0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

Program BK

Dokumen ini membahas tentang perubahan kurikulum di sekolah dasar yang mempengaruhi pelayanan Bimbingan dan Konseling, beralih dari pendekatan krisis ke pendekatan perkembangan. Pelayanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam pengembangan diri, sosial, dan karir, serta didasarkan pada prinsip-prinsip yang mengutamakan kebutuhan semua siswa. Selain itu, dokumen ini juga mencakup landasan hukum, paradigma, visi, misi, dan tujuan dari Bimbingan dan Konseling perkembangan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

Program BK

Dokumen ini membahas tentang perubahan kurikulum di sekolah dasar yang mempengaruhi pelayanan Bimbingan dan Konseling, beralih dari pendekatan krisis ke pendekatan perkembangan. Pelayanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam pengembangan diri, sosial, dan karir, serta didasarkan pada prinsip-prinsip yang mengutamakan kebutuhan semua siswa. Selain itu, dokumen ini juga mencakup landasan hukum, paradigma, visi, misi, dan tujuan dari Bimbingan dan Konseling perkembangan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan Kurikulum di SD sejalan dengan perkembangan ilmu dan
teknologi, membawa perubahan pula pada semua mata pelajaran. Termasuk
pelayanan Bimbingan dan Konseling disekolah. Dengan diberlakukannya
kurikulum tingkat satuan Pendidikan (KTSP) maka paradigma, landasan
konsep dan teoritis, visi dan misi, serta program kerja Bimbingan konseling
harus ikut menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Sejalan dengan perkembangan disiplin ilmu Bimbingan dan Konseling
(Guidance and Counseling) maka pendekatan dalam pelayanan konseling
mengalami pergeseran dari pendekatan krisis, remedial, dan preventif ke arah
pendekatan perkembangan (Dr. M. Ramli, MA, 2007; Depdiknas, 2006).
Pendekatan perkembangan-lah (Developmental Guidance and Counseling),
kemudian diadaptasi dalam kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP)
oleh pemerintah (Baca; Depdiknas, Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan tingkat SMP, Jakarta; 2006) yang secara efektif diterapkan di SD
Negeri Weninggalih 02. KTSP memposisikan Bimbingan Konseling pada
pengembangan diri peserta didik. Konsep-konsep, asumsi, prinsip-prinsip
Bimbingan, sampai pada program bimbingan diarahkan pada pengembangan
diri peserta didik.
Dalam pelaksanaan pelayanan konseling, pendekatan perkembangan
(Developmental Guidance and Counseling) didasarkan pada prinsip-prinsip
bimbingan konseling perkembangan. Layanan Bimbingan dan konseling
didasarkan pada asumsi bahwa layanan tersebut dibutuhkan oleh semua siswa,
baik yang mengalami maupun yang tidak mengalami hambatan dalam proses
perkembangannya. Bimbingan dan konseling perkembangan memusatkan
pada belajar siswa. Konselor dan guru merupakan petugas bersama dalam
program bimbingan dan konseling perkembangan. Kurikulum yang
diorganisasikan dan direncanakan merupakan bagian yang pokok dalam
bimbingan dan konseling perkembangan. Bimbingan dan konseling

1
perkembangan peduli terhadap penerimaan diri, pemahaman diri, dan
pengembangan diri. Bimbingan dan konseling perkembangan memusatkan
pada proses pemberian dorongan.
Bimbingan dan konseling perkembangan mengakui perkembangan
yang terarah daripada akhir yang definitif. Konselor bimbingan perkembangan
memahami bahwa siswa berada dalam proses menjadi yang berarti bahwa
pertumbuhan fisik dan psikologisnya akan mengalami berbagai perubahan
sebelum mencapai masa dewasa
Bimbingan dan konseling perkembangan yang berorientasi tim
menuntut pelayanan dari konselor profesional yang terlatih. Bimbingan dan
konseling perkembangan peduli terhadap identifikasi dini kebutuhan khusus.
Dalam pelaksanaannya, konselor bekerjasama dengan guru menemukan
kebutuhan-kebutuhan tersebut yang apabila tidak diperhatikan dapat menjadi
masalah yang memerlukan layanan remedial pada kehidupan anak selanjutnya.
Bimbingan dan konseling perkembangan peduli terhadap penggunaan
psikologi. Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki landasan dalam
psikologi anak, psikologi perkembangan dan teori belajar. Bimbingan dan
konseling perkembangan bersifat luwes dan berkelanjutan.

B. Landasan Hukum Pelayanan Bimbingan dan Konseling


1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah
pendidik, Pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik, dan Pasal 4 ayat (4) bahwa
pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap
peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan
pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

2
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, Pasal 5 s.d Pasal 18 tentang standar isi untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah.

3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar


Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat
pengembangan diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan
pendidikan difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga
kependidikan.

4. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang di keluarkan oleh Direktorat


Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2004 yang memberi arah pengembangan
profesi konseling di sekolah dan di luar sekolah

C. Paradigma, Visi dan Misi Pelayanan Konseling


Paradigma
Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan
dalam bingkai budaya. Artinya pelayanan Konseling berdasarkan kaidah-
kaidah ilmu dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam
kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan
peserta didik

Visi
Visi Pelayanan Konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan
yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam
pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta
didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.

Misi
a) Misi Pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui
pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan
masa depan

3
b) Misi Pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan
kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah, keluarga dan
masyarakat.
c) Misi Pengentasan Masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah
peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

4
BAB II
LANDASAN KONSEP

A. Definisi Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Pelayanan Bimbingan dan Konseling disekolah merupakan usaha
membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kehidupan sosial,
kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir
Secara khusus, Bimbingan dan Konseling Perkembangan merupakan
proses pemberian bantuan terhadap semua konseli dalam mengarungi semua
bidang pengalaman pribadi-sosial, pendidikan, dan karir pada semua tahap
perkembangan kehidupan mereka agar; 1) menyadari diri mereka sendiri dan
cara-cara merespons pengaruh lingkungan mereka dan, 2) meningkatkan
keefektifan diri mereka dengan menguasai aspek-aspek perkembangan yang
dapat dimanfaatkan dan dapat mengendalikan respon emosional terhadap
situasi yang tidak dapat dikuasai (Moore-Thomas, 2004, Shertzer & Stone,
1981; Blocher, 1974 dalam Dr. M. Ramli, MA, 2007).
Bimbingan dan konseling perkembangan didasarkan pada beberapa
asumsi diantaranya ;
1. Watak dasar manusia mendorong individu ke arah perkembangan diri
secara positif dan berurutan
2. Konseli bukanlah individu yang sakit
3. konseling dipusatkan pada situasi saat ini dan yang akan datang
4. konseli bukanlah pasien
5. konselor/guru BK bukanlah individu yang netral/bebas nilai-nilai
6. konseli adalah individu yang unik untuk mengembangakan identitas
dirinya dan mengintegrasikannya kedalam gaya hidupnya

B. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Perkembangan didasarkan
pada prinsip-prinsip sebagai berikut ;

5
1. Layanan Bimbingan dan konseling didasarkan pada asumsi bahwa layanan
tersebut dibutuhkan oleh semua siswa, baik yang mengalami maupun yang
tidak mengalami hambatan dalam proses perkembangannya
2. Bimbingan dan konseling perkembangan memusatkan pada belajar siswa
3. Konselor dan guru merupakan petugas bersama dalam program bimbingan
dan konseling perkembangan
4. Kurikulum yang diorganisasikan dan direncanakan merupakan bagian
yang pokok dalam bimbingan dan konseling perkembangan
5. Bimbingan dan konseling perkembangan peduli terhadap penerimaan diri,
pemahaman diri, dan pengembangan diri
6. Bimbingan dan konseling perkembangan memusatkan pada proses
pemberian dorongan
7. Bimbingan dan konseling perkembangan mengakui perkembangan yang
terarah daripada akhir yang definitif ; konselor bimbingan perkembangan
memahami bahwa siswa berada dalam proses menjadi yang berarti bahwa
pertumbuhan fisik dan psikologisnya akan mengalami berbagai perubahan
sebelum mencapai masa dewasa
8. Bimbingan dan konseling perkembangan yang berorientasi tim menuntut
pelayanan dari konselor profesional yang terlatih
9. Bimbingan dan konseling perkembangan peduli terhadap identifikasi dini
kebutuhan khusus ; dalam pelaksanaannya, konselor bekerjasama dengan
guru menemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut yang apabila tidak
diperhatikan dapat menjadi masalah yang memerlukan layanan remedial
pada kehidupan anak selanjutnya.
10. Bimbingan dan konseling perkembangan peduli terhadap penggunaan
psikologi
11. Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki landasan dalam
psikologi anak, psikologi perkembangan dan teori belajar.
12. Bimbingan dan konseling perkembangan bersifat luwes dan berurutan

6
C. Tujuan Bimbingan dan Konseling Perkembangan
1. Tujuan Umum
a. Membantu siswa mencapai perkembangan optimal sesuai dengan nilai-
nilai Pancasila, kemampuan, bakat, minat, dan cita-citanya. Untuk
mencapai tujuan tersebut siswa harus mendapat kesempatan untuk ;
b. Mengenali dirinya sendiri yaitu mengenal kekuatan dan kelemahannya
yang berkaitan dengan kemampuan, bakat, minat- cita-cita, sikap,
perasaan, dan nilai yang dianutnya.
c. Mengenal lingkungan dirinya yang meliputi lingkungan pendidikan,
pekerjaan, sosial kemasyarakatan, dan alam.
d. Membuat keputusan dan pilihan secara realistis
e. Merumuskan rencana pribadinya yang berkaitan dengan rencana
pendidikan, karir, dan rencana kehidupan lainnya
f. Mewujudkan potensi dan mengembangkan minat dan cita-citanya

2. Tujuan Khusus
a. Secara khusus program bimbingan dan konseling bertujuan untuk
membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya
yang meliputi aspek pribadi-sosial, akademik, dan karir sebagai berikut
(Pedoman Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia, 2007) ;
b. Tujuan bimbingan dan konseling yang berkaitan denga aspek pribadi-
sosial siswa ;
c. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam
kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah,
tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
d. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dan saling
menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
e. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif
antara yang menyenangkan (anugerah) dan yang tidak menyenangkan
(musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan
ajaran agama yang dianut.

7
f. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obyektif dan
kontruktif baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan
baik fisik maupun psikis
g. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain
h. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
i. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai
orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya
j. Memiliki rasa tangggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk
komitmen terhadap tugas atau kewajibannya
k. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship) yang
diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau
silaturahmi dengan sesama manusia.
l. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik
bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain
m. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif

3. Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek akademik


adalah sebagai berikut ;
a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan
memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses
belajar yang dialaminya.
b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan
membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap
semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang
diprogramka.
c. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
d. Memiliki ketrampilan atau teknik belajar seperti ketrampilan membaca
buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan
diri menghadapi ujian.
e. Memiliki ketrampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan
pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas,
memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan

8
berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka
mengembangkan wawasan yang lebih luas
f. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian
4. Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek karir
adalah sebagai berikut ;
a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang
terkait dengan pekerjaan
b. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang
menunjang kematangan kompetensi karir
c. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja.
d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai
pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau ketrampilan bidang
pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya di masa depan
e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara
mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut,
lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja dan kesejahteraan
kerja.
f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang
kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai
dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
g. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir.
Apabila seorang siswa bercita-cita menjadi guru, maka dia senantiasa
harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan
dengan karir keguruan tersebut.
h. Mengenal ketrampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau
kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan
minat yang dimiliki.
i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan
karir

9
D. Fungsi Konseling

Program Bimbingan dan Konseling perkembangan yang komprehensif


memiliki fungsi, yaitu:

i. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri


dan lingkungannya.

ii. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu


mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat perkembangan dirinya.

iii. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi


masalah yang dialaminya.

iv. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta


didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan
kondisi positif yang dimilikinya.

v. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh


pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat
perhatian.

Sedangkan prinsip dan asas konseling adalah sebagai berikut :

a. Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan,


permasalahan yang dialami peserta didik, program pelayanan, serta
tujuan dan pelaksanaan pelayanan.

b. Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan,


keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan,
keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri
handayani.

E. Jenis Layanan Konseling


a. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami
lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek
yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan
memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.

10
b. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan
memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan
pendidikan lanjutan.
c. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik
memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas,
kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan
kegiatan ekstra kurikuler.
d. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik
menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang
berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
e. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
mengentaskan masalah pribadinya.
f. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar,
karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan
tertentu melalui dinamika kelompok.
g. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika
kelompok.
h. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain
dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu
dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
i. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan
permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Kegiatan Pendukung
a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri
peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen,
baik tes maupun non-tes.

b. Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan


dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara
berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.

11
c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta
didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang
dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi
terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan
tertutup.

d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan


komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui
pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya.

e. Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan


pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan
pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.

f. Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan


masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan
kewenangannya.

Format Kegiatan
a. Individual, yaitu format kegiatan konseling yang melayani peserta
didik secara perorangan.

b. Kelompok, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah


peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.

c. Klasikal, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah


peserta didik dalam satu kelas.

d. Lapangan, yaitu format kegiatan konseling yang melayani seorang


atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau
lapangan.

12
e. Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan konseling yang melayani
kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak
yang dapat memberikan kemudahan.

Program Pelayanan

a. Jenis Program

1) Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi


seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di
sekolah/madrasah.

2) Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi


seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran
program tahunan.

3) Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi


seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran
program semesteran.

4) Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi


seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran
program bulanan.

5) Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang


dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program
harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk
satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung
(SATKUNG) konseling.

b. Penyusunan Program

1) Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan


peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi
instrumentasi.

13
2) Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang,
jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran
pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

Pelaksanaan Kegiatan
1. Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor
berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat
rutin, insidental dan keteladanan.

2. Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN


dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis
kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.

F. Komponen Program Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Program Bimbingan dan Konseling perkembangan yang komprehensif
memiliki empat komponen program yaitu ;
1. Layanan Dasar Bimbingan ; Layanan dasar Bimbingan adalah proses
pemberian bantuan terhadap semua siswa yang berkaitan dengan
pengembangan ketrampilan, pengetahuan, dan sikap dalam bidang pribadi-
sosial, akademik, dan karir yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas-
tugas perkembangan mereka. Dalam pelaksanaannya, layanan dasar
bimbingan tersebut antara lain menangani topik-topik seperti ;
 keberhargaan diri
 motivasi untuk sukses
 pembuatan keputusan dan pemecahan masalah
 ketrampilan komunikasi dan antar pribadi
 kesadaran lintas budaya
 perilaku bertanggung jawab

Tugas Guru BK dalam pelayanan dasar Bimbingan ialah ;

14
 menyampaikan bahan bimbingan kelompok atau klasikal kepada
semua siswa di dalam dan diluar kelas berdasarkan jadwal secara
reguler
 berkonsultasi dengan guru dan personalia sekolah yang lain
 mengkoordinir pelaksanaan layanan dasar bimbingan sehingga layanan
tersebut benar-benar bermanfaat bagi semua siswa

2. Perencanaan Individual Siswa ; merupakan proses pemberian bantuan


kepada semua siswa dalam membuat dan mengimplementasikan rencana
pribadi-sosial, pendidikan, dan karir. Tujuan utama layanan ini ialah
membantu siswa belajar memantau dan memahami pertumbuhan dan
perkembangannya sendiri dan mengambil tindakan secara proaktif
terhadap informasi tersebut.
Isi layanan perencanaan individual siswa adalah sebagai berikut ;
2.1. Dalam bidang pendidikan ;
 perencanaan kegiatan belajar dan penggunaan ketrampilan
belajar
 peningkatan kesadaran pilihan pendidikan
 pemilihan jurusan yang sesuai
 pemahaman nilai belajar sepanjang hayat
 penggunaan skor tes secara efektif

2.2. Dalam bidang karir ;


 eksplorasi kesempatan karir
 eksplorasi kemungkinan pelatihan kejuruan
 pemahaman kebutuhan bagi kebiasaan kerja yang positif

2.3. Dalam bidang pribadi-sosial ;


 pengembangan konsep diri yang positif
 pengembangan ketrampilan sosial yang layak

15
3. Layanan Responsif ; adalah pemberian bantuan terhadap siswa yang
memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan bantuan segera.
Tujuan layanan ini adalah memberikan;
 layanan intervensi terhadap siswa yang mengalami krisis, siswa yang
telah membuat pilihan yang tidak bijaksana atau siswa yang
membutuhkan bantuan penanganan dalam bidang kelemahan yang
spesifik
 layanan pencegahan bagi siswa yang berada diambang pembuatan
pilihan yang tidak bijaksana

Isi dari layanan responsif antara lain berkaitan dengan ;


a. penanganan masalah-masalah akademik
b. masalah-masalah yang berkaitan dengan sekolah; kelambanan, bolos
sekolah, penghindaran dari sekolah, pencegahan putus sekolah
c. masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial ;
penyalahgunaan obat-obatan terlarang (narkoba), isu-isu keluarga,
penanganan stres, pencegahan bunuh diri, pelecehan seksual,
pencegahan perilaku seks bebas
d. Layanan responsif dilaksanakan melalui layanan konsultasi, konseling
individual atau kelompok kecil, konseling krisis, layanan rujukan, dan
layanan fasilitasi teman sebaya.

4. Dukungan Sistem ; merupakan semua aktivitas yang dimaksudkan untuk


mendukung dan meningkatkan ;
a. staf bimbingan dalam melaksanakan layanan dasar bimbingan, layanan
responsif dan perencanaan individual
b. staf personalia sekolah yang lain dalam melaksanakan program-
program pendidikan disekolah
c. Komponen dukungan sistem berkaitan dengan program Bimbingan ;
d. Berkaitan dengan pengembangan program bimbingan yang meliputi ;
e. pengelolaan sumberdaya dana, materi dan fasilitas

16
f. pengembangan staf, pendidikan orang tua, konsultasi dengan guru dan
personalia sekolah yang lain
g. pemanfaatan sumberdaya masyarakat
h. hubungan masyarakat
i. pengembangan profesional konselor, penelitian dan pengembangan
Berkaitan dengan program pendidikan yang lain yang meliputi ;
a. perencanaan perbaikan kualitas sekolah
b. aktifitas administratif terkait layanan bimbingan
c. kerjasama dengan program pendidikan khusus dan pendidikan
kejuruan

G. Pengelolaan Program Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Program bimbingan dan konseling perkembangan yang komprehensif
terdiri atas beberapa elemen dan komponen yang harus disinergikan agar
dapat mencapai tujuan yag ditetapkan secara efektif dan efisien. Untuk itu
perlu dikelola secara sistematis melalui perencanaan, perancangan,
pelaksanaan, dan evaluasi (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia, 2007)
1. Perencanaan
Perencanaan Kegiatan
1. Perencanaan kegiatan pelayanan konseling mengacu pada program
tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran,
bulanan serta mingguan.
2. Perencanaan kegiatan pelayanan konseling harian yang merupakan
jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN
dan SATKUNG yang masing-masing memuat:
a. Sasaran layanan/kegiatan pendukung
b. Substansi layanan/kegiatan pendukung
c. Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang
digunakan
d. Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang
terlibat
e. Waktu dan tempat

17
2. Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di
dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik
yang menjadi tanggung jawab konselor.

Perencanaan terdiri atas prosedur dan keputusan yang membantu


konselor/guru BK ;
1.1 Mengidentifikasi visi dan misi serta tujuan sekolah, sarana dan
prasarana pendukung program bimbingan, dan kebijakan pimpinan
sekolah
1.2 Mengidentifikasi karakteristik siswa dan kebutuhannya terhadap
layanan bimbingan dan konseling. Hasil identifikasi menjadi
masukan bagi perancangan program bimbingan dan konseling

2. Perancangan
Berdasarkan hasil asesmen kebutuhan siswa dan lingkungannya
maka dilakukan perancangan program bimbingan dan konseling dengan
menetapkan elemen dan komponen program bimbingan dan konseling
perkembangan yang komprehensif berikut ini :
a. Rasionel ;
Pada bagian rasionel, konselor mengemukakan ;
1. dasar pemikiran tentang pentingnya program bimbingan dan
konseling dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah
2. Alasan-alasan pentingnya siswa mencapai penguasaan kompetensi
sebagaimana yang dihasilkan program bimbingan dan konseling
3. Kesimpulan hasil analisis kebutuhan siswa dan lingkungannya
serta dukungan teori terkini dan kecenderungan profesi terhadap
program dan rancangannya
4. dan hal-hal lain yang dianggap relevan

18
b. Visi dan Misi
Kemukakan visi dan misi program bimbingan dan konseling
berdasarkan visi dan misi sekolah secara keseluruhan

c. Deskripsikan kebutuhan
Kemukakan rumusan hasil asesmen kebutuhan siswa dan
lingkungannya kedalam rumusan perilaku yang diharapkan dikuasai
siswa. Rumusan ini pada dasarnya merupakan rumusan tugas-tugas
perkembangan, yakni Standar Kompetensi Kemandirian yang
disepakati bersama.

d. Tujuan
Berdasarkan rumusan hasil asesmen kebutuhan, kemudian
dirumuskan tujuan umum dan khusus yang akan dicapai dalam bentuk
perilaku yang harus dikuasai siswa setelah memperoleh pelayanan
bimbingan dan konseling

e. Komponen Program
Tujuan program bimbingan dan konseling menentukan topik
layanan/aktivitas yang perlu di programkan pada setiap komponen
program yang meliputi ;
1. komponen pelayanan dasar bimbingan
2. komponen perencanaan individual
3. komponen pelayanan responsif
4. komponen dukungan sistem (manajemen)

f. Rencana Operasional (action Plan)


Rencana kegiatan (action plan) diperlukan untuk menjamin
pelaksanaan program bimbingan dan konseling dapat dilakukan secara
efektif dan efisien. Rencana kegiatan adalah uraian detail dari program
yang menggambarkan isi komponen program, baik kegiatan disekolah

19
maupun diluar sekolah, untuk memfasilitasi siswa mencapai tugas
perkembangan tertentu.
Rencana operasional tersebut akan terwujud dengan melakukan
aktifitas sebagai berikut;
1. Menetapkan aktifitas layanan bimbingan dan konseling yang
didasarkan pada tujuan yang diharapkan dicapai siswa
2. Menetapkan strategi pelayanan untuk membantu siswa mencapai
tujuan bimbingan yang diharapkan
3. Menetapkan alokasi waktu, biaya dan sarana prasarana yang
diperlukan dalam menunjang pelaksanaan layanan bimbingan
konseling
4. Menetapkan pelaksana layanan bimbingan dalam upaya membantu
siswa menguasai kompetensi yang diharapkan dicapai
5. Menetapkan prosedur dan kriteria evaluasi keberhasilan pelayanan
bimbingan dan konseling
6. Menyusun rancangan kegiatan bimbingan dan konseling dalam
bentuk matrik atau lainnya sebagai program layanan bimbingan
dan konseling selama satu tahun atau satu semester atau satu
minggu atau satu hari. Rancangan tersebut sebagai program
tahunan, program semester, program mingguan, program harian.
7. Menjadwalkan program bimbingan dan konseling sekolah yang
telah dituangkan ke dalam rancangan kegiatan kedalam bentuk
kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan,
semesteran, bulanan, mingguan dan harian.
8. Menuliskan rancangan program bimbingan dan konseling yang
telah ditetapkan dan kemudian mengirimkan rancangan program
bimbingan dan konseling tersebut kepada pihak-pihak yang
berkepentingan untuk memperoleh masukan dan partisipasi mereka
dalam pelaksanaannya
3. Pelaksanaan
Rancangan aktivitas bimbingan dan konseling yang disepakati
pihak-pihak yang berkepentingan sebagai program BK perkembangan

20
merupakan instrumen yang digunakan guru BK melaksanakan layanan
bimbingan dan konseling. Dalam pelaksanaan, guru BK perlu bekerjasama
dengan berbagai pihak baik personalia sekolah maupun pihak-pihak lain
diluar sekolah sehingga keberhasilan layanan BK tersebut dapat dicapai
secara optimal.

4. Evaluasi
a. Pengertian evaluasi
Evaluasi layanan konseling ialah suatu proses pemerolehan
informasi layanan konseling yang dimaksudkan untuk membuat
keputusan tentang kualitas layanan tersebut. Evaluasi merupakan
prosedur yang memungkinkan guru BK menentukan keberhasilan
program Bimbingan dan Konseling. Informasi tentang hasil evaluasi
merupakan balikan berharga bagi perbaikan dan peningkatan kualitas
layanan Bimbingan dan Konseling sehingga siswa memperoleh
layanan yang lebih bermutu. Disamping itu, hasil evaluasi berguna
sebagai bukti pertanggungjawaban kinerja konselor/guru BK bagi
berbagai pihak.
Evaluasi dilaksanakan baik terhadap proses pelaksanaan
layanan BK maupun hasil layanan tersebut. Adapun aspek yang di
evaluasi meliputi ;
1. kesesuaian antara program dan pelaksanaan
2. keterlaksanaan program
3. hambatan-hambatan yang dijumpai
4. dampak pelayanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
5. respon siswa, personil sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadao
pelayanan BK
6. Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan
pelayanan bimbingan
7. pencapaian tugas-tugas perkembangan dan hasil belajar
8. keberhasilan siswa menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan
ataupun pada kehidupannya di masyarakat

21
b. Tujuan Evaluasi
Tujuan dilaksanakan evaluasi layanan konseling ialah untuk ;
1. memberikan informasi yang akan membantu konselor
memodifikasi dan menyempurnakan layanan konseling yang
diberikan
2. Mengukur keefektifan layanan konseling yang diberikan kepada
konseli
3. Memastikan status layanan konseling berada dalam suatu kerangka
acuan yang diharapkan
4. Memberikan wawasan baru yang akan membantu konselor
bertindak pada tingkat yang lebih profesional
5. Meyakinkan bahwa pihak-pihak terkait (stakeholders) terus
memperoleh manfaat dari layanan konseling yang berkualitas

c. Kriteria Evaluasi
Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur
keefektifan layanan konseling dalam bentuk perubahan perilaku
konseli yang meliputi ;
1. Kriteria penyesuaian sosial meliputi perubahan yang terjadi pada
diri konseli menurut pandangan subyektif orang-orang yang dekat
dalam kehidupan konseli, seperti orang tua atau guru. Dapat pula
diukur secara obyektif seperti partisipasi yang meningkat dalam
kegiatan kelompok sebaya atau pengurangan dalam pelanggaran
disiplin dalam pergaulan
2. Kriteria kepribadian meliputi ukuran-ukuran subyektif seperti
perubahan dalam penguraian sifat-sifat diri yang digunakan konseli
berkaitan dengan dirinya pada suatu masa tertentu, perubahan
dalam skor yang diperoleh konseli pada berbagai jenis tes atau
inventori kepribadian
3. Kriteria penyesuaian karir meliputi perbaikan dalam spesifikasi
rencana karir, ketekunan atau promosi pada jabatan tertentu,
laporan-diri konseli tentang kepuasan kerja

22
4. Kriteria pendidikan berupa kenaikan rata-rata nilai prestasi belajar
konseli, penurunan jumlah hari bolos sekolah, rerata putus sekolah,
korelasi prestasi belajar dan bakat yang dimilikinya.

d. Teknik-Teknik Evaluasi
Secara umum teknik evaluasi layanan konseling dapat
dikelompokkan ke dalam teknik tes dan teknik nontes.
Teknik tes terdiri atas ;
 tes intelegensi
 tes bakat
 tes minat
 tes prestasi belajar

Teknik non tes terdiri atas ;


 observasi
 wawancara
 angket
 sosiometri
 perekam audio video
 simulasi
 assesmen diri
 produk
 balikan konseli
 jadwal dan catatan
 memo personalia
 analisis isi
 aplikasi kriteria perilaku
 skala penilaian
 Unjuk kerja/ performance assesment (Andi Mapiare-AT, 2008)

23
e. Prosedur evaluasi
Prosedur evaluasi layanan konseling terdiri atas empat kegiatan
sebagai berikut ;
1. Identifikasi tujuan yang akan dievaluasi ; menetapkan variabel atau
batasan bagi pelaksanaan evaluasi
2. Pengembangan rencana evaluasi ; setelah sasaran evaluasi
ditetapkan maka identifikasi dan validasi kriteria yang cocok untuk
mengukur kemajuan program layanan konseling ke arah sasaran
tersebut perlu ditetapkan.
3. Aplikasi rencana evaluasi
4. penggunaan temuan

24
BAB III
PROGRAM LAYANAN KONSELING

Program layanan konseling merupakan rencana kegiatan layanan yang


akan dilaksanakan pada periode tertentu. Jenis programnya meliputi program
tahunan, bulanan, mingguan dan harian.

A. KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING


1. Bimbingan Pribadi
Berdasarkan buku pedoman pelaksanaan pelayanan bimbingan
konseling Depdiknas Direktoral Jendral Pendidikan, tentang pelayanan
bimbingan pribadi bertujuan untuk membantu peserta didik untuk
mengenal, menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan YME, mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
Isi layanan bimbingan pribadi adalah sebagai berikut :
1. Memahami ciri-ciri dan kecakapan diri sendiri dan mengenal kekuatan
dan kelemahannya
2. Mendiskusikan cara-cara mengatur kegiatan sehari-hari
3. Perbedaan antara hal-hal yang membantu dan berbahaya bagi
kesehatan fisik
4. Memberikan contoh bahwa pengalaman di masa lalu berpengaruh pada
tindakan saat ini dan pada masa yang akan datang
5. Mendiskusikan cara seseorang memandang dirinya (konsep diri)
6. Memperkirakan perasaan-perasaan dalam berbagai situasi
7. Mengetahui kebaikan-kebaikan (kualitas positif) dari orang lain yang
berbeda latar belakang dan kebudayaannya
8. Belajar bertangung jawab dalam kehidupan sehari-hari
9. Menjelaskan bahwa memiliki banyak informasi dapat membuat
alternatif pemecahan masalah

25
1.1. Aspek Perilaku Utama (Emotional Quotion)
Bahasa yang biasa dikenal untuk istilah ini adalah kecerdasan
emosi. Emosi didefinisikan sebagai kegiatan atau pergolakan
pikiran ,perasaan, nafsu dan bisa di anggap sebagai keadaan biologis
dan psikologis seseorang. Cerdas berarti mampu memilih yang tepat
untuk mengatasi setiap permasalahan.
Pikiran emosional jauh lebih cepat daripada pikiran rasional
saat ada permasalahan. Munculnya pikiran rasional membutuhkan
waktu sedikit lebih lama untuk mendata dan menaggapi permasalahan.
Pikiran emosional membutuhkan waktu yang cepat, maka dorongan
pertama dalam situasi emosional adalah dorongan hati atau perasaan.
Berdasarkan uraian di atas maka kecerdasan emosi adalah
ketepatan dan kecepatan kita dalam bertindak untuk menyelesaikan
masalah dengan berpegang pada pengendalian emosi atau perasaan
dan di dukung oleh pikiran sehat. Sedangkan Goleman (pencetus EQ)
berpendapat bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk
mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan
memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan
baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain, oleh
karena itu Kecerdasan Emosi ini memiliki tujuan sebagai berikut :
 Lebih bertanggung jawab
 Lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
dan menaruh perhatian
 Lebih bisa menguasai diri
 Nilai-nilai pada tes prestasinya meningkat

26
Untuk menjadi individu yang berkarakter, dibutuhkan kemauan
yang kuat untuk menjaga agar emosi berada di bawah kekuasaan akal.
Hampir dari 99% hasil penelitian mengatakan bahwa orang yang
sukses adalah orang yang mampu mengelola emosinya dengan baik.

1.2. Aspek Perilaku Kedua (Self Confident)


Rasa percaya diri adalah terbiasa bersikap dan berperilaku mantap
dalam melaksanakan tugas sehari-hari, tidak mudah terpengaruh oleh
ucapan maupun perbuatan orang lain serta mempunyai kemantapan
dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
Pada dasarnya penyesuaian diri banyak dipengaruhi oleh keadaan
sekelilingnya, semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau
dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga di mana terdapat
keamanan, kasih sayang, menghormati, toleransi dan kehangatan.
Lingkungan keluarga adalah suatu tempat yang sangat diperlukan
untuk membina keharmonian dan pertumbuhan remaja. Perkara-perkara
yang rumit dan sukar dipahami sepatutnya dihindarkan dari keadaan ini.
Pertumbuhan yang sehat bukan hanya mampu membina generasi yang
berkemampuan akan tetapi sekaligus ia mewujudkan kesinambungan yang
lebih kukuh dan berwibawa. Kelembuatan pribadi yang terasuh dengan

27
pendirian dan lingkungan yang kondusif memudahkan individu remaja
membuat penyesuaian dirinya lebih baik di tengah masyarakat.
Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk
mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui
permainan, senda gurau, sandiwara, dan pengalaman-pengalaman seharai-
hari dalm keluarga. Tidak diragukan lagi bahwa dorongan semangat dan
persaingan antara nggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki
pengaruh yang penting dalam perkembangan kejiwaan seorang remaja.
Oleh sebab itu, orangtua sebaiknnya jangan menghadapkan remaja pada
hal-hal yang tidak dimengerti olehnya atau sesuatu yang sangat sulit untuk
dilakukan olehnya, sebab hal tersebut memupuk rasa putus asa pada jiwa
remaja tersebut.

2. Bimbingan Sosial
Berdasarkan pada buku pedoman pelaksanaan pelayanan
bimbingan konseling, pelayanan bimbingan belajar untuk membantu
peserta didik memahami diri dalam kaitannya dengan lingkungan dan
etika pergaulan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung
jawab sosial.
Isi layanan bimbingan belajar adalah sebagai berikut :
1. Mendiskusikan tanggung jawab peserta didik di lingkungan keluarga,
sekolah dan masyarakat
2. Menelaah tekanan-tekanan yang dirasakan datang dari kelompok
sebaya
3. Mengetahui bahwa mendengarkan dan berbicara secara tepat
membantu memecahkan masalah
4. Memahami peran sebagai anggota keluarga
5. Memahami cara mengatasi konflik dengan orang lain
6. Memberikan informasi tentang cara pencegahan yang berkenaan
dengan penyalahgunaan obat
7. Menghargai kelebihan (hal-hal baik) pada orang-orang yang berbeda
latar belakang kebudayaan

28
8. Mengenal kebiasaan sendiri yang mengganggu dalam membentuk
hubungan yang efektif

2.1. Aspek Perilaku Pertama ( Individual Differences)


Terkadang sangat sulit bagi kita untuk menyadari bahwa setiap
orang itu selalu memiliki keinginan dan harapan yang berbeda dengan
diri kita. Setiap orang sering berbeda pendapat, berbeda sikap, berbeda
keinginan, berbeda kepercayaan atau berbeda pakaian dengan kita.
Itulah yang disebut dengan perbedaan individu.
Dengan mengenal adanya perbedaan individu, kita akan
merasakan damai saat kita bersosialisasi dengan orang lain. Sadar
bahwa masing-masing dari kita itu selalu berbeda akan membuat kita
lebih mudah untuk menerima atau diterima orang lain.
Pada dasarnya memaksakan kehendak pada orang lain akan
membuat diri kita tersiksa apalagi jika kehendak itu dilakukan dengan
terpaksa. Yang paling baik adalah mengerti dan memahami keinginan
orang lain dan menuruti jika hal tersebut tidak meugikan diri kita.

2.2. Aspek Perilaku yang Kedua (Mengenal Diri dan Orang Lain)
Seperti yang telah diungkapkan pada aspek perilaku yang
peryama, aspek perilaku yang kdua yaitu adanya perbedaan individu
pada tiap-tiap orang, aspek perilaku yang kedua ini akan membahasa
tentang bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri dan juga
mengenal orang lain.
Menjadi diri sendiri adalah hal baik, tetapi apakah ituyang
terbaik yang harus kita jalani? Pada dasarnya, kita menanggapi
perasaan, pikiran dan pengalaman orang lain, karena kita secara alami
merasakan kepedulian terhadap sesama, berupaya mengenali pribadi
orang lain dan keinginan membantu orang lain yang sedang dalam
kesusahan. (Skenario kegiatan ada pada lampiran).

29
3. Bimbingan Belajar
Berdasarkan pada buku pedoman pelaksanaan pelayanan
bimbingan konseling, pelayanan bimbingan belajar bertujuan untuk
membantu peserta didik mengenal, menumbuhkan dan mengembangkan
diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan
dan keterampilan, sesuai dengan program belajar dalam rangka
menyiapkannya melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi dan atau
berperan serta dalam lehidupan masyarakat.
Isi layanan bimbingan belajar adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan rencana untuk mengatur waktu belajar
2. Mengembangkan motivasi yang mendorong agar terciptanya
konsentrasi sebaik mungkin
3. Mempelajari cara-cara orang lain belajar secara efektif
4. Menggambarkan cara-cara belajar menghadapi ulangan
5. Mengevaluasi kebiasaan belajar dan merencanakan perubahan bila
diperlukan
6. Mengenal dan mencri informasi di luar sekolah yang menunjang
pencapaian tujuan belajar
7. Mempelajari cara-cara belajar yang praktis
8. Menelaah hasil ulangan dan merencanakan upaya perbaikan
9. Mengatur keseimbangan antara waktu belajar dengan kegiatan ekstra
kurikuler
10. Memahami tekhnik-tekhnik belajar dengan menggunakan sumber-
sumber belajar di dalam maupun di luar sekolah
11. Mengembangkan keterampilan belajar untuk memperkirakan bahan
yang mungkin ditanyakan dalam ulangan

Belajar adalah proses mendapatkan sesuatu/informasi yang


mendukung perkembangan pola pikir dari hal yang tidak diketahui
menjadi tahu dan dari yang sulit menjadi mudah.
Pada dasarnya, proses belajar dilakukan oleh semua orang dari
berbagai lapisan umur, mulai bayi baru lahir samapai dengan manula.

30
Belajar bukan hanya berkenaan dengan mata pelajaran yang diberikan di
sekolah / lemabaga pendidikan. Belajar merupakan usaha untuk
mengetahui segala sesuatu yang baru yang bisa diperoleh dari teman
sebaya, orang yang lebih tua (orangtua dan guru) atau dari orang yang lbih
muda usianya.
Fenomena yang didapatkan dari para anak usia sekolah adalah
malas belajar. Hal ini bisa terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor
yang berperan mengapa anak malas belajar. Pada anak usi sekolah, yang
sangat menduku bisa terjadi proses belajar yang baik adalah “mood” atau
rasa “ingin” belajar. Jika timbul rasa ingin belajar, ia akan belajar dengan
baik, tetapi jika ia tidak ingin, dipaksa dengan jalan apapun proses
belajarnya tidk akan mendapatkan apa-apa.
Yang selalu dituntut dari anak atau siswa adalah bahwa mereka
harus belajar dengan baik dan mendapatkan nilai yang baik tanpa
memberikan jalan atau cara bagaimana belajar yang baik. Bila ternyata
hasil belajarnya kurang maksimal, biasanya yang disalahkan adalah anak
atau siswa tersebut yang dianggap kurang serius atau kurang tekun belajar.
Sebenarnya, hal yang menjadi masalah utama untuk mengatasai
masalah tersebut adalah mengenal gaya belajar. Masing-masing idnividu
memiliki gaya belajar yang berbeda artinya masing-masing individu
mampu manjadi anak atau siswa terbaik dengan memilih jalan atau cara
belajarnya sendiri. Tidak ada gaya belajar yang lebih unggul, yang benar
adalah semua sama baik jika hal tersebut memang bisa diikuti dan
dijalanka oleh siswa. Dengan mengikutkasertakan anak dalam kegiatan les
privat belajar sesering apapun jika tidak bisa mengikuti gaya belajar anak,
hal tersebut sia-sia.
Untuk itu, di sisni akan dijelaskan bagaimana dan seperti apa
model gaya belajar yang bisa dipilih oleh masing-masing individu untuk
mengenali gaya belajarnya.
Dari cara kita memasukan informasi kedalam otak melalui lima
panca indera, karena itu kita mengenal ada lima gaya belajar, yaitu :
 Visual (Penglihatan)

31
 Auditori (Pendengaran)
 Tactile / kinestetik (Peranan atau gerakan)
 Olfactori (Pencimuman)
 Gustatori (Pengecapan)
Dari lima gaya belajar, ada tiga gaya belajar yang dominan dan yang
paling sering dibunakan, yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.
Masing-masing individu biasanya menggunakan dua gaya belajar yang
merupakan perpaduan dari tiga gaya belajar tersebut.
Perlu dipahami juga bahwa gaya belajar juga terdiri dari dua
bagian, yaitu gaya belajar yang bersifat internal dan eksternal. Gaya
belajar yang bersifat eksternal bergantung pada materi atau media dari luar
diri kita sebagai sumber informasi. Sedangkan gaya belajar yang bersifat
internal bergantung pada kemampuan kita dalam mengolah pikiran dan
imajinasi.
Ada bebarapa langkah untuk bisa belajar dengan baik, yaitu :
 Langkah awal untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan
dan lebih cepat adalah dengan mengerti gaya belajar masing-
masing individu
 Langkah kedua adalah dengan mengetahui gaya belajar yang
paling efisien dari materi yang ingin dipelajari.

4. Bimbingan Karir
Berdasarkan pada buku pedoman pelaksanaan pelayanan bimbingan
konseling, pelayanan bimbingan karir untuk membantu peserta didik
dalam menganalisis dan melatih bakat yang dimilikinya. Pelayanan juga
diberikan untuk mempertimbangkan potensi-potensi pribadi.
Pelayanan yang diberikan berupa bimbingan untuk memilih kegiatan
ekstra kurikuler/pengembangan diri dan untuk memilih sekolah pada
jenjang yang lebih tinggi.
Untuk peserta didik kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 diberikan layanan untuk
memilih kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

32
Sedangkan untuk pesrta didik kelas 6 selain diberikan bimbingan untuk
memilih kegiatan ekstra kurikuler/kegiatan pengembangan diri yang sesuai
dengan minat dan bakatnya juga diberikan layanan bimbingan untuk
memilih sekolah lanjutan yang sesuai pula dengan minat dan bakatnya.

2. Sasaran
Sasaran layanan dan konseling ini ditunjukan bagi semua siswa. Kegiatan
layanan akan diberikan secara :
1. Kasustik yaitu jika terjadi permasalahan sehingga dibutuhkan konsultasi.
2. Di luar KBM; diberikan layanan konseling kelompok, bimbingan
kelompok, konseling perorangan, meditasi dan konsultasi.

3. Kegiatan Pendukung
Kegiatan pendukung yang akan diberikan meliputi :
1. Kegiatan sebelum kegiatan layanan dilaksanakan, seperti aplikasi
instrumentasi, contoh angket kebutuhan siswa, dan kegiatan yang
dilakukan selama dan setelah kegiatan layanan dilaksanakan, seperti
konfrensi kasus dan kunjungan rumah.
2. kegiatan yang dilakukan setelah layanan dilaksanakan, yaitu alih tangan
kasus.
3. Kegiatan yang dilakukan sebelum, selama dan setelah layanan
dilaksanakan yaitu himpunan data.

4. Penilaian
Penilaian dilakukan dengan cara memberikan tugas kelompok dan indvidu,
selain itu juga berdasarkan laporan dari guru bidang studi dan wali kelas yang
bersangkutan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas,2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan tingkat SMP dan
MTs, Jakarta; Binatama Raya

Jauhari, Idris. 1997. Petunjuk tekhnis Tentang cara Belajar Efektif, Efisisen, dan
Akseleratif. Prenduan. Al-Amien Printing

Mapiare, Andi, AT, 2008. Assesmen Autentik dalam Bimbingan Konseling


dengan pertimbangan Nilai Sosial-Budaya, Hand out materi Pendidikan
dan Latihan Profesi Guru; Universitas Negeri Malang - Badan
Penyelenggara Sertifikasi Guru (BPSG) Rayon 15

Ramli.M, Dr,MA. 2007. Bimbingan Konseling, Universitas Negeri Malang ;


Badan Penyelenggara Sertifikasi Guru (BPSG) Rayon 15

Ramli.M, Dr,MA. 2007. Model-model Konseling, Universitas Negeri Malang ;


Badan Penyelenggara Sertifikasi Guru (BPSG) Rayon 15

Corey,Gerald, (Terj. E. Koeswara) 1988. Teori dan Praktek Konseling dan


Psikoterapi, Bandung ; PT. Eresco

34

Anda mungkin juga menyukai