, sedangkan dalam
pembelajaran dengan metode ekspositori menekankan pembelajaran secara
individu dengan guru sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Dengan demikian,
penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share diharapkan lebih
efektif dari pembelajaran dengan metode ekspositori.
Berdasarkan penjelasan diatas, diharapkan dengan diterapkannya
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat mencapai atau
mewujudkan kompetensi yang diharapkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada bagan dalam gambar 1.
30
Pembelajaran matematika dengan materi pokok segi empat
Think-Pair-Share Metode ekspositori
Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri Tidak menekankan aktivitas fisik
serta bekerja sama dengan orang lain. Kegiatan terpusat pada guru
Optimalisasi partisipasi siswa. Pengetahuan yang didapat cepat hilang
Pemahaman yang lebih jelas Kepadatan konsep dapat berakibat siswa
Keberhasilan kelompok dalam menemukan tidak menguasai bahan pelajaran.
jawaban dapat menumbuhkan motivasi untuk
menghadapi masalah baru.
Tes Hasil Belajar Tes Hasil Belajar
(Pemahaman Konsep, Penalaran dan (Pemahaman Konsep, Penalaran dan
Komunikasi, Pemecahan Masalah) Komunikasi, Pemecahan Masalah)
Ada Perbedaan Hasil Belajar
(Pemahaman Konsep, Penalaran dan Komunikasi, Pemecahan Masalah)
Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih efektif dari pada
pembelajaran dengan metode ekspositori
Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang
diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori.
31
2. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga aspek hasil
belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.
3. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar.
4. Aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-
Pair-Share mengalami peningkatan.
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 11 Semarang
tahun pelajaran 2006/2007, yaitu kelas VIIA, VIIB, VIIC, VIID, VIIE, dan
VIIF.
2. Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode
pengambilan secara cluster random sampling. Hal ini dikarenakan
populasi dianggap homogen karena memperoleh pelajaran yang sama,
menggunakan kurikulum yang sama, diajar guru yang sama, dan tidak ada
kelas unggulan. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIA
sebagai kelompok kontrol dan siswa kelas VIID sebagai kelompok
eksperimen. Banyak siswa pada kelas VIIA adalah 42 orang dan Banyak
siswa pada kelas VIID adalah 41 orang.
33
B. Variabel penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share dan pembelajaran dengan metode
ekspositori.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam sub
pokok bahasan jajargenjang, belah ketupat, dan layang-layang pada siswa
kelas VII SMP N 11 Semarang.
C. Desain penelitian
Penelitian ini diawali dengan menentukan populasi dan memilih
sampel dari populasi yang ada dengan teknik cluster random sampling.
Sampel diambil dua kelas, yaitu siswa kelas VIIA sebagai kelompok kontrol
dan siswa kelas VIID sebagai kelompok eksperimen. Untuk kelas uji coba
dipilih satu kelas selain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada
kelompok eksperimen diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-
Pair-Share, sedang pada kelompok kontrol diterapkan pembelajaran dengan
metode ekspositori.
Pada akhir pembelajaran dilakukan evaluasi pada kedua kelompok
untuk mengetahui hasil belajar siswa. Data-data yang diperoleh kemudian
34
dianalisis sesuai dengan statistik yang ada. Adapun pola rancangan yang
digunakan adalah sebagai berikut.
Kelompok Perlakuan Tes
Kelompok Eksperimen X Tes
Kelompok Kontrol Y Tes
Keterangan:
X: Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
Y: Pembelajaran dengan metode ekspositori
D. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data nama-nama siswa yang
akan menjadi sampel dalam penelitian ini dan untuk memperoleh data nilai
ulangan tengah semester matematika.
2. Metode Tes
Metode ini digunakan untuk megevaluasi hasil belajar siswa setelah proses
pembelajaran. Evaluasi dilakukan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Sebelum tes diberikan pada saat evaluasi, terlebih
dahulu tes diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas dari tiap-
tiap butir tes.
35
3. Metode Observasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang memperlihatkan
aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share.
E. Metode penyusunan instrumen
Penyusunan instrumen dapat dilakukan dengan langkah-lagkah sebagai
berikut.
1. menentukan materi tes
2. menentukan bentuk tes
Bentuk tes yang diberikan ada tiga macam. Hal ini disesuaikan dengan
aspek yang dinilai dalam pelajaran matematika. Untuk aspek pemahaman
konsep, bentuk tes yang digunakan adalah pilihan ganda. Untuk aspek
penalaran dan komunikasi, bentuk tes yang digunakan adalah isian
singkat, sedangkan untuk aspek pemecahan menggunakan bentuk tes
berupa soal uraian.
3. menentukan waktu mengerjakan tes
4. membuat kisi-kisi soal
5. membuat perangkat tes, yaitu dengan menulis petunjuk/ pedoman
mengerjakan, menulis butir soal, membuat kunci jawaban, dan penentuan
skor
6. mengujicobakan instrumen
36
7. menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas, reliabilitas, daya beda, dan
tingkat kesukaran
8. memilih butir soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang telah
dilakukan.
F. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen
1. Soal Pilihan Ganda dan Isian Singkat
a. Validitas
Untuk menghitung validitas tiap butir soal digunakan rumus koefisien
korelasi biserial, yaitu:
M p − Mt p
γ pbi = , (Arikunto, 2002:79)
St q
dimana
γ pbi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang
dicari validitasnya.
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = proporsi siswa yang menjawab salah
Apabila didalam perhitungan didapat rhitung > rkritik, maka butir soal
tersebut valid.
37
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan dengan N = 40 dan
taraf signifikan 5%, diperoleh rkritik = 0,312, sehingga butir soal
dikatakan valid jika rhitung > rkritik = 0, 312. Dari hasil uji coba 20 soal,
yang termasuk kategori valid adalah butir soal nomor 1, 2, 3, 7, 9, 11,
13, 14, 16, 18, 19, 20.
Perhitungan analisis uji coba validitas dapat dilihat pada lampiran 8
dan lampiran 9.
b. Reliabilitas
Untuk menghitung reliabilitas soal digunakan rumus KR. 20, yaitu:
⎛ k ⎞⎛⎜ S − ∑ pq ⎞⎟
2
r11 = ⎜ ⎟ , (Arikunto, 2002: 100)
⎝ k − 1 ⎠⎜⎝ S2 ⎟
⎠
dimana
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
k = banyaknya item
S2 = standar deviasi dari tes
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = proporsi siswa yang menjawab salah
∑ p.q = jumlah hasil perkalian p dan q
Jika r11 > rtabel, maka tes tersebut reliabel. Dari perhitungan hasil uji
coba didapat r11 = 0,678. Dengan taraf signifikan 5% dan N = 40 dan k
= 20, diperoleh rtabel = 0,312. Karena r11 > rtabel, maka soal uji coba
tersebut reliabel.
38
Perhitungan analisis uji coba validitas dapat dilihat pada lampiran 8
dan lampiran 12.
c. Daya Beda
Teknik yang digunakan untuk menghitung daya beda adalah dengan
menghitung indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan adalah:
B A BB
D= − = PA − PB , (Arikunto, 2002: 213)
JA JB
dimana
D = indeks diskriminasi
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu
B
dengan benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu
B
dengan benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan
benar
PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu
dengan benar
Dengan kriteria:
0,00 ≤ D < 0,20 = daya beda jelek
0,20 ≤ D < 0,40 = daya beda cukup
0,40 ≤ D < 0,70 = daya beda baik
39
0,70 ≤ D < 1,00 = daya beda baik sekali
Dari hasil analisis terlihat bahwa dari 20 butir soal yang diuji cobakan,
yang termasuk dalam kategori:
1) Jelek = 4, 5, 6, 8, 10, 12, 17.
2) Cukup = 1, 3, 7, 9, 11, 13, 15, 16, 18.
3) Baik = 2, 14, 19, 20.
Perhitungan analisis daya beda butir soal dapat dilihat pada lampiran 8
dan lampiran 10.
d. Taraf Kesukaran
Rumus yang digunakan adalah:
B
P= , (Arikunto, 2002: 208)
JS
dimana
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Dari analisis hasil uji, yang termasuk dalam kategori:
1) Mudah adalah 4, 6, 8, 12.
2) Sedang adalah 1, 2, 3, 5, 7, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20.
3) Sukar adalah 17.
Perhitungan analisis taraf kesukaran dapat dilihat pada lampiran 8 dan
lampiran 11.
Dari hasil analisis tersebut terlihat bahwa 12 butir soal dari
20 butir soal yang diujicobakan layak untuk dipakai yaitu dengan
40
kriteria valid dan mempunyai daya pembeda yang tidak jelek, maka
soal tersebut dapat digunakan. Soal yang digunakan dalam penelitian
ini adalah soal nomor 1, 2, 3, 7, 9, 11, 13, 14, 16, 18, 19, dan 20.
2. Soal Uraian
a. Validitas
Untuk menghitung validitas tiap butir soal digunakan rumus
product moment, yaitu:
N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
rxy = , (Arikunto, 2002: 81)
{N ∑ X 2 2
}{
− (∑ X ) N ∑ Y − (∑ Y )
2 2
}
dengan
rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y , dua
variabel yang dikorelasikan.
N = banyaknya peserta tes
X = jumlah skor item
Y = jumlah skor total
Apabila didalam perhitungan didapat rhitung > rtabel, maka butir
soal tersebut valid. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan
dengan N = 40 dan taraf signifikan 5%, diperoleh rtabel = 0,312,
sehingga butir soal dikatakan valid jika rhitung > rtabel = 0,312.
Dari hasil uji coba 3 soal, yang termasuk kategori valid adalah
butir soal nomor 1, 2, dan 3.
Perhitungan analisis uji coba validitas soal dapat dilihat pada
lampiran 13 dan 14.
41
b. Reliabilitas
Karena tes yang dilakukan merupakan tes bentuk uraian maka
rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas soal adalah rumus
alpha, yaitu:
⎡ n ⎤ ⎡ ∑σ x ⎤
2
rxx = ⎢ ⎢1 − ⎥ , (Arikunto, 2002: 109)
⎣ n − 1⎥⎦ ⎣⎢ σ x2 ⎦⎥
dengan
rxx = reliabilitas yang dicari
∑σ 2
x = jumlah varians skor tiap-tiap item
σ x2 = varians total
rumus varians:
( X)
∑ X − ∑N
2
2
σ2 = ,
N
Nilai rxx yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan r
product moment pada tabel dengan ketentuan jika rxx > rtabel maka tes
tersebut reliabel.
Soal uji coba yang diberikan sebanyak 3 butir. Dari
perhitungan uji coba didapat rxx adalah 0, 782. Dengan α = 5 %, N =
40 dan k = 3. diperoleh rtabel = 0, 312. Karena rxx > rtabel, maka dapat
disimpulkan bahwa soal uji coba tersebut reliabel. Perhitungan analisis
uji coba reliabilitas soal dapat dilihat pada lampiran 13 dan 17.
42
c. Daya Beda
Teknik yang digunakan untuk menghitung daya pembeda bagi
tes bentuk uraian adalah dengan menghitung perbedaan dua buah rata-
rata (mean) yaitu antara rata-rata dari kelompok atas dengan rata-rata
dari kelompok bawah untuk tiap-tiap item. Rumus yang digunakan
adalah:
t=
(MH − ML ) , (Arifin, 1991: 141)
⎛ ∑ X12 + ∑ X 22 ⎞
⎜ ⎟
⎜ ni (ni - 1) ⎟
⎝ ⎠
dengan
t = daya pembeda
MH = rata- rata dari kelompok atas
ML = rata- rata dari kelompok bawah
∑X 2
1 = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas
∑X 2
2
= jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah
Ni = 27% x N , dengan N adalah jumlah peserta tes.
Df = (n1 - 1) + (n2 – 1), α = 5%
Dengan kriteria soal memiliki daya beda yang signifikan apabila t >
ttabel. Dari hasil uji coba diperoleh soal yang signifikan adalah soal
nomor 1, 2 dan 3.
Perhitungan analisis uji coba tes selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 13 dan 15.
43
d. Taraf Kesukaran
Teknik perhitungan taraf kesukaran adalah dengan menghitung
berapa persen testi yang gagal menjawab benar atau ada di bawah
batas lulus (passing grade) untuk tiap-tiap item. Untuk
menginterpretasikan nilai taraf kesukaran itemnya dapat digunakan
tolak ukur sebagai berikut,
- Jika jumlah testi yang gagal mencapai 27%, termasuk mudah.
- Jika jumlah testi yang gagal antara 28% sampai dengan 72%,
termasuk sedang.
- Jika jumlah testi yang gagal 72% ke atas, termasuk sukar.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
TG
TK = x 100%, (Arifin, 1991: 135)
N
dengan
TK = taraf kesukaran
TG = banyaknya testi yang gagal
N = banyaknya siswa
Dari hasil uji coba, 3 butir soal termasuk dalam kategori sedang.
Perhitungan analisis taraf kesukaran butir soal dapat dilihat pada
lampiran 13 dan 16.
Dari hasil analisis tersebut terlihat bahwa 3 butir soal dari 3
butir soal yang diujicobakan layak untuk dipakai yaitu dengan kriteria
valid dan mempunyai daya pembeda yang signifikan sehingga soal
44
tersebut dapat digunakan. Soal yang digunakan dalam penelitian ini
adalah soal nomor 1, 2, dan 3.
G. Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis dari penelitian dan dari
hasil analisis ditarik kesimpulan. Analisis dalam penelitian ini dibagi dalam
dua tahap, yaitu tahap awal yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel
berangkat dari titik tolak yang sama dan tahap akhir, yang merupakan tahap
analisis data untuk menguji hipotesis penelitian.
1. Analisis Data Awal
Analisis data awal ini dilakukan berdasarkan data nilai matematika
ujian tengah semester 2.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menentukan statistik yang akan
digunakan dalam mengolah data, yang paling penting adalah untuk
menentukan apakah menggunakan statistik parametrik atau non
parametrik.
Untuk menguji normalitas data sampel yang diperoleh yaitu
nilai matematika ujian tengah semester 2, dapat digunakan uji Chi-
Kuadrat.
Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut:
1) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.
45
2) Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.
3) Menghitung rata-rata dan simpangan baku.
4) Membuat tabulasi data kedalam interval kelas.
5) Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus:
Xi − X
Zi = ,
S
dimana S adalah simpangan baku dan X adalah rata-rata sampel
(Sudjana, 1996: 138).
6) Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan
menggunakan tabel.
7) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva
χ =∑
2
K
(Oi − Ei )2 ,
Ei Ei
dengan
χ2 = Chi–kuadrat
Oi = frekuensi pengamatan
Ei = frekuensi yang diharapkan
8) Membandingkan harga Chi–kuadrat dengan tabel Chi–kuadrat
dengan taraf signifikan 5%.
9) Menarik kesimpulan, jika χ 2 hitung < χ 2 tabel , maka data berdistribusi
normal (Sudjana, 1996: 273).
46
Dari hasil perhitungan pada lampiran didapat:
a) Untuk kelompok eksperimen
(1) Aspek Pemahaman Konsep
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 1,9395.
Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =
4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho
berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi
normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
29.
(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 2,1577.
Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =
4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho
berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi
normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
30.
(3) Aspek Pemecahan Masalah
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 4,7199.
Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =
4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho
berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi
47
normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
31.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data
kondisi awal kelompok eksperimen berdistribusi normal.
b) Untuk kelompok kontrol
(1) Aspek Pemahaman Konsep
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 5,3827.
Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 7,815 dengan n =
3 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho
berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi
normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
32.
(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 1,0721.
Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =
4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho
berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi
normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
33.
(3) Aspek Pemecahan Masalah
Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 4,7890.
Sedangkan pada tabel nilai χ 2 = 7,815 dengan n = 3 dan taraf
48
nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada
daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi normal.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 34.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data
kondisi awal kelompok kontrol berdistribusi normal.
b. Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa
sampel penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen. Uji
homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel
mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan
dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut:
Ho = sampel homogen
Ha = sampel tidak homogen
Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus sebagai
berikut:
Varians terbesar
Fhitung = , (Sudjana, 1996: 250)
Varians terkecil
untuk menguji apakah kedua varians tersebut sama atau tidak maka
Fhitung dikonsultasikan dengan Ftabel dengan α = 5 % dengan dk
pembilang = banyaknya data terbesar dikurangi satu dan dk penyebut =
banyaknya data yang terkecil dikurangi satu. Jika Fhitung < Ftabel maka
Ho diterima. Yang berarti kedua kelompok tersebut mempunyai varians
yang sama atau dikatakan homogen.
49
(1) Aspek Pemahaman Konsep
2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 320,49 dan s 2 = 305,23
diperoleh F = 1,05 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =
40, derajat kebebasan untuk penyebut = 41, dan α = 0,05. Dari
daftar F diperoleh F(0,025)(40,41) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho
diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua
kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 35.
(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 208,61 dan s 2 = 192,27
diperoleh F = 1,08 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =
41, derajat kebebasan untuk penyebut = 40, dan α = 0,05. Dari
daftar F diperoleh F(0,025)(41,40) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho
diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua
kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 36.
(3) Aspek Pemecahan Masalah
2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 290,53 dan s 2 = 228,87
diperoleh F = 1,27 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =
41, derajat kebebasan untuk penyebut = 40, dan α = 0,05. Dari
daftar F diperoleh F(0,025)(41,40) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho
diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua
50
kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 37.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa sampel
penelitian homogen.
c. Uji Kesamaan Rata-Rata
Analisis data dengan uji t digunakan untuk menguji hipotesis:
Ho: μ1 = μ 2
Ha: μ1 ≠ μ 2 ,
μ1 = rata-rata nilai matematika kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata nilai matematika kelompok kontrol,
maka untuk menguji hipotesis digunakan rumus:
t=
x1 − x 2
dengan s 2 =
(n1 − 1)s12 + (n 2 − 1)s 2 2 ,
1 1 n1 + n 2 − 2
s +
n1 n 2
(Sudjana, 1996: 239)
dengan
x 1 = nilai matematika ujian tengah semester 2 kelompok eksperimen
x 2 = nilai matematika ujian tengah semester 2 kelompok kontrol
n1 = banyaknya subyek kelompok eksperimen
n2 = banyaknya subyek kelompok kontrol
s1 = simpangan baku kelompok eksperimen
s 2 = simpangan baku kelompok kontrol
s = simpangan baku gabungan.
51
Dengan kriteria pengujian: terima Ho jika – ttabel < thitung < ttabel dengan
derajat kebebasan d(k) = n1 + n2 – 2 dan tolak Ho untuk harga t
lainnya.
(1) Aspek Pemahaman Konsep
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = - 0,27. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah
penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-
rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 38.
(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = - 0,26. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah
penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-
rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 39.
(3) Aspek Pemecahan Masalah
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = -1,85. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah
penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-
52
rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 40.
Dari analisis ketiga aspek, dapat disimpulkan bahwa tidak ada
perbedaan rata-rata yang signifikan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
2. Analisis Data Akhir
Setelah semua perlakuan berakhir kemudian diberi tes. Data yang
diperoleh dari hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mengetahui
apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis yang diharapkan.
a. Uji Normalitas
Langkah-langkah pengujian normalitas sama dengan langkah-langkah
uji normalitas pada analisis data awal.
b. Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)
Langkah-langkah pengujian homogenitas sama dengan langkah-
langkah uji homogenitas pada analisis data awal.
c. Uji Hipotesis
Langkah terakhir dari analisis data adalah pengujian hipotesis. Uji
hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata dua pihak, uji
perbedaan rata-rata satu pihak yaitu uji pihak kanan, dan uji
ketuntasan belajar yang selanjutnya digunakan untuk menentukan
keefektifan perlakuan.
53
1) Uji Perbedaan Dua Rata-rata Dua Pihak
Hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho: μ1 = μ 2
Ha: μ1 ≠ μ 2
dimana
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
Untuk menguji hipotesis digunakan rumus:
t=
x1 − x 2
dengan s 2
=
(n1 − 1)s1 + (n 2 − 1)s 2
2 2
,
1 1 n1 + n 2 − 2
s +
n1 n 2
(Sudjana, 1996: 239)
dengan
x1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen
x2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok kontrol
n1 = banyaknya subyek kelompok eksperimen
n2 = banyaknya subyek kelompok kontrol
s1 = simpangan baku kelompok eksperimen
s2 = simpangan baku kelompok kontrol
s = simpangan baku gabungan.
Dengan kriteria pengujian: terima Ho jika – ttabel < thitung < ttabel
dengan derajat kebebasan d(k) = n1 + n2 – 2 dan tolak Ho untuk
harga t lainnya.
54
2) Uji Perbedaan Dua Rata-rata Satu Pihak: Uji Pihak Kanan
Hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho: μ1 ≤ μ 2
Ha: μ1 > μ 2
dimana
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
Uji perbedaan rata-rata dilakukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
(a) Jika σ 1 ≠ σ 2
2 2
x1 − x 2
t' =
⎛ s1 2 ⎞ ⎛ s22 ⎞
⎜ ⎟+⎜ ⎟
⎜n ⎟ ⎜n ⎟
⎝ 1 ⎠ ⎝ 2 ⎠
keterangan:
x 1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen
x 2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol
n1 = banyaknya siswa kelas eksperimen
n 2 = banyaknya siswa kelas kontrol
2
s1 = varians kelompok eksperimen
2
s 2 = varians kelompok kontrol
w1t1 + w2 t 2
Kriteria pengujian: terima Ho jika t ' ≥
w2 + w2
55
dengan
2 2
s1 s
w1 = , w2 = 2 , t1 = t (1− 1 α ),(n −1) ,dan t 1 = t (1 − 1
α ), (n −1 )
n1 n2 2 1 2
(Sudjana, 1996: 241).
(b) Jika σ 12 = σ 2 2
x1 − x 2
t= ,
⎛1 1 ⎞
s ⎜⎜ + ⎟⎟
⎝ n1 n2 ⎠
dengan s 2
=
(n1 − 1) s1 + (n 2 − 1) s 2
2 2
,
n1 + n 2 − 2
dimana
x 1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen
x 2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol
n1 = banyaknya siswa kelas eksperimen
n 2 = banyaknya siswa kelas kontrol
2
s1 = varians kelompok eksperimen
2
s 2 = varians kelompok kontrol
s 2 = varians gabungan
dengan dk = (n1 + n 2 − 2 ) , kriteria pengujiannya adalah Ho
ditolak jika t (hitung ) ≥ t ( tabel ) dengan menentukan taraf signifikan
α = 5%, peluang (1- α ) (Sudjana, 1996: 243).
56
3) Uji Ketuntasan Belajar
Belajar dikatakan tuntas jika memenuhi syarat ketuntasan belajar
yaitu jika rata–rata hasil belajar siswa mencapai minimal 65
(Mulyasa, 2003).
Hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho: μ1 ≤ 65
Ha: μ1 > 65
dimana
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
Rumus yang digunakan adalah:
x −μ 0
t= ,
S
n
dengan
x = rata-rata hasil belajar
S = simpangan baku
n = banyak siswa
Dengan uji pihak kanan, kriteria yang digunakan adalah Ho ditolak
jika t hitung > t (1− α )(n −1) (Sudjana, 1996: 227).
57
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil studi
lapangan untuk memperoleh data dengan teknik tes setelah dilakukan suatu
pembelajaran yang berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar
matematika pada sub pokok bahasan Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-
layang pada siswa kelas VII SMP N 11 Semarang, dimana hasil belajar
matematika mencakup tiga aspek, yaitu pemahaman konsep, penalaran dan
komunikasi, serta pemecahan masalah. Sebagai kelompok eksperimen adalah
siswa kelas VIID dan sebagai kelompok kontrol adalah siswa kelas VIIA.
1. Pelaksanaan Pembelajaran
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan
pada bulan Mei 2007, pada siswa kelas VIIA dan kelas VIID SMP N 11
Semarang. Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu
menentukan materi dan menyusun rencana pembelajaran, menyusun tes
hasil belajar, dan lembar observasi aktivitas siswa untuk mengetahui
keaktifan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Materi pokok yang
diambil adalah Segi empat, sedangkan dalam penelitian ini diambil sub
materi, yaitu Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang.
58
Model pembelajaran yang digunakan pada kelompok kontrol
adalah pembelajaran dengan metode ekspositori, sedangkan model
pembelajaran yang digunakan pada kelompok eksperimen adalah model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Pelaksanaan pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share terdiri atas 3 langkah, yaitu: guru
mengajukan pertanyaan atau permasalahan yang terkait dengan pelajaran
dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau permasalahan
itu secara mandiri, guru meminta para siswa untuk berpasangan dan
mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan, dan guru meminta
pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas
secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.
2. Hasil Uji Normalitas
a. Untuk Kelompok Eksperimen
1) Aspek Pemahaman Konsep
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
79,88; simpangan baku = 18,72; nilai tertinggi = 100; nilai
terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval
= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,8304. Dengan banyaknya data adalah 41
dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.
Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,
sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 42.
59
2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
73,41; simpangan baku = 21,39; nilai tertinggi = 100; nilai
terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval
= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,3284. Dengan banyaknya data adalah 41
dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.
Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,
sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 50.
3) Aspek Pemecahan Masalah
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
73,00; simpangan baku = 22,60; nilai tertinggi = 100; nilai
terendah = 13,3; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas
interval = 13 diperoleh χ 2hitung = 8,2457. Dengan banyaknya data
adalah 41 dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel =
9,488. Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah
penerimaan, sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 58.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data hasil
belajar kelompok eksperimen berdistribusi normal.
60
b. Untuk kelompok Kontrol
1) Aspek Pemahaman Konsep
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
71,43; simpangan baku = 19,58; nilai tertinggi = 100; nilai
terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval
= 11 diperoleh χ 2hitung = 4,5934. Dengan banyaknya data adalah 41
dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.
Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,
sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 43.
2) Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
60,54; simpangan baku = 23,88; nilai tertinggi = 100; nilai
terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval
= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,9947. Dengan banyaknya data adalah 41
dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.
Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,
sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 51.
3) Aspek Pemecahan Masalah
Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =
54,21; simpangan baku = 17,40; nilai tertinggi = 100; nilai
61
terendah = 16,7; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas
interval = 12 diperoleh χ 2hitung = 5,4926. Dengan banyaknya data
adalah 41 dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel =
9,488. Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah
penerimaan, sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 59.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data hasil
belajar kelompok kontrol berdistribusi normal.
3. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)
a. Aspek Pemahaman Konsep
Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians
= 350,6098 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh
varians = 384,8178. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,098.
Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 41 serta
dk penyebut = 40, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,098< Ftabel
= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians
antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 44.
b. Aspek Penalaran dan Komunikasi
Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians
= 457,4238 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh
varians = 570,2853. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,247.
Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 41 serta
62
dk penyebut = 40, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,247< Ftabel
= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians
antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 52.
c. Aspek Pemecahan Masalah
Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians
= 510,5382 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh
varians = 302,8528. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,686.
Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 40 serta
dk penyebut = 41, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,686< Ftabel
= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians
antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 60.
Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil
belajar kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan atau homogen.
4. Uji Perbedaan Dua Rata-rata: Uji Dua Pihak
Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rata-rata hasil belajar
antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol digunakan uji t dua
pihak.
a. Aspek Pemahaman Konsep
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
63
Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol)
Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol)
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 2,078. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 45.
b. Aspek Penalaran dan Komunikasi
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
penalaran dan komunikasi antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol)
Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
penalaran dan komunikasi antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol)
64
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 2,584. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 53.
c. Aspek Pemecahan Masalah
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol)
Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek
pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol)
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 4,251. Sedangkan
dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.
Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara
65
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 61.
Dari analisis ketiga aspek hasil belajar diatas, dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar yang
signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
5. Uji Perbedaan Dua Rata-rata: Uji Pihak Kanan
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa data hasil belajar
matematika siswa kelas VIIA dan VIID berdistribusi normal dan
homogen. Untuk menguji perbedaan dua rata-rata antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol digunakan uji t satu pihak yaitu pihak
kanan.
a. Aspek Pemahaman Konsep
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan
rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
kelompok kontrol)
Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata
hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok
kontrol)
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
66
Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =
79,88 dan rata-rata kelompok kontrol = 71,13, dengan n1 = 41 dan n2 =
42 diperoleh thitung = 2,078. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =
81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang
dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari
rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep dengan metode
ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 46.
b. Aspek Penalaran dan Komunikasi
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi
kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan
rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
kelompok kontrol)
Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi
kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata
hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok
kontrol)
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol,
Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =
73,41 dan rata-rata kelompok kontrol = 60,54, dengan n1 = 41 dan n2 =
67
42 diperoleh thitung = 2,584. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =
81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan
komunikasi pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-
layang dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih
baik dari rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi
dengan metode ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran 54.
c. Aspek Pemecahan Masalah
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah
kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan
rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep
kelompok kontrol)
Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah
kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata
hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok
kontrol)
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol,
Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =
73,00 dan rata-rata kelompok kontrol = 54,21, dengan n1 = 41 dan n2 =
42 diperoleh thitung = 4,251. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =
68
81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah
pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang
dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari
rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah dengan metode
ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 62.
6. Uji Ketuntasan Hasil Belajar
a. Aspek Pemahaman Konsep
Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek pemahaman
konsep diperoleh thitung = 5,09. Dengan kriteria pengujian pihak kanan,
untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68. Karena
thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar
aspek pemahaman konsep kelompok eksperimen ≥ 65, sehingga dapat
disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 47.
b. Aspek Penalaran dan Komunikasi
Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek penalaran dan
komunikasi diperoleh thitung = 2,52. Dengan kriteria pengujian pihak
kanan, untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68.
Karena thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil
belajar aspek penalaran dan komunikasi kelompok eksperimen ≥ 65,
sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan
belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 55.
69
c. Aspek Pemecahan Masalah
Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek pemecahan
masalah diperoleh thitung = 2,27. Dengan kriteria pengujian pihak
kanan, untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68.
Karena thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil
belajar aspek pemecahan masalah kelompok eksperimen ≥ 65,
sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan
belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 63.
Dari analisis ketiga aspek diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
kelompok eksperimen telah mencapai ketuntasan belajar.
7. Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada kelompok
eksperimen selama proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut.
Pada pembelajaran I, persentase aktivitas siswa sebesar 62,5%, aktivitas
siswa masih rendah. Hal ini disebabkan karena siswa masih bingung dan
belum terbiasa dengan pembelajaran yang diterapkan, sehingga masih
banyak siswa yang bertanya dan menimbulkan kegaduhan. Persentase
aktivitas siswa pada pembelajaran II sebesar 79,17%, mengalami
peningkatan 16,67%. Sedang pada pembelajaran III, persentase aktivitas
siswa sebesar 81,25%, mengalami peningkatan sebesar 2,08%. Untuk
selengkapnya perkembangan aktivitas siswa dapat dilihat pada lampiran
70
21, 24, 27. Dan grafik perkembangan aktivitas siswa dapat dilihat pada
lampiran 28.
B. Pembahasan
Pada penelitian ini sampel terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis data kondisi
awal, diperoleh bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan berangkat
dari keadaan yang sama atau homogen. Berdasarkan hasil tersebut, pada kedua
kelompok dapat dilakukan penelitian. Kedua kelompok diberi perlakuan yang
berbeda, dimana kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share. Sedangkan pada kelompok kontrol diberi
perlakuan dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.
1. Proses Pembelajaran Kelompok Eksperimen
Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan
pembelajaran koopertif tipe Think-Pair-Share yaitu guru mengajukan
pertanyaan atau permasalahan kepada siswa dan memberikan kesempatan
kepada para siswa untuk berpikir dan merespon serta saling membantu
satu sama lain. Pada awal pelajaran guru menjelaskan terlebih dahulu
tujuan dan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang
akan diterapkan serta memberikan motivasi kepada siswa. Kemudian guru
memberikan apersepsi dan dengan metode ceramah dan tanya jawab guru
menerangkan materi yang dipelajari (terbatas) dengan menggunakan
lembar kerja siswa. Disela-sela menerangkan materi guru dapat
71
memberikan pertanyaan atau permasalahan secara klasikal yang terdapat
pada lembar kerja siswa, setelah itu guru melakukan langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
Berdasarkan hasil observasi mengenai aktivitas siswa pada
pembelajaran I menunjukkan bahwa persentase aktivitas siswa sebesar
62,5%. Pada pembelajaran I, aktivitas siswa masih belum maksimal. Hal
ini disebabkan masih terdapat beberapa kekurangan selama proses
pembelajaran antara lain sebagai berikut: siswa belum terbiasa dengan
model pembelajaran yang diterapkan sehingga siswa masih banyak yang
pasif dalam kelompoknya, ada beberapa siswa yang masih kesulitan dalam
bekerja sama dan bertukar pendapat, masih terdapat beberapa kelompok
yang belum memahami tugasnya sehingga banyak siswa yang bertanya
dan bercerita sendiri, akibatnya menimbulkan kegaduhan di kelas. Siswa
masih belum menunjukkan partisipasi untuk bertanya dan dalam
menyampaikan hasil diskusi kelompok belum disajikan dengan baik
sehingga belum terlalu dimengerti oleh teman sekelasnya. Pelaksanaan
pembelajaran pada pertemuan I belum dilaksanakan dengan baik, sehingga
masih perlu diperbaiki agar siswa dapat berpartisipasi secara optimal yang
dapat berakibat meningkatnya hasil belajar.
Pada pembelajaran II, persentase aktivitas siswa sebesar 79,17%.
Persentase aktivitas siswa selama pembelajaran I dan pembelajaran II
mengalami peningkatan sebesar 16,67%. Hal ini menunjukkan
peningkatan aktivitas siswa. Peningkatan aktivitas siswa terjadi karena
72
siswa sudah mulai mengenal pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-
Share. Hal ini juga disebabkan karena langkah-langkah dalam
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share menuntut siswa bekerja
secara individu dan melakukan interaksi dengan siswa lain serta
berpartisipasi dalam pembelajaran.
Pada pembelajaran III, persentase aktivitas siswa sebesar 81,25%.
Pada pembelajaran III ini, persentase aktivitas siswa mengalami
peningkatan 2,08% dari pembelajaran II. Pada pembelajaran III sudah
berlangsung dengan baik. Siswa sudah mampu untuk berpartisipasi secara
optimal dalam pembelajaran. Siswa sudah mampu bekerja sama dalam
kelompok, menyampaikan pendapatnya, dan mampu menampilkan hasil
diskusinya dengan baik sehingga dapat dimengerti oleh siswa lain.
Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pertemuan-
pertemuan sebelumnya, karena siswa mulai terbiasa dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Peningkatan aktivitas
siswa ini juga menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share semakin baik.
2. Proses Pembelajaran Kelompok Kontrol
Pembelajaran yang diterapkan pada kelompok kontrol adalah
pembelajaran dengan metode ekspositori. Dalam pembelajaran dengan
metode ekspositori menjelaskan materi secara terurut kemudian siswa
diberi waktu untuk mencatat. Setelah itu, guru memberikan beberapa
contoh soal di papan tulis. Selanjutnya guru memberikan soal latihan
73
untuk dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan soal, beberapa siswa
diminta mengerjakan soal latihan tersebut di papan tulis. Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal
yang belum dipahami. Diakhir pembelajaran, guru menegaskan kembali
tentang materi yang dipelajari, kemudian memberi beberapa tugas rumah
kepada siswa.
Pada pembelajaran dengan metode ekspositori, awalnya membuat
siswa lebih tenang karena pusat kendali berada ditangan guru. Siswa
duduk memperhatikan guru menerangkan materi pelajaran. Hal ini
menyebabkan guru kurang memahami pemahaman siswa, karena siswa
yang sudah paham dan yang belum paham hanya diam saja. Siswa yang
belum paham biasanya tidak berani atau malu untuk bertanya secara
langsung kepada guru. Siswa juga merasa bosan dengan pembelajaran
yang monoton sehingga lebih suka bercerita dengan temannya dari pada
memperhatikan penjelasan dari guru.
Permasalahan lain yang dihadapi oleh siswa adalah kemampuan
siswa dalam memahami dan memecahkan masalah. Dalam pembelajaran
dengan metode ekspositori tidak ada model kerja kelompok, sehingga
apabila ada soal atau permasalahan siswa harus bisa mengerti, memahami,
dan memecahkan soal atau permasalahan itu secara individual. Hal ini
akan menyita banyak waktu, karena dalam setiap kelas kemampuan setiap
siswa sangat heterogen sehingga jika pembelajaran ini terus berlanjut
tanpa adanya variasi, maka tujuan pembelajaran tidak tercapai, sehingga
74
hasil belajar siswa tidak akan meningkat. Oleh karena itu, guru diharapkan
dapat memberikan variasi model pembelajaran dalam mengajar.
Berdasarkan analisis hasil penelitian, kita ketahui bahwa ketiga aspek
hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari ketiga aspek hasil belajar
kelompok kontrol. Hal ini disebabkan karena kedua kelompok diberikan
perlakuan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share, sedangkan pada kelompok kontrol
menggunakan pembelajaran dengan metode ekspositori.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share menganut
sistem gotong royong yang mencegah terjadinya keagresifan dalam sistem
kompetisi dan keterasingan dalam sistem individual tanpa mengorbankan
aspek kognitif. Dengan adanya sistem gotong royong, siswa dapat membantu
satu sama lain, siswa yang merasa mampu akan memberikan bantuan kepada
siswa yang belum mampu pada saat melakukan diskusi. Hal ini dapat
berdampak positif pada hasil belajar siswa, karena siswa merasa lebih nyaman
apabila mendapat bantuan dari temannya sendiri dari pada oleh gurunya.
Secara umum, adanya perbedaan hasil belajar dimungkinkan karena
dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan ketrampilan berpikir kritis dan
bekerja sama, sehingga menumbuhkan hubungan antara pribadi yang positif
dari latar belakang yang berbeda yang dapat membangun motivasi siswa dan
pada akhirnya akan berdampak pada hasil belajar siswa. Melalui pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share, keaktifan siswa dalam pembelajaran
mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena siswa dalam belajar
75
mendapatkan pengalaman langsung. Menurut Ibrahim (2003: 15), siswa akan
belajar paling baik jika siswa secara pribadi terlibat dalam pengalaman belajar
tersebut. Pada kelompok kontrol, pembelajarannya lebih menekankan pada
indera penglihatan dan pendengaran, sehingga keaktifan siswa belum optimal.
Kondisi ini apabila dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan
kebosanan sehingga menurunkan minat dan motivasi belajar siswa yang
berdampak menurunnya hasil belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memberikan hasil
belajar yang lebih baik karena terjadi interaksi tatap muka dalam anggota
kelompok dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal. Dengan model
pembelajaran ini, siswa akan mengembangkan kemampuan kognitif dan
kemampuan vokasionalnya. Kemampuan kognitif dapat dikembangkan karena
siswa dituntut untuk memnjawab pertanyaan atau permasalahan dan dengan
menyampaikan pendapat serta memberikan informasi kepada anggota
kelompok dan kelompok lain dalam satu kelas akan mengembangkan
kemampuan vokasionalnya. Dengan adanya model pembelajaran ini siswa
melatih siswa untuk bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya dan
mengembangkan hubungan interpersonal serta menumbuhkan kepercayaan
diri siswa.
76
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1. Ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang
diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori.
2. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga aspek hasil
belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.
3. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar.
4. Aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-
Pair-Share mengalami peningkatan.
B. Saran
1. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memerlukan adanya
perencanaan waktu yang cukup matang, agar dapat meningkatkan
keaktifan siswa secara optimal.
77
2. Guru diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dalam membuat soal
diskusi sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuannya.
3. Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share perlu diterapkan dan
dikembangkan pada materi yang lain.
78
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan Supriyono, W. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Z. 1991. Evaluasi Instruksional: Prinsip-Teknik-Prosedur. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Arikunto, S. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta:
Bumi Aksara.
Cholik, M. A. dan Sugijono. 2005. Matematika untuk SMP kelas VII. Jakarta:
Erlangga.
Darsono, M. dkk. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: Semarang Press.
Depdiknas. 2006. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SMP (2006) mata
pelajaran matematika.
Eddy, M. W. dkk. 2006. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Semarang: Universitas
Negeri Semarang.
Suherman, E. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Edisi
Revisi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Maesuri, S. 2002. Cooperative Learning In The Mathematics Classroom..
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Hudojo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika
(Edisi Revisi). Malang: Universitas Negeri Malang.
Muslimiin, I. dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.
Junaidi, S. dan Siswono, E. 2004. Matematika SMP untuk kelas VII. Jakarta: Esis.
Lie, A. 2004. Coopertive Learning Mempraktikkan Cooperative Learningdi
Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika
Sekolah UNESA.
Poerwadarminta, W.J.S. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka:
Jakarta.
79
Purwati, H. 2006. Keefektifan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Terhadap
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita
Pada Materi Pokok Aljabar dan Aritmatika Sosial Pada Siswa Kelas
VII SMP 7 Semarang Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi.
Perpustakaan Jurusan Matematika UNNES.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta.
Sudjana, N. dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Suharyono, T, dkk. 1996. Strategi Belajar Matematika. AMP Matematika Jakarta:
Konsultan dan TIM Pengembangan PKG Matematika Dirjen
Dikdasmen Depdikbud.
Suhito. 2003. Model Pembelajaran Matematika. Semarang: Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.
Suyitno, A. 2004. Dasar-Dasar Pembelajaran Matematika I. Semarang
Zulaiha, R. 2006. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Matematika. Jakarta:
Depdiknas.
80
Lampiran 1
DAFTAR NAMA SISWA KELAS UJICOBA
No Kode Nama
1. U-1 ADI SAIFUL SEJATI
2. U-2 AGIL TRI ATMOJO
3. U-3 AGUNG PRABOWO
4. U-4 AJUM ADE MAT ALBA
5. U-5 ANDINA BAYU ARISTA
6. U-6 ANGGA RIZKI S
7. U-7 ANNA LISTIOWATI
8. U-8 ARYO MARDIAN W
9. U-9 ASTRID OCTAVIANI
10. U-10 AULIA BELLA DIO
11. U-11 BAYU SOELISTYO A
12. U-12 CANDRA W
13. U-13 DEVI RUDIANTO
14. U-14 DIAH AYU WIJAYANTI
15. U-15 DIAH WAHYU SETYA R
16. U-16 DIAN SETYO P WAR
17. U-17 DWI CAHYA PRIH
18. U-18 EKO SETYAWAN
19. U-19 ELLY PERTIWI N
20. U-20 ELSA INGGITA A S
21. U-21 ERMA WAHYUNING S
22. U-22 FARIZKA MULIANINGSIH
23. U-23 HANDIKO RAHMAN P
24. U-24 HASNA NUR Y R
25. U-25 HESTI MARTIKA SARI
26. U-26 KINANTI MUSTIKA A K
27. U-27 KUS SARTONO P
28. U-28 LIA KURNIANINGSIH
29. U-29 LULUK ARISKA A
30. U-30 MARISKA DHANIATI
31. U-31 MIA PURNAMASARI
32. U-32 MUHAMAD IRWAN M
33. U-33 M. RASTA TIDAR P
34. U-34 NOVITA DWI W
35. U-35 ONNE VALENTINA V H
36. U-36 PRASETYO SURYADI
37. U-37 RENDRA YUDI S
38. U-38 RUKTI RUMEKAR
39. U-39 U’UD ARY SUBEKTI
U-40 YENI RUSMALINA
81