0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Gunawan

Penelitian ini mengkaji hubungan antara tingkat pengetahuan dan motivasi perawat dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki pengetahuan, motivasi, dan perilaku yang baik dalam pencegahan infeksi nosokomial, dengan analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan motivasi dengan perilaku pencegahan. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan pengetahuan dan motivasi perawat untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial di rumah sakit.

Diunggah oleh

Yoga Ekaprakoso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Gunawan

Penelitian ini mengkaji hubungan antara tingkat pengetahuan dan motivasi perawat dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki pengetahuan, motivasi, dan perilaku yang baik dalam pencegahan infeksi nosokomial, dengan analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan motivasi dengan perilaku pencegahan. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan pengetahuan dan motivasi perawat untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial di rumah sakit.

Diunggah oleh

Yoga Ekaprakoso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN MOTIVASI


PERAWAT DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO

Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Keterampilan Dasar


Keperawatan
dosen pengampuh: Windri Dwi Ayu,[Link].,Ners.,[Link]

Disusun Oleh :

NAMA : Gunawan Riyadul Ibad

NIM : 25142011034

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS YPIB MAJALENGKA

2026
PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN MOTIVASI


PERAWAT DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN INFEKSI
NOSOKOMIAL

ABSTRAK

Perawat merupakan tenaga professional yang perannya tidak dapat


dikesampingkan dari pelayaan rumah sakit, karena perawat adalah tenaga kesehatan
yang kontak dengan pasien, sehingga perawat memiliki kontribusi terjadinya infeksi
nosokomial. Perawat merupakan bagian penting dalam cara penularan infeksi
nosokomial, cara penularan dapat dilakukan dengan penularan dapat melalui kontak
person apabila terjadi secara kontak langsung apabila sumber infeksi berhubungan
langsung dengan penderita. Proses infeksi silang antar pasien menjadi indikasi utama
penyebaran infeksi berhubungan langsung dengan penderita (person to person).
Perilaku perawat dalam menjaga dan melakukan pencegahan terhadap infeksi
nosokomial merupakan faktor penting dalam mencegah terjadinya infeksi nosokomial
di rumah sakit. Tingkat pengetahuan sangat mempengaruhi kualitas asuhan
keperawatan, semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat semakin tinggi kemampuan
dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan meningkatkan kemampuan
intelektual, interpersonal, dan teknikal yang dibutuhkan oleh seorang perawat dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan. Penelitian ini dengan rumusan masalah yaitu
hubungan antara tingkat pengetahuan dan motivasi perawat dengan perilaku
pencegahan infeksi nosokomial. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara
tingkat pengetahuan dan motivasi perawat dengan perilaku pencegahan infeksi
nosokomial. Metode yang dipergunakan deskriptif korelatif dengan rancangan
penelitian menggunakan cross sectional. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar
responden memiliki tingkat pengetahuan, motivasi dan perilaku perawat tentang
infeksi nosokomial dengan kriteria baik. Hasil pengujian dengan uji fisher exact test
didapatkan Nilai p value < α (0,05) tabel dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
tingkat pengetahuan dan motivasi dengan perilaku pencegahan tentang infeksi
nosokomial oleh perawat.

Kata kunci: Pengetahuan, Motivasi, Perilaku, Perawat, Infeksi Nosokomial.


RELATIONSHIP BETWEEN THE LEVEL OF KNOWLEDGE AND
MOTIVATION
BEHAVIOR WITH NURSE PREVENTION OF NOSOCOMIAL INFECTION
REGIONAL GENERAL HOSPITAL SUKOHARJO

ABSTRACT

Nurses are professional works that their contribution is important in hospital


service, because nurses in contact with patients directly, so nurses have possibillty and
contribution to transmission nosocomial infactions. Nurses are an important part in the
transmission of nosocomial infection, mode of transmission can be done by
transmission through the contact person in case of direct contact if the sources of
infection is direct contact with patients. The cross process of infection between
patients, became the main indication of spread of infection is directly related to the
patients (person to person). Nurses behavior to take care and prevention of this
nosocomial infection is the important thing to combat the nosocomial infection in
hospital . The higher knowledge level of nurse it mean that the higher ability in to do
the nursing care by with improve intellectual ability, interpersonal ability, and
technical ability that need in aplicated nursing care. Training or knowledge of health
workers on nosocomial infections and overcome an indirect action of capital in order
to increase nosocomial infection control program. The problem statement of this study
is relationship between the level of knowledge and motivation behavior with nurse
prevention of nosocomial infection. Research purpose to determine the relationship
between the level of knowledge and motivation of nurses to nosocomial infection
prevention behaviors. The method of this study used by the correlative descriptive
cross sectional. The results of this study is almost respondent have a good level
knowledge, motivation, and behavior nurse prevention of nosocomial infaction. Test
results with the test value obtained fisher exact test p value < α (0.05) from this table it
can be concluded that there is a correlation between knowledge and behavior
motivation the prevention of nosocomial infections by nurses.

Keywords : Knowledge, Motivation, Behavior, Nurses, Infection Nosocomial.

PENDAHULUAN menyebabkan sakit yang disertai


dengan gejala klinis baik lokal
Potter & Perry (2005) Infeksi maupun sistemik.
adalah masuk dan berkembangnya Kriteria pasien dikatakan
mikroorganisme dalam tubuh yang mengalami infeksi nosokomial
apabila pada saat pasien mulai perbandingan, bahwa tingkat
dirawat dirumah sakit tidak infeksi nosokomial yang terjadi
didapatkan tanda-tanda klinik dari di beberapa negara Eropa dan
infeksi, pada saat pasien mulai Amerika adalah rendah yaitu
dirawat dirumah sakit, tidak sedang sekitar 1% dibandingkan dengan
dalam masa inkubasi dari infeksi kejadian di negera-negara Asia,
(Kozier, 2010). Amerika Latin dan Sub- Sahara
Angka insiden klien yang Afrika yang tinggi hingga
terkena infeksi nosokomial terus mencapai lebih dari 40% (Lynch
meningkat setiap tahunnya. Infeksi dkk 1997) dan menurut data
rumah sakit (nosokomial) yang WHO, angka kejadian infeksi di
timbul pada waktu pasien dirawat di RS sekitar 3 – 21% (rata-rata
rumah sakit yang bersumber dari 9%). Infeksi nosokomial
petugas kesehatan, pasien lain, merupakan persoalan serius yang
pengunjung rumah sakit, dan akibat dapat menjadi penyebab langsung
dari prosedur rumah sakit maupun maupun tidak langsung kematian
dari lingkungan rumah sakit pasien (Taek, 2010).
(Saputra, 2013). Data penelitian
Rumah sakit merupakan Sumaryono (2005), di Negara-
tempat yang beresiko tinggi negara berkembang termasuk
terjadinya infeksi nosokomial karena Indonesia, kejadian infeksi
mengandung populasi nosokomial jauh lebih tinggi.
mikroorganisme yang tinggi dengan Menurut penelitian yang
jenis virulen yang mungkin resisten dilakukan di dua kota besar
terhadap antibiotik dan kebanyakan Indonesia didapatkan
infeksi nosokomial ditularkan oleh angka kejadian infeksi
pemberi pelayanan kesehatan (Potter nosokomial sekitar
and Perry, 2005). 39%-60%. Di Negara-negara
Menurut Alvarado (2000), berkembang terjadinya infeksi
Kementerian Kesehatan melakukan nosokomial tinggi karena
revitalisasi Program Pencegahan dan kurangnya pengawasan, praktek
Pengendalian Infeksi (PPI) di Rumah pencegahan yang buruk,
Sakit yang merupakan salah satu pemakaian sumber terbatas yang
pilar menuju Patient Safety. tidak tepat dan rumah sakit yang
Diharapkan kejadian infeksi di penuh sesak oleh pasien
Rumah Sakit dapat diminimalkan (Kasmad, 2007).
serendah mungkin sehingga Menurut Sugiono (1999),
masyarakat dapat menerima Data survey yang dilakukan oleh
pelayanan kesehatan secara optimal. kelompok peneliti AMRIN
Infeksi nosokomial atau yang (Anti Microbal
sekarang disebut sebagai infeksi Resistance In Indonesia ), di RSUP Dr.
yang berhubungan dengan pelayanan Kariadi Semarangtahun 2002,
kesehatan atau Healt-care angka kejadian infeksi luka
Associated operari profunda (Deep
Infection (HAIs) merupakan Incisional) sebesar 3%, infeksi
masalah penting di seluruh dunia aliran darah primer (plebitis)
yang meningkat. Sebagai sebesar
6% dan infeksi saluran kemih wawancara tentang motivasi seorang
merupakan angka kejadian yang paling perawat dalam melakukan
tinggi yaitu sebesar 11% (Kasmad, pencegahan infeksi nosokomial yaitu
2007). untuk menurunkan angka infeksi
Pada tahun 2009 Rumah nosokomial di rumah sakit.
Sakit Daerah Sukoharjo merupakan Sedangkan hasil observasi peneliti
RSUD Kelas B dan merupakan didapatkan masih ada beberapa
rumah sakit rujukan dari 12 perawat yang tidak melakukan
puskesmas dengan jumlah perawat pencegahan infeksi nosokomial di
192 orang dengan jumlah tempat Rumah Sakit Umum Daerah
tidur 200. Dari bangsal rawat inap Sukoharjo.
terdiri dari bangsal Anggrek Jadi dari hasil wawancara
Bougenvil, Cempaka Atas, Cempaka pada tanggal 14 maret 2013 oleh
Bawah, Dahlia, Edelweys, peneliti dengan perawat bahwa
Flamboyan (Bidang Pelayanan tingkat pengetahuan dan motivasi
Rumah Sakit Umum Daerah tentang infeksi nosokomial masih
Sukoharjo, 2013). kurang sehingga dapat
Data yang didapatkan pada berdampak tidak baik bagi pihak
tahun 2012 pada Januari sampai rumah sakit itu sendiri karena
Desember dari bangsal rawat inap di pasien dan masyarakat akan
Rumah Sakit Umum Daerah menilai pelayanan di rumah sakit
Sukoharjo dengan jumlah pasien tersebut kurang baik.
rawat inap 7830 orang dan kasus
infeksi nosokomial dari pasien yang LANDASAN TEORI
dirawat di rumah sakit yaitu 37
orang yang terdiri dari kejadian Infeksi nosokomial dapat
pneunomia ada 3 kasus, sepsis ada 8 didefinisikan sebagai infeksi yang
kasus, pasien dengan tirah baring didapatkan saat pasien dirawat
(Dekubitus) ada 3 kasus dan pasien dirumah sakit. Pasien dikatakan
yang terpasang infus (Flebitis) ada mengalami infeksi nosokomial
23 kasus (Bidang Pelayanan Rumah apabila memenuhi beberapa
Sakit Umum Daerah Sukoharjo, kriteria atau batasan sebagai
2012). berikut : pada saat pasien mulai
Dari hasil wawancara yang dirawat dirumah sakit tidak
dilakukan oleh peneliti pada tanggal didapatkan tandatanda klinik dari
14 maret 2013 dari sampel tujuh infeksi, pada saat pasien mulai
perawat dari masing-masing bangsal dirawat dirumah sakit, tidak
di Rumah Sakit Umum Daerah sedang dalam masa inkubasi dari
Sukoharjo mengatakan bahwa infeksi (Kozier, 2010).
infeksi nosokomial secara umum Interaksi antara pejamu
merupakan infeksi yang di dapatkan (pasien, perawat, dokter, dan lain-
saat pasien dirawat di rumah sakit. lain), agen (mikroorganisme
Dari pendapat 7 perawat, ada 4 pathogen) dan lingkungan
perawat yang tidak bisa (lingkungan rumah sakit,
menyebutkan tentang faktor internal prosedur pengobatan)
dan eksternal yang mempengaruhi menentukan seseorang dapat
terjadinya infeksi nosokomial. Hasil terinfeksi atau tidak. Infeksi
nosokomial tidak hanya hewan atau serangga terbang yang
melibatkan pasien, tetapi juga bertindak sebagai media transportasi
orang lain yang kontak dengan agen infeksi dan penularan terjadi
pasien, termasuk perawat dan secara eksternal melalui pemindahan
petugas kesehatan serta secara mekanis dari mikroorganisme
lingkungan rumah sakit (Kozier, yang menempel pada tubuh vektor
2010). contohnya salmonella oleh lalat dan
Ada enam mata rantai penularan secara internal terjadi
yang membentuk rantai infeksi pada mikroorganisme masuk ke
yaitu : 1) Infectious agent, yaitu dalam tubuh vektor sehingga dapat
penyebab pertama dari infeksi. terjadi perubahan biologis,
Mikroorganisme dapat contohnya parasit malaria melalui
menyebabkan infeksi pada host pernafasan, contohnya
virulensi kuman atau staphylococcus dan tuberculosis
mikroorganisme cenderung (Kozier, 2010).
meningkatkan proses terjadinya 5) Portal of entry , yaitu barier yang
infeksi (Potter and Perry, 2007). efektif terhadap transmisi
2) Reservoir (sumber mikroorganisme. Sebelum
mikroorganisme) contohnya menginfeksi individu,
manusia, hewan, mikroorganisme harus masuk ke
tumbuhantumbuhan, lingkungan tubuh individu, kulit adalah barier
umum (Kozier, 2008). terhadap agen infeksi tetapi apabila
3) Portal of exit, yaitu suatu media ada kerusakan pada kulit maka
untuk mikroorganisme berpindah mudah menjadi pintu masuk
dari reservoir ke host. Perpindahan mikroorganisme (Potter and Perry,
ini tidak akan terjadi bila tidak 2007).
terjadi infeksi, misalnya kontak kulit 6) Inang yang rentan yaitu individu
dengan infeksi (Smith and Duell, yang berisiko mengalami infeksi,
2008). faktor-faktor yang dapat
4) Cara penyebaran, setelah mempengaruhi kerentanan individu
meninggalkan sumber terhadap infeksi, contohnya usia
mikroorganisme, mikroorganisme (individu yang sangat muda dan
membutuhkan cara penyebaran yang individu yang sangat tua), klien yang
terdiri dari penyebaran langsung menerima pengobatan kanker yang
contohnya melalui droplet nuclei menekan sistem imun
yang berasal dari petugas, (Kozier, 2010).
pengunjung, dan pasien lainnya atau Transmisi mikroorganisme di
dari darah saat transfusi darah, rumah sakit dapat terjadi sebagai
penyebaran tidak langsung dapat berikut: contact, droplet,
berupa a) Penyebaran lewat airborne, common vehicles, dan
perantara contohnya penularan vector borne
mikroba pathogen melalui benda- (Potter and Perry, 2007).
benda mati contohnya peralatan Jenis-jenis pencegahan
medis, penularan mikroba pathogen infeksi nosokomial sebagai
melalui makanan dan minuman, berikut : a) Penerapan
penularan mikroba pathogen melalui standar precaution
air, b) Penyebaran lewat vektor yaitu meliputi : Mencuci
tangan, Menggunakan alat baru seperti mengingat hal hal
pelindung diri, contohnya yang dulu pernah dipelajari,
sarung tangan, masker penalaran analogi dan berpikir
wajah, baju pelindung dan kreatif dan bisa mencapai
pelindung mata, b) puncaknya (Pieter dan Lubis,
Kewaspadaan isolasi, c) 2010).
Pembersih, desinfeksi dan Motivasi berasal dari kata
sterilisasi, motif, dalam bahasa inggris yaitu
d) Antiseptik dan aseptik. motive, yang berasal dari kata
Peran perawat motion artinya gerakan dan dalam
dalam pencegahan infeksi arti lebih luas motivasi merupakan
nosokomial yaitu perawat yang suatu yang memberikan kekuatan

dalam nyamuk (Tietjen, 2004), untuk mengidentifikasi infeksi


c) Penyebaran lewat udara contohnya nosokomial, melakukan penyelidikan
droplet atau debu, penularan terjadi terhadap jenis infeksi dan organisme
apabila mikroorganisme mempunyai yang menginfeksi, berpartisipasi dalam
ukuran sangat kecil dan dapat pelatihan, surveilans infeksi di rumah
mengenai penderita dalam jarak yang sakit, berpartisipasi dalam penelitian
jauh dan
menjadi anggota dari tim untuk mendorong individu
pengendalian infeksi bertanggung bertingkah laku dalam mencapai
jawab dan praktik terkini dalam tujuan (Pieter dan Lubis, 2010).
mencegah, medeteksi dan Menurut A.H. Maslow
mengobati infeksi, memastikan dalam Maslow’s Need Hierarchy
kepatuhan perawat terhadap Theory, menyatakan bahwa
peraturan pengendalian infeksi kebutuhan manusia tersusun dalam
(Kozier, 2010). suatu jenjang, yaitu : a)
Pengetahuan merupakan hasil “ Fisiologis, antara lain rasa lapar,
tahu “, dan terjadi setelah seseorang haus, perlindungan (pakaian dan
melakukan pengindraan terhadap suatu perumahan), seks dan kebutuhan
objek tertentu. Sehingga pengetahuan jasmani lain, b) Keamanan, antara
tersebut dapat diperoleh dari panca lain keselamatan dan perlindungan
indra seperti penglihatan, penciuman, terhadap kerugian fisik dan
peraba, dan indra perasa, serta emosional, c) Sosial, mencakup
pengetahuan dapat didapat dari mata kasih saying, rasa memiliki,
dan telinga (Notoatmodjo , 2007). diterima-baik dan persahabatan,
Faktor faktor yang d) Penghargaan, mencakup faktor
mempengaruhi tingkat penghormatan diri seperti harga
pengetahuan adalah umur, dan prestasi serta faktor
pendidikan, pekerjaan, lingkungan penghormatan dari luar seperti
sosial, ekonomi, informasi dan status, pengakuan dan perhatian, e)
pengalaman. Umur berpengaruh Aktualisasi diri, dorongan untuk
dalam meningkatkan pengetahuan menjadi seseorang sesuai
karena kemampuan mental yang ambisinya yang mencakup
diperlukan untuk mempelajari dan pertumbuhan, pencapaian potensi
menyusun diri pada situasi situasi
dan pemenuh diri. (Saam dan METODE PENELITIAN
Wahyuni, 2012).
Perilaku adalah Penelitian ini menggunakan
keseluruhan dari penghayatan jenis deskriptif korelatif yang
dan perbuatan yang bertujuan untuk mengetahui
dilakukan seseorang akibat hubungan korelatif antar variabel
kegiatan kognitif, afektif dan dan rancangan penelitian
motorik (Pieter dan menggunakan cross sectional.
Lubis, 2010). Variabel bebas dari penelitian ini
Faktor-faktor yang adalah tingkat pengetahuan dan
mempengaruhi perilaku motivasi Perawat dengan variabel
diantaranya a) Emosi, dengan terikat adalah perilaku pencegahan
adanya emosi seperti bahagia, infeksi nosokomial.
sedih, takut, cemas maka akan Penelitian ini dilakukan di
membuat seseorang memahami Rumah Sakit Umum Daerah
objek sehingga seseorang Sukoharjo dan waktu penelitian
mengubah perilakunya, b) selama bulan Oktober 2013.
Persepsi, dengan adanya persepsi Populasi dalam penelitian ini adalah
maka akan membuat seseorang perawat di bangsal rawat inap
mengenal objek melalui sejumlah 77 orang dengan perincian
penglihatan, pendengaran, sebagai berikut: di Bangsal
penciuman dan persepsi dapat Anggrek yang terdiri dari 14 orang,
dipengaruhi dari kebiasaan, Cempaka Atas 15 orang, Cempaka
minat, dan kepentingan, c) Bawah 10 orang, Dahlia 11 orang,
Motivasi, motivasi merupakan Edelweys 12 orang dan Flamboyan
suatu dorongan dari diri 15 orang. Sedangkan teknik
seseorang untuk mencapai tujuan sampling yang digunakan Simple
yang diinginkan dan hasil Random sampling.
motivasi dapat dilakukan
dalam perilakunya, d) INSTRUMEN PENELITIAN
Belajar, melalui belajar seseorang
dapat berubah perilaku yang lebih Alat pengumpulan data yang
baik dari sebelumnya, e) dipergunakan pada penelitian ini
Pengetahuan atau kognitif, berupa kuesioner pengetahuan dan
merupakan domain motivasi perawat dalam perilaku
yang sangat penting pencegahan infeksi nosokomial
dalam membentuk 1. Data demografi yang berisi
tindakan seseorang (over tentang identitas perawat kode,
behavior), f) Inteligensi, bangsal, jenis kelamin, umur,
inteligensi merupakan pendidikan keperawatan
kemampuan seseorang dalam terakhir, dan masa kerja di
menyesuaikan dari keadaan- bidang perawatan.
keadaan yang baru secara cepat 2. Tingkat Pengetahuan perawat
(Pieter dan Lubis, 2010). tentang pencegahan infeksi
nosokomial diukur
menggunakan kuesioner yaitu
berupa 20 pertanyaan
multiplechoice (pilihan ganda). Jenis Kelamin
Dengan jawaban benar dinilai - Laki-laki 14 31,8
1(satu) dan jawaban salah - Perempuan 30 68,2
dinilai 0 ( nol ). 44 100
Jumlah
3. Motivasi perawat tentang
pencegahan infeksi nosokomial Umur
diukur menggunakan Skala - 21 – 30 Tahun 23 52,3
Likert dengan pernyataan yang - 31 – 40 Tahun 14 31,8
terdiri dari pernyataan positif - 41 – 50 Tahun 7 15,9
dan negative berjumlah 15 Jumlah 44 100
pertanyaan. Pendidikan
a. Untuk pernyataan 28 63,6
- D3
favourable apabila responden
Keperawatan 16 36,4
menjawab sangat setuju skor
- S1 44 100
4, jika setuju skor 3, jika
tidak setuju skor 2, dan jika Keperawatan
sangat tidak setuju skor 1. Jumlah
b. Pernyataan unfavourable Masa Kerja
apabila responden menjawab - 1 – 5 Tahun 22 50,0
sangat setuju skor 1, jika - 6 – 10 Tahun 13 29,5
setuju skor 2, jika tidak - > 11 Tahun 9 20,5
setuju skor 3, dan jika sangat 44 100
Jumlah
tidak setuju skor 4.
Sumber : Data Primer diolah (2013)
4. Perilaku perawat tentang
Karakteristik responden
pencegahan infeksi nosokomial
sesuai tabel diatas, dari 44 orang
diukur dengan Skala Guttman
perawat mayoritas dengan jenis
dengan menggunakan lembar
kelamin perempuan sebanyak 30
observasi yang berupa
orang (68,2%), berusia 21 – 30 tahun
checklist yang terdiri dari 15
sebanyak 23 orang (52,3%), dengan
item pencegahan infeksi
tingkat pendidikan terbanyak adalah
nosokomial dan apabila
tamatan D3 Keperawatan sebanyak
tindakan dilakukan (ya) dinilai
28 orang (63,6%), dan dengan masa
1 dan jika tidak dilakukan
kerja 1 – 5 tahun sebanyak 22 orang
(tidak) dinilai 0.
(50,0%).
Data tingkat pengetahuan
HASIL PENELITIAN perawat tentang infeksi nosokomial
tergambar dalam penelitian ini
Gambaran setelah dilakukan perhitungan
karakteristik responden dalam dengan menggunakan SPSS release
penelitian ini dapat dilihat pada 16.00 diperoleh hasil nilai range (7),
tabel 1. mimimum (11), maksimum (18),
mean (14,55), dan standar deviasi
Tabel 1. Karakteristik Perawat RSUD (2,062). Tingkat pengetahuan
Sukoharjo Tahun 2013 perawat tentang infeksi nosokomial
Kriteria Frekuensi Persen dengan kriteria baik yaitu sejumlah
(%) 24 perawat (54,5%), sedangkan
tingkat pengetahuan perawat tentang
infeksi nosokomial dengan kriteria Perilaku Pencegahan Tentang Infeksi
tidak baik yaitu sejumlah 20 perawat Nosokomial oleh Perawat
(45,5%). Pengetahuan Perilaku Perawat
Data motivasi perawat
tentang infeksi nosokomial Baik Tidak Total
tergambar dalam penelitian ini value
setelah dilakukan perhitungan baik
dengan menggunakan SPSS release Baik 18 6 24 0,002
16.00 diperoleh hasil nilai range (40,9%) (13,6%) (54,4%)
(15), mimimum (42), maksimum Tidak baik 5 15 20
(57), mean (50,88), dan standar (11,4%) (34,1%) (45,5%)
deviasi (4,257). Responden yang Total 23 21 44
paling dominan memiliki motivasi (53,3%) (47,7%) (100%)
perawat tentang infeksi nosokomial Tabel 2 terlihat bahwa
dengan kriteria baik yaitu sejumlah dari 23 perawat sebanyak 18
23 perawat (52,3%), sebaliknya (40,9%) memiliki perilaku
motivasi perawat tentang infeksi pencegahan infeksi nosokomial
nosokomial dengan kriteria tidak perawat dengan kriteria baik
baik yaitu sejumlah 21 perawat dan memiliki tingkat
(47,7%). pengetahuan yang baik.
Data pencegahan Sedangkan sebanyak 5 (11,4%)
perawat tentang infeksi perawat memiliki perilaku
nosokomial diperoleh hasil nilai pencegahan infeksi nosokomial
range (3), mimimum (12), dengan kriteria baik dan
maksimum (15), mean (14,20), memiliki tingkat pengetahuan
dan standar deviasi (0,930). yang tidak baik.
Responden memiliki perilaku Hasil analisis uji fisher
pencegahan pada infeksi exact test dengan nilai signifikansi
nosokomial oleh perawat (p-value) yang digunakan untuk uji
dengan kriteria baik yaitu 2 arah. Hasil perhitungan dengan
sejumlah 23 perawat SPSS release 16.00 adalah
(52,3%), sedangkan menolak Ho karena p-value < α
perilaku pencegahan pada (0,002 < 0,05) dan disimpulkan ada
infeksi nosokomial dengan hubungan tingkat pengetahuan
kriteria tidak dengan perilaku pencegahan
baik yaitu sejumlah 21 tentang infeksi nosokomial oleh
perawat (47,7%). Uji yang perawat.
dipakai adalah uji fisher exact Uji yang dipakai adalah uji
test. Setelah dilakukan fisher exact test. Setelah dilakukan
perlakuan yaitu dengan perlakuan yaitu dengan
mengabungkan sel-sel yang mengabungkan sel-sel yang
berdekatan sehingga dapat berdekatan sehingga dapat
dilakukan uji selanjutnya. Hasil dilakukan uji selanjutnya.
uji fisher exact test dapat Hasil uji fisher exact test
disajikan tabel silang sebagai dapat disajikan tabel silang sebagai
berikut : berikut :
Tabel 2. Tingkat Pengetahuan dengan
Tabel 3. Motivasi dengan yang berjenis kelamin laki-laki
Perilaku disebabkan pada saat
Pencegahan Tentang Infeksi pengambilan sampel perawat
Nosokomial oleh Perawat yang berjenis kelamin laki-laki
Motivasi Perilaku Perawat ada yang tidak masuk karena
p sakit dan mayoritas di bidang
Baik Tidak Total kesehatan tetutama perawat lebih
value
baik
banyak yang berjenis kelamin
Baik 17 6 23 0,006 perempuan serta dari hasil
(38,6%) (13,6%) (52,3%) observasi di lokasi penelitian,
Tidak 6 15 21 diketahui jumlah perawat
baik (13,6%) (36,4%) (50,0%) perempuan lebih banyak
Total 23 21 44 dibandingkan perawat laki-laki.
(53,3%) (47,7%) (100%) Berdasarkan teori Robbins (2008)
Tabel 3 terlihat bahwa dari mengemukakan tidak ada
23 perawat sebanyak 17 (38,6%) perbedaan yang konsisten antara
memiliki perilaku pencegahan pria dan wanita dalam
tentang infeksi nosokomial perawat kemampuan memecahkan
dengan kriteria baik dan memiliki masalah, ketrampilan analisis,
motivasi yang baik. Sebaliknya dorongan kompetitif, motivasi,
dari 44 perawat sebanyak 6 sosiabilitas, atau kemampuan
(13,6%) perawat memiliki perilaku belajar (Putra dan
pencegahan tentang infeksi Yuliarini, 2010).
nosokomial dengan kriteria kurang Responden berusia 21 –
dan memiliki tingkat pengetahuan 30 tahun sebanyak 23 orang
yang tidak baik. (52,3%), hal ini disebabkan
Hasil analisis uji fisher karena beban kerja perawat yang
exact test ditandai angka satu terus meningkat sebagai
merupakan nilai signifikansi (p- pertimbangan memperbanyak
value) yang digunkan untuk uji 2 perawat, adanya perawat yang
arah. Hasil perhitungan dengan keluar dan masuk, adanya
SPSS release 16.00 adalah kebijakan manajemen rumah
menolak Ho karena p-value < α sakit dalam penerimaan perawat
(0,006 < 0,05) dan disimpulkan dengan pertimbangan bahwa
bahwa ada hubungan motivasi umur perawat diikuti dengan
dengan perilaku pencegahan menurunnya motivasi dalam
tentang infeksi nosokomial oleh bekerja. Upoyo dan Sumarwati
perawat. (2011) mengatakan bahwa
semakin bertambah umur
PEMBAHASAN perilaku akan semakin menurun
dan mengatakan bahwa tidak ada
A. Karakteristik Responden hubungan antara jenis kelamin
Jenis kelamin perempuan dan motivasi perawat.
sebanyak 30 orang (68,2%), Hal Responden terbanyak
menunjukkan bahwa jumlah perawat berpendidikan D3
perawat yang berjenis kelamin Keperawatan, hal ini terkait dengan
perempuan lebih banyak daripada kebijakan penerimaan pegawai yang
dilakukan oleh Rumah Sakit Umum
Daerah Sukoharjo yang lebih B. Analisa Univariat 1. Tingkat
mengutamakan D3 Keperawatan dari Pengetahuan Perawat tentang Infeksi
pada S1 keperawatan. Hal ini terkait Nosokomial
dengan kebijakan manajemen rumah
sakit menganggap bahwa D3 dan S1 Perawat dengan
Keperawatan dianggap memiliki tingkat pengetahuan tidak
standar kemampuan yang seimbang baik 20 perawat (45,5%) dan
sehingga manajemen lebih memilih perawat dengan tingkat
D3 Keperawatan dengan pengetahuan baik 24 perawat
pertimbangan gaji yang relatif lebih (54,5%). Pengetahuan
kecil. Alasan manajemen itu perawat tentang pencegahan
bertentangan dengan pendapat infeksi nosokomial dengan
bahwa pendidikan yang tinggi dari kategori baik disebabkan
seorang perawat akan memberi karena 8 perawat memiliki
pelayanan yang optimal (Saragih dan pengalaman atau masa kerja
Rumapea, 2011). dibidang keperawatan lebih
Masa kerja 1 – 5 tahun dari 11 tahun. Sejalan dengan
sebanyak 22 orang (50,0%), Hasil penelitian Saragih dan
penelitian tersebut menunjukkan Rumapea (2011) mengatakan
bahwa program pengembangan bahwa semakin lama
perawat di RSUD seseorang bekerja maka
Sukoharjo sesuai dengan hasil tingkat prestasi akan semakin
observasi di lokasi penelitian, tinggi, prestasi yang tinggi di
program pengembangan perawat dapat dari perilaku yang baik.
yang tertuang dalam rencana Biasanya lama masa kerja
strategis pengembangan SDM digunakan untuk mengukur
perawat RSUD Sukoharjo yang loyalitas seorang karyawan,
diantaranya adalah melakukan semakin lama masa kerja
mutasi dan penerimaan pegawai maka semakin loyallah
sebagai upaya mengantikan perawat karyawan tersebut terhadap
yang memasuki masa pensiun. pekerjaannya. Sedangkan 16
Menurut Saragih dan Rumapea perawat Rumah Sakit Umum
(2011) masa kerja yang lama akan Daerah Sukoharjo memiliki
cenderung membuat seseorang betah pendidikan S1 Keperawatan.
dalam sebuah organisasi hal ini Sejalan dengan teori
disebabkan karena telah beradaptasi Notoatmojo (2007) yaitu latar
dengan lingkungan yang cukup lama belakang pendidikan yang
sehingga akan merasa nyaman dalam dimiliki perawat mungkin
pekerjaannya. Semakin lama dapat dijadikan sebagai faktor
seseorang bekerja maka tingkat yang mempengaruhi tingkat
prestasi akan semakin tinggi, prestasi pengetahuan bagi seorang
yang tinggi di dapat dari perilaku perawat, karena pengetahuan
yang baik. seseorang dipengaruhi oleh
banyak faktor yang salah
satunya adalah tingkat
pendidikan sehingga semakin
tinggi pendidikan maka akan dapat dipenuhi dengan
semakin baik pula tingkat memberikan pengakuan dan
pengetahuannya. pujian atas kontribusi yang baik
dari karyawan.
Motivasi perawat
Pengetahuan perawat dalam pencegahan
dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial
infeksi nosokomial dengan dengan kategori tidak baik 21
kategori tidak baik disebabkan perawat (47,7%) disebabkan
karena masih ada perawat karena beban kerja yang banyak
dengan pendidikan D3 sehingga membuat perawat
Keperawatan. Sejalan dengan terkadang lupa untuk melakukan
penelitian Putri (2008) pencegahan infeksi nosokomial
mengatakan bahwa pengetahuan contohnya saja dalam mencuci
sendiri dipengaruhi oleh faktor tangan sebelum dan sesudah
pendidikan formal. Pengetahuan melakukan tindakan
sangat berhubungan dengan keperawatan. Didukung dengan
pendidikan dimana diharapkan penelitian Upoyo dan Sumarwati
semakin tinggi pendidikan (2011) mengatakan bahwa
seseorang maka makin banyak dorongan dari dalam diri sendiri
pula pengetahuan yang (faktor intrinsik) dan lingkungan
dimilikinya. (faktor ekstrinsik) yang sangat
2. Motivasi Perawat berpengaruh terhadap motivasi.
tentang Pencegahan Infeksi Faktor intrinsik dapat berupa
Nosokomial kesenangan dalam bekerja,
keinginan untuk mendapat nilai
yang baik, sikap, kepribadian,
Perawat dengan motivasi
pendidikan, pengalaman,
tidak baik 21 perawat (47,7%)
pengetahuan dan cita-cita
dan perawat dengan motivasi
sedangkan faktor ekstrinsik
baik 23 perawat (52,3%).
berupa faktor dari luar diri
Motivasi perawat tentang
manusia berupa
pencegahan infeksi nosokomial
kepemimpinan,dorongan atau
dengan kategori baik tergambar
bimbingan orang lain serta
dalam observasi dan hasil
kondisi lingkungan.
kuesioner yang dilakukan
peneliti diantaranya bahwa
perawat semangat bekerja dan 3. Perilaku Pencegahan Infeksi
mendapat dukungan dari Nosokomial oleh Perawat
pimpinan selama bekerja di
rumah sakit contohnya dengan Perilaku pencegahan
disedikakannya alat-alat infeksi nosokomial oleh
pelindung diri yang tujuannya perawat dengan kriteria tidak
untuk mencegah tertularnya baik 21 perawat (47,7%) dan
infeksi. Hal ini sejalan dengan perilaku pada infeksi
Daft (2003) mengatakan bahwa nosokomial oleh perawat
dalam ruang lingkup organisasi, dengan kriteria baik 23
kebutuhan akan penghargaan perawat (52,3%). Perilaku
pencegahan infeksi Perilaku pencegahan
nosokomial oleh perawat baik infeksi nosokomial oleh perawat
disebabkan karena perawat dengan kriteria tidak baik 21
memiliki pengetahuan perawat (47,7%) disebabkan
tentang infeksi nosokomial disebabkan karena masih ada
baik. Sejalan dengan teori perawat yang kurang
Notoatmodjo (2003) yang menerapkan prosedur cuci
mengatakan faktor tangan dengan benar karena cuci
predisposing yaitu tangan merupakan salah satu
pengetahuan, sikap, tradisi, pencegahan infeksi nosokomial
dan nilai. Apabila perilaku yaitu standar precaution. Sejalan
didasari oleh pengetahuan, dengan penelitian Yulianti dan
kesadaran serta sikap yang Hariyono (2011) yang
positif maka perilaku tersebut mengatakan bahwa perawat juga
akan bersifat langgeng harus memiliki pengetahuan
(Notoatmodjo, 2003). Hal ini tentang cuci tangan dengan
juga didukung dengan benar sebagai upaya pencegahan
penelitian Aditi, dkk (2010) infeksi nosokomial di rumah
bahwa perilaku pencegahan sakit sehingga dapat
sangat dipengaruhi oleh meningkatkan kualitas
pengetahuan, untuk pelayanan.
memperbaiki aspek kognitif
sikapnya, maka hal ini
berkaitan dengan aspek
pengetahuan, dimana
pengetahuan responden akan
mempengaruh sikap yang ia
tentukan. Sejalan dengan
penelitian Saragih dan C. Analisa Bivariat
Rumapea (2011) yang 1. Hubungan Tingkat
mengatakan pendidikan Pengetahuan dengan
berpengaruh terhadap pola Perilaku Pencegahan
fikir individu. Sedangkan Infeksi Nosokomial oleh
pola fikir berpengaruh Perawat di Rumah Sakit
terhadap perilaku seseorang Umum Daerah Sukoharjo
dengan kata lain pola pikir Dengan hasil perhitungan
seseorang yang dari uji fisher exact test
berpendidikan rendah akan didapatkan bahwa menolak Ho
berbeda dengan pola pikir karena p-value < α (0,002 < 0,05)
seseorang yang dan dapat disimpulkan bahwa ada
berpendidikan tinggi. hubungan antara tingkat
Pendidikan yang tinggi dari pengetahuan dengan
seorang perawat akan perilaku pencegahan infeksi
memberi pelayanan yang nosokomial oleh perawat. Hasil
optimal. penelitian ini selaras dengan
penelitian Herpan dan Wardani
(2012), ada hubungan yang
bermakna secara statistik 2. Hubungan Motivasi dengan
antara pengetahuan terhadap Perilaku Pencegahan Infeksi
penerapan SOP teknik Nosokomial oleh Perawat di
menyuntik dalam upaya Rumah Sakit Umum Daerah
pencegahan infeksi atau ada Sukoharjo
hubungan antara pengetahuan
terhadap penerapan SOP dalam Hasil penelitian dari uji fisher
upaya pencegahan infeksi. Hasil exact test dapat disimpulkan bahwa
penelitian ini didukung dengan menolak Ho karena p-value < α
teori Notoatmodjo, (2007) yakni (0,006 < 0,05) sehingga ada
sebelum orang mengadopsi hubungan antara motivasi dengan
perilaku baru, dalam diri orang perilaku pencegahan infeksi
tersebut terjadi proses yang nosokomial oleh perawat di Rumah
berurutan, yakni: a) Sakit Umum Daerah Sukoharjo.
Awareness (kesadaran), b) Kenyataan ini memiliki
Interest (merasa tertarik), kecenderungan bahwa motivasi kerja
c) Evaluation yang meliputi dimensi kebutuhan
(menimbangnimbang), d) akan berprestasi dan berperan dalam
Trial (mencoba), e) upaya mendukung proses penciptaan
Adoption (adopsi). perilaku perawat yang profesional.
Apabila penerimaan perilaku baru Hal ini sejalan dengan penelitian
atau adopsi perilaku melalui Wahyuni dan Arruum (2011) yang
proses seperti ini, didasari oleh menyatakan bahwa ada pengaruh
pengetahuan, kesadaran dan sikap motivasi dengan kinerja asuhan
yang positif maka perilaku keperawatan dalam implementasi
tersebut akan bersifat langgeng dan dokumentasi perawat pelaksana.
(long lasting), sebaliknya apabila Hal ini sesuai dengan teori menurut
perilaku itu tidak didasari oleh Pieter dan Lubis (2010) motivasi
pengetahuan dan kesadaran, maka merupakan suatu dorongan dari diri
akan tidak berlangsung lama seseorang untuk mencapai tujuan
(Herpan dan Wardani, 2012). yang diinginkan dan hasil motivasi
Penelitian ini juga sejalan dengan dapat dilakukan dalam perilakunya.
Sudhiarti dan Sholikah (2012) Berdasarkan analisis tersebut dapat
yang menyatakan bahwa diketahui bahwa semakin baik
komponen perilaku dalam motivasi yang dimiliki perawat
struktur bersikap menunjukan pelaksana maka akan semakin baik
bagaimana kecenderungan pula perilaku pencegahan infeksi
berperilaku yang ada dalam diri nosokomial oleh perawat. Begitu
seseorang berkaitan juga sebaliknya, semakin tidak baik
dengan objek sikap yang motivasi perawat maka semakin
dihadapinya, perubahan perilaku tidak baik perilaku pencegahan
yang terjadi dalam diri seseorang infeksi nosokomial oleh perawat.
dapat diketahui melalui persepsi,
akan tetapi setiap orang mempunyai KETERBATASAN PENELITIAN
persepsi yang berbeda, meskipun
mengamati objek yang sama.
Dalam pelaksanaan Rumah Sakit Umum Daerah
penelitian mempunyai beberapa Sukoharjo baik.
keterbatasan yaitu: 4. Ada hubungan antara tingkat
1. Peneliti seharusnya pengetahuan dengan perilaku
menggunakan total sampling pencegahan infeksi
dalam pengambilan sampel nosokomial oleh perawat di
penelitian. Rumah Sakit Umum
2. Dalam kuesioner perilaku Daerah Sukoharjo.
pencegahan infeksi 5. Ada hubungan antara motivasi
nosokomial peneliti tidak dengan perilaku pencegahan
melakukan observasi untuk infeksi nosokomial oleh
semua tindakan pencegahan perawat di Rumah Sakit
infeksi tetapi hanya dalam Umum Daerah Sukoharjo.
tindakan perawat dalam
melakukan pencegahan SARAN
infeksi nosokomial yaitu :
standar precaution, 1. Bagi Perawat Bagi perawat
kewaspadaan isolasi, untuk lebih belajar mengerti
antiseptik dan aseptik. untuk meningkatkan
3. Pengisian kuesioner pengetahuan tentang infeksi
seharusnya ditunggui oleh nosokomial, sehingga
peneliti agar apabila ada hal meningkatkan pelayanan
yang ditanyakan dapat segera kesehatan bagi pasien.
langsung dijawab akan tetapi 2. Institusi Pendidikan
karena perawat pelaksana Dengan semakin banyaknya
mengalami kerepotan, maka penelitian maka diharapkan semakin
perawat pelaksana meminta berkembang dan dapat dimanfaatkan
untuk kuesioner ditinggal saja sebagai referensi ilmu pengetahuan
dan diambil 3 hari. khususnya berkaitan dengan infeksi
nosokomial. 3. Peneliti lain
KESIMPULAN Penelitian dapat digunakan
sebagai bahan referensi
Berdasarkan hasil analisis penelitian lain yang sejenis dan
dan pembahasan yang telah penelitian ini juga dapat diteliti
diuraikan dapat ditarik kembali dengan
kesimpulan sebagai berikut: mempertimbangkan variabel lain
1. Tingkat pengetahuan perawat yang berkaitan dengan peran
tentang infeksi nosokomial di perawat misalnya : peran
Rumah sakit Umum Daerah petugas, peran rumah sakit, dan
Sukoharjo baik. lain-lain.
2. Motivasi perawat tentang
infeksi nosokomial di Rumah DAFTAR PUSTAKA
Sakit Umum Daerah
Sukoharjo baik. Aditi, Sella Gita., Agustina, Hana
3. Perilaku pencegahan infeksi Rizmadewi., dan Amarullah,
nosokomial oleh perawat di
Afif Amir. (2010). Kasmad., Sujianto, Untung., dan
Pengetahuan dan Hidayati, Wahyu. (2007).
Sikap Mahasiswa AKPER Hubungan antara
terhadap Pencegahan Infeksi Kualitas
Nosokomial Flebitis. Jurnal Perawatan Kateter dengan
Ilmu Kejadian Infeksi Nosokomial
Keperawatan Volume 2, No. 1 Saluran Kemih, Jurnal
Tahun 2010. Universitas Keperawatan UNDIP
Padjadjaran. Volume 1, No. 1 Tahun
2007. Semarang : FK
Undip.

Arikunto, Suharsimi. (2006) Prosedur


Penelitian (Suatu
Pendekatan
Praktek). Jakarta : Rineka Cipta.
Dahlan, Sopiyudin. (2011). Kozier, B., Erb, Glenora., Berman,
Statistik untuk Kedokteran A., dan Snyder, S. (2010).
dan Kesehatan. Jakarta : Buku
Salemba Medika. Ajar Fundamental
Daft, R.L. (2003). Manajemen Keperawatan : Konsep,
Jilid 2 Edisi 6. Jakarta: Proses, dan Praktik Edisi 7
Penerbit Salemba Empat. Volume 2.
Darmadi. (2008). Infeksi Nosokomial Penerjemah Pamilih Eko
Problemmatika dan Karyuni dan Dwi Widiarti.
Pengendaliannya. Jakarta : Jakarta : EGC.
Salemba Medika. Machfoedz, Ircham. (2007).
Herpan dan Wardani, Yuniar. Analisis Metodologi Penelitian
Perawat dalam Pengendalian Bidang Kesehatan,
Infeksi Nosokomial di RSU PKU Keperawatan dan
Muhammadiyah Bantul Kebidanan. Yogyakarta :
Yogyakarta. Jurnal KESMAS Fitramaya.
UAD Volume 6, No. 3, September Notoatmodjo, S. (2003).
2012, ISSN :1978-0575. Pendidikan dan Perilaku
Yogyakarta: Universitas Kesehatan.
Ahmad Dahlan. Jakarta : Rineka Cipta.
Hidayat, Aziz Alimul. (2008). Metode . (2007). Promosi
Penelitian Keperawatan Kesehatan dan Ilmu
dan Teknik Analisa Data. Jakarta Perilaku. Jakarta : Rineka
: Cipta.
Salemba Medika. .(2010). Metodologi
Imron, Moch dan Munif, Amrul.
(2010). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Penelitian Bidang Jakarta :
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Pieter, Herri
Sagung Seto. Zan dan Lubis, Namora
Lumongga. (2010). Interaksi Volume 3, No.
Pengantar Psikologi dalam 2 Tahun 2008.
Keperawatan. Riwidikdo, Handoko. (2010). Statistika
Jakarta : Kencana. Potter, P. Penelitian Kesehatan dengan
A and Perry, A. G. (2005). Aplikasi Program
Buku Ajar Fundamental R Dan SPSS.
Keperawatan: Konsep, Yogyakarta : Pustaka
Proses, dan Praktik Edisi 4 Rihama.
Volume 1. Saam, Zulfan dan Wahyuni, Sri .
Penerjemah Yasmin Asih, (2012) Psikologi
dkk. Jakarta : Salemba Keperawatan. Jakarta :
Medika. Rajawali Pers.
. (2007). Basic Nursing: Saputra, Lyndon. (2013). Kebutuhan
Essentials for Practice. Dasar Manusia. Tangerang
Philadelphia: Mosby Selatan : Binarupa Aksara.
Elsevier . (2013). Panduan Praktik
. (2010). Fundamental Keperawatan Klinis.
Keperawatan Buku 2 Edisi Tangerang Selatan : Binarupa
7. Aksara.
Penerjemah Adrina Saragih, Rosita dan Rumapea,
Ferderika Nggie dan Natalina. (2011).
Marina Albar. Hubungan Karakteristik
Jakarta : Salemba Medika. Perawat Dengan Tingkat
Putra, Kuswantoro Rusca dan Kepatuhan Perawat
Yuliarini, Cantika Tri. Melakukan Cuci Tangan di
(2010). Hubungan Rumah Sakit Columbia Asia
Supervisi Kepala Ruangan, Medan. Jurnal Ilmu
Sikap Perawat dengan Keperawatan Volume 3, No. 1
Kepatuhan Tahun 2011. Universitas Darma
Pelaksanaan Prosedur Agung Medan :
Tetap (PROTAP) Medan.
Pemasangan Infus pada
Pasien di Ruang Inap
Rumah Sakit Daerah Smith, Sandra F and Duell, Donna
Balung Jember. Jurnal Ilmu J . (2008). Clinical Nursing
Keperawatan Volume 5, Skills Seventh Edition.
No. 1 Tahun 2010. Jember. Putri, Pearson Education,
Puri Kusuma Dewi. (2008). Upper Saddle
Pengaruh Tingkat Pendidikan, River, New Jersey.
Pengetahuan, Sikap dan Sudiharti dan Solikhah.
Terapan Iklan Layanan (2012).
Masyarakat KB Versi Hubungan Pengetahuan dan
Shireen Sungakar dan Sikap dengan Perilaku
Tengku Wisnu di TV Perawat dalam
terhadap Perilaku KB Pembuangan Sampah Medis
pada Wanita atau Pria di Rumah Sakit PKU
dalam Usia Subur. Jurnal Muhammadiyah Yogyakarta.
Jurnal KESMAS UAD Penerapan Universal
Volume 6, No. 1, Januari Precaution pada
Tahun 2012, ISSN:1978- Perawat di Bangsal
0575. Universitas Ahmad Rawat Inap Rumah
Dahlan : Yogyakarta Sakit PKU
Taek, Fance. (2010). Surveilans Muhammadiyah
pidemiologi. Jurnal Yogyakarta. Jurnal
Kesehatan KESMAS UAD Volume
Volume 1 Tahun 2010. 5, No. 2, Juni
Poltekes Kemenkes 2011, ISSN: 1978-0575.
Kupang. Tietjen, Linda. (2004). Universitas Ahmad
Panduan Pecegahan Infeksi Dahlan : Yogyakarta.
untuk Fasilitas Pelayanan Yulihastin, Erma. (2009). Bekerja
Kesehatan dengan Sebagai Perawat. Jawa Barat :
Sumber Daya Terbatas. Erlangga.
Penerjemah
Saifuddin, Abdul dkk.
Jakarta
: Yayasan Bina Pustaka.
Upoyo, Arif Setyo dan Sumarwati,
Made. (2011).
Analisis Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhi Motivasi
Mahasiswa Profesi Ners
Jurusan Keperawatan
Unsoed
Purwokerto. Jurnal
Keperawatan Soedirman
(The
Soedirman Journal of

Nursing) Volume 6, No.2 Juli


2011.
Wahyuni, Isra dan Arruum,
Diah. (2008). Motivasi
dan Kinerja Perawat
Pelaksana Di Rumah
Sakit Bhayangkara
Medan.
Jurnal Kesehatan
Volume 2, No. 1 Tahun 2011.
Universitas Sumatera Utara.
Yulianti., Rosyidah., dan
Hariyono, Widodo. Hubungan
Tingkat Pengetahuan Perawat
dengan

Anda mungkin juga menyukai