0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan29 halaman

Pemerintah Aceh Dinas Pemuda Dan Olah Raga

Dokumen ini adalah syarat-syarat teknis untuk pekerjaan konstruksi Gedung Kempo di Banda Aceh, yang mencakup spesifikasi umum dan teknis, serta rincian pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan meliputi persiapan, pondasi, struktur bangunan, instalasi listrik, dan finishing, dengan referensi pada berbagai peraturan teknis yang berlaku. Kontraktor diharuskan mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam dokumen ini dan peraturan terkait lainnya.

Diunggah oleh

lamkawedarulimarah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan29 halaman

Pemerintah Aceh Dinas Pemuda Dan Olah Raga

Dokumen ini adalah syarat-syarat teknis untuk pekerjaan konstruksi Gedung Kempo di Banda Aceh, yang mencakup spesifikasi umum dan teknis, serta rincian pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan meliputi persiapan, pondasi, struktur bangunan, instalasi listrik, dan finishing, dengan referensi pada berbagai peraturan teknis yang berlaku. Kontraktor diharuskan mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam dokumen ini dan peraturan terkait lainnya.

Diunggah oleh

lamkawedarulimarah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH ACEH

DINAS PEMUDA DAN OLAH RAGA


Jln Gurami No. 18 Lampriet Banda Aceh 23111

NO. KONTRAK : [Link]/PL/JKK-SARPRAS/2025

TGL. KONTRAK : 17 Nopember 2025

SUMBER DANA : APBA-P

LOKASI : KOTA BANDA ACEH


SYARAT - SYARAT TEKNIS

DAFTAR PASAL-PASAL

A. SPESIFIKASI UMUM

1. Lingkup Pekerjaan

2. Peraturan Tehnis Bangunan yang di Gunakan

3. Pekerjaan Persiapan

B. SPESIFIKASI TEKNIS

1. Pekerjaan Tanah/Urugan

2. Pekerjaan Pondasi

3. Pekerjaan Beton Bertulang

4. Pekerjaan Dinding

5. Pekerjaan Plesteran

6. Pekerjaan Lantai

7. Pekerjaan Kayu

8. Pekerjaan Langit-langit

9. Pekerjaan Penutup Atap

10. Pekerjaan Penggunci dan Penggantung

11. Pekerjaan Perpipaan dan Perlengkapan Sanitasi

12. Pekerjaan Instalasi Listrik

13. Pekerjaan Pengecatan

14. Pekerjaan Finishing

15. Pekerjaan Lain-Lain

1
SYARAT-SYARAT TEKNIS

A. SPESIKASI UMUM

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan yang dilaksanakan pada Gedung Kempo, dengan rincian sebagai berikut :

1. PEKERJAAN PERSIAPAN;

2. PEKERJAAN KM/ WC;

3. PEKERJAAN ATAP DAN PLAFOND;

4. PEKERJAAN PENGECATAN;

5. INSTALASI PENERANGAN, STOP KONTAK;

6. PEKERJAAN FASAD;

7. PEKERJAAN TAMAN;

8. PEKERJAAN LAIN - LAIN;

Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada gambar rencana, BOQ dan
RKS yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-syarat ini.

2. PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan tersebut
dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya.

2.1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2021 beserta lampiran-
lampiran dan Juknisnya.

2.2. Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia


atau Algemene Voor Warden Voor de Uitvoering bij Aanneming Van Openbare
Werken

2.3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2018 Tahun 2018 tentang
Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

2.4. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI:2847:2013

2.5. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton SNI 03-3976-1995

2.6. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung Indonesia Untuk
Gedung SNI 1727:2013

2
2.7. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan
Non-Gedung tahun 2012 (SNI 1726-2012) & Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)

2.8. Peraturan Muatan Indonesia NI.8

2.9. Keramik lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-0106-1987

2.10. Keramik semen polos SNI 03-0028-1987

2.11. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI) NI.5

2.12. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1994

2.13. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) SNI 0225:2011

2.14. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Menteri Tenaga Kerja

2.15. Peraturan Semen Portland Indonesia SNI 15-2049-1994

2.16. Peraturan Bata Merah sebagai bagunan bangunan SNI 15-2094-2000

2.17. Peraturan Plumbing Indonesia SNI 03-6481-2000 dan SNI 03-7065-2005 tentang
Tata Cara Perencanaan Sistem Plumbing

2.18. Tata Cara Pengecatan Kayu Untuk Rumah dan Gedung SNI 2407-2008

2.19. Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

Apabila penjelasan dalam RKS tidak sempurna atau belum lengkap sebagaimana
ketentuan dan syarat dalam peraturan diatas, maka Kontraktor Wajib mengikuti ketentuan
peraturan-peraturan yang disebutkan diatas.

3
3. PEKERJAAN PERSIAPAN

3.1. Lingkup Pekerjaan

Meliputi Pekerjaan

3.1.1. Pembersihan lokasi sekeliling Bangunan

3.1.2. Pembuatan Gudang dan Bangsal

3.1.3. Pengadaan air untuk pelaksanan pekerjaan

3.1.4. Pembuatan papan nama kegiatan

3.1.5. Pemasangan bouwplank

3.1.6. Pengadaan alat-alat kerja yang dibutuhkan

3.2. Persyaratan Bahan

3.2.1. Untuk Gudang dan Bangsal Kerja ; digunakan Rangka Kayu, dinding
papan dan atap seng

3.2.2. Untuk Direksi Keet ; digunakan bahan rangka kayu, dinding bata diplester
dan papan dicat dengan cat tembok, atap seng BJLS 030, plafond Asbes
Quality 1 x 1 m dan lantai beton tumbuk

3.2.3. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum penampung, air harus
memenuhi kualitas yang ditentukan dalam SNI:2847:2013

3.2.4. Untuk papan nama kegiatan digunakan tiang dari kayu meranti dan
triplek dicat putih.

3.2.5. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu meranti 5/7 dan papan meranti
ukuran 2/20 cm.

3.2.6. Untuk alat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak
dorong dan lain-lain digunakan bahan kayu setempat.

3.3. Pedoman Pelaksanaan

3.3.1. Pembersihan lokasi sekeliling bangunan

Meliputi pembersihan semua tanaman tumbuhan termasuk


pembongkaran akar-akar pohon yang terkena bangunan termasuk
perataan tanah/pembuatan terasering jika diperlukan. Hasil bongkaran
tersebut diatas dibuang keluar lokasi pekerjaan.

3.3.2. Pembuatan Gudang, Bangsal Kerja dan Direksi Keet

4
Untuk gudang dan bangsal kerja dibuat bangunan sementara yang dapat
melindungi pekerja dari panas dan hujan. Bangunan ini harus dibongkar
setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.

3.3.3. Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan.

Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air


terdekat, kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah disediakan.
Kebutuhan air ini harus disediakan dalam jumlah yang cukup selama
pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat yang tercantum
dalam SNI:2847:2013.

3.3.4. Pembuatan papan nama kegiatan

Membuat papan nama kegiatan dari papan dengan ukuran 200 x


100 cm. Didirikan tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm. Diletakkan
pada tempat yang mudah dilihat umum. Papan nama kegiatan memuat

 Nama kegiatan

 Pemilik kegiatan

 Lokasi kegiatan

 Jumlah biaya (kontrak)

 Nama Konsultan Perencana

 Nama Pelaksana (Kontraktor)

 Kegiatan dimulai tanggal, bulan, tahun

3.3.5. Pemasangan Bouwplank

Tiang Bouwplank harus terpasang kuat, papan diketam halus dan lurus
pada sisi atasnya dan dipasang waterpass (timbang air) dengan sudut-
sudutnya harus siku.

3.3.6. Mobilisasi dan Demobilisasi Alat Bor Pile dan Alat Berat

Mobilisasi peralatan dilakukan setelah penunjukan lahan untuk bangunan


sudah disepakati, peralatan yang didatangkan diusahakan tidak
menggangu aktifitas belajar mengajar pada lokasi tersebut. Untuk
demobilisasi peralatan dilakukan setelah pekerjaan Bor Pile, Sumur Bor
dan Alat Berat selesai diperiksa dan disetujui direksi serta konsultan
pengawas.

5
B. SPESIFIKASI TEKNIS

4. PEKERJAAN TANAH/URUGAN

4.1. Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini sudah harus
diperhitungkan jenis tanah yang dijumpai dilapangan seperti tanah pasir, gambut,
tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya, yaitu :

4.1.1. Galian tanah untuk pekerjaan substruktur (pondasi tapak, pondasi batu
gunung/kali dan saluran keliling bangunan)

4.1.2. Septicktank dan peresapan

4.1.3. Timbunan kembali galian tanah pondasi

4.1.4. Timbunan tanah dan pasir bawah lantai, pondasi dan halaman gedung
termasuk pemadatannya.

4.1.5. Perataan tanah sekeliling bangunan

4.1.6. Galian tanah diluar bangunan untuk mendapatkan peil lantai yang
disyaratkan

4.2. Persyaratan Bahan

Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi.
Untuk timbunan bawah lantai digunakan tanah dan pasir pasang kualitas baik.
Tanah Timbunan dan pasir urugan harus bersih dari kotoran-kotoran dan akar-
akar kayu, serta sampah lainnya.

4.3. Pedoman Pelaksanaan

4.3.1. Galian pondasi baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank dengan


penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui Direksi.
Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera dalam
gambar.

Apabila ditempat galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik,


telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka Kontraktor secepatnya
memberitahukan kepada Direksi atau kepada instansi yang berwenang
untuk mendapat petunjuk seperlunya. Kontraktor bertanggung jawab
sepenuhnya atas segala kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian
tersebut. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda
purbakala maka Kontraktor wajib melaporkannya kepada Pemerintah
Daerah setempat.

6
Galian-galian untuk septicktank, saluran air hujan, saluran air kotor dan
air bersih dilaksanakan dengan ukuran yang ditetapkan dalam gambar
kerja dan gambar detail.

Untuk kondisi tanah yang mudah longsor Kontraktor harus memasang


turap kayu pengaman yang cukup kuat. Turap didalam bangunan harus
dibongkar setelah pondasi selesai.

4.3.2. Galian diluar bangunan untuk mendapatkan tinggi lantai yang disyaratkan
dalam gambar. Penggalian tanah ini dimaksudkan untuk mendapatkan
kontur tanah yang disyaratkan dalam Site Plan.

4.3.3. Bila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam
gambar, maka Kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut
dengan pasir urug.

4.3.4. Pengurugan bekas galian pondasi, galian septicktank, galian saluran air
hujan, saluran air bersih dan saluran air kotor diurug lapis demi lapis
dengan ketebalan tiap lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan
dengan menumbuk lapisan tersebut, menggunakan alat tumbuk yang
baik. Setelah lapisan pertama padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya
dan dipadatkan kembali seperti diatas. Demikian seterusnya dilakukan
sampai semua lubang bekas galian pondasi tertutup kembali.

4.3.5. Pengurugan dengan tanah timbun dibawah lantai dilakukan lapis demi
lapis hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat.
Lapisan-lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm, dan
ditumbuk 5 kali tiap bidang tumbukan pada tiap-tiap lapis tersebut.

4.3.6. Dibawah lantai diurug dengan pasir pasangan dan dipadatkan.


Pengurungan dan pemadatan ini dilakukan dengan menyiram air hingga
jenuh, kemudian ditumbuk dengan alat yang sesuai untuk pemadatan.
Hasil akhir harus mendapat persetujuan Direksi atas kesempurnaan
pengurungan dan pemadatan.

4.3.7. Dibawah pondasi, dan dibawah saluran air diurug dengan pasir pasangan
setebal 10 cm dan dipadatkan.

4.3.8. Untuk Pematangan Lahan timbunan harus ditempatkan ke permukaan


yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila
dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan.
Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut
sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya. Tanah timbunan
umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang
telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah
timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan, terutama selama
musim hujan. Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan,
setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai

7
dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang
disyaratkan. Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit
dimasuki oleh alat pemadat normal harus dihampar dalam lapisan
mendatar dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan seluruhnya
dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis serta dilakukan
pemadatan setiap lapisan, maksimal per lapisan 25 cm.

5. PEKERJAAN PONDASI

5.1. Lingkup Pekerjaan

Meliputi pengerjaan seluruh bangunan, terdiri dari :

5.1.1. Pondasi plat tapak beton bertulang

5.1.2. Pondasi cyclopen beton

5.1.3. Pondasi pasangan batu kali/batu belah

5.1.4. Pondasi batu bata

5.2. Persyaratan Bahan

5.2.1. Untuk pondasi plat beton bertulang digunakan bahan yang memenuhi
persyaratan yang diuraikan dalam pasal beton bertulang. Campuran yang
digunakan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr.

5.2.2. Untuk pekerjaan cyclopen beton, batu kali/belah digunakan batu


kali/belah yang berukuran maksimum 10 cm - 15 cm, berwarna abu-abu
hitam dan tidak berpori.

5.2.3. Untuk pondasi batu bata digunakan jenis batu bata setempat yang
berkualitas baik.

5.3. Pedoman Pelaksanaan

5.3.1. Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-


pengukuranuntuk as-as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan
dimintakan persetujuan Direksi tentang kesempurnaan galian.

5.3.2. Dibawah dasar pondasi didasari dengan pasir pasang setebal 10 cm dan
dipadatkan, sebagai lantai kerja. Diatas pasir, dipasang aanstamping,
untuk pondasi plat tapak beton bertulang, cyclopen beton dan pondasi
batu kali/batu belah, terdiri dari batu kali dan pasir pasang (pasangan
batu kosong). Lapisan ini juga harus dipadatkan, dengan menyiram air
diatasnya, sehingga pasir akan mengisi rongga-rongga batu kali tersebut.
Tebal lapisan dibuat sesuai dengan gambar detail pondasi.

8
5.3.3. Untuk pondasi dilaksanakan dengan ukuran sesuai gambar kerja dan
gambar detail. Campuran yang digunakan : Plat tapak beton adukan 1 Pc
: 2 Ps : 3 Kr. Pondasi beton cyclopen dibuat dengan adukan 1 Pc : 3 Ps :
5 Kr yang diisikan 30 % batu kali. Pondasi batu kali/belah dipasang
dengan perekat 1 Pc : 3 Ps. Pondasi batu bata dipasang dengan perekat
1 Pc : 4 Ps dan pada bagian sisi diplester kasar/brappen adukan 1 Pc : 3
Ps.

5.3.4. Untuk pondasi plat tapak beton bertulang Pedoman pelaksanaan, adukan
dan pembesian harus memenuhi pedoman pada pasal beton bertulang.

6. PEKERJAAN BETON BERTULANG

6.1. Lingkup Pekerjaan

6.1.1. Beton bertulang dengan mutu beton f’c = 14,5 Mpa harus dibuat untuk
sloof, ring balok dan kolom praktis.

6.1.2. Tempat-tempat lain yang mempergunakan beton bertulang sesuai


dengan gambar rencana.

6.2. Bahan

6.2.1. Semen

 Digunakan Portland Cement jenis I menurut SNI 15-2049-1994


dan Semen Portland harus memenuhi persyaratan Standard
Nasional Indonesia atau SNI 03-2847-2002 untuk butir pengikat
awal, kekekalan bentuk, kekuatan tekan aduk dan susunan kimia.

 Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam


satu zak semen, tidak diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan
campuran.

 Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari


tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat
penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling
tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan dari
semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan
menurut urutan pengiriman.

6.2.2. Pasir beton

Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-
bahan organis, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir
serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam
SNI:2847:2013.

9
6.2.3. Kerikil

Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai
gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam SNI:2847:2013.

Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis


material tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan beton dengan
komposisi material yang tepat.

6.2.4. Air

Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam
alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat
merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air
bersih yang dapat diminum.

6.2.5. Besi beton

 Besi beton yang digunakan adalah baja lunak dengan mutu U -


24 (tegangan leleh karakteristik minimum 2400 kg/cm) untuk
diameter lebih kecil atau sama dengan 12 mm, sedangkan untuk
dimeter lebih besar dari 12 mm digunakan baja ulir (deformd)
dengan mutu U - 32 (tegangan leleh karakteristik minimum 3200
kg/cm).

 Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak,
karat lepas dan bahan lainnya.

 Besi beton harus disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu


panjang.

 Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam


keadaan batang dingin. Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan
sesuai gambar dan harus diminta persetujuan direksi terlebih dahulu.

8.2.6. Cetakan dan Acuan

Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-
batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan
uraian pekerjaan.

6.2.7. Mutu Beton

Mutu beton yang digunakan adalah f’c = 19,3 Mpa dan f’c = 14,5 Mpa.

6.2.8. Uji Beton

Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design)


untuk masing-masing mutu beton yang akan digunakan sebelum
pekerjaan pengecoran beton dimulai, lengkap dengan hasil pengujian

10
bahan dan hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium
berdasarkan kuat tekan beton untuk umur 7 dan 28 hari, kecuali
ditentukan untuk umur-umur yang lain oleh Direksi Pekerjaan. Proporsi
bahan dan berat penakaran hasil perhitungan harus memenuhi kriteria
teknis utama, yaitu kelecakan (workability), kekuatan (strength), dan
keawetan (durability).

6.2.9. Percobaan pencampuran

Sebelum dilakukan pengecoran, Penyedia Jasa harus membuat campuran


percobaan menggunakan proporsi campuran hasil rancangan campuran
serta bahan yang diusulkan, dengan disaksikan oleh Direksi Pekerjaan,
yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama seperti yang
akan digunakan untuk pekerjaan (serta sudah memperhitungkan waktu
pengangkutan dll). Dalam kondisi beton segar, adukan beton harus
memenuhi syarat kelecakan (nilai slump) yang telah ditentukan.
Pengujian kuat tekan beton umur 7 hari dari hasil campuran percobaan
harus mencapai kekuatan minimum 90 % dari nilai kuat tekan beton
rata-rata yang ditargetkan dalam rancangan campuran beton (mix
design) umur 7 hari. Bilamana hasil pengujian beton berumur 7 hari dari
campuran percobaan tidak menghasilkan kuat tekan beton yang
disyaratkan, maka Penyedia Jasa harus melakukan penyesuaian
campuran dan mencari penyebab ketidak sesuaian tersebut, dengan
meminta saran tenaga ahli yang kompeten di bidang beton untuk
kemudian melakukan percobaan campuran kembali sampai dihasilkan
kuat tekan beton di lapangan yang sesuai dengan persyaratan. Bilamana
percobaan campuran beton telah sesuai dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, maka Penyedia Jasa boleh melakukan pekerjaan pencampuran
beton sesuai dengan Formula Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF)
hasil percobaan campuran.

6.3. Pedoman Pelaksanaan

6.3.1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai SNI:2847:2013.

6.3.2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Direksi apabila ada
perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur.

6.3.3. Adukan beton

Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat penge-


coran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh direksi, yaitu:

11
 Tidak berakibat pemisah dan kehilangan bahan-bahan

 Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antar


beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi SNI:2847:2013.

6.3.4. Pengecoran

Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis


Direksi. Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan
berjalan-jalan diatas penulangan.

Untuk dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan


papan-papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki-kaki tersebut
harus sudah dapat dicabut pada saat beton dicor. Apabila pengecoran
beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui
oleh Direksi. Untuk melanjutkan bagian permukaan yang mengeras harus
dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi additive yang
memperlambat proses pengerasan. Kecuali pada pengecoran kolom,
adukan tidak boleh dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5
m.

6.3.5. Perawatan Beton

Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut :

 Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai


penutup beton.

 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil,


permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya
pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak
memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya menurut perintah Direksi. Untuk selanjutnya diganti
atau diperbaiki segera atas resiko pemborong.

7. PEKERJAAN DINDING

7.1. Lingkup Pekerjaan

7.1.1. Dinding Bata

Pemasangan dinding bata merah setebal ½ bata dan pasangan dinding 1


bata, Dimana pemasangan tersebut dilakukan sesuai gambar bestek dan
dijelaskan dalam gambar detail.

12
7.2. Persyaratan Bahan

7.2.1. Bata

Mutu bahan yang digunakan dari jenis klas I menurut SNI 15-2094-2000
dengan bentuk standart batu bata adalah prisma empat persegi panjang,
bersudut siku-siku dan tajam, permukaannya rata dan tidak
menampakkan adanya retak-retak yang merugikan. Bata merah dibuat
dari tanah liat dengan atau campuran bahan lainnya, yang dibakar pada
suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila direndam air.

7.2.2. Pasir

Harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, butir-butir harus
bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca,
seperti terik matahari dan hujan. Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5 %
berat.

7.2.3. Semen dan Air

Untuk persyaratan kedua bahan tersebut, mengikuti persyaratan yang


telah digariskan pada pasal beton bertulang.

7.3. Pedoman Pelaksanaan

7.3.1. Pekerjaan dinding bata mempunyai dua macam pasangan, yaitu:

 Pasangan Kedap air ( 1 Pc : 2 Ps )

- Semua Pasangan bata dimulai diatas sloof sampai setinggi 20 cm


diatas lantai

- Pasangan dinding WC setinggi 1,50 cm diatas permukaan lantai.

- Pasangan dinding septicktank

 Pasangan adukan 1 Pc : 4 Ps berada diatas pasangan kedap air tersebut

7.3.2. Persyaratan Adukan

Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk didalam bak kayu
yang memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus dalam
keadaan kering yang kemudian diberi air sampai didapat campuran yang
plastis. Adukan yang telah mengering akibat tidak habis digunakan
sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi dengan adukan yang baru.

7.3.3. Pengukuran

Pengukuran (Uit-Zet) harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan


sesuai gambar, dengan syarat :

 Semua pasangan dinding harus rata (Harizontal), dan pengukuran


harus dilakukan dengan benang.

13
 Pengukuran pasangan benang antara satu kali menaikkan benang
tidak boleh melebihi 30 cm, dari pasangan bata yang telah selesai.

7.3.4. Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata diatasnya harus berbeda
setengah panjang bata. Bata setengah tidak dibenarkan digunakan
ditengah pasangan bata, kecuali pasangan bata sudut.

7.3.5. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga
menurun dan tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian
hari. Pada tempat-tempat tertentu sesuai gambar diberi kolom-kolom
praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.

7.3.6. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam didalam dinding,
harus dibuat pahatan secukupnya pada pasangan bata (sebelum
diplester).

7.3.7. Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup dengan


adukan plesteran yang dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan
bersama-sama dengan plesteran seluruh bidang tembok.

7.3.8. Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan
lebat harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok
dengan sesuatu penutup yang sesuai (plastik). Dinding yang telah
terpasang harus diberi perawatan dengan cara membasahinya secara
terus menerus paling sedikit 7 (tujuh ) hari setelah pemasangannya.

8. PEKERJAAN PLESTERAN

8.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan plesteran dilakukan pada seluruh pasangan bata dan beton bertulang.

8.2. Persyaratan Bahan

Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam
pasal beton bertulang.

8.3. Pedoman Pelaksanaan

8.3.1. Sebelum plesteran dilakukan, maka :

 Dinding dibersihkan dari semua kotoran

 Dinding dibasahi dengan air

 Semua siar permukaan dinding batu bata dikorek sedalam 0.5 cm

 Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan


plesteran dapat merekat dengan baik.

14
8.3.2. Adukan plesteran pasangan bata kedap air dipakai campuran 1 Pc : 2
Ps, sedangkan plesteran bata lainnya dipergunakan campuran 1 Pc : 4
Ps

8.3.3. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama tebalnya
dan tidak diperbolehkan plesteran yang terlalu tipis dan terlalu tebal.
Ketebalan yang diperbolehkan berkisar antara 1,00 cm sampai 1,50 cm.
Untuk mencapai tebal plesteran yang rata sebaiknya diadakan
pemeriksaan secara silang dengan menggunakan mistar kayu panjang
yang digerakkan secara horizontal dan vertikal.

8.3.4. Bilamana terdapat bidang plesteran yang berombak harus diusahakan


memperbaikinya secara keseluruhan. Bidang-bidang yang harus
diperbaiki hendaknya dibongkar secara teratur (dibuat bongkaran
berbentuk segi empat) dan plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.

8.3.5. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembabannya selama


seminggu sejak permulaan plesteran.

8.3.6. Pekerjaan plesteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup


atap selesai dipasang dan setelah pipa-pipa listrik selesai dipasang.

10. PEKERJAAN LANTAI

10.1. Lingkup Pekerjaan

Pemasangan lantai dibuat untuk bagian depan lantai ruangan, teras depan dan
tangga teras. Pekerjaan lantai terdiri-dari :

10.1.1. Lantai beton tumbuk 1Pc : 3Ps : 5Kr

10.1.2. Pas. Lantai keramik (unpolihsed) 30 x 30 cm

10.1.3. Pas. Dinding keramik 30 x 30 cm (polished).

10.2. Bahan yang dipergunakan

10.2.1. Semua keramik yang digunakan untuk bangunan ini adalah Produksi
Dalam Negeri.

10.2.2. Beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr.

10.3. Pedoman Pelaksanaan

10.3.1. Dasar lantai

Dilapisi pasir pasangan setebal 10 cm s/d 15 cm dan dipadatkan

10.3.2. Pemeriksaan

15
Sebelum lantai dipasang, Kontraktor harus memeriksa semua pasangan
pipa-pipa, saluran-saluran dan lain sebagainya yang harus sudah
terpasang dengan baik sebelum pemasangan lantai dimulai.

10.3.3. Adukan

 Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr dan diplester 1 Pc : 3 Ps

 Adukan untuk keramik semen dicampur air, sehingga didapat


campuran yang plastis.

10.3.4. Pemasangan

 Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan 7 cm dan


diplester setebal 1 cm. Adukan perekat lantai dipakai 1 Pc : 3
Ps : 5 Kr dengan plesteran 1 Pc : 3 Ps.

 Adukan perekat untuk lantai harus betul-betul padat/penuh agar


tidak terdapat rongga-rongga dibawah keramik yang dapat
melemahkan konstruksi. Sambungan antara keramik dengan
keramik harus sama lebarnya, lurus dan harus diisi dengan air
semen yang warnanya sesuai dengan warna keramik. Hasil
pasangan akhir harus rata tidak bergelombang dan waterpass.

 Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada retak, noda dan
cacat-cacat lainnya. Apabila terjadi cacat pada lantai, maka
bagian cacat tersebut harus dibongkar sampai berbentuk bujur
sangkar dan pasangan batu harus rata dengan sekitarnya.

 Permukaan pasangan keramik harus datar dan waterpass. Pada


lantai KM/WC dan ruang cuci, permukaan lantainya dimiringkan 1
% kearah floor drain.

11. PEKERJAAN KAYU DAN BESI.

11.1. Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-alat bantu
yang diperlukan, sehingga konstruksi kayu dan besi selesai dilaksanakan. Bagian
Pekerjaannya adalah

11.1.1. Pekerjaan Kozen pintu dan jendela

11.1.2. Daun pintu/jendela dan ventilasi

11.1.3. Listplank, papan talang dan riuter

16
11.2. Pesyaratan Bahan

11.2.1. Untuk kozen pintu dan jendela digunakan kayu klas I kualitas terbaik,
daun pintu dan jendela, listplank papan talang dan papan ruiter
digunakan kayu klas II kualitas terbaik.

11.2.2. Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang.
Kayu harus betul-betul kering, tidak keropos, lurus, tidak
cacat/bermata. Plat canal yang digunakan tidak keropos, lurus dan
tidak cacat.

11.2.3. Ukuran daun pintu plat teralis sesuai dengan gambar detail dan
merupakan ukuran bersih (ukuran jadi).

11.3. Pedoman Pelaksanaan

11.3.1. Kozen pintu dan jendela

 Ukuran kayu untuk kozen pintu adalah 6/13 cm (ukuran setelah


jadi dibuat). Untuk ukuran plat canal pada pintu 130.50.5 sesuai
dengan gambar bestek.

 Untuk daun pintu KM/WC menggunakan ambang UPVC sesuai


dengan ukuran pada gambar detail.

 Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan


perkuatan harus menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya
bidang sambungan ini harus dilumuri dengan lem kayu, agar
sambungannya dapat melekat dengan baik. Untuk konstruksi pada
plat dan teralis harus dipasang dengan rapi, tidak longgar pada saat
dipasang.

 Setiap kozen pintu harus dilengkapi angker minimal 3 (tiga) buah


untuk kiri kanan kozen yang melekat ke tembok. Untuk kozen
jendela 2 (dua) buah di kiri kanan kozen yang melekat ke
tembok.

 Semua bidang kozen yang bersinggungan dengan dinding/ beton


dibuat alur-alur kapur, kemudian bidang tersebut diawetkan
dengan cat minie 2 (dua) kali.

 Setiap pintu, jendela dan ventilasi memakai kaca bening dengan


ketebalan 5 mm sesuai dengan gambar detail.

 Daun pintu panil dibuat dengan kayu kelas II, pintu plat
menggunakan plat dengan ketebalan 4 mm dan disyaratkan agar
kontraktor memesan langsung pada tempat khusus pembuat
pintu atau pada toko. Tidak dibenarkan Kontraktor membuat
sendiri dilapangan pekerjaan.

17
 Khusus untuk pintu KM/WC dan ruang cuci, pada bagian dalam
dilapisi dengan seng plat aluminium. Pelapisan dengan seng plat
aluminium ini harus rapi. Pada susut-sudut daun pintu tidak boleh
ada penonjolan seng plat. Apabila menurut penilaian pengawasan
pemasangan tidak rapi, maka pengawas berhak menolak daun
pintu tersebut.

 Jendela teralis dan pintu teralis dibuat sesuai dengan gambar


detail.

11.3.2. Listplank dibuat dari papan lebar sesuai gambar.

Pemasangannya dipakukan langsung pada gording. Pemasangan harus


rapi dan lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang tidak lurus, maka
bagian tersebut harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas beban
Kontraktor.

11.3.3. Untuk semua daun pintu dan daun jendela digunakan kayu klas II
kualitas terbaik.

11.3.4. Untuk listpank digunakan papan klas II kualitas terbaik.

12. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT

13.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit pada bangunan dan


emperan keliling bangunan. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini adalah semua
pekerjaan rangka langit-langit dan lis langit-langit ukuran sesuai dengan bestek.

13.2. Persyaratan Bahan

13.2.1. Rangka langit-langit induk dipakai rangka hollow yang dipesan


khusus dari pabrik/dialer penyedia barang. Untuk pemasangan material
rangka hollow ini diwajibkan kepada kontraktor meminta sertifikat
spesifikasi pada saat pembelian pada Distributor/Agen. Dan cara
pemasangannya harus mengikuti persyaratan pabrik. Rangka Hollow
khusus digunakan untuk plafond PVC 8 mm.

13.2.2. Untuk langit-langit bagian dalam ruangan digunakan plafond PVC 8 mm


dan plafond PVC 8 pada emperan bangunan kualitas terbaik.

13.3. Pedoman Pelaksanaan

13.3.1. Untuk teknik pemasangan rangka hollow diminta kepada penyedia


barang/distributor untuk mendesain kembali bentuk rangka plafond,
jarak antara rangka yang satu dengan yang lainnya harus sesuai

18
dengan spesifikasi pabrik. Khusus untuk rangka Hollow ini hal-hal yang
disebutkan diatas tidak mengikat dengan gambar bestek (harus
mengikuti desain pabrik/distributor).

13.3.2. Pemasangan rangka Hollow ini harus rapi dan waterpass. Kontraktor
bertanggung jawab atas kerapian pemasangan rangka ini.

13.3.3. Langit-langit gypsum dan PVC dipasang pada rangka ini, di lakukannya
dengan menggunakan paku skrup. Hasil akhir harus waterpass. Apabila
ada material plafond yang cacat, rusak harus diganti dengan material
yang baru.

13.3.4. Sambungan antar material plafond dipasang rapi, rapat dan didempul
pada sambungannya. Pada keliling ruangan yang berhubungan dengan
dinding dipasang lat profil sesuai dengan jenis material plafond dan
sesuai dengan gambar bestek.

14. PEKERJAAN PENUTUP ATAP

14.1. Lingkup Pekerjaan

Bagian pekerjaan yang dilaksanakan adalah membuat rangka atap dan menutup
semua bidang atap bangunan.

14.2. Persyaratan Bahan

14.2.1. Untuk rangka atap digunakan rangka atap baja ringan yang dipesan
khusus dari pabrik/dialer penyedia barang. Untuk pemasangan material
rangka atap ini diwajibkan kepada kontraktor meminta sertifikat
spesifikasi pada saat pembelian pada Distributor/Agen.

14.2.2 Untuk penutup semua bidang atap digunakan spandex 0.35 mm, dan
untuk penutup bubungan digunakan bubungan dari bahan yang sama
dengan ukuran 0.35 mm. Untuk pemasangan bahan atap ini diwajibkan
Kontraktor meminta sertifikat spesifikasi pada saat pembelian pada
Distributor/Agen.

14.3. Pedoman Pelaksanaan

14.3.1. Untuk teknik pemasangan rangka atap baja ringan diminta kepada
penyedia barang/distributor untuk mendesain kembali bentuk kuda-
kuda, jarak titik buhul kuda-kuda dan jarak antara kuda-kuda yang satu
dengan yang lainnya serta jarak antar gording harus sesuai dengan
spesifikasi pabrik. Khusus untuk rangka atap ini hal-hal yang disebutkan
diatas tidak mengikat dengan gambar bestek (harus mengikuti desain
pabrik/distributor).

19
14.3.2. Tiap sambungan diberi tindisan sesuai dengan spesifikasi pabrik.
Minimal tindisan antara satu lembaran dengan lembaran lainnya 15 cm
atau 1.5 alur. Alur harus dipasang merata (tidak bolak balik), sehingga
hasil akhir pasangan akan rapi.

14.3.3. Bubungan ditutup dengan bubungan zinc alume. Tindisan antara satu
lembaran bubungan dengan lembaran bubungan lainnya harus sesuai
dengan persyaratan pabrik.

14.3.4. Pasangan harus rapi dan memenuhi syarat-syarat sehingga tidak


mengakibatkan kebocoran. Apabila terjadi kebocoran setelah
pemasangannya, maka bagian yang bocor tersebut harus dibongkar
dan dipasang baru.

15. PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG

15.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan pengunci dan penggantung dipasang pada semua daun pintu,


selanjutnya pada pintu dipasang grendel dan gembok.

15.2. Persyaratan Bahan

15.2.1. Engsel-engsel dari kuningan sekualitas merek RCH Nylon ukuran 4 x 3


atau yang setara. Untuk engsel pintu plat dan teralis menggunakan
engsel khusus dari plat.

15.2.2. Kunci pintu dipasang sekualitas merek Yalee 2 (dua) slaag (dua kali
putar) atau yang setara. Untuk gembok digunakan kualitas No. 1. (viro
italy)

15.2.3. Grendel (sloot), Tarikan jendela dan hak angin berkualitas baik. Untuk
grendel pintu plat dan teralis menggunakan grendel khusus.

15.3. Pedoman Pelaksana

15.3.1. Setiap daun pintu dipasang kunci tanam 2 ( dua ) slaag merk Yalee,
yang berkualitas baik.

15.3.2 Engsel pintu dipasang 3 (tiga) buah setiap lembaran daun pintu.
Pemasangan dilakukan dengan mur khusus untuk pintu, tidak
dibenarkan melengketkan engsel ke pintu dan ke kozen dengan
menggunakan paku. Penguncian mur harus dilakukan dengan
memutarkan dengan obeng, sehingga seluruh batang masuk dan
menempelkan kuat ke kayu yang dipasang.

20
15.3.3. Untuk alat-alat tersebut diatas sebelum dipasang Kontraktor wajib
memperlihatkan contoh terlebih dahulu untuk diminta persetujuan
Direksi atau Pemberi Tugas.

15.3.4. Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai dengan
yang disyaratkan, maka Direksi berhak untuk menyuruh bongkar
kembali dan diganti dengan alat-alat yang disyaratkan atas biaya
Kontraktor.

15.3.5 Grendel dan gembok dipasang 1 (satu) buah untuk setiap daun jendela.
Pasangan harus rapi dan dapat bekerja dengan baik.

16. PEKERJAAN PEMIPAAN DAN PERLENGKAPAN SANITASI

16.1. Lingkup Pekerjaan

Pelaksanaan pekerjaan meliputi pipa air kotor, pipa air bersih, septicktank,
resapan dan box control yang terhubung keseluruh bangunan samapi dengan
pembuangan akhir.

16.2. Bahan-bahan yang digunakan.

16.2.1. Pipa PVC diameter 4”, Pipa Galvanis 4”, diameter 1/2" dan diameter
3/4" untuk keperluan air bersih digunakan merk WAPIN atau sekualitas
dengan tekanan kerja 7 Kg/cm2. Alat penyambung digunakan dari
jenis bahan yang sama dengan bahan untuk pipa.

16.2.2. Stop kran 3/4", 1,5”dan 4”sekualitas HAMCO.

16.2.3. Kran diameter 1/2" sekualitas HAMCO.

16.2.4. Saringan air kotor/floor drain dari plat galvanis kualitas baik.

16.2.5. Pembersihan septicktank, bak kontrol dari kotoran limbah manusia dan
lumpur.

16.2.6. Kloset duduk sekualitas KIA

16.3. Pedoman Pelaksanaan

16.3.1. Pemasangan pipa-pipa didalam bangunan dipasang didalam dinding (in


bouw). Pasangan pipa tersebut harus harizontal dan vertikal, tidak
boleh dipasang miring.

16.3.2. Air diambil dari sumber air (sumur gali/sumur bor/PDAM) dengan
menggunakan pompa elektrik. Pengambilan air tersebut dihubungkan
dari pompa ke tempat air memakai pipa PVC diameter 4”. Dari water

21
tanker disalurkan ke dinding terdekat tempat pemakaian air dengan
menggunakan pipa PVC 4".

Dari sini digunakan shock 1/2" - 3/4" untuk merubah besaran pipa ke
1/2". Pipa 1/2" ditanam didalam dinding, dikeluarkan pada tempat-
tempat yang dibutuhkan, dan disini digunakan kran air diameter 1/2".
Pipa pengambilan dan pipa distribusi harus ditanam didalam tanah.

16.3.4. Setelah selesai pemasangan seluruh jaringan air, harus dilakukan


pengetesan yang disaksikan oleh Kontraktor, Pengawas dan Pengguna
Anggaran. Pengujian harus menghasilkan tekanan hydraulik sebesar 10
Kg/cm2 selama satu jam tanpa penurunan tekanan. Segala cacat dan
kekurangan-kekurangan yang dijumpai dari hasil pengujian harus
diperbaikidan semua biaya yang timbul akibat kegagalan pengujian
adalah tanggungan Kontraktor.

16.3.5. Air kotor dari KM dialirkan dengan pipa beton diameter 1/2 - 20
cm dan diameter 20 cm kesaluran terdekat.

17. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

17.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan instalasi listrik meliputi pemasangan seluruh jaringan instalasi didalam


bangunan, penyediaan bola lampu, kabel-kabel, pipa-pipa PVC, tiang listrik, dan
sebagainya sehingga listrik menyala. Jumlah titik lampu dan stop kontak yang
harus dipasang disesuai dengan jumlah yang tertera dalam gambar. Titik Lampu
dan Stop Kontak mengandung maksud tempat mata lampu dan stop kontak yang
telah dipasang kabel-kabel yang diperlukan sehingga arus listrik sudah berfungsi
pada titik tersebut.

17.2. Bahan-bahan yang digunakan

17.2.1. Kabel NYWGBY

kabel dengan 4 inti

Lapisan isolasi PVC melindungi setiap inti

Lapisan metal yang menyelubungi secara keseluruhan sebagai earting


conductor.

17.2.2. Kabel NYM

Kabel dengan 3 inti untuk satu pass

Inti copper dibungkus dengan isolasi PVS

22
Isolasi 2 lapis menyelubungi inti

17.2.3 Stop Kontak dan Saklar sekualitas Panasonic.

17.2.4. Kabel NYA

Isolasi PVC, luas penampang minimum yang boleh digunakan 2,5 mm2

Kawat BC, kawat tembaga yang telanjang.

Steker stop kontak dan saklar dari bahan ebonit kualitas baik.

Bola, Hemat Energi (SL), TL dan armaturnya adalah produksi Nasional


merk Philips yang sekualitas, dengan syarat-syarat berikut :

Lampu SL dan TL setara Philips:

Body dari plat besi, tebal minimum 0,9 mm, dicat putih didepan,
abu-abu dibelakang.

Balast merk Sinar atau sejenisnya

Stater Merk Philips atau sejenisnya

Fitting :

Bagi TL 20 W/220 V besarnya 2,5 micro F + 10 %

Pengabelan didalam harus disolder

Kap merek SUN atau sekualitas

17.2.5. Panel box yang dilengkapi fuse, switch untuk pembagian group
pemasangan instalasi listrik, Produksi dalam Negeri (nasional) atau
sekualitas, dengan arde (pentanahan) dari kabel B.C.

Macam-macam switch/oulet yang digunakan untuk tegangan 220 volt


adalah :

 Outlet/stop kontak biasa (General Purpose Outlet) setara


Panasonic

Pole : Phase + Neutral + Earth

Tegangan : 220 volt, 1 phase, 50 hz

Rating arus : 16 ampere

Type : Pemasangan sistem tanah

Bahan : Ebonit warna putih

 Plug dan socket 1 phase untuk power

Pole : 1 Phase + Neutral + Earth

23
Tegangan : 220 volt, phase, 50 hz

Reating arus : minimum 25 ampere

Proteksi : soket dengan tutup dan plug locking

Type : Pemasangan di luar diberi landasan kayu

Bahan : Ebonit warna putih

 Sekering BOX

Main Panel terdapat pada panel pertama menerima daya dari


gardu induk PLN ataupun Genset.

Bahan : Rangka profil 30 mm

Cover : Besi plat 2 mm

Module : Minimum ( 30 x 40 ) tinggi maksimum 175


Cm

 Potongan : Puc Standing kuat tidak bergetar

Warna : Abu-abu

17.3. Penggunaan

17.3.1. Kabel NFGBY dipergunakan sebagai penghubung antara main panel


digardu induk kedistribution panel di tiap-tiap bangunan. Diluar
bangunan dipasang sebagai kabel tanah dengan memperhatikan
peraturan-peraturan yang berlaku.

17.3.2. Kabel NYM dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan didalam


dinding.

17.3.3. Kabel NYA dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan.

17.4. Pedoman Pelaksanaan

17.4.1. Pemasangan instalasi listrik dan tata letak titik lampu/stop kontak serta
jenis armatur lampu yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan
gambar instalasi listrik. Sedangkan sistim pemasangan pipa-pipa listrik
pada dinding maupun beton harus ditanam (sistem inbouw) dan
penarikan kabel (jaringan kabel) diatas plafond diikat dengan isolator
khusus dengan jarak 1,00 atau 1,20 m, atau jaringan kabel diatas
plafond tersebut dimasukan dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi
stop kontak harus dilengkapi kabel arde (pertanahan) sesuai dengan
peraturan yang berlaku (mencapai dan terendam air tanah).

24
17.4.2. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan/komponen-
komponennya harus disesuaikan dengan sistem tegangan lokal 220 Volt.

17.4.3. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan direksi, pemborong


boleh menunjuk pihak ketiga (instalatur) yang telah memiliki izin usaha
instalasi listrik atau izin sebagai instalatur yang masih berlaku dari
Perum Listrik Negara (PLN). Pemborong tetap bertanggung jawab
penuh atas pekerjaan ini sampai listrik tersebut menyala (siap
digunakan), termasuk biaya pangujian dengan pihak P.L.N.

17.4.4. Pengujian instalasi harus dilakukan kontraktor pada beban penuh


selama 1 x 24 jam secara terus menerus. Semua biaya yang timbul
akibat pengujian ini menjadi tanggung jawab kontraktor.

18. PEKERJAAN PENGECATAN

18.1. Lingkup pekerjaan

18.1.1. Meni kayu untuk bidang kozen yang melekat ketembok, sambungan-
sambungan konstruksi kayu pada kuda-kuda dan lain-lain.

18.1.2. Meni besi untuk baut-baut dan besi strip.

18.1.3. Cat kayu untuk bidang-bidang kayu kozen yang nampak, daun pintu
panel dan ventilasi kayu, listplank dan list plafond, serta dinding papan
yang dapat dibuka dan plafond lambrisering.

18.1.4. Cat tembok untuk dinding yang diplester, bidang-bidang beton dan
plafond gypsum.

18.2. Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti :

18.2.1. Meni kayu dan besi sekualitas Kuda Terbang, Platon atau Ftalit.

18.2.2. Cat kayu sekualitas-sekualitas Kuda Terbang, Platon atau Ftalit.

18.2.3. Cat tembok sekualitas Vinilex.

18.2.4. Politur sekualitas Platon.

18.2.5. Plamur kayu dan dinding.

18.3. Pedoman pelaksanaan

18.3.1. Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.

18.3.2. Pekerjaan meni, residu harus betul-betul rata, berwarna sama,


pengecatan minimal 2 (dua) kali.

18.3.3. Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan
memperhatikan waktu pengeringan jenis bahan yang digunakan.

25
Urutan pekerjaan sebagai berikut :

 2 (dua) kali pekerjaan meni kayu/cat dasar

 1 (satu) kali lapis pengisian dengan plamur kayu

 Penghalusan dengan amplas

 Finishing dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.

18.3.4. Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai berikut :

 Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus,


setelah itu dilap dengan kain basah hingga bersih.

 Melapis dinding dengan plamur tembok, dipoles sampai rata.


Setelah betul-betul kering digosok dengan amplas halus dan dilap
dengan kain kering yang bersih.

 Pengecatan dengan cat tembok emulsi sampai rata, minimal 2


(dua) kali.

 Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama


dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.

18.3.5. Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut

 Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.

 Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang


pengecatan yang merata sama dan tidak terdapat belang-belang
atau noda-noda mengelupas.

18.4. Warna yang digunakan

Apabila tidak ditentukan lain oleh Pemberi Tugas maka digunakan warna sebagai
berikut :

18.4.1. Dinding dalam/luar digunakan warna primrose 302 dari daftar warna
cat Dulux.

18.4.2. Kosen pintu dan jendela digunakan warna Candy Brown 925 dari daftar
warna cat Kuda Terbang atau yang sekualitas.

18.4.3. Daun pintu Panel dan plafond lambrisering digunakan warna Candy
Brown 925 dari daftar warna cat Kuda Terbang atau yang sekualitas.

19. PEKERJAAN FINISHING

19.1.1. Sebelum pekerjaan diserah terimakan, Kontraktor diwajibkan


membongkar gudang, bangsal-bangsal kerja, membersihkan bahan-
bahan bangunan, kotoran-kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangu-

26
nan, sehingga pada saat serah terima dilaksanakan, bangunan dalam
keadaan bersih dan rapi.

19.1.2. Pada waktu diadakan serah terima pertama pekerjaan, maka


Kontraktor harus menyerahkan :

 Surat Tanda good keer pemasangan instalasi listrik dan berikut


gambar pemasangan instalasi dari pihak Instalatur/ PLN
setempat.

20. PEKERJAAN LAIN-LAIN

20.1. Lingkup pekerjaan ini adalah Administrasi/dokumentasi, biaya keamanan/jaga


malam, obat-obatan/P3K, papan nama kegiatan dan Direksi keet lengkap.

Penjelasan masing-masing lingkup pekerjaan ini telah dijabarkan pada masing-


masing pasal diatas, kecuali :

Administrasi/dokumentasi dimaksudkan kegiatan kontraktor untuk membuat


segala administrasi kegiatan, yaitu membuat buku harian, mingguan, bulanan dan
built drawing, foto-foto kegiatan dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kelancaran
pekerjaan.

Obat-obatan/P3K minimum disediakan dilapangan untuk keperluan 15 orang


pekerja.

20.2. Kontraktor diwajibkan membuat foto kemajuan pekerjaan dari 0 % sampai 100%
yang dapat dilihat dari semua arah bangunan. Pengulangan foto harus dilakukan
pada sisi yang sama secara berurutan sehingga akan jelas terlihat sisi tersebut
dari permulaan pekerjaan sampai akhir pekerjaan.

20.3. Apabila ada pekerjaan yang tidak tersebutkan dalam uraian ini, yang ternyata
pekerjaan tersebut harus ada agar memndapatkan hasil akhir yang sempurna,
maka pekerjaan tersebut harus dilaksanakan oleh Kontraktor atas perintah tertulis
dari Pengguna Anggaran.

20.4. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini menjadi pedoman dan harus ditaati
oleh Kontraktor dan Pengguna Anggaran dalam melaksanakan pekerjaan ini.

27
Menyetujui, Dibuat Oleh :

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Konsultan Perencana


CV. KARYA CREATIF CONSULTANT

MASZUWAR ZM, SPd M. YUSUF, ST


Nip. 19850126 201003 1 001 Direktur

28

Anda mungkin juga menyukai