BAB II
TIINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pengetahuan
2.1.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar, pengetahuan
manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Karena dari
pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Penelitian Rogers dalam Notoatmodjo (2012) mengungkapkan
bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam
diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yang disebut AIETA,
yaitu:
1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terebih dahulu terhadap stimulus (obyek).
2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini
sikap subyek sudah mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya
6
7
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah
lebih baik lagi.
4. Trial, dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran,dan sikapnya terhadap stimulus
(Notoatmodjo, 2012).
2.1.2. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012), sebagai berikut:
1. Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami merupakan kemampuan menjelaskan secara benar, tentang
obyek yang diketahui dan dapat mengiterpretasikan materi tersebut
secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.
8
4. Analisis (Analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi dan
suatu obyek kedalam komponen - komponen, tetapi masih didalam
suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis merupakan suatu kemampuan untuk
menyusun formasi baru dari formasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penelitian terhadap suatu materi atau obyek, untuk memperoleh data
atau informasi tentang pengetahuan cukup dilakukan dengan
wawancara baik wawancara mendalam atau terstruktur dengan
kuisioner dan Focus Group Discussion (FGD).
2.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarak (2012) ada tujuh faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu:
1. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang
lain terhadap suatu hal agar dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri
bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka
menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula
9
pengetahuan yang dimilikinya. Sebaiknya, jika seseorang tingkat
pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai baru
diperkenalkan.
2. Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
3. Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada
aspek psikis dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara garis
besar ada empat kategori perubahan, yaitu perubahan ukuran,
perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri
baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis
dan mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.
4. Minat
Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap
sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni
suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih dalam.
5. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernak dialami seseorang
dalam berinteraksi dengan lingkugannya. Ada kecenderungan
pengalaman yang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan,
10
namun jika pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka
secara psikologis akan timbul kesan yang membekas dalam emosi
sehingga menimbulkan sikap positif.
6. Kebudayaan
Kebudayaan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah
mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka
mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap unuk selalu menjaga
kebersihan lingkungan.
7. Informasi
Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat
seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
2.1.4. Penggolongan Pengetahuan
1. Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali atau recall terhadap suatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu tahu ini merupakan tingkat yang paling rendah. Kata kerja bahwa
untuk mengukur orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan
sebagainya.
2. Comprehension (memahami), Diartikan sebagai sesuatu untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
11
paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, memperkirakan dan sebagainya
terhadap obyek yang dipelajari.
3. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real atau sebenarnya.
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks
atau situasi yang lain.
4. Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu
struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata kerja.
5. Sintesis, menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam bentuk suatu keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi yang ada. Dan evaluasi, berkaitan dengan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Penilaian-peniaian itu berdasarkan suatu kriteria tersendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Soekidjo, 2008).
2.2. Keterampilan
Menurut Dunnete 1997 dalam Christian (2012) Keterampilan asal
kata dari “terampil” yang bermakna cakap dalam menyelesaikan tugas;
mampu dan cekatan atau dalam arti lain keterampilan adalah kemampuan
12
seseorang menerapkan pengetahuan kedalam bentuk tindakan. Keterampilan
merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai
implikasi dari aktivitas, dimana ketrampilan perawat dapat diperoleh
melalui pendidikan dan pelatihan.
Menurut Poerwadarminta (2012) dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, keterampilan berasal dari kata dasar terampil yang artinya
mampu dalam menjalankan tugas, jadi dapat disimpulkan bahwa
keterampilan merupakan kecakapan dalam menyelesaikan tugas. Seringkali
praktek diartikan dengan ketrampilan. Adapun faktor dari keterampilan
perawat dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Ketrampilan
adalah hasil dari latihan berulang, yang dapat disebut perubahan yang
meningkat atau progresif oleh orang yang mempelajari keterampilan tadi
sebagai hasil dari aktivitas tertentu.
2.3 Konsep Imunisasi
2.3.1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang telah berhasil
menurunkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian)
penyakit infeksi pada bayi dan anak (Hidayat, 2012). Imunisasi bersal dari
kata imun. Kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan
kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit. Tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit
yang lain (Notoatmodjo, 2012).
13
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam
mencegah penyakit. Sampai saat ini terdapat 7 penyakit infeksi pada anak
yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak
dapat bertahan dan kemudian menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut
dimasukkan dalam program imunisasi, yaitu penyakit tuberkulosis, difteri,
pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis B (Andriyantro 2012).
Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk
mencegah terhadap suatu penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan
yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan
kedalam tubuh melalui suntikan, seperti vaksin, BCG, DPT, campak dan
melalui mulut seperti vaksin polio (Ranuh, 2012).
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan
kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari
penyakit. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa
pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan
kesehatan anak (Supartini, 2014).
2.3.2. Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit
tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada
sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit
tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar variola. Keadaan yang
terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat
14
ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteria (Matondang, C.S,
2012).
Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada
seeorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok
masyarakat atau populasi atau bahkan menghilngkan penyakit tertentu
dari dunia seperti pada imunisasi cacar variola. Keadaan yang terakhir
lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan
melalui manusia, seperti misalnya penyakit difteria.
Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan
dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada
saat ini penyakit- penyakit tersebut adalah difteri, tetanus, batuk rejan
(pertusis), campak (measles), polio, dan tuberculosis. (Notoatmodjo,
2012).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi
dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh
membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.
Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang dipakai
untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam
tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT, dan Campak)
dan melalui mulut (misalnya vaksin polio) (Hidayat, 2012).
Imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Imunisasi
adalah suatu pemindahan atau transfer antibody secara pasif, sedangkan
istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin (antigen) yang
15
dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari system imun
di dalam tubuh. Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian
dua macam bentuk, yaitu immunoglobulin yang non spesifik atau
gamaglobulin dan immunoglobulin yang spesifik yang berasal dari
plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu atau baru saja
mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu (Ranuh, 2012).
2.3.3. Manfaat Imunisasi
Manfaat imunisasi bagi anak dapat mencegah penyakit
cacat dan kematian, sedangkan manfaat bagi keluarga adalah dapat
menghilangkan kecemasan dan mencegah biaya pengobatan yang tinggi
bila anak sakit. Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap
akan terlindungi dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah
penularan ke adik dan kakak dan teman- teman disekitarnya, dan manfaat
untuk negara adalah untuk memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan
bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara
(Proverawati & Andhini, 2012).
Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan
menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, tetapi juga dirasakan oleh :
1. Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan
cacat atau kematian.
2. Untuk Keluarga
16
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukan keluarga sejahtera apabila orang tua yakin
bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Hal ini
mendorong penyiapan keluarga yang terencana, agar sehat dan
berkualitas.
3. Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. (Proverati 2012).
2.3.4. Jenis-jenis Imunisasi
Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh
pemerintah dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di
Indonesia sebagaimana yang diwajibkan oleh WHO yaitu BCG, DPT,
polio, campak dan hepatitis B (Hidayat, 2012)
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang diberikan pada
semua orang, terutama bayi dan balita sejak lahir untuk melindungi
tubuhnya dari penyakit- penyakit yang berbahaya. Lima jenis imunisasi
dasar yang diwajibkan pemerintah adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit
yaitu TBC, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, campak dan hepatitis B
ke lima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh adalah:
1. Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan
kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC), yaitu penyakit
paru-paru yang sangat menular yang dilakukan sekali pada bayi usia 0-11
bulan
17
2. Imunisasi DPT yaitu merupakan imunisasi dengan memberikan vaksin
mengandung racun kuman yang telah dihilangkan racunnya akan tetapi
masih dapat merangsang pembentukan zat antitoxoid untuk mencegah
terjadinya penyakit difteri,pertusis,dan tetanus,yang diberikan 3 kali pada
bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu.
3. Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan
kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan pada kaki, yang diberikan 4 kali pada bayi 0-11 bulan
dengan interval minimal 4 minggu
4. Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak karena penyakit
ini sangat menular, yang diberikan 1 kali pada bayi usia 9-11 bulan
5. Imunisasi hepatis B, adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B yaitu
penyakit yang dapat merusak hati, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 1-
11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu cakupan imunisasi lengkap
pada anak, yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang
didapatkan oleh seorang anak. Sejak tahun 2004 hepatitis-B
disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT-HB. (Proverati 2010).
2.3.5. Vaksinasi
Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja
memberikan paparan dengan antigen yang berasal dari mikroorganisme
patogen. Antigen yang diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga
18
tidak menimbulkan sakit namun mampu mengaktivasi limfosit
menghasilkan antibody dan sel memori yang menirukan infeksi alamiah
yang tidak menimbulkan sakit namun cukup memberikan kekebalan dengan
tujuan memberikan infeksi ringan yang tidak berbahaya namun cukup
untuk menyiapkan respon imun.
Tabel 2.1
Dosis, cara pemberian, jumlah pemberian, intervensi dan waktu
pemberian imunisasi
Jumlah Waktu
Vaksin Dosis Cara pemberian pemberian Interval pemberian
BCG 0,05 cc Intracutan di 1 kali - 0-11 bulan
daerah musculus
Deltoideus
DPT 0,5 cc Intra muscular 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
Polio 2 tetes Diteteskan ke 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
mulut
Hepatitis B 0,5 cc Intra muscular 3 kali 4 minggu 0-11 bulan
pada paha bagian
luar
Campak 0,5 cc Subkutan, 1 kali 4 minggu 9-11 bulan
biasany di lengan
kiri atas
Tabel 2.2
Jadwal Pemberian Imunisasi
Usia Vaksin Tempat
Bayi lahir dirumah
0 bulan HB 0 Rumah
1 bulan BCG, Polio 1 Posyandu
2 bulan DPT/HB Combo 1, Polio 2 Posyandu
3 bulan DPT/HB Combo 2, Polio 3 Posyandu
4 bulan DPT/HB Combo 3, Polio 4 Posyandu
9 bulan Campak Posyandu
Sumber: Buku KIA (2013)
19
Bayi lahir di RS/Praktek Bidan
0 bulan HB 0, BCG, Polio 1 RS/Praktek Bidan
2 bulan DPT/HB Combo 1, Polio 2 RS/Praktek Bidan
3 bulan DPT/HB Combo 2, Polio 3 RS/Praktek Bidan
4 bulan DPT/HB Combo 3, Polio 4 RS/Praktek Bidan
9 bulan Campak RS/Praktek Bidan
Sumber: Buku KIA (2013)
2.3.6. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
1. Difteri
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium diphtheriae. Penyebarannya adalah melalui kontak fisik
dan pernafasan. Daya tular penyakit ini tinggi. Gejala awal penyakit
adalah: gelisah, aktifitas menurun, radang tenggorokan, hilang nafsu makan
dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada
tenggorokan dan tonsil. Komplikasi difteri berupa gangguan pernafasan
yang berakibat kematian (Kemenkes RI, 2013).
Penyakit ini pertama kali diperkenalkan oleh Hyppocrates pada abad
ke-5 SM dan epidemi pertama dikenal pada abad ke-6 oleh Aetius.
Seorang anak dapat terinfeksi difteria pada nasofaringnya dan kuman
tersebut kemudian akan memproduksi toksin yang menghambat sintesis
protein seluler dan menyebabkan destruksi jaringan setempat dan
terjadilah suatu selaput/membran yang dapat menyumbat jalan nafas.
Toksin yang terbentuk pada membran tersebut kemudian diabsorbsi ke
dalam aliran darah dan dibawa ke seluruh tubuh. Penyebaran toksin ini
20
berakibat komplikasi berupa miokarditis dan neuritis, serta trombositopenia
dan proteinuria (Tumbelaka, A.R & Hadinegoro, S.R, 2012).
2. Pertusis
Pertusis disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari adalah penyakit
pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Bordetella pertussis.
Penyebaran pertusis adalah melalui percikan ludah yang keluar dari batuk
atau bersin. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam,
dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan
menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis
adalah Pneumania bacterialis yang dapat menyebabkan kematian (Depkes,
2012). Sebelum ditemukan vaksinnya, pertusis merupakan penyakit
tersering yang menyerang anak dan merupakan penyebab kematian
(diperkirakan sekitar 300.000 merupakan penyakit yang bersifat toxin-
mediated toxin yang dihasilkan melekat pada bulu getar saluran nafas atas
akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga menyebabkan gangguan
aliran sekret saluran pernafasan, berpotensi menyebabkan sumbatan jalan
nafas dan pneumonia (Hadinegoro, S.R, 2012).
3. Tetanus
Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium Tetani
yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke
orang, tetapi melalui kotoran yang masuk kedalam luka yang dalam. Gejala
awal penyakit adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher,
kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat, dan demam. Pada bayi
21
terdapat juga gejala berhenti menetek antara 3 sampai dengan 28 hari
setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi
kaku (Depkes, 2012). Tetanus dapat ditemukan pada anak- anak, juga
dijumpai kasus tetanus neonatal yang bersifat fatal. Komplikasi tetanus
yang sering terjadi antara lain laringospasme, infeksi nosokomial dan
pneumonia ostostatik (Hadinegoro, S.R, 2012).
4. Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa disebut juga batuk darah. Penyakit ini menyebar melalui
pernafasan lewat bersin atau batuk. Gejala awal penyakit adalah lemah
badan, penurunan berat badan, demam, dan keluar keringat pada malam
hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus-menerus, nyeri dada dan
mungkin batuk darah. Gejala lain tergantung pada kematian terjadi
setiap tahun). Pertusis. organ yang diserang. Komplikasi tuberkulosis
dapat menyebabkan kelemahan dan kematian (Depkes, 2010).
5. Campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus
viridae measles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin
atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak
kemerahan, batuk, pilek, konjunctivitis (mata merah) selanjutnya timbul
ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta
kaki. Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga,
dan infeksi saluran nafas (pneumonia). Prioritas utama untuk
22
penanggulangan penyakit campak adalah melaksanakan program
imunisasi lebih efektif (Depkes, 2012).
6. Poliomielitis
Poliomielitis adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe
1, 2 atau 3. Secara klinis penyakit polio adalah anak di bawah umur 15
tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis=AFP).
Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang
terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot
dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Komplikasi
poliomielitis adalah kematian bisa terjadi karena kelumpuhan otot-otot
pernafasan terinfeksi dan tidak segera ditangani (Depkes, 2012).
Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa
Latin yang berarti medulla spinalis. Infeksi virus mencapai puncak
pada musim panas, sedangkan pada daerah tropis tidak ada bentuk
musiman penyebaran infeksi. Virus polio sangat menular, pada kontak
antarrumah tangga (yang belum diimunisasi) derajat serokonversi lebih
dari 90% (Suyitno, 2013).
7. Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit kuning yang disebabkan oleh virus
hepatitis B yang merusak hati. Penularan penyakit secara horizontal yaitu
dari darah dan produknya melalui suntikan yang tidak aman melalui
tranfusi darah dan melalui hubungan seksual. Sedangkan penularan secara
23
vertikal yaitu dari ibu ke bayi selama proses persalinan. Gejalanya adalah
merasa lemah, gangguan perut, dan gejala lain seperti flu. Warna urin
menjadi kuning, tinja menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pula
pada mata ataupun kulit. Komplikasi hepatitis B adalah bisa menjadi
hepatitis kronis dan menimbulkan pengerasan hati (cirrhosis hepatis),
kanker hati (hepato cellular carsinoma), dan menimbulkan kematian
(Depkes, 2012).
Infeksi virus hepatitis B menyebabkan sedikitnya satu juta
kematian/tahun. Saat ini terdapat 350 juta penderita kronis dengan 4 juta
kasus baru/tahun. Infeksi pada anak umumnya asimtomatis tetapi 80-95%
akan menjadi kronis dan dalam 10-20 tahun akan menjadi sirosis dan atau
karsinoma hepatoseluler. Oleh karena itu, kebijakan utama tata laksana
virus hepatitis B adalah memotong jalur transmisi sedini mungkin.
Vaksinasi universal bayi baru lahir merupakan upaya yang paling efektif
dalam menurunkan prevalens virus hepatitis B dan karsinoma hepatoseluler
(Hidayat, B, 2013).
Tahun 1992 Hepatitis B dimasukkan kedalam program imunisasi.
Tahun 1995 imunisasi hepatitis B diberikan kepada semua bayi di negara
endemis tinggi. Tahun 1997 imunisasi hepatitis B diberikan kepada semua
bayi disemua negara diseluruh dunia. Imunisasi Hepatitis B harus diberikan
pada bayi 0-7 hari karena : 3-8 % ibu hamil merupakan pengidap (carrier),
45,9 % bayi tertular saat lahir dari ibu pengidap, penularan pada saat lahir
hampir seluruhnya berlanjut jadi hepatitis menahun. Pemberian imunisasi
24
HB sedini mungkin akan melindungi 75 % dari yang tertular (Depkes,
2012).
2.4. Landasan Teori
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Karena dari
pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Oleh karena itu pengetahuan sangatlah penting bagi petugas
kesehatan untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam memberikan
imunisasi campak.
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus
viridae measles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin
atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak
kemerahan, batuk, pilek, konjunctivitis (mata merah) selanjutnya timbul ruam
pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki.
Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga, dan
infeksi saluran nafas (pneumonia). Prioritas utama untuk penanggulangan
penyakit campak adalah melaksanakan program imunisasi lebih efektif.
2.5. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah kelanjutan dari teori atau landasan teori
yang disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian ini yang akan dicapai,
yakni sesuai dengan apa yang ditulis dalam rumusan masalah, (Notoatmodjo
25
2012). Penelitian ini yang berjudul ” hubungan antara pengetahuan dan
keterampilan petugas imunisasi terhadap teknik pemberian imunisasi
campak di Wilayah Puskesmas Bintang Kabupaten Aceh Tengah”.
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengetahuan Petugas
pemberian imunisasi
campak
Keterampilan Petugas
Gambar 2.4 Kerangka Konsep