0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang konsep pengetahuan, keterampilan, dan imunisasi, termasuk definisi, tujuan, manfaat, dan jenis-jenis imunisasi yang penting untuk kesehatan anak. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, sedangkan keterampilan merupakan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam tindakan. Imunisasi berfungsi untuk mencegah penyakit infeksi pada anak dan memiliki manfaat bagi individu, keluarga, dan negara.

Diunggah oleh

Lidia Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang konsep pengetahuan, keterampilan, dan imunisasi, termasuk definisi, tujuan, manfaat, dan jenis-jenis imunisasi yang penting untuk kesehatan anak. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, sedangkan keterampilan merupakan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam tindakan. Imunisasi berfungsi untuk mencegah penyakit infeksi pada anak dan memiliki manfaat bagi individu, keluarga, dan negara.

Diunggah oleh

Lidia Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TIINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Pengetahuan

2.1.1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar, pengetahuan

manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Karena dari

pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan. Penelitian Rogers dalam Notoatmodjo (2012) mengungkapkan

bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam

diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yang disebut AIETA,

yaitu:

1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terebih dahulu terhadap stimulus (obyek).

2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini

sikap subyek sudah mulai timbul.

3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

6
7

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah

lebih baik lagi.

4. Trial, dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai

dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

5. Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran,dan sikapnya terhadap stimulus

(Notoatmodjo, 2012).

2.1.2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012), sebagai berikut:

1. Tahu (Know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami merupakan kemampuan menjelaskan secara benar, tentang

obyek yang diketahui dan dapat mengiterpretasikan materi tersebut

secara benar.

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.


8

4. Analisis (Analysis)

Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi dan

suatu obyek kedalam komponen - komponen, tetapi masih didalam

suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis merupakan suatu kemampuan untuk

menyusun formasi baru dari formasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penelitian terhadap suatu materi atau obyek, untuk memperoleh data

atau informasi tentang pengetahuan cukup dilakukan dengan

wawancara baik wawancara mendalam atau terstruktur dengan

kuisioner dan Focus Group Discussion (FGD).

2.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Mubarak (2012) ada tujuh faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu:

1. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang

lain terhadap suatu hal agar dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri

bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka

menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula


9

pengetahuan yang dimilikinya. Sebaiknya, jika seseorang tingkat

pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap

seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai baru

diperkenalkan.

2. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh

pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak

langsung.

3. Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada

aspek psikis dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara garis

besar ada empat kategori perubahan, yaitu perubahan ukuran,

perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri

baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis

dan mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.

4. Minat

Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap

sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni

suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih dalam.

5. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernak dialami seseorang

dalam berinteraksi dengan lingkugannya. Ada kecenderungan

pengalaman yang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan,


10

namun jika pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka

secara psikologis akan timbul kesan yang membekas dalam emosi

sehingga menimbulkan sikap positif.

6. Kebudayaan

Kebudayaan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah

mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka

mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap unuk selalu menjaga

kebersihan lingkungan.

7. Informasi

Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat

seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.

2.1.4. Penggolongan Pengetahuan

1. Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali atau recall terhadap suatu yang spesifik dari seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab

itu tahu ini merupakan tingkat yang paling rendah. Kata kerja bahwa

untuk mengukur orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan

sebagainya.

2. Comprehension (memahami), Diartikan sebagai sesuatu untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah


11

paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, memperkirakan dan sebagainya

terhadap obyek yang dipelajari.

3. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real atau sebenarnya.

Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan

hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks

atau situasi yang lain.

4. Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu

struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisis tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata kerja.

5. Sintesis, menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam bentuk suatu keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi yang ada. Dan evaluasi, berkaitan dengan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

Penilaian-peniaian itu berdasarkan suatu kriteria tersendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Soekidjo, 2008).

2.2. Keterampilan

Menurut Dunnete 1997 dalam Christian (2012) Keterampilan asal

kata dari “terampil” yang bermakna cakap dalam menyelesaikan tugas;

mampu dan cekatan atau dalam arti lain keterampilan adalah kemampuan
12

seseorang menerapkan pengetahuan kedalam bentuk tindakan. Keterampilan

merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai

implikasi dari aktivitas, dimana ketrampilan perawat dapat diperoleh

melalui pendidikan dan pelatihan.

Menurut Poerwadarminta (2012) dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia, keterampilan berasal dari kata dasar terampil yang artinya

mampu dalam menjalankan tugas, jadi dapat disimpulkan bahwa

keterampilan merupakan kecakapan dalam menyelesaikan tugas. Seringkali

praktek diartikan dengan ketrampilan. Adapun faktor dari keterampilan

perawat dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Ketrampilan

adalah hasil dari latihan berulang, yang dapat disebut perubahan yang

meningkat atau progresif oleh orang yang mempelajari keterampilan tadi

sebagai hasil dari aktivitas tertentu.

2.3 Konsep Imunisasi

2.3.1. Pengertian Imunisasi

Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang telah berhasil

menurunkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian)

penyakit infeksi pada bayi dan anak (Hidayat, 2012). Imunisasi bersal dari

kata imun. Kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan

kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten

terhadap suatu penyakit. Tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit

yang lain (Notoatmodjo, 2012).


13

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam

mencegah penyakit. Sampai saat ini terdapat 7 penyakit infeksi pada anak

yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak

dapat bertahan dan kemudian menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut

dimasukkan dalam program imunisasi, yaitu penyakit tuberkulosis, difteri,

pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis B (Andriyantro 2012).

Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan

memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk

mencegah terhadap suatu penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan

yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan

kedalam tubuh melalui suntikan, seperti vaksin, BCG, DPT, campak dan

melalui mulut seperti vaksin polio (Ranuh, 2012).

Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan

kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari

penyakit. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa

pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan

kesehatan anak (Supartini, 2014).

2.3.2. Tujuan imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit

tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada

sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit

tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar variola. Keadaan yang

terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat
14

ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteria (Matondang, C.S,

2012).

Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada

seeorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok

masyarakat atau populasi atau bahkan menghilngkan penyakit tertentu

dari dunia seperti pada imunisasi cacar variola. Keadaan yang terakhir

lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan

melalui manusia, seperti misalnya penyakit difteria.

Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan

dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada

saat ini penyakit- penyakit tersebut adalah difteri, tetanus, batuk rejan

(pertusis), campak (measles), polio, dan tuberculosis. (Notoatmodjo,

2012).

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi

dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh

membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang dipakai

untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam

tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT, dan Campak)

dan melalui mulut (misalnya vaksin polio) (Hidayat, 2012).

Imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Imunisasi

adalah suatu pemindahan atau transfer antibody secara pasif, sedangkan

istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin (antigen) yang


15

dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari system imun

di dalam tubuh. Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian

dua macam bentuk, yaitu immunoglobulin yang non spesifik atau

gamaglobulin dan immunoglobulin yang spesifik yang berasal dari

plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu atau baru saja

mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu (Ranuh, 2012).

2.3.3. Manfaat Imunisasi

Manfaat imunisasi bagi anak dapat mencegah penyakit

cacat dan kematian, sedangkan manfaat bagi keluarga adalah dapat

menghilangkan kecemasan dan mencegah biaya pengobatan yang tinggi

bila anak sakit. Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap

akan terlindungi dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah

penularan ke adik dan kakak dan teman- teman disekitarnya, dan manfaat

untuk negara adalah untuk memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan

bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara

(Proverawati & Andhini, 2012).

Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan

menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat

dicegah dengan imunisasi, tetapi juga dirasakan oleh :

1. Untuk Anak

Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan

cacat atau kematian.

2. Untuk Keluarga
16

Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.

Mendorong pembentukan keluarga sejahtera apabila orang tua yakin

bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Hal ini

mendorong penyiapan keluarga yang terencana, agar sehat dan

berkualitas.

3. Untuk Negara

Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan

berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. (Proverati 2012).

2.3.4. Jenis-jenis Imunisasi

Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh

pemerintah dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di

Indonesia sebagaimana yang diwajibkan oleh WHO yaitu BCG, DPT,

polio, campak dan hepatitis B (Hidayat, 2012)

Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang diberikan pada

semua orang, terutama bayi dan balita sejak lahir untuk melindungi

tubuhnya dari penyakit- penyakit yang berbahaya. Lima jenis imunisasi

dasar yang diwajibkan pemerintah adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit

yaitu TBC, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, campak dan hepatitis B

ke lima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh adalah:

1. Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan

kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC), yaitu penyakit

paru-paru yang sangat menular yang dilakukan sekali pada bayi usia 0-11

bulan
17

2. Imunisasi DPT yaitu merupakan imunisasi dengan memberikan vaksin

mengandung racun kuman yang telah dihilangkan racunnya akan tetapi

masih dapat merangsang pembentukan zat antitoxoid untuk mencegah

terjadinya penyakit difteri,pertusis,dan tetanus,yang diberikan 3 kali pada

bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu.

3. Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan

kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan

kelumpuhan pada kaki, yang diberikan 4 kali pada bayi 0-11 bulan

dengan interval minimal 4 minggu

4. Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk

menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak karena penyakit

ini sangat menular, yang diberikan 1 kali pada bayi usia 9-11 bulan

5. Imunisasi hepatis B, adalah imunisasi yang diberikan untuk

menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B yaitu

penyakit yang dapat merusak hati, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 1-

11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu cakupan imunisasi lengkap

pada anak, yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang

didapatkan oleh seorang anak. Sejak tahun 2004 hepatitis-B

disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT-HB. (Proverati 2010).

2.3.5. Vaksinasi

Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja

memberikan paparan dengan antigen yang berasal dari mikroorganisme

patogen. Antigen yang diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga


18

tidak menimbulkan sakit namun mampu mengaktivasi limfosit

menghasilkan antibody dan sel memori yang menirukan infeksi alamiah

yang tidak menimbulkan sakit namun cukup memberikan kekebalan dengan

tujuan memberikan infeksi ringan yang tidak berbahaya namun cukup

untuk menyiapkan respon imun.

Tabel 2.1
Dosis, cara pemberian, jumlah pemberian, intervensi dan waktu
pemberian imunisasi
Jumlah Waktu
Vaksin Dosis Cara pemberian pemberian Interval pemberian
BCG 0,05 cc Intracutan di 1 kali - 0-11 bulan
daerah musculus
Deltoideus
DPT 0,5 cc Intra muscular 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
Polio 2 tetes Diteteskan ke 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
mulut
Hepatitis B 0,5 cc Intra muscular 3 kali 4 minggu 0-11 bulan
pada paha bagian
luar
Campak 0,5 cc Subkutan, 1 kali 4 minggu 9-11 bulan
biasany di lengan
kiri atas

Tabel 2.2
Jadwal Pemberian Imunisasi
Usia Vaksin Tempat
Bayi lahir dirumah
0 bulan HB 0 Rumah
1 bulan BCG, Polio 1 Posyandu
2 bulan DPT/HB Combo 1, Polio 2 Posyandu
3 bulan DPT/HB Combo 2, Polio 3 Posyandu
4 bulan DPT/HB Combo 3, Polio 4 Posyandu
9 bulan Campak Posyandu
Sumber: Buku KIA (2013)
19

Bayi lahir di RS/Praktek Bidan


0 bulan HB 0, BCG, Polio 1 RS/Praktek Bidan
2 bulan DPT/HB Combo 1, Polio 2 RS/Praktek Bidan
3 bulan DPT/HB Combo 2, Polio 3 RS/Praktek Bidan
4 bulan DPT/HB Combo 3, Polio 4 RS/Praktek Bidan
9 bulan Campak RS/Praktek Bidan
Sumber: Buku KIA (2013)

2.3.6. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

1. Difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri

Corynebacterium diphtheriae. Penyebarannya adalah melalui kontak fisik

dan pernafasan. Daya tular penyakit ini tinggi. Gejala awal penyakit

adalah: gelisah, aktifitas menurun, radang tenggorokan, hilang nafsu makan

dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada

tenggorokan dan tonsil. Komplikasi difteri berupa gangguan pernafasan

yang berakibat kematian (Kemenkes RI, 2013).

Penyakit ini pertama kali diperkenalkan oleh Hyppocrates pada abad

ke-5 SM dan epidemi pertama dikenal pada abad ke-6 oleh Aetius.

Seorang anak dapat terinfeksi difteria pada nasofaringnya dan kuman

tersebut kemudian akan memproduksi toksin yang menghambat sintesis

protein seluler dan menyebabkan destruksi jaringan setempat dan

terjadilah suatu selaput/membran yang dapat menyumbat jalan nafas.

Toksin yang terbentuk pada membran tersebut kemudian diabsorbsi ke

dalam aliran darah dan dibawa ke seluruh tubuh. Penyebaran toksin ini
20

berakibat komplikasi berupa miokarditis dan neuritis, serta trombositopenia

dan proteinuria (Tumbelaka, A.R & Hadinegoro, S.R, 2012).

2. Pertusis

Pertusis disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari adalah penyakit

pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Bordetella pertussis.

Penyebaran pertusis adalah melalui percikan ludah yang keluar dari batuk

atau bersin. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam,

dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan

menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis

adalah Pneumania bacterialis yang dapat menyebabkan kematian (Depkes,

2012). Sebelum ditemukan vaksinnya, pertusis merupakan penyakit

tersering yang menyerang anak dan merupakan penyebab kematian

(diperkirakan sekitar 300.000 merupakan penyakit yang bersifat toxin-

mediated toxin yang dihasilkan melekat pada bulu getar saluran nafas atas

akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga menyebabkan gangguan

aliran sekret saluran pernafasan, berpotensi menyebabkan sumbatan jalan

nafas dan pneumonia (Hadinegoro, S.R, 2012).

3. Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium Tetani

yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke

orang, tetapi melalui kotoran yang masuk kedalam luka yang dalam. Gejala

awal penyakit adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher,

kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat, dan demam. Pada bayi
21

terdapat juga gejala berhenti menetek antara 3 sampai dengan 28 hari

setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi

kaku (Depkes, 2012). Tetanus dapat ditemukan pada anak- anak, juga

dijumpai kasus tetanus neonatal yang bersifat fatal. Komplikasi tetanus

yang sering terjadi antara lain laringospasme, infeksi nosokomial dan

pneumonia ostostatik (Hadinegoro, S.R, 2012).

4. Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium

tuberculosa disebut juga batuk darah. Penyakit ini menyebar melalui

pernafasan lewat bersin atau batuk. Gejala awal penyakit adalah lemah

badan, penurunan berat badan, demam, dan keluar keringat pada malam

hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus-menerus, nyeri dada dan

mungkin batuk darah. Gejala lain tergantung pada kematian terjadi

setiap tahun). Pertusis. organ yang diserang. Komplikasi tuberkulosis

dapat menyebabkan kelemahan dan kematian (Depkes, 2010).

5. Campak

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus

viridae measles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin

atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak

kemerahan, batuk, pilek, konjunctivitis (mata merah) selanjutnya timbul

ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta

kaki. Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga,

dan infeksi saluran nafas (pneumonia). Prioritas utama untuk


22

penanggulangan penyakit campak adalah melaksanakan program

imunisasi lebih efektif (Depkes, 2012).

6. Poliomielitis

Poliomielitis adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang

disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe

1, 2 atau 3. Secara klinis penyakit polio adalah anak di bawah umur 15

tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis=AFP).

Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang

terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot

dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Komplikasi

poliomielitis adalah kematian bisa terjadi karena kelumpuhan otot-otot

pernafasan terinfeksi dan tidak segera ditangani (Depkes, 2012).

Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa

Latin yang berarti medulla spinalis. Infeksi virus mencapai puncak

pada musim panas, sedangkan pada daerah tropis tidak ada bentuk

musiman penyebaran infeksi. Virus polio sangat menular, pada kontak

antarrumah tangga (yang belum diimunisasi) derajat serokonversi lebih

dari 90% (Suyitno, 2013).

7. Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit kuning yang disebabkan oleh virus

hepatitis B yang merusak hati. Penularan penyakit secara horizontal yaitu

dari darah dan produknya melalui suntikan yang tidak aman melalui

tranfusi darah dan melalui hubungan seksual. Sedangkan penularan secara


23

vertikal yaitu dari ibu ke bayi selama proses persalinan. Gejalanya adalah

merasa lemah, gangguan perut, dan gejala lain seperti flu. Warna urin

menjadi kuning, tinja menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pula

pada mata ataupun kulit. Komplikasi hepatitis B adalah bisa menjadi

hepatitis kronis dan menimbulkan pengerasan hati (cirrhosis hepatis),

kanker hati (hepato cellular carsinoma), dan menimbulkan kematian

(Depkes, 2012).

Infeksi virus hepatitis B menyebabkan sedikitnya satu juta

kematian/tahun. Saat ini terdapat 350 juta penderita kronis dengan 4 juta

kasus baru/tahun. Infeksi pada anak umumnya asimtomatis tetapi 80-95%

akan menjadi kronis dan dalam 10-20 tahun akan menjadi sirosis dan atau

karsinoma hepatoseluler. Oleh karena itu, kebijakan utama tata laksana

virus hepatitis B adalah memotong jalur transmisi sedini mungkin.

Vaksinasi universal bayi baru lahir merupakan upaya yang paling efektif

dalam menurunkan prevalens virus hepatitis B dan karsinoma hepatoseluler

(Hidayat, B, 2013).

Tahun 1992 Hepatitis B dimasukkan kedalam program imunisasi.

Tahun 1995 imunisasi hepatitis B diberikan kepada semua bayi di negara

endemis tinggi. Tahun 1997 imunisasi hepatitis B diberikan kepada semua

bayi disemua negara diseluruh dunia. Imunisasi Hepatitis B harus diberikan

pada bayi 0-7 hari karena : 3-8 % ibu hamil merupakan pengidap (carrier),

45,9 % bayi tertular saat lahir dari ibu pengidap, penularan pada saat lahir

hampir seluruhnya berlanjut jadi hepatitis menahun. Pemberian imunisasi


24

HB sedini mungkin akan melindungi 75 % dari yang tertular (Depkes,

2012).

2.4. Landasan Teori

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Karena dari

pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan. Oleh karena itu pengetahuan sangatlah penting bagi petugas

kesehatan untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam memberikan

imunisasi campak.

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus

viridae measles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin

atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak

kemerahan, batuk, pilek, konjunctivitis (mata merah) selanjutnya timbul ruam

pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki.

Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga, dan

infeksi saluran nafas (pneumonia). Prioritas utama untuk penanggulangan

penyakit campak adalah melaksanakan program imunisasi lebih efektif.

2.5. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah kelanjutan dari teori atau landasan teori

yang disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian ini yang akan dicapai,

yakni sesuai dengan apa yang ditulis dalam rumusan masalah, (Notoatmodjo
25

2012). Penelitian ini yang berjudul ” hubungan antara pengetahuan dan

keterampilan petugas imunisasi terhadap teknik pemberian imunisasi

campak di Wilayah Puskesmas Bintang Kabupaten Aceh Tengah”.

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan Petugas
pemberian imunisasi
campak
Keterampilan Petugas

Gambar 2.4 Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai