0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan98 halaman

SKRIPSI

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share terhadap hasil belajar siswa kelas VII pada pokok bahasan segi empat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan model Think-Pair-Share dibandingkan dengan metode ekspositori, dengan kelompok eksperimen menunjukkan hasil yang lebih baik. Disarankan agar guru mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran ini pada pokok bahasan lain.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan98 halaman

SKRIPSI

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share terhadap hasil belajar siswa kelas VII pada pokok bahasan segi empat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan model Think-Pair-Share dibandingkan dengan metode ekspositori, dengan kelompok eksperimen menunjukkan hasil yang lebih baik. Disarankan agar guru mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran ini pada pokok bahasan lain.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE TERHADAP HASIL


BELAJAR POKOK BAHASAN SEGI EMPAT PADA SISWA KELAS VII
SEMESTER 2

SKRIPSI
Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1
untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
Nama : Atik Widarti
NIM : 4101403041
Prodi : Pendidikan Matematika
Jurusan : Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
ABSTRAK

Atik Widarti (4101403041), “Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran


Koopertatif Tipe Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi Empat
Pada Siswa Kelas VII Semester 2”.
Matematika adalah ilmu dasar yang berkembang pesat baik materi maupun
kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak siswa yang secara sadar mengakui
pentingnya matematika, bahkan para orang tua sering memaksa anak mereka untuk
mengikuti pelajaran tambahan. Ini membuat anak merasa terpaksa mempelajari
matematika, sehingga membenci matematika. Akibatnya ia akan kesulitan memahami dan
menguasai matematika. Disinilah peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan.
Hal ini dikarenakan, guru berhubungan langsung dengan para siswa. Guru harus bisa
merencanakan suatu pembelajaran matematika yang menarik, efektif, dan bermakna. Salah
satu model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok
bahasan segi empat. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Adakah perbedaan rata-
rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran
menggunakan metode ekspositori? (2) Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar
dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada
tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori?(3) Apakah
rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-
Share mencapai ketuntasan belajar? (4) Bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1)
untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa
yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan siswa
yang diajar dengan metode ekspositori (2) untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga
aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari
pada rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode
ekspositori (3) untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar (4) untuk
mengetahui bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share.
Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 11 Semarang tahun
pelajaran 2006/2007. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cara cluster
random sampling diambil sampel sebanyak 2 kelas yaitu siswa kelas VII A sebagai
kelompok kontrol yang dikenai pembelajaran dengan metode ekspositori dan siswa kelas
VII D yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Pada akhir
pembelajaran, kedua kelompok sampel diberi tes dengan menggunakan instrumen yang
sama yang telah diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembedanya. Metode
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi, observasi, dan tes.
Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas data hasil tes dari kedua kelompok,
diperoleh bahwa data kedua kelompok sampel normal dan homogen, sehingga untuk
pengujian hipotesis pertama digunakan uji t dua pihak dan untuk pengujian hipotesis kedua
digunakan uji t satu pihak (pihak kanan). Dari hasil perhitungan dengan uji t dua pihak
pada ketiga aspek hasil belajar diperoleh bahwa thitung > ttabel sehingga H0 ditolak dan
hipotesis diterima. Hal ini berarti, terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang
signifikan. Pada pengujian hipotesis kedua diperoleh thitung > ttabel maka Ho ditolak dan

ii
hipotesis diterima. Jadi rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada
kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa ada perbedaan rata-
rata hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dan
rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.
Sehingga Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih efektif daripada
pembelajaran dengan metode ekspositori. Disarankan guru dapat mengembangkan
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dan menerapkan pada pokok bahasan lain.

iii
PENGESAHAN
SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Matematika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang
Hari : Rabu
Tanggal : 29 Agustus 2007

Panitia Ujian

Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S.,M. S Drs. Supriyono, [Link]


NIP. 130781011 NIP. 130815345

Pembimbing Utama Penguji Utama

Dr. St. Budi Waluyo, M. Si Drs. Mashuri, [Link]


NIP. 132046848 NIP. 131993875

Pembimbing Pendamping Anggota I

Isnarto, S. Pd, M. Si Dr. St. Budi Waluyo, M. Si


NIP. 132092853 NIP. 132046848

Anggota II

Isnarto, S. Pd, M. Si
NIP. 132092583

iv
MOTTO

1. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam


Nasyrah: 5).
2. Kebahagiaan anda tidak bergantung pada orang lain, tetapi berada di
tangan anda sendiri (DR. ‘Aidh ‘Abdullah Al Qarni).
3. Ujian karakter yang sejati bukanlah berapa banyak yang kita ketahui
dalam melakukan berbagai hal, tapi bagaimanakah kita bersikap ketika
kita tidak tahu harus melakukan apa (John Holt).
4. Satu tindakan kecil lebih berarti daripada cita-cita yang terlalu muluk.

PERSEMBAHAN:
1. Ibu dan Bapak tercinta yang selalu menyayangi, mencintai dan
sabar menghadapiku, doa kalian selalu menyertai setiap
langkahku.
2. Mas Edi, Mbak Lilik, dan Dek Ifa yang selalu memberiku
semangat dan selalu menghiburku dalam suka dan duka.
3. Sahabat-sahabatku yang selalu membantuku dan memberiku
semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Teman-teman Pend. Mat’03 atas persahabatan dan
kebersamaannya selama ini.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan

karunia-Nya, serta kemudahan dan kelapangan, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think-Pair-Share TERHADAP HASIL

BELAJAR PADA POKOK BAHASAN SEGI EMPAT PADA SISWA KELAS

VII SEMESTER 2”

Penulis sampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M. Si, Rektor Universitas Negeri

Semarang.

2. Drs. Kasmadi Imam S., M. S, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

3. Drs. Supriyono, M. Si, Ketua Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

4. Dr. St. Budi Waluyo, M. Si, Dosen pembimbing utama yang telah

memberikan bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan

skripsi.

5. Isnarto, S. Pd, M. Si, Dosen pembimbing pendamping yang telah memberikan

bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi.

6. Arief Basuki, S. Pd, M. M, Kepala SMP N 11 Semarang yang telah

memberikan ijin penelitian.

vi
7. Tri Kartinawati, S. Pd., Guru matematika kelas VII SMP N 11 Semarang yang

telah membantu terlaksananya penelitian ini.

8. Siswa-siswi kelas VII SMP N 11 Semarang tahun ajaran 2006/ 2007 atas

ketersediaannya menjadi responden dalam pengambilan data penelitian ini.

9. Bapak dan Ibu guru SMP N 11 Semarang atas segala bantuan yang diberikan.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu persatu.

Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa skripsi ini belum

sempurna. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi

pembaca yang budiman.

Semarang, 2007

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

ABSTRAK ....................................................................................................... ii

PENGESAHAN ............................................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi

DAFTAR ISI.................................................................................................... viii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... x

DAFTAR TABEL............................................................................................ xvi

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1

B. Perumusan Masalah ................................................................... 5

C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5

D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 6

E. Penegasan Istilah............................................................................ 7

F. Sistematika Penulisan Skripsi ........................................................ 9

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ........................................... 11

A. Landasan Teori............................................................................... 11

1. Belajar dan Pembelajaran Matematika..................................... 11

2. Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share ..................... 18

viii
3. Metode Ekspositori .................................................................. 23

4. Segi empat................................................................................ 24

B. Kerangka Berpikir.......................................................................... 28

C. Hipotesis......................................................................................... 30

BAB III METODE PENELITIAN............................................................... 32

A. Populasi dan Sampel Penelitian ..................................................... 32

B. Variabel Penelitian ......................................................................... 33

C. Desain Penelitian............................................................................ 33

D. Metode Pengumpulan Data ............................................................ 34

E. Metode Penyusunan Instrumen ..................................................... 35

F. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen ................................................ 36

G. Analisis Data .................................................................................. 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 57

A. Hasil Penelitian .............................................................................. 57

B. Pembahasan.................................................................................... 70

BAB V PENUTUP...................................................................................... 76

A. Simpulan ......................................................................................... 76

B. Saran ................................................................................................ 76

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 78

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Daftar Nama Kelas Uji Coba................................................. 80

Lampiran 2. Daftar Nama Kelompok Eksperimen .................................... 81

Lampiran 3. Daftar Nama Kelompok Kontrol ........................................... 82

Lampiran 4. Daftar Nilai Ujian Tengah Semester Kelompok

Eksperimen............................................................................. 83

Lampiran 5. Daftar Nilai Ujian Tengah Semester Kelompok Kontrol ...... 84

Lampiran 6. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa .................................... 85

Lampiran 7. Kisi-kisi Ujicoba Instrumen................................................... 86

Lampiran 8. Analisis Soal Objektif dan Isian Singkat............................... 88

Lampiran 9. Contoh Perhitungan Validitas Soal Objektif dan Isian

Singkat ................................................................................. 90

Lampiran 10. Contoh Perhitungan Daya Pembeda Soal Objektif dan Isian

Singkat .................................................................................. 91

Lampiran 11. Contoh Perhitungan Taraf Kesukaran Soal Objektif dan Isian

Singkat .................................................................................. 92

Lampiran 12. Contoh Perhitungan Reliabilitas Soal Objektif dan Isian

Singkat .................................................................................. 93

Lampiran 13. Analisis Soal Uraian .............................................................. 94

Lampiran 14. Contoh Perhitungan Validitas Soal Uraian............................ 95

Lampiran 15. Contoh Perhitungan Daya Beda Soal Uraian ........................ 96

Lampiran 16. Contoh Perhitungan Taraf Kesukaran Soal Uraian ............... 97

x
Lampiran 17. Contoh Perhitungan Reliabilitas Soal Uraian........................ 98

Lampiran 18. Instrumen Soal yang Dipakai dalam Penelitian..................... 99

Lampiran 19. Rencana Pembelajaran I ........................................................ 100

Lampiran 20. Lembar Kerja Siswa pada Pembelajaran I............................. 103

Lampiran 21. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran I.. .... 107

Lampiran 22. Rencana Pembelajaran II ....................................................... 108

Lampiran 23. Lembar Kerja Siswa pada Pembelaaran II ............................ 111

Lampiran 24. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran II ..... 116

Lampiran 25. Rencana Pembelajaran III...................................................... 117

Lampiran 26. Lembar Kerja Siswa pada Pembelajaran III .......................... 120

Lampiran 27. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran III.... 124

Lampiran 28. Grafik Perkembangan Aktivitas Siswa.................................. 125

Lampiran 29. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemahaman Konsep

Kelompok Eksperimen.......................................................... 126

Lampiran 30. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Penalaran

dan Komunikasi Kelompok Eksperimen .............................. 127

Lampiran 31. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemecahan Masalah

Kelompok Eksperimen.......................................................... 128

Lampiran 32. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemahaman Konsep

Kelompok Kontrol ................................................................ 129

Lampiran 33. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Penalaran

dan Komunikasi Kelompok Kontrol ..................................... 130

Lampiran 34. Uji Normalitas Data Kondisi Awal Aspek Pemecahan Masalah

xi
Kelompok Kontrol ................................................................ 131

Lampiran 35. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Pemahaman

Konsep Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol. 132

Lampiran 36. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Penalaran

dan Komunikasi Konsep Kelompok Eksperimen dengan

Kelompok Kontrol ................................................................. 133

Lampiran 37. Uji Kesamaan Dua Varians Nilai Awal Aspek Pemecahan

Masalah Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol 134

Lampiran 38. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Pemahaman Konsep

Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol.............. 135

Lampiran 39. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Penalaran dan

Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan Kelompok

Kontrol .................................................................................. 136

Lampiran 40. Uji Kesamaan Rata-rata Nilai Awal Aspek Pemecahan

Masalah Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol 137

Lampiran 41. Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman Konsep Matematika

Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ................... 138

Lampiran 42. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman

Konsep Kelompok Eksperimen ............................................ 139

Lampiran 43. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemahaman

Konsep Kelompok Kontrol ................................................... 140

Lampiran 44. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek

Pemahaman Konsep Antara Kelompok Eksperimen dan

xii
Kelompok Kontrol ................................................................ 141

Lampiran 45. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek

Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen dengan

Kelompok Kontrol ................................................................ 142

Lampiran 46. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek Pemahaman

Konsep Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol. 143

Lampiran 47. Uji Ketuntasan Belajar Aspek Pemahaman Konsep Kelompok

Eksperimen............................................................................ 144

Lampiran 48. Uji Ketuntasan Belajar Aspek Pemahaman Konsep Kelompok

Kontrol .................................................................................. 145

Lampiran 49. Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi Matematika

Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol.................... 146

Lampiran 50. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan

Komunikasi Kelompok Eksperimen ..................................... 147

Lampiran 51. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Penalaran dan

Komunikasi Kelompok Kontrol............................................ 148

Lampiran 52. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek

Penalaran dan Komunikasi Antara Kelompok Eksperimen

dan Kelompok Kontrol.......................................................... 149

Lampiran 53. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek

Penalaran dan Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan

Kelompok Kontrol ................................................................ 150

Lampiran 54. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek Penalaran

xiii
dan Komunikasi Kelompok Eksperimen dengan Kelompok

Kontrol .................................................................................. 151

Lampiran 55. Uji ketuntasan Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi

Kelompok Eksperimen.......................................................... 152

Lampiran 56. Uji ketuntasan Belajar Aspek Penalaran dan Komunikasi

Kelompok Kontrol ................................................................ 153

Lampiran 57. Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan Masalah Matematika

Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol.................... 154

Lampiran 58. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan

Masalah Kelompok Eksperimen ........................................... 155

Lampiran 59. Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Pemecahan

Masalah Kelompok Kontrol.................................................. 156

Lampiran 60. Uji Kesamaan Dua Varians Data Hasil Belajar Aspek

Penalaran dan Komunikasi Antara Kelompok Eksperimen

dan Kelompok Kontrol.......................................................... 157

Lampiran 61. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Hasil Belajar Aspek

Pemecahan Masalah Kelompok Eksperimen dengan

Kelompok Kontrol ................................................................ 158

Lampiran 62. Uji Perbedaan Rata-rata Nilai Hasil Belajar Awal Aspek

Pemecahan Masalah Kelompok Eksperimen dengan

Kelompok Kontrol ............................................................... 159

Lampiran 63. Uji ketuntasan Belajar Aspek Pemecahan Masalah

Kelompok Eksperimen.......................................................... 160

xiv
Lampiran 64. Uji ketuntasan Belajar Aspek Pemecahan Masalah

Kelompok Kontrol ................................................................ 161

Lampiran 65. Contoh Rencana Pembelajaran Kelompok Kontrol .............. 162

Lampiran 66. Surat Usulan Pembimbing ..................................................... 164

Lampiran 67. Surat Ijin Penelitian ............................................................... 165

Lampiran 68. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ..................... 166

xv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir........................................................... 30

xvii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Daftar Kritik Uji T ......................................................................... 167

Tabel 2. Tabel Nilai Chi Kuadrat................................................................. 168

Tabel 3. Daftar Kritik Z dari 0 ke Z ............................................................. 169

Tabel 4. Daftar Kritik Uji F.......................................................................... 170

Tabel 5. Daftar Kritik r Product Moment..................................................... 171

xvi
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pesatnya perkembangan zaman dan adanya era globalisasi menuntut

setiap manusia untuk siap menghadapi persaingan dengan manusia lain. Untuk

dapat bersaing dan dapat bertahan maka harus memiliki kualitas sumber daya

manusia yang baik. Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya

meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesadaran tentang pentingnya

pendidikan telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan

masyarakat terhadap setiap perkembangan dunia pendidikan.

Matematika adalah segala sumber dari ilmu yang lain. Dengan kata

lain, banyak ilmu-ilmu lain yang penemuan dan perkembangannya bergantung

dari matematika. Matematika adalah ilmu dasar yang berkembang pesat baik

materi maupun kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Matematika adalah

suatu alat untuk mengembangkan kemampuan berpikir, karena itu matematika

sangat diperlukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga matematika perlu

diberikan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari SD hingga perguruan

tinggi, bahkan TK. Matematika hakekatnya memiliki objek kajian yang

abstrak dan sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. Mata pelajaran

matematika berfungsi mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan

menggunakan bilangan dan menggunakan ketajaman penalaran untuk


2

menyelesaikan persoalan sehari-hari. Sasaran dari pembelajaran matematika

adalah siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antara topik dalam

matematika serta manfaat bagi bidang lain.

Dalam Kurikilum tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), matematika

merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional yang

sangat menentukan kelulusan siswa. Oleh karena itu, banyak siswa yang

secara sadar mengakui pentingnya matematika, bahkan para orang tua sering

memaksa anak mereka untuk mengikuti pelajaran tambahan. Ini membuat

anak merasa terpaksa mempelajari matematika, sehingga membenci

matematika. Akibatnya ia akan kesulitan memahami dan menguasai

matematika. Disinilah peranan guru sangat penting dalam dunia pendidikan.

Hal ini dikarenakan, guru berhubungan langsung dengan para siswa. Guru

harus bisa merencanakan suatu pembelajaran matematika yang menarik,

efektif, dan bermakna. Ketika merencanakan pembelajaran, penting untuk

merancang bagaimana siswa akan berpartisipasi dalam belajar. Dalam

kenyataan di lapangan banyak siswa yang masih takut untuk mengekspresikan

diri mereka.

Sebagian guru masih menggunakan paradigma lama dalam mengajar,

yakni mengajar dengan metode ceramah dan mengharap siswa duduk, dengar,

catat, dan hafal, dan menganggap paradigma lama sebagai satu-satunya

alternatif. Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah, kita tidak

bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Teori, penelitian, dan

pelaksanaan kegiatan belajar membuktikan bahwa guru sudah harus


3

mengubah paradigma pengajaran. Strategi yang paling banyak digunakan

untuk mengaktifkan siswa adalah melibatkan siswa dalam diskusi dengan

seluruh kelas. Tetapi, strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru sudah

berusaha dan mendorong siswa untuk berpartisipasi. Kebanyakan siswa

terpaku menjadi penonton sementara arena kelas dikuasai oleh segelintir

siswa.

Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa

sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain.

Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan

mereka mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain.

Berdasarkan hasil penelitian Shofwani (2005), aktivitas siswa selama

pembelajaran dengan metode ekspositori belum memuaskan karena

pembelajaran berlangsung satu arah. Guru tidak mengikutsertakan siswa

dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa takut untuk bertanya atau

masih bingung dengan apa yang akan ditanyakan. Selain itu siswa kurang

berlatih dalam mengembangkan ide-idenya dan kurang berani

mengungkapkan pendapatnya, serta belum mampu berpikir kritis dan

cenderung pasif.

Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk

berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Model

pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa, memanfaatkan seluruh

energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Model pembelajaran

kooperatif membantu siswa belajar setiap mata pelajaran, mulai dari


4

ketrampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Ironisnya,

model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan

walaupun orang indonesia sangat membanggakan sifat gotong-royong dalam

kehidupan bermasyarakat.

Model Pembelajaran Kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu

tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri

siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model Pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share membantu siswa mengintepretasikan ide

mereka bersama dan memperbaiki pemahaman. Model pembelajaran

kooperatis tipe Think-Pair-Share cocok digunakan di SMP karena kondisi

siswa SMP yang masih dalam masa remaja membuat mereka menyukai hal

baru bagi mereka dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan

permasalahan yang mereka hadapi.

Dengan mempertimbangkan permasalahan-permasalahan yang telah

diuraikan diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan

judul:”Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-

Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi empat Pada Siswa

Kelas VII Semester 2”.


5

B. Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Adakah perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang

diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode

ekspositori?

2. Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga

aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan metode

ekspositori?

3. Apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar?

4. Bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif

tipe Think-Pair-Share?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka

tujuan penelitian ini adalah:

1. untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil

belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif

tipe Think-Pair-Share dengan siswa yang diajar dengan metode

ekspositori.
6

2. untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-

rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran menggunakan

metode ekspositori.

3. untuk mengetahui apakah rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share mencapai ketuntasan

belajar.

4. untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa selama diajar dengan

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa

a) Siswa dapat berperan aktif dan berpartisipasi dalam proses belajar

sehingga dapat mengekspresikan ide mereka.

b) Siswa dapat meningkatkan hasil belajar sehingga dapat belajar tuntas.

2. Bagi Guru

Guru dapat memperoleh suatu variasi strategi pembelajaran yang lebih

efektif dalam pembelajaran matematika.

3. Bagi Sekolah

Sekolah secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa

serta memperoleh masukan untuk proses pembelajaran berikutnya.


7

4. Bagi peneliti

Peneliti memperoleh jawaban dari permasalahan yang ada dan pengalaman

langsung menerapkan pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share

pada pembelajaran matematika yang kelak dapat diterapkan saat telah

terjun di lapangan.

E. Penegasan Istilah

Suatu istilah dapat ditafsirkan dengan makna yang berbeda-beda.

Penegasan istilah dalam skripsi ini akan lebih memberikan jawaban yang jelas

tentang permasalahan yang akan dibahas sehingga tidak terjadi

kesalahpahaman dalam penafsiran istilah.

1. Efektivitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti dapat membawa

hasil; berhasil guna (usaha tindakan)(KBBI,1993:219). Dalam konteks

penelitian ini, efektivitas dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai

berikut.

a) Hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik daripada

siswa yang diajar dengan menggunakan metode ekspositori.

b) Hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

mencapai ketuntasan belajar lebih besar atau sama dengan 65 dan

secara klasikal sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di

kelas tersebut.
8

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Model Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem

kerja/ belajar kelompok terstruktur. Lima unsur pokok yang termasuk

dalam struktur ini adalah saling ketergantungan positif, tanggung jawab

individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses

kelompok. Think-Pair-Share merupakan pembelajaran kooperatif dengan

menggunakan pendekatan struktural yang dirancang untuk mempengaruhi

pola interaksi siswa. Pada Think-Pair-Share, guru mengajukan pertanyaan,

siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka

berbagi jawaban dengan pasangannya atau anggota tim lainnya.

3. Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh

dari kegiatan belajar yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share dan metode ekspositori pada sub pokok bahasan

jajargenjang, belah ketupat, dan layang-layang yang ditunjukkan dengan

nilai akhir dari tes evaluasi. Hasil belajar siswa pada penelitian ini meliputi

tiga aspek, yaitu: pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta

pemecahan masalah.

4. Siswa Kelas VII Semester 2

Siswa Kelas VII Semester 2 dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII

semester 2 SMP N 11 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007 yang

merupakan objek dari penelitian ini.


9

5. Segi empat

Segi empat merupakan salah satu materi yang diajarkan pada mata

pelajaran matematika sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan

(KTSP). Pada penelitian ini hanya mengambil sub pokok bahasan

Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang.

Dengan batasan istilah tersebut diatas, judul skripsi ini dimaksudkan

sebagai suatu penelitian atau penyelidikan mengenai keefektifan model

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share untuk mengajarkan sub pokok

bahasan Jajargenjang, Belah Ketupat, dan Layang-layang pada siswa kelas VII

semester 2 SMP N 11 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007.

F. Sistematika Skripsi

Sistematika penulisan tentang keseluruhan skripsi ini terdiri dari

bagian awal skripsi, bagian inti skripsi, dan bagian akhir skripsi.

1. Bagian awal

Bagian awal skripsi meliputi: halaman judul, abstrak, halaman

pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar

lampiran, daftar tabel, dan tabel gambar.

2. Bagian Inti

Bagian inti skripsi terdiri dari lima bab, yaitu:

BAB I Pendahuluan, menemukakan tentang latar belakan,

permasalahan, tujuan, manfaat, penegasan istilah, dan

sistematika penulisan skripsi.


10

BAB II Landasan Teori dan Hipotesis, membahas teori yang melandasi

permasalahan skripsi serta penjelasan yang merupakan

landasan teoritis yang diterapkan dalam skripsi yang terkait

dengan pelaksanaan penelitian dan hipotesis.

BAB III Metode Penelitian, meliputi: metode penentuan objek

penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data,

metode penyusunan instrumen, dan metode analisis data.

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, berisi semua hasil penelitian

yang dilakukan dan pembahasannya.

BAB V Penutup, mengemukakan simpulan hasil penelitian dan saran-

saran yang diberikan peneliti berdasarkan simpulan.

3. Bagian Akhir

Bagian akhir skripsi, meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


11

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Belajar dan Pembelajaran Matematika

a. Pengertian Belajar

Pada umumnya para ahli, baik ahli pendidikan maupun ahli

psikologi mempunyai pendapat yang sama bahwa hasil aktivitas

belajar adalah perubahan, dimana perubahan tersebut terjadi akibat

pengalaman. Banyak ilmuwan yang mengartikan belajar menurut sudut

pandang mereka sendiri. Beberapa pendapat ilmuwan tentang definisi

belajar sebagai suatu perubahan adalah sebagai berikut.

(1) Slameto (2003: 2) menyatakan bahwa,” Belajar ialah suatu proses

usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu

perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

(2) Hudojo (2003: 83) mengartikan bahwa,” Belajar merupakan suatu

proses aktif dalam memperoleh pengalaman/pengetahuan baru

sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku”.

(3) Winkel (dalam Darsono, 2000: 4) mengatakan bahwa,” Belajar

adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam

interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan

dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan, dan nilai-sikap”.


12

Dari pendapat-pendapat para ahli tentang belajar yang telah

dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah

terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar karena pengalaman.

Bahwa perubahan itu terlihat atau tidak, bertahan lama atau tidak,

kearah positif atau negatif.

Adapun beberapa prinsip belajar yang menunjang dan

memudahkan siswa belajar adalah:

(1) Setiap orang mempunyai kemampuan bawaan dalam belajar.

(2) Belajar akan bermanfaat bila siswa memahami manfaatnya.

(3) Belajar akan sia-sia kalau bertentangan dengan atau harus

mengubah kebulatan (integrasi) pribadi.

(4) Proses belajar yang mengganggu integrasi dapat dihilangkan, atau

dikurangi dengan menghilangkan faktor-faktor luar yang

mengganggu integrasi.

(5) Belajar akan berarti jika dilakukan lewat pengalaman sendiri dan

diuji coba sendiri.

(6) Belajar akan berhasil bila siswa berpartisipasi aktif dan disiplin

dalam setiap kegiatan belajar.

(7) Belajar dengan prakarsa sendiri penuh kesadaran dan kemampuan

dapat berlangsung lama dan tuntas.

(8) Kreativitas dan kepercayaan dari orang lain.


13

b. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki

siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Zulaiha

(2006: 19), hasil belajar yang dinilai dalam mata pelajaran matematika

ada tiga aspek. Ketiga aspek itu adalah pemhaman konsep, penalaran

dan komunikasi, serta pemecahan masalah. Ketiga aspek tersebut bisa

dinilai dengan menggunakan penilaian tertulis, penilaian kinerja,

penilaian produk, penilaian proyek, maupun penilaian portofolio.

Adapun kriteria dari ketiga aspek tersebut adalah:

(1) Pemahaman Konsep

(a) Menyatakan ulang sebuah konsep.

(b) Mengklasifikasian objek-objek menurut sifat-sifat tertentu.

(c) Memberi contoh dan non contoh dari konsep.

(d) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi

matematis.

(e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.

(f) Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau

operasi tertentu.

(g) Mengaplikasikan konsep dan algoritma pemecahan masalah.

(2) Penalaran dan Komunikasi

(a) Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis,

gambar, dan diagram.

(b) Mengajukan dugaan.


14

(c) Melakukan manipulasi matematika.

(d) Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau

bukti terhadap kebenaran solusi.

(e) Menarik kesimpulan dari pernyataan.

(f) Memeriksa kesahihan dari argumen.

(g) Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk

membuat generalisasi.

(3) Pemecahan Masalah

(a) Menunjukkan pemahaman masalah

(b) Mengorganisasikan data dan memilih informasi yang relevan

dalam pemecahan masalah.

(c) Menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk.

(d) Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara

tepat.

(e) Mengembangkan strategi pemecahan masalah.

(f) Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu

masalah yang tidak rutin

c. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan

terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang

beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta

antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 2).


15

Banyak para ahli yang mendefinisikan apa itu matematika,

tetapi tidak satupun perumusan yang dapat diterima umum, atau

sekurang-kurangnya dapat diterima dari berbagai sudut pandang. Dari

definisi-definisi yang dirumuskan para ahli, kita dapat menerima

semua definisi tersebut, karena memang matematika dapat ditinjau dari

segala sudut, dan matematika itu sendiri bisa memasuki seluruh segi

kehidupan manusia, dari yang paling sederhana sampai kepada yang

paling kompleks.

Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk

memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang

dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi).

Namun, semua itu harus disesuaikan dengan perkembangan

kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu

kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.

Menurut Suhito (2003: 7), belajar matematika tidak sekedar

learning to know (belajar untuk mengetahui), tetapi harus ditingkatkan

menjadi learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be

(belajar untuk menjiwai), hingga learning to live together (belajar

untuk hidup bersama). Dengan pola belajar yang seperti itu akan

terjadi komunikasi antar sesama siswa, sehingga diharapkan suasana

kelas menjadi hidup karena perasaan siswa menjadi senang.

Prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang berpaham

konstruktivis diantaranya sebagai berikut.


16

(1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal

maupun sosial.

(2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali

hanya dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk bernalar.

(3) Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus sehingga selalu terjadi

perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap,

serta sesuai dengan konsep ilmiah.

(4) Guru sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar

proses konstruksi siswa berjalan mulus.

Beberapa ciri pembelajaran matematika secara konstruktivis,

adalah sebagai berikut.

(1) Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya.

(2) Siswa belajar materi matematika secara bermakna.

(3) Siswa belajar bagaimana belajar itu.

(4) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya

sehingga menyatu dengan skemata yang telah dimiliki siswa.

(5) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan.

(6) Berorientasi pada pemecahan masalah.

Dalam GBPP Matematika dijelaskan bahwa tujuan

pembelajaran matematika di SMP adalah:

(1) siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui

kegiatan matematika,
17

(2) siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai berkat bekal

untuk melanjutkan ke pendidikan menengah,

(3) siswa memiliki ketrampilan matematika sebagai peningkatan dan

perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan

dalam kehidupan sehari-hari.

(4) Siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap

logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan

matematika.

(Suherman, dkk, 2003:58)

Dalam pembelajaran matematika di sekolah perlu

memperhatikan beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran

matematika sekolah yaitu, pembelajaran matematika adalah berjenjang

(bertahap), pembelajaran matematika mengikuti metode spiral,

pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif, dan

pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.

Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah

pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik (lintas topik bahkan

lintas bidang studi jika memungkinkan) tentang materi yang telah

disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi

tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun

diharapkan pula muncul ‘efek iringan’ dari pembelajaran matematika

tersebut. Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah:


18

(1) Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan

topik matematika yang lainnya.

(2) Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi

bidang lainnya.

(3) Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia.

(4) Lebih mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis.

(5) Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah

masalah.

(6) Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.

(Suherman, 2003: 299)

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu

siswa meningkatkan sikap positif dalam matematika. Para siswa secara

individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk

menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi

atau bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika (math

anxiety) yang banyak dialami para siswa (Suherman, 2003).

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa unsur yang harus

diperhatikan agar tujuan pembelajaran kooperatif dapat dicapai, yaitu:

a. siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka

“sehidup sepenanggungan bersama”,


19

b. siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya,

seperti milik mereka sendiri,

c. siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya

memiliki tujuan yang sama,

d. siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara

anggota kelompoknya,

e. siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok,

f. siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan

untuk belajar bersama selama proses belajarnya,

g. siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual

materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai

setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar

akademik, penerimaan terhadap keberagaman, dan pengembangan sosial.

Berdasarkan hasil penelitian Slavin (dalam Muslimin, 2003: 16),

menunjukkan bahwa teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul

dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-

pengalaman belajar individual atau kompetitif. Dari hasil penelitian

Lundgren (dalam Muslimin, 2003: 17), menunjukkan bahwa pembelajaran

kooperatif memiliki dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah

hasil belajarnya.
20

Menurut Sutawijaya (dalam Suhito, 2003: 16), pembelajaran

kooperatif adalah salah satu alternatif yang perlu digalakkan dalam

konstruktivisme, karena pertimbangan sebagai berikut.

a. siswa yang sedang menyelesaikan masalah bersama-sama dengan

teman sekelas, akan dapat menumbuhkan refleksi yang membutuhkan

kesadaran tentang apa yang sedang dipikirkan dan dikerjakan,

b. menjelaskan kepada temannya biasanya mengarah kepada suatu

pemahaman yang lebih jelas dan sering menemukan

ketidakkonsistenan pada pikirannya sendiri.

c. ketika suatu kelompok kecil menerangkan solusinya ke seluruh kelas

(tidak peduli apakah solusi itu cocok atau tidak) kelompok

memperoleh kesempatan berharga untuk mempelajari hasil yang

diperoleh.

d. mengetahui bahwa ada teman sekelompok belum bisa menjawab, akan

meningkatkan gairah setiap anggota kelompok untuk mencoba

menemukan jawabannya.

e. keberhasilan suatu kelompok menemukan suatu jawaban, akan

menumbuhkan motivasi untuk menghadapi masalah baru.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang sesuai untuk

diterapkan pada pelajaran matematika, dimana kegiatan belajar

matematika lebih diarahkan pada kegiatan yang mendorong siswa aktif

menemukan sendiri konsep ketrampilan proses.


21

Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas

Maryland pada tahun 1985. Think-Pair-Share memberikan kepada para

siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama

lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian

pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya

guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara serius mengenai

apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca.

Think-Pair-Share memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri

serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari pembelajaran

ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang

memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk

seluruh kelas, tapi pembelajaran ini memberi kesempatan sedikitnya

delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan

partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2002: 56).

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

adalah sebagai berikut.

a. Langkah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau

isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk

memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.

b. Langkah 2 – Berpasangan (Pairing): Guru meminta para siswa untuk

berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan.

Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika


22

suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika

suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak

lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

c. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada langkah akhir ini guru meminta

pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan

kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.

Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari

pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo

dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk

melapor.

Kagan ( dalam Maesuri, 2002) menyatakan manfaat Think-Pair-

Share sebagai berikut.

a. para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan

tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka

terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang

mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam

pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring

penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi

lebih baik.

b. para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk

berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat

berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa,

dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.


23

3. Metode Ekspositori

Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari

seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara di awal

pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya-jawab

(Suyitno, 2004:4). Metode ini paling banyak digunakan oleh guru dalam

kegiatan pembelajaran matematika di kelas karena dianggap paling

efektif.

Kelebihan dari metode ekspositori adalah:

a. Dapat menampung kelas besar, setiap siswa mempunyai kesempatan

aktif yang sama.

b. Bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru.

c. Guru dapat menentukan terhadap hal-hal yang dianggap penting.

d. Guru dapat memberikan penjelasan-penjelasan secara individual

maupun klasikal.

Kekurangan dari metode ekspositori adalah:

a. Pada metode ini tidak menekankan penonjolan aktivitas fisik seperti

aktivitas mental siswa.

b. Kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan

pelajaran).

c. Pengetahuan yang didapat dengan metode ekspositori cepat hilang.

d. Kepadatan konsep dan aturan-aturan yang diberikan dapat berakibat

siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan.

(Suharyono, 1996).
24

4. Segi empat

Materi segi empat pada Sekolah Menengah Pertama pada kelas VII

semester 2 Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). Standar

kompetensi yang harus dicapai pada materi segiempat adalah memahami

konsep segiempat serta menentukan ukurannya. Pada materi segiempat

terdapat beberapa sub pokok bahasan, yaitu: persegi panjang, persegi,

jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium. Pada penelitian

ini materi yang diambil adalah jajargenjang, belah ketupat, dan layang-

layang.

Materi segi empat merupakan salah satu materi yang dipelajari

dalam pelajaran matematika di semua jenjang pendidikan. Materi ini

sangat penting, karena merupakan dasar dari materi geometri pada

matematika dan dapat digunakan siswa untuk memecahkan masalah yang

berhubungan pada kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini dipilih materi

segi empat dengan sub pokok bahasan jajargenjang, belah ketupat, dan

layang-layang, karena dalam pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-

Share, siswa belajar untuk menemukan sendiri konsep segi empat,

sehingga dengan siswa mengalami sendiri proses menemukan konsep

tersebut diharapkan siswa dapat lebih memahami materi yang berdampak

pada meningkatnya hasil belajar.

a. Jajargenjang

Jajargenjang adalah segiempat yang diperoleh dengan

menggabungkan suatu segitiga dan bayangannya, jika segitiga itu


25

diputar setengah putaran dengan pusat putaran adalah titik tengah salah

satu sisinya.

Adapun sifat-sifat jajargenjang adalah sebagai berikut.

(1) Pada setiap jajargenjang, sisi yang berhadapan sama panjang dan

sejajar.

(2) Pada setiap jajargenjang, sudut-sudut yang berhadapan sama besar.

(3) Pada setiap jajargenjang, jumlah dua sudut yang berdekatan

adalah180° .

(4) Diagonal-diagonal suatu jajargenjang saling membagi dua sama

panjang.

(Junaidi dan Siswono, 2004: 261 – 262)


D C

A B
a

Luas daerah jajargenjang ABCD = 2 × Luas daerah ΔABD

1
= 2× × a×t
2

= a×t

Jadi, luas daerah jajargenjang = a × t .

b. Belah Ketupat

Belah ketupat dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki dan

bayangannya setelah dicerminkan terhadap alasnya (Cholik dan

Sugijono, 2005: 291).


26

Adapun sifat-sifat belah ketupat adalah sebagai berikut.

(1) Semua sisi setiap belah ketupat sama panjang.

(2) Kedua diagonal setiap belah ketupat merupakan sumbu simetri.

(3) Pada setiap belah ketupat, sudut-sudut yang berhadapan sama besar

dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya.

(4) Kedua diagonal setiap belah ketupat saling membagi dua sama

panjang dan saling berpotongan tegak lurus.

(Cholik dan Sugijono, 2005: 292 – 293).

Karena belah ketupat merupakan jajargenjang, maka luas belah ketupat

adalah sebagai berikut.

Luas daerah belah ketupat = a × t


Rumus lain dari luas daerah belah ketupat adalah
A

B D

C
Luas daerah belah ketupat ABCD = Luas ΔABD + Luas ΔBDC

1 1
= × BD × AO + × BD × OC
2 2

1
= × BD × ( AO + OC )
2
27

1
= × BD × AC
2

Karena BD dan AC merupakan diagonal, maka:


1
Luas daerah belah ketupat = = x diagonal x diagonal (lainnya)
2
(Cholik dan Sugijono, 2005: 294).

c. Layang-layang

Layang-layang dibentuk dari gabungan dua segitiga sama kaki

yang panjang alasnya sama dan berimpit.

Adapun sifat layang-layang adalah sebagai berikut.

(1) Pada setiap layang-layang, terdapat sepasang sudut berhadapan

yang sama besar.

(2) Pada setiap layang-layang, salah satu diagonalnya merupakan

sumbu simetri.

(3) Pada setiap layang-layang, salah satu diagonalnya membagi dua

sama panjang diagonal lain dan tegak lurus dengan diagonal itu.
A

B D

C
Luas daerah layang-layang ABCD = Luas ΔABD + Luas ΔBDC

1 1
= × BD× AO + × BD× OC
2 2
28

1
= × BD × ( AO + OC )
2

1
= × BD × AC
2

Karena BD dan AC merupakan diagonal, maka:


1
Luas daerah layang-layang = x diagonal x diagonal (lainnya)
2

B. Kerangka Berpikir

Dalam pembelajaran matematika diperlukan peran aktif siswa.

Berdasarkan teori yang ada, maka salah satu model pembelajaran yang dapat

meningkatkan aktivitas, kemampuan, dan hasil belajar siswa adalah model

pembelajaran kooperatif, dalam hal ini adalah pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share.

Menurut Lundgren (Muslimin, 2000: 18), manfaat pembelajaran

kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah, antara lain

pemahaman yang lebih mendalam, motivasi lebih besar, hasil belajar lebih

tinggi, retensi atau penyimpanan materi lebih lama.

Pembelajaran kooperatif akan membantu siswa dalam membangun

sikap positif terhadap pelajaran matematika. Para siswa secara individu

membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan

masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa

cemas terhadap matematika yang banyak dialami siswa.

Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif

yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa
29

waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu

sama lain. Model pembelajaran tipe ini memberikan kesempatan kepada siswa

untuk mengemukakan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling

tepat, serta mendorong siswa untuk meningkatkan kerjasama antar siswa.

Dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share kemampuan siswa

baik secara individu maupun kelompok dapat berkembang, sedangkan dalam

pembelajaran dengan metode ekspositori menekankan pembelajaran secara

individu dengan guru sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Dengan demikian,

penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share diharapkan lebih

efektif dari pembelajaran dengan metode ekspositori.

Berdasarkan penjelasan diatas, diharapkan dengan diterapkannya

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat mencapai atau

mewujudkan kompetensi yang diharapkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada bagan dalam gambar 1.


30

Pembelajaran matematika dengan materi pokok segi empat

Think-Pair-Share Metode ekspositori


ƒ Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri ƒ Tidak menekankan aktivitas fisik
serta bekerja sama dengan orang lain. ƒ Kegiatan terpusat pada guru
ƒ Optimalisasi partisipasi siswa. ƒ Pengetahuan yang didapat cepat hilang
ƒ Pemahaman yang lebih jelas ƒ Kepadatan konsep dapat berakibat siswa
ƒ Keberhasilan kelompok dalam menemukan tidak menguasai bahan pelajaran.
jawaban dapat menumbuhkan motivasi untuk
menghadapi masalah baru.

Tes Hasil Belajar Tes Hasil Belajar


(Pemahaman Konsep, Penalaran dan (Pemahaman Konsep, Penalaran dan
Komunikasi, Pemecahan Masalah) Komunikasi, Pemecahan Masalah)

Ada Perbedaan Hasil Belajar


(Pemahaman Konsep, Penalaran dan Komunikasi, Pemecahan Masalah)

Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih efektif dari pada


pembelajaran dengan metode ekspositori

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir

C. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang

diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode

ekspositori.
31

2. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga aspek hasil

belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.

3. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar.

4. Aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-

Pair-Share mengalami peningkatan.


32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 11 Semarang

tahun pelajaran 2006/2007, yaitu kelas VIIA, VIIB, VIIC, VIID, VIIE, dan

VIIF.

2. Sampel Penelitian

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode

pengambilan secara cluster random sampling. Hal ini dikarenakan

populasi dianggap homogen karena memperoleh pelajaran yang sama,

menggunakan kurikulum yang sama, diajar guru yang sama, dan tidak ada

kelas unggulan. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIA

sebagai kelompok kontrol dan siswa kelas VIID sebagai kelompok

eksperimen. Banyak siswa pada kelas VIIA adalah 42 orang dan Banyak

siswa pada kelas VIID adalah 41 orang.


33

B. Variabel penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas

Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share dan pembelajaran dengan metode

ekspositori.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam sub

pokok bahasan jajargenjang, belah ketupat, dan layang-layang pada siswa

kelas VII SMP N 11 Semarang.

C. Desain penelitian

Penelitian ini diawali dengan menentukan populasi dan memilih

sampel dari populasi yang ada dengan teknik cluster random sampling.

Sampel diambil dua kelas, yaitu siswa kelas VIIA sebagai kelompok kontrol

dan siswa kelas VIID sebagai kelompok eksperimen. Untuk kelas uji coba

dipilih satu kelas selain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada

kelompok eksperimen diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-

Pair-Share, sedang pada kelompok kontrol diterapkan pembelajaran dengan

metode ekspositori.

Pada akhir pembelajaran dilakukan evaluasi pada kedua kelompok

untuk mengetahui hasil belajar siswa. Data-data yang diperoleh kemudian


34

dianalisis sesuai dengan statistik yang ada. Adapun pola rancangan yang

digunakan adalah sebagai berikut.

Kelompok Perlakuan Tes

Kelompok Eksperimen X Tes

Kelompok Kontrol Y Tes

Keterangan:

X: Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

Y: Pembelajaran dengan metode ekspositori

D. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Metode Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk memperoleh data nama-nama siswa yang

akan menjadi sampel dalam penelitian ini dan untuk memperoleh data nilai

ulangan tengah semester matematika.

2. Metode Tes

Metode ini digunakan untuk megevaluasi hasil belajar siswa setelah proses

pembelajaran. Evaluasi dilakukan pada kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol. Sebelum tes diberikan pada saat evaluasi, terlebih

dahulu tes diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas dari tiap-

tiap butir tes.


35

3. Metode Observasi

Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang memperlihatkan

aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share.

E. Metode penyusunan instrumen

Penyusunan instrumen dapat dilakukan dengan langkah-lagkah sebagai

berikut.

1. menentukan materi tes

2. menentukan bentuk tes

Bentuk tes yang diberikan ada tiga macam. Hal ini disesuaikan dengan

aspek yang dinilai dalam pelajaran matematika. Untuk aspek pemahaman

konsep, bentuk tes yang digunakan adalah pilihan ganda. Untuk aspek

penalaran dan komunikasi, bentuk tes yang digunakan adalah isian

singkat, sedangkan untuk aspek pemecahan menggunakan bentuk tes

berupa soal uraian.

3. menentukan waktu mengerjakan tes

4. membuat kisi-kisi soal

5. membuat perangkat tes, yaitu dengan menulis petunjuk/ pedoman

mengerjakan, menulis butir soal, membuat kunci jawaban, dan penentuan

skor

6. mengujicobakan instrumen
36

7. menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas, reliabilitas, daya beda, dan

tingkat kesukaran

8. memilih butir soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang telah

dilakukan.

F. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen

1. Soal Pilihan Ganda dan Isian Singkat

a. Validitas

Untuk menghitung validitas tiap butir soal digunakan rumus koefisien

korelasi biserial, yaitu:

M p − Mt p
γ pbi = , (Arikunto, 2002:79)
St q

dimana
γ pbi = koefisien korelasi biserial

Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang

dicari validitasnya.

Mt = rerata skor total

St = standar deviasi dari skor total

p = proporsi siswa yang menjawab benar

q = proporsi siswa yang menjawab salah

Apabila didalam perhitungan didapat rhitung > rkritik, maka butir soal

tersebut valid.
37

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan dengan N = 40 dan

taraf signifikan 5%, diperoleh rkritik = 0,312, sehingga butir soal

dikatakan valid jika rhitung > rkritik = 0, 312. Dari hasil uji coba 20 soal,

yang termasuk kategori valid adalah butir soal nomor 1, 2, 3, 7, 9, 11,

13, 14, 16, 18, 19, 20.

Perhitungan analisis uji coba validitas dapat dilihat pada lampiran 8

dan lampiran 9.

b. Reliabilitas

Untuk menghitung reliabilitas soal digunakan rumus KR. 20, yaitu:

⎛ k ⎞⎛⎜ S − ∑ pq ⎞⎟
2

r11 = ⎜ ⎟ , (Arikunto, 2002: 100)


⎝ k − 1 ⎠⎜⎝ S2 ⎟

dimana

r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan

k = banyaknya item

S2 = standar deviasi dari tes

p = proporsi siswa yang menjawab benar

q = proporsi siswa yang menjawab salah

∑ p.q = jumlah hasil perkalian p dan q

Jika r11 > rtabel, maka tes tersebut reliabel. Dari perhitungan hasil uji

coba didapat r11 = 0,678. Dengan taraf signifikan 5% dan N = 40 dan k

= 20, diperoleh rtabel = 0,312. Karena r11 > rtabel, maka soal uji coba

tersebut reliabel.
38

Perhitungan analisis uji coba validitas dapat dilihat pada lampiran 8

dan lampiran 12.

c. Daya Beda

Teknik yang digunakan untuk menghitung daya beda adalah dengan

menghitung indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan adalah:

B A BB
D= − = PA − PB , (Arikunto, 2002: 213)
JA JB

dimana

D = indeks diskriminasi

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu


B

dengan benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu


B

dengan benar

PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan

benar

PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu

dengan benar

Dengan kriteria:

0,00 ≤ D < 0,20 = daya beda jelek

0,20 ≤ D < 0,40 = daya beda cukup

0,40 ≤ D < 0,70 = daya beda baik


39

0,70 ≤ D < 1,00 = daya beda baik sekali

Dari hasil analisis terlihat bahwa dari 20 butir soal yang diuji cobakan,

yang termasuk dalam kategori:

1) Jelek = 4, 5, 6, 8, 10, 12, 17.

2) Cukup = 1, 3, 7, 9, 11, 13, 15, 16, 18.

3) Baik = 2, 14, 19, 20.

Perhitungan analisis daya beda butir soal dapat dilihat pada lampiran 8

dan lampiran 10.

d. Taraf Kesukaran

Rumus yang digunakan adalah:

B
P= , (Arikunto, 2002: 208)
JS

dimana

P = indeks kesukaran

B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul

JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

Dari analisis hasil uji, yang termasuk dalam kategori:

1) Mudah adalah 4, 6, 8, 12.

2) Sedang adalah 1, 2, 3, 5, 7, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20.

3) Sukar adalah 17.

Perhitungan analisis taraf kesukaran dapat dilihat pada lampiran 8 dan

lampiran 11.

Dari hasil analisis tersebut terlihat bahwa 12 butir soal dari

20 butir soal yang diujicobakan layak untuk dipakai yaitu dengan


40

kriteria valid dan mempunyai daya pembeda yang tidak jelek, maka

soal tersebut dapat digunakan. Soal yang digunakan dalam penelitian

ini adalah soal nomor 1, 2, 3, 7, 9, 11, 13, 14, 16, 18, 19, dan 20.

2. Soal Uraian

a. Validitas

Untuk menghitung validitas tiap butir soal digunakan rumus

product moment, yaitu:

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
rxy = , (Arikunto, 2002: 81)
{N ∑ X 2 2
}{
− (∑ X ) N ∑ Y − (∑ Y )
2 2
}
dengan

rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y , dua

variabel yang dikorelasikan.

N = banyaknya peserta tes

X = jumlah skor item

Y = jumlah skor total

Apabila didalam perhitungan didapat rhitung > rtabel, maka butir

soal tersebut valid. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan

dengan N = 40 dan taraf signifikan 5%, diperoleh rtabel = 0,312,

sehingga butir soal dikatakan valid jika rhitung > rtabel = 0,312.

Dari hasil uji coba 3 soal, yang termasuk kategori valid adalah

butir soal nomor 1, 2, dan 3.

Perhitungan analisis uji coba validitas soal dapat dilihat pada

lampiran 13 dan 14.


41

b. Reliabilitas

Karena tes yang dilakukan merupakan tes bentuk uraian maka

rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas soal adalah rumus

alpha, yaitu:

⎡ n ⎤ ⎡ ∑σ x ⎤
2

rxx = ⎢ ⎢1 − ⎥ , (Arikunto, 2002: 109)


⎣ n − 1⎥⎦ ⎣⎢ σ x2 ⎦⎥

dengan

rxx = reliabilitas yang dicari

∑σ 2
x = jumlah varians skor tiap-tiap item

σ x2 = varians total

rumus varians:

( X)
∑ X − ∑N
2
2

σ2 = ,
N

Nilai rxx yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan r

product moment pada tabel dengan ketentuan jika rxx > rtabel maka tes

tersebut reliabel.

Soal uji coba yang diberikan sebanyak 3 butir. Dari

perhitungan uji coba didapat rxx adalah 0, 782. Dengan α = 5 %, N =

40 dan k = 3. diperoleh rtabel = 0, 312. Karena rxx > rtabel, maka dapat

disimpulkan bahwa soal uji coba tersebut reliabel. Perhitungan analisis

uji coba reliabilitas soal dapat dilihat pada lampiran 13 dan 17.
42

c. Daya Beda

Teknik yang digunakan untuk menghitung daya pembeda bagi

tes bentuk uraian adalah dengan menghitung perbedaan dua buah rata-

rata (mean) yaitu antara rata-rata dari kelompok atas dengan rata-rata

dari kelompok bawah untuk tiap-tiap item. Rumus yang digunakan

adalah:

t=
(MH − ML ) , (Arifin, 1991: 141)
⎛ ∑ X12 + ∑ X 22 ⎞
⎜ ⎟
⎜ ni (ni - 1) ⎟
⎝ ⎠

dengan

t = daya pembeda

MH = rata- rata dari kelompok atas

ML = rata- rata dari kelompok bawah

∑X 2
1 = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas

∑X 2
2
= jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah

Ni = 27% x N , dengan N adalah jumlah peserta tes.

Df = (n1 - 1) + (n2 – 1), α = 5%

Dengan kriteria soal memiliki daya beda yang signifikan apabila t >

ttabel. Dari hasil uji coba diperoleh soal yang signifikan adalah soal

nomor 1, 2 dan 3.

Perhitungan analisis uji coba tes selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 13 dan 15.


43

d. Taraf Kesukaran

Teknik perhitungan taraf kesukaran adalah dengan menghitung

berapa persen testi yang gagal menjawab benar atau ada di bawah

batas lulus (passing grade) untuk tiap-tiap item. Untuk

menginterpretasikan nilai taraf kesukaran itemnya dapat digunakan

tolak ukur sebagai berikut,

- Jika jumlah testi yang gagal mencapai 27%, termasuk mudah.

- Jika jumlah testi yang gagal antara 28% sampai dengan 72%,

termasuk sedang.

- Jika jumlah testi yang gagal 72% ke atas, termasuk sukar.

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

TG
TK = x 100%, (Arifin, 1991: 135)
N

dengan

TK = taraf kesukaran

TG = banyaknya testi yang gagal

N = banyaknya siswa

Dari hasil uji coba, 3 butir soal termasuk dalam kategori sedang.

Perhitungan analisis taraf kesukaran butir soal dapat dilihat pada

lampiran 13 dan 16.

Dari hasil analisis tersebut terlihat bahwa 3 butir soal dari 3

butir soal yang diujicobakan layak untuk dipakai yaitu dengan kriteria

valid dan mempunyai daya pembeda yang signifikan sehingga soal


44

tersebut dapat digunakan. Soal yang digunakan dalam penelitian ini

adalah soal nomor 1, 2, dan 3.

G. Analisis Data

Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis dari penelitian dan dari

hasil analisis ditarik kesimpulan. Analisis dalam penelitian ini dibagi dalam

dua tahap, yaitu tahap awal yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel

berangkat dari titik tolak yang sama dan tahap akhir, yang merupakan tahap

analisis data untuk menguji hipotesis penelitian.

1. Analisis Data Awal

Analisis data awal ini dilakukan berdasarkan data nilai matematika

ujian tengah semester 2.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menentukan statistik yang akan

digunakan dalam mengolah data, yang paling penting adalah untuk

menentukan apakah menggunakan statistik parametrik atau non

parametrik.

Untuk menguji normalitas data sampel yang diperoleh yaitu

nilai matematika ujian tengah semester 2, dapat digunakan uji Chi-

Kuadrat.

Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut:

1) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.


45

2) Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.

3) Menghitung rata-rata dan simpangan baku.

4) Membuat tabulasi data kedalam interval kelas.

5) Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus:

Xi − X
Zi = ,
S

dimana S adalah simpangan baku dan X adalah rata-rata sampel

(Sudjana, 1996: 138).

6) Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan

menggunakan tabel.

7) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva

χ =∑
2
K
(Oi − Ei )2 ,
Ei Ei

dengan

χ2 = Chi–kuadrat

Oi = frekuensi pengamatan

Ei = frekuensi yang diharapkan

8) Membandingkan harga Chi–kuadrat dengan tabel Chi–kuadrat

dengan taraf signifikan 5%.

9) Menarik kesimpulan, jika χ 2 hitung < χ 2 tabel , maka data berdistribusi

normal (Sudjana, 1996: 273).


46

Dari hasil perhitungan pada lampiran didapat:

a) Untuk kelompok eksperimen

(1) Aspek Pemahaman Konsep

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 1,9395.

Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =

4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho

berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi

normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

29.

(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 2,1577.

Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =

4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho

berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi

normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

30.

(3) Aspek Pemecahan Masalah

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 4,7199.

Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =

4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho

berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi


47

normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

31.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data

kondisi awal kelompok eksperimen berdistribusi normal.

b) Untuk kelompok kontrol

(1) Aspek Pemahaman Konsep

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 5,3827.

Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 7,815 dengan n =

3 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho

berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi

normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

32.

(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 1,0721.

Sedangkan pada tabel diperoleh nilai χ 2 tabel = 9,488 dengan n =

4 dan taraf nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho

berada pada daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi

normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran

33.

(3) Aspek Pemecahan Masalah

Dari hasil perhitungan diperoleh χ 2 hitung = 4,7890.

Sedangkan pada tabel nilai χ 2 = 7,815 dengan n = 3 dan taraf


48

nyata α = 0,05. Karena χ 2 hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada

daerah penerimaan, sehingga data berdistribusi normal.

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 34.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data

kondisi awal kelompok kontrol berdistribusi normal.

b. Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)

Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa

sampel penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen. Uji

homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel

mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan

dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut:

Ho = sampel homogen

Ha = sampel tidak homogen

Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus sebagai

berikut:

Varians terbesar
Fhitung = , (Sudjana, 1996: 250)
Varians terkecil

untuk menguji apakah kedua varians tersebut sama atau tidak maka

Fhitung dikonsultasikan dengan Ftabel dengan α = 5 % dengan dk

pembilang = banyaknya data terbesar dikurangi satu dan dk penyebut =

banyaknya data yang terkecil dikurangi satu. Jika Fhitung < Ftabel maka

Ho diterima. Yang berarti kedua kelompok tersebut mempunyai varians

yang sama atau dikatakan homogen.


49

(1) Aspek Pemahaman Konsep

2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 320,49 dan s 2 = 305,23

diperoleh F = 1,05 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =

40, derajat kebebasan untuk penyebut = 41, dan α = 0,05. Dari

daftar F diperoleh F(0,025)(40,41) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho

diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua

kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 35.

(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 208,61 dan s 2 = 192,27

diperoleh F = 1,08 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =

41, derajat kebebasan untuk penyebut = 40, dan α = 0,05. Dari

daftar F diperoleh F(0,025)(41,40) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho

diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua

kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 36.

(3) Aspek Pemecahan Masalah

2 2
Dari hasil perhitungan didapat s1 = 290,53 dan s 2 = 228,87

diperoleh F = 1,27 dengan derajat kebebasan untuk pembilang =

41, derajat kebebasan untuk penyebut = 40, dan α = 0,05. Dari

daftar F diperoleh F(0,025)(41,40) = 1,87. Jelas Fhitung < Ftabel, maka Ho

diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians antara kedua


50

kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 37.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa sampel

penelitian homogen.

c. Uji Kesamaan Rata-Rata

Analisis data dengan uji t digunakan untuk menguji hipotesis:

Ho: μ1 = μ 2

Ha: μ1 ≠ μ 2 ,

μ1 = rata-rata nilai matematika kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata nilai matematika kelompok kontrol,

maka untuk menguji hipotesis digunakan rumus:

t=
x1 − x 2
dengan s 2 =
(n1 − 1)s12 + (n 2 − 1)s 2 2 ,
1 1 n1 + n 2 − 2
s +
n1 n 2

(Sudjana, 1996: 239)

dengan

x 1 = nilai matematika ujian tengah semester 2 kelompok eksperimen

x 2 = nilai matematika ujian tengah semester 2 kelompok kontrol

n1 = banyaknya subyek kelompok eksperimen

n2 = banyaknya subyek kelompok kontrol

s1 = simpangan baku kelompok eksperimen

s 2 = simpangan baku kelompok kontrol

s = simpangan baku gabungan.


51

Dengan kriteria pengujian: terima Ho jika – ttabel < thitung < ttabel dengan

derajat kebebasan d(k) = n1 + n2 – 2 dan tolak Ho untuk harga t

lainnya.

(1) Aspek Pemahaman Konsep

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = - 0,27. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah

penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-

rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 38.

(2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = - 0,26. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah

penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-

rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 39.

(3) Aspek Pemecahan Masalah

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = -1,85. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena – ttabel < thitung < ttabel maka Ho berada pada daerah

penerimaan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-


52

rata yang signifikan. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 40.

Dari analisis ketiga aspek, dapat disimpulkan bahwa tidak ada

perbedaan rata-rata yang signifikan antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol.

2. Analisis Data Akhir

Setelah semua perlakuan berakhir kemudian diberi tes. Data yang

diperoleh dari hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mengetahui

apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis yang diharapkan.

a. Uji Normalitas

Langkah-langkah pengujian normalitas sama dengan langkah-langkah

uji normalitas pada analisis data awal.

b. Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)

Langkah-langkah pengujian homogenitas sama dengan langkah-

langkah uji homogenitas pada analisis data awal.

c. Uji Hipotesis

Langkah terakhir dari analisis data adalah pengujian hipotesis. Uji

hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata dua pihak, uji

perbedaan rata-rata satu pihak yaitu uji pihak kanan, dan uji

ketuntasan belajar yang selanjutnya digunakan untuk menentukan

keefektifan perlakuan.
53

1) Uji Perbedaan Dua Rata-rata Dua Pihak

Hipotesis yang akan diuji adalah:

Ho: μ1 = μ 2

Ha: μ1 ≠ μ 2

dimana

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol

Untuk menguji hipotesis digunakan rumus:

t=
x1 − x 2
dengan s 2
=
(n1 − 1)s1 + (n 2 − 1)s 2
2 2
,
1 1 n1 + n 2 − 2
s +
n1 n 2

(Sudjana, 1996: 239)

dengan

x1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen

x2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok kontrol

n1 = banyaknya subyek kelompok eksperimen

n2 = banyaknya subyek kelompok kontrol

s1 = simpangan baku kelompok eksperimen

s2 = simpangan baku kelompok kontrol

s = simpangan baku gabungan.

Dengan kriteria pengujian: terima Ho jika – ttabel < thitung < ttabel

dengan derajat kebebasan d(k) = n1 + n2 – 2 dan tolak Ho untuk

harga t lainnya.
54

2) Uji Perbedaan Dua Rata-rata Satu Pihak: Uji Pihak Kanan

Hipotesis yang akan diuji adalah:

Ho: μ1 ≤ μ 2

Ha: μ1 > μ 2

dimana

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol

Uji perbedaan rata-rata dilakukan dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

(a) Jika σ 1 ≠ σ 2
2 2

x1 − x 2
t' =
⎛ s1 2 ⎞ ⎛ s22 ⎞
⎜ ⎟+⎜ ⎟
⎜n ⎟ ⎜n ⎟
⎝ 1 ⎠ ⎝ 2 ⎠

keterangan:

x 1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen

x 2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol

n1 = banyaknya siswa kelas eksperimen

n 2 = banyaknya siswa kelas kontrol

2
s1 = varians kelompok eksperimen

2
s 2 = varians kelompok kontrol

w1t1 + w2 t 2
Kriteria pengujian: terima Ho jika t ' ≥
w2 + w2
55

dengan

2 2
s1 s
w1 = , w2 = 2 , t1 = t (1− 1 α ),(n −1) ,dan t 1 = t (1 − 1
α ), (n −1 )
n1 n2 2 1 2

(Sudjana, 1996: 241).

(b) Jika σ 12 = σ 2 2

x1 − x 2
t= ,
⎛1 1 ⎞
s ⎜⎜ + ⎟⎟
⎝ n1 n2 ⎠

dengan s 2
=
(n1 − 1) s1 + (n 2 − 1) s 2
2 2
,
n1 + n 2 − 2

dimana

x 1 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen

x 2 = rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol

n1 = banyaknya siswa kelas eksperimen

n 2 = banyaknya siswa kelas kontrol

2
s1 = varians kelompok eksperimen

2
s 2 = varians kelompok kontrol

s 2 = varians gabungan

dengan dk = (n1 + n 2 − 2 ) , kriteria pengujiannya adalah Ho

ditolak jika t (hitung ) ≥ t ( tabel ) dengan menentukan taraf signifikan

α = 5%, peluang (1- α ) (Sudjana, 1996: 243).


56

3) Uji Ketuntasan Belajar

Belajar dikatakan tuntas jika memenuhi syarat ketuntasan belajar

yaitu jika rata–rata hasil belajar siswa mencapai minimal 65

(Mulyasa, 2003).

Hipotesis yang akan diuji adalah:

Ho: μ1 ≤ 65

Ha: μ1 > 65

dimana

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.

Rumus yang digunakan adalah:

x −μ 0
t= ,
S
n

dengan

x = rata-rata hasil belajar

S = simpangan baku

n = banyak siswa

Dengan uji pihak kanan, kriteria yang digunakan adalah Ho ditolak

jika t hitung > t (1− α )(n −1) (Sudjana, 1996: 227).


57

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil studi

lapangan untuk memperoleh data dengan teknik tes setelah dilakukan suatu

pembelajaran yang berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar

matematika pada sub pokok bahasan Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-

layang pada siswa kelas VII SMP N 11 Semarang, dimana hasil belajar

matematika mencakup tiga aspek, yaitu pemahaman konsep, penalaran dan

komunikasi, serta pemecahan masalah. Sebagai kelompok eksperimen adalah

siswa kelas VIID dan sebagai kelompok kontrol adalah siswa kelas VIIA.

1. Pelaksanaan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan

pada bulan Mei 2007, pada siswa kelas VIIA dan kelas VIID SMP N 11

Semarang. Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu

menentukan materi dan menyusun rencana pembelajaran, menyusun tes

hasil belajar, dan lembar observasi aktivitas siswa untuk mengetahui

keaktifan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Materi pokok yang

diambil adalah Segi empat, sedangkan dalam penelitian ini diambil sub

materi, yaitu Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang.


58

Model pembelajaran yang digunakan pada kelompok kontrol

adalah pembelajaran dengan metode ekspositori, sedangkan model

pembelajaran yang digunakan pada kelompok eksperimen adalah model

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Pelaksanaan pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share terdiri atas 3 langkah, yaitu: guru

mengajukan pertanyaan atau permasalahan yang terkait dengan pelajaran

dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau permasalahan

itu secara mandiri, guru meminta para siswa untuk berpasangan dan

mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan, dan guru meminta

pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas

secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.

2. Hasil Uji Normalitas

a. Untuk Kelompok Eksperimen

1) Aspek Pemahaman Konsep

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

79,88; simpangan baku = 18,72; nilai tertinggi = 100; nilai

terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval

= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,8304. Dengan banyaknya data adalah 41

dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.

Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,

sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 42.


59

2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

73,41; simpangan baku = 21,39; nilai tertinggi = 100; nilai

terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval

= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,3284. Dengan banyaknya data adalah 41

dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.

Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,

sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 50.

3) Aspek Pemecahan Masalah

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

73,00; simpangan baku = 22,60; nilai tertinggi = 100; nilai

terendah = 13,3; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas

interval = 13 diperoleh χ 2hitung = 8,2457. Dengan banyaknya data

adalah 41 dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel =

9,488. Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah

penerimaan, sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 58.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data hasil

belajar kelompok eksperimen berdistribusi normal.


60

b. Untuk kelompok Kontrol

1) Aspek Pemahaman Konsep

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

71,43; simpangan baku = 19,58; nilai tertinggi = 100; nilai

terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval

= 11 diperoleh χ 2hitung = 4,5934. Dengan banyaknya data adalah 41

dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.

Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,

sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 43.

2) Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

60,54; simpangan baku = 23,88; nilai tertinggi = 100; nilai

terendah = 25; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas interval

= 11 diperoleh χ 2hitung = 6,9947. Dengan banyaknya data adalah 41

dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel = 9,488.

Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah penerimaan,

sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 51.

3) Aspek Pemecahan Masalah

Dari hasil perhitungan setelah perlakuan diperoleh mean =

54,21; simpangan baku = 17,40; nilai tertinggi = 100; nilai


61

terendah = 16,7; banyak kelas interval = 7, dan panjang kelas

interval = 12 diperoleh χ 2hitung = 5,4926. Dengan banyaknya data

adalah 41 dan dk = 4 serta taraf nyata α = 0,05, diperoleh χ 2tabel =

9,488. Karena χ 2hitung < χ 2 tabel maka Ho berada pada daerah

penerimaan, sehingga data berdistribusi normal. Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 59.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa data hasil

belajar kelompok kontrol berdistribusi normal.

3. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)

a. Aspek Pemahaman Konsep

Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians

= 350,6098 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh

varians = 384,8178. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,098.

Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 41 serta

dk penyebut = 40, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,098< Ftabel

= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians

antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 44.

b. Aspek Penalaran dan Komunikasi

Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians

= 457,4238 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh

varians = 570,2853. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,247.

Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 41 serta


62

dk penyebut = 40, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,247< Ftabel

= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians

antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 52.

c. Aspek Pemecahan Masalah

Dari perhitungan data kelompok eksperimen diperoleh varians

= 510,5382 dan dari perhitungan data kelompok kontrol diperoleh

varians = 302,8528. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,686.

Dari tabel F dengan taraf nyata α = 0,05 dan dk pembilang = 40 serta

dk penyebut = 41, diperoleh Ftabel = 1,87. Karena Fhitung = 1,686< Ftabel

= 1,87, maka Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan varians

antara kedua kelompok tersebut atau kedua kelompok homogen.

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 60.

Dari analisis ketiga aspek diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil

belajar kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan atau homogen.

4. Uji Perbedaan Dua Rata-rata: Uji Dua Pihak

Untuk menguji ada tidaknya perbedaan rata-rata hasil belajar

antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol digunakan uji t dua

pihak.

a. Aspek Pemahaman Konsep

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.


63

Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol)

Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol)

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 2,078. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa

terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 45.

b. Aspek Penalaran dan Komunikasi

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.

Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

penalaran dan komunikasi antara kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol)

Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

penalaran dan komunikasi antara kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol)


64

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 2,584. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa

terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 53.

c. Aspek Pemecahan Masalah

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.

Ho: μ 1 = μ 2 (Tidak terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol)

Ha: μ 1 ≠ μ 2 (Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar aspek

pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol)

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 4,251. Sedangkan

dengan dk = 81 dan taraf nyata α = 0,05 didapat nilai ttabel = 1,99.

Karena thitung > ttabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa

terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan antara


65

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 61.

Dari analisis ketiga aspek hasil belajar diatas, dapat disimpulkan

bahwa terdapat perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar yang

signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

5. Uji Perbedaan Dua Rata-rata: Uji Pihak Kanan

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa data hasil belajar

matematika siswa kelas VIIA dan VIID berdistribusi normal dan

homogen. Untuk menguji perbedaan dua rata-rata antara kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol digunakan uji t satu pihak yaitu pihak

kanan.

a. Aspek Pemahaman Konsep

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:

Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan

rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

kelompok kontrol)

Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata

hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok

kontrol)

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.


66

Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =

79,88 dan rata-rata kelompok kontrol = 71,13, dengan n1 = 41 dan n2 =

42 diperoleh thitung = 2,078. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =

81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha

diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang

dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari

rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep dengan metode

ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 46.

b. Aspek Penalaran dan Komunikasi

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:

Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi

kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan

rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

kelompok kontrol)

Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi

kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata

hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok

kontrol)

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol,

Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =

73,41 dan rata-rata kelompok kontrol = 60,54, dengan n1 = 41 dan n2 =


67

42 diperoleh thitung = 2,584. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =

81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha

diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan

komunikasi pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-

layang dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih

baik dari rata-rata hasil belajar aspek penalaran dan komunikasi

dengan metode ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat

pada lampiran 54.

c. Aspek Pemecahan Masalah

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:

Ho: μ 1 ≤ μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah

kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan

rata-rata hasil belajar aspek pemahaman konsep

kelompok kontrol)

Ha: μ 1 > μ 2 (Rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah

kelompok eksperimen lebih baik dari pada rata-rata

hasil belajar aspek pemahaman konsep kelompok

kontrol)

μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol,

Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelompok eksperimen =

73,00 dan rata-rata kelompok kontrol = 54,21, dengan n1 = 41 dan n2 =

42 diperoleh thitung = 4,251. Dengan α = 0,05 dan dk = 41 + 42 – 2 =


68

81, diperoleh ttabel = 1,66. Karena thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha

diterima, yang berarti rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah

pada sub materi Jajargenjang, Belah ketupat, dan Layang-layang

dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share lebih baik dari

rata-rata hasil belajar aspek pemecahan masalah dengan metode

ekspositori. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 62.

6. Uji Ketuntasan Hasil Belajar

a. Aspek Pemahaman Konsep

Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek pemahaman

konsep diperoleh thitung = 5,09. Dengan kriteria pengujian pihak kanan,

untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68. Karena

thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar

aspek pemahaman konsep kelompok eksperimen ≥ 65, sehingga dapat

disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar.

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 47.

b. Aspek Penalaran dan Komunikasi

Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek penalaran dan

komunikasi diperoleh thitung = 2,52. Dengan kriteria pengujian pihak

kanan, untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68.

Karena thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil

belajar aspek penalaran dan komunikasi kelompok eksperimen ≥ 65,

sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan

belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 55.


69

c. Aspek Pemecahan Masalah

Hasil perhitungan ketuntasan hasil belajar aspek pemecahan

masalah diperoleh thitung = 2,27. Dengan kriteria pengujian pihak

kanan, untuk α = 0,05 dan dk = 41 -1 = 40, diperoleh t(0,95)(40) = 1,68.

Karena thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil

belajar aspek pemecahan masalah kelompok eksperimen ≥ 65,

sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan

belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 63.

Dari analisis ketiga aspek diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

kelompok eksperimen telah mencapai ketuntasan belajar.

7. Hasil Observasi Aktivitas Siswa

Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada kelompok

eksperimen selama proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut.

Pada pembelajaran I, persentase aktivitas siswa sebesar 62,5%, aktivitas

siswa masih rendah. Hal ini disebabkan karena siswa masih bingung dan

belum terbiasa dengan pembelajaran yang diterapkan, sehingga masih

banyak siswa yang bertanya dan menimbulkan kegaduhan. Persentase

aktivitas siswa pada pembelajaran II sebesar 79,17%, mengalami

peningkatan 16,67%. Sedang pada pembelajaran III, persentase aktivitas

siswa sebesar 81,25%, mengalami peningkatan sebesar 2,08%. Untuk

selengkapnya perkembangan aktivitas siswa dapat dilihat pada lampiran


70

21, 24, 27. Dan grafik perkembangan aktivitas siswa dapat dilihat pada

lampiran 28.

B. Pembahasan

Pada penelitian ini sampel terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis data kondisi

awal, diperoleh bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan berangkat

dari keadaan yang sama atau homogen. Berdasarkan hasil tersebut, pada kedua

kelompok dapat dilakukan penelitian. Kedua kelompok diberi perlakuan yang

berbeda, dimana kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share. Sedangkan pada kelompok kontrol diberi

perlakuan dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.

1. Proses Pembelajaran Kelompok Eksperimen

Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan

pembelajaran koopertif tipe Think-Pair-Share yaitu guru mengajukan

pertanyaan atau permasalahan kepada siswa dan memberikan kesempatan

kepada para siswa untuk berpikir dan merespon serta saling membantu

satu sama lain. Pada awal pelajaran guru menjelaskan terlebih dahulu

tujuan dan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang

akan diterapkan serta memberikan motivasi kepada siswa. Kemudian guru

memberikan apersepsi dan dengan metode ceramah dan tanya jawab guru

menerangkan materi yang dipelajari (terbatas) dengan menggunakan

lembar kerja siswa. Disela-sela menerangkan materi guru dapat


71

memberikan pertanyaan atau permasalahan secara klasikal yang terdapat

pada lembar kerja siswa, setelah itu guru melakukan langkah-langkah

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.

Berdasarkan hasil observasi mengenai aktivitas siswa pada

pembelajaran I menunjukkan bahwa persentase aktivitas siswa sebesar

62,5%. Pada pembelajaran I, aktivitas siswa masih belum maksimal. Hal

ini disebabkan masih terdapat beberapa kekurangan selama proses

pembelajaran antara lain sebagai berikut: siswa belum terbiasa dengan

model pembelajaran yang diterapkan sehingga siswa masih banyak yang

pasif dalam kelompoknya, ada beberapa siswa yang masih kesulitan dalam

bekerja sama dan bertukar pendapat, masih terdapat beberapa kelompok

yang belum memahami tugasnya sehingga banyak siswa yang bertanya

dan bercerita sendiri, akibatnya menimbulkan kegaduhan di kelas. Siswa

masih belum menunjukkan partisipasi untuk bertanya dan dalam

menyampaikan hasil diskusi kelompok belum disajikan dengan baik

sehingga belum terlalu dimengerti oleh teman sekelasnya. Pelaksanaan

pembelajaran pada pertemuan I belum dilaksanakan dengan baik, sehingga

masih perlu diperbaiki agar siswa dapat berpartisipasi secara optimal yang

dapat berakibat meningkatnya hasil belajar.

Pada pembelajaran II, persentase aktivitas siswa sebesar 79,17%.

Persentase aktivitas siswa selama pembelajaran I dan pembelajaran II

mengalami peningkatan sebesar 16,67%. Hal ini menunjukkan

peningkatan aktivitas siswa. Peningkatan aktivitas siswa terjadi karena


72

siswa sudah mulai mengenal pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-

Share. Hal ini juga disebabkan karena langkah-langkah dalam

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share menuntut siswa bekerja

secara individu dan melakukan interaksi dengan siswa lain serta

berpartisipasi dalam pembelajaran.

Pada pembelajaran III, persentase aktivitas siswa sebesar 81,25%.

Pada pembelajaran III ini, persentase aktivitas siswa mengalami

peningkatan 2,08% dari pembelajaran II. Pada pembelajaran III sudah

berlangsung dengan baik. Siswa sudah mampu untuk berpartisipasi secara

optimal dalam pembelajaran. Siswa sudah mampu bekerja sama dalam

kelompok, menyampaikan pendapatnya, dan mampu menampilkan hasil

diskusinya dengan baik sehingga dapat dimengerti oleh siswa lain.

Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pertemuan-

pertemuan sebelumnya, karena siswa mulai terbiasa dengan model

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Peningkatan aktivitas

siswa ini juga menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap

pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share semakin baik.

2. Proses Pembelajaran Kelompok Kontrol

Pembelajaran yang diterapkan pada kelompok kontrol adalah

pembelajaran dengan metode ekspositori. Dalam pembelajaran dengan

metode ekspositori menjelaskan materi secara terurut kemudian siswa

diberi waktu untuk mencatat. Setelah itu, guru memberikan beberapa

contoh soal di papan tulis. Selanjutnya guru memberikan soal latihan


73

untuk dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan soal, beberapa siswa

diminta mengerjakan soal latihan tersebut di papan tulis. Guru

memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal

yang belum dipahami. Diakhir pembelajaran, guru menegaskan kembali

tentang materi yang dipelajari, kemudian memberi beberapa tugas rumah

kepada siswa.

Pada pembelajaran dengan metode ekspositori, awalnya membuat

siswa lebih tenang karena pusat kendali berada ditangan guru. Siswa

duduk memperhatikan guru menerangkan materi pelajaran. Hal ini

menyebabkan guru kurang memahami pemahaman siswa, karena siswa

yang sudah paham dan yang belum paham hanya diam saja. Siswa yang

belum paham biasanya tidak berani atau malu untuk bertanya secara

langsung kepada guru. Siswa juga merasa bosan dengan pembelajaran

yang monoton sehingga lebih suka bercerita dengan temannya dari pada

memperhatikan penjelasan dari guru.

Permasalahan lain yang dihadapi oleh siswa adalah kemampuan

siswa dalam memahami dan memecahkan masalah. Dalam pembelajaran

dengan metode ekspositori tidak ada model kerja kelompok, sehingga

apabila ada soal atau permasalahan siswa harus bisa mengerti, memahami,

dan memecahkan soal atau permasalahan itu secara individual. Hal ini

akan menyita banyak waktu, karena dalam setiap kelas kemampuan setiap

siswa sangat heterogen sehingga jika pembelajaran ini terus berlanjut

tanpa adanya variasi, maka tujuan pembelajaran tidak tercapai, sehingga


74

hasil belajar siswa tidak akan meningkat. Oleh karena itu, guru diharapkan

dapat memberikan variasi model pembelajaran dalam mengajar.

Berdasarkan analisis hasil penelitian, kita ketahui bahwa ketiga aspek

hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari ketiga aspek hasil belajar

kelompok kontrol. Hal ini disebabkan karena kedua kelompok diberikan

perlakuan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen dengan menggunakan

pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share, sedangkan pada kelompok kontrol

menggunakan pembelajaran dengan metode ekspositori.

Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share menganut

sistem gotong royong yang mencegah terjadinya keagresifan dalam sistem

kompetisi dan keterasingan dalam sistem individual tanpa mengorbankan

aspek kognitif. Dengan adanya sistem gotong royong, siswa dapat membantu

satu sama lain, siswa yang merasa mampu akan memberikan bantuan kepada

siswa yang belum mampu pada saat melakukan diskusi. Hal ini dapat

berdampak positif pada hasil belajar siswa, karena siswa merasa lebih nyaman

apabila mendapat bantuan dari temannya sendiri dari pada oleh gurunya.

Secara umum, adanya perbedaan hasil belajar dimungkinkan karena

dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan ketrampilan berpikir kritis dan

bekerja sama, sehingga menumbuhkan hubungan antara pribadi yang positif

dari latar belakang yang berbeda yang dapat membangun motivasi siswa dan

pada akhirnya akan berdampak pada hasil belajar siswa. Melalui pembelajaran

kooperatif tipe Think-Pair-Share, keaktifan siswa dalam pembelajaran

mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena siswa dalam belajar


75

mendapatkan pengalaman langsung. Menurut Ibrahim (2003: 15), siswa akan

belajar paling baik jika siswa secara pribadi terlibat dalam pengalaman belajar

tersebut. Pada kelompok kontrol, pembelajarannya lebih menekankan pada

indera penglihatan dan pendengaran, sehingga keaktifan siswa belum optimal.

Kondisi ini apabila dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan

kebosanan sehingga menurunkan minat dan motivasi belajar siswa yang

berdampak menurunnya hasil belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memberikan hasil

belajar yang lebih baik karena terjadi interaksi tatap muka dalam anggota

kelompok dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal. Dengan model

pembelajaran ini, siswa akan mengembangkan kemampuan kognitif dan

kemampuan vokasionalnya. Kemampuan kognitif dapat dikembangkan karena

siswa dituntut untuk memnjawab pertanyaan atau permasalahan dan dengan

menyampaikan pendapat serta memberikan informasi kepada anggota

kelompok dan kelompok lain dalam satu kelas akan mengembangkan

kemampuan vokasionalnya. Dengan adanya model pembelajaran ini siswa

melatih siswa untuk bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya dan

mengembangkan hubungan interpersonal serta menumbuhkan kepercayaan

diri siswa.
76

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan

sebagai berikut.

1. Ada perbedaan rata-rata pada tiga aspek hasil belajar antara siswa yang

diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share

dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan metode

ekspositori.

2. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share lebih baik dari pada rata-rata pada tiga aspek hasil

belajar dengan pembelajaran menggunakan metode ekspositori.

3. Rata-rata pada tiga aspek hasil belajar dengan pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share mencapai ketuntasan belajar.

4. Aktivitas siswa selama diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Think-

Pair-Share mengalami peningkatan.

B. Saran

1. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memerlukan adanya

perencanaan waktu yang cukup matang, agar dapat meningkatkan

keaktifan siswa secara optimal.


77

2. Guru diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dalam membuat soal

diskusi sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuannya.

3. Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share perlu diterapkan dan

dikembangkan pada materi yang lain.


78

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. dan Supriyono, W. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin, Z. 1991. Evaluasi Instruksional: Prinsip-Teknik-Prosedur. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya.

Arikunto, S. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta:


Bumi Aksara.

Cholik, M. A. dan Sugijono. 2005. Matematika untuk SMP kelas VII. Jakarta:

Erlangga.

Darsono, M. dkk. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: Semarang Press.

Depdiknas. 2006. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SMP (2006) mata


pelajaran matematika.

Eddy, M. W. dkk. 2006. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Semarang: Universitas


Negeri Semarang.

Suherman, E. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Edisi


Revisi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Maesuri, S. 2002. Cooperative Learning In The Mathematics Classroom..


Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Hudojo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika


(Edisi Revisi). Malang: Universitas Negeri Malang.

Muslimiin, I. dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Junaidi, S. dan Siswono, E. 2004. Matematika SMP untuk kelas VII. Jakarta: Esis.

Lie, A. 2004. Coopertive Learning Mempraktikkan Cooperative Learningdi


Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika


Sekolah UNESA.

Poerwadarminta, W.J.S. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka:


Jakarta.
79

Purwati, H. 2006. Keefektifan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Terhadap


Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita
Pada Materi Pokok Aljabar dan Aritmatika Sosial Pada Siswa Kelas
VII SMP 7 Semarang Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi.
Perpustakaan Jurusan Matematika UNNES.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta :


Rineka Cipta.

Sudjana, N. dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung:


Sinar Baru Algensindo.

Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Suharyono, T, dkk. 1996. Strategi Belajar Matematika. AMP Matematika Jakarta:


Konsultan dan TIM Pengembangan PKG Matematika Dirjen
Dikdasmen Depdikbud.

Suhito. 2003. Model Pembelajaran Matematika. Semarang: Dinas Pendidikan dan


Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

Suyitno, A. 2004. Dasar-Dasar Pembelajaran Matematika I. Semarang

Zulaiha, R. 2006. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Matematika. Jakarta:


Depdiknas.
80

Lampiran 1

DAFTAR NAMA SISWA KELAS UJICOBA

No Kode Nama
1. U-1 ADI SAIFUL SEJATI
2. U-2 AGIL TRI ATMOJO
3. U-3 AGUNG PRABOWO
4. U-4 AJUM ADE MAT ALBA
5. U-5 ANDINA BAYU ARISTA
6. U-6 ANGGA RIZKI S
7. U-7 ANNA LISTIOWATI
8. U-8 ARYO MARDIAN W
9. U-9 ASTRID OCTAVIANI
10. U-10 AULIA BELLA DIO
11. U-11 BAYU SOELISTYO A
12. U-12 CANDRA W
13. U-13 DEVI RUDIANTO
14. U-14 DIAH AYU WIJAYANTI
15. U-15 DIAH WAHYU SETYA R
16. U-16 DIAN SETYO P WAR
17. U-17 DWI CAHYA PRIH
18. U-18 EKO SETYAWAN
19. U-19 ELLY PERTIWI N
20. U-20 ELSA INGGITA A S
21. U-21 ERMA WAHYUNING S
22. U-22 FARIZKA MULIANINGSIH
23. U-23 HANDIKO RAHMAN P
24. U-24 HASNA NUR Y R
25. U-25 HESTI MARTIKA SARI
26. U-26 KINANTI MUSTIKA A K
27. U-27 KUS SARTONO P
28. U-28 LIA KURNIANINGSIH
29. U-29 LULUK ARISKA A
30. U-30 MARISKA DHANIATI
31. U-31 MIA PURNAMASARI
32. U-32 MUHAMAD IRWAN M
33. U-33 M. RASTA TIDAR P
34. U-34 NOVITA DWI W
35. U-35 ONNE VALENTINA V H
36. U-36 PRASETYO SURYADI
37. U-37 RENDRA YUDI S
38. U-38 RUKTI RUMEKAR
39. U-39 U’UD ARY SUBEKTI
U-40 YENI RUSMALINA
81

Anda mungkin juga menyukai